1 Samuel


Tentang Seri Ini:
Artikel ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari The Gospel Coalition (TGC) Bible Commentary untuk Kitab 1 Samuel.
Penulis: S. A. Fix, Ph.D. dan J. Robert Vannoy, Th.D.
Sumber Asli: The Gospel Coalition Bible Commentary — 1 Samuel
Diterjemahkan dan dipublikasikan untuk tujuan edukasi dan non-komersial.


Pengantar Kitab 1 Samuel

Menjelajahi Kitab 1 Samuel

Sekalipun di dalam Alkitab kita 1–2 Samuel disajikan sebagai kitab-kitab yang terpisah, keduanya jelas membentuk satu narasi yang berkesinambungan dan oleh karena itu harus dipahami bukan sebagai dua kitab yang berbeda, melainkan sebagai satu kitab dalam dua jilid. Pembagiannya kemungkinan besar berakar pada bentuk aslinya, yang barangkali ditulis pada dua gulungan terpisah karena panjangnya teks, sama halnya seperti Kejadian hingga Bilangan, 1–2 Raja-raja, dan 1–2 Tawarikh.

Siapa yang Menulis Kitab 1–2 Samuel?

Kendati 1–2 Samuel menyandang nama Samuel (kemungkinan karena perannya yang sangat penting dalam penetapan institusi kerajaan di Israel melalui pengurapan Saul dan Daud sebagai dua raja pertama Israel), ia tidak mungkin menjadi penulis kitab ini dalam bentuk yang sampai kepada kita. Kita mengetahui hal ini karena kematian Samuel terjadi pada masa hidup Saul dan dicatat dalam 1 Samuel 25:1. Namun, hal ini tidak serta-merta berarti bahwa kitab ini tidak memuat materi apa pun yang berasal dari tangan Samuel. Kitab 1 Tawarikh 29:29 menyatakan: ”Sesungguhnya, riwayat raja Daud dari awal sampai akhir tertulis dalam riwayat Samuel, pelihat itu, dan dalam riwayat nabi Natan, dan dalam riwayat Gad, pelihat itu.” Bukti internal di dalam kitab itu sendiri yang tampaknya mengindikasikan kepengarangan dari masa monarki (yaitu pra-pembuangan; lihat pembahasan mengenai waktu penulisan di bawah), bersama dengan fakta bahwa bahasa Ibrani dari teks yang kita miliki saat ini kemungkinan besar berasal dari periode yang jauh lebih terkemudian (yaitu pasca-pembuangan), mengindikasikan bahwa beberapa penulis dan/atau penyunting yang diilhamkan Allah turut berperan dalam penyusunan kitab ini. Siapa pun penulis dan penyunting anonim dari 1–2 Samuel, mereka tentu telah menggunakan sumber-sumber apa pun yang tersedia bagi mereka untuk memaparkan periode sejarah Israel selama lebih dari 130 tahun yang dikisahkan dalam kitab ini. Sumber-sumber tersebut kemungkinan mencakup ”riwayat Samuel, pelihat itu” (1Taw. 29:29).

Kapan Kitab 1–2 Samuel Ditulis?

Dalam konteks akademis masa kini, penetapan waktu penulisan dan kepengarangan 1–2 Samuel kerap kali bertaut dengan teori-teori rumit lainnya seputar penulisan kitab-kitab sejarah Perjanjian Lama (PL). Teori-teori kritik sumber seperti Hipotesis Dokumen (Documentary Hypothesis), asumsi mengenai Sejarah Deuteronomistis (Deuteronomistic History), dan teori Narasi Suksesi (Succession Narrative) cenderung mendominasi diskusi seputar kepengarangan dan penanggalan, namun kita tidak memiliki ruang yang cukup untuk membahas perdebatan-perdebatan tersebut secara mendalam di sini. Sekalipun tidak ada informasi spesifik di dalam kitab yang secara eksplisit mengidentifikasi sang penulis, penggambaran yang realistis mengenai masa pemerintahan Daud dalam 2 Samuel 10–20 mengisyaratkan bahwa sang penulis mungkin adalah saksi mata yang hidup sezaman, atau hampir sezaman, dengan peristiwa-peristiwa yang dicatat tersebut. Penyebutan mengenai ”Israel dan Yehuda” (1Sam. 11:8; 17:52; 18:16; 2Sam. 5:5; 24:1–9) serta rujukan kepada ”raja-raja Yehuda” dalam 1 Samuel 27:6 mengindikasikan bahwa sang penulis (atau seorang penyunting) mungkin hidup beberapa waktu setelah kematian Salomo dan terpecahnya kerajaan pada tahun 931 SM. Di sisi lain, bentuk akhir dari teks Ibrani yang ada pada kita mencerminkan bentuk bahasa dan tulisan yang kemungkinan besar berasal dari periode pasca-pembuangan, yang mengisyaratkan bahwa ”bentuk kanonik akhir” (yaitu Teks Masoret) dari kitab ini baru diselesaikan pada masa tersebut.

Teks 1–2 Samuel Manakah yang Paling Dapat Diandalkan?

Sejak ditemukannya sejumlah fragmen Kitab Samuel di antara Gulungan Laut Mati pada tahun 1947, para ahli mengamati bahwa di beberapa bagian tertentu teks Samuel dari Gulungan Laut Mati berkesesuaian dengan teks terjemahan Yunani Septuaginta (LXX) sekaligus berbeda dari Teks Masoret Ibrani (MT). Kesesuaian ini telah mendorong sejumlah sarjana untuk menyimpulkan bahwa varian bacaan Septuaginta seharusnya diberi prioritas lebih tinggi pada bagian-bagian yang berbeda dari pembacaan MT Ibrani. Kendati terdapat bagian-bagian tertentu di mana gabungan bacaan Septuaginta/Gulungan Laut Mati tampak lebih unggul dibandingkan dengan pembacaan MT Ibrani yang problematis, bagian-bagian semacam itu sangat terbatas jumlahnya dan tidak boleh mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa Septuaginta harus selalu lebih diutamakan di setiap bagian yang berbeda dari MT Ibrani. Para sarjana akan terus memperdebatkan pendekatan terbaik dalam menangani problem-problem tekstual dalam 1–2 Samuel, namun pertanyaan-pertanyaan ini sama sekali tidak memengaruhi pemahaman substansial kita terhadap gagasan utama, pesan teologis, maupun peristiwa-peristiwa historis yang dikisahkan dalam narasi Kitab Samuel. Teks Masoret Ibrani tetap mempertahankan landasan kuat untuk diprioritaskan di bagian-bagian yang memberikan makna yang dapat diterima secara logis dan kontekstual.

Tema-Tema Utama Kitab 1–2 Samuel

Kitab 1 dan 2 Samuel menjawab sebuah pertanyaan mendasar: ”Siapakah yang akan menjadi Raja sejati bagi Israel?”

Secara kanonik, pertanyaan ini muncul dari latar belakang kitab pendahulu historis dan sastranya, yaitu Kitab Hakim-Hakim. Periode para hakim, yang bagian akhirnya dicakup dalam bagian pertama 1–2 Samuel (pasal 1–8; lihat mis. 1Sam. 4:18; 7:15), ditandai sebagai masa ketika ”tidak ada raja di Israel” dan ”setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hak. 21:25). Tentu saja, ketiadaan seorang raja manusiawi di Israel disebabkan oleh klaim teokratis TUHAN atas otoritas ilahi-Nya sebagai Raja Israel, yang dengan penuh anugerah dijalankan melalui para hakim yang senantiasa Dia bangkitkan sebagai respons terhadap pertobatan umat-Nya dan seruan doa memohon pertolongan (Hak. 2:11–3:6). Kendati demikian, masalah klasik dari para hakim ini adalah bahwa pengaruh mereka memudar begitu mereka meninggal dunia (Hak. 2:19). Oleh karena itu, sekalipun Allah telah dengan murah hati menyediakan hakim yang mungkin paling setia di Israel dalam diri Samuel (1Sam. 7:3–17), ketika ia mendekati akhir hidupnya dan Israel menghadapi kemungkinan anak-anaknya yang tidak setia menjadi hakim menggantikannya (8:1–3), umat justru menuntut ”seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain” (8:5).

Sebagai tanggapannya, Allah memang menyediakan seorang raja, sekalipun Dia menegur bangsa Israel karena menuntut seorang raja ”seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Seiring dengan berkembangnya kisah dan ditetapkannya institusi kerajaan oleh Allah di Israel, kita juga diajar mengenai ketuhanan dan kerajaan mutlak Allah atas seluruh ciptaan-Nya, karena 1–2 Samuel secara gamblang mengajarkan bahwa Allah berdaulat atas seluruh sejarah umat manusia dan merupakan satu-satunya Pribadi yang sanggup menegakkan kepemimpinan raja yang baik di Israel. Kedua tema ini ditegaskan secara khusus dalam tiga catatan puisi yang membingkai keseluruhan kitab ini (”Nyanyian Hana”, 1Sam. 2:1–10; ”Nyanyian Daud Memuji Pemerintahan Allah”, 2Sam. 22; dan ”Perkataan Daud yang Terakhir tentang Pemerintahannya”, 2Sam. 23:1–7).

1. Allah Berdaulat atas Sejarah Manusia

Tema utama yang paling mendasar dari 1–2 Samuel adalah penegasan mengenai kedaulatan ilahi atas sejarah umat manusia, karena tema inilah yang menaungi penetapan institusi kerajaan di Israel. Kekayaan tematis dari ketiga puisi di awal dan akhir kitab berkaitan erat dengan gaya sastranya. Penegasan-penegasan teologis jauh lebih tepat diekspresikan dalam genre puisi daripada narasi sejarah, dan sebagian besar isi dari 1–2 Samuel adalah narasi historis. Jadi, sekalipun narasi 1–2 Samuel mewujudkan dan mencerminkan gagasan bahwa Allah memerintah seluruh urusan kehidupan setiap individu maupun bangsa secara keseluruhan, kebenaran ini umumnya dinyatakan secara implisit dan bukan eksplisit. Terdapat beberapa pengecualian di mana sang penulis memberikan komentar teologis langsung sehubungan dengan peristiwa yang sedang diceritakannya (1Sam. 1:5; 2:25; 10:9; 26:12; 2Sam. 8:6; 17:14; 24:1), serta beberapa bagian di mana penegasan teologis dinyatakan oleh tokoh-tokoh yang digambarkan dalam narasi (1Sam. 12:22 [Samuel]; 24:10 [Daud]; 25:26 [Abigail]; 2Sam. 12:7, 8 [Natan]; 15:25, 26 [Daud]).

2. Allah Menetapkan Institusi Kerajaan di Israel

Penetapan kerajaan di Israel merupakan peristiwa sejarah terpenting yang digambarkan dalam narasi 1–2 Samuel karena peristiwa inilah yang memungkinkan Allah mengikat perjanjian dengan Daud, yang menegaskan bahwa keluarga kerajaannya akan kokoh untuk selama-lamanya. Dari keturunan Daud inilah—pada waktu yang telah ditetapkan Allah—Yesus Sang Mesias akan lahir. Ketika menjelang penyaliban Yesus, Pilatus bertanya apakah Dia adalah raja orang Yahudi, Yesus menjawab, ”Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini . . .” (Yoh. 18:36). Namun ketika Pilatus melanjutkan dengan berkata, ”Jadi Engkau adalah raja?”, Yesus menjawab, ”Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran” (Yoh. 18:37, penekanan ditambahkan). Ketika Yesus datang kembali pada kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai penunggang kuda putih yang digambarkan dalam Wahyu 19:11–16, kita diberitahu bahwa ”pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: ’Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.’” Landasan bagi penggenapan kedatangan Raja segala raja ini ke dalam dunia adalah janji Allah kepada Daud: ”Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya” (2Sam. 7:16).

3. Karakter Raja yang Dikehendaki Allah bagi Umat-Nya

Di sepanjang kitab-kitab ini kita menyaksikan para pemimpin Israel, khususnya dua raja pertamanya, berupaya memimpin, membimbing, melindungi, dan membawa berkat bagi bangsa tersebut. Oleh karena itu, sebuah tema menonjol yang hadir di seluruh bagian kitab berkaitan dengan karakter pemimpin ”yang diurapi” (mashiakh) oleh TUHAN. Pada akhirnya, melalui karakterisasi Samuel, Saul, dan Daud, kita mulai memahami seperti apa gambaran raja yang dikehendaki TUHAN bagi umat-Nya. Dia haruslah seperti Daud dalam kondisi terbaiknya: seorang gembala yang rendah hati dan setia, seorang pejuang yang perkasa sekaligus berbelaskasihan, serta seorang raja yang adil dan bijaksana yang sanggup melindungi, melayani, dan membawa berkat bagi umat dalam Kerajaan Allah. Namun, kendati kita melihat sekilas gambaran raja ”ideal” dalam diri Daud, pada akhirnya kisahnya merupakan perpaduan antara keberhasilan dan dosa, darah dan kemuliaan, iman dan kegagalan. Jadi, sekalipun ia adalah model utama raja pilihan TUHAN yang dihadirkan dalam 1–2 Samuel, menjadi sangat jelas bahwa ia bukanlah Sang Raja Terakhir yang direncanakan TUHAN untuk diberikan kepada umat-Nya. Dengan demikian, Kitab 1–2 Samuel menumbuhkan pengharapan dan kerinduan yang mendalam akan kedatangan Sang Anak Daud yang akan menegakkan takhta-Nya untuk selama-lamanya dan membawa kerajaan damai sejahtera dan kemuliaan yang kekal (2Sam. 7:12–16)—sebuah pengharapan yang menemukan penggenapan paripurnanya di dalam Yesus Kristus, Anak Daud (Mat. 1:1).


Tujuan Kitab 1 Samuel

Menunjukkan siapa yang harus menjadi Raja-Gembala Sejati bagi Israel: Sang Anak Daud dan seorang yang ”berkenan di hati TUHAN” (1Sam. 13:14).


Ayat Kunci

”TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya . . .”
— 1 Samuel 13:14a (TB)

Garis Besar Kitab 1 Samuel

  • I. Penuntutan Kerajaan / Penolakan Perjanjian (1:1–8:22)
  • A. Kelahiran Samuel (1:1–2:11)
  • B. Garis Keturunan Eli Ditolak (2:12–36)
  • C. Panggilan Samuel (3:1–21)
  • D. Pembuangan dan Kembalinya Tabut Perjanjian (4:1–7:2)
  • E. Israel Menuntut Raja Menggantikan Hakim (7:2–8:22)
  • II. Kerajaan ”Sama Seperti Bangsa-Bangsa Lain” Diberikan / Kegagalan Perjanjian (9:1–15:35)
  • A. Kerajaan Ditawarkan kepada Saul (9:1–12:25)
  • i. Mandat Rajawi (oleh TUHAN – 9:1–27; oleh Umat – 10:1–27)
  • ii. Peneguhan Rajawi (oleh Umat – 11:1–11)
  • iii. Penobatan Rajawi (oleh Umat – 11:12–12:25)
  • B. Hilangnya Kerajaan dari Saul (13:1–15:35)
  • i. Kegagalan Peneguhan (13:1–14:52)
  • Makna Seorang Raja yang ”Berkenan di Hati TUHAN”
  • ii. Penolakan Penobatan (15:1–35)
  • III. Kerajaan ”Yang Berkenan di Hati Allah” Dinyatakan / Kerajaan Perjanjian (1Sam. 16:1–2Sam. 24:25)
  • A. Kerajaan Sejati dalam Pola Keluaran / Kontras Perjanjian (16:1–31:13)
  • i. Mandat Rajawi (oleh TUHAN – 16:1–23)
  • ii. Peneguhan Rajawi (oleh TUHAN – 17:1–19:10)
  • iii. Diuji dan Diteguhkan melalui Keluaran di Padang Gurun (19:11–31:13)
  • a. Tiga Pencobaan di Padang Gurun untuk Mengambil Jalan Pintas ke Takhta (24:1–26:25)
  • b. Tinggalnya Daud di Negeri Filistin dan Pertempuran Terakhir Saul (27:1–31:13)
  • [Bersambung dalam 2 Samuel]

I. Penuntutan Kerajaan / Penolakan Perjanjian (1:1–8:22)

Pasal-pasal pembuka ini memunculkan ”masalah” yang akan ditunjukkan oleh Kitab 1–2 Samuel bagaimana Allah ”menyelesaikannya”, yaitu ketiadaan kepemimpinan rohani yang membiarkan umat-Nya berkubang dalam dosa dan penderitaan mereka. Kita juga mulai melihat Allah berkarya melalui sisa kaum yang setia, yang doa-doa dan permohonan belas kasihannya didengar (shamaʿ) oleh TUHAN.

Kelahiran Samuel (1:1–2:11)

¹Ada seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim.

²Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak.

³Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas.

⁴Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian.

⁵Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab TUHAN telah menutup kandungannya.

⁶Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena TUHAN telah menutup kandungannya.

⁷Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan.

⁸Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: ”Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?”

⁹Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN,

¹⁰dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu.

¹¹Kemudian bernazarlah ia, katanya: ”TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.”

¹²Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu;

¹³dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.

¹⁴Lalu kata Eli kepadanya: ”Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu.”

¹⁵Tetapi Hana menjawab: ”Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN.

¹⁶Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.”

¹⁷Jawab Eli: ”Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya.”

¹⁸Sesudah itu berkatalah perempuan itu: ”Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.

¹⁹Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan TUHAN; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, TUHAN ingat kepadanya.

²⁰Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: ”Aku telah memintanya dari pada TUHAN.”

²¹Elkana, laki-laki itu, pergi dengan seisi rumahnya mempersembahkan korban sembelihan tahunan dan korban nazarnya kepada TUHAN.

²²Tetapi Hana tidak ikut pergi, sebab katanya kepada suaminya: ”Nanti apabila anak itu cerai susu, aku akan mengantarkan dia, maka ia akan menghadap ke hadirat TUHAN dan tinggal di sana seumur hidupnya.”

²³Kemudian Elkana, suaminya itu, berkata kepadanya: ”Perbuatlah apa yang kaupandang baik; tinggallah sampai engkau menyapih dia; hanya, TUHAN kiranya menepati janji-Nya.” Jadi tinggallah perempuan itu dan menyusui anaknya sampai disapihnya.

²⁴Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu.

²⁵Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli;

²⁶lalu kata perempuan itu: ”Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN.

²⁷Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya.

²⁸Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.

²:¹Lalu berdoalah Hana, katanya:
”Hatiku bersukaria karena TUHAN,
tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN;
mulutku mencemoohkan musuhku,
sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu.
²Tidak ada yang kudus seperti TUHAN,
sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau
dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.
³Janganlah kamu selalu berkata sombong,
janganlah caci maki keluar dari mulutmu.
Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu,
dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji.
⁴Busur pada pahlawan telah patah,
tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan.
⁵Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan,
tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat.
Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak,
tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu.
⁶TUHAN mematikan dan menghidupkan,
Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.
⁷TUHAN membuat miskin dan membuat kaya;
Ia merendahkan, dan meninggikan juga.
⁸Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu,
dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,
untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan,
dan membuat dia memiliki kursi kehormatan.
Sebab TUHAN mempunyai alas bumi;
dan di atasnya Ia menaruh daratan.
⁹Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya,
tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan,
sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa.
¹⁰Orang yang berbantah dengan TUHAN akan dihancurkan;
atas mereka Ia mengguntur di langit.
TUHAN mengadili bumi sampai ke ujung-ujungnya;
Ia memberi kekuatan kepada raja yang diangkat-Nya
dan meninggikan tanduk kekuatan orang yang diurapi-Nya.”

¹¹Lalu pulanglah Elkana ke Rama tetapi anak itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan imam Eli.
— 1 Samuel 1:1–2:11 (TB)

1 Samuel 1:1–3. Semua tokoh penting untuk narasi dalam pasal 1–8 diperkenalkan di sini, termasuk Elkana dan Hana (yang akan melahirkan Samuel), serta Eli dan anak-anaknya. Keberadaan Elkana yang berasal dari ”pegunungan Efraim” (1Sam. 1:1) menempatkannya di wilayah yang kelak menjadi Kerajaan Utara. Keterangan ini mungkin juga berfungsi secara sastra untuk mengindikasikan bahwa ini adalah masa para hakim, mengingat banyak peristiwa yang dikisahkan dalam Kitab Hakim-Hakim bertempat di dalam dan sekitar wilayah Efraim (Hak. 1:29; 3:27; 4:5; 7:24; 8:1–2; 10:1–9; 12:1–15; 17:1–19:21). Penggambaran karakter Elkana bernada positif, menyoroti kesalehan dan pengabdiannya yang pergi ”dari tahun ke tahun... untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo.” Eli dan anak-anaknya hanya diperkenalkan secara sederhana di sini (1Sam. 1:3) tanpa ada indikasi ketidaksetiaan mereka yang kelak akan disingkapkan (2:12–36). Penjelasan singkat mengenai istri-istri Elkana, yaitu Penina dan Hana—yang masing-masing memiliki dan tidak memiliki anak—membangun ”konflik” yang akan menggerakkan narasi menuju ”resolusinya” dalam kelahiran Samuel (1:20) dan penyerahan dirinya kepada TUHAN (1:28; 2:11). Peristiwa tahunan spesifik untuk ziarah ke Silo ini tidak disebutkan secara khusus (apakah Hari Raya Paskah? Roti Tidak Beragi? Tujuh Minggu? Pondok Daun? Kel. 23:14; Ul. 16:16), namun lokasinya selaras dengan Hukum Allah, karena Kemah Suci bertempat di sana pada masa itu (Yos. 18:1).

1 Samuel 1:4–7. Ayat-ayat ini menceritakan peristiwa-peristiwa yang lazim terjadi setiap kali keluarga Elkana melakukan ziarah tahunan mereka (1:4). Teks Ibrani yang menggambarkan perlakuan khusus Elkana terhadap Hana dalam ayat 1:5 tergolong sulit (”porsi ganda” / double portion dalam ESV, NASB, NIV, NRSV; berbanding ”hanya satu bagian” / only one portion dalam NJPS, RSV dan ”hanya satu porsi pilihan” / only one choice portion dalam NLT; bandingkan TB2: ”hanya satu bagian”). Konteks mengindikasikan bahwa tindakan Elkana memperlihatkan kasih istimewa (favoritisme) kepada Hana, karena motivasinya disebutkan (”sebab ia mengasihi Hana”) dan hal itu tampaknya memicu perlakuan menyakitkan yang penuh kecemburuan dari madunya (1:6–7). Kasih yang diterima Hana dan kemandulannya, serta persaingan yang menyertainya antara dirinya dan Penina, mengingatkan kita pada istri-istri lain di antara umat perjanjian Allah, termasuk ibu Simson (Hak. 13), Lea dan Rahel (Kej. 29–30), serta Sara dan Hagar (Kej. 16, 21). Sekalipun pengalaman kemandulan dalam pernikahan merupakan pergumulan manusiawi yang dirasakan secara mendalam oleh kaum perempuan di setiap zaman, pada tahapan sejarah penebusan ini kemandulan merepresentasikan realitas teologis yang jauh lebih dalam. Mengingat umat Allah pada masa itu sedang menantikan janji mengenai ”Keturunan Perempuan” yang akan meremukkan kutuk dosa (Kej. 3:15), kemandulan merupakan ancaman nyata terhadap janji-janji Allah dan kedatangan Sang Juruselamat. Oleh karena itu, kesedihan mendalam Hana (1:8) tidak boleh dipandang sekadar sebagai rasa mengasihani diri sendiri, melainkan juga mencerminkan iman dan kerinduannya yang mendalam akan kedatangan Sang Mesias, yang kedatangan-Nya seolah terancam terhalang oleh ketidakmampuannya melahirkan anak.

1 Samuel 1:8–11. Di sini narasi beralih dari kebiasaan tahunan keluarga ke peristiwa-peristiwa yang terjadi pada satu perjalanan ziarah yang sangat penting ini. Kendati mungkin diucapkan atas dasar kasih sayang dan belas kasihan, upaya Elkana untuk menghibur Hana (1:8) menempatkannya dalam deretan panjang para suami yang gagal memahami kedalaman serta kerumitan emosi istri mereka. Kasih seorang suami tidak dapat menggantikan kerinduan kodrati yang hanya dapat dipuaskan oleh peranan sebagai seorang ibu. Dan sebagaimana telah disebutkan di atas, emosi mendalam Hana tampaknya tidak berakar dari sekadar rasa mengasihani diri yang egois, melainkan dari kedalaman iman, sebagaimana terbukti dalam doa-doanya yang berbobot dan nazarnya untuk menyerahkan anaknya kepada TUHAN (1:11). Iman ini tampak nyata dalam permohonannya yang tidak sekadar meminta seorang anak (yeled) atau anak laki-laki (ben), melainkan seorang ”benih” atau ”keturunan laki-laki” (zeraʿ ʾanashim; bdk. Kej. 3:15). Nazarnya untuk mempersembahkan anaknya kepada TUHAN beserta keterangan bahwa ”pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya”, yang mengingatkan kita pada Simson (Hak. 13:5), mengindikasikan bahwa ini adalah nazar orang Nazir sebagaimana diuraikan secara rinci dalam Bilangan 6. Seorang Nazir dipanggil untuk menjalani kehidupan yang secara khusus ”kudus” (atau ”dikhususkan/dipisahkan”) dari ”kenajisan” lahiriah selama jangka waktu tertentu, sebagai teladan bagi umat Allah mengenai kekudusan dan kemurnian yang dikehendaki TUHAN dari orang-orang yang menaati dan menyembah-Nya.

1 Samuel 1:12–20. Kesalahpahaman Eli yang bernada ironis dan komikal (1:12–14) mulai mengindikasikan kelemahan rohani dan kegagalan dalam diri imam ini, yang kelak akan menjadi fokus narasi-narasi berikutnya (2:12–36). Bagi Hana, teguran Eli hanyalah contoh lain dari kegagalan orang-orang yang seharusnya menjadi gembala dan pemimpin rohaninya (Elkana dan Eli). Namun di mana kepemimpinan rohani duniawi gagal, TUHAN tetap setia, menggerakkan imam yang lemah itu untuk pada akhirnya memberkatinya (1:17) dan ”mengingat kepadanya” dengan mengabulkan permohonan yang didoakannya (1:19).[^1] Perhatikan bahwa bagian ini menandai klimaks dalam narasi, sebab setelah peristiwa ini Hana tampak terhibur dan tidak lagi menangis, lalu ia kembali untuk makan dan minum bersama keluarganya (1:18). Bukan penerimaan karunia anak laki-laki itu yang mula-mula mendatangkan penghiburan (yang baru terjadi pada ayat 20), melainkan kepastian janji Allah yang terucap dari bibir imam-Nya.[^2]

1 Samuel 1:21–28. Setelah Allah menggenapi janji-Nya melalui imam-Nya (1:17) dengan ”memberikan” (natan) permohonan Hana berupa seorang anak laki-laki untuk membalikkan kemandulannya (1:11a, 20), pertanyaan mendasar di sepanjang ayat-ayat ini adalah apakah Hana akan setia pada nazarnya (1:11b). Pada masa ziarah yang biasa, Elkana bersiap untuk perjalanan perayaan tahunannya yang lazim (1:21; bdk. 1:3), kendati kali ini ia pergi bukan hanya untuk ”mempersembahkan korban tahunannya” melainkan juga korban ”nazarnya.” Hal ini mengindikasikan bahwa ia telah meneguhkan nazar Hana (Bil. 30:6–15), dan kesalehannya terbukti saat ia menjadikannya sebagai nazarnya sendiri. Ketegangan naratif meningkat ketika Hana tidak ikut pergi bersamanya, yang tampaknya menunda penggenapan nazarnya (1:22; Ul. 23:21) sampai anak itu disapih (kemungkinan sekitar usia tiga tahun). Tanggapan Elkana semakin membangun ketegangan, mengingat ungkapan ”perbuatlah apa yang kaupandang baik” pada masa sejarah penebusan zaman para hakim ini bukanlah pertanda yang baik (perhatikan refrain di bagian akhir kitab tersebut: ”Pada zaman itu tidak ada raja di Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”; Hak. 17:6; 18:1; 19:1; 21:25). Resolusi tercapai ketika Hana akhirnya menepati nazarnya dengan membawa Samuel naik ke Silo bersamanya (1:24).[^3] Sekali lagi, tema mengenai Samuel sebagai anak yang ”diminta” dari Allah tampak sangat gamblang dalam teks Ibrani ayat 1:27–28 di mana Hana berkata, ”Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta (sheʾelati) yang telah kumohonkan (shaʾalti) daripada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya/meminjamkannya (hishʾilti) kepada TUHAN. Seumur hidup terserahlah/dipinjamkanlah ia (shaʾul) kepada TUHAN” (kata-kata untuk ”permintaan/meminta” dan ”menyerahkan/meminjamkan” sama-sama berakar dari kata Ibrani sh-ʾ-l).

1 Samuel 2:1–11. Kendati secara teknis disebut sebagai sebuah ”doa” (2:1), mengingat karakternya yang menyerupai Mazmur, 1 Samuel 2:1–11 dapat secara tepat dikarakterisasi sebagai ”Nyanyian Hana.” Kesejajaran dalam isi dan tema sangat mudah ditemukan dengan nyanyian kelepasan Daud dalam 2 Samuel 22 (bdk. Mzm. 18) yang bersama-sama dengan nyanyian Hana ini ”mengapit” (inclusio) keseluruhan Kitab 1–2 Samuel (bdk. ”gunung batu” dalam 1Sam. 2:2; 2Sam. 22:3, 32, 47; ”tanduk” dalam 1Sam. 2:1, 10; 2Sam. 22:3; ”keselamatan / pertolongan” dalam 1Sam. 2:1; 2Sam. 22:51; ”meninggikan” orang yang rendah hati dan merendahkan orang yang sombong dalam 1Sam. 2:7–8; 2Sam. 22:28, 47–49; ”orang yang diurapi-Nya” dalam 1Sam. 2:10; 2Sam. 22:51; dll.). Kesejajaran juga dapat ditarik dengan sejumlah Mazmur, khususnya Mazmur-Mazmur Hallel (113–118), serta Magnificat Maria dalam Lukas 1:46–55. Tema utama dari nyanyian Hana adalah pujian atas pembalikan keadaan yang menyelamatkan dari Allah dengan membuat orang yang mandul menjadi berbuah lebat, yang pada akhirnya memamerkan kuasa-Nya untuk membalikkan kutuk dosa yang membuat dunia ini tidak berbuah (Kej. 3:14–19). Penyebutan mengenai raja TUHAN dan ”orang yang diurapi-Nya” (mashiakh, penyebutan pertama mengenai Mesias keturunan Daud di dalam Alkitab) di sini mendorong banyak sarjana untuk mempertanyakan apakah Hana sungguh-sungguh dapat menyanyikan kidung ini. Namun, pengharapannya dapat dengan mudah diatribusikan kepada iman yang digerakkan oleh penyataan-penyataan terdahulu mengenai kedatangan seorang raja bagi umat Allah (Kej. 17:6, 16; Ul. 17:14–20). Perhatikan bahwa Hana menyanyikan sebuah kidung pujian dan sorak kegirangan alih-alih ratapan, tepat setelah ia menyerahkan kembali kepada Allah anak yang telah memberinya identitas baru, kehormatan, dan pengharapan ini. Melalui cara ini, ia tidak hanya menggemakan tokoh iman agung, Abraham (Kejadian 22), melainkan juga Sang Raja Mesias yang sejati, yang sebelum menyerahkan nyawa-Nya, melangkah menuju Getsemani dengan apa yang kemungkinan besar merupakan Mazmur Hallel (113–118) di bibir-Nya (Mrk. 14:26).

Garis Keturunan Eli Ditolak (2:12–36)

Di sini keadaan mengerikan dari para pemimpin rohani Israel yang gagal dan tidak kompeten ditampilkan secara gamblang dalam diri Eli, dan terutama dalam diri anak-anak lelakinya.

¹²Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,

¹³ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan, sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di tangannya

¹⁴dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo.

