Kesaksian Pihak Lawan: Catatan Penulis Non-Kristen tentang Yesus
Yesus dicatat bukan saja oleh Alkitab tapi juga oleh sejarawan dan penulis Yahudi, Romawi, dan Yunani. Apa kata mereka tentang Yesus?
Pada artikel sebelumnya, kita telah memanggil saksi pertama ke ruang sidang sejarah yaitu benda-benda peninggalan sejarah dari tanah Timur Tengah. Semuanya bersaksi bahwa catatan Alkitab akurat secara historis.
Namun seorang pembaca skeptis yang gigih mungkin berkata: "Barang-barang itu hanya membuktikan bahwa tempat dan pejabat yang disebut dalam Alkitab itu ada. Itu belum membuktikan bahwa Yesus benar-benar hidup, mati disalib, dan disembah sebagai Tuhan sejak awal. Lagipula, catatan tentang Yesus hanya berasal dari orang-orang Kristen sendiri. Tentu saja mereka akan menuliskan cerita yang mendukung iman mereka!"
Keberatan ini terdengar masuk akal. Sampai kita membuka lembaran sejarah kuno dan menemukan bahwa Yesus dan orang-orang Kristen mula-mula juga terekam dalam tinta para sejarawan dan pejabat yang bukan pengikut Yesus — bahkan beberapa di antaranya adalah musuh kekristenan.
Inilah saksi kedua kita: catatan sejarah dari luar kalangan Kristen.
Kesaksian pihak lawan
Dalam dunia hukum, ada satu jenis kesaksian yang dianggap sangat kuat yaitu kesaksian dari pihak yang biasanya bermusuhan dengan Anda. Jika seseorang yang membenci Anda ternyata memberikan kesaksian yang mendukung klaim Anda, maka kesaksian itu sangat sulit untuk ditolak. Tidak mungkin saksi tersebut berbohong demi keuntungan Anda.
Prinsip inilah yang membuat bukti-bukti yang akan kita bahas begitu menakjubkan. Dalam artikel ini, kita tidak akan mengutip Alkitab sebagai bukti utama. Kita akan memanggil empat penulis kuno dari abad pertama dan kedua Masehi — seorang sejarawan Yahudi, dua orang Romawi, dan seorang satiris Yunani — yang tidak memiliki kepentingan apa pun untuk membela Kekristenan.
Saksi 1: Flavius Josephus — sejarawan Yahudi (37–100 M)
Josephus adalah sejarawan Yahudi yang bekerja untuk Kekaisaran Romawi. Ia bukan orang Kristen. Dalam karyanya yang sangat penting, Antiquities of the Jews, ia mencatat sejarah bangsa Yahudi dari ribuan tahun sebelumnya hingga zaman ketika Josephus hidup yaitu pada abad pertama Masehi.
Menulis pada akhir abad pertama (sekitar tahun 94 Masehi), Josephus berkata:
"Pada waktu itu hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, [jika memang layak menyebutnya seorang manusia]. Sebab ia adalah seseorang yang melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dan merupakan guru bagi orang-orang yang dengan senang hati menerima kebenaran. Ia menarik banyak orang Yahudi dan juga banyak orang Yunani. [Ia adalah sang Mesias.] Ketika Pilatus, setelah mendengar tuduhan terhadapnya dari orang-orang yang paling terkemuka di antara kami, menghukumnya untuk disalibkan, mereka yang sejak awal telah mengasihinya tidak meninggalkan kasih mereka kepadanya. [Sebab ia menampakkan diri kepada mereka hidup kembali pada hari ketiga, sebagaimana para nabi Ilahi telah menubuatkan hal ini dan banyak hal ajaib lainnya tentang dia.] Dan suku orang Kristen, yang dinamakan demikian menurut namanya, hingga hari ini belum lenyap."
Sekali lagi perlu kita ingat bahwa Josephus bukanlah orang Kristen. Sekarang perhatikan apa yang dia konfirmasi tentang Yesus. Pertama, Josephus memberi kesaksian bahwa Yesus adalah tokoh sejarah yang nyata, bukan mitos. Kedua, bahwa Yesus telah disalibkan. Ketiga, bahwa pengikut Yesus percaya bahwa Dia adalah Kristus atau Mesias. Keempat, bahwa para pengikut Kristus disebut Kristen karena mereka setia dan tidak meninggalkan kepercayaan mereka kepada Yesus. Kelima, bahwa para pengikut Yesus paling awal termasuk orang Yahudi dan juga orang Yunani.
Saksi 2: Cornelius Tacitus — sejarawan Romawi (56–120 M)
Tacitus dianggap sebagai salah satu sejarawan Romawi terbesar dan paling teliti. Ia bukan simpatisan Kristen — sebaliknya, ia menyebut Kekristenan sebagai "takhayul yang merusak" (exitiabilis superstitio). Justru karena kebenciannya inilah, catatannya sangat berharga. Tidak mungkin ia merekayasa cerita untuk membela Kekristenan.
