Yesus Sang Kurban yang Sejati
Jika Yesus hanya seorang guru, maka salib adalah tragedi. Jika Yesus hanya seorang nabi, maka salib adalah kekalahan.
Pada artikel sebelumnya kita telah membahas kisah tentang persidangan Yesus dan gambaran yang paling jelas tentang penggantian: Barabas, seorang penjahat bersalah, berjalan bebas – sementara Yesus, Yang Tidak Bersalah, diserahkan untuk mati. Kita melihat bahwa inilah misi kedatangan-Nya: memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Sekarang kita tiba di Golgota. Di sinilah misi Yesus itu mencapai tujuannya.
Di antara dua penjahat
Setelah dicambuk hingga nyaris mati, Yesus terlalu lemah untuk memikul salib-Nya sendiri menuju ke luar kota Yerusalem, ke tempat penyaliban. Tentara Romawi memaksa seorang yang sedang lewat – Simon dari Kirene – untuk menanggungnya (Markus 15:21).[^1]
Di bukit Golgota, yang berarti "Tempat Tengkorak", Yesus disalibkan di antara dua orang penjahat. Di atas salib-Nya, Gubernur Pilatus memasang tulisan dalam tiga bahasa – Ibrani, Latin, dan Yunani, yang berbunyi "Yesus orang Nazaret, Raja orang Yahudi" (Yohanes 19:19-20). Tiga bahasa itu mewakili dunia Yahudi, kekuasaan Romawi, dan dunia Yunani – seolah-olah pengumuman tersebut memang ditujukan bagi seluruh umat manusia.
"Ya Bapa, ampunilah mereka"
Di tengah penderitaan yang tak tertanggungkan, Yesus mengucapkan kata-kata pertama-Nya dari salib:
"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34)
Perhatikan: Yesus tidak mengucapkan jeritan kemarahan. Dia tidak mengutuk. Di saat paling gelap dalam sejarah manusia, Yesus yang dihukum secara tidak adil, dalam hukuman yang terlalu hina dan kejam, justru memohonkan pengampunan bagi orang-orang yang menyiksa-Nya.
Inilah karakter Ilahi yang tersingkap tepat di titik penderitaan paling dalam. Seorang nabi bisa mati dengan tabah. Seorang martir bisa mati dengan berani. Tetapi mendoakan pengampunan bagi mereka yang membenci dan menyiksamu? Hanya kasih yang melampaui segala pemahaman manusia yang bisa melakukan itu.
Apakah Anda masih ingat alasan Yesus dituntut dengan hukuman mati? Yesus dihukum mati atas tuduhan penghujatan, yaitu mengaku diri-Nya sebagai Mesias, Anak Allah.
Perhatikan: Bahkan di salib, Yesus memanggil Allah sebagai Bapa-Nya. Dia tidak ingkar karena memang Dia adalah Anak Allah.
"Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
Walaupun penyaliban Yesus terjadi pada siang hari, tetapi Injil mencatat bahwa sejak jam 12 siang wilayah itu telah diliputi kegelapan. Tetapi menjelang jam tiga sore, sesuatu yang lebih gelap terjadi. Dari salib, Yesus berseru dengan suara keras:
"Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46)
Seruan ini bukan tanda keputusasaan semata. Seruan ini adalah kutipan dari Mazmur (Zabur) 22 – sebuah mazmur yang ditulis Raja Daud sekitar seribu tahun sebelumnya, yang menggambarkan secara mencolok penderitaan seorang benar.
Dalam Mazmur itu juga, Daud menulis: "Mereka menusuk tangan dan kakiku... mereka membagi-bagi pakaianku" (Mazmur 22:17-18). Hal ini terjadi pada Yesus (lihat Matius 27:35). Diramalkan 1000 tahun sebelumnya, dan sekarang terjadi dalam peristiwa penyaliban Yesus.
Tetapi di balik penggenapan nubuat itu, ada sesuatu yang lebih dalam dan lebih mengerikan yang sedang terjadi.
Dalam artikel sebelumnya, kita melihat bagaimana seekor hewan kurban mati menggantikan anak Nabi Ibrahim, dan bagaimana darah anak domba Paskah menyelamatkan orang Israel dari kematian. Dan memang dalam kehidupan bangsa Israel sejak zaman Musa, ritual hewan kurban menempati posisi sentral dalam ritual agama Yahudi.
