Renungan Pagi — 17 Oktober 2026

1 Samuel 27:1
Tetapi Daud berpikir dalam hatinya: "Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Jadi tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya."

Pikiran hati Daud saat itu adalah pikiran yang keliru, karena ia tentu tidak punya alasan untuk berpikir bahwa pengurapan Allah kepadanya melalui Samuel dimaksudkan untuk menjadi tindakan yang hampa dan tidak berarti. Tidak pernah sekalipun Tuhan meninggalkan hamba-Nya; ia sering ditempatkan dalam posisi berbahaya, tetapi tidak pernah sekalipun terjadi di mana campur tangan ilahi tidak menyelamatkannya. Cobaan yang dihadapinya beragam; cobaan itu tidak hanya berbentuk satu, tetapi banyak—namun dalam setiap kasus, Dia yang mengirimkan cobaan itu juga dengan penuh kasih telah menetapkan jalan keluar. Daud tidak dapat menunjuk pada catatan mana pun dalam buku hariannya, dan mengatakan, "Inilah bukti bahwa Tuhan meninggalkanku," karena seluruh perjalanan hidupnya di masa lalu membuktikan sebaliknya. Ia seharusnya berargumen dari apa yang telah Allah lakukan untuknya, bahwa Allah akan tetap menjadi pembelanya. Tetapi bukankah dengan cara yang sama kita juga meragukan pertolongan Allah? Bukankah itu ketidakpercayaan tanpa sebab? Pernahkah kita memiliki sedikit pun alasan untuk meragukan kebaikan Bapa kita? Bukankah kasih setia-Nya sungguh menakjubkan? Pernahkah Ia gagal membuktikan bahwa Ia layak kita percayai? Ah, tidak! Allah kita tidak pernah meninggalkan kita. Kita telah mengalami malam-malam yang gelap, tetapi bintang kasih telah bersinar di tengah kegelapan; kita telah berada dalam konflik yang berat, tetapi di atas kepala kita Ia telah mengangkat perisai perlindungan kita. Kita telah melalui banyak cobaan, tetapi tidak pernah merugikan kita, selalu menguntungkan kita; dan kesimpulan dari pengalaman masa lalu kita adalah, bahwa Dia yang telah bersama kita dalam enam kesusahan, tidak akan meninggalkan kita dalam kesusahan ketujuh. Apa yang telah kita ketahui tentang Allah kita yang setia, membuktikan bahwa Ia akan memelihara kita sampai akhir. Karena itu, janganlah kita berpikir bertentangan dengan bukti. Bagaimana mungkin kita begitu picik sehingga meragukan Allah kita? Tuhan, hancurkanlah Izebel ketidakpercayaan kami, dan biarlah anjing-anjing memakannya.


Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).