Hidup sebagai orang Kristen tanpa takut
Refleksi dari film Daniel and the Fiery Furnace (2026)
Artikel ini mengandung spoiler.
Hampir semua orang Kristen, sejak usia anak sekolah Minggu, mengetahui kisah Nabi Daniel. Daniel adalah seorang anggota keluarga bangsawan dari Kerajaan Yehuda (Israel Selatan) yang ditawan dan dibawa ke dalam pembuangan di Babilonia setelah Yehuda dikalahkan dan Yerusalem dihancurkan oleh Raja Babilonia, Nebukadnezar (tahun 587 SM).
Yerusalem dihancurkan! Kota yang dipilih dan ditetapkan Allah sebagai tempat kediaman-Nya (2 Taw. 6:6), sekarang dihancurkan oleh seorang raja kafir!
Raja tersebut diperkenalkan kepada kita dalam film Daniel sedang berdoa dengan khusyuk kepada dewa Marduk. Dalam doanya, Nebukadnezar memohon agar dewa tertinggi dalam agama Babilonia tersebut membuat dia berhasil dalam peperangan supaya nama Marduk dimuliakan.
Betapa baik permohonan raja Nebukadnezar ini (walaupun dia kemudian segera menambahkan "dan kemuliaan untuk namaku juga").
Dalam film ini, Nebukadnezar digambarkan sebagai seorang raja yang kejam, ganas, tetapi memiliki pengetahuan yang cukup mendalam mengenai agama Yahudi. Dia tahu kisah mengenai Musa dan nubuat Yeremia tentang kehancuran Yerusalem.
Bagaimana Daniel menghadapi raja seperti ini? Daniel menghadapinya dengan mengandalkan firman Allah dan doa. Sejak awal hingga akhir film ini, Daniel dan teman-temannya terus menerus menantikan dan bersandar pada firman Tuhan.
Dalam melaksanakan tugas mereka sebagai abdi raja, mereka menjalankan pekerjaan mereka dengan sungguh-sungguh, tetapi tanpa kompromi terhadap iman mereka kepada Yahweh. Bahkan ketika raja meminta mereka membangun patung, Daniel bersedia setelah meyakinkan teman-temannya bahwa apabila raja meminta mereka menyembah patung itu, mereka tidak akan melakukannya.
Dan tepat itulah yang terjadi. Raja memerintahkan semua orang untuk menyembah patung emas tersebut (lihat Daniel 3), tetapi Daniel dan teman-temannya menolak dan melalui penolakan mereka, nama Yahweh, yang kepada-Nya mereka percaya, dimuliakan.
Ketahuilah hai raja
Sama seperti Nebukadnezar yang mencari kemuliaan bagi dewanya, Marduk, Daniel mencari kemuliaan bagi Yahweh, Allah Israel. Seluruh film ini dapat dilihat dari lensa pertarungan dua tujuan ini.
Pertunjukan kuasa Yahweh yang secara sangat spektakuler menyelamatkan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego di dalam tungku perapian yang menyala-nyala itu pada akhirnya menunjukkan siapa Allah yang sebenarnya.
Walaupun Yerusalem, kota Allah, dihancurkan oleh Nebukadnezar, hal itu terjadi bukan karena Marduk atau Nebukadnezar lebih hebat atau lebih berkuasa dari Allah Israel. Sebaliknya, kehancuran Yerusalem adalah atas penetapan Allah, dan Ia menggunakan Raja Babilonia itu sebagai alat di tangan-Nya untuk menghukum umat Israel yang tidak setia kepada perjanjian mereka dengan Allah.
Walaupun Bait Allah di Yerusalem dihancurkan dan dibakar (2 Raj. 25:8–9), tetapi Allah hadir di tanah Babilonia, bahkan di tengah-tengah tungku perapian yang menyala-nyala itu karena Ia selalu menyertai, menolong, dan menyelamatkan orang-orang yang gentar kepada firman-Nya (Yes. 66:2)!
Ketika Nebukadnezar bertanya: "Dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?" (Dan. 3:15), Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menjawab dengan tegas:
"Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada Tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya Raja. Tetapi, seandainya tidak, hendaklah Tuanku mengetahui, ya Raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa Tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang Tuanku dirikan itu." (Dan. 3:16-18, TB2)
Inilah jawaban yang berani! Inilah jawaban anak-anak Allah yang sepenuhnya percaya kepada-Nya!
Ketiga orang muda tersebut lebih gentar kepada firman Allah daripada kepada firman raja yang paling berkuasa di dunia ini. Mereka mengenali ada realita yang tidak terlihat, yang lebih penting dan lebih nyata, dibandingkan realita yang kasatmata.
Takut pada Satu, berani menghadapi semua
Apakah kita orang Kristen hari ini hidup dengan keberanian yang lahir dari kepercayaan kepada Tuhan kita yang hidup?
Apakah kita mengenal Tuhan sebagai Yang Nyata dalam hidup kita, ataukah Dia hanya sebagai Pribadi yang ada dalam alam teori dan konsep, tanpa relevansi dan dampak dalam kehidupan kita setiap hari?
Apakah kita gentar dan takut terhadap firman-Nya lebih dari pada kita gentar dan takut akan berbagai tuntutan dalam kehidupan kita sehari-hari?
Apakah suara-Nya lebih jelas dan kuat bagi kita dibandingkan suara-suara kedagingan, iblis, dan dunia yang terus menggoda, merayu, dan melawan kita?
Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego setia pada Tuhan pada zaman mereka, dan mereka mengalami penyertaan Tuhan yang ajaib, sehingga raja itu melihat bagaimana Tuhan menyertai dan menyelamatkan mereka.
Bagaimana dengan kita hari ini?
Apakah kita tidak akan bersandar pada Yahweh yang telah membuktikan kuasa-Nya, kasih-Nya, dan hikmat-Nya dengan sangat terang benderang di Kalvari?
Yesus Kristus menyelamatkan tiga pemuda di dalam tungku api Babilonia, dan Dia menyelamatkan semua yang percaya pada-Nya dari dalam api neraka.
Apakah kita tidak akan tunduk dalam kepercayaan penuh kepada Dia yang sudah mengasihi kita hingga akhir (Yoh. 13:1)?
Jadilah Kristen yang berani karena Anda melayani Raja yang adalah Kehidupan itu sendiri (Yoh. 14:6)! Apakah yang dapat dilakukan manusia kepada kita? Tidak ada satu hal pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dalam Kristus Yesus (Roma 8:38-39).
Sudah waktunya kita mengalihkan pandangan dari yang kelihatan kepada Dia yang bertakhta di atas alam semesta (Wahyu 22:1). Hiduplah sebagai Kristen yang berani, jangan takut pada mereka yang dapat membunuh tubuh (Luk. 12:4), tetapi takutlah pada Dia yang akan menghukum para pengecut dan orang-orang yang tidak percaya pada-Nya di dalam neraka (Wahyu 21:8).
Muliakanlah nama-Mu Tuhan di tengah dunia ini melalui kami umat-Mu, yang berseru kepada nama Yesus!
Komentar ()