Kejadian


Tentang Seri Ini:
Artikel ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari The Gospel Coalition (TGC) Bible Commentary untuk Kitab Kejadian.
Penulis: T. D. Alexander, Ph.D. (Senior Lecturer in Biblical Studies, Union Theological College, Belfast)
Sumber Asli: The Gospel Coalition Bible Commentary — Genesis
Diterjemahkan dan dipublikasikan untuk tujuan edukasi dan non-komersial.


Pengantar Kitab Kejadian

Sebagai kitab pertama dalam Alkitab, Kitab Kejadian memiliki peranan yang teramat penting. Ditempatkan di bagian awal Sejarah Utama (Primary History, Kejadian sampai 2 Raja-raja), Kitab Kejadian berfungsi sebagai pintu masuk menuju sebuah metanarasi agung yang diilhamkan Allah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan paling mendasar dalam hidup manusia: Apakah ciptaan memiliki suatu tujuan? Di manakah posisi manusia di tengah dunia ini? Apa yang sebenarnya rusak dalam dunia kita? Serta, adakah jalan keluar atas persoalan-persoalan yang kita hadapi?

Kitab Kejadian mengawali sebuah kisah besar. Bagaikan halaman-halaman pembuka dari sebuah novel agung, Kejadian memperkenalkan tokoh-tokoh utamanya serta menjelaskan relasi di antara mereka. Dengan menata latar peristiwanya, kitab ini menyediakan informasi penting yang memampukan pembaca memahami seluruh rangkaian kisah berikutnya. Kejadian menetapkan dinamika alur (plot) yang kemudian terbentang dan digenapi di seluruh sisa Kitab Suci.

Sebuah pengantar singkat tentu tidak akan sanggup merangkum seluruh pembahasan ilmiah mendalam yang pernah ditulis mengenai Kitab Kejadian. Uraian berikut sengaja difokuskan pada tantangan tentang bagaimana kita dapat membaca teks kuno ini secara paling tepat, sebuah teks yang menjadi fondasi bagi pemahaman segenap Alkitab. Persoalan mengenai kepengarangan, waktu penulisan, dan keabsahan historis hanya akan dibahas secara ringkas.

Membaca Kejadian sebagai Karya Sastra yang Utuh

Bagi banyak pembaca modern, Kitab Kejadian kerap dipandang sekadar sebagai kumpulan cerita pendek terpisah-pisah yang digabungkan bersama dan dilengkapi dengan berbagai daftar silsilah (genealogi). Jika dinilai berdasarkan gaya penulisan Barat modern, Kejadian seolah-olah bukan merupakan suatu karya sastra terpadu yang ditulis oleh seorang penulis tunggal, karena ia tidak memiliki sifat kehomogenan yang biasa kita jumpai dalam sastra kontemporer.

Tidak diragukan lagi bahwa siapa pun yang membentuk Kitab Kejadian telah memanfaatkan berbagai materi tradisi yang sudah ada sebelumnya. Meskipun materi-materi di dalamnya tidak sepenuhnya seragam, Kitab Kejadian adalah sebuah karya yang sungguh utuh dan padu. Kitab ini merupakan sebuah kolase sastra agung yang memadukan beragam jenis materi untuk menghasilkan karya literatur yang amat mendalam. Kitab Kejadian dapat diumpamakan seperti tubuh manusia yang tersusun atas berbagai organ dan anggota tubuh yang tampak sangat berbeda satu sama lain, namun seluruhnya memiliki DNA yang sama dan berfungsi bersama sebagai satu kesatuan utuh. Kendati terdapat keanekaragaman dari bagian-bagian tubuh tersebut, semuanya berada dalam harmoni yang sempurna. Demikian pulalah halnya dengan Kitab Kejadian.

Sayangnya, sebagian besar studi mengenai Kitab Kejadian jarang menelaah kitab ini secara menyeluruh. Kerap kali bagian-bagian tertentu dianggap sebagai sisipan kemudian hari yang seakan mengganggu narasi yang semula padu. Sebagai contoh, kisah mengenai hubungan Yehuda dengan menantunya, Tamar, dalam Kejadian 38 sering kali dianggap sebagai penyisipan yang keliru ke dalam rangkaian kisah Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya. Padahal, pasal 38 justru memberikan wawasan yang sangat penting mengenai transformasi karakter Yehuda: dari seorang saudara yang tega menjual Yusuf ke dalam perbudakan di Mesir (37:26–27) menjadi seorang saudara yang rela mengorbankan kebebasan dirinya sendiri dan menjadi budak di Mesir demi membebaskan adik bungsu Yusuf, Benyamin (44:18–34). Perubahan hati nurani Yehuda sungguh luar biasa; tanpa pasal 38, Kitab Kejadian tidak akan memiliki penjelasan naratif atas transformasi karakternya yang dramatis tersebut.

Bila dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh, Kitab Kejadian ditutup dengan membangun pengharapan bahwa garis kepemimpinan kerajaan di masa depan akan terpaut pada keturunan Yehuda atau Yusuf. Yehuda memegang peranan yang sangat penting dalam pasal-pasal penutup Kejadian dan tidak boleh dipisahkan dari narasi yang lazim disebut "Kisah Yusuf" hanya karena pasal 38 sepintas tampak seperti teks sisipan. Terlebih lagi, Kejadian 38 dibuka dan ditutup dengan tema-tema yang menjadi inti penggerak alur Kitab Kejadian (seperti: anak sulung, benih keturunan, dan pembalikan hak kesulungan). Kita akan kehilangan pemahaman yang amat esensial jika kita mengabaikan pasal 38 saat membaca Kitab Kejadian.

Kesatuan Narasi dan Bahaya Pembacaan Sepenggal-Sepenggal

Kendati strukturnya bersifat episodik, teks Kitab Kejadian sebenarnya jauh lebih padu daripada yang disadari oleh banyak orang. Episode-episode selanjutnya kerap kali mengandaikan atau menggemakan bagian-bagian yang telah terjadi sebelumnya. Tindakan Abraham yang menyebut Sara sebagai saudarinya dalam pasal 20:2 tidak akan dapat dipahami tanpa pengetahuan awal mengenai apa yang tercatat dalam pasal 12:11–13. Pasal 20 secara langsung mengandaikan keakraban pembaca dengan peristiwa dalam pasal 12:10–20.

Demikian pula, firman Allah kepada Yakub dalam pasal 35:11–12 merujuk kembali pada episode-episode sebelumnya. Perkataan Allah tidak hanya mengingatkan kembali pengalaman rohani Yakub di Betel (28:13) dan Pniel (32:28), tetapi perintah-Nya untuk "beranakcucu dan bertambah banyak" juga menggemakan mandat penciptaan dalam pasal 1:28, yang kemudian diulangi kepada Nuh (9:1, 7). Penyebutan mengenai "suatu bangsa" dan "sekumpulan bangsa-bangsa" dalam pasal 35:11 merujuk kembali pada perjanjian Allah dengan Abraham dalam pasal 15 (satu bangsa) dan pasal 17 (banyak bangsa). Firman singkat Allah kepada Yakub tersebut merajut dan menghubungkan berbagai episode yang secara kasatmata seolah tidak berkaitan.

Sebagian sarjana bahkan beranggapan bahwa Kitab Kejadian sulit untuk dibaca secara runtut. Namun sesungguhnya, masalahnya bukan terletak pada Kitab Kejadian, melainkan pada ketidakmampuan para sarjana modern dalam memahami bagaimana narasi Ibrani kuno disusun dan dibaca. Ini bukanlah persoalan baru, melainkan telah berlangsung lama dalam sejarah penafsiran Kitab Kejadian.

Kegagalan memahami narasi dengan tepat terlihat jelas dalam bagaimana banyak orang menafsirkan kisah mabuknya Nuh dalam pasal 9:20–27. Banyak penafsir, baik kuno maupun modern, mengasumsikan bahwa Ham melakukan tindakan yang tidak senonoh ketika Nuh sedang mabuk. Namun, pembacaan teks yang cermat membuktikan bahwa Kanaan-lah pihak yang bersalah:

  1. Pertama, narator secara halus memperkenalkan Kanaan ke dalam narasi dengan dua kali menyebutkan bahwa Ham adalah ayahnya (9:18, 22). Ham memiliki anak-anak lelaki lain, tetapi mereka tidak disebutkan namanya.
  2. Kedua, narator mencatat bahwa Nuh mengetahui apa yang telah diperbuat oleh anak bungsunya kepadanya (9:24). Tidak ada petunjuk dalam teks bahwa Ham adalah anak bungsu Nuh. Akan tetapi, dalam bahasa Ibrani kata "anak" (ben) juga dapat berarti "cucu", dan Kanaan adalah cucu bungsu Nuh (lihat 10:6).
  3. Ketiga, Nuh hanya mengutuk Kanaan (9:25). Jika Kanaan tidak bersalah, tindakan Nuh tentu tidak adil dan tidak beralasan. Mengapa Nuh mengutuk Kanaan atas kesalahan orang lain? Mengenai Ham, teks hanya mencatat bahwa ia melihat ketelanjangan ayahnya dan memberitahukannya kepada kedua saudaranya di luar (9:22). Teks sama sekali tidak menyatakan bahwa Ham melecehkan Nuh.

Dari contoh ini kita melihat betapa mudahnya Kitab Kejadian disalahartikan apabila dibaca tanpa ketelitian konteks sastra Ibrani.

Akibat sifatnya yang episodik, muncul kecenderungan yang keliru untuk membaca Kitab Kejadian secara terpotong-potong (piecemeal). Bagian-bagian tertentu dibaca dan ditafsirkan tanpa memperhatikan konteks keseluruhan tempat bagian itu diletakkan. Pendekatan atomistis semacam ini tampak baik dalam pembacaan akademis maupun populer, dan sangat merusak pemahaman terhadap kitab ini sebagai sebuah karya sastra yang terpadu. Konteks adalah hal yang mutlak. Kita harus menghindari pembedahan teks menjadi potongan-potongan kecil yang terisolasi. Karena Kitab Kejadian dirancang untuk membentuk satu narasi tunggal yang utuh, kita harus memahami gambaran keseluruhannya guna mengerti bagaimana setiap bagian menyumbang pada kesatuannya.

Garis Keturunan Utama: Tulang Punggung Kitab Kejadian

Bagaimanakah kita membaca Kitab Kejadian secara holistik? Apakah pokok utama dari keseluruhan kitab ini?

Di jantung Kitab Kejadian terbentang suatu garis keturunan unik (patriline) yang bermula dari Adam dan Hawa, lalu bermuara pada putra-putra Yakub, terkhusus Yusuf dan Yehuda. Kitab Kejadian distrukturkan di sekeliling garis silsilah ini, yang secara khusus menyoroti anak laki-laki yang menjadi ahli waris utama atas hak kesulungan dan janji ayahnya. Berdasarkan prinsip hak kesulungan (primogeniture), status istimewa ini secara normal jatuh kepada anak sulung; namun di dalam Kitab Kejadian, garis keturunan perjanjian ini sangat sering dialihkan kepada adik laki-laki yang lebih muda.

Pentingnya garis keturunan ini tercermin langsung dalam struktur formal Kitab Kejadian. Sebuah rumus judul yang khas, "Inilah riwayat..." atau "Inilah keturunan..." (Toledot: 2:4; 6:9; 10:1; 11:10; 11:27; 25:12; 25:19; 36:1; 36:9; 37:2; bdk. 5:1), berulang kali muncul di sepanjang kitab. Melalui rumus judul ini, penulis Kitab Kejadian mengarahkan fokus pada keturunan langsung dari tokoh yang disebutkan namanya dalam judul tersebut.

Tidak setiap bagian dalam Kejadian membahas garis keturunan utama ini secara panjang lebar. Beberapa bagian hanya memberikan rincian singkat mengenai garis keturunan sampingan yang dikesampingkan (misalnya Ismael dalam 25:13–18; Esau dalam 36:1–43; bandingkan Kain dalam 4:17–24). Sementara itu, bagian-bagian narasi yang berkaitan dengan garis perjanjian disajikan jauh lebih panjang:

  • Narasi Abraham (11:27–25:11): Menguraikan secara mendalam pergumulan Abraham dan Sara yang mandul, upaya manusiawi mereka untuk memperoleh keturunan yang melahirkan Ismael, serta penetapan dan konfirmasi Allah atas Ishak sebagai satu-satunya ahli waris perjanjian.
  • Bagian Ishak (25:19–35:29): Menelusuri bagaimana anak bungsunya, Yakub, berhasil menerima hak waris perjanjian melampaui abang kembarnya, Esau.
  • Bagian Putra-putra Yakub (37:2–50:26): Ditutup dengan mencatat keutamaan putra bungsu Yusuf, Efraim, yang kembali diangkat mendahului abangnya, Manasye (48:17–20). Di samping Yusuf, narasi Kejadian juga memberikan tempat terkemuka bagi Yehuda, yang menerima berkat khusus dari Yakub yang mengaitkannya dengan garis takhta kerajaan di masa depan (49:8–12).

Sementara narasi para leluhur dalam 11:27–50:26 menyoroti perkembangan para ahli waris utama Abraham, Ishak, dan Yakub, pasal 5–11 sebagian besar terdiri atas materi yang terkait dengan Nuh dan putra-putranya (6:9–11:9), yang dibingkai oleh dua silsilah linear (5:1–32; 11:10–26). Masing-masing silsilah tersebut mencakup tepat sepuluh generasi, yang menghubungkan Adam kepada Nuh, serta putra Nuh, Sem, kepada Abraham. Dengan demikian, seluruh tokoh penting dalam Kitab Kejadian terhubung dalam satu garis keturunan tunggal yang berkesinambungan.

Pencarian Benih Penakluk Ular dan Penggenapannya dalam Kristus

Mengapa silsilah keluarga yang unik ini begitu penting? Mengapa penulis Kitab Kejadian memilih dan menyusun materinya secara spesifik untuk menonjolkan garis keturunan ini?

Jawabannya berakar pada penghukuman Allah atas ular misterius yang telah memperdaya Adam dan Hawa untuk tidak menaati Allah—sebuah pengkhianatan atas mandat dan kepercayaan yang telah Allah berikan kepada mereka untuk berkuasa atas bumi dan segenap ciptaan. Allah menyatakan sebuah nubuat agung bahwa keturunan (benih) perempuan itu akan meremukkan kepala ular (3:15). Seluruh sisa Kitab Kejadian kemudian membawa pembaca dalam sebuah pencarian (quest) akan sosok pribadi istimewa yang akan membalikkan dan memulihkan akibat-akibat dari ketidaktaatan Adam dan Hawa di Taman Eden.

Akibat pembunuhan Habel oleh Kain dan kebobrokan moral garis keturunan Kain (4:1–24), garis keluarga yang terhubung melalui putra ketiga Hawa, yaitu Set, menghadirkan secercah pengharapan bagi dunia yang kacau. Silsilah Set bermuara pada Nuh. Karena mendapat kasih karunia di mata Allah, Nuh memampukan sisa umat manusia, hewan, dan burung selamat melintasi air bah yang membinasakan.

Dari Nuh, garis keturunan berlanjut kepada Abraham. Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan menjadi saluran berkat bagi segala kaum di muka bumi (12:3). Janji ini kemudian dimeteraikan dalam suatu perjanjian kekal yang menyatakan bahwa Abraham akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa (17:4–5). Perjanjian ini terikat erat pada garis keturunan yang diteruskan dari Abraham ke Ishak, lalu ke Yakub. Di tengah dunia yang berada di bawah kutuk dosa, para bapa leluhur ini ditetapkan Allah menjadi sumber berkat bagi bangsa-bangsa lain.

Seraya Kitab Kejadian mengarahkan pandangan ke masa depan kepada Sang Pribadi yang akan mengalahkan ular dan membawa berkat bagi bangsa-bangsa, pengharapan itu semakin mengkristal bahwa sosok masa depan ini akan menjalankan otoritas universal dan menegakkan Kerajaan Allah di bumi. Dengan melakukan hal tersebut, Ia akan menggenapi mandat agung yang pada mulanya diserahkan kepada manusia pertama saat mereka diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei, 1:26–28). Dengan figur Yusuf yang secara parsial membayangkan sosok raja masa depan ini, Kitab Kejadian mengantisipasi kedatangan Wakil Penguasa (vicegerent) Allah yang sempurna.

Pencarian akan Sang Penakluk Ular yang dijanjikan tidak berakhir di Kitab Kejadian. Melampaui batas Kitab Kejadian, perhatian pada mulanya tertuju kepada suku Efraim. Yosua, seorang dari suku Efraim, memimpin bangsa Israel memasuki Tanah Perjanjian. Namun di kemudian hari, suku Efraim mengalami kemerosotan moral yang parah dan posisinya akhirnya digantikan oleh suku Yehuda (Mzm. 78:67–72). Hal ini tergenapi pada zaman Daud, yang silsilah leluhurnya berakar dari putra Yehuda, Peres (Kej. 38:29; Rut 4:18–22).

Kitab Kejadian tidak hanya menubuatkan lahirnya Israel sebagai suatu bangsa yang besar, tetapi juga mengantisipasi datangnya seorang Keturunan (Benih) Abraham di masa depan yang akan mencurahkan berkat Allah kepada segala bangsa di bumi. Keturunan ini, sebagaimana disaksikan oleh Perjanjian Baru, adalah:

"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham."
— Matius 1:1 (TB2; bdk. Kis. 3:25–26; Gal. 3:16)

Historisitas dan Kepengarangan

Ada banyak hal yang tidak diuraikan secara mendetail oleh Kitab Kejadian, dan kita harus berhati-hati untuk tidak mengisi celah-celah tersebut secara serampangan. Kita juga harus menghindari bahaya anakronisme—yakni memaksakan gagasan-gagasan modern atau gagasan dari zaman yang lebih baru ke dalam teks Kejadian. Peristiwa-peristiwa yang dicatat terjadi di masa purbakala yang amat lampau—zaman para leluhur diperkirakan berlangsung sekitar tahun 2000 SM—sehingga kita tidak dapat menuntut bukti-bukti arkeologis langsung atas keberadaan personal mereka, mengingat gaya hidup mereka yang semi-nomaden dan kedudukan mereka yang relatif kecil dalam konstelasi politik dunia kuno saat itu. Kendati demikian, terdapat banyak sekali bukti internal dan kultural dalam Kitab Kejadian yang mengonfirmasi keaslian dan historisitas dari apa yang dilaporkannya.

Mengenai kepengarangan, sebuah tradisi kuno yang panjang senantiasa mengaitkan penulisan kitab ini dengan Musa. Hal ini sangat mungkin, meskipun kita tidak memiliki bukti eksternal langsung yang menegaskannya, dan Kitab Kejadian sendiri tidak secara eksplisit mencantumkan nama penulisnya. Kita mengetahui bahwa Kitab Kejadian kini berfungsi sebagai bagian pembuka dari sebuah narasi kanonikal agung yang berlanjut hingga Kitab 2 Raja-raja yang mencatat kejatuhan dan kehancuran Yerusalem oleh Babel pada tahun 586 SM. Kitab Kejadian paling tepat dibaca sebagai bagian integral dari kisah besar penyelamatan Allah ini, yang meskipun diwarnai berbagai tragedi kemanusiaan, tetap memelihara pengharapan tak tergoyahkan bahwa seorang Raja dari garis Daud pada suatu hari kelak akan menggenapi seluruh janji keselamatan yang telah dimaklumkan sejak awal mula.


Tujuan Kitab Kejadian

Tujuan Utama:
Kitab Kejadian menelusuri suatu garis keturunan keluarga yang unik yang mengarah kepada seorang Wakil Penguasa (vicegerent) yang ditetapkan Allah dan tanpa cacat cela, yaitu Sang Adam Kedua, yang akan menjadi sumber berkat keselamatan bagi segala bangsa di muka bumi.

Ayat Kunci

"Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."
Kejadian 12:3 (TB2)

Garis Besar Kitab Kejadian

  • I. Penciptaan Langit dan Bumi oleh Allah (1:1–2:3)
  • II. Riwayat Manusia Pertama di Bumi (2:4–4:26)
    • A. Pasangan Manusia di Taman Eden (2:4–25)
    • B. Adam dan Hawa Memberontak terhadap Allah (3:1–24)
    • C. Anak-Anak Lelaki Adam dan Hawa (4:1–26)
  • III. Riwayat Keturunan Adam (5:1–6:8)
    • A. Garis Keturunan Pria dari Adam sampai Nuh (5:1–32)
    • B. Kejahatan Umat Manusia (6:1–8)
  • IV. Riwayat Keturunan Nuh (6:9–9:29)
    • A. Nuh dan Air Bah (6:9–8:12)
    • B. Masa Setelah Air Bah (8:13–9:17)
    • C. Nuh Mengutuk Kanaan (9:18–29)
  • V. Riwayat Keturunan Anak-Anak Nuh (10:1–11:9)
    • A. Daftar Keturunan Anak-Anak Nuh (10:1–32)
    • B. Menara dan Kota Babel (11:1–9)
  • VI. Riwayat Keturunan Sem (11:10–26)
  • VII. Riwayat Keturunan Terah (11:27–25:11)
    • A. Pengantar Keluarga Terah (11:27–32)
    • B. Panggilan Abraham (12:1–9)
    • C. Abram dan Sarai di Mesir (12:10–20)
    • D. Lot Berpisah dari Abram (13:1–18)
    • E. Abram Menyelamatkan Lot (14:1–24)
    • F. Perjanjian Allah Mengenai Terbentuknya Bangsa dengan Abram (15:1–21)
    • G. Kelahiran Ismael (16:1–16)
    • H. Perjanjian Allah Mengenai Berkat bagi Bangsa-Bangsa (17:1–27)
    • I. Lot Diselamatkan dari Sodom (18:1–19:29)
    • J. Anak-Anak Perempuan Lot (19:30–38)
    • K. Abraham dan Sara di Gerar (20:1–18)
    • L. Kelahiran Ishak dan Penetapannya sebagai Ahli Waris Abraham (21:1–21)
    • M. Abraham dan Abimelekh di Bersyeba (21:22–34)
    • N. Ujian Ketaatan atas Abraham (22:1–19)
    • O. Anak-Anak Nahor (22:20–24)
    • P. Kematian dan Penguburan Sara (23:1–20)
    • Q. Abraham Mencari Istri untuk Ishak (24:1–67)
    • R. Kematian dan Penguburan Abraham (25:1–11)
  • VIII. Riwayat Keturunan Ismael (25:12–18)
  • IX. Riwayat Keturunan Ishak (25:19–35:29)
    • A. Kelahiran Esau dan Yakub (25:19–26)
    • B. Esau Menjual Hak Kesulungannya kepada Yakub (25:27–34)
    • C. Ishak di Gerar (26:1–33)
    • D. Ishak Memberkati Yakub (26:34–27:45)
    • E. Esau Mengancam Membunuh Yakub (27:46–28:9)
    • F. Yakub di Betel (28:10–22)
    • G. Yakub Menikahi Rahel (29:1–30)
    • H. Kelahiran Anak-Anak Yakub (29:31–30:24)
    • I. Yakub Menjadi Kaya di Padan-Aram (30:25–43)
    • J. Yakub Kembali ke Kanaan (31:1–55)
    • K. Yakub Bersiap Bertemu Esau (32:1–23)
    • L. Yakub Bergulat dengan Allah di Pniel (32:24–32)
    • M. Yakub Berdamai dan Bertemu Kembali dengan Esau (33:1–20)
    • N. Peristiwa Dina dengan Sikhem (34:1–31)
    • O. Yakub Kembali Menetap di Betel (35:1–15)
    • P. Kematian Rahel dan Ishak (35:16–29)
  • X. Riwayat Keturunan Esau (36:1–37:1)
  • XI. Riwayat Keturunan Yakub (37:2–50:26)
    • A. Yusuf Dijual oleh Saudara-Saudaranya ke dalam Perbudakan (37:2–36)
    • B. Hubungan Yehuda dengan Tamar (38:1–30)
    • C. Yusuf dan Istri Potifar (39:1–23)
    • D. Yusuf Mengartikan Mimpi Para Tahanan Raja (40:1–23)
    • E. Yusuf Mengartikan Mimpi Firaun (41:1–57)
    • F. Perjalanan Pertama Saudara-Saudara Yusuf ke Mesir (42:1–38)
    • G. Perjalanan Kedua Saudara-Saudara Yusuf ke Mesir (43:1–34)
    • H. Benyamin Dituduh Mencuri (44:1–34)
    • I. Yusuf Menyatakan Jati Dirinya (45:1–28)
    • J. Keluarga Yakub Pindah ke Mesir (46:1–27)
    • K. Keluarga Yakub Menetap di Tanah Gosyen (46:28–47:12)
    • L. Yusuf Mengelola Pemerintahan Mesir Selama Masa Kelaparan (47:13–26)
    • M. Permohonan Yakub untuk Dikuburkan di Kanaan (47:27–31)
    • N. Yakub Memberkati Yusuf dan Kedua Anaknya (48:1–22)
    • O. Yakub Memberkati Kedua Belas Anaknya (49:1–28)
    • P. Kematian dan Penguburan Yakub (49:29–50:14)
    • Q. Yusuf Menenteramkan Hati Saudara-Saudaranya (50:15–21)
    • R. Kematian Yusuf (50:22–26)


I. Penciptaan Langit dan Bumi oleh Allah (1:1–2:3)

Pendahuluan dan Penataan Kosmik (1:1–2)

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air."
Kejadian 1:1–2 (TB2)

1:1–2 Kejadian 1:1–2:3 menetapkan panggung dan latar belakang penting untuk memahami keseluruhan kisah yang mengikutinya. Dalam menguraikan penciptaan dunia, pasal pembuka Kitab Kejadian ini menyingkapkan bagaimana Allah menata dunia serta memandatkan manusia untuk memerintah atas ciptaan sebagai wakil-Nya. Teks ini tidak ditulis dari sudut pandang sains modern untuk menjelaskan mekanisme teknis bagaimana Allah menciptakan secara fisika. Fokus utama pasal ini terletak pada bagaimana ruang dan waktu ditata atau distrukturkan secara berdaulat oleh Allah.

Ayat 1–2 memperkenalkan catatan penciptaan yang disusun dalam kerangka tujuh hari. Sementara sebagian besar versi terjemahan menerjemahkan kata-kata pembuka Kejadian sebagai "Pada mulanya Allah menciptakan..." dan mengasumsikan bahwa ayat 1 menceritakan tindakan penciptaan yang pertama, terdapat kemungkinan lain yang sama sahnya untuk menerjemahkannya sebagai "Ketika Allah mulai menciptakan...", dengan memandang ayat 1 sebagai rangkuman atas keseluruhan karya ciptaan yang akan diuraikan secara rinci di sepanjang pasal ini. Apapun pilihan terjemahannya, Allah adalah Subjek mutlak dari segala sesuatu yang terjadi. Dengan otoritas dan kuasa kedaulatan yang mutlak, Ia seorang diri yang menjadikan langit dan bumi. Ia melampaui (transenden) segala sesuatu yang diciptakan-Nya.

Ungkapan "langit dan bumi" di sini kemungkinan besar merujuk pada seluruh alam semesta, meskipun kita perlu mencatat bahwa kata benda "bumi" (ʾereṣ) mengacu pada dua entitas yang berbeda pada ayat 2 (keadaan materi purba) dan ayat 10 (tanah kering/daratan).

Sintaksis dari ayat 2 mengindikasikan bahwa ayat ini membangun latar bagi tindakan Allah selanjutnya. Ayat 2 memperkenalkan kondisi kegelapan dan samudera air, yang masing-masing akan menjadi fokus penataan pada Hari ke-1 dan Hari ke-2. Pemisahan kegelapan (ay. 4) dan pemisahan air (ay. 6) akan menjadi langkah penting saat Allah mulai membentuk (forming) dan mengisi (filling) bumi. Berbeda dengan kegelapan di atas samudera raya yang bersifat pasif, Roh Allah melayang-layang (hovering), menghadirkan suasana antisipasi bahwa suatu karya besar akan segera terjadi.

Bumi pada mulanya berada dalam kondisi "belum berbentuk dan kosong" (tohu wa-bohu). Hari 1–3 mencatat bagaimana Allah memberikan bentuk atau struktur pada apa yang diciptakan-Nya (mengatasi keadaan tohu / tak berbentuk), dan Hari 4–6 mencatat bagaimana Allah mengisi ciptaan tersebut dengan para penghuninya (mengatasi keadaan bohu / kosong).


Hari 1: Pemisahan Terang dan Gelap (1:3–5)

"Berfirmanlah Allah, 'Jadilah terang.' Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Maka jadilah petang dan jadilah pagi, hari pertama."
Kejadian 1:3–5 (TB2)

1:3–5 Permulaan setiap hari penciptaan selalu ditandai oleh firman ilahi (ay. 3, 6, 9, 14, 20, 24). Melalui sabda titah-Nya, Allah menyatakan kuasa keagungan-Nya yang berdaulat. Aktivitas penciptaan Allah pada Hari 1–3 melibatkan proses pemisahan: terang dari gelap; air di atas dari air di bawah; tanah kering dari lautan.

Pada Hari ke-1, pemisahan antara terang dan gelap disajikan bukan dalam kerangka ada atau tidaknya radiasi elektromagnetik partikel cahaya, melainkan dalam kerangka penetapan siang dan malam. Hari ke-1 menggambarkan penetapan pola perputaran yang teratur antara kegelapan yang diikuti oleh terang. Terang tidak memusnahkan kegelapan; terang hanya bergantian dengannya. Siang dan malam dibentuk, dan hal ini menghasilkan terciptanya waktu.

Struktur kronologis waktu ini kemudian tercermin di sepanjang sisa pasal ini, di mana siang berganti menjadi malam pada waktu petang, dan malam berganti menjadi siang pada waktu pagi. Sebagaimana lazimnya di dalam kitab-kitab tertua Perjanjian Lama, hari kronologis dipahami bermula pada saat matahari terbit (sunrise). Di kemudian hari, akibat pengaruh tradisi Babel setelah kejatuhan Yerusalem pada tahun 586 SM, orang-orang Yahudi mulai memandang permulaan hari sejak matahari terbenam (sunset).

Merenungkan penciptaan terang tersebut, Allah menyatakan bahwa terang itu "baik" (tov). Ini memperkenalkan sebuah tema kunci yang berulang kali muncul di sepanjang Kejadian 1 (lihat ay. 4, 10, 12, 18, 21, 25, 31). Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa ciptaan pada titik ini telah mencapai kesempurnaan finalnya. Apa yang diinisiasi oleh Allah pada tahap ini belumlah selesai seluruhnya; aktivitas penciptaan Allah baru memulai suatu proses yang membutuhkan waktu untuk digenapi secara utuh. Sebutan "baik" menegaskan bahwa karya penataan dan pengisian yang dilakukan Allah telah memenuhi perkenanan dan standar kehendak-Nya yang kudus. Sebagaimana akan kita saksikan dalam peristiwa Kejadian 3, tatanan ciptaan Allah yang "baik" ini kelak dirusak oleh pasangan manusia pertama ketika mereka gagal menjalankan mandat otoritas atas ular misterius tersebut.


Hari 2: Cakrawala dan Pemisahan Air (1:6–8)

"Berfirmanlah Allah, 'Jadilah cakrawala di tengah-tengah segala air untuk memisahkan air dari air.' Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Maka jadilah petang dan jadilah pagi, hari kedua."
Kejadian 1:6–8 (TB2)

1:6–8 Hari ke-2 berfokus pada pemisahan air yang telah disebutkan sebelumnya pada ayat 2. Ruang bentangan (expanse / rāqîaʿ) yang memisahkan air tersebut dinamai "langit" atau "cakrawala".

Dalam ayat 14–15, "cakrawala di langit" adalah ruang tempat matahari, bulan, dan bintang-bintang ditempatkan. Tempat ini jugalah ruang di mana burung-burung di udara terbang melintas (ay. 20). Menariknya, dalam terjemahan bahasa Inggris tertentu (seperti ESV), terjadi perubahan istilah dari "Heaven" (ay. 8) menjadi "the heavens" (ay. 14) ketika menerjemahkan istilah Ibrani yang sama (šāmayim).


Hari 3: Tanah Kering, Lautan, dan Tumbuh-tumbuhan (1:9–13)

"Berfirmanlah Allah, 'Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.' Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik..."
Kejadian 1:9–13 (TB2)

1:9–13 Hari ke-3 melanjutkan fokus penataan air dengan mencatat bagaimana air yang berada di bawah langit dikumpulkan oleh Allah sehingga tanah kering dan lautan terbentuk. Sekali lagi, proses pemisahan terjadi, membedakan kumpulan air yang dinamai "laut", dari tanah kering yang dinamai "darat" (bumi).

Dalam konteks ini, kata "darat/bumi" tidak merujuk pada keseluruhan planet bumi, melainkan daratan kering. Dengan demikian, tiga wilayah lingkungan yang khas telah terbentuk melalui karya Hari ke-2 dan ke-3: langit, lautan, dan daratan. Pada Hari ke-5 dan ke-6, makhluk-makhluk hidup bernyawa akan diciptakan untuk memenuhi dan mendiami masing-masing wilayah tersebut.


Hari 4: Benda-Benda Penerang Penata Waktu (1:14–19)

"Berfirmanlah Allah, 'Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun...'"
Kejadian 1:14–19 (TB2)

1:14–19 Hari ke-4 berkorespondensi secara paralel dengan Hari ke-1 dan berfokus pada pemisahan terang (siang) dari gelap (malam). Sekali lagi, penekanannya terletak pada penataan dimensi waktu, di mana benda-benda penerang di langit berfungsi mengatur penanggalan hari, tahun, serta musim-musim yang tetap (moʿadim / waktu perayaan ibadah).

Allah mendelegasikan wewenang kepada dua benda penerang yang lebih besar (matahari dan bulan) untuk menguasai siang dan malam. Di kemudian hari dalam pasal ini, Allah juga akan mendelegasikan wewenang kepada manusia untuk memerintah atas makhluk-makhluk ciptaan lainnya di bumi.


Hari 5: Makhluk Air dan Burung di Udara (1:20–23)

"Berfirmanlah Allah, 'Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang bernyawa, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.' Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya, 'Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung bertambah banyak di bumi.'"
Kejadian 1:20–23 (TB2)

1:20–23 Pada Hari ke-5, kita menjumpai penciptaan makhluk-makhluk hidup yang mengisi lautan dan angkasa—dua wilayah habitat yang telah dipisahkan pada Hari ke-2.

Diberkati oleh Allah dengan kemampuan reproduksi, mereka dimandatkan untuk memenuhi wilayah-wilayah tersebut. Mandat berkat yang paralel untuk berkembang biak bagi makhluk-makhluk darat akan dinyatakan pula pada Hari ke-6.


Hari 6: Makhluk Darat dan Manusia sebagai Gambar Allah (1:24–31)

"Berfirmanlah Allah, 'Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.' Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka, 'Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.'"
Kejadian 1:26–28 (TB2)

1:24–31 Hari ke-6, yang menguraikan proses pemenuhan tanah kering dengan makhluk-makhluk hidup, berkorespondensi langsung dengan karya penataan tanah kering pada Hari ke-3. Dibandingkan dengan Hari 1–5, hari keenam ini merupakan klimaks terpenting dari seluruh narasi penciptaan, sebagaimana terlihat dari uraian penjelasannya yang paling panjang dan mendalam.

Sebagaimana terlihat pada bagian-bagian sebelumnya, firman Allah menunjukkan bahwa tindakan penciptaan-Nya merupakan permulaan dari sebuah proses agung yang dirancang-Nya untuk dilanjutkan dan digenapi melalui partisipasi aktif dari seluruh ciptaan yang telah dijadikan-Nya. Walaupun Allah akan menyelesaikan karya penciptaan-Nya (2:1–3), penyelesaian ini bukanlah akhir dari sejarah ciptaan, melainkan permulaan dari pengembaraan sejarah umat manusia.

Hal yang sangat mendasar: Allah mendelegasikan tanggung jawab kepada manusia untuk memerintah atas bumi sebagai wakil-Nya. Manusia ditetapkan menjadi wakil penguasa (vicegerent) Allah. Di dunia Timur Dekat Kuno (Ancient Near East / ANE), konsep dijadikan "menurut gambar ilah" lazimnya hanya diperuntukkan bagi raja-raja dan bangsawan tertinggi. Namun secara radikal dan revolusioner, Kejadian 1 menyatakan bahwa Allah menganugerahkan status kebangsawanan dan martabat kerajaan ini kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Sebagaimana Allah memerintah atas segenap ciptaan dengan penuh kebajikan dan kasih, manusia dipanggil untuk memerintah bumi dengan cara kebajikan yang serupa. Dengan memenuhi bumi, manusia diharapkan memperluas Kerajaan Allah ke seluruh penjuru dunia. Instruksi singkat untuk "menaklukkan" (kābaš) dan "berkuasa" (rādâ) secara implisit mengisyaratkan kemungkinan adanya tantangan atau perlawanan terhadap kepemimpinan manusia atas bumi—sebuah petunjuk halus yang mengantisipasi pemberontakan ular terhadap kedaulatan Allah dalam Kejadian 3.

Keputusan Allah untuk menjadikan manusia "menurut gambar dan rupa Kita" kemungkinan besar menunjuk pada pluralitas dalam hakikat diri Allah. Pemikiran ini diperkuat oleh perkataan dalam ayat 27 yang mengaitkan gambar Allah dengan penciptaan laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan martabat dan relasi komunitas. Konsep ini selaras dan kompatibel dengan doktrin Allah Tritunggal (Trinitas), meskipun teks Kejadian 1 itu sendiri belum menyediakan informasi kanonikal yang lengkap untuk menyingkapkan secara eksplisit hakikat Allah yang Esa dalam Tiga Pribadi.


Hari 7: Berhentinya Allah dan Pengudusan Hari Ketujuh (2:1–3)

"Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu."
Kejadian 2:1–3 (TB2)

2:1–3 Hari ke-7 mematahkan pola formulaik yang selalu muncul pada Hari 1–6. Karya penciptaan Allah telah selesai. Allah "beristirahat" (atau lebih tepat diterjemahkan dari teks Ibrani šābat: "Ia berhenti/menyelesaikan"), bukan karena Ia lelah, melainkan karena tugas memelihara dan melanjutkan apa yang telah Ia mulai kini dipercayakan kepada pihak lain, yaitu manusia ciptaan-Nya.

Tidak ada ekspektasi atau indikasi dalam teks bahwa Allah akan mengulang minggu penciptaan yang kedua setelah hari ketujuh berakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa kerangka tujuh hari dalam Kejadian 1:1–2:3 dirancang untuk dipahami sebagai suatu analogi sastra (literary analogy / kerangka teologis) yang mendalam, alih-alih sebagai minggu historis harfiah yang terdiri atas tujuh hari berdurasi dua puluh empat jam.


II. Kisah Manusia-Manusia Pertama di Bumi (2:4–4:26)


Pasangan Manusia di Taman Eden (2:4–25)

"Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, — belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu — ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan mengembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup."
Kejadian 2:4–7 (TB2)

2:4–7 Jika Kejadian 1:1–2:3 menyajikan pemandangan panoramik atas karya penciptaan semesta, maka Kejadian 2:4–3:24 memberikan gambaran jarak dekat (close-up) yang berpusat pada relasi khusus Allah dengan manusia. Sementara Kejadian 1:1–2:3 menggambarkan Allah yang Mahatinggi dan transenden melampaui segenap ciptaan, Kejadian 2:4–3:24 menonjolkan aspek imanensi-Nya, yang berfokus pada aktivitas-Nya di bumi—khususnya dalam membentuk manusia dan menyediakan bagi mereka suatu lingkungan yang unik agar mereka dapat hidup berkembang (flourish).

Pergeseran perspektif ini tercermin secara langsung dalam sebutan yang digunakan bagi Allah. Dalam Kejadian 1:1–2:3, kata benda generik "Allah" (ʾĔlōhîm) digunakan, namun di sepanjang Kejadian 2:4–3:24 Ia secara konsisten disebut sebagai "TUHAN Allah" (Yahweh ʾĔlōhîm). Di balik terjemahan "TUHAN" (dengan huruf kapital penuh) terdapat nama kudus dalam bahasa Ibrani yang tersusun atas empat konsonan YHWH (Tetragrammaton), yang menyatakan nama pribadi perjanjian Allah. Demi menghindari pengucapan nama kudus ini secara sembarangan karena rasa gentar dan hormat yang mendalam kepada Allah, para pembaca Yahudi kuno menggantinya dengan sebutan Ibrani untuk "Tuan/Tuhan" (ʾAdonay). Praktik ini tetap dipertahankan dalam sebagian besar terjemahan Alkitab, termasuk Alkitab Terjemahan Baru (TB2).

Peralihan antara catatan pembuka tentang penciptaan dan narasi kisah berikutnya ditandai oleh tajuk khas yang berulang kali muncul di sepanjang Kitab Kejadian (lihat Kej. 6:9; 10:1; 11:10, 27; 25:12, 19; 36:1, 9; 37:2; bdk. 5:1). Biasanya tajuk ini, yang diterjemahkan sebagai "Demikianlah riwayat / Inilah keturunan..." ('ēlleh tôlēdôt), mengindikasikan bahwa bagian selanjutnya akan berfokus pada keturunan langsung dari pribadi yang namanya disebutkan dalam tajuk tersebut. Sebagai contoh, formula tajuk dalam Kejadian 11:27 menyebut nama Terah; narasi yang mengikutinya berfokus pada anak-anak Terah, yaitu Abraham, Nahor, dan Haran. Kejadian 2:4 merupakan pengecualian yang khas karena tidak mencantumkan nama seseorang, melainkan merujuk pada "langit dan bumi". Dengan demikian, narasi yang mengikutinya menguraikan apa yang dihasilkan dari penciptaan langit dan bumi tersebut—yakni riwayat umat manusia di bumi.

Ayat 5 menata latar peristiwa sebelum penciptaan manusia dan pembentukan taman tersebut. Dua jenis vegetasi yang berbeda disebutkan dalam ayat 5, yang menandai perbedaan mendasar antara tumbuhan budidaya (hasil pertanian/cocok tanam) dan semak liar di padang. Tumbuhan budidaya membutuhkan manusia untuk mengolah tanahnya, namun pada saat itu manusia belum diciptakan. Suatu permainan kata (wordplay) yang indah antara kata benda "manusia" (bahasa Ibrani ʾādām) dan "tanah" (bahasa Ibrani ʾădāmâ) menggarisbawahi keterikatan yang sangat erat di antara keduanya. TUHAN Allah membentuk (yāṣar) manusia dari debu tanah dan mengembuskan napas hidup ke dalam hidungnya, sehingga manusia menjadi suatu makhluk yang hidup (nefeš ḥayyâ). Allah menerapkan proses pembentukan yang serupa ketika menciptakan binatang-binatang dan burung-burung di udara (ay. 19). Ayat 7 memancarkan kehangatan perhatian dan kepedulian pribadi Allah terhadap manusia yang dibentuk-Nya.


Taman Eden dan Dua Pohon Utama (2:8–9)

"Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; di situlah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai pohon dari tanah, yang menarik kelihatannya dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat."
Kejadian 2:8–9 (TB2)

2:8–9 Ayat-ayat ini memperkenalkan lokasi unik tempat manusia pertama akan berdiam. Istilah "taman" (gan) dikontraskan secara tajam dengan "padang" (śādeh) yang disebutkan dua kali dalam ayat 5 dan di kemudian hari diasosiasikan dengan habitat binatang-binatang liar (Kej. 2:20; 3:1, 14). Istilah "taman" menyiratkan suatu kawasan terlindung yang memiliki pintu masuk tertentu (lihat Kej. 3:24), sedangkan "padang" merujuk pada wilayah terbuka luas yang tidak berpagar dan tanpa perlindungan khusus.

Dari berbagai jenis pohon yang ditumbuhkan TUHAN Allah di dalam taman itu, ada dua pohon yang memperoleh penekanan istimewa: pohon kehidupan (‘ēṣ ha-ḥayyîm), dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (‘ēṣ had-da‘at ṭôv wā-rā‘). Pohon yang satu secara langsung bertalian dengan anugerah kehidupan kekal, sedangkan pohon yang lain secara tidak langsung bertalian dengan maut.

Sebagaimana disingkapkan dalam pasal 3, "mengetahui yang baik dan yang jahat" adalah prerogatif yang membedakan Allah dari manusia ciptaan-Nya (lihat Kej. 3:5, 22). Berhasrat merebut pengetahuan semacam ini mencakup tindakan otonom yang lancang untuk menentukan sendiri apa yang benar dan apa yang salah tanpa tunduk pada wahyu dan ketetapan Allah. Pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat menjadi pusaran utama dalam babak pengujian iman pada pasal 3. Setelah Adam dan Hawa memberontak dan mengkhianati Allah, jalan menuju pohon kehidupan ditutup bagi mereka. Pohon kehidupan ini kelak muncul kembali dalam puncak sejarah penebusan pada penglihatan rasul Yohanes mengenai Yerusalem Baru (Why. 22:2; bdk. 2:7; 22:14, 19).


Sungai Eden dan Pengaliran ke Empat Wilayah (2:10–14)

"Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. Yang pertama namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada. Dan emas dari negeri itu baik; di sana ada damar bedolah dan batu krisopras. Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush. Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat."
Kejadian 2:10–14 (TB2)

2:10–14 Ayat-ayat ini menyajikan informasi geografis penting mengenai sungai yang mengairi taman tersebut. Karena sungai ini menjadi mata air bagi empat cabang sungai besar yang mengalir melintasi berbagai kawasan dunia, maka letak Taman Eden pastilah berada di dataran tinggi yang menjadi pusat kosmologi dan kesuburan bumi.

Terlepas dari perincian nama-nama geografis yang disebutkan dalam ayat 10–14, lokasi persis dari Taman Eden tetap menjadi misteri yang tidak terjangkau. Mengingat rangkaian peristiwa tragis yang terjadi pada pasal 3, narator Kitab Kejadian tentu tidak bermaksud menuntun para pembacanya untuk mencari letak fisik Taman Eden di muka bumi masa kini. Deskripsi mendalam ini justru dihadirkan untuk membangun jembatan tipologis antara Taman Eden dan tempat-tempat kudus (sanctuary) di kemudian hari. Sebagai contoh, aliran sungai yang memancar keluar dari taman berpadanan erat dengan penglihatan nabi Yehezkiel tentang sungai kehidupan yang memancar dari bawah ambang pintu Bait Suci (Yeh. 47:1–12; bdk. Why. 22:1–2).


Mandat Memelihara Taman dan Larangan Ilahi (2:15–17)

"TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: 'Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.'"
Kejadian 2:15–17 (TB2)

2:15–17 TUHAN Allah menempatkan manusia itu di dalam taman Eden. Sebagian besar terjemahan memberi kesan bahwa manusia hanya ditugaskan sebagai seorang juru kebun biasa (gardener). Namun, istilah Ibrani di balik kata kerja "memelihara" (šāmar) sesungguhnya juga bermakna "menjaga", "mengawal", atau "melindungi" (lihat Kej. 3:24). Manusia diamanatkan untuk menjaga dan mengawal kesucian taman itu dari segala bentuk pencemaran—sebuah perintah yang kemungkinan besar mengantisipasi kemunculan si ular penggoda.

Menarik untuk dicatat bahwa pasangan kata kerja "mengusahakan/melayani" (‘ābad) dan "memelihara/menjaga" (šāmar) digunakan secara bersama-sama dalam konteks tugas-tugas keimaman kaum Lewi di Kemah Suci (lihat Bil. 3:7–8; 8:26; 18:5–6). Hal ini menyiratkan bahwa Taman Eden dipahami sebagai tempat kediaman kudus Allah (sanctuary) di bumi, di mana manusia menjalankan fungsi imamat dan kepemimpinan di hadapan Sang Pencipta. Tempat-tempat kudus dan Bait Suci di kemudian hari dirancang untuk mengingatkan kembali umat Allah pada kondisi Taman Eden dan relasi kudus yang ada di dalamnya.

Larangan Allah untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat bukanlah sebuah restriksi yang kejam, dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengekang kesejahteraan manusia. Sebaliknya, dengan hanya satu larangan tersebut, manusia memiliki kebebasan penuh untuk menikmati kelimpahan buah dari "semua pohon dalam taman ini" (ay. 16). Titah ilahi ini menyingkapkan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai agen moral yang bebas dan bertanggung jawab—bebas untuk memilih ketaatan yang berbuah berkat, atau ketidaktaatan yang berujung kebinasaan. Manusia bukanlah boneka mekanis yang diprogram secara paksa oleh Allah; dan kebebasan moral inilah yang membuka kemungkinan masuknya kejahatan ke dalam tatanan dunia. Mengingat besarnya konsekuensi moral tersebut, wajarlah jika Allah memberikan peringatan yang begitu tegas dan berwibawa: ketidaktaatan akan mendatangkan maut.


Pencarian Penolong yang Sepadan dan Penamaan Makhluk Hidup (2:18–20)

"TUHAN Allah berfirman: 'Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.' Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti yang dinamai manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia."
Kejadian 2:18–20 (TB2)

2:18–20 Allah menyatakan perhatian-Nya yang penuh kasih terhadap kesejahteraan dan kepenuhan hidup manusia dengan berfirman bahwa tidak baik bagi manusia itu untuk hidup seorang diri. Ia berinisiatif merancang "penolong yang sepadan dengan dia" (‘ēzer kənֶgədô, ay. 18). Tidak ada alasan eksegetis untuk memandang istilah "penolong" (‘ēzer) sebagai indikasi bahwa perempuan berderajat lebih rendah (inferior) daripada laki-laki. Di dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri kerap kali dinyatakan sebagai Penolong (‘Ēzer) yang perkasa bagi umat-Nya, Israel (misalnya Kel. 18:4; Ul. 33:7, 26, 29). Frasa kənֶgədô menandaskan seorang mitra yang berhadapan muka, setara, sepadan, dan saling melengkapi.

Allah kemudian membawa ke hadapan manusia makhluk-makhluk yang dibentuk dari tanah (ay. 19). Ada kemungkinan hewan-hewan ternak telah berada di sekitar taman, sedangkan binatang hutan dan burung dibawa masuk untuk diperkenalkan (ay. 20). Melalui pemberian nama kepada segenap binatang liar, burung-burung di udara, dan ternak, sang manusia menjalankan mandat otoritasnya sebagai rekan penguasa wakil Allah (vicegerent) di atas bumi (lihat Kej. 1:26–28). Namun, melalui proses penamaan dan interaksi tersebut, manusia menyadari kenyataan fundamental: di antara segenap ciptaan hewani tersebut, tidak ada satu pun makhluk yang dapat menjadi mitra yang sepadan bagi jiwanya.


Pembentukan Perempuan dan Institusi Pernikahan (2:21–25)

"Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: 'Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.' Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu."
Kejadian 2:21–25 (TB2)

2:21–25 TUHAN Allah secara khusus membentuk seorang rekan pendamping yang sungguh sepadan bagi sang laki-laki. Allah sesungguhnya berkuasa membentuk perempuan itu langsung dari debu tanah sebagaimana Ia membentuk laki-laki (ay. 7); namun, dengan maksud ilahi yang mendalam, Ia membentuk perempuan dari "rusuk" atau "bagian sisi" (ṣēlā‘) sang laki-laki. Hal ini menandaskan kesatuan substansi, kesetaraan hakiki, dan sifat komplementaritas yang tak terpisahkan di antara keduanya.

Ketika TUHAN Allah menghantarkan perempuan itu kepadanya, sang laki-laki menyambutnya dengan ungkapan sukacita puitis yang penuh kekaguman: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" (ay. 23). Keintiman dan kesepadanan organik antara keduanya tercermin secara indah dalam permainan kata Ibrani ʾîš ("laki-laki/suami") dan ʾiššâ ("perempuan/istri"), yang untuk pertama kalinya diperkenalkan dalam ayat 23.

Narasi Kejadian 2:4–25 menyajikan perempuan bukan sebagai bawahan, melainkan sebagai pasangan hidup yang saling melengkapi (komplementer) dan sederajat di hadapan Allah. Berdasarkan tatanan penciptaan ini, ayat 24 meletakkan fondasi ilahi bagi institusi pernikahan: seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan berpaut erat dengan istrinya, sehingga keduanya "menjadi satu daging" (lĕbāśār ʾeḥād). Dalam rancangan ketetapan Allah, pernikahan kudus dirancang bersifat heteroseksual, monogamis, berakar pada komitmen perjanjian yang kokoh, dan permanen seumur hidup. Kondisi ketelanjangan tanpa rasa malu (ay. 25) menggambarkan relasi yang dipenuhi kejujuran, ketulusan, kepolosan moral, dan keharmonisan tanpa cacat cela di hadapan Allah dan sesama sebelum masuknya dosa ke dalam dunia.


Adam dan Hawa Mengkhianati Allah (3:1–24)


Godaan si Ular dan Tipu Muslihat (3:1–5)

"Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di hutan yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu, 'Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?' Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu, 'Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.' Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu, 'Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada hari kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.'"
Kejadian 3:1–5 (TB2)

3:1–5 Gambaran yang penuh harmoni dalam Kejadian 2:4–25 seketika terkoyak oleh kemunculan sesosok tokoh baru. Melalui penggambaran ular sebagai makhluk yang "cerdik" (bahasa Ibrani ʿārûm), terbangun sebuah kaitan halus dengan pasangan manusia pertama yang dalam Kejadian 2:25 digambarkan "telanjang" (ʿărûmmîm). Sebagai binatang yang diasosiasikan dengan "padang" (ay. 1), kita sesungguhnya tidak menduga akan menemukan seekor ular berada di dalam taman yang kudus.

Namun demikian, ular yang dapat berbicara ini bukanlah sekadar binatang biasa. Asal-usul maupun latar belakang masa lalunya tidak disingkapkan di sini, tetapi percakapannya dengan sang perempuan segera membuktikan bahwa ia berdiri dalam posisi penentangan mutlak terhadap Allah. Ditinjau dari perilaku ular tersebut, kita harus menyimpulkan bahwa kejahatan kosmik telah ada sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam ketidaktaatan. Di bagian lain dalam Kitab Suci, "ular tua" ini secara eksplisit diidentifikasi sebagai "iblis dan Setan, yang menyesatkan seluruh dunia" (Why. 12:9; bdk. Yoh. 8:44; 1Yoh. 3:8; Why. 20:2).

Meskipun pertanyaan awal si ular tampak polos dan bersahabat, ia sesungguhnya secara lihai telah mendistorsi firman yang difirmankan Allah sebelumnya (Kej. 2:16–17), dengan menyindir seolah-olah Allah adalah Pribadi yang kikir dan mengekang kebebasan. Sang perempuan berusaha meluruskan pernyataan si ular, tetapi ia pun tidak menyampaikan titah Allah secara akurat (bahkan menambahkan larangan "jangan raba buah itu").

Menyangkal peringatan tegas Allah secara terang-terangan (Kej. 2:17), si ular dengan berani menyatakan bahwa perempuan itu "sekali-kali tidak akan mati" (ay. 4). Dalam usahanya memikat perempuan itu untuk memberontak kepada Allah, si ular menanamkan bisikan dusta bahwa dengan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, ia dan suaminya akan menjadi setara seperti Allah. Kendati mereka telah diciptakan menurut gambar dan rupa Allah serta dimahkotai status mulia sebagai rekan penguasa atas ciptaan (Kej. 1:26–28), si ular menggoda mereka dengan ilusi untuk meraih otonomi ilahi dan menjadi seperti Allah itu sendiri.


Kejatuhan Manusia ke dalam Dosa (3:6–7)

"Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat untuk diri mereka."
Kejadian 3:6–7 (TB2)

3:6–7 Sebagai rekan penguasa wakil Allah (vicegerents), pasangan manusia pertama seharusnya menaklukkan dan memerintah atas si ular (lihat Kej. 1:26, 28). Sebagai penjaga dan pengawal kesucian taman (Kej. 2:15), mereka semestinya segera mengusir si ular keluar dari tempat kudus tersebut. Namun, dalam kedua mandat tersebut mereka gagal total.

Secara tragis, mereka mengabaikan titah Sang Pencipta dan menyerah pada setengah kebenaran yang lihai dari si ular. Memang perkataan ular itu tidak sepenuhnya keliru secara harfiah—mata mereka memang terbuka (ay. 7), dan Allah sendiri mengakui bahwa manusia telah "tahu tentang yang baik dan yang jahat" (ay. 22)—namun Hawa kelak mengakui bahwa dirinya telah diperdaya secara licik oleh si ular (ay. 13).

Dengan mengabaikan Allah, tindakan pemberontakan mereka membawa dampak yang teramat dahsyat bagi segenap umat manusia dan alam semesta. Pasangan manusia tidak hanya mengkhianati kepercayaan perjanjian yang telah diletakkan Allah atas mereka, tetapi dengan berpihak pada si ular, mereka sekaligus menempatkan diri di bawah kendali kuasa si jahat. Si ular kini tampil menjadi "penguasa dunia ini" (bdk. Mat. 4:8–9; Luk. 4:5–7; Yoh. 12:31; 14:30; 16:11). Rancangan awal Allah untuk menegakkan kerajaan-Nya di bumi melalui wakil-wakil manusia telah diganggu oleh si ular. Sejarah penebusan kini harus menantikan kedatangan sosok Wakil Penguasa yang sempurna di masa depan (the Last Adam, Yesus Kristus) agar Kerajaan Allah ditegakkan secara utuh di bumi.

Kendati pasangan manusia tersebut tidak langsung mengalami kematian fisik sesaat setelah memakan buah terlarang itu, mereka seketika mengalami kematian rohani—terasing dan terputus dari Sumber Kehidupan yang sejati.


Pertanggungjawaban di Hadapan Allah (3:8–13)

"Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan istrinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya, 'Di manakah engkau?' Ia menjawab, 'Ketika aku mendengar bunyi langkah-Mu dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.' Firman-Nya, 'Siapakah yang memberitahukan kepadamu bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari pohon yang Kularang engkau makan buahnya itu?' Manusia itu menjawab, 'Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.' Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu, 'Apakah yang telah kauperbuat ini?' Jawab perempuan itu, 'Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.'"
Kejadian 3:8–13 (TB2)

3:8–13 Setelah mengkhianati TUHAN Allah, pasangan manusia itu diliputi ketakutan dan rasa bersalah yang mendalam, lalu berusaha menyembunyikan diri dari hadirat-Nya. Ketika Allah datang meminta pertanggungjawaban dan menginterogasi mereka secara terpisah, baik laki-laki maupun perempuan menolak mengakui kesalahan secara tulus dan justru saling melempar tanggung jawab.

Sang laki-laki menyalahkan istrinya—dan secara tersirat bahkan menyalahkan Allah sendiri yang telah menempatkan perempuan itu di sisinya. Sementara itu, sang perempuan mengalihkan kesalahan kepada tipu daya si ular. Penolakan untuk bertobat ini menandai rusaknya relasi vertikal manusia dengan Allah dan relasi horizontal di antara sesama manusia.


Hukuman atas si Ular dan Janji Penebusan / Protevangelium (3:14–15)

"Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu, 'Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.'"
Kejadian 3:14–15 (TB2)

3:14–15 Sebagai dalang dan penghasut dari seluruh peristiwa kejatuhan ini, ular menjadi pihak pertama yang dihakimi oleh Allah. Allah menjatuhkan kutukan berat atasnya yang membedakannya dari segala makhluk lainnya. Makhluk yang semula digambarkan paling cerdik dari segala binatang hutan (Kej. 3:1) ini dihinakan oleh Allah hingga harus merayap dengan perutnya dan memakan debu tanah seumur hidupnya.

Allah juga menyatakan ketetapan penghakiman-Nya: 1. Akan ada permusuhan ('êbâ) yang tak terelakkan antara keturunan si ular dan keturunan (zera‘) sang perempuan; dan 2. Keturunan sang perempuan kelak akan menghancurkan dan meremukkan kepala si ular itu sendiri.

Kendati istilah "keturunan" (offspring / benih) sang perempuan dalam konteks tertentu dapat dipahami secara jamak sebagai segenap keturunan Hawa, sintaksis dari kalimat kedua secara kuat merujuk pada seorang individu tunggal (singular). Demikianlah pemahaman yang dipegang oleh para penerjemah Septuaginta (LXX / terjemahan Yunani kuno) terhadap teks Ibrani ini, dan terdapat argumen-argumen gramatikal yang sangat kokoh untuk mendukung penafsiran tersebut.

Oleh karena alasan inilah, dalam tradisi gereja mula-mula ayat 15 dikenal luas sebagai Protevangelium—yakni pemberitaan Injil yang pertama kali. Deklarasi ilahi ini menetapkan agenda utama bagi keseluruhan narasi Kitab Kejadian dan Perjanjian Lama, di mana alur cerita mulai melacak garis keturunan unik (patriline) yang kelak bermuara pada dinasti Daud dan pada puncaknya digenapi secara paripurna di dalam Yesus Kristus.

Ayat 15 memberikan nubuat awal mengenai kemenangan Kristus atas Iblis di kayu salib. Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah, keturunan perempuan itu akan mengalami luka dan penderitaan dalam pertempuran melawan si ular (remuk tumit-Nya), namun kontras yang tajam antara "tumit" dan "kepala" menandaskan bahwa si ular akan menerima pukulan maut yang membinasakannya sama sekali (remuk kepalanya).

Sebagian sarjana modern berpendapat bahwa keturunan perempuan di sini sekadar merujuk pada umat manusia secara umum dalam bentuk jamak. Namun, pembacaan semacam itu tidak selaras dengan kerangka narasi Kitab Kejadian secara keseluruhan, di mana manusia berulang kali digambarkan memberontak melawan Allah (misalnya Kej. 6:5–8; 11:1–9) dan dengan demikian justru menyejajarkan diri mereka dengan keturunan si ular. Kemenangan atas ular hanya dimungkinkan melalui Benih Sejati yang setia kepada Allah.


Penghakiman atas Perempuan (3:16)

"Firman-Nya kepada perempuan itu, 'Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.'"
Kejadian 3:16 (TB2)

3:16 Beralih kepada sang perempuan, Allah mengumumkan konsekuensi hukuman atasnya. Sementara arah umum dari perkataan awal Allah sangat jelas—yakni perempuan akan mengalami penderitaan dan kesakitan jasmani yang berat dalam proses mengandung dan melahirkan anak—para sarjana memiliki beragam pandangan mengenai penafsiran kalimat penutup Allah kepada sang perempuan. Perbedaan interpretasi ini sebagian bergantung pada bagaimana para penafsir memahami relasi sebelum kejatuhan antara laki-laki dan perempuan.

Terlepas dari variasi pemahaman tersebut, firman Allah secara tegas menyiratkan bahwa hubungan antara suami dan istri tidak lagi berada dalam harmoni yang sempurna. Kesejajaran yang sangat erat antara Kejadian 3:16 dan Kejadian 4:7 ("...ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya") mengindikasikan bahwa dosa akan memicu konflik relasional: sang perempuan memiliki kecenderungan berdosa untuk mendominasi suaminya, sementara sang suami akan cenderung memerintahnya dengan kekuasaan yang keras (authoritarian). Ketegangan dan pergulatan kekuasaan ini merusak tatanan harmoni kudus yang semula dirancang Allah saat Ia menciptakan perempuan sebagai penolong yang sepadan bagi laki-laki.