¹⁵Bahkan sebelum lemaknya dibakar, bujang imam itu datang, lalu berkata kepada orang yang mempersembahkan korban itu: ”Berikanlah daging kepada imam untuk dipanggang, sebab ia tidak mau menerima dari padamu daging yang dimasak, hanya yang mentah saja.”

¹⁶Apabila orang itu menjawabnya: ”Bukankah lemak itu harus dibakar dahulu, kemudian barulah ambil bagimu sesuka hatimu,” maka berkatalah ia kepada orang itu: ”Sekarang juga harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya dengan kekerasan.”

¹⁷Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.

¹⁸Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan.

¹⁹Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban sembelihan tahunan.

²⁰Lalu Eli memberkati Elkana dan isterinya, katanya: ”TUHAN kiranya memberikan keturunan kepadamu dari perempuan ini pengganti yang telah diserahkannya kepada TUHAN.” Sesudah itu pulanglah mereka ke tempat kediamannya.

²¹Dan TUHAN mengindahkan Hana, sehingga dia mengandung dan melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi. Sementara itu makin besarlah Samuel yang muda itu di hadapan TUHAN.

²²Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan,

²³berkatalah ia kepada mereka: ”Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu?

²⁴Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran.

²⁵Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?” Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.

²⁶Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.

²⁷Seorang abdi Allah datang kepada Eli dan berkata kepadanya: ”Beginilah firman TUHAN: Bukankah dengan nyata Aku menyatakan diri-Ku kepada nenek moyangmu, ketika mereka masih di Mesir dan takluk kepada keturunan Firaun?

²⁸Dan Aku telah memilihnya dari segala suku Israel menjadi imam bagi-Ku, supaya ia mempersembahkan korban di atas mezbah-Ku, membakar ukupan dan memakai baju efod di hadapan-Ku; kepada kaummu telah Kuserahkan segala korban api-apian orang Israel.

²⁹Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?

³⁰Sebab itu--demikianlah firman TUHAN, Allah Israel--sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang--demikianlah firman TUHAN--:Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.

³¹Sesungguhnya akan datang waktunya, bahwa Aku akan mematahkan tangan kekuatanmu dan tangan kekuatan kaummu, sehingga tidak ada seorang kakek dalam keluargamu.

³²Maka engkau akan memandang dengan mata bermusuhan kepada segala kebaikan yang akan Kulakukan kepada Israel dan dalam keluargamu takkan ada seorang kakek untuk selamanya.

³³Tetapi seorang dari padamu yang tidak Kulenyapkan dari lingkungan mezbah-Ku akan membuat matamu rusak dan jiwamu merana; segala tambahan keluargamu akan mati oleh pedang lawan.

³⁴Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati.

³⁵Dan Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hati-Ku dan jiwa-Ku, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi.

³⁶Kemudian siapa yang masih tinggal hidup dari keturunanmu akan datang sujud menyembah kepadanya meminta sekeping uang perak atau sepotong roti, dan akan berkata: Tempatkanlah kiranya aku dalam salah satu golongan imam itu, supaya aku dapat makan sekerat roti.”
— 1 Samuel 2:12–36 (TB)

1 Samuel 2:12–21. Berbeda dengan Hana, yang dituduh secara tidak adil sebagai orang ”dursila” (”anak perempuan dursila” / daughter of beliyyaʿal; 1:16), anak-anak lelaki Eli diperkenalkan secara demikian oleh sang narator, yang selanjutnya menggambarkan mereka sebagai para imam yang ”tidak mengindahkan TUHAN” [harfiah: ”tidak mengenal TUHAN”] (2:12; bdk. 3:7). Pernyataan ini dibuktikan melalui deskripsi mengenai ”pemerintahan” mereka yang tiran dan sewenang-wenang sebagai para imam yang panggilannya sesungguhnya adalah untuk ”menyelenggarakan kebaktian,” ”melayani,” dan ”memelihara kewajiban” di tempat kudus (Bil. 18). Sebaliknya, mereka menyuruh bujang-bujang mereka membawa ”garpu bergigi tiga” (diduga berbeda dengan garpu bergigi dua yang tidak dapat ”mencengkeram” daging sebanyak itu? 2:14) ”sementara daging itu dimasak,” dan dengan demikian sebelum daging tersebut empuk dan mudah terlepas (2:13), agar mereka dapat ”memeras kawanan domba” dengan merampas lebih dari porsi yang telah Allah tetapkan bagi mereka (Yeh. 34:2–6). Dan seolah merampas porsi milik umat TUHAN belum cukup buruk, mereka bahkan merampas porsi-porsi persembahan yang telah Allah khususkan bagi diri-Nya sendiri—yaitu lemak korban—di bawah ancaman kekerasan (2:15–17; bdk. Im. 3:16–17; 7:31). Di sini, alih-alih para imam mengajarkan Hukum Allah kepada Israel (Im. 10:11), umatlah yang justru berusaha mengajar para imam (2:16). Kitab 1–2 Samuel merupakan studi mengenai kontras-kontras (mis. Saul vs. Daud), dan di sini kita melihat Samuel ditempatkan secara kontras dengan anak-anak Eli. (Seiring berlanjutnya narasi, Samuel kelak juga akan dibandingkan dan dikontraskan dengan Eli sendiri). Dalam 2:18–21, Samuel ditampilkan memberikan kontras yang tajam terhadap anak-anak Eli saat ia melayani dengan tenang dan setia serta mengerjakan pelayanan yang diabaikan oleh anak-anak Eli (2:18, 21), sembari menikmati dorongan dan peneguhan yang konsisten dari ibunya yang saleh (2:19–20).

1 Samuel 2:22–26. Kegagalan dan kesia-siaan Eli sendiri sebagai pemimpin rohani Israel merupakan pokok utama dari bagian ini. Seolah-olah perampasan yang dilakukan anak-anaknya terhadap Allah dan umat-Nya belum cukup (2:12–17), mereka juga menyalahgunakan otoritas posisi rohani mereka dalam dosa seksual (2:22). Eli mengetahuinya namun pada akhirnya tidak melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan mereka, kemungkinan karena ia sendiri ikut menikmati makanan dari hasil jarahan mereka (2:29). Sama seperti pengerasan hati Firaun dalam Keluaran 7–10, di sini ketidakbertobatan anak-anak Eli ditunjukkan sebagai bagian dari rencana kedaulatan Allah (”sebab TUHAN hendak mematikan mereka”; 2:25). Hal ini memunculkan pertanyaan abadi mengenai teodise (”Bagaimana mungkin Allah yang baik dan berdaulat mengizinkan kejahatan seperti itu terjadi di dunia?”), yang tidak ”diselesaikan” bagi kita secara spekulatif di dalam Kitab Suci. Sebaliknya, Kitab Suci secara sederhana menegaskan bahwa Allah berdaulat dan tidak bersalah atas dosa dan kejahatan, dan bahwa manusia bertanggung jawab penuh atas dosa dan keterlibatan mereka dalam kejahatan. Namun pada akhirnya tujuan puncak Allah adalah memakai kejahatan untuk mendatangkan kebaikan (Kej. 50:20). Kita juga menemukan resolusi yang luar biasa atas masalah ini di kayu salib Yesus Kristus, di mana keadilan Allah ditegakkan saat dosa umat Kristus dibayar lunas oleh kematian-Nya. Dan melalui karya Kristus, anugerah serta belas kasihan Allah dicurahkan saat kebenaran Yesus diperhitungkan kepada para pengikut-Nya oleh iman. Pertanyaan sarat makna dari Eli dalam 2:25, ”Jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang akan menjadi perantara baginya?” tentu merupakan pertanyaan yang harus kita tanyakan semua, karena segala dosa pada hakikatnya tertuju melawan TUHAN (Mzm. 51:6), dan jawabannya datang kepada kita di dalam Yesus Kristus, Sang Pengantara imamat antara Allah dan manusia yang menjadi pendoa syafaat bagi umat-Nya untuk selama-lamanya (1Tim. 2:5–6; Ibr. 7:25). Sementara kabar mengenai kefasikan anak-anak Eli menyebar ke seluruh Israel (2:22, 24), reputasi baik Samuel pun kian tersebar luas (2:26).

1 Samuel 2:27–36. Kendati Samuel kelak akan diperkenalkan sebagai perintis jabatan kenabian di Tanah Perjanjian, Allah selalu memiliki cara untuk menyampaikan Firman-Nya, sebagaimana terlihat di sini melalui perantaraan ”seorang abdi Allah” (sebuah gelar kenabian bagi mereka yang membawa Firman Allah; 2Raj. 1:10). Nubuat penghakimannya atas keluarga Eli datang sebagai konsekuensi atas dosa-dosa dan ketidaksetiaan perjanjian mereka yang dikisahkan dalam 2:12–26. Dalam firman penghakiman ini, tema kemuliaan (bahasa Ibrani kavod yang berarti ”bobot/keberatan” atau ”kemuliaan”) mulai diperkenalkan (2:30), yang akan menjadi fokus pasal-pasal mendatang (4–6), di mana ”kemuliaan TUHAN” menjadi ”tokoh utama.” Nubuat ini melayani dua tujuan dalam narasi. Pertama, nubuat ini menegakkan janji yang difirmankan TUHAN melalui sabda-Nya, yang akan tergenapi dalam peristiwa-peristiwa yang diatur secara luar biasa guna membuktikan bahwa Allah sanggup menggenapi Firman-Nya dan setia kepadanya (perhatikan semua penggenapan spesifik yang disebutkan dalam pasal 4). Kedua, nubuat ini memunculkan pertanyaan: ”Siapakah ’imam kepercayaan’ [harfiah: ’imam yang setia’] yang dijanjikan akan ’dibangkitkan’ / ’diangkat’ oleh TUHAN (2:35)?” Imam ini benar, bertindak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati dan jiwa (nephesh, ”jiwa” atau ”diri”) TUHAN. Namun ia juga digambarkan dalam istilah-istilah kerajaan sebagai sosok yang baginya TUHAN akan ”membangunkan” suatu dinasti (atau ”keturunan yang teguh”; bdk. 2Sam. 7:11). Jika meneliti seluruh Kitab 1–2 Samuel untuk mencari identitas imam-raja ini, ia tidak mungkin Samuel, sebab Samuel sendiri terbukti memiliki ketidaksetiaan dalam beberapa hal (8:3). Akibat kegagalan Samuel, ”keluarganya” (yaitu keturunannya) tidak ”diteguhkan,” terlepas dari upayanya untuk melakukan hal itu (8:1). Raja Daud adalah ”orang yang berkenan di hati TUHAN” (13:14) yang ”keluarga”-nya (yaitu dinastinya) sungguh diteguhkan oleh TUHAN, namun sebagai raja ia tidak sepenuhnya memenuhi kriteria seorang imam yang setia. Karena Zadok menggantikan keturunan terakhir Eli (1Raj. 2:27), beberapa pihak mengusulkan dirinya sebagai imam-raja setia yang dinubuatkan di sini, namun di bagian mana pun ia tidak pernah disebut sebagai sang imam yang setia tersebut. Sebaliknya, pertanyaan ini tampaknya tetap terbuka melampaui Kitab 1–2 Samuel dan pada akhirnya menemukan ”tempat pendaratan” yang paling sejati dan penuh di dalam Yesus Kristus, Sang Imam Besar Agung menurut aturan Melkisedek (”raja kebenaran”; Mzm. 110:4; Ibr. 5:1–10) yang ”setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya” (Ibr. 3:5–6). Ia secara harfiah ”dibangkitkan” oleh Allah dari antara orang mati, melakukan segala sesuatu sesuai dengan isi hati dan jiwa Allah, dan oleh kesetiaan-Nya memiliki suatu dinasti atau ”keluarga iman” yang dibangun oleh Allah Yang Mahakuasa.[^4]

Panggilan Samuel (3:1–21)

Dalam perikop ini, Allah mulai ”menyelesaikan” masalah Israel berupa ketiadaan kepemimpinan rohani yang saleh dengan memanggil Samuel untuk menjadi yang pertama dalam deretan panjang nabi-nabi yang menyampaikan Firman TUHAN kepada umat-Nya di Tanah Perjanjian (meskipun Musa adalah seorang nabi, ia tidak pernah melayani sebagai nabi di dalam negeri tersebut; Ul. 34:4). Tradisi Yahudi yang tercermin dalam tulisan Yosefus berpandangan bahwa Samuel berusia dua belas tahun pada saat peristiwa-peristiwa dalam pasal ini berlangsung (Antiquities 5.348), kendati teks Alkitab hanya menyebutnya sebagai seorang ”muda” (naʿar, sebuah istilah yang mencakup rentang usia sejak setelah disapih hingga dewasa awal, berbeda dengan ”laki-laki dewasa” [ʾish], yang kurang berkaitan dengan usia melainkan lebih pada status pernikahan).

¹Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatanpun tidak sering.

²Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya.

³Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut Allah.

⁴Lalu TUHAN memanggil: ”Samuel! Samuel!”, dan ia menjawab: ”Ya, bapa.”

⁵Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: ”Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Tetapi Eli berkata: ”Aku tidak memanggil; tidurlah kembali.” Lalu pergilah ia tidur.

⁶Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi. Samuelpun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: ”Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Tetapi Eli berkata: ”Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali.”

⁷Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya.

⁸Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Iapun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: ”Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang memanggil anak itu.

⁹Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: ”Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya.

¹⁰Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: ”Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: ”Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”

¹¹Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ”Ketahuilah, Aku akan melakukan sesuatu di Israel, sehingga setiap orang yang mendengarnya, akan bising kedua telinganya.

¹²Pada waktu itu Aku akan menepati kepada Eli segala yang telah Kufirmankan tentang keluarganya, dari mula sampai akhir.

¹³Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!

¹⁴Sebab itu Aku telah bersumpah kepada keluarga Eli, bahwa dosa keluarga Eli takkan dihapuskan dengan korban sembelihan atau dengan korban sajian untuk selamanya.”

¹⁵Samuel tidur sampai pagi; kemudian dibukanya pintu rumah TUHAN. Samuel segan memberitahukan penglihatan itu kepada Eli.

¹⁶Tetapi Eli memanggil Samuel, katanya: ”Samuel, anakku.” Jawab Samuel: ”Ya, bapa.”

¹⁷Kata Eli: ”Apakah yang disampaikan-Nya kepadamu? Janganlah kausembunyikan kepadaku. Kiranya beginilah Allah menghukum engkau, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika engkau menyembunyikan sepatah katapun kepadaku dari apa yang disampaikan-Nya kepadamu itu.”

¹⁸Lalu Samuel memberitahukan semuanya itu kepadanya dengan tidak menyembunyikan sesuatupun. Kemudian Eli berkata: ”Dia TUHAN, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik.”

¹⁹Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.

²⁰Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.

²¹Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.
— 1 Samuel 3:1–21 (TB)

1 Samuel 3:1–3. Ayat-ayat ini membuka latar peristiwa dengan menggambarkan kegelapan rohani yang menjadi ciri khas zaman para hakim, di mana terang Firman Allah akan mulai bersinar melalui pelayanan kenabian Samuel. Kegelapan rohani ini dibuktikan oleh jarangnya penyataan Allah, baik melalui firman maupun penglihatan (1Sam. 3:1), dan digambarkan lebih lanjut oleh mata Eli yang makin kabur (3:2), yang mewakili para imam yang bertugas ”menerangi” umat Allah melalui pengajaran Firman-Nya (Im. 10:11; Neh. 8:2). Penyebab kegelapan ini tentu saja adalah ketidaktaatan Israel terhadap perjanjian (Ul. 28:29; Mzm. 74:9; Rat. 2:9; Yeh. 7:26; Am. 8:11), namun secercah pengharapan tetap terpelihara melalui penyebutan bahwa ”lampu Allah” (Kel. 27:20–21)[^5] di dalam ”bait suci (hekhal) TUHAN” (yaitu Kemah Suci) belum lagi padam (1Sam. 3:3).

1 Samuel 3:4–14. Di sini kita mendapati panggilan atas Samuel bukan hanya kepada jabatan nabi (3:19–21), melainkan juga kepada iman dan pengenalan pribadi yang lebih mendalam akan TUHAN (3:7). Tema kegelapan rohani berlanjut di sepanjang bagian ini melalui ketidakmampuan Samuel untuk mengenali suara TUHAN (3:4–6, 7–9), terlepas dari kerinduan kuatnya untuk taat (terlihat dari tindakannya yang ”berlari” kepada Eli saat menanggapi panggilan itu; 3:5). Deskripsi mengenai panggilan kedua dan ketiga dari TUHAN (3:6, 8) mungkin mengindikasikan bahwa suara tersebut tidak terlalu ”nyaring”, yang dapat menjelaskan mengapa respons Samuel tampak kurang mendesak (”Samuelpun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli”; 3:6, 8). Meskipun demikian, Samuel memperlihatkan ketekunannya dalam terus menyahut apa yang ia sangka sebagai panggilan Eli kepadanya, yang kian mengontraskan Samuel dengan anak-anak lelaki Eli yang fasik (2:22–25). Kendati kelambatan Eli dalam menyadari apa yang sedang terjadi semakin mempertegas gambaran kegelapan rohani, pada akhirnya ia memahami bahwa TUHANlah yang memanggil Samuel (3:8) dan dengan bijaksana menasihatinya untuk merespons sebagaimana seharusnya seorang hamba perjanjian: ”Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar” (3:9). Sementara dalam perjumpaan-perjumpaan sebelumnya TUHAN hanya memanggil Samuel dari kejauhan, dalam 3:10 TUHAN ”datang, berdiri di sana,” yang mengindikasikan adanya semacam perwujudan fisik/visual dari hadirat-Nya menyertai firman yang diucapkan-Nya. Samuel menerima penegasan kembali atas janji penghakiman TUHAN terhadap Eli dan keluarganya (2:30–36). Sifat dahsyat dan mengerikan dari penghakiman yang dijanjikan ini (yang beritanya akan membuat ”bising” kedua telinga orang yang mendengarnya; 3:11), beserta sifatnya yang abadi dan tidak dapat ditebus/didamaikan lagi (3:14), dapat menjelaskan keengganan Samuel untuk menceritakannya kepada Eli yang dikasihinya pada keesokan paginya (3:15).

1 Samuel 3:15–21. Sementara Samuel bergegas mengerjakan tugas-tugasnya sembari berusaha menghindari penyampaian firman TUHAN kepada Eli (3:15), Eli akhirnya ”memanggil” Samuel, yang kembali taat dengan cepat (3:16). Eli tampaknya menyadari keengganan Samuel, sehingga ia menambahkan sumpah dan kutuk dalam tuntutannya agar Samuel memberitahukan kepadanya segala sesuatu yang difirmankan TUHAN pada malam sebelumnya dan tidak ”menyembunyikan sepatah katapun” (3:17). Ketaatan Samuel yang serta-merta bukan hanya menegaskan karakternya sebagai pelayan yang setia bak seorang anak bagi Eli, melainkan juga kesetiaannya sebagai seorang nabi untuk menyampaikan firman TUHAN kepada umat-Nya (3:19). Tanggapan Eli dalam 3:18 tampak memperlihatkan bukti iman di tengah disiplin TUHAN: ”Dia TUHAN, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik” (bdk. Ayb. 1:21; Dan. 4:35), walaupun perkataan itu juga dapat dipahami dengan nada kepasrahan yang putus asa (yaitu, ”Ia akan memperbuat apa yang dipandang-Nya baik”). Iman pribadi Samuel yang baru bertumbuh, pelaksanaannya yang setia terhadap jabatan nabi, serta berkat TUHAN atas pelayanannya (1Sam. 3:19) membuahkan pengakuan luas atas pengurapan yang ada padanya dan kemasyhuran di seluruh Israel (3:20; bdk. 4:1; 7:15–17).

Pembuangan dan Kembalinya Tabut Perjanjian (4:1–7:2)

Dalam ”Narasi Tabut Perjanjian” (Ark Narrative), sebagaimana 1 Samuel 4:1–7:2 sering kali dinamai, fokus beralih dari Samuel kepada tabut sebagai ”kemuliaan Israel” yang merepresentasikan hadirat TUHAN di tengah umat-Nya. Secara sastra, hal ini menciptakan kesan berlalunya waktu sementara Samuel ”bertumbuh dewasa” menuju kemasyhuran dan keberhasilannya sebagai ”hakim” terakhir dan bisa dibilang terbesar di Israel (7:15–17). Kisah mengenai persinggahan tabut ke negeri Filistin (ke arah Mesir) menggemakan perjalanan Israel terdahulu ke Mesir dan keluar kembali dalam peristiwa Keluaran, sementara kisah ini juga membayangkan perjalanan serupa yang dialami Daud selama ”tahun-tahun pengembaraannya di padang gurun” saat melarikan diri dari Saul (pasal 19–31). Kemuliaan (kavod) TUHAN yang hadir dalam anugerah dan keselamatan bersama umat-Nya serta yang direpresentasikan di dalam tabut berfungsi sebagai tema pemersatu di sepanjang pasal-pasal ini.

⁴:¹Dan perkataan Samuel sampai ke seluruh Israel. Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek.

²Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu.

³Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: ”Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.”

⁴Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu.

⁵Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar.

⁶Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: ”Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika diketahui mereka, bahwa tabut TUHAN telah sampai ke perkemahan itu,

⁷ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: ”Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,” dan mereka berkata: ”Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu.

⁸Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun.

⁹Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!”

¹⁰Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki.

¹¹Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.

¹²Seorang dari suku Benyamin lari dari barisan pertempuran dan pada hari itu juga ia sampai ke Silo dengan pakaian terkoyak-koyak dan dengan tanah di kepalanya.

¹³Ketika ia sampai, Eli sedang duduk di kursi di tepi jalan menunggu-nunggu, sebab hatinya berdebar-debar karena tabut Allah itu. Ketika orang itu masuk ke kota dan menceritakan kabar itu, berteriaklah seluruh kota itu.

¹⁴Ketika Eli mendengar bunyi teriakan itu, bertanyalah ia: ”Keributan apakah itu?” Lalu bersegeralah orang itu mendapatkan Eli dan memberitahukannya kepadanya.

¹⁵Eli sudah sembilan puluh delapan tahun umurnya dan matanya sudah bular, sehingga ia tidak dapat melihat lagi.

¹⁶Kata orang itu kepada Eli: ”Aku datang dari medan pertempuran; baru hari ini aku melarikan diri dari medan pertempuran.” Kata Eli: ”Bagaimana keadaannya, anakku?”

¹⁷Jawab pembawa kabar itu: ”Orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin; kekalahan yang besar telah diderita oleh rakyat; lagipula kedua anakmu, Hofni dan Pinehas, telah tewas, dan tabut Allah sudah dirampas.”

¹⁸Ketika disebutnya tabut Allah itu, jatuhlah Eli telentang dari kursi di sebelah pintu gerbang, batang lehernya patah dan ia mati. Sebab telah tua dan gemuk orangnya. Empat puluh tahun lamanya ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel.

¹⁹Adapun menantunya perempuan, isteri Pinehas, sudah hamil tua. Ketika didengarnya kabar itu, bahwa tabut Allah telah dirampas dan mertuanya laki-laki serta suaminya telah mati, duduklah ia berlutut, lalu bersalin, sebab ia kedatangan sakit beranak.

²⁰Ketika ia hampir mati, berkatalah perempuan-perempuan yang berdiri di dekatnya: ”Janganlah takut, sebab engkau telah melahirkan seorang anak laki-laki.” Tetapi ia tidak menjawab dan tidak memperhatikannya.

²¹Ia menamai anak itu Ikabod, katanya: ”Telah lenyap kemuliaan dari Israel” --karena tabut Allah sudah dirampas dan karena mertuanya dan suaminya.

²²Katanya: ”Telah lenyap kemuliaan dari Israel, sebab tabut Allah telah dirampas.”

⁵:¹Sesudah orang Filistin merampas tabut Allah, maka mereka membawanya dari Eben-Haezer ke Asdod.

²Orang Filistin mengambil tabut Allah itu, dibawanya masuk ke kuil Dagon dan diletakkannya di sisi Dagon.

³Ketika orang-orang Asdod bangun pagi-pagi pada keesokan harinya, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN; lalu mereka mengambil Dagon dan mengembalikannya ke tempatnya.

⁴Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal.

⁵Itulah sebabnya para imam Dagon dan semua orang yang masuk ke dalam kuil Dagon tidak menginjak ambang pintu rumah Dagon yang di Asdod, sampai hari ini.

⁶Tangan TUHAN menekan orang-orang Asdod itu dengan berat dan Ia membingungkan mereka: Ia menghajar mereka dengan borok-borok, baik Asdod maupun daerahnya.

⁷Ketika dilihat orang-orang Asdod, bahwa demikian halnya, berkatalah mereka: ”Tabut Allah Israel tidak boleh tinggal pada kita, sebab tangan-Nya keras melawan kita dan melawan Dagon, allah kita.”

⁸Sebab itu mereka memanggil berkumpul kepadanya semua raja kota orang Filistin dan berkata: ”Apakah yang akan kita lakukan dengan tabut Allah Israel itu?” Lalu kata mereka: ”Tabut Allah Israel harus dipindahkan ke Gat.” Jadi mereka memindahkan tabut Allah Israel itu ke sana.

⁹Tetapi setelah mereka memindahkannya, maka tangan TUHAN mendatangkan kegemparan yang sangat besar atas kota itu; Ia menghajar orang-orang kota itu, anak-anak dan orang dewasa, sehingga timbul borok-borok pada mereka.

¹⁰Lalu mereka mengantarkan tabut Allah itu ke Ekron. Tetapi sesampai tabut Allah itu di Ekron, berteriaklah orang Ekron itu, demikian: ”Mereka memindahkan tabut Allah Israel itu kepada kita untuk mematikan kita dan bangsa kita.”

¹¹Sebab itu mereka memanggil berkumpul semua raja kota orang Filistin itu dan berkata: ”Antarkanlah tabut Allah Israel itu; biarlah itu kembali ke tempatnya, supaya jangan dimatikannya kita dan bangsa kita.” Sebab di seluruh kota itu ada kegemparan maut; tangan Allah menekan orang-orang di sana dengan sangat berat:

¹²orang-orang yang tidak mati, dihajar dengan borok-borok, sehingga teriakan kota itu naik ke langit.

⁶:¹Setelah tujuh bulan lamanya tabut TUHAN itu ada di daerah orang Filistin,

²maka orang Filistin itu memanggil para imam dan para petenung, lalu berkata kepada mereka: ”Apakah yang harus kami lakukan dengan tabut TUHAN itu? Beritahukanlah kepada kami, bagaimana kami harus mengantarkannya kembali ke tempatnya.”

³Lalu kata mereka: ”Apabila kamu mengantarkan tabut Allah Israel itu, maka janganlah kamu mengantarkannya dengan tangan hampa, melainkan haruslah kamu membayar tebusan salah kepada-Nya; maka kamu akan menjadi sembuh dan kamu akan mengetahui, mengapa tangan-Nya tidak undur dari padamu.”

⁴Sesudah itu bertanyalah mereka: ”Apakah tebusan salah yang harus kami bayar kepada-Nya?” Jawab mereka: ”Menurut jumlah raja-raja kota orang Filistin, lima borok emas dan lima tikus emas, sebab tulah yang sama menimpa kamu sekalian dan raja-raja kotamu.

⁵Jadi buatlah gambar borok-borokmu dan gambar tikus yang merusak tanahmu, dan sampaikanlah hormatmu kepada Allah Israel. Mungkin Ia akan mengangkat dari padamu, dari pada allahmu dan dari pada tanahmu tangan-Nya yang menekan dengan berat.

⁶Mengapa kamu berkeras hati, sama seperti orang Mesir dan Firaun berkeras hati? Bukankah mereka membiarkan bangsa itu pergi, ketika Ia mempermain-mainkan mereka?

⁷Oleh sebab itu ambillah dan siapkanlah sebuah kereta baru dengan dua ekor lembu yang menyusui, yang belum pernah kena kuk, pasanglah kedua lembu itu pada kereta, tetapi bawalah anak-anaknya kembali ke rumah, supaya jangan mengikutinya lagi.

⁸Kemudian ambillah tabut TUHAN, muatkanlah itu ke atas kereta dan letakkanlah benda-benda emas, yang harus kamu bayar kepada-Nya sebagai tebusan salah, ke dalam suatu peti di sisinya. Dan biarkanlah tabut itu pergi.

⁹Perhatikanlah: apabila tabut itu mengambil jalan ke daerahnya, ke Bet-Semes, maka Dialah itu yang telah mendatangkan malapetaka yang hebat ini kepada kita. Dan jika tidak, maka kita mengetahui, bahwa bukanlah tangan-Nya yang telah menimpa kita; kebetulan saja hal itu terjadi kepada kita.”

¹⁰Demikianlah diperbuat orang-orang itu. Mereka mengambil dua ekor lembu yang menyusui, dipasangnya pada kereta, tetapi anak-anaknya ditahan di rumah.

¹¹Mereka meletakkan tabut TUHAN ke atas kereta, juga peti berisi tikus-tikus emas dan gambar benjol-benjol mereka.

¹²Lembu-lembu itu langsung mengikuti jalan yang ke Bet-Semes; melalui satu jalan raya, sambil menguak dengan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, sedang raja-raja kota orang Filistin itu berjalan di belakangnya sampai ke daerah Bet-Semes.

¹³Orang-orang Bet-Semes sedang menuai gandum di lembah. Ketika mereka mengangkat muka, maka tampaklah kepada mereka tabut itu, lalu bersukacitalah mereka melihatnya.

¹⁴Kereta itu sampai ke ladang Yosua, orang Bet-Semes itu, dan berhenti di sana. Di sana ada batu besar. Mereka membelah kayu kereta itu dan mereka mempersembahkan lembu-lembu sebagai korban bakaran kepada TUHAN.

¹⁵Orang-orang suku Lewi menurunkan tabut TUHAN dengan peti yang ada di sebelahnya, yang di dalamnya ada benda-benda emas itu, lalu menaruhnya di atas batu besar itu, dan pada hari itu orang-orang Bet-Semes mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan kepada TUHAN.

¹⁶Ketika kelima raja kota orang Filistin melihat hal itu, pulanglah mereka ke Ekron pada hari itu juga.

¹⁷Inilah benjol-benjol emas yang dibayar orang Filistin kepada TUHAN sebagai tebusan salah: dari Asdod satu, dari Gaza satu, dari Askelon satu, dari Gat satu, dari Ekron satu;

¹⁸lagi tikus-tikus emas menurut jumlah segala kota orang Filistin kepunyaan kelima raja kota itu, baik kota-kota yang berkubu maupun dusun-dusun sekitarnya; dan batu besar, yang di atasnya diletakkan mereka tabut TUHAN, di ladang Yosua, orang Bet-Semes itu, adalah saksi sampai hari ini.

¹⁹Dan Ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka dengan dahsyatnya.

²⁰Dan orang-orang Bet-Semes berkata: ”Siapakah yang tahan berdiri di hadapan TUHAN, Allah yang kudus ini? Kepada siapakah Ia akan berangkat meninggalkan kita?”

²¹Lalu mereka mengirim utusan kepada penduduk Kiryat-Yearim dengan pesan: ”Orang Filistin telah mengembalikan tabut TUHAN; datanglah dan angkutlah itu kepadamu.”

⁷:¹Lalu orang-orang Kiryat-Yearim datang, mereka mengangkut tabut TUHAN itu dan membawanya ke dalam rumah Abinadab yang di atas bukit. Dan Eleazar, anaknya, mereka kuduskan untuk menjaga tabut TUHAN itu.

