Siapakah Nabi yang dijanjikan dalam Taurat?
Bagian 2: Mengapa janji Allah dalam Taurat mengenai nabi yang akan datang menunjuk hanya kepada Yesus – dan bukan yang lain
Mari kita lanjutkan pembahasan tentang nabi yang dijanjikan dalam Taurat. Apakah benar, seperti klaim para pendakwah Muslim, bahwa janji ini menunjuk kepada Muhammad?
Pada pembahasan bagian yang pertama kita telah melihat bahwa ayat yang mengandung janji tentang nabi yang akan datang itu memberikan tiga kriteria sebagai berikut:
- Nabi itu adalah bagi umat Israel
- Nabi itu berasal dari antara umat Israel
- Nabi itu adalah seperti Musa
Pada artikel sebelumnya kita telah membahas dua kriteria yang pertama, dan tiba pada kesimpulan bahwa klaim para pendakwah tidak memenuhi dua kriteria tersebut.
Sekarang mari kita teliti kriteria yang terakhir: Nabi yang akan datang itu adalah nabi yang "seperti Musa."
Seperti Musa dalam hal apa?
Mereka yang mengatakan bahwa Muhammad adalah nabi yang dijanjikan pada Kitab Ulangan bab 18 memberi bukti "kemiripan" antara Musa dan Muhammad yaitu keduanya:
- dikandung dan dilahirkan secara alamiah (tanpa mukjizat)
- menikah dan memiliki keturunan
- wafat secara alami
- memerintah suatu kaum
- diterima oleh kaumnya
Lalu bagaimana dengan Yesus?
Yesus dianggap tidak memenuhi satu pun poin kemiripan di atas:
- Yesus tidak dikandung secara alamiah
- Yesus tidak pernah menikah dan tidak memiliki keturunan fisik
- Yesus tidak wafat secara alami
- Yesus tidak memerintah kaum Israel
- Yesus tidak diterima oleh orang Israel
Lantas, apakah benar nabi yang seperti Musa adalah Muhammad dan bukan Yesus?
Sekilas kemiripan-kemiripan antara Musa dan Muhammad memang masuk akal, tetapi poin-poin "kemiripan" tersebut adalah hal-hal yang juga dimiliki oleh hampir semua manusia yang pernah hidup di dunia ini: (1) lahir, (2) menikah dan memiliki anak, dan (3) meninggal dunia.
Bagaimana dengan poin kemiripan (4) dan (5)? Banyak tokoh dapat memenuhi dua hal tersebut. Semua pemimpin bangsa atau umat baik di zaman kuno maupun modern memenuhi poin (4).
Poin (5), diterima oleh umatnya, juga berlaku bagi para pemimpin dan mereka yang mengaku diri sebagai nabi – mereka diterima dan dikagumi oleh umatnya.
Dengan demikian, poin (1) sampai (5) di atas tidak tepat digunakan sebagai kriteria untuk menentukan identitas nabi yang akan datang tersebut karena sangat banyak pemimpin dan nabi – bukan hanya Muhammad – yang memenuhi kelima poin tersebut.
Karena itu, untuk menentukan identitas nabi yang dijanjikan oleh Tuhan tersebut, yaitu nabi yang "seperti" Musa itu, kita harus memahami poin-poin keunikan Musa.
Keunikan Musa
Kitab Ulangan memberi petunjuk tentang keunikan Musa:
"Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel, dalam hal segala tanda dan mukjizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya, dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel." (Ulangan 34:10-12)
Keunikan Musa yang terutama adalah ia "dikenal Tuhan dengan berhadapan muka" dan ia mengadakan banyak "tanda dan mukjizat" serta perbuatan yang berkuasa dan dahsyat di depan orang Israel.
Musa unik bukan sekadar karena ia pemimpin agama. Melalui Musa, Allah membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir, memberikan firman-Nya kepada mereka, mengadakan perjanjian dengan mereka, dan memimpin mereka menuju ke tanah perjanjian dengan sejumlah tanda dan mukjizat yang dahsyat.
Jika kita mencari nabi seperti Musa, kita perlu mencari sosok yang membawa pembebasan kepada umat yang tertindas, menyampaikan firman Allah, menjadi perantara perjanjian, dan memimpin umat Allah kepada keselamatan yang dibuktikan dengan tanda dan mukjizat yang luar biasa.
Bagaimana Yesus seperti Musa?