Penghakiman atas Laki-Laki dan Kutukan atas Tanah (3:17–19)

"Lalu firman-Nya kepada manusia itu, 'Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, sebab dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.'"
Kejadian 3:17–19 (TB2)

3:17–19 Berbicara kepada sang laki-laki, TUHAN Allah menegur keras kegagalannya karena telah mendengarkan suara istrinya melebihi perintah Allah. Selaras dengan bentuk dosanya yang memakan buah dari pohon terlarang, hukuman atas laki-laki difokuskan pada perjuangan memperoleh makanan.

Keharmonisan yang semula terjalin erat antara manusia dan tanah (lihat Kej. 2:7) kini terkoyak. Sebagaimana sang perempuan mengalami "kesakitan/susah payah" (‘iṣṣābôn), laki-laki pun akan mengalami jerih lelah yang menyakitkan dalam mengusahakan tanah pertanian (lihat Kej. 2:5). Teks tidak lagi menyebutkan pohon-pohon yang rindang, yang menyiratkan bahwa pasangan tersebut akan segera dihalau keluar dari Taman Eden yang berlimpah dengan pohon-pohon buah yang ranum (Kej. 2:16; bdk. 1:29).

Jerih lelah dan peluh manusia akan berlangsung di sepanjang sisa hidupnya, dan penderitaan ini baru akan berakhir ketika Allah membalikkan proses penciptaan manusia: sang manusia akan mati dan kembali menjadi debu tanah (bdk. Kej. 2:7).


Penamaan Hawa dan Pakaian dari Kulit Binatang (3:20–21)

"Manusia itu memberi nama Hawa kepada istrinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk istrinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka."
Kejadian 3:20–21 (TB2)

3:20–21 Setelah memaparkan penghakiman atas si ular, perempuan, dan laki-laki, narator membawa episode ini menuju kesimpulannya dengan mencatat pengusiran mereka dari taman (ay. 22–24). Namun sebelum itu, diselipkan beberapa rincian penting.

Pemberian nama Hawa (Ḥawwâ, yang berakar dari kata yang berarti "kehidupan" atau "pemberi hidup") menggarisbawahi peranan penting sang perempuan dalam melanjutkan keturunan umat manusia. Kelahiran anak cucu menjadi sarana vital bagi penggenapan rencana penyelamatan Allah sebagaimana dijanjikan dalam ayat 15.

Sementara sebagian komentator menafsirkan tindakan Allah membuatkan pakaian dari kulit binatang sebagai tindakan penebusan anugerah yang mengindikasikan korban persembahan penutup dosa, penjelasan yang lebih selaras dengan konteks Pentateukh adalah bahwa pakaian kulit binatang tersebut menandakan kemerosotan status mereka sebagai wakil penguasa Allah (vicegerents). Di bagian lain dalam Pentateukh, pakaian keimaman yang kudus selalu terbuat dari lenan (bahan nabati), sedangkan kulit binatang dihindari dalam ibadah karena keterkaitannya dengan kematian. Akibat pengkhianatan mereka kepada Allah, pasangan manusia pertama kehilangan pakaian kemuliaan mereka dan kini harus mengenakan rupa yang menyerupai binatang-binatang duniawi.


Pengusiran dari Taman Eden dan Penjagaan Pohon Kehidupan (3:22–24)

"Berfirmanlah TUHAN Allah, 'Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang, jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.' Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan."
Kejadian 3:22–24 (TB2)

3:22–24 Pohon kehidupan yang sempat disebutkan secara singkat dalam Kejadian 2:9 kini kembali menjadi sorotan. Demi mencegah manusia memakan buah pohon tersebut dalam kondisinya yang telah tercemar dosa—yang akan mengabadikan manusia dalam keadaan terkutuk—Allah dengan tegas menghalau manusia keluar dari Taman Eden.

Sebelumnya, maksud Allah adalah agar manusia mengusahakan tanah dan memelihara/menjaga kesucian taman itu (lihat Kej. 2:15). Di luar taman, manusia masih diwajibkan untuk mengusahakan tanah, namun tugas menjaga dan mengawal (šāmar) taman kini dialihkan kepada para kerub (kĕrūbîm). Pedang bernyala-nyala yang menyambar-nyambar ke segala arah menutup rapat akses manusia menuju pohon kehidupan.

Rintangan dan penghalang kudus ini terus tegak berdiri di sepanjang sejarah manusia, sampai pada masa penggenapan akhir di Yerusalem Baru, ketika umat tebusan Allah akhirnya diperkenankan kembali untuk menikmati buah dari pohon kehidupan melalui karya penebusan Kristus (Why. 22:2, 14).


Anak-Anak Adam dan Hawa (4:1–26)


Kelahiran Kain dan Habel serta Pekerjaan Mereka (4:1–2)

"Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, istrinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu, 'Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.' Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adiknya. Dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani."
Kejadian 4:1–2 (TB2)

4:1–2 Bagian Kitab Kejadian ini memusatkan perhatian pada keturunan Hawa, menggarisbawahi peran penting fungsi reproduksinya dalam melanjutkan garis kehidupan, serta mengingatkan pembaca pada janji firman Allah kepada si ular dalam Kejadian 3:15 mengenai keturunan (zera‘) sang perempuan. Dalam melahirkan anak pertamanya, Hawa mengakui kedaulatan dan anugerah Allah yang telah memampukannya memperoleh seorang anak laki-laki.

Sebagai pengantar bagi persembahan yang kelak akan mereka bawa ke hadapan Allah, ayat 2 memperkenalkan profesi masing-masing: Kain bekerja mengusahakan tanah (petani), sementara Habel menjadi pemelihara ternak (gembala kambing domba).


Persembahan Kain dan Habel serta Peringatan Allah (4:3–7)

"Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman TUHAN kepada Kain, 'Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.'"
Kejadian 4:3–7 (TB2)

4:3–7 Selaras dengan bidang pekerjaan masing-masing, Kain dan Habel membawa jenis persembahan yang berbeda kepada Allah. Tidak ada petunjuk teks yang menyatakan bahwa persembahan-persembahan ini dibawa sebagai kurban penebus dosa (sin atonement); kurban sembelihan di atas mezbah baru disebutkan secara eksplisit pertama kali dalam Kejadian 8:20–21 setelah Air Bah.

Perbedaan yang mencolok terletak pada sikap hati dan mutu persembahan: Kain sekadar mempersembahkan "sebagian dari hasil tanah", sedangkan Habel mempersembahkan "anak sulung dari kambing dombanya, yakni bagian-bagian lemaknya yang terbaik" (ay. 4). Persembahan Habel berkenan dan dipandang oleh TUHAN karena mutu persembahan serta ketulusan imannya (bdk. Ibr. 11:4).

Merasa tersaingi dan iri hati terhadap saudaranya, amarah Kain berkobar dan wajahnya menjadi muram. Dalam anugerah dan kesabaran-Nya, Allah menegur dan menguatkan Kain agar memperbaiki sikapnya, sekaligus memperingatkannya dengan serius akan bahaya kuasa dosa: dosa diibaratkan seperti binatang buas yang sedang mengintip dan hendak memangsa di depan pintu, dan Kain diperintahkan untuk menaklukkannya.


Pembunuhan Habel dan Penghakiman atas Kain (4:8–16)

"Kata Kain kepada Habel, adiknya, 'Marilah kita pergi ke padang.' Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. Firman TUHAN kepada Kain, 'Di mana Habel, adikmu itu?' Jawabnya, 'Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?' Firman-Nya, 'Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah! Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau akan menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.' Kata Kain kepada TUHAN, 'Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka siapa pun yang bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku.' Firman TUHAN kepadanya, 'Sekali-kali tidak! Siapa pun yang membunuh Kain akan dibalas tujuh kali lipat.' Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh siapa pun yang bertemu dengan dia. Lalu Kain keluar dari hadapan TUHAN dan menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden."
Kejadian 4:8–16 (TB2)

4:8–16 Mengabaikan peringatan penuh anugerah dari Allah, Kain dengan dingin membunuh adiknya, Habel. Untuk menonjolkan kekejaman tindakan pembunuhan berencana ini, narator dalam ayat 8 mengulang frasa "Habel, adiknya" sebanyak dua kali, menegaskan betapa biadabnya pembunuhan terhadap saudara kandung sendiri. Perilaku jahat Kain berbanding terbalik secara tajam dengan kebenaran yang ada pada adiknya (lihat Mat. 23:35; Ibr. 11:4; 1Yoh. 3:12).

Ketika Kain dengan angkuh menyangkal mengetahui keberadaan saudaranya ("Apakah aku penjaga adikku?"), Allah menegurnya dengan menyatakan bahwa darah Habel berteriak menuntut keadilan dari dalam tanah. Sebagai bentuk hukuman, Allah mengasingkan Kain dari tanah garapannya. Tugasnya sebagai "pengusaha tanah" (ay. 2) kini menjadi jauh lebih berat dan sia-sia, menggemakan kembali bagaimana Allah sebelumnya menghukum Adam (Kej. 3:17–19). Dosa Kain memperparah keterasingan manusia dari tanah, dan ia dihukum menjadi "seorang pelarian dan pengembara di bumi" (ay. 14).

Dihalau semakin jauh ke arah timur dari Eden, Kain akhirnya menetap di tanah Nod—nama yang secara harfiah berarti "pengembaraan". Secara mengagumkan, Allah tetap memberikan tanda perlindungan bagi Kain di tengah murka penghakiman-Nya, menunjukkan kemurahan umum Allah (common grace) kendati Kain telah melakukan kekejian moral yang begitu berat.


Garis Keturunan Kain dan Kesombongan Lamekh (4:17–24)

"Kain bersetubuh dengan istrinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh; kemudian Kain mendirikan suatu kota dan menamai kota itu dengan nama anaknya: Henokh. Bagi Henokh lahirlah Irad, dan Irad itu memperanakkan Mehuyael dan Mehuyael memperanakkan Metusael, dan Metusael memperanakkan Lamekh. Lamekh mengambil dua istri; yang pertama namanya Ada, yang kedua Zila. Ada itu melahirkan Yabal; dialah yang menjadi bapa orang yang diam dalam kemah dan memelihara ternak. Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan seruling. Zila pun melahirkan anak, yakni Tubal-Kain, tempaan segala perkakas tembaga dan besi. Saudara perempuan Tubal-Kain ialah Naama. Berkatalah Lamekh kepada istri-istrinya itu, 'Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: kamu istri-istri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalas tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.'"
Kejadian 4:17–24 (TB2)

4:17–24 Menyusul kematian tragis Habel, narator Kitab Kejadian menelusuri garis keturunan (patriline) dari Kain. Mungkinkah garis keturunan ini akan menghasilkan Benih yang dijanjikan untuk meremukkan kepala si ular?

Mencatat enam generasi, silsilah Kain mencapai puncaknya pada sosok Lamekh (ay. 17–18). Untuk menandai akhir dari garis keturunan Kain yang mandek ini, fokus narasi beralih pada kedua istri Lamekh beserta anak-anak mereka. Tidak ada anak laki-laki tertentu yang dipilih untuk meneruskan garis perjanjian melalui Lamekh; sebaliknya, Lamekh ditampilkan sebagai tokoh yang merusak tatanan pernikahan monogami (melakukan poligami/bigami) dan menjadi pembunuh yang kejam.

Dibandingkan dengan leluhurnya, Kain, Lamekh memandang dirinya jauh lebih hebat dan berkuasa (lihat ay. 24), menyombongkan diri melalui nyanyian pedang atas keberhasilannya membunuh seorang pemuda hanya karena luka fisik ringan.

Keterangan singkat mengenai tindakan Kain yang mendirikan sebuah kota (dan menamainya menurut nama anaknya, Henokh) mengantisipasi peristiwa pembangunan Menara Babel yang dikisahkan dalam Kejadian 11:1–9. Ungkapan "mendirikan suatu kota" mengindikasikan proses pembangunan kota yang berkelanjutan. Pembangunan kota dan perkembangan peradaban (peternakan, kesenian musik, teknologi tempa logam tembaga dan besi) mencerminkan dorongan alamiah manusia untuk hidup bermasyarakat dan mengembangkan kebudayaan, namun dalam garis keturunan Kain seluruh kemajuan peradaban tersebut telah dinodai oleh keangkuhan dan kekerasan yang merajalela.


Kelahiran Set dan Awal Penyembahan kepada TUHAN (4:25–26)

"Adam bersetubuh pula dengan istrinya, lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Set, sebab katanya, 'Allah telah mengaruniakan kepadaku keturunan yang lain sebagai ganti Habel; sebab Kain telah membunuhnya.' Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN."
Kejadian 4:25–26 (TB2)

4:25–26 Setelah menelusuri lima generasi keturunan Kain yang bermuara pada kesombongan destruktif Lamekh—yang membanggakan diri sebagai sosok yang lebih bengis daripada Kain—narasi Kitab Kejadian melompat kembali ke masa sebelumnya untuk mencatat kelahiran anak laki-laki lain dari Hawa.

Secara signifikan, dengan menamainya Set (Šēt, yang berakar dari kata yang berarti "ditetapkan" atau "ditentukan"), Hawa menyatakan imannya bahwa Allah telah menyediakan Set sebagai keturunan pengganti Habel yang telah dibunuh oleh Kain. Penggunaan istilah "keturunan / benih" (zera‘) oleh Hawa merujuk secara langsung pada janji pengharapan dalam Kejadian 3:15.

Melalui garis Set, sebuah garis keturunan perjanjian alternatif (godly line) ditegakkan, yang sangat bertolak belakang dengan garis keturunan Kain yang fasik. Rincian silsilah garis perjanjian ini kelak diuraikan secara mendalam dalam Kejadian 5:1–32.

Menambah kesan positif dan penuh pengharapan dari kelahiran Set dan putranya, Enos, ayat 26 mencatat bahwa pada masa itulah orang mulai "memanggil nama TUHAN" (liqro' bĕšēm Yahweh). Teks Ibrani tidak secara eksplisit mencantumkan kata "orang/semua orang", yang mungkin mengindikasikan bahwa hanya sekelompok manusia tertentu—yakni kaum sisa yang setia dari garis keturunan Set—yang memelihara ibadah dan penyembahan sejati kepada TUHAN di tengah dunia yang kian tercemar oleh dosa.


III. Kisah Keturunan Adam (5:1–6:8)

Garis Keturunan Utama Adam hingga Nuh (5:1–32)


Silsilah Adam Melalui Set (5:1–5)

"Inilah daftar keturunan Adam. Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Ia memberkati mereka dan memberikan nama 'Manusia' kepada mereka, pada waktu mereka diciptakan. Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang anak laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati."
Kejadian 5:1–5 (TB2)

5:1–5 Sebuah judul baru memperkenalkan silsilah linear yang dicatat dalam pasal ini (tôlēḏōt, "daftar keturunan"). Silsilah ini memaparkan garis keturunan utama (patriline) dari Adam, yang ditelusuri melalui Set selama sepuluh generasi. Ayat-ayat pembuka pasal 5 mengingatkan kembali pernyataan-pernyataan yang telah dibuat dalam Kejadian 1:26–27, yang menggarisbawahi bagaimana Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya (imago Dei).

Namun demikian, tindakan ketidaktaatan Adam dan Hawa di Taman Eden telah mengubah hubungan antara Allah dan umat manusia. Mencerminkan kenyataan tersebut, ayat 3 secara eksplisit mencatat bahwa Set diperanakkan menurut rupa dan gambar Adam, bukan lagi secara langsung menurut rupa Allah. Hal ini menunjukkan bahwa natur manusia yang telah jatuh ke dalam dosa kini diwariskan dari Adam kepada keturunannya. Meskipun Adam memiliki anak-anak lelaki dan perempuan lainnya, hanya Set yang disebutkan namanya, dan pola ini diulang secara konsisten di sepanjang sisa pasal ini. Dengan menyebutkan hanya satu tokoh penting dalam setiap generasi, silsilah ini secara cermat menelusuri satu garis keturunan benih yang unik dan terpilih (a unique line of offspring).


Garis Keturunan dari Set hingga Nuh (5:6–32)

"Setelah Set hidup seratus lima tahun, ia memperanakkan Enos. Dan Set masih hidup delapan ratus tujuh tahun, setelah ia memperanakkan Enos, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Set mencapai umur sembilan ratus dua belas tahun, lalu ia mati.

Setelah Enos hidup sembilan puluh tahun, ia memperanakkan Kenan. Dan Enos masih hidup delapan ratus lima belas tahun, setelah ia memperanakkan Kenan, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Enos mencapai umur sembilan ratus lima tahun, lalu ia mati.

Setelah Kenan hidup tujuh puluh tahun, ia memperanakkan Mahalaleel. Dan Kenan masih hidup delapan ratus empat puluh tahun, setelah ia memperanakkan Mahalaleel, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Kenan mencapai umur sembilan ratus sepuluh tahun, lalu ia mati.

Setelah Mahalaleel hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Yared. Dan Mahalaleel masih hidup delapan ratus tiga puluh tahun, setelah ia memperanakkan Yared, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Mahalaleel mencapai umur delapan ratus sembilan puluh lima tahun, lalu ia mati.

Setelah Yared hidup seratus enam puluh dua tahun, ia memperanakkan Henokh. Dan Yared masih hidup delapan ratus tahun, setelah ia memperanakkan Henokh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Yared mencapai umur sembilan ratus enam puluh dua tahun, lalu ia mati.

Setelah Henokh hidup enam puluh lima tahun, ia memperanakkan Metusalah. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

Setelah Metusalah hidup seratus delapan puluh tujuh tahun, ia memperanakkan Lamekh. Dan Metusalah masih hidup tujuh ratus delapan puluh dua tahun, setelah ia memperanakkan Lamekh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Metusalah mencapai umur sembilan ratus enam puluh sembilan tahun, lalu ia mati.

Setelah Lamekh hidup seratus delapan puluh dua tahun, ia memperanakkan seorang anak laki-laki, dan memberi nama Nuh kepadanya, katanya: 'Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN.' Dan Lamekh masih hidup lima ratus sembilan puluh lima tahun, setelah ia memperanakkan Nuh, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Lamekh mencapai umur tujuh ratus tujuh puluh tujuh tahun, lalu ia mati.

Setelah Nuh berumur lima ratus tahun, ia memperanakkan Sem, Ham dan Yafet."
Kejadian 5:6–32 (TB2)

5:6–32 Garis keturunan Adam ini memiliki signifikansi yang sangat istimewa dalam terang janji Allah mengenai keturunan sang perempuan yang akan mengalahkan dan meremukkan si ular (Kej. 3:15). Dalam ayat 6–31, sebuah pola dan struktur baku yang khas diulang untuk setiap nama yang dicatat, namun pola ini diperluas secara khusus bagi Henokh (ay. 21–24) dan Lamekh (ay. 28–31).

Hubungan istimewa Henokh dengan Allah sangat ditonjolkan: ia digambarkan "hidup bergaul dengan Allah". Secara luar biasa, riwayat hidupnya tidak ditutup dengan frasa umum "lalu ia mati", melainkan ia tidak ada lagi di bumi karena telah diangkat secara langsung oleh Allah (ay. 24).

Sementara itu, perkataan Lamekh saat kelahiran putranya memancarkan pengharapan teguh bahwa Nuh akan memegang peranan istimewa dalam rancangan kedaulatan Allah. Silsilah dalam pasal 5 ini, yang memusatkan perhatian secara eksklusif pada para penerus garis keturunan utama Adam, disimpulkan dengan indikasi bahwa Nuh akan membawa kelegaan dan penghiburan dari jerih lelah penuh penderitaan yang timbul akibat hukuman dan kutukan Allah atas tanah karena dosa Adam (Kej. 3:17).

Selanjutnya, narasi Kitab Kejadian mencurahkan beberapa pasal berturut-turut untuk mengisahkan Nuh, dengan menonjolkan integritas dan kesalehannya yang sangat kontras jika dibandingkan dengan umat manusia lainnya pada generasinya. Kendati demikian, Nuh sendiri tidak ditampilkan sebagai sosok pembebas puncak yang akan menaklukkan si ular. Teks Kitab Kejadian membangun ekspektasi bahwa garis keturunan perjanjian ini akan terus berlanjut melalui salah seorang anak laki-lakinya, yang ketiganya secara serentak disebutkan dalam ayat 32 (Sem, Ham, dan Yafet). Pembaca harus menanti hingga pasal 11 untuk melihat bagaimana garis keturunan ini dilanjutkan secara spesifik melalui Sem hingga sampai kepada para bapa leluhur bangsa perjanjian: Abraham, Ishak, dan Yakub.

Kejahatan Umat Manusia (6:1–8)


Perkawinan Campur dan Batas Umur Manusia (6:1–3)

"Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Berfirmanlah TUHAN: 'Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.'"
Kejadian 6:1–3 (TB2)

6:1–3 Silsilah linear dalam pasal 5 memusatkan perhatian pada garis keturunan utama Adam. Anak-anak lelaki dan perempuan lainnya memang lahir dalam setiap generasi, namun tidak ada penjelasan mengenai populasi dunia yang kian bertambah banyak. Dengan latar belakang inilah ayat-ayat pembuka pasal 6 menyajikan suatu gambaran panoramik singkat mengenai umat manusia, yang berpusat pada bagaimana anak-anak Allah menikahi anak-anak perempuan manusia.

Bagian singkat ini telah memicu banyak spekulasi mengenai identitas "anak-anak Allah". Sangat kecil kemungkinannya bahwa mereka adalah makhluk-makhluk malaikat, kendati terdapat sejarah panjang penafsiran yang mendukung pandangan tersebut. Kemunculan tiba-tiba dari makhluk-makhluk surgawi yang menikahi manusia di dalam alur narasi sangatlah sulit untuk dijelaskan (bdk. Mat. 22:30; Mrk. 12:25). Kemungkinan yang jauh lebih besar adalah bahwa "anak-anak Allah" merujuk kepada manusia yang hidup saleh dan takut akan Allah, sedangkan "anak-anak perempuan manusia" mewakili mereka yang memperlihatkan karakter-karakter kefasikan.

Ayat 1–2 menyingkapkan bahwa kedua kelompok ini melakukan perkawinan campur. Terlepas dari berbagai pendapat yang menyatakan sebaliknya, tidak ada alasan dalam teks untuk menganggap bahwa anak-anak Allah bertindak tidak pantas dalam mengambil istri. Keputusan Allah untuk membatasi masa hidup manusia hingga 120 tahun kemungkinan besar disebabkan oleh kecenderungan hati mereka kepada kejahatan. Di dalam Kitab Kejadian, mereka yang hidup lebih dari 120 tahun pada umumnya dipandang sebagai orang-orang yang saleh.


Kaum Nefilim dan Kekerasan di Bumi (6:4)

"Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan."
Kejadian 6:4 (TB2)

6:4 Orang-orang Nefilim (diterjemahkan "orang-orang raksasa"), yang digambarkan sebagai "orang-orang yang gagah perkasa", tidak seharusnya dipandang sebagai "pahlawan", sebagaimana dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris (misalnya NIV, NJB), melainkan sebagai prajurit-prajurit agresif yang gemar berperang dan berbuat kezaliman. Mereka mewakili suatu golongan atau kelas masyarakat tertentu, bukan suatu kelompok etnis.

Oleh karena itu, keberadaan mereka ditemukan baik sebelum maupun sesudah peristiwa Air Bah (bdk. Bil. 13:33). Penggambaran mereka sebagai prajurit-prajurit yang ganas ini selaras dengan penghukuman dan kecaman Allah atas umat manusia dalam Kejadian 6:11–13. Kaum Nefilim turut menyebabkan bumi dipenuhi dengan kekerasan.


Kejahatan Manusia dan Kasih Karunia atas Nuh (6:5–8)

"Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: 'Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.' Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN."
Kejadian 6:5–8 (TB2)

6:5–8 Ayat-ayat ini mencatat penilaian Allah yang kelam mengenai keberdosaan dan kerusakan moral umat manusia (total depravity). Ayat 5 menegaskan betapa meratanya kejahatan manusia di mana-mana; manusia pada hakikatnya senantiasa berbuat jahat setiap waktu.

Melihat apa yang telah terjadi, dengan penuh kepiluan Allah memutuskan untuk melenyapkan seluruh manusia beserta makhluk-makhluk ciptaan lainnya yang telah dijadikan-Nya. Kendati demikian, ada satu orang yang berdiri teguh dan tampil berbeda. Selaras dengan silsilah linear dalam pasal 5, catatan panoramik dalam Kejadian 6:1–8 ditutup dengan memusatkan perhatian pada Nuh, yang beroleh kasih karunia di mata Allah.


IV. Kisah Keturunan Nuh (6:9–9:29)

Nuh dan Air Bah (6:9–8:12)


Riwayat Nuh dan Ketiga Anaknya (6:9–10)

"Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet."
Kejadian 6:9–10 (TB2)

6:9–10 Sebuah bagian baru dalam Kitab Kejadian ditandai oleh judul pada awal ayat 9 (tôlēḏōt, "Inilah riwayat..."). Bagian narasi berikutnya memusatkan perhatian pada Nuh dan keturunannya. Sejak awal, kebenaran Nuh secara khusus disoroti. Berbeda dengan orang-orang lain pada generasinya, ia hidup tidak bercela. Dan sama seperti Henokh (5:22–24), Nuh hidup bergaul dengan Allah (ay. 9). Di kemudian hari dalam Kitab Kejadian, Allah akan memerintahkan Abraham untuk hidup di hadapan-Nya dan tidak bercela (17:1). Penilaian yang sangat positif mengenai Nuh ini mendukung pengharapan optimis yang telah diisyaratkan sebelumnya dalam Kejadian 5:29 dan 6:8. Namun demikian, penyebutan ketiga anak laki-laki Nuh dalam ayat 10 mengindikasikan bahwa Nuh bukanlah keturunan sang perempuan yang dinubuatkan akan mengalahkan si ular.


Perintah Membuat Bahtera dan Kerusakan Bumi (6:11–22)

"Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: 'Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas. Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan istrimu dan istri anak-anakmu. Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa. Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.' Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya."
Kejadian 6:11–22 (TB2)

6:11–22 Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai "bumi" ('ereṣ) adakalanya dapat merujuk pada wilayah yang lebih sempit; kata ini terkadang diterjemahkan sebagai "tanah" atau "negeri" (misalnya Kej. 12:1, 7; 23:7, 12, 13). Oleh karena alasan ini, beberapa sarjana berpendapat bahwa air bah yang dicatat dalam pasal 6–9 mungkin tidak menutupi seluruh permukaan bumi secara global. Ayat 11–12 menekankan bagaimana "segala makhluk" (all flesh) telah merusak bumi/tanah tersebut dengan kekerasan. Dalam pasal 6–9, frasa "segala makhluk" mencakup manusia sekaligus hewan. Keputusan Allah untuk memusnahkan makhluk-makhluk ciptaan lainnya bersama-sama dengan manusia (lihat Kej. 6:7) mengindikasikan bahwa binatang-binatang itu turut berkontribusi dalam membuat bumi dipenuhi dengan kekerasan.

Sekalipun banyak makhluk hidup akan mati tenggelam akibat air bah, penyelamatan Allah atas Nuh akan mengikutsertakan sepasang dari setiap jenis burung, hewan, dan binatang melata (ay. 19–20). Keputusan Allah untuk memusnahkan (kata kerja Ibrani šāḥat) segala makhluk (ay. 13, 17) merupakan hukuman yang sangat setimpal karena segala makhluk telah merusak (kata kerja Ibrani šāḥat) bumi. Hukuman tersebut bersesuaian tepat dengan bobot kejahatannya.

Dalam terang keputusan-Nya untuk memusnahkan segala makhluk, Allah memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah bahtera kayu yang besar dan berpetak-petak. Struktur raksasa ini akan menampung berbagai jenis makhluk hidup yang disebutkan dalam ayat 20 (bandingkan Kej. 6:7). Kategori-kategori yang didaftarkan di sini mengingatkan kembali pada kategori penciptaan yang dicatat dalam Kejadian 1:24–26, 28, 30. Menggemakan kembali narasi Kejadian 1, kisah air bah ini sesungguhnya menggambarkan proses pembongkaran ciptaan (de-creation) dan penciptaan kembali (re-creation) atas bumi. Bagi bangsa Israel kuno, air bah dipahami sebagai tindakan penyucian dan pembersihan atas tanah yang telah dicemari oleh penumpahan darah. Perjanjian yang disinggung secara ringkas dalam ayat 18 kelak akan diresmikan dan diteguhkan oleh Allah setelah air bah surut (Kej. 9:8–17).


Perintah Masuk ke dalam Bahtera (7:1–5)

"Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: 'Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini. Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu.' Lalu Nuh melakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya."
Kejadian 7:1–5 (TB2)

7:1–5 Allah memerintahkan Nuh untuk masuk ke dalam bahtera, dengan membawa serta keluarganya dan berbagai ragam makhluk hidup. Di sini tidak diberikan penjelasan terperinci mengenai perbedaan antara binatang yang halal (tidak haram) dan yang haram. Kitab Imamat 11:1–47 dan Ulangan 14:3–20 membedakan antara binatang halal dan haram dalam kaitannya dengan hukum makanan bangsa Israel. Dalam nas-nas tersebut, sebagian besar binatang haram adalah karnivor (pemakan daging), sedangkan binatang halal adalah herbivor (pemakan tumbuhan). Jika perbedaan ini diterapkan pada kisah air bah, maka binatang-binatang herbivor lebih disukai karena mereka tidak berkontribusi terhadap tindak kekerasan dan pemangsaan yang memenuhi bumi. Keberadaan tambahan pasang binatang dan burung yang halal ini juga sangat diperlukan untuk pelaksanaan persembahan korban bakaran setelah air bah reda (lihat Kej. 8:20).


Nuh dan Keluarganya Masuk ke dalam Bahtera (7:6–9)

"Nuh berumur enam ratus tahun, ketika air bah datang meliputi bumi. Masuklah Nuh ke dalam bahtera itu bersama-sama dengan anak-anaknya dan istrinya dan istri anak-anaknya karena air bah itu. Dari binatang yang tidak haram dan yang haram, dari burung-burung dan dari segala yang merayap di muka bumi, datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, jantan dan betina, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh."
Kejadian 7:6–9 (TB2)

7:6–9 Alur cerita sejenak diselingi oleh catatan kronologis mengenai usia Nuh dalam ayat 6. Ayat 7–9 menegaskan identitas dari para penghuni yang masuk ke dalam bahtera. Sekali lagi, ketaatan Nuh yang teguh digarisbawahi (ay. 9; bdk. Kej. 6:22; 7:5), yang mengonfirmasi penilaian Allah bahwa Nuh adalah seorang yang benar di hadapan-Nya (Kej. 7:1; bdk. 6:9).


Permulaan Air Bah (7:10–16)

"Setelah tujuh hari datanglah air bah meliputi bumi. Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudra raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan istri Nuh, dan ketiga istri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu, mereka itu dan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata yang merayap di bumi dan segala jenis burung, yakni segala yang berbulu bersayap; dari segala yang hidup dan bernyawa datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu. Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh."
Kejadian 7:10–16 (TB2)

7:10–16 Permulaan peristiwa air bah ditarikhkan secara spesifik berdasarkan usia hidup Nuh. Penanggalan-penanggalan lebih lanjut dicatat dalam Kejadian 8:4, 5, 13, 14. Dua sumber air bersatu padu memicu terjadinya air bah: dari bawah (segala mata air samudra raya yang terbelah) dan dari atas (tingkap-tingkap langit yang terbuka), air melingkupi bumi, sehingga membalikkan proses penciptaan (reversing the creative process) yang diuraikan dalam pasal pembuka Kitab Kejadian. Memperluas perincian yang telah dicatat dalam Kejadian 7:7–9, ayat 13–16 menekankan bagaimana pasangan-pasangan dari setiap jenis makhluk hidup terpelihara dengan aman dari kebinasaan maut air bah.


Luapan Air Bah dan Kematian Segala Makhluk Hidup (7:17–24)

"Empat puluh hari lamanya air bah itu meliputi bumi; air itu naik dan mengangkat bahtera itu, sehingga melampung tinggi dari bumi. Ketika air itu makin bertambah-tambah dan naik dengan hebatnya di atas bumi, terapung-apunglah bahtera itu di muka air. Dan air itu sangat hebatnya bertambah-tambah meliputi bumi, dan ditutupinyalah segala gunung tinggi di seluruh kolong langit, sampai lima belas hasta di atasnya bertambah-tambah air itu, sehingga gunung-gunung ditutupinya. Lalu mati binasalah segala yang hidup, yang bergerak di bumi, burung-burung, ternak dan binatang liar dan segala binatang merayap, yang berkeriapan di bumi, serta semua manusia. Matilah segala yang ada napas hidup dalam hidungnya, segala yang ada di darat. Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang di muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang melata dan burung-burung di udara, sehingga semuanya itu dihapuskan dari atas bumi; hanya Nuh yang tinggal hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu. Dan berkuasalah air itu di atas bumi seratus lima puluh hari lamanya."
Kejadian 7:17–24 (TB2)

7:17–24 Air bah terus bertambah naik selama empat puluh hari sampai seluruh puncak gunung tertinggi pun tertutupi. Jangka waktu empat puluh hari yang disebutkan dalam ayat 17 kemungkinan besar merujuk pada periode awal peningkatan debit air bah dan merupakan penegasan kedua atas kurun waktu empat puluh hari yang telah disebutkan dalam Kejadian 7:12. Sebagaimana telah dinyatakan Allah sebelum mendatangkan air bah (Kej. 6:17), setiap makhluk yang hidup dan bernyawa di muka bumi/tanah itu mati binasa (ay. 21–23). Tidak ada jalan keselamatan atau pelarian bagi siapa pun yang berada di luar bahtera.


Allah Mengingat Nuh dan Air Mulai Surut (8:1–5)

"Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun. Ditutuplah mata-mata air samudra raya serta tingkap-tingkap di langit dan berhentilah hujan lebat dari langit, dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah seratus lima puluh hari. Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat. Sampai bulan yang kesepuluh makin berkuranglah air itu; dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal satu bulan itu, tampaklah puncak-puncak gunung."
Kejadian 8:1–5 (TB2)

8:1–5 Ayat 1 menandai titik balik (turning point) yang sangat menentukan dalam narasi air bah, yang secara tepat menyoroti arti penting Nuh bagi kelangsungan hidup seisi bahtera. Mengingatkan kembali pada suasana pembuka dalam Kejadian 1 mengenai Roh (bahasa Ibrani: rûaḥ) Allah yang melayang-layang di atas permukaan air (Kej. 1:2), Allah membuat angin (bahasa Ibrani: rûaḥ) mengembus untuk membuat air bah itu surut (ay. 1). Peristiwa yang dicatat dalam ayat 2 membalikkan kondisi yang digambarkan dalam Kejadian 7:11–12. Air surut secara bertahap dan perlahan. Lebih dari tujuh puluh hari berlalu antara saat bahtera terkandas di pegunungan hingga puncak-puncak gunung mulai terlihat kembali.


Burung Gagak dan Burung Merpati (8:6–12)

"Sesudah lewat empat puluh hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu. Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi. Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi. Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air; lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera. Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu dari bahtera; menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi. Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya."
Kejadian 8:6–12 (TB2)

8:6–12 Burung gagak mampu bertahan hidup di luar bahtera dengan memakan bangkai-bangkai yang mengapung, suatu pengingat yang khusyuk dan serius akan kedahsyatan maut yang terjadi akibat penghukuman air bah. Sangat kontras dengan burung gagak, burung merpati hanya hidup dari memakan tumbuh-tumbuhan hijau. Perilaku burung merpati selama rentang waktu tiga minggu menyingkapkan bahwa bumi/tanah telah cukup kering sehingga tumbuh-tumbuhan dapat bertunas dan bertumbuh kembali.

Pasca Air Bah (8:13–9:17)


Nuh dan Keluarganya Keluar dari Bahtera (8:13–19)

"Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering. Dalam bulan kedua, pada hari yang kedua puluh tujuh bulan itu, bumi telah kering. Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: 'Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan istrimu serta anak-anakmu dan istri anak-anakmu; segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.' Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan istrinya dan istri anak-anaknya. Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu."
Kejadian 8:13–19 (TB2)

8:13–19 Catatan kronologis dalam ayat 14 menyingkapkan bahwa air bah berlangsung sekitar 375 hari, terhitung sejak air bah pertama kali meluap hingga bumi/tanah benar-benar kering. Dalam ketaatan kepada perintah Allah, Nuh beserta seluruh orang dan makhluk yang bersamanya keluar dari bahtera.


Korban Bakaran Nuh dan Janji Allah (8:20–22)

"Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: 'Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.'"
Kejadian 8:20–22 (TB2)

8:20–22 Tindakan pertama yang dilakukan Nuh setibanya kembali di tanah yang kering adalah mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah. Istilah Ibrani untuk korban bakaran ini mengindikasikan asap persembahan yang membubung naik ke atas. Sebagai aroma yang menyenangkan dan menenteramkan, persembahan tersebut mendorong Allah berjanji bahwa Dia tidak akan pernah lagi "membinasakan lagi segala yang hidup" (ay. 21).

Tindakan Nuh bukan sekadar ungkapan syukur karena telah diselamatkan dari air bah; melalui persembahan korban ini, ia memohon dan beroleh perkenanan Allah bagi segenap ciptaan. Allah menyatakan bahwa Dia tidak akan menambah kutuk yang telah dinyatakan-Nya dalam Kejadian 3:17 dengan mendatangkan air bah lain di masa depan. Meskipun demikian, kutukan yang diberikan dalam Kejadian 3:17 tetap berlaku. Tanggapan Allah terhadap persembahan Nuh ini bermuara pada penetapan suatu perjanjian kekal (lihat Kej. 9:9–17). Pernyataan bahwa kecenderungan hati manusia adalah jahat (ay. 21) menggemakan kembali apa yang telah ditegaskan sebelum peristiwa air bah (Kej. 6:5). Sekalipun air bah telah melenyapkan generasi yang fasik, natur manusia yang berdosa tidak berubah menjadi lebih baik.


Berkat Allah dan Ketetapan bagi Umat Manusia (9:1–7)

"Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: 'Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi. Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan. Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia. Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri. Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya.'"
Kejadian 9:1–7 (TB2)

9:1–7 Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya, serta memerintahkan mereka untuk beranak cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi (ay. 1, 7). Walaupun berkat Allah ini menggemakan kembali mandat dalam Kejadian 1:28, dalam konteks saat ini tidak disebutkan lagi perihal manusia menaklukkan bumi atau berkuasa atas makhluk-makhluk lainnya. Akibat ketidaktaatan Adam dan Hawa di Taman Eden, umat manusia tidak lagi dapat memerintah bumi mewakili Allah sebagaimana rancangan semula.

Mencerminkan perubahan kondisi tersebut, dalam ayat 2–6 Allah berbicara mengenai dunia pasca-air bah di mana kekerasan akan terus memengaruhi kehidupan segenap makhluk ciptaan. Ungkapan Ibrani yang diterjemahkan sebagai "segala yang bergerak" (ay. 3) kemungkinan hanya merujuk pada binatang-binatang non-predator (bukan pemangsa). Allah menarik pembedaan mendasar yang sangat penting antara kehidupan manusia dan binatang. Sekalipun manusia berdosa dan memberontak terhadap Allah, seluruh manusia tetap memiliki nilai yang mulia di mata Allah; hal inilah yang membedakan mereka secara radikal dari makhluk ciptaan lainnya.

Barangsiapa dengan sengaja merenggut nyawa sesamanya manusia akan dituntut pertanggungjawabannya atas perbuatannya tersebut. Sekalipun Allah menentang penumpahan darah, Dia memberikan ketetapan bahwa nyawa seorang pembunuh boleh dituntut (hukuman mati). Demi menegakkan keadilan di dunia kuno, hukuman mati merupakan satu-satunya sarana yang tersedia bagi sebagian besar komunitas masyarakat dalam menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada seorang pembunuh.


Perjanjian Allah dan Tanda Busur Pelangi (9:8–17)

"Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 'Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.' Dan Allah berfirman: 'Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.' Berfirmanlah Allah kepada Nuh: 'Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.'"
Kejadian 9:8–17 (TB2)

9:8–17 Allah memberitahukan kepada Nuh dan anak-anaknya bahwa Dia sedang menetapkan suatu perjanjian dengan mereka, dengan keturunan mereka, dan dengan segala makhluk hidup yang selamat di dalam bahtera. Karena perjanjian ini menjamin bahwa Allah tidak akan lagi melenyapkan "segala yang hidup" dengan mendatangkan air bah (ay. 11), maka perjanjian ini belum pernah ada sebelum masa hidup Nuh. Sekalipun istilah Ibrani untuk "busur" dapat merujuk pada senjata perang, di sini kata tersebut mengacu pada busur pelangi, suatu penafsiran yang diperkuat oleh penyebutan awan dalam ayat 13–16. Sebagai tanda perjanjian, pelangi mengingatkan kembali akan peristiwa penghakiman yang telah terjadi sekaligus memberikan jaminan kepastian yang menenteramkan mengenai pemeliharaan Allah di masa depan.

Kutukan Nuh atas Kanaan (9:18–29)


Anak-Anak Nuh dan Persebaran Penduduk Bumi (9:18–19)

"Anak-anak Nuh yang keluar dari bahtera ialah Sem, Ham dan Yafet; Ham adalah bapa Kanaan. Yang tiga inilah anak-anak Nuh, dan dari mereka inilah tersebar penduduk seluruh bumi."
Kejadian 9:18–19 (TB2)

9:18–19 Kisah dalam Kitab Kejadian secara bertahap beralih dari fokus kepada Nuh ke ketiga anaknya. Tanpa alasan yang tampak jelas secara langsung, kita diberitahu bahwa Ham adalah bapa Kanaan. Perincian singkat ini, yang diulangi dalam 9:22 sebagai penekanan, memiliki kaitan penting dengan peristiwa yang hendak diceritakan. Dengan menyebutkan bahwa penduduk seluruh bumi tersebar, ayat 19 mengantisipasi seluruh catatan yang termuat dalam 10:1–11:9.


Kemabukan Nuh, Dosa Terhadapnya, dan Pengucapan Kutuk serta Berkat (9:20–27)

"Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. Maka Ham, bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar. Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya. Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya, berkatalah ia: 'Terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya.' Lagi katanya: 'Terpujilah TUHAN, Allah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya. Allah meluaskan kiranya tempat kediaman Yafet, dan hendaklah ia tinggal dalam kemah-kemah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya.'"
Kejadian 9:20–27 (TB2)

9:20–27 Penggambaran Nuh sebagai seorang petani/penggarap tanah (man of the ground/soil) mengingatkan kembali pada hubungan khusus yang terjalin antara manusia dan tanah (lihat 2:5), sekaligus ucapan Lamekh mengenai Nuh dalam 5:29. Setelah air bah menyucikan bumi dari kecemaran manusia, tanah tersebut menjadi lebih produktif. Akan tetapi, Nuh menjadi mabuk oleh hasil jerih payahnya. Ketika anaknya, Ham, melihatnya telanjang, ia memberitahukan hal itu kepada saudara-saudaranya. Tidak ada alasan untuk berasumsi bahwa Ham telah melakukan sesuatu yang tidak pantas, terlepas dari apa yang diklaim oleh banyak penafsir. Tiga faktor mengindikasikan bahwa Kanaan-lah yang telah memperlakukan Nuh secara tidak senonoh:

Pertama, narator memperkenalkan namanya dalam 9:18, 22; tentu ada alasan tertentu di balik penonjolan nama Kanaan dan bukan saudara-saudaranya yang lain. Kedua, Nuh mengungkapkan bahwa "anak bungsunya" telah berbuat tidak senonoh (ay. 24). Dalam teks Ibrani, istilah "anak" (bēn) juga dapat berarti "cucu" (lihat 31:28). Rujukan kepada "anak bungsu" sangat tepat dikenakan kepada Kanaan (lihat 10:6). Sebaliknya, Ham bukanlah anak bungsu Nuh; ia tidak pernah didaftarkan pada urutan terakhir ketika nama anak-anak Nuh dicatat (lihat 9:18; bdk. 5:32; 6:10; 10:1). Ketiga, Nuh mengutuk Kanaan. Jika Ham atau orang lain yang bersalah hingga menyebabkan ketelanjangan Nuh, maka tidaklah tepat jika Kanaan yang dikhususkan untuk dikutuk. Sangat disayangkan, telunjuk kesalahan kerap diarahkan kepada Ham dan disalahgunakan secara tidak pantas untuk melegitimasi perbudakan terhadap kelompok-kelompok etnis keturunannya yang dikaitkan dengan Afrika.

Pernyataan kutukan dan berkat dari Nuh mengindikasikan bahwa Sem akan memegang otoritas atas saudara-saudaranya. Sebagaimana diungkapkan dalam pasal 11, Sem adalah sosok yang melaluinya garis keturunan bapa (patriline) akan berlanjut. Diberkati oleh ayahnya, Sem berperan memungkinkan keturunan Yafet untuk berkembang, sekaligus membatasi perilaku keturunan keponakannya, Kanaan.


Kematian Nuh (9:28–29)

"Nuh masih hidup tiga ratus lima puluh tahun sesudah air bah. Jadi Nuh mencapai umur sembilan ratus lima puluh tahun, lalu ia mati."
Kejadian 9:28–29 (TB2)

9:28–29 Isi ayat-ayat ini mengingatkan kembali pada pola yang dijumpai dalam silsilah pada pasal 5. Dengan catatan singkat mengenai kematiannya ini, peranan Nuh dalam narasi Kitab Kejadian pun berakhir.


V. Kisah Keturunan Anak-Anak Nuh (10:1–11:9)

Keturunan Anak-Anak Nuh (10:1–32)


Pengantar Daftar Keturunan Anak-Anak Nuh (10:1)

"Inilah keturunan Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh. Setelah air bah itu lahirlah anak-anak lelaki bagi mereka."
Kejadian 10:1 (TB2)

10:1 Sebuah bagian baru dalam Kitab Kejadian dimulai, yang berfokus pada keturunan Sem, Ham, dan Yafet. Urutan pembahasan dalam pasal ini bergerak dari anak bungsu, yaitu Yafet, hingga anak sulung, yaitu Sem. Pasal ini menyajikan suatu gambaran panoramik mengenai populasi umat manusia yang kian bertambah banyak dan meluas, dipandang dari segi kaum/keluarga, bahasa, tanah negeri, dan bangsa. Gambaran yang disajikan ini bersifat selektif dan bukannya menyeluruh (komprehensif). Sejumlah perincian yang disoroti memiliki signifikansi tersendiri bagi alur kisah selanjutnya. Walaupun kerap diklaim bahwa—di luar Sem, Ham, dan Yafet—ada tujuh puluh orang (atau kaum/suku) yang disebutkan dalam pasal ini (dengan angka tujuh puluh yang melambangkan kesempurnaan ciptaan), jumlah yang tepat sesungguhnya adalah tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua, jika nama Ibrani ʾaššûr dalam 10:11 dipahami merujuk kepada seorang tokoh bernama Asyur (Asshur) dan bukan nama wilayah Asyur (Assyria).


Keturunan Yafet (10:2–5)

"Keturunan Yafet ialah Gomer, Magog, Madai, Yawan, Tubal, Mesekh dan Tiras.

Keturunan Gomer ialah Askenas, Rifat dan Togarma.

Keturunan Yawan ialah Elisa, Tarsis, orang Kitim dan orang Dodanim.

Dari mereka inilah berpencar bangsa-bangsa daerah pesisir. Itulah keturunan Yafet, masing-masing di tanahnya, dengan bahasanya sendiri, menurut kaum dan bangsa mereka."
Kejadian 10:2–5 (TB2)

10:2–5 Bagian mengenai Yafet dan keturunannya tampak jauh lebih singkat dibandingkan bagian mengenai Ham dan Sem. Berdasarkan perincian terbatas yang disajikan, keturunan Yafet dihubungkan dengan wilayah daratan dan pulau-pulau yang berbatasan di sisi utara Laut Mediterania (Laut Tengah), dan kemungkinan membentang hingga ke kawasan di sekitar Laut Hitam.


Keturunan Ham (10:6–20)

"Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan.

Keturunan Kush ialah Seba, Hawila, Sabta, Raema dan Sabtekha; anak-anak Raema ialah Syeba dan Dedan.

Kush memperanakkan Nimrod; dialah yang mula-mula sekali orang yang berkuasa di bumi; ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN, sebab itu dikatakan orang: 'Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN.' Mula-mula kerajaannya terdiri dari Babel, Erekh, dan Akad, semuanya di tanah Sinear. Dari negeri itu ia pergi ke Asyur, lalu mendirikan Niniwe, Rehobot-Ir, Kalah dan Resen di antara Niniwe dan Kalah; itulah kota besar itu.

Misraim memperanakkan orang Ludim, orang Anamim, orang Lehabim, orang Naftuhim, orang Patrusim, orang Kasluhim dan orang Kaftorim; dari mereka inilah berasal orang Filistin.

Kanaan memperanakkan Sidon, anak sulungnya, dan Het, serta orang Yebusi, orang Amori dan orang Girgasi; orang Hewi, orang Arki, orang Sini, orang Arwadi, orang Semari dan orang Hamati; kemudian berseraklah kaum-kaum orang Kanaan itu. Daerah orang Kanaan adalah dari Sidon ke arah Gerar sampai ke Gaza, ke arah Sodom, Gomora, Adma dan Zeboim sampai ke Lasa.

Itulah keturunan Ham menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka."
Kejadian 10:6–20 (TB2)

10:6–20 Bagian mengenai Ham memberikan perhatian khusus kepada keturunan Kush (ay. 8–12), Misraim (ay. 13–14), dan Kanaan (ay. 15–19). Ketika ayat 8 menyatakan bahwa Kush memperanakkan Nimrod, hal ini tidak selalu berarti bahwa Kush adalah ayah biologis langsung dari Nimrod; anak-anak lelaki Kush telah didaftarkan dalam ayat 7, dan nama Nimrod tidak tercantum di sana. Di sepanjang pasal 10, kata kerja "memperanakkan" (fathered / begot) dapat memperkenalkan generasi-generasi berikutnya. Keterangan terperinci diberikan mengenai Nimrod, yang membedakannya secara mencolok dari tokoh-tokoh lain yang disebutkan dalam pasal ini. Menurut terjemahan ESV, Nimrod adalah "mighty man" (orang perkasa) pertama di bumi. Namun demikian, kaum Nefilim yang disebutkan dalam 6:4 digambarkan dengan istilah Ibrani yang sama (gibbôr). Terjemahan NIV, "Nimrod, yang menjadi pejuang perkasa di bumi" (a mighty warrior on the earth), lebih tepat. Yang terpenting, Nimrod dikaitkan dengan pembangunan Babel/Babilonia. Istilah Ibrani bāḇel, yang umumnya diterjemahkan "Babel" dalam ayat 10 dan 11:9, diterjemahkan sebagai "Babilonia" (Babylon) di seluruh bagian Perjanjian Lama lainnya.

Penggambaran Nimrod sebagai "seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN" (ay. 9) mungkin terkesan sebagai sebuah pujian bagi sebagian pembaca modern, namun sesungguhnya makna sebaliknya-lah yang dimaksudkan. Sebagai seorang pejuang/prajurit, Nimrod mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Babel/Babilonia, yang berdiri dalam perlawanan dan permusuhan terhadap Allah. Allah merancang manusia untuk berkuasa atas bumi (1:26, 28), namun bukan sebagai penakluk bersenjata atau penguasa perang yang lalim. Ayat 11 kemungkinan paling tepat dipahami sebagai rujukan kepada seorang tokoh, yaitu Asyur (Asshur), yang mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di kota-kota Niniwe, Rehobot-Ir, Kalah, dan Resen (lihat KJV, NJB, TNK). Rujukan kepada "kota besar itu" dalam ayat 12 muncul kembali dalam kisah Yunus dan kemungkinan menunjukkan suatu wilayah metropolitan yang mencakup Niniwe dan Kalah (lihat Yun. 3:3).

Keterangan mengenai pembangunan kota Babilonia dan Niniwe masing-masing oleh Nimrod dan Asyur sangat penting dalam terang perkembangan sejarah keselamatan selanjutnya. Niniwe dikaitkan dengan hukuman Allah atas kerajaan utara (Israel) pada akhir abad ke-8 SM, sedangkan Babilonia dikaitkan dengan kejatuhan dan kehancuran kerajaan selatan (Yehuda) pada awal abad ke-6 SM. Perhatian khusus juga dicurahkan dalam ayat 15–19 kepada keturunan Kanaan, yang sebagian besar bermukim di kawasan barat Levant. Allah kelak akan memberikan tanah wilayah ini kepada keturunan Abraham (lihat Kej. 15:18–21). Wilayah ini secara tepat disebut sebagai "tanah Kanaan" dalam 12:5; 13:12; 17:8; 23:2, 19.


Keturunan Sem (10:21–31)

"Lahirlah juga anak-anak bagi Sem, bapa semua anak Eber serta abang Yafet.

Keturunan Sem ialah Elam, Asyur, Arpakhsad, Lud dan Aram.

Keturunan Aram ialah Us, Hul, Geter dan Mas.

Arpakhsad memperanakkan Selah, dan Selah memperanakkan Eber.

Bagi Eber lahir dua anak laki-laki; nama yang seorang ialah Peleg, sebab dalam zamannya bumi terbagi, dan nama adiknya ialah Yoktan.

Yoktan memperanakkan Almodad, Selef, Hazar-Mawet dan Yerah, Hadoram, Uzal dan Dikla, Obal, Abimael dan Syeba, Ofir, Hawila dan Yobab; itulah semuanya keturunan Yoktan.

Daerah kediaman mereka terbentang dari Mesa ke arah Sefar, yaitu pegunungan di sebelah timur.

Itulah keturunan Sem, menurut kaum mereka, menurut bahasa mereka, menurut tanah mereka, menurut bangsa mereka."
Kejadian 10:21–31 (TB2)

10:21–31 Meskipun ia adalah anak sulung Nuh, keturunan Sem dicatat pada urutan terakhir. Hal ini mencerminkan pola umum dalam Kitab Kejadian, di mana rincian silsilah keluarga dari mereka yang berada dalam garis keturunan utama (patriline) ditempatkan setelah saudara-saudaranya yang lain. Meskipun NIV menggambarkan Yafet sebagai kakak Sem dalam ayat 21, sebagian besar versi bahasa Inggris (seperti ESV, NJB, NRSV) dan terjemahan Indonesia (TB/TB2) dengan tepat mencatat bahwa Sem lebih tua daripada Yafet ("abang Yafet"). Nama Eber dalam ayat 21 berkaitan erat dengan istilah "orang Ibrani" dalam 14:13 dan 39:17, mengingat Abraham dan Yusuf adalah keturunan Eber. Pemberian nama Peleg, yang berarti "pembagian" atau "perpisahan", kemungkinan besar berkaitan dengan peristiwa ketika Allah mencerai-beraikan para penduduk kota Babel/Babilonia (11:8–9).


Kesimpulan Daftar Bangsa-Bangsa (10:32)

"Itulah segala kaum anak-anak Nuh menurut keturunan mereka, menurut bangsa mereka. Dan dari mereka itulah berpencar bangsa-bangsa di bumi setelah air bah itu."
Kejadian 10:32 (TB2)

10:32 Gambaran mengenai bangsa-bangsa yang terbentuk dan tersebar di seluruh bumi ini mempersiapkan pembaca bagi panggilan Abraham, yang akan menjadi saluran berkat bagi segala bangsa tersebut (lihat 12:3; 17:4–6; 18:18).

Menara dan Kota Babel (11:1–9)


Pembangunan Kota dan Menara Babel (11:1–4)

"Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.

Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.

Mereka berkata seorang kepada yang lain: 'Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.' Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.

Juga kata mereka: 'Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.'"
Kejadian 11:1–4 (TB2)

11:1–4 Pasal 10 menggambarkan bagaimana populasi bumi terpencar. Kejadian 11:1–9, yang berfungsi sebagai kilas balik (flashback), menjelaskan mengapa pemencaran tersebut terjadi. Pembangunan Babel kemungkinan berlangsung pada zaman Nimrod (10:10) dan tepat sebelum kelahiran Peleg (10:25). Ayat 1 menggarisbawahi kesatuan umat manusia pada saat itu. Meskipun terjemahan ESV membaca "dari sebelah timur" (from the east) dalam ayat 2, terjemahan NIV "ke sebelah timur" (eastward)—sebagaimana juga dalam TB2 ("ke sebelah timur")—jauh lebih memungkinkan (bdk. 13:11). Sinear terletak di Mesopotamia selatan (Irak modern). Manusia mengembangkan teknologi untuk membuat batu bata yang dibakar dan memanfaatkan ter gala-gala (aspal alam), yang memungkinkan mereka mendirikan bangunan di wilayah yang kekurangan batu alam. Cita-cita para pembangun kota berpusat pada keinginan mereka untuk hidup tanpa Allah. Mereka berhasrat untuk "mencari nama" bagi diri mereka sendiri, suatu tindakan yang mengingatkan kita pada para pejuang Nefilim (6:4) serta kaitan mereka dengan Nimrod (10:8–10). Mencari nama bagi diri sendiri berarti menempatkan diri mendahului Allah. Sebaliknya, Allah kelak berjanji untuk membuat nama Abraham masyhur (12:2). Dengan mendirikan sebuah menara yang puncaknya mencapai "ke langit", manusia berupaya melangkah melampaui bumi tempat Allah telah menempatkan mereka, demi merangsek masuk ke dalam ranah kediaman Allah.


Tindakan Allah atas Para Pembangun Kota (11:5–7)

"Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu,

dan Ia berfirman: 'Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.'"
Kejadian 11:5–7 (TB2)

11:5–7 Terlepas dari hasrat para pembangun kota untuk mendirikan menara yang puncaknya menjulang sampai ke langit, Allah harus turun untuk melihat apa yang sedang mereka kerjakan. Segala upaya mereka sesungguhnya masih teramat jauh dari sasaran yang telah mereka tetapkan bagi diri mereka sendiri. Dengan mengacaubalaukan bahasa mereka, Allah tidak hanya menghukum orang-orang tersebut, tetapi juga mencegah mereka mewujudkan ambisi-ambisi muluk lainnya.


Umat Manusia Dicerai-beraikan di Babel (11:8–9)

"Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu.

Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi."
Kejadian 11:8–9 (TB2)

11:8–9 Kota tersebut dinamai Babel, suatu permainan kata (wordplay) dengan kata kerja Ibrani bālal, yang berarti "mengacaukan" atau "mengacaubalaukan". Meskipun kita sudah terbiasa menyebutnya Menara Babel, istilah Ibrani bāḇel sesungguhnya merupakan nama lazim bagi kota Babilonia (Babylon) di seluruh bagian Perjanjian Lama lainnya. Allah sejak semula menghendaki agar manusia memenuhi bumi; namun demikian, tindakan-Nya mencerai-beraikan para pembangun kota tersebut tidak serta-merta menggenapi maksud semula-Nya, sebab mereka tidak memerintah atas bumi sebagai wakil-Nya. Hasil dari pemencaran ini telah dicatat sebelumnya dalam pasal 10. Pada awal penciptaan, Allah bermaksud agar manusia membangun sebuah kota bagi-Nya di bumi, tempat di mana Ia akan berdiam. Babel/Babilonia adalah antitesis dari kota Allah. Pada akhirnya, Allah akan mendirikan di bumi yang baru sebuah kota di mana orang-orang dari setiap suku, bangsa, kaum, dan bahasa akan menikmati hadirat-Nya (Why. 7:9; 21:3, 24–27; 22:2).


VI. Kisah Keturunan Sem (11:10–26)

Garis Keturunan Sem hingga Terah (11:10–26)


Silsilah dari Sem hingga Terah (11:10–25)

"Inilah keturunan Sem. Setelah Sem berumur seratus tahun, ia memperanakkan Arpakhsad, dua tahun setelah air bah itu.

Sem masih hidup lima ratus tahun, setelah ia memperanakkan Arpakhsad, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

Setelah Arpakhsad hidup tiga puluh lima tahun, ia memperanakkan Selah.

Arpakhsad masih hidup empat ratus tiga tahun, setelah ia memperanakkan Selah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

Setelah Selah hidup tiga puluh tahun, ia memperanakkan Eber.

Selah masih hidup empat ratus tiga tahun, setelah ia memperanakkan Eber, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

Setelah Eber hidup tiga puluh empat tahun, ia memperanakkan Peleg.

Eber masih hidup empat ratus tiga puluh tahun, setelah ia memperanakkan Peleg, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

Setelah Peleg hidup tiga puluh tahun, ia memperanakkan Rehu.

Peleg masih hidup dua ratus sembilan tahun, setelah ia memperanakkan Rehu, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

Setelah Rehu hidup tiga puluh dua tahun, ia memperanakkan Serug.

Rehu masih hidup dua ratus tujuh tahun, setelah ia memperanakkan Serug, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

Setelah Serug hidup tiga puluh tahun, ia memperanakkan Nahor.

Serug masih hidup dua ratus tahun, setelah ia memperanakkan Nahor, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan.

Setelah Nahor hidup dua puluh sembilan tahun, ia memperanakkan Terah.

Nahor masih hidup seratus sembilan belas tahun, setelah ia memperanakkan Terah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan."
Kejadian 11:10–25 (TB2)

11:10–25 Sebuah judul baru memperkenalkan silsilah linear kedua (bdk. 5:1–32) yang melanjutkan garis keturunan utama (patriline) yang bermula dari kelahiran Set bagi Hawa dalam 4:25. Narasi Kitab Kejadian terus melanjutkan pencariannya akan keturunan Hawa yang akan mengalahkan si ular (bdk. Kej. 3:15). Meskipun silsilah ini memberi kesan bahwa urutannya berpindah langsung dari ayah ke anak laki-laki, kita perlu terbuka terhadap kemungkinan bahwa daftar ini dalam beberapa kesempatan dapat berpindah dari ayah ke cucu laki-laki (melompati generasi). Hal ini dapat menjelaskan mengapa Lukas 3:35–36 memperkenalkan satu generasi tambahan di antara Arpakhsad dan Selah, dengan mencatat Kenan sebagai anak Arpakhsad dan ayah Selah.


Penutup Garis Keturunan Sem pada Terah (11:26)

"Setelah Terah hidup tujuh puluh tahun, ia memperanakkan Abram, Nahor dan Haran."
Kejadian 11:26 (TB2)

11:26 Garis keturunan utama (patriline) Sem berakhir pada Terah dan penyebutan nama ketiga anak laki-lakinya. Dalam ayat 11–25, hanya satu anak laki-laki yang disebutkan dalam setiap generasi. Kita perlu terbuka terhadap kemungkinan bahwa susunan urutan nama anak-anak Terah ditentukan berdasarkan tingkat kepentingannya dan bukan menurut urutan kelahiran (lihat penjelasan untuk 11:31–32 di bagian selanjutnya).


VII. Kisah Keturunan Terah (11:27–25:11)

Pengantar Keluarga Terah (11:27–32)


Riwayat Keluarga Terah dan Mandulnya Sarai (11:27–30)

"Inilah keturunan Terah. Terah memperanakkan Abram, Nahor dan Haran, dan Haran memperanakkan Lot.

Ketika Terah, ayahnya, masih hidup, matilah Haran di negeri kelahirannya, di Ur-Kasdim.

Abram dan Nahor kedua-duanya kawin; nama istri Abram ialah Sarai, dan nama istri Nahor ialah Milka, anak Haran ayah Milka dan Yiska.

