Renungan Malam — 15 Oktober 2026
Keluaran 34:20
Tetapi anak yang lahir terdahulu dari keledai haruslah kautebus dengan seekor domba; jika tidak kautebus, haruslah kaupatahkan batang lehernya. Setiap yang sulung dari antara anak-anakmu haruslah kautebus, dan janganlah orang menghadap ke hadirat-Ku dengan tangan hampa.
Setiap anak sulung harus menjadi milik Tuhan, tetapi karena keledai itu najis, ia tidak dapat dipersembahkan sebagai kurban. Lalu bagaimana? Haruskah ia dibiarkan bebas dari hukum universal? Sama sekali tidak. Tuhan tidak menerima pengecualian. Keledai itu adalah hak-Nya, tetapi Dia tidak akan menerimanya; Dia tidak akan mengurangi tuntutan itu, tetapi Dia tetap tidak berkenan dengan korban tersebut. Tidak ada jalan keluar lain selain penebusan—makhluk itu harus diselamatkan dengan cara seekor domba mati sebagai gantinya; atau jika tidak ditebus, ia sendiri yang harus mati. Jiwaku, inilah pelajaran bagimu. Hewan najis itu adalah dirimu sendiri; engkau adalah milik Tuhan yang menciptakanmu dan memeliharamu, tetapi engkau begitu berdosa sehingga Tuhan tidak mau, tidak dapat, menerimamu; dan telah sampai pada titik ini, Anak Domba Allah harus menggantikanmu, atau engkau harus mati selamanya. Biarlah seluruh dunia mengetahui rasa syukurmu kepada Anak Domba yang tak bernoda itu, yang telah berdarah untukmu, dan dengan demikian menebusmu dari kutukan hukum yang mematikan. Bukankah terkadang orang Israel bertanya-tanya, mana yang harus mati, keledai atau domba? Bukankah orang baik akan berhenti sejenak untuk memperkirakan dan membandingkan? Tentu saja tidak ada perbandingan antara nilai jiwa manusia dan kehidupan Tuhan Yesus, namun Anak Domba mati, dan manusia, si keledai, diselamatkan. Jiwaku, kagumi kasih Allah yang tak terbatas kepadamu dan kepada sesama umat manusia. Cacing ditebus dengan darah Putra Yang Mahatinggi! Debu dan abu ditebus dengan harga yang jauh lebih tinggi daripada perak dan emas! Betapa mengerikannya nasibku jika penebusan yang berlimpah itu tidak diadakan! Patahnya leher keledai hanyalah hukuman sesaat, tetapi siapa yang dapat mengukur murka yang akan datang yang tak terbayangkan batasnya? Tak ternilai harganya Anak Domba yang mulia yang telah menebus kita dari nasib seperti itu.
Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).
Komentar ()