Renungan Pagi — 7 Oktober 2026

Bilangan 11:11
Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata- Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?"

Bapa Surgawi kita sering mengirimkan kita berbagai kesulitan untuk menguji iman kita. Jika iman kita berharga, ia akan mampu melewati ujian. Emas imitasi takut api, tetapi emas asli tidak: permata imitasi takut disentuh oleh berlian, tetapi permata sejati tidak takut ujian. Iman yang lemah adalah iman yang hanya dapat mempercayai Tuhan ketika teman-teman setia, tubuh sehat, dan bisnis menguntungkan; tetapi iman sejati adalah iman yang berpegang teguh pada kesetiaan Tuhan ketika teman-teman telah tiada, ketika tubuh sakit, ketika semangat tertekan, dan terang wajah Bapa kita tersembunyi. Iman yang dapat berkata, dalam kesulitan yang paling berat, "Meskipun Ia membunuhku, namun aku akan tetap percaya kepada-Nya," (Ayub 13:15) adalah iman yang berasal dari surga. Tuhan menimpakan penderitaan kepada hamba-hamba-Nya untuk memuliakan diri-Nya, karena Ia sangat dimuliakan dalam pertumbuhan rohani umat-Nya, yang merupakan karya tangan-Nya sendiri. Ketika "kesengsaraan menghasilkan ketekunan; dan ketekunan menghasilkan pengalaman; dan pengalaman menghasilkan pengharapan," Tuhan dimuliakan oleh kebajikan-kebajikan yang terus bertumbuh ini. Kita tidak akan pernah mendengar musik dari kecapi jika senarnya tidak disentuh; tidak akan menikmati sari anggur jika tidak diperas di kilangan anggur; tidak akan menemukan aroma manis kayu manis jika tidak diperas dan ditumbuk; tidak akan merasakan kehangatan api jika bara apinya tidak benar-benar hangus. Kebijaksanaan dan kuasa Sang Pencipta Agung terungkap melalui cobaan yang dialami oleh hamba-hamba rahmat-Nya. Penderitaan saat ini juga cenderung meningkatkan sukacita di masa depan. Harus ada gradasi dalam lukisan untuk menonjolkan keindahan cahaya. Mungkinkah kita diberkati sedemikian rupa di surga, jika kita tidak mengenal kutukan dosa dan kesedihan di bumi? Bukankah kedamaian akan terasa lebih manis setelah konflik, dan istirahat akan lebih menyenangkan setelah kerja keras? Bukankah mengingat penderitaan masa lalu akan meningkatkan kebahagiaan orang-orang yang dimuliakan? Ada banyak jawaban yang menghiburkan untuk pertanyaan yang kita ajukan di awal meditasi singkat kita, marilah kita merenungkannya sepanjang hari ini.


Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).