Yesus Sang Penyembuh
Poin paling penting adalah Yesus bukan hanya melakukan mukjizat tetapi makna di balik setiap mukjizat tersebut yang sedang menunjukkan kepada kita identitas Yesus.
Pada artikel sebelumnya, kita membahas pengajaran Yesus yang penuh otoritas di Khotbah di Bukit. Otoritas Yesus ditunjukkan bukan hanya dalam perkataan tapi juga dalam tindakan-Nya.
Injil mencatat bahwa Yesus menyembuhkan orang buta, orang lumpuh, orang kusta, dan bahkan membangkitkan orang mati. Injil menyebut mukjizat-mukjizat ini sebagai "tanda-tanda". Ini berarti setiap mukjizat bukan sekadar pertunjukan kuasa melainkan petunjuk yang mengarahkan kita kepada siapa Yesus sebenarnya.
Mari kita periksa beberapa mukjizat kesembuhan yang paling penting dan apa yang mereka ungkapkan.
Penyembuhan orang kusta
Dalam dunia kuno, penyakit kusta bukan hanya masalah kesehatan tapi juga kutukan sosial. Hukum Musa memerintahkan orang kusta untuk hidup terpisah dari masyarakat, berteriak "Najis! Najis!" ketika ada orang mendekat, dan mengenakan pakaian yang menandai mereka sebagai orang yang terbuang (Imamat 13:45-46).
Seorang kusta hidup dalam kesendirian total. Tidak ada yang menyentuhnya. Tidak ada yang memeluknya. Ia sudah mati secara sosial jauh sebelum mati secara fisik.
Namun simak apa yang dicatat pada permulaan Injil menurut kesaksian Markus:
"Datanglah kepada-Nya [Yesus] seorang yang sakit kusta... 'Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.' Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: 'Aku mau, jadilah engkau tahir.' Seketika itu juga hilanglah penyakit kusta orang itu." (Markus 1:40-42)
Yesus bisa saja menyembuhkannya hanya dengan sepatah kata. Tetapi Ia memilih untuk menyentuhnya. Dalam budaya Yahudi, menyentuh orang kusta berarti menjadi najis atau kotor. Tetapi yang terjadi justru kebalikannya: bukannya Yesus menjadi najis, tetapi kuasa Yesus mengalir kepada si sakit dan menyembuhkannya, menjadikannya bersih.
Ini bukan sekadar mukjizat medis. Ini adalah pernyataan bahwa Yesus membawa keselamatan yang utuh: keselamatan secara fisik, sosial, dan spiritual.
Pengampunan dan penyembuhan
Kisah ini dicatat dalam Markus 2:1-12 dan merupakan salah satu momen paling dramatis dalam Injil.
Yesus sedang mengajar di sebuah rumah di Kapernaum. Orang banyak memenuhi rumah itu sehingga tidak ada lagi tempat bahkan di depan pintu. Empat orang membawa teman mereka yang lumpuh, tetapi mereka tidak bisa masuk karena banyaknya orang. Namun, mereka tidak menyerah – mereka naik ke atap, membongkar atapnya, dan dengan perlahan menurunkan orang lumpuh itu dengan tandu tepat di hadapan Yesus.
Reaksi Yesus sangat mengejutkan:
"Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: 'Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.'" (Markus 2:5)
Para ahli Taurat yang hadir langsung bereaksi: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" (Markus 2:7)
Perhatikan: Keberatan para ahli Taurat ini valid: memang hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Dan memang itulah klaim yang sedang Yesus buat. Ia tidak mengatakan "kiranya Allah mengampunimu." Bukan. Ia berkata "dosamu sudah diampuni" dan dengan demikian menempatkan diri-Nya dalam posisi Allah!
Lalu, untuk membuktikan bahwa Ia memang memiliki otoritas itu, Yesus berkata kepada si lumpuh: "'Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!' Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu." (Markus 2:11-12).
Kesembuhan fisik adalah bukti yang terlihat dari otoritas spiritual yang tidak terlihat. Pertanyaannya adalah: Siapakah Yesus? Siapakah Dia ini yang memiliki kuasa dan otoritas untuk mengampuni dosa dan memulihkan tubuh manusia?
