Apakah Yesus Kristus benar-benar mati di salib?
"Apakah Yesus Kristus (atau oleh sebagian orang disebut sebagai Isa) benar-benar mati di salib?"
Hampir tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenal nama Soekarno, dan sebagian besar dari kita juga mengenal nama Gajah Mada.
Dalam benak kita Soekarno = Proklamasi Kemerdekaan, dan Gajah Mada = Sumpah Palapa.
Jati diri kita sebagai bangsa ditentukan oleh dua tokoh di atas: Gajah Mada melalui Sumpah Palapa menyatukan pulau-pulau Nusantara, dan Soekarno melalui Proklamasi Kemerdekaan menjadikan Nusantara sebagai satu bangsa dan negara.
Dua tokoh dan dua peristiwa tersebut kita terima sebagai fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Tetapi pada artikel ini kita tidak akan membahas mengenai sejarah Majapahit dan Indonesia.
Kita akan membahas pertanyaan ini:
"Apakah Yesus Kristus (atau oleh sebagian orang disebut sebagai Isa) benar-benar mati di salib?"
Ini pertanyaan yang penting, terutama bagi para pembaca dari agama lain yang ingin memahami mengapa orang Kristen menempatkan salib di pusat iman mereka.
Jawaban singkatnya begini: orang Kristen percaya Yesus benar-benar disalibkan bukan karena diajarkan demikian oleh orang tua atau guru agama mereka, tetapi karena ada bukti-bukti yang berlimpah: (1) Kesaksian paling awal dari para saksi mata, (2) Catatan sejarah non-Kristen, dan (3) Penelitian sejarah modern.
Seperti yang akan kita lihat, semua bukti ini menunjuk ke arah yang sama: Yesus Kristus benar-benar dihukum mati melalui penyaliban di bawah pemerintahan Pontius Pilatus.
Tetapi sebelum kita terjun pada pembahasan tentang bukti, kita perlu memahami pertama mengapa salib begitu penting, dan kedua sekilas tentang ilmu sejarah.
Mengapa salib begitu penting?
Bagi orang Kristen, salib bukan detail kecil dalam kisah Yesus. Salib adalah pusat Injil.
Jika Yesus tidak benar-benar mati, maka kepercayaan Kristen tentang pengampunan dosa, pengorbanan Kristus, dan kebangkitan-Nya kehilangan dasarnya. Itulah sebabnya pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara sambil lalu.
Bahkan, berangkat dari Taurat, Mazmur (Zabur), dan Kitab Para Nabi, semuanya menunjuk pada kematian Yesus sebagai Kurban yang menjadi Pengganti yang menanggung hukuman atas dosa demi keselamatan umat manusia.
Apabila Yesus tidak pernah mati di salib itu, maka seluruh Taurat Musa, Mazmur Daud (Zabur), dan Kitab Para Nabi tidak mencapai tujuan mereka, dan Allah terbukti tidak menepati janji penyelamatan-Nya.
Tetapi syukur kepada Allah karena kematian Yesus di salib sesungguhnya adalah fakta sejarah, bukan karangan atau khayalan orang Kristen.
Sekarang, mari kita sekilas membahas mengenai ilmu sejarah.
Penulisan sejarah kuno
Dalam konteks sejarah kuno hingga awal masa modern, catatan saksi mata atau catatan sejarawan adalah sumber utama bagi kita yang hidup di masa modern ini untuk mengetahui mengenai peristiwa dan tokoh masa lalu.
Berbeda dengan masa setelah listrik dan radio ditemukan, apalagi setelah televisi, HP, dan medsos, pada masa kuno orang hanya bisa merekam apa yang sedang atau pernah terjadi melalui tulisan.
Mari kita kembali pada Ir. Soekarno dan Patih Gajah Mada.
Kita memiliki arsip foto ketika Ir. Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dan kemudian pada tahun 1951 dilakukan rekaman audio oleh RRI setelah Presiden Soekarno berhasil diyakinkan untuk mengabadikan suaranya membacakan naskah Proklamasi.

Namun apabila kita mundur 700 tahun lalu, pada masa Majapahit, maka kita tidak menemukan satu pun dokumentasi Patih Gajah Mada melaksanakan Sumpah Palapa pada tahun 1336 Masehi. Kita mengetahui mengenai Sumpah Palapa ini dari Kitab Pararaton yang oleh para ahli dinyatakan kemungkinan ditulis sekitar tahun 1500 - 1699 M.
Perhatikan ada jarak sekitar 200 - 300 tahun dari zaman Gajah Mada dan peristiwa Sumpah Palapa sampai catatan paling awal tentang peristiwa tersebut.
Apabila proses ini kita lanjutkan maka kita akan menemukan bahwa pada zaman kuno penulisan sejarah seringkali berjarak ratusan tahun antara tokoh dan peristiwa dengan catatan tentang tokoh dan peristiwa tersebut.
Tabel berikut menyajikan perbandingan dokumen sejarah kuno dengan Injil (Perjanjian Baru). Dari perspektif ilmu sejarah, catatan Injil sangat unggul karena bukan saja jarak peristiwa dengan catatan pertama sangat dekat, tetapi karena jumlah salinannya (manuskrip) yang berlimpah.
| Karya Kuno | Waktu Penulisan | Salinan Tertua | Jarak Waktu | Jumlah Manuskrip |
|---|---|---|---|---|
| Julius Caesar, Perang Galia | 58–50 SM | abad ke-9 M | ~900 tahun | ~251 |
| Plato, Karya Filosofis | abad ke-4 SM | abad ke-9 M | ~1.200 tahun | ~240 |
| Homer, Iliad | abad ke-8 SM | abad ke-3 SM | ~500 tahun | ~1.900+ |
| Perjanjian Baru | 50–100 M | abad ke-2 M | < 50–100 tahun | 5.800+ (Yunani) |
Sekarang mari kita teliti lebih lanjut dokumen Injil sebagai catatan sejarah.
