Healing bagi jiwa yang letih

Healing yang sejati bukan soal jalan-jalan di mana, tapi berjalan kembali bersama Allah.

Healing yang sejati bukanlah liburan melainkan hubungan yang dipulihkan dengan Allah.
Healing yang sejati bukan soal jalan-jalan di mana, tapi berjalan kembali bersama Allah. Foto: yang wewe / Unsplash

Istilah "healing" sudah menjadi bahasa sehari-hari banyak orang perkotaan. Kadang maksudnya istirahat, kadang liburan, tapi secara umum artinya menjauh, setidaknya untuk sementara waktu, dari tekanan hidup dalam pekerjaan.

Merawat dan memperhatikan diri sendiri tidak salah, tentu saja. Namun dalam artikel ini kita akan membahas singkat apakah yang diajarkan Alkitab mengenai konsep "healing" yang sebenarnya.

Healing menangkap fenomena yang nyata

Kita tidak perlu menertawakan orang yang berkata, "Aku butuh healing." Banyak orang memang mengalami kelelahan: lelah karena pekerjaan, kuliah, keluarga, media sosial, dan tekanan untuk selalu terlihat baik-baik saja.

Ada rasa letih yang perlu diselesaikan. Dan dalam banyak kasus, bahasa healing ini muncul karena orang tidak punya kosakata lain untuk berkata, "Saya lelah, saya butuh istirahat."

Kenyataannya, dalam dunia kerja modern, kebutuhan untuk istirahat sering dipandang sebagai penghambat produktivitas. Beristirahat sering disamakan dengan bermalas-malasan.

Tetapi tubuh manusia bukan mesin. Dalam dunia ini, kita butuh istirahat sama seperti kita butuh bekerja. Tubuh dan pikiran yang selalu diam tidak baik – demikian pula tubuh dan pikiran yang tidak pernah diam.

Healing yang bukan healing

Karena itu tidak heran jika industri hiburan dan pariwisata menjadi sangat berkembang di banyak tempat. Manusia ingin melupakan masalahnya, dan karena itu mencari hiburan di luar kota, mencari tempat "wisata kuliner" untuk mengalami sensasi kenikmatan yang menyenangkan dirinya – walaupun untuk sementara waktu saja.

Ketika dia kembali ke dalam kenyataan sehari-hari, realita itu masih sama: tugas dan pekerjaan masih ada, kesulitan dan kekhawatiran tidak hilang.

Dengan demikian, healing dalam pengertian ini adalah upaya untuk melupakan realita, dan karena itu bukanlah solusi yang sebenarnya kita butuhkan.

Masalah kita sebenarnya lebih dalam. Bukan semata soal pekerjaan dan kesibukan serta ketegangan dan kerumitan hidup sehari-hari.

Malah semuanya itu dapat mengelabui mata kita dari melihat dan memahami persoalan kita yang sebenarnya. Atau mungkin, karena kita tahu persoalan itu terlalu berat dan terlalu parah maka kita sengaja menutupinya.

Masalah terbesar kita

Semua persoalan hidup kita bersumber dan berasal dari satu pokok persoalan utama: ketiadaan Allah.

Apabila Allah adalah sumber hidup dan sumber segala yang baik, maka hidup tanpa Allah pada dasarnya adalah hidup yang menuju pada kematian dan kehancuran.

Pekerjaan dan kesibukan – bahkan agama! – seringkali kita gunakan untuk menutupi persoalan ini.

Kita tidak ingin mengakui dan menghadapi fakta yang kita ketahui dalam lubuk hati kita yang paling dalam bahwa kita adalah orang-orang yang bangkrut, miskin, dan celaka karena kita terpisah dari Allah.

Tetapi mengapa kita terpisah dari Allah?

Karena dosa-dosa kita.

Dosa menyebabkan kita hidup di luar Allah, terpisah dari Allah.

Mengapa demikian?

