Yesus Sang Pengganti

Salib bukan kegagalan rencana Allah. Sebaliknya, salib adalah tujuan Yesus datang. Yesus tahu Ia harus mati, dan Ia tahu mengapa.

Yesus Sang Pengganti
Taman Getsemani, di Yerusalem, Israel – tempat di mana Yesus ditangkap. Foto: Stacey Franco / Unsplash

Artikel sebelumnya ditutup dengan pengakuan Petrus kepada Yesus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (Matius 16:16). Setelah melihat kuasa Yesus atas penyakit, atas alam, dan atas dunia roh, Petrus akhirnya mulai mengenali siapa Yesus sebenarnya.

Tetapi pengakuan ini menimbulkan pertanyaan baru. Setelah kita tahu siapa Yesus sebenarnya, masih ada pertanyaan yang sama mendesaknya: Sebagai Mesias, apa yang akan Yesus lakukan untuk menyelamatkan umat-Nya? Apa puncak dari misi-Nya? Apakah Yesus akan memulai gerakan revolusioner untuk membebaskan Israel dari penjajahan Romawi?

Sangat mengejutkan karena tepat setelah Petrus mengakui-Nya sebagai Mesias, Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia "harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (Matius 16:21). Raja Penyelamat yang dijanjikan – Anak Allah yang berkuasa atas alam semesta, baik dunia fisik maupun dunia roh – ternyata datang bukan untuk memerintah dengan pedang, tetapi untuk memberikan nyawa-Nya.

Tetapi mengapa Yesus harus mati?

"Tebusan bagi banyak orang"

Yesus sendiri menjelaskan tujuan kedatangan-Nya demikian:

"Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45)[^1]

Perhatikan: Yesus dengan sangat jelas menyatakan bahwa tujuan kedatangan-Nya adalah untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.

Menjadi tebusan berarti menjadi pengganti. Konsep penggantian ini sebenarnya memiliki akar yang panjang, setidaknya dari zaman Nabi Abraham (Ibrahim), yaitu kisah tentang Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya.

Dalam kisah tersebut, tepat ketika Ibrahim akan menyembelih anaknya, dia dicegah oleh Allah, dan sebagai gantinya Allah menyediakan seekor hewan yang menjadi kurban pengganti yang mati sehingga anak Nabi Ibrahim bisa hidup dan tidak mati.[^2]

Demikian pula dalam kisah Yesus: Yesus berkorban, memberikan nyawa-Nya untuk menggantikan kita sehingga semua orang yang percaya kepada-Nya dapat diselamatkan yaitu dibebaskan dari kematian dan menerima hidup yang kekal.

"Inilah tubuh-Ku"

Pada malam sebelum kematian-Nya, Yesus makan dalam perayaan Paskah bersama para murid-Nya. Bagi orang Yahudi, Paskah adalah perayaan pembebasan dari Mesir, ketika Allah menyelamatkan umat-Nya melalui darah anak domba yang dibubuhkan pada pintu rumah mereka.

Sama seperti dalam kisah Nabi Ibrahim di mana hewan kurban mati untuk menggantikan anaknya, dalam kisah Nabi Musa yang diperingati dalam Perayaan Paskah ini, seekor hewan juga mati sebagai kurban pengganti.[^3]

Pada kisah perayaan Paskah yang dicatat dalam Injil, Yesus melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia mengambil roti, memecahkannya, dan berkata:

"Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku." (Matius 26:26)

Lalu Ia mengambil cawan dan berkata:

"Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa." (Matius 26:27-28)

Perhatikan: Yesus menjelaskan makna kematian-Nya sebelum kematian itu terjadi. Salib bukan kecelakaan. Salib bukan kegagalan rencana Allah. Sebaliknya, salib adalah tujuan Yesus datang. Yesus tahu Ia harus mati, dan Ia tahu mengapa.

Sama seperti darah anak domba Paskah telah menyelamatkan umat Israel dari perbudakan di Mesir pada zaman Nabi Musa, demikian pula darah Yesus menyelamatkan manusia dari perbudakan dosa.

"Akulah Dia"

Malam itu, setelah Yesus dan para murid-Nya makan dalam perayaan Paskah, mereka pergi ke Taman Getsemani di sebelah timur Kota Yerusalem.

Tidak lama berselang, Yesus ditangkap oleh para serdadu yang diutus oleh para pemimpin agama Yahudi. Walaupun para prajurit ini diutus oleh para imam tetapi yang menuntun mereka ke tempat itu dan menunjukkan Yesus kepada mereka adalah seorang murid Yesus yang bernama Yudas Iskariot. Setelah Yesus ditangkap, para murid-Nya yang lain lari meninggalkan Dia.

Yesus kemudian dibawa ke hadapan Majelis Agama yang dikenal dengan sebutan Sanhedrin. Para saksi dicari, tetapi kesaksian mereka tidak sepakat (Markus 14:56-59). Akhirnya Imam Besar bertanya langsung kepada-Nya apakah Dia adalah Mesias, Anak Allah, atau tidak.

