Renungan Pagi — 15 April 2026

Mazmur 22:1
Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?

Di sini kita melihat Sang Juruselamat dalam kesedihan-Nya yang mendalam. Tidak ada tempat lain yang begitu baik menunjukkan duka Kristus selain Kalvari, dan tidak ada momen lain di Kalvari yang begitu penuh penderitaan seperti saat seruan-Nya memekakkan telinga—"Ya Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Pada saat itu, kelemahan fisik bersatu dengan siksaan mental yang hebat akibat rasa malu dan kehinaan yang harus Ia lalui; dan untuk membuat duka-Nya mencapai puncaknya, Ia menderita penderitaan rohani yang melampaui segala ungkapan, akibat kepergian-Nya dari hadirat Bapa. Inilah tengah malam yang gelap dari kengerian-Nya; saat itulah Ia turun ke jurang penderitaan. Tidak seorang pun dapat memahami sepenuhnya makna kata-kata ini. Beberapa dari kita terkadang berpikir bahwa kita dapat berseru, "Ya Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Ada saat-saat ketika kecerahan senyum Bapa kita tertutupi oleh awan dan kegelapan; tetapi marilah kita ingat bahwa Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Bagi kita sepertinya demikian tetapi sesungguhnya tidak, tetapi dalam kasus Kristus, Bapa sungguh-sungguh meninggalkan Dia. Kita berduka atas sedikit penarikan kasih Bapa kita; tetapi berpalingnya wajah Allah dari Putra-Nya, siapa yang dapat menghitung betapa dalamnya penderitaan yang ditimbulkannya pada-Nya?

Dalam kasus kita, seruan kita sering kali timbul dari ketidakpercayaan: dalam kasus Yesus, itu adalah ungkapan fakta yang mengerikan, karena Allah benar-benar telah berpaling dari-Nya untuk sementara waktu. Oh, jiwa yang malang dan menderita, yang pernah hidup dalam sinar wajah Allah, tetapi sekarang berada dalam kegelapan, ingatlah bahwa Dia tidak benar-benar meninggalkanmu. Allah di balik awan adalah Allah yang sama ketika Dia bersinar dalam semua kemuliaan kasih karunia-Nya. Namun renungkan penderitaan Kristus: bagi kita bahkan memikirikan bahwa Dia telah meninggalkan kita memberi kita penderitaan, betapa lebih besarnya lagi kesedihan Juruselamat ketika Dia berseru, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"


Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).