Orang Kristen dan Perpuluhan
Perpuluhan adalah bagian dari hukum Taurat, dan Perjanjian Baru tidak mengulanginya sebagai perintah. Lalu bagaimana orang Kristen memberi? Bukan di bawah kewajiban Taurat, melainkan dari kasih dan syukur atas anugerah Kristus.
For Darrel
"For you know the grace of our Lord Jesus Christ, that although he was rich, for your sake he became poor, in order that you, by his poverty, may become rich" (2 Kor. 8:9).
Untuk menjawab pertanyaan terkait kewajiban untuk memberikan perpuluhan dan persembahan bagi orang Kristen, kita harus berangkat dari fakta bahwa sebagai orang Kristen kita adalah anak-anak Allah dalam Kristus Yesus, dan kita ada dalam Tuhan Yesus karena Dia telah mengasihi kita dan berkurban demi keselamatan kita.
Dengan demikian, etika dan tingkah laku orang Kristen harus selalu dilandaskan atas kebenaran Injil Kristus tersebut sehingga ketaatan kita lahir dari kasih kepada Kristus yang telah lebih dahulu mengasihi kita, dan hidup kita menjadi kurban ucapan syukur bagi Allah.
Sebelum membahas aplikasi dari prinsip ini dalam hal memberikan perpuluhan atau persembahan kepada Tuhan, kita perlu mengetahui apakah perpuluhan adalah hukum atau kewajiban yang mengikat bagi orang Kristen.
Perpuluhan dalam Alkitab
Secara singkat, kewajiban untuk memberikan persembahan dan perpuluhan adalah bagian dari hukum Taurat. Perpuluhan diberikan sebagai penghasilan untuk suku Lewi yang tidak memiliki warisan tanah dan tidak memiliki pekerjaan di luar kemah suci (Bilangan 18:21). Perpuluhan ditujukan bukan saja untuk kaum Lewi tetapi juga untuk orang miskin dan mereka yang membutuhkan (Ulangan 14:28-29).
Apabila seluruh kewajiban untuk memberikan persembahan dan perpuluhan digabungkan, umat Perjanjian Lama dituntut untuk memberikan total lebih dari 20%[^1].
Bagi orang Kristen, apakah tuntutan ini masih berlaku?
Satu-satunya teks yang menyebutkan tentang perpuluhan dalam Perjanjian Baru adalah dalam kisah Tuhan Yesus menentang legalisme ahli Taurat dan orang Farisi.
"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan" (Matius 23:23, lihat Lukas 11:42).
Pernyataan Tuhan Yesus ini disampaikan sebelum peristiwa salib dan kebangkitan-Nya yang merupakan penggenapan dari seluruh hukum Taurat.
Setelah peristiwa salib, kebangkitan, dan kenaikan Kristus, dan sejak peristiwa Pentakosta, kita tidak menemukan perintah khusus terkait perpuluhan bagi umat Perjanjian Baru dalam Kisah Para Rasul, surat-surat, dan kitab Wahyu.
Apakah ini berarti orang Kristen tidak memberikan perpuluhan dan persembahan? Atau kita memberikan dalam jumlah yang suka-suka sendiri?
Tentu saja tidak.
Motivasi Injil
Sebagai umat Perjanjian Baru, kita tidak hidup di bawah tuntutan hukum Taurat tetapi kita bukan orang liar karena kita hidup di bawah hukum Kristus (1 Korintus 9:19-21).
Kasih Kristus yang ditunjukkan dalam kisah Injil menjadi motivasi dan pendorong kita untuk mengasihi Tuhan dan sesama, dan kasih ini kita tunjukkan melalui penggunaan harta dan penghasilan yang Tuhan berikan secara bertanggung jawab dan sejalan dengan prioritas Injil dan pimpinan Roh Allah.
Sebagai pengikut Kristus kita wajib mengasihi seperti Kristus mengasihi:
"… jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah" (Efesus 5:1-2).
Kasih Kristus adalah kasih yang berkurban, yang memberikan diri untuk melayani Allah dan manusia (Filipi 2).
Karena itu sebagai orang Kristen kita perlu memberikan seluruh hidup kita termasuk penghasilan kita untuk kemuliaan Allah dan kebaikan sesama kita. Diri, tenaga, waktu, dan harta yang diberikan kepada kita adalah milik Tuhan dan kita sembahkan untuk pekerjaan Tuhan.
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1).
Menyadari bahwa kita 100% adalah milik Tuhan dan untuk Tuhan, maka kita paham bahwa tidak ada bagian dari penghasilan kita yang eksklusif bagi kita dan untuk kita gunakan sesuai keinginan kita.
Berapapun jumlah yang kita berikan sebagai persembahan dan perpuluhan, kita harus sadar bahwa jumlah yang tidak diberikan pun adalah milik Allah dan digunakan untuk kepentingan Kerajaan Allah.
Memberi dengan Sukacita
Secara praktis, kita diminta untuk memberi seturut kemampuan kita.
"Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu" (2 Korintus 8:11-12).
Dan kita memberi dengan sukacita:
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan" (2 Korintus 9:7-8).