²Sejak saat tabut itu tinggal di Kiryat-Yearim berlalulah waktu yang cukup lama, yakni dua puluh tahun, dan seluruh kaum Israel mengeluh kepada TUHAN.
— 1 Samuel 4:1–7:2 (TB)

1 Samuel 4:1–4. Kegelapan zaman para hakim ini tercermin di sini ketika Israel ditindas oleh musuh-musuhnya (dalam hal ini orang Filistin; 4:1; bdk. Hak. 2:11–23), dan mereka berupaya memanfaatkan ”tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub” (4:4).[^6] Alih-alih ”berseru kepada TUHAN” (Hak. 3:9; dll.), di sini para tua-tua memimpin bangsa itu untuk menggunakan tabut sebagai semacam jimat takhayul (Mackay, 76), dengan cara yang menyembah berhala berupaya mengendalikan nasib dan berharap pada representasi TUHAN (tabut tersebut) untuk menyelamatkan (”Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan [harfiah: ’telapak tangan’] musuh kita”; 1Sam. 4:3). Respons semacam ini berbau kekafiran, yang berupaya ”mengeksistensikan/menafsirkan” pengalaman sebagai sesuatu yang berotoritas, sedangkan iman alkitabiah berupaya memahami, memercayai, dan menerapkan Firman Allah (Ul. 20:2–4). Kehadiran ”kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas” (4:4) memberikan pertanda buruk, yang mengindikasikan bahwa tindakan Israel tidak mencerminkan iman dan pasti berujung pada kegagalan, karena kemuliaan Israel yang direpresentasikan oleh tabut (yang melambangkan ”Imanuel, Allah menyertai kita”) akan hilang secara fisik, sama seperti persekutuan rohani mereka dengan Allah melalui iman telah terbukti ”hilang” sebelumnya.

1 Samuel 4:5–11. Kendati orang Israel bersikap menyembah berhala dalam menggunakan tabut sebagai semacam jimat, yang berupaya ”mengendalikan” TUHAN, orang Filistin tampaknya merespons dengan ketakutan yang semestinya (1Sam. 4:6–7) saat mereka mendengar sorak-sorai orang Israel ketika tabut itu memasuki perkemahan mereka (4:8). Semakin memperlihatkan kegelapan rohani pada zaman tersebut, orang Filistin justru mengakui kemuliaan (kavod) TUHAN, yang menjadi tema menyeluruh di sepanjang narasi tabut ini (4:21, 22; 6:5), sedangkan Israel justru tampak melawan kemuliaan itu dan akan segera ”kehilangannya”. Deskripsi dalam 4:8 bahwa ”allah-allah” Israel menghajar Mesir ”dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun” tidak sepenuhnya tepat menggambarkan apa yang terjadi dalam peristiwa Keluaran bangsa Israel dari Mesir. Di tanah Mesirlah Allah menimpakan tulah kepada Mesir, dan kemudian Dia membebaskan Israel dari Mesir menuju Tanah Perjanjian melalui padang gurun. Namun kekhawatiran orang Filistin di sini menyiratkan bahwa Mesir adalah bagian dari persinggahan padang gurun Israel, dan dalam penggabungan antara persinggahan dan peristiwa Keluaran tersebut, perkataan mereka merangkum ”pengalaman” tabut dalam bagian ini saat tabut itu ”pergi ke pembuangan” atau menjalani persinggahan penawanan seperti halnya Israel (bahkan secara geografis mengarah ke barat daya). Saat tabut itu singgah ”di padang gurun” wilayah Filistin, Allah memukul musuh-musuh-Nya untuk memperlihatkan kuasa-Nya sebelum kembali ke ”tanah-Nya” di Kiryat-Yearim (6:21–7:1). Agak mengejutkan bagi ekspektasi pembaca setelah membaca Kitab Keluaran, Bilangan, dan Yosua—di mana tabut biasanya selalu dikaitkan dengan kemenangan Israel dalam pertempuran—di sini Israel justru mengalami kekalahan telak (4:10). Akibat penyalahgunaan tabut oleh kepemimpinan rohani Israel yang gagal (”Eli, Hofni dan Pinehas”; 4:11), tabut itu dirampas (harfiah: ”diambil”; demikian juga dalam 4:17, 19, 21, 22), dan penghakiman yang dijanjikan Allah atas anak-anak Eli pun tergenapi (4:11; 2:34).

1 Samuel 4:12–22. Seorang dari suku Benyamin lolos dari pertempuran (4:16) dengan mengenakan segala tanda perkabungan (”pakaian terkoyak-koyak dan dengan tanah di kepalanya”) dan berlari ke Silo (4:12). Eli, yang kebutaan akibat usia tuanya (4:15) telah dicatat sebelumnya (3:2), secara agak tragis sekaligus ironis digambarkan sedang ”menunggu-nunggu” [harfiah: mengawasi] dari ”takhta”-nya, atau sekadar ”kursi” (kisseʾ), di tepi jalan (4:13). Hal inilah yang mungkin menjelaskan mengapa pembawa kabar itu tampak berlari melewatinya begitu saja untuk masuk ke dalam kota tanpa disadari oleh Eli sampai ia mendengar bunyi jeritan kota itu dari jalanan (4:14). Sang ”pembawa kabar baik”, sebagaimana pembawa pesan itu disebut dalam 4:17, tampak segan untuk menyampaikan kabar mengenai anak-anak Eli kepadanya; ia mulai berkata (”Aku datang dari medan pertempuran”; 4:16) tetapi kemudian tampak menahan diri dengan mengulangi hal yang sama secara sedikit berbeda (”baru hari ini aku melarikan diri dari medan pertempuran”), sehingga Eli harus mendesaknya sebagaimana dahulu ia mendesak Samuel (3:16–17). Pada saat-saat terakhir dan kematian Eli, imannya mungkin disorot sebagai kontras terhadap sekian banyak kegagalannya dalam mendidik anak-anaknya, saat sang penulis menggambarkan bahwa jatuhnya Eli telentang akibat syok tampaknya bukan disebabkan oleh kabar tentang kematian anak-anaknya, melainkan oleh laporan mengenai perampasan ”tabut Allah” (4:17–18). Memainkan tema ”lenyapnya kemuliaan” (akar kata Ibrani kbd), Eli diceritakan patah batang lehernya dan mati akibat jatuh dari kursinya karena ia sudah tua dan ”gemuk / berat” (akar kata Ibrani kbd). Kemuliaan Allah sebagai sumber kehidupan, yang di sini ditampilkan sebagai lenyapnya kemuliaan, dikaitkan dengan kuasa kematian yang merenggut dua generasi dalam diri Eli dan anak-anaknya, bahkan menjalar hingga menyentuh kehidupan baru dalam kelahiran seorang anak laki-laki (4:19–20). Perikop ini ditutup dengan menegaskan kembali tema ”lenyapnya kemuliaan” melalui penamaan anak laki-laki Pinehas yang baru lahir sebagai Ikabod (ʾi-kavod, ”di manakah kemuliaan itu?”), dan melalui pernyataan berulang dari istri Pinehas bahwa ”telah lenyap kemuliaan [harfiah: kemuliaan telah pergi ke pembuangan, akar kata Ibrani glh]” karena tabut Allah ”telah dirampas” (4:21, 22). Tentu saja jawaban puncak atas nama Ikabod diberikan ketika hadirat Allah yang sejati datang kepada umat-Nya sebagai Imanuel (Mat. 1:23), seluruh kepenuhan keilahian yang berdiam secara jasmaniah di dalam Sang Anak yang berinkarnasi, Yesus Kristus (Kol. 2:9), Sang Kemuliaan Allah yang pertama-tama datang dalam kerendahan hati, memasuki pembuangan kita akibat dosa (Rm. 3:23) untuk menyelamatkan dan menebus kita guna membawa kita masuk ke dalam kemuliaan bersama-Nya (Rm. 3:24; 2Kor. 3:17–18; Ibr. 2:10).

1 Samuel 5:1–5. Orang Filistin membawa tabut itu ke kota terdekat, Asdod (1Sam. 5:1), dan kemudian—suatu hal yang mengejutkan setiap pembaca yang saleh—membawanya masuk ke dalam kuil Dagon, meletakkannya di ”sisi” Dagon seolah-olah TUHAN hanyalah ilah lain dalam jajaran dewa-dewa kafir (5:2). Allah memperlihatkan keunggulan mutlak-Nya (dan mempertahankan kehormatan/kemuliaan-Nya) melalui peristiwa mengejutkan pada keesokan paginya: Dagon ditemukan ”terjatuh” dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut dalam postur penyembahan atau kekalahan (5:3; bdk. orang terakhir yang ”jatuh” oleh kemuliaan tabut adalah Eli dalam 4:18). Kendati ”Dagon” di sini kemungkinan besar berupa patung atau arca, patung itu dibicarakan seolah-olah patung itu adalah pribadi yang direpresentasikannya, yakni dewa Filistin Dagon itu sendiri (Mzm. 115:4–8; Yes. 40:18–20; 44:9–20; 46:5–7). Ketidakberdayaan Dagon disorot saat para penyembahnya harus mengangkat dan mengembalikannya ke tempatnya semula (1Sam. 5:3), di mana ia segera jatuh kembali dalam postur tertelungkup, yang kali ini lebih jelas mencerminkan kekalahan daripada penyembahan, karena kepala dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu (5:4). Kebodohan penyembahan berhala orang Filistin ditegaskan oleh catatan penulis mengenai ”sakramentalisasi” kekalahan Dagon dalam praktik ibadah para imam yang tidak pernah lagi menginjak ambang pintu sejak saat itu (5:5).

1 Samuel 5:6–12. Menarik ”sudut pandang kamera” narasi keluar dari kuil Dagon, sang penulis merangkum masa keberadaan tabut di Asdod sebagai kemenangan bagi kemuliaan TUHAN, dengan menceritakan bahwa ”tangan TUHAN menekan orang-orang Asdod itu dengan berat [harfiah: ’mulia/berat’, akar kata Ibrani kbd]” (5:6). Penduduk kota menyadari bahwa hadirat Allah merupakan penghakiman bagi orang-orang berdosa (5:7) dan dalam ketakutan mereka menginginkan agar tabut itu disingkirkan demi keselamatan mereka sendiri serta—secara menggelikan—untuk melindungi dewa mereka, Dagon. Kebodohan orang Filistin kian dipertontonkan saat mereka harus mengadakan pertemuan para raja kota Filistin untuk menentukan apa yang harus dilakukan terhadap tabut itu (5:8). Para raja kota itu rupanya meyakini bahwa ”korelasi tidak membuktikan kausalitas”, saat mereka memutuskan untuk mengoper-oper tabut tersebut seperti ”kentang panas” dan memindahkannya ke Gat (ke arah timur menuju wilayah Israel) dan kemudian ke Ekron (di sebelah utara Gat; 5:9–10). Pada saat itu, kabar tentu sudah tersebar luas, karena orang-orang Ekron memohon kepada para raja kota untuk menyingkirkan (harfiah: ”mengantarkan/membiarkan pergi” atau ”membebaskan”) tabut itu (5:11). Gema peristiwa Keluaran ditemukan di sepanjang teks ini, termasuk deskripsi mengenai tangan TUHAN yang ”dipermuliakan” atau ”menekan dengan berat/keras” (akar kata Ibrani kbd; Kel. 9:3; 1Sam. 5:6, 9, 11); TUHAN yang menggerakkan para penindas untuk ”membiarkan pergi” (atau ”membebaskan”, shlk) umat-Nya dan tabut-Nya (Kel. 5:1–2, dll.; 1Sam. 5:11); serta orang-orang yang ”mengerang / berteriak” (zʿq; Kel. 2:23; 1Sam. 4:13; 5:10) dan teriakan (shawʿah) mereka naik sampai ke langit (Kel. 2:23; 1Sam. 5:12).

1 Samuel 6:1–19. Setelah tujuh bulan (yaitu masa persinggahan yang ”lengkap”) berada di daerah orang Filistin (6:1), dan atas nasihat para imam serta petenung mereka (6:2), orang Filistin menyiapkan borok-borok emas dan tikus-tikus emas untuk dikirimkan sebagai ”korban penebus salah / tebusan salah” (ʾasham; bdk. Im. 7) bersama dengan tabut tersebut—satu untuk setiap raja kota Filistin (6:4). Sekali lagi, peristiwa Keluaran menjadi latar belakang saat para imam dan petenung menyarankan agar mereka menempuh jalan yang tidak sekeras kepala orang Mesir dan Firaun yang ”mengeraskan” (harfiah: ”membuat berat/mulia”; akar kata Ibrani kbd) hati mereka (6:6). Pengorbanan yang mahal berupa emas dan kereta baru dengan lembu-lembu yang menyusui (6:7–8) tampak nyata dalam petunjuk tersebut. Untuk memastikan bahwa persembahan itu ”berhasil”, petunjuk selanjutnya adalah mengikuti kereta itu dan melihat apakah kereta itu menuju ke Bet-Semes (”rumah matahari”; ke arah timur menuju wilayah Israel), yang jika demikian akan mengonfirmasikan bahwa TUHANlah penyebab timbulnya tulah-tulah tersebut (6:9). Jika tidak, mereka diduga dapat mengambil kembali barang-barang berharga mereka, karena hal itu mengindikasikan bahwa semuanya hanyalah sebuah kebetulan (miqreh). Dengan segera patuh, orang Filistin memperoleh jawaban yang lekas saat lembu-lembu itu ”langsung mengikuti jalan yang ke Bet-Semes” (6:12, 16). Di sana orang-orang Israel di Bet-Semes menyambut tabut itu dengan sukacita (6:13) dan langsung mempersembahkan lembu-lembu itu sebagai korban bakaran bagi TUHAN, semuanya sembari memperlakukan tabut itu dengan benar (yaitu hanya orang-orang suku Lewi yang menanganinya; 6:15). Benjol-benjol emas dan tikus-tikus emas itu tampaknya disimpan sebagai saksi lanjutan bagi kemuliaan Allah (6:17–18) sama seperti manna, loh-loh batu, dan tongkat Harun yang bertunas (kendati benda-benda emas ini tidak dimasukkan ke dalam tabut; Ibr. 9:4).[^7]

1 Samuel 6:19–7:1. Kendati tabut telah dikembalikan kepada umat dan tempat yang semestinya (Israel), TUHAN menegaskan dengan jelas bahwa bahkan umat-Nya sendiri harus memperlakukan lambang hadirat-Nya dengan rasa hormat dan gentar yang semestinya. Diduga mereka memperlakukan tabut itu tanpa rasa hormat yang pantas (”mereka melihat ke dalam tabut TUHAN”; 6:19). Umat TUHAN merespons dengan tepat dengan berkabung atas dosa mereka (ʾbl; 6:19) dan mengakui kekudusan-Nya (6:20). Menggemakan tanggapan orang Filistin, orang-orang Bet-Semes meminta penduduk Kiryat-Yearim (”kota hutan”) untuk membawa tabut itu pergi. Kendati tidak dinyatakan secara eksplisit, Abinadab mungkin adalah seorang imam, yang membuat tindakan pengudusan anaknya, Eleazar, untuk memelihara tabut itu (harfiah: ”menjaga”-nya; akar kata Ibrani shmr) menjadi tepat (7:1). Sementara bagian ini memperlihatkan kesakralan kemuliaan Allah dan bahaya hadirat-Nya bagi mereka yang tinggal di dalam dosa mereka, perikop ini mengantisipasi Sosok yang ”bersih tangannya dan murni hatinya” (Mzm. 24:4) yang sanggup naik ke atas ”gunung TUHAN” (Mzm. 24:3) untuk masuk ke hadirat-Nya, bukan hanya untuk menerima berkat dan sukacita Allah (Mzm. 16:11) bagi diri-Nya sendiri, melainkan juga untuk memimpin sekumpulan tawanan dengan selamat masuk ke dalam berkat hadirat Allah untuk selama-lamanya (Ef. 4:8–16).

Israel Menuntut Raja Menggantikan Hakim (7:2–8:22)

⁷:²Sejak saat tabut itu tinggal di Kiryat-Yearim berlalulah waktu yang cukup lama, yakni dua puluh tahun, dan seluruh kaum Israel mengeluh kepada TUHAN.

³Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: "Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin."

⁴Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN.

⁵Lalu berkatalah Samuel: "Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN."

⁶Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: "Kami telah berdosa kepada TUHAN." Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa.

⁷Ketika didengar orang Filistin, bahwa orang Israel telah berkumpul di Mizpa, majulah raja-raja kota orang Filistin mendatangi orang Israel. Serta didengar orang Israel demikian, maka ketakutanlah mereka terhadap orang Filistin.

⁸Lalu kata orang Israel kepada Samuel: "Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu."

⁹Sesudah itu Samuel mengambil seekor anak domba yang menyusu, lalu mempersembahkan seluruhnya kepada TUHAN sebagai korban bakaran. Dan ketika Samuel berseru kepada TUHAN bagi orang Israel, maka TUHAN menjawab dia.

¹⁰Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel.

¹¹Keluarlah orang-orang Israel dari Mizpa, mengejar orang Filistin itu dan memukul mereka kalah sampai hilir Bet-Kar.

¹²Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: "Sampai di sini TUHAN menolong kita."

¹³Demikianlah orang Filistin itu ditundukkan dan tidak lagi memasuki daerah Israel. Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel,

¹⁴dan kota-kota yang diambil orang Filistin dari pada Israel, kembali pula kepada Israel, mulai dari Ekron sampai Gat; dan orang Israel merebut daerah sekitarnya dari tangan orang Filistin. Antara orang Israel dan orang Amori ada damai.

¹⁵Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya.

¹⁶Dari tahun ke tahun ia berkeliling ke Betel, Gilgal dan Mizpa, dan memerintah atas orang Israel di segala tempat itu,

¹⁷lalu ia kembali ke Rama, sebab di sanalah rumahnya dan di sanalah ia memerintah atas orang Israel; dan di sana ia mendirikan mezbah bagi TUHAN.

⁸:¹Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel.

²Nama anaknya yang sulung ialah Yoel, dan nama anaknya yang kedua ialah Abia; keduanya menjadi hakim di Bersyeba.

³Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.

⁴Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama

⁵dan berkata kepadanya: "Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain."

⁶Waktu mereka berkata: "Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami," perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN.

⁷TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.

⁸Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu.

⁹Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka."

¹⁰Dan Samuel menyampaikan segala firman TUHAN kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya,

¹¹katanya: "Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya;

¹²ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka.

¹³Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan.

¹⁴Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya

¹⁵dari gandummu dan hasil kebun anggurmu akan diambilnya sepersepuluh dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain.

¹⁶Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya.

¹⁷Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya.

¹⁸Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab kamu pada waktu itu."

¹⁹Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: "Tidak, harus ada raja atas kami;

²⁰maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang."

²¹Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada TUHAN.

²²TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka." Kemudian berkatalah Samuel kepada orang-orang Israel itu: "Pergilah, masing-masing ke kotanya."
— 1 Samuel 7:2–8:22 (TB)

1 Samuel 7:2–17. Setelah setengah generasi (dua puluh tahun) Israel ”berkeluh kesah” atau ”merindukan” TUHAN (1Sam. 7:2)[^8], pelayanan Samuel yang setia sebagai hakim atas Israel diperlihatkan secara nyata dalam bagian ini ketika ia memimpin Israel menuju pertobatan sejati. Ia menunjukkan bahwa pertobatan mencakup perubahan hati, perubahan perilaku (”jauhkanlah para allah asing”), pembaruan pengabdian tunggal yang utuh (7:3–4), serta ibadah (7:5) yang disertai pengakuan dosa yang jujur (7:6). Kendati Mizpa mungkin dipilih karena secara militer lebih ”aman” (kata Mizpa berarti ”menara jaga” atau mungkin ”tempat pengintaian”), orang Filistin mencium kabar perhimpunan orang Israel tersebut dan maju menyerang mereka (7:7). Berbeda dengan 4:7, kali ini orang Israel merasa takut, namun mereka meresponsnya dengan benar dalam iman dengan memohon kepada Samuel untuk bertindak dalam kapasitas imam dan mencari pertolongan TUHAN melalui doa (7:8). Menanggapi permohonan itu, Samuel memimpin dalam persembahan korban dan ibadah (7:9), dan Allah menjawab dengan secara berdaulat melancarkan pukulan telak yang menentukan terhadap orang Filistin dengan ”mengguntur dengan bunyi yang hebat” (7:10). Sintaksis bahasa Ibrani menunjukkan bahwa pukulan kemenangan dari Allah ini terjadi tepat pada saat Samuel sedang mempersembahkan korban bakaran tersebut. Yang tersisa bagi orang Israel hanyalah mengejar musuh yang telah terpukul kalah (7:11; bdk. 17:52), dan setelah itu Samuel mendirikan sebuah batu peringatan, ”Eben-Haezer” (secara harfiah berarti ”batu pertolongan”; 7:12; bdk. Kej. 28:18; 31:45; 35:14; Yos. 24:26). Kesetiaan dan keefektifan Samuel sebagai hakim tampak nyata dalam penundukan orang Filistin (7:13), dalam perebutan kembali kota-kota Israel yang sebelumnya direbut musuh, serta dalam terciptanya perdamaian dengan orang Amori (7:13–14). Tidak seperti para hakim dalam Kitab Hakim-Hakim, walaupun Samuel bertempat tinggal di Rama (7:17), pelayanannya sebagai hakim tidak terikat pada satu lokasi tertentu semata, sebab ia secara teratur berkeliling ke seluruh Israel (7:15)—ke arah utara sampai ke Betel, ke timur sampai ke Gilgal di dekat Sungai Yordan, dan ke barat sampai ke Mizpa, sebelum akhirnya kembali ke selatan menuju Rama.

1 Samuel 8:1–5. Sebagaimana telah dikemukakan dalam Pengantar, ”kitab-kitab sejarah” (Yosua–2 Raja-raja; disebut ”Nabi-nabi Awal” [Former Prophets] dalam tradisi Ibrani) termasuk Kitab Samuel tampaknya ditulis ”dalam dialog” dengan Kitab Ulangan. Kitab Ulangan berfungsi sebagai semacam ”pasak kunci” untuk menganalisis apa yang sedang berlangsung di dalam kitab-kitab ini dan mengapa hal itu terjadi; atau dengan kata lain, hukum dan ketetapan perjanjian dalam Kitab Ulangan berfungsi sebagai tolok ukur untuk mengevaluasi kesetiaan perjanjian Israel (atau ketiadaan kesetiaan tersebut). Salah satu peristiwa teramat penting yang membutuhkan pemahaman ini terjadi di sini dalam permintaan Israel akan seorang raja, yang harus diperbandingkan secara cermat dengan petunjuk Allah mengenai bagaimana Ia akan menyediakan bagi Israel seorang raja yang ”berkenan di hati-Nya” (Ul. 17:14–20; 1Sam. 13:14). Karena itu, bukanlah hakikat monarki atau institusi kerajaan di Israel itu sendiri yang dipersalahkan oleh TUHAN di sini, melainkan tuntutan langsung dari bangsa Israel akan seorang raja yang bukan ”berkenan di hati-Nya” (13:14), melainkan ”seperti pada segala bangsa-bangsa lain” (8:5). Kedua deskripsi ini menjadi kerangka programatis untuk mengevaluasi Saul dan Daud pada awalnya, dan kemudian seluruh raja Israel berikutnya. Konteks di sini memperlihatkan bahwa sebagian dari motivasi bangsa Israel berakar dari kenyataan bahwa, sama seperti para hakim Israel lainnya, kendati Samuel sendiri setia, anak-anaknya (sama seperti anak-anak Eli) tidak mengikuti jejak langkahnya (8:3). Bangsa Israel menghadapi kenyataan bahwa sama seperti para hakim terdahulu, kepemimpinan Samuel yang setia akan berakhir pada saat kematiannya, sebab anak-anaknya ”tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan” (8:3).

1 Samuel 8:6–9. Namun dalam 1 Samuel 8, bukan hanya TUHAN yang menegur permohonan Israel, melainkan Samuel sendiri juga merasa kesal dan marah kepada bangsa itu karena hal tersebut (8:6). Motivasinya tampak kurang bersifat saleh dan lebih bersifat personal, sebab teks narasi telah menyingkapkan kegagalan kepemimpinannya sendiri secara gamblang terlepas dari kesetiaannya secara menyeluruh (1Sam. 7:14–17). Dengan mengangkat anak-anaknya menjadi hakim untuk menggantikannya (8:1–3), Samuel seolah-olah bertindak menyerupai ”raja sama seperti bangsa-bangsa lain” (bdk. Gideon, yang pada mulanya menolak jabatan raja dalam Hak. 8:23, namun kemudian mengumpulkan banyak istri layaknya raja kafir [Hak. 8:30] dan menamai anaknya ”Abimelekh”, yang berarti ”ayahku adalah raja”). Oleh sebab itu, sementara Samuel memandang permohonan bangsa Israel akan seorang raja sebagai penghinaan pribadi, TUHAN mengecilkan hal ini sebagai ketersinggungan yang relatif sepele, dan sebaliknya memperlihatkan bahwa kesalahan mendasar bangsa itu bukanlah karena mereka mencari seorang raja manusia ”yang memimpin sesuai kehendak TUHAN”, melainkan karena mereka mencari raja ”sama seperti segala bangsa-bangsa lain” (”sebab bukan engkau yang mereka tolak [sebagai hakim], tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka”; 8:7, penekanan ditambahkan; bdk. 10:19; 12:12, 17, 19).

Permintaan para tua-tua Israel (8:5, 20) menyiratkan bahwa teokrasi langsung (yakni suatu bentuk teokrasi di mana TUHAN saja yang memerintah bangsa itu sebagai Raja Ilahi Israel) tidak lagi dianggap memadai, dan para pemimpin senior bangsa itu beranggapan bahwa Israel berada dalam posisi inferior dibanding negeri-negeri tetangga karena tidak memiliki raja manusia yang memimpin di depan mereka dan memimpin mereka dalam peperangan (8:20). Ini adalah masa ketika orang Filistin (bdk. 1Sam. 9:16) dan orang Amon (bdk. 1Sam. 12:12) merupakan ancaman nyata bagi keamanan Israel. Pada intinya, sikap para pemimpin Israel ini merupakan penolakan terhadap status ketuanan dan kerajaan TUHAN, dan dengan demikian merupakan pengingkaran terhadap perjanjian. Cukup mengejutkan, TUHAN memerintahkan Samuel untuk mengabulkan keinginan mereka (8:7–9), kendati Ia menginstruksikannya untuk ”memperingatkan” (atau sebagaimana diterjemahkan banyak versi, ”memperingatkan dengan sungguh-sungguh”; secara harfiah ”bersaksi melawan”) mereka dengan menjelaskan ”kebiasaan/hak” (mishpat) dari raja yang akan memerintah atas mereka (yakni raja yang sedang mereka tuntut, yaitu raja ”sama seperti segala bangsa-bangsa lain”).

1 Samuel 8:10–18. Samuel dengan setia menaati TUHAN, menjawab ”orang-orang yang meminta (sh-ʾ-l) seorang raja” dengan memperingatkan mereka tentang bagaimana sosok ”raja sama seperti segala bangsa-bangsa [lain]” tersebut.[^9] Kata yang paling jelas mencirikan raja-raja ”sama seperti segala bangsa lain” ini adalah bahwa mereka akan ”mengambil” (lqkh; dipakai empat kali dalam 8:11, 13, 14, 16, dan tersirat dalam beberapa ayat lainnya). Samuel memberitahukan kepada para pemimpin Israel bahwa raja seperti yang dimiliki bangsa-bangsa di sekitarnya adalah raja yang akan mengambil anak-anak laki-laki mereka (8:11), mengambil anak-anak perempuan mereka (8:13), mengambil ladang dan kebun anggur mereka yang terbaik (8:14), mengambil sepersepuluh dari hasil gandum mereka (8:15), mengambil budak-budak laki-laki dan budak-budak perempuan mereka (8:16), mengambil ternak dan keledai mereka yang terbaik (8:16), serta mengambil sepersepuluh dari kambing domba mereka (8:17). Akibatnya, bangsa Israel akan terjerumus kembali ke dalam perbudakan yang serupa dengan apa yang pernah mereka alami di Mesir (8:17, ”kamu sendiri akan menjadi budaknya”).

1 Samuel 8:19–22. Namun, peringatan Samuel sama sekali tidak dihiraukan. Setelah mendengarkan Samuel, para pemimpin bangsa itu justru mendesak dengan lebih keras daripada sebelumnya (bdk. 8:5, 20) bahwa mereka menghendaki seorang raja ”untuk menghakimi kami” dan ”memimpin kami dalam perang” (8:20). Jadi, Israel menginginkan jenis raja yang salah demi alasan-alasan yang salah pula. Kendati demikian, Allah berfirman kepada Samuel sebanyak tiga kali dalam pasal ini untuk ”mendengarkan perkataan/permintaan mereka” (8:7, 9, 22). Inilah situasi di mana TUHAN mengizinkan permohonan bangsa itu yang fasik, namun kemudian mengubahkan aspirasi jahat mereka menjadi sesuatu yang pada akhirnya mendatangkan kebaikan bagi bangsa tersebut. Kita diingatkan di sini akan perkataan Yusuf kepada saudara-saudaranya dalam Kejadian 50:20: ”Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

Ketika institusi kerajaan akhirnya diperkenalkan oleh Samuel kepada bangsa itu di Mizpa (1Sam. 10:17–27), dan kemudian diteguhkan di Gilgal (1Sam. 11:14–12:25), bentuk kerajaan tersebut adalah jenis kerajaan yang sangat berbeda dari apa yang dituntut oleh bangsa itu. Kerajaan di Israel, sebagaimana didefinisikan oleh Samuel, haruslah merupakan kerajaan yang terikat perjanjian, yaitu suatu kerajaan di mana tugas dan tanggung jawab raja di Israel sangat berbeda dari raja-raja bangsa sekitarnya (bdk. 1Sam. 10:25; 11:14–12:25). Kerajaan di Israel dirancang sedemikian rupa sehingga mengintegrasikan kepemimpinan raja manusia ke dalam administrasi pelaksanaan perjanjian Allah dengan umat-Nya.

Dengan demikian, 1 Samuel 8 menandai awal dari sebuah inisiatif baru yang penting dalam rencana penebusan Allah. Kepemimpinan raja kini diinkorporasikan ke dalam tujuan-tujuan penebusan Allah bagi umat-Nya. Namun, seiring berjalannya sejarah Israel kuno, hanya segelintir rajanya yang terbukti setia kepada perjanjian tersebut. Karena alasan inilah para nabi Israel mulai menubuatkan tentang seorang Raja Mesianis di masa depan dari garis keturunan Daud yang sekaligus bersifat manusiawi dan ilahi (bdk. Yes. 7:14; 9:5–6; Yer. 23:6; 33:16). Ini berarti bahwa benih perempuan yang dijanjikan (Kej. 3:15) tidak hanya akan menjalankan fungsi keimaman, yakni ”mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang” (Ibr. 9:28), melainkan juga menjalankan fungsi rajawi di mana Ia harus ”memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya” (1Kor. 15:25). Pada akhirnya, Raja ini adalah Yesus, tunas dan keturunan Daud (Why. 22:16). Yesus secara sempurna menggenapi cita-cita Raja Perjanjian Israel yang sejati (Yoh. 18:33–19:22) dan Raja di atas segala raja (Why. 17:14; 19:16). Sebagaimana malaikat yang mengunjungi Maria, ibu Yesus, memberitahukannya menjelang kelahiran-Nya, ia akan melahirkan seorang anak laki-laki yang ”akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Luk. 1:32–33).


II. Kerajaan ”Sama Seperti Bangsa-Bangsa Lain” Diberikan / Kegagalan Perjanjian (9:1–15:35)

Penjelasan mengenai tiga tahapan kenaikan takhta kerajaan di Timur Dekat Kuno menjadi latar belakang yang sangat meyakinkan untuk menganalisis dan menilai 1 Samuel 9–15 serta sisa masa pemerintahan Saul dalam Kitab 1 Samuel (Long; Vannoy, hlm. 102–105). Latar belakang ini menyoroti kegagalan Saul dalam mengukuhkan jabatan rajanya atas Israel dari sudut pandang TUHAN, sekalipun ia berhasil menduduki takhta di hadapan bangsa itu. Hal ini juga menolong kita memahami signifikansi peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Daud dalam 1 Samuel 16–31 serta 2 Samuel. Singkatnya, sementara kenaikan ”rohani” Saul menuju takhta Israel di hadapan TUHAN digagalkan oleh ketidaktaatannya untuk mengukuhkannya, kenaikan ”manusiawi”-nya di hadapan bangsa itu dicapai melalui ”jalan alternatif” berupa ”korban”. Sebaliknya, kenaikan ”rohani” Daud untuk menjadi raja Israel terjadi di hadapan TUHAN jauh sebelum hal itu akhirnya ”diakui” oleh bangsa tersebut dalam 2 Samuel.