Dalam karyanya Annals (15.44), ketika membahas kebakaran besar di Roma pada masa Kaisar Nero (tahun 64 M), Tacitus menulis:
"Nero menimpakan kesalahan... kepada suatu kelas yang dibenci karena kekejian mereka, yang disebut orang Kristen oleh rakyat jelata. Christus, dari mana nama kelompok itu berasal, menderita hukuman ekstrem pada masa pemerintahan Tiberius di tangan salah satu prokurator kita, Pontius Pilatus..."
Fakta sejarah apa yang dikonfirmasi oleh "musuh" Kekristenan ini? Pertama, Yesus dihukum mati melalui eksekusi Romawi — "hukuman ekstrem" adalah istilah Romawi untuk penyaliban. Kedua, eksekusi itu terjadi di bawah pemerintahan Kaisar Tiberius dan oleh Pontius Pilatus — persis seperti catatan Injil dan Pengakuan Iman Nikea. Ketiga, pada tahun 64 M — hanya sekitar tiga puluh tahun setelah kematian Yesus — pengikut-Nya sudah cukup banyak di Roma sehingga menjadi kelompok yang dikenal luas.
Saksi 3: Pliny the Younger — gubernur Romawi (61–113 M)
Saksi ketiga ini sangat penting untuk menjawab satu tuduhan yang terus-menerus diulang: bahwa keilahian Yesus baru "diciptakan" pada Konsili Nikea tahun 325 M oleh Kaisar Konstantinus.
Pada tahun 112 Masehi — lebih dari dua ratus tahun sebelum Konsili Nikea — Pliny, seorang gubernur Romawi di provinsi Bitinia (yaitu negara Turki saat ini), menulis surat kepada Kaisar Trajan. Pliny bertanya bagaimana cara mengadili orang Kristen yang jumlahnya semakin banyak. Dalam suratnya (Epistulae 10.96), ia melaporkan hasil penyelidikannya tentang kebiasaan ibadah mereka:
"...mereka memiliki kebiasaan untuk bertemu pada hari tertentu sebelum fajar, dan menyanyikan lagu pujian secara bergantian kepada Kristus, seperti kepada allah (carmenque Christo quasi deo)..."
Frasa Latin quasi deo — "seperti kepada allah" — adalah bukti yang sangat kuat bahwa pada tahun 112 Masehi orang Kristen sudah menyembah Yesus sebagai Allah. Kepercayaan Kristen bahwa Yesus adalah Allah bukanlah hasil rekayasa politik atau konspirasi para pemimpin gereja. Penyembahan kepada Yesus seperti kepada Allah adalah praktik ibadah yang sudah berlangsung sejak permulaan Kekristenan.
Pliny juga mencatat bahwa orang-orang Kristen ini mengikat diri mereka dengan sumpah untuk tidak mencuri, tidak merampok, tidak berzinah, dan tidak mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepada mereka. Gambaran ini konsisten dengan etika Kristen yang diajarkan dalam Injil dan surat-surat Perjanjian Baru.
Saksi 4: Lucian dari Samosata — satiris Yunani (sekitar 125–180 M)
Saksi terakhir kita berasal dari tradisi yang berbeda. Lucian adalah seorang penulis satir Yunani yang terkenal karena kecerdasannya yang tajam dan sikapnya yang sinis terhadap segala bentuk agama. Dalam karyanya The Passing of Peregrinus, ia menulis tentang orang-orang Kristen dengan nada mengejek:
"Orang-orang Kristen, kamu tahu, menyembah seorang manusia hingga hari ini — tokoh termasyhur yang memperkenalkan ritus-ritus baru mereka, dan disalibkan karena itu... Makhluk-makhluk yang tersesat ini percaya bahwa mereka kekal selamanya, yang menjelaskan sikap mereka yang tidak takut pada kematian dan sikap pengurbanan diri yang begitu lazim di antara mereka. Ditekankan pula kepada mereka oleh pemberi hukum mereka bahwa mereka semua bersaudara yang dimulai sejak saat mereka bertobat, menyangkal dewa-dewi Yunani, dan menyembah sang guru yang disalibkan itu, serta hidup menurut hukum-hukumnya."
Lucian menulis dengan tujuan mengejek, bukan membela. Namun tanpa sadar ia mengkonfirmasi beberapa fakta penting: bahwa Yesus Kristus adalah tokoh sejarah yang nyata, bahwa Ia disalibkan, bahwa para pengikut-Nya menyembah-Nya, bahwa mereka percaya pada kehidupan kekal, dan bahwa mereka hidup menurut ajaran-Nya. Bahkan ejekan Lucian tentang keberanian orang Kristen menghadapi kematian konsisten dengan catatan-catatan tentang para martir Kristen.
