Yesus Sang Pembebas

Yesus bukan hanya guru yang mengajarkan kebaikan. Ia bukan hanya penyembuh yang menyentuh orang sakit. Ia adalah Pejuang Ilahi yang memasuki wilayah musuh, membebaskan tawanan-tawanan, dan mengalahkan kuasa kegelapan – bukan dengan pedang, tetapi dengan otoritas firman-Nya.

Yesus Sang Pembebas
Foto: Zac Durant / Unsplash

Pada dua artikel sebelumnya, kita melihat kuasa Yesus atas penyakit dan atas alam. Sekarang mari kita membahas kuasa dan otoritas Yesus atas dimensi yang tidak terlihat, yaitu dunia roh.

Para penulis Injil mencatat banyak peristiwa di mana Yesus berhadapan langsung dengan roh-roh jahat, dan sungguh menarik, mereka gemetar dan tunduk pada Yesus.

Ikuti pembahasan pada artikel ini, dan pada bagian akhir, setelah membahas kuasa dan otoritas Yesus atas semua dimensi kehidupan di dunia ini, kita akan kembali kepada pertanyaan tentang identitas Yesus.


"Aku tahu siapa Engkau"

Salah satu peristiwa paling awal dalam pelayanan Yesus terjadi di sinagoga Kapernaum (Markus 1:21-28). Yesus sedang mengajar ketika tiba-tiba seorang pria yang kerasukan roh jahat berteriak:

"Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." (Markus 1:24)

Perhatikan beberapa hal yang luar biasa:

Pertama, roh jahat itu tahu persis siapa Yesus – "Yang Kudus dari Allah." Sementara para pemimpin agama masih berdebat tentang identitas Yesus, dunia roh sudah tahu. Mereka mengenali-Nya jauh sebelum manusia mengenali-Nya.

Kedua, roh itu berkata "Engkau datang hendak membinasakan kami." Kehadiran Yesus adalah awal dari kebinasaan kuasa jahat. Kerajaan Allah yang Yesus beritakan membawa terang ke dunia yang dikuasai kegelapan, dan roh-roh jahat itu tahu bahwa mereka kalah.

Sekarang perhatikan apa yang terjadi berikutnya. Yesus mengucapkan beberapa kata dan dengan itu menunjukkan otoritas-Nya: "Diam, keluarlah dari orang ini!" (Markus 1:25). Dan roh itu keluar.

Tidak ada ritual. Tidak ada mantra. Tidak ada doa panjang. Satu perintah saja, dan apa yang Yesus kehendaki segera terlaksana.


"Anak Allah Yang Mahatinggi"

Kisah paling dramatis tentang pengusiran setan terjadi di wilayah Gerasa, di seberang Danau Galilea (Markus 5:1-20).

Di situ ada seorang laki-laki yang dibelenggu oleh setan. Dia tinggal di area pekuburan, ia telah kehilangan segalanya: keluarga, komunitas, bahkan identitas kemanusiaannya. Tidak ada yang bisa mengikatnya, bahkan dengan rantai. Siang malam ia berteriak-teriak dan melukai dirinya sendiri dengan batu. Bayangkan penderitaannya: seorang manusia yang diperbudak oleh kuasa kegelapan, hidup seperti binatang di antara orang mati.

"Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!" (Markus 5:6-7)

Sekali lagi, roh-roh jahat langsung mengenali Yesus dan reaksi mereka adalah ketakutan total. Mereka menyebut-Nya "Anak Allah Yang Mahatinggi" dan memohon agar tidak disiksa.

Pada kenyataannya, ada banyak roh jahat yang merasuki orang tersebut, tetapi sama seperti pada kisah sebelumnya, Yesus dengan kata-kata-Nya yang penuh kuasa mengusir mereka semua sehingga dalam sekejap pria yang tadinya berteriak-teriak di kuburan sekarang duduk dengan tenang, berpakaian, dan waras (Markus 5:15).

Kedatangan Yesus membawa terang bagi mereka yang ada di tempat-tempat gelap, kehidupan bagi mereka yang tinggal di wilayah kematian, dan pemulihan bagi mereka yang dikuasai kehancuran.


Pola yang jelas

Dari semua peristiwa pengusiran setan, sebuah pola yang sangat jelas muncul:

1. Setan-setan mengenali Yesus. Mereka menyebut-Nya "Yang Kudus dari Allah," "Anak Allah Yang Mahatinggi." Sementara manusia masih bertanya-tanya mengenai identitas Yesus, dunia roh sudah tahu jawabannya.

