Renungan Malam — 23 April 2026

Wahyu 5:6
Maka aku melihat di tengah-tengah takhta itu ... berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih.

Mengapa Tuhan kita yang dimuliakan harus tampak dalam luka-luka-Nya dalam kemuliaan? Luka-luka Yesus adalah kemuliaan-Nya, permata-Nya, ornamen suci-Nya. Di mata orang percaya, Yesus sangat indah karena Dia "putih dan kemerahan," putih dengan kesucian, dan kemerahan dengan darah-Nya sendiri. Kita melihat Dia sebagai bunga bakung dengan kemurnian yang tak tertandingi, dan sebagai mawar yang merah tua dengan darah-Nya sendiri. Kristus indah di Bukit Zaitun dan di Tabor, dan di tepi laut, tetapi oh! tidak pernah ada Kristus yang tak tertandingi seperti Dia yang tergantung di kayu salib. Di sana kita melihat semua keindahan-Nya dalam kesempurnaan, semua sifat-Nya terungkap, semua kasih-Nya tercurah, semua karakter-Nya terekspresikan. Saudara-saudari yang terkasih, luka-luka Yesus jauh lebih indah di mata kita daripada semua kemegahan dan kemewahan raja-raja. Mahkota duri lebih dari sekadar mahkota kerajaan.

Yesus mengenakan rupa Anak Domba yang disembelih sebagai pakaian istana-Nya, yang dengannya Ia memikat jiwa kita, dan menebusnya dengan penebusan-Nya yang sempurna. Ini bukan hanya perhiasan Kristus: ini adalah piala kasih dan kemenangan-Nya. Ia telah menebus bagi diri-Nya sejumlah besar orang yang tak terhitung jumlahnya, dan bekas luka ini adalah peringatan pertempuran itu. Ah! Jika Kristus begitu senang mengingat penderitaan-Nya bagi umat-Nya, betapa berharganya luka-luka-Nya bagi kita! "Lihatlah bagaimana setiap luka-Nya mengeluarkan balsam yang berharga, yang menyembuhkan bekas luka yang disebabkan dosa, dan menyembuhkan semua penyakit fana." Luka-luka itu adalah mulut yang memberitakan kasih karunia-Nya; panji-panji kasih-Nya; meterai kebahagiaan yang kita harapkan di surga."


Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).