Empat saksi di luar empat Injil, tetap satu kesimpulan
Mari kita rangkum kesaksian dari para penulis non-Kristen di atas.
Josephus, seorang sejarawan Yahudi, mengkonfirmasi bahwa Yesus adalah sosok sejarah, bahwa Yesus disalibkan, dan bahwa para pengikut Yesus menerimanya sebagai sang Mesias atau "Kristus" dan bahwa mereka dengan setia mengikutinya.
Tacitus, sejarawan Romawi terbesar, mengkonfirmasi penyaliban Yesus di bawah Pontius Pilatus pada masa Tiberius.
Pliny, gubernur Romawi, mengkonfirmasi bahwa orang Kristen mula-mula menyembah Yesus sebagai Allah — dua abad sebelum Kaisar Konstantinus dan Konsili Nikea.
Lucian, seorang satir yang suka mengejek agama, mengkonfirmasi penyaliban Yesus dan penyembahan terhadapnya yang dilakukan oleh orang-orang Kristen.
Keempat saksi ini bukan orang Kristen. Mereka tidak memiliki motif untuk membela Kekristenan. Beberapa di antaranya justru memusuhi dan mengejek orang Kristen. Namun kesaksian mereka, secara konsisten dan independen, mengkonfirmasi fakta-fakta inti yang dicatat dalam Injil: Yesus hidup, Ia disalibkan, dan para pengikut-Nya menyembah-Nya sebagai Allah.
Mengapa ini penting?
Bagi kita pengikut Yesus, bukti-bukti ini menguatkan keyakinan kita bahwa iman Kristen bukan didasarkan pada "dongeng-dongeng isapan jempol yang cerdik" (2 Petrus 1:16) tetapi pada peristiwa sejarah yang nyata, yang disaksikan bukan hanya oleh orang percaya tetapi juga oleh orang-orang di luar iman Kristen.
Bagi Anda yang masih menyelidiki klaim-klaim Kekristenan, pertimbangkanlah ini: tidak ada tokoh dari dunia kuno yang memiliki bukti non-partisan (tidak memihak) sebanyak Yesus anak Maria (Maryam). Sejarawan Yahudi mencatat mengenai Yesus. Pejabat Romawi membahas-Nya dalam surat resmi kepada kaisar. Sejarawan terbesar Romawi mencatat penyaliban-Nya. Bahkan seorang pengejek agama pun mengakui keberadaan-Nya dan pengaruh gerakan yang Ia mulai.
Ini sangat berbeda dengan klaim mengenai tokoh-tokoh keagamaan yang aktivitasnya hanya diketahui dari satu sumber tunggal, tanpa konfirmasi independen dari pihak luar. Yesus meninggalkan jejak yang tercatat tidak hanya oleh pengikut-Nya, tetapi juga oleh musuh-musuh-Nya.
Kitab Suci yang dapat dipercaya
Selama tujuh artikel, kita telah melakukan perjalanan yang panjang. Kita mulai dengan memahami siapa Allah yang kita sembah — Allah Tritunggal yang mewahyukan diri-Nya. Kita melihat bagaimana Alkitab diilhamkan melalui pribadi-pribadi manusia yang unik, bagaimana kitab-kitab di dalamnya diakui — bukan dipilih — sebagai Firman Allah. Kita mempelajari bagaimana ribuan manuskrip membuktikan bahwa teks Alkitab terpelihara dengan setia, dan bagaimana variasi tekstual justru memperkuat keasliannya. Dan dalam dua artikel terakhir ini, kita melihat bahwa bukti dari luar Alkitab — baik arkeologi maupun catatan sejarah non-Kristen — secara konsisten mengkonfirmasi kebenaran catatan Alkitab.
Inilah fondasi yang kuat bagi Alkitab, Kitab Suci orang Kristen.
Alkitab yang kita pegang hari ini adalah firman yang diilhamkan Allah, diakui oleh umat-Nya, dipelihara dengan setia, dan dikonfirmasi kebenarannya oleh sejarah.
Tetapi Alkitab bukan sekadar buku sejarah yang akurat. Alkitab adalah kesaksian tentang seseorang. Seluruh Alkitab — dari Kejadian hingga Wahyu — menunjuk kepada satu Pribadi yaitu Yesus Kristus.
Lantas siapakah Yesus sesungguhnya? Mengapa kematian-Nya di kayu salib begitu penting? Dan apa artinya kebangkitan-Nya bagi kita hari ini?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kita jelajahi dalam seri mengenai Yesus.
Tuhan memberkati ✝️