Kesaksian paling awal
Surat 1 Korintus ditulis sekitar tahun 50-an Masehi, kira-kira dua puluh tahun setelah penyaliban Yesus. Dalam surat ini Paulus berkata bahwa ia sedang menyampaikan apa yang telah ia terima sebelumnya:
Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. ( 1 Korintus 15:3-5)
Oleh karena itu, para ahli menilai bahwa apa yang disampaikan pada rumusan ini berasal dari tradisi yang lebih awal lagi.
Dengan kata lain, keyakinan bahwa Yesus mati dan bangkit bukan legenda yang muncul ratusan tahun kemudian, melainkan peristiwa yang sejak awal telah diketahui dan diterima sebagai kejadian historis.
Keempat Injil yang ditulis pada sekitar tahun 60 - 90 Masehi menggambarkan penyaliban Yesus sebagai peristiwa nyata berdasarkan kesaksian saksi mata. Mereka juga menempatkan penyaliban Yesus di bawah tokoh sejarah yang jelas: Pontius Pilatus, gubernur Romawi di Yudea. Mereka menyebut lokasi, tokoh-tokoh yang terlibat, waktu peristiwa terjadi, dan reaksi orang-orang pada saat peristiwa tersebut.
Detail-detail ini memberi keyakinan bahwa penyaliban Yesus memang dimaksudkan sebagai peristiwa sejarah, bukan sebagai kisah simbolik, atau legenda.
Sumber non-Kristen
Catatan mengenai penyaliban dan kematian Yesus tidak hanya muncul dalam tulisan Kristen tapi juga dalam catatan sejarawan non-Kristen.
Josephus, sejarawan Yahudi abad pertama, juga menyebut Yesus dan menghubungkan kematian-Nya dengan keputusan Pilatus.[^1] Memang, bagian tulisan Josephus tentang Yesus perlu dibaca hati-hati karena sebagian kalimatnya diperdebatkan oleh para ahli. Tetapi banyak peneliti tetap menilai bahwa inti informasinya, yaitu bahwa Yesus hidup dan dihukum mati di bawah Pilatus, berasal dari Josephus.
Tacitus, sejarawan Romawi pada awal abad kedua, menulis bahwa Christus, asal nama orang Kristen, mengalami hukuman pada masa Kaisar Tiberius melalui Pontius Pilatus.[^2] Tacitus bukan orang Kristen. Bahkan ia memandang gerakan Kristen dengan nada negatif. Namun justru karena itu kesaksiannya penting: ia tidak sedang membela iman Kristen.
Beberapa sumber Yahudi dan Yunani yang lebih kemudian juga menunjukkan bahwa masyarakat pada saat itu mengenal Yesus sebagai tokoh yang dihukum mati. Detailnya tidak selalu lengkap, dan tidak semua sumber sama kuatnya. Tetapi arahnya tetap sama: penyaliban Yesus bukan klaim yang hanya hidup di dalam lingkungan orang Kristen.
Apa kata para sejarawan modern?
Di kalangan ahli sejarah modern, penyaliban Yesus termasuk salah satu peristiwa yang paling luas diterima.
Bart Ehrman, seorang ahli yang sering dikutip mereka yang bukan Kristen untuk menyerang iman Kristen, menyatakan bahwa penyaliban Yesus di bawah Pontius Pilatus adalah salah satu fakta paling pasti tentang kehidupan Yesus.[^3]
Ini bukan berarti semua sejarawan setuju dengan iman Kristen. Banyak sejarawan tidak menerima klaim teologis Kristen, seperti keilahian Yesus, karena metode sejarah akademik tidak dapat mendukung atau menolak hal-hal supranatural. Tetapi mereka tetap mengakui bahwa Yesus benar-benar mati di salib.
Kesimpulan
Ketika orang Kristen berkata Yesus mati disalibkan, itu bukan hanya pernyataan iman karena diajarkan demikian oleh orang tua, pendeta, atau guru agama mereka.
Orang Kristen percaya Yesus benar-benar disalibkan karena ada bukti yang kuat yakni catatan sejarah dari sumber Kristen dan non-Kristen, dan konsensus dari para ahli sejarah modern yang menerima penyaliban dan kematian Yesus sebagai fakta sejarah.
Iman Kristen tidak didasarkan pada dongeng, atau pada kesaksian atau wahyu pribadi tanpa saksi mata.
Iman Kristen berdiri pada peristiwa sejarah: Yesus hidup, Yesus disalibkan, Yesus dikuburkan, dan Yesus bangkit.
Dan karena Yesus benar-benar mati dan benar-benar bangkit, maka pengampunan dosa bukan sekadar harapan kosong. Di dalam Kristus, Allah sungguh membuka jalan keselamatan bagi manusia.
Tuhan memberkati ✝️
[^1]: Josephus, Antiquities 18.3.3. Josephus menulis karyanya ini antara tahun 95 - 99 Masehi.
[^2]: Tacitus, Annals 15.44. Karya Tacitus ini diperkirakan ditulis antara tahun 105-116 Masehi.
[^3]: Lihat misalnya artikel Ehrman di sini.
Komentar ()