Yesus Sang Pemberi Hukum

Siapakah Yesus sehingga Dia berani menyatakan berbahagialah orang-orang yang menderita karena Dia, bahkan menjanjikan upah di surga bagi mereka?

Yesus Sang Pemberi Hukum
Foto: Claudio Testa / Unsplash

Pada artikel sebelumnya, kita melihat bagaimana Yesus memanggil murid-murid-Nya dan mengumumkan pesan inti-Nya: Kerajaan Allah sudah dekat. Sekarang, mari kita perhatikan pengajaran-Nya yang paling terkenal dan paling mengejutkan.

Banyak orang, termasuk penganut agama lain, mengagumi Yesus sebagai guru moral yang hebat. Mahatma Gandhi, pejuang kemerdekaan India, dikenal sangat mengagumi pengajaran Yesus khususnya bagian yang akan kita bahas pada artikel ini, yang dikenal dengan sebutan Khotbah di Bukit. Bahkan perjuangan Gandhi yang mengutamakan prinsip non-kekerasan dipengaruhi oleh ajaran Yesus ini. Orang-orang yang mengaku tidak beragama pun menganggap Khotbah di Bukit sebagai puncak etika manusia.

Tetapi ketika kita benar-benar membaca Khotbah di Bukit tersebut (Injil menurut Matius bab 5-7), kita menemukan sesuatu yang jauh lebih radikal dari sekadar nasihat moral. Kita menemukan seseorang yang berbicara dengan otoritas yang belum pernah diklaim oleh guru mana pun dalam sejarah.

Ucapan bahagia

Di sebuah bukit di Galilea, Yesus duduk – posisi resmi seorang rabi Yahudi ketika mengajar – sementara murid-murid-Nya dan orang banyak mengerumuninya. Apa yang Ia sampaikan selanjutnya menjadi khotbah paling terkenal sepanjang sejarah.

Khotbah ini dimulai dengan apa yang disebut ucapan bahagia:

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga... Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi... Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga." (Matius 5:3-10)

Bagian ini adalah yang paling terkenal dari Khotbah di Bukit, dan bagian ini pula yang paling sering disalahpahami.

Pada dua ayat terakhir dari Ucapan Bahagia ini, Yesus berkata:

"Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Matius 5:11-12)

Perhatikan: Yesus menempatkan diri-Nya sendiri sebagai pusat dari khotbah ini. Ucapan bahagia itu ditujukan bukan kepada semua manusia yang menderita, tetapi kepada mereka yang mengalami penderitaan karena Yesus. Bahkan upah di surga dijanjikan kepada mereka yang dianiaya karena Yesus.

Siapakah Yesus sehingga Dia berani menyatakan berbahagialah orang-orang yang menderita karena Dia, bahkan menjanjikan upah di surga bagi mereka?

Tetapi "keanehan" ini bukan satu kejadian yang berdiri sendiri. Pada bagian selanjutnya kita akan kembali menjumpai Yesus menempatkan diri-Nya pada posisi yang sangat tinggi, bahkan pada posisi sebagai Tuhan.

"Tetapi Aku Berkata Kepadamu"

Yesus melanjutkan khotbah-Nya dengan pengajaran tentang Taurat.

Dalam agama Yahudi, otoritas tertinggi adalah Taurat yaitu hukum yang diberikan Allah kepada Musa di Gunung Sinai. Tidak ada seorang pun di Israel yang berani menempatkan dirinya di atas Taurat. Para nabi di zaman sebelum Yesus berkata: "Beginilah firman TUHAN" – mereka hanya menyampaikan pesan Allah. Para rabi atau guru-guru Yahudi berkata "Menurut tradisi..." – mereka selalu mengutip tradisi atau pendapat rabi sebelum mereka.

Tetapi Yesus melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya:

"Kamu telah mendengar firman yang dikatakan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh... Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum." (Matius 5:21-22)
"Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." (Matius 5:27-28)
"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:43-44)

Berkali-kali Yesus menggunakan pola yang sama: "Kamu telah mendengar... tetapi Aku berkata kepadamu."

Perhatikan apa yang sedang terjadi di sini. Yesus tidak membatalkan Taurat – Ia sendiri berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakannya tetapi untuk menggenapkannya (Matius 5:17). Yang Ia lakukan jauh lebih radikal: Ia menempatkan diri-Nya sebagai otoritas tertinggi atas Taurat.

Ia tidak berkata "Inilah firman Tuhan kepadamu..." Ia berkata "AKU berkata kepadamu."

Siapakah yang berhak berbicara demikian? Hanya Pemberi Taurat itu sendiri.

Pola Yesus menempatkan diri-Nya pada posisi yang sangat tinggi ini terus berlanjut hingga akhir khotbah ketika Dia menempatkan diri-Nya sebagai Hakim atas setiap manusia.

"Aku tidak pernah mengenal kamu!"

Mengakhiri Khotbah di Bukit, Yesus dengan jelas menyatakan bahwa Dialah yang akan menentukan siapa yang masuk ke dalam surga dan siapa yang tidak: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga... Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu!" (Matius 7:21-23).

Perhatikan: Pada bagian akhir khotbah ini Yesus menempatkan diri-Nya sebagai hakim akhir atas seluruh umat manusia. Hal ini selaras dengan pengajaran Yesus pada bagian sebelumnya: Dia adalah Pemberi Hukum bagi umat manusia, dan karena itu Dia jugalah yang berhak menjadi Hakim dan menentukan nasib akhir semua manusia.

Ini jelas bukan klaim seorang guru. Ini adalah klaim seorang yang percaya bahwa Ia adalah Allah, Sang Pemberi Hukum dan Sang Hakim.

Reaksi para pendengar

Bagaimana reaksi orang-orang yang mendengarkan khotbah ini secara langsung?

"Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka." (Matius 7:28-29)

Mereka merasakan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Ini bukan pengajaran biasa. Para ahli Taurat selalu mengutip pendapat rabi lain atau tradisi mereka, tetapi Yesus berbicara atas otoritas-Nya sendiri. Ia tidak mengutip siapa pun. Ia berbicara seolah-olah Ia sendiri adalah sumber otoritas tertinggi.

Mengapa ini penting?

Membaca Khotbah di Bukit dengan saksama menghancurkan gagasan bahwa Yesus "hanya seorang nabi atau guru moral yang baik." Pengajaran-Nya tidak membiarkan kita menempati posisi netral. Entah Ia benar – dan itu berarti Ia jauh lebih dari sekadar guru – atau Ia salah, dan karena itu Ia bukan guru yang baik sama sekali.

Yesus tidak datang untuk memberikan nasihat hidup. Khotbah di Bukit bukan kumpulan nasihat atau perkataan bijak, melainkan norma hidup dalam Kerajaan Allah. Yesus datang untuk menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah hadir dan kehadiran itu adalah di dalam dan melalui diri-Nya sendiri sehingga satu-satunya respons yang tepat bagi kita adalah datang kepada-Nya.

Pada artikel berikutnya, kita akan melihat bahwa Yesus tidak hanya mengajarkan otoritas-Nya dengan kata-kata – Ia juga menunjukkan kekuasaan-Nya melalui tindakan-Nya. Kita akan membahas mengenai mukjizat yang dilakukan Yesus, dimulai dengan berbagai mukjizat kesembuhan yang menggemparkan seluruh Israel.

Tuhan memberkati ✝️