Yesus Anak Allah

Yesus Anak Allah
Sungai Yordan. Photo by Danny Burke / Unsplash

Pada artikel sebelumnya, kita melihat bagaimana Yesus menjalani kehidupan biasa sebagai tukang kayu di Nazaret hingga pada usia sekitar 30 tahun Ia memulai pelayanan publik-Nya.

Titik mula pelayanan Yesus adalah di Sungai Yordan, di tempat seorang nabi bernama Yohanes membaptis orang-orang yang datang kepadanya. Peristiwa yang terjadi di Sungai Yordan menjadi momen pembuka yang sangat dramatis bagi pelayanan publik Yesus karena di situlah Yesus dibaptis, langit terbuka, dan identitas Yesus dinyatakan. Namun, sebelum kita membahas tentang baptisan Yesus, kita perlu berkenalan terlebih dahulu dengan Yohanes Pembaptis.


Siapakah Yohanes Pembaptis?

Yohanes adalah anak seorang imam Yahudi bernama Zakharia. Sebagai imam, Zakharia bertugas dari waktu ke waktu melayani di Bait Allah. Namun, alih-alih mengikuti jejak ayahnya, Yohanes memilih hidup di padang gurun Yudea. Ia mengenakan jubah dari bulu unta, makan belalang dan madu hutan, dan berkhotbah dengan pesan utama: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!" (Matius 3:2).

Yohanes memiliki peran yang sangat spesifik dalam rencana Allah. Sekitar 450 tahun sebelumnya, nabi Maleakhi telah menulis tentang Yohanes: "Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku" (Maleakhi 3:1). Yohanes adalah utusan itu: ia bertugas untuk mempersiapkan bangsa Israel menyambut kedatangan Mesias.

Orang-orang berbondong-bondong datang kepadanya. Mereka mengakui dosa-dosa mereka dan dibaptis di Sungai Yordan sebagai tanda pertobatan. Baptisan Yohanes adalah ritual pembasuhan, yaitu simbol dari keinginan untuk dibersihkan dari dosa dan memulai hidup yang baru.

Tetapi Yohanes selalu mengatakan: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa daripada aku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak" (Markus 1:7).

Yohanes tahu bahwa ia hanyalah pembuka jalan. Yang utama belum datang, sampai suatu hari Yesus datang ke Sungai Yordan, ke tempat Yohanes membaptis orang banyak.


Yesus dibaptis

Ketika menyadari bahwa yang ada di depannya adalah Yesus, reaksi Yohanes sangat menarik. Ia mencoba mencegah Yesus, dan berkata: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?" (Matius 3:14). Yohanes menyadari bahwa Yesus tidak membutuhkan baptisan pertobatan karena Yesus tidak berdosa.

Tetapi Yesus menjawab: "Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah" (Matius 3:15).

Mengapa Yesus yang tanpa dosa dibaptis? Bukan karena Ia perlu bertobat. Melainkan karena Ia sedang mengidentifikasikan diri-Nya dengan umat manusia. Ia menempatkan diri-Nya bersama orang-orang berdosa, bukan sebagai orang berdosa tetapi sebagai wakil mereka. Seperti seorang pemimpin yang berdiri bersama rakyatnya, bukan karena ia harus, tetapi karena ia memilih untuk berada bersama mereka.

Ini adalah gambaran awal dari seluruh misi Yesus: Ia datang untuk berdiri di tempat kita.


Langit terbuka

Apa yang terjadi selanjutnya adalah salah satu momen paling luar biasa dalam seluruh Alkitab:

"Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan: 'Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.'" (Matius 3:16-17)

Perhatikan, tiga hal terjadi secara bersamaan:

  1. Langit terbuka – Allah yang selama ini tersembunyi tiba-tiba menyingkapkan diri-Nya
  2. Roh Allah turun seperti burung merpati dan tinggal atas Yesus – menandai Yesus sebagai Pribadi yang istimewa dan diperlengkapi untuk misi-Nya
  3. Suara Allah terdengar dari surga, dan Allah mengidentifikasi Yesus secara langsung sebagai Anak-Nya.

Suara Allah dari surga menyatakan kebenaran firman-Nya yang tertulis dalam dua bagian Taurat sekaligus: "Anak-Ku" merujuk pada Mazmur 2:7 (Raja Penyelamat yang dijanjikan), dan "yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" merujuk pada Yesaya 42:1 (Hamba yang Menderita). Dalam satu kalimat, Allah menyatakan bahwa Yesus adalah sekaligus Raja yang dijanjikan dan Hamba yang akan menderita.


Ujian di padang gurun

Segera setelah baptisan tersebut, Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun untuk berpuasa dan diuji selama 40 hari dan 40 malam. Di sana, Iblis datang dengan tiga pencobaan yang menguji identitas Yesus yang telah dinyatakan pada baptisan-Nya, yaitu identitas Yesus sebagai Anak Allah.

  1. "Ubahlah batu-batu ini menjadi roti" – godaan untuk menggunakan kuasa ilahi demi kepentingan diri sendiri.
  2. "Lompatlah dari puncak Bait Allah" – godaan untuk memaksa Allah membuktikan diri.
  3. "Semua ini akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembahku" – godaan untuk meraih kuasa tanpa melalui salib.

Dua pencobaan yang pertama didahului dengan kata-kata "Jika Engkau Anak Allah..." Suatu ujian yang mengerikan karena mencobai Yesus untuk membuktikan identitas-Nya dengan cara yang melawan kehendak Allah, Bapa-Nya. Pada puncaknya, Iblis secara terang-terangan menuntut Yesus untuk sujud menyembah kepadanya.

Setiap kali dicobai, Yesus menjawab dengan mengutip Kitab Suci, khususnya kitab Ulangan, yang mencatat kegagalan bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun. Di mana Israel gagal, Yesus berhasil.

Yesus melewati ujian ini bukan dengan kuasa ilahi yang ajaib, tetapi dengan cara yang bisa diikuti oleh setiap orang percaya: dengan berpegang pada firman Allah.


Mengapa ini penting?

Pembaptisan Yesus adalah titik awal resmi pelayanan-Nya. Sebelum Ia menyembuhkan satu orang sakit, sebelum Ia mengajarkan satu perumpamaan, sebelum Ia memanggil satu murid — identitas-Nya sudah ditetapkan oleh Bapa sendiri.

Yesus tidak perlu membuktikan diri-Nya. Allah sendiri yang menyatakan: "Inilah Anak-Ku."

Dan ujian di padang gurun menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya Mesias yang berkuasa – Ia juga Mesias yang setia. Ia tidak mengambil jalan pintas. Ia tidak menggunakan kuasa-Nya untuk diri sendiri. Ia siap menjalani misi-Nya sampai akhir, betapapun beratnya jalan itu.

Pada artikel berikutnya, kita akan melihat langkah pertama Yesus setelah keluar dari padang gurun: Ia mulai memanggil orang-orang biasa – nelayan, pemungut cukai, orang-orang yang tidak diharapkan siapa pun – untuk mengikuti-Nya. Dan Ia membawa pesan yang akan mengubah dunia untuk selamanya.

Tuhan memberkati ✝️