Kerajaan Ditawarkan kepada Saul: Mandat Rajawi (9:1–10:27)

⁹:¹Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kish bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku Benyamin, seorang yang berada.

²Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.

³Kish, ayah Saul itu, kehilangan keledai-keledai betinanya. Sebab itu berkatalah Kish kepada Saul, anaknya: "Ambillah salah seorang bujang, bersiaplah dan pergilah mencari keledai-keledai itu."

⁴Lalu mereka berjalan melalui pegunungan Efraim; juga mereka berjalan melalui tanah Salisa, tetapi tidak menemuinya. Kemudian mereka berjalan melalui tanah Sahalim, tetapi keledai-keledai itu tidak ada; kemudian mereka berjalan melalui tanah Benyamin, tetapi tidak menemuinya.

⁵Ketika mereka sampai ke tanah Zuf, berkatalah Saul kepada bujangnya yang bersama-sama dengan dia: "Mari, kita pulang. Nanti ayahku tidak lagi memikirkan keledai-keledai itu, tetapi kuatir mengenai kita."

⁶Tetapi orang ini berkata kepadanya: "Tunggu, di kota ini ada seorang abdi Allah, seorang yang terhormat; segala yang dikatakannya pasti terjadi. Marilah kita pergi ke sana sekarang juga, mungkin ia dapat memberitahukan kepada kita tentang perjalanan yang kita tempuh ini."

⁷Jawab Saul kepada bujangnya itu: "Tetapi kalau kita pergi, apakah yang kita bawa kepada orang itu? Sebab roti di kantong kita telah habis, dan tidak ada pemberian untuk dibawa kepada abdi Allah itu. Apakah yang ada pada kita?"

⁸Jawab bujang itu pula kepada Saul: "Masih ada padaku seperempat syikal perak; itu dapat aku berikan kepada abdi Allah itu, maka ia akan memberitahukan kepada kita tentang perjalanan kita."

⁹--Dahulu di antara orang Israel, apabila seseorang pergi menanyakan petunjuk Allah, ia berkata begini: "Mari kita pergi kepada pelihat," sebab nabi yang sekarang ini disebutkan dahulu pelihat. --

¹⁰Kemudian berkatalah Saul kepada bujangnya itu: "Pikiranmu itu baik. Mari kita pergi." Maka pergilah mereka ke kota, ke tempat abdi Allah itu.

¹¹Ketika mereka naik jalan pendakian ke kota itu, mereka bertemu dengan gadis-gadis yang keluar hendak menimba air. Mereka bertanya kepada gadis-gadis itu: "Pelihat ada di sini?"

¹²Jawab gadis-gadis itu kepada mereka: "Ya, ada, baru saja ia mendahului kamu, cepat-cepatlah sekarang. Ia datang ke kota hari ini, karena ada perjamuan korban untuk orang banyak di bukit pada hari ini.

¹³Apabila kamu masuk ke kota, kamu akan segera menjumpainya, sebelum ia naik ke bukit untuk makan. Sebab orang banyak tidak akan makan, sebelum ia datang; karena dialah yang memberkati korban, kemudian barulah para undangan makan. Pergilah sekarang, sebab kamu akan menjumpainya dengan segera."

¹⁴Maka naiklah mereka ke kota, dan ketika mereka masuk kota, Samuel yang berjalan keluar untuk naik ke bukit, berpapasan dengan mereka.

¹⁵Tetapi TUHAN telah menyatakan kepada Samuel, sehari sebelum kedatangan Saul, demikian:

¹⁶"Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi dia menjadi raja atas umat-Ku Israel dan ia akan menyelamatkan umat-Ku dari tangan orang Filistin. Sebab Aku telah memperhatikan sengsara umat-Ku itu, karena teriakannya telah sampai kepada-Ku."

¹⁷Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku."

¹⁸Dalam pada itu Saul, datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata: "Maaf, di mana rumah pelihat itu?"

¹⁹Jawab Samuel kepada Saul, katanya: "Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.

²⁰Adapun keledai-keledaimu, yang telah hilang tiga hari lamanya sampai sekarang, janganlah engkau kuatir, sebab telah diketemukan. Tetapi siapakah yang memiliki segala yang diingini orang Israel? Bukankah itu ada padamu dan pada seluruh kaum keluargamu?"

²¹Tetapi jawab Saul: "Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin? Mengapa bapa berkata demikian kepadaku?"

²²Sesudah itu Samuel mengajak Saul dan bujangnya, dibawanya ke pendopo dan diberikannya kepada mereka tempat utama di depan para undangan, yang banyaknya kira-kira tiga puluh orang.

²³Berkatalah Samuel kepada juru masak: "Berikanlah sekarang bagian yang kuberikan kepadamu tadi, dengan pesan: Simpanlah ini dahulu."

²⁴Lalu juru masak itu menghidangkan paha dan apa yang termasuk ke situ dan meletakkannya ke depan Saul. Dan Samuel berkata: "Lihat, yang tinggal ini diletakkan ke depanmu; makanlah, sebab telah disimpan bagimu untuk perayaan ini, ketika aku berkata: Aku telah mengundang orang banyak." Demikianlah pada hari itu Saul makan bersama-sama dengan Samuel.

²⁵Sesudah itu turunlah mereka dari bukit ke kota. Dan Samuel bercakap-cakap dengan Saul di atas sotoh.

²⁶Mereka bangun pagi-pagi, dan ketika fajar menyingsing, Samuel memanggil Saul yang ada di atas sotoh itu, katanya: "Bangunlah, aku akan mengantarkan engkau." Lalu Saul bangun dan mereka keduanya pergi ke luar, yakni ia dan Samuel.

²⁷Ketika mereka turun sampai ke ujung kota, berkatalah Samuel kepada Saul: "Katakanlah kepada bujang itu, supaya ia pergi mendahului kita, tetapi berhentilah engkau sebentar, maka aku akan memberitahukan kepadamu firman Allah."

¹⁰:¹Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: "Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri:

²Apabila engkau pada hari ini pergi meninggalkan aku, maka engkau akan bertemu dengan dua orang laki-laki di dekat kubur Rahel, di daerah Benyamin, di Zelzah. Mereka akan berkata kepadamu: Keledai-keledai yang engkau cari itu telah diketemukan; dan ayahmu tidak memikirkan keledai-keledai itu lagi, tetapi ia kuatir mengenai kamu, katanya: Apakah yang akan kuperbuat untuk anakku itu?

³Dari sana engkau akan berjalan terus lagi dan sampai ke pohon tarbantin Tabor, maka di sana engkau akan ditemui oleh tiga orang laki-laki yang naik menghadap Allah di Betel; seorang membawa tiga ekor anak kambing, seorang membawa tiga ketul roti dan yang lain lagi sebuyung anggur.

⁴Mereka akan memberi salam kepadamu dan memberikan kepadamu dua ketul roti yang akan kauterima dari mereka.

⁵Sesudah itu engkau akan sampai ke Gibea Allah, tempat kedudukan pasukan orang Filistin. Dan apabila engkau masuk kota, engkau akan berjumpa di sana dengan serombongan nabi, yang turun dari bukit pengorbanan dengan gambus, rebana, suling dan kecapi di depan mereka; mereka sendiri akan kepenuhan seperti nabi.

⁶Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain.

⁷Apabila tanda-tanda ini terjadi kepadamu, lakukanlah apa saja yang didapat oleh tanganmu, sebab Allah menyertai engkau.

⁸Engkau harus pergi ke Gilgal mendahului aku, dan camkanlah, aku akan datang kepadamu untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Engkau harus menunggu tujuh hari lamanya, sampai aku datang kepadamu dan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan."

⁹Sedang ia berpaling untuk pergi meninggalkan Samuel, maka Allah mengubah hatinya menjadi lain. Dan segala tanda-tanda yang tersebut itu terjadi pada hari itu juga.

¹⁰Ketika mereka sampai di Gibea dari sana, maka bertemulah ia dengan serombongan nabi; Roh Allah berkuasa atasnya dan Saul turut kepenuhan seperti nabi di tengah-tengah mereka.

¹¹Dan semua orang yang mengenalnya dari dahulu melihat dengan heran, bahwa ia bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi itu; lalu berkatalah orang banyak yang satu kepada yang lain: "Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apa Saul juga termasuk golongan nabi?"

¹²Lalu seorang dari tempat itu menjawab: "Siapakah bapa mereka?" --Itulah sebabnya menjadi peribahasa: Apa Saul juga termasuk golongan nabi?

¹³Setelah habis ia kepenuhan seperti nabi, pulanglah ia.

¹⁴Dan paman Saul berkata kepadanya dan bujangnya: "Dari mana kamu?" Jawabnya: "Mencari keledai-keledai itu, tetapi ketika tidak terlihat, maka kami pergi kepada Samuel."

¹⁵Kemudian paman Saul itu berkata: "Coba ceritakan kepadaku apa yang dikatakan Samuel kepada kamu."

¹⁶Kata Saul kepada pamannya itu: "Terus saja diberitahukannya kepada kami, bahwa keledai-keledai itu telah diketemukan." Tetapi perihal menjadi raja yang telah dikatakan Samuel kepadanya, tidak diceritakan kepadanya.

¹⁷Kemudian Samuel mengerahkan bangsa itu ke hadapan TUHAN di Mizpa

¹⁸dan ia berkata kepada orang Israel itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Aku telah menuntun orang Israel keluar dari Mesir dan telah melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan segala kerajaan yang menindas kamu.

¹⁹Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu, berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu."

²⁰Lalu Samuel menyuruh segala suku Israel tampil ke muka, maka didapati suku Benyamin.

²¹Sesudah itu disuruhnyalah suku Benyamin tampil ke muka menurut kaum keluarganya, maka didapati kaum keluarga Matri. Akhirnya disuruhnyalah kaum keluarga Matri tampil ke muka seorang demi seorang, maka didapati Saul bin Kish. Tetapi ketika ia dicari, ia tidak diketemukan.

²²Sebab itu ditanyakan pulalah kepada TUHAN: "Apa orang itu juga datang ke mari?" TUHAN menjawab: "Sesungguhnya ia bersembunyi di antara barang-barang."

²³Berlarilah orang ke sana dan mengambilnya dari sana, dan ketika ia berdiri di tengah-tengah orang-orang sebangsanya, ternyata ia dari bahu ke atas lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.

²⁴Dan Samuel berkata kepada seluruh bangsa itu: "Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada seorangpun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu." Lalu bersoraklah seluruh bangsa itu, demikian: "Hidup raja!"

²⁵Kemudian Samuel menguraikan kepada bangsa itu tentang hak-hak kerajaan, menuliskannya pada suatu piagam dan meletakkannya di hadapan TUHAN; sesudah itu Samuel menyuruh seluruh bangsa itu pulang, masing-masing ke rumahnya.

²⁶Saulpun pulang ke rumahnya, ke Gibea, dan bersama-sama dengan dia ikut pergi orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah.

²⁷Tetapi orang-orang dursila berkata: "Masakan orang ini dapat menyelamatkan kita!" Mereka menghina dia dan tidak membawa persembahan kepadanya. Tetapi ia pura-pura tuli.
— 1 Samuel 9:1–10:27 (TB)

1 Samuel 9:1–2. Pengenalan yang bersifat formulaik mengenai seorang tokoh baru (”Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kish”) beserta garis silsilahnya (”bin Abiel, ... seorang yang berada”; 9:1; bdk. 1Sam. 1:1–2) menandai awal dari suatu bagian narasi yang baru. Di luar seorang pelarian dari medan pertempuran dalam 4:12, penyebutan terakhir mengenai orang-orang Benyamin dalam ”Sejarah Deuteronomistis” (Yosua–2 Raja-raja; lihat Pengantar) adalah peristiwa keji di bagian akhir Kitab Hakim-Hakim (Hak. 20–21), yang membuat latar belakang silsilah awal Kish (dan dengan demikian juga Saul) sebagai orang Benyamin secara rohani patut dipertanyakan. Namun, seiring deskripsi berlanjut, Kish dan anaknya, Saul, memiliki semua unsur kesuksesan duniawi. Saul bukan hanya berasal dari keluarga kaya dan terpandang, melainkan ia juga memiliki ”penampilan fisik” layaknya seorang ”raja sama seperti segala bangsa lain”, di mana ”tidak ada seorang pun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya” dan tingginya melampaui rata-rata orang sebangsanya dari bahu ke atas (9:2). Namanya, ”Saul” (shaʾul), yang berarti ”yang diminta”, mengisyaratkan bahwa ia mungkin merupakan jawaban atas permintaan Israel yang memberontak dalam pasal 8, dan kemungkinan juga berdiri secara kontras dengan Samuel, yang merupakan jawaban baik Allah atas doa Hana yang saleh (lihat pembahasan mengenai 1:12–20 di atas).

1 Samuel 9:3–10. Terlepas dari ketampanan fisiknya yang memikat, karakter Saul mulai dipertanyakan seiring berjalannya cerita, baik secara halus maupun secara gamblang. Di Timur Dekat Kuno, raja-raja yang baik diibaratkan seperti gembala (misalnya dalam prolog Hukum Hammurabi), yang merupakan cara kita kelak diperkenalkan kepada Daud—sedang menggembalakan domba-domba ayahnya (16:11). Lebih jauh lagi, raja-raja Israel dilarang mengumpulkan banyak kuda (Ibrani: susim; Ul. 17:16). Kendati agak samar, karakter Saul mulai diragukan, karena ia bukan hanya berasal dari keluarga yang mengumpulkan banyak keledai betina (ʾatonot), melainkan ia tampaknya juga gagal ”memelihara” dan menjaganya dengan baik. Bahkan, ada indikasi halus bahwa Saul terbiasa ”bermalas-malasan”, karena ayahnya harus mendatanginya dan berkata kepadanya untuk ”bersiaplah dan pergilah mencari keledai-keledai itu” (1Sam. 9:3)—suatu tugas yang bahkan tidak dipercayakan kepadanya seorang diri (”Ambillah salah seorang bujang”). Tidak jelas ke mana saja Saul dan bujangnya itu menjelajah, namun tampaknya mereka tidak berjalan terlalu jauh sebelum Saul bersiap untuk menyerah dengan dalih ”kekhawatiran” bahwa ayahnya akan mencemaskan dirinya (9:5). Tidak mengherankan jika bujangnya mengetahui tempat tinggal Samuel di Rama (3:20; 7:15–17), namun kenyataan bahwa bujang itulah yang harus memberitahu Saul semakin menyiratkan minimnya kehidupan rohani Saul, terutama mengingat Samuel adalah seorang yang sangat ”terhormat” (dari kata Ibrani kbd) di seluruh Israel (9:6). Ketidakmampuan Saul dalam memimpin semakin dipertegas oleh ketidakmampuannya mengatasi masalah dalam situasi mereka; ia perlu diberitahu tentang keberadaan Samuel dan kemudian perlahan-lahan dibujuk untuk pergi kepadanya oleh bujang tanpa nama milik Kish tersebut, yang bahkan menawarkan diri untuk membayar bantuan Samuel dengan uang peraknya sendiri (9:6–10).

1 Samuel 9:11–26. Menanggapi pertanyaan singkat dan lugas dari Saul dan bujangnya (”Pelihat ada di sini?”; 9:11), jawaban yang panjang lebar dan berbelit-belit dari gadis-gadis muda itu (9:12–13)—yang di beberapa bagian tampak janggal secara tata bahasa, terputus-putus, dan berulang-ulang—mungkin menangkap kegugupan yang penuh kekaguman saat berjumpa dengan pemuda yang sedemikian tampan seperti Saul (lihat 9:2). Hal ini juga memberikan konteks lebih lanjut bagi peristiwa berikutnya, di mana mereka secara providensial ”kebetulan” berpapasan dengan Samuel yang sedang dalam perjalanan menuju perjamuan korban di bukit pengorbanan (9:14).

Narator menegaskan secara gamblang tangan pemeliharaan (providensia) TUHAN dalam pertemuan Saul dengan Samuel dengan memutar kembali waktu ke peristiwa sehari sebelumnya dalam 9:15–16. Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa TUHAN tidak menyebut Saul sebagai ”raja” (melek), melainkan memerintahkan Samuel untuk mengurapinya menjadi ”pemimpin” atau ”pangeran” (nagid) atas umat-Nya. Suatu nada peringatan dini dapat dilihat dalam istilah yang digunakan TUHAN mengenai peran yang diberikan kepada Saul, yakni untuk ”menyelamatkan” (yshʿ) Israel dari tangan orang Filistin (9:16) dan ”memegang tampuk pemerintahan” atau ”mengendalikan/menahan umat-Ku” (ʿtsr; 9:17), yang menggemakan kembali corak karya para hakim (Hak. 2:16). ”Kebutaan” rohani Saul semakin tersirat dari ketidakmampuannya mengenali Samuel bahkan ketika sang nabi berdiri tepat di hadapannya (1Sam. 9:18–19). Laporan Samuel tentang keledai-keledai itu (9:20) menuntaskan ketegangan naratif utama hingga titik ini, dan pertanyaannya kini beralih menjadi: ”Apa yang akan diberitahukan Samuel kepada Saul?” (9:19).

Walaupun sebagian penafsir memandang penolakan diri Saul yang terkesan rendah hati (9:21) sebagai ketulusan yang sejati, di dalam konteks narasi hal tersebut tampak sebagai kerendahhatian palsu mengingat latar belakang silsilahnya yang terpandang sebagaimana telah diperkenalkan di awal narasi (9:1–2). Hal ini kian ditegaskan oleh sikapnya yang tidak menolak perlakuan istimewa layaknya seorang raja dalam perjamuan makan tersebut (9:22–24). Bagaimanapun caranya ia beristirahat di malam hari, kecenderungan Saul untuk terus berbaring tidur tampak disoroti oleh keharusan Samuel untuk berseru memanggil Saul di atas sotoh, dan sama seperti ayahnya dalam 9:3, Samuel harus memanggilnya: ”Bangunlah” (9:26).[^10] Ketika kita diperkenalkan kepada Saul di sini dalam pasal 9, karakterisasinya menampilkan kontras yang sangat tajam dengan ”raja yang berkenan di hati TUHAN” yang akan datang dalam diri Daud (13:14), yang kelak menjadi bayang-bayang yang lebih jelas mengenai sang Raja Gembala Israel yang sejati, Yesus Kristus. Yesus Sang Kristus (atau Mesias, yang berarti ”Yang Diurapi”) meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba demi mencari seekor domba yang hilang (Mat. 18:12), dan Ia datang bukan dengan rupa fisik yang memikat dunia (Yes. 53:2), melainkan sebagai Juruselamat (yehoshuaʿ) sejati bagi umat Allah yang berseru memohon kelepasan—bukan sekadar kelepasan dari musuh-musuh manusiawi fana seperti bangsa Filistin, melainkan dari dosa, Iblis, dan kutuk maut.

1 Samuel 9:27–10:8. Ayat-ayat ini mengisahkan tahapan pertama dari proses kenaikan takhta kerajaan di Timur Dekat Kuno, yakni pengurapan atau pemberian mandat (komisi), yang semestinya diikuti oleh pengujian atau pembuktian (atestasi), dan kemudian peneguhan atau penobatan (inaugurasi; lihat Long). Baik bagi Saul maupun Daud dalam pasal-pasal selanjutnya, proses kenaikan takhta ini memiliki dua ”jalur”—satu bersifat pribadi (yakni di hadapan TUHAN) dan satu bersifat publik (yakni di hadapan seluruh bangsa). Pengurapan pribadi Saul di hadapan TUHAN semata (yakni hanya dengan kehadiran Saul dan nabi Samuel dalam 10:1) memulai kenaikan takhta rajawi Saul secara ”pribadi / di hadapan TUHAN”. Oleh sebab itu, pengurapan ini berlangsung di ”ujung kota” (9:27; yakni jauh dari pandangan publik di pusat kota) saat Samuel menginstruksikan Saul untuk menyuruh bujangnya berjalan mendahului mereka agar mereka dapat berbicara secara empat mata. Mungkin karena TUHAN sedang menetapkan suatu jabatan sejarah penebusan yang baru di sini (yakni lembaga kerajaan), Ia memberikan kesaksian atasnya melalui ”tiga saksi” berupa tanda-tanda mukjizat (10:2–6) yang akan dijumpai oleh Saul demi memberikan keyakinan kepadanya serta menawarkan kesempatan untuk membuktikan dirinya di hadapan TUHAN (10:2–7). Berdasarkan apa yang terjadi sesudahnya, peristiwa-peristiwa yang dinubuatkan ini dimaksudkan untuk menguatkan iman Saul dan memampukan ketaatannya dalam menggenapi panggilan TUHAN untuk melepaskan Israel dari cengkeraman orang Filistin (10:1). Lokasi spesifik dari pos pasukan Filistin disebutkan bersama dengan instruksi untuk ”lakukanlah apa saja yang didapat oleh tanganmu, sebab Allah menyertai engkau”—yakni seranglah pos pasukan itu dan bebaskanlah Israel (10:7). Instruksi terakhir dalam 10:8 tampaknya membayangkan suatu perayaan sukacita pascakemenangan di mana Samuel akan mempersembahkan korban-korban untuk perjamuan (bdk. 9:12–14, 22–24), dan sesudah itu Samuel akan memberikan petunjuk-petunjuk lebih lanjut.

1 Samuel 10:9–16. Kesetiaan Allah pada firman janji-Nya dinyatakan secara nyata di sini saat seluruh peristiwa yang dinubuatkan tergenapi secara tepat dan Allah memperlengkapi Saul dengan segala sumber daya yang diperlukan untuk meraih keberhasilan (10:9–11). Meskipun terdapat perdebatan seputar kemunculan pepatah ”Apa Saul juga termasuk golongan nabi?” (10:12), ungkapan ini tampaknya merujuk pada sesuatu yang sangat tidak lazim terjadi namun sungguh-sungguh terjadi (semacam ungkapan peribahasa untuk peristiwa yang luar biasa ganjil). Sikap diam Saul mengenai pengurapannya ketika berbicara dengan pamannya, kendati bukan merupakan ketidaktaatan langsung terhadap perintah Allah, tampaknya mengindikasikan rasa malu atau ketakutan, dan menjadi tanda awal bahwa Saul mungkin bukan sosok yang ”cocok” sebagai raja Israel. Di titik ini kita mulai mempertanyakan bagaimana kesiapan mental Saul dalam mengemban tanggung jawab yang sedemikian besar dari peran rajawi yang dipercayakan Allah kepadanya.

1 Samuel 10:17–27. Sekalipun permintaan bangsa Israel akan seorang raja merupakan pengingkaran terhadap perjanjian dan penolakan terhadap TUHAN sebagai Raja Israel, ketika Samuel memberikan seorang raja bagi Israel, ia melakukannya dengan cara yang konsisten dengan perjanjian dan mengintegrasikan kerajaan manusiawi tersebut ke dalam struktur teokrasi. Isyarat pertama dari hal ini ditemukan dalam upacara di Mizpa, di mana Saul secara publik ditetapkan atau diberi mandat melalui pembuangan undi untuk menjadi raja pertama Israel (1Sam. 10:17–27). Setelah undian jatuh pada diri Saul (10:20–21), ia diperkenalkan kepada jemaah oleh Samuel sebagai orang yang telah dipilih oleh TUHAN untuk menjadi raja mereka (10:22–24). Diberitahukan kepada kita bahwa Saul adalah sosok yang mengesankan dengan perawakan rajawi, berdiri lebih tinggi daripada siapa pun di antara perhimpunan itu (10:23). Namun demikian, ia telah ”bersembunyi di antara barang-barang” (10:22). Meskipun teks tidak memberitahukan alasannya (Yosefus menduga hal itu disebabkan oleh kesopanan/kesederhanaannya; Antiquities 6.63), hal itu bisa saja disebabkan oleh rasa takut dan malu-malu, atau kemungkinan agar ia dapat tidur sejenak (mengingat kecenderungannya untuk bermalas-malasan; bdk. 9:3, 26). Kendati begitu, saat melihat sosoknya, bangsa itu menyambutnya dengan penuh antusias dan bersorak: ”Hidup raja!” (10:24). Inilah sosok raja yang tepat seperti yang mereka dambakan!

Akan tetapi, Samuel tidak menghendaki bangsa itu berpikir bahwa hanya karena mereka telah diberikan seorang raja, raja mereka boleh memerintah dengan cara yang sama seperti raja-raja dari bangsa-bangsa di sekitarnya. Karena itu, Samuel dengan cermat menjelaskan kepada mereka ”hak-hak kerajaan” (secara harfiah ”tata cara kerajaan”; Ibrani: mishpat; 10:25). Dengan melakukan hal ini, Samuel mengambil langkah penting untuk meredakan ketegangan antara hasrat berdosa bangsa itu akan seorang raja dan persetujuan TUHAN atas permintaan mereka. Namun demikian, kegagalan Saul untuk memenuhi cita-cita Allah bagi seorang raja Israel mungkin telah tersirat bahkan dalam tindakan Samuel di sini, sebab rajalah yang seharusnya menulis sendiri salinan Hukum Allah bagi dirinya saat ia naik takhta (Ul. 17:18). Poin Samuel adalah bahwa raja-raja Israel tidak memiliki kekuasaan otonom. Mereka tidak boleh menjadi hukum bagi diri mereka sendiri, melainkan harus selalu tunduk pada hukum-hukum Perjanjian Sinai serta Firman TUHAN yang disampaikan melalui nabi-nabi Israel. Dengan demikian, institusi kerajaan di Israel diintegrasikan ke dalam struktur perjanjian teokrasi, yang berfungsi secara konsisten dengan kedaulatan mutlak TUHAN atas bangsa itu dengan bertindak sebagai sarana bagi pemerintahan TUHAN atas umat-Nya (lihat Vannoy, hlm. 100).

Terdapat sejumlah diskusi mengenai bagaimana menafsirkan sikap bungkam Saul di hadapan hinaan ”orang-orang dursila” (beliyyaʿal) dalam 10:27. Di satu sisi, hal itu dapat menjadi indikator lain dari kegagalannya untuk menuntut dari umat penghormatan yang layak bagi orang yang diurapi TUHAN, sebagaimana kelak diperlihatkan dengan sangat baik oleh Daud dalam kitab ini. Sikap itu juga dapat menyiratkan kelemahan yang diliputi rasa takut dalam diri Saul yang enggan menimbulkan kegaduhan pada masa awal kerajaannya yang baru terbentuk. Atau, hal itu bisa jadi merupakan tindakan hikmat sejati dengan tidak memasukkan hinaan tersebut ke dalam hati, melainkan mencari jalan damai untuk melangkah maju. Berbeda dengan Saul dalam kisah ini, ketika diurapi dengan Roh Kudus pada saat baptisan-Nya, Raja Israel sejati yang akan datang diteguhkan panggilannya bukan melalui tiga berkat, melainkan melalui tiga pencobaan di padang gurun (Mat. 4). Ia tidak bersembunyi di antara tumpukan barang, melainkan dengan berani melangkah maju menuju ujian puncaknya dengan mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem (Luk. 9:51), di mana penobatan-Nya bukan dengan mahkota emas, melainkan mahkota duri; di mana perjamuan-Nya adalah perjamuan Paskah yang tenang sebagai gambaran penderitaan dan kematian-Nya; dan di mana Ia ditinggikan bukan untuk duduk di atas takhta duniawi, melainkan untuk tergantung tanpa busana di atas kayu salib. Namun demikian, kemuliaan Raja kita yang agung, Yesus, jauh melampaui raja Israel mana pun yang mendahului-Nya, karena melalui kemuliaan penderitaan-Nya, Ia telah mengerjakan keselamatan sejati satu kali untuk selama-lamanya bagi umat-Nya.

Peneguhan Rajawi oleh Umat (11:1–11)

¹Maka Nahas, orang Amon itu, bergerak maju dan berkemah mengepung Yabesh-Gilead. Lalu berkatalah semua orang Yabesh itu kepada Nahas: "Adakanlah perjanjian dengan kami, maka kami akan takluk kepadamu."

²Tetapi Nahas, orang Amon itu, berkata kepada mereka: "Dengan syarat inilah aku akan mengadakan perjanjian dengan kamu, bahwa tiap mata kananmu akan kucungkil; dengan demikian aku mendatangkan malu kepada segenap orang Israel."

³Para tua-tua Yabesh berkata kepadanya: "Berilah kelonggaran kepada kami tujuh hari lamanya, supaya kami mengirim utusan ke seluruh daerah Israel; dan jika tidak ada seorangpun yang menyelamatkan kami, maka kami akan keluar menyerahkan diri kepadamu."

⁴Ketika para utusan itu sampai di Gibea-Saul, dan menyampaikan hal itu kepada bangsa itu, menangislah bangsa itu dengan suara nyaring.

⁵Saul baru saja datang dari padang dengan berjalan di belakang lembunya, dan ia bertanya: "Ada apa dengan orang-orang itu, sehingga mereka menangis?" Mereka menceritakan kepadanya kabar orang-orang Yabesh itu.

⁶Ketika Saul mendengar kabar itu, maka berkuasalah Roh Allah atas dia, dan menyala-nyalalah amarahnya dengan sangat.

⁷Diambilnyalah sepasang lembu, dipotong-potongnya, lalu potongan-potongan itu dikirimkannya ke seluruh daerah Israel dengan perantaraan utusan, pesannya: "Siapa yang tidak maju mengikuti Saul dan mengikuti Samuel, lembu-lembunya akan diperlakukan juga demikian." Lalu TUHAN mendatangkan ketakutan kepada bangsa itu, sehingga majulah mereka serentak.

⁸Ketika Saul memeriksa barisan mereka di Bezek, maka ada tiga ratus ribu orang Israel dan tiga puluh ribu orang Yehuda.

⁹Kepada para utusan yang datang itu dikatakan: "Beginilah kamu katakan kepada orang-orang Yabesh-Gilead: Besok pada waktu panas teriknya matahari akan datang bagimu penyelamatan." Ketika para utusan kembali dan memberitahukan hal itu kepada orang-orang Yabesh, bersukacitalah mereka.

¹⁰Lalu orang-orang Yabesh itu berkata kepada Nahas: "Besok kami akan keluar menyerahkan diri kepadamu; maka bolehlah kamu lakukan terhadap kami apapun yang kamu pandang baik."

¹¹Keesokan harinya Saul membagi rakyat itu menjadi tiga pasukan. Mereka itu masuk ke tengah-tengah perkemahan musuh pada waktu kawal pagi dan memukul kalah orang-orang Amon sebelum hari panas; dan terserak-seraklah orang-orang yang lolos itu, sehingga di antara mereka tidak ada tinggal dua orang bersama-sama.
— 1 Samuel 11:1–11 (TB)

1 Samuel 11:1–11. Proses yang melaluinya Saul menjadi raja pertama Israel melibatkan tiga tahapan ”publik” di hadapan seluruh bangsa (Vannoy, hlm. 102–105). Pertama, ia diurapi secara pribadi oleh nabi Samuel (1Sam. 10:1) dan kemudian secara publik diberi mandat (komisi) sebagai raja terpilih (10:24). Setelah itu, kemenangannya yang membakar semangat atas orang Amon dalam 1 Samuel 11 memberikan bukti peneguhan (atestasi atau konfirmasi) yang jelas atas pengangkatannya ke dalam jabatan kerajaan, yang kemudian bermuara pada upacara pemahkotaan atau penobatan (inaugurasi) masa pemerintahannya sebagaimana diuraikan dalam 1 Samuel 11:14–12:25.

