Alkitab: Firman yang Tidak Berubah

Apakah variasi dalam salinan-salinan naskah kuno Alkitab berarti Alkitab kita hari ini tidak dapat dipercaya?

Alkitab: Firman yang Tidak Berubah
Biara Santa Katarina dilihat dari Gunung Sinai, Mesir. Salah satu salinan Alkitab tertua di dunia yang dikenal sebagai Codex Sinaiticus ditemukan di biara ini. Foto diambil oleh Mark A. Wilson (Departemen Geologi, The College of Wooster). Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/File:St_Catherines_From_Sinai.JPG

Pada artikel sebelumnya, kita telah melihat fakta yang menakjubkan: Alkitab/Injil memiliki lebih dari 5.800 salinan (manuskrip) dalam bahasa Yunani—jumlah yang jauh melampaui karya sastra kuno mana pun di dunia. Ini adalah bukti dokumen sejarah yang luar biasa kuat.

Namun, fakta ini sering digunakan untuk menyerang iman Kristen dengan argumen seperti ini: "Benar, ada ribuan salinan naskah Injil tapi ada ribuan perbedaan di antara salinan-salinan itu. Bagaimana kita bisa mempercayai Alkitab isinya belum berubah jika salinannya berbeda-beda?"

Bart Ehrman, seorang akademisi yang kritis terhadap Kekristenan, sering mengutip angka yang mengejutkan: terdapat sekitar 400.000 variasi (perbedaan teks) di antara ribuan naskah Injil. Angka ini bahkan lebih banyak daripada jumlah kata dalam Injil itu sendiri yang berjumlah sekitar 138.000 kata!

Mendengar ada 400.000 perbedaan, wajar jika orang Kristen awam menjadi kaget. Apakah Alkitab kita hari ini penuh dengan kesalahan? Apakah isinya sudah diubah-ubah?

Mari kita bedah angka tersebut dengan jujur dan tenang.

Memahami varian

Pertama, kita harus mengerti apa yang dimaksud dengan perbedaan atau "varian". Dalam disiplin ilmu kritik teks (textual criticism), varian adalah segala jenis perbedaan antara satu naskah (atau manuskrip) dengan manuskrip lainnya, sekecil apa pun itu.

Ingat bahwa sebelum mesin cetak ditemukan pada abad ke-15, semua dokumen disalin dengan tangan.

Bayangkan Anda memberikan naskah Injil menurut Matius (28 bab, 1.071 ayat, 23.684 kata) kepada 100 orang teman Anda, dan meminta mereka masing-masing untuk membuat salinannya bukan dengan fotokopi atau scan tetapi dengan cara tulis tangan.

Apakah menurut Anda akan ada perbedaan salinan antara satu orang dengan orang lainnya?

Pasti! Tak peduli seberapa teliti dan hati-hati mereka melakukan penyalinan, pasti akan terjadi perbedaan antara hasil salinan satu orang dengan orang lainnya:

  • Ada yang salah tulis (typo error).
  • Ada yang salah ejaan (misalnya "Yohannes" dan "Yohanes").
  • Ada yang kelewatan satu atau beberapa kata atau bahkan kalimat karena salah lihat baris tulisan yang sedang disalin.
  • Ada yang menuliskan satu kata dua kali.
  • Ada yang mengubah urutan kata (ada yang menulis "Kristus Yesus", ada yang menulis "Yesus Kristus").

Karena setiap perbedaan antar naskah dihitung sebagai satu varian, dan kita sedang membicarakan teks Injil yang terdiri atas 138.000+ kata, maka sebenarnya jumlah 400.000 varian justru merupakan jumlah yang sangat kecil. Angka ini justru membuktikan ketelitian dan kehati-hatian dari para penyalin naskah Injil.

Lantas, seperti apa sebenarnya perbedaan antar naskah tersebut?

Daniel Wallace, pendiri Center for the Study of New Testament Manuscripts (CSNTM) dan profesor di Dallas Theological Seminary, menjelaskan bahwa varian tekstual naskah Injil dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu varian yang tidak mengubah arti teks dan varian yang mengubah arti teks.

Varian yang tidak mengubah arti teks yaitu:

  1. Perbedaan ejaan & salah tulis (~70-75%): Mayoritas varian hanyalah perbedaan ejaan, atau kesalahan tulis yang jelas-jelas typo error.
  2. Sinonim & urutan kata (~15-20%): Jenis perbedaan yang berikutnya adalah perbedaan urutan kata. Dalam bahasa Yunani kuno (atau disebut bahasa Yunani koine), yaitu bahasa yang digunakan untuk menuliskan Injil, perbedaan urutan kata dalam suatu kalimat tidak mengubah arti kalimat melainkan memberikan titik berat atas kata yang ingin ditekankan (biasanya kata yang ingin ditekankan diletakkan sebagai kata pertama dalam kalimat).

