Renungan Malam — 27 September 2026

Kidung Agung 5:4
Kekasihku memasukkan tangannya melalui lobang pintu, berdebar-debarlah hatiku.

Mengetuk saja tidak cukup, karena hatiku terlalu dipenuhi kantuk, terlalu dingin dan tidak bersyukur untuk bangkit dan membuka pintu, tetapi sentuhan kasih karunia-Nya yang berkuasa telah membuat jiwaku bergerak. Oh, kesabaran Kekasihku, untuk menunggu ketika Dia mendapati diri-Nya tertutup, dan aku tertidur di atas ranjang kemalasan! Oh, kebesaran kesabaran-Nya, untuk mengetuk dan mengetuk lagi, dan menambahkan suara-Nya pada ketukan-Nya, memohon agar aku membukakan pintu bagi-Nya! Bagaimana mungkin aku menolak-Nya! Hati yang hina, malu dan bingunglah! Tetapi kebaikan terbesar dari semuanya adalah ini, bahwa Dia menjadi penjaga pintu-Nya sendiri dan membuka pintu itu sendiri. Tiga kali diberkati tangan yang berkenan mengangkat kait dan memutar kunci. Sekarang aku melihat bahwa tidak ada yang lain selain kuasa Tuhanku sendiri yang dapat menyelamatkan orang jahat dan penuh keburukan seperti aku; peraturan-peraturan gagal, bahkan Injil pun tidak berpengaruh padaku, sampai tangan-Nya terulurkan. Sekarang, aku juga menyadari bahwa tangan-Nya baik di saat segala sesuatu yang lain gagal, Dia dapat membuka jalan ketika tidak ada yang lain yang mampu. Terpujilah nama-Nya, aku merasakan kehadiran-Nya yang penuh rahmat bahkan sekarang. Hatiku memang patut terenyuh karena Dia, ketika aku memikirkan semua penderitaan yang telah Dia derita untukku, dan balasanku yang tidak murah hati. Aku telah membiarkan kasih sayangku mengembara. Aku telah menciptakan saingan. Aku telah menyakiti-Nya. Kekasihku yang terkasih dan tersayang dari semua kekasih, aku telah memperlakukan-Mu seperti seorang istri yang tidak setia memperlakukan suaminya. Oh, dosa-dosaku yang kejam, diriku yang kejam. Apa yang dapat kulakukan? Air mata hanyalah pertunjukan penyesalanku yang buruk, seluruh hatiku mendidih karena marah pada diriku sendiri. Celakalah aku, memperlakukan Tuhanku, segalanya bagiku, sukacitaku yang sangat besar, seolah-olah Dia adalah orang asing. Yesus, Engkau mengampuni dengan cuma-cuma, tetapi ini tidak cukup, cegahlah ketidaksetiaanku di masa depan. Ciumlah air mata ini, lalu sucikan hatiku dan ikatlah dengan tujuh tali kepada-Mu, agar tidak pernah mengembara lagi.


Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).