Sarai itu mandul, tidak mempunyai anak."
Kejadian 11:27–30 (TB2)

11:27–30 Awal dari sebuah bagian baru ditandai oleh judul pada ayat 27, yang mengisyaratkan bahwa apa yang mengikuti akan berfokus pada anak-anak laki-laki Terah. Meskipun kemungkinan ia bukan anak sulung di antara saudara-saudaranya, Abram (yang kelak dinamai ulang menjadi Abraham, 17:5) disebutkan pertama kali karena ia akan mendominasi narasi ini hingga pasal 25. Untuk mempersiapkan latar belakang bagi peristiwa-peristiwa selanjutnya, narator memberikan beberapa perincian keluarga yang penting. Anak perempuan Haran (yang kemungkinan merupakan anak tertua di antara ketiga bersaudara tersebut) menikah dengan pamannya, Nahor. Dalam Kitab Kejadian terdapat berbagai contoh endogami, yaitu pernikahan dengan kerabat dekat (lihat 20:12; 24:4; 28:2; 29:13–30). Pernikahan semacam ini di kemudian hari dilarang ketika Allah menetapkan hubungan perjanjian yang khusus dengan bangsa Israel di Gunung Sinai (lihat Im. 18:9; 20:17; Ul. 27:22). Yang sangat penting, kita mengetahui bahwa Sarai (yang kelak dinamai ulang menjadi Sara) tidak dapat melahirkan anak (ay. 30). Kemandulan Sara menjadi motif yang sangat penting dalam narasi selanjutnya, yang menghadirkan rintangan bagi kelanjutan garis keturunan utama (patriline) yang telah ditelusuri hingga Terah. Ur-Kasdim terletak di Mesopotamia selatan.


Perpindahan ke Haran dan Kematian Terah (11:31–32)

"Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, istri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana.

Umur Terah ada dua ratus lima tahun; lalu ia mati di Haran."
Kejadian 11:31–32 (TB2)

11:31–32 Terah berpindah dari Ur ke Haran di Mesopotamia utara, tempat ia akhirnya meninggal. Meskipun dalam berbagai terjemahan nama tempat Haran terlihat serupa dengan nama anak Terah, yaitu Haran, di dalam teks Ibrani kedua nama tersebut sesungguhnya sangat berbeda. Dengan kematian Terah, narasi berfokus pada Abraham sebagai anggota berikutnya dalam garis keturunan utama (patriline). Menurut Kisah Para Rasul 7:4, Abraham meninggalkan Haran setelah kematian Terah. Kejadian 12:4 menyatakan bahwa Abraham berumur tujuh puluh lima tahun ketika ia meninggalkan Haran. Karena Terah meninggal pada usia 205 tahun, Abraham pastilah lahir ketika Terah berusia 132 tahun. Namun demikian, ayat 11:26 mengaitkan kelahiran Abram, Nahor, dan Haran dengan tahun ketujuh puluh umur Terah. Karena sangat tidak mungkin ketiga anak laki-laki tersebut lahir pada tahun ketujuh puluh umur Terah, ayat 11:26 mungkin sekadar mengindikasikan bahwa anak-anak Terah lahir pada suatu waktu setelah Terah mencapai usia tujuh puluh tahun.

Panggilan Abraham (12:1–9)


Panggilan Allah dan Janji Berkat bagi Abraham (12:1–3)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: 'Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;

Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.'"
Kejadian 12:1–3 (TB2)

12:1–3 Panggilan dan ajakan Allah kepada Abraham untuk meninggalkan negeri kelahirannya serta sanak saudaranya merupakan salah satu firman terpenting dalam Kitab Kejadian. Firman ini menetapkan agenda bagi seluruh peristiwa yang mengikuti dalam kehidupan Abraham. Yang teramat penting, agenda ini memiliki implikasi besar bagi maksud penebusan Allah bagi seluruh umat manusia. Melalui panggilan Abraham, nada narasi beralih dari penyorotan kutukan Allah atas umat manusia dalam pasal 3–11 menuju penekanan pada kemungkinan hadirnya berkat dalam pasal 12–50. Panggilan Allah kepada Abraham menawarkan pengharapan di tengah latar belakang peristiwa Babel/Babilonia dan terseraknya umat manusia (11:1–9). Meskipun beberapa kalangan mungkin berpendapat bahwa 12:1–3 merupakan titik balik dalam Kitab Kejadian, bagian ini sesungguhnya dibangun di atas pengharapan yang telah diperkenalkan dalam 3:15 mengenai keturunan perempuan tersebut, yang bertaut erat dengan garis keturunan utama (patriline) yang ditelusuri di sepanjang Kitab Kejadian.

Firman Allah ini paling tepat dipahami sebagai memiliki struktur perintah-janji (command-promise structure) yang memadukan dua aspek berbeda mengenai bagaimana Allah akan memberkati Abraham. Bagian pertama dari firman tersebut menekankan bahwa Abraham akan menjadi suatu bangsa yang besar, sebuah pengharapan yang dikembangkan secara lebih terperinci dalam pasal 15. Bagian kedua dari firman ini dimulai dengan sebuah perintah, "dan jadilah berkat" (ay. 2), sekalipun beberapa versi terjemahan bahasa Inggris menerjemahkan bentuk imperatif Ibrani tersebut sebagai "dan engkau akan menjadi berkat" (misalnya, NIV; bdk. TB2: "dan engkau akan menjadi berkat"). Paruh kedua dari firman Allah ini berfokus pada peran Abraham sebagai sumber berkat bagi "semua kaum di muka bumi" (ay. 3). Yang teramat penting, gagasan tentang Abraham yang menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain dikembangkan dalam pasal 17, di mana Allah menyatakan bahwa Abraham akan menjadi "bapa sejumlah besar bangsa" (17:4–5). Inti dari pasal-pasal yang didedikasikan bagi riwayat Abraham adalah gagasan bahwa ia akan menjadi bapa dari suatu "bangsa yang besar" sekaligus "bapa sejumlah besar bangsa".

Panggilan Allah kepada Abraham menyodorkan prospek-prospek yang tidak akan tergenapi seutuhnya dalam masa hidup Abraham sendiri. Berbagai pengharapan ini membentuk arah perkembangan peristiwa pada masa mendatang. Namun demikian, penggenapannya bergantung pada kesediaan Abraham meninggalkan negeri asalnya dan keluarganya. Hal ini juga menuntut agar kemandulan Sara dapat diatasi.


Ketaatan Abraham dan Perjalanan ke Tanah Kanaan (12:4–9)

"Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

Abram membawa Sarai, istrinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ.

Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.

Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: 'Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.' Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.

Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN.

Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb."
Kejadian 12:4–9 (TB2)

12:4–9 Abraham menaati perintah TUHAN dengan membawa seisi rumah tangganya ke tanah Kanaan. Penyebutan kembali keponakan Abraham, yaitu Lot (bdk. 11:27, 31), mempersiapkan kehadirannya dalam kisah-kisah selanjutnya. Penulis Surat Ibrani menggarisbawahi iman dan kepercayaan Abraham kepada Allah ketika ia bermigrasi ke suatu tempat yang belum dikenalnya (Ibr. 11:8). Ketika Abraham tiba di Kanaan, Allah berjanji untuk memberikan negeri tersebut kepada keturunannya (ay. 7), terlepas dari keberadaan orang Kanaan di negeri itu (ay. 6). Tindakan mendirikan mezbah-mezbah (ay. 7–8) menegaskan hubungan yang khusus antara Allah dengan Abraham.

Abraham dan Sarai di Mesir (12:10–20)


Kelaparan dan Tipu Muslihat Abraham di Mesir (12:10–13)

"Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.

Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, istrinya: 'Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya.

Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu istrinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup.

Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau.'"
Kejadian 12:10–13 (TB2)

12:10–13 Abraham telah melakukan perjalanan ke arah selatan melintasi tanah Kanaan, dari Sikhem ke Betel hingga ke Negeb (ay. 6–9). Bencana kelaparan kemudian menyebabkannya melakukan perjalanan lebih jauh lagi menuju Mesir. Di Mesir, karena rasa takut akan keselamatan nyawanya sendiri, Abraham membujuk Sara untuk berpura-pura bahwa ia hanyalah adiknya. Dengan berbuat demikian, Abraham memperlihatkan kurangnya kepercayaan terhadap perlindungan Allah.


Sarai Diambil ke Istana Firaun (12:14–16)

"Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik,

dan ketika para pembesar Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya.

Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta."
Kejadian 12:14–16 (TB2)

12:14–16 Sayangnya, muslihat Abraham menjadi bumerang, dan Firaun mengambil Sara untuk menjadi salah satu istrinya. Kendati Firaun memberikan berbagai macam pemberian kepada Abraham, kehilangan sang istri membahayakan penggenapan janji-janji Allah.


Tulah atas Firaun dan Pembebasan Sarai (12:17–20)

"Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, istri Abram itu.

Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: 'Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia istrimu?

Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi istriku? Sekarang, inilah istrimu, ambillah dan pergilah!'

Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan istrinya dan segala kepunyaannya."
Kejadian 12:17–20 (TB2)

12:17–20 Meskipun sebagian besar terjemahan bahasa Inggris menyampaikan gagasan bahwa Allah menimpakan tulah-tulah yang hebat kepada Firaun dan seisi istananya, teks Ibrani sesungguhnya berbicara mengenai "pukulan" (blows) atau "hantaman" (strikes). Ketika King James Version diterjemahkan pada awal abad ke-17, istilah bahasa Inggris "plague", yang berakar dari kata benda bahasa Latin plaga, berarti "pukulan" atau "hantaman". Kendati beberapa terjemahan bahasa Inggris mengasumsikan bahwa ayat 17 merujuk pada penyakit, teks Ibrani tidak memerinci bagaimana cara Allah memukul Firaun dan seisi istananya. Sejumlah sarjana mengemukakan bahwa tindakan Allah membebaskan Sara menggambarkan di muka (prefigures) pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir pada masa peristiwa keluaran (exodus). Namun demikian, tidak ada alasan untuk mengasumsikan adanya hubungan tipologis antara pemukulan Firaun oleh Allah pada peristiwa ini dengan "tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat" yang dilakukan Musa dan Harun di Mesir (lihat Kel. 7:3).

Lot Berpisah dari Abraham (13:1–18)


Perselisihan Para Gembala dan Usulan Abraham (13:1–9)

"Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan istrinya dan segala kepunyaannya, dan Lot pun bersama-sama dengan dia.

Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.

Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai,

ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN.

Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah.

Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.

Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu.

Maka berkatalah Abram kepada Lot: 'Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.

Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu daripadaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.'"
Kejadian 13:1–9 (TB2)

13:1–9 Abraham menelusuri kembali langkah-langkahnya, kembali ke dekat Betel (bdk. 12:8–10). Ia sekali lagi kembali ke wilayah yang akan Allah berikan kepada keturunannya. Akan tetapi, daerah di sekitar Betel tidak sanggup menampung kawanan domba dan lembu sapi milik Abraham dan keponakannya, Lot. Pertengkaran pun timbul di antara para gembala mereka. Guna mencegah perselisihan lebih lanjut, Abraham mengusulkan agar ia dan keponakannya berpisah.


Pilihan Lot dan Lembah Yordan (13:10–13)

"Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. — Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. —

Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.

Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom.

Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN."
Kejadian 13:10–13 (TB2)

13:10–13 Lot terpikat pada dataran Lembah Yordan yang subur dengan persediaan airnya yang berlimpah. Namun demikian, pilihannya membawanya semakin dekat ke kota Sodom. Saat kita mendengar kisahnya lagi kelak, ia sudah tinggal di dalam kota tersebut (14:12; bdk. 19:3–11). Mengantisipasi peristiwa-peristiwa selanjutnya yang dicatat dalam pasal 19, ayat 10 menyebutkan tentang pemusnahan Sodom dan Gomora. Semakin memperkuat firasat buruk sehubungan dengan pilihan Lot, kejahatan penduduk Sodom disebutkan dalam ayat 13. Sekalipun terlihat "seperti taman TUHAN" (ay. 10), perjalanan Lot ke arah timur (ay. 11) mengingatkan kembali pada pengusiran Adam dan Hawa ke arah timur dari Taman Eden, serta perjalanan Kain ke arah timur yang membawanya menjauh dari hadirat Allah.


Pembaruan Janji Allah dan Perpindahan ke Hebron (13:14–18)

"Setelah Lot berpisah daripada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: 'Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,

sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.

Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga.

Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.'

Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN."
Kejadian 13:14–18 (TB2)

13:14–18 Setelah kepergian Lot, TUHAN meneguhkan kembali kepastian kepada Abraham mengenai janji-Nya terdahulu bahwa ia akan menjadi suatu bangsa yang besar (bdk. 12:2). Firman Allah menyebutkan tentang negeri, yang membentang sejauh mata Abraham memandang ke segala arah, dan keturunan yang banyaknya seperti "debu tanah" (ay. 16; bdk. 15:5; 22:17). Negeri dan keturunan merupakan komponen-komponen esensial untuk membentuk suatu bangsa yang besar. Abraham kemudian berpindah ke Hebron, tempat di mana ia sekali lagi mendirikan sebuah mezbah bagi TUHAN (bdk. 12:7–8).

Abraham Menyelamatkan Lot (14:1–24)


Peperangan Raja-Raja dari Timur dan Penawanan Lot (14:1–12)

"Pada zaman Amrafel, raja Sinear, Ariokh, raja Elasar, Kedorlaomer, raja Elam, dan Tideal, raja Goyim, terjadilah,

bahwa raja-raja ini berperang melawan Bera, raja Sodom, Birsya, raja Gomora, Syinab, raja Adma, Syemeber, raja Zeboim dan raja negeri Bela, yakni negeri Zoar.

Raja-raja yang disebut terakhir ini semuanya bersekutu dan datang ke lembah Sidim, yakni Laut Asin.

Dua belas tahun lamanya mereka takluk kepada Kedorlaomer, tetapi dalam tahun yang ketiga belas mereka memberontak.

Dalam tahun yang keempat belas datanglah Kedorlaomer serta raja-raja yang bersama-sama dengan dia, lalu mereka mengalahkan orang Refaim di Asyterot-Karnaim, orang Zuzim di Ham, orang Emim di Syawe-Kiryataim

dan orang Hori di pegunungan mereka yang bernama Seir, sampai ke El-Paran di tepi padang gurun.

Sesudah itu baliklah mereka dan sampai ke En-Mispat, yakni Kadesh, dan mengalahkan seluruh daerah orang Amalek, dan juga orang Amori, yang diam di Hazezon-Tamar.

Lalu keluarlah raja negeri Sodom, raja negeri Gomora, raja negeri Adma, raja negeri Zeboim dan raja negeri Bela, yakni negeri Zoar, dan mengatur barisan perangnya melawan mereka di lembah Sidim,

melawan Kedorlaomer, raja Elam, Tideal, raja Goyim, Amrafel, raja Sinear, dan Ariokh, raja Elasar, empat raja lawan lima.

Di lembah Sidim itu di mana-mana ada sumur aspal. Ketika raja Sodom dan raja Gomora melarikan diri, jatuhlah mereka ke dalamnya, dan orang-orang yang masih tinggal hidup melarikan diri ke pegunungan.

Segala harta benda Sodom dan Gomora beserta segala bahan makanan dirampas musuh, lalu mereka pergi.

Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi — sebab Lot itu diam di Sodom."
Kejadian 14:1–12 (TB2)

14:1–12 Sebuah catatan yang sudah ada sebelumnya mengenai ekspedisi militer oleh raja-raja dari timur, yang terlestarikan dalam ayat 1–11, diangkat oleh penulis Kitab Kejadian untuk memberikan latar belakang bagi kisah penyelamatan Lot yang dramatis oleh Abraham. Dalam teks Ibrani, ayat 12 mengulang secara sangat mirip struktur ayat 11. Catatan dalam ayat 1–11 memuat keterangan-keterangan singkat dalam tanda kurung (parenthetical remarks) yang memperbarui nama-nama tempat (misalnya, Bela disamakan dengan Zoar), sehingga memungkinkan para pembaca di kemudian hari untuk lebih memahami geografi dari semua peristiwa yang terjadi. Setelah mengalahkan raja-raja Sodom dan Gomora, keempat raja Mesopotamia itu menjarah kota-kota mereka. Dalam proses penjarahan tersebut, mereka menawan Lot (ay. 12).


Abraham Membebaskan Lot Melalui Serangan Malam (14:13–16)

"Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu, yang tinggal dekat pohon-pohon tarbantin kepunyaan Mamre, orang Amori itu, saudara Eskol dan Aner, yakni teman-teman sekutu Abram.

Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan.

Dan pada waktu malam berbagilah mereka, ia dan hamba-hambanya itu, untuk melawan musuh; mereka mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik.

Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya."
Kejadian 14:13–16 (TB2)

14:13–16 Seorang pelarian yang selamat memberitahukan kepada Abraham perihal penawanan Lot. Sebutan "orang Ibrani" merujuk pada kelompok etnis tempat Abraham dan keturunannya berasal (mis. Kej. 39:14, 17; 41:12; Kel. 1:15–17, 19; 2:6, 11). Istilah ini bertaut dengan leluhur Abraham, yaitu Eber (10:21; 11:14–16). Setelah mengerahkan orang-orang dari rumah tangganya sendiri dan menghimpun dukungan dari para tetangga Amori-nya, Abraham merancang serangan mendadak pada waktu malam yang berhasil membebaskan Lot beserta tawanan-tawanan lainnya. Penyebutan "Dan" bersifat anakronistis, karena nama inilah yang diberikan bangsa Israel bagi kota Lais berabad-abad kemudian (Hak. 18:27–29).


Pertemuan dengan Melkisedek dan Penolakan Harta Sodom (14:17–24)

"Setelah Abram kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, maka keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah Raja.

Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi.

Lalu ia memberkati Abram, katanya: 'Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi,

dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.' Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.

Berkatalah raja Sodom itu kepada Abram: 'Berikanlah kepadaku orang-orang itu, dan ambillah untukmu harta benda itu.'

Tetapi kata Abram kepada raja negeri Sodom itu: 'Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi:

Aku tidak akan mengambil apa-apa dari kepunyaanmu itu, sepotong benang atau tali kasut pun tidak, supaya engkau jangan dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya.

Kalau aku, jangan sekali-kali! Hanya apa yang telah dimakan oleh bujang-bujang ini dan juga bagian orang-orang yang pergi bersama-sama dengan aku, yakni Aner, Eskol dan Mamre, biarlah mereka itu mengambil bagiannya masing-masing.'"
Kejadian 14:17–24 (TB2)

14:17–24 Sekembalinya dari kemenangannya mengalahkan raja-raja dari timur, Abraham bertemu dengan raja Sodom dan raja Salem. Nama Salem, yang menyerupai kata Ibrani untuk "damai sejahtera" (syalom / šālôm), kemungkinan merupakan bentuk singkat dari Yerusalem (lihat Mzm. 76:3 [ESV 76:2]). Selain kemurahan hatinya dalam menyediakan roti dan anggur, tindakan serta perkataan Melkisedek berfokus pada peranan Allah dalam kemenangan Abraham. Sangat bertolak belakang dengan hal itu, raja Sodom yang tidak disebutkan namanya hanya memikirkan harta benda materi. Abraham menegaskan pendirian Melkisedek sembari menolak usulan raja Sodom.

Sekalipun sangat sedikit yang dicatat mengenai Melkisedek, ia adalah seorang raja-imam yang namanya dapat dipahami berarti "raja kebenaran" (bdk. Ibr. 7:2). Penulis kitab Ibrani dalam Perjanjian Baru merujuk pada rujukan penting mengenai Melkisedek dalam Mazmur 110:4 guna menjelaskan bagaimana Yesus Kristus adalah Imam Besar yang unik yang tidak berasal dari garis keturunan para imam yang turun-temurun (lihat Ibr. 5:1–10; 6:20–7:22). Sayangnya, sebagian besar terjemahan bahasa Inggris dari Ibrani 5:10 menyatakan bahwa Yesus Kristus menjadi imam "menurut peraturan Melkisedek" ("order of Melchizedek"; bdk. Ibr. 6:20 ESV; TB2: "menurut peraturan Melkisedek"). Terjemahan yang lebih tepat adalah "menurut corak/rupa Melkisedek" ("after the fashion of Melchizedek"). Dalam Kejadian 14 tidak ada penyebutan bahwa Melkisedek mewarisi status keimamannya dari ayahnya, dan tidak ada indikasi bahwa Melkisedek meneruskan keimamannya kepada salah seorang putranya. Ketiadaan aturan suksesi imamat (priestly order) inilah yang bernilai penting bagi penulis Surat Ibrani.

Abraham mengakui pentingnya berkat keimaman yang diterimanya dengan memberikan kepada Melkisedek sepersepuluh dari segala sesuatu yang dirampas dari raja-raja timur tersebut (ay. 20; bdk. 1Sam. 8:15, 17). Namun demikian, Abraham menolak untuk mengambil sedikit pun barang rampasan tersebut, jangan sampai raja Sodom mengklaim bahwa dialah yang membuat Abraham kaya (ay. 23). Abraham menjaga jarak dari raja Sodom karena kefasikan kota tersebut.

Perjanjian Pembentukan Bangsa dengan Abraham (15:1–21)


Janji Upah dan Keturunan bagi Abraham (15:1–5)

"Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: 'Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.'

Abram menjawab: 'Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.'

Lagi kata Abram: 'Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.'

Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: 'Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.'

Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: 'Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.' Maka firman-Nya kepadanya: 'Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.'"
Kejadian 15:1–5 (TB2)

15:1–5 Menyusul tanggapan Abraham kepada raja Salem dan raja Sodom, Allah berfirman kepada Abraham dalam suatu penglihatan. Pernyataan Allah, "Akulah perisaimu," menghadirkan permainan kata dalam bahasa Ibrani yang bertaut dengan perkataan Melkisedek, "yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu" (14:20). Allah telah melindungi Abraham dan kini berjanji bahwa Dia akan terus melindunginya. Selain itu, karena Abraham telah menolak barang rampasan yang ditawarkan kepadanya oleh raja Sodom, Allah menjanjikan kepada Abraham suatu "upah yang sangat besar" (ay. 1). Sementara terjemahan NIV menyatakan bahwa Allah sendiri adalah "upah [Abraham] yang sangat besar" ("very great reward"), terjemahan-terjemahan bahasa Inggris lainnya menafsirkan teks Ibrani tersebut dengan menyatakan, "upahmu akan sangat besar" ("your reward shall/will be very great", CSB, ESV, NRSV; bdk. TB2). Terjemahan yang terakhir ini tampak lebih tepat dalam terang bagian selanjutnya dari pasal 15, saat Abraham melanjutkan dengan memohon seorang ahli waris (ay. 2–3). Karena tidak mempunyai anak laki-laki sendiri, ahli waris Abraham adalah salah seorang anggota laki-laki dari seisi rumahnya, yaitu Eliezer, orang Damsyik. Ada kemungkinan bahwa ia diperoleh Abraham dalam perjalanannya menuju Kanaan (lihat 17:23, 27; bdk. 14:14). Kendati Sara mandul dan tidak dapat melahirkan anak (11:30), Allah berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi sebanyak bintang di langit.


Iman Abraham Diperhitungkan sebagai Kebenaran (15:6)

"Abram pun percaya kepada TUHAN, dan TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."
Kejadian 15:6 (TB2)

15:6 Narator menyela uraiannya mengenai apa yang sedang berlangsung guna menyampaikan suatu pengamatan penting mengenai kepercayaan Abraham kepada Allah. Karena Abraham menunjukkan kepercayaan yang berkesinambungan terhadap apa yang difirmankan Allah, Allah menyatakan Abraham benar. Kebenaran (pembenaran) ini adalah berkat imannya kepada apa yang difirmankan Allah, dan bukan didasarkan pada perbuatan-perbuatan yang telah ia lakukan. Dalam Perjanjian Baru, rasul Paulus mengutip ayat ini sebanyak tiga kali, dengan menegaskan bahwa Allah memperhitungkan orang-orang bukan Yahudi sebagai orang benar bukan berdasarkan sunat melainkan berdasarkan iman (lihat Rm. 4:3, 22; Gal. 3:6). Dari perspektif yang berbeda, rasul Yakobus mengutip ayat ini untuk mendukung argumennya bahwa iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (Yak. 2:21–24). Baik bagi Paulus maupun Yakobus, iman merupakan unsur yang mutlak penting dalam proses manusia dibenarkan di hadapan Allah.


Ritual Perjanjian dan Penindasan di Masa Depan (15:7–17)

"Lagi firman TUHAN kepadanya: 'Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.'

Kata Abram: 'Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?'

Firman TUHAN kepadanya: 'Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.'

Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua.

Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya.

Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan.

Firman TUHAN kepada Abram: 'Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya.

Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak.

Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu.

Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap.'

Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu."
Kejadian 15:7–17 (TB2)

15:7–17 Setelah menegaskan kembali kepada Abraham bahwa ia akan memiliki keturunan yang sangat banyak, Allah berfirman sekali lagi kepadanya, mengingatkan kembali bahwa Dialah yang membawa Abraham keluar dari Ur-Kasdim ke tanah Kanaan agar ia memilikinya. Firman Allah tersebut mendorong Abraham untuk meminta jaminan bahwa hal itu benar-benar akan terjadi (ay. 8). Permintaan Abraham berlanjut pada sebuah ritual yang tidak lazim yang melibatkan penyembelihan berbagai binatang, yang setelahnya Abraham diminta untuk menata bangkai-bangkai binatang tersebut dalam dua baris. Ketika hari telah gelap, "perapian yang berasap beserta suluh yang berapi" (ay. 17) lewat di antara potongan-potongan daging itu. Sekalipun sejumlah sarjana berpendapat bahwa ritual ini melibatkan sumpah kutuk diri (self-curse), dengan merujuk pada peristiwa yang agak serupa dalam Yeremia 34:18–19, ada kemungkinan bahwa ritual ini melambangkan kehadiran Allah di tengah-tengah keturunan Abraham (yang dilambangkan oleh binatang-binatang sembelihan tersebut). Jika demikian halnya, ritual ini mengantisipasi peristiwa keluaran bangsa Israel dari Mesir ketika Allah datang untuk berdiam di tengah-tengah umat-Nya (bdk. Kel. 13:21–22; 14:24). Penafsiran ini sangat selaras dengan firman Allah dalam ayat 13–14. Bangsa Israel baru akan menduduki tanah Kanaan setelah Allah mengusir bangsa-bangsa yang sudah tinggal di sana karena kejahatan mereka. Pada waktu itu "kedurjanaan orang Amori" telah genap (ay. 16; bdk. Ul. 9:4–6). Kendati penekanan dalam firman Allah adalah mengenai kepemilikan tanah itu oleh keturunan Abraham, Allah menenteramkan hati Abraham bahwa ia akan pergi kepada nenek moyangnya dengan sejahtera (ay. 15). Ungkapan "dengan sejahtera" sangat menarik, sebab konsep Ibrani tentang damai sejahtera (syalom / šālôm) menyiratkan keutuhan dan kesejahteraan menyeluruh (wholeness and well-being). Allah tidak sedang berbicara sekadar tentang Abraham yang beristirahat di dalam kubur, melainkan memandang kepada kehidupan setelah kematian (afterlife) tempat ia akan menikmati šālôm.


Batas-Batas Negeri Perjanjian (15:18–21)

"Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: 'Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:

yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon,

orang Het, orang Feris, orang Refaim,

orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu.'"
Kejadian 15:18–21 (TB2)

15:18–21 Pasal ini ditutup dengan sebuah pernyataan ringkas mengenai perjanjian (covenant) yang diikat Allah dengan Abraham. Perjanjian ini menjamin kepada Abraham bahwa keturunannya akan memiliki wilayah yang membentang dari "sungai Mesir" (lembah/wadi Mesir) hingga ke sungai Efrat, suatu daerah sangat luas yang pada zaman Abraham dihuni oleh berbagai kelompok bangsa. Daftar suku bangsa serupa muncul di bagian-bagian lain dalam Perjanjian Lama (mis. Kel. 3:8, 17; 13:5; 23:23; 33:2; 34:11; Ul. 7:1; 20:17), tetapi daftar di sini adalah yang paling lengkap dan panjang. Banyak dari kelompok yang disebutkan merupakan keturunan Kanaan (lihat 10:15–19). Orang Yebus, yang selalu ditempatkan di urutan terakhir dalam daftar-daftar semacam ini, merupakan kelompok terakhir yang ditaklukkan oleh bangsa Israel. Hal ini terjadi ketika Daud merebut Yerusalem (2Sam. 5:6–7). Hal yang terpenting, perjanjian yang diikat oleh Allah ini memastikan bahwa Abraham akan menjadi suatu bangsa yang besar, yang mengingatkan kembali sekaligus menjamin janji bersyarat dari Allah dalam 12:2. Namun demikian, tidak ada penyebutan mengenai bangsa-bangsa yang diberkati melalui Abraham (12:3). Hal ini kelak menjadi fokus dari perjanjian lanjutan yang diperkenalkan dalam pasal 17.

Kelahiran Ismael (16:1–16)


Rencana Sarai dan Perkawinan Abram dengan Hagar (16:1–3)

"Adapun Sarai, istri Abram itu, tidak melahirkan anak baginya. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.

Berkatalah Sarai kepada Abram: 'Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.' Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.

Jadi Sarai, istri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, — yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan —, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi istrinya."
Kejadian 16:1–3 (TB2)

16:1–3 Ketidakmampuan Sara untuk melahirkan anak tetap menjadi penghalang bagi penggenapan janji-janji Allah (bdk. 11:30). Pada tahap ini, Sara telah berusia sekitar tujuh puluh lima tahun. Hagar mungkin menjadi hamba perempuan Sara selama masa tinggalnya di Mesir (12:10–20). Secara tersirat menyalahkan Allah atas ketidakberdayaannya memiliki anak, Sara berupaya memperbaiki keadaan tersebut dengan memberikan seorang istri kedua kepada Abraham. Menyebut Hagar sebagai seorang "budak" ("slave") agak sedikit menyesatkan; istilah "hamba perempuan" ("maidservant") mungkin lebih tepat. Tindakan Sara dapat diterima secara budaya di Timur Dekat Kuno (TDK / Ancient Near East); pengaturan serupa kelak dilakukan pula oleh Rahel dan Lea (30:1–13).


Konflik antara Sarai dan Hagar (16:4–6)

"Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu bahwa ia mengandung, ia memandang rendah nyonyanya itu.

Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: 'Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu bahwa ia mengandung, ia memandang rendah aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau.'

Kata Abram kepada Sarai: 'Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.' Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya."
Kejadian 16:4–6 (TB2)

16:4–6 Sekalipun Sara memberikan Hagar kepada Abraham untuk menjadi istri keduanya, ia tetap mengharapkan Hagar bersikap sebagai hamba perempuannya. Namun, setelah hamil, sikap Hagar terhadap Sara berubah dan ia memperlakukan nyonyanya itu dengan memandang rendah. Ketika Sara menegur Abraham mengenai perilaku Hagar, ia berpihak kepada Sara. Ketika Sara memperlakukan Hagar secara keras dengan merendahkannya, Hagar melarikan diri.


Malaikat TUHAN Menjumpai Hagar di Padang Gurun (16:7–14)

"Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur.

Katanya: 'Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?' Jawabnya: 'Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku.'

Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: 'Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya.'

Lagi kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: 'Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya.'

Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: 'Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu.

Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.'

Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: 'Engkaulah El-Roi.' Sebab katanya: 'Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?'

Sebab itu sumur tadi disebutkan orang: sumur Lahai-Roi; letaknya antara Kadesh dan Bered."
Kejadian 16:7–14 (TB2)

16:7–14 Hagar melarikan diri menuju Mesir, tanah airnya. Di luar dugaan, "Malaikat TUHAN" (ay. 7) menampakkan diri kepada Hagar. Ini merupakan pemunculan pertama "Malaikat TUHAN" di dalam Perjanjian Lama. Bagi para pembaca bahasa Inggris, ungkapan ini seolah-olah menyiratkan bahwa malaikat tersebut adalah milik TUHAN dan merupakan suatu entitas yang terpisah, namun kemungkinan besar ungkapan bahasa Ibrani tersebut bermakna "malaikat yang adalah TUHAN itu sendiri." Penafsiran ini selaras dengan apa yang dikatakan dalam ayat 13, yang menyiratkan bahwa TUHAN berfirman secara langsung kepada Hagar, serta selaras dengan bagaimana ungkapan "Malaikat TUHAN" digunakan di bagian-bagian lain dalam Perjanjian Lama (mis. Kel. 3:2–6; Hak. 6:11–24). Dengan mengambil rupa seorang malaikat, Allah dapat menampakkan diri kepada manusia tanpa memperlihatkan seluruh kemuliaan keagungan-Nya. Allah mendorong Hagar untuk kembali ke rumah tangga Abraham dan tunduk kepada Sara, sembari berjanji bahwa putranya tidak akan tunduk kepada orang lain melainkan akan menikmati kebebasan bagaikan seekor keledai liar (ay. 12). Untuk menegaskan bahwa Allah telah menanggapi kesengsaraan Hagar, putranya harus dinamai "Ismael", yang berarti "Allah mendengar". Oleh karena Allah menanggapi kebutuhannya, Hagar menyebut Dia El-Roi (Allah yang melihat aku). Oleh sebab itu, lokasi tersebut dinamai sumur Lahai-Roi (Beer Lahai Roi), yang berarti "sumur dari Yang Hidup yang melihat aku". Perhatian dan kepedulian Allah terhadap Hagar sangat patut dicatat mengingat keadaannya yang begitu rentan dan genting.


Kelahiran dan Penamaan Ismael (16:15–16)

"Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael.

Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya."
Kejadian 16:15–16 (TB2)

16:15–16 Diteguhkan oleh Allah, Hagar kembali ke rumah tangga Abraham. Ketika ia melahirkan seorang anak laki-laki, Abraham memberinya nama, yang menandakan bahwa ia memandang anak itu sebagai anaknya sendiri. Karena Allah turun tangan untuk menyuruh Hagar kembali, Abraham sangat mungkin menganggap Ismael sebagai jalan keluar bagi ketiadaan ahli waris baginya (bdk. 17:18). Namun demikian, Ismael bukanlah jawaban Allah atas ketiadaan anak pada Abraham dan Sara.

Perjanjian Berkat bagi Segala Bangsa dan Sunat (17:1–27)


Panggilan untuk Hidup Tidak Bercela di Hadapan Allah Yang Mahakuasa (17:1–2)

"Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: 'Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.

Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.'"
Kejadian 17:1–2 (TB2)

17:1–2 Narasi melompat maju sebelas tahun setelah kelahiran Ismael. Sekali lagi Allah berfirman kepada Abraham. Dialog yang berlangsung kemudian berfokus pada penetapan suatu perjanjian baru yang lebih luas yang merangkum perjanjian yang telah diikat dalam pasal 15. Dengan memperkenalkan diri-Nya sebagai "Allah Yang Mahakuasa" (El-Syaddai), TUHAN menyoroti kemahakuasaan-Nya, suatu karakteristik yang sangat tepat dalam terang janji-Nya bahwa Sara akan melahirkan seorang putra pada usia sembilan puluh tahun (lihat 17:17). Sintaksis dari teks Ibrani menyiratkan bahwa janji Allah untuk mengikat perjanjian ini bergantung pada ketaatan Abraham terhadap perintah untuk "hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela" (bdk. ESV, NIV, TB2). Perintah-perintah ini mengingatkan kembali pada deskripsi awal mengenai Nuh (6:9; bdk. 5:22). Abraham harus menyerupai Nuh dalam hubungannya dengan Allah.


Perjanjian Bapa Banyak Bangsa dan Perubahan Nama Abram (17:3–8)

"Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya:

'Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.

Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.

Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.'"
Kejadian 17:3–8 (TB2)

17:3–8 Ketika Abraham dengan kerendahan hati mengakui hadirat TUHAN, Allah menguraikan tanggung jawab-tanggung jawabnya sehubungan dengan perjanjian baru ini. Dia berjanji untuk menjadikan Abraham "bapa sejumlah besar bangsa", suatu poin yang ditekankan melalui pengulangan dalam ayat 4–5 dan melalui perubahan nama sang bapa leluhur dari Abram menjadi Abraham. Jikalau perjanjian dalam pasal 15 dibatasi pada Abraham menjadi bapa bagi satu bangsa, perjanjian baru ini memperluas kebapaan Abraham untuk merangkul bangsa-bangsa lain. Dalam konteks ini, kebapaan Abraham paling tepat dipahami secara metaforis. Sebutan "bapa" dapat digunakan bagi seseorang yang bukan merupakan orang tua laki-laki kandung secara biologis dari orang lain. Sebagai contoh, kelak di dalam kitab Kejadian, Yusuf berkomentar mengenai bagaimana Allah telah menjadikan dirinya "sebagai bapa bagi Firaun" (45:8). Dengan berfokus pada kebapaan Abraham atas banyak bangsa, perjanjian ini bertaut kembali dengan janji Allah dalam 12:3 bahwa melalui Abraham "segala kaum di muka bumi akan mendapat berkat". Berbeda dengan perjanjian dalam pasal 15, Allah menggambarkan perjanjian ini sebagai "suatu perjanjian yang kekal". Kendati penekanan di sini terletak pada kebapaan Abraham atas banyak bangsa, Allah menegaskan kembali bahwa keturunan biologis Abraham akan memiliki tanah Kanaan (ay. 8).


Sunat sebagai Tanda Perjanjian Kekal (17:9–14)

"Lagi firman Allah kepada Abraham: 'Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.

Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;

haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.

Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.

Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.

Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.'"
Kejadian 17:9–14 (TB2)

17:9–14 Bagian dari firman Allah ini berfokus pada bagian tanggung jawab Abraham di dalam perjanjian tersebut. Allah memerintahkannya bahwa setiap laki-laki harus disunat, di mana sunat menjadi tanda dari perjanjian tersebut (ay. 11). Mencerminkan dimensi internasional dari perjanjian ini, Abraham diperintahkan untuk menyunat mereka yang lahir di dalam rumah tangganya maupun mereka yang dibeli dari orang-orang asing (ay. 12–13). Dalam konteks ini, sunat tidak mengindikasikan pertalian darah (consanguinity). Oleh karena tanda perjanjian ini berkaitan dengan prokreasi (perkembangbiakan), sunat kemungkinan besar mengingatkan kembali pada garis keturunan patrilineal yang unik yang membentang di sepanjang kitab Kejadian. Keterkaitan ini diperkuat oleh pengamatan bahwa perjanjian ini hanya akan diteguhkan dengan Ishak dan bukan dengan semua laki-laki yang disunat (17:19–21). Perbedaan ini sangat penting. Manfaat-manfaat perjanjian tersebut dapat dinikmati oleh banyak orang, namun perjanjian itu sendiri hanya diikat dan diteguhkan dengan satu orang.


Perubahan Nama Sara dan Janji Seorang Anak Laki-Laki (17:15–18)

"Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: 'Tentang istrimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.

Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.'

Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: 'Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?'

Dan Abraham berkata kepada Allah: 'Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!'"
Kejadian 17:15–18 (TB2)

17:15–18 Perhatian Allah beralih kepada istri Abraham, yang namanya diubah dari Sarai menjadi Sara. Kedua bentuk namanya tersebut bermakna "putri raja" ("princess"), suatu sebutan yang sangat tepat mengingat bahwa "raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya" (ay. 16). Janji Allah bahwa Sara akan melahirkan seorang anak laki-laki menghubungkannya secara langsung dengan perjanjian yang sedang diteguhkan Allah dengan Abraham. Tidak mengherankan bila Abraham menanggapi hal ini dengan skeptisisme. Ia bergumul untuk menerima bahwa setelah sekian lama, Sara akhirnya akan melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Akibatnya, ia menanyakan perihal status Ismael, yang ia pandang sebagai anaknya sendiri.


Penetapan Perjanjian Melalui Ishak dan Berkat bagi Ismael (17:19–21)

"Tetapi Allah berfirman: 'Tidak, melainkan istrimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.

Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.'"
Kejadian 17:19–21 (TB2)

17:19–21 Allah menegaskan bahwa Sara akan melahirkan seorang putra bagi Abraham. Nama Ishak (Yitschaq), yang bermakna "ia tertawa", mengingatkan kembali pada respons ketidakpercayaan Abraham dalam ayat 17 dan memperkenalkan sebuah motif yang muncul kembali dalam 18:12 dan 21:6. Sekalipun Allah menyatakan sebanyak dua kali dalam ayat 18–21 bahwa perjanjian tersebut hanya akan diteguhkan dengan Ishak, Dia tetap menenteramkan hati Abraham bahwa Ismael akan diberkati dan dijadikan suatu bangsa yang besar. Dengan mengaitkan perjanjian tersebut kepada Ishak dan keturunannya, perjanjian ini diikatkan pada garis keturunan patrilineal utama dalam kitab Kejadian. Perjanjian ini pada akhirnya akan menemukan penggenapannya di dalam Yesus Kristus, yang melalui-Nya segala kaum di bumi akan diberkati (lihat Kis. 3:25–26; Gal. 3:8–9, 14–16).


Ketaatan Abraham Menyunat Seluruh Rumah Tangganya (17:22–27)

"Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham.

Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya.

Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya.

Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya.

Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat.

Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia."
Kejadian 17:22–27 (TB2)

17:22–27 Abraham melaksanakan petunjuk-petunjuk Allah dengan menyunat seluruh anggota laki-laki di dalam rumah tangganya, termasuk Ismael. Keanggotaan mereka di dalam seisi rumah Abraham memastikan bahwa mereka akan turut mengalami berkat Allah.

Lot Diselamatkan dari Sodom (18:1–19:29)


Keramahan Abraham Menyambut Tiga Tamu (18:1–8)

"Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abraham dekat pohon tarbantin di Mamre, sedang ia duduk di pintu kemahnya waktu hari panas terik.

Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah,

serta berkata: 'Tuanku, jika aku telah mendapat kasih tuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini.

Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini;

biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini.' Jawab mereka: 'Perbuatlah seperti yang kaukatakan itu.'

Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: 'Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!'

Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya.

Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan."
Kejadian 18:1–8 (TB2)

18:1–8 Episode ini mengandaikan peristiwa-peristiwa dalam pasal 17. Sebagaimana dalam 17:1, TUHAN menampakkan diri kepada Abraham, tetapi pada kesempatan ini narator menata latarnya, menggambarkan secara terperinci bagaimana perjumpaan itu terjadi. Keramahan Abraham yang murah hati patut diteladani. Dengan bergegas ia berusaha menyediakan hidangan yang berlimpah bagi para tamunya. Sekalipun pembaca telah mengetahui identitas TUHAN sejak ayat 1, terdapat unsur ambiguitas mengenai kapan Abraham menyadari hal tersebut. Para sarjana Yahudi yang berjasa menambahkan tanda vokal pada teks konsonantal asli kitab Kejadian menafsirkan istilah "Tuhan" ('Adonai) dalam ayat 3 merujuk kepada Allah. Terjemahan NIV "tuanku" ("my lord") menawarkan pembacaan yang berbeda terhadap teks Ibrani tersebut. Penulis surat Ibrani kemungkinan memikirkan episode ini ketika berbicara mengenai menunjukkan keramahan terhadap malaikat-malaikat tanpa menyadarinya (Ibr. 13:2).


Janji Kelahiran Seorang Putra bagi Sara dan Tawanya (18:9–16)

"Lalu kata mereka kepadanya: 'Di manakah Sara, istrimu?' Jawabnya: 'Di sana, di dalam kemah.'

Dan firman-Nya: 'Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.' Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.

Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.

Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: 'Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?'

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: 'Mengapakah Sara tertawa dan berkata: Sungguhkah aku akan melahirkan anak, sedangkan aku telah tua?

Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki.'

Lalu Sara menyangkal, katanya: 'Aku tidak tertawa,' sebab ia takut; tetapi TUHAN berfirman: 'Tidak, memang engkau tertawa!'

Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka."
Kejadian 18:9–16 (TB2)

18:9–16 Sekalipun Allah telah mengumumkan bahwa Abraham akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa, sang bapa leluhur bersikap rendah hati terhadap orang-orang asing tersebut. Ia berdiri melayani sebagai hamba sementara orang-orang itu menikmati hidangan. Tawa ketidakpercayaan Sara mengingatkan kembali pada reaksi Abraham dalam 17:17 dan mengantisipasi penamaan Ishak (21:3–6).


Keadilan Allah dan Pemilihan Abraham (18:17–21)

"Berpikirlah TUHAN: 'Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?

Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?

Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.'

Sesudah itu berfirmanlah TUHAN: 'Sesungguhnya banyak keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora dan sesungguhnya sangat berat dosanya.

Baiklah Aku turun untuk melihat, apakah benar-benar mereka telah berkelakuan seperti keluh kesah orang yang telah sampai kepada-Ku atau tidak; Aku hendak mengetahuinya.'"
Kejadian 18:17–21 (TB2)

18:17–21 Walaupun sebagian besar versi bahasa Inggris mengasumsikan bahwa ayat 17–19 menggambarkan apa yang difirmankan Allah saat hendak meninggalkan perkemahan Abraham, teks Ibrani menyiratkan bahwa perkataan ini diucapkan sebelumnya. Pernyataan Allah menjelaskan alasan mengapa Dia sekarang memberitahukan kepada Abraham mengenai dosa Sodom dan Gomora. Dalam konteks keputusan-Nya untuk menghukum penduduk kota-kota yang fasik tersebut, Allah menggarisbawahi bahwa Dia telah memilih Abraham demi mewujudkan tatanan dunia yang benar secara moral dan adil. Rumah tangga Abraham mencakup mereka yang tidak memiliki pertalian darah dengannya (bdk. 17:12–13, 23). Menyadari betapa beratnya dosa mereka, Allah meluangkan waktu untuk memastikan kejahatan orang-orang tersebut sebelum menjatuhkan hukuman. Sebagaimana disingkapkan dalam percakapan-Nya dengan Abraham, Allah tidak menghukum tanpa alasan yang kuat.


Doa Syafaat Abraham bagi Sodom (18:22–33)

"Lalu berpalinglah orang-orang itu dari situ dan berjalan ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN.

Abraham datang mendekat dan berkata: 'Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?

Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu?

Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?'

TUHAN berfirman: 'Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.'

Abraham menyahut: 'Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.

Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?' Firman-Nya: 'Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.'

Lagi Abraham melanjutkan perkataannya kepada-Nya: 'Sekiranya empat puluh didapati di sana?' Firman-Nya: 'Aku tidak akan berbuat demikian karena yang empat puluh itu.'

Katanya: 'Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata sekali lagi. Sekiranya tiga puluh didapati di sana?' Firman-Nya: 'Aku tidak akan berbuat demikian, jika Kudapati tiga puluh di sana.'

Katanya: 'Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati di sana?' Firman-Nya: 'Aku tidak akan memusnahkannya karena yang dua puluh itu.'

Katanya: 'Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?' Firman-Nya: 'Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.'

Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham; dan kembalilah Abraham ke tempat tinggalnya."
Kejadian 18:22–33 (TB2)

18:22–33 Tanpa menyebutkan namanya secara langsung, Abraham menyatakan kepeduliannya terhadap keselamatan keponakannya, Lot, yang ia pandang sebagai orang benar. Karena alasan inilah, hanya kota Sodom yang disebutkan secara spesifik dalam dialog antara Allah dan Abraham (ay. 26). Motif keadilan dan kebenaran meresapi ayat 17–33. Dalam terang ekspektasi Allah terhadap Abraham dan seisi rumahnya (ay. 17–19), patut diperhatikan bahwa Abraham menaruh perhatian agar Allah bertindak secara etis. Interaksi Abraham yang berani namun penuh hormat dengan Allah mempertegas keyakinan bahwa TUHAN tidak akan menghukum secara keliru atau semena-mena. Pemusnahan kota-kota tersebut yang telah diantisipasi ditampilkan sebagai suatu penghakiman yang adil dan dipertimbangkan secara saksama. Pada akhirnya, hanya tiga orang penduduk Sodom yang menanggapi desakan kedua malaikat untuk melarikan diri dari kota itu.


Keramahan Lot Menyambut Kedua Malaikat di Sodom (19:1–3)

"Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah,

serta berkata: 'Tuan-tuan, silakanlah singgah ke rumah hambamu ini, bermalamlah di sini dan basuhlah kakimu, maka besok pagi tuan-tuan boleh melanjutkan perjalanannya.' Jawab mereka: 'Tidak, kami akan bermalam di tanah lapang.'

Tetapi karena ia sangat mendesak mereka, singgahlah mereka dan masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia menyediakan hidangan bagi mereka, ia membakar roti yang tidak beragi, lalu mereka makan."
Kejadian 19:1–3 (TB2)

19:1–3 Melanjutkan kisah dari pasal 18, diperlukan waktu beberapa jam bagi kedua malaikat untuk menempuh perjalanan dari pohon-pohon tarbantin di Mamre menuju Sodom. Tawaran keramahan Lot kepada para tamu tersebut menyerupai tindakan Abraham dalam 18:1–8. Sekalipun tinggal di Sodom, Lot lebih menyerupai Abraham daripada penduduk kota tersebut. Hal ini menjelaskan alasan mengapa ia diselamatkan dari pemusnahan kota itu, dan mengapa rasul Petrus berbicara secara positif mengenai kebenaran Lot (2Ptr. 2:6–8).


Kebejatan Penduduk Sodom dan Perlindungan atas Para Tamu (19:4–11)

"Tetapi sebelum mereka tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu.

Mereka berseru kepada Lot: 'Di manakah orang-orang yang datang kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai mereka.'

Lalu keluarlah Lot menemui mereka, ke depan pintu, tetapi pintu ditutupnya di belakangnya,

dan ia berkata: 'Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat.

Kamu tahu, aku mempunyai dua orang anak perempuan yang belum pernah dijamah laki-laki, baiklah mereka kubawa ke luar kepadamu; perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik; hanya jangan kamu apa-apakan orang-orang ini, sebab mereka memang datang untuk berlindung di dalam rumahku.'

Tetapi mereka berkata: 'Enyahlah!' Lagi kata mereka: 'Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita! Sekarang kami akan menganiaya engkau lebih dari pada kedua orang itu!' Lalu mereka mendesak orang itu, yaitu Lot, dengan keras, dan mereka mendekat untuk mendobrak pintu.

Tetapi kedua orang itu mengulurkan tangannya, menarik Lot masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu.

Dan mereka membutakan mata orang-orang yang di depan pintu rumah itu, dari yang kecil sampai yang besar, sehingga percumalah orang-orang itu mencari-cari pintu."
Kejadian 19:4–11 (TB2)

19:4–11 Semua laki-laki Sodom, baik muda maupun tua, bersekongkol untuk melakukan hubungan seksual dengan kedua orang asing tersebut (ay. 4). Sementara Lot berupaya membujuk dan menenangkan mereka dengan menawarkan kedua anak perempuannya, orang-orang Sodom bertekad keras untuk memaksakan kehendak mereka. Sangatlah mudah untuk mengecam Lot karena menyerahkan anak-anak perempuannya kepada kerumunan orang yang agresif di sekeliling rumahnya, namun ia memandang tindakan ini sebagai pilihan yang lebih ringan di antara dua kejahatan (the lesser of two evils). Hal ini juga merupakan pilihan yang paling berat dan berharga mahal bagi dirinya secara pribadi. Dapat dimaklumi seandainya Lot lebih mengutamakan perlindungan keluarganya daripada orang-orang asing tersebut. Namun, dalam menilai Lot, kita tidak boleh mengabaikan kebejatan dan kekejian perilaku orang-orang Sodom. Mereka mencap Lot sebagai orang asing (ay. 9), mengecamnya karena menghakimi mereka, dan bahkan mengancam akan melecehkannya secara seksual.


Penyelamatan Lot dan Keluarganya serta Pelarian ke Zoar (19:12–22)

"Lalu kedua orang itu berkata kepada Lot: 'Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, bawalah mereka keluar dari tempat ini,

sebab kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya.'

Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya: 'Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab TUHAN akan memusnahkan kota ini.' Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja.

Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: 'Bangunlah, bawalah istrimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini.'

Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan istri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana.

Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: 'Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di mana pun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.'

Kata Lot kepada mereka: 'Janganlah kiranya demikian, tuanku.

Sungguhlah hambamu ini telah dikaruniai belas kasihan di hadapanmu, dan tuanku telah berbuat kemurahan besar kepadaku dengan memelihara hidupku, tetapi jika aku harus lari ke pegunungan, pastilah aku akan tersusul oleh bencana itu, sehingga matilah aku.

Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara.'

Sahut malaikat itu kepadanya: 'Baiklah, dalam hal ini pun permintaanmu akan kuterima dengan baik; yakni kota yang telah kausebut itu tidak akan kutunggangbalikkan.

Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana.' Itulah sebabnya nama kota itu disebut Zoar."
Kejadian 19:12–22 (TB2)

19:12–22 Para tamu Lot mengumumkan maksud Allah untuk memusnahkan kota itu. Mereka mendorong Lot untuk memperingatkan anggota-anggota keluarganya dan orang-orang lain yang berhubungan dengannya. Ketika Lot memberitahukan hal itu kepada kedua calon menantunya, mereka menganggap peringatannya itu sekadar lelucon. Dengan pemusnahan kota yang kian mendekat di depan mata, para malaikat memegang tangan Lot, istrinya, dan kedua anak perempuannya untuk menuntun mereka keluar dari kota itu. Bahkan di tengah penghakiman, Allah menyatakan kemurahan dengan menyelamatkan Lot dari kebinasaan yang akan segera menimpa Sodom dan Gomora. Karena takut tidak sempat mencapai tempat perlindungan yang aman di pegunungan, Lot meminta izin kepada orang-orang asing tersebut untuk mengungsi ke kota Bela, yang kemudian dinamai Zoar (lihat 14:8).


Pemusnahan Sodom dan Gomora serta Hukuman atas Istri Lot (19:23–26)

"Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar.

Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit;

dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah.

Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam."
Kejadian 19:23–26 (TB2)

19:23–26 Pada awal hari, Allah memusnahkan Sodom dan Gomora dengan menghujani kota-kota tersebut dengan belerang dan api. Pemusnahan itu terjadi secara total. Setelah mengabaikan petunjuk dari orang-orang asing itu untuk tidak menoleh ke belakang (19:17), istri Lot berubah menjadi tiang garam. Tindakannya mengindikasikan bahwa hatinya masih tertambat di Sodom. Ia begitu terikat pada masa lalunya sehingga ia gagal menyelamatkan nyawanya sendiri (bdk. Luk. 17:32).


Abraham Menyaksikan Kehancuran Sodom dan Pembebasan Lot (19:27–29)

"Ketika Abraham pagi-pagi pergi ke tempat ia berdiri di hadapan TUHAN itu,

dan memandang ke arah Sodom dan Gomora serta ke seluruh tanah Lembah Yordan, maka dilihatnyalah asap dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan.

Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu."
Kejadian 19:27–29 (TB2)

19:27–29 Narasi beralih kembali kepada Abraham, yang memandang kehancuran Sodom dan Gomora dari dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre. Doa syafaat dan intervensi Abraham sebelumnya (18:22–33) telah memastikan keselamatan dan kelepasan Lot dari Sodom.

Anak-Anak Perempuan Lot (19:30–38)


Persekongkolan Anak-Anak Perempuan Lot di Pegunungan (19:30–35)

"Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya.

Kata kakaknya kepada adiknya: 'Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi.

Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.'

Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.

Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: 'Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.'

Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun."
Kejadian 19:30–35 (TB2)

19:30–35 Setelah melarikan diri dari Zoar, Lot dan kedua anak perempuannya berpindah ke suatu tempat yang terpencil di pegunungan. Mengambil langkah yang tidak lazim demi meneruskan garis keturunan keluarga, anak-anak perempuan Lot tidur bersama ayah mereka setelah membuatnya mabuk dengan anggur. Lot begitu mabuk sehingga ia sama sekali tidak mengingat atau menyadari bahwa ia telah bersetubuh dengan mereka.


Kelahiran Moab dan Ben-Ami serta Asal-Usul Dua Bangsa (19:36–38)

"Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka.

Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; dialah bapa orang Moab yang sekarang.

Yang lebih muda pun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapa bani Amon yang sekarang."
Kejadian 19:36–38 (TB2)

19:36–38 Nama kedua anak laki-laki tersebut mencerminkan perilaku sumbang (inses) yang melatarbelakangi kelahiran mereka. Nama Moab mirip dengan ungkapan bahasa Ibrani yang mendasari perkataan "dari ayah kita" (ay. 32, 34). Ben-Ami berarti "anak bangsaku." Moab dan Ben-Ami berturut-turut menjadi leluhur eponim dari bangsa Moab dan bangsa Amon, dua bangsa yang kerap digambarkan secara negatif di dalam Perjanjian Lama (mis. Bil. 23–25; Ul. 23:3–5; 2Raj. 3). Salah satu pengecualian penting adalah perempuan Moab bernama Rut, yang menjadi istri Boas dan melahirkan Obed, kakek Raja Daud (lihat Rut 1:3–4; 4:13–22). Melalui perincian mengenai keturunannya ini, Lot menghilang dari narasi kitab Kejadian, dan fokus perhatian beralih kepada kelahiran Ishak, putra sekaligus ahli waris Abraham.

Abraham dan Sara di Gerar (20:1–18)


Abraham Berpindah ke Gerar dan Mengaku Sara sebagai Saudaranya (20:1–2)

"Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing.

Oleh karena Abraham telah mengatakan tentang Sara, istrinya: 'Dia saudaraku,' maka Abimelekh, raja Gerar, menyuruh mengambil Sara."
Kejadian 20:1–2 (TB2)

20:1–2 Abraham berpindah ke Gerar di bagian selatan Palestina. Tidak ada alasan yang diberikan mengenai perpindahan ini, tetapi perpindahan tersebut memiliki implikasi penting bagi peristiwa-peristiwa yang diceritakan di dalam pasal ini. Abraham dan Sara belum dikenal oleh penduduk Gerar. Akibatnya, Abimelekh, raja Gerar, tidak menyadari kenyataan bahwa Sara adalah istri Abraham. Catatan singkat pada ayat 2 bahwa Abraham berpura-pura bahwa Sara adalah saudaranya mengandaikan bahwa pembaca telah mengetahui peristiwa sebelumnya, yang terjadi ketika Abraham dan Sara melakukan perjalanan ke Mesir (12:10–13). Meskipun tipu muslihat ini dirancang untuk melindungi Abraham, siasat tersebut sekali lagi gagal, dan Sara diambil oleh Abimelekh.


Allah Memperingatkan Abimelekh dalam Mimpi (20:3–7)

"Tetapi pada waktu malam Allah datang kepada Abimelekh dalam suatu mimpi serta berfirman kepadanya: 'Engkau harus mati oleh karena perempuan yang telah kauambil itu; sebab ia sudah bersuami.'

Adapun Abimelekh belum menghampiri Sara. Berkatalah ia: 'Tuhan! Apakah Engkau membunuh bangsa yang tidak bersalah?

Bukankah orang itu sendiri mengatakan kepadaku: Dia saudaraku? Dan perempuan itu sendiri telah mengatakan: Ia saudaraku. Jadi hal ini kulakukan dengan hati yang tulus dan dengan tangan yang suci.'

Lalu berfirmanlah Allah kepadanya dalam mimpi: 'Aku tahu juga, bahwa engkau telah melakukan hal itu dengan hati yang tulus, maka Aku pun telah mencegah engkau untuk berbuat dosa terhadap Aku; sebab itu Aku tidak membiarkan engkau menjamah dia.

Jadi sekarang, kembalikanlah istri orang itu, sebab dia seorang nabi; ia akan berdoa untuk engkau, maka engkau tetap hidup; tetapi jika engkau tidak mengembalikan dia, ketahuilah, engkau pasti mati, engkau dan semua orang yang bersama-sama dengan engkau.'"
Kejadian 20:3–7 (TB2)

20:3–7 Tepat pada malam penculikan Sara tersebut, Allah menampakkan diri kepada Abimelekh. Intervensi yang cepat ini sangat penting, karena narasi ini berulang kali menegaskan bahwa Abimelekh tidak menyentuh Sara. Hal ini menepis kemungkinan bahwa dialah ayah dari putra yang akan segera dilahirkan oleh Sara (21:1–2). Percakapan singkat antara Allah dan Abimelekh berpusat pada masalah ketidakbersalahan sang raja. Dengan menekankan bahwa Abraham dan Sara bersekongkol dalam tipu muslihat tersebut, Abimelekh memohon kepada Allah untuk bertindak adil. Ia menggambarkan bangsanya sebagai bangsa yang "benar" (ay. 4; TB2 menerjemahkan "tidak bersalah", NIV: "innocent"), sebuah komentar yang mengingatkan kembali pada doa syafaat Abraham mengenai orang-orang benar di Sodom. Kendati Allah mengakui bahwa Abimelekh tidak melakukan perzinaan, Dia tetap menuntut sang raja untuk mengembalikan Sara kepada suaminya. Pernyataan singkat Allah bahwa Abraham adalah seorang "nabi" bertaut dengan motif doa. Sebagai seorang nabi yang berdoa syafaat bagi orang lain, Abraham adalah sumber berkat (bdk. 12:3; 18:18).


Teguran Abimelekh dan Pembelaan Diri Abraham (20:8–13)

"Keesokan harinya pagi-pagi Abimelekh memanggil semua hambanya dan memberitahukan seluruh peristiwa itu kepada mereka, lalu sangat takutlah orang-orang itu.

Kemudian Abimelekh memanggil Abraham dan berkata kepadanya: 'Perbuatan apakah yang kaulakukan ini terhadap kami, dan kesalahan apakah yang kulakukan terhadap engkau, sehingga engkau mendatangkan dosa besar atas diriku dan kerajaanku? Engkau telah berbuat hal-hal yang tidak patut kepadaku.'

Lagi kata Abimelekh kepada Abraham: 'Apakah maksudmu, maka engkau melakukan hal ini?'

Lalu Abraham berkata: 'Aku berpikir: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena istriku.

Lagipula ia benar-benar saudaraku, anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, tetapi kemudian ia menjadi istriku.

Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada istriku: Tunjukkanlah kasihmu kepadaku, yakni: katakanlah tentang aku di setiap tempat di mana kita tiba: Ia saudaraku.'"
Kejadian 20:8–13 (TB2)

20:8–13 Abimelekh dengan tepat menegur Abraham karena berpotensi menyebabkan sang raja berbuat dosa perzinaan. Sebagai tanggapannya, Abraham berusaha membenarkan tindakannya. Pertama, ia menyatakan bahwa orang-orang di Gerar tidak memiliki rasa takut akan Allah, sebuah klaim yang tampak bertolak belakang dengan pengamatan narator bahwa para pegawai Abimelekh "sangat takut" (ay. 8). Kedua, Abraham berdalih bahwa ia mengatakan yang sebenarnya ketika ia berkata bahwa Sara adalah saudara perempuannya. Namun, jikalau hal ini benar, itu hanyalah sebagian dari kebenaran, sebab sang bapa leluhur menyembunyikan fakta bahwa Sara juga adalah istrinya. Ketiga, Abraham mengklaim bahwa ini telah menjadi kebiasaannya yang lazim sejak ia meninggalkan keluarga ayahnya. Namun demikian, penjelasan ini sama sekali tidak memberikan pembenaran untuk melakukan sesuatu yang memperdaya. Tindakan Abraham menyiratkan dengan kuat bahwa ia gagal memercayai perlindungan Allah.