Selanjutnya ada jenis varian yang mengubah arti teks, yaitu:
3. Varian yang tidak signifikan (~4%): Varian jenis ini mengubah arti kalimat, tetapi hanya muncul di beberapa salinan dari abad pertengahan yang jarak waktunya sangat jauh dari naskah asli. Para ahli dapat mengidentifikasi perbedaan-perbedaan salinan Injil yang seperti ini dan mengabaikannya karena jelas bukan bagian dari naskah asli.
4. Varian yang signifikan (<1%): Perbedaan arti yang ditemukan pada dua atau lebih salinan kuno perlu dipertimbangkan secara teliti oleh para ahli untuk menentukan mana variasi yang lebih mungkin merupakan salinan dari yang asli.

Berikut adalah tiga contoh varian dalam kategori yang terakhir ini.

Tiga Contoh Varian Signifikan

1. Surat Roma 5:1 – Kita Hidup" vs "Hendaklah Kita Hidup"


Karena perbedaan satu huruf vokal dalam bahasa Yunani (o vs ō), beberapa naskah menulis: "Kita hidup dalam damai sejahtera" (status), sementara yang lain menulis: "Hendaklah kita hidup dalam damai sejahtera" (ajakan).

Secara lengkapnya:

"Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, [hendaklah] kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus."

Apakah ada ajaran Kristen yang berubah karena varian ini? Tidak ada, karena entah hidup dalam damai dengan Allah adalah status orang Kristen atau ajakan bagi orang Kristen, tetapi doktrin utama yang diajarkan di sini tidak berubah, yaitu damai dengan Allah diberikan kepada mereka yang telah dibenarkan oleh iman karena Yesus Kristus.

2. Injil menurut kesaksian Markus 1:41 – "Tergerak Hati-Nya" vs "Marah"

Dalam kisah penyembuhan orang kusta yang dicatat oleh Markus, mayoritas naskah mencatat Yesus "tergerak hati-Nya oleh belas kasihan". Namun, ada beberapa naskah kuno yang mencatat Yesus "marah".Apakah ada ajaran Kristen yang berubah karena varian ini? Tidak. Apapun varian yang asli, kesaksian Injil Markus pada bagian ini sangat jelas yaitu bahwa Yesus mengasihi si penderita kusta itu dan Yesus berkuasa untuk menyembuhkan penyakit manusia.
3. Surat 1 Yohanes 5:7-8 – Ayat Trinitas (Comma Johanneum)
Dalam beberapa terjemahan lama, termasuk terjemahan King James Version yang sangat terkenal itu, ada tambahan kalimat "Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu." Kalimat ini tidak ada dalam naskah-naskah tertua dan terbaik. Kemungkinan besar kata-kata tersebut adalah catatan pinggir atau keterangan tambahan yang dengan keliru dianggap sebagai bagian dari teks utama sehingga kemudian disalin dan secara tidak sengaja masuk menjadi salinan dari teks utama.
Apakah ada ajaran Kristen yang berubah karena varian ini? Tidak. Doktrin tentang Tritunggal tidak dibangun di atas dua ayat ini, melainkan terjalin di seluruh Alkitab.

Dari uraian di atas, dua hal menjadi jelas:

  1. Lebih dari 99% perbedaan salinan Injil adalah perbedaan yang wajar dan dapat diatasi dengan cara melakukan perbandingan atas ribuan salinan yang ada sehingga dapat ditelusuri teks yang sebenarnya.
  2. Sedangkan 1% sisanya, seperti tiga contoh di atas, walaupun ada perbedaan salinan yang signifikan tetapi tidak ada perbedaan yang serius karena tidak satu pun ajaran Kristen yang bergantung pada teks yang memiliki perbedaan atau varian.

Apakah ada konspirasi? Menelusuri pola perubahan

Data menunjukkan bahwa perbedaan salinan konsisten dengan apa yang kita ketahui tentang kelemahan manusia ketika menyalin suatu teks yang panjang: ada yang loncat dan melewatkan baris tertentu pada salinannya, ada yang salah ejaan, ada yang menulis dengan urutan terbalik, dan sebagainya.

Dengan kata lain, tidak ada dasar sama sekali untuk menduga bahwa ada konspirasi untuk mengubah Kitab Suci demi tujuan tertentu.

