Renungan Pagi — 30 Juli 2026
Markus 14:72
Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu menangislah ia tersedu-sedu.
Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa selama Petrus hidup, air matanya terus mengalir setiap kali ia mengingat penyangkalannya terhadap Tuhannya. Tidak mustahil memang demikian, (karena dosanya sangat besar, dan kasih karunia di dalam dirinya kemudian menghasilkan karya yang sempurna). Pengalaman yang sama dialami oleh seluruh umat tebusan sesuai dengan tingkat di mana Roh Allah telah menghilangkan hati batu yang berdosa. Kita, seperti Petrus, mengingat janji kita yang membanggakan: "Meskipun semua orang meninggalkan Engkau, namun aku tidak akan." Kita menelan kata-kata kita sendiri dengan ramuan pahit pertobatan. Ketika kita memikirkan apa yang telah kita nazarkan, dan apa yang telah kita lakukan, kita mungkin menangis tersedu-sedu karena kesedihan. Ia memikirkan penyangkalannya terhadap Tuhannya. Tempat di mana ia melakukannya, penyebab kecil yang membawanya ke dalam dosa yang begitu keji, sumpah dan penghujatan yang dengannya ia berusaha untuk menegaskan kebohongannya, dan kekerasan hati yang mengerikan yang mendorongnya untuk melakukannya lagi dan lagi. Dapatkah kita, ketika kita diingatkan akan dosa-dosa kita, dan dosa-dosa kita yang sangat besar, tetap tegar dan keras kepala? Tidakkah kita akan berseru kepada Tuhan untuk jaminan pengampunan yang penuh kasih? Semoga kita tidak pernah menatap dosa tanpa meneteskan air mata, atau tidak lama lagi lidah kita akan kering terbakar api neraka. Petrus juga merenungkan tatapan kasih Gurunya. Tuhan menindaklanjuti suara ayam jantan yang berkokok itu dengan tatapan penuh duka, belas kasihan, dan kasih. Tatapan itu tidak pernah hilang dari pikiran Petrus selama hidupnya. Itu jauh lebih efektif daripada sepuluh ribu khotbah tanpa Roh Kudus. Rasul yang bertobat itu pasti akan menangis ketika ia mengingat pengampunan penuh Juruselamat, yang memulihkannya ke tempatnya semula. Memikirkan bahwa kita telah menyinggung Tuhan yang begitu baik dan ramah sudah lebih dari cukup alasan untuk terus-menerus menangis. Tuhan, hancurkan hati kami yang keras seperti batu, dan buatlah air mengalir.
Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).
Komentar ()