Renungan Pagi — 14 April 2026
Mazmur 22:8
Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya.
Ejekan adalah unsur besar dalam penderitaan Tuhan kita. Yudas mengejek-Nya di taman Getsemani; para imam kepala dan ahli Taurat menertawakan-Nya; Herodes meremehkan-Nya; para pelayan dan tentara mencemooh-Nya, dan menghina-Nya dengan kejam; Pilatus dan para pengawalnya mengejek keagungan-Nya; dan di kayu salib segala macam lelucon mengerikan dan ejekan keji dilontarkan kepada-Nya. Ejekan selalu sulit ditanggung, tetapi ketika kita berada dalam penderitaan yang hebat, ejekan itu begitu kejam dan tak berperasaan, sehingga menusuk kita sampai ke lubuk hati. Bayangkan Sang Juruselamat yang disalibkan, menderita kesengsaraan yang jauh melampaui semua dugaan manusia, dan kemudian bayangkan kerumunan orang yang beraneka ragam itu, semuanya menggelengkan kepala atau mencibir dengan penghinaan yang paling pahit terhadap satu korban yang menderita! Pasti ada sesuatu yang lebih dalam diri Sang Juruselamat yang disalibkan daripada yang dapat mereka lihat, atau jika tidak, kerumunan besar dan beragam itu tidak akan secara bulat menghormati-Nya dengan penghinaan seperti itu. Bukankah kejahatan mengakui, tepat pada saat kelihatannya merupakan momen kemenangan terbesarnya, bahwa pada akhirnya ia tidak dapat berbuat apa-apa selain dari sekadar mengejek kebaikan yang saat itu berkuasa di kayu salib?
Oh Yesus, "yang dihina dan ditolak oleh manusia," bagaimana mungkin Engkau mati untuk manusia yang memperlakukan-Mu dengan begitu buruk? Di sinilah kasih itu menakjubkan, kasih ilahi, ya, kasih yang tak terhingga. Kami pun telah menghina-Mu di masa-masa sebelum kami bertobat, dan bahkan sejak kelahiran baru kami, kami telah meninggikan dunia di dalam hati kami, namun Engkau berdarah untuk menyembuhkan luka-luka kami, dan mati untuk memberi kami hidup. Oh, betapa Engkau seharusnya bertakhta di hati semua manusia! Kami akan menggemakan pujian-Mu di darat dan laut sampai semua manusia menyembah-Mu seperti dulu mereka menolak-Mu.
Makhluk-Mu berbuat salah kepada-Mu, ya Engkau Yang Maha Kuasa!
Engkau tidak dicintai, karena tidak dipahami:
Hatiku pilu dan sedih karena pengejaran yang sia-sia menipu
Manusia yang tidak tahu berterima kasih, tanpa mempedulikan senyuman-Mu.
Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).