Bagaimana Alkitab Terbentuk: Memahami Kanon Alkitab
Benarkah buku-buku dalam Alkitab ditentukan oleh sebuah konsili gereja ratusan tahun setelah Yesus Kristus?
Pada artikel sebelumnya kita telah membahas mengenai inspirasi Alkitab, yaitu bagaimana Allah mewahyukan diri-Nya melalui kitab-kitab atau surat-surat yang ada di dalam Alkitab.
Pertanyaan berikutnya: "Siapa yang memutuskan kitab mana yang masuk Alkitab?"
Mungkin Anda pernah mendengar klaim bahwa penentuan isi Alkitab dilakukan dalam suatu rapat yang dilaksanakan ratursan tahun setelah Yesus, oleh suatu panitia yang melakukan seleksi berdasarkan kriteria yang tidak jelas.
Klaim seperti ini sering muncul. Bahkan karya-karya populer seperti The Da Vinci Code telah menyebarkan gagasan bahwa Alkitab yang kita pegang sekarang adalah hasil manipulasi politik gereja pada abad ke-4 (tahun 300an Masehi).
Tapi ketika kita periksa bukti-bukti sejarah yang sebenarnya, ceritanya sangat berbeda.
Apa yang sesungguhnya terjadi pada Konsili Nikea?
Mari kita lihat apa yang terjadi pada rapat (atau istilah resminya "konsili") yang diadakan di Nicea pada tahun 325 Masehi.
Pada Konsili ini sekitar 300 pendeta senior (uskup) dari seluruh Kekaisaran Romawi berkumpul di kota Nicea (sekarang di wilayah Turki). Kaisar Roma yang bernama Konstantinus memanggil mereka untuk menangani krisis teologis yang mengancam gereja, yaitu sebuah ajaran baru dari seorang uskup yang bernama Arius.
Arius menentang ajaran yang diajarkan oleh Gereja secara turun temurun yaitu ajaran mengenai keilahian Yesus. Sejak awal mula Gereja didirikan oleh Yesus, Gereja telah selalu mengakui Yesus sebagai Tuhan.
Tetapi Arius mengajarkan bahwa Yesus Kristus adalah makhluk ciptaan, bukan Allah yang sejati. "Ada waktu ketika Sang Anak tidak ada," katanya. Yesus memiliki permulaan. Yesus bukan kekal seperti Bapa.
Ajaran inilah yang menjadi fokus dalam Konsili Nicea sehingga menghasilkan Pengakuan Iman Nicea—yang kita bahas di artikel pertama—yang menegaskan dengan sangat kuat bahwa Yesus adalah "Allah dari Allah, terang dari terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan bukan diciptakan, sehakekat dengan Sang Bapa."
Dengan demikian, Konsili Nikea menegaskan mengenai keilahian Yesus, tetapi TIDAK membahas mengenai kitab mana saja yang termasuk ke dalam Alkitab.
Tidak ada catatan sejarah, tidak ada dokumen rapat, tidak ada kesaksian dari peserta yang menyebutkan pembahasan tentang kitab mana yang masuk atau keluar dari Alkitab. Sama sekali tidak ada.
Kita memiliki catatan lengkap dari Konsili Nicea: 20 kanon (aturan gereja) yang dihasilkan, surat-surat resmi, kesaksian sejarawan Eusebius yang hadir langsung. Tidak satu pun membahas mengenai kanon Alkitab (kitab mana saja yang masuk dalam Alkitab).
Kalau Konsili Nikea tidak membahas mengenai pertanyaan kanon Alkitab, apakah ada konsili yang lain yang membahas mengenai pertanyaan tersebut? Menjelang akhir abad ke-4 ada konsili-konsili lokal — di Hippo (393 M) dan di Carthage (397 M) —yang memang menegaskan daftar kanon Alkitab.
Tetapi konsili ini tidak "memilih" kitab-kitab itu. Mereka hanya mengakui apa yang sudah lama diterima oleh gereja sebagai kitab-kitab yang memang berasal dari Allah.
Proses yang sebenarnya: Pengakuan, bukan pemilihan
Bayangkan Anda baru pertama kali melihat Lionel Messi bermain pada final Piala Dunia 2022, Argentina v Perancis.
