Yesus Sang Pencipta

Yesus tidak pernah berkata secara harfiah bahwa Dia adalah Allah, tetapi seluruh pengajaran dan perbuatan Yesus menunjukkan dengan nyata dan jelas bahwa Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Allah sendiri yang telah datang menjadi manusia.

Yesus Sang Pencipta
Foto: Eric Prouzet / Unsplash

Pada dua artikel sebelumnya kita telah melihat bagaimana Yesus mengajar orang banyak dengan penuh otoritas, serta menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati dengan kuasa yang berasal dari diri-Nya sendiri. Sekarang kita akan melihat dimensi kuasa yang berbeda: kuasa Yesus atas alam ciptaan.

Jika mukjizat kesembuhan menunjukkan Yesus sebagai Penyembuh, maka mukjizat atas alam memberi kepada kita petunjuk mengenai identitas Yesus sebagai Sang Pencipta karena hanya Pencipta yang berhak dan berkuasa memerintah alam ciptaan-Nya.

Meredakan badai dan gelombang

Kisah ini dicatat dalam Markus 4:35-41 dan merupakan salah satu momen paling dramatis dalam Injil.

Yesus dan murid-murid-Nya sedang menyeberangi Danau Galilea dengan perahu. Danau ini terkenal dengan badai yang datang secara tiba-tiba – posisi geografisnya di antara perbukitan menciptakan terowongan angin yang bisa berubah menjadi badai dalam hitungan menit.

Mari kita simak catatan Injil menurut kesaksian Markus:

"Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air." (Markus 4:36-37)

Apakah yang Yesus lakukan dalam situasi ini? Apakah Yesus berdoa? Tidak, Yesus tidak berdoa. Ia tidak memohon pertolongan Allah. Ia memerintahkan angin dan danau itu: "Diam! Tenanglah!" (Markus 4:39)

Apa yang terjadi kemudian?

"Angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali." (Markus 4:39)

Reaksi para murid sangat mencolok. Mereka bukan merasa lega, sebaliknya mereka ketakutan:

"Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: 'Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?'" (Markus 4:41)

Pertanyaan mereka adalah pertanyaan paling penting yang juga seharusnya menjadi pertanyaan kita ketika kita membaca Injil: Siapakah Yesus sebenarnya?

Dalam Taurat dan Mazmur (Zabur) atau biasa disebut Alkitab Perjanjian Lama, hanya Allah yang berkuasa atas lautan:

"Ya Tuhan, Allah semesta alam, siapakah seperti Engkau? Engkaulah yang menguasai keganasan laut; apabila gelombangnya mengamuk, Engkau yang meredakannya" (Mazmur 89:9-10)

Mengapa murid-murid Yesus menjadi takut? Karena mereka mulai menyadari bahwa Guru mereka bukanlah seorang manusia biasa: angin dan gelombang taat kepada Yesus. Yesus melakukan apa yang hanya dapat Allah lakukan.

Berjalan di atas air

Kisah ini terjadi di danau yang sama (Matius 14:22-33). Yesus menyuruh murid-murid-Nya menyeberang lebih dahulu sementara Ia berdoa sendiri di bukit. Pada dini hari, murid-murid sedang berjuang melawan angin kencang di tengah danau. Lalu mereka melihat sesuatu yang membuat mereka menjerit ketakutan: seseorang berjalan di atas air ke arah mereka.

"Tetapi Yesus segera berkata kepada mereka: 'Tenanglah! Aku ini, jangan takut!'" (Matius 14:27)

Seorang murid Yesus yang bernama Petrus meminta supaya dia diizinkan mendatangi Yesus dengan cara berjalan di atas air juga. Yesus mengizinkannya dan Petrus mulai berjalan di atas air, tetapi begitu ia melihat angin dan ombak, ia takut dan mulai tenggelam. Yesus menolongnya dan setelah mereka naik ke perahu, angin reda. Bagaimana reaksi para murid? Mereka sujud menyembah Yesus dan berkata: "Sungguh, Engkau adalah Anak Allah!" (Matius 14:33)

Peristiwa ini juga menjadi petunjuk penting akan identitas Yesus karena berjalan di atas air hanya dilakukan oleh Allah, seperti dinyatakan oleh Ayub:

"Allah itu bijak dan kuat ... yang seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut." (Ayub 9:4, 8)

Yesus berjalan di atas air adalah suatu hal yang mustahil bagi manusia biasa, tetapi merupakan tanda kebesaran Allah dan petunjuk tentang identitas Yesus.

Memberi makan ribuan orang

Suatu ketika Yesus mengajar orang banyak di tempat yang jauh dari keramaian, dan ketika hari menjelang malam Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk memberi orang banyak tersebut makanan. Masalahnya: ada kira-kira 5.000 laki-laki di sana, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Bisa jadi total ada lebih dari 10.000 orang.

Seorang murid Yesus berkata: "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" (Yohanes 6:9)

Yesus kemudian mengambil roti dan ikan itu, menatap ke langit, mengucap syukur, dan membagikannya. Keajaiban terjadi: Semua orang makan sampai kenyang, bahkan sisa makanan yang dikumpulkan adalah sebanyak 12 bakul penuh (Yohanes 6:12-13).

Mengapa mukjizat ini penting? Karena mukjizat ini menggemakan peristiwa besar dalam Taurat yaitu Allah memberi makan bangsa Israel yang berada di padang gurun dengan roti dari surga (Keluaran 16). Yesus melakukan apa yang Allah lakukan untuk Israel.

Yesus kemudian berkata: "Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya" (Yohanes 6:51). Mukjizat roti bukan hanya tentang perut kenyang – mukjizat ini adalah tanda bahwa Yesuslah sumber kehidupan yang abadi.

Apa arti semua ini?

Perhatikan dengan baik. Mukjizat-mukjizat atas alam ini sangat jelas menyatakan kebesaran dan kemuliaan Yesus sebagai Allah:

  • Badai tunduk kepada perintah-Nya – seperti yang dikatakan Mazmur (Zabur) tentang Allah
  • Air menjadi jalan di bawah kaki-Nya – seperti yang dikatakan Ayub tentang Allah
  • Makanan dilipatgandakan oleh tangan-Nya – seperti yang Allah lakukan di padang gurun pada zaman Musa

Alam ciptaan mengenali Penciptanya dan tunduk kepada-Nya. Yesus tidak memohon kepada Allah untuk melakukan mukjizat-mukjizat ini – Ia melakukannya sendiri, dengan kuasa dan otoritas-Nya sendiri.

Bagaimana dengan Anda, pembaca yang budiman? Apakah Anda akan sujud menyembah Yesus bersama para murid-Nya yang menyaksikan mukjizat-mukjizat ini dan menulis kesaksian mereka dalam Injil?

Yesus adalah Nabi, tetapi Dia bukan hanya seorang nabi. Yesus adalah Guru, tetapi Dia bukan sekadar guru.

Yesus tidak pernah berkata secara harfiah bahwa Dia adalah Allah, tetapi seluruh pengajaran dan perbuatan Yesus menunjukkan dengan nyata dan jelas bahwa Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Allah sendiri yang telah datang menjadi manusia.

Mungkinkah ini terjadi? Dan mengapa Allah harus datang menjadi manusia?

Untuk memahami tujuan kedatangan Yesus, kita harus menunggu sampai akhir kisah Yesus.

Namun, sebelum kita tiba pada kisah tentang salib dan kebangkitan Yesus, kita akan membahas dimensi terakhir dari kuasa Yesus, yaitu kuasa dan otoritas-Nya atas roh-roh jahat dan dunia gaib.

Tuhan memberkati ✝️