Renungan Pagi — 25 Agustus 2026

Kidung Agung 2:3
--Seperti pohon apel di antara pohon-pohon di hutan, demikianlah kekasihku di antara teruna-teruna. Di bawah naungannya aku ingin duduk, buahnya manis bagi langit-langitku.

Iman, dalam Kitab Suci, dibicarakan di bawah lambang semua indra. Itu adalah penglihatan: "Pandanglah kepada-Ku dan selamatkanlah dirimu." Itu adalah pendengaran: "Dengarlah, dan jiwamu akan hidup." Iman adalah penciuman: "Segala pakaian-Mu berbau mur, lidah buaya, dan kayu manis; "nama-Mu seperti minyak wangi yang dicurahkan." Iman adalah sentuhan rohani. Dengan iman inilah perempuan itu datang dari belakang dan menyentuh ujung jubah Kristus, dan dengan ini pula kita memegang hal-hal dari firman hidup yang baik. Iman juga merupakan pengecapan roh. "Betapa manisnya firman-Mu bagi seleraku! Ya, lebih manis daripada madu di bibirku." "Kecuali seseorang makan daging-Ku," kata Kristus, "dan minum darah-Ku, tidak ada hidup di dalam dirinya." "Pengecapan" ini adalah iman dalam salah satu operasinya yang tertinggi. Salah satu perwujudan pertama iman adalah pendengaran. Kita mendengar suara Tuhan, bukan hanya dengan telinga lahiriah, tetapi juga dengan telinga batin; kita mendengarnya sebagai Firman Tuhan, dan kita percaya demikian; Itulah "pendengaran" iman. Kemudian pikiran kita memandang kebenaran sebagaimana yang disajikan kepada kita; artinya, kita memahaminya, kita menyadari maknanya; itulah "penglihatan" iman. Selanjutnya kita menemukan nilainya; kita mulai mengaguminya, dan menemukan betapa harumnya; itulah iman dalam "baunya." Kemudian kita menerima rahmat yang telah disiapkan bagi kita di dalam Kristus; itulah iman dalam "sentuhannya." Dari situ kemudian muncul kenikmatan, kedamaian, sukacita, persekutuan; yang merupakan iman dalam "rasanya." Setiap tindakan iman ini menyelamatkan. Mendengar suara Kristus sebagai suara Allah yang pasti di dalam jiwa akan menyelamatkan kita; tetapi yang memberikan kenikmatan sejati adalah aspek iman di mana Kristus, melalui rasa kudus, diterima ke dalam kita, dan dijadikan, melalui pemahaman batin dan rohani akan kemanisan dan nilai-Nya, sebagai makanan jiwa kita. Saat itulah kita duduk "di bawah naungan-Nya dengan sukacita yang besar," dan menemukan buah-Nya manis bagi selera kita.


Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).