Kurban yang disembelih dari tahun ke tahun selama ribuan tahun dimaksudkan sebagai petunjuk tentang kebutuhan manusia akan solusi yang permanen atas dosa. Apa yang dibutuhkan manusia adalah satu Kurban yang sempurna yang akan menjadi Pengganti untuk menanggung dosa kita dan menerima hukuman yang seharusnya kita tanggung.
Pada peristiwa penyaliban Yesus, kita melihat penggenapan dari seluruh sistem kurban itu. Nabi Yesaya menuliskan ini tujuh ratus tahun sebelum Kristus:
"Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita... dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." (Yesaya 53:5)
Di salib, Yesus bukan hanya menderita secara fisik. Ia menanggung penghakiman dosa sebagai Pengganti kita. Ia masuk ke dalam kengerian yang paling dahsyat karena di salib dan dalam kematian-Nya, Yesus memikul dosa manusia.
Inilah mengapa seruan Yesus itu begitu menggetarkan karena Ia sungguh-sungguh menanggung apa yang seharusnya kita tanggung.
"Sudah selesai"
Menjelang saat kematian-Nya, Yesus dari salib berseru:
"Sudah selesai." (Yohanes 19:30)
Apa artinya ini? Ini bukan teriakan kekalahan. Ini adalah pekik kemenangan.
Misi Yesus di dunia, yang dimulai di palungan Betlehem, yang dilaksanakan melalui pelayanan, pengajaran, dan penyembuhan – semuanya menuju pada satu titik ini. Salib bukan kecelakaan. Salib bukan kegagalan rencana Allah. Salib adalah tujuan Yesus datang.
Tepat saat Yesus menghembuskan napas terakhir, Injil Matius mencatat bahwa tirai pada ruang Mahakudus yang merupakan lambang pemisahan manusia dari hadirat Allah, tirai itu terbelah dua dari atas ke bawah (Matius 27:51).
Siapa yang merobek tirai itu? Allah sendiri yang merobek tirai itu. Selama berabad-abad, hanya imam besar yang boleh masuk ke ruang tersebut, ke hadapan Allah, setahun sekali, dan itu hanya terjadi karena darah hewan kurban yang disembelihnya mewakili umat.
Kini, oleh kematian Yesus, akses itu terbuka bagi semua orang – bukan melalui ritual, tetapi melalui darah Sang Kurban Sejati.
Mengapa ini penting?
Penyaliban Yesus adalah fakta sejarah yang dikonfirmasi bukan hanya oleh Injil, tetapi juga oleh sejarawan Romawi, Yahudi, dan Yunani dari abad pertama dan kedua – dan para sejarawan ini bukan orang Kristen sehingga mereka tidak memiliki agenda tersembunyi untuk melaporkan mengenai peristiwa penyaliban.
Bagi kita sebagai pengikut Yesus, salib bukan hanya peristiwa historis untuk dicatat dalam buku sejarah. Salib adalah tempat di mana kasih Allah dan keadilan Allah bertemu. Di sana, Anak Allah menanggung hukuman yang seharusnya menjadi bagian kita – Ia menyerahkan diri-Nya sebagai kurban karena Ia mengasihi kita.
Jika Yesus hanya seorang guru, maka salib adalah tragedi. Jika Yesus hanya seorang nabi, maka salib adalah kekalahan.
Tetapi jika Yesus adalah Anak Allah yang datang sebagai Kurban Sejati – yang mencapai tujuan puncak dari ribuan tahun sistem kurban yang Allah sendiri rancang sejak zaman Ibrahim dan Musa – maka salib adalah pusat dari seluruh Kitab Suci.
Karena itu Yesus berseru: Sudah selesai. Misi penebusan telah Ia selesaikan.
Namun kisah ini tidak berakhir di salib. Salib adalah bagian pertama dari dua bagian yang akan berakhir dengan kemenangan Allah. Simak pembahasannya pada artikel berikutnya.
Tuhan memberkati ✝️
[^1]: Satu detil yang menarik dari catatan Injil menurut Markus, yaitu Markus menyebut Simon sebagai ayah dari Aleksander dan Rufus. Ini adalah sebuah detail konkret yang memberi indikasi bahwa nama-nama ini dikenal oleh pembaca mula-mula. Hal ini menguatkan keyakinan kita bahwa kisah penyaliban adalah kisah nyata bukan dongeng.
Komentar ()