Renungan Malam — 22 Juli 2026
Yohanes 19:5
Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!"
Jika ada satu tempat di mana Tuhan Yesus kita paling sepenuhnya menjadi sukacita dan penghibur umat-Nya, itu adalah tempat Ia terperosok paling dalam ke dalam jurang kesengsaraan. Marilah kemari, jiwa-jiwa yang penuh rahmat, dan lihatlah Manusia di taman Getsemani; lihatlah hati-Nya yang begitu meluap dengan kasih sehingga Ia tidak dapat menahannya—begitu penuh dengan kesedihan sehingga harus menemukan jalan keluar. Lihatlah keringat berdarah yang menetes dari setiap pori tubuh-Nya, dan jatuh ke tanah. Lihatlah Manusia itu ketika mereka memaku tangan dan kaki-Nya. Pandanglah ke atas, orang-orang berdosa yang bertobat, dan lihatlah gambaran kesedihan Tuhanmu yang menderita. Perhatikanlah Dia, ketika tetesan rubi berdiri di atas mahkota duri, dan menghiasi mahkota Raja Kesengsaraan dengan permata yang tak ternilai harganya. Lihatlah Manusia itu ketika semua tulang-Nya terlepas dari sendinya, dan Ia dicurahkan seperti air dan dibawa ke dalam debu kematian; Allah telah meninggalkan-Nya, dan neraka mengelilingi-Nya. Lihatlah dan saksikanlah, pernahkah ada kesedihan seperti kesedihan yang menimpa-Nya? Wahai kalian yang lewat, mendekatlah dan lihatlah pemandangan duka ini, unik, tak tertandingi, keajaiban bagi manusia dan malaikat, sebuah keajaiban yang tak ada bandingannya. Lihatlah Raja Kesengsaraan yang tak ada tandingannya dalam penderitaan-Nya! Pandanglah Dia, hai orang-orang yang berduka, karena jika tidak ada penghiburan dalam Kristus yang disalibkan, maka tidak ada sukacita di bumi atau di surga. Jika dalam harga tebusan darah-Nya tidak ada harapan, hai kecapi surga, maka tidak ada sukacita di dalam kalian, dan tangan kanan Allah tidak akan mengenal kesenangan selama-lamanya. Kita hanya perlu duduk lebih sering di kaki salib agar tidak terlalu terganggu oleh keraguan dan kesengsaraan kita. Kita hanya perlu melihat kesedihan-Nya, dan kesedihan kita akan kita malu untuk sebutkan; kita hanya perlu menatap luka-luka-Nya dan menyembuhkan luka kita sendiri. Jika kita ingin hidup dengan benar, itu harus dengan merenungkan kematian-Nya; jika kita ingin mencapai martabat, itu harus dengan mempertimbangkan penghinaan dan kesedihan-Nya.
Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).
Komentar ()