Ketika Anda melihat Messi bermain dengan begitu baik, Anda mengenali siapa dia. Anda tahu dia seorang pemain kelas dunia yang sangat hebat. Jadi, ketika Anda kemudian membaca bahwa Messi telah berkali-kali mendapat gelar pemain terbaik, maka Anda tahu bahwa para keputusan itu sekedar mengakui kehebatan Messi.
Dengan kata lain, gelar pemain terbaik tidak menjadikan Messi pemain yang terbaik di dunia. Sebaliknya, gelar itu sekedar mengakui fakta tersebut.
Begitulah pula kitab-kitab yang ada di Alkitab. Mereka dimasukkan ke dalam kanon Kitab Suci karena mereka memang adalah wahyu Allah. Konsili gereja sekedar mengakui fakta tersebut.
Perjanjian Lama: Warisan dari Yudaisme
Yesus sendiri menerima kanon Perjanjian Lama yang berisi Taurat, Mazmur (atau Zabur), dan kitab-kitab para nabi yang sudah diakui komunitas Yahudi. Dalam Lukas 24:44, Yesus yang telah bangkit berkata:
"Harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur."
Ketiga kategori ini—Taurat, Nabi-nabi, Mazmur (atau Tulisan)—adalah pembagian standar dari kanon Yahudi yaitu 39 kitab yang sama dengan Perjanjian Lama yang ada di Alkitab kita hari ini.
Yesus tidak pernah mengutip atau merujuk kepada kitab-kitab di luar Perjanjian Lama sebagai Kitab Suci yang memiliki otoritas sebagai wahyu Allah.
Perjanjian Baru: Mengenali suara Sang Gembala
Proses pengakuan kanon Perjanjian Baru bukan proses politik. Ini adalah pengakuan terhadap tulisan-tulisan yang sejak awal memiliki otoritas ilahi dan dikenali oleh Gereja sebagai Kitab Suci.
Perhatikan contoh dari para penulis Kristen yang mula-mula.
Tahun 95 M (hanya 30 tahun setelah Paulus mati): Clement dari Roma sudah mengutip surat-surat Paulus sebagai Kitab Suci yang memiliki otoritas.
Tahun 110 M: Ignatius dari Antiokhia merujuk kepada injil dan surat-surat Paulus dalam tulisan-tulisannya sama seperti ia merujuk kepada Perjanjian Lama.
Tahun 150 M: Justin Martyr menyebutkan bahwa injil dibaca dalam ibadah gereja bersama dengan tulisan para nabi.
Tahun 180 M: Irenaeus mengutip hampir seluruh Perjanjian Baru sebagai Kitab Suci.
Ini bukan panitia yang bersidang. Ini adalah jemaat di berbagai tempat—Roma, Antiokhia, Efesus, Alexandria—yang secara independen mengakui tulisan-tulisan yang sama sebagai Firman Allah.
Mengapa? Karena mereka mengenali suara Yesus yang ada dalam kitab-kitab tersebut. Sama seperti domba yang mengenali suara gembalanya, mereka mengenali suara Yesus dalam injil dan surat-surat para rasul.
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku," kata Yesus dalam Yohanes 10:27.
Kriteria yang jelas
Jemaat Kristen mula-mula tidak sembarangan menerima tulisan dan kitab-kitab sebagai Kitab Suci. Sebaliknya, Gereja mengakui kitab-kitab dalam Perjanjian Baru berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1. Kerasulan: Apakah kitab tersebu ditulis oleh rasul atau orang yang dekat dengan seorang rasul? Otoritas yang diberikan Yesus kepada para rasul adalah jaminan inspirasi Ilahi.
2. Ortodoksi: Apakah isi kitab tersebut sejalan dengan ajaran para rasul yang diajarkan dan diterima secara lisan dalam jemaat mula-mula? Gereja menolak tulisan-tulisan yang tidak sejalan dengan ajaran gereja yang diwariskan turun-temurun dari para rasul.
3. Katolisitas (universalitas): Apakah kitab tersebut diterima secara luas oleh gereja-gereja di berbagai tempat? Kitab yang diakui sebagai bagian dari Kitab Suci adalah kitab yang secara luas dikenali dan diterima jemaat mula-mula yang tersebar di berbagai tempat.
4. Inspirasi: Apakah gereja mengenali "nafas Allah" dalam tulisan ini? Kriteria yang paling sulit dijelaskan secara objektif, tetapi sangat nyata karena umat Tuhan mengenali suara Gembala mereka.
Kitab-kitab yang "disembunyikan"?