Pemulihan Sara, Kemurahan Hati Abimelekh, dan Doa Pemulihan Abraham (20:14–18)

"Kemudian Abimelekh mengambil kambing domba dan lembu sapi, hamba laki-laki dan perempuan, lalu memberikan semuanya itu kepada Abraham; Sara, istri Abraham, juga dikembalikannya kepadanya.

Dan Abimelekh berkata: 'Negeriku ini terbuka untuk engkau; menetaplah, di mana engkau suka.'

Lalu katanya kepada Sara: 'Telah kuberikan kepada saudaramu seribu syikal perak, itulah bukti kesucianmu bagi semua orang yang bersama-sama dengan engkau. Maka dalam segala hal engkau dibenarkan.'

Lalu Abraham berdoa kepada Allah, dan Allah menyembuhkan Abimelekh dan istrinya dan budak-budaknya perempuan, sehingga mereka melahirkan anak.

Sebab tadinya TUHAN telah menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh karena Sara, istri Abraham itu."
Kejadian 20:14–18 (TB2)

20:14–18 Abimelekh tampil sebagai pribadi yang lebih benar daripada Abraham. Kendati demikian, sang raja telah mengambil Sara untuk menjadi salah satu gundiknya. Sebagai bentuk restitusi (ganti rugi pemulihan), Abimelekh bukan hanya mengembalikan Sara, melainkan juga memberikan berbagai macam pemberian kepada Abraham, termasuk 1.000 syikal perak, suatu jumlah pembayaran yang luar biasa besar. Terlebih lagi, ia mengundang Abraham untuk menetap di tanah Gerar. Dalam terang kemurahan hati sang raja tersebut, Abraham berdoa baginya. Setelah itu, Allah menyembuhkan Abimelekh serta kaum perempuan dalam seisi rumah tangganya sehingga mereka dapat melahirkan anak kembali. Pemulihan kesuburan oleh Allah bagi kaum perempuan di dalam rumah tangga Abimelekh ini menjadi jembatan penghubung menuju episode berikutnya di mana TUHAN memampukan Sara untuk mengandung.

Kelahiran Ishak dan Penegasannya sebagai Ahli Waris (21:1–21)


Kelahiran Ishak Sesuai Janji Allah (21:1–2)

"TUHAN memperhatikan Sara, seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya.

Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya."
Kejadian 21:1–2 (TB2)

21:1–2 Urutan kata dalam teks bahasa Ibrani memberikan keutamaan kepada Allah, yang menegaskan bahwa Dialah yang memampukan Sara melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham. Dalam rentang dua ayat saja, terdapat tiga rujukan mengenai Allah yang menggenapi apa yang telah dijanjikan-Nya (lihat 17:16–21; 18:10–14). Sara berusia sekitar sembilan puluh tahun ketika Ishak lahir, sehingga kelahiran ini sangatlah luar biasa. Allah setia pada firman-Nya, setelah menjanjikan seorang anak laki-laki dan ahli waris kepada Abraham. Dengan memampukan Sara untuk mengandung, Allah memegang peranan penting dalam mempertahankan garis keturunan bapa leluhur (patriline) yang unik, yang ditelusuri di sepanjang kitab Kejadian.


Penamaan, Penyunatan Ishak, dan Sukacita Sara (21:3–7)

"Abraham menamai anaknya yang baru lahir itu Ishak, yang dilahirkan Sara baginya.

Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya.

Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.

Berkatalah Sara: 'Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku.'

Lagi katanya: 'Siapakah tadinya yang dapat mengatakan kepada Abraham: Sara menyusui anak? Namun aku telah melahirkan seorang anak laki-laki baginya pada masa tuanya.'"
Kejadian 21:3–7 (TB2)

21:3–7 Pilihan kata dalam teks bahasa Ibrani pada ayat 3 menekankan bahwa anak laki-laki ini adalah milik Abraham. Terjemahan yang lebih harfiah berbunyi: "Abraham menamai anaknya, yang dilahirkan baginya, yang dilahirkan Sara baginya, Ishak." Penekanan ini berlanjut hingga ke ayat 4–5 melalui pengulangan frasa "anaknya itu" / "anaknya" setelah nama Ishak. Allah sebelumnya telah berfirman kepada Abraham bahwa anaknya harus dinamai Ishak (17:19). Dengan alasan yang sangat beralasan, Sara dipenuhi dengan sukacita dan tawa atas kelahiran Ishak, yang namanya berarti "ia tertawa" (lihat 17:17; 18:12).


Perjamuan Penyapihan, Konflik Sara dengan Hagar dan Ismael, serta Penegasan Allah (21:8–13)

"Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.

Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.

Berkatalah Sara kepada Abraham: 'Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.'

Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu.

Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: 'Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.

Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu.'"
Kejadian 21:8–13 (TB2)

21:8–13 Ishak kemungkinan berusia sekitar tiga tahun ketika perjamuan penyapihan diadakan. Pada tahap ini, Ismael berusia sekitar enam belas tahun. Kata kerja yang digunakan untuk menggambarkan ejekan Ismael terhadap adik tirinya mengandung permainan kata lebih lanjut dengan nama Ishak. Meskipun narasi ini tidak merinci secara persis bentuk tindakan Ismael, perilakunya sangat menyinggung perasaan Sara. Setelah menegaskan bahwa Ishak adalah anak Abraham pada ayat 3–7, sang narator menyoroti status Ismael pada ayat 8–21 dengan berulang kali menyebutnya sebagai anak Hagar, yang pada gilirannya digambarkan sebagai seorang perempuan Mesir (ay. 9) dan seorang "hamba perempuan" / "budak" (atau, lebih tepatnya, "gundik"; ay. 10, 12, 13). Nama Ismael bahkan sama sekali tidak muncul di dalam pasal ini. Detail-detail halus ini memperlihatkan status Hagar dan Ismael yang lebih rendah di dalam rumah tangga Abraham. Sara menekankan status Hagar sebagai gundik, dan memberi tahu Abraham bahwa Ismael tidak boleh ikut menerima warisan bersama anaknya (ay. 10). Sikap Sara terhadap Ismael mengingatkan kembali pada peristiwa-peristiwa seputar kelahirannya (16:1–16). Abraham merasa sangat gundah oleh ketegangan di dalam rumah tangganya ini, karena ia menganggap Ismael sebagai anaknya (ay. 11). Di tengah situasi yang penuh ketegangan ini Allah berfirman, dengan menegaskan bahwa garis keturunan bapa leluhur (patriline) Abraham akan diteruskan melalui Ishak, sebagaimana yang telah dinyatakan-Nya sebelumnya (17:15–21). Kendati demikian, Dia menenteramkan hati Abraham bahwa keturunan dari hambanya itu juga akan dijadikan suatu bangsa (bdk. 16:10–12; 17:20). Meskipun Allah mengecualikan Ismael dari garis keturunan yang kelak bermuara pada seorang raja yang unik, Dia tetap berjanji bahwa keturunan Ismael akan membentuk suatu bangsa yang besar dan terpandang.


Pengusiran Hagar dan Ismael serta Pemeliharaan Allah di Padang Gurun (21:14–19)

"Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba.

Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak,

dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: 'Tidak tahan aku melihat anak itu mati.' Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring.

Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: 'Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.

Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.'

Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum."
Kejadian 21:14–19 (TB2)

21:14–19 Setelah dibekali dengan makanan dan air, Hagar dan Ismael meninggalkan perkemahan Abraham, kemungkinan besar melakukan perjalanan menuju Mesir. Perjalanan mereka dimulai di wilayah yang gersang di mana sumur-sumur air sangat penting untuk memperoleh air (bdk. 21:30; 26:18). Sebelum mereka menemukan sumur berikutnya, air minum mereka telah habis. Karena kelelahan dan kehausan, Hagar membaringkan Ismael di bawah semak-semak untuk berteduh dari terik matahari. Sebagian sarjana berpendapat bahwa tindakan ini mengindikasikan bahwa Ismael masih anak yang sangat kecil. Namun, tidak ada keharusan untuk berasumsi demikian. Seorang remaja bisa saja mengalami kelelahan yang luar biasa setelah berjalan bermil-mil di bawah terik matahari. Hagar duduk agak jauh dari Ismael, mungkin berharap agar anaknya tidak melihat kepedihannya. Perkataannya, "Tidak tahan aku melihat anak itu mati" (ay. 16), dapat juga diterjemahkan sebagai sebuah doa: "Jangan biarkan aku melihat kematian anak itu." Kemungkinan ia mengingat kembali bagaimana sebelumnya Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di padang gurun (16:7) dan berharap bahwa Allah akan turun tangan untuk kedua kalinya. Allah berfirman kepada Hagar, meneguhkan bahwa putranya akan menjadi suatu bangsa yang besar (ay. 18). Ungkapan "Malaikat Allah" sangat mungkin merujuk kepada Allah itu sendiri alih-alih sekadar seorang utusan (lihat penjelasan mengenai "Malaikat TUHAN" dalam 16:7–14). Dua rujukan mengenai Allah yang mendengar tangisan anak itu pada ayat 17 mengingatkan kembali pada nama Ismael, yang berarti "Allah mendengar". Setelah memberikan peneguhan yang menenteramkan hati Hagar, Allah membuka matanya sehingga ia dapat melihat sebuah sumur, yang darinya ia dapat menimba air untuk putranya.


Penyertaan Allah atas Ismael di Padang Gurun Paran (21:20–21)

"Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.

Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang istri baginya dari tanah Mesir."
Kejadian 21:20–21 (TB2)

21:20–21 Meskipun telah memerintahkan Abraham untuk menyuruh Hagar dan Ismael pergi, Allah tidak meninggalkan mereka. Yang terpenting, sang narator menyatakan bahwa Allah menyertai anak itu. Ismael menetap di wilayah sebelah selatan Gerar dan menikahi seorang perempuan Mesir. Rincian lebih lanjut mengenai anak-anak lelaki Ismael dicatat dalam 25:12–18.

Perjanjian Abraham dan Abimelekh di Bersyeba (21:22–34)


Permohonan Abimelekh untuk Mengikat Perjanjian Damai (21:22–24)

"Pada waktu itu Abimelekh, beserta Pikhol, panglima tentaranya, berkata kepada Abraham: 'Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan.

Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah harus engkau berlaku kepadaku dan kepada negeri yang kautinggali sebagai orang asing.'

Lalu kata Abraham: 'Aku bersumpah!'"
Kejadian 21:22–24 (TB2)

21:22–24 Peristiwa ini dibangun di atas perjumpaan Abraham sebelumnya dengan Abimelekh, raja Gerar (20:1–18). Setelah baru saja menyatakan bahwa Allah menyertai Ismael (21:20), sang narator memperkenalkan sebuah kisah baru yang berfokus pada kehadiran Allah yang menyertai Abraham. Abimelekh berkata kepada Abraham, "Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan" (ay. 22). Sang raja Gerar dan panglima tentaranya bersepakat dalam permohonan yang mereka ajukan kepada Abraham. Mereka memintanya untuk menunjukkan ḥesed, yang diterjemahkan oleh NIV sebagai "kebaikan/kesetiaan" (kindness) (ay. 23; TB2: "persahabatan"). Istilah Ibrani ini menyiratkan kasih yang setia (faithful love / kasih setia perjanjian). Kata benda yang sama diterjemahkan sebagai "kasih setia" (love) oleh NIV dalam Keluaran 20:6 sehubungan dengan kasih Allah kepada mereka yang mengasihi-Nya dan berpegang pada perintah-perintah-Nya. Abraham dengan rela menyetujui usulan Abimelekh tersebut.


Persoalan Sumur dan Pemeteraian Perjanjian di Bersyeba (21:25–31)

"Tetapi Abraham menyesali Abimelekh tentang sebuah sumur yang telah dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh.

Jawab Abimelekh: 'Aku tidak tahu, siapa yang melakukan hal itu; lagi tidak kauberitahukan kepadaku, dan sampai hari ini belum pula kudengar.'

Lalu Abraham mengambil domba dan lembu dan memberikan semuanya itu kepada Abimelekh, kemudian kedua orang itu mengadakan perjanjian.

Tetapi Abraham memisahkan tujuh anak domba betina dari domba-domba itu.

Lalu kata Abimelekh kepada Abraham: 'Untuk apakah ketujuh anak domba yang kaupisahkan ini?'

Jawabnya: 'Ketujuh anak domba ini harus kauterima dari tanganku untuk menjadi tanda bukti bagiku, bahwa akulah yang menggali sumur ini.'

Sebab itu orang menyebutkan tempat itu Bersyeba, karena kedua orang itu telah bersumpah di sana."
Kejadian 21:25–31 (TB2)

21:25–31 Sebelum mengikatkan diri secara resmi terhadap permohonan Abimelekh, Abraham mengangkat persoalan mengenai kepemilikan sebuah sumur yang telah digalinya (ay. 25). Kedua belah pihak kemudian mengikat sebuah perjanjian persahabatan yang melibatkan pemberian persembahan domba dan lembu kepada Abimelekh (ay. 27). Setelah itu, Abraham memberikan persembahan tambahan berupa tujuh ekor anak domba betina kepada Abimelekh (ay. 28–29). Dengan menerima pemberian ini, Abimelekh secara resmi mengakui hak kepemilikan Abraham atas sumur tersebut. Nama tempat itu, Bersyeba, dapat dipahami memiliki arti "sumur sumpah" atau "sumur tujuh" (karena kata Ibrani untuk "tujuh" [sheva] dan "sumpah/bersumpah" [shava / shevua] memiliki kemiripan bunyi dan akar kata).


Penanaman Pohon Tamariska dan Ibadah kepada Allah yang Kekal (21:32–34)

"Setelah mereka mengadakan perjanjian di Bersyeba, pulanglah Abimelekh beserta Pikhol, panglima tentaranya, ke negeri orang Filistin.

Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal.

Dan masih lama Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri orang Filistin."
Kejadian 21:32–34 (TB2)

21:32–34 Bersyeba terletak cukup jauh dari tempat kediaman Abimelekh. Hal ini menjelaskan ketidaktahuan sang raja mengenai perselisihan kepemilikan sumur tersebut (21:26). Dengan menanam sebatang pohon (tamariska), Abraham menunjukkan komitmennya untuk menetap di lokasi tersebut selama suatu kurun waktu tertentu. Nuansa menetap atau permanensi ini juga tecermin dalam sebutan "Allah yang kekal" (El Olam) yang diseru oleh Abraham bagi TUHAN. Sebutan "orang Filistin" di sini kemungkinan besar merujuk kepada kelompok bangsa yang berbeda dari orang Filistin yang baru bermigrasi dan menetap di wilayah selatan Palestina sekitar tahun 1200 SM.

Ujian atas Abraham / Pengorbanan Ishak (22:1–19)


Perintah Allah untuk Mempersembahkan Ishak (22:1–2)

"Setelah semuanya itu Allah menguji Abraham. Ia berfirman kepadanya: 'Abraham,' lalu sahutnya: 'Ya, Tuhan.'

Firman-Nya: 'Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.'"
Kejadian 22:1–2 (TB2)

22:1–2 Pasal ini, yang mungkin merupakan salah satu bagian paling terkenal dalam kitab Kejadian, dibangun di atas kisah-kisah yang mendahuluinya. Setelah mengusir Ismael, kini Ishak menjadi satu-satunya ahli waris Abraham. Dialah sosok yang kepadanya janji-janji ilahi akan diteruskan setelah kematian Abraham. Mengingat pengharapan ini, perintah Allah agar Abraham mengorbankan anaknya sangatlah tidak lazim. Peristiwa ini memunculkan banyak pertanyaan yang tetap tidak terjawab. Yang terpenting, sejak awal sang narator menegaskan bahwa Allah sedang menguji Abraham. Tujuan dari ujian ini berkaitan erat dengan sumpah ilahi yang dinyatakan pada ayat 16–18. Sejauh mana kesediaan Abraham untuk memercayai dan menaati Allah diuji secara luar biasa berat. Segala sesuatu yang telah Allah kerjakan dalam kehidupan Abraham terancam oleh permintaan untuk membunuh anak tunggalnya, yang sangat dikasihinya ini. Potensi pengorbanan Ishak menempatkan janji-janji Allah sebelumnya kepada Abraham dalam bahaya pembatalan (bdk. 17:19; 21:12). Nama Moria hanya muncul di satu tempat lain dalam Perjanjian Lama, yaitu dalam 2 Tawarikh 3:1, yang menyatakan bahwa Salomo mendirikan Bait Suci TUHAN di Gunung Moria. Meskipun terdapat keterhubungan umum antara kedua lokasi tersebut, tidak perlu diasumsikan bahwa peristiwa pengorbanan yang melibatkan Ishak berlangsung tepat di lokasi berdirinya Bait Suci yang dibangun oleh Salomo.


Perjalanan Menuju Tanah Moria (22:3–8)

"Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang hambanya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.

Kata Abraham kepada kedua hambanya itu: 'Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan beribadah, sesudah itu kami kembali kepadamu.'

Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: 'Bapa.' Sahut Abraham: 'Ya, anakku.' Bertanyalah ia: 'Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?'

Sahut Abraham: 'Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.' Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama."
Kejadian 22:3–8 (TB2)

22:3–8 Abraham merespons permintaan Allah tanpa menunda-nunda. Sambil membawa kayu untuk korban bakaran, Abraham berangkat menuju wilayah Moria. Dua orang hamba muda, yang mungkin sebaya dengan Ishak, menyertai Abraham. Meskipun terjemahan bahasa Inggris (seperti ESV) menyebut Ishak sebagai "anak laki-laki" (boy; ay. 5; TB2: "anak ini"), kata benda Ibrani yang diterjemahkan sebagai boy (na‘ar) tersebut juga digunakan untuk merujuk kepada kedua hamba yang bepergian bersama Abraham (ay. 3, 5, 19; TB2: "bujang" / "hamba"). Kita tidak boleh mengasumsikan bahwa Ishak hanyalah seorang anak kecil belaka. Ketika tiba di dekat gunung yang telah dipilih Allah, Abraham memerintahkan kedua hamba muda itu untuk tinggal bersama keledai sementara ia dan Ishak mendaki gunung tersebut. Abraham berkata kepada mereka, "kami akan beribadah, sesudah itu kami kembali kepadamu" (ay. 5; NIV: "We will worship and then we will come back to you"). Dalam terang perintah Allah sebelumnya, perkataan Abraham ini sangatlah patut diperhatikan. Abraham mengantisipasi bahwa Ishak akan kembali bersama-sama dengannya. Berpijak pada keyakinan iman ini, penulis surat Ibrani mencatat, "Karena ia berpikir, bahwa Allah sanggup membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati; dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali" (Ibr. 11:19). Senada dengan itu, ketika Ishak bertanya kepada ayahnya, "di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" Abraham menegaskan bahwa Allah sendirilah yang akan menyediakan korban persembahan tersebut. Peristiwa-peristiwa selanjutnya membenarkan kebenaran dari semua yang diucapkan oleh Abraham. Ayat 6 dan 8 melukiskan gambaran yang sangat mengharukan tentang Abraham dan Ishak yang berjalan bersama-sama.


Penyerahan Ishak dan Penyediaan Korban oleh TUHAN (22:9–15)

"Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: 'Abraham, Abraham.' Sahutnya: 'Ya, Tuhan.'

Lalu Ia berfirman: 'Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.'

Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.

Dan Abraham menamai tempat itu: 'TUHAN menyediakan'; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: 'Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.'

Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham,"
Kejadian 22:9–15 (TB2)

22:9–15 Dengan perincian yang sangat minim, sang narator menggambarkan bagaimana Abraham bersiap mengorbankan anaknya, Ishak. Kita hanya dapat berspekulasi mengenai apa yang dipercakapkan antara bapa dan anak tersebut. Bagi sang narator, detail-detail ini tidak relevan. Namun, yang terpenting adalah ketika Abraham hendak menyembelih anaknya, TUHAN turun tangan mengintervensi. Sebagaimana di bagian lain dalam kitab Kejadian, sebutan "Malaikat TUHAN" digunakan untuk merujuk kepada Allah sendiri (lihat tafsiran atas 16:7–14). Firman Allah menegaskan bahwa Abraham telah lulus dari ujian tersebut. Kendati demikian, kisah ini tidak berakhir di sini. Abraham melihat seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Ia mengambilnya dan mempersembahkannya sebagai korban bakaran. Penyediaan ilahi atas hewan kurban ini sangatlah signifikan. Hanya setelah korban tersebut dipersembahkan, Allah berfirman untuk kedua kalinya dari langit.


Sumpah Perjanjian Allah dan Berkat bagi Semua Bangsa (22:16–19)

"kata-Nya: 'Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri—demikianlah firman TUHAN—: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku,

maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.

Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku.'

Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua hambanya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba."
Kejadian 22:16–19 (TB2)

22:16–19 Firman Allah ini sangatlah penting. Bagian ini membawa bagian utama dari narasi Abraham menuju puncak kesimpulannya yang klimaktik. Allah meneguhkan janji-janji-Nya terdahulu kepada Abraham melalui sebuah sumpah khidmat, dimulai dari apa yang telah difirmankan-Nya dalam 12:1–3. Atas kesediaannya untuk menaati Allah dalam situasi yang paling menantang, Allah menjamin kepada Abraham bahwa ia akan memiliki keturunan yang sangat banyak (bdk. 13:16; 15:5) dan bahwa melalui salah satu keturunannya ini "semua bangsa di bumi akan mendapat berkat" (ay. 18). Walaupun terjemahan NIV menyatakan, "Your descendants will take possession of the cities of their enemies" (jamak), sintaksis teks bahasa Ibrani menunjuk kepada satu keturunan tunggal (bdk. ESV, JPS, KJV; TB2: "keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya"). Pengharapan ini selaras dengan gagasan bahwa satu benih/keturunan tunggal Hawa akan mengalahkan sang ular (Kej. 3:15). Menggemakan apa yang dinyatakan dalam ayat 18, Mazmur 72:17 mengaitkan berkat bagi bangsa-bangsa dengan seorang keturunan raja dari garis Daud, yang akan memerintah selama-lamanya atas seluruh bumi. Janji-janji yang dijamin oleh sumpah ilahi dalam ayat 16–18 ini kelak dihubungkan kepada Ishak (lihat 26:3–5). Dalam Perjanjian Baru, rasul Petrus dan Paulus berpijak pada bagian akhir dari sumpah ilahi ini ketika mereka menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Keturunan Abraham yang membawa berkat bagi bangsa-bangsa (Kis. 3:25–26; Gal. 3:16). Di tempat lain, rasul Yakobus menggunakan peristiwa-peristiwa dalam Kejadian 22 untuk menunjukkan bahwa tindakan Abraham merupakan wujud nyata dan buah dari imannya (Yak. 2:21–24). Untuk menutup kisah ini, sang narator mencatat bahwa Abraham dan para hambanya kembali ke Bersyeba.

Keturunan Nahor (22:20–24)


Keturunan Nahor dan Kelahiran Ribka (22:20–24)

"Sesudah itu Abraham mendapat kabar: 'Juga Milka telah melahirkan anak-anak lelaki bagi Nahor, saudaramu:

Us, anak sulung, dan Bus, adiknya, dan Kemuel, ayah Aram,

juga Kesed, Hazo, Pildash, Yidlaf dan Betuel.'

Dan Betuel memperanakkan Ribka. Kedelapan orang inilah dilahirkan Milka bagi Nahor, saudara Abraham itu.

Dan gundik Nahor, yang namanya Reuma, melahirkan anak juga, yakni Tebah, Gaham, Tahash dan Maakha."
Kejadian 22:20–24 (TB2)

22:20–24 Bagian singkat ini menjadi jembatan penghubung antara bagian utama dari narasi Abraham dan kisah-kisah yang menceritakan kematian Sara serta pencarian istri bagi Ishak. Nahor dan istrinya, Milka, telah disebutkan secara singkat dalam 11:27–29. Pemunculan kembali keluarga Nahor di sini, khususnya rujukan mengenai Ribka (ay. 23), mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam pasal 24.

Kematian dan Penguburan Sara (23:1–20)


Kematian Sara di Kiryat-Arba (23:1–2)

"Sara hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara.

Kemudian matilah Sara di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya."
Kejadian 23:1–2 (TB2)

23:1–2 Rincian mengenai kematian Sara disajikan sesingkat mungkin. Kiryat-Arba dinamai ulang menjadi Hebron berabad-abad kemudian (lihat Yos. 14:15; 15:54; 20:7; Hak. 1:10). Abraham memiliki hubungan yang sudah lama dengan wilayah ini, sebab "pohon-pohon tarbantin di Mamre" berada di Hebron (13:18). Catatan ringkas bahwa Kiryat-Arba berada di tanah Kanaan mungkin menjadi pengingat bahwa pada tahap ini Abraham belum memiliki sebidang tanah pun, terlepas dari janji-janji Allah bahwa tanah tersebut akan menjadi milik keturunannya (bdk. 12:6–7; 13:14–17; 15:18–21; 17:8).


Abraham Bernegosiasi dengan Bani Het (23:3–9)

"Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan istrinya yang mati itu, lalu berkata kepada bani Het:

'Aku ini orang asing dan pendatang di antara kamu; berikanlah kiranya kuburan milik kepadaku di tanah kamu ini, supaya kiranya aku dapat mengantarkan dan menguburkan istriku yang mati itu.'

Bani Het menjawab Abraham:

'Dengarlah kepada kami, tuanku. Tuanku ini seorang raja agung di tengah-tengah kami; jadi kuburkanlah istrimu yang mati itu dalam kuburan kami yang terpilih, tidak akan ada seorang pun dari kami yang menolak menyediakan kuburannya bagimu untuk menguburkan istrimu yang mati itu.'

Kemudian bangunlah Abraham lalu sujud kepada bani Het, penduduk negeri itu,

serta berkata kepada mereka: 'Jika kamu setuju, bahwa aku mengantarkan dan menguburkan istriku yang mati itu, maka dengarkanlah aku dan tolonglah mintakan dengan sangat kepada Efron bin Zohar,

supaya ia memberikan kepadaku gua Makhpela miliknya itu, yang terletak di ujung ladangnya; baiklah itu diberikannya kepadaku dengan harga penuh untuk menjadi kuburan milikku di tengah-tengah kamu.'"
Kejadian 23:3–9 (TB2)

23:3–9 Penduduk asli Hebron disebut sebagai orang Het dalam sebagian besar versi bahasa Inggris. Teks Ibrani menyebut mereka sebagai anak-anak Het (bani Het), yang dicatat dalam 10:15 sebagai anak Kanaan. Sangat kecil kemungkinan bahwa penduduk Hebron ini memiliki hubungan kerabat dengan bangsa Het yang terkait dengan Anatolia dan Siria. Karena permohonan Abraham melibatkan perolehan lokasi pemakaman, ia berbicara kepada seluruh komunitas masyarakat di pintu gerbang kota (ay. 10). Abraham menempuh proses formal untuk memperoleh kepemilikan permanen atas lokasi pemakaman tersebut. Abraham menggambarkan statusnya sebagai "orang asing dan pendatang" (ay. 4). Walaupun ia telah tinggal di tanah itu selama kira-kira enam puluh tahun, ia menjalani pola hidup semi-nomaden dengan tinggal di dalam kemah. Sebagai seorang penduduk asing, ia tidak memiliki tanah milik di Kanaan. Karena rasa hormat kepada Abraham, penduduk Hebron dengan sukarela menawarkan kesempatan kepadanya untuk memakamkan Sara di liang kubur terbaik milik mereka. Mereka memandang Abraham sebagai seorang "raja agung" (ay. 6; NIV: "a mighty prince"; TB2: "seorang raja agung"), ungkapan yang mungkin lebih tepat diterjemahkan sebagai "pemimpin milik Allah" ("prince of God"; bdk. CSB, NJB). Terjemahan yang terakhir ini menekankan relasi Abraham dengan Allah. Dengan penuh santun, Abraham meminta untuk membeli gua Makhpela milik Efron.


Pembelian Ladang dan Gua Makhpela dari Efron (23:10–16)

"Pada waktu itu Efron hadir di tengah-tengah bani Het. Maka jawab Efron, orang Het itu, kepada Abraham dengan didengar oleh bani Het, oleh semua orang yang datang di pintu gerbang kota:

'Tidak, tuanku, dengarkanlah aku; ladang itu kuberikan kepadamu dan gua yang di sana pun kuberikan kepadamu; di depan mata orang-orang sebangsaku kuberikan itu kepadamu; kuburkanlah istrimu yang mati itu.'

Lalu sujudlah Abraham di depan penduduk negeri itu

serta berkata kepada Efron dengan didengar oleh mereka: 'Sesungguhnya, jika engkau suka, dengarkanlah aku: aku membayar harga ladang itu; terimalah itu dariku, supaya aku dapat menguburkan istriku yang mati itu di sana.'

Jawab Efron kepada Abraham:

'Tuanku, dengarkanlah aku: sebidang tanah dengan harga empat ratus syikal perak, apa artinya itu bagi kita? Kuburkan sajalah istrimu yang mati itu.'

Lalu Abraham menerima usul Efron, maka ditimbangnyalah perak untuk Efron, sebanyak yang dimintanya dengan didengar oleh bani Het itu, empat ratus syikal perak, seperti yang berlaku di antara para saudagar."
Kejadian 23:10–16 (TB2)

23:10–16 Abraham dengan santun menolak tawaran kemurahan hati Efron, sambil menegaskan bahwa ia akan membayar lunas harga ladang yang memuat gua tersebut. Jumlah harga yang ditetapkan oleh Efron memperhitungkan fakta bahwa Abraham akan memperoleh kepemilikan permanen atas ladang dan gua ini. Abraham tidak sekadar menyewanya untuk jangka waktu singkat.


Kepemilikan Sah atas Tanah Kuburan Milik Abraham (23:17–20)

"Demikianlah ladang Efron, yang letaknya di Makhpela di sebelah timur Mamre, ladang dan gua yang di sana, serta segala pohon di ladang itu, bahkan di seluruh tanah itu sampai ke tepi-tepinya,

diserahkan kepada Abraham menjadi tanah belian, di depan mata bani Het itu, di depan semua orang yang datang di pintu gerbang kota.

Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, istrinya, di dalam gua ladang Makhpela itu, di sebelah timur Mamre, yaitu Hebron di tanah Kanaan.

Demikianlah dari pihak bani Het ladang dengan gua yang ada di sana diserahkan kepada Abraham menjadi kuburan miliknya."
Kejadian 23:17–20 (TB2)

23:17–20 Penduduk Hebron menjadi saksi atas transaksi yang memberikan hak kepemilikan atas ladang dan gua tersebut kepada Abraham sebagai tempat pemakaman keluarga untuk selama-lamanya. Selain Sara, Abraham dan para leluhur lainnya kelak akan dimakamkan di sini (lihat 25:8–10; 35:27–29; 50:13).

Mencari Istri bagi Ishak (24:1–67)


Sumpah Hamba Abraham untuk Mencari Istri bagi Ishak (24:1–9)

"Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal.

Berkatalah Abraham kepada hambanya yang paling tua dalam rumahnya, yang menjadi kuasa atas segala kepunyaannya, katanya: 'Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku,

supaya aku mengambil sumpahmu demi TUHAN, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang istri dari antara perempuan Kanaan yang di antaranya aku diam.

Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang istri bagi Ishak, anakku.'

Lalu berkatalah hambanya itu kepadanya: 'Mungkin perempuan itu tidak suka mengikuti aku ke negeri ini; haruskah aku membawa anakmu itu kembali ke negeri dari mana tuanku keluar?'

Tetapi Abraham berkata kepadanya: 'Awas, jangan kaubawa anakku itu kembali ke sana.

TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, dan yang telah berfirman kepadaku, serta yang bersumpah kepadaku, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini—Dialah juga yang akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depanmu, sehingga engkau dapat mengambil seorang istri dari sana untuk anakku.

Tetapi jika perempuan itu tidak mau mengikuti engkau, maka lepaslah engkau dari sumpahmu kepadaku ini; hanya saja, janganlah anakku itu kaubawa kembali ke sana.'

Lalu hamba itu meletakkan tangannya di bawah pangkal paha Abraham, tuannya, dan bersumpah kepadanya tentang hal itu."
Kejadian 24:1–9 (TB2)

24:1–9 Menjelang akhir kehidupan duniawinya, narasi ini menegaskan bahwa TUHAN telah memberkati Abraham dalam segala hal (ay. 1). Hamba Abraham kelak akan menyinggung berkat Allah atas tuannya ini ketika membujuk Ribka untuk meninggalkan keluarganya dan melakukan perjalanan ke Kanaan (24:35). Abraham mengutus hambanya yang paling dipercaya dan paling tua (senior) untuk mencari seorang istri yang sepadan bagi Ishak dari kalangan sanak saudaranya di Mesopotamia utara. Abraham memiliki keyakinan teguh bahwa Allah akan memimpin hambanya kepada wanita yang tepat.


Hamba Abraham Tiba di Kota Nahor dan Memohon Petunjuk TUHAN (24:10–14)

"Kemudian hamba itu mengambil sepuluh ekor dari unta tuannya dan pergi dengan membawa berbagai-bagai barang berharga kepunyaan tuannya; demikianlah ia berangkat menuju Aram-Mesopotamia ke kota Nahor.

Di sana disuruhnyalah unta-unta itu berhenti di luar kota dekat suatu sumur, pada waktu petang hari, waktu perempuan-perempuan keluar untuk menimba air.

Lalu berkatalah ia: 'TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham.

Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air.

Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum—dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.'"
Kejadian 24:10–14 (TB2)

24:10–14 Adegan narasi kini beralih ke kota Nahor, saudara laki-laki Abraham. Hamba tersebut telah menempuh perjalanan sekitar 500 mil (kurang lebih 800 km) untuk mencapai lokasi ini. Setibanya di sana, sang hamba berdoa memohon petunjuk Allah dalam menemukan seorang istri bagi Ishak. Dalam permohonannya, ia mencari seorang wanita yang luar biasa baik hati dan rajin bekerja; memberi minum sepuluh ekor unta merupakan pekerjaan yang sangat berat dan melelahkan. Ketika memohon agar Allah menunjukkan "kasih setia" (hesed) kepada Abraham, sang hamba mencari kualitas kebajikan yang serupa pada diri calon mempelai wanita bagi Ishak.


Pertemuan Hamba Abraham dengan Ribka di Dekat Mata Air (24:15–27)

"Sebelum ia selesai berkata, maka datanglah Ribka, yang lahir bagi Betuel, anak laki-laki Milka, istri Nahor, saudara Abraham; buyungnya dibawanya di atas bahunya.

Anak gadis itu sangat cantik parasnya, seorang perawan, belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; ia turun ke mata air itu dan mengisi buyungnya, lalu kembali naik.

Kemudian berlarilah hamba itu mendapatkannya serta berkata: 'Tolong beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu.'

Jawabnya: 'Minumlah, tuan,' maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum.

Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: 'Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.'

Kemudian segeralah dituangnya air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu.

Dan orang itu mengamat-amatinya dengan berdiam diri untuk mengetahui apakah TUHAN membuat perjalanannya berhasil atau tidak.

Setelah unta-unta itu puas minum, maka orang itu mengambil anting-anting emas yang setengah syikal beratnya, dan sepasang gelang tangan yang sepuluh syikal emas beratnya,

serta berkata: 'Anak siapakah engkau? Baiklah katakan kepadaku! Adakah di rumah ayahmu tempat bermalam bagi kami?'

Lalu jawabnya kepadanya: 'Ayahku Betuel, anak Milka, yang melahirkannya bagi Nahor.'

Lagi kata gadis itu: 'Baik jerami, baik makanan unta banyak pada kami, tempat bermalam pun ada.'

Lalu berlututlah orang itu dan sujud menyembah TUHAN,

serta berkata: 'Terpujilah TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang tidak menarik kembali kasih-Nya dan setia-Nya dari tuanku itu; dan TUHAN telah menuntun aku di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini!'"
Kejadian 24:15–27 (TB2)

24:15–27 Allah langsung menjawab doa sang hamba. Penggambaran yang sangat positif mengenai Ribka menyiratkan dengan kuat bahwa dialah sosok yang telah ditetapkan untuk menjadi istri Ishak. Pengharapan ini semakin dipertegas ketika ia memberi minum unta-unta tersebut, menggenapi secara persis setiap tindakan yang disebutkan dalam doa sang hamba (24:14). Dengan perasaan berdebar penuh antusiasme, sang hamba menanyai Ribka. Jawaban Ribka mendorongnya untuk sujud menyembah Allah atas "kasih dan setia-Nya" kepada Abraham (ay. 27). Sang hamba dengan penuh kerendahan hati mengakui bimbingan pemeliharaan Allah (providensi ilahi) dalam perjalanannya.


Penjelasan Hamba Abraham kepada Keluarga Laban (24:28–49)

"Berlarilah gadis itu pergi menceritakan kejadian itu ke rumah ibunya.

Ribka mempunyai saudara laki-laki, namanya Laban. Laban berlari ke luar mendapatkan orang itu, ke mata air tadi,

sesudah dilihatnya anting-anting itu dan gelang pada tangan saudaranya, dan sesudah didengarnya perkataan Ribka, saudaranya, yang bunyinya: 'Begitulah dikatakan orang itu kepadaku.' Ia mendapatkan orang itu, yang masih berdiri di samping unta-untanya di dekat mata air itu,

dan berkata: 'Marilah engkau yang diberkati TUHAN, mengapa engkau berdiri di luar, padahal telah kusediakan rumah bagimu, dan juga tempat untuk unta-untamu.'

Masuklah orang itu ke dalam rumah. Ditanggalkanlah pelana unta-unta, diberikan jerami dan makanan kepada unta-unta itu, lalu dibawa air pembasuh kaki untuk orang itu dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia.

Tetapi ketika dihidangkan makanan di depannya, berkatalah orang itu: 'Aku tidak akan makan sebelum kusampaikan pesan yang kubawa ini.' Jawab Laban: 'Silakan!'

Lalu berkatalah ia: 'Aku ini hamba Abraham.

TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai.

Dan Sara, istri tuanku itu, sesudah tua, telah melahirkan anak laki-laki bagi tuanku itu; kepada anaknya itu telah diberikan tuanku segala harta miliknya.

Tuanku itu telah mengambil sumpahku: Engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang istri dari antara perempuan Kanaan, yang negerinya kudiami ini,

tetapi engkau harus pergi ke rumah ayahku dan kepada kaumku untuk mengambil seorang istri bagi anakku.

Jawabku kepada tuanku itu: Mungkin perempuan itu tidak mau mengikuti aku.

Tetapi katanya kepadaku: TUHAN, yang di hadapan-Nya aku hidup, akan mengutus malaikat-Nya menyertai engkau, dan akan membuat perjalananmu berhasil, sehingga engkau akan mengambil bagi anakku seorang istri dari kaumku dan dari rumah ayahku.

Barulah engkau lepas dari sumpahmu kepadaku, jika engkau sampai kepada kaumku dan mereka tidak memberikan perempuan itu kepadamu; hanya dalam hal itulah engkau lepas dari sumpahmu kepadaku.

Dan hari ini aku sampai ke mata air tadi, lalu kataku: TUHAN, Allah tuanku Abraham, sudilah kiranya Engkau membuat berhasil perjalanan yang kutempuh ini.

Di sini aku berdiri di dekat mata air ini; kiranya terjadi begini: Apabila seorang gadis datang ke luar untuk menimba air dan aku berkata kepadanya: Tolong berikan aku minum air sedikit dari buyungmu itu,

dan ia menjawab: Minumlah, dan untuk unta-untamu juga akan kutimba air, —dialah kiranya istri, yang telah TUHAN tentukan bagi anak tuanku itu.

Belum lagi aku habis berkata dalam hatiku, Ribka telah datang membawa buyung di atas bahunya, dan turun ke mata air itu, lalu menimba air. Kataku kepadanya: Tolong berikan aku minum.

Segeralah ia menurunkan buyung itu dari atas bahunya serta berkata: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum. Lalu aku minum, dan unta-unta itu juga diberinya minum.

Sesudah itu aku bertanya kepadanya: Anak siapakah engkau? Jawabnya: Ayahku Betuel anak Nahor yang dilahirkan Milka. Lalu aku mengenakan anting-anting pada hidungnya dan gelang pada tangannya.

Kemudian berlututlah aku dan sujud menyembah TUHAN, serta memuji TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang telah menuntun aku di jalan yang benar untuk mengambil anak perempuan saudara tuanku ini bagi anaknya.

Jadi sekarang, apabila kamu mau menunjukkan kasih dan setia kepada tuanku itu, beritahukanlah kepadaku; dan jika tidak, beritahukanlah juga kepadaku, supaya aku tahu entah berpaling ke kanan atau ke kiri.'"
Kejadian 24:28–49 (TB2)

24:28–49 Ketika Ribka menceritakan apa yang telah terjadi kepada keluarganya, saudaranya, Laban, bergegas keluar untuk menemui hamba Abraham. Dengan menunjukkan keramahan yang murah hati, Laban melayani para pria maupun unta-unta tersebut dengan baik. Namun, sebelum menyantap makanan yang dihidangkan, hamba Abraham menceritakan secara terperinci tujuan perjalanannya (ay. 34–41), doanya setibanya di kota itu (ay. 42–44), dan tindakan-tindakan Ribka (ay. 45–47). Dengan menekankan campur tangan Allah yang bekerja di balik layar, pidato panjang sang hamba ini membangun unsur ketegangan (suspense) bagi para pembaca selagi mereka menantikan bagaimana kelanjutan kisahnya.


Persetujuan Keluarga dan Keberangkatan Ribka (24:50–61)

"Lalu Laban dan Betuel menjawab: 'Semuanya ini datangnya dari TUHAN; kami tidak dapat mengatakan kepadamu baiknya atau buruknya.

Lihat, Ribka ada di depanmu, bawalah dia dan pergilah, supaya ia menjadi istri anak tuanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.'

Ketika hamba Abraham itu mendengar perkataan mereka, sujudlah ia sampai ke tanah menyembah TUHAN.

Kemudian hamba itu mengeluarkan perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran, dan memberikan semua itu kepada Ribka; juga kepada saudaranya dan kepada ibunya diberikannya pemberian yang indah-indah.

Sesudah itu makan dan minumlah mereka, ia dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia, dan mereka bermalam di situ. Paginya sesudah mereka bangun, berkatalah hamba itu: 'Lepaslah aku pulang kepada tuanku.'

Tetapi saudara Ribka berkata, serta ibunya juga: 'Biarkanlah anak gadis itu tinggal pada kami barang sepuluh hari lagi, kemudian bolehlah engkau pergi.'

Tetapi jawabnya kepada mereka: 'Janganlah tahan aku, sedang TUHAN telah membuat perjalananku berhasil; lepaslah aku, supaya aku pulang kepada tuanku.'

Kata mereka: 'Baiklah kita panggil anak gadis itu dan menanyakan kepadanya sendiri.'

Lalu mereka memanggil Ribka dan berkata kepadanya: 'Maukah engkau pergi beserta orang ini?' Jawabnya: 'Mau.'

Maka Ribka, saudara mereka itu, dan inang pengasuhnya beserta hamba Abraham dan orang-orangnya dibiarkan mereka pergi.

Dan mereka memberkati Ribka, kata mereka kepadanya: 'Saudara kami, moga-moga engkau menjadi beribu-ribu laksa, dan moga-moga keturunanmu menduduki kota-kota musuhnya.'

Lalu berkemaslah Ribka beserta hamba-hambanya perempuan, dan mereka naik unta mengikuti orang itu. Demikianlah hamba itu membawa Ribka lalu berjalan pulang."
Kejadian 24:50–61 (TB2)

24:50–61 Betuel, ayah Ribka, muncul untuk pertama kalinya. Ia belum mengambil peran aktif dalam kisah ini hingga saat ini. Kemungkinan besar ia sudah sangat lanjut usia. Mengingat ia dan Laban memberikan jawaban secara bersama-sama (ay. 50–51), kemungkinan besar Laban turut memikul tanggung jawab bersama ayahnya dalam memimpin dan mengurus keluarga. Sementara keluarga Ribka tidak terburu-buru melepas kepergiannya, hamba Abraham sangat rindu untuk segera kembali ke Kanaan. Kesediaan Ribka untuk berangkat secepat mungkin menggarisbawahi imannya yang mendalam kepada Allah. Seperti halnya Abraham, ia rela meninggalkan keluarga dan tanah kelahirannya. Berkat yang diucapkan atas Ribka dalam ayat 60 menyerupai sumpah ilahi yang Allah ikrarkan kepada Abraham dalam 22:16–18. Meskipun terjemahan NIV mengaitkan bagian akhir dari berkat tersebut dengan banyaknya keturunan Ribka, penerjemahan yang lebih presisi dari teks bahasa Ibrani adalah, "kiranya keturunanmu menduduki kota (secara harfiah: pintu gerbang) musuh-musuhnya" (bdk. ESV, KJV; TB2: "moga-moga keturunanmu menduduki kota-kota musuhnya").


Pertemuan Ishak dan Ribka di Kanaan (24:62–67)

"Adapun Ishak telah datang dari arah sumur Lahai-Roi; ia tinggal di Tanah Negeb.

Menjelang senja Ishak sedang keluar untuk berjalan-jalan di padang. Ia melayangkan pandangnya, maka dilihatnyalah ada unta-unta datang.

Ribka juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya.

Katanya kepada hamba itu: 'Siapakah laki-laki itu yang berjalan di padang ke arah kita?' Jawab hamba itu: 'Dialah tuanku itu.' Lalu Ribka mengambil telekungnya dan bertelekunglah ia.

Kemudian hamba itu menceritakan kepada Ishak segala yang dilakukannya.

Lalu Ishak membawa Ribka ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia menjadi istrinya. Ishak mencintainya dan demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal."
Kejadian 24:62–67 (TB2)

24:62–67 Adegan kini beralih kembali ke Kanaan. Sumur Lahai-Roi adalah nama yang diberikan kepada sumur tempat Allah menampakkan diri kepada Hagar (16:7–14). Ribka menutupi wajahnya dengan telekung (cadar), sebagaimana tradisi yang lazim bagi seorang wanita yang telah bertunangan. Dengan kehadiran Ribka, Ishak beroleh penghiburan setelah kematian ibunya.

Kematian dan Penguburan Abraham (25:1–11)


Keturunan Abraham dari Ketura dan Warisan bagi Ishak (25:1–6)

"Abraham mengambil pula seorang istri, namanya Ketura.

Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah.

Yoksan memperanakkan Syeba dan Dedan. Keturunan Dedan ialah orang Asyur, orang Letush dan orang Leum.

Anak-anak Midian ialah Efa, Efer, Henokh, Abida dan Eldaa. Itulah semuanya keturunan Ketura.

Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak,

tetapi kepada anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia menyuruh mereka—masih pada waktu ia hidup—meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke sebelah timur, ke Tanah Timur."
Kejadian 25:1–6 (TB2)

25:1–6 Ketura, sama seperti Hagar, disebut sebagai seorang gundik (ay. 6); istilah yang sama digunakan untuk menyebut Bilha, hamba perempuan Rahel, yang melahirkan anak-anak lelaki bagi Yakub (35:22). Sekalipun Ketura adalah istri Abraham, ia memiliki status yang lebih rendah daripada Sara. Hal ini tercermin dalam kenyataan bahwa keturunannya tidak mendapat bagian dalam hak waris yang diberikan kepada Ishak. Sama seperti Ismael, anak-anak Ketura menetap di luar wilayah yang kelak akan menjadi milik pusaka keturunan Ishak.


Kematian, Penguburan Abraham, dan Berkat Allah atas Ishak (25:7–11)

"Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun,

lalu ia meninggal. Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.

Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di ladang Efron bin Zohar, orang Het itu, ladang yang letaknya di sebelah timur Mamre,

yang telah dibeli Abraham dari bani Het; di sanalah terkubur Abraham dan Sara istrinya.

Setelah Abraham mati, Allah memberkati Ishak, anaknya itu; dan Ishak diam dekat sumur Lahai-Roi."
Kejadian 25:7–11 (TB2)

25:7–11 Abraham dikuburkan di samping Sara di dalam gua Makhpela (lihat 23:1–20). Catatan singkat bahwa ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya dapat mengindikasikan adanya keyakinan akan kehidupan setelah kematian. Ungkapan idiomatik yang sama digunakan di bagian lain (mis., 25:17; 35:29; 49:29, 33), dan "pengumpulan" ini selalu terjadi sebelum tindakan penguburan itu sendiri. Rujukan mengenai Ismael dalam ayat 9 patut diperhatikan. Meskipun telah disuruh pergi dari seisi rumah Abraham (21:8–21), ia tetap memelihara hubungan yang dekat dengan ayahnya. Namun demikian, garis keturunan Abraham dari pihak ayah (patriline) akan berlanjut melalui Ishak, adik laki-laki Ismael. Pengamatan singkat bahwa berkat Allah menyertai Ishak (ay. 11) membawa bagian narasi yang dimulai pada 11:27 ini ke akhir penutupnya.


VIII. Kisah Keturunan Ismael (25:12–18)

Keturunan Ismael (25:12–18)


Dua Belas Pemimpin Keturunan Ismael dan Kematiannya (25:12–18)

"Inilah keturunan Ismael, anak Abraham, yang telah dilahirkan baginya oleh Hagar, perempuan Mesir, hamba Sara itu.

Inilah nama anak-anak Ismael, disebutkan menurut urutan lahirnya: Nebayot, anak sulung Ismael, selanjutnya Kedar, Adbeel, Mibsam,

Misyma, Duma, Masa,

Hadad, Tema, Yetur, Nafish dan Kedma.

Itulah anak-anak Ismael, dan itulah nama-nama mereka, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas orang raja, masing-masing dengan sukunya.

Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.

Mereka itu mendiami daerah dari Hawila sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka."
Kejadian 25:12–18 (TB2)

25:12–18 Menyusul catatan mengenai penguburan Abraham, sebuah bagian narasi singkat menyajikan beberapa perincian tentang keturunan Ismael. Status Ismael sebagai anak laki-laki Abraham dibatasi oleh keterangan bahwa ibunya adalah hamba perempuan Sara. Hal ini mengingatkan kembali pada peristiwa-peristiwa dalam pasal 16. Sebagaimana yang telah dijanjikan Allah (17:20; 21:18), keturunan Ismael membentuk suatu bangsa yang besar yang terdiri dari dua belas suku. Frasa penutup dari ayat 18 diterjemahkan dengan cara yang sangat berlainan. Sementara NIV menerjemahkannya, "Dan mereka hidup dalam permusuhan terhadap semua suku yang berkerabat dengan mereka" ("And they lived in hostility toward all the tribes related to them"), KJV menerjemahkan, "dan ia mati di hadapan semua saudaranya" ("and he died in the presence of all his brethren"), dan NRSV berbunyi, "ia menetap di samping seluruh kaumnya" ("he settled down alongside of all his people" [bdk. LAI TB2: "Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka"]). Paralel terdekat dengan ungkapan idiomatik yang digunakan di sini terdapat dalam 50:1, yang berbicara tentang kasih sayang Yusuf kepada ayahnya. Mungkin saja ayat 12–18 ditutup dengan suatu komentar positif mengenai Ismael, yang mencatat kasih sayangnya terhadap saudara-saudaranya. Hal ini dapat menjelaskan kehadirannya pada saat penguburan Abraham (25:9).


IX. Kisah Keturunan Ishak (25:19–35:29)

Kelahiran Esau dan Yakub (25:19–26)


Pernikahan Ishak dan Doa untuk Ribka yang Mandul (25:19–21)

"Inilah riwayat keturunan Ishak, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak.

Dan Ishak berumur empat puluh tahun, ketika Ribka, anak Betuel, orang Aram dari Padan-Aram, saudara perempuan Laban orang Aram itu, diambilnya menjadi istrinya.

Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk istrinya, sebab istrinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, istrinya itu, mengandung."
Kejadian 25:19–21 (TB2)

25:19–21 Sebuah judul baru memperkenalkan suatu bagian narasi utama yang berfokus pada kedua putra kembar Ishak dan membentang hingga 35:29. Sejumlah perincian mengenai kehidupan Ishak sendiri akan disertakan dalam bagian ini, terutama dalam pasal 26, tetapi fokus utamanya tertuju pada Esau dan Yakub. Sama seperti Sara, Ribka tidak dapat memiliki anak. Akan tetapi, Allah mengabulkan permohonan sungguh-sungguh Ishak bagi istrinya setelah mereka menikah selama dua puluh tahun, dan Ribka pun mengandung. Penyebutan singkat mengenai Laban mengantisipasi perkembangan kisah selanjutnya dalam narasi ini.


Pergumulan dalam Kandungan dan Nubuat TUHAN (25:22–23)

"Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: 'Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?' Dan pergilah ia meminta petunjuk kepada TUHAN.

Firman TUHAN kepadanya:
'Dua bangsa ada dalam kandunganmu,
dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu;
suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain,
dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.'"
Kejadian 25:22–23 (TB2)

25:22–23 Pergumulan di antara kedua bayi yang belum lahir itu akan terus berlanjut setelah mereka lahir. Hal ini akan menjadi motif penting dalam episode-episode berikutnya. Pesan TUHAN kepada Ribka menyingkapkan bahwa prinsip hak kesulungan (primogeniture) akan dijungkirbalikkan; anak laki-laki yang tertua tidak akan memegang otoritas atas adik-adik laki-lakinya setelah kematian ayah mereka. Pembalikan serupa juga terjadi di bagian-bagian lain dalam kitab Kejadian, memainkan peranan penting dalam perkembangan garis keturunan pihak ayah (patriline) yang membentuk kerangka utama kitab ini.


Kelahiran dan Penamaan Esau dan Yakub (25:24–26)

"Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya.

Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau.

Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam puluh tahun pada waktu mereka lahir."
Kejadian 25:24–26 (TB2)

25:24–26 Ketika kedua anak laki-laki itu lahir, mereka dinamai Esau dan Yakub. Walaupun arti nama Esau belum dapat dipastikan, nama Yakub berarti "tumit", suatu kiasan terhadap tindakannya yang memegang tumit Esau. Di kemudian hari, Esau mengungkapkan bahwa ungkapan idiomatik "memegang tumit seseorang" bermakna "menipu" atau mungkin "menggantikan kedudukan / merebut hak" (supplant; lihat 27:36).

Esau Menjual Hak Kesulungannya (25:27–34)


Perbedaan Karakter dan Kasih Orang Tua (25:27–28)

"Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah.

Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub."
Kejadian 25:27–28 (TB2)

25:27–28 Kedua anak laki-laki kembar itu memiliki sifat dan kepribadian yang sangat berbeda. Sementara Esau yang berbulu lebih menyukai gaya hidup di alam terbuka dengan berburu binatang liar, Yakub lebih suka tinggal di rumah dan melakukan tugas domestik seperti memasak. Mencerminkan perbedaan kepribadian kedua putra mereka, kasih orang tua mereka pun terbagi: Ishak sayang kepada Esau, tetapi Ribka mengasihi Yakub.


Esau Menjual Hak Kesulungannya kepada Yakub (25:29–34)

"Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang.

Kata Esau kepada Yakub: 'Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah.' Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom.

Tetapi kata Yakub: 'Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.'

Sahut Esau: 'Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?'

Kata Yakub: 'Bersumpahlah dahulu kepadaku.' Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya.

Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu."
Kejadian 25:29–34 (TB2)

25:29–34 Esau berbicara dengan nada meremehkan tentang masakan Yakub, dengan menyebutnya "yang merah-merah itu" (red stuff). Meskipun terjemahan bahasa Inggris seperti ESV menerjemahkannya sebagai "sup merah" (red stew) dalam ayat 30, teks Ibrani sebenarnya tidak memuat kata "sup" atau "masakan". Istilah Ibrani untuk "merah" ('adom) menyerupai nama "Edom". Nama lain yang diberikan kepada Esau ini mungkin dipengaruhi oleh warna kulitnya yang juga kemerahan (25:25). Namun demikian, nama tersebut secara khusus mengenang peristiwa ini. Esau dengan sukarela menjual hak kesulungannya kepada Yakub hanya demi semangkuk masakan kacang merah. Tindakannya bukan hanya memperlihatkan penghinaannya terhadap status istimewa yang ia nikmati sebagai anak sulung, melainkan ia juga meremehkan hak waris yang melekat pada hak kesulungan tersebut. Menurut penilaian Esau, hak itu hampir tidak bernilai sama sekali. Sangat bertolak belakang dengan itu, Yakub sangat mendambakan hak waris ini, yang mencakup janji-janji ilahi yang telah diberikan kepada Abraham. Pemanfaatan rasa lapar saudaranya oleh Yakub memang tercela, tetapi hal itu tidak sebanding dengan penghinaan Esau terhadap hak kesulungannya, yang ditekankan oleh narator pada kata-kata penutup bagian ini (ay. 34). Catatan mengenai perbedaan sikap kedua saudara ini terhadap hak kesulungan menjadi latar belakang bagi peristiwa-peristiwa selanjutnya.

Ishak di Gerar (26:1–33)


Ishak Tinggal di Gerar dan Peneguhan Janji Allah (26:1–6)

"Maka timbullah kelaparan di negeri itu—selain dari kelaparan yang dahulu yang telah terjadi pada zaman Abraham. Lalu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin.

Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: 'Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu.

Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.

Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,

karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.'

Jadi tinggallah Ishak di Gerar."
Kejadian 26:1–6 (TB2)

26:1–6 Pasal 26 menyajikan sebuah jeda (interlude) sebelum narator kembali melanjutkan kisah hubungan yang tegang antara Esau dan Yakub. Kalimat pembuka pasal ini mengingatkan kembali pada bencana kelaparan yang menyebabkan Abraham pergi ke Mesir (12:10–20). Bencana kelaparan serupa mendorong Ishak untuk berpindah ke arah selatan menuju wilayah Gerar, tempat Abraham juga pernah menetap selama beberapa tahun. Hal ini mengawali serangkaian episode singkat yang menggambarkan Ishak sangat menyerupai ayahnya. Rangkaian kisah ini secara tersirat menegaskan bahwa Ishak mengikuti jejak langkah Abraham dan merupakan ahli waris dari janji-janji ilahi. Firman TUHAN menggarisbawahi bahwa Ishak menerima janji-janji ilahi yang sebelumnya telah diberikan kepada Abraham (lih. 12:1–3). Perhatian khusus diberikan kepada sumpah yang diikrarkan Allah setelah menguji ketaatan Abraham (lih. 22:16–18). Oleh karena nama Abimelekh—yang berarti "ayahku adalah raja"—kemungkinan merupakan gelar takhta yang digunakan oleh raja-raja yang memerintah secara turun-temurun, kita tidak dapat memastikan apakah Abimelekh ini adalah sosok yang sama dengan yang disebutkan dalam pasal 20–21.


Ishak dan Ribka di Gerar (26:7–11)

"Ketika orang-orang di tempat itu bertanya tentang istrinya, berkatalah ia: 'Dia saudaraku,' sebab ia takut mengatakan: 'Ia istriku,' karena pikirnya: 'Jangan-jangan aku dibunuh oleh penduduk tempat ini karena Ribka, sebab elok parasnya.'

Setelah beberapa lama ia ada di sana, pada suatu kali menjenguklah Abimelekh, raja orang Filistin itu dari jendela, maka dilihatnya Ishak sedang bercumbu-cumbuan dengan Ribka, istrinya.

Lalu Abimelekh memanggil Ishak dan berkata: 'Sesungguhnya dia istrimu, masakan engkau berkata: Dia saudaraku?' Jawab Ishak kepadanya: 'Karena pikirku: Jangan-jangan aku mati karena dia.'

Tetapi Abimelekh berkata: 'Apakah juga yang telah kauperbuat ini terhadap kami? Mudah sekali terjadi, salah seorang dari bangsa ini tidur dengan istrimu, sehingga dengan demikian engkau mendatangkan kesalahan atas kami.'

Lalu Abimelekh memberi perintah kepada seluruh bangsa itu: 'Siapa yang mengganggu orang ini atau istrinya, pastilah ia akan dihukum mati.'"
Kejadian 26:7–11 (TB2)

26:7–11 Perkataan Ishak dalam ayat 7 menggemakan perkataan Abraham sebelumnya (12:11–13). Setelah berpindah ke Gerar, Ishak berpura-pura bahwa Ribka adalah saudara perempuannya dan bukan istrinya. Namun, tipu muslihat ini terbongkar oleh Abimelekh, yang menegur Ishak dengan kata-kata yang mengingatkan pada apa yang pernah dikatakan oleh raja Gerar kepada Abraham dalam 20:9. Dengan melegakan hati, Abimelekh memberikan perlindungan kepada Ishak dan Ribka.


Kemakmuran Ishak dan Kecemburuan Orang Filistin (26:12–16)

"Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.

Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.

Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya.

Segala sumur, yang digali pada zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah.

Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: 'Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa daripada kami.'"
Kejadian 26:12–16 (TB2)

26:12–16 Ishak menikmati berkat Allah dan makmur secara materi, sebagaimana halnya Abraham dahulu. Namun demikian, penduduk Filistin di Gerar menjadi cemburu kepadanya. Untuk mencegah terjadinya potensi konflik, Abimelekh meminta Ishak untuk pindah dari situ.


Pertikaian Mengenai Sumur dan Perjanjian Damai di Bersyeba (26:17–33)

"Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di Lembah Gerar, dan ia menetap di situ.

Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali pada zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya.

Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya.

Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: 'Air ini kepunyaan kami.' Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana.

Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna.

Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: 'Sekarang TUHAN telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.'

Dari situ ia pergi ke Bersyeba.

Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: 'Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu.'

Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ.

Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya.

Tetapi kata Ishak kepada mereka: 'Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?'

Jawab mereka: 'Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau,

bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN.'

Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum.

Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai.

Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: 'Kami telah mendapat air.'

Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang."
Kejadian 26:1–33 (TB2)

26:17–33 Di Lembah Gerar, Ishak menggali kembali sumur-sumur yang dahulu telah digali oleh Abraham (lih. 21:25–30). Hamba-hamba Ishak menggali sejumlah sumur, tetapi perselisihan dengan penduduk setempat terus berlanjut. Abraham dahulu juga pernah menghadapi permasalahan yang serupa (21:25). Pada akhirnya, Ishak berpindah ke Bersyeba (lih. 21:30–31), di mana Allah menampakkan diri kepadanya dan meneguhkan kembali janji-janji yang telah diberikan kepada Abraham (ay. 24). Selain itu, Abimelekh datang menemui Ishak dan mengadakan perjanjian damai dengannya, sebagaimana ia atau ayahnya dahulu pernah melakukannya bersama Abraham (21:22–27). Menunjukkan satu paralelisme lebih lanjut antara Ishak dan Abraham, sumur yang berkaitan dengan pengikatan perjanjian tersebut dinamai Syeba (ay. 33), sehingga lokasi tersebut dikenal sebagai Bersyeba (bandingkan 21:31). Berbagai peristiwa yang diuraikan dalam pasal ini menekankan betapa Ishak menyerupai Abraham, yang mengisyaratkan bahwa ia adalah ahli waris yang layak bagi janji-janji ilahi. Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: Siapakah yang akan menjadi ahli waris Ishak—Esau atau Yakub?

Ishak Memberkati Yakub (26:34–27:45)


Istri-Istri Esau dari Bangsa Het (26:34–35)

"Ketika Esau telah berumur empat puluh tahun, ia mengambil Yudit, anak Beeri orang Het, dan Basmat, anak Elon orang Het, menjadi istrinya.