Yesus menjawab:

"Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." (Markus 14:62)

Imam Besar memahami makna dari pernyataan ini. Yesus mengutip dari Kitab Suci yaitu dari Kitab Mazmur (Zabur) bab 110 tentang Raja yang duduk di sebelah kanan Allah, dan dari Kitab Nabi Daniel bab 7 tentang Anak Manusia yang adalah sosok Ilahi.

Imam Besar yang tidak percaya kepada Yesus kemudian mengoyakkan pakaiannya sendiri sebagai bentuk protes dan kemarahan sekaligus vonis bahwa Yesus telah menghujat Allah dengan mengaku bahwa diri-Nya adalah Mesias, Anak Allah.

Atas vonis penghujatan ini, Majelis Agama kemudian menyatakan Yesus layak dihukum mati.

Perhatikan: Yesus tidak dihukum karena mencuri, membunuh, atau memberontak. Ia dihukum karena pernyataan-Nya tentang diri-Nya sendiri – bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah.

Satu orang benar

Karena Majelis Agama tidak memiliki wewenang untuk melaksanakan eksekusi hukuman mati, maka mereka membawa Yesus kepada Pontius Pilatus, gubernur Romawi untuk wilayah Yudea pada saat itu.

Setelah memeriksa Yesus, Gubernur Pilatus tidak menemukan kesalahan apa pun pada-Nya tetapi para pemuka agama dan massa yang mengikuti mereka menuntut agar Yesus dijatuhi hukuman mati. Karena waktu itu adalah masa perayaan dan menurut kebiasaan pada hari raya gubernur dapat membebaskan seorang tahanan maka Pilatus menawarkan pilihan kepada orang banyak: apakah Yesus atau Barabas yang akan dia bebaskan.

Mengapa Pilatus menawarkan hal ini? Karena dia tahu Barabas adalah seorang penjahat dan pembunuh sedangkan Yesus adalah guru yang populer sehingga dalam situasi ini khalayak pasti akan memilih Yesus untuk dibebaskan.

Tetapi kenyataannya tidak demikian. Orang banyak justru berteriak meminta agar Barabas dibebaskan dan Yesus disalibkan.

Perhatikan pertukaran yang terjadi: orang bersalah dibebaskan, sementara Orang Benar diserahkan untuk mati. Barabas berjalan keluar sebagai orang merdeka – bukan karena ia menyelamatkan dirinya sendiri, bukan karena ia membayar hukumannya, tetapi karena Yesus mengambil tempatnya.

Inilah gambaran paling jelas tentang penggantian. Dan dalam arti yang lebih dalam, Barabas adalah gambaran kita semua. Kita mungkin tidak melakukan kejahatan seperti Barabas, tetapi di hadapan Allah yang kudus, kita adalah orang berdosa yang patut dihukum mati. Namun karena kasih Allah yang begitu besar, kita diselamatkan dan diberikan kehidupan karena Yesus telah menggantikan kita.

Inilah misi kedatangan Yesus, yaitu agar Dia yang benar berdiri di tempat orang bersalah, supaya kita yang bersalah dapat berdiri di hadapan Allah sebagai orang-orang yang dibenarkan.

Mengapa ini penting?

Jika Yesus hanya seorang guru moral, maka salib adalah tragedi karena Yesus menemui ajal-Nya di salib.

Jika Yesus hanya seorang nabi, maka salib adalah kekalahan karena hidup-Nya berakhir di salib.

Tetapi jika Yesus adalah Anak Allah yang datang untuk memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan, maka salib adalah pusat keselamatan karena Dia datang untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Inilah kabar baik dari Allah. Allah tidak menunggu manusia naik kepada-Nya dengan kekuatan mereka sendiri karena Dia tahu pasti hal itu tidak mungkin terjadi. Sebaliknya, dalam Yesus, Allah telah datang ke dalam dunia, memikul beban dosa manusia, dan melalui pengorbanan-Nya, membuka jalan pengampunan dan membawa manusia naik kepada-Nya.

Pada artikel berikutnya, kita akan melihat peristiwa salib itu sendiri, puncak dari karya penyelamatan Allah.

Tuhan memberkati ✝️

[^1]: Frasa "Anak Manusia" adalah frasa yang digunakan Yesus untuk merujuk pada diri-Nya sendiri. Frasa ini berasal dari Alkitab Perjanjian Lama yaitu Kitab Nabi Daniel bab 7 di mana "Anak Manusia" merupakan figur atau sosok Ilahi. Dengan demikian, "Anak Manusia" dalam pemakaian Yesus bukanlah sekadar pengakuan kemanusiaan-Nya, melainkan terutama klaim tersamar tentang keilahian-Nya.

[^2]: Kisah ini dapat Anda baca secara lengkap pada Taurat yaitu Kitab Kejadian bab 22.

[^3]: Kisah Paskah dan pembebasan orang Israel di bawah pimpinan Nabi Musa dapat Anda baca secara lengkap pada Taurat yaitu Kitab Keluaran khususnya bab 12-14.