Yesus lahir sebagai orang Israel. Ia berasal dari umat yang menerima Taurat. Ia tidak datang sebagai orang luar yang meminjam cerita Israel, tetapi sebagai penggenapan janji Allah kepada Israel.
Yesus juga seperti Musa dalam pola yang lebih dalam.
Pertama, seperti Musa, Yesus ketika masih kecil diancam oleh penguasa yang membunuh anak-anak kecil. Bayi Musa diselamatkan dari kekejaman Firaun; bayi Yesus diselamatkan dari kekejaman Herodes.
Kedua, seperti Musa, Yesus menyampaikan firman Allah – bahkan dengan otoritas yang lebih besar lagi. Dalam Khotbah di Bukit (Matius 5), Yesus berulang kali menggunakan frasa: "Tetapi Aku berkata kepadamu." Ia berbicara sebagai Pribadi yang memiliki otoritas ilahi.
Ketiga, seperti Musa, Yesus menjadi perantara perjanjian – yaitu perjanjian baru yang lebih agung. Pada malam sebelum disalibkan, Yesus berkata, "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku" (Lukas 22:20).
Keempat, seperti Musa memimpin umat keluar dari perbudakan Mesir, Yesus membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan maut. Inilah pembebasan yang lebih mendalam dan abadi.
Kelima, seperti Musa, Yesus mengadakan begitu banyak tanda dan mukjizat yang bahkan lebih dahsyat dari yang dilakukan melalui Musa. Yesus atas kuasa dan otoritas-Nya sendiri menyembuhkan orang sakit, melepaskan orang dari cengkeraman setan, serta menunjukkan kuasa-Nya atas lautan.
Keenam, melebihi Musa yang disebut sebagai nabi yang dikenal Allah dengan berhadapan muka (menunjukkan kedekatan), Yesus adalah Anak Allah yang dikasihi dan diperkenan oleh Allah, Bapa-Nya:
"Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang... Dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: 'Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.'" (Matius 17:2, 5)
Ketujuh, sama seperti Musa yang menyelamatkan umat Israel dalam peristiwa Paskah yaitu melalui penyembelihan hewan kurban (baca Keluaran 12), Yesus terlebih lagi menyelamatkan umat-Nya dengan menyerahkan diri-Nya sendiri sebagai Kurban yang sejati.
Yesus Kristus: Nabi yang dijanjikan Allah
Setelah Yesus bangkit dari kematian dan naik ke surga, para pengikut Yesus yang sebelumnya tidak mengerti siapa Yesus sebenarnya, mulai menyadari bahwa Yesus adalah nabi yang dijanjikan tersebut.
Dalam khotbahnya Petrus, salah seorang pengikut Yesus, mengutip janji tentang nabi seperti Musa dari Ulangan 18 dan menerapkannya kepada Yesus (Kisah Para Rasul 3:22-26). Demikian pula Stefanus, seorang pengikut Yesus yang lain, juga memahami bahwa janji dalam Taurat ini telah digenapi dalam Yesus (Kisah Para Rasul 7:37).
Dengan kata lain, pengikut Yesus sejak awal telah memahami bahwa janji Allah tentang nabi yang akan datang itu telah menemukan penggenapannya dalam Yesus Kristus.
Kesimpulan
Orang Kristen tidak menafsirkan Ulangan 18 sesuka hati. Dalam dua artikel ini kita telah menjelaskan Ulangan 18 secara kontekstual dan bertanggung jawab. Kita tidak memaksakan kehendak kita atas teks Kitab Suci.
Nabi yang dijanjikan Allah itu adalah Yesus. Yesus-lah nabi yang seperti Musa dan sekaligus yang melebihi Musa.
Dan memang sesungguhnya Musa hanyalah bayang-bayang dari Yesus, Sang Juruselamat sejati: Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Firaun. Yesus membebaskan umat-Nya, yang berasal dari seluruh bangsa di muka bumi, dari perbudakan Iblis.
Apabila Anda, pembaca yang budiman, belum mengenal Yesus, gunakan artikel-artikel pada website ini untuk mempelajari lebih lanjut mengenai Yesus. Baca sendiri Taurat dan Injil.
Kemudian berdoalah pada Allah agar Dia menunjukkan kepada Anda jalan dan kebenaran sejati yang membawa pada hidup yang kekal.
Tuhan memberkati ✝️
Komentar ()