Kita yang mengasihi Tuhan juga mengasihi umat-Nya, yaitu saudara-saudari kita, dan kita mengasihi Gereja Tuhan bukan hanya gereja lokal tetapi gereja di seluruh dunia. Kita ingin berbagian dalam pelayanan kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan, dan setelah itu kepada orang miskin dan membutuhkan yang ada di luar Gereja dan dalam pelayanan penginjilan.
Karena itu kita harus mencari cara agar dengan penghasilan yang kita miliki, yang kita terima, kita memiliki gaya hidup yang mendukung prioritas Injil Kristus.
Pola hidup konsumerisme, bahkan yang kita anggap tidak tergolong mewah pun, tidak sejalan dengan Injil.
Kita harus mampu mengatur pengeluaran kita agar kita dapat memberikan lebih lagi bagi Kerajaan Allah. Kondisi setiap orang berbeda-beda sehingga kita butuh hikmat dan bijaksana dari Roh Kudus untuk memimpin kita agar pola dan gaya hidup kita mencerminkan kasih kita kepada Kristus dan Gereja-Nya.
Contoh
Kita perlu mempertimbangkan pola belanja kita apakah selaras dengan komitmen kita sebagai pengikut Kristus.
Rasul Paulus mengidentifikasi makanan dan pakaian sebagai kebutuhan pokok manusia (1 Timotius 6:8).
Di zaman kita hidup ini, kita perlu waspada dengan pilihan makanan yang kita konsumsi dan pakaian yang kita gunakan. Apakah kita konsumsi makanan berlebihan? Sering makan di luar rumah? Memiliki pakaian dan aksesoris dalam jumlah atau dengan harga yang berlebihan?
Kita juga harus berhati-hati agar tidak terbujuk dengan rayuan dunia untuk terus menerus memperbesar kategori kebutuhan pokok.
Apakah kita butuh HP sebagai alat komunikasi dan alat belajar? Mungkin sekali jawabannya adalah iya.
Tetapi apakah kita butuh HP yang baru, padahal HP yang kita miliki masih berfungsi dengan baik dan lancar?
Demikian pula kita harus sangat berhati-hati dengan penawaran dana dan kredit yang mendorong orang untuk lebih konsumtif. Kita harus bijaksana dalam memanfaatkan kredit atau pinjaman, dan membatasi hanya untuk kebutuhan yang nyata atau pengeluaran yang produktif.
Sebagai kesimpulan, secara umum dalam belanja kita perlu bijaksana dan bertanya: Apakah uang yang akan saya belanjakan ini adalah untuk tujuan kedagingan?
Dengan mengubah pola belanja, berapa banyak yang dapat kita hemat dan gunakan untuk tujuan yang sesuai dengan prioritas Injil, misalnya untuk persembahan, untuk lembaga misi, atau lembaga Kristen yang baik, atau untuk menolong saudara seiman atau keluarga atau bahkan orang lain yang membutuhkan?
Sebagai pengikut Kristus, kita memberi karena Kristus telah terlebih dahulu memberikan hidup-Nya bagi kita.
Ketaatan kita kepada Kristus lahir dari ungkapan syukur atas anugerah-Nya. Kita taat karena kita mengasihi Kristus.
Kasih kepada Kristus ini kita tunjukkan dalam keseharian kita, dalam ratusan atau ribuan keputusan yang kita buat setiap hari termasuk keputusan untuk menggunakan uang atau harta kita.
Prioritas Injil Kristus dan kasih kepada umat Allah menjadi panduan kita, sehingga pola konsumsi dan gaya hidup, pola belanja, pola kepemilikan aset, pola berbusana, pola perhiasan, pola transportasi, pola makan minum, dan seterusnya haruslah pola yang mencerminkan kasih kita kepada Kristus dan kasih Kristus kepada kita dan kepada sesama.
Pola hidup, pola belanja, pola konsumsi yang dianggap “normal” oleh dunia ini tidak boleh kita terima begitu saja karena dunia ini menentang Kristus. Lagipula kita tidak lagi dari dunia ini tetapi telah menjadi warga surga. Karena itu kita harus hidup dengan perspektif surgawi.
Kita mengikut Kristus yang tersalib. Kita tidak dipanggil untuk hidup nyaman dan kaya dan sukses menurut dunia ini. Kita dipanggil untuk memikul salib yaitu taat pada-Nya sekalipun tidak nyaman atau bahkan menderita.
Kita juga tidak dipanggil untuk menjadi kaya dan berhasil sesuai standar dunia ini.
"Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka" (1 Timotius 6:9-10).
Sebaliknya:
"Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya" (1 Timotius 6:17-19).
Kita dipanggil untuk menjadi kaya dalam perbuatan baik, untuk berbagi dan untuk memberi.
Berilah sesuai dengan kemampuan, berilah dengan sukacita, dan berusahalah untuk dapat memberikan semakin hari semakin banyak karena 100% dari kita adalah milik Kristus dan karena kita mengasihi Dia yang sudah lebih dahulu mengasihi kita.
Soli Deo Gloria.
[^1]: Sumber: Neither Poverty Nor Riches: A Biblical Theology of Material Possessions, Craig Blomberg, 1999. Buku ini dengan sangat baik membahas topik harta dan kekayaan dengan mengeksplorasi secara komprehensif bagaimana Alkitab memandang kekayaan, kemiskinan, dan pengelolaan harta benda dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.
Komentar ()