Karena Allah adalah Suci dan Sempurna sehingga Dia tidak dapat bergaul dengan manusia yang berdosa.

Karena itu, healing sejati yang kita butuhkan adalah pemulihan hubungan kita dengan Allah.

Healing yang sejati

Sebagai orang berdosa, kita adalah musuh Allah.

Kita butuh diperdamaikan dengan Pencipta dan Pemelihara kita yang pada hari terakhir akan menjadi Hakim kita!

Tetapi bukankah Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?

Benar.

Kalau begitu sepanjang kita mau tobat dan menjauhi dosa, maka Allah akan mengampuni kita?

Tidak.

Mengapa?

Karena Allah tidak dapat mengampuni kita tanpa mengingkari keadilan-Nya. Keadilan Allah menuntut hukuman bagi mereka yang berdosa.

Mengapa demikian?

Karena dosa bukan sekadar pelanggaran atas serangkaian peraturan, tetapi penghinaan dan pemberontakan kepada Allah!

Lalu bagaimana?

Dalam diri kita sendiri: buntu.

Tetapi, Allah sendiri telah menyediakan jalan keluar bagi kita: Allah sendiri telah menjadi healing bagi kita!

Karena begitu besar kasih Allah pada kita yang berdosa, Dia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia dan dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Dia telah memberikan nyawa-Nya ganti kita!

Undangan healing

Injil mencatat Yesus dengan penuh kasih memanggil orang yang letih dan berbeban berat.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)

Yesus tidak hanya memberi teknik menenangkan diri; Ia memberikan diri-Nya sendiri sebagai tempat di mana kita bisa mendapatkan kelegaan.

Kelegaan Kristen bukan berarti semua masalah hilang malam ini. Artinya, kita tidak lagi menjalani hidup sebagai orang yang sendirian, tanpa Allah, tanpa pengampunan, dan tanpa pengharapan.

Apabila persoalan mendasar ini telah kita selesaikan, maka Allah hadir bersama kita dan kita dapat menghadapi semua persoalan hidup lainnya!

Healing dalam penderitaan

Namun bagaimana dengan orang percaya yang masih mengalami sakit fisik, penyakit mental, atau penderitaan yang berkepanjangan? Apakah mereka juga mengalami healing?

Ya, healing dalam pengertian yang lebih dalam. Seorang Kristen yang sakit mungkin tidak mengalami penyembuhan fisik hari ini – namun ia mengalami penyembuhan sejati dalam hal ini: ia tahu bahwa penderitaannya tidak terpisah dari kasih Allah, dan ia tidak sendirian dalam penderitaannya itu.

Paulus menulis tentang duri dalam dagingnya – kemungkinan penyakit fisik atau penderitaan tertentu – dan ketika ia meminta Tuhan untuk menghilangkannya, Tuhan menjawab: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Korintus 12:9). Tidak ada janji penyembuhan fisik bagi Paulus di sini, tetapi ada janji kehadiran dan kecukupan Allah.

Ini adalah healing yang berbeda, tetapi tidak kalah sejati. Ketika Allah bersama kita, bahkan penderitaan dapat menjadi sarana di mana kita mengalami kedalaman cinta dan kearifan-Nya.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (Mazmur 23:4)

Istirahat sejati yang Kristen tawarkan bukan pelarian dari penderitaan, melainkan pengharapan bahwa di tengah penderitaan sekalipun, kita dapat memiliki kedamaian yang melampaui akal budi karena Kristus hadir bersama kita.

Penutup

Inilah kabar baik bagi kita yang lelah. Tuhan tidak meminta kita pura-pura kuat sebelum datang kepada-Nya.

Datang kepada Kristus bukan pelarian dari kenyataan. Justru sebaliknya.

Datang kepada Yesus berarti mengakui kenyataan bahwa kita tidak mampu. Bahwa kita bangkrut dan kita butuh pertolongan yang tidak tersedia di mana pun juga – kecuali oleh Allah sendiri.

Tuhan memberkati ✝️