2. Setan-setan takut kepada Yesus. Mereka tidak melawan – mereka takluk. Tidak perlu ritual. Tidak perlu proses yang panjang. Yesus hanya berkata dan roh-roh jahat itu tunduk kepada-Nya.

3. Yesus bertindak dengan otoritas-Nya sendiri. Perhatikan bahwa Yesus tidak berdoa: "Ya Allah, usirkanlah setan ini." Ia memerintah secara langsung: "Keluarlah!" Otoritas dan kuasa itu ada pada diri-Nya.


Perang kosmis

Mukjizat-mukjizat pengusiran setan mengungkapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar peristiwa-peristiwa individual. Mereka menyingkapkan rahasia yang selama ini terselubung bagi mata manusia, yaitu rahasia bahwa ada perang kosmis yang sedang berlangsung, perang antara Kerajaan Allah dan kerajaan kegelapan. Dan Yesus datang sebagai Penakluk dan Pembebas.

Rasul Yohanes menulis: "Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan iblis" (1 Yohanes 3:8).

Yesus bukan hanya guru yang mengajarkan kebaikan. Ia bukan hanya penyembuh yang menyentuh orang sakit. Ia adalah Pejuang Ilahi yang memasuki wilayah musuh, membebaskan tawanan-tawanan, dan mengalahkan kuasa kegelapan – bukan dengan pedang, tetapi dengan otoritas firman-Nya.


Siapakah Yesus?

Kuasa Yesus atas dunia roh melengkapi gambaran tentang siapa Ia. Ia berkuasa atas penyakit (mukjizat kesembuhan), atas alam (mukjizat atas ciptaan), dan atas dunia roh (pengusiran setan). Tidak ada satu hal atau satu wilayah yang berada di luar otoritas-Nya.

Apabila Anda sudah membaca seri tentang Yesus sampai pada titik ini, maka pertanyaan mengenai identitas Yesus: "Siapakah orang ini?" menjadi semakin mendesak, tetapi juga semakin dekat pada jawabannya.

Yesus sendiri melontarkan pertanyaan ini kepada para murid-Nya: "Apa katamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:15)

Hanya ada satu jawaban yang benar, dan jawaban itu adalah jawaban yang disampaikan Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup." Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga" (Matius 16:16-17).

Apa artinya Mesias dan Anak Allah?

Pertama, perhatikan bahwa Yesus tidak menegur Petrus dan tidak memberikan koreksi atas jawabannya. Sebaliknya, Yesus menyebut Petrus berbahagia karena telah menerima wahyu dari surga.

Lalu, apa itu Mesias?

Dalam pengajaran Kitab Suci Yahudi, yaitu Taurat, Mazmur (Zabur), serta tulisan para Nabi, "Mesias" adalah Raja yang dijanjikan Allah akan datang untuk menyelamatkan umat-Nya, dan seperti diungkapkan Petrus, Mesias ini adalah Anak Allah.

Apa artinya Anak Allah? Apakah ini berarti Allah memiliki anak seperti manusia memiliki anak?

Tidak.

Kita tidak boleh memahami Allah seperti manusia atau ciptaan yang lain, yang memiliki sifat biologis dan fisik.

Yesus adalah Anak Allah berarti Yesus memiliki sifat-sifat seperti Allah sendiri, bahkan lebih dari itu, kuasa dan otoritas-Nya dalam tanda-tanda yang kita sebut sebagai mukjizat-mukjizat-Nya, memberi kepada kita petunjuk yang sangat kuat bahwa Yesus memiliki hakikat ilahi yang sama dengan Allah.

Yesus sendiri dalam tanggapan-Nya atas jawaban Petrus menyebut Petrus berbahagia karena telah menerima wahyu dari Bapa-Nya yang di surga. Siapakah yang dimaksudkan oleh Yesus sebagai Bapa-Nya? Allah.

Perhatikan: Yesus memanggil Allah sebagai Bapa-Nya, dan karena itu jawaban yang diberikan Petrus adalah tepat: Yesus adalah Mesias, yaitu Raja Penyelamat, dan Anak Allah.

Walaupun mukjizat-mukjizat Yesus sangat penting, tetapi kedatangan Yesus bukanlah sekadar untuk menunjukkan tanda-tanda tersebut. Simak artikel berikutnya yang akan membahas puncak dari misi Yesus datang ke dunia ini.

Tuhan memberkati ✝️