Pembalikan kematian
Kuasa Yesus ditunjukkan bukan saja atas sakit penyakit tetapi bahkan atas kematian. Injil mencatat bagaimana seorang pemuka agama Yahudi yang bernama Yairus, mencari Yesus karena anak perempuannya mengalami sakit keras dan hampir mati (Markus 5:21-43).
Dalam perjalanan menuju ke rumah Yairus, datang kabar bahwa anak perempuan tersebut sudah mati. Namun Yesus hanya berkata: "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36) dan mereka melanjutkan perjalanan ke rumah Yairus.
Di rumah itu, semua orang menangis tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan berkata: "Talita kum!" – bahasa Aram yang berarti ”Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” (Markus 5:41).
Dan anak yang sudah mati itu pun bangun!
Perhatikan: Untuk membangkitkan anak ini Yesus tidak berdoa kepada Allah terlebih dahulu. Ia tidak berpuasa atau melakukan ritual. Ia hanya memanggil anak tersebut, dan maut harus menyerahkan anak itu kembali kepada-Nya!
Pola yang nyata
Tiga perbuatan ajaib yang kita bahas di atas hanyalah sedikit dari begitu banyak mukjizat yang Yesus kerjakan yang dicatat dalam Injil. Mukjizat penyembuhan dan kebangkitan di atas memberi kita tiga pelajaran yang sangat jelas:
- Yesus tidak menggunakan mantra atau ritual. Ia tidak membutuhkan alat, ramuan, atau upacara. Kuasa ada pada diri-Nya sendiri – dalam sentuhan-Nya, dalam perkataan-Nya.
- Yesus menyembuhkan dengan belas kasihan. Ia bukan dukun yang mencari bayaran atau pengakuan. Ia tergerak oleh penderitaan manusia.
- Setiap mukjizat adalah tanda yang menunjuk kepada identitas-Nya. Hanya Allah yang mengampuni dosa. Hanya Allah yang berkuasa atas kematian. Hanya Pencipta yang dapat memperbaiki ciptaan-Nya. Mukjizat-mukjizat kesembuhan Yesus adalah tanda-tanda bahwa Pencipta itu sendiri sedang berjalan di antara ciptaan-Nya.
Mengapa ini penting?
Mukjizat kesembuhan Yesus menunjukkan bahwa Kerajaan Allah bukan hanya kerajaan spiritual melainkan juga menyentuh kehidupan nyata, tubuh nyata, penderitaan nyata. Allah yang Yesus beritakan dan hadirkan bagi umat pada waktu itu bukanlah Allah yang jauh dan tidak peduli. Ia adalah Allah yang datang, menyentuh, dan menyembuhkan.
Poin paling penting adalah Yesus bukan hanya melakukan mukjizat tetapi makna di balik setiap mukjizat tersebut yang sedang menunjukkan kepada kita identitas Yesus. Apabila Yesus hanyalah seorang manusia biasa, seorang guru yang baik, bahkan seorang nabi yang berkuasa dari Allah maka Kekristenan adalah agama yang palsu karena Kekristenan menyembah Yesus sebagai Allah.
Tetapi ketika kita dengan jujur dan objektif membaca kisah Injil, maka kita tidak dapat menghindar dari kesimpulan bahwa Yesus bukan hanya seorang guru dan nabi, tetapi Dia lebih dari itu. Baik dalam pengajaran-Nya maupun mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya, Yesus jauh melampaui semua nabi yang pernah diutus Allah.
- Yesus datang dan mengajar atas otoritas sendiri – sebagaimana hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri.
- Yesus mengampuni dosa atas otoritas sendiri – sebagaimana hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri.
- Yesus mengerjakan mukjizat kesembuhan dan membangkitkan orang mati dengan kuasa dan otoritas sendiri – sebagaimana hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri.
Lebih lagi, mukjizat Yesus tidak terbatas pada menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Pada artikel berikutnya, kita akan melihat dimensi lain dari kuasa Yesus: kuasa-Nya atas alam semesta.
Tuhan memberkati ✝️
Komentar ()