Selain itu, sebaran geografis membuat manipulasi mustahil. Sejak abad kedua, bahkan mungkin abad pertama, salinan naskah Injil telah tersebar di tiga benua—Eropa, Afrika, dan Asia. Salinan-salinan ini dibuat di kota Roma, Aleksandria, Antiokhia, Yerusalem, dan puluhan kota lainnya, seringkali di bawah penganiayaan dari pemerintah Romawi. Untuk memanipulasi teks secara sistematis, seseorang harus mengumpulkan ribuan salinan dari seluruh tempat tersebut, mengubahnya dengan cara yang identik, lalu mendistribusikannya kembali—semuanya tanpa meninggalkan jejak sejarah dan tanpa ketahuan oleh pihak penguasa yang memusuhi Kekristenan. Skenario ini tidak masuk akal secara historis dan tidak mungkin secara logis.

Bagaimana jika semua salinan identik?

Bayangkan jika 5.800 salinan Injil semuanya identik, tanpa satu pun varian. Bukankah itu akan menjadi bukti yang lebih meyakinkan?

Ironisnya, keseragaman sempurna justru akan menimbulkan kecurigaan yang jauh lebih besar.

Siapa pun yang pernah menyalin teks panjang dengan menggunakan tangan tahu bahwa kesalahan kecil tidak terhindarkan. Mata kita menjadi lelah, dan pikiran kita mengembara. Kita sangat rentan membuat kesalahan dalam menulis (bahkan sampai zaman modern ini kita pun masih sering salah dalam mengetik!).

Apabila hari ini seluruh salinan Injil kuno cocok 100% identik satu dengan yang lain, maka itu bukan bukti keaslian. Itu adalah tanda manipulasi terpusat.

Satu-satunya cara untuk memastikan semua salinan identik adalah dengan adanya otoritas pusat yang mengontrol seluruh proses penyalinan dan menghancurkan setiap salinan yang berbeda. Gereja Kristen tidak pernah melakukan ini. Justru semua manuskrip, termasuk yang memiliki varian, dipelihara dan dipelajari hingga hari ini.

Keberadaan varian kecil yang tersebar secara acak di ribuan manuskrip dari berbagai wilayah geografis membuktikan bahwa tidak ada tangan tersembunyi yang mengontrol proses penyalinan. Salinan Injil tersebar secara organik oleh komunitas-komunitas Kristen, dan salinan-salinan yang kita miliki hari ini bersifat autentik dan alami.

Singkatnya, variasi dalam salinan-salinan menunjukkan bahwa tidak ada manipulasi naskah Injil.

Mengapa ini penting?

Bagi kita pengikut Kristus, memahami varian tekstual seharusnya memperkuat, bukan melemahkan iman kita. Mengapa?

Karena ini membuktikan bahwa kita menyembah Allah yang memelihara firman-Nya dalam sejarah yang nyata. Alkitab kita terbuka untuk diuji. Fakta bahwa kita bisa mendeteksi varian-varian ini justru membuktikan bahwa kita memiliki akses yang melimpah ke salinan-salinan yang autentik.

Bagi Anda yang masih menyelidiki atau meragukan Kekristenan, kami mengundang Anda untuk memeriksa bukti-bukti bagi diri Anda sendiri. Jangan mudah percaya pada klaim dan tuduhan sepihak di media sosial tanpa verifikasi.

Kesimpulan

Orang Kristen tidak pernah menganggap Alkitab sebagai buku ajaib yang turun dari surga, yang proses pembuatan salinanannya juga terjadi secara ajaib yakni para penyalinnya akan menulis salinan yang sepenuhnya sempurna dan cocok 100% tanpa ada perbedaan sama sekali.

Sebagai dokumen yang ditulis tangan oleh manusia biasa, maka, walaupun dilakukan dengan sangat teliti dan hati-hati, sangat dapat dimaklumi apabila terjadi perbedaan antara satu naskah salinan dengan naskah salinan lainnya.

Dan pada kenyataannya, variasi naskah itu dapat kita telusuri dan teliti sehingga kita tiba pada kesimpulan bahwa Alkitab kita hari ini adalah salinan yang sejati dari firman Allah yang diberikan kepada para nabi dan rasul.

Mungkin pembaca yang skeptis akan berkata: Tunggu dulu.

Fakta bahwa isi Alkitab terpelihara selama ribuan tahun hingga hari ini, walaupun sangat impresif, tetapi tidak serta merta menunjukkan bahwa Alkitab adalah firman Allah.

Apakah ada bukti yang menunjukkan bahwa isi Alkitab itu benar dan akurat?

Pada artikel berikutnya kita akan membahas topik yang sangat penting ini, yaitu mengenai keandalan isi Alkitab.

Tuhan memberkati ✝️