Yesus Sang Guru
Yesus datang bukan untuk mendirikan agama baru tetapi untuk mengumumkan bahwa Allah sendiri sudah hadir.
Pada artikel sebelumnya, kita melihat bagaimana identitas Yesus dinyatakan secara luar biasa di Sungai Yordan: Yesus dibaptis kemudian Roh Allah dalam rupa burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengar suara dari langit yang menyatakan identitas Yesus sebagai Anak Allah. Setelah peristiwa itu Yesus diuji di padang gurun dan terbukti setia. Sekarang pelayanan-Nya dimulai.
Yesus tidak pergi ke Yerusalem untuk menemui para pemimpin agama. Ia tidak mendirikan lembaga pendidikan. Ia tidak mendirikan partai politik. Sebaliknya, Ia berjalan ke tepi Danau Galilea dan memanggil orang-orang biasa untuk mengikuti-Nya.
12 Murid Yesus
Yesus memilih 12 orang untuk menjadi murid-murid terdekat-Nya. Daftar mereka tercatat dalam tiga Injil (Matius 10:2-4, Markus 3:16-19, Lukas 6:14-16). Yang menarik bukanlah mengenai kehebatan mereka, melainkan keadaan mereka yang adalah orang-orang biasa di antaranya:
- Para nelayan: Simon Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes – pekerja kasar, tangan kapalan, bahasa sederhana. Bukan kalangan terdidik.
- Pegawai kantor pajak: Matius (juga disebut Lewi) – profesi yang paling dibenci di Israel karena mereka bekerja untuk pemerintah Romawi yang menjajah, dan sering memeras rakyat sendiri.
- Seorang Zelot: Simon orang Zelot adalah anggota kelompok nasionalis yang membenci Roma dan menginginkan revolusi bersenjata.
Bayangkan satu tim yang di dalamnya ada Matius (kolaborator dengan penjajah) dan seorang Simon Zelot (pejuang anti-penjajah). Dalam kondisi normal, kedua orang ini tidak akan pernah duduk satu meja. Mereka adalah musuh politik.
Tetapi Yesus memanggil keduanya ke dalam lingkaran yang sama. Ini bukan kebetulan – ini adalah pernyataan tentang sifat Kerajaan Allah yang dihadirkan oleh Yesus: Kerajaan yang melampaui batas-batas politik, sosial, dan ekonomi.
Mengapa orang biasa?
Yesus memilih 12 orang yang disebut-Nya rasul (bahasa Yunani: apostolos yang berarti orang yang diutus) bukan karena Ia tidak memiliki murid yang lebih baik, atau lebih kaya, atau lebih terkenal. Yesus sengaja memilih orang-orang biasa. Ia memilih orang-orang yang dalam ukuran dunia tidak memenuhi syarat.
Paulus, seorang lawan Kekristenan yang kemudian bertobat dan menjadi pengikut Yesus, menjelaskan prinsip ini demikian:
"Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat." (1 Korintus 1:27)
Jika Yesus memilih orang-orang terpelajar dan berpengaruh, maka orang mungkin mengatakan keberhasilan gerakan-Nya karena kecakapan manusia. Tetapi dengan memilih orang-orang biasa, satu hal menjadi jelas: jika gerakan ini berhasil mengubah dunia – dan memang berhasil – maka kuasanya bukan berasal dari para murid, melainkan dari Guru mereka.
Pesan Yesus
Apa yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya dan kepada orang banyak? Injil Markus merangkumnya dalam satu kalimat:
"Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:15)
Ini adalah pesan pertama dan utama Yesus. Bukan sekadar nasihat moral. Bukan filsafat. Melainkan pengumuman tentang suatu kabar baik (bahasa Yunani: euaggelion yang ditransliterasi menjadi Injil dalam bahasa Arab, yang diserap ke dalam bahasa Indonesia).
Kabar baik apakah itu? Yesus membawa kabar baik mengenai Kerajaan Allah. Tetapi apa yang dimaksud dengan "Kerajaan Allah"?
Bangsa Yahudi pada abad pertama hidup di bawah penjajahan Romawi. Mereka menantikan kedatangan seorang Raja yang akan mengusir penjajah, mendirikan kerajaan Israel yang merdeka, dan memerintah seluruh dunia dari Yerusalem.
Namun apa yang menjadi pesan Yesus bukanlah kerajaan yang seperti itu.
Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah yang total dan mutlak dalam kehidupan manusia, yang mentransformasi seluruh aspek kehidupan manusia tersebut. Ini bukan soal wilayah geografis atau kekuasaan politik. Ini tentang Allah sendiri yang datang dan memerintah — menyembuhkan yang sakit, membebaskan yang tertindas, mengampuni yang berdosa, dan mengubah hati manusia dari dalam.
Undangan Yesus
Yang paling revolusioner dari pesan Yesus adalah siapa yang diundang masuk ke dalam Kerajaan ini. Bukan mereka yang dikenal sebagai orang baik. Bukan mereka yang menganggap dirinya layak. Kerajaan Allah bukan klub eksklusif untuk orang-orang religius. Pusat dari Kerajaan ini adalah Yesus, Sang Raja itu sendiri, dan Dia memanggil manusia untuk bertobat, datang kepada-Nya, dan mengikut Dia. Kelak Yesus menjelaskan lebih jauh apa artinya mengikut Dia:
"Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya." (Matius 16:24-27)
Pesan Kerajaan Allah adalah jantung dari seluruh pengajaran Yesus. Tanpa memahami ini, kita akan salah memahami segalanya – mukjizat-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya.
Yesus bukan datang untuk mendirikan agama baru, membuat aturan baru, atau membangun organisasi keagamaan. Ia datang untuk mengumumkan bahwa Allah sendiri sudah hadir dan Ia mengundang semua orang, tanpa terkecuali, untuk bertobat dan masuk ke dalam pemerintahan-Nya yang penuh kasih.
Pada artikel berikutnya, kita akan mendengarkan pengajaran Yesus yang paling terkenal: Khotbah di Bukit. Di sana kita akan menemukan bahwa Yesus bukan sekadar guru moral yang baik – Ia berbicara dengan otoritas yang tidak pernah diklaim oleh nabi atau guru mana pun sebelum atau sesudahnya.
Tuhan memberkati ✝️
Komentar ()