Sifat masa pengujian (probasi) dari pertempuran Saul melawan orang Amon tampaknya disoroti oleh penamaan raja musuh dari bangsa Amon tersebut, yakni Nahas (nakhash), yang berarti ”ular” (bdk. Kej. 3:15; Bil. 21:6; dll.). Secara tersirat, ia hanyalah salah satu sosok lain dalam deretan panjang ”keturunan ular” yang menindas umat Allah dalam permusuhan yang berkepanjangan (1Ptr. 5:8–9; bdk. Mat. 24:9; Yoh. 8:44; 15:18; 1Yoh. 3:12–13). Sejalan dengan pemikiran ini, Saul berfungsi sebagai semacam raja bertipe ”Adam Pertama” yang—kendati meraih keberhasilan lahiriah secara publik dalam kisah ini—akan gagal dalam pengujian sejati atas kenaikan takhta rohaninya di mata TUHAN. Ia kemudian akan jatuh di bawah penolakan TUHAN guna membuka jalan bagi raja bertipe ”Adam Kedua” di dalam diri Daud, yang menggenapi perintah TUHAN dalam mengalahkan orang Filistin.

Meskipun demikian, pasal 11 ini merupakan titik puncak dari masa pemerintahan Saul, ketika ia datang menolong orang Yabesh-Gilead yang tertindas (11:1) di bawah ancaman mutilasi tubuh (11:2) oleh sang ”raja ular”, Nahas. Ketika mendengar tentang penderitaan saudara-saudara sebangsa mereka (11:3), penduduk Gibea turut bergabung bersama mereka dalam perkabungan dan ratapan (11:4). Saat Saul mendengar kabar tersebut (11:5), suatu ”amarah kudus” yang dikaruniakan Allah turun menguasainya bersama dengan Roh Allah (11:6). Para pembaca semestinya terkesan oleh kenyataan bahwa Saul tidak mendengar kabar tersebut bersama-sama dengan rakyat lainnya, karena ia sedang berada di ladang (11:5)—tempat yang tentu saja sangat tidak lazim bagi seorang raja. Tindakan berikutnya pun menyiratkan nada yang bernuansa mencekam. Ia secara brutal dan terkesan berlebihan menyembelih sepasang lembu (perhatikan bahwa lembu-lembu itu belum tentu kepunyaannya sendiri; 11:7), dan dalam suatu tindakan yang mengingatkan kembali pada masa-masa paling kelam zaman para hakim (Hak. 19–20 dan penyebutan terakhir mengenai Gibea dalam Sejarah Deuteronomistis), ia mengirimkan potongan-potongan lembu itu ke ”seluruh daerah Israel”. Sekalipun terkesan menyeramkan, tindakan tersebut membuahkan hasil yang diharapkan dalam menghimpun pasukan yang sangat besar (330 ”ribu” atau ”satuan militer”, tergantung bagaimana seseorang memahami kata Ibrani ʾelef; 11:8), yang berpuncak pada kekalahan telak orang Amon serta pembebasan orang Yabesh-Gilead (11:9–11). Ini adalah titik puncak dalam karier Saul, karena ia bukan hanya memimpin dalam kemenangan, melainkan pada akhirnya juga mempersembahkan pujian atas kemenangan itu kepada TUHAN (11:13).

Penobatan Rajawi oleh Umat (11:12–12:25)

¹¹:¹²Lalu berkatalah bangsa itu kepada Samuel: "Siapakah yang telah berkata: Masakan Saul menjadi raja atas kita? Serahkanlah orang-orang itu, supaya kami membunuhnya."

¹³Tetapi kata Saul: "Pada hari ini seorangpun tidak boleh dibunuh, sebab pada hari ini TUHAN telah mewujudkan keselamatan kepada Israel."

¹⁴Dan Samuel berkata kepada bangsa itu: "Marilah kita pergi ke Gilgal dan membaharui jabatan raja di sana."

¹⁵Lalu pergilah seluruh bangsa itu ke Gilgal dan menjadikan Saul raja di sana di hadapan TUHAN di Gilgal, dan mereka mempersembahkan di sana korban keselamatan di hadapan TUHAN, dan bersukarialah di sana Saul dan semua orang Israel dengan sangat.

¹²:¹Berkatalah Samuel kepada seluruh orang Israel: "Telah kudengarkan segala permintaanmu yang kamu sampaikan kepadaku, dan seorang raja telah kuangkat atasmu.

²Maka sekarang raja itulah yang menjadi pemimpinmu; tetapi aku ini telah menjadi tua dan beruban, dan bukankah anak-anakku laki-laki ada di antara kamu? Akulah yang menjadi pemimpinmu dari sejak mudaku sampai hari ini.

³Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu."

⁴Jawab mereka: "Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapapun."

⁵Lalu berkatalah ia kepada mereka: "TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nyapun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku." Jawab mereka: "Dia menjadi saksi."

⁶Lalu berkatalah Samuel kepada bangsa itu: "Tuhanlah saksi, yang mengangkat Musa dan Harun dan yang menuntun nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir.

⁷Maka sebab itu, berdirilah supaya aku bersama-sama dengan kamu berhakim di hadapan TUHAN mengenai segala perbuatan keselamatan TUHAN yang telah dikerjakan-Nya kepadamu dan kepada nenek moyangmu.

⁸Ketika Yakub datang ke Mesir dan nenek moyangmu berseru-seru kepada TUHAN, maka TUHAN mengutus Musa dan Harun, yang membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir, dan membiarkan mereka diam di tempat ini.

⁹Tetapi mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan Sisera, panglima tentara di Hazor, dan ke dalam tangan orang Filistin dan raja Moab, yang berperang melawan mereka.

¹⁰Mereka berseru-seru kepada TUHAN, katanya: Kami telah berdosa, sebab kami telah meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada para Baal dan para Asytoret; maka sekarang lepaskanlah kami dari tangan musuh kami, maka kami akan beribadah kepada-Mu.

¹¹Sesudah itu TUHAN mengutus Yerubaal, Barak, Yefta dan Samuel, dan melepaskan kamu dari tangan musuh di sekelilingmu, sehingga kamu diam dengan tenteram.

¹²Tetapi ketika kamu melihat, bahwa Nahas, raja bani Amon, mendatangi kamu, maka kamu berkata kepadaku: Tidak, seorang raja harus memerintah kami, padahal TUHAN, Allahmu, adalah rajamu.

¹³Maka sebab itu, lihat itu raja yang telah kamu pilih, yang kamu minta. Sesungguhnya TUHAN telah mengangkat raja atasmu,

¹⁴asal saja kamu takut akan TUHAN, beribadah kepada-Nya, mendengarkan firman-Nya dan tidak menentang titah TUHAN, dan baik kamu, maupun raja yang akan memerintah kamu itu mengikuti TUHAN, Allahmu!

¹⁵Tetapi jika kamu tidak mendengarkan firman TUHAN dan kamu menentang titah TUHAN, maka tangan TUHAN akan melawan kamu dan melawan rajamu.

¹⁶Sekarang tinggallah berdiri dan lihatlah perkara yang besar yang akan dilakukan TUHAN di depan matamu ini.

¹⁷Bukankah sekarang musim menuai gandum? Aku akan berseru kepada TUHAN, supaya Ia memberikan guruh dan hujan. Lihatlah dan sadarlah, bahwa besar kejahatan yang telah kamu lakukan itu di mata TUHAN dengan meminta raja bagimu."

¹⁸Lalu berserulah Samuel kepada TUHAN, maka TUHAN memberikan pada hari itu guruh dan hujan, sehingga sangat takutlah seluruh bangsa itu kepada TUHAN dan kepada Samuel.

¹⁹Berkatalah seluruh bangsa itu kepada Samuel: "Berdoalah untuk hamba-hambamu ini kepada TUHAN, Allahmu, supaya jangan kami mati, sebab dengan meminta raja bagi kami, kami menambah dosa kami dengan kejahatan ini."

²⁰Dan berkatalah Samuel kepada bangsa itu: "Jangan takut; memang kamu telah melakukan segala kejahatan ini, tetapi janganlah berhenti mengikuti TUHAN, melainkan beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu.

²¹Janganlah menyimpang untuk mengejar dewa kesia-siaan yang tidak berguna dan tidak dapat menolong karena semuanya itu adalah kesia-siaan belaka.

²²Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, sebab nama-Nya yang besar. Bukankah TUHAN telah berkenan untuk membuat kamu menjadi umat-Nya?

²³Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu; aku akan mengajarkan kepadamu jalan yang baik dan lurus.

²⁴Hanya takutlah akan TUHAN dan setialah beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukan-Nya di antara kamu.

²⁵Tetapi jika kamu terus berbuat jahat, maka kamu akan dilenyapkan, baik kamu maupun rajamu itu."
— 1 Samuel 11:12–12:25 (TB)

Berlandaskan pengakuan Saul bahwa pujian atas kemenangan melawan orang Amon harus dipersembahkan kepada TUHAN dan bukan kepada dirinya sendiri (11:13), Samuel menyerukan suatu perhimpunan di Gilgal untuk ”membarui kerajaan” (11:14). 1 Samuel 11:14–15 memperkenalkan dan merangkum secara singkat ketetapan-ketetapan dari perhimpunan Gilgal yang kemudian diuraikan secara lebih rinci dalam 1 Samuel 12. Kendati pasal 12 menggambarkan penobatan (inaugurasi) masa pemerintahan Saul sebagai raja (lihat 12:13), ini bukanlah fokus utamanya. Sebaliknya, fokus dari perhimpunan Gilgal adalah pada pengakuan dosa Israel karena telah meminta seorang raja (12:19) serta nasihat Samuel kepada umat Israel: ”Hanya takutlah akan TUHAN dan setialah beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu” (12:24). Dalam kedua bagian ini (baik 1Sam. 11:14–15 maupun 12:1–25), tujuan utama perhimpunan tersebut adalah agar Israel memperbarui kesetiaan mereka kepada TUHAN.

Sejarah Penebusan dan Pembentukan Kerajaan Perjanjian

Kerajaan manusiawi kini menjadi sarana pemerintahan TUHAN atas umat-Nya. Di sinilah kita menemukan permulaan dari ”zaman kerajaan” di Israel kuno, dan tepat pada permulaannya, lembaga kerajaan diintegrasikan ke dalam perjanjian. Perjanjian menyediakan norma bagi kerajaan manusiawi, dan kerajaan manusiawi akan berfungsi sebagai bagian integral dari administrasi perjanjian. Oleh sebab itu, 1 Samuel 11:14–12:25 memiliki signifikansi yang luar biasa bukan hanya bagi Kitab 1 dan 2 Samuel, melainkan juga bagi keseluruhan Alkitab. Berbagai persoalan yang dibahas dalam bagian ini—terkait pembentukan lembaga kerajaan di Israel—menetapkan arah bagi alur sejarah penebusan di sepanjang sisa Perjanjian Lama, berlanjut ke dalam Perjanjian Baru, dan bahkan sampai ke eskaton. Mulai saat ini dan seterusnya, lembaga kerajaan akan memegang peranan sentral dalam alur sejarah penebusan yang terus bergulir karena keterkaitannya yang erat dengan kebangkitan pengharapan Mesianis dan janji TUHAN kepada Daud bahwa dinastinya akan bertahan selama-lamanya (2Sam. 7). Ketika raja-raja Israel gagal hidup sesuai dengan cita-cita perjanjian, para nabi mulai bernubuat tentang seorang Raja Ilahi-manusiawi, yang pada suatu masa mendatang akan menegakkan damai dan keadilan universal di bumi (Yes. 9:5–6; Yer. 23:5–6; 30:9; 33:15–17).

Perjanjian Baru mencatat kedatangan perdana dari Raja ini kepada umat-Nya dalam pribadi Yesus, yang sejak kelahiran-Nya (bdk. Luk. 1:32, 69; 2:11) maupun selama pelayanan pengajaran-Nya (bdk. mis. Mat. 9:27; 12:23; 15:22; 20:30–31; 21:15; 22:42) disapa sebagai ”Anak Daud”. Tepat sebelum penyaliban-Nya, Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai (Mat. 21:1–9; Mrk. 11:1–10; Luk. 19:29–38; Yoh. 12:12–15; bdk. 1Raj. 1:33, 44) untuk memproklamasikan secara publik bahwa Dialah Pribadi yang dinubuatkan oleh para nabi akan duduk di atas takhta Daud suatu hari kelak (2Sam. 7:11–14; Za. 9:9). Selanjutnya, Yesus menegaskan di hadapan Mahkamah Agama (Sanhedrin) bahwa Dialah Sang Mesias (Mat. 26:57–68; Mrk. 14:53–65; Luk. 22:67–71) dan di hadapan Pilatus bahwa Dialah ”raja orang Yahudi” (Yoh. 18:33, 37). Bahkan, Yesus berkata kepada Pilatus: ”Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia” (Yoh. 18:37). Gereja mula-mula memahami dengan sangat jelas bahwa Yesus adalah Sang Mesias yang dinubuatkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, dan para rasul dengan cermat menjelaskan mengapa Yesus disalibkan, dibangkitkan, dan naik ke surga (Kis. 2:25–36; 3:20–26; 13:27–37; 18:28). Baik Yesus maupun para rasul berbicara tentang suatu hari kelak ketika Yesus akan kembali (Yoh. 14:3, 28) dan memulihkan segala sesuatu (Rm. 8:20–21). Dalam kitab terakhir Alkitab, kedatangan (Why. 22:7) sosok rajawi dari keturunan Daud (Why. 22:16) digambarkan dalam segala kepenuhan dan kemuliaan pengharapan Mesianis para nabi Perjanjian Lama (Why. 15:3; 17:14; 19:11–16). Inilah lintasan sejarah penebusan yang menemukan titik awalnya dalam 1–2 Samuel.

1 Samuel 11:12–15. Puncak dari kedudukan Saul sebagai raja dicapai dalam ayat-ayat ini. Segera setelah kemenangan melawan Nahas dan orang Amon, rakyat menawarkan kepada Saul kesempatan untuk melakukan konsolidasi kekuasaan secara keras dan penuh dendam dengan menghukum mati orang-orang yang mencemoohnya (11:12). Namun, dalam suatu pengakuan iman yang tidak lazim, Saul dengan tepat mempersembahkan pujian kepada TUHAN atas keberhasilannya dalam pertempuran (11:13), yang memicu seruan Samuel untuk ”membarui” (khiddesh) kerajaan (11:14).[^11]

Jika seseorang memahami kata ”kerajaan” dalam frasa (secara harfiah: ”Marilah kita pergi ke Gilgal dan membarui kerajaan di sana”; TB: ”membaharui jabatan raja”) sebagai rujukan kepada kerajaan Saul, sebagaimana tersirat dalam terjemahan NIV (1984) ”mengukuhkan kembali jabatan raja” (reaffirm the kingship), akan sulit untuk menjelaskan bagaimana kerajaan Saul dapat ”dibaharui” apabila ia sendiri belum ”dijadikan raja”. Lebih jauh lagi, kata kerja Ibrani dalam ayat 15 (bentuk Hifil dari mlk) diartikan sebagai ”menobatkan/memulai masa pemerintahan seorang raja” di setiap tempat lain di mana kata itu muncul (48 kali), sehingga terjemahan NIV (1984) ”meneguhkan Saul sebagai raja” semestinya diterjemahkan sebagai ”menobatkan Saul menjadi raja” atau ”menjadikan Saul raja” (sebagaimana terdapat dalam TB dan ESV: made Saul king). Oleh karena itu, lebih tepat untuk memahami ”kerajaan” dalam frasa (”Marilah kita pergi ke Gilgal dan membarui kerajaan di sana”) bukan sebagai rujukan kepada kerajaan Saul, melainkan sebagai rujukan kepada kerajaan TUHAN. Faktanya, pengingkaran Israel terhadap kedudukan TUHAN sebagai Rajalah yang menjadi isu sentral di sepanjang 1 Samuel 8–12. Ketika Israel meminta seorang raja manusiawi, mereka telah menolak TUHAN, yang adalah Raja mereka yang sejati (1Sam. 8:7; 10:19; 12:12).

Penolakan terhadap kedudukan TUHAN sebagai Raja ini merusak hubungan perjanjian antara TUHAN dan umat-Nya yang telah diteguhkan di Gunung Sinai. Namun terlepas dari kefasikan di pihak Israel ini (bdk. 1Sam. 12:17, 19), TUHAN di dalam anugerah dan belas kasihan-Nya telah memerintahkan Samuel untuk memberikan seorang raja bagi bangsa itu (1Sam. 8:7, 9, 22). Maka sekarang, ketika tiba waktunya bagi penobatan Saul, Samuel memilih untuk melaksanakannya dalam suatu upacara yang bukan hanya menobatkan masa pemerintahan Saul, melainkan juga—dan yang jauh lebih penting—memulihkan hubungan perjanjian yang telah rusak antara TUHAN dan umat-Nya. Secara signifikan, dalam 1 Samuel 11:14–12:25 lembaga kerajaan di Israel ditegakkan dalam konteks pembaruan kesetiaan kepada TUHAN. Hanya dalam kaitan dengan penegasan kembali pengakuan Israel terhadap TUHAN sebagai Raja Ilahi merekalah, kerajaan manusiawi dapat menempati posisi yang tepat dalam struktur teokrasi.

1 Samuel 12:1–7. Mengingat signifikansi sejarah penebusannya, tidak mengherankan jika penobatan Saul di sini diawali dengan pidato perpisahan dari ”hakim” terakhir dan bisa dikatakan terbesar di Israel (7:15–16). Dengan menggunakan bahasa yang serupa dengan saat ia memperingatkan tentang penyalahgunaan kekuasaan kerajaan manusiawi (8:8–18), Samuel menuntut agar rakyat bersaksi di bawah sumpah bahwa ia telah setia melayani Israel dalam menyelenggarakan pemerintahan Allah secara adil (1Sam. 12:1–3). Sekalipun mereka dengan sukacita mengafirmasi kesetiaan kepemimpinan Samuel (12:5–6), terdapat petunjuk-petunjuk di sini bahwa Samuel pun memiliki kelemahan dan kegagalannya sendiri. Sebagai contoh, ia menyebutkan anak-anaknya sendiri (12:2) terlepas dari perilaku mereka yang bejat (8:1–5). Ia juga tampaknya menggambarkan dirinya dalam istilah-istilah rajawi sebagai orang yang telah ”berjalan di depan” Israel sebagaimana yang kini akan dilakukan oleh raja (12:2; bdk. ulasan mengenai 1Sam. 8:6–9 di atas), yang semakin mengindikasikan bahwa ia mungkin sempat menginginkan peran raja itu bagi dirinya sendiri. Sikapnya yang menganggap permintaan Israel akan seorang raja sebagai urusan pribadi dapat tersirat dari kenyataan bahwa sekalipun ia menyebut Saul beberapa kali, ia tidak pernah menyebut namanya, melainkan hanya menyebutnya sebagai ”orang yang diurapi-Nya [diurapi TUHAN]” (12:3, 5). Lebih jauh lagi, Samuel membingkai seluruh upacara pembaruan perjanjian ini dalam bahasa perkara hukum perdata (gugatan perkara perjanjian) antara dirinya dan Israel (”berdirilah supaya aku bersama-sama dengan kamu berhakim di hadapan TUHAN”; 12:7).

1 Samuel 12:8–18. Penobatan di sini berlangsung sebagai pembaruan kerajaan TUHAN melalui upacara pembaruan perjanjian. Sebagaimana diperjelas oleh prolog historis (12:8–13), ini adalah ”pembaruan” dari Perjanjian Musa di Sinai, yang meskipun merupakan bagian dari Perjanjian Anugerah (12:8), memiliki syarat tipologis yang menggemakan Perjanjian Kerja (12:14–15). Ego Samuel yang terluka mungkin masih terlihat di sini, saat ia menempatkan dirinya langsung ke dalam daftar para hakim terkemuka—Gideon atau Yerubaal (Hak. 6–8), Barak (Hak. 4–5), dan Yefta (Hak. 11–12)—secara khusus menyebut mereka yang memimpin Israel dalam kemenangan-kemenangan besar di medan perang (1Sam. 12:11).[^12] Harga diri Samuel yang terluka dapat terlihat lebih jauh dalam caranya memperkenalkan Saul sebagai raja: ”lihat itu raja yang telah kamu pilih, yang kamu minta” (12:13, penekanan ditambahkan). Akhirnya, kekesalan Samuel tampaknya mewarnai penyampaiannya mengenai ketetapan-ketetapan perjanjian. Biasanya, seseorang dapat mengharapkan adanya janji berkat bagi ketaatan dan kutuk bagi pelanggaran perjanjian (mis. Ul. 28). Namun Samuel berhenti sebelum mengutarakan janji berkat tersebut, kendati sebagian besar terjemahan menambahkan anak kalimat (apodosis) bersyarat yang hilang mengenai berkat dengan kalimat seperti ”[maka] hal itu akan baik bagimu” (12:14; bdk. ESV).[^13] Sebaliknya, ia tampaknya sengaja menghilangkan janji-janji yang biasanya ditemukan dalam apodosis kalimat bersyarat, dan langsung melompat ke ”kabar buruk” berupa ancaman kutuk atas ketidaktaatan (12:15). Kesimpulan dari upacara perjanjian semacam ini sering kali mencakup pemanggilan para saksi—pantheon ilah-ilah kafir dalam perjanjian Timur Dekat Kuno lainnya, namun dalam perjanjian TUHAN seluruh ciptaan dipanggil untuk menjadi saksi (Ul. 4:26; 32:1; Yos. 24:27; Yes. 1:2). Di Israel kuno, hujan sering dipandang sebagai tanda berkat dan pemeliharaan. Akan tetapi, seruan Samuel akan ”guruh dan hujan”, terutama selama ”musim menuai gandum” (suatu keganjilan seperti ”salju di musim panas”; Ams. 26:1), justru sangat tidak diinginkan, karena hal itu berpotensi besar merusak hasil panen yang dinanti-nantikan (12:17–18).

1 Samuel 12:19–25. Menyaksikan tanda mencekam yang dihadirkan oleh Samuel dalam 12:18, bangsa itu (mungkin agak di luar kebiasaan mereka) tampaknya menunjukkan pertobatan yang sungguh-sungguh meremukkan hati dan memohon belas kasihan kepadanya. Melihat pemandangan ini dan mendengar permohonan rendah hati mereka akan doa syafaatnya, nada bicara Samuel tampak melunak (12:20–21), dan ia terdorong oleh komitmennya untuk setia dalam jabatannya (12:23) guna meneguhkan kembali umat akan anugerah Allah (12:22–24) serta mengulangi peringatannya dengan nada yang lebih lembut (12:25). Sekali lagi, Samuel berfungsi sebagai kontras sekaligus bayang-bayang pendahulu bagi ”Hakim Sejati” umat Allah yang akan datang, Yesus Kristus (Yoh. 5:22, 27; Kis. 10:42). Di mana Samuel memandang penolakan berdosa bangsa itu terhadap kedudukan Allah sebagai Raja sebagai urusan pribadi dan hampir merasa puas saat membawa kabar buruk tentang kutuk pelanggaran perjanjian, Yesus secara pribadi ditolak oleh umat kepunyaan-Nya sendiri namun tetap bertekun mengerjakan keselamatan mereka dengan pengorbanan diri-Nya sendiri (Yes. 53:3; Yoh. 1:11; 5:43), bahkan berdoa bagi musuh-musuh-Nya (Luk. 23:34). Seperti Samuel dalam kesetiaannya sebagai nabi dan imam, Yesus ”tidak berhenti berdoa” bagi umat-Nya (1Sam. 12:23), dan di dalam kemuliaan kenaikan-Nya ke surga Ia ”hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara” kita (Ibr. 7:22–25).

Hilangnya Kerajaan dari Saul: Kegagalan Peneguhan (13:1–14:52)

¹³:¹Saul berumur sekian tahun ketika ia menjadi raja; dua tahun ia memerintah atas Israel.

²Saul memilih tiga ribu orang dari antara orang Israel; dua ribu orang ada bersama-sama dengan Saul di Mikhmas dan di pegunungan Betel, sedang seribu orang ada bersama-sama dengan Yonatan di Gibea Benyamin, tetapi selebihnya dari rakyat itu disuruhnya pulang, masing-masing ke kemahnya.

³Yonatan memukul kalah pasukan pendudukan orang Filistin yang ada di Geba; dan hal itu terdengar oleh orang Filistin. Karena itu Saul menyuruh meniup sangkakala di seluruh negeri, sebab pikirnya: "Biarlah orang Ibrani mendengarnya."

⁴Demikianlah seluruh orang Israel mendengar kabar, bahwa Saul telah memukul kalah pasukan pendudukan orang Filistin dan dengan demikian orang Israel dibenci oleh orang Filistin. Kemudian dikerahkanlah rakyat itu untuk mengikuti Saul ke Gilgal.

⁵Adapun orang Filistin telah berkumpul untuk berperang melawan orang Israel. Dengan tiga ribu kereta, enam ribu orang pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki sebanyak pasir di tepi laut mereka bergerak maju dan berkemah di Mikhmas, di sebelah timur Bet-Awen.

⁶Ketika dilihat orang-orang Israel, bahwa mereka terjepit--sebab rakyat memang terdesak--maka larilah rakyat bersembunyi di gua, keluk batu, bukit batu, liang batu dan perigi;

⁷malah ada orang Ibrani yang menyeberangi arungan sungai Yordan menuju tanah Gad dan Gilead, sedang Saul masih di Gilgal dan seluruh rakyat mengikutinya dengan gemetar.

⁸Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia.

⁹Sebab itu Saul berkata: "Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu." Lalu ia mempersembahkan korban bakaran.

¹⁰Baru saja ia habis mempersembahkan korban bakaran, maka tampaklah Samuel datang. Saul pergi menyongsongnya untuk memberi salam kepadanya.

¹¹Tetapi kata Samuel: "Apa yang telah kauperbuat?" Jawab Saul: "Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas,

¹²maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran."

¹³Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya.

¹⁴Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu."

¹⁵Kemudian berangkatlah Samuel dan pergi dari Gilgal ke Gibea Benyamin. Tetapi Saul memeriksa barisan rakyat yang ada bersama-sama dengan dia itu: kira-kira enam ratus orang banyaknya.

¹⁶Saul dan Yonatan, anaknya, dan rakyat yang ada bersama-sama dengan mereka, tinggal di Geba-Benyamin, sedang orang Filistin berkemah di Mikhmas.

¹⁷Maka keluarlah orang-orang penjarah dari perkemahan orang Filistin dalam tiga gerombolan: gerombolan yang satu mengambil jalan ke Ofra, ke daerah Syual;

¹⁸gerombolan yang kedua mengambil jalan ke Bet-Horon, dan gerombolan yang satu lagi mengambil jalan ke perbatasan yang menghadap ke lembah Zeboim arah ke padang gurun.

¹⁹Seorang tukang besi tidak terdapat di seluruh negeri Israel, sebab orang Filistin berkata: "Jangan-jangan orang Ibrani membuat pedang atau tombak."

²⁰Jadi semua orang Israel harus pergi kepada orang Filistin untuk mengasah mata bajaknya, beliungnya, kapaknya atau aritnya masing-masing--

²¹adapun bayarannya ialah dua pertiga syikal untuk mata bajak dan beliung, dan sepertiga syikal untuk mengasah kapak dan untuk memasang kusa--

²²sehingga pada hari pertempuran itu sebilah pedang atau lembingpun tidak terdapat pada seluruh rakyat yang ada bersama Saul dan Yonatan. Tetapi Saul dan Yonatan, anaknya itu, masih mempunyainya.

²³Dan suatu pasukan pengawal orang Filistin telah keluar ke pelintasan gunung di Mikhmas.

¹⁴:¹Pada suatu hari Yonatan bin Saul berkata kepada bujang pembawa senjatanya: "Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang Filistin yang di sebelah sana." Tetapi tidak diberitahukannya hal itu kepada ayahnya.

²Adapun Saul duduk di ujung Gibea di bawah pohon delima yang di Migron. Dan rakyat yang ada bersama-sama dengan dia itu, kira-kira enam ratus orang banyaknya.

³Ahia, anak Ahitub, saudara Ikabod, anak Pinehas, anak Eli, imam TUHAN di Silo, dialah yang memakai baju efod pada waktu itu. Tetapi rakyat tidak tahu tentang perginya Yonatan itu.

⁴Di antara pelintasan-pelintasan bukit, yang dicoba Yonatan menyeberanginya ke arah pasukan pengawal orang Filistin, ada ujung bukit batu di sebelah sini dan ada ujung bukit batu di sebelah sana: yang satu bernama Bozes, yang lain bernama Sene.

⁵Ujung yang satu berdiri di sebelah utara di tentangan Mikhmas, yang lain di sebelah selatan di tentangan Geba.

⁶Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: "Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang."

⁷Lalu jawab pembawa senjatanya itu kepadanya: "Lakukanlah niat hatimu itu; sungguh, aku sepakat."

⁸Kata Yonatan: "Perhatikan, kita menyeberang ke dekat orang-orang itu dan memperlihatkan diri kepada mereka.

⁹Apabila kata mereka kepada kita begini: Berhentilah, sampai kami datang padamu, maka kita tinggal berdiri di tempat kita dan tidak naik mendapatkan mereka,

¹⁰tetapi apabila kata mereka begini: Naiklah ke mari, maka kita akan naik, sebab kalau demikian TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tangan kita. Itulah tandanya bagi kita."

¹¹Ketika mereka keduanya memperlihatkan diri kepada pasukan pengawal orang Filistin, berkatalah orang Filistin itu: "Lihat, orang-orang Ibrani keluar dari lobang-lobang tempat mereka bersembunyi."

¹²Orang-orang dari pasukan pengawal itu berseru kepada Yonatan dan pembawa senjatanya, katanya: "Naiklah ke mari, maka kami akan menghajar kamu." Lalu kata Yonatan kepada pembawa senjatanya: "Naiklah mengikuti aku, sebab TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Israel."

¹³Maka naiklah Yonatan merangkak ke atas, dengan diikuti oleh pembawa senjatanya. Orang-orang itu tewas terparang oleh Yonatan, sedang pembawa senjatanya membunuh mereka dari belakangnya.

¹⁴Kekalahan yang pertama ini, yang ditimbulkan Yonatan dan pembawa senjatanya itu, besarnya kira-kira dua puluh orang dalam jarak kira-kira setengah alur dari sepembajakan ladang.

¹⁵Lalu timbullah kegentaran di perkemahan, di padang dan di antara seluruh rakyat. Juga pasukan pengawal dan penjarah-penjarah itu gentar, dan bumi gemetar, sehingga menjadi kegentaran yang dari Allah.

¹⁶Ketika peninjau-peninjau Saul di Gibea Benyamin melihat hal itu--dan sesungguhnya, orang ramai seperti ombak berjalan ke sana ke mari--

¹⁷berkatalah Saul kepada tentara yang bersama-sama dengan dia itu: "Periksalah barisan dan lihatlah siapa yang pergi dari pada kita." Mereka memeriksa barisan, dan ternyata Yonatan dan pembawa senjatanya tidak ada.

¹⁸Lalu kata Saul kepada Ahia: "Bawalah baju efod ke mari." Karena pada waktu itu dialah yang memakai baju efod di antara orang Israel.

¹⁹Tetapi sedang Saul berbicara kepada imam itu, maka kian lama kian bertambahlah keributan di perkemahan orang Filistin, sehingga Saul berkata pula kepada imam itu: "Biarlah!"

²⁰Kemudian berkumpullah Saul dan seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia itu; dan ketika mereka sampai ke tempat pertempuran, tampaklah setiap orang menikam temannya dengan pedang, suatu huru-hara yang sangat besar.

²¹Lagipula orang-orang Ibrani yang telah lama tinggal pada orang Filistin dan yang telah ikut maju dalam tentara mereka, mereka juga berbalik untuk bergabung dengan orang-orang Israel yang ada bersama-sama dengan Saul dan Yonatan.

²²Bahkan, ketika semua orang Israel yang telah bersembunyi di pegunungan Efraim, mendengar bahwa orang Filistin telah lari, orang-orang itupun bergabung dengan mereka dalam pertempuran.

