Mengapa dalam Kristen tidak ada kurban?

Keindahan iman Kristen sangat terkait dengan konsep kurban.

Mengapa dalam Kristen tidak ada kurban?
Foto: Mouaadh Tobok / Unsplash

Anggapan bahwa dalam Kristen tidak ada konsep kurban adalah keliru total. Kenyataannya, kurban berada pada inti iman Kristen.

Alkitab Kristen sejak kitab pertama hingga kitab yang terakhir secara konsisten dan berkesinambungan mengajarkan konsep kurban. Dalam artikel Tanya Jawab ini kita tidak akan membahas seluruhnya tetapi kita akan membahas konsep kurban dari kisah tiga tokoh besar: Adam, Abraham (Ibrahim), dan Musa.

Adam

Peristiwa hewan dibunuh untuk kepentingan manusia terjadi pertama kali dalam kisah Adam.

Setelah Adam dan istrinya Hawa berdosa dan melanggar perintah Allah, mereka menutupi ketelanjangan mereka dengan membuat pakaian dari rangkaian daun pohon ara.

Namun, Allah dalam anugerah yang besar membuat dan memberikan kepada mereka pakaian yang lebih permanen yaitu pakaian yang terbuat dari kulit hewan.

Walaupun mereka telah bersalah dan dihukum keluar dari Taman Eden, tetapi Allah memberi perlindungan dan penutup bagi mereka. Pakaian kulit hewan berasal dari hewan yang dibunuh dan diambil kulitnya. Ini memberi pola awal: manusia berdosa ditutupi melalui kematian pihak lain.

Abraham (Ibrahim)

Kisah ini mungkin yang paling terkenal dalam kaitan dengan hewan kurban. Abraham diperintahkan Allah untuk mempersembahkan anaknya Ishak dan ketika Abraham akan menyembelih Ishak, Allah campur tangan dan menghentikan Abraham. Sebagai gantinya, Abraham menyembelih seekor hewan kurban.

Satu hal yang jarang dipikirkan tentang kisah ini: dari mana hewan kurban itu berasal? Apakah selain membawa anaknya Abraham juga membawa seekor hewan untuk disembelih?

Tidak. Hewan kurban itu tidak disiapkan oleh Abraham tetapi disediakan oleh Allah sendiri.

Karena itu, pelajaran dari kisah ini bukanlah agar kita mengikuti jejak Abraham dan memberikan hewan kurban bagi orang yang miskin. Kurban itu adalah untuk Allah dan disediakan oleh Allah sendiri.

Pihak yang berkurban bukanlah Abraham melainkan Allah. Kurban yang disediakan Allah itu menggantikan Ishak, anak Abraham, sehingga yang mati adalah hewan kurban tersebut dan bukan Ishak.

Musa

Dalam kisah pembebasan orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir, Allah mengutus Musa untuk menyelamatkan umat-Nya dari Firaun, raja Mesir.

Walaupun Allah telah memberikan banyak tanda tetapi Firaun berulang kali menentang dan menghalangi Musa. Akhirnya Allah menghukum Firaun dan seluruh tanah Mesir dengan sangat keras: seluruh anak sulung (anak pertama) dari setiap rumah di Mesir akan dibinasakan.

Pada saat yang bersamaan, Allah memerintahkan setiap keluarga di antara umat Israel untuk menyembelih seekor hewan dan mengoleskan darahnya di atas pintu supaya Tuhan yang akan menjalankan penghukuman atas Mesir akan melewati rumah yang ditandai dengan darah tersebut.

Pada kisah ini, Allah menyelamatkan umat-Nya melalui kematian hewan kurban sebagai pengganti dari setiap anak sulung di antara umat Israel.

Makna kurban yang sejati

Seperti kita lihat pada tiga contoh di atas, Kitab Suci memberikan sangat banyak penekanan pada konsep kurban. Bahkan seluruh sistem dalam Taurat berpusat pada ritual kurban.

Jadi, apa makna sebenarnya dari kurban?

Kisah Adam, Abraham, dan Musa adalah bagian dari pola besar yang diajarkan dalam Alkitab: Allah mengasihi manusia dan menyelamatkan mereka melalui kurban.

Kita adalah manusia yang jahat dan berdosa sehingga kita patut mati. Tetapi Allah menyediakan jalan keluar bagi kita yaitu kurban. Kurban mati menggantikan manusia yang berdosa sehingga kita bisa selamat dan hidup.

Tetapi kurban hewan tidak pernah dimaksudkan sebagai jawaban yang terakhir. Seluruh hewan kurban menunjuk pada satu Kurban yang sejati.

Anak Domba Allah

Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya di depan umum, seorang nabi yang bernama Yohanes (Yahya) berkata tentang Dia:

"Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." (Yohanes 1:29)

Dengan perkataan ini Yohanes sedang mengatakan bahwa seluruh kurban dalam Kitab Suci menemukan puncaknya dalam Yesus.

Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang "untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45, lihat juga Matius 20:28). Ajaran tentang Yesus sebagai kurban penebus bukan karangan Paulus. Itu keluar dari mulut Yesus sendiri.

Ketika Ia disalib, Yesus bukan sekadar memberi teladan pengorbanan. Ia tidak hanya menunjukkan cinta. Ia menanggung dosa. Ia menjadi Pengganti. Nabi Yesaya sudah menulis jauh sebelumnya: "dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita" (Yesaya 53:5).

Dalam Injil, keselamatan bukan berdasarkan ketakwaan, amal, ritual, atau kemampuan manusia menyerahkan sesuatu kepada Allah. Kenyataannya kita tidak memiliki apa pun untuk kita persembahkan kepada Allah.

Kita penuh dengan kejahatan dan dosa. Kita kotor, hina, dan tak berdaya. Apakah yang dapat kita bawa dan berikan kepada Allah Yang Maha Suci?

Inilah keindahan iman Kristen: kita diselamatkan oleh Allah yang begitu mengasihi kita, Ia rela datang menjadi manusia dan berkorban demi menyelamatkan kita.

Yesus Kristus telah mati di salib sebagai Kurban yang sejati. Setelah kematian dan kebangkitan Yesus, maka kurban hewan tidak diperlukan lagi karena seluruh sistem kurban sejak zaman Adam, Abraham, dan Musa semuanya menunjuk kepada Yesus dan telah menemukan tujuannya dalam pengorbanan Yesus.

Jadi, orang Kristen tidak lagi menyembelih hewan kurban karena Yesus, Sang Kurban yang Sejati itu, telah datang dan memberikan nyawa-Nya demi menyelamatkan umat-Nya, sekali untuk selama-lamanya.

Tuhan memberkati ✝️