Kedua perempuan itu menimbulkan kepedihan hati bagi Ishak dan bagi Ribka."
Kejadian 26:34–35 (TB2)

26:34–35 Gambaran negatif tentang Esau yang muncul dalam 25:29–34 diperkuat oleh komentar-komentar singkat mengenai kedua istrinya yang berasal dari bangsa Het. Narator mencatat di kemudian hari bahwa Ribka menyatakan ketidaksukaannya terhadap pilihan istri Esau (lih. 27:46). Sebaliknya, Yakub akan didorong untuk mencari seorang istri dari antara kaum kerabatnya sendiri di Padan-Aram (27:46–28:2). Ketika Esau kemudian mengetahui ketidaksukaan orang tuanya terhadap istri-istrinya yang berbangsa Het itu, ia mengambil seorang istri lagi, seorang keturunan Ismael (28:6–9).


Ishak Meminta Makanan Sebelum Memberkati Esau (27:1–4)

"Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya: 'Anakku.' Sahut Esau: 'Ya, bapa.'

Berkatalah Ishak: 'Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu bila hari kematianku.

Maka sekarang, ambillah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang;

olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati.'"
Kejadian 27:1–4 (TB2)

27:1–4 Oleh karena penglihatannya yang kian menurun, Ishak memutuskan untuk melimpahkan berkat kebapaan yang berkaitan dengan hak kesulungan kepada Esau. Hal ini akan meneguhkan Esau sebagai ahli waris dari janji-janji ilahi. Keputusan Ishak untuk memberkati Esau tampaknya dipengaruhi oleh keahlian putranya dalam berburu binatang liar (bdk. 25:28), ketimbang kelayakannya untuk menerima janji-janji ilahi tersebut. Kebutaan Ishak terjadi baik secara jasmani maupun rohani.


Rencana dan Tipu Muslihat Ribka (27:5–17)

"Tetapi Ribka mendengarkannya, ketika Ishak berkata kepada Esau, anaknya. Setelah Esau pergi ke padang memburu seekor binatang untuk dibawanya kepada ayahnya,

berkatalah Ribka kepada Yakub, anaknya: 'Telah kudengar ayahmu berkata kepada Esau, kakakmu:

Bawalah bagiku seekor binatang buruan dan olahlah bagiku makanan yang enak, supaya kumakan, dan supaya aku memberkati engkau di hadapan TUHAN, sebelum aku mati.

Maka sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku seperti yang kuperintahkan kepadamu.

Pergilah ke tempat kambing domba kita, ambillah dari sana dua anak kambing yang baik, maka aku akan mengolahnya menjadi makanan yang enak bagi ayahmu, seperti yang digemarinya.

Bawalah itu kepada ayahmu, supaya dimakannya, agar dia memberkati engkau, sebelum ia mati.'

Lalu kata Yakub kepada Ribka, ibunya: 'Tetapi Esau, kakakmu, adalah seorang yang berbulu badannya, sedang aku ini kulitku licin.

Mungkin ayahku akan meraba aku; maka nanti ia akan menyangka bahwa aku mau memperolok-olokkan dia; dengan demikian aku akan mendatangkan kutuk atas diriku dan bukan berkat.'

Tetapi ibunya berkata kepadanya: 'Akulah yang menanggung kutuk itu, anakku; dengarkan saja perkataanku, pergilah ambil kambing-kambing itu.'

Lalu ia pergi mengambil kambing-kambing itu dan membawanya kepada ibunya; sesudah itu ibunya mengolah makanan yang enak, seperti yang digemari ayahnya.

Kemudian Ribka mengambil pakaian yang indah kepunyaan Esau, anak sulungnya, pakaian yang disimpannya di rumah, lalu disuruhnyalah dikenakan oleh Yakub, anak bungsunya.

Dan kulit anak kambing itu dipalutkannya pada kedua tangan Yakub dan pada lehernya yang licin itu.

Lalu ia memberikan makanan yang enak dan roti yang telah diolahnya itu kepada Yakub, anaknya."
Kejadian 27:5–17 (TB2)

27:5–17 Campur tangan Ribka sangatlah penting. Ia adalah pemrakarsa dari tipu muslihat tersebut, demi memastikan bahwa Yakub menerima berkat anak sulung dan bukannya Esau. Rujukan singkatnya mengenai "di hadapan TUHAN" (ay. 7) menunjukkan bahwa ia memahami dimensi rohani dari apa yang sedang terjadi. Ribka bukan hanya memberi tahu Yakub mengenai apa yang harus dilakukan, melainkan ketika dipertanyakan oleh Yakub, ia juga berjanji untuk menanggung tanggung jawab sepenuhnya seandainya tipu muslihat tersebut gagal (ay. 13). Narator menggarisbawahi peran utama Ribka dalam tipu muslihat ini dengan menjadikannya sebagai subjek dari kata kerja dalam ayat 15–17.


Yakub Menipu Ishak demi Memperoleh Berkat (27:18–25)

"Demikianlah Yakub masuk ke tempat ayahnya serta berkata: 'Bapa!' Sahut ayahnya: 'Ya, anakku; siapakah engkau?'

Kata Yakub kepada ayahnya: 'Akulah Esau, anak sulungmu. Telah kulakukan, seperti yang bapa katakan kepadaku. Bangunlah, duduklah dan makanlah daging buruan masakanku ini, agar bapa memberkati aku.'

Lalu Ishak berkata kepada anaknya itu: 'Lekas juga engkau mendapatnya, anakku!' Jawabnya: 'Karena TUHAN, Allahmu, membuat aku mencapai tujuanku.'

Lalu kata Ishak kepada Yakub: 'Datanglah mendekat, anakku, supaya aku meraba engkau, apakah engkau ini anakku Esau atau bukan.'

Maka Yakub mendekati Ishak, ayahnya, dan ayahnya itu merabanya serta berkata: 'Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau.'

Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia,

tetapi ia masih bertanya: 'Benarkah engkau ini anakku Esau?' Jawabnya: 'Ya!'

Lalu berkatalah Ishak: 'Dekatkanlah makanan itu kepadaku, supaya kumakan daging buruan masakan anakku, agar aku memberkati engkau.' Jadi didekatkannyalah makanan itu kepada ayahnya, lalu ia makan, dibawanya juga anggur kepadanya, lalu ia minum."
Kejadian 27:18–25 (TB2)

27:18–25 Terlepas dari keraguan Ishak, Yakub berhasil meyakinkannya bahwa ia adalah Esau. Penyamarannya berhasil dengan baik, mengingat kebutaan ayahnya. Kata Ibrani untuk "anak sulung", yaitu bĕkōr (ay. 19), sangat mirip dengan istilah untuk "hak kesulungan", yaitu bĕkōrâ, yang muncul dalam 25:31–34. Kedua istilah ini juga menyerupai kata Ibrani untuk "berkat", yaitu bĕrākâ. Secara signifikan, dalam kitab Kejadian, anak sulung menerima berkat kebapaan dan selanjutnya menyalurkan berkat tersebut kepada orang lain.


Ishak Memberkati Yakub (27:26–29)

"Berkatalah Ishak, ayahnya, kepadanya: 'Datanglah dekat-dekat dan ciumlah aku, anakku.'

Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: 'Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN.

Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah.

Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia.'"
Kejadian 27:26–29 (TB2)

27:26–29 Setelah mencium bau pakaian Yakub (lih. 27:15), Ishak kemudian memberkati putranya, dengan keyakinan penuh bahwa ia adalah Esau. Berkat yang diucapkan oleh Ishak sangat luar biasa jika dipandang dari sudut pandang manusiawi semata. Berkat tersebut mengantisipasi kedaulatan universal, yang mengingatkan kembali pada janji Allah kepada Abraham bahwa ia akan menjadi bapa bagi banyak bangsa. Hubungan yang erat antara berkat ini dengan janji-janji Allah kepada Abraham juga tercermin dalam kata-kata penutup ayat 29, yang menggemakan 12:3.


Kepulangan Esau dan Kekecewaan Ishak (27:30–37)

"Setelah Ishak selesai memberkati Yakub, dan baru saja Yakub keluar meninggalkan Ishak, ayahnya, pulanglah Esau, kakaknya, dari berburu.

Ia juga menyediakan makanan yang enak, lalu membawanya kepada ayahnya. Katanya kepada ayahnya: 'Bapa, bangunlah dan makan daging buruan masakan anakmu, agar engkau memberkati aku.'

Tetapi kata Ishak, ayahnya, kepadanya: 'Siapakah engkau ini?' Sahutnya: 'Akulah anakmu, anak sulungmu, Esau.'

Lalu terkejutlah Ishak dengan sangat serta berkata: 'Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati.'

Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: 'Berkatilah aku ini juga, ya bapa!'

Jawab ayahnya: 'Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu.'

Kata Esau: 'Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.' Lalu katanya: 'Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?'

Lalu Ishak menjawab Esau, katanya: 'Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi hambanya, dan telah kubekali dia dengan gandum dan anggur; maka kepadamu, apa lagi yang dapat kuperbuat, ya anakku?'"
Kejadian 27:30–37 (TB2)

27:30–37 Ketika Esau tiba dengan membawa makanan bagi ayahnya, Ishak menyadari bahwa ia telah diperdaya oleh Yakub (ay. 35). Namun demikian, berkat tersebut tidak dapat dibatalkan (irrevocable, ay. 37). Mengingat apa yang telah terjadi, Esau menceritakan bagaimana Yakub telah mencuranginya atau merebut haknya sebanyak dua kali. Dengan mengarahkan perhatian pada nama Yakub, yang berarti "penipu" atau "perampas hak" (supplanter), Esau mengklaim bahwa Yakub telah mencuri hak kesulungan maupun berkatnya. Akan tetapi, menurut 25:29–34, Esau sendirilah yang telah menjual hak kesulungannya kepada Yakub demi semangkuk masakan. Dengan melakukan hal itu, ia telah melepaskan haknya atas berkat tersebut, dan Yakub menerima apa yang memang menjadi haknya. Tanpa disadari, namun sangatlah tepat, Ishak memberikan wewenang kepada Yakub untuk memimpin kaum kerabatnya.


Ratapan Esau dan 'Anti-Berkat' dari Ishak (27:38–40)

"Kata Esau kepada ayahnya: 'Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!' Dan dengan suara keras menangislah Esau.

Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya: 'Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun dari langit di atas.

Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu.'"
Kejadian 27:38–40 (TB2)

27:38–40 Menanggapi permohonan Esau untuk mendapatkan berkat, Ishak mengucapkan apa yang dianggap oleh sebagian besar versi terjemahan bahasa Inggris sebagai suatu "anti-berkat" (anti-blessing). Perkataan Ishak mengisyaratkan bahwa hubungan antara keturunan Yakub dan Esau kelak kerap kali diwarnai kekerasan, suatu kenyataan yang terbukti dalam sejarah bangsa Israel dan Edom (mis. Bil. 20:18–21; 1Raj. 11:14–16; 2Raj. 8:20–22).


Dendam Esau dan Rencana Pelarian Yakub (27:41–45)

"Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: 'Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh.'

Ketika diberitahukan perkataan Esau, anak sulungnya itu kepada Ribka, maka disuruhnyalah memanggil Yakub, anak bungsunya, lalu berkata kepadanya: 'Esau, kakakmu, bermaksud membalas dendam membunuh engkau.

Jadi sekarang, anakku, dengarkanlah perkataanku, bersiaplah engkau dan larilah kepada Laban, saudaraku, ke Haran,

dan tinggallah padanya beberapa waktu lamanya, sampai kegeraman

dan kemarahan kakakmu itu surut dari padamu, dan ia lupa apa yang telah engkau perbuat kepadanya; kemudian aku akan menyuruh orang menjemput engkau dari situ. Mengapa aku akan kehilangan kamu berdua pada satu hari juga?'"
Kejadian 27:41–45 (TB2)

27:41–45 Esau menaruh dendam terhadap adik laki-lakinya, dengan niat membunuhnya saat ayah mereka meninggal dunia kelak. Ketika Ribka mengetahui tentang ancaman terhadap nyawa Yakub ini, ia mendorongnya untuk melarikan diri ke tempat kaum kerabatnya di Padan-Aram sampai amarah Esau mereda.

Esau Mengancam Membunuh Yakub & Keberangkatan Yakub (27:46–28:9)


Alasan Ribka Mengutus Yakub ke Padan-Aram (27:46)

"Kemudian Ribka berkata kepada Ishak: 'Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang istri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?'"
Kejadian 27:46 (TB2)

27:46 Untuk memastikan bahwa Yakub akan pergi ke Padan-Aram, Ribka meyakinkan Ishak agar Yakub tidak mengambil istri dari bangsa Het, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Esau (lih. 26:34).


Ishak Memberkati dan Mengutus Yakub (28:1–5)

"Kemudian Ishak memanggil Yakub, lalu memberkati dia serta memesankan kepadanya, katanya: 'Janganlah mengambil istri dari perempuan Kanaan.

Bersiaplah, pergilah ke Padan-Aram, ke rumah Betuel, ayah ibumu, dan ambillah dari situ seorang istri dari anak-anak Laban, saudara ibumu.

Moga-moga Allah Yang Mahakuasa memberkati engkau, membuat engkau beranak cucu dan membuat engkau menjadi banyak, sehingga engkau menjadi sekumpulan bangsa-bangsa.

Moga-moga Ia memberikan kepadamu berkat yang untuk Abraham, kepadamu serta kepada keturunanmu, sehingga engkau memiliki negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yang telah diberikan Allah kepada Abraham.'

Demikianlah Ishak melepas Yakub, lalu berangkatlah Yakub ke Padan-Aram, kepada Laban anak Betuel, orang Aram itu, saudara Ribka ibu Yakub dan Esau."
Kejadian 28:1–5 (TB2)

28:1–5 Ishak kembali memberkati Yakub, serta memerintahkannya untuk mencari seorang istri dari antara kaum kerabatnya di Padan-Aram. Yang terpenting, berkat Ishak atas Yakub ini mengingatkan kembali pada janji-janji ilahi yang telah diberikan kepada ayahnya, Abraham. Ishak berdoa agar janji-janji tersebut diteruskan kepada Yakub. Namun demikian, agar janji-janji tersebut tergenapi, Yakub harus memiliki seorang istri yang akan melahirkan anak laki-laki baginya. Upaya pencarian Yakub akan seorang istri yang tepat akan mendominasi narasi dalam pasal 28–29. Yakub kelak akan mengingat kembali berkat ini bertahun-tahun kemudian (lih. 48:4).


Esau Mengambil Istri dari Keturunan Ismael (28:6–9)

"Ketika Esau melihat, bahwa Ishak telah memberkati Yakub dan melepasnya ke Padan-Aram untuk mengambil istri dari situ — pada waktu ia memberkatinya ia telah memesankan kepada Yakub: 'Janganlah ambil istri dari antara perempuan Kanaan' —

dan bahwa Yakub mendengarkan perkataan ayah dan ibunya, dan pergi ke Padan-Aram,

maka Esau pun menyadari, bahwa perempuan Kanaan itu tidak disukai oleh Ishak, ayahnya.

Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi istrinya, di samping kedua istrinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayot."
Kejadian 28:6–9 (TB2)

28:6–9 Ketika Esau mengetahui bahwa Yakub telah diutus pergi ke Padan-Aram untuk mencari seorang istri dari antara kaum kerabatnya, ia meresponsnya dengan mengambil seorang istri lagi bagi dirinya sendiri. Dengan harapan dapat memperoleh perkenanan orang tuanya, ia menikahi seorang anak perempuan Ismael, pamannya.

Yakub di Betel (28:10–22)


Mimpi Yakub di Betel (28:10–17)

"Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran.

Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu.

Maka bermimpilah ia, di bumi didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.

Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: 'Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.

Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.

Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.'

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: 'Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.'

Ia takut dan berkata: 'Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga.'"
Kejadian 28:10–17 (TB2)

28:10–17 Kitab Kejadian mencatat dua perjumpaan penting antara Yakub dan Allah. Perjumpaan yang pertama terjadi ketika ia sedang dalam perjalanan meninggalkan tanah Kanaan. Perjumpaan yang kedua terjadi pada saat ia kembali (32:22–32). Pada peristiwa ini, Yakub telah menempuh sekitar sepersepuluh dari perjalanan sejauh 600 mil (~965 km) dari Bersyeba ke Padan-Aram. Dalam mimpinya, ia melihat sebuah tangga yang menghubungkan bumi dengan surga. Ia juga melihat TUHAN, yang berdiri di sampingnya atau di atas tangga tersebut; teks Ibrani di sini bermakna ambigu. Melalui penafsiran mana pun, Yakub berbicara tentang Allah yang hadir “di tempat ini” (ay. 16). Yang terpenting, sekalipun Yakub sedang dalam proses meninggalkan Kanaan, Allah meneguhkannya kembali bahwa Ia akan membawa Yakub kembali ke negeri ini. Firman Allah secara tegas menyiratkan bahwa janji-janji ilahi yang berkaitan dengan Abraham dan Ishak kini terhubung kepada Yakub (lih. 22:16–18; 26:2–5).


Tugu Peringatan dan Nazar Yakub di Betel (28:18–22)

"Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya.

Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus.

Lalu bernazarlah Yakub: 'Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai,

sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku.

Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.'"
Kejadian 28:18–22 (TB2)

28:18–22 Untuk menandai pentingnya peristiwa yang telah terjadi, Yakub mendirikan sebuah batu sebagai tugu dan menamai tempat itu Betel, yang berarti “rumah Allah”. Nazarnya menyiratkan bahwa ia hanya akan menerima TUHAN sebagai Allahnya jika Allah membawanya kembali dengan selamat ke tanah Kanaan. Pada tahap ini, Yakub belum memiliki komitmen pribadi kepada TUHAN.

Yakub Menikahi Rahel dan Lea (29:1–30)


Yakub Tiba di Haran dan Bertemu Para Gembala (29:1–6)

"Kemudian berangkatlah Yakub dari situ dan pergi ke negeri Bani Timur.

Ketika ia memandang sekelilingnya, dilihatnya ada sebuah sumur di padang, dan ada tiga kumpulan kambing domba berbaring di dekatnya, sebab dari sumur itulah orang memberi minum kumpulan-kumpulan kambing domba itu. Adapun batu penutup sumur itu besar;

dan apabila segala kumpulan kambing domba itu digiring berkumpul ke sana, maka gembala-gembala menggulingkan batu itu dari mulut sumur, lalu kambing domba itu diberi minum; kemudian dikembalikanlah batu itu lagi ke mulut sumur itu.

Bertanyalah Yakub kepada mereka: 'Saudara-saudara, dari manakah kamu ini?' Jawab mereka: 'Kami ini dari Haran.'

Lagi katanya kepada mereka: 'Kenalkah kamu Laban, cucu Nahor?' Jawab mereka: 'Kami kenal.'

Selanjutnya katanya kepada mereka: 'Selamatkah ia?' Jawab mereka: 'Selamat! Tetapi lihat, itu datang anaknya perempuan, Rahel, dengan kambing dombanya.'"
Kejadian 29:1–6 (TB2)

29:1–6 Setelah menempuh perjalanan sekitar 600 mil (~965 km), Yakub tiba di Padan-Aram. Ia segera mengetahui bahwa para gembala di sana mengenal Laban, pamannya. Yang lebih penting lagi, untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Rahel, yang namanya berarti “domba betina muda”. Kawanan domba dan kambing kelak akan memainkan peran yang sangat menonjol selama masa tinggal Yakub bersama Laban.


Yakub Menolong Rahel di Dekat Sumur (29:7–12)

"Lalu kata Yakub: 'Hari masih siang, belum waktunya untuk mengumpulkan ternak; berilah minum kambing dombamu itu, kemudian pergilah menggembalakannya lagi.'

Tetapi jawab mereka: 'Kami tidak dapat melakukan itu selama segala kumpulan binatang itu belum berkumpul; barulah batu itu digulingkan dari mulut sumur dan kami memberi minum kambing domba kami.'

Selagi ia berkata-kata dengan mereka, datanglah Rahel dengan kambing domba ayahnya, sebab dialah yang menggembalakannya.

Ketika Yakub melihat Rahel, anak Laban saudara ibunya, serta kambing domba Laban, ia datang mendekat, lalu menggulingkan batu itu dari mulut sumur, dan memberi minum kambing domba itu.

Kemudian Yakub mencium Rahel serta menangis dengan suara keras.

Lalu Yakub menceritakan kepada Rahel, bahwa ia sanak saudara ayah Rahel, dan anak Ribka. Maka berlarilah Rahel menceritakannya kepada ayahnya."
Kejadian 29:7–12 (TB2)

29:7–12 Yakub melanggar kebiasaan setempat dengan memberi minum kawanan ternak Rahel terlebih dahulu, suatu tindakan yang mengingatkan kembali pada tindakannya yang tidak lazim terkait Esau dan hak kesulungan. Sang narator menekankan bagaimana Rahel dan kawanan dombanya adalah milik Laban. Namun pada akhir masa tinggal Yakub di Padan-Aram dua puluh tahun kemudian, semuanya itu akan menjadi miliknya.


Laban Menyambut Yakub di Rumahnya (29:13–14)

"Segera sesudah Laban mendengar kabar tentang Yakub, anak saudaranya itu, berlarilah ia menyongsong dia, lalu mendekap dan mencium dia, kemudian membawanya ke rumahnya. Maka Yakub menceritakan segala hal ihwalnya kepada Laban.

Kata Laban kepadanya: 'Sesungguhnya engkau sedarah sedaging dengan aku.' Maka tinggallah Yakub padanya genap sebulan lamanya."
Kejadian 29:13–14 (TB2)

29:13–14 Tanggapan Laban terhadap penuturan Yakub mengenai apa yang telah terjadi mungkin mengindikasikan bahwa ia memandang Yakub lebih dari sekadar seorang kerabat. Laban kemungkinan melihat Yakub memiliki kesamaan karakter dengan dirinya. Seiring berjalannya narasi, Laban akan memperdaya keponakannya itu dalam berbagai kesempatan.


Perjanjian Kerja Yakub demi Memperoleh Rahel (29:15–20)

"Kemudian berkatalah Laban kepada Yakub: 'Masakan karena engkau adalah sanak saudaraku, engkau bekerja padaku dengan cuma-cuma? Katakanlah kepadaku apa yang patut menjadi upahmu.'

Laban mempunyai dua anak perempuan; yang lebih tua namanya Lea dan yang lebih muda namanya Rahel.

Lea tidak berseri matanya, tetapi Rahel itu elok sikapnya dan cantik parasnya.

Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: 'Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu.'

Sahut Laban: 'Lebih baiklah ia kuberikan kepadamu daripada kepada orang lain; maka tinggallah padaku.'

Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel."
Kejadian 29:15–20 (TB2)

29:15–20 Di kawasan Timur Dekat Kuno (Ancient Near East / ANE), adalah hal yang lazim bagi seorang pria untuk memberikan hadiah pertunangan (yang terkadang kurang tepat disebut sebagai maskawin atau uang mahar) kepada ayah dari mempelai perempuan. Akan tetapi, Yakub tidak memiliki apa pun untuk diberikan. Oleh karena itu, ia menawarkan diri untuk bekerja pada Laban selama tujuh tahun demi menikahi Rahel. Laban menyambutnya dengan positif, kemungkinan besar karena meyakini bahwa kesepakatan ini akan memberinya kendali yang besar atas segala sesuatu yang dilakukan oleh Yakub. Dengan berkomitmen melayani Laban, Yakub menempatkan statusnya sendiri sebagai ahli waris Abraham dan Ishak dalam bahaya.


Perjamuan Perkawinan dan Tipu Muslihat Laban (29:21–24)

"Sesudah itu berkatalah Yakub kepada Laban: 'Berikanlah kepadaku bakal istriku itu, sebab jangka waktuku telah genap, supaya aku kawin dengan dia.'

Lalu Laban mengundang semua orang di tempat itu, dan mengadakan perjamuan.

Tetapi pada waktu malam diambilnyalah Lea, anaknya, lalu dibawanya kepada Yakub. Maka Yakub pun menghampiri dia.

Lagipula Laban memberikan Zilpa, budaknya perempuan, kepada Lea, anaknya itu, menjadi budaknya."
Kejadian 29:21–24 (TB2)

29:21–24 Setelah masa pengabdian selama tujuh tahun, Yakub meminta Laban untuk mengadakan perjamuan perkawinan. Barangkali karena gelapnya malam dan telah meminum banyak anggur, Yakub sama sekali tidak menyadari bahwa Laban menyerahkan Lea kepadanya, bukannya Rahel. Istilah Ibrani untuk “perjamuan” dalam ayat 22 dapat diterjemahkan sebagai “pesta minum”.


Yakub Memprotes Laban dan Menikahi Rahel (29:25–30)

"Tetapi pada waktu pagi tampaklah bahwa itu Lea! Lalu berkatalah Yakub kepada Laban: 'Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?'

Jawab Laban: 'Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu daripada kakaknya.

Genapilah dahulu tujuh hari perkawinanmu dengan anakku ini; kemudian anakku yang lain pun akan diberikan kepadamu sebagai upah, asal engkau bekerja pula padaku tujuh tahun lagi.'

Maka Yakub berbuat demikian; ia menggenapi ketujuh hari perkawinannya dengan Lea, kemudian Laban memberikan kepadanya Rahel, anaknya itu, menjadi istrinya.

Lagipula Laban memberikan Bilha, budaknya perempuan, kepada Rahel, anaknya itu, menjadi budaknya.

Yakub menghampiri Rahel juga, malah ia lebih cinta kepada Rahel daripada kepada Lea. Demikianlah ia bekerja pula pada Laban tujuh tahun lagi."
Kejadian 29:25–30 (TB2)

29:25–30 Ketika Yakub menuduh Laban melakukan penipuan, Laban secara tidak langsung menegur Yakub karena telah mengambil hak kesulungan dan berkat anak sulung dari Esau. Dengan menggantikan Rahel dengan Lea, Laban membalas perbuatan Yakub dengan cara yang sama (a taste of his own medicine). Penyebutan para budak perempuan, yaitu Zilpa (ay. 24) dan Bilha (ay. 29), mengantisipasi perkembangan narasi selanjutnya ketika mereka masing-masing menjadi ibu pengganti bagi Lea dan Rahel (30:1–13), sekaligus menjadi istri sekunder bagi Yakub. Di dalam kitab Kejadian, poligami selalu digambarkan jauh dari keadaan ideal. Kasih Yakub yang lebih besar kepada Rahel kelak menjadi sumber ketegangan yang mendalam di dalam keluarganya.

Kelahiran Anak-Anak Yakub (29:31–30:24)


Kelahiran Anak-Anak Lea: Ruben, Simeon, Lewi, dan Yehuda (29:31–35)

"Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul.

Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: 'Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku.'

Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: 'Sesungguhnya, TUHAN telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikan-Nya pula anak ini kepadaku.' Maka ia menamai anak itu Simeon.

Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: 'Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya.' Itulah sebabnya ia menamai anak itu Lewi.

Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: 'Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN.' Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi."
Kejadian 29:31–35 (TB2)

29:31–35 Mencerminkan kepedulian-Nya terhadap Lea, Allah memampukannya untuk memiliki anak, sementara Rahel tetap mandul. Karena Yakub tetap bersetubuh dengan Lea, terjemahan "dibenci" (was hated, ESV) terlalu keras; terjemahan yang lebih tepat untuk teks Ibrani tersebut adalah "dikesampingkan" atau "kurang diperhatikan" (was slighted). Setiap putra yang dilahirkan Lea menerima nama yang mengandung permainan kata berdasarkan ucapan Lea. Nama Ruben dan Simeon bertolak dari tindakan Allah yang melihat dan mendengar. Pada saat Lea melahirkan putra ketiga, ia berharap Yakub tidak lagi mengabaikannya. Dengan kelahiran Yehuda, Lea memuji Allah. Nama Allah tampil menonjol dalam tiga dari empat pernyataan yang diucapkan oleh Lea. Sebagai ibu dari Lewi dan Yehuda, keturunan Lea kelak mencakup para imam keturunan Harun (Aaronic priests) dan raja-raja keturunan Daud (Davidic kings).


Kelahiran Anak-Anak Bilha: Dan dan Naftali (30:1–8)

"Ketika dilihat Rahel, bahwa ia tidak melahirkan anak bagi Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya itu, lalu berkata kepada Yakub: 'Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati.'

Maka bangkitlah amarah Yakub terhadap Rahel dan ia berkata: 'Akukah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?'

Kata Rahel: 'Ini Bilha, budakku perempuan, hampirilah dia, supaya ia melahirkan anak di pangkuanku, dan supaya oleh dia aku pun mempunyai keturunan.'

Maka diberikannyalah Bilha, budaknya itu, kepada Yakub menjadi istrinya dan Yakub menghampiri budak itu.

Bilha mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki bagi Yakub.

Berkatalah Rahel: 'Allah telah memberikan keadilan kepadaku, juga telah didengarkan-Nya permohonanku dan diberikan-Nya kepadaku seorang anak laki-laki.' Itulah sebabnya ia menamai anak itu Dan.

Mengandung pulalah Bilha, budak perempuan Rahel, lalu melahirkan anak laki-laki yang kedua bagi Yakub.

Berkatalah Rahel: 'Aku telah sangat hebat bergulat dengan kakakku, dan aku pun menang.' Maka ia menamai anak itu Naftali."
Kejadian 30:1–8 (TB2)

30:1–8 Karena cemburu terhadap kemampuan Lea melahirkan anak, Rahel melampiaskan kemarahannya kepada Yakub. Sebagaimana yang pernah dilakukan Sara sebelumnya (lih. 16:1–4), Rahel menyerahkan budak perempuannya kepada Yakub supaya ia dapat melahirkan anak atas nama Rahel. Dengan menamai kedua anak laki-laki yang dilahirkan oleh Bilha, Rahel memandang mereka sebagai anaknya sendiri. Kedua nama tersebut berfokus pada pergulatan Rahel dengan kakaknya. Terjemahan ESV "Allah telah menghakimi aku" (God has judged me, ay. 6) mungkin lebih tepat diterjemahkan sebagai "Allah telah membela perkaraku" (God has vindicated me), dengan memahami nama Dan bermakna "pembelaan/pembenaran perkara" (vindication).


Kelahiran Anak-Anak Zilpa: Gad dan Asyer (30:9–13)

"Ketika dilihat Lea, bahwa ia tidak melahirkan lagi, diambilnyalah Zilpa, budaknya perempuan, dan diberikannya kepada Yakub menjadi istrinya.

Dan Zilpa, budak perempuan Lea, melahirkan seorang anak laki-laki bagi Yakub.

Berkatalah Lea: 'Mujur telah datang.' Maka ia menamai anak itu Gad.

Dan Zilpa, budak perempuan Lea, melahirkan anak laki-laki yang kedua bagi Yakub.

Berkatalah Lea: 'Aku ini berbahagia! Tentulah perempuan-perempuan akan menyebutkan aku berbahagia.' Maka ia menamai anak itu Asyer."
Kejadian 30:9–13 (TB2)

30:9–13 Ketika ia tidak dapat melahirkan anak lagi, Lea mengikuti teladan Rahel dan memberikan budak perempuannya, Zilpa, kepada Yakub. Mengakui kedua anak laki-laki itu sebagai miliknya sendiri, Lea memberi mereka nama-nama yang mencerminkan sukacitanya karena memperoleh dua orang putra lagi.


Buah Dudaim dan Kelahiran Isakhar, Zebulon, serta Dina (30:14–21)

"Ketika Ruben pada musim menuai gandum pergi berjalan-jalan, didapatinyalah di padang buah dudaim, lalu dibawanya kepada Lea, ibunya. Kata Rahel kepada Lea: 'Berilah aku beberapa buah dudaim yang didapat oleh anakmu itu.'

Jawab Lea kepadanya: 'Apakah belum cukup bagimu mengambil suamiku? Sekarang pula mau mengambil lagi buah dudaim anakku?' Kata Rahel: 'Kalau begitu biarlah ia tidur dengan engkau pada malam ini sebagai ganti buah dudaim anakmu itu.'

Ketika Yakub pada waktu petang datang dari padang, pergilah Lea mendapatkannya, sambil berkata: 'Engkau harus singgah kepadaku malam ini, sebab memang engkau telah kusewa dengan buah dudaim anakku.' Sebab itu tidurlah Yakub dengan Lea pada malam itu.

Lalu Allah mendengarkan permohonan Lea. Lea mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang kelima bagi Yakub.

Lalu kata Lea: 'Allah telah memberi upahku, karena aku telah memberi budakku perempuan kepada suamiku.' Maka ia menamai anak itu Isakhar.

Kemudian Lea mengandung pula dan melahirkan anak laki-laki yang keenam bagi Yakub.

Berkatalah Lea: 'Allah telah memberikan hadiah yang indah kepadaku; sekali ini suamiku akan tinggal bersama-sama dengan aku, karena aku telah melahirkan enam orang anak laki-laki baginya.' Maka ia menamai anak itu Zebulon.

Sesudah itu ia melahirkan seorang anak perempuan dan menamai anak itu Dina."
Kejadian 30:14–21 (TB2)

30:14–21 Rahel mungkin percaya bahwa buah dudaim (mandrakes) akan membantunya untuk hamil. Akan tetapi, demi mendapatkan buah-buah tersebut, ia mengizinkan Lea untuk tidur bersama Yakub. Akibatnya, Lea mengandung dan melahirkan Isakhar. Sekali lagi, Lea mengakui peran Allah yang memampukannya memiliki seorang putra (ay. 18). Sebaliknya, Rahel tetap mandul. Ironisnya, dalam perseteruan di antara kedua saudari ini, Yakub menjadi objek yang diperjualbelikan demi harga beberapa buah dudaim. Setelah kelahiran Isakhar, Lea mengandung lagi. Ia menamai putra berikutnya Zebulon, yang berarti “kehormatan”, dengan harapan bahwa Yakub akan menghormatinya karena ia telah melahirkan enam orang putra baginya. Sekali lagi, Lea mengakui bahwa Allah telah memampukannya melahirkan seorang anak. Penyebutan singkat mengenai kelahiran Dina dalam ayat 21 mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam 34:1–31.


Kelahiran Yusuf (30:22–24)

"Lalu ingatlah Allah akan Rahel; Allah mendengarkan permohonannya serta membuka kandungannya.

Maka mengandunglah Rahel dan melahirkan seorang anak laki-laki. Berkatalah ia: 'Allah telah menghapuskan aibku.'

Maka ia menamai anak itu Yusuf, sambil berkata: 'Mudah-mudahan TUHAN menambah seorang anak laki-laki lagi bagiku.'"
Kejadian 30:22–24 (TB2)

30:22–24 Ayat-ayat ini menekankan andil Allah dalam memampukan Rahel melahirkan seorang anak laki-laki, sebuah poin yang digarisbawahi dalam ucapan Rahel sendiri. Nama Yusuf, yang dalam bahasa Ibrani berarti “kiranya Ia menambah”, mengandung permainan kata antara kata kerja “menambah” (add) dan ungkapan “telah menghapuskan” (has taken away).

Yakub Beroleh Kelimpahan di Padan-Aram (30:25–43)


Usulan Yakub Mengenai Upahnya (30:25–34)

"Setelah Rahel melahirkan Yusuf, berkatalah Yakub kepada Laban: 'Izinkanlah aku pergi, supaya aku pulang ke tempat kelahiranku dan ke negeriku.

Berikanlah isteri-isteriku dan anak-anakku, yang menjadi upahku selama aku bekerja padamu, supaya aku pulang, sebab engkau tahu, betapa keras aku bekerja padamu.'

Tetapi Laban berkata kepadanya: 'Sekiranya aku mendapat kasihmu! Telah nyata kepadaku, bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau.'

Lagi katanya: 'Tentukanlah upahmu yang harus kubayar, maka aku akan memberikannya.'

Sahut Yakub kepadanya: 'Engkau sendiri tahu, bagaimana aku bekerja padamu, dan bagaimana keadaan ternakmu dalam penjagaanku,

sebab harta milikmu tidak begitu banyak sebelum aku datang, tetapi sekarang telah berkembang dengan sangat, dan TUHAN telah memberkati engkau sejak aku berada di sini; jadi, bilakah dapat aku bekerja untuk rumah tanggaku sendiri?'

Kata Laban: 'Apakah yang harus kuberikan kepadamu?' Jawab Yakub: 'Tidak usah kauberikan apa-apa kepadaku; aku mau lagi menggembalakan kambing dombamu dan menjaganya, asal engkau mengizinkan hal ini kepadaku:

Hari ini aku akan lewat dari tengah-tengah segala kambing dombamu dan akan mengasingkan dari situ setiap binatang yang berbintik-bintik dan berbelang-belang; segala domba yang hitam dan segala kambing yang berbelang-belang dan berbintik-bintik, itulah upahku.

Dan kejujuranku akan terbukti di kemudian hari, apabila engkau datang memeriksa upahku: Segala yang tidak berbintik-bintik atau berbelang-belang di antara kambing-kambing dan yang tidak hitam di antara domba-domba, anggaplah itu tercuri olehku.'

Kemudian kata Laban: 'Baik, jadilah seperti perkataanmu itu.'"
Kejadian 30:25–34 (TB2)

30:25–34 Setelah kelahiran Yusuf, Yakub meminta izin kepada Laban untuk kembali ke tanah Kanaan, tetapi Laban enggan membiarkan keponakannya itu pergi. Sebagai seorang penganut politeisme, Laban memercayai banyak ilah. Kendati demikian, ia telah menyadari bahwa satu Pribadi Ilahi, yakni TUHAN, telah memberkatinya oleh karena Yakub. Ini merupakan suatu pengamatan yang penting, yang mencerminkan hubungan erat antara para anggota garis keturunan bapa leluhur (patriline) yang unik dalam Kitab Kejadian dengan tema berkat (bdk. 12:3; 18:18; 22:18). Laban menawarkan insentif finansial kepada Yakub agar ia tetap tinggal di Padan-Aram, dengan harapan dapat beroleh kemakmuran materi melalui kehadiran Yakub. Usulan yang diajukan oleh Yakub melibatkan pemisahan hewan ternak yang berwarna putih (yaitu domba dan kambing) dari hewan-hewan yang berbintik-bintik, bercoreng-coreng, atau hitam. Pengaturan ini mencerminkan nama kedua pria tersebut. Dalam bahasa Ibrani, nama "Laban" berarti "putih". Nama Yakub (yaʿăqōb) menyerupai kata untuk "berbintik-bintik" (nāqōd) dan "berbelang-belang" (ʿāqōd).


Tindakan Curang Laban terhadap Yakub (30:35–36)

"Lalu diasingkannyalah pada hari itu kambing-kambing jantan yang bercoreng-coreng dan berbelang-belang dan segala kambing yang berbintik-bintik dan berbelang-belang, segala yang ada warna putih pada badannya, serta segala yang hitam di antara domba-domba, dan diserahkannyalah semuanya itu kepada anak-anaknya untuk dijaga.

Kemudian Laban menentukan jarak tiga hari perjalanan jauhnya antara dia dan Yakub, maka tetaplah Yakub menggembalakan kambing domba yang tinggal itu."
Kejadian 30:35–36 (TB2)

30:35–36 Segera setelah usulan tersebut disepakati, Laban menyingkirkan dari kawanan ternaknya semua domba dan kambing yang seharusnya dialokasikan untuk Yakub. Ia menyerahkan hewan-hewan ini kepada anak-anak lelakinya yang lain, sehingga secara langsung merampas hak Yakub atas hewan-hewan tersebut. Laban melakukan segala cara yang memungkinkan untuk mencegah Yakub beroleh kemakmuran.


Pertambahan Ternak Yakub dan Kemakmurannya (30:37–43)

"Lalu Yakub mengambil dahan hijau dari pohon hawar, pohon badam dan pohon berangan, dikupasnyalah dahan-dahan itu sehingga berbelang-belang, sampai yang putihnya kelihatan.

Ia meletakkan dahan-dahan yang dikupasnya itu dalam palungan, dalam tempat minum, ke mana kambing domba itu datang minum, sehingga tepat di depan kambing domba itu. Adapun kambing domba itu suka berkelamin pada waktu datang minum.

Jika kambing domba itu berkelamin dekat dahan-dahan itu, maka anaknya bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang.

Kemudian Yakub memisahkan domba-domba itu, dihadapkannya kepala-kepala kambing domba itu kepada yang bercoreng-coreng dan kepada segala yang hitam di antara kambing domba Laban. Demikianlah ia beroleh kumpulan-kumpulan hewan baginya sendiri, dan tidak ditempatkannya pada kambing domba Laban.

Dan setiap kali, apabila berkelamin kambing domba yang kuat, maka Yakub meletakkan dahan-dahan itu ke dalam palungan di depan mata kambing domba itu, supaya berkelamin dekat dahan-dahan itu.

Tetapi apabila datang kambing domba yang lemah, ia tidak meletakkan dahan-dahan itu ke dalamnya. Jadi hewan yang lemah untuk Laban dan yang kuat untuk Yakub.

Maka sangatlah bertambah-tambah harta Yakub, dan ia mempunyai banyak kambing domba, budak perempuan dan laki-laki, unta dan keledai."
Kejadian 30:37–43 (TB2)

30:37–43 Tidaklah jelas secara pasti bagaimana penggunaan dahan-dahan belang oleh Yakub dapat memengaruhi pola perkembangbiakan domba dan kambing tersebut. Untuk meningkatkan mutu kawanan ternaknya, Yakub memastikan bahwa hanya hewan-hewan yang paling kuat yang kawin di depan dahan-dahan yang telah dikupas kulitnya. Terlepas dari segala upaya Laban untuk membatasi kekayaan keponakannya itu, selama kurun waktu enam tahun Yakub berhasil memperoleh kawanan ternak yang sangat besar, beserta para budak, unta, dan keledai. Dengan memperhatikan proses pembiakan yang berlangsung, Laban tidak memiliki dasar apa pun untuk menuduh bahwa Yakub telah mencuri hewan-hewan ternaknya. Allahlah yang mengaruniakan upah kepada Yakub atas pelayanannya kepada Laban.

Yakub Kembali ke Kanaan (31:1–55)


Kecemburuan Anak-Anak Laban dan Perintah Allah kepada Yakub (31:1–3)

"Kedengaranlah kepada Yakub anak-anak Laban berkata demikian: 'Yakub telah mengambil segala harta milik ayah kita dan dari harta itulah ia membangun segala kekayaannya.'

Lagi kelihatan kepada Yakub dari muka Laban, bahwa Laban tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadanya.

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yakub: 'Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau.'"
Kejadian 31:1–3 (TB2)

31:1–3 Barangkali didorong oleh rasa iri hati, anak-anak lelaki Laban secara keliru menuduh Yakub telah mengambil apa yang menjadi milik ayah mereka. Laban sendiri juga mengubah sikapnya terhadap Yakub. Dengan latar belakang situasi inilah, Allah memerintahkan Yakub untuk kembali ke negeri nenek moyangnya—sebuah alusi kepada Abraham dan Ishak. Janji Allah untuk menyertai Yakub menggemakan kembali apa yang telah Ia firmankan dua puluh tahun sebelumnya di Betel (28:15).


Yakub Berbicara kepada Rahel dan Lea (31:4–16)

"Sesudah itu Yakub menyuruh memanggil Rahel dan Lea untuk datang ke padang, ke tempat kambing dombanya,

lalu ia berkata kepada mereka: 'Telah kulihat dari muka ayahmu, bahwa ia tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadaku, tetapi Allah ayahku menyertai aku.

Juga kamu sendiri tahu, bahwa aku telah bekerja sekuat-kuatku pada ayahmu.

Tetapi ayahmu telah berlaku curang kepadaku dan telah sepuluh kali mengubah upahku, tetapi Allah tidak membiarkan dia berbuat jahat kepadaku.

Apabila ia berkata: yang berbintik-bintiklah akan menjadi upahmu, maka segala kambing domba itu beroleh anak yang berbintik-bintik; dan apabila ia berkata: yang bercoreng-corenglah akan menjadi upahmu, maka segala kambing domba itu beroleh anak yang bercoreng-coreng.

Demikianlah Allah mengambil ternak ayahmu dan memberikannya kepadaku.

Pada suatu kali pada masa kambing domba itu suka berkelamin, maka aku bermimpi dan melihat, bahwa jantan-jantan yang menjantani kambing domba itu bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang.

Dan Malaikat Allah berfirman kepadaku dalam mimpi itu: Yakub! Jawabku: Ya Tuhan!

Lalu Ia berfirman: Angkatlah mukamu dan lihatlah, bahwa segala jantan yang menjantani kambing domba itu bercoreng-coreng, berbintik-bintik dan berbelang-belang, sebab telah Kulihat semua yang dilakukan oleh Laban itu kepadamu.

Akulah Allah yang di Betel itu, di mana engkau mengurapi tugu, dan di mana engkau bernazar kepada-Ku; maka sekarang, bersiaplah engkau, pergilah dari negeri ini dan pulanglah ke negeri sanak saudaramu.'

Lalu Rahel dan Lea menjawab Yakub, katanya: 'Bukankah tidak ada lagi bagian atau warisan kami dalam rumah ayah kami?

Bukankah kami ini dianggapnya sebagai orang asing, karena ia telah menjual kami? Juga bagian kami telah dihabiskannya sama sekali.

Tetapi segala kekayaan, yang telah diambil Allah dari ayah kami, adalah milik kami dan anak-anak kami; maka sekarang, perbuatlah segala yang difirmankan Allah kepadamu.'"
Kejadian 31:4–16 (TB2)

31:4–16 Ketika berbicara kepada Rahel dan Lea, Yakub menegaskan bagaimana Allah telah membuatnya makmur terlepas dari segala upaya yang dilakukan oleh ayah mereka untuk mencegah hal itu terjadi. Sembari menegaskan bahwa Allah telah menyertainya (ay. 5), Yakub menceritakan bagaimana "Malaikat Allah" telah berfirman kepadanya di dalam mimpi. Perkataan sang malaikat menyiratkan secara kuat bahwa "Malaikat Allah" adalah Allah itu sendiri dan bukan suatu entitas lain (lih. penjelasan mengenai 16:7–14). Allah mendorong Yakub untuk kembali ke tanah Kanaan. Dengan menyatakan diri-Nya sebagai "Allah yang di Betel", Allah mengingat kembali komitmen-Nya yang terdahulu untuk menyertai Yakub dan membawanya kembali ke Betel (lih. 28:11–22).


Yakub dan Keluarganya Melarikan Diri dari Padan-Aram (31:17–21)

"Lalu bersiaplah Yakub, dinaikkannya anak-anaknya dan istri-istrinya ke atas unta,

digiringnya seluruh ternaknya dan segala apa yang telah diperolehnya, yakni ternak kepunyaannya, yang telah diperolehnya di Padan-Aram, dengan maksud pergi kepada Ishak, ayahnya, ke tanah Kanaan.

Adapun Laban telah pergi menggunting bulu domba-dombanya. Ketika itulah Rahel mencuri terafim ayahnya.

Dan Yakub mengakali Laban, orang Aram itu, dengan tidak memberitahukan kepadanya, bahwa ia mau lari.

Demikianlah ia lari dengan segala harta miliknya. Ia berangkat, menyeberangi sungai Efrat dan berjalan menuju pegunungan Gilead."
Kejadian 31:17–21 (TB2)

31:17–21 Tanpa menunda lagi, Yakub beserta keluarganya berangkat menuju tanah Kanaan. Patung-patung berhala rumah tangga (terafim) yang dicuri oleh Rahel kemungkinan besar berupa arca-arca kecil. Rahel barangkali meyakini bahwa tanpa benda-benda tersebut, kekuatan atau otoritas Laban akan dilucuti dengan cara tertentu. Berhala-berhala ini mungkin termasuk di antara "dewa-dewa asing" yang disebutkan dalam 35:2, yang kelak dikuburkan oleh Yakub di bawah pohon besar di dekat Sikhem (35:4). Tepat setelah menceritakan pencurian terafim oleh Rahel, teks Ibrani pada ayat 20 menyebutkan bahwa Yakub "mencuri hati Laban" (diterjemahkan "mengakali Laban"). Sebagian besar terjemahan memahami ungkapan idiomatik mengenai mencuri hati seseorang ini bermakna "menipu/memperdaya". Motif pencurian ini terus berulang di sepanjang narasi kepergian Yakub dari rumah tangga Laban (lih. 31:26, 27, 30, 31, 43).


Laban Mengejar Yakub dan Menggeledah Kemahnya (31:22–35)

"Ketika pada hari ketiga dikabarkan kepada Laban, bahwa Yakub telah lari,

dibawanyalah sanak saudaranya bersama-sama, dikejarnya Yakub tujuh hari perjalanan jauhnya, lalu ia dapat menyusulnya di pegunungan Gilead.

Pada waktu malam datanglah Allah dalam suatu mimpi kepada Laban, orang Aram itu, serta berfirman kepadanya: 'Jagalah baik-baik, supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan sepatah katapun.'

Ketika Laban sampai kepada Yakub, — Yakub telah memasang kemahnya di pegunungan, juga Laban dengan sanak saudaranya telah memasang kemahnya di pegunungan Gilead —

berkatalah Laban kepada Yakub: 'Apakah yang kauperbuat ini, maka engkau mengakali aku dan mengangkut anak-anakku perempuan sebagai orang tawanan?

Mengapa engkau lari diam-diam dan mengakali aku? Mengapa engkau tidak memberitahu kepadaku, supaya aku menghantarkan engkau dengan sukacita dan nyanyian dengan rebana dan kecapi?

Lagipula engkau tidak memberikan aku kesempatan untuk mencium cucu-cucuku laki-laki dan anak-anakku perempuan. Memang bodoh perbuatanmu itu.

Aku ini berkuasa untuk berbuat jahat kepadamu, tetapi Allah ayahmu telah berfirman kepadaku tadi malam: Jagalah baik-baik, jangan engkau mengatai Yakub dengan sepatah katapun.

Maka sekarang, kalau memang engkau harus pergi, semata-mata karena sangat rindu ke rumah ayahmu, mengapa engkau mencuri dewa-dewaku?'

Lalu Yakub menjawab Laban: 'Aku takut, karena pikirku, jangan-jangan engkau merampas anak-anakmu itu dari padaku.

Tetapi pada siapa engkau menemui dewa-dewamu itu, janganlah ia hidup lagi. Periksalah di depan saudara-saudara kita segala barang yang ada padaku dan ambillah barangmu.' Sebab Yakub tidak tahu, bahwa Rahel yang mencuri terafim itu.

Lalu masuklah Laban ke dalam kemah Yakub dan ke dalam kemah Lea dan ke dalam kemah kedua budak perempuan itu, tetapi terafim itu tidak ditemuinya. Setelah keluar dari kemah Lea, ia masuk ke dalam kemah Rahel.

Tetapi Rahel telah mengambil terafim itu dan memasukkannya ke dalam pelana untanya, dan duduk di atasnya. Laban menggeledah seluruh kemah itu, tetapi terafim itu tidak ditemuinya.

Lalu kata Rahel kepada ayahnya: 'Janganlah bapa marah, karena aku tidak dapat bangun berdiri di depanmu, sebab aku sedang haid.' Dan Laban mencari dengan teliti, tetapi ia tidak menemui terafim itu."
Kejadian 31:22–35 (TB2)

31:22–35 Setelah Yakub menempuh perjalanan selama sepuluh hari, Laban berhasil menyusulnya. Akan tetapi, Allah turun tangan untuk memperingatkan Laban agar tidak berbuat jahat kepada Yakub (ay. 24). Perkataan Laban sarat dengan tuduhan pencurian: Yakub telah membawa lari anak-anak perempuannya (ay. 26) dan dewa-dewanya (ay. 30). Dengan menyebut "Allah ayahmu" (ay. 29), Laban membedakan Pribadi Ilahi ini dari dewa-dewanya sendiri. Sementara Yakub adalah seorang penganut monoteisme, Laban adalah seorang politeis. Kelak, perbedaan ini akan tercermin pada batu tunggal yang didirikan oleh Yakub dan timbunan banyak batu oleh Laban, yang berfungsi sebagai saksi atas perjanjian yang diikat (31:45–46). Tanggapan Yakub mengenai pencurian berhala rumah tangga Laban menambah drama dalam perjumpaan tersebut. Apakah tanpa sengaja ia telah menjatuhkan hukuman mati atas Rahel? Dengan menggambarkan Rahel duduk di atas dewa-dewa tersebut, sang narator menyoroti ketidakberdayaan berhala-berhala itu. Berbeda dengan Allah yang di Betel (ay. 24, 29), patung-patung berhala tersebut sama sekali tidak sanggup berkomunikasi dengan Laban.


Pembelaan dan Teguran Yakub kepada Laban (31:36–42)

"Lalu hati Yakub panas dan ia bertengkar dengan Laban. Ia berkata kepada Laban: 'Apakah kesalahanku, apakah dosaku, maka engkau memburu aku sehebat itu?

Engkau telah menggeledah segala barangku, sekarang apakah yang kautemui dari segala barang rumahmu? Letakkanlah di sini di depan saudara-saudaraku dan saudara-saudaramu, supaya mereka mengadili antara kita berdua.

Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan.

Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku.

Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur.

Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.

Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam.'"
Kejadian 31:36–42 (TB2)

31:36–42 Yakub menegur Laban secara langsung, dengan menekankan bagaimana ia telah bertindak penuh integritas dalam melayani pamannya dengan setia selama dua puluh tahun. Yakub mengakui peran mutlak yang dimainkan oleh Allah dalam mengaruniakan keberhasilan kepadanya. Ungkapan "Yang Disegani oleh Ishak" (Fear of Isaac) dan variasinya "Yang Disegani oleh Ishak, ayahnya" (31:53) sama-sama merujuk kepada Allah, yang menarik perhatian pada kebenaran bahwa Ia adalah Pribadi yang layak dihormati dan ditakuti dengan gentar (bdk. 20:11; 22:12).


Perjanjian antara Laban dan Yakub di Galed (31:43–55)

"Lalu Laban menjawab Yakub: 'Perempuan-perempuan ini anakku dan anak-anak lelaki ini cucuku dan ternak ini ternakku, bahkan segala yang kaulihat di sini adalah milikku; jadi apakah yang dapat kuperbuat sekarang kepada anak-anakku ini atau kepada anak-anak yang dilahirkan mereka?

Maka sekarang, marilah kita mengikat perjanjian, aku dan engkau, supaya itu menjadi kesaksian antara aku dan engkau.'

Kemudian Yakub mengambil sebuah batu dan didirikannya menjadi tugu.

Selanjutnya berkatalah Yakub kepada sanak saudaranya: 'Kumpulkanlah batu.' Maka mereka mengambil batu dan membuat timbunan, lalu makanlah mereka di sana di dekat timbunan itu.

Laban menamai timbunan batu itu Yegar-Sahaduta, tetapi Yakub menamainya Galed.

Lalu kata Laban: 'Timbunan batu inilah pada hari ini menjadi kesaksian antara aku dan engkau.' Itulah sebabnya timbunan itu dinamainya Galed,

dan juga Mizpa, sebab katanya: 'TUHAN kiranya berjaga-jaga antara aku dan engkau, apabila kita berjauhan.

Jika engkau mengaibkan anak-anakku, dan jika engkau mengambil istri lain di samping anak-anakku itu, ingatlah, walaupun tidak ada orang dekat kita, Allah juga yang menjadi saksi antara aku dan engkau.'

Selanjutnya kata Laban kepada Yakub: 'Inilah timbunan batu, dan inilah tugu yang kudirikan antara aku dan engkau —

timbunan batu dan tugu inilah menjadi kesaksian, bahwa aku tidak akan melewati timbunan batu ini mendapatkan engkau, dan bahwa engkau pun tidak akan melewati timbunan batu dan tugu ini mendapatkan aku, dengan berniat jahat.

Allah Abraham dan Allah Nahor, Allah ayah mereka, kiranya menjadi hakim antara kita.' Lalu Yakub bersumpah demi Yang Disegani oleh Ishak, ayahnya.

Dan Yakub mempersembahkan korban sembelihan di gunung itu. Ia mengundang makan sanak saudaranya, lalu mereka makan serta bermalam di gunung itu.

Keesokan harinya pagi-pagi Laban mencium cucu-cucunya dan anak-anaknya serta memberkati mereka, kemudian pulanglah Laban kembali ke tempat tinggalnya."
Kejadian 31:43–55 (TB2)

31:43–55 Laban tetap mempertahankan klaim kepemilikannya atas anak-anak perempuannya, cucu-cucunya, dan kawanan ternak tersebut, tetapi ia menyadari bahwa dirinya tidak berdaya untuk membawa mereka kembali ke Padan-Aram. Sebagai konsekuensinya, ia membuat sebuah perjanjian persahabatan dengan Yakub, yang kemungkinan bertujuan untuk memastikan bahwa Yakub tidak akan menggantikan posisinya sebagai kepala keluarga di Padan-Aram (lih. ay. 52). Di kawasan Timur Dekat Kuno (Ancient Near East / ANE), dewa-dewa lazimnya dipanggil sebagai saksi dalam pembuatan perjanjian. Jumlah batu yang digunakan oleh Yakub dan Laban dapat mencerminkan pandangan teologis mereka yang berlainan. Sebagai seorang monoteis, Yakub mendirikan satu batu sebagai saksi; sedangkan sebagai seorang politeis, Laban menggunakan timbunan banyak batu. Sejalan dengan hal ini, ungkapan "Allah Nahor" mungkin lebih tepat diterjemahkan sebagai "dewa-dewa Nahor". Dalam teks Ibrani pada ayat 53, kata kerja "mengadili/menjadi hakim" berbentuk jamak, yang menyiratkan lebih dari satu ilah. Sementara Laban memanggil berbagai ilah untuk menjadi saksi atas perjanjian tersebut, Yakub hanya bersumpah demi "Yang Disegani oleh Ishak, ayahnya".

Yakub Bersiap Bertemu Esau (32:1–23)


Malaikat-Malaikat Allah di Mahanaim (32:1–2)

"Yakub melanjutkan perjalanannya, lalu bertemulah malaikat-malaikat Allah dengan dia.

Ketika Yakub melihat mereka, berkatalah ia: 'Ini bala tentara Allah.' Sebab itu dinamainyalah tempat itu Mahanaim."
Kejadian 32:1–2 (TB2)

32:1–2 Ayat-ayat ini memberikan pengantar yang menarik bagi episode yang langsung mengikutinya. Menyusul keberangkatan Laban, Yakub bertemu dengan sejumlah malaikat Allah. Nama Mahanaim berarti "dua perkemahan" (two camps), yang merujuk kepada perkemahan Allah dan perkemahan Yakub. Kehadiran perkemahan Allah ini memberikan kepastian dan peneguhan kembali (reassurance) bagi Yakub. Satu-satunya pemunculan lain dari ungkapan "malaikat-malaikat Allah" terdapat di dalam 28:12 yang merujuk kepada penglihatan Yakub di Betel. Pengalaman Yakub mengenai para malaikat dan perkemahan-perkemahan tersebut kemungkinan mengilhami tindakan-tindakannya yang selanjutnya.


Yakub Mengirim Utusan kepada Esau (32:3–5)

"Sesudah itu Yakub menyuruh utusannya berjalan lebih dahulu mendapatkan Esau, kakaknya, ke tanah Seir, daerah Edom.

Ia memerintahkan kepada mereka: 'Beginilah kamu katakan kepada tuanku, kepada Esau: Beginilah kata hambamu Yakub: Aku telah tinggal pada Laban sebagai orang asing dan diam di situ selama ini.

Aku telah mempunyai lembu sapi, keledai dan kambing domba, budak laki-laki dan perempuan, dan aku menyuruh memberitahukan hal ini kepada tuanku, supaya aku mendapat kasihmu.'"
Kejadian 32:3–5 (TB2)

32:3–5 Yakub mengirim utusan-utusan kepada Esau, yang telah menetap di sebelah tenggara Laut Mati di luar tanah Kanaan. Istilah Ibrani untuk "utusan-utusan" (mal'akhim) juga dapat merujuk kepada malaikat-malaikat. Hal ini menghubungkan ayat-ayat ini, yang berbicara tentang utusan-utusan manusiawi, dengan ayat-ayat sebelumnya yang menyebutkan para malaikat Allah. Pesan Yakub kepada saudaranya disampaikan dengan bahasa yang sangat penuh rasa hormat dan merendah (exceptionally deferential). Ia dua kali menyebut Esau sebagai "tuanku" dan menggambarkan dirinya sebagai "hamba" Esau. Sikap Yakub yang bagaikan seorang hamba terhadap saudaranya ini sungguh mencolok bila ditinjau dari apa yang telah difirmankan sebelumnya bahwa yang lebih tua akan melayani yang lebih muda (lih. 25:23; 27:37). Yakub mengambil sikap penuh rasa hormat yang serupa ketika ia berjumpa langsung dengan Esau (lih. 33:1–15).


Ketakutan Yakub dan Pembagian Rombongan (32:6–8)

"Kemudian pulanglah para utusan itu kepada Yakub dan berkata: 'Kami telah sampai kepada kakakmu, kepada Esau, dan ia pun sedang di jalan menemui engkau, diiringi oleh empat ratus orang.'

Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan.

Sebab pikirnya: 'Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput.'"
Kejadian 32:6–8 (TB2)

32:6–8 Laporan bahwa Esau datang dengan diiringi oleh 400 orang membuat Yakub diliputi oleh rasa takut dan kegentaran yang besar. Barangkali diilhami oleh nama Mahanaim (ay. 2), Yakub membagi rombongan dan perkemahannya sendiri menjadi dua bagian.


Doa Permohonan Yakub kepada Allah (32:9–12)

"Kemudian berkatalah Yakub: 'Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu —

sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan.

Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya.

Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung.'"
Kejadian 32:9–12 (TB2)

32:9–12 Setelah mengambil langkah-langkah praktis untuk melindungi orang-orang yang bersamanya, Yakub berdoa kepada Allah. Doa ini merupakan doa terpanjang yang tercatat di dalam kitab Kejadian, dan nada perkataan Yakub sangat patut diperhatikan. Untuk pertama kalinya, ia menyapa Allah dengan menggunakan nama pribadi-Nya, YHWH (diterjemahkan sebagai "TUHAN" dalam sebagian besar versi Alkitab, termasuk TB/TB2). Dahulu Yakub sempat tawar-menawar dengan Allah di Betel (28:20–22), namun kini ia berbicara mengenai betapa dirinya sama sekali tidak layak menerima kasih setia (steadfast love) dan kesetiaan Allah. Dengan berbicara secara rendah hati mengenai dirinya saat memohon pertolongan Allah, Yakub tampil sebagai pribadi yang sangat berbeda dibandingkan sosok yang meninggalkan Kanaan dua puluh tahun sebelumnya. Dalam doanya memohon perlindungan, Yakub mengingat kembali janji Allah untuk melipatgandakan keturunannya menjadi sangat banyak (bdk. 28:14).


Persembahan Pendamai bagi Esau (32:13–23)

"Lalu bermalamlah ia di sana pada malam itu. Kemudian diambilnyalah dari apa yang ada padanya suatu persembahan untuk Esau, kakaknya,

yaitu dua ratus kambing betina dan dua puluh kambing jantan, dua ratus domba betina dan dua puluh domba jantan,

tiga puluh unta yang sedang menyusui beserta anak-anaknya, empat puluh lembu betina dan sepuluh lembu jantan, dua puluh keledai betina dan sepuluh keledai jantan.

