Pacaran bagi kaum muda Kristen

Pacaran tidak dengan sendirinya bertentangan dengan Alkitab. Namun, hubungan itu harus dilandaskan pada Kristus.

Prinsip berpacaran bagi pemuda pemudi Kristen
Foto: Nathan Dumlao / Unsplash

Pacaran tidak Alkitabiah?

Konsep pacaran dalam arti modern – pemuda dan pemudi yang menghabiskan waktu bersama dalam hubungan yang bersifat romantis untuk menjajaki kecocokan atau kesiapan bagi komitmen jangka panjang – tidak dikenal hingga abad ke-19 atau ke-20.

Dalam dunia Alkitab pacaran dalam arti modern ini tidak dikenal. Bagi sebagian orang apabila suatu praktik tidak ditemukan dalam Alkitab maka praktik tersebut tidak Alkitabiah.

Namun ada sangat banyak hal yang tidak dicatat di Alkitab hanya karena Alkitab ditulis dalam konteks budaya dan zaman yang sangat berbeda dengan zaman kita sekarang.

Sebagai contoh, Alkitab tidak menulis tentang media sosial atau website seperti ini. Demikian pula tidak ada ayat Alkitab mengenai restoran, sekolah, atau supermarket.

Namun, tidak berarti praktik menggunakan internet dan media sosial, makan di restoran, belajar di sekolah, dan berbelanja di supermarket adalah hal yang buruk.

Bagi orang Kristen, praktik kehidupan yang tidak dicatat dalam Alkitab tidak serta merta berarti praktik itu tidak Alkitabiah dan tidak diperbolehkan dalam Kekristenan.

Kompas hidup Kristen

Kehidupan Kristen tidak dapat diringkas hanya menjadi daftar peraturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Rasul Paulus menulis:

"'Segala sesuatu diperbolehkan.' Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. 'Segala sesuatu diperbolehkan.' Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun." (1 Korintus 10:23)

Bagi kita orang Kristen, pertanyaannya bukan sekadar apakah sesuatu diperbolehkan atau tidak, melainkan apakah suatu hal itu berguna dan membangun – berguna dan membangun bagi orang lain dan bagi Kerajaan Allah.

"Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain... Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." (1 Korintus 10:24, 31).

Singkatnya, segala hal kita nilai menurut dua kriteria ini: kemuliaan Allah dan kebaikan sesama.

Pacaran Kristen

Lantas bagaimana dengan pacaran?

Apabila dipahami sebagai hubungan pertemanan antara seorang pemuda dan seorang pemudi, dengan sifat yang lebih eksklusif dan dengan maksud untuk menjajaki kecocokan sebagai calon pasangan hidup, maka pacaran tentu saja tidak salah.

Tetapi kita tidak berhenti di sini. Hal yang harus kita persoalkan adalah: Apakah hubungan ini memuliakan Allah dan memberkati sesama?

Bagaimana kita memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama kita?

Dengan menjadi seperti Yesus Kristus!

Yesuslah satu-satunya yang berkenan kepada Allah (Matius 17:5), yang memuliakan Allah (Yohanes 17:4), dan merupakan sumber segala berkat Allah bagi manusia (Efesus 1:3; 2 Korintus 1:20; Filipi 4:19).

Karena itu, kehendak Allah bagi umat-Nya adalah supaya mereka menjadi seperti Yesus Kristus! (Roma 8:29).

Bagi anak muda Kristen yang sedang mempertimbangkan untuk pacaran atau sedang berpacaran, maka ketahuilah bahwa hubungan pacaran itu haruslah selaras dengan kehendak Allah.

Secara lebih konkret, kamu perlu menanyakan tiga pertanyaan ini:

  1. Apakah jati diri atau identitas diriku ada dalam Kristus dan Kristus seorang?
    Apabila pacarmu – dan bukan Yesus Kristus – menjadi sumber utama penerimaan dan makna diri bagimu, kamu belum siap berpacaran.
    Yang paling kamu perlukan sekarang bukanlah hubungan romantis, tetapi menemukan jati dirimu di dalam Yesus Kristus: mengenal Yesus dan mengalami kasih-Nya kepadamu.
  2. Apakah Kristus segala-galanya bagiku?
    Apabila kamu lebih fokus pada menyenangkan hati pacarmu bahkan dengan risiko mendukakan Kristus, kamu memiliki berhala dalam hatimu.
    Kamu perlu bertobat dan menyerahkan seluruh hatimu kepada Yesus agar tidak ada ilah lain dalam hidupmu.
  3. Apakah hubungan ini membuat kami bertumbuh dalam Kristus?
    Apabila pacarmu menguasai hidupmu, atau perlahan membuat kamu menyimpang dari Kristus, dia bukan orang yang tepat bagimu.
    Orang yang tepat bagimu adalah orang yang mengasihi Kristus lebih dari mengasihimu, yang ingin selalu menyenangkan Kristus daripada memuaskan kesenangan sendiri atau kesenanganmu.

Pada akhirnya, pacaran bukanlah soal kita tetapi soal Kristus. Karena kasih-Nya yang besar, Ia telah berkorban bagi kita. Sekarang seluruh hidup kita adalah milik-Nya, dan kita rindu Kristus dimuliakan di dalam dan melalui kehidupan kita – baik sebagai single, baik dalam berpacaran, maupun dalam rumah tangga kita.

Biarlah kita semakin bertumbuh dalam anugerah dan pengenalan akan Kristus supaya kita menjadi orang-orang Kristen yang dewasa dan yang tahu membedakan kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (lihat Roma 12:2).

Tuhan memberkati ✝️