²³Demikianlah TUHAN menyelamatkan orang Israel pada hari itu. Pertempuran itu meluas sampai lewat Bet-Awen.

²⁴Ketika orang-orang Israel terdesak pada hari itu, Saul menyuruh rakyat mengucapkan kutuk, katanya: "Terkutuklah orang yang memakan sesuatu sebelum matahari terbenam dan sebelum aku membalas dendam terhadap musuhku." Sebab itu tidak ada seorangpun dari rakyat yang memakan sesuatu.

²⁵Dan seluruh orang itu sampailah ke suatu hutan dan di sana ada madu di tanah.

²⁶Ketika rakyat sampai ke hutan itu, tampaklah ada di sana madu meleleh, tetapi tidak ada seorangpun yang mencedoknya ke mulutnya dengan tangan, sebab rakyat takut kepada sumpah itu.

²⁷Tetapi Yonatan tidak mendengar, bahwa ayahnya telah menyuruh rakyat bersumpah. Ia mengulurkan tongkat yang ada di tangannya dan mencelupkan ujungnya ke dalam sarang madu; kemudian ia mencedoknya ke mulutnya dengan tangan, lalu matanya menjadi terang lagi.

²⁸Dan seorang dari rakyat berbicara, katanya: "Ayahmu telah menyuruh rakyat bersumpah dengan bersungguh-sungguh, katanya: Terkutuklah orang yang memakan sesuatu pada hari ini; sebab itu rakyat letih lesu."

²⁹Lalu kata Yonatan: "Ayahku mencelakakan negeri; coba lihat, bagaimana terangnya mataku, setelah aku merasai sedikit dari madu ini.

³⁰Apalagi, jika sekiranya rakyat pada hari ini boleh makan dengan bebas dari jarahan musuhnya, yang telah didapatnya! Tetapi sekarang tidaklah besar kekalahan di antara orang Filistin."

³¹Dan pada hari itu mereka memukul kalah orang Filistin dari Mikhmas sampai ke Ayalon. Rakyat sudah sangat letih lesu,

³²sebab itu rakyat menyambar jarahan; mereka mengambil kambing domba, lembu dan anak lembu, menyembelihnya begitu saja di atas tanah, dan memakannya dengan darahnya.

³³Lalu diberitahukanlah kepada Saul, demikian: "Lihat, rakyat berdosa terhadap TUHAN dengan memakannya dengan darahnya." Dan ia berkata: "Kamu berbuat khianat; gulingkanlah sekarang juga sebuah batu besar ke mari."

³⁴Kata Saul pula: "Berserak-seraklah di antara rakyat dan katakan kepada mereka: Setiap orang harus membawa lembunya atau dombanya kepadaku; sembelihlah itu di sini, maka kamu boleh memakannya. Tetapi janganlah berdosa terhadap TUHAN dengan memakannya dengan darahnya." Lalu setiap orang dari seluruh rakyat membawa serta pada malam itu lembunya, dan mereka menyembelihnya di sana.

³⁵Saul mendirikan mezbah bagi TUHAN; inilah mezbah yang mula-mula sekali didirikannya bagi TUHAN.

³⁶Lagi kata Saul: "Marilah kita pada malam ini mengejar orang Filistin dan menjarahi mereka sampai fajar menyingsing dan janganlah kita biarkan hidup seorangpun dari mereka." Jawab mereka itu: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik." Tetapi imam berkata: "Marilah kita dahulu tampil menghadap Allah di sini."

³⁷Saul bertanya kepada Allah: "Bolehkah aku mengejar orang Filistin itu? Akan Kauserahkankah mereka ke dalam tangan orang Israel?" Tetapi pada hari itu Ia tidak menjawab Saul.

³⁸Lalu kata Saul: "Datanglah ke mari, kamu segala pemuka rakyat; berusahalah mengetahui apa sebab dosa ini terjadi pada hari ini.

³⁹Sebab demi TUHAN yang hidup, yang menyelamatkan orang Israel, sekalipun itu disebabkan oleh Yonatan, anakku, maka ia pasti akan mati." Tetapi seorangpun dari seluruh rakyat tidak ada yang menjawabnya.

⁴⁰Kemudian berkatalah ia kepada seluruh orang Israel: "Kamu berdiri di sebelah yang satu dan aku serta anakku Yonatan akan berdiri di sebelah yang lain." Lalu jawab rakyat kepada Saul: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik."

⁴¹Lalu berkatalah Saul: "Ya, TUHAN, Allah Israel, mengapa Engkau tidak menjawab hamba-Mu pada hari ini? Jika kesalahan itu ada padaku atau pada anakku Yonatan, ya TUHAN, Allah Israel, tunjukkanlah kiranya Urim; tetapi jika kesalahan itu ada pada umat-Mu Israel, tunjukkanlah Tumim." Lalu didapati Yonatan dan Saul, tetapi rakyat itu terluput.

⁴²Kata Saul: "Buanglah undi antara aku dan anakku Yonatan." Lalu didapati Yonatan.

⁴³Kata Saul kepada Yonatan: "Beritahukanlah kepadaku apa yang telah kauperbuat." Lalu Yonatan memberitahukan kepadanya, katanya: "Memang, aku telah merasai sedikit madu dengan ujung tongkat yang ada di tanganku. Aku bersedia untuk mati."

⁴⁴Kata Saul: "Beginilah kiranya Allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu. Sesungguhnya, Yonatan, engkau harus mati."

⁴⁵Tetapi rakyat berkata kepada Saul: "Masakan Yonatan harus mati, dia yang telah mendapat kemenangan yang besar ini di Israel? Jauhlah yang demikian! Demi TUHAN yang hidup, sehelai rambutpun dari kepalanya takkan jatuh ke bumi! Sebab dengan pertolongan Allah juga dilakukannya hal itu pada hari ini." Demikianlah rakyat membebaskan Yonatan, sehingga ia tidak harus mati.

⁴⁶Maka pulanglah Saul setelah mengejar orang Filistin, dan orang Filistin itupun kembali ke tempat kediamannya.

⁴⁷Setelah Saul mendapat jabatan raja atas Israel, maka berperanglah ia ke segala penjuru melawan segala musuhnya: melawan Moab, bani Amon, Edom, raja-raja negeri Zoba dan orang Filistin. Dan ke manapun ia pergi, ia selalu mendapat kemenangan.

⁴⁸Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang gagah perkasa, memukul kalah orang Amalek, dan melepaskan Israel dari tangan orang-orang yang merampasi mereka.

⁴⁹Anak-anak lelaki Saul ialah Yonatan, Yiswi dan Malkisua. Nama kedua anaknya yang perempuan: yang tertua bernama Merab, yang termuda bernama Mikhal.

⁵⁰Isteri Saul bernama Ahinoam, anak Ahimaas. Panglima tentaranya bernama Abner, anak Ner, paman Saul.

⁵¹Kish, ayah Saul, dan Ner, ayah Abner, adalah anak-anak Abiel.

⁵²Hebat peperangan melawan orang Filistin selama zaman Saul. Dan semua pahlawan dan orang gagah perkasa, yang dilihat Saul, dikumpulkannya kepadanya.
— 1 Samuel 13:1–14:52 (TB)

Menelusuri tema kerajaan dan perjanjian, 1 Samuel 13–31 mengisahkan bagaimana jabatan raja sebagaimana dipraktikkan oleh Saul gagal berpadanan dengan cita-cita perjanjian. TUHAN dengan murah hati menawarkan kepada Saul suatu kerajaan yang disahkan secara ilahi kendati adanya permintaan penuh pemberontakan dari umat-Nya akan seorang raja manusiawi ”sama seperti segala bangsa lain” (1Sam. 8). Namun, sebagaimana dikisahkan dalam 1 Samuel 13–15, masa pemerintahan Saul, raja manusiawi pertama Israel, terbukti menjadi suatu kegagalan karena ia tidak hidup sesuai dengan tuntutan-tuntutan jabatannya. Ketika TUHAN menolaknya sebagai raja karena ketidaktaatannya terhadap firman TUHAN yang disampaikan melalui nabi Samuel, ia digantikan di atas takhta oleh Daud, yang digambarkan sebagai seorang yang ”berkenan di hati Allah” (13:14). Daud kemudian akan menerima janji yang luar biasa bahwa dinastinya akan bertahan selama-lamanya (2Sam. 7:11–16; 23:1–5).

Seiring berjalannya narasi, ketakutan Saul sebagai ”raja sama seperti bangsa-bangsa lain” yang gagal dikontraskan dengan kepemimpinan putranya yang setia, Yonatan, yang sungguh penuh iman dan efektif. Dalam 1 Samuel 13, tepat setelah penggambaran penobatan (inaugurasi) Saul sebagai raja dalam upacara pembaruan perjanjian yang diselenggarakan di Gilgal (1Sam. 11:14–12:25), kita mendapati bahwa Saul menolak untuk menaati suatu perintah yang telah diberikan TUHAN kepadanya pada saat ia diurapi. Atas pelanggaran ini, nabi Samuel menegurnya keras dan memberitahukan bahwa dinastinya tidak akan bertahan.

1 Samuel 13:1. 1 Samuel 13:1 menandai permulaan resmi dari masa pemerintahan Saul. Bahwa masa pemerintahan Saul belum dimulai sampai setelah upacara pembaruan perjanjian di Gilgal (1Sam. 11:14–12:25) ditegaskan oleh penempatan ”formula takhta/pemerintahan” bagi permulaan masa pemerintahan seorang raja dalam 1 Samuel 13:1. Kendati menggemakan struktur baku yang jelas dari formula takhta yang ditemukan di sepanjang 1–2 Raja-raja, ayat ini menghadapkan para penafsir pada sejumlah kesulitan. Walaupun 13:1 ”diformat” agar terlihat seperti suatu formula takhta, tujuannya dalam kaitan tersebut tampaknya sekadar berfungsi untuk mengindikasikan bahwa ini adalah permulaan narasi masa pemerintahan Saul, sebab terjemahan harfiahnya sebagai formula takhta kurang masuk akal sebagaimana teks tersebut berdiri (yakni, ”Saul berumur satu tahun ketika ia menjadi raja dan ia memerintah selama dua tahun atas Israel”?).[^14] Sebaliknya, terjemahan NKJV (”Saul memerintah satu tahun; dan ketika ia telah memerintah dua tahun atas Israel, . . .”) tampak lebih baik dalam memahami teks ini sebagai pernyataan yang bermakna: ”Masa pemerintahan Saul telah berlangsung selama satu tahun, dan kemudian berlanjut ke tahun kedua sebelum ia akhirnya bertindak menghadapi orang Filistin.” Dengan demikian, ayat ini menyoroti bahwa kendati Saul telah bergerak untuk meneguhkan jabatan rajanya secara publik di mata rakyat dengan memerangi orang Amon (1Sam. 11), ia tetap berlambat-lambat dan enggan menggerakkan jari untuk menangani masalah utama yang untuknya TUHAN telah mengurapi dia serta yang melaluinya ia semestinya meneguhkan jabatan rajanya di hadapan TUHAN—yakni masalah orang Filistin (1Sam. 9:16; 10:5–7).

1 Samuel 13:2–7. 1 Samuel 13:2–7 memuat informasi latar belakang bagi kisah pertemuan antara Samuel dan Saul yang terdapat dalam 13:8–15, yang merupakan titik fokus sesungguhnya dari pasal ini. Salah satu tindakan rajawi pertama Saul yang dicatat setelah naik takhta adalah menghimpun pasukan berkekuatan 3.000 orang, membagi mereka menjadi dua kelompok di bawah komando dirinya sendiri dan putranya, Yonatan (13:2).

Akan tetapi, narasi mengambil kelokan yang mengejutkan dalam 13:3, di mana kita diberitahu bahwa Yonatan, dan bukannya Saul, yang mengambil inisiatif untuk menyerang pasukan pendudukan orang Filistin di Geba (umumnya dipandang sebagai ejaan alternatif untuk Gibea, kota asal Saul). Tindakan berani Yonatan ini mengingatkan kita pada petunjuk-petunjuk yang telah diberikan Samuel kepada Saul tidak lama setelah pengurapan pribadinya di hadapan TUHAN. Petunjuk-petunjuk ini terdapat dalam 1 Samuel 10:5–8, di mana kita membaca bahwa Samuel memberitahu Saul tentang tiga tanda yang akan meneguhkan bahwa dialah orang yang telah dipilih TUHAN menjadi raja atas umat-Nya. Salah satu tanda ini adalah bahwa Saul akan berjumpa dengan serombongan nabi di dekat kota Gibea (atau Geba), tempat di mana Samuel mengatakan terdapat ”pasukan pendudukan orang Filistin” (1Sam. 10:5). Dalam konteksnya, petunjuk Samuel kepada Saul untuk ”melakukan apa saja yang didapat oleh tanganmu, sebab Allah menyertai engkau” (10:7) tepat setelah memberitahunya tentang keberadaan pasukan pendudukan Filistin di Gibea (10:5) tampaknya merupakan anjuran yang jelas kepada Saul bahwa ia semestinya menyerang pos pertahanan tersebut, dan bahwa Allah akan menyertainya saat melakukannya. Kita akan melihat Daud melakukan hal yang persis serupa ketika ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk melanjutkan misi Yosua dalam menghalau bangsa-bangsa musuh penyembah berhala dari dalam wilayah pusaka Israel (mis. 1Sam. 23:1–5; 27:8; dll.). Namun kemudian, setelah melakukan ”apa saja yang didapat oleh tangannya” (yakni menyerang pos pertahanan Filistin di Gibea; 10:7), Samuel telah memberitahu Saul bahwa ia harus pergi ke Gilgal dan menunggu di sana selama tujuh hari sampai sang nabi datang untuk mempersembahkan korban-korban serta memberinya petunjuk lebih lanjut (10:8).

Namun, Saul sama sekali tidak mengambil tindakan apa pun terhadap orang Filistin ketika ia kembali ke Gibea setelah perjumpaannya dengan Samuel, sehingga ia gagal ”membuktikan” kecakapan dan komitmennya untuk menjadi raja sebagaimana yang dikehendaki TUHAN saat mengurapinya. Sebaliknya, Yonatan menunjukkan dirinya sebagai orang yang setia dalam dinasti Saul, menggenapi tindakan masa pengujian (probasi) yang seharusnya dilakukan Saul dan dengan demikian mendorong proses kenaikan takhta ”rohani” ayahnya di hadapan TUHAN ke tahap akhirnya, yaitu penobatan di Gilgal (13:7). Yonatan melakukan hal ini sekalipun Saul menahan pasukan yang lebih besar (2.000 orang) untuk dirinya sendiri (13:2). Yang semakin memperburuk reputasi Saul dan menyingkapkan karakternya yang patut dipertanyakan, setelah kekalahan orang Filistin oleh Yonatan disebutkan hampir seperti catatan sampingan (13:3), Saul justru mengklaim seluruh pujian publik atas kemenangan tersebut bagi dirinya sendiri (13:4).

Seseorang mungkin bertanya-tanya, sekiranya Saullah yang menyerang orang Filistin di bawah dorongan Roh TUHAN (10:6), apakah hasilnya akan berbeda. Mungkin ketakutan akan TUHAN dan rajamu akan menimpa orang Filistin (1Taw. 14:17). Bagaimanapun juga, keberhasilan Yonatan memukul kalah pasukan pendudukan Filistin di Geba/Gibea (1Sam. 13:3) memicu reaksi keras orang Filistin. Ketika kabar tersebar di antara orang Israel bahwa pos pertahanan Filistin telah diserang, Saul memanggil pasukan tambahan untuk bergabung bersamanya di Gilgal (13:4).

Akan tetapi, terdapat nuansa yang mencekam dalam cara penggambaran adegan dalam 1 Samuel 13:5–7. Orang Filistin mengumpulkan pasukan besar yang terdiri dari kereta-kereta dan prajurit berkuda, lalu berkemah di Mikhmas ”sebanyak pasir di tepi laut” (13:5; bdk. Kej. 22:17). Alih-alih orang Filistin yang gemetar di hadapan bala tentara TUHAN, bangsa Israel digambarkan sangat ketakutan menghadapi gerombolan Filistin, ”bersembunyi di gua, keluk batu, bukit batu, liang batu, dan perigi,” karena ”mereka terjepit” dan ”terdesak” oleh orang Filistin (13:6). Semua tempat persembunyian ini memiliki nada kelam yang menyiratkan kematian dan penguburan. Dalam 13:7, prajurit Saul di Gilgal dikatakan mengikutinya dengan ”gemetar” ketakutan sementara yang lain melarikan diri ke sebelah timur Sungai Yordan. Gambaran di sini sangat berbeda dari 1 Samuel 11 ketika orang Israel memerangi orang Amon dan Saul, yang dikobarkan oleh Roh Allah (11:6), memimpin Israel meraih kemenangan gemilang. Sebagai kontras yang tajam, kita kini mendapati Saul yang ragu-ragu dalam ketakutan dan suatu umat yang hampir tidak menaruh keyakinan, baik pada kepemimpinan Saul maupun pada perlindungan TUHAN. Secara ironis, merekalah orang-orang yang sebelumnya menuntut seorang raja untuk maju dan memimpin mereka dalam peperangan, dengan anggapan bahwa raja akan memberi mereka rasa aman dan stabilitas nasional. Sekarang mereka telah memiliki seorang raja, namun mereka justru sama takutnya—jika tidak lebih takut—daripada sebelum lembaga kerajaan dibentuk. Inilah pergumulan abadi umat Allah antara hidup berdasarkan ketakutan versus hidup berdasarkan iman (1Sam. 4; bdk. Yes. 41:10; 2Tim. 1:7).

1 Samuel 13:8–15a. Dalam 13:8–15a kita membaca tentang ketidaktaatan Saul dan teguran Samuel. Saat orang Filistin menghimpun kekuatan mereka, Saul tetap tinggal di Gilgal sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Samuel dalam 1 Samuel 10:8. Petunjuk Samuel menyiratkan bahwa perhimpunan tersebut semestinya menjadi perjamuan penobatan yang penuh sukacita, sehingga rangkaian peristiwa ini tampak tidak bergulir sebagaimana ”seharusnya” andaikata Saul setia menyerang orang Filistin tepat ketika TUHAN telah mengindikasikannya (10:6–13). Setelah menantikan Samuel selama tujuh hari, dan dengan situasi militer yang memburuk dari jam ke jam, Saul memerintahkan agar korban-korban dipersembahkan (13:9) tanpa menantikan kehadiran sang nabi sebagaimana yang diinstruksikan (10:8). Andaikata Saul bukan sosok yang begitu tragis, ketepatan waktunya yang buruk ini hampir terasa menggelikan, karena tepat ketika persembahan korban itu selesai dilakukan, Samuel tiba, tampaknya menjelang akhir hari ketujuh (13:10).

Samuel langsung mengonfrontasi Saul dengan bertanya: ”Apa yang telah kauperbuat?” (1Sam. 13:11). Pertanyaan Samuel menyiratkan ketidaksetujuan dan kecaman keras atas tindakan Saul. Respons Saul bersifat defensif, yang mengindikasikan bahwa ia menyadari tindakannya tidak tepat dan membutuhkan dalih pembenaran. Dalam pembelaan dirinya, ia secara terselubung ”menyalahkan” providensi Allah, dengan melukiskan bagaimana rakyat ”berserak-serak meninggalkan” dia, orang Filistin berkumpul di Mikhmas, dan kegagalan Samuel untuk datang ”pada waktu yang telah ditentukan”. Mengingat segala keadaan ”providensial” ini, Saul mengklaim bahwa ia ”memberanikan diri” untuk mempersembahkan korban dan memohonkan belas kasihan TUHAN (13:11–12). Samuel tidak mendebat dalih-dalih Saul, melainkan menegurnya dengan keras bahwa ia telah melakukan ”perbuatan bodoh” (13:13) karena melanggar petunjuk jelas yang telah diperintahkan TUHAN kepadanya. Dan oleh karena itu, Samuel menyatakan kepada Saul bahwa dinastinya tidak akan bertahan, dan bahwa TUHAN telah memilih seorang pemimpin lain yang akan menjadi seorang yang ”berkenan di hati-Nya” (13:13–14).

Upaya Saul untuk membela tindakannya menyingkapkan kekeliruan fatal yang membiarkan situasi dan keadaan menentukan perilaku, bukannya perintah TUHAN yang disampaikan oleh nabi-Nya (Samuel). Tidak diragukan lagi bahwa situasinya sangat mencemaskan, dan ujian kesetiaan Saul kepada TUHAN ini memang sangat berat, namun pada saat yang sama ini adalah ujian yang sangat krusial. Pertanyaan mendasar bagi Saul di sini adalah: Apakah ia akan menjadi seorang raja di bawah Allah, ataukah raja yang menggantikan posisi Allah? Apakah ia seorang pribadi yang siap menantikan TUHAN dalam ketundukan dan kepercayaan penuh, betapa pun mengancamnya keadaan yang tampak di depan mata, ataukah ia memandang dirinya berada di atas Firman dan Hukum TUHAN? Pertanyaan inilah yang berada di jantung makna menjadi seorang raja perjanjian. Ini adalah pertanyaan yang tidak dapat dielakkan melalui motif-motif yang tampak saleh secara lahiriah (seperti memohon pertolongan TUHAN) ataupun melalui pelaksanaan ritual keagamaan (mempersembahkan korban sebelum pertempuran). Sangatlah mudah untuk mengacaukan kesalehan sejati dengan perkataan dan tindakan keagamaan, tetapi harus diingat bahwa perkataan dan tindakan agamawi tidak selalu berpadanan dengan berjalan di jalan TUHAN. Bukanlah kata-kata dan tindakan keagamaan itu sendiri yang menentukan kualitas perilaku seseorang. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah perilaku seseorang bertolak dari kasih kepada Allah dan kepercayaan kepada Firman-Nya, serta apakah hal itu selaras dengan perintah-perintah Allah. Saul menggunakan argumen keagamaan sebagai upaya untuk membenarkan tindakan ketidaktaatan, persis seperti yang akan ia lakukan kembali dalam peristiwa yang dicatat dalam 1 Samuel 15. Namun sebagaimana yang kelak akan dikatakan Samuel kepadanya pada peristiwa berikutnya itu, ”mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan” (1Sam. 15:22). Akibatnya, Samuel menegur Saul atas ketidaktaatannya dan memberitahukan kepadanya bahwa ia tidak akan memiliki dinasti kerajaan yang berlanjut (1Sam. 13:14).

Makna Seorang Raja yang ”Berkenan di Hati TUHAN”

Dalam 1 Samuel 13:14 kita diperkenalkan pada penggambaran tentang Daud sebagai raja sejati pertama Israel yang selaras dengan kerinduan dan petunjuk TUHAN bagi umat-Nya, yakni sebagai seorang yang ”berkenan di hati-Nya [hati TUHAN]”. Bahwa hal ini berdiri sebagai kontras yang tajam terhadap Saul sebagai ”raja sama seperti segala bangsa lain” tampak sangat nyata dalam konteksnya. Hal yang lebih banyak diperdebatkan adalah apa arti sebenarnya dari ungkapan bahwa Daud adalah orang yang ”berkenan di hati-Nya” (bahasa Ibrani: ʾish kilevavo). Kendati secara historis penggambaran Daud sebagai seorang yang ”berkenan di hati TUHAN” telah dipahami merujuk pada perbedaan karakter Daud bila dibandingkan dengan Saul, pemahaman yang sangat berbeda diajukan oleh P. Kyle McCarter dalam tafsirannya mengenai 1 Samuel (1980). McCarter memahaminya sebagai penekanan bahwa Daud adalah pilihan berdaulat TUHAN, berbeda dengan Saul yang ”dipilih” oleh bangsa itu. Dengan demikian, fokus dan signifikansi frasa ini diletakkan pada bagaimana ungkapan tersebut menyoroti anugerah pemilihan Allah yang berdaulat, yang tentunya merupakan tema di sepanjang Kitab Suci (mis. Ul. 7:7–8; Tit. 3:5) dan secara khusus dalam 1–2 Samuel (lihat ”Tema-Tema Utama” dalam Pengantar).

Sekalipun banyak sarjana (baik dari kalangan liberal maupun konservatif) yang mengikuti penafsiran McCarter ini, perenungan seksama terhadap rincian teks di sini maupun di bagian Alkitab lainnya mendukung pandangan bahwa frasa ini memang menyoroti hati dan karakter Daud. Hal ini dapat dilihat dari 13:14 itu sendiri, di mana Samuel menjelaskan bahwa pilihan TUHAN atas orang lain didasarkan pada kegagalan Saul dalam menaati ”apa yang diperintahkan TUHAN”, yang menyiratkan bahwa raja yang akan datang itu akan menaatinya. Kontras antara Saul dan Daud ini ditegaskan kembali dalam 1 Samuel 15:28, di mana Samuel berkata kepada Saul bahwa TUHAN akan memberikan kerajaan itu kepada seseorang yang ”lebih baik daripadamu”. Dalam 1 Samuel 16, ketika Samuel melihat potensi sosok raja yang baik pada abang-abang Daud, Allah berfirman bahwa Ia sebaliknya memandang kepada hati dalam mengambil keputusan tersebut (1Sam. 16:7). Hal ini mengindikasikan bahwa pilihan Allah atas Daud dalam taraf tertentu berkaitan erat dengan pengetahuan ilahi akan kerinduan batin Daud untuk mengasihi dan melayani TUHAN. Lebih jauh lagi, pemahaman tentang Daud sebagai seorang yang ”berkenan di hati Allah” tampaknya diperkuat oleh khotbah Paulus mengenai Daud dalam Kisah Para Rasul 13:22, di mana ia merangkai tiga nas Perjanjian Lama untuk merangkum karakter Daud: ”Tentang Daud (Mzm. 89:21) anak Isai, Aku telah mendapati seorang yang berkenan di hati-Ku (1Sam. 13:14), yang akan melakukan segala kehendak-Ku (Mzm. 40:9).”

Pandangan mengenai Daud yang memiliki karakter berbeda dari Saul serta memiliki hati yang beriman (beserta kebenaran yang diperhitungkan melaluinya) tampak terbukti dalam narasi-narasi berikutnya. Sekalipun masa pemerintahan Daud jauh dari sempurna, penilaian umum sang narator terhadap dirinya adalah bahwa ia ”menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsanya” (2Sam. 8:15). Penilaian ini digemakan oleh Daud sendiri, yang dapat menyatakan dalam 2 Samuel 22:21–32: ”Aku tetap mengikuti jalan TUHAN” dan ”aku tidak menjauhkan diri dari ketetapan-Nya.” Seiring bergulirnya Sejarah Deuteronomistis (yakni Yosua hingga 2 Raja-raja), masa pemerintahannya menjadi tolok ukur standar yang melaluinya masa pemerintahan raja-raja Israel berikutnya dinilai (mis. 1Raj. 9:4; 11:33, 38; 15:1; 2Raj. 14:3; 16:2). Narator bahkan melangkah lebih jauh dalam 1 Raja-raja 3:6 dan 15:4–5 dengan menyiratkan bahwa Daud memperoleh janji ketahanan dinastinya yang kekal karena ketaatannya, yang di sini mengingatkan kita pada bagaimana Allah memperhitungkan kebenaran oleh iman kepada Abraham (Kej. 22:15–18; 26:4–5).

Mungkin kunci utama untuk memahami perbedaan mendasar antara Daud dan Saul terletak pada bagaimana mereka merespons ketika dikonfrontasi dengan dosa dan ketidaktaatan mereka. Berbeda dengan Saul yang bersikap defensif dan mencari-cari dalih, ketika disingkapkan bahwa ketaatan Daud jauh dari sempurna dan bahwa ia telah ”menghina firman TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya” (2Sam. 12:9)—yakni melakukan perzinaan dengan Batsyeba dan merekayasa pembunuhan suaminya, Uria—Daud langsung bertobat dengan segera (2Sam. 12:13). Serupa dengan itu, setelah Daud memerintahkan penghitungan sensus dalam 24:1–4, hatinya tertusuk oleh penyesalan, dan ia bertobat dengan cepat dan mendalam (24:10). Daud juga menegaskan bahwa ”terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia” (2Sam. 22:26) dan ”bangsa yang tertindas Engkau selamatkan” (2Sam. 22:28; ESV: ”orang yang rendah hati”), dengan memandang dirinya sendiri terhisap di antara orang-orang yang ”setia” dan ”rendah hati”. Dalam sifat-sifat inilah Daud secara nyata, kendati tidak sempurna, mewujudkan cita-cita raja perjanjian dan dengan demikian menjadi seorang yang ”berkenan di hati TUHAN” (bdk. Mzm. 78:72: ”Daud menggembalakan mereka [Israel] dengan ketulusan hati”).

Dalam penggunaan alkitabiah, ”hati” mewakili inti keberadaan seseorang. Hati adalah pusat dari fungsi-fungsi emosional, kehendak, intelektual, dan etis seseorang. Ini berarti bahwa frasa ”seorang yang berkenan di hati-Nya [hati TUHAN]” berbicara mengenai suatu kualitas yang berdiam dalam diri Daud, dan bukan semata-mata tentang pilihan berdaulat Allah atas Daud. Daud memiliki ”hati” bagi TUHAN, sedangkan Saul tidak. Terlepas dari berbagai kegagalannya, Daud berulang kali menunjukkan kerinduan yang mendalam dan tulus untuk menghormati Allah, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan publiknya. Karena alasan inilah Daud digambarkan sebagai ”seorang yang berkenan di hati TUHAN” (1Sam. 13:14).

1 Samuel 13:15b–23. Situasi Saul di sini menjadi sangat genting. Ia kini hanya memiliki ”kira-kira enam ratus orang” (13:15b) di Geba yang terletak kurang dari dua mil di sebelah barat daya Mikhmas, tempat di mana orang Filistin berkubu (13:16) dan dari sana mereka mengirimkan gerombolan-gerombolan penjarah (harfiah: ”para perusak”) ke arah utara (Ofra), barat (Bet-Horon), dan tenggara (Lembah Zeboim; 13:17–18). Ditambah lagi, bangsa Israel praktis tidak bersenjata akibat hukum monopoli ”kontrol senjata” dan perang ekonomi yang sudah lama diberlakukan oleh orang Filistin (13:19–21), sehingga hanya Saul dan Yonatan yang diperlengkapi persenjataan secara memadai ketika orang Filistin bergerak maju untuk menghadapi mereka (13:22–23).

Dalam 1 Samuel 13, Saul diperlihatkan sebagai seorang pemimpin rohani umat Allah yang gagal, mirip seperti banyak hakim sebelum dirinya. Seperti Adam di Taman Eden, ia ditawari sebuah kerajaan yang bertahan lama asalkan ia menaati Firman Allah dan lulus dari masa pengujian (probasi), tetapi seperti bapa pertama kita dan bapa leluhurnya, ia pun jatuh ke dalam pemberontakan yang berdosa, menyeret keturunannya jatuh bersamanya (sebagaimana kelak kita saksikan pada nasib Yonatan dalam pasal-pasal mendatang). Dengan demikian, Saul menyajikan kontras yang mencolok antara seorang raja yang berdosa dan semata-mata manusiawi melawan raja sejati yang ”berkenan di hati TUHAN”. Daud kelak akan membuktikan diri sebagai teladan dari raja yang berkenan di hati Allah ini, kendati ia pun akan gagal di beberapa titik. Hal ini semestinya mengarahkan kita sebagai pembaca untuk memandang lebih jauh ke masa depan demi melihat penggenapan sejati dari Sang Raja yang memiliki hati dan pikiran TUHAN—dan Pribadi inilah yang tepat kita jumpai di dalam Yesus Kristus. Berbeda dengan Saul, ketika Yesus berhadapan dengan Iblis dalam pertempuran seorang diri, dalam kondisi lapar dan letih, Ia tidak menyerah pada pencobaan untuk mengambil tindakan sendiri menurut caranya sendiri, melainkan dengan teguh mengingatkan diri-Nya dan sang pencoba akan Firman Allah, yang ditaati-Nya secara sempurna (Mat. 4; Luk. 4). Ia memenangkan kemenangan atas musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh kita, sebagai Adam Kedua (Rm. 5) yang menganugerahkan karunia hidup kekal yang baru kepada semua orang yang mengikut Dia oleh iman dan diadopsi ke dalam keluarga-Nya sebagai Ahli Waris Kerajaan dari Allah Yang Mahakuasa.