Diserahkannyalah semuanya itu kepada budak-budaknya untuk dijaga, tiap-tiap kumpulan tersendiri, dan ia berkata kepada mereka: 'Berjalanlah kamu lebih dahulu dan jagalah supaya ada jarak antara kumpulan yang satu dengan kumpulan yang lain.'

Diperintahkannyalah kepada yang paling di muka: 'Apabila Esau, kakakku, bertemu dengan engkau dan bertanya kepadamu: Siapakah tuanmu? dan ke manakah engkau pergi? dan milik siapakah ternak yang di depanmu itu? —

jawablah: milik hambamu Yakub; inilah persembahan yang dikirim kepada tuanku Esau, dan Yakub sendiri pun ada di belakang kami.'

Begitulah diperintahkannya baik kepada yang kedua maupun kepada yang ketiga dan kepada sekalian orang yang berjalan menggiring kumpulan hewan itu, katanya: 'Seperti perkataanku tadilah kamu katakan kepada Esau, apabila kamu berjumpa dengan dia;

dan kamu harus mengatakan juga: Hambamu Yakub sendiri ada di belakang kami.' Sebab pikir Yakub: 'Baiklah aku mendamaikan hatinya dengan persembahan yang diantarkan lebih dahulu, kemudian barulah aku akan melihat mukanya; mungkin ia akan menerima aku dengan baik.'

Jadi persembahan itu diantarkan lebih dahulu, tetapi ia sendiri bermalam pada malam itu di tempat perkemahannya.

Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua istrinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok.

Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya."
Kejadian 32:13–23 (TB2)

32:13–23 Dengan harapan dapat memulihkan hubungan dan meraih kemurahan hati saudaranya yang telah lama terasing (estranged brother), Yakub mengirim serangkaian persembahan mendahului kedua rombongan yang telah diaturnya. Di dalam teks Ibrani pada ayat 20, kata benda "muka / wajah" (panim) muncul sebanyak empat kali. Konsep "wajah" ini berulang sebagai motif penting dalam episode-episode berikutnya (lih. 32:30; 33:10).

Yakub Bergulat dengan Allah di Pniel (32:24–32)


Pergumulan Yakub dan Pengubahan Namanya Menjadi Israel (32:24–29)

"Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.

Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.

Lalu kata orang itu: 'Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.' Sahut Yakub: 'Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.'

Bertanyalah orang itu kepadanya: 'Siapakah namamu?' Sahutnya: 'Yakub.'

Lalu kata orang itu: 'Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.'

Bertanyalah Yakub: 'Katakanlah juga namamu.' Tetapi sahutnya: 'Mengapa engkau menanyakan namaku?' Lalu diberkatinyalah Yakub di situ."
Kejadian 32:24–29 (TB2)

32:24–29 Ketika Yakub tinggal seorang diri, seorang asing muncul dan bergulat dengannya. Meskipun pada awalnya ia digambarkan sebagai seorang "laki-laki" (ay. 24), secara bertahap menjadi jelas dalam ayat 28 dan 30 bahwa lawan Yakub adalah Allah, yang datang dalam rupa manusia (bdk. 18:1–15). Yakub bersikeras menolak membiarkan lawannya pergi bebas, sekalipun sendi pangkal pahanya terpelecok. Kerinduannya untuk diberkati menjadi motivasi dalam pergumulannya dengan Allah. Yakub sangat rindu mewarisi berkat-berkat yang telah diberikan kepada Abraham dan Ishak. Meskipun tampak aneh bahwa Allah bertanya kepada Yakub, "Siapakah namamu?" (ay. 27), pertanyaan tersebut bersifat retoris, yang mengarahkan perhatian kepada namanya, yang berarti "penipu" atau "pengambil hak orang lain" (cheater / supplanter; lih. 27:36). Dengan mengubah namanya menjadi Israel, Allah menegaskan bagaimana Yakub telah diubahkan. Nama Israel terdiri dari ʾēl ("Allah") dan yśr, suatu bentuk kata kerja yang kemungkinan diturunkan dari akar kata śrh ("bergumul/berjuang"). Meskipun ayat 28 memberi kesan bahwa Yakub dinamai Israel karena ia telah bergumul dengan Allah, hal ini mungkin merupakan contoh permainan kata (wordplay), bukannya suatu penjelasan mengenai etimologi nama Israel. Dalam nama-nama seperti itu, Allah biasanya menjadi subjek dari kata kerjanya. Oleh karena itu, Israel kemungkinan besar berarti "Allah akan bergumul/berjuang" atau "kiranya Allah bergumul/berjuang". Nama Israel menekankan apa yang Allah lakukan, bukan apa yang Yakub lakukan. Berkat Allah datang sebagai anugerah cuma-cuma (gift) bagi mereka yang percaya pada kuasa-Nya untuk menyelamatkan. Penolakan Allah untuk menjawab pertanyaan Yakub menyiratkan bahwa Yakub seharusnya sudah mengetahui nama-Nya.


Penamaan Pniel dan Makna Perjumpaan dengan Allah (32:30–32)

"Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: 'Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!'

Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya.

Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya."
Kejadian 32:30–32 (TB2)

32:30–32 Ayat-ayat ini menutup episode di malam hari tersebut, dengan menangkap sebagian dari signifikansi peristiwanya. Dalam penamaan Pniel, yang berarti "wajah Allah", Yakub menyoroti keintiman perjumpaannya dengan Allah. Yakub bertemu dengan Allah berhadapan muka dan nyawanya terpelihara (survives). Peristiwa ini tidak hanya meneguhkan bahwa ia adalah ahli waris janji-janji yang diberikan kepada Abraham dan Ishak, tetapi juga mempersiapkannya untuk bertemu dengan Esau. Allah memberinya pengharapan bahwa ia akan diselamatkan dan diluputkan dari murka saudaranya.

Rekonsiliasi Yakub dan Esau (33:1–20)


Penataan Keluarga Yakub Menghadapi Esau (33:1–2)

"Yakub melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu.

Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di depan, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali."
Kejadian 33:1–2 (TB2)

33:1–2 Saat Esau dan orang-orangnya mendekat, Yakub mengatur keluarganya demi memberikan perlindungan maksimal bagi Rahel dan Yusuf. Kasih sayang istimewa Yakub terhadap Yusuf, yang nantinya akan tampak sangat menonjol dalam episode-episode berikutnya, sudah terlihat jelas pada tahap narasi ini.


Yakub Menghormati Esau dan Pelukan Rekonsiliasi (33:3–4)

"Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu.

Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka."
Kejadian 33:3–4 (TB2)

33:3–4 Karena menolak untuk berlindung di belakang keluarganya, Yakub melangkah maju di depan mereka. Untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada Esau, ia sujud sampai ke tanah sebanyak tujuh kali. Tindakannya ini berlawanan dengan harapan yang diungkapkan oleh Ishak ketika ia memberkati Yakub (lih. 27:29; bdk. 25:23). Di hadapan umum, Yakub menghormati Esau. Sungguh luar biasa, Esau berlari menyongsong adiknya dan mendekapnya. Dalam kebudayaan Timur Dekat Kuno / Timur Tengah, sangat tidak lazim bagi seorang pria tua terpandang (elderly man of status) untuk berlari menyambut seseorang. Tindakan Esau ini menyerupai tindakan sang ayah yang menyambut kepulangan anak laki-lakinya yang hilang (Luk. 15:20).


Pengenalan Keluarga Yakub kepada Esau (33:5–7)

"Kemudian Esau melayangkan pandangnya, dilihatnyalah perempuan-perempuan dan anak-anak itu, lalu ia bertanya: 'Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?' Jawab Yakub: 'Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini.'

Sesudah itu mendekatlah budak-budak perempuan itu beserta anak-anaknya, lalu mereka sujud.

Mendekat jugalah Lea beserta anak-anaknya, dan mereka pun sujud. Kemudian mendekatlah Yusuf beserta Rahel, dan mereka juga sujud."
Kejadian 33:5–7 (TB2)

33:5–7 Yakub meninggalkan Kanaan tanpa membawa harta benda apa pun. Sangat beralasan jika Esau menanyainya mengenai perempuan-perempuan dan anak-anak tersebut. Sekali lagi, Yusuf disebutkan secara khusus (bdk. 33:2).


Penyerahan Persembahan Tanda Berkat kepada Esau (33:8–11)

"Berkatalah Esau: 'Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?' Jawabnya: 'Untuk mendapat kasih tuanku.'

Tetapi kata Esau: 'Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu.'

Tetapi kata Yakub: 'Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkau pun berkenan menyambut aku.

Terimalah kiranya pemberian tanda salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan aku pun mempunyai segala-galanya.' Lalu dibujuk-bujuknyalah Esau, sehingga diterimanya."
Kejadian 33:8–11 (TB2)

33:8–11 Sebagaimana dicatat sebelumnya di dalam 32:13–21, Yakub telah mengutus para pelayannya berjalan mendahuluinya dengan membawa kawanan ternak sebagai pemberian bagi Esau. Yakub secara konsisten memosisikan dirinya lebih rendah (inferior) daripada Esau. Jika Esau menyapa Yakub sebagai adiknya (ay. 9), Yakub selalu menyebut Esau sebagai "tuanku" (ay. 8, 13, 14, 15). Mengingat kembali perjumpaannya dengan Allah di Pniel, Yakub mengibaratkan melihat wajah Esau seperti melihat wajah Allah. Allah telah memperlakukan Yakub dengan penuh anugerah dan kemurahan hati, dan kini Esau pun melakukan hal yang sama. Menegaskan tema rekonsiliasi ini, Yakub menggambarkan pemberiannya kepada Esau di ayat 11 sebagai "berkatku" ("my blessing"; TB2: "pemberian tanda salamku"). Yakub berupaya menebus kesalahannya (make amends) karena dahulu telah merebut berkat yang semestinya menjadi hak Esau.


Perpisahan Yakub dan Esau serta Perjalanan ke Sukot (33:12–17)

"Kata Esau: 'Baiklah kita berangkat berjalan terus; aku akan menyertai engkau.'

Tetapi Yakub berkata kepadanya: 'Tuanku maklum, bahwa anak-anak ini masih kurang kuat, dan bahwa beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika digembalakan terlalu cepat satu hari saja, maka seluruh kawanan hewan itu akan mati.

Biarlah kiranya tuanku berjalan di depan hambamu ini; aku mau menuntun dengan perlahan-lahan, sesuai dengan langkah hewan yang berjalan di depanku dan sesuai dengan langkah anak-anak, sampai aku tiba pada tuanku di Seir.'

Kata Esau: 'Kalau begitu, baiklah kutinggalkan bersama engkau beberapa dari orang yang beserta aku.' Tetapi kata Yakub: 'Mengapa susah-susah? Biarlah aku mendapat kasih tuanku saja.'

Maka pada hari itu juga berangkatlah Esau kembali ke Seir.

Tetapi Yakub berangkat ke Sukot, lalu mendirikan rumah baginya dan membuat pondok-pondok untuk ternaknya. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Sukot."
Kejadian 33:12–17 (TB2)

33:12–17 Ajakan Esau mengindikasikan dengan jelas bahwa kedua saudara tersebut telah sepenuhnya berdamai (fully reconciled), namun Yakub menolaknya dengan halus dan santun (graciously declines). Perjalanan menuju Seir berjarak sekitar 160 kilometer (100 mil). Keluarga Yakub beserta ternak mereka telah menempuh perjalanan hampir 800 kilometer (500 mil). Sebagai gantinya, Yakub hanya menempuh perjalanan sekitar delapan kilometer (lima mil) menuju Sukot.


Yakub Tiba di Sikhem dan Mendirikan Mezbah (33:18–20)

"Setelah Yakub datang dari Padan-Aram, sampailah ia dengan selamat di Sikhem, di tanah Kanaan, lalu berkemahlah ia di depan kota itu.

Ia membeli sebidang tanah, tempat ia memasang kemahnya, dari bani Hemor, bapa Sikhem, dengan harga seratus kesita.

Di sana ia mendirikan mezbah dan dinamainya mezbah itu: Allah, Allah Israel."
Kejadian 33:18–20 (TB2)

33:18–20 Pada akhirnya, Yakub berpindah ke Sikhem dan membeli sebidang tanah untuk mendirikan kemahnya. Tindakannya ini mengingatkan kita pada apa yang dilakukan oleh Abraham ketika ia pertama kali tiba di tanah Kanaan (lih. 12:6–7). Untuk pertama kalinya kita membaca bahwa Yakub mendirikan sebuah mezbah. Dengan menamainya "Allah, Allah Israel" (El-Elohe-Israel, ay. 20), Yakub menyatakan komitmen pribadinya untuk melayani Allah yang telah memberkatinya di Pniel. Penyebutan nama Sikhem, anak Hemor, menjadi jembatan penghubung menuju episode narasi berikutnya.

Peristiwa Dina di Sikhem (34:1–31)


Peristiwa Dina dan Sikhem (34:1–4)

"Pada suatu kali pergilah Dina, anak perempuan Lea yang dilahirkannya bagi Yakub, mengunjungi perempuan-perempuan di negeri itu.

Ketika itu terlihatlah ia oleh Sikhem, anak Hemor, orang Hewi, raja negeri itu, lalu Dina itu dilarikannya dan diperkosanya.

Tetapi terikatlah hatinya kepada Dina, anak Yakub; ia cinta kepada gadis itu, lalu menenangkan hati gadis itu.

Sebab itu berkatalah Sikhem kepada Hemor, ayahnya: 'Ambillah bagiku gadis ini untuk menjadi isteriku.'"
Kejadian 34:1–4 (TB2)

34:1–4 Meskipun anak perempuan Yakub, Dina, merupakan tokoh penting dalam peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam pasal ini, narasi ini hanya sedikit menyingkapkan tanggapannya terhadap apa yang terjadi. Hal ini penting untuk diperhatikan, karena kisah ini dicantumkan di dalam kitab Kejadian terutama karena apa yang diungkapkannya mengenai hubungan Yakub dengan kedua putranya, Simeon dan Lewi. Tindakan mereka berakibat pada disingkirkannya mereka dari garis keturunan pihak ayah (patriline) yang ditelusuri di dalam kitab Kejadian. Hal ini tercermin dalam perkataan Yakub menjelang kematiannya, yang menyoroti perilaku kekerasan mereka (49:5–7).

Para pembaca modern mungkin kesulitan memahami bagian ini jika mereka hanya berfokus secara eksklusif pada apa yang terjadi antara Sikhem dan Dina. Meskipun narator menyingkapkan bahwa sesuatu yang tidak pantas telah terjadi (ay. 2), informasi yang tersedia tidak cukup untuk memastikan sifat sebenarnya dari hubungan Sikhem dengan Dina. Sikhem mungkin memperkosanya, sebagaimana diasumsikan oleh sejumlah terjemahan (misalnya CSB, NIV; TB2: "diperkosanya"), atau ia melakukan hubungan seksual pranikah dengannya, yang dalam kebudayaan pada masa itu akan merusak status Dina sebagai seorang perawan yang belum menikah (yaitu, "merendahkannya" / "humiliated her", ESV; bdk. TB: "mencemari"). Terlepas dari apa yang terjadi pada awalnya, Dina dan Sikhem tampaknya tinggal bersama ketika saudara-saudaranya menyerang para pria di kota tersebut. Hal ini membuat kecil kemungkinannya bahwa Sikhem menyerang Dina secara seksual dengan tindak kekerasan yang terus-menerus. Terlebih lagi, ayat 3–4 menekankan bahwa Sikhem mencintai Dina dan ingin menikahinya. Dalam membaca pasal ini, kita harus berhati-hati untuk tidak memaksakan nilai-nilai modern mengenai hubungan seksual ke dalam narasi kuno ini, terutama ketika teks Ibrani menggunakan peristilahan yang bermakna ganda (ambiguous).


Perundingan Hemor dan Tipu Muslihat Anak-Anak Yakub (34:5–17)

"Kedengaranlah kepada Yakub, bahwa Sikhem mencemari Dina. Tetapi anak-anaknya ada di padang menjaga ternaknya, jadi Yakub mendiamkan soal itu sampai mereka pulang.

Lalu Hemor ayah Sikhem, pergi mendapatkan Yakub untuk berbicara dengan dia.

Sementara itu anak-anak Yakub pulang dari padang, dan sesudah mendengar peristiwa itu orang-orang ini sakit hati dan sangat marah karena Sikhem telah berbuat noda di antara orang Israel dengan memperkosa anak perempuan Yakub, sebab yang demikian itu tidak patut dilakukan.

Berbicaralah Hemor kepada mereka itu: 'Hati Sikhem anakku mengingini anakmu; kiranya kamu memberikan dia kepadanya menjadi isterinya

dan biarlah kita ambil-mengambil: berikanlah gadis-gadis kamu kepada kami dan ambillah gadis-gadis kami.

Tinggallah pada kami: negeri ini terbuka untuk kamu; tinggallah di sini, jalanilah negeri ini dengan bebas, dan menetaplah di sini.'

Lalu Sikhem berkata kepada ayah anak itu dan kepada kakak-kakaknya: 'Biarlah kiranya aku mendapat kasihmu, aku akan memberikan kepadamu apa yang kamu minta;

walaupun kamu bebankan kepadaku uang jujuran dan uang mahar seberapa banyakpun, aku akan memberikan apa yang kamu minta; tetapi berilah gadis itu kepadaku menjadi isteriku.'

Lalu anak-anak Yakub menjawab Sikhem dan Hemor, ayahnya, dengan tipu muslihat. Karena Sikhem telah mencemari Dina, adik mereka itu,

berkatalah mereka kepada kedua orang itu: 'Kami tidak dapat berbuat demikian, memberikan adik kami kepada seorang laki-laki yang tidak bersunat, sebab hal itu aib bagi kami.

Hanyalah dengan syarat ini kami dapat menyetujui permintaanmu: kamu harus sama seperti kami, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat,

barulah kami akan memberikan gadis-gadis kami kepada kamu dan mengambil gadis-gadis kamu; maka kami akan tinggal padamu, dan kita akan menjadi satu bangsa.

Tetapi jika kamu tidak mendengarkan perkataan kami dan kamu tidak disunat, maka kami akan mengambil kembali anak itu, lalu pergi.'"
Kejadian 34:5–17 (TB2)

34:5–17 Kunjungan Hemor kepada Yakub menjadi latar belakang bagi konfrontasi antara anak-anak Yakub dan Sikhem. Hemor ingin memfasilitasi pernikahan antara Dina dan putranya, tetapi anak-anak Yakub sangat murka atas apa yang telah terjadi. Ketika Sikhem menawarkan uang jujuran dan mahar yang sangat besar untuk memperistri Dina, anak-anak Yakub menjawab dengan tipu muslihat, meminta agar setiap laki-laki di kota itu disunat. Perjanjian Allah dengan Abraham memang melibatkan sunat, namun perjanjian tersebut berpusat pada panggilan Abraham untuk menjadi sumber berkat bagi bangsa-bangsa lain dengan menjadi bapa rohani mereka (17:4–5). Anak-anak Yakub mengeksploitasi aspek kekeluargaan dan kekerabatan dari perjanjian tersebut untuk tujuan yang jahat dan keji, sehingga benar-benar merusak tujuan dan harapan Allah mengenai perjanjian itu.


Penduduk Sikhem Menyetujui Syarat Sunat (34:18–24)

"Lalu Hemor dan Sikhem, anak Hemor, menyetujui usul mereka.

Dan orang muda itu tidak bertangguh melakukannya, sebab ia suka kepada anak Yakub, lagipula ia seorang yang paling dihormati di antara seluruh kaum keluarganya.

Lalu pergilah Hemor dan Sikhem, anaknya itu, ke pintu gerbang kota mereka dan mereka berbicara kepada penduduk kota itu:

'Orang-orang itu mau hidup damai dengan kita, biarlah mereka tinggal di negeri ini dan menjalaninya dengan bebas; bukankah negeri ini cukup luas untuk mereka? Maka kita dapat mengambil gadis-gadis mereka menjadi isteri kita dan kita dapat memberikan gadis-gadis kita kepada mereka.

Namun hanya dengan syarat ini orang-orang itu setuju tinggal bersama-sama dengan kita, sehingga kita menjadi satu bangsa, yaitu setiap laki-laki di antara kita harus disunat seperti mereka bersunat.

Ternak mereka, harta benda mereka dan segala hewan mereka, bukankah semuanya itu akan menjadi milik kita? Hanya biarlah kita menyetujui permintaan mereka, sehingga mereka tetap tinggal pada kita.'

Maka usul Hemor dan Sikhem, anaknya itu, didengarkan oleh semua orang yang datang berkumpul di pintu gerbang kota itu, lalu disunatlah setiap laki-laki, yakni setiap orang dewasa di kota itu."
Kejadian 34:18–24 (TB2)

34:18–24 Didorong oleh keinginannya untuk menikahi Dina, Sikhem—dengan bantuan ayahnya—membujuk para pria di kota itu untuk disunat. Sungguh ironis, Hemor dan Sikhem menyatakan bahwa anak-anak Yakub "mau hidup damai dengan kita" (ay. 21), tanpa menyadari pengkhianatan dan tipu muslihat keji yang sedang direncanakan.


Serangan Simeon dan Lewi serta Penjarahan Kota Sikhem (34:25–29)

"Pada hari ketiga, ketika mereka sedang menderita kesakitan, datanglah dua orang anak Yakub, yaitu Simeon dan Lewi, kakak-kakak Dina, setelah masing-masing mengambil pedangnya, menyerang kota itu dengan tidak takut-takut serta membunuh setiap laki-laki.

Juga Hemor dan Sikhem, anaknya, dibunuh mereka dengan mata pedang, dan mereka mengambil Dina dari rumah Sikhem, lalu pergi.

Kemudian datanglah anak-anak Yakub merampasi orang-orang yang terbunuh itu, lalu menjarah kota itu, karena adik mereka telah dicemari.

Kambing dombanya dan lembu sapinya, keledainya dan segala yang di dalam dan di luar kota itu dibawa mereka;

segala kekayaannya, semua anaknya dan perempuannya ditawan dan dijarah mereka, juga seluruhnya yang ada di rumah-rumah."
Kejadian 34:25–29 (TB2)

34:25–29 Serangan mendadak yang dilancarkan Simeon dan Lewi jauh melampaui hukuman apa pun yang pantas atas perlakuan Sikhem terhadap Dina. Kemunafikan dan kelicikan mereka (duplicity) menjadi jauh lebih memuakkan karena mereka mengeksploitasi sunat, tanda perjanjian yang dirancang Allah untuk dikaitkan dengan berkat bagi segala bangsa.


Teguran Yakub dan Pembelaan Diri Simeon dan Lewi (34:30–31)

"Yakub berkata kepada Simeon dan Lewi: 'Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini, kepada orang Kanaan dan orang Feris, padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku.'

Tetapi jawab mereka: 'Mengapa adik kita diperlakukannya sebagai seorang perempuan sundal!'"
Kejadian 34:30–31 (TB2)

34:30–31 Yakub menegur keras Simeon dan Lewi karena khawatir bahwa tindakan mereka dapat memicu penduduk sekitar untuk menyerang seisi rumahnya. Akan tetapi, kedua putranya tersebut berusaha membenarkan tindakan mereka dengan menyatakan bahwa Sikhem memperlakukan Dina seperti seorang pelacur (prostitute; TB2: "perempuan sundal"). Pernyataan ini mungkin mengindikasikan bahwa mereka menafsirkan apa yang terjadi antara Sikhem dan Dina sebagai sesuatu selain pemerkosaan semata.

Yakub Kembali ke Betel (35:1–15)


Perintah Allah dan Pembersihan Rumah Tangga Yakub (35:1–5)

"Allah berfirman kepada Yakub: 'Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu.'

Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: 'Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu.

Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh.'

Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem.

Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar."
Kejadian 35:1–5 (TB2)

35:1–5 Menaati instruksi Allah, Yakub bersiap untuk pindah ke Betel. Sebagai tempat di mana Allah pertama kali menampakkan diri kepadanya ketika ia melarikan diri dari Esau (lih. 28:11–22), Betel—yang berarti "rumah Allah"—merupakan tempat yang kudus dalam pandangan Yakub. Menegaskan komitmennya untuk hanya melayani TUHAN, Yakub memerintahkan orang-orang yang bersamanya untuk menyingkirkan dewa-dewa asing (lih. 31:34–35). Perkataan Yakub menggarisbawahi bagaimana Allah telah menyertainya, mengingatkan kembali pada janji Allah di dalam 28:15. Ketika Yakub meninggalkan Sikhem, Allah terus melindunginya dari serangan musuh (ay. 5; bdk. 34:30).


Yakub Mendirikan Mezbah di Betel dan Kematian Debora (35:6–8)

"Lalu sampailah Yakub ke Lus yang di tanah Kanaan — yaitu Betel —, ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia.

Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah tempat itu El-Betel, karena Allah telah menyatakan diri kepadanya di situ, ketika ia lari terhadap kakaknya.

Ketika Debora, inang pengasuh Ribka, mati, dikuburkanlah ia di sebelah hilir Betel di bawah pohon besar, yang dinamai orang: Pohon Besar Penangisan."
Kejadian 35:6–8 (TB2)

35:6–8 Setibanya di Betel, Yakub mendirikan sebuah mezbah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah. Nama El-Betel—yang berarti "Allah dari rumah Allah"—menyerupai bentuk nama yang diberikan kepada mezbah di Sikhem (lih. 33:20).


Penampakan Allah dan Penegasan Janji Perjanjian di Betel (35:9–15)

"Setelah Yakub datang dari Padan-Aram, maka Allah menampakkan diri pula kepadanya dan memberkati dia.

Firman Allah kepadanya: 'Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu.' Maka Allah menamai dia Israel.

Lagi firman Allah kepadanya: 'Akulah Allah Yang Mahakuasa. Beranakcuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu.

Dan negeri ini yang telah Kuberikan kepada Abraham dan kepada Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan juga kepada keturunanmu.'

Lalu naiklah Allah meninggalkan Yakub dari tempat Ia berfirman kepadanya.

Kemudian Yakub mendirikan tugu di tempat itu, yakni tugu batu; ia mempersembahkan korban curahan dan menuangkan minyak di atasnya.

Yakub menamai tempat di mana Allah telah berfirman kepadanya 'Betel'."
Kejadian 35:9–15 (TB2)

35:9–15 Allah menampakkan diri lagi kepada Yakub, mengulangi sebagian dari apa yang telah difirmankan di Pniel (32:28) dan sebelumnya di Betel (28:13). Berkat Allah atas Yakub mengingatkan pada bagaimana Allah memberkati Abraham (24:1) dan Ishak (25:11; 26:12). Firman Allah ini juga menggemakan mandat penciptaan (1:28), yang diulangi kepada Nuh (9:1, 7). Menariknya, Allah berfirman mengenai satu bangsa dan sekumpulan bangsa-bangsa yang akan berasal dari Yakub. Hal ini mengingatkan kita pada janji Allah bahwa Abraham akan menjadi bapa bagi banyak bangsa (17:4–6), dengan salah satu dari bangsa-bangsa tersebut terdiri dari keturunan biologisnya (15:1–21). Rujukan mengenai raja-raja yang akan lahir dari tubuh Yakub (ay. 11; TB2: "berasal dari padamu") mempertegas pengharapan bahwa garis keturunan pihak ayah (patriline) yang ditelusuri di dalam kitab Kejadian akan bermuara pada seorang wakil penguasa yang sempurna (perfect vicegerent) yang akan menegakkan kerajaan Allah di bumi.

Kematian Rahel dan Ishak (35:16–29)


Kelahiran Benyamin dan Kematian Rahel (35:16–20)

"Sesudah itu berangkatlah mereka dari Betel. Ketika mereka tidak berapa jauh lagi dari Efrata, bersalinlah Rahel, dan bersalinnya itu sangat sukar.

Sedang ia sangat sukar bersalin, berkatalah bidan kepadanya: 'Janganlah takut, sekali ini pun anak laki-laki yang kaudapat.'

Dan ketika ia hendak mengembuskan napas — sebab ia mati kemudian — diberikannyalah nama Ben-Oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin.

Demikianlah Rahel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem.

Yakub mendirikan tugu di atas kuburnya; itulah tugu kubur Rahel sampai sekarang."
Kejadian 35:16–20 (TB2)

35:16–20 Rahel menamai putranya Ben-Oni, yang berarti "anak kedukaanku" (son of my sorrow). Sebaliknya, Yakub menamainya Benyamin, yang berarti "anak tangan kanan" (son of the right hand, ay. 18). Keadaan-keadaan di seputar kelahirannya mungkin telah menyebabkan Yakub memiliki kasih sayang khusus kepada Benyamin.


Kejahatan Ruben dan Daftar Anak-Anak Yakub (35:21–26)

"Sesudah itu berangkatlah Israel, lalu ia memasang kemahnya di seberang Migdal-Eder.

Ketika Israel diam di negeri ini, terjadilah bahwa Ruben sampai tidur dengan Bilha, gundik ayahnya, dan kedengaranlah hal itu kepada Israel. Adapun anak-anak lelaki Yakub dua belas orang jumlahnya.

Anak-anak Lea ialah Ruben, anak sulung Yakub, kemudian Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar dan Zebulon.

Anak-anak Rahel ialah Yusuf dan Benyamin.

Dan anak-anak Bilha, budak perempuan Rahel ialah Dan serta Naftali.

Dan anak-anak Zilpa, budak perempuan Lea ialah Gad dan Asyer. Itulah anak-anak lelaki Yakub, yang dilahirkan baginya di Padan-Aram."
Kejadian 35:21–26 (TB2)

35:21–26 Hubungan Ruben yang tidak senonoh dengan Bilha disebutkan secara singkat. Yang terpenting, tindakannya tersebut menyebabkan Yakub mencabut statusnya sebagai anak sulung (lih. ay. 23), yang kemudian dialihkan kepada Yusuf (lih. 49:4; 1Taw. 5:1–2). Hal ini sangat signifikan sehubungan dengan garis keturunan pihak ayah (patriline) yang dicatat di dalam kitab Kejadian. Kehilangan hak kesulungan yang beralih kepada Yusuf ini mungkin menjelaskan upaya Ruben untuk menyelamatkan Yusuf di dalam 37:21–22, 29. Ia kemungkinan berharap dapat memulihkan kembali perkenanan ayahnya.


Kematian dan Penguburan Ishak (35:27–29)

"Lalu sampailah Yakub kepada Ishak, ayahnya, di Mamre dekat Kiryat-Arba — itulah Hebron — tempat Abraham dan Ishak tinggal sebagai orang asing.

Adapun umur Ishak seratus delapan puluh tahun.

Lalu meninggallah Ishak, ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya; ia tua dan suntuk umur, maka Esau dan Yakub, anak-anaknya itu, menguburkan dia."
Kejadian 35:27–29 (TB2)

35:27–29 Ishak meninggal dunia dua puluh tahun setelah Yakub kembali dari Padan-Aram. Mengenai ungkapan "dikumpulkan kepada kaum leluhurnya" (gathered to his people), lihat tafsiran atas 25:8.


X. Kisah Keturunan Esau (36:1–37:1)

Keturunan Esau / Edom (36:1–37:1)


Keturunan Esau di Kanaan dan Kepindahannya ke Seir (36:1–8)

"Inilah keturunan Esau, yaitu Edom.

Esau mengambil perempuan-perempuan Kanaan menjadi isterinya, yakni Ada, anak Elon orang Het, dan Oholibama, anak Ana anak Zibeon orang Hewi,

dan Basmat, anak Ismael, adik Nebayot.

Ada melahirkan Elifas bagi Esau, dan Basmat melahirkan Rehuel,

dan Oholibama melahirkan Yeush, Yaelam dan Korah. Itulah anak-anak Esau, yang lahir baginya di tanah Kanaan.

Esau membawa isteri-isterinya, anak-anaknya lelaki dan perempuan dan semua orang yang ada di rumahnya, ternaknya, segala hewannya dan segala harta bendanya yang telah diperolehnya di tanah Kanaan, lalu pergilah ia ke negeri lain dan ia meninggalkan Yakub, adiknya itu.

Sebab harta milik mereka terlalu banyak, sehingga mereka tidak dapat tinggal bersama-sama, dan negeri penumpangan mereka tidak dapat memuat mereka karena banyaknya ternak mereka itu.

Maka menetaplah Esau di pegunungan Seir; Esau itulah Edom."
Kejadian 36:1–8 (TB2)

36:1–8 Perikop singkat ini, yang berfokus pada masa kehidupan Esau di tanah Kanaan, menjelaskan alasan kepindahannya ke pegunungan Seir. Perpisahan Esau dari Yakub mengingatkan kita pada pemisahan Lot dari Abraham (lih. 13:6–7). Perhatian juga ditujukan kepada anak-anak lelaki yang lahir bagi Esau di Kanaan. Perbandingan dengan nama-nama yang diberikan kepada istri-istri Esau di dalam 26:34 dan 28:9 mengindikasikan bahwa salah satu dari nama-nama tersebut mungkin telah diubah pada tahap tertentu. Jika anak perempuan Ismael memakai nama Basmat, yang berarti "wewangian" (perfume), sebagai pengganti nama Mahalat, hal itu mungkin menyebabkan Basmat anak Elon mengubah namanya menjadi Ada. Oholibama tampaknya merupakan istri keempat Esau. Meskipun terjemahan ESV "Oholibamah the daughter of Anah the daughter of Zibeon" (ay. 2, 14; bdk. LAI TB2: "Oholibama, anak Ana anak Zibeon") dapat mengesankan bahwa Ana adalah seorang perempuan, Ana sebenarnya adalah ayah Oholibama. Ungkapan "anak Zibeon" dalam konteks ini berarti "cucu perempuan Zibeon" (sebagaimana diterjemahkan CSB: "granddaughter of Zibeon"; lih. ay. 24). Sebutan yang lebih lengkap ini, "Oholibama, anak Ana anak Zibeon", dicantumkan guna menghindari kerancuan antara Oholibama ini dengan perempuan lain bernama sama yang ayahnya juga bernama Ana (lih. ay. 25). Kedua laki-laki yang bernama Ana, yang disebutkan dalam ayat 24 dan 25, berturut-turut adalah keponakan dan paman (bandingkan ay. 20 dan 24). Ana sang keponakan menamai anak perempuannya dengan nama sepupu perempuannya, sebuah kebiasaan yang bahkan terkadang masih dijumpai hingga saat ini.


Keturunan Esau di Pegunungan Seir (36:9–14)

"Inilah keturunan Esau, bapa orang Edom, di pegunungan Seir.

Nama anak-anaknya ialah: Elifas, anak Ada isteri Esau; Rehuel, anak Basmat isteri Esau.

Anak-anak Elifas ialah Teman, Omar, Zefo, Gaetam dan Kenas.

Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau.

Inilah anak-anak Rehuel: Nahat, Zerah, Syama dan Miza. Itulah cucu-cucu Basmat isteri Esau.

Inilah anak-anak Oholibama, isteri Esau itu, anak Ana anak Zibeon; ia melahirkan bagi Esau: Yeush, Yaelam dan Korah."
Kejadian 36:9–14 (TB2)

36:9–14 Ayat-ayat ini mencatat daftar anak-anak dan cucu-cucu lelaki yang bersama-sama dengan Esau di pegunungan Seir setelah meninggalkan tanah Kanaan.


Kepala-Kepala Kaum Bani Esau (36:15–19)

"Inilah kepala-kepala kaum bani Esau: keturunan Elifas anak sulung Esau, ialah kepala kaum Teman, kepala kaum Omar, kepala kaum Zefo, kepala kaum Kenas,

kepala kaum Korah, kepala kaum Gaetam dan kepala kaum Amalek; itulah kepala-kepala kaum Elifas di tanah Edom; itulah keturunan Ada.

Inilah keturunan Rehuel anak Esau: kepala kaum Nahat, kepala kaum Zerah, kepala kaum Syama dan kepala kaum Miza; itulah kepala-kepala kaum Rehuel di tanah Edom; itulah keturunan Basmat isteri Esau.

Inilah keturunan Oholibama isteri Esau: kepala kaum Yeush, kepala kaum Yaelam, kepala kaum Korah; itulah kepala-kepala kaum Oholibama, isteri Esau, anak Ana.

Itulah bani Esau, yakni Edom, dan itulah kepala-kepala kaum mereka."
Kejadian 36:15–19 (TB2)

36:15–19 Ketika keluarga Esau menetap di pegunungan Seir, anak-anak lelakinya mendirikan kaum-kaum (clans) yang mereka pimpin sebagai kepala-kepala kaum (chiefs). Perbandingan dengan ayat 20–30 memperlihatkan bahwa keluarga Esau membentuk empat belas kaum, sedangkan keturunan Seir hanya membentuk tujuh kaum (lih. ay. 20–21, 29–30).


Keturunan Seir, Orang Hori (36:20–30)

"Inilah anak-anak Seir, orang Hori, penduduk negeri itu: Lotan, Syobal, Zibeon, Ana,

Disyon, Ezer, Disyan; itulah kepala-kepala kaum orang Hori, anak-anak Seir, di tanah Edom.

Anak-anak Lotan ialah Hori dan Heman, dan saudara perempuan Lotan ialah Timna.

Inilah anak-anak Syobal: Alwan, Manahat, Ebal, Syefo dan Onam.

Inilah anak-anak Zibeon: Aya dan Ana; Ana inilah yang menemui mata-mata air panas di padang gurun, ketika ia sedang menggembalakan keledai Zibeon ayahnya itu.

Inilah anak-anak Ana: Disyon dan Oholibama anak perempuan Ana.

Inilah anak-anak Disyon: Hemdan, Esyban, Yitran dan Keran.

Inilah anak-anak Ezer: Bilhan, Zaawan dan Akan.

Inilah anak-anak Disyan: Us dan Aran.

Itulah kepala-kepala kaum orang Hori: kepala kaum Lotan, kepala kaum Syobal, kepala kaum Zibeon, kepala kaum Ana,

kepala kaum Disyon, kepala kaum Ezer dan kepala kaum Disyan; itulah kepala-kepala kaum orang Hori, kaum demi kaum, di tanah Seir."
Kejadian 36:20–30 (TB2)

36:20–30 Bagian ini memberikan informasi mengenai keturunan Seir. Patut dicatat bahwa nama yang sama kadang-kadang diberikan kepada individu-individu berbeda yang masih berkerabat. Hal ini berlaku untuk nama laki-laki Ana dan Disyon, serta nama perempuan Oholibama. Oleh karena itu, Oholibama yang dilahirkan bagi Ana anak Seir (ay. 25) bukanlah istri Esau, yang merupakan anak perempuan dari Ana anak Zibeon (ay. 2, 14).


Raja-Raja yang Memerintah di Tanah Edom (36:31–39)

"Inilah raja-raja yang memerintah di tanah Edom, sebelum ada seorang raja memerintah atas orang Israel.

Di Edom yang memerintah ialah Bela bin Beor dan kotanya bernama Dinhaba.

Setelah Bela mati, Yobab bin Zerah dari Bozra menjadi raja menggantikan dia.

Setelah Yobab mati, Husyam, dari negeri orang Teman, menjadi raja menggantikan dia.

Setelah Husyam mati, Hadad bin Bedad menjadi raja menggantikan dia; dialah yang memukul kalah orang Midian di daerah Moab, dan kotanya bernama Awit.

Setelah Hadad mati, Samla dari Masreka menjadi raja menggantikan dia.

Setelah Samla mati, Saul, dari Rehobot yang di pinggir sungai, menjadi raja menggantikan dia.

Setelah Saul mati, Baal-Hanan bin Akhbor menjadi raja menggantikan dia.

Setelah Baal-Hanan bin Akhbor mati, Hadar menjadi raja menggantikan dia; kotanya bernama Pahu dan isterinya bernama Mehetabeel binti Matred binti Mezahab."
Kejadian 36:31–39 (TB2)

36:31–39 Setelah mencatat kepala-kepala kaum keturunan Esau (ay. 15–19) dan Seir (ay. 20–30), ayat-ayat ini mendaftar nama raja-raja yang memerintah di tanah Edom. Raja-raja ini tampaknya tidak berasal dari satu dinasti tunggal dan masing-masing diasosiasikan dengan kota-kota yang berbeda. Penulis ayat 31 mengetahui atau mengantisipasi berdirinya sistem monarki di Israel. Pergeseran dari para pemimpin suku (tribal leaders) menuju sistem kerajaan (kings) yang tercermin dalam ayat 20–39 kelak akan dialami pula oleh keturunan Yakub, saudara laki-laki Esau.


Kepala-Kepala Kaum Esau Menurut Tempat Kediaman Mereka (36:40–43)

"Inilah nama kepala-kepala kaum Esau menurut kaum dan tempat mereka, dengan nama mereka masing-masing: kepala kaum Timna, kepala kaum Alwa, kepala kaum Yetet,

kepala kaum Oholibama, kepala kaum Ela, kepala kaum Pinon,

kepala kaum Kenas, kepala kaum Teman, kepala kaum Mibzar,

kepala kaum Magdiel dan kepala kaum Iram; itulah kepala-kepala kaum Edom, menurut tempat kediaman mereka di tanah milik mereka; Edom ialah Esau, bapa orang Edom."
Kejadian 36:40–43 (TB2)

36:40–43 Hanya beberapa nama dari daftar di sini yang pernah disebutkan di bagian lain dalam pasal ini. Nama-nama tersebut diasosiasikan dengan wilayah-wilayah berbeda di tanah Edom.


Yakub Menetap di Tanah Kanaan (37:1)

"Adapun Yakub, ia diam di negeri penumpangan ayahnya, yakni di tanah Kanaan."
Kejadian 37:1 (TB2)

37:1 Setelah mencatat bagaimana keluarga Esau menetap di pegunungan Seir (36:9–43), fokus narasi kembali beralih kepada Yakub. Sebagai jembatan menuju bagian utama berikutnya dari kitab Kejadian, ayat ini, yang paralel dengan 36:8, menempatkan Yakub di tanah Kanaan.


XI. Kisah Keturunan Yakub (37:2–50:26)

Yusuf Dijual oleh Saudara-Saudaranya ke Mesir (37:2–36)


Yusuf dan Saudara-Saudaranya (37:2–4)

"Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun — jadi masih muda — biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya.

Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.

Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah."
Kejadian 37:2–4 (TB2)

37:2–4 Kata-kata pembuka pada ayat 2 menandai permulaan suatu bagian baru di dalam kitab Kejadian (lihat tafsiran atas 2:4). Narasi berikutnya berfokus pada anak-anak Yakub. Kedudukan utama diberikan kepada Yusuf, anak termuda Yakub di luar Benyamin. Ia adalah satu-satunya anak yang disebutkan namanya secara khusus pada ayat-ayat awal ini, meskipun anak-anak lainnya dapat saja disebutkan sekiranya sang narator menghendakinya. Selain Yusuf, Ruben adalah yang pertama kali disebutkan namanya (ay. 21). Keunggulan yang diberikan kepada Yusuf ini sangat patut diperhatikan, mengingat kitab Kejadian bermaksud menelusuri suatu garis keturunan pihak ayah (patriline) yang unik, yang pada akhirnya akan bermuara pada seorang wakil penguasa (vicegerent) yang sempurna yang akan menaklukkan dan meremukkan sang ular (lihat 3:15). Pengharapan bahwa Yusuf adalah sosok yang melaluinya garis keturunan tersebut akan berlanjut semakin diperkuat oleh fakta bahwa Yakub/Israel lebih mengasihi Yusuf dibandingkan anak-anaknya yang lain. Ia bahkan mengenakannya jubah maha indah yang pantas bagi seorang pangeran; jenis jubah yang sama ini hanya disebutkan di bagian lain dalam Perjanjian Lama di 2 Samuel 13:18–19 sehubungan dengan kaum bangsawan kerajaan. Yakub memperlakukan Yusuf sebagai "anak sulung"-nya, suatu status yang ditegaskan dalam pasal 48, ketika Yusuf, melalui putranya Efraim, menerima berkat yang diperuntukkan bagi anak sulung (bdk. 1Taw. 5:1–2).

Yusuf memperlihatkan kualitas-kualitas yang patut kita harapkan dari seorang ahli waris janji-janji yang diberikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Bahkan sebagai seorang pemuda, ia menunjukkan integritas. Sayangnya, dengan melaporkan kejahatan sebagian saudara-saudaranya, ia merenggangkan hubungannya dengan mereka. Anak-anak Bilha, budak perempuan Rahel, adalah Dan dan Naftali; anak-anak Zilpa, budak perempuan Lea, adalah Gad dan Asyer (lihat 29:31–30:24).


Mimpi-Mimpi Yusuf (37:5–11)

"Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya.

Karena katanya kepada mereka: 'Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini:

Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu.'

Lalu saudara-saudaranya berkata kepadanya: 'Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami? Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?' Jadi makin bencilah mereka kepadanya karena mimpinya dan karena perkataannya itu.

Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: 'Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku.'

Setelah hal ini diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya, maka ia ditegor oleh ayahnya: 'Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?'

Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya."
Kejadian 37:5–11 (TB2)

37:5–11 Mimpi-mimpi Yusuf memperuncing ketegangan yang ada antara dirinya dan saudara-saudaranya. Kedua mimpi tersebut menggambarkan Yusuf memegang otoritas atas kakak-kakaknya. Tanggapan mereka pada ayat 8 menggarisbawahi dugaan bahwa Yusuf akan memerintah atas mereka. Meskipun Yakub menegur Yusuf, ia tidak mengabaikan mimpi-mimpi tersebut sebagai hal yang sepele. Mungkin ia teringat pada berkat yang dilimpahkan oleh ayahnya, Ishak, kepadanya ketika ia berkata: "Jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu sujudlah menyembah kepadamu" (27:29). Mimpi-mimpi Yusuf mengindikasikan bahwa dialah anak yang melaluinya garis keturunan utama (patriline) akan ditelusuri. Tidak mengherankan bila kesepuluh kakak Yusuf menjadi semakin iri hati dan dengki kepadanya.


Yusuf Menyusul Saudara-Saudaranya ke Sikhem dan Dotan (37:12–17)

"Pada suatu kali pergilah saudara-saudaranya menggembalakan kambing domba ayahnya dekat Sikhem.

Lalu Israel berkata kepada Yusuf: 'Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka.' Sahut Yusuf: 'Ya bapa.'

Kata Israel kepadanya: 'Pergilah engkau melihat apakah baik keadaan saudara-saudaramu dan keadaan kambing domba; dan bawalah kabar tentang itu kepadaku.' Lalu Yakub menyuruh dia dari lembah Hebron, dan Yusuf pun sampailah ke Sikhem.

Ketika Yusuf berjalan ke sana ke mari di padang, bertemulah ia dengan seorang laki-laki, yang bertanya kepadanya: 'Apakah yang kaucari?'

Sahutnya: 'Aku mencari saudara-saudaraku. Tolonglah katakan kepadaku di mana mereka menggembalakan kambing domba?'

Lalu kata orang itu: 'Mereka telah berangkat dari sini, sebab telah kudengar mereka berkata: Marilah kita pergi ke Dotan.' Maka Yusuf menyusul saudara-saudaranya itu dan didapatinyalah mereka di Dotan."
Kejadian 37:12–17 (TB2)

37:12–17 Penyebutan Sikhem mengingatkan kita pada peristiwa tragis yang dikisahkan dalam pasal 33 (bdk. psl. 34). Mungkin Yakub mencemaskan keselamatan anak-anaknya. Pencarian Yusuf akan saudara-saudaranya membawanya jauh dari ayahnya, sehingga memudahkan saudara-saudaranya untuk berbalik melawannya.


Permufakatan Membunuh Yusuf dan Penjualannya ke Mesir (37:18–30)

"Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya.

Kata mereka seorang kepada yang lain: 'Lihat, tukang mimpi kita itu datang!

Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!'

Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: 'Janganlah kita bunuh dia!'

Lagi kata Ruben kepada mereka: 'Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia' — maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya.

Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, mereka pun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu.

Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair.

Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir.

Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: 'Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya?

Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita.' Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu.

Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.

Ketika Ruben kembali ke sumur itu, ternyata Yusuf tidak ada lagi di dalamnya. Lalu dikoyakkannyalah bajunya,

dan kembalilah ia kepada saudara-saudaranya, katanya: 'Anak itu tidak ada lagi, ke manakah aku ini?'"
Kejadian 37:18–30 (TB2)

37:18–30 Pembunuhan saudara kandung (fratricide) merupakan motif yang berulang di dalam kitab Kejadian, bermula dari peristiwa Kain membunuh Habel (4:8). Meskipun saudara-saudaranya pada awalnya berniat membunuh Yusuf, campur tangan Ruben mencegah mereka untuk langsung menghabisi nyawanya. Sebagai anak sulung Yakub, Ruben kemungkinan termotivasi untuk menyelamatkan Yusuf dengan harapan dapat memulihkan kembali perkenanan ayahnya, yang tampaknya telah hilang karena ia tidur dengan gundik ayahnya, Bilha (lihat 35:22 dan 49:3–4). Ketika kemudian ia mendapati bahwa Yusuf sudah tidak ada di dalam sumur, ia mengoyakkan pakaiannya dalam kedukaan, namun belum tentu didorong oleh kepedulian yang murni terhadap Yusuf. Ucapannya, "Ke manakah aku ini?" (ay. 30) menyingkapkan bahwa perhatian utamanya tertuju pada nasib dan kepentingannya sendiri, bukan keselamatan Yusuf. Meskipun campur tangan Yehuda mencegah Yusuf dibiarkan mati di dalam sumur yang tak berair, usulannya untuk menjual Yusuf tampaknya didorong oleh motif keuntungan finansial, bukan kepedulian tulus akan keselamatan adiknya. Perkataannya yang persuasif sarat dengan ironi ketika ia menyebut Yusuf sebagai "saudara kita, darah daging kita" (ay. 27). Saudara-saudara Yusuf tidak merasa ragu maupun bersalah untuk menjualnya ke dalam perbudakan. Para pedagang yang sedang dalam perjalanan menuju Mesir tersebut dapat disebut sebagai orang Ismael, yang mungkin merupakan sebutan umum yang lebih luas, atau orang Midian, sebutan yang lebih spesifik (bdk. Hak. 8:22–26).


Yakub Berkabung atas Kematian Yusuf (37:31–35)

"Kemudian mereka mengambil jubah Yusuf, dan menyembelih seekor kambing, lalu mencelupkan jubah itu ke dalam darahnya.

Jubah maha indah itu mereka suruh antarkan kepada ayah mereka dengan pesan: 'Ini kami dapati. Silakanlah bapa periksa apakah jubah ini milik anak bapa atau tidak?'

Ketika Yakub memeriksa jubah itu, ia berkata: 'Ini jubah anakku; binatang buas telah memakannya; tentulah Yusuf telah diterkam.'

Dan Yakub mengoyakkan jubahnya, lalu mengenakan kain kabung pada pinggangnya dan berkabunglah ia berhari-hari lamanya karena anaknya itu.

Sekalian anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan, serta katanya: 'Tidak! Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati!' Demikianlah Yusuf ditangisi oleh ayahnya."
Kejadian 37:31–35 (TB2)

37:31–35 Penipuan terhadap Yakub oleh anak-anaknya mengingatkan kita pada bagaimana ia sendiri dahulu memperdaya ayahnya dengan menggunakan kulit anak kambing yang disembelih (27:15–16). Secara implisit, perkataan Yakub mengenai "binatang buas" (ay. 33) menyoroti tabiat batiniah yang keji dari saudara-saudara Yusuf. Berita tentang kematian Yusuf memenuhi hati Yakub dengan kedukaan yang mendalam; ia menolak untuk dihibur. Ia merasa yakin bahwa ia akan terus menanggung dukacitanya itu hingga turun ke liang kubur / dunia orang mati (sheol).


Yusuf Dijual kepada Potifar di Mesir (37:36)

"Adapun Yusuf, ia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja."
Kejadian 37:36 (TB2)

37:36 Gelar resmi Potifar mungkin mengindikasikan bahwa ia adalah kepala algojo / kepala pengawal istana Firaun, yang dapat menjelaskan mengapa Yusuf kelak dipenjarakan bersama orang-orang yang kehilangan perkenanan raja Mesir.

Yehuda dan Tamar (38:1–30)


Yehuda dan Tamar (38:1–11)

"Pada waktu itu Yehuda meninggalkan saudara-saudaranya dan menumpang pada seorang Adulam, yang namanya Hira.

Di situ Yehuda melihat anak perempuan seorang Kanaan; nama orang itu ialah Syua. Lalu Yehuda mengawini perempuan itu dan menghampirinya.

Perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamai anak itu Er.

Sesudah itu perempuan itu mengandung lagi, lalu melahirkan seorang anak laki-laki dan menamai anak itu Onan.

Kemudian perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki sekali lagi, dan menamai anak itu Syela. Yehuda sedang berada di Kezib, ketika anak itu dilahirkan.

Sesudah itu Yehuda mengambil bagi Er, anak sulungnya, seorang istri, yang bernama Tamar.

Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia.

Lalu berkatalah Yehuda kepada Onan: 'Hampirilah istri kakakmu itu, kawinlah dengan dia sebagai ganti kakakmu dan bangkitkanlah keturunan bagi kakakmu.'

Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri istri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya.

Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.

Lalu berkatalah Yehuda kepada Tamar, menantunya itu: 'Tinggallah sebagai janda di rumah ayahmu, sampai anakku Syela itu besar,' sebab pikirnya: 'Jangan-jangan ia mati seperti kedua kakaknya itu.' Maka pergilah Tamar dan tinggal di rumah ayahnya."
Kejadian 38:1–11 (TB2)

38:1–11 Beralih dari Yusuf, narasi kitab Kejadian kini memusatkan perhatian pada putra keempat Yakub, yakni Yehuda. Hal ini agak tidak terduga, meskipun ia mungkin dipandang oleh ayahnya sebagai penerus alami bagi Yusuf. Kakak-kakaknya—Ruben, Simeon, dan Lewi—semuanya telah kehilangan hak atas status "anak sulung" karena tindakan-tindakan mereka yang tidak pantas, sebagaimana kemudian ditegaskan oleh Yakub ketika ia "memberkati" anak-anaknya (lihat 49:3–7). Pemisahan diri Yehuda dari saudara-saudaranya mengindikasikan bahwa ia kurang berminat untuk tetap menjadi bagian dari keluarga Yakub, suatu fakta yang diperkuat oleh pernikahannya dengan seorang perempuan Kanaan.

Akan tetapi, dengan berfokus pada putra-putra Yehuda, sang narator memberi isyarat bahwa garis keturunannya sangatlah penting. Kemungkinan ini ditegaskan oleh penyebutan ganda dalam ayat 6–7 bahwa Er adalah anak sulung Yehuda, mengingat motif "anak sulung" memegang peranan penting di dalam kitab Kejadian. Lebih jauh lagi, deskripsi eksplisit mengenai perilaku intim Onan yang menolak memberikan keturunan bagi abangnya yang sulung menyadarkan pembaca yang cermat akan kemungkinan bahwa garis keturunan Yehuda mungkin memiliki peranan dalam mengalahkan dan meremukkan sang ular (bdk. 3:15). Di Timur Dekat Kuno, seorang saudara laki-laki diharapkan menikahi istri almarhum saudaranya (ipar perempuannya / perkawinan levirat) jika perempuan itu menjanda tanpa memiliki anak (lihat Ul. 25:5–10; Rut 1:11–13; Mat. 22:24–25; Luk. 20:28). Hukuman Allah atas Er maupun Onan menghadirkan rintangan besar bagi keberlanjutan garis keturunan utama pihak ayah (patriline). Sikap dingin dan tidak berperasaan Yehuda terhadap menantunya, yang kini telah menjanda dua kali, mengesankan bahwa Tamar tidak akan memainkan peranan apa pun dalam meneruskan garis keturunan keluarga tersebut.


Hubungan Yehuda dan Tamar di Timna (38:12–26)

"Setelah beberapa lama matilah anak Syua, istri Yehuda. Habis berkabung pergilah Yehuda ke Timna, kepada orang-orang yang menggunting bulu domba-dombanya, bersama dengan Hira, sahabatnya, orang Adulam itu.

Ketika dikabarkan kepada Tamar: 'Bapa mertuamu sedang di jalan ke Timna untuk menggunting bulu domba-dombanya,'

maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan berselubung, lalu pergi duduk di pintu masuk ke Enaim yang di jalan ke Timna, karena dilihatnya, bahwa Syela telah menjadi besar, dan dia tidak diberikan juga kepada Syela itu untuk menjadi istrinya.

Ketika Yehuda melihat dia, disangkanyalah dia seorang perempuan sundal, karena ia menutupi mukanya.

Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: 'Marilah, aku mau menghampiri engkau,' sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: 'Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?'

Jawabnya: 'Aku akan mengirimkan kepadamu seekor anak kambing dari kambing dombaku.' Kata perempuan itu: 'Asal engkau memberikan tanggungannya, sampai engkau mengirimkannya kepadaku.'

Tanyanya: 'Apakah tanggungan yang harus kuberikan kepadamu?' Jawab perempuan itu: 'Cap meteraimu serta kalungmu dan tongkat yang ada di tanganmu itu.' Lalu diberikannyalah semuanya itu kepadanya, maka ia menghampirinya. Perempuan itu mengandung dari padanya.

Bangunlah perempuan itu, lalu pergi, ditanggalkannya telekungnya dan dikenakannya pula pakaian kejandaannya.

Adapun Yehuda, ia mengirimkan anak kambing itu dengan perantaraan sahabatnya, orang Adulam itu, untuk mengambil kembali tanggungannya dari tangan perempuan itu, tetapi perempuan itu tidak dijumpainya lagi.

Ia bertanya-tanya di tempat tinggal perempuan itu: 'Di manakah perempuan jalang, yang duduk tadinya di pinggir jalan di Enaim itu?' Jawab mereka: 'Tidak ada di sini perempuan jalang.'

Kembalilah ia kepada Yehuda dan berkata: 'Tidak ada kujumpai dia; dan juga orang-orang di tempat itu berkata: Tidak ada perempuan jalang di sini.'

Lalu berkatalah Yehuda: 'Biarlah barang-barang itu dipegangnya, supaya kita jangan menjadi buah olok-olok orang; sungguhlah anak kambing itu telah kukirimkan, tetapi engkau tidak menjumpai perempuan itu.'

Sesudah kira-kira tiga bulan dikabarkanlah kepada Yehuda: 'Tamar, menantumu, bersundal, bahkan telah mengandung dari persundalannya itu.' Lalu kata Yehuda: 'Bawalah perempuan itu, supaya dibakar.'

Waktu dibawa, perempuan itu menyuruh orang kepada mertuanya mengatakan: 'Dari laki-laki yang empunya barang-barang inilah aku mengandung.' Juga dikatakannya: 'Periksalah, siapa yang empunya cap meterai serta kalung dan tongkat ini?'

Yehuda memeriksa barang-barang itu, lalu berkata: 'Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku.' Dan ia tidak bersetubuh lagi dengan perempuan itu."
Kejadian 38:12–26 (TB2)

38:12–26 Ketika Yehuda mengelak dan menunda untuk memberikan putra ketiganya, Syela, kepada Tamar sebagai suami, Tamar mengambil langkah yang luar biasa tidak lazim demi meneruskan garis keturunan Yehuda. Setelah kematian istrinya, dalam suatu perjalanan jauh dari rumahnya, Yehuda secara tidak pantas bersetubuh dengan seorang perempuan sundal, tanpa menyadari bahwa perempuan itu adalah Tamar yang sedang menyamar.

Ketika kemudian ia mendapati bahwa menantunya hamil akibat persundalan, ia merasa sangat murka dan ingin mengeksekusinya dengan hukuman bakar. Namun, ketika ia dihadapkan secara langsung pada kemunafikannya sendiri—belum lagi kegagalannya sendiri untuk menyediakan suami bagi Tamar—Yehuda mengakui bahwa tindakan Tamar lebih benar daripada dirinya. Intervensi Tamar yang tidak konvensional ini memberikan dampak yang mendalam bagi Yehuda. Berkat tindakan Tamar tersebut, karakter Yehuda mengalami transformasi besar. Ketika ia muncul kembali di bagian-bagian selanjutnya dalam kitab Kejadian, ia bertindak dengan cara yang sangat berbeda.


Kelahiran Peres dan Zerah (38:27–30)

"Pada waktu perempuan itu hendak bersalin, nyatalah ada anak kembar dalam kandungannya.

Dan ketika ia bersalin, seorang dari anak itu mengeluarkan tangannya, lalu dipegang oleh bidan, diikatnya dengan benang kirmizi serta berkata: 'Inilah yang lebih dahulu keluar.'

Ketika anak itu menarik tangannya kembali, keluarlah saudaranya laki-laki, dan bidan itu berkata: 'Alangkah kuatnya engkau menembus ke luar,' maka anak itu dinamai Peres.

Sesudah itu keluarlah saudaranya laki-laki yang tangannya telah berikat benang kirmizi itu, lalu kepadanya diberi nama Zerah."
Kejadian 38:27–30 (TB2)

38:27–30 Sang narator menyimpulkan kisahnya mengenai hubungan Yehuda dengan Tamar dengan mencatat kelahiran anak kembar mereka. Guna menghindari kerancuan saat Tamar bersalin, sang bidan mengikatkan seutas benang kirmizi pada pergelangan tangan bayi yang pertama kali muncul dan menandai bayi tersebut sebagai anak sulung. Namun, di luar dugaan, tangan itu ditarik kembali ke dalam, dan bayi yang lain justru keluar terlebih dahulu dari rahim Tamar. Peristiwa yang ganjil ini merupakan contoh berikutnya di dalam kitab Kejadian di mana seorang anak sulung dilewati atau didahului oleh adik laki-lakinya.

Yang terpenting, Peres—anak kembar yang menerobos keluar lebih dahulu—menegakkan suatu garis keturunan pihak ayah (patriline) yang bermuara pada Raja Daud (lihat Rut 4:18–22). Garis keturunan Daud ini pada akhirnya memuncak pada Yesus Kristus (lihat Mat. 1:2–17). Di kemudian hari dalam kitab Kejadian, ketika Yakub berbicara kepada anak-anaknya menjelang ajalnya, berkatnya atas Yehuda memuat pengharapan-pengharapan mesianis kerajaan (royal/messianic expectations; 49:8–12).

Dengan menempatkan narasi yang berfokus pada Yusuf (psl. 37) dan narasi yang berfokus pada Yehuda (psl. 38) secara berdampingan, narator kitab Kejadian membuka kemungkinan bahwa sosok yang akan mengalahkan dan meremukkan sang ular dapat berasal dari keturunan Yusuf maupun keturunan Yehuda. Meskipun garis keturunan Yusuf melalui Efraim pada awalnya menikmati keunggulan dan kedudukan terkemuka, Allah pada akhirnya menolaknya ketika Dia memilih Daud dari suku Yehuda untuk menjadi raja atas Israel (lihat Mzm. 78:67–72). Walaupun Tamar bertindak dengan cara yang sangat tidak konvensional, ia dipuji karena tekadnya yang teguh untuk mempertahankan dan meneruskan garis keturunan keluarga Yehuda. Ia merupakan salah satu dari hanya tiga perempuan yang disebutkan namanya dalam silsilah Yesus di Injil Matius (Mat. 1:3).

Yusuf dan Istri Potifar (39:1–23)


Kedatangan Yusuf di Mesir (39:1)

"Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ."
Kejadian 39:1 (TB2)

39:1 Dengan sebagian besar mengulang kembali 37:36, ayat ini melanjutkan kisah kedatangan Yusuf di Mesir.


TUHAN Menyertai dan Memberkati Yusuf di Rumah Potifar (39:2–6a)

"Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.

Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,

maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.

Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.

Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa pun selain dari makanannya sendiri."
Kejadian 39:2–6a (TB2)

39:2–6a Pernyataan bahwa "TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya" (ay. 2) menetapkan nada dasar bagi seluruh kisah selanjutnya. Meskipun sebutan "TUHAN" (Yahweh) jarang muncul di sepanjang 37:2–50:26, nama "TUHAN" disebutkan sebanyak lima kali dalam ayat 2–5. Keberhasilan Yusuf di Mesir secara gamblang diatribusikan kepada Allah, yang memberkati orang lain oleh karena Yusuf. Penyebutan ganda mengenai berkat dalam ayat 5 mengingatkan kembali pada janji Allah kepada Abraham bahwa melalui keturunannya segala kaum di muka bumi akan mendapat berkat (12:3). Sebagaimana TUHAN memberkati orang lain melalui Yakub (30:27), kini Dia melakukannya melalui Yusuf. Motif berkat ini berkaitan erat dengan tokoh-tokoh dalam garis keturunan utama pihak ayah (central patriline) di dalam kitab Kejadian. Kendati telah dijual sebagai budak ke Mesir, TUHAN memampukan Yusuf beroleh kasih dan perkenanan di mata Potifar, yang berujung pada pengangkatannya untuk memegang kedudukan tinggi di dalam rumah tangga Potifar.


Yusuf Menolak Godaan Istri Potifar (39:6b–9)

"Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya.

Selang beberapa waktu istri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: 'Marilah tidur dengan aku.'

Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada istri tuannya itu: 'Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku,

bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tidak ada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau istrinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?'"
Kejadian 39:6b–9 (TB2)

39:6b–9 Oleh karena penampilannya yang elok dan tampan, istri Potifar terpikat kepada Yusuf, seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh tahun (Yusuf digambarkan berumur tujuh belas tahun dalam 37:2). Kendati perempuan itu berulang kali berupaya memikat dan membujuknya, Yusuf tetap setia kepada tuannya, Potifar. Ia memandang perzinaan sebagai "kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah" (ay. 9). Integritas Yusuf berakar kuat pada kerinduannya untuk tidak berbuat dosa dan mendukakan hati Allah.


Fitnah Istri Potifar terhadap Yusuf (39:10–19)

"Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.

Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorang pun tidak ada di rumah.

Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: 'Marilah tidur dengan aku.' Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar.

Ketika dilihat perempuan itu, bahwa Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangannya dan telah lari ke luar,

dipanggilnyalah seisi rumah itu, lalu katanya kepada mereka: 'Lihat, dibawanya ke mari seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku berteriak-teriak dengan suara keras.

Dan ketika didengarnya bahwa aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannyalah bajunya padaku, lalu ia lari ke luar.'

Juga ditaruhnya baju Yusuf itu di sisinya, sampai tuan rumah pulang.

Perkataan itu jugalah yang diceritakan perempuan itu kepada Potifar, katanya: 'Hamba orang Ibrani yang kaubawa ke mari itu datang kepadaku untuk mempermainkan aku.

Tetapi ketika aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannya bajunya padaku, lalu ia lari ke luar.'

Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan istrinya kepadanya: 'Begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu,' maka bangkitlah amarahnya."
Kejadian 39:10–19 (TB2)

39:10–19 Istri Potifar gigih mengejar dan merayu Yusuf tanpa henti. Ketika ia mencengkeram jubah/baju Yusuf demi memaksanya tidur bersamanya, Yusuf melarikan diri ke luar dan meninggalkan pakaiannya di tangan perempuan itu. Merasa ditolak dan tersinggung, perempuan itu membalas dendam kepada Yusuf. Ia mengumpulkan para pelayan rumah tangganya dan menuduh Yusuf telah mencoba mempermainkannya / melakukan pelecehan terhadapnya. Ia kemudian mengulangi tuduhannya tersebut kepada suaminya, secara tidak langsung menyiratkan bahwa Potifar turut bersalah atas apa yang terjadi karena dialah yang membawa Yusuf ke dalam rumah tangga mereka. Dengan menyebut Yusuf sebagai "hamba orang Ibrani" (ay. 17), istri Potifar menekankan status asing Yusuf, yang kemungkinan mengeksploitasi kekhawatiran atau prasangka xenofobia yang mungkin dimiliki suaminya. Ia memanipulasi Potifar lebih jauh lagi dengan menyebut Yusuf sebagai "hambamu" (ay. 19).


Yusuf Dipenjarakan dan Disertai TUHAN (39:20–23)

"Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.

Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.

Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.

Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil."
Kejadian 39:20–23 (TB2)

39:20–23 Terhasut oleh kebohongan istrinya, Potifar memenjarakan Yusuf. Kedudukan Potifar sebagai "kepala pengawal raja" (39:1) menjelaskan mengapa Yusuf ditahan di tempat "tahanan-tahanan raja dikurung" (ay. 20). Penempatan ini terbukti merupakan bagian dari penyelenggaraan ilahi (providential), sebab hal itu kelak mempertemukan Yusuf dengan kepala juru minuman raja (lihat 41:9–13). Deskripsi singkat mengenai pengalaman Yusuf di dalam penjara menggemakan kembali 39:2–6. Sebagaimana di rumah Potifar, TUHAN menyertai Yusuf, mengaruniakan kepadanya kasih dan perkenanan di mata orang lain, serta membuat berhasil apa pun yang dikerjakannya.

Yusuf Mengartikan Mimpi Pegawai Istana di Penjara (40:1–23)


Penahanan Kepala Juru Minuman dan Kepala Juru Roti (40:1–4)

"Sesudah semuanya itu terjadilah, bahwa juru minuman raja Mesir dan juru rotinya membuat kesalahan terhadap tuannya, raja Mesir itu,

maka murkalah Firaun kepada kedua pegawai istananya, kepala juru minuman dan kepala juru roti itu.

Ia menahan mereka dalam rumah kepala pengawal raja, dalam penjara tempat Yusuf dikurung.

Kepala pengawal raja menempatkan Yusuf bersama-sama dengan mereka untuk melayani mereka. Demikianlah mereka ditahan beberapa waktu lamanya."
Kejadian 40:1–4 (TB2)

40:1–4 Sebagai pelayan istana, kepala juru minuman dan kepala juru roti menikmati kedudukan yang istimewa di dalam istana kerajaan Mesir, mengingat mereka bertanggung jawab menyediakan makanan dan minuman bagi raja. Namun, mereka berbuat salah terhadap raja, dan kini mereka ditahan di penjara tempat Yusuf telah berada. Istilah Ibrani yang diterjemahkan sebagai "pegawai istana" (ay. 2; saris) juga digunakan untuk mendeskripsikan Potifar (37:36; 39:1), yang mungkin menjelaskan mengapa juru minuman dan juru roti tersebut diperlakukan dengan penuh rasa hormat di dalam penjara. Yusuf ditugaskan untuk melayani mereka oleh "kepala pengawal raja", yang kemungkinan adalah Potifar (lihat 37:36; 39:1), atau lebih mungkin lagi seorang pejabat istana lain yang berkedudukan setara.


Mimpi Kedua Pegawai Istana dan Pengakuan Yusuf tentang Allah (40:5–8)

"Pada suatu kali bermimpilah mereka keduanya — baik juru minuman maupun juru roti raja Mesir, yang ditahan dalam penjara itu — masing-masing ada mimpinya, pada satu malam juga, dan mimpi masing-masing itu ada artinya sendiri.

Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati.

Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: 'Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?'

Jawab mereka kepadanya: 'Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya.' Lalu kata Yusuf kepada mereka: 'Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku.'"
Kejadian 40:5–8 (TB2)

40:5–8 Juru minuman dan juru roti itu sangat gelisah karena mimpi-mimpi mereka, yang mereka pahami sebagai penyingkapan sesuatu yang penting. Namun, oleh karena pemenjaraan mereka, mereka tidak memiliki akses kepada para imam ahli sihir atau orang-orang berilmu yang dapat menafsirkan mimpi-mimpi tersebut (bdk. 41:8). Tanggapan Yusuf sangat patut diperhatikan karena mencerminkan komitmennya yang teguh kepada Allah; hanya Allah yang sanggup menerangkan arti mimpi.


Yusuf Mengartikan Mimpi Juru Minuman dan Juru Roti (40:9–19)

"Kemudian juru minuman itu menceritakan mimpinya kepada Yusuf, katanya: 'Dalam mimpiku itu tampak ada pohon anggur di depanku.

Pohon anggur itu ada tiga carangnya dan baru saja pohon itu bertunas, bunganya sudah keluar dan tandan-tandannya penuh buah anggur yang ranum.

Dan di tanganku ada piala Firaun. Buah anggur itu kuambil, lalu kuperas ke dalam piala Firaun, kemudian kusampaikan piala itu ke tangan Firaun.'

Kata Yusuf kepadanya: 'Beginilah arti mimpi itu: ketiga carang itu artinya tiga hari;

dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau dan mengembalikan engkau ke dalam pangkatmu yang dahulu dan engkau akan menyampaikan piala ke tangan Firaun seperti dahulu kala, ketika engkau jadi juru minumannya.

Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini.

Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sini pun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini.'

Setelah dilihat oleh kepala juru roti, betapa baik arti mimpi itu, berkatalah ia kepadanya: 'Aku pun bermimpi juga. Tampak aku menjunjung tiga bakul berisi penganan.

Dalam bakul atas ada berbagai-bagai makanan untuk Firaun, buatan juru roti, tetapi burung-burung memakannya dari dalam bakul yang di atas kepalaku.'

Yusuf menjawab: 'Beginilah arti mimpi itu: ketiga bakul itu artinya tiga hari;

dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau, tinggi ke atas, dan menggantung engkau pada sebuah tiang, dan burung-burung akan memakan dagingmu dari tubuhmu.'"
Kejadian 40:9–19 (TB2)

40:9–19 Mimpi kedua orang tersebut memiliki ciri-ciri serupa, namun menyampaikan akibat yang sangat bertolak belakang. Kedua mimpi tersebut menekankan angka tiga, yang diartikan oleh Yusuf sebagai penunjuk tiga hari. Mimpi kedua orang itu sama-sama melibatkan tindakan Firaun yang "meninggikan kepala" mereka (ay. 13, 19), tetapi dengan makna kiasan yang sangat berbeda. Dalam kasus juru minuman, ia akan dipulihkan ke jabatannya semula di dalam istana kerajaan. Sedangkan dalam kasus juru roti, ia akan dieksekusi dengan cara dipenggal kepalanya. Setelah memberitahukan kepada juru minuman mengenai pemulihan kedudukannya di hadapan raja, Yusuf memohon agar dirinya diingat, seraya menegaskan perlakuan tidak adil yang telah menyebabkannya dipenjarakan. Yusuf berharap pengalaman juru minuman tersebut akan membuatnya berbelaskasihan terhadap kesengsaraannya. Kemampuan Yusuf untuk mengartikan mimpi-mimpi itu dengan tepat—yang secara tidak langsung diatribusikan kepada penyertaan dan kehadiran Allah bersamanya—kelak akan memainkan peranan penting dalam pembebasannya dari penjara.


Penggenapan Arti Mimpi dan Dilupakannya Yusuf (40:20–23)

"Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya:

kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Firaun;

tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka.

Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya."
Kejadian 40:20–23 (TB2)

40:20–23 Ayat-ayat ini menggambarkan penggenapan kedua mimpi tersebut, persis sebagaimana yang telah diperkirakan oleh Yusuf. Hari kelahiran Firaun kemungkinan besar mengacu pada hari peringatan penobatannya sebagai raja, suatu peristiwa istimewa. Terlepas dari permohonan Yusuf, kepala juru minuman itu tidak mengingatnya; sebaliknya, ia melupakan dirinya (ay. 23).

Yusuf Mengartikan Mimpi Firaun (41:1–57)


Dua Mimpi Firaun (41:1–7)

"Setelah lewat dua tahun lamanya, bermimpilah Firaun, bahwa ia berdiri di tepi sungai Nil.

Tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk badannya; lalu memakan rumput yang di tepi sungai itu.

Kemudian tampaklah juga tujuh ekor lembu yang lain, yang keluar dari dalam sungai Nil itu, buruk bangunnya dan kurus badannya, lalu berdiri di samping lembu-lembu yang tadi, di tepi sungai itu.

Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu. Lalu terjagalah Firaun.

Setelah itu tertidur pulalah ia dan bermimpi kedua kalinya: Tampak timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang bernas dan baik.

Tetapi kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bulir gandum yang kurus dan layu oleh angin timur.

Bulir yang kurus itu menelan ketujuh bulir yang bernas dan berisi tadi. Lalu terjagalah Firaun. Agaknya ia bermimpi!"
Kejadian 41:1–7 (TB2)

41:1–7 Setelah pembebasan kepala juru minuman, Yusuf tetap tinggal di dalam penjara selama dua tahun lagi. Kini usianya sekitar tiga puluh tahun. Kedua mimpi Firaun memiliki ciri-ciri yang berpadanan dan berpola serupa.


Kegelisahan Firaun dan Ingatan Kepala Juru Minuman (41:8–13)

"Pada waktu pagi gelisahlah hatinya, lalu disuruhnyalah memanggil semua ahli dan semua orang berilmu di Mesir. Firaun menceritakan mimpinya kepada mereka, tetapi seorang pun tidak ada yang dapat mengartikannya kepadanya.

Lalu berkatalah kepala juru minuman kepada Firaun: 'Hari ini aku merasa perlu menyebutkan kesalahanku yang dahulu.

Waktu itu tuanku Firaun murka kepada pegawai-pegawainya, dan menahan aku dalam rumah kepala pengawal istana, beserta dengan kepala juru roti.

Pada satu malam juga kami bermimpi, aku dan kepala juru roti itu; masing-masing mempunyai mimpi dengan artinya sendiri.

Bersama-sama dengan kami ada di sana seorang muda Ibrani, hamba kepala pengawal istana itu; kami menceritakan mimpi kami kepadanya, lalu diartikannya kepada kami mimpi kami masing-masing.

Dan seperti yang diartikannya itu kepada kami, demikianlah pula terjadi: aku dikembalikan ke dalam jabatanku, dan kepala juru roti itu digantung.'"
Kejadian 41:8–13 (TB2)

41:8–13 Gelisah oleh mimpi-mimpinya, Firaun mencari tafsirannya. Istilah Ibrani yang diterjemahkan sebagai "ahli" merujuk kepada para imam ahli sihir. Di Mesir kuno, praktik keagamaan dijalankan oleh para imam yang mempelajari teks-teks ritual dan magis. Dalam kisah keluaran bangsa Israel dari Mesir, para imam ahli sihir meniru dua tanda mukjizat yang dilakukan oleh Musa dan Harun di hadapan Firaun di kemudian hari (Kel. 7:11, 22; 8:7). Ketika para imam dan orang berilmu tersebut gagal mengartikan mimpi-mimpi Firaun, kepala juru minuman teringat saat Yusuf mengartikan mimpinya dan mimpi kepala juru roti.


Yusuf Dihadapkan kepada Firaun (41:14–16)

"Kemudian Firaun menyuruh memanggil Yusuf. Segeralah ia dikeluarkan dari liang tutupan; ia bercukur dan berganti pakaian, lalu pergi menghadap Firaun.

Berkatalah Firaun kepada Yusuf: 'Aku telah bermimpi, dan seorang pun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau: hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya.'

Yusuf menjawab Firaun: 'Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun.'"
Kejadian 41:14–16 (TB2)

41:14–16 Dengan tergesa-gesa dan persiapan yang selayaknya, Yusuf dibawa menghadap Firaun. Deskripsi singkat mengenai proses saat Yusuf dikeluarkan dari liang tutupan dan diberi pakaian mengingatkan kembali pada peristiwa bertahun-tahun sebelumnya ketika saudara-saudaranya menanggalkan jubahnya dan mencampakkannya ke dalam sumur (37:23–24). Istilah Ibrani yang sama digunakan untuk merujuk pada "sumur" tempat saudara-saudara Yusuf mencampakkannya dan "liang tutupan" tempat ia dipenjarakan. Pembebasan Yusuf dari penjara menandai pembalikan keadaan yang sangat penting dalam hidupnya. Ketika ditanya dan ditantang oleh raja Mesir mengenai kemampuannya mengartikan mimpi, Yusuf, seperti sebelumnya, menegaskan bahwa hanya Allah yang sanggup mengartikannya (lihat 40:8).


Firaun Menceritakan Mimpi-mimpinya (41:17–24)

"Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: 'Dalam mimpiku itu, aku berdiri di tepi sungai Nil;

lalu tampaklah dari sungai Nil itu keluar tujuh ekor lembu yang gemuk badannya dan indah bentuknya, dan makan rumput yang di tepi sungai itu.

Tetapi kemudian tampaklah juga keluar tujuh ekor lembu yang lain, kulit pemalut tulang, sangat buruk bangunnya dan kurus badannya; tidak pernah kulihat yang seburuk itu di seluruh tanah Mesir.

Lembu yang kurus dan buruk itu memakan ketujuh ekor lembu gemuk yang mula-mula.

Lembu-lembu ini masuk ke dalam perutnya, tetapi walaupun telah masuk ke dalam perutnya, tidaklah kelihatan sedikit pun tandanya: bangunnya tetap sama buruknya seperti semula. Lalu terjagalah aku.

Selanjutnya dalam mimpiku itu kulihat timbul dari satu tangkai tujuh bulir gandum yang berisi dan baik.

Tetapi kemudian tampaklah juga tumbuh tujuh bulir yang kering, kurus dan layu oleh angin timur.

Bulir yang kurus itu memakan ketujuh bulir yang baik tadi. Telah kuceritakan hal ini kepada semua ahli, tetapi seorang pun tidak ada yang dapat menerangkannya kepadaku.'"
Kejadian 41:17–24 (TB2)

41:17–24 Firaun menceritakan kembali mimpi-mimpinya. Dengan mengulang apa yang telah dicatat sebelumnya dalam 41:1–7, arti penting mimpi-mimpi tersebut makin ditekankan. Komentar tambahan dari Firaun mengenai lembu-lembu yang buruk rupa menegaskan betapa mengerikannya tampilan lembu-lembu tersebut. Dengan menceritakan kembali mimpi-mimpi itu secara utuh, terbangun unsur ketegangan saat pembaca, sama seperti Firaun, menantikan tafsirannya.


Yusuf Mengartikan Mimpi dan Mengusulkan Rencana (41:25–36)

"Lalu kata Yusuf kepada Firaun: 'Kedua mimpi tuanku Firaun itu sama. Allah telah memberitahukan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya.

Ketujuh ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan ketujuh bulir gandum yang baik itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama.

Ketujuh ekor lembu yang kurus dan buruk, yang keluar kemudian, maksudnya tujuh tahun, demikian pula ketujuh bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu; maksudnya akan ada tujuh tahun kelaparan.

Inilah maksud perkataanku, ketika aku berkata kepada tuanku Firaun: Allah telah memperlihatkan kepada tuanku Firaun apa yang hendak dilakukan-Nya.

Ketahuilah tuanku, akan datang tujuh tahun kelimpahan di seluruh tanah Mesir.

Kemudian akan timbul tujuh tahun kelaparan; maka akan dilupakan segala kelimpahan itu di tanah Mesir, karena kelaparan itu menguruskeringkan negeri ini.

Sesudah itu akan tidak kelihatan lagi bekas-bekas kelimpahan di negeri ini karena kelaparan itu, sebab sangat hebatnya kelaparan itu.

Sampai dua kali mimpi itu diulangi bagi tuanku Firaun berarti: hal itu telah ditetapkan oleh Allah dan Allah akan segera melakukannya.

Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir.

Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir.

Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya.

Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu.'"
Kejadian 41:25–36 (TB2)

41:25–36 Saat mengartikan mimpi-mimpi tersebut, Yusuf memberitahukan kepada Firaun bahwa Allah telah menyingkapkan apa yang hendak dilakukan-Nya dalam waktu dekat (ay. 25, 28, 32). Untuk mengantisipasi masa tujuh tahun kelaparan, Yusuf mengajukan suatu rencana kepada Firaun untuk menyimpan gandum selama tujuh tahun masa kelimpahan.


Yusuf Diangkat Menjadi Penguasa di Mesir (41:37–45)

"Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya.

Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: 'Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?'

Kata Firaun kepada Yusuf: 'Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.

Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu.'

Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: 'Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.'

Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya.

Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: 'Hormat!' Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.

Berkatalah Firaun kepada Yusuf: 'Akulah Firaun, tetapi tanpa persetujuanmu, seorang pun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir.'

Lalu Firaun menamai Yusuf: Zafnat-Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi istrinya. Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir."
Kejadian 41:37–45 (TB2)

41:37–45 Penilaian Firaun atas kemampuan Yusuf dalam mengartikan mimpinya berpusat pada fakta bahwa Yusuf adalah seseorang yang di dalamnya "penuh dengan Roh Allah" (ay. 38). Meskipun raja Mesir itu mungkin tidak sepenuhnya memahami signifikansi teologis yang utuh dari apa yang diucapkannya, ia mengakui pentingnya hubungan Yusuf dengan Allah. Di bagian lain dalam Perjanjian Lama, Bezaleel dipenuhi oleh "Roh Allah" untuk mengawasi pembangunan tempat kudus yang dapat dipindah-pindahkan (Kel. 31:3; 35:31), dan berbagai tokoh dipenuhi oleh "Roh TUHAN" untuk menjadi para pemimpin (mis. Hak. 3:10; 11:29; 13:25; 1Sam. 10:6; 16:13).

Kata benda Ibrani yang diterjemahkan sebagai "istana" dalam ayat 40 di tempat lain diterjemahkan sebagai "rumah". Untuk ketiga kalinya Yusuf diserahi tanggung jawab atas suatu "rumah" di Mesir (lihat 39:4, 22–23). Kemampuan alami Yusuf dalam menjalankan pengawasan dan kepemimpinan selaras dengan harapan-harapan yang terkait dengan garis keturunan bapa leluhur yang terhubung dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Sebelumnya, pakaian Yusuf direnggut oleh saudara-saudaranya ketika ia menjadi budak dan oleh istri Potifar ketika ia dijebloskan ke penjara (37:23; 39:12). Namun pada kesempatan ini, Yusuf dikenakan jubah dari kain halus, sebuah simbol penunjukannya sebagai wakil Firaun. Setelah melantik Yusuf untuk memerintah atas Mesir, Firaun mengambil berbagai langkah untuk mengintegrasikan Yusuf ke dalam kehidupan dan kebudayaan Mesir. Akibatnya, ketika kelak saudara-saudaranya bertemu dengan Yusuf, mereka tidak menyadari bahwa ia adalah orang Ibrani.


Masa Kelimpahan dan Kelahiran Anak-Anak Yusuf (41:46–52)

"Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir.

Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu,

maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu.

Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung.

Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On.

Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: 'Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.'

Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: 'Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku.'"
Kejadian 41:46–52 (TB2)

41:46–52 Nama-nama anak laki-laki Yusuf mencerminkan keadaan hidupnya yang telah berubah. Nama Manasye berbunyi mirip dengan kata Ibrani yang berarti "lupa"; Yusuf berusaha meninggalkan kepedihan dan kesukaran masa lalu di belakangnya. Nama Efraim mengingatkan pada istilah Ibrani yang berarti "berbuah"; sebagaimana diakui Yusuf, Allah telah membuatnya berbuah di negeri kesengsaraannya. Dalam penamaan kedua anak laki-lakinya, Yusuf merujuk kepada Allah. Kendati ia menikah dengan anak perempuan seorang imam Mesir, Yusuf tidak meninggalkan Allah nenek moyangnya. Sebaliknya, ia melihat tangan Allah dalam segala hal yang telah terjadi atas dirinya.


Tujuh Tahun Kelaparan Melanda (41:53–57)

"Setelah lewat ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir itu,

mulailah datang tujuh tahun kelaparan, seperti yang telah dikatakan Yusuf; dalam segala negeri ada kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti.

Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: 'Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu.'

Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir.

Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi."
Kejadian 41:53–57 (TB2)

41:53–57 Persis sebagaimana yang telah diperkirakan oleh Yusuf, tujuh tahun masa kelimpahan disusul oleh tujuh tahun masa kelaparan. Ketika bencana kelaparan mengakibatkan kelangkaan makanan, Firaun memerintahkan rakyatnya untuk pergi kepada Yusuf. Pengawasan Yusuf atas gandum yang telah disimpan menjadi latar panggung bagi pertemuannya dengan saudara-saudaranya. Saat krisis pangan ini berdampak pada negeri-negeri di sekitarnya, keluarga Yusuf nantinya akan datang ke Mesir untuk mencari gandum.

Perjalanan Pertama Saudara-Saudara Yusuf ke Mesir (42:1–38)


Yakub Mengutus Anak-Anaknya ke Mesir (42:1–5)

"Setelah Yakub mendapat kabar, bahwa ada gandum di Mesir, berkatalah ia kepada anak-anaknya: 'Mengapa kamu berpandang-pandangan saja?'

Lagi katanya: 'Telah kudengar, bahwa ada gandum di Mesir; pergilah ke sana dan belilah gandum di sana untuk kita, supaya kita tetap hidup dan jangan mati.'

Lalu pergilah sepuluh orang saudara Yusuf untuk membeli gandum di Mesir.

Tetapi Yakub tidak membiarkan Benyamin, adik Yusuf, pergi bersama-sama dengan saudara-saudaranya, sebab pikirnya: 'Jangan-jangan ia ditimpa kecelakaan nanti.'

Jadi di antara orang yang datang membeli gandum terdapatlah juga anak-anak Israel, sebab ada kelaparan di tanah Kanaan."
Kejadian 42:1–5 (TB2)

42:1–5 Akibat hebatnya kelaparan di Kanaan, Yakub mengutus sepuluh anaknya ke Mesir untuk membeli gandum. Benyamin tetap tinggal bersama ayahnya, yang khawatir bahwa malapetaka yang mengerikan akan menimpa anak bungsunya itu sebagaimana yang telah terjadi pada Yusuf. Kekhawatiran Yakub terhadap Benyamin menjadi persoalan penting dalam narasi selanjutnya.


Pertemuan Yusuf dengan Saudara-saudaranya dan Pengujian Awal (42:6–17)

"Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat negeri itu. Jadi ketika saudara-saudara Yusuf datang, kepadanyalah mereka menghadap dan sujud dengan mukanya sampai ke tanah.

Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka; ia menegor mereka dengan membentak, katanya: 'Dari mana kamu?' Jawab mereka: 'Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan.'

Memang Yusuf mengenal saudara-saudaranya itu, tetapi dia tidak dikenal mereka.

Lalu teringatlah Yusuf akan mimpi-mimpinya tentang mereka. Berkatalah ia kepada mereka: 'Kamu ini pengintai, kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga.'

Tetapi jawab mereka: 'Tidak tuanku! Hanyalah untuk membeli bahan makanan hamba-hambamu ini datang.

Kami ini sekalian anak dari satu ayah; kami ini orang jujur; hamba-hambamu ini bukanlah pengintai.'

Tetapi ia berkata kepada mereka: 'Tidak! Kamu datang untuk melihat-lihat di mana negeri ini tidak dijaga.'

Lalu jawab mereka: 'Hamba-hambamu ini dua belas orang, kami bersaudara, anak dari satu ayah di tanah Kanaan, tetapi yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi.'

Lalu kata Yusuf kepada mereka: 'Sudahlah! Seperti telah kukatakan kepadamu tadi: kamu ini pengintai.

Dalam hal ini juga kamu harus diuji: demi hidup Firaun, kamu tidak akan pergi dari sini, jika saudaramu yang bungsu itu tidak datang ke mari.

Suruhlah seorang dari padamu untuk menjemput adikmu itu, tetapi kamu ini harus tinggal terkurung di sini. Dengan demikian perkataanmu dapat diuji, apakah benar, dan jika tidak, demi hidup Firaun, sungguh-sungguhlah kamu ini pengintai.'

Dan dimasukkannyalah mereka bersama-sama ke dalam tahanan tiga hari lamanya."
Kejadian 42:6–17 (TB2)

42:6–17 Saudara-saudara Yusuf berhadapan dengannya di Mesir tetapi gagal mengenalinya. Mereka tidak memiliki alasan untuk menduga bahwa sang "mangkubumi di negeri itu" (ay. 6) adalah saudara mereka, yang telah mereka jual ke dalam perbudakan dua puluh tahun sebelumnya. Saat mereka sujud menyembah di hadapannya, Yusuf teringat akan mimpi-mimpi masa remajanya (37:5–11). Kendati ia mengenali saudara-saudaranya, Yusuf menyembunyikan identitasnya dan berbicara kepada mereka melalui seorang juru bahasa (42:23). Yusuf ingin menyelidiki keadaan batiniah mereka: Apakah mereka telah berubah selama bertahun-tahun ini? Apakah mereka kini akan bertindak seperti yang mereka lakukan di masa lampau? Dengan menuduh mereka sebagai para pengintai, Yusuf memancing mereka untuk menyingkapkan identitas mereka yang sebenarnya. Ketika mereka berkata kepada Yusuf, "yang bungsu sekarang ada pada ayah kami, dan seorang sudah tidak ada lagi" (ay. 13), perkataan mereka sarat dengan ironi, sebab orang yang "sudah tidak ada lagi" itu justru sedang berdiri di hadapan mereka. Ketika mereka menyingkapkan bahwa adik bungsu mereka berada bersama ayah mereka di Kanaan, Yusuf memanfaatkan kesempatan itu untuk menguji integritas saudara-saudaranya. Salah seorang dari mereka harus kembali ke Kanaan dan membawa adik bungsu mereka ke Mesir. Namun, sebelum menyuruh salah seorang saudara kembali ke Kanaan, Yusuf menahan mereka semua di dalam penjara selama tiga hari.


Usulan Baru Yusuf dan Pengakuan Dosa Saudara-Saudaranya (42:18–28)

"Pada hari yang ketiga berkatalah Yusuf kepada mereka: 'Buatlah begini, maka kamu akan tetap hidup, aku takut akan Allah.

Jika kamu orang jujur, biarkanlah dari kamu bersaudara tinggal seorang terkurung dalam rumah tahanan, tetapi pergilah kamu, bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu.

Tetapi saudaramu yang bungsu itu haruslah kamu bawa kepadaku, supaya perkataanmu itu ternyata benar dan kamu jangan mati.' Demikianlah diperbuat mereka.

Mereka berkata seorang kepada yang lain: 'Betul-betullah kita menanggung akibat dosa kita terhadap adik kita itu: bukankah kita melihat bagaimana sesak hatinya, ketika ia memohon belas kasihan kepada kita, tetapi kita tidak mendengarkan permohonannya. Itulah sebabnya kesesakan ini menimpa kita.'

Lalu Ruben menjawab mereka: 'Bukankah dahulu kukatakan kepadamu: Janganlah kamu berbuat dosa terhadap anak itu! Tetapi kamu tidak mendengarkan perkataanku. Sekarang darahnya dituntut dari pada kita.'

Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Yusuf mengerti perkataan mereka, sebab mereka memakai seorang juru bahasa.

Maka Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis. Kemudian ia kembali kepada mereka dan berkata-kata dengan mereka; ia mengambil Simeon dari antara mereka; lalu disuruh belenggu di depan mata mereka.

Sesudah itu Yusuf memerintahkan, bahwa tempat gandum mereka akan diisi dengan gandum dan bahwa uang mereka masing-masing akan dikembalikan ke dalam karungnya, serta bekal mereka di jalan akan diberikan kepada mereka. Demikianlah dilakukan orang kepada mereka itu.

Sesudah itu mereka pun memuat gandum itu ke atas keledai mereka, lalu berangkat dari situ.

Ketika seorang membuka karungnya untuk memberi makan keledainya di tempat bermalam, dilihatnyalah uangnya ada di dalam mulut karungnya.

Katanya kepada saudara-saudaranya: 'Uangku dikembalikan; lihat, ada dalam karungku!' Lalu hati mereka menjadi tawar dan mereka berpandang-pandangan dengan gemetar serta berkata: 'Apakah juga yang diperbuat Allah terhadap kita!'"
Kejadian 42:18–28 (TB2)

42:18–28 Pada hari yang ketiga, Yusuf mendatangi saudara-saudaranya yang tidak menaruh curiga dengan usulan yang lebih lunak. Ia memberi kesempatan kepada sembilan orang di antara mereka untuk pulang ke rumah. Di hadapannya, ia mendengar saudara-saudaranya berbicara satu sama lain dalam bahasa Ibrani. Mereka menduga bahwa kini mereka sedang dihukum karena telah memperlakukan Yusuf dengan kejam. Pengakuan mereka menyentuh emosi Yusuf secara mendalam. Mungkin karena dipengaruhi oleh ucapan Ruben (ay. 22), Yusuf tidak memilih anak sulung tersebut untuk tetap tinggal di Mesir. Sebaliknya, ia memilih Simeon, anak tertua kedua. Dengan menahan seorang saudara di Mesir, Yusuf secara cerdik menciptakan kembali situasi yang terjadi dua puluh tahun sebelumnya ketika saudara-saudaranya mengirim dia ke Mesir. Akankah kesembilan saudara itu kembali kepada ayah mereka lalu membohonginya perihal ketidakhadiran Simeon? Mungkin karena teringat bahwa saudara-saudaranya dahulu menjualnya demi uang, Yusuf secara diam-diam mengatur agar uang yang mereka bawa untuk membayar gandum dikembalikan ke dalam karung-karung mereka. Tanpa mengetahui petunjuk Yusuf tersebut, saudara-saudaranya dipenuhi ketakutan ketika salah seorang dari mereka mendapati peraknya di dalam karung gandum. Mereka merasa bahwa Allah mungkin sedang bertindak menghukum mereka (ay. 28; bdk. ay. 21).


Laporan kepada Yakub dan Keengganan Melepaskan Benyamin (42:29–38)

"Ketika mereka sampai kepada Yakub, ayah mereka, di tanah Kanaan, mereka menceritakan segala sesuatu yang dialaminya, katanya:

'Orang itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, telah menegor kami dengan membentak dan memperlakukan kami sebagai pengintai negeri itu.

Tetapi kata kami kepadanya: Kami orang jujur, kami bukan pengintai.

Kami dua belas orang bersaudara, anak-anak ayah kami; seorang sudah tidak ada lagi, dan yang bungsu ada sekarang pada ayah kami, di tanah Kanaan.

Lalu kata orang itu, yakni yang menjadi tuan atas negeri itu, kepada kami: Dari hal ini aku akan tahu, apakah kamu orang jujur: dari kamu bersaudara haruslah kamu tinggalkan seorang padaku; kemudian bawalah gandum untuk meredakan lapar seisi rumahmu dan pergilah;

lalu bawalah kepadaku saudaramu yang bungsu itu, maka aku akan tahu, bahwa kamu bukan pengintai, tetapi orang jujur; dan aku akan mengembalikan saudaramu itu kepadamu, dan bolehlah kamu menjalani negeri ini dengan bebas.'

Ketika mereka mengosongkan karungnya, tampaklah ada pundi-pundi uang masing-masing dalam karungnya; dan ketika mereka beserta ayah mereka melihat pundi-pundi uang itu, ketakutanlah mereka.

Dan Yakub, ayah mereka, berkata kepadanya: 'Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf tidak ada lagi, dan Simeon tidak ada lagi, sekarang Benyamin pun hendak kamu bawa juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!'

Lalu berkatalah Ruben kepada ayahnya: 'Kedua anakku laki-laki boleh engkau bunuh, jika ia tidak kubawa kepadamu; serahkanlah dia ke dalam tanganku, maka dia akan kubawa kembali kepadamu.'

Tetapi jawabnya: 'Anakku itu tidak akan pergi ke sana bersama-sama dengan kamu, sebab kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan di jalan yang akan kamu tempuh, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena dukacita.'"
Kejadian 42:29–38 (TB2)

42:29–38 Berbeda dengan perilaku mereka yang penuh muslihat saat Yusuf dijual ke dalam perbudakan, kini saudara-saudara itu memberikan laporan yang jujur kepada Yakub mengenai apa yang telah terjadi, seraya menjelaskan bahwa mereka harus membawa adik bungsu mereka ke Mesir. Betapa terkejut dan cemasnya mereka saat kemudian mendapati di dalam karung gandum mereka perak yang dibawa oleh masing-masing orang ke Mesir. Dipenuhi ketakutan, Yakub berbicara tentang bagaimana setelah kehilangan Yusuf dan Simeon, ia kini mungkin juga akan kehilangan Benyamin. Kekhawatiran Yakub hampir mustahil dapat diredakan oleh tanggapan Ruben; seorang pria yang rela membunuh anak-anak kandungnya sendiri bukanlah orang yang layak untuk dipercaya. Jawaban Yakub mengingatkan kembali pada apa yang dikatakannya terdahulu saat anak-anaknya menipunya mengenai kematian Yusuf (37:35). Secara mencolok, ketika Yakub menyatakan, "sebab kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal", ia secara sengaja mengabaikan keberadaan semua anak lelakinya yang lain. Karena tampaknya hanya anak-anak Rahel yang benar-benar berharga bagi Yakub, ia tidak rela mengambil risiko kehilangan Benyamin demi mendapatkan Simeon kembali.

Perjalanan Kedua Saudara-Saudara Yusuf ke Mesir (43:1–34)


Yakub Mengizinkan Benyamin Pergi ke Mesir (43:1–14)

"Tetapi hebat sekali kelaparan di negeri itu.

Dan setelah gandum yang dibawa mereka dari Mesir habis dimakan, berkatalah ayah mereka: 'Pergilah pula membeli sedikit bahan makanan untuk kita.'

Lalu Yehuda menjawabnya: 'Orang itu telah memperingatkan kami dengan sungguh-sungguh: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu.

Jika engkau mau membiarkan adik kami pergi bersama-sama dengan kami, maka kami mau pergi ke sana dan membeli bahan makanan bagimu.

Tetapi jika engkau tidak mau membiarkan dia pergi, maka kami tidak akan pergi ke sana, sebab orang itu telah berkata kepada kami: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu.'

Lalu berkatalah Israel: 'Mengapa kamu mendatangkan malapetaka kepadaku dengan memberitahukan kepada orang itu, bahwa masih ada adikmu seorang?'

Jawab mereka: 'Orang itu telah menanyai kami dengan saksama tentang kami sendiri dan tentang sanak saudara kita: Masih hidupkah ayahmu? Adakah adikmu lagi? Dan kami telah memberitahukan semuanya kepadanya seperti yang sebenarnya. Bagaimana kami dapat menduga bahwa ia akan berkata: Bawalah ke mari adikmu itu.'

Lalu berkatalah Yehuda kepada Israel, ayahnya: 'Biarkanlah anak itu pergi bersama-sama dengan aku; maka kami akan bersiap dan pergi, supaya kita tetap hidup dan jangan mati, baik kami maupun engkau dan anak-anak kami.

Akulah yang menanggung dia; engkau boleh menuntut dia dari padaku; jika aku tidak membawa dia kepadamu dan menempatkan dia di depanmu, maka akulah yang berdosa terhadap engkau untuk selama-lamanya.

Jika kita tidak berlambat-lambat, maka tentulah kami sekarang sudah dua kali pulang.'

Lalu Israel, ayah mereka, berkata kepadanya: 'Jika demikian, perbuatlah begini: Ambillah hasil yang terbaik dari negeri ini dalam tempat gandummu dan bawalah kepada orang itu sebagai persembahan: sedikit balsam dan sedikit madu, damar dan damar ladan, buah kemiri dan buah badam.

Dan bawalah uang dua kali lipat banyaknya: uang yang telah dikembalikan ke dalam mulut karung-karungmu itu haruslah kamu bawa kembali; mungkin itu suatu kekhilafan.

Bawalah juga adikmu itu, bersiaplah dan kembalilah pula kepada orang itu.

Allah Yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belas kasihan kepadamu, supaya ia membiarkan saudaramu yang lain itu beserta Benyamin kembali. Mengenai aku ini, jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan!'"
Kejadian 43:1–14 (TB2)

43:1–14 Ketika gandum yang mereka bawa dari Mesir habis, Yakub tidak memiliki pilihan lain selain mengutus anak-anaknya kembali ke Mesir untuk mengisi kembali persediaan mereka. Akan tetapi, Yehuda mengingatkan ayahnya bahwa perjalanan mereka akan sia-sia kecuali mereka membawa Benyamin bersama mereka. Ini adalah penyebutan pertama mengenai Yehuda sejak pasal 38. Dalam episode-episode selanjutnya, ia akan memainkan peran penting sebagai juru bicara bagi saudara-saudaranya (43:8–10; 44:14–34; 46:28). Sangat kontras dengan Ruben (42:37), Yehuda menanggung sendiri tanggung jawab atas keselamatan Benyamin (ay. 8–9). Hal ini membedakan Yehuda dari saudara-saudaranya. Menyadari bahwa tidak ada pilihan lain, Yakub memerintahkan anak-anaknya untuk kembali ke Mesir. Mereka harus membawa persembahan khusus bagi "orang itu", serta uang perak dua kali lipat dari yang mereka bawa sebelumnya. Hal ini memungkinkan mereka untuk membayar gandum yang telah mereka terima sebelumnya dan gandum yang mereka harapkan untuk diperoleh dalam perjalanan ini. Menariknya, Yakub berdoa agar Allah Yang Mahakuasa membuat "orang itu" berbelaskasihan kepada mereka. Mengingat perlakuan kejam mereka terhadap Yusuf di masa lalu, doa Yakub ini sungguh sangat relevan. Untuk menegaskan keterikatan hatinya yang mendalam kepada Benyamin, Yakub menyebut namanya secara khusus, tetapi hanya menyebut Simeon sebagai "saudaramu yang lain itu" (ay. 14).


Saudara-Saudara Yusuf Tiba di Rumah Yusuf (43:15–28)

"Lalu orang-orang itu mengambil persembahan itu dan mengambil uang dua kali lipat banyaknya, beserta Benyamin juga; mereka bersiap dan pergi ke Mesir. Kemudian berdirilah mereka di depan Yusuf.

Ketika Yusuf melihat Benyamin bersama-sama dengan mereka, berkatalah ia kepada kepala rumahnya: 'Bawalah orang-orang ini ke dalam rumah, sembelihlah seekor hewan dan siapkanlah itu, sebab orang-orang ini akan makan bersama-sama dengan aku pada tengah hari ini.'

Orang itu melakukan seperti yang dikatakan Yusuf dan dibawanyalah orang-orang itu ke dalam rumah Yusuf.

Lalu ketakutanlah orang-orang itu, karena mereka dibawa ke dalam rumah Yusuf. Kata mereka: 'Yang menjadi sebab kita dibawa ke sini, ialah perkara uang yang dikembalikan ke dalam karung kita pada mulanya itu, supaya kita disergap dan ditangkap dan supaya kita dijadikan budak dan keledai kita diambil.'

Karena itu mereka mendekati kepala rumah Yusuf itu, dan berkata kepadanya di depan pintu rumah:

'Mohon bicara tuan! Kami dahulu datang ke mari untuk membeli bahan makanan,

tetapi ketika kami sampai ke tempat bermalam dan membuka karung kami, tampaklah uang kami masing-masing dengan tidak kurang jumlahnya ada di dalam mulut karung. Tetapi sekarang kami membawanya kembali.

Uang lain kami bawa juga ke mari untuk membeli bahan makanan; kami tidak tahu siapa yang menaruh uang kami itu ke dalam karung kami.'

Tetapi jawabnya: 'Tenang sajalah, jangan takut; Allahmu dan Allah ayahmu telah memberikan kepadamu harta terpendam dalam karungmu; uangmu itu telah kuterima.' Kemudian dikeluarkannyalah Simeon dan dibawanya kepada mereka.

Setelah orang itu membawa mereka ke dalam rumah Yusuf, diberikannyalah air, supaya mereka membasuh kaki; juga keledai mereka diberinya makan.

Sesudah itu mereka menyiapkan persembahannya menantikan Yusuf datang pada waktu tengah hari, sebab mereka telah mendengar, bahwa mereka akan makan di situ.

Ketika Yusuf telah pulang, mereka membawa persembahan yang ada pada mereka itu kepada Yusuf di dalam rumah, lalu sujud kepadanya sampai ke tanah.

Sesudah itu ia bertanya kepada mereka apakah mereka selamat; lagi katanya: 'Apakah ayahmu yang tua yang kamu sebutkan itu selamat? Masih hidupkah ia?'

Jawab mereka: 'Hambamu, ayah kami, ada selamat; ia masih hidup.' Sesudah itu berlututlah mereka dan sujud."
Kejadian 43:15–28 (TB2)

43:15–28 Ketika anak-anak Yakub datang menghadap Yusuf, ia mengatur agar mereka dapat makan bersama di rumahnya. Mengingat uang perak yang ditaruh di dalam karung-karung mereka, saudara-saudara Yusuf diliputi ketakutan bahwa ini adalah perangkap untuk memperbudak mereka. Ketika mereka memberitahukan kepada kepala rumah Yusuf tentang uang perak yang mereka temukan di dalam karung mereka, kepala rumah itu menenangkan mereka bahwa semuanya baik-baik saja; ia telah menerima pembayaran mereka secara lunas. Secara mencolok, kepala rumah tangga berbangsa Mesir itu berbicara tentang "Allahmu dan Allah ayahmu" yang telah memberikan harta karun ke dalam karung-karung mereka (ay. 23). Setelah dipersatukan kembali dengan Simeon, saudara-saudara Yusuf mempersiapkan diri untuk perjamuan makan di rumah Yusuf. Ketika Yusuf datang, sekali lagi mereka sujud menyembah di hadapannya (ay. 26, 28; lihat 42:6; bdk. 37:5–11).


Perjamuan Makan Bersama Yusuf dan Keistimewaan Benyamin (43:29–34)

"Ketika Yusuf memandang kepada mereka, dilihatnyalah Benyamin, adiknya, yang seibu dengan dia, lalu katanya: 'Inikah adikmu yang bungsu itu, yang telah kamu sebut-sebut kepadaku?' Lagi katanya: 'Allah kiranya memberikan kasih karunia kepadamu, anakku!'

Lalu segeralah Yusuf pergi dari situ, sebab hatinya sangat terharu merindukan adiknya itu, dan dicarinyalah tempat untuk menangis; ia masuk ke dalam kamar, lalu menangis di situ.

Sesudah itu dibasuhnyalah mukanya dan ia tampil ke luar. Ia menahan hatinya dan berkata: 'Hidangkanlah makanan.'

Lalu dihidangkanlah makanan, bagi Yusuf tersendiri, bagi saudara-saudaranya tersendiri dan bagi orang-orang Mesir yang bersama-sama makan dengan mereka itu tersendiri; sebab orang Mesir tidak boleh makan bersama-sama dengan orang Ibrani, karena hal itu suatu kekejian bagi orang Mesir.

Saudara-saudaranya itu duduk di depan Yusuf, dari yang sulung sampai yang bungsu, sehingga mereka berpandang-pandangan dengan heran.

Lalu disajikan kepada mereka hidangan dari meja Yusuf, tetapi yang diterima Benyamin adalah lima kali lebih banyak dari pada setiap orang yang lain. Lalu minumlah mereka dan bersukaria bersama-sama dengan dia."
Kejadian 43:29–34 (TB2)

43:29–34 Untuk menekankan keterikatan istimewa Yusuf dengan Benyamin—keduanya sama-sama lahir dari Rahel—narator menuliskan, "Benyamin, adiknya, yang seibu dengan dia" (ay. 29). Saat melihat Benyamin setelah sekitar dua puluh tahun lamanya, Yusuf berjuang keras mengendalikan emosinya. Sekali lagi, Yusuf menangis (ay. 30), tetapi dengan keharuan yang jauh lebih mendalam daripada sebelumnya (lihat 42:24). Namun demikian, ia masih menahan diri untuk tidak menyingkapkan identitas aslinya kepada saudara-saudaranya. Karena faktor kebiasaan dan budaya setempat, orang-orang Mesir yang hadir dalam jamuan makan tersebut tidak makan bersama-sama dengan orang Ibrani. Hal ini mempermudah keinginan Yusuf untuk menyembunyikan identitasnya dari saudara-saudaranya. Betapa terkejutnya mereka ketika mereka didudukkan tepat menurut urutan usia mereka. Hal ini semakin memperkuat keyakinan mereka yang kian bertumbuh bahwa pembesar Mesir yang berkuasa ini sanggup mengetahui kebenaran melalui penelaahan atau ilmu tenung (divination). Perasaan kasih Yusuf terhadap adik kandungnya, Benyamin, tercermin dalam porsi makanan yang diberikan kepadanya. Rujukan singkat mengenai perjamuan makan dan minum bersukaria bersama Yusuf (ay. 34) menjadi latar belakang yang mempersiapkan adegan berikutnya ketika Benyamin dituduh mencuri piala perak Yusuf.

Benyamin Dituduh Mencuri Piala Perak (44:1–34)


Akal Yusuf Menaruh Piala di Karung Benyamin (44:1–2)

"Sesudah itu diperintahkannyalah kepada kepala rumahnya: 'Isilah karung orang-orang itu dengan gandum, seberapa yang dapat dibawa mereka, dan letakkanlah uang masing-masing di dalam mulut karungnya.

Dan pialaku, piala perak itu, taruhlah di dalam mulut karung anak yang bungsu serta uang pembayar gandumnya juga.' Maka diperbuatnyalah seperti yang dikatakan Yusuf."
Kejadian 44:1–2 (TB2)

44:1–2 Dengan menyuruh mengembalikan uang perak masing-masing orang ke dalam karungnya, Yusuf secara sengaja menciptakan suasana ketidakpastian. Saudara-saudaranya kebingungan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dengan menaruh piala peraknya sendiri ke dalam karung Benyamin, Yusuf memastikan bahwa adik bungsunya itu akan dinyatakan bersalah atas tuduhan pencurian.


Pengejaran dan Ditemukannya Piala Perak (44:3–13)

"Ketika paginya hari terang tanah, orang melepas mereka beserta keledai mereka.

Tetapi baru saja mereka keluar dari kota itu, belum lagi jauh jaraknya, berkatalah Yusuf kepada kepala rumahnya: 'Bersiaplah, kejarlah orang-orang itu, dan apabila engkau sampai kepada mereka, katakanlah kepada mereka: Mengapa kamu membalas yang baik dengan yang jahat?

Bukankah ini piala yang dipakai tuanku untuk minum dan yang biasa dipakainya untuk menelaah? Kamu berbuat jahat dengan melakukan yang demikian.'

Ketika sampai kepada mereka, diberitakannyalah kepada mereka perkataan Yusuf itu.

Jawab mereka kepadanya: 'Mengapa tuanku mengatakan perkataan yang demikian? Jauhlah dari pada hamba-hambamu ini untuk berbuat begitu!

Bukankah uang yang kami dapati di dalam mulut karung kami telah kami bawa kembali kepadamu dari tanah Kanaan? Masakan kami mencuri emas atau perak dari rumah tuanmu?

Pada siapa dari hamba-hambamu ini kedapatan piala itu, biarlah ia mati, juga kami ini akan menjadi budak tuanku.'

Sesudah itu berkatalah ia: 'Ya, usulmu itu baik; tetapi pada siapa kedapatan piala itu, hanya dialah yang akan menjadi budakku dan kamu yang lain itu akan bebas dari salah.'

Lalu segeralah mereka masing-masing menurunkan karungnya ke tanah dan masing-masing membuka karungnya.

Dan kepala rumah itu memeriksanya dengan teliti; ia mulai dengan yang sulung sampai kepada yang bungsu; maka kedapatanlah piala itu dalam karung Benyamin.

Lalu mereka mengoyakkan jubahnya dan masing-masing memuati keledainya, dan mereka kembali ke kota."
Kejadian 44:3–13 (TB2)

44:3–13 Untuk menambah kegelisahan saudara-saudaranya mengenai peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan tersebut, kepala rumah tangga Yusuf mengisyaratkan bahwa tuannya memiliki kemampuan menelaah atau meramal (divination, ay. 5); Yusuf sendiri kelak akan menegaskan hal yang sama (44:15). Tanpa memiliki alasan untuk percaya bahwa piala Yusuf ada pada mereka, saudara-saudaranya menolak tuduhan pencurian dari kepala rumah tangga itu. Dengan penuh keyakinan akan ketidakbersalahan mereka, mereka berkata, "Pada siapa dari hamba-hambamu ini kedapatan piala itu, biarlah ia mati, juga kami ini akan menjadi budak tuanku" (ay. 9). Mengambil pendekatan yang tidak terlalu keras, kepala rumah tangga Yusuf menyatakan bahwa hanya orang yang terbukti bersalah mencurilah yang akan menjadi budaknya. Ketika sang kepala rumah tangga mendapati piala perak itu di dalam karung Benyamin, saudara-saudaranya sangat terpukul dan hancur hati. Mereka mengoyakkan pakaian mereka dalam kedukaan yang mendalam, sebagaimana yang dilakukan Yakub saat mendengar kabar kematian Yusuf (37:29).


Pemeriksaan di Hadapan Yusuf dan Ujian bagi Saudara-Saudaranya (44:14–17)

"Ketika Yehuda dan saudara-saudaranya sampai ke dalam rumah Yusuf, Yusuf masih ada di situ, sujudlah mereka sampai ke tanah di depannya.

Berkatalah Yusuf kepada mereka: 'Perbuatan apakah yang kamu lakukan ini? Tidakkah kamu tahu, bahwa seorang yang seperti aku ini pasti dapat menelaah?'

Sesudah itu berkatalah Yehuda: 'Apakah yang akan kami katakan kepada tuanku, apakah yang akan kami jawab, dan dengan apakah kami akan membenarkan diri kami? Allah telah memperlihatkan kesalahan hamba-hambamu ini. Maka kami ini, budak tuankulah kami, baik kami maupun orang pada siapa kedapatan piala itu.'

Tetapi jawabnya: 'Jauhlah dari padaku untuk berbuat demikian! Pada siapa kedapatan piala itu, dialah yang akan menjadi budakku, tetapi kamu ini, pergilah kembali dengan selamat kepada ayahmu.'"
Kejadian 44:14–17 (TB2)

44:14–17 Setelah mereka kembali ke rumah Yusuf, Yehuda mengambil peran sebagai juru bicara bagi saudara-saudaranya. Sekali lagi mereka sujud menyembah di hadapan Yusuf (ay. 14). Pernyataan Yusuf bahwa ia dapat mengetahui berbagai hal melalui penelaahan (divination) membuat saudara-saudaranya semakin gentar (ay. 15). Dengan menunjukkan rasa hormat dan ketundukan yang mendalam kepada Yusuf, susunan perkataan dalam pengakuan Yehuda di ayat 16 menyiratkan bahwa Allah telah menyingkapkan kesalahan mereka kepada Yusuf. Karena mereka dahulu dengan tega dan berhati dingin telah menjual saudara mereka ke dalam perbudakan, Yehuda memperkirakan—berdasarkan kesetaraan moral—bahwa hukuman mereka akan mencerminkan kejahatan mereka: mereka semua akan dijadikan budak. Namun demikian, dengan kecerdasan yang luar biasa, Yusuf menghadapkan saudara-saudara yang lebih tua itu pada pilihan yang menyingkapkan hati nurani mereka serta mereplikasi apa yang pernah terjadi atas dirinya. Yusuf memberi mereka kesempatan untuk pulang dengan selamat dengan mengorbankan Benyamin tetap tinggal sebagai budak (ay. 17). Apakah mereka secara egois akan membiarkan Benyamin terjerumus dalam perbudakan di Mesir, sebagaimana dahulu mereka memperlakukan Yusuf?


Permohonan dan Pembelaan Yehuda bagi Benyamin (44:18–34)

"Lalu tampillah Yehuda mendekatinya dan berkata: 'Mohon bicara tuanku, izinkanlah kiranya hambamu ini mengucapkan sepatah kata kepada tuanku dan janganlah kiranya bangkit amarahmu terhadap hambamu ini, sebab tuanku adalah seperti Firaun sendiri.

Tuanku telah bertanya kepada hamba-hambanya ini: Masih adakah ayah atau saudara kamu?

Dan kami menjawab tuanku: Kami masih mempunyai ayah yang tua dan masih ada anaknya yang muda, yang lahir pada masa tuanya; kakaknya telah mati, hanya dia sendirilah yang tinggal dari mereka yang seibu, sebab itu ayahnya sangat mengasihi dia.

Lalu tuanku berkata kepada hamba-hambamu ini: Bawalah dia ke mari kepadaku, supaya mataku memandang dia.

Tetapi jawab kami kepada tuanku: Anak itu tidak dapat meninggalkan ayahnya, sebab jika ia meninggalkan ayahnya, tentulah ayah ini mati.

Kemudian tuanku berkata kepada hamba-hambamu ini: Jika adikmu yang bungsu itu tidak datang ke mari bersama-sama dengan kamu, kamu tidak boleh melihat mukaku lagi.

Setelah kami kembali kepada hambamu, ayahku, maka kami memberitahukan kepadanya perkataan tuanku itu.

Kemudian ayah kami berkata: Kembalilah kamu membeli sedikit bahan makanan bagi kita.

Tetapi jawab kami: Kami tidak dapat pergi ke sana. Jika adik kami yang bungsu bersama-sama dengan kami, barulah kami akan pergi ke sana, sebab kami tidak boleh melihat muka orang itu, apabila adik kami yang bungsu tidak bersama-sama dengan kami.

Kemudian berkatalah hambamu, ayahku, kepada kami: Kamu tahu, bahwa isteriku telah melahirkan dua orang anak bagiku;

yang seorang telah pergi dari padaku, dan aku telah berkata: Tentulah ia diterkam oleh binatang buas, dan sampai sekarang aku tidak melihat dia kembali.

Jika anak ini kamu ambil pula dari padaku, dan ia ditimpa kecelakaan, maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena nasib celaka.

Maka sekarang, apabila aku datang kepada hambamu, ayahku, dan tidak ada bersama-sama dengan kami anak itu, padahal ayahku tidak dapat hidup tanpa dia,

tentulah akan terjadi, apabila dilihatnya anak itu tidak ada, bahwa ia akan mati, dan hamba-hambamu ini akan menyebabkan hambamu, ayah kami yang ubanan itu, turun ke dunia orang mati karena dukacita.

Tetapi hambamu ini telah menanggung anak itu terhadap ayahku dengan perkataan: Jika aku tidak membawanya kembali kepada bapa, maka akulah yang berdosa kepada bapa untuk selama-lamanya.

Oleh sebab itu, baiklah hambamu ini tinggal menjadi budak tuanku menggantikan anak itu, dan biarlah anak itu pulang bersama-sama dengan saudara-saudaranya.

Sebab masakan aku pulang kepada ayahku, apabila anak itu tidak bersama-sama dengan aku? Aku tidak akan sanggup melihat nasib celaka yang akan menimpa ayahku.'"
Kejadian 44:18–34 (TB2)

44:18–34 Sekalipun Yehuda dahulu merupakan pemrakarsa penjualan Yusuf ke dalam perbudakan (37:26–27), kini ia justru maju membela Benyamin dalam salah satu pidato manusia terpanjang yang dicatat dalam Kitab Kejadian. Dengan menceritakan kembali secara rinci apa yang telah terjadi sebelumnya, Yehuda menegaskan kepeduliannya yang mendalam terhadap kesejahteraan dan keselamatan ayahnya, Yakub. Ia sangat takut bahwa Yakub akan mati karena dukacita yang luar biasa jika sesuatu yang buruk menimpa Benyamin. Setelah menjelaskan keengganan Yakub untuk melepaskan Benyamin pergi ke Mesir serta kerelaan dirinya sendiri untuk menanggung tanggung jawab atas Benyamin, Yehuda menawarkan dirinya sendiri untuk menjadi budak menggantikan adik bungsu Yusuf itu. Jika sebelumnya Yehuda dengan rela menjual Yusuf ke dalam perbudakan di Mesir, kini ia dengan tanpa pamrih mengajukan diri secara sukarela menjadi budak agar Benyamin dapat kembali dengan selamat kepada ayahnya. Sebagai tanda dari karakternya yang telah mengalami transformasi sejati, sang mantan pedagang budak ini kini rela menjadi budak demi menggantikan adik bungsunya.

Yusuf Menyatakan Jati Dirinya (45:1–28)


Yusuf Menyatakan Jati Dirinya kepada Saudara-Saudaranya (45:1–15)

"Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya, lalu berserulah ia: 'Suruhlah keluar semua orang dari sini.' Maka tidak ada seorang pun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf, ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya.

Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun.

Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: 'Akulah Yusuf! Masih hidupkah ayah?' Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia.

Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: 'Marilah dekat-dekat.' Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: 'Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir.

Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.

Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai.

Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong.

Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai penguasa atas seluruh tanah Mesir.

Segeralah kamu kembali kepada ayah dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu.

Engkau akan tinggal di tanah Gosyen dan akan dekat kepadaku, engkau serta anak dan cucumu, kambing domba dan lembu sapimu dan segala milikmu.

Di sanalah aku memelihara engkau—sebab kelaparan ini masih ada lima tahun lagi—supaya engkau jangan jatuh miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau.

Dan kamu telah melihat dengan mata sendiri, dan saudaraku Benyamin juga, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu.

Sebab itu ceritakanlah kepada ayah segala kemuliaanku di negeri Mesir ini, dan segala yang telah kamu lihat, kemudian segeralah bawa ayah ke mari.'

Lalu dipeluknyalah leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pulalah Benyamin pada bahu Yusuf.

Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia."
Kejadian 45:1–15 (TB2)

45:1–15 Keteguhan hati Yusuf runtuh oleh pembelaan Yehuda yang penuh emosi dan kesungguhan. Ia menangis tersedu-sedu untuk ketiga kalinya (lihat 42:24; 43:30), namun kali ini ia melakukannya di hadapan saudara-saudaranya sendiri. Ia menangis begitu keras sehingga para pelayan Mesirnya, yang sebelumnya telah ia minta meninggalkan ruangan, dapat mendengarnya. Ketika Yusuf menyatakan jati dirinya, saudara-saudaranya terbungkam seribu bahasa, dicekam rasa takut oleh penyingkapan ini. Dengan kemurahan hati yang luar biasa, Yusuf berupaya menenangkan ketakutan saudara-saudaranya. Tiga kali dalam pidato singkatnya Yusuf menegaskan bahwa Allahlah yang mengutusnya ke Mesir (ay. 5, 7, 8). Penjelasan Yusuf mengenai apa yang telah terjadi mencerminkan keyakinannya yang teguh akan karya pemeliharaan Allah (providence). Di balik semua yang telah terjadi, rencana Allahlah untuk mengutus Yusuf ke Mesir demi memelihara kehidupan banyak orang, khususnya saudara-saudaranya beserta keluarga mereka (lihat 50:20). Menekankan kedaulatan peran Allah dalam segala peristiwa yang dialaminya, Yusuf bertutur mengenai bagaimana Allah telah menjadikannya "bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai penguasa atas seluruh tanah Mesir" (ay. 8). Status Yusuf sebagai "bapa" bagi raja Mesir mengingatkan kembali pada komitmen janji Allah kepada Abraham bahwa ia akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa (17:4–5). Melalui Yusuf, Allah memberkati bangsa-bangsa, menjadi gambaran awal (prefiguring) dari sosok Yusuf yang lebih agung—yaitu Kristus sebagai wakil penguasa Allah (vicegerent) yang sempurna yang akan menegakkan Kerajaan Allah di muka bumi.

Gosyen (ay. 10) kemungkinan merupakan suatu wilayah di delta timur Sungai Nil, di dekat kota Rowaty. Pada abad-abad berikutnya, ketika daerah itu jatuh ke bawah kekuasaan bangsa Hyksos, kota ini dinamai Avaris. Ketika bangsa Hyksos diusir dari Mesir, kota tersebut berganti nama menjadi Peru-Nefer dan kemudian Pi-Rameses (lihat 47:11; bd. Kel 1:11).

Setelah menyingkapkan identitasnya, Yusuf mendorong saudara-saudaranya untuk bergegas kembali ke Kanaan guna memboyong seluruh keluarga Yakub ke Mesir. Kepedulian Yusuf terhadap ayahnya membingkai seluruh tutur katanya (ay. 3–13). Setelah memperlihatkan perasaan kasihnya yang khusus kepada Benyamin dengan menyebut namanya secara tersendiri dalam perkataannya (ay. 12), Yusuf memeluk adiknya itu dengan penuh kehangatan emosional (ay. 14). Ia kemudian menunjukkan kasih sayangnya kepada semua saudaranya yang lain dengan mencium mereka, sambil terus menangis dalam sukacita.

Meskipun tindakan Yusuf yang menyembunyikan identitasnya dari saudara-saudaranya pernah ditafsirkan oleh sebagian kalangan sebagai tindakan yang tidak berperasaan dan egois—karena memperpanjang dukacita ayahnya lebih lama dari yang semestinya dan menimpakan kesukaran pada saudara-saudaranya—tindakannya sesungguhnya bermuara pada rekonsiliasi yang bermakna dan sejati. Berbeda dengan tipu muslihat saudara-saudaranya yang lebih tua di masa lampau, siasat penyamaran Yusuf menuntun saudara-saudaranya untuk mengakui kesalahan mereka dan membawa pada pemulihan serta penyatuan kembali seluruh keluarga.


Undangan Firaun dan Kepulangan Saudara-Saudara Yusuf ke Kanaan (45:16–28)

"Ketika dalam istana Firaun terdengar kabar, bahwa saudara-saudara Yusuf datang, hal itu diterima dengan baik oleh Firaun dan pegawai-pegawainya.

Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: 'Katakanlah kepada saudara-saudaramu: Perbuatlah begini: muatilah hewan-hewanmu dan pergilah ke tanah Kanaan,

jemputlah ayahmu dan seisi rumahmu dan datanglah mendapatkan aku, maka aku akan memberikan kepadamu apa yang paling baik di tanah Mesir, sehingga kamu akan mengecap kesuburan tanah ini.

Selanjutnya engkau mendapat perintah mengatakan kepada mereka: Perbuatlah begini: bawalah kereta dari tanah Mesir untuk anak-anakmu dan istri-istrimu, jemputlah ayahmu dari sana dan datanglah ke mari.

Janganlah kamu merasa sayang meninggalkan barang-barangmu, sebab apa yang paling baik di seluruh tanah Mesir ini adalah milikmu.'

Demikianlah diperbuat oleh anak-anak Israel itu. Yusuf memberikan kereta kepada mereka menurut perintah Firaun; juga diberikan kepada mereka bekal di jalan.

Kepada mereka masing-masing diberikannya sepotong pesalin dan kepada Benyamin diberikannya tiga ratus uang perak dan lima potong pesalin.

Di samping itu kepada ayahnya dikirimkannya sepuluh ekor keledai jantan, dimuati dengan apa yang paling baik di Mesir, lagipula sepuluh ekor keledai betina, dimuati dengan gandum dan roti dan makanan untuk ayahnya dalam perjalanan.

Kemudian ia melepas saudara-saudaranya serta berkata kepada mereka: 'Janganlah berbantah-bantah di jalan.'

Demikianlah mereka pergi dari tanah Mesir dan sampai di tanah Kanaan, kepada Yakub, ayah mereka.

Mereka menceritakan kepadanya: 'Yusuf masih hidup, bahkan dialah yang menjadi penguasa atas seluruh tanah Mesir.' Tetapi hati Yakub tetap dingin, sebab ia tidak dapat mempercayai mereka.

Tetapi ketika mereka menyampaikan kepadanya segala perkataan yang diucapkan Yusuf, dan ketika dilihatnya kereta yang dikirim oleh Yusuf untuk menjemputnya, maka bangkitlah kembali semangat Yakub, ayah mereka itu.

Kata Yakub: 'Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati.'"
Kejadian 45:16–28 (TB2)

45:16–28 Adegan narasi kini beralih ke istana kerajaan, tempat kabar tentang kedatangan saudara-saudara Yusuf disambut dengan sangat positif oleh Firaun dan para pejabatnya. Didorong oleh rasa hormat yang mendalam kepada Yusuf, Firaun memerintahkannya untuk memboyong keluarganya ke Mesir, di mana mereka akan diberi bagian tanah yang terbaik. Yusuf membekali saudara-saudaranya dengan pakaian-pakaian baru, suatu tanda nyata bahwa ia telah mengampuni mereka dengan penuh kemurahan hati—yang mungkin sengaja mengingatkan kembali pada peristiwa ketika mereka merenggut jubah mewahnya saat menjualnya ke dalam perbudakan di Mesir. Sekali lagi Yusuf menunjukkan kasih sayangnya yang istimewa kepada Benyamin dengan memberinya "tiga ratus uang perak dan lima potong pesalin" (ay. 22). Pemberian Yusuf kepada adik kandungnya ini jauh melampaui dua puluh keping perak yang dahulu dibagi-bagikan oleh saudara-saudaranya saat menjual Yusuf sebagai budak (37:28). Sangat dapat dipahami bahwa Yakub awalnya ragu dan enggan untuk percaya bahwa putra kesayangannya masih hidup. Namun demikian, setelah mendengar kesaksian anak-anaknya dan melihat sendiri kereta-kereta yang disediakan Yusuf, ia menjadi yakin dan menyatakan tekadnya untuk berangkat ke Mesir agar ia dapat melihat Yusuf sebelum ia meninggal dunia.

Keluarga Yakub Pindah ke Mesir (46:1–27)


Allah Meneguhkan Yakub di Bersyeba (46:1–4)

"Jadi berangkatlah Israel dengan segala miliknya dan ia tiba di Bersyeba, lalu dipersembahkannya korban sembelihan kepada Allah Ishak ayahnya.

Berfirmanlah Allah kepada Israel dalam penglihatan waktu malam: 'Yakub, Yakub!' Sahutnya: 'Ya, Tuhan.'

Lalu firman-Nya: 'Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana.

Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali; dan tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti.'"
Kejadian 46:1–4 (TB2)

46:1–4 Dalam perjalanannya menuju Mesir, Yakub tiba di Bersyeba, suatu tempat di mana kakeknya, Abraham, dan ayahnya, Ishak, pernah tinggal selama beberapa waktu (lihat 21:22–34; 26:23–33). Sebelumnya, pada masa kelaparan, Abraham pernah pergi ke Mesir dengan akibat-akibat yang buruk (12:10–20). Pada masa kelaparan yang lain, Allah melarang Ishak untuk pergi ke Mesir (26:1–6). Dengan kemungkinan mengingat peristiwa-peristiwa tersebut, Yakub mungkin merasa ragu dan enggan untuk pergi ke Mesir tanpa izin dan perkenanan Allah. Allah dahulu pernah berfirman kepada ayah Yakub, Ishak, pada waktu malam di Bersyeba (26:23–24); kini Ia berfirman untuk memberikan ketenteraman dan kepastian janji kepada Yakub.

Teks Ibrani dari ayat 4 memberikan penekanan khusus pada kata "Aku" yang merujuk kepada Allah. Allah meneguhkan Yakub bahwa perjalanannya ke Mesir tidak akan membatalkan ataupun merusak janji-janji ilahi yang telah diberikan kepada Abraham dan Ishak. Allah akan menjadikan Yakub suatu bangsa yang besar (ay. 3), mengingatkan kembali pada janji-Nya kepada Abraham (12:2), yang kemudian diulangi kepada Yakub di Betel saat ia melarikan diri dari Esau (28:13–15). Allah berjanji untuk menyertai Yakub di Mesir dan pasti akan membawanya kembali ke tanah Kanaan (ay. 4). Allah juga berjanji bahwa Yusuf akan "mengatupkan kelopak matamu" (ay. 4), sebuah ungkapan yang merujuk pada kematian Yakub. Dalam teks Ibrani, rumusan janji-janji dalam ayat 4 tidak mengharuskan penggenapannya terjadi sesuai urutan kronologis yang diucapkan oleh Allah. Kelak, kita mendapati bahwa Yakub meninggal di Mesir dalam kehadiran Yusuf (49:33), namun jenazahnya dibawa kembali dan dimakamkan di Kanaan (50:1–14). Berkenaan dengan hal ini, patut diperhatikan bahwa di dalam Perjanjian Baru, penulis Surat Ibrani menyatakan bahwa janji-janji Allah mengenai kepemilikan tanah perjanjian akan digenapi bagi para bapa leluhur—Abraham, Ishak, dan Yakub—dalam kehidupan yang akan datang di kekekalan (Ibr 11:8–16, 39–40). Atas perkenanan dan penyertaan Allah, Yakub memboyong seluruh keluarganya ke Mesir. Perkembangan penting ini merupakan bagian tak terpisahkan dari rencana kedaulatan Allah bagi keturunan Abraham (bd. 15:13–14).


Rombongan Keluarga Yakub yang Berangkat ke Mesir (46:5–27)

"Lalu berangkatlah Yakub dari Bersyeba, dan anak-anak Israel membawa Yakub, ayah mereka, beserta anak dan istri mereka, dan mereka menaiki kereta yang dikirim Firaun untuk menjemputnya.

Mereka membawa juga ternaknya dan harta bendanya, yang telah diperoleh mereka di tanah Kanaan, lalu tibalah mereka di Mesir, yakni Yakub dan seluruh keturunannya bersama-sama dengan dia.

Anak-anak dan cucu-cucunya laki-laki dan perempuan, seluruh keturunannya dibawanyalah ke Mesir.

Inilah nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir, yakni Yakub beserta keturunannya. Anak sulung Yakub ialah Ruben.

Anak-anak Ruben ialah Henokh, Palu, Hezron dan Karmi.

Anak-anak Simeon ialah Yemuel, Yamin, Ohad, Yakhin dan Zohar serta Saul, anak seorang perempuan Kanaan.

Anak-anak Lewi ialah Gerson, Kehat dan Merari.

Anak-anak Yehuda ialah Er, Onan, Syela, Peres dan Zerah; tetapi Er dan Onan mati di tanah Kanaan; dan anak-anak Peres ialah Hezron dan Hamul.

Anak-anak Isakhar ialah Tola, Pua, Ayub dan Simron.

Anak-anak Zebulon ialah Sered, Elon dan Yahleel.

Itulah keturunan Lea, yang melahirkan bagi Yakub di Padan-Aram anak-anak lelaki serta Dina juga, anaknya yang perempuan. Jadi seluruhnya, laki-laki dan perempuan, berjumlah tiga puluh tiga jiwa.

Anak-anak Gad ialah Zifyon, Hagi, Syuni, Ezbon, Eri, Arodi dan Areli.

Anak-anak Asyer ialah Yimna, Yiswa, Yiswi dan Beria; Serah ialah saudara perempuan mereka; dan anak-anak Beria ialah Heber dan Malkiel.

Itulah keturunan Zilpa, yakni hamba perempuan yang telah diberikan Laban kepada Lea, anaknya perempuan, dan yang melahirkan anak-anak bagi Yakub; seluruhnya enam belas jiwa.

Anak-anak Rahel, istri Yakub, ialah Yusuf dan Benyamin.

Bagi Yusuf lahir Manasye dan Efraim di tanah Mesir, yang dilahirkan baginya oleh Asnat, anak perempuan Potifera, imam di On.

Anak-anak Benyamin ialah Bela, Bekher, Asybel, Gera, Naaman, Ehi, Rosh, Mupim, Hupim dan Ared.

Itulah keturunan Rahel, yang telah lahir bagi Yakub, seluruhnya berjumlah empat belas jiwa.

Anak Dan ialah Husim.

Anak-anak Naftali ialah Yahzeel, Guni, Yezer dan Syilem.

Itulah keturunan Bilha, yakni hamba perempuan yang diberikan Laban kepada Rahel, anaknya yang perempuan dan yang melahirkan anak-anak itu bagi Yakub—seluruhnya berjumlah tujuh jiwa.

Semua orang yang tiba di Mesir bersama-sama dengan Yakub, yakni anak-anak kandungnya, dengan tidak terhitung istri anak-anaknya, seluruhnya berjumlah enam puluh enam jiwa.

Anak-anak Yusuf yang lahir baginya di Mesir ada dua orang. Jadi keluarga Yakub yang tiba di Mesir, seluruhnya berjumlah tujuh puluh jiwa."
Kejadian 46:5–27 (TB2)

46:5–27 Melalui pola penuturan yang memuat perulangan, bagian ini menekankan bahwa seluruh keluarga Yakub pindah ke Mesir. Seluruh keturunan Yakub, tanpa terkecuali, meninggalkan Kanaan. Pernyataan ringkasan pada ayat 5–7 diikuti pada ayat 8–25 dengan daftar nama-nama "bani Israel" yang dikelompokkan menurut para istri Yakub: Lea (ay. 8–15); Zilpa (ay. 16–18); Rahel (ay. 19–22); dan Bilha (ay. 23–25). Selain menyebutkan dua orang perempuan, yakni Dina (ay. 15) dan Serah (ay. 17), semua nama lainnya merujuk kepada para anak laki-laki, cucu laki-laki, dan cicit laki-laki dari Yakub/Israel. Istri-istri mereka tidak disebutkan namanya dan tidak dihitung ke dalam jumlah total enam puluh enam orang yang disebutkan dalam ayat 26. Analisis yang cermat terhadap daftar keturunan Yakub ini memperlihatkan beberapa perbedaan kecil (minor discrepancies) yang tidak mudah untuk dijelaskan. Keturunan Lea yang tercatat dalam ayat 8–15 mencakup enam anak laki-laki, satu anak perempuan, dua puluh lima cucu, dan dua cicit, yang seluruhnya berjumlah tiga puluh empat orang. Namun demikian, ayat 15 menyatakan bahwa jumlah anak-anak laki-laki dan perempuan itu "seluruhnya berjumlah tiga puluh tiga jiwa." Ada kemungkinan bahwa nama Ohad (ay. 10) seharusnya dihilangkan; namanya tidak tercantum dalam daftar serupa di Bilangan 26:12–13 dan 1 Tawarikh 4:24. Kemungkinan lainnya, Dina, satu-satunya perempuan yang disebutkan dalam kelompok ini, barangkali tidak diikutsertakan dalam hitungan total tiga puluh tiga tersebut. Persoalan ini menjadi semakin rumit karena Er dan Onan tetap dicatat namanya, padahal sebagaimana dinyatakan dalam ayat 12, mereka telah mati di tanah Kanaan dan dengan demikian tidak dapat dimasukkan ke dalam hitungan orang-orang yang berangkat ke Mesir.

Menurut ayat 26, sejumlah enam puluh enam orang keturunan langsung menyertai Yakub ke Mesir ketika ia berangkat dari Bersyeba. Yusuf dan kedua putranya, Manasye dan Efraim, telah terlebih dahulu berada di Mesir. Dengan menambahkan Yakub sendiri ke dalam hitungan tersebut, terdapat tujuh puluh anggota keluarganya yang menetap di Mesir, di luar para istri. Jumlah total tujuh puluh orang ini sesuai dengan penjumlahan angka-angka yang diberikan dalam ayat 15, 18, 22, dan 25: masing-masing tiga puluh tiga, enam belas, empat belas, dan tujuh. Kendati demikian, tiga puluh tiga keturunan Lea tersebut tetap mencakup Er dan Onan, yang keduanya telah meninggal di Kanaan. Menariknya, terjemahan Yunani paling awal dari Kitab Kejadian, yaitu Septuaginta (LXX), mencatat jumlah total tujuh puluh empat orang, dengan memperluas keturunan Yusuf hingga mencakup tujuh orang laki-laki, bukan hanya dua orang seperti dalam teks Ibrani di ayat 20. Kisah Para Rasul 7:14 mencatat jumlah total tujuh puluh lima orang; angka ini diperoleh dengan menambahkan Yakub ke dalam total tujuh puluh empat orang yang terdapat di dalam Septuaginta. Mengingat kerumitan seputar nama-nama dan angka-angka dalam perikop ini, sangat mungkin bahwa ketika manuskrip-manuskrip paling awal disalin dengan tangan, terjadi beberapa kekeliruan kecil dalam penyalinan (scribal errors).

Keluarga Yakub Menetap di Gosyen (46:28–47:12)


Yakub Tiba di Gosyen dan Bertemu Kembali dengan Yusuf (46:28–34)

"Yakub menyuruh Yehuda berjalan lebih dahulu mendapatkan Yusuf, supaya Yusuf datang ke Gosyen menemui ayahnya. Sementara itu sampailah mereka ke tanah Gosyen.

Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen, mendapatkan Israel, ayahnya. Ketika ia bertemu dengan dia, dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya.

Berkatalah Israel kepada Yusuf: 'Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup.'

Kemudian berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya dan kepada keluarga ayahnya itu: 'Aku mau menghadap Firaun dan memberitahukan kepadanya: Saudara-saudaraku dan keluarga ayahku, yang tinggal di tanah Kanaan, telah datang kepadaku;

orang-orang itu gembala kambing domba, sebab mereka itu pemelihara ternak, dan kambing dombanya, lembu sapinya dan segala miliknya telah dibawa mereka.

Apabila Firaun memanggil kamu dan bertanya: Apakah pekerjaanmu?

maka jawablah: Hamba-hambamu ini pemelihara ternak, sejak dari kecil sampai sekarang, baik kami maupun nenek moyang kami—dengan maksud supaya kamu boleh diam di tanah Gosyen.' — Sebab segala gembala kambing domba adalah suatu kekejian bagi orang Mesir."
Kejadian 46:28–34 (TB2)

46:28–34 Yakub memercayakan tugas kepada Yehuda untuk mendapatkan petunjuk arah menuju Gosyen dari Yusuf. Yakub memandang Yehuda sebagai pribadi yang dapat dipercaya dan kelak akan melimpahkan berkat yang sangat positif ke atasnya (49:8–12). Ketika keluarga Yakub tiba, Yusuf datang untuk menemui ayahnya. Pertemuan kembali tersebut berlangsung dengan sangat emosional. Untuk memastikan bahwa mereka tidak berasimilasi ke dalam masyarakat Mesir, Yusuf memanfaatkan keengganan orang Mesir terhadap para gembala guna memastikan bahwa keluarganya menetap di tanah Gosyen, yang menjaga jarak antara mereka dengan orang-orang Mesir.


Keluarga Yakub Menghadap Firaun dan Diberi Tanah Gosyen (47:1–12)

"Kemudian pergilah Yusuf memberitahukan kepada Firaun: 'Ayahku dan saudara-saudaraku beserta kambing dombanya, lembu sapinya dan segala miliknya telah datang dari tanah Kanaan, dan sekarang mereka ada di tanah Gosyen.'

Dari antara saudara-saudaranya itu dibawanya lima orang menghadap Firaun.

Firaun bertanya kepada saudara-saudara Yusuf itu: 'Apakah pekerjaanmu?' Jawab mereka kepada Firaun: 'Hamba-hambamu ini gembala domba, baik kami maupun nenek moyang kami.'

Lagi kata mereka kepada Firaun: 'Kami datang untuk tinggal di negeri ini sebagai orang asing, sebab tidak ada lagi padang rumput untuk kumpulan ternak hamba-hambamu ini, karena hebat kelaparan itu di tanah Kanaan; maka sekarang, izinkanlah hamba-hambamu ini menetap di tanah Gosyen.'

Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: 'Ayahmu dan saudara-saudaramu telah datang kepadamu.

Tanah Mesir ini terbuka untukmu. Tunjukkanlah kepada ayahmu dan kepada saudara-saudaramu tempat menetap di tempat yang terbaik dari negeri ini, biarlah mereka diam di tanah Gosyen. Dan jika engkau tahu di antara mereka orang-orang yang tangkas, tempatkanlah mereka menjadi pengawas ternakku.'

Yusuf membawa juga Yakub, ayahnya, menghadap Firaun. Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun.

Kemudian bertanyalah Firaun kepada Yakub: 'Sudah berapa tahun umurmu?'

Jawab Yakub kepada Firaun: 'Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya, tidak mencapai umur nenek moyangku, yakni jumlah tahun mereka mengembara sebagai orang asing.'

Lalu Yakub memohonkan berkat bagi Firaun, sesudah itu keluarlah ia dari depan Firaun.

Yusuf menunjukkan kepada ayahnya dan saudara-saudaranya tempat untuk menetap dan memberikan kepada mereka tanah milik di tanah Mesir, di tempat yang terbaik di negeri itu, di tanah Rameses, seperti yang diperintahkan Firaun.

Dan Yusuf memelihara ayahnya, saudara-saudaranya dan seisi rumah ayahnya dengan makanan, menurut jumlah anak-anak mereka."
Kejadian 47:1–12 (TB2)

47:1–12 Dengan hadirnya keluarganya di Mesir, Yusuf membawa lima orang saudaranya untuk beraudiensi menghadap Firaun. Di hadapan raja Mesir tersebut, mereka memohon izin untuk menetap beserta seluruh ternak mereka di tanah Gosyen. Setelah itu, Yusuf memperkenalkan ayahnya yang telah lanjut usia kepada Firaun. Mengingat bagaimana garis keturunan bapa leluhur (patriline) dalam Kitab Kejadian bertaut erat dengan konsep berkat, tindakan Yakub yang memberkati Firaun kemungkinan besar bermakna lebih dari sekadar bentuk salam dan perpisahan yang lazim dalam tata krama (ay. 7, 10).

Yakub telah berumur 130 tahun ketika ia tiba di Mesir. Saat ia bertutur, "Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya" (ay. 9), ia kemungkinan membandingkan masa hidupnya dengan masa hidup Abraham dan Ishak, yang masing-masing hidup hingga usia 175 dan 180 tahun. Dibandingkan dengan mereka, Yakub memandang tahun-tahun kehidupannya relatif singkat. Mengenai tahun-tahun hidupnya yang penuh kesukaran ("buruk adanya"), Yakub barangkali mengingat kembali masa pengasingannya yang dipaksakan di Padan-Aram serta kepedihannya saat kehilangan Yusuf, putra kesayangannya. Ucapannya mengenai "pengembaraan nenek moyangku" kemungkinan merujuk pada gaya hidup seminomaden mereka, yang mengakui bahwa mereka tidak memiliki kediaman tetap di tanah Kanaan. Di dalam Perjanjian Baru, penulis Surat Ibrani menguraikan bagaimana para bapa leluhur menghidupi pola hidup tersebut dengan menantikan kota yang direncanakan dan dibangun oleh Allah (Ibr 11:9–16). "Tanah Rameses" (ay. 11) kemungkinan besar terletak di dalam kawasan Gosyen. Sebutan "Rameses" ini boleh jadi mencerminkan nama-nama tempat yang lazim digunakan pada masa ketika Kitab Kejadian pertama kali disusun. Nama tersebut kemungkinan berasal dari nama raja Mesir, Rameses I, yang memerintah Mesir pada awal abad ke-13 SM.

Yusuf Mengelola Mesir di Masa Kelaparan (47:13–26)


Yusuf Mengelola Mesir di Masa Kelaparan (47:13–26)

"Di seluruh negeri itu tidak ada makanan, sebab kelaparan itu sangat hebat, sehingga seisi tanah Mesir dan tanah Kanaan lemah lesu karena kelaparan itu.

Maka Yusuf mengumpulkan segala uang yang terdapat di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, yakni uang pembayar gandum yang dibeli mereka; dan Yusuf membawa uang itu ke dalam istana Firaun.

Setelah habis uang di tanah Mesir dan di tanah Kanaan, datanglah semua orang Mesir menghadap Yusuf serta berkata: 'Berilah makanan kepada kami! Mengapa kami harus mati di depanmu? Sebab tidak ada lagi uang.'

Jawab Yusuf: 'Jika tidak ada lagi uang, berilah ternakmu, maka aku akan memberi makanan kepadamu sebagai ganti ternakmu itu.'

Lalu mereka membawa ternaknya kepada Yusuf dan Yusuf memberi makanan kepada mereka ganti kuda, kumpulan kambing domba dan kumpulan lembu sapi dan keledainya, jadi disediakannyalah bagi mereka makanan ganti segala ternaknya pada tahun itu.

Setelah lewat tahun itu, datanglah mereka kepadanya, pada tahun yang kedua, serta berkata kepadanya: 'Tidak usah kami sembunyikan kepada tuanku, bahwa setelah uang kami habis dan setelah kumpulan ternak kami menjadi milik tuanku, tidaklah ada lagi yang tinggal yang dapat kami serahkan kepada tuanku selain badan kami dan tanah kami.

Mengapa kami harus mati di depan matamu, baik kami maupun tanah kami? Belilah kami dan tanah kami sebagai ganti makanan, maka kami dengan tanah kami akan menjadi hamba kepada Firaun. Berikanlah benih, supaya kami hidup dan jangan mati, dan supaya tanah itu jangan menjadi tandus.'

Lalu Yusuf membeli segala tanah orang Mesir untuk Firaun, sebab orang Mesir itu masing-masing menjual ladangnya, karena berat kelaparan itu menimpa mereka. Demikianlah negeri itu menjadi milik Firaun.

Dan tentang rakyat itu, diperhambakannyalah mereka di daerah Mesir dari ujung yang satu sampai ujung yang lain.

Hanya tanah para imam tidak dibelinya, sebab para imam mendapat tunjangan tetap dari Firaun, dan mereka hidup dari tunjangan itu; itulah sebabnya mereka tidak menjual tanahnya.

Berkatalah Yusuf kepada rakyat itu: 'Pada hari ini aku telah membeli kamu dan tanahmu untuk Firaun; inilah benih bagimu, supaya kamu dapat menabur di tanah itu.

Mengenai hasilnya, kamu harus berikan seperlima bagian kepada Firaun, dan yang empat bagian lagi, itulah menjadi benih untuk ladangmu dan menjadi makanan kamu dan mereka yang ada di rumahmu, dan menjadi makanan anak-anakmu.'

Lalu berkatalah mereka: 'Engkau telah memelihara hidup kami; asal kiranya kami mendapat kasih tuanku, biarlah kami menjadi hamba kepada Firaun.'

Yusuf membuat hal itu menjadi suatu ketetapan mengenai tanah di Mesir sampai sekarang, yakni bahwa seperlima dari hasilnya menjadi milik Firaun; hanya tanah para imam tidak menjadi milik Firaun."
Kejadian 47:13–26 (TB2)

47:13–26 Dengan tibanya keluarga Yakub di Mesir, narator memusatkan perhatian pada peran Yusuf selama masa kelaparan. Yusuf mendayagunakan keahlian administratif yang dikaruniakan Allah kepadanya untuk memelihara kelangsungan hidup rakyat Mesir. Ia digambarkan sebagai seorang pemimpin yang berbelas kasih dan tidak mengeksploitasi rakyat demi keuntungan pribadi. Guna memastikan bahwa orang-orang Mesir dapat membeli gandum, Yusuf memfasilitasi mereka untuk menjual tanah mereka kepada Firaun. Meskipun demikian, rakyat diizinkan untuk tetap mempertahankan empat perlima dari segala hasil bumi yang mereka tanam. Kelak, ketika bangsa Israel menetap di tanah Kanaan, mereka mempersembahkan sepersepuluh dari hasil panen utama mereka kepada Allah, sebagai pengakuan bahwa Dialah yang telah mengaruniakan tanah tersebut kepada mereka.

Permintaan Yakub untuk Dikuburkan di Kanaan (47:27–31)


Permintaan Yakub untuk Dikuburkan di Kanaan (47:27–31)

"Maka diamlah Israel di tanah Mesir, di tanah Gosyen, dan mereka menjadi penduduk di situ. Mereka beranak cucu dan sangat bertambah banyak.

Dan Yakub masih hidup tujuh belas tahun di tanah Mesir, maka umur Yakub, yakni tahun-tahun hidupnya, menjadi seratus empat puluh tujuh tahun.

Ketika hampir waktunya bahwa Israel akan mati, dipanggilnyalah anaknya, Yusuf, dan berkata kepadanya: 'Jika aku mendapat kasihmu, letakkanlah kiranya tanganmu di bawah pangkal pahaku, dan bersumpahlah, bahwa engkau akan menunjukkan kasih dan setia kepadaku: Janganlah kiranya kuburkan aku di Mesir,

karena aku mau mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangku. Sebab itu angkutlah aku dari Mesir dan kuburkanlah aku dalam kubur mereka.' Jawabnya: 'Aku akan berbuat seperti katamu itu.'

Kemudian kata Yakub: 'Bersumpahlah kepadaku.' Maka Yusuf pun bersumpah kepadanya. Lalu sujudlah Israel di sebelah kepala tempat tidurnya."
Kejadian 47:27–31 (TB2)

47:27–31 Keluarga Yakub bertambah banyak secara jumlah, yang merupakan tanda berkat ilahi (lihat 1:28; 9:1, 7; 17:20; 28:3; 35:11; 48:4). Seiring berjalannya waktu, pertambahan keluarga Yakub yang luar biasa pesat ini memicu penindasan ketika seorang Firaun baru bangkit memerintah Mesir (lihat Kel 1:7). Menjelang kematiannya yang kian mendekat, Yakub meminta Yusuf untuk menguburkannya di Kanaan. Walaupun ia meninggal di Mesir, Yusuf mengatur agar jenazah ayahnya dimakamkan di Kanaan (49:29–50:14).

Terjemahan NIV untuk 47:31 membaca "tongkat" (bahasa Ibrani: maṭṭeh), sama seperti terjemahan Yunani kuno yang paling awal (Septuaginta). Sebagian besar terjemahan bahasa Inggris modern mengadopsi bacaan "tempat tidur" (bahasa Ibrani: miṭṭāh), bentuk yang ditemukan dalam Teks Masoret (Ibrani). Para penerjemah NIV kemungkinan dipengaruhi oleh Ibrani 11:21, yang menyebutkan "tongkat". Kendati demikian, peristiwa yang disebutkan dalam Ibrani 11:21 bukanlah peristiwa yang sedang digambarkan di sini pada ayat 31.

Yakub Memberkati Yusuf, Efraim, dan Manasye (48:1–22)


Yakub Mengadopsi Manasye dan Efraim (48:1–7)

"Sesudah itu ada orang mengatakan kepada Yusuf: 'Ayahmu sakit!' Lalu dibawanyalah kedua anaknya, Manasye dan Efraim.

Ketika diberitahukan kepada Yakub: 'Telah datang anakmu Yusuf kepadamu,' maka Israel mengumpulkan segenap kekuatannya dan duduklah ia di tempat tidurnya.

Berkatalah Yakub kepada Yusuf: 'Allah Yang Mahakuasa telah menampakkan diri kepadaku di Lus di tanah Kanaan dan memberkati aku

serta berfirman kepadaku: Akulah yang membuat engkau beranak cucu, dan Aku akan membuat engkau bertambah banyak dan menjadi sekumpulan bangsa-bangsa; Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu untuk menjadi miliknya sampai selama-lamanya.

Maka sekarang kedua anakmu yang lahir bagimu di tanah Mesir, sebelum aku datang kepadamu ke Mesir, akulah yang empunya mereka; akulah yang akan empunya Efraim dan Manasye sama seperti Ruben dan Simeon.

Dan keturunanmu yang kauperoleh sesudah mereka, engkaulah yang empunya, tetapi dalam pembagian warisan nama mereka akan disebutkan berdasarkan nama kedua saudaranya itu.

Kalau aku, pada waktu perjalananku dari Padan, aku kematian Rahel di tanah Kanaan di jalan, ketika kami tidak berapa jauh lagi dari Efrata, dan aku menguburkannya di sana, di sisi jalan ke Efrata'—yaitu Betlehem."
Kejadian 48:1–7 (TB2)

48:1–7 Yusuf tidak datang kepada ayahnya dengan dugaan atau harapan bahwa Yakub akan memberkati kedua putranya, Manasye dan Efraim. Ketika berbicara kepada Yusuf, Yakub mengingat kembali janji-janji ilahi yang diterimanya dari Allah di Lus (yaitu Betel; lihat 35:11). Rangkuman Yakub mengenai apa yang dijanjikan Allah bukanlah kutipan harfiah dari firman ilahi yang tercatat dalam 35:11–12. Terlebih lagi, sebagian dari pilihan katanya mengingatkan kembali pada berkat yang diterima Yakub dari ayahnya, Ishak, dalam 28:3–4. Selain itu, ungkapan "miliknya sampai selama-lamanya" (everlasting possession) dalam ayat 4 hanya muncul di bagian lain dalam Kitab Kejadian pada 17:8, kendati ungkapan tersebut merangkum dengan sangat baik janji-janji Allah mengenai tanah Kanaan yang kerap diulangi (mis. 28:13; 35:12). Yakub juga mengenang kembali kematian Rahel, dengan menyebut Efrata sebanyak dua kali. Catatan singkat yang mengaitkan Efrata dengan Betlehem (ay. 7) sangat patut diperhatikan karena keterkaitan Betlehem dengan dinasti Daud. Sekalipun Yakub akan memberikan berkat kesulungan kepada Efraim, ada kemungkinan tersirat petunjuk singkat di sini bahwa Betlehem akan memiliki signifikansi penting di masa depan (lihat juga Rut 4:11–22; 1Sam 16:1).


Yakub Memberkati Manasye dan Efraim (48:8–20)

"Ketika Israel melihat anak-anak Yusuf itu, bertanyalah ia: 'Siapakah ini?'

Jawab Yusuf kepada ayahnya: 'Inilah anak-anakku yang telah diberikan Allah kepadaku di sini.' Maka kata Yakub: 'Dekatkanlah mereka kepadaku, supaya kuberkati mereka.'

Adapun mata Israel telah kabur karena tuanya, jadi ia tidak dapat lagi melihat. Kemudian Yusuf mendekatkan mereka kepada ayahnya: dan mereka dicium serta didekap oleh ayahnya.

Lalu berkatalah Israel kepada Yusuf: 'Tidak kusangka-sangka, bahwa aku akan melihat mukamu lagi, tetapi sekarang Allah bahkan memberi aku melihat keturunanmu.'

Lalu Yusuf menarik mereka dari antara lutut ayahnya, dan ia sujud dengan mukanya sampai ke tanah.

Setelah itu Yusuf memegang mereka keduanya, dengan tangan kanan dipegangnya Efraim, yaitu di sebelah kiri Israel, dan dengan tangan kiri Manasye, yaitu di sebelah kanan Israel, lalu didekatkannyalah mereka kepadanya.

Tetapi Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye—jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung.

Sesudah itu diberkatinyalah Yusuf, katanya: 'Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang,

dan sebagai Malaikat yang telah melepaskan aku dari segala bahaya, Dialah kiranya yang memberkati orang-orang muda ini, sehingga namaku serta nama nenek dan bapaku, Abraham dan Ishak, termasyhur oleh karena mereka dan sehingga mereka bertambah-tambah menjadi jumlah yang besar di bumi.'

Ketika Yusuf melihat bahwa ayahnya meletakkan tangan kanannya di atas kepala Efraim, hal itu dipandangnya tidak baik; lalu dipegangnya tangan ayahnya untuk memindahkannya dari atas kepala Efraim ke atas kepala Manasye.

Katanya kepada ayahnya: 'Janganlah demikian, ayahku, sebab inilah yang sulung, letakkanlah tangan kananmu ke atas kepalanya.'

Tetapi ayahnya menolak, katanya: 'Aku tahu, anakku, aku tahu; ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya; walaupun begitu, adiknya akan lebih besar kuasanya dari padanya, dan keturunan adiknya itu akan menjadi sejumlah besar bangsa-bangsa.'

Lalu diberkatinyalah mereka pada waktu itu, katanya: 'Dengan menyebutkan namamulah orang Israel akan memberkati, demikian: Allah kiranya membuat engkau seperti Efraim dan seperti Manasye.' Demikianlah didahulukannya Efraim dari pada Manasye."
Kejadian 48:8–20 (TB2)

48:8–20 Di atas pembaringan menjelang ajalnya, Yakub berkehendak memberkati anak-anaknya. Sebelum ia berbicara kepada masing-masing anak kandungnya sendiri (49:1–28), ia terlebih dahulu memberkati kedua putra Yusuf, Manasye dan Efraim. Mereka adalah satu-satunya cucu yang ia berkati secara langsung. Dalam memberkati anak-anak Yusuf, Yakub menempatkan kedudukan mereka setara dengan saudara-saudara Yusuf, sehingga melalui kedua putranya tersebut, Yusuf menerima dua bagian warisan (double portion) dari tanah Kanaan saat tanah itu dibagi-bagikan di antara kedua belas suku. (Suku Lewi tidak menerima bagian tanah warisan.) Hal ini mencerminkan status Yusuf sebagai anak sulung (lihat 1Taw 5:1–2). Yang terpenting, Yakub menempatkan Efraim mendahului kakaknya, Manasye (ay. 14). Ketika Yusuf berusaha memastikan agar Manasye menerima berkat kesulungan, Yakub berkukuh untuk memberikan berkat anak sulung tersebut kepada Efraim. Tindakannya ini mengingatkan kembali pada bagaimana Yakub dahulu menerima berkat kesulungan dari ayahnya, Ishak, mendahului kakaknya, Esau (27:1–45). Di luar Kitab Kejadian, suku Efraim menikmati keutamaan dan pengaruh yang sangat besar. Ketika bangsa Israel menduduki tanah Kanaan, seorang keturunan Efraim, yaitu Yosua, yang memimpin mereka memasuki tanah perjanjian. Namun demikian, pada generasi-generasi berikutnya kaum Efraim kehilangan kedudukan istimewa mereka karena hidup mereka yang semakin amoral. Mereka pada akhirnya ditolak oleh Allah pada zaman nabi Samuel ketika kepemimpinan atas bangsa tersebut dialihkan kepada suku Yehuda (lihat Mzm 78:67–71).

Melalui berkat atas Efraim dan Manasye, Yakub pada hakikatnya juga memberkati Yusuf (ay. 15). Pernyataan berkat Yakub menegaskan bahwa Allahlah yang berdaulat memberikan berkat. Sebagai buktinya, Yakub menunjuk pada hadirat dan penyertaan Allah atas kakeknya, Abraham, dan ayahnya, Ishak. Yakub sendiri pun telah mengalami bimbingan dan perlindungan Allah sepanjang hidupnya. Penggunaan istilah "Malaikat" oleh Yakub untuk merujuk kepada Allah merujuk pada ungkapan "Malaikat TUHAN/Allah" (angel of the LORD/God), yang menandakan penampakan diri Allah sendiri saat Ia menyatakan diri kepada manusia (mis. 16:7–14; 21:15–21; 22:11–18; 31:11–13).

Dengan mendahulukan Efraim daripada Manasye, Yakub mengantisipasi bahwa janji-janji ilahi yang diberikan kepada Abraham akan terhubung secara khusus dengan putra bungsu Yusuf tersebut. Walaupun Yakub tidak mengecilkan masa depan Manasye—"ia juga akan menjadi suatu bangsa dan ia juga akan menjadi besar kuasanya"—ia menubuatkan bahwa keturunan Efraim akan menjadi "sejumlah besar bangsa-bangsa" (ay. 19). Di balik pengharapan ini tersirat janji Allah kepada Yakub bahwa "satu bangsa dan sekumpulan bangsa-bangsa" (35:11) akan lahir dari padanya, suatu janji yang berakar kuat dalam perjanjian Allah dengan Abraham bahwa ia akan menjadi "bapa sejumlah besar bangsa" (17:4–6).


Janji Pemulangan ke Kanaan dan Bagian Tanah Tambahan (48:21–22)

"Kemudian berkatalah Israel kepada Yusuf: 'Tidak lama lagi aku akan mati, tetapi Allah akan menyertai kamu dan membawa kamu kembali ke negeri nenek moyangmu.

Dan sekarang aku memberikan kepadamu sebagai kelebihanmu dari pada saudara-saudaramu, suatu punggung gunung yang kurebut dengan pedang dan panahku dari tangan orang Amori.'"
Kejadian 48:21–22 (TB2)

48:21–22 Yakub meneguhkan kembali kepada Yusuf bahwa keluarganya pasti akan kembali ke Kanaan; kata ganti "kamu" dan "-mu" dalam teks Ibrani ayat 21 berbentuk jamak. Ayat 22 terbuka bagi berbagai kemungkinan penafsiran. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai "punggung gunung" (ridge of land; Ibrani: shekhem) juga merupakan nama tempat Sikhem, di pegunungan Efraim (Yos 20:7). Kelak, tulang-tulang Yusuf dimakamkan di sana, menegaskan bahwa wilayah tersebut memang menjadi milik pusaka keturunannya (Yos 24:32).

Yakub Memberkati Kedua Belas Anaknya (49:1–28)


Yakub Memanggil Anak-Anaknya (49:1–2)

"Kemudian Yakub memanggil anak-anaknya dan berkata: 'Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari.

Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub, dengarlah kepada Israel, ayahmu.'"
Kejadian 49:1–2 (TB2)

49:1–2 Setelah memberkati anak-anak Yusuf, Yakub mengumpulkan semua anak kandungnya di sekelilingnya. Perkataannya menjelang kematian ini memiliki signifikansi yang sangat khusus karena berisikan berkat-berkat (lihat 49:28) yang akan memengaruhi apa yang terjadi di masa depan. Mengingat sifatnya yang berupa puisi, isi perkataan berkat Yakub tidak selalu mudah untuk ditafsirkan. Dalam beberapa kasus, pernyataan Yakub berkaitan erat dengan perbuatan masa lalu anak-anaknya. Sekalipun sebagian dari perkataan berkat tersebut tidak sepenuhnya bernada positif, berkat bagi Yehuda (ay. 8–12) dan Yusuf (ay. 22–26) tampak sangat menonjol di antara yang lainnya, baik dari segi panjangnya uraian maupun kepentingannya.


Ruben (49:3–4)

"Ruben, engkaulah anak sulungku, kekuatanku dan permulaan kegagahanku, engkaulah yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan.

Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku!"
Kejadian 49:3–4 (TB2)

49:3–4 Walaupun Ruben adalah anak sulung Yakub, hubungan terlarangnya yang tidak pantas dengan Bilha, salah seorang istri Yakub (lihat 35:22–23), mengakibatkan Yakub menyerahkan hak kesulungan kepada Yusuf (lihat 1Taw 5:1–2). Perkataan Yakub mencerminkan ketidakpercayaannya terhadap Ruben. Di luar Kitab Kejadian, sejarah bangsa Israel tidak pernah mencatat adanya seorang hakim, raja, atau nabi yang berasal dari suku Ruben.


Simeon dan Lewi (49:5–7)

"Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan.

Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permupakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu dengan perkumpulan mereka, sebab dalam kemarahannya mereka telah membunuh orang dan dalam keangkaraannya mereka telah memotong urat keting lembu.

Terkutuklah kemarahan mereka, sebab amarahnya keras, terkutuklah keberangan mereka, sebab berangnya bengis. Aku akan membagi-bagikan mereka di antara anak-anak Yakub dan menyerakkan mereka di antara anak-anak Israel."
Kejadian 49:5–7 (TB2)

49:5–7 Simeon dan Lewi adalah satu-satunya pasangan anak yang digabungkan bersama. Mengingat kembali tindakan agresif dan kejam mereka terhadap laki-laki di Sikhem (lihat 34:25–26), Yakub menyatakan bahwa keturunan mereka akan diserakkan di seluruh tanah Kanaan demi melenyapkan kekuatan mereka. Sementara suku Simeon kelak menerima wilayah yang terkurung di tengah-tengah wilayah suku Yehuda (Yos 19:1–9), suku Lewi diberikan empat puluh delapan kota yang tersebar di seluruh penjuru negeri (Bil 18:23–24; 35:1–8; Yos 21:1–45).


Yehuda (49:8–12)

"Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu.

Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya?

Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.

Ia akan menambatkan keledainya pada pohon anggur dan anak keledainya pada pohon anggur pilihan; ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur.

Matanya akan merah karena anggur dan giginya akan putih karena susu."
Kejadian 49:8–12 (TB2)

49:8–12 Berkat Yakub bagi Yehuda jauh lebih panjang dan jauh lebih positif daripada berkat yang diberikan kepada kakak-kakaknya. Perkataan Yakub menghubungkan jabatan raja di masa depan dengan keturunan Yehuda; hal ini menjadi kenyataan ketika Allah menegakkan sebuah dinasti melalui Daud, anak Isai. Penilaian positif Yakub terhadap masa depan suku Yehuda mencerminkan peran kepemimpinan yang telah dimainkan oleh Yehuda di dalam keluarga Yakub (43:3, 8; 44:14, 16, 18; 46:28). Menggemakan kembali bagaimana ayahnya, Ishak, memberkati dirinya (27:29), Yakub berbicara tentang saudara-saudara Yehuda yang akan sujud kepadanya (ay. 8) serta "ketaatan bangsa-bangsa" (the obedience of the nations, ay. 10; TB2: "kepadanya akan takluk bangsa-bangsa") yang menjadi miliknya. Pengumuman ini agak di luar dugaan, mengingat mimpi-mimpi Yusuf (37:5–10) dan berkat Yakub atas Efraim sebagai anak sulung (48:12–20). Penyebutan tongkat kerajaan dan lambang pemerintahan menegaskan status kerajaan yang akan dianugerahkan kepada suku Yehuda. Terkait erat dengan status ini adalah kemenangan atas musuh-musuh (ay. 8) dan kelimpahan hasil pertanian (ay. 11). Sebagai bagian dari gambaran yang kian berkembang, pengharapan-pengharapan yang terhubung dengan salah seorang keturunan Yehuda ini selaras dengan pengharapan mesianis yang ditemukan di bagian-bagian lain dalam Perjanjian Lama (mis. Mzm 72). Dalam terang inilah dapat dipahami bahwa kiasan singa pada ayat 9 melahirkan sebutan "Singa dari suku Yehuda, tunas Daud" yang digunakan untuk merujuk kepada Yesus Kristus (Why 5:5).


Zebulon dan Isakhar (49:13–15)

"Zebulon akan diam di tepi pantai laut, ia akan menjadi pangkalan kapal, dan batasnya akan bersisi dengan Sidon.

Isakhar adalah seperti keledai yang kuat tulangnya, yang meniarap diapit bebannya,

ketika dilihatnya, bahwa perhentian itu baik dan negeri itu permai, maka disendengkannyalah bahunya untuk memikul, lalu menjadi budak rodi."
Kejadian 49:13–15 (TB2)

49:13–15 Komentar Yakub mengenai Zebulon dan Isakhar tergolong singkat jika dibandingkan dengan perkataannya mengenai Yehuda. Wilayah Zebulon dihubungkan dengan pesisir Laut Mediterania (Laut Tengah) dekat Sidon. Sementara itu, Isakhar disamakan dengan seekor keledai yang akan melayani orang lain.


Dan (49:16–17)

"Adapun Dan, ia akan mengadili bangsanya sebagai salah satu suku Israel.

Semoga Dan menjadi seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang."
Kejadian 49:16–17 (TB2)

49:16–17 Perkataan Yakub mengenai Dan memuat permainan kata atas namanya, yang berarti "ia mengadili" (lihat 30:6). Walaupun pilihan kata dalam ayat 16 memberikan kesan yang baik tentang Dan, gambaran yang disampaikan dalam ayat 17 bernada kurang menguntungkan.


Seruan Pengharapan akan Keselamatan dari TUHAN (49:18)

"Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya TUHAN."
Kejadian 49:18 (TB2)

49:18 Menyelang apa yang sedang dikatakannya mengenai anak-anaknya, Yakub berseru mengenai penantiannya akan keselamatan dan pelepasan dari Allah.


Gad, Asyer, dan Naftali (49:19–21)

"Gad, ia akan diserang oleh gerombolan, tetapi ia akan menyerang tumit mereka.

Asyer, makanannya akan limpah mewah dan ia akan memberikan santapan raja-raja.

Naftali adalah seperti rusa betina yang terlepas; ia akan melahirkan anak-anak indah."
Kejadian 49:19–21 (TB2)

49:19–21 Perkataan Yakub mengenai Gad, Asyer, dan Naftali tergolong singkat. Orang-orang Gad akan menyerang gerombolan penyerbu saat mereka mundur (ay. 19). Suku Asyer akan menikmati kelimpahan makanan yang mewah (ay. 20). Suku Naftali akan memiliki kebebasan untuk berkembang pesat secara jumlah (ay. 21).


Yusuf (49:22–26)

"Yusuf adalah seperti pohon buah-buahan yang muda, pohon buah-buahan yang muda pada mata air. Dahan-dahannya naik mengatasi tembok.

Walaupun pemanah-pemanah telah mengusiknya, memanahnya dan menyerbunya,

namun panahnya tetap kokoh dan lengan tangannya tinggal liat, oleh pertolongan Yang Mahakuat pelindung Yakub, oleh sebab gembalanya Gunung Batu Israel,

oleh Allah ayahmu yang akan menolong engkau, dan oleh Allah Yang Mahakuasa, yang akan memberkati engkau dengan berkat dari langit di atas, dengan berkat samudera raya yang letaknya di bawah, dengan berkat buah dada dan kandungan.

Berkat ayahmu melebihi berkat gunung-gunung yang sejak dahulu, yakni yang paling sedap di bukit-bukit yang berabad-abad; semuanya itu akan turun ke atas kepala Yusuf, ke atas batu kepala orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya."
Kejadian 49:22–26 (TB2)

49:22–26 Sangat berbeda dengan pernyataan-pernyataan singkat dalam ayat 13–21, berkat Yakub atas Yusuf sangat terperinci dan panjang, mencerminkan kedudukannya sebagai anak kesayangan sekaligus sosok yang menggantikan Ruben sebagai anak sulung. Yakub memperkenalkan gagasan tentang keberlimpahan buah (fruitfulness), sebuah tema yang berulang di seluruh Kitab Kejadian. Tema ini juga berkaitan erat dengan arti nama putra Yusuf, Efraim (lihat 41:50–52). Kendati menghadapi banyak permusuhan dan rintangan, Yusuf tetap teguh berdiri dengan pertolongan Allah. Yakub berdoa agar berbagai berkat dari Yang Mahakuasa tercurah ke atas Yusuf, yang ia gambarkan sebagai "orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya" (the prince among his brothers, ay. 26). Berabad-abad kemudian, Musa mengucapkan berkat yang sangat serupa atas keturunan Yusuf, namun dengan tambahan-tambahan yang penting (lihat Ul 33:13–17).


Benyamin (49:27)

"Benyamin adalah seperti serigala yang menerkam; pada waktu pagi ia memakan mangsanya dan pada waktu petang ia membagi-bagi rampasannya."
Kejadian 49:27 (TB2)

49:27 Benyamin adalah anak terakhir yang diberkati oleh Yakub. Pengharapan Yakub bagi keturunan Benyamin mengaitkan mereka dengan perilaku kekerasan yang agresif (lihat Hak 19:12–30).


Penutup: Kedua Belas Suku Israel (49:28)

"Itulah semuanya suku Israel, dua belas jumlahnya; dan itulah yang dikatakan ayahnya kepada mereka, ketika ia memberkati mereka; tiap-tiap orang diberkatinya dengan berkat yang diuntukkan kepada mereka masing-masing."
Kejadian 49:28 (TB2)

49:28 Keturunan dari anak-anak Yakub kelak akan membentuk kedua belas suku Israel. Yakub tidak memberkati mereka semua secara setara, melainkan melimpahkan berkat kepada Yehuda dan Yusuf yang jauh melampaui berkat-berkat yang diberikan kepada saudara-saudaranya yang lain. Hal ini akan memberikan dampak yang sangat besar bagi masa depan setiap suku, khususnya terkait dengan penegakan kerajaan di tengah-tengah bangsa Israel dan penggenapan janji-janji ilahi yang telah dinyatakan kepada para bapa leluhur (patriarchs).

Kematian dan Penguburan Yakub (49:29–50:14)


Pesan Terakhir dan Kematian Yakub (49:29–33)

"Kemudian berpesanlah Yakub kepada mereka: 'Apabila aku nanti dikumpulkan kepada kaum leluhurku, kuburkanlah aku di sisi nenek moyangku dalam gua yang di ladang Efron, orang Het itu,

dalam gua yang di ladang Makhpela di sebelah timur Mamre di tanah Kanaan, ladang yang telah dibeli Abraham dari Efron, orang Het itu, untuk menjadi kuburan milik.

Di situlah dikuburkan Abraham beserta Sara, istrinya; di situlah dikuburkan Ishak beserta Ribka, istrinya,

dan di situlah juga kukuburkan Lea;

ladang dengan gua yang ada di sana telah dibeli dari orang Het.'

Setelah Yakub selesai berpesan kepada anak-anaknya, ditariknyalah kakinya ke atas tempat berbaring dan meninggallah ia, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya."
Kejadian 49:29–33 (TB2)

49:29–33 Yakub meminta untuk dikuburkan bersama Abraham dan Ishak di dalam gua di Hebron, yang dibeli Abraham dari Efron (lihat 23:1–20; 25:8–10; 35:27–29). Menariknya, Yakub menyatakan bahwa ia akan segera "dikumpulkan kepada kaum leluhurku" (ay. 29). Sebagaimana ditegaskan dalam ayat 33, hal ini terjadi ketika Yakub mengembuskan napas terakhirnya; ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya pada saat kematiannya, dan bukan ketika jenazahnya dibaringkan di samping mereka di dalam kubur. Hal ini mengindikasikan adanya kepercayaan akan kehidupan setelah kematian (life after death) yang mencakup dipersatukannya kembali seseorang dengan orang-orang lain (bdk. 25:8).


Pengawetan Jenazah Yakub (50:1–3)

"Lalu Yusuf merebahkan dirinya mendekap muka ayahnya serta menangisi dan mencium dia.

Dan Yusuf memerintahkan kepada tabib-tabib, yaitu hamba-hambanya, untuk merempah-rempahi jenazah ayahnya; maka tabib-tabib itu merempah-rempahi jenazah Israel.

Hal itu memerlukan empat puluh hari lamanya, sebab demikianlah lamanya waktu yang diperlukan untuk merempah-rempahi, dan orang Mesir menangisi dia tujuh puluh hari lamanya."
Kejadian 50:1–3 (TB2)

50:1–3 Kasih Yusuf yang mendalam kepada ayahnya tecermin dalam dukacitanya ketika Yakub meninggal dunia. Untuk menggenapi permintaan ayahnya agar dikuburkan di Kanaan, Yusuf mengatur agar jenazah ayahnya diawetkan melalui proses perempah-rempahan (embalmed). Karena praktik ini tidak lazim dilakukan di luar Mesir, Yusuf mempercayakan tugas tersebut kepada para tabib Mesirnya.


Iring-Iringan Pemakaman ke Kanaan (50:4–11)

"Setelah lewat hari-hari penangisan itu, berkatalah Yusuf kepada seisi istana Firaun: 'Jika kiranya aku mendapat kasihmu, katakanlah kepada Firaun,

bahwa ayahku telah menyuruh aku bersumpah, katanya: Tidak lama lagi aku akan mati; dalam kuburku yang telah kugali di tanah Kanaan, di situlah kaukuburkan aku. Oleh sebab itu, izinkanlah aku pergi ke sana, supaya aku menguburkan ayahku; kemudian aku akan kembali.'

Lalu berkatalah Firaun: 'Pergilah ke sana dan kuburkanlah ayahmu itu, seperti yang telah disuruhnya engkau bersumpah.'

Lalu berjalanlah Yusuf ke sana untuk menguburkan ayahnya, dan bersama-sama dengan dia berjalanlah semua pegawai Firaun, para tua-tua dari istananya, dan semua tua-tua dari tanah Mesir,

serta seisi rumah Yusuf juga, saudara-saudaranya dan seisi rumah ayahnya; hanya anak-anaknya serta kambing domba dan lembu sapinya ditinggalkan mereka di tanah Gosyen.

Baik kereta maupun orang-orang berkuda turut pergi ke sana bersama-sama dengan dia, sehingga iring-iringan itu sangat besar.

Setelah mereka sampai ke Goren-Haatad, yang di seberang sungai Yordan, maka mereka mengadakan di situ ratapan yang sangat sedih dan riuh; dan Yusuf mengadakan perkabungan tujuh hari lamanya karena ayahnya itu.

Ketika penduduk negeri itu, orang-orang Kanaan, melihat perkabungan di Goren-Haatad itu, berkatalah mereka: 'Inilah perkabungan orang Mesir yang amat riuh.' Itulah sebabnya tempat itu dinamai Abel-Mizraim, yang letaknya di seberang Yordan."
Kejadian 50:4–11 (TB2)

50:4–11 Setelah memperoleh izin dari Firaun, Yusuf mengangkut jenazah ayahnya yang telah diawetkan ke Kanaan. Suatu iring-iringan pemakaman yang sangat besar (funeral cortege), termasuk para pejabat terkemuka Mesir, melakukan perjalanan menuju Hebron, kemungkinan melintasi wilayah Transyordan. Signifikansi dari peristiwa tersebut tertangkap dalam nama yang diberikan kepada "tempat pengirikan Atad" (the threshing floor of Atad, ay. 11; TB2: "Goren-Haatad"). Berdasarkan konteksnya, sebutan "Abel-Mizraim" berarti "perkabungan orang Mesir". Bagi penduduk lokal Kanaan, peristiwa perarakan ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa dan tidak lazim.


Penguburan Yakub di Makhpela dan Kepulangan ke Mesir (50:12–14)

"Anak-anak Yakub melakukan kepadanya, seperti yang dipesankannya kepada mereka.

Anak-anaknya mengangkut dia ke tanah Kanaan, dan mereka menguburkan dia dalam gua di ladang Makhpela yang telah dibeli Abraham dari Efron, orang Het itu, untuk menjadi kuburan milik, yaitu ladang yang di sebelah timur Mamre.

Setelah ayahnya dikuburkan, pulanglah Yusuf ke Mesir, dia dan saudara-saudaranya dan semua orang yang turut pergi ke sana bersama-sama dengan dia untuk menguburkan ayahnya itu."
Kejadian 50:12–14 (TB2)

50:12–14 Demi memenuhi pesan terakhir ayahnya, anak-anak Yakub menguburkannya di dalam gua di dekat Mamre (lihat 23:1–20; bdk. 25:8–10; 35:27–29). Seluruh rombongan tersebut kemudian kembali ke Mesir. Dengan menyebut nama Yusuf secara khusus, narator menyoroti statusnya yang terkemuka. Seiring dengan kematian Yakub, kini Yusuf menjadi kepala keluarga.

Yusuf Menenteramkan Hati Saudara-Saudaranya (50:15–21)


Ketakutan Saudara-Saudara Yusuf dan Permohonan Pengampunan (50:15–17)

"Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: 'Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.'

Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: 'Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:

Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.' Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya."
Kejadian 50:15–17 (TB2)

50:15–17 Perlakuan kejam mereka terhadap Yusuf di masa lalu sangat membebani hati saudara-saudaranya. Sekalipun Yusuf telah menunjukkan pengampunan yang luar biasa, mereka khawatir bahwa seiring dengan kematian Yakub, Yusuf akan menuntut balas. Mengetahui betapa Yusuf menghormati ayahnya, saudara-saudaranya mengirimkan pesan kepada Yusuf yang dinyatakan sebagai permohonan dari Yakub agar ia mengampuni saudara-saudaranya. Ketika mendengar pesan tersebut, Yusuf menangis. Hatinya bersedih bahwa saudara-saudaranya tidak memandang pengampunannya sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh tulus.


Yusuf Menenteramkan Hati Saudara-Saudaranya dan Kedaulatan Pemeliharaan Allah (50:18–21)

"Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: 'Kami datang untuk menjadi budakmu.'

Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: 'Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.' Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya."
Kejadian 50:18–21 (TB2)

50:18–21 Diliputi rasa cemas dan gentar, saudara-saudara Yusuf datang sujud di hadapannya. Tindakan mereka mengingatkan kembali pada mimpi-mimpi masa muda Yusuf (37:5–10). Setelah dahulu menjual Yusuf ke dalam perbudakan, kini mereka menawarkan diri untuk menjadi budak-budaknya, dengan harapan bahwa ia akan membiarkan mereka tetap hidup. Yusuf menenteramkan hati mereka agar tidak takut. Sekalipun maksud dan niat mereka jahat, Allah telah mereka-rekakannya untuk mendatangkan kebaikan dari apa yang telah terjadi; banyak nyawa telah diselamatkan.

Kematian Yusuf (50:22–26)


Keturunan Yusuf dan Usia Lanjutnya di Mesir (50:22–23)

"Adapun Yusuf, ia tetap tinggal di Mesir beserta kaum keluarganya; dan Yusuf hidup seratus sepuluh tahun.

Jadi Yusuf sempat melihat anak cucu Efraim sampai keturunan yang ketiga; juga anak-anak Makhir, anak Manasye, lahir di pangkuan Yusuf."
Kejadian 50:22–23 (TB2)

50:22–23 Menjelang akhir Kitab Kejadian, narator mencatat bahwa garis keturunan keluarga Yusuf terus berlanjut melampaui anak-anaknya, Efraim dan Manasye. Ungkapan "anak cucu Efraim sampai keturunan yang ketiga" kemungkinan besar merujuk pada cicit-cicit Yusuf (great-grandchildren).


Pesan Terakhir Yusuf, Janji Pemulangan ke Kanaan, dan Kematiannya (50:24–26)

"Berkatalah Yusuf kepada saudara-saudaranya: 'Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.'

Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: 'Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.'

Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan ditaruh dalam peti mati di Mesir."
Kejadian 50:24–26 (TB2)

50:24–26 Menjelang ajalnya, Yusuf menenteramkan dan meneguhkan hati kaum keluarganya yang lebih luas bahwa Allah pada akhirnya pasti akan melawat serta membawa mereka keluar dari Mesir menuju Kanaan, ke negeri yang telah dijanjikan Allah dengan sumpah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Ketika hal itu kelak digenapi, mereka harus membawa serta tulang-tulang (jenazah) Yusuf ke Kanaan. Oleh karena itu, ketika Yusuf meninggal dunia, mereka menaruh jenazahnya yang telah dirempah-rempahi ke dalam sebuah peti mati. Peti mati biasanya tidak lazim digunakan oleh bangsa Israel kuno saat memakamkan orang mati, sehingga pemakaman Yusuf ini terbilang unik. Permintaan dan imannya ini kelak digenapi ketika bangsa Israel keluar dari Mesir dalam peristiwa Keluaran (Kel 13:19; bdk. Yos 24:32; Ibr 11:22).