Renungan Malam — 10 Maret 2026

Ayub 14:1
Manusia ... singkat umurnya dan penuh kegelisahan.

Mungkin akan sangat bermanfaat bagi kita, sebelum kita tertidur, untuk mengingat fakta menyedihkan ini, karena hal itu dapat menuntun kita untuk melepaskan diri dari hal-hal duniawi. Tidak ada yang menyenangkan ketika mengingat bahwa kita tidak kebal terhadap cobaan, tetapi hal itu dapat merendahkan hati kita dan mencegah kita agar tidak membual seperti pemazmur dalam renungan kita di pagi hari. "Dalam kesenanganku aku berkata: "Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!" Hal itu dapat mencegah kita supaya tidak terlalu berakar di tanah ini dari mana kita akan segera dipindahkan ke taman surgawi.

Marilah kita mengingat betapa rapuhnya kepemilikan kita atas rahmat duniawi. Jika kita ingat bahwa semua pohon di bumi ditandai untuk kapak penebang kayu, kita tidak akan begitu mudah membangun sarang kita di dalamnya. Kita harus mencintai, tetapi kita harus mencintai dengan cinta yang mengharapkan kematian, dan yang memperhitungkan perpisahan.

Kerabat kita yang terkasih hanyalah pinjaman bagi kita, dan saat kita harus mengembalikannya kepada pemberi pinjaman mungkin sudah di depan mata. Hal yang sama tentu berlaku untuk harta benda duniawi kita. Bukankah kekayaan bisa terbang dan menghilang? Kesehatan kita pun sama rapuhnya. Bunga-bunga rapuh di ladang, kita tidak boleh berharap akan mekar selamanya. Ada waktu yang ditetapkan untuk kelemahan dan penyakit, ketika kita harus memuliakan Tuhan dengan penderitaan, dan bukan dengan aktivitas dan kerja kita.

Tidak ada satu pun titik di mana kita dapat berharap untuk lolos dari panah tajam penderitaan; dari sedikit hari kita, tidak ada satu pun yang aman dari kesedihan. Hidup manusia adalah tong penuh anggur pahit; dia yang mencari sukacita di dalamnya lebih baik mencari madu di lautan air asin.

Pembaca yang terkasih, janganlah menaruh kasih sayangmu pada hal-hal duniawi: tetapi carilah hal-hal yang di atas, karena di sini ngengat melahap, dan pencuri membobol, tetapi di sana semua sukacita abadi dan kekal. Jalan kesusahan adalah jalan pulang. Tuhan, jadikanlah pemikiran ini bantal bagi banyak kepala yang lelah!


Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).