"Tetapi bagaimana dengan Injil Thomas? Injil Yudas? Bukankah gereja sengaja menyembunyikan kitab-kitab ini?"
Tidak ada yang disembunyikan. Kitab-kitab yang ditolak dari kanon Perjanjian Baru ini:
- Ditulis terlambat: Injil Thomas (140-170 M), Injil Yudas (150-180 M)—jauh setelah masa hidup para saksi mata yang mengenal Yesus. Bandingkan dengan Injil Markus yang ada di Alkitab kita yang ditulis sekitar tahun 55-60 M yaitu pada waktu ketika kebanyakan orang yang menjadi saksi mata kehidupan Yesus masih hidup.
- Mengandung ajaran yang berbeda dari ajaran Yesus: Tulisan-tulisan yang kemudian ini mengajarkan ajaran yang sangat berbeda dengan yang kita temukan pada kitab-kitab yang ditulis lebih awal yaitu kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Kitab-kitab yang ditulis belakangan ini mengajarkan bahwa materi adalah jahat dan keselamatan datang melalui pengetahuan rahasia, bukan melalui Yesus.
- Ditolak sejak awal: Irenaeus (180 M) menulis melawan Injil Yudas. Serapion dari Antiokhia (190 M) menolak Injil Petrus. Mereka tidak menyembunyikannya—mereka secara terbuka menolaknya sebagai palsu.
Ironisnya, semua kitab yang tidak diakui Gereja bisa dibaca secara online. Tidak ada yang "disembunyikan." Apabila Anda bersedia membacanya sendiri, maka Anda akan tahu mengapa gereja menolak kitab-kitab tersebut.
Sebagai contoh, Injil Thomas (logion 114) menulis:
"Simon Petrus berkata kepada mereka: Biarlah Maria meninggalkan kami, karena perempuan tidak layak untuk hidup. Yesus berkata: Lihatlah, Aku akan memimpinnya supaya Aku menjadikan dia laki-laki, sehingga dia juga dapat menjadi roh yang hidup yang menyerupai kamu laki-laki."
Apakah perkataan ini terdengar seperti Yesus yang mengasihi Maria dan Martha atau Yesus yang berbicara dengan perempuan Samaria seperti dicatat dalam Alkitab?
Tentu tidak.
Gereja mengenali bahwa "Yesus" yang ditampilkan dalam Injil Thomas adalah "Yesus" yang palsu.
Mengapa kita bisa yakin
Allah tidak akan memberikan kepada kita firman-Nya yang diilhami, lalu membiarkan gereja-Nya bingung tentang kitab mana yang sungguh-sungguh merupakan firman-Nya.
Kesaksian Yesus sendiri tentang Perjanjian Lama, pengakuan gereja universal di berbagai tempat dan berbagai generasi terhadap 27 kitab Perjanjian Baru, kriteria yang objektif dan dapat diverifikasi, serta penyertaan Roh Kudus yang memelihara gereja-Nya semuanya memberi konfirmasi kepada kita bahwa ketika kita membuka Alkitab, kita sedang membaca firman Allah yang sejati.
Alkitab di tanganmu bukan hasil kompromi politik. Bukan pula pilihan sembarangan. Alkitab adalah sungguh-sungguh firman Allah, yang ditulis oleh para nabi dan rasul-Nya, dan diakui oleh gereja-Nya di bawah pimpinan Roh Kudus.
Inilah kesaksian Alkitab tentang dirinya sendiri sesuai surat 2 Timotius 3:16-17:
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran, supaya tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."
Bagi mereka yang masih meragukan: Jangan lekas percaya dengan mitos dari film atau novel yang sensasional. Periksalah bukti sejarah yang sebenarnya. Bacalah tulisan para ahli dan biarkan bukti yang berbicara.
Bagi orang percaya: Marilah kita membaca, mempelajari, dan menghidupi Firman Allah ini dengan sukacita dan keyakinan. Alkitab adalah harta yang telah dijaga Allah dengan setia selama ribuan tahun, dan Dia terus berbicara kepada kita melaluinya hari ini.
Pada artikel berikutnya, kita akan membahas pertanyaan: "Bagaimana kita bisa yakin teks Alkitab tidak berubah selama ribuan tahun ini?" Kita akan melihat bukti dari ribuan manuskrip kuno yang menunjukkan kesetiaan luar biasa dalam penyalinan Alkitab.
Tuhan memberkati ✝️