Apakah Paulus mengubah ajaran Yesus?

Kita tidak perlu memilih antara Yesus dan Paulus, sebab Paulus sendiri mengikut Yesus Kristus, dan mengajarkan apa yang Yesus ajarkan.

Apakah Paulus mengubah ajaran Yesus?
Gereja St. Paul di Damaskus, Suriah. Paulus bertobat dan menjadi Kristen dalam perjalanan menuju Kota Damaskus. Foto: Wikimedia Commons.

Orang Kristen sering kali dituduh sebagai pengikut Paulus bukan Yesus. Asumsi di balik tuduhan ini adalah bahwa Paulus dan Yesus bukan saja berbeda tetapi bertentangan. Bahkan Paulus juga dituduh telah mengubah ajaran Yesus.

Apakah tuduhan ini benar?

Jawaban singkatnya: tidak. Paulus dan Yesus tidak bertentangan, dan Paulus tidak mengubah ajaran Yesus.

Menariknya, Paulus sendiri dalam salah satu suratnya kepada jemaat di Kota Korintus menulis "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus." (1 Korintus 11:1)

Perhatikan: Paulus melihat dirinya sebagai pengikut Yesus Kristus yang serius dan sungguh-sungguh, dan karena itu ia mengajak jemaat untuk meneladani dia seperti ia meneladani Kristus.

Mari kita teliti isu ini dengan lebih saksama.

Paulus dan gereja mula-mula

Yang pertama harus kita ingat adalah Paulus pada awalnya bukanlah pengikut Kristus. Sebaliknya dia bekerja aktif untuk melawan gereja dan jemaat Kristen mula-mula.

Artinya, bahkan sebelum Paulus menjadi Kristen, sudah ada jemaat yang menyembah Yesus, mengikuti ajaran-Nya, dan bahkan menderita penganiayaan sebagai pengikut Kristus.

Lantas apa yang terjadi setelah Paulus bertobat dan menjadi pengikut Kristus?

Hal pertama yang terjadi adalah Paulus "tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid" yang ada di Kota Damaskus. Ia diterima oleh jemaat Kristen di kota itu, sehingga banyak orang menjadi terheran-heran karena ia yang tadinya adalah musuh sekarang menjadi murid Kristus (Kisah Para Rasul 9:17-22).

Selama waktu tersebut, Paulus yang adalah seorang pemuka agama Yahudi yang sangat mengetahui isi Taurat, segera menyadari bahwa Yesus adalah Sang Mesias yang dijanjikan Allah dalam Kitab Suci. Dan inilah juga yang segera ia beritakan kepada orang-orang Yahudi di rumah-rumah ibadah mereka (Kisah Para Rasul 9:20).

Apa yang Paulus ajarkan?

Dalam 1 Korintus 15, Paulus menyebut Injil yang dia beritakan sebagai sesuatu yang telah ia "terima." Ini berarti ia tidak sedang mengaku sebagai sumber pertama, melainkan sebagai penerus kesaksian yang sudah diterima oleh gereja yang mula-mula.

Dengan kata lain, Injil yang Paulus sebarkan bukan hal yang asing dan berbeda dari yang diajarkan oleh gereja pada saat itu. Sejak semula, inti iman Kristen adalah tentang pribadi dan karya Yesus Kristus – bukan yang lain.

Apabila kita membaca surat-surat Paulus dan Kitab Kisah Para Rasul, kita akan menemukan bahwa Paulus dan ajarannya tidak pernah dianggap sesat baik oleh para rasul yang lain maupun oleh jemaat yang telah menjadi Kristen sebelum Paulus bertobat.

Paulus mengajarkan apa yang Yesus ajarkan

Sering kali tuduhan terhadap Paulus adalah ia mengajarkan apa yang tidak pernah Yesus ajarkan. Salah satu contoh favorit adalah tentang penebusan dosa. Sebagian pendebat muslim menuduh bahwa ajaran tentang penebusan dosa melalui kematian Yesus adalah karangan Paulus bukan ajaran Yesus.

Tuduhan ini tidak memiliki dasar sama sekali dalam Kitab Suci. Persoalan yang sangat disesalkan dari begitu banyak pendebat adalah mereka tidak sungguh-sungguh ingin mengerti teks Alkitab, tetapi memaksakan keinginan mereka untuk mempersoalkan dan mempertentangkan tulisan-tulisan Kitab Suci.

Terkait penebusan, ada begitu banyak bukti dari Kitab Suci yang menunjukkan dengan jelas bahwa Yesus mengajarkan penebusan dosa melalui penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang "bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Matius 20:28, lihat juga Markus 10:45).

Perhatikan: Yesus "memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang." Memberikan nyawa berarti mati. Yesus mati untuk menebus atau membebaskan banyak orang.

Jadi, ketika Paulus berkata bahwa "Kristus Yesus telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia" (1 Timotius 2:5b-6), ia sedang mengajarkan hal yang sama dengan yang Yesus sendiri ajarkan.

Satu lagi: Pada saat makan malam sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan, Injil mencatat:

"Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: 'Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.' Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: 'Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.'" (Matius 26:26-28)

Yesus mencurahkan darah-Nya untuk pengampunan dosa banyak orang.

Jelas bahwa Yesus mengajarkan bahwa kematian-Nya membawa keselamatan bagi banyak orang. Inilah juga yang Paulus, dan semua murid Yesus yang lain, ajarkan.

Mengapa ini penting?

Artikel ini telah menunjukkan bahwa kita tidak perlu memilih antara Yesus dan Paulus, sebab Paulus sendiri mengikut Yesus Kristus, dan mengajarkan apa yang Yesus ajarkan.

Sebagai pengikut Kristus kita mungkin dapat terganggu dengan tuduhan yang dialamatkan pada iman Kristen, tetapi pertanyaan atau argumen dari para pendebat juga dapat mendorong kita untuk membaca Alkitab dengan lebih utuh dan teliti.

Bagi pembaca yang non-Kristen, pertanyaan ini layak diteliti dengan pikiran dan hati yang jernih. Jangan hanya menerima klaim para pendebat tanpa membaca materi aslinya, yaitu Alkitab. Apabila Anda mudah percaya pada para pendebat, akibatnya Anda sangat mungkin akan kehilangan ajaran Yesus yang sejati – yang justru adalah satu-satunya jalan untuk keselamatan Anda.

Iman Kristen diletakkan di atas dasar Yesus Kristus – bukan yang lain.

Simak apa yang Paulus katakan:

"Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." (1 Korintus 3:11)

Tuhan memberkati ✝️