1 Samuel 14:1–23. Seiring berlanjutnya perikop ini, perhatian kita dialihkan dari Saul kepada putranya, Yonatan, yang tampak jenuh meringkuk dalam ketakutan di Geba (1Sam. 14:1). Faktanya, tampak seolah-olah dalam ketakutan yang mementingkan diri sendiri, Saul telah meninggalkan Yonatan dengan pasukan kecil di Geba (tempat di mana serangan Filistin diperkirakan akan terjadi) sementara ia sendiri membawa sebagian besar pasukan (600 orang) dan menyelinap pergi ke ”tempat pohon/gua delima (bahasa Ibrani: rimmon) yang di Migron” (14:2).[^15] Tindakan Saul beserta enam ratus orang Benyamin yang melarikan diri dan bersembunyi di rimmon ini semakin menggemakan Hakim-Hakim 20:47 dan sejarah kelam nan memalukan dari mana Saul sendiri berasal (sebagai orang Benyamin) yang tampaknya mencirikan karakternya. Rincian lain mengenai Saul yang memiliki imam dari garis keturunan Eli (14:3) dan bukannya Samuel untuk membimbingnya secara rohani juga sangat sarat makna, mengingat bagaimana keturunan Eli digambarkan dalam kitab ini (mis. 1Sam. 2).

Ketegangan drama naratif ini meningkat saat Yonatan dan pembawa senjatanya secara diam-diam (14:1) menyelinap keluar dan mengamati pos pertahanan orang Filistin dari seberang lembah yang memisahkan mereka (14:4–5).[^16] Iman Yonatan yang berani di sini menunjukkan bahwa ia sangat layak menjadi seorang raja yang ”berkenan di hati TUHAN” (14:6–7), kendati akibat ketidaktaatan ayahnya, haknya atas takhta kerajaan kelak akan hilang (1Sam. 15:23, 28). Alih-alih takut di hadapan rintangan-rintangan yang menghadang di depannya, Yonatan secara radikal mempercayakan dirinya dan keberhasilannya kepada penyelenggaraan ilahi (providensi) TUHAN (14:8–13), dan oleh iman kepada pertolongan TUHAN ia melancarkan pukulan telak yang dahsyat terhadap musuh Filistin (14:14–15). Melalui Yonatan, TUHAN secara harfiah mendatangkan ”suatu kegentaran dari Allah” ke atas orang Filistin, yang terdengar oleh perkemahan Saul yang berjarak sekitar setengah mil dari sana (14:16). Kepanikan dan kebingungan Saul pada saat ini terlihat sangat jelas ketika ia mendapati bahwa Yonatan dan pembawa senjatanya tidak ada di tempat (14:17) dan ia tergesa-gesa berupaya mencari petunjuk ilahi, kendati dengan cara yang mirip seperti ketika bangsa Israel menyalahgunakan pertolongan TUHAN (14:18). Ia tampaknya membatalkan upaya tersebut dengan cepat (14:19) dan segera bergegas menuju ke kancah pertempuran untuk turut ambil bagian dalam kemenangan yang sesungguhnya telah dikerjakan oleh TUHAN (14:20–23).

1 Samuel 14:24–46. Melalui karya iman Yonatan yang penuh keberanian, TUHAN telah mengalahkan ketakutan Saul dan Israel, dan kemenangan pun sudah terjamin. Alih-alih bersukacita bersama rakyatnya dan memuji TUHAN atas kemenangan itu, dalam suatu tindakan yang menyerupai kesalehan semu, Saul membebankan sumpah yang bodoh ke atas rakyat untuk tidak memakan apa pun sebelum ia ”membalas dendam” terhadap musuh-”nya” (14:24). Sekali lagi mengingatkan kita pada masa-masa terburuk zaman para hakim dan nazar Yefta (Hak. 11), sumpah Saul ini menjadi jerat yang merugikan dirinya sendiri ketika Yonatan, yang tidak hadir saat ayahnya mengucapkan sumpah tersebut, akhirnya melanggarnya (14:27–28). Penuturan dalam 14:27 melambat secara sinematik dan dengan cermat melukiskan rincian tindakan Yonatan yang ”melanggar sumpah” itu. Namun ketika diberitahu mengenai pelanggaran tersebut (14:28), Yonatan dengan tepat menilai sumpah ayahnya sebagai hal yang bodoh dan kontraproduktif (14:29–30), yang pada akhirnya justru menggoda umat Allah jatuh ke dalam dosa alih-alih menumbuhkan ketaatan kepada hukum-hukum Allah (14:31–32; bdk. Im. 17:10, 14; Ul. 12:16, 23; 15:23).[^17] Sekalipun Saul tampaknya tidak mampu mengenali dan menyesali dosanya sendiri (yakni ”balok di matanya sendiri”), ia sangat cepat melihat ”selumbar” dosa pada orang lain dan menegur rakyat (14:33). Kendati demikian, ia mulai memimpin rakyat dalam mematuhi protokol kudus yang tepat untuk menyembelih dan memakan daging (14:34–35).[^18] Walaupun teks ini tidak secara terang-terangan mengecam tindakan kultus dari pihak Saul ini, tampaknya ia telah melanggar batas tugas keimaman di sini, terutama mengingat para imam berada di dekatnya (14:36). Akan tetapi, ketika para imam berupaya menegaskan peran mereka untuk meminta petunjuk TUHAN, mereka mendapati keheningan ilahi (14:36–37), yang untuknya Saul sekali lagi melemparkan kesalahan kepada rakyat (14:38). Ketegangan naratif memuncak saat Saul meyakinkan rakyat bahwa ”sekalipun itu disebabkan oleh Yonatan, anakku, maka ia pasti akan mati” (14:39) sementara rakyat berdiri terpaku dalam keheningan. Hal ini berujung pada adegan pembuangan undi yang menegangkan di mana undi jatuh kepada Yonatan (14:40–44; Ams. 16:33). Ketika Yonatan mengakui apa yang telah diperbuatnya (14:43), Saul hampir mengulangi tragedi mengerikan Yefta dengan berniat membunuh putranya sendiri demi sumpah yang gegabah (14:44), tetapi rakyat dengan gigih menahan tangannya (14:45), dan Saul tampaknya menghentikan pengejaran terhadap orang Filistin (14:46).

1 Samuel 14:47–52. Ayat-ayat ini tampaknya mencerminkan formula kesimpulan bagi masa pemerintahan seorang raja: ayat-ayat tersebut mencatat peperangan Saul (14:47–48), silsilah keluarganya (14:49–51), dan tindakan-tindakannya yang menonjol (14:52). Secara naratif, hal ini semestinya menandai akhir dari masa pemerintahan Saul, kendati ia baru akan wafat dalam pasal 31! Apa maksud dari penempatan formula ini di sini? Tampaknya Allah melalui sang narator memberikan penilaian-Nya terhadap Saul sebagai seorang raja ”sama seperti segala bangsa lain”, di mana masa pemerintahannya diringkas dalam ukuran-ukuran yang sangat manusiawi berupa pertempuran-pertempuran yang dimenangkan dan keturunan yang dibesarkan, bukannya penilaian teologis sebagaimana yang kelak ditemukan di sepanjang Kitab 1–2 Raja-raja tentang apakah seorang raja melakukan apa yang benar atau apa yang jahat di mata TUHAN. Seluruh perikop 1 Samuel 14 ini seolah berseru dengan lantang: ”Andaikata sang Putra Kerajaan (Yonatan) yang dapat menjadi raja!” Di sepanjang kisah, iman Yonatan yang tanpa gentar, keberaniannya yang menular, dan keadilannya yang bijaksana bersinar dengan begitu terang dan kontras bila dibandingkan dengan kegagalan Saul yang penakut, ceroboh, dan tidak cakap memimpin dengan baik. Dengan cara ini, Yonatan menjadi bayang-bayang tipologis bagi Sang Putra Kerajaan yang akan datang, yang menanggung ke atas diri-Nya sendiri dosa-dosa umat-Nya guna menebus kita dari status kita sebagai orang-orang berdosa yang melanggar perjanjian, sehingga kita dapat menjadi para pemenang yang ditebus bersama-Nya melalui iman, dan senantiasa dipelihara untuk bertempur oleh Roti Hidup (Yoh. 6:35).

Hilangnya Kerajaan dari Saul: Penolakan Penobatan (15:1–35)

¹⁵:¹Berkatalah Samuel kepada Saul: "Aku telah diutus oleh TUHAN untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh sebab itu, dengarkanlah bunyi firman TUHAN.

²Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.

³Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai."

⁴Lalu Saul memanggil rakyat berkumpul dan memeriksa barisan mereka di Telaim: ada dua ratus ribu orang pasukan berjalan kaki dan sepuluh ribu orang Yehuda.

⁵Setelah Saul sampai ke kota orang Amalek, disuruhnyalah orang-orang menghadang di lembah.

⁶Berkatalah Saul kepada orang Keni: "Berangkatlah, menjauhlah, pergilah dari tengah-tengah orang Amalek, supaya jangan kulenyapkan kamu bersama-sama dengan mereka. Bukankah kamu telah menunjukkan persahabatanmu kepada semua orang Israel, ketika mereka pergi dari Mesir?" Sesudah itu menjauhlah orang Keni dari tengah-tengah orang Amalek.

⁷Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir.

⁸Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang.

⁹Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka.

¹⁰Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian:

¹¹"Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.

¹²Lalu Samuel bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan Saul, tetapi diberitahukan kepada Samuel, demikian: "Saul telah ke Karmel tadi dan telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan; kemudian ia balik dan mengambil jurusan ke Gilgal."

¹³Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan firman TUHAN."

¹⁴Tetapi kata Samuel: "Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?"

¹⁵Jawab Saul: "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas."

¹⁶Lalu berkatalah Samuel kepada Saul: "Sudahlah! Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan TUHAN kepadaku tadi malam." Kata Saul kepadanya: "Katakanlah."

¹⁷Sesudah itu berkatalah Samuel: "Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?

¹⁸TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka.

¹⁹Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?"

²⁰Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas.

²¹Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal."

²²Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

²³Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."

²⁴Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.

²⁵Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN."

²⁶Tetapi jawab Samuel kepada Saul: "Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel."

²⁷Ketika Samuel berpaling hendak pergi, maka Saul memegang punca jubah Samuel, tetapi terkoyak.

²⁸Kemudian berkatalah Samuel kepadanya: "TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu.

²⁹Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal."

³⁰Tetapi kata Saul: "Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN, Allahmu."

³¹Sesudah itu kembalilah Samuel mengikuti Saul. Dan Saul sujud menyembah kepada TUHAN.

³²Lalu berkatalah Samuel: "Bawa ke mari Agag, raja Amalek itu." Dengan gembira Agag pergi kepadanya, sebab pikirnya: "Sesungguhnya, kepahitan maut telah lewat."

³³Tetapi kata Samuel: "Seperti pedangmu membuat perempuan-perempuan kehilangan anak, demikianlah ibumu akan kehilangan anak di antara perempuan-perempuan." Sesudah itu Samuel mencincang Agag di hadapan TUHAN di Gilgal.

³⁴Kemudian Samuel pergi ke Rama, tetapi Saul pergi ke rumahnya, di Gibea-Saul.

³⁵Sampai hari matinya Samuel tidak melihat Saul lagi, tetapi Samuel berdukacita karena Saul. Dan TUHAN menyesal, karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel.
— 1 Samuel 15:1–35 (TB)

Setelah sebelumnya menubuatkan keruntuhan kerajaan Saul dalam 1 Samuel 13:14, dan tampak telah mengakhiri narasi masa pemerintahan Saul dalam 14:47–52, masa pengujian (probasi) baru bagi Saul beserta kegagalan lanjutannya dalam 1 Samuel 15 mungkin terkesan berlebihan. Namun, melalui pengamatan yang lebih saksama, terdapat perbedaan penting antara janji TUHAN bahwa kerajaannya tidak akan diteguhkan atau dikukuhkan (atau ”tidak akan tetap” [TB], ”tidak akan bertahan” [not continuing, ESV / not enduring, NIV]; bahasa Ibrani: qwm) dengan penarikan paksa atau pengoyakan kerajaan itu daripadanya akibat ketidaktaatannya yang berlanjut (15:28). Lebih jauh lagi, karena formula ”kesimpulan” masa ”pemerintahan” Saul telah dicatat (14:47–52), catatan dalam 1 Samuel 15 ini berfungsi sebagai permulaan dari narasi kenaikan takhta Daud, yang menunjukkan bahwa di tengah kegagalan dan penolakan Saul, Daud tampil sebagai raja yang diurapi untuk menjadi seorang yang ”berkenan di hati TUHAN”.

1 Samuel 15:1–3. Saat pasal ini dimulai, Samuel datang kepada Saul dengan membawa firman dari TUHAN mengenai kesempatan baru bagi Saul untuk membuktikan ketaatannya kepada TUHAN melalui pelaksanaan keadilan TUHAN terhadap orang Amalek (15:1–3). Orang Amalek telah menentang TUHAN dengan menyerang umat-Nya secara pengecut dan kejam dalam perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir (Kel. 17:8–15; Ul. 25:17–19), yang mendorong TUHAN untuk berjanji bahwa mereka kelak akan menghadapi penghakiman-Nya. Saul diinstruksikan untuk ”menumpas sama sekali” (totally destroy, NIV) atau ”mengkhususkan untuk pembinasaan” (devote to destruction, ESV) orang Amalek, sebagai salah satu dari sekian banyak perintah TUHAN bagi umat-Nya untuk memberlakukan hukum penumpasan (herem) terhadap bangsa-bangsa penyembah berhala di dalam Tanah Perjanjian.[^19]

1 Samuel 15:4–9. Dalam kampanye militer ini, Saul berhasil mengerahkan pasukan dalam jumlah yang sangat besar (200.000 pasukan pejalan kaki dan 10.000 orang Yehuda), yang memperlihatkan kerelaan bangsa Israel untuk melaksanakan perintah TUHAN (1Sam. 15:4). Karakter pembeda dari perang penumpasan (herem) terbukti dari tindakan Saul yang menyelamatkan dan menyuruh orang Keni menyingkir, yaitu kaum yang tidak diperintahkan TUHAN untuk ditumpas (15:5–6). Keberhasilan awal Saul dalam pertempuran melawan orang Amalek digambarkan dalam 15:7 saat ia menyapu bersih wilayah di sebelah selatan Yehuda dan menewaskan orang Amalek di sepanjang jalur menuju perbatasan timur Mesir (Syur). Akan tetapi, 15:8–9 memberitahukan kepada kita bahwa Saul menyelamatkan Agag, raja orang Amalek, dan membiarkan hidup kambing domba, lembu-lembu, anak-anak lembu, dan anak-anak domba yang terbaik dan tambun, serta hanya menumpas apa yang ”tidak berharga dan yang buruk”. Tindakan ini merupakan pelanggaran terang-terangan yang tidak terbantahkan terhadap perintah dalam 15:3. Sekali lagi Saul gagal menaati perintah TUHAN, yang sesungguhnya merupakan kewajiban mutlaknya sebagai seorang raja perjanjian.

1 Samuel 15:10–11. Dalam 15:10–35 Samuel mengonfrontasi Saul dan menyatakan kepadanya bahwa TUHAN telah menolak dirinya sebagai raja karena ketidaktaatannya. Ketika Saul kembali dari medan pertempuran, TUHAN memberitahukan kepada Samuel tentang ”penyesalan-Nya” (bahasa Ibrani: nkhm) karena telah menjadikan Saul raja atas dua alasan.[^20] Pertama, Saul telah ”berbalik (atau ’menyimpang’ atau ’berpaling’; bahasa Ibrani: shwb) dari [mengikuti] Aku”; dan kedua, ia tidak ”melaksanakan firman-Ku (yakni ’menjalankan petunjuk-petunjuk-Ku’, NIV)” (15:10–11). Menaati perintah-perintah TUHAN dan mengikut di belakang TUHAN merupakan tuntutan-tuntutan mendasar dari restrukturisasi teokrasi sebagaimana yang telah didefinisikan oleh Samuel pada saat pengukuhan Saul sebagai raja (1Sam. 12:14b). Oleh karena itu, melalui kegagalannya menaati perintah-perintah TUHAN, Saul memperlihatkan bahwa ia tidak lagi mengakui TUHAN sebagai Penguasa Berdaulat atas dirinya, dan karena alasan-alasan inilah TUHAN berfirman kepada Samuel (15:11a) bahwa Ia ”menyesal” telah menjadikan Saul raja.

1 Samuel 15:12–16. Sangatlah mudah untuk melewatkan rincian kecil dalam 15:12 yang berbunyi bahwa ”diberitahukan kepada Samuel, demikian: ’Saul telah ke Karmel tadi dan di sanalah (bahasa Ibrani: hinneh) telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan (bahasa Ibrani: yad, biasanya diterjemahkan ’tangan’ atau ’monumen’; bdk. 2Sam. 18:18).’” Rincian ini sesungguhnya sangat signifikan, karena menyingkapkan kerangka berpikir dan sikap batin Saul menyusul kemenangan Israel atas orang Amalek. Ia tampaknya memandang dirinya sendiri sebagai pemimpin militer yang sukses, yang pencapaiannya patut mendapat pengakuan publik sebagaimana yang diabadikan oleh sebuah monumen kemenangan. Dari sudut pandang ini, hanya selangkah kecil menuju kesimpulan bahwa sebagai imbalan atas pencapaian yang begitu gemilang, ia merasa memiliki ”hak” untuk turut menikmati jarahan perang, sekaligus ”hak” untuk menggelar perayaan kemenangan di mana raja musuh yang ditaklukkan dipamerkan di hadapan umum dan monumen bagi sang raja pemenang diresmikan. Dalam skenario ini, Saul tidak lagi menundukkan diri di bawah TUHAN sebagai instrumen penghakiman ilahi atas Amalek, melainkan memposisikan dirinya sebagai penguasa yang otonom atas Israel. Pada hakikatnya, ia telah menjelma menjadi seorang raja yang anti-teokratis.

Bahkan sebelum Samuel sempat mengucapkan sepatah kata pun kepadanya, Saul telah melontarkan pernyataan penilaian rajawi mengenai kebenarannya sendiri: ”Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan firman TUHAN” (15:13). Namun, TUHAN telah membantah klaim Saul tersebut secara tegas dan telak dalam 15:11. Pernyataan ketaatan Saul bahkan sebelum Samuel mengajukan satu pertanyaan pun sesungguhnya sudah menimbulkan kecurigaan. Hal ini mengindikasikan bahwa Saul sadar ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Samuel tidak langsung mendebat pernyataan Saul secara frontal, melainkan sekadar bertanya: ”Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?” (15:14). Saul berdalih bahwa hewan-hewan terbaik itu sengaja diselamatkan untuk dipersembahkan sebagai korban kepada TUHAN (15:15). Kendati hal ini mungkin terkesan sebagai penjelasan yang masuk akal untuk menyelamatkan hewan-hewan terbaik, pencermatan terhadap pilihan kata dalam jawabannya menunjukkan bahwa kenyataannya tidaklah seperti yang tampak di permukaan. Perhatikanlah bahwa Saul mengatakan hewan-hewan itu dimaksudkan untuk persembahan korban kepada ”TUHAN, Allahmu”, dan bukannya ”Allah kita” atau ”Allahku” (15:15). Dengan demikian, secara tata bahasa Saul tidak menyertakan dirinya sendiri di antara para pengikut setia TUHAN. Faktanya, seiring berlanjutnya interaksi dengan Samuel di mana Saul berulang kali berupaya menutupi perilaku ketidaktaatannya dengan perkataan-perkataan saleh, menjadi semakin jelas bahwa di lubuk hatinya yang terdalam, hubungannya dengan TUHAN tidaklah beres.

1 Samuel 15:17–23. Samuel menanggapi Saul dengan mengingatkannya bahwa ia adalah raja yang diurapi atas Israel (15:17), dan bahwa TUHAN telah mengutusnya dalam sebuah misi spesifik yang mencakup penumpasan total atas orang Amalek tanpa mengambil jarahan apa pun (15:18). Samuel kemudian menyampaikan ketetapan vonis TUHAN atas ”ketaatan” (atau lebih tepatnya, ketidaktaatan) Saul dan menyatakan bahwa Saul telah melakukan apa yang jahat di mata TUHAN (15:19). Akan tetapi, Saul masih belum siap mengakui kesalahannya; ia terus berusaha membenarkan tindakannya dengan mengklaim dirinya tidak bersalah dan telah taat (15:20), sembari berdalih bahwa ia telah membinasakan seluruh orang Amalek kecuali Agag, serta berkilah bahwa bukan dirinya melainkan pasukannyalah yang mengambil sebagian hewan terbaik untuk dipersembahkan sebagai korban kepada ”TUHAN, Allahmu, di Gilgal” (15:21). Namun, tanpa terpengaruh sedikit pun oleh dalih-dalih Saul, Samuel memberikan tanggapan dalam 15:22–23 melalui salah satu pernyataan puitis paling mendalam di seluruh Perjanjian Lama mengenai perbedaan hakiki antara agama sejati dan formalitas ritual belaka:

”Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan
sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN?
Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan,
memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.
Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung
dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim” (15:22–23a; bdk. Mzm. 40:7–9).

Pernyataan ini kemudian mencapai klimaksnya ketika Samuel menegaskan kepada Saul: ”Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja” (1Sam. 15:23b).

Deklarasi Samuel bahwa ”mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan” (15:22) merupakan pesan yang persis sama yang kelak diproklamasikan oleh nabi-nabi Israel kepada suatu umat yang digambarkan oleh Nabi Yesaya: ”Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku” (Yes. 29:13, yang dikutip oleh Yesus dalam Mat. 15:8; Mrk. 7:6). Tindakan-tindakan ritual atau keagamaan yang dilakukan tanpa disertai kerinduan hati yang tulus untuk hidup dalam ketaatan kepada perintah-perintah TUHAN bukan hanya tidak berkenan, melainkan merupakan kekejian di hadapan TUHAN. Kecenderungan kaum beragama untuk tergelincir ke dalam kemunafikan ibadah lahiriah semacam ini merupakan bahaya laten yang senantiasa mengancam, tidak terkecuali pada zaman kita sekarang ini sebagaimana pada masa Samuel dan Saul.

1 Samuel 15:24–33. Mendengar bahwa ketidaktaatannya berujung pada pemecatan dirinya dari jabatan rajawi (1Sam. 15:23b), Saul tampak berbalik arah dan mengakui dosanya. Sekalipun sebelumnya Saul bersikukuh bahwa ia telah ”melaksanakan firman TUHAN” (15:13), kini ia berkata: ”Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu” (15:24). Ia kemudian memohon pengampunan dari Samuel dan meminta agar sang nabi menemaninya dalam menyembah TUHAN (15:25). Namun, pengakuan Saul tersebut tidak dihiraukan, karena Samuel menolak permohonan untuk pergi bersamanya, dan mengulangi hampir secara harfiah apa yang telah dikatakannya sebelumnya: ”Engkau telah menolak firman TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel!” (15:26). Sangat jelas bahwa dalam pandangan Samuel, pengakuan dosa Saul tidak dapat diterima. Pertanyaannya kemudian adalah: Mengapa demikian?

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa pengakuan Saul merupakan respons bertipe ”ya, tetapi”. Ia memang berkata, ”Aku telah berdosa” (15:24), namun ia langsung membatasi pengakuan tersebut dengan menambahkan bahwa ia berdosa ”karena aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka [harfiah: mendengarkan suara mereka]” (15:24). Ia kemudian menambahkan pada pengakuannya itu permohonan ganda kepada Samuel, bukan hanya untuk mengampuninya melainkan juga menemaninya dalam ibadah penyembahan kepada TUHAN (15:25). Pengakuan bersyarat ”ya, tetapi” ini sangat kontras dengan pengakuan Daud kelak yang tulus tanpa dalih pasca-peristiwa Batsyeba (”Aku sudah berdosa kepada TUHAN,” 2Sam. 12:13; bdk. Mzm. 51), serta pengakuan serupa setelah dosanya menghitung jumlah laskar rakyat (”Aku telah sangat berdosa,” 2Sam. 24:10).

Selain itu, perhatian saksama terhadap susunan kalimat dalam pengakuan Saul menyingkapkan kecacatan serius dalam pola pikirnya. Kata ”mendengarkan/menaati” (bahasa Ibrani: shmʿ, ”mendengar, menyimak”) telah muncul beberapa kali sebelumnya dalam pasal ini (15:1, 19, 20, 22 [dua kali]) dalam kaitan dengan menaati perkataan Allah (devarim) atau mendengarkan suara Allah (qol). Namun dalam pengakuan Saul (15:24), ia menyatakan bahwa karena ia takut kepada rakyat, ia ”mendengarkan (shmʿ) suara (qol) mereka” (NIV menerjemahkan: ”maka aku menuruti mereka”). Jadi, di sini Saul mengakui bahwa ia lebih mendengarkan suara manusia daripada suara Allah. Namun bukan hanya istilah ”mendengarkan/taat” (shmʿ) yang muncul dalam pembalikan makna ini dalam pengakuan Saul, melainkan hal serupa terjadi pula pada penggunaan istilah ”takut” (yrʾ). Ketika menetapkan prinsip-prinsip pemerintahan teokrasi pada saat penobatan Saul, Samuel telah memperingatkan Israel: ”Asal saja kamu takut (yrʾ) akan TUHAN, beribadah kepada-Nya, mendengarkan (shmʿ) firman-Nya (qol, harfiah ’suara-Nya’) dan tidak menentang titah TUHAN, dan baik kamu, maupun raja yang akan memerintah kamu itu mengikuti TUHAN, Allahmu, [maka keadaanmu akan baik]” (1Sam. 12:14; yakni sang raja harus menunjukkan bahwa ia mengakui TUHAN sebagai Penguasa Berdaulatnya). Dalih pembenaran Saul atas kegagalannya menaati perintah TUHAN dan keputusannya mendengarkan suara rakyat adalah karena ”aku takut (yrʾ) kepada rakyat” (15:24). Namun dengan menyatakan bahwa ia ”takut kepada manusia” alih-alih ”takut akan TUHAN”, Saul tanpa sadar justru memperberat dakwaan dan penghakiman atas dirinya sendiri.

Yang semakin memperparah upaya manipulatif Saul untuk membenarkan ketidaktaatan dan melempar tanggung jawab dari dirinya kepada rakyat adalah usahanya untuk menghindari rasa malu di depan umum akibat perpecahan terbuka antara dirinya dan Samuel. Karena alasan inilah ia mendesak Samuel untuk menemaninya dalam menyembah TUHAN (15:25). Maksud sebenarnya dari permintaannya ini menjadi tersingkap terang benderang ketika setelah Samuel menolak untuk menurutinya, Saul mengulangi permohonan tersebut dengan menambahkan alasan: ”Tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel...” (15:30). Ketika pengakuan dosa sedemikian erat bertaut dengan kekhawatiran akan citra publik dan kehormatan status sosial, keaslian dari pertobatan itu sangat diragukan. Dalam peristiwa ini, setelah Samuel awalnya menolak permintaannya dan mulai berbalik pergi, Saul mencengkeram punca jubah Samuel dalam upaya menahannya sehingga jubah itu terkoyak (15:27). Peristiwa ini memberikan kesempatan tambahan bagi Samuel untuk menegaskan kembali penolakan TUHAN atas Saul, dengan menggunakan jubah yang terkoyak itu sebagai simbol (yang hampir bersifat sakramental) atas hilangnya kerajaan dari tangan Saul.[^21] Tanpa diketahui oleh Samuel maupun Saul pada saat itu, sosok ”sesama” (atau ”sahabat”; bahasa Ibrani: reaʿ) kepada siapa kerajaan itu akan diserahkan adalah Daud, yang di sini telah dikarakterisasi terlebih dahulu sebagai seorang pribadi yang ”lebih baik” daripada Saul (15:28).

Akibat kegagalan Saul dalam melaksanakan keadilan TUHAN atas Agag, Samuel sendiri yang maju mengambil tindakan untuk mengeksekusinya. Sikap percaya diri Agag saat menghadap Samuel mungkin menjadi bukti tambahan bahwa selama ini Saul telah memperlakukannya dengan ”sangat lembut”, sehingga raja Amalek itu berpikir ia dapat meloloskan diri dari hukuman mati dengan seruan optimis: ”Sesungguhnya, kepahitan maut telah lewat” (15:32). Namun tanpa gentar sedikit pun, Samuel membacakan vonis penghakiman dan kemudian mengeksekusi Agag di hadapan TUHAN di Gilgal.[^22]

1 Samuel 15:34–35. Di akhir pasal ini, Samuel dan Saul berpisah jalan; Samuel kembali ke kediamannya di Rama, sedangkan Saul pulang ke rumahnya di Gibea-Saul (15:34). Inilah saat terakhir mereka berbicara satu sama lain (15:35). Perpisahan mereka bukan hanya menandai berakhirnya hubungan personal di antara keduanya, melainkan juga mengakhiri legitimasi masa pemerintahan Saul sebagai raja perjanjian bagi Israel. Kepemimpinan rajawinya yang gagal total telah terbukti sebagai sebuah kebangkrutan rohani akibat keengganannya untuk tunduk pada tuntutan-tuntutan jabatannya sebagaimana yang telah dijelaskan Samuel kepadanya sejak awal pemerintahannya (bdk. 1Sam. 10:25; 12:14, 15). Panggung sejarah kini telah siap bagi diperkenalkannya sosok yang ”lebih baik daripada Saul” (15:28) guna menggenapi peranan di mana Saul telah gagal. Sisa dari Kitab 1 Samuel akan melukiskan spiral kemerosotan hidup Saul yang menurun tajam hingga berujung pada peristiwa bunuh diri yang tragis (1Sam. 31), yang berjalan berdampingan dengan proses kenaikan takhta Daud yang panjang dan penuh liku, di mana Daud secara konsisten menolak untuk mengangkat tangannya melawan ”orang yang diurapi TUHAN” (yakni Saul), sekalipun Saul berulang kali berikhtiar mencabut nyawa Daud.

Melalui pasal ini, Saul berdiri sebagai peringatan keras bagi seluruh umat Allah. Kita pun dapat terjebak dalam kepuasan semu kesalehan lahiriah yang palsu, serta mencari-cari dalih di balik ”niat baik” dan maksud mempersembahkan ”korban” serta menyembah TUHAN menurut cara-cara yang tidak pernah diperintahkan-Nya. Namun Kabar Baik bagi kita adalah bahwa kita memiliki seorang Nabi yang jauh lebih agung daripada Samuel, yang sekaligus adalah Imam Besar dan Raja kita yang kekal. Di mana kita telah gagal untuk ”berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah” (Mi. 6:8), Yesus Kristus telah menggenapinya secara sempurna demi kepentingan kita. Sekalipun kita telah kehilangan kemuliaan Allah yang untuknya kita diciptakan (Rm. 3:23) dan dengan demikian layak menerima ”penyesalan” Allah karena telah menciptakan kita (Kej. 6:5–6), Yesus telah menanggung seluruh murka dan penghakiman yang semestinya kita terima ke atas diri-Nya sendiri di kayu salib (Ibr. 5:7–9; 10:6–9). Melalui pengorbanan-Nya itu, Kristus telah mengalahkan musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh kita, serta memulihkan kita kepada pengharapan hidup kekal bersama-Nya dalam kemuliaan melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati.


III. Kerajaan ”Yang Berkenan di Hati Allah” Dinyatakan / Kerajaan Perjanjian (16:1–31:13)

Bagian selebihnya dari Kitab 1 Samuel menggambarkan interval yang panjang antara pengurapan Daud dan permulaan pemerintahannya setelah kematian Saul (1Sam. 17–31). Menggemakan pengembaraan pola ”Keluaran” Tabut Perjanjian ke arah Mesir (1Sam. 4–6), Daud melarikan diri ke arah selatan dan ke arah Mesir, bahkan sempat tinggal sementara waktu di antara orang Filistin. Melalui berbagai ujian Daud ini, kita melihat ia bertumbuh menjadi matang sebagai raja yang dicita-citakan TUHAN bagi umat-Nya, yakni seseorang yang ”belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritanya” (Ibr. 5:7–9).

Kerajaan Sejati dalam Pola Keluaran / Kontras Perjanjian: Mandat Rajawi oleh TUHAN (16:1–23)

¹⁶:¹Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku."

²Tetapi Samuel berkata: "Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya, ia akan membunuh aku." Firman TUHAN: "Bawalah seekor lembu muda dan katakan: Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.

³Kemudian undanglah Isai ke upacara pengorbanan itu, lalu Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kauperbuat. Urapilah bagi-Ku orang yang akan Kusebut kepadamu."

⁴Samuel berbuat seperti yang difirmankan TUHAN dan tibalah ia di kota Betlehem. Para tua-tua di kota itu datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata: "Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?"

⁵Jawabnya: "Ya, benar! Aku datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN. Kuduskanlah dirimu, dan datanglah dengan daku ke upacara pengorbanan ini." Kemudian ia menguduskan Isai dan anak-anaknya yang laki-laki dan mengundang mereka ke upacara pengorbanan itu.

⁶Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: "Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya."

⁷Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."

⁸Lalu Isai memanggil Abinadab dan menyuruhnya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."

⁹Kemudian Isai menyuruh Syama lewat, tetapi Samuel berkata: "Orang inipun tidak dipilih TUHAN."

¹⁰Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN."

¹¹Lalu Samuel berkata kepada Isai: "Inikah anakmu semuanya?" Jawabnya: "Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba." Kata Samuel kepada Isai: "Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari."

¹²Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia."

¹³Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

¹⁴Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN.

¹⁵Lalu berkatalah hamba-hamba Saul kepadanya: "Ketahuilah, roh jahat yang dari pada Allah mengganggu engkau;

¹⁶baiklah tuanku menitahkan hamba-hambamu yang di depanmu ini mencari seorang yang pandai main kecapi. Apabila roh jahat yang dari pada Allah itu hinggap padamu, haruslah ia main kecapi, maka engkau merasa nyaman."

¹⁷Berkatalah Saul kepada hamba-hambanya itu: "Carilah bagiku seorang yang dapat main kecapi dengan baik, dan bawalah dia kepadaku."

¹⁸Lalu jawab salah seorang hamba itu, katanya: "Sesungguhnya, aku telah melihat salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi. Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya; dan TUHAN menyertai dia."

¹⁹Kemudian Saul mengirim suruhan kepada Isai dengan pesan: "Suruhlah kepadaku anakmu Daud, yang ada pada kambing domba itu."

²⁰Lalu Isai mengambil seekor keledai yang dimuati roti, sekirbat anggur dan seekor anak kambing, maka dikirimkannyalah itu kepada Saul dengan perantaraan Daud, anaknya.

²¹Demikianlah Daud sampai kepada Saul dan menjadi pelayannya. Saul sangat mengasihinya, dan ia menjadi pembawa senjatanya.

²²Sebab itu Saul menyuruh orang kepada Isai mengatakan: "Biarkanlah Daud tetap menjadi pelayanku, sebab aku suka kepadanya."

²³Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya.
— 1 Samuel 16:1–23 (TB)

1 Samuel 16:1–5. Saat pasal 16 dimulai, kita melihat realitas yang masih membekas dari keretakan tragis yang berkembang antara raja Israel, Saul, dan nabi/imam utamanya, Samuel. Terlepas dari penolakannya terhadap institusi monarki, Samuel kini ”berdukacita karena Saul” (1Sam. 16:1), dan ini terjadi kendati ia tampaknya takut terhadap amarah Saul jika ia menentangnya (16:2). Namun, TUHAN memberitahukan kepada Samuel bahwa Ia secara harfiah telah ”melihat (bahasa Ibrani: rʾh) raja bagi-Ku” di antara anak-anak Isai (16:1), yang memperkenalkan tema utama pasal ini, yakni memperbandingkan cara TUHAN ”melihat” dengan cara kita sebagai makhluk ciptaan-Nya (16:6–7, 17, 18). Sementara Samuel mengkhawatirkan nyawanya di hadapan Saul (16:2), para tua-tua Betlehem agaknya telah mendengar tentang eksekusi Agag oleh Samuel (1Sam. 15:33) dan gemetar ketakutan menyambut kedatangannya, sehingga ia harus meyakinkan mereka bahwa ia datang membawa damai (16:4–5). Bersamaan dengan perintah TUHAN agar Samuel mengurapi sosok pilihan-Nya menjadi raja (16:2), Ia dengan murah hati menyediakan bagi Samuel suatu alasan yang sah untuk melakukannya (16:2–3; bdk. Mat. 10:16).

1 Samuel 16:6–13. Ketika Isai dan anak-anaknya datang ke upacara pengorbanan (yakni jamuan makan untuk menikmati daging korban), tampaknya Samuel belum memetik pelajaran dari kasus Saul dan masih membayangkan seorang raja yang memiliki penampilan lahiriah yang ”tepat” (1Sam. 16:6). Hal ini menuntun kepada pokok teologis utama dalam bagian ini, ketika TUHAN mempertentangkan penilaian-Nya atas manusia dengan penilaian kita satu sama lain (16:7; bdk. Kis. 1:24).[^23] Ini bukan berarti TUHAN menyukai penampilan lahiriah yang tidak menarik, sebagaimana kita lihat dalam teks yang memperkenalkan Daud sebagai seorang yang berparas elok (1Sam. 16:12), sekalipun perawakannya tidak setinggi dan seimpresif Saul (10:23) ataupun Eliab (16:6). Deskripsi perdana mengenai suatu tokoh dalam sebuah narasi sering kali bernilai signifikan, dan kita melihat hal ini saat Daud diperkenalkan sebagai anak bungsu (atau yang terkecil) dari Isai, yang dengan rendah hati dan setia rela melewatkan jamuan pesta demi ”menggembalakan kambing domba” (16:11). Ini adalah perilaku yang sangat pantas bagi seorang raja Timur Dekat Kuno (TDK) yang baik, dan sangat kontras dengan Saul yang harus disuruh oleh ayahnya untuk mencari keledai-keledai yang hilang (9:3). Setelah mengurapi Daud ”di tengah-tengah saudara-saudaranya” (16:13; bdk. Ul. 17:15) atas perintah TUHAN (16:12), ”berkuasalah Roh TUHAN atas Daud” (16:13). Berbeda dari kepenuhan Roh TUHAN atas Saul yang tampaknya hanya bersifat sementara (10:6, 10; 11:6; bdk. 16:14), Roh itu dinyatakan berkuasa atas Daud ”sejak hari itu dan seterusnya” (16:13). Hal ini mempersiapkan adegan berikutnya, ketika TUHAN menarik Roh-Nya dari Saul dan mengirimkan ”roh jahat” sebagai gantinya (16:14).

1 Samuel 16:14–23. Sekalipun pada titik ini hanya Samuel dan keluarga Daud yang mengetahui pilihan baru TUHAN atas raja Israel, pergeseran dalam realitas rohani ini ditandai oleh perubahan disposisi TUHAN terhadap Saul. Jika sebelumnya, terlepas dari kegagalan Saul untuk menaati TUHAN, ia telah menikmati berkat dan pemberdayaan dari Roh TUHAN berdasarkan jabatannya sebagai raja Israel, kini hal itu dikatakan digantikan oleh ”roh jahat” yang mengerikan dari TUHAN (16:14). Apa sebenarnya ”roh” ini telah banyak diperdebatkan, dengan sebagian ahli berpendapat tentang suatu bentuk gangguan kejiwaan dan yang lain berpendapat mengenai penindasan atau opresi iblis, kendati secara rohani batas antara keduanya mungkin lebih kabur daripada yang sering kali disangkakan. Meskipun demikian, apa yang patut dicatat dan menantang bagi sebagian model ”peperangan rohani” yang dipopulerkan di gereja modern adalah bahwa roh jahat ini datang ”dari pada TUHAN” dan berada sepenuhnya di bawah kuasa dan kendali kedaulatan-Nya. Namun, perhatikan bahwa terdapat sarana yang sangat manusiawi yang melaluinya dampak dari roh jahat ini dapat diringankan, yakni melalui daya pemulihan dari musik (16:15–17).[^24] Hal ini bermuara pada suatu ”kebetulan” yang luar biasa di mana Saul membawa Daud masuk ke dalam istana kerajaan berdasarkan karakterisasi besar keduanya dalam perikop ini (bdk. 16:11–12), yakni sebagai seorang yang memiliki reputasi di antara sesamanya sebagai orang yang ”terlihat” (rʾh) ”pandai main kecapi, seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara (secara harfiah: ’memiliki pertimbangan/pengertian yang baik mengenai suatu perkara/kata-kata’, sehingga mungkin bermakna ’berpendidikan/terpelajar’), elok perawakannya, dan TUHAN menyertai dia” (16:18). Dan sekali lagi, jika kita bertanya-tanya di manakah Daud berada dan apa yang sedang ia kerjakan, kita mendapati jawabannya dalam permintaan Saul kepada Isai: ”Suruhlah kepadaku anakmu Daud, yang ada pada kambing domba itu” (16:19, penekanan ditambahkan). Maka Daud datang sebagai seorang hamba yang rendah hati ke dalam istana kerajaan Israel dengan membawa pemberian bagi sang raja (16:20–21) dan dengan cepat memenangkan perkenanan raja (16:22) berdasarkan pelayanannya yang membawa kelegaan (16:23).[^25]

Ketika Daud memasuki istana kerajaan Israel dalam rupa seorang hamba yang rendah hati dan dengan penuh kasih membaktikan dirinya untuk melayani raja, ia meneladankan secara begitu gamblang Sang Raja Mesias Israel yang akan datang, Yesus Kristus, yang meninggalkan kemuliaan hadirat Bapa-Nya untuk menjadi Raja Hamba yang rendah hati (Flp. 2:4–9), lahir di Betlehem, kota Daud, serta bertumbuh untuk mengasihi dan melayani keturunan Adam Pertama yang tersesat dalam dosa dan kesengsaraan mereka. Selama di bumi, Yesus menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat (Luk. 7:21–23), serupa dengan Daud yang melayani kesembuhan bagi Saul melalui permainan musiknya.

Peneguhan Rajawi oleh TUHAN (17:1–19:10)

¹⁷:¹Orang Filistin mengumpulkan tentaranya untuk berperang; mereka berkumpul di Sokho yang di tanah Yehuda dan berkemah antara Sokho dan Azeka di Efes-Damim.

²Saul dan orang-orang Israel juga berkumpul dan berkemah di Lembah Tarbantin; mereka mengatur barisan perangnya berhadapan dengan orang Filistin.

³Orang Filistin berdiri di bukit sebelah sini dan orang Israel berdiri di bukit sebelah sana, dan lembah ada di antara mereka.

⁴Lalu tampillah keluar seorang pendekar dari tentara orang Filistin. Namanya Goliat, dari Gat. Tingginya enam hasta sejengkal.

⁵Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga.

⁶Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul lembing tembaga.

⁷Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu enam ratus syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai berjalan di depannya.

⁸Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: "Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku.

⁹Jika ia dapat berperang melawan aku dan mengalahkan aku, maka kami akan menjadi hambamu; tetapi jika aku dapat mengungguli dia dan mengalahkannya, maka kamu akan menjadi hamba kami dan takluk kepada kami."

¹⁰Pula kata orang Filistin itu: "Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang."

¹¹Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.

¹²Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-laki. Pada zaman Saul orang itu telah tua dan lanjut usianya.

¹³Ketiga anak Isai yang besar-besar telah pergi berperang mengikuti Saul; nama ketiga anaknya yang pergi berperang itu ialah Eliab, anak sulung, anak yang kedua ialah Abinadab, dan anak yang ketiga adalah Syama.

¹⁴Daudlah yang bungsu. Jadi ketiga anak yang besar-besar itu pergi mengikuti Saul.

¹⁵Tetapi Daud selalu pulang dari pada Saul untuk menggembalakan domba ayahnya di Betlehem.

¹⁶Orang Filistin itu maju mendekat pada pagi hari dan pada petang hari. Demikianlah ia tampil ke depan empat puluh hari lamanya.

¹⁷Isai berkata kepada Daud, anaknya: "Ambillah untuk kakak-kakakmu bertih gandum ini seefa dan roti yang sepuluh ini; bawalah cepat-cepat ke perkemahan, kepada kakak-kakakmu.

¹⁸Dan baiklah sampaikan keju yang sepuluh ini kepada kepala pasukan seribu. Tengoklah apakah kakak-kakakmu selamat dan bawalah pulang suatu tanda dari mereka.

¹⁹Saul dan mereka itu dan semua orang Israel ada di Lembah Tarbantin tengah berperang melawan orang Filistin."

²⁰Lalu Daud bangun pagi-pagi, ditinggalkannyalah kambing dombanya pada seorang penjaga, lalu mengangkat muatan dan pergi, seperti yang diperintahkan Isai kepadanya. Sampailah ia ke perkemahan, ketika tentara keluar untuk mengatur barisannya dan mengangkat sorak perang.

²¹Orang Israel dan orang Filistin itu mengatur barisannya, barisan berhadapan dengan barisan.

²²Lalu Daud menurunkan barang-barangnya dan meninggalkannya di tangan penjaga barang-barang tentara. Berlari-larilah Daud ke tempat barisan; sesampai di sana, bertanyalah ia kepada kakak-kakaknya apakah mereka selamat.

²³Sedang ia berbicara dengan mereka, tampillah maju pendekar itu. Namanya Goliat, orang Filistin dari Gat, dari barisan orang Filistin. Ia mengucapkan kata-kata yang tadi juga, dan Daud mendengarnya.

²⁴Ketika semua orang Israel melihat orang itu, larilah mereka dari padanya dengan sangat ketakutan.

²⁵Berkatalah orang-orang Israel itu: "Sudahkah kamu lihat orang yang maju itu? Sesungguhnya ia maju untuk mencemoohkan orang Israel! Orang yang mengalahkan dia akan dianugerahi raja kekayaan yang besar, raja akan memberikan anaknya yang perempuan kepadanya dan kaum keluarganya akan dibebaskannya dari pajak di Israel."

²⁶Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?"

²⁷Rakyat itupun menjawabnya dengan perkataan tadi: "Begitulah akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan dia."

²⁸Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: "Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran."

²⁹Tetapi jawab Daud: "Apa yang telah kuperbuat? Hanya bertanya saja!"

³⁰Lalu berpalinglah ia dari padanya kepada orang lain dan menanyakan yang sama. Dan rakyat memberi jawab kepadanya seperti tadi.

³¹Terdengarlah kepada orang perkataan yang diucapkan oleh Daud, lalu diberitahukanlah kepada Saul. Dan Saul menyuruh memanggil dia.

³²Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu."

³³Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit."

³⁴Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya,

³⁵maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.

³⁶Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup."

³⁷Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."

³⁸Lalu Saul mengenakan baju perangnya kepada Daud, ditaruhnya ketopong tembaga di kepalanya dan dikenakannya baju zirah kepadanya.

³⁹Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menanggalkannya.

⁴⁰Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.

⁴¹Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya.

⁴²Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya.

⁴³Orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud.

⁴⁴Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang."

⁴⁵Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

⁴⁶Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah,

⁴⁷dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."

⁴⁸Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;

⁴⁹lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.

⁵⁰Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

⁵¹Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedangnya, dihunusnya dari sarungnya, lalu menghabisi dia. Dipancungnyalah kepalanya dengan pedang itu. Ketika orang-orang Filistin melihat, bahwa pahlawan mereka telah mati, maka larilah mereka.

⁵²Maka bangkitlah orang-orang Israel dan Yehuda, mereka bersorak-sorak lalu mengejar orang-orang Filistin sampai dekat Gat dan sampai pintu gerbang Ekron. Dan orang-orang yang terbunuh dari orang Filistin bergelimpangan di jalan ke Saaraim, sampai Gat dan sampai Ekron.

⁵³Kemudian pulanglah orang Israel dari pemburuan hebat atas orang Filistin, lalu menjarah perkemahan mereka.

⁵⁴Dan Daud mengambil kepala orang Filistin yang dipancungnya itu dan membawanya ke Yerusalem, tetapi senjata-senjata orang itu ditaruhnya dalam kemahnya.

⁵⁵Ketika Saul melihat Daud pergi menemui orang Filistin itu, berkatalah ia kepada Abner, panglima tentaranya: "Anak siapakah orang muda itu, Abner?" Jawab Abner: "Demi tuanku hidup, ya raja, sesungguhnya aku tidak tahu."

⁵⁶Kemudian raja berkata: "Tanyakanlah, anak siapakah orang muda itu."

⁵⁷Ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, maka Abner memanggilnya dan membawanya menghadap Saul, sedang kepala orang Filistin itu masih ada di tangannya.

⁵⁸Kata Saul kepadanya: "Anak siapakah engkau, ya orang muda?" Jawab Daud: "Anak hamba tuanku, Isai, orang Betlehem itu."

¹⁸:¹Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.

²Pada hari itu Saul membawa dia dan tidak membiarkannya pulang ke rumah ayahnya.

³Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.

⁴Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.

⁵Daud maju berperang dan selalu berhasil ke mana juga Saul menyuruhnya, sehingga Saul mengangkat dia mengepalai para prajurit. Hal ini dipandang baik oleh seluruh rakyat dan juga oleh pegawai-pegawai Saul.

⁶Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing;

⁷dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa."

⁸Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya."

⁹Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.

¹⁰Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya.

¹¹Saul melemparkan tombak itu, karena pikirnya: "Baiklah aku menancapkan Daud ke dinding." Tetapi Daud mengelakkannya sampai dua kali.

¹²Saul menjadi takut kepada Daud, karena TUHAN menyertai Daud, sedang dari pada Saul Ia telah undur.

¹³Sebab itu Saul menjauhkan Daud dari dekatnya dan mengangkat dia menjadi kepala pasukan seribu, sehingga ia berada di depan dalam segala gerakan tentara.

¹⁴Daud berhasil di segala perjalanannya, sebab TUHAN menyertai dia.

¹⁵Ketika dilihat Saul, bahwa Daud sangat berhasil, makin takutlah ia kepadanya;

¹⁶tetapi seluruh orang Israel dan orang Yehuda mengasihi Daud, karena ia memimpin segala gerakan mereka.

¹⁷Berkatalah Saul kepada Daud: "Ini dia anakku perempuan yang tertua, Merab; dia akan kuberikan kepadamu menjadi isterimu, hanya jadilah bagiku seorang yang gagah perkasa dan lakukanlah perang TUHAN." Sebab pikir Saul: "Janganlah tanganku memukul dia, tetapi biarlah ia dipukul oleh tangan orang Filistin."

¹⁸Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Siapakah aku dan siapakah sanak saudaraku, kaum ayahku, di antara orang Israel, sehingga aku menjadi menantu raja?"

¹⁹Tetapi ketika tiba waktunya untuk memberikan Merab, anak Saul itu, kepada Daud, maka anak perempuan itu diberikan kepada Adriel, orang Mehola, menjadi isterinya.

²⁰Tetapi Mikhal, anak perempuan Saul, jatuh cinta kepada Daud; ketika hal itu diberitahukan kepada Saul, maka iapun menyetujuinya;

²¹sebab pikir Saul: "Baiklah Mikhal kuberikan kepadanya; biarlah ia menjadi jerat bagi Daud, dan biarlah tangan orang Filistin memukul dia!" Lalu berkatalah Saul kepada Daud untuk kedua kalinya: "Pada hari ini engkau boleh menjadi menantuku."

²²Lagi Saul memerintahkan kepada para pegawainya: "Katakanlah kepada Daud dengan diam-diam, demikian: Sesungguhnya, raja suka kepadamu dan para pegawainya mengasihi engkau; maka sebab itu, jadilah engkau menantu raja."

²³Lalu para pegawai Saul menyampaikan perkataan itu kepada Daud, tetapi Daud menjawab: "Perkara ringankah pada pemandanganmu menjadi menantu raja? Bukankah aku seorang yang miskin dan rendah?"

²⁴Para pegawai Saul memberitahukan kepada raja, katanya: "Demikianlah jawab yang diberi Daud."

²⁵Kemudian berkatalah Saul: "Beginilah kamu katakan kepada Daud: Raja tidak menghendaki mas kawin selain dari seratus kulit khatan orang Filistin sebagai pembalasan kepada musuh raja." Saul bermaksud untuk menjatuhkan Daud dengan perantaraan orang Filistin.

²⁶Ketika para pegawainya memberitahukan perkataan itu kepada Daud, maka setujulah Daud menjadi menantu raja. Waktunya belum genap,

²⁷tetapi Daud sudah bersiap, ia pergi dengan orang-orangnya dan menewaskan dari orang Filistin itu dua ratus orang serta membawa kulit khatan mereka; dan dalam jumlah yang genap diberikan merekalah semuanya itu kepada raja, supaya Daud menjadi menantu raja. Kemudian Saul memberikan Mikhal, anaknya, kepadanya menjadi isterinya.

²⁸Lalu mengertilah Saul dan tahulah ia, bahwa TUHAN menyertai Daud, dan bahwa seluruh orang Israel mengasihi Daud.

²⁹Maka makin takutlah Saul kepada Daud. Saul tetap menjadi musuh Daud seumur hidupnya.

³⁰Apabila raja-raja orang Filistin maju berperang, setiap kali mereka maju berperang, maka Daud lebih berhasil dari semua pegawai Saul, sehingga namanya sangat masyhur.

¹⁹:¹Saul mengatakan kepada Yonatan, anaknya, dan kepada semua pegawainya, bahwa Daud harus dibunuh. Tetapi Yonatan, anak Saul, sangat suka kepada Daud,

²sehingga Yonatan memberitahukan kepada Daud: "Ayahku Saul berikhtiar untuk membunuh engkau; oleh sebab itu, hati-hatilah besok pagi, duduklah di suatu tempat perlindungan dan bersembunyilah di sana.

³Aku akan keluar dan berdiri di sisi ayahku di padang tempatmu itu. Maka aku akan berbicara dengan ayahku perihalmu; aku akan melihat bagaimana keadaannya, lalu memberitahukannya kepadamu."

⁴Lalu Yonatan mengatakan yang baik tentang Daud kepada Saul, ayahnya, katanya: "Janganlah raja berbuat dosa terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak berbuat dosa terhadapmu; bukankah apa yang diperbuatnya sangat baik bagimu!

⁵Ia telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu, dan TUHAN telah memberikan kemenangan yang besar kepada seluruh Israel. Engkau sudah melihatnya dan bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap darah orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa alasan?"

⁶Saul mendengarkan perkataan Yonatan dan Saul bersumpah: "Demi TUHAN yang hidup, ia tidak akan dibunuh."

⁷Lalu Yonatan memanggil Daud dan Yonatan memberitahukan kepadanya segala perkataan itu. Yonatan membawa Daud kepada Saul dan ia bekerja padanya seperti dahulu.

⁸Ketika perang pecah pula, maka majulah Daud dan berperang melawan orang Filistin; ia menimbulkan kekalahan besar di antara mereka, sehingga mereka melarikan diri dari depannya.

⁹Tetapi roh jahat yang dari pada TUHAN hinggap pada Saul, ketika ia duduk di rumahnya, dengan tombaknya di tangannya; dan Daud sedang main kecapi.

¹⁰Lalu Saul berikhtiar menancapkan Daud ke dinding dengan tombaknya, tetapi Daud mengelakkan tikaman Saul, sehingga Saul mengenai dinding dengan tombak itu. Sesudah itu Daud melarikan diri dan luputlah ia pada malam itu.
— 1 Samuel 17:1–19:10 (TB)

Kitab 1 Samuel 17 sepenuhnya berpusat pada pertempuran antar-pendekar tanding, di mana Daud membuktikan dirinya layak menjadi raja pilihan TUHAN atas Israel dengan tampil sebagai pendekar pembela bagi Israel sekaligus bagi TUHAN dalam pertempuran melawan musuh-musuh mereka.

1 Samuel 17:1–11. Saat perikop ini dimulai, narator memperlihatkan kepada kita nilai penting dari seorang ”pendekar” (secara harfiah dalam bahasa Ibrani: ”orang di antara dua pihak” atau ”orang perantara”; 1Sam. 17:4) ketika orang Filistin mengerahkan pasukan melawan Israel di jantung wilayah Yehuda (17:1–2). Berkat dari adanya seorang pendekar tanding adalah bahwa pertempuran dapat diputuskan tanpa menelan korban jiwa massal yang lazim menyertai peperangan, dan hal ini sangat menguntungkan apabila pihak tersebut memiliki pendekar yang luar biasa seperti yang dimiliki orang Filistin, yaitu Goliat dari Gat, yang tingginya sembilan kaki enam inci / sekitar 2,9 meter (menurut Teks Masoret [MT], kendati Septuaginta [LXX] mencatat enam kaki enam inci / sekitar 2 meter; 17:3–4). Porsi narasi yang luas dicurahkan untuk menggambarkan baju zirah Goliat (yang beratnya mencapai 120 pon / sekitar 57 kg!) serta senjatanya (mata tombak seberat 15 pon / sekitar 7 kg!), yang semuanya dimaksudkan untuk menonjolkan kekuatannya yang mengerikan, keperkasaannya yang menakutkan, dan ketakterkalahkannya secara kasat mata (17:5–7). Yang bahkan jauh lebih penting adalah karakter rohani dari deskripsi penampilan Goliat, yang secara terang-terangan mengaitkannya dengan ”naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan” (Why. 12:9). Hal ini terlihat dari ”baju zirah yang bersisik” (secara harfiah: ”zirah sisik-sisik”), logam dari perlengkapannya—”tembaga” (bahasa Ibrani: nekhoshet, yang menggemakan secara menakutkan kata nakhash [”ular”] yang pertama kali dijumpai di Taman Eden dalam Kej. 3:1), serta ”mata tombaknya” (secara harfiah: ”nyala tombaknya”, menyerupai naga yang mengembuskan api?). Karakter rohani dari pertempuran ini ditegaskan oleh raungan Goliat ke arah barisan tempur Israel, yang bukan saja menetapkan aturan pertempuran (1Sam. 17:8–10), melainkan juga secara khusus mencemooh ”barisan daripada Allah yang hidup” (17:10, 25, 26, 36, 45). Makna pentingnya semestinya sangat jelas: di sini Israel tidak sekadar berhadapan dengan musuh militer yang tangguh di medan laga, melainkan pertempuran melawan orang Filistin mencerminkan perang rohani yang lebih mendalam yang telah berlangsung sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, dan yang senantiasa menjadi fokus utama TUHAN dalam segala karya penebusan-Nya demi umat-Nya. Pada akhirnya, raja pilihan TUHAN haruslah seorang yang tidak hanya sanggup melindungi umat-Nya dari raja-raja duniawi, melainkan juga membebaskan mereka dari perbudakan dosa, Iblis, dan maut. Sayangnya, terlepas dari tinggi perawakan Saul (1Sam. 10:23), ia sama sekali bukan tandingan bagi sang Raksasa dari Gat (17:11).

1 Samuel 17:12–30. Selanjutnya, kita diperkenalkan kembali kepada Daud sebagai anak kedelapan Isai, yang kini telah ”lanjut usianya” (17:12) dan ketiga anak tertuanya telah pergi mengikuti Saul ke medan pertempuran (17:13).[^26] Sebagian penafsir menduga bahwa pengenalan kembali Daud dan saudara-saudaranya berdasarkan nama mengindikasikan bahwa teks ini muncul secara terpisah dari 1 Samuel 16, mengingat banyak dari rincian ini telah disebutkan sebelumnya (16:6–13). Sebagai alternatif, rincian-rincian ini dapat mengemban tujuan naratif untuk menonjolkan kembali ketidakberartian lahiriah dan kecilnya Daud, yang bahkan mungkin belum cukup umur untuk dikirim ke medan perang dan diharuskan mengerjakan tugas-tugas yang lebih remeh, yaitu menggembalakan domba ayahnya sembari tetap menjalankan tugas-tugas pelayanannya di istana (17:15; bdk. pengulangan dalam 17:2, 19).[^27] Agaknya, garis depan pertempuran tidaklah aman bagi pemuda belia seperti Daud, sehingga ketika Saul berada di garis pertempuran, pelayanan musik Daud tidak dibutuhkan. Kesetiaan Daud dalam melayani ayah dan kakak-kakaknya terlihat saat ayahnya memerintahkannya untuk membawakan perbekalan bagi saudara-saudaranya di garis depan (17:17–18), suatu perintah yang ditaatinya dengan sigap tanpa menelantarkan kawanan dombanya sebagai seorang gembala yang baik (17:20–21). Perhatiannya terhadap tanggung jawab di bawah pemeliharaannya semakin ditegaskan dalam catatan pada 17:22 bahwa saat ia bergerak dari perkemahan ke garis depan untuk berbicara dengan kakak-kakaknya, ia meninggalkan barang-barang yang dibawanya ”di tangan penjaga barang-barang (shomer) tentara”. Setelah tiba di garis depan dan berbicara dengan kakak-kakaknya, Daud secara kebetulan berada di sana dan mendengar sendiri tantangan Goliat yang mencemooh Israel dan Allahnya (17:23). Ia juga mendengar kabar mengenai hadiah yang dijanjikan raja bagi siapa saja yang sanggup menghadapi pendekar Filistin itu: kekayaan yang besar, putri raja sebagai istri, dan pembebasan pajak bagi kaum keluarganya (17:25). Pertanyaan Daud mengenai hal itu dalam 17:26 tampaknya merupakan upaya untuk memotivasi pasukan Saul agar memberikan tanggapan yang semestinya terhadap ”orang Filistin yang tak bersunat ini” yang berani ”mencemoohkan barisan daripada Allah yang hidup”. Namun, upaya Daud tidak berhasil (17:27) dan justru memicu amarah kakaknya yang tertua, yang mungkin merasakan nada celaan dalam interaksi Daud dengan orang-orang tersebut (17:28–30).

1 Samuel 17:31–47. Semangat membara Daud demi kehormatan nama TUHAN serta kesediaannya untuk bertempur demi nama itu akhirnya sampai ke telinga Saul (17:31), yang kemudian memanggil Daud dan mendengar sendiri kesediaannya (17:32). Iman Daud yang tak kenal takut (17:34–37) di hadapan keraguan dan ketakutan Saul (17:33) bukan saja sangat menginspirasi secara kasat mata, melainkan juga mengingatkan kita pada sosok Yonatan dalam pasal 14. Sekalipun Saul berusaha mengenakan pakaian perangnya kepada Daud (17:38–39)—mungkin agar dari kejauhan terlihat seolah-olah Saul sendirilah yang memimpin pertempuran sebagaimana layaknya seorang raja—pada akhirnya Daud menolak persenjataan yang ”belum teruji” ini dan memperlengkapi dirinya dengan peralatan sederhana dari profesi penggembalaan (17:40). Penghinaan Goliat saat melihat pemuda ini sangatlah kentara ketika ia mengutukinya, dengan anggapan bahwa kemenangannya sudah pasti terjamin (17:43–44). Namun, Daud menyampaikan vonis kenabian yang menegaskan bahwa pertempuran ini adalah pertempuran rohani dan kepada Siapakah kemenangan itu menjadi milik-Nya (17:45–47). Dengan itu, ”pertempuran” tersebut berakhir hampir secepat permulaannya (17:48–49).

1 Samuel 17:50–58. Kendati kemenangan yang dikerjakan TUHAN melalui Daud berlangsung sangat kilat (17:48–49), fokus narasi beralih pada dampak kemenangannya, di mana Daud mempermalukan kekalahan musuh secara terbuka (17:50–51, 54; bdk. Kol. 2:15) dan umat Israel mengejar sisa-sisa pasukan Filistin yang telah takluk serta menjarah perkemahan mereka