Renungan Pagi — 25 Februari 2026

Matius 3:7
Murka yang akan datang.

Sungguh menyenangkan melewati suatu negeri setelah badai mereda; menghirup kesegaran tumbuh-tumbuhan setelah hujan berhenti, dan memperhatikan tetesan air yang berkilauan seperti berlian paling murni di bawah sinar matahari.

Itulah posisi seorang Kristen. Ia sedang melewati negeri di mana badai telah mereda di atas kepala Juruselamatnya, dan jika ada beberapa tetes kesedihan yang jatuh, itu berasal dari awan belas kasihan, dan Yesus menghiburnya dengan jaminan bahwa itu bukan untuk kehancurannya.

Namun betapa mengerikannya menyaksikan datangnya badai: memperhatikan peringatan-peringatan badai; mengamati burung-burung di langit yang menundukkan sayapnya; melihat ternak yang menundukkan kepalanya ketakutan; melihat wajah langit yang menjadi gelap, dan melihat matahari yang tidak bersinar, dan langit yang murka dan cemberut!

Betapa mengerikan menantikan datangnya badai dahsyat—seperti yang kadang terjadi di daerah tropis—menunggu dengan kecemasan yang mengerikan sampai angin menerjang dengan ganas, mencabut pohon-pohon dari akarnya, menjatuhkan batu-batu dari tempatnya, dan meruntuhkan semua tempat tinggal manusia!

Wahai orang berdosa, inilah keadaanmu saat ini.

Saat ini badai itu belum jatuh, tetapi hujan api akan datang. Belum ada angin kencang yang menderu di sekitarmu, tetapi badai Allah sedang mengumpulkan persenjataan dahsyatnya. Banjir air masih tertahan oleh belas kasihan, tetapi pintu air akan segera dibuka: petir-petir Allah masih tersimpan di gudang-Nya, tetapi lihatlah! Badai semakin cepat datang, dan betapa mengerikannya saat itu ketika Allah, yang mengenakan jubah pembalasan, akan maju dengan penuh murka!

Di mana, di mana, di mana, hai orang berdosa, engkau akan menyembunyikan kepalamu, atau ke mana engkau akan melarikan diri? Oh, semoga tangan belas kasihan sekarang menuntunmu kepada Kristus! Dia hadir di hadapanmu dalam Injil: lambung-Nya yang tertikam adalah batu karang perlindungan. Engkau tahu kebutuhanmu akan Dia; percayalah kepada-Nya, serahkan dirimu kepada-Nya, maka badai murka itu tidak akan menimpamu untuk selama-lamanya.


Terjemahan bebas dari Morning and Evening: Daily Readings oleh Pdt Charles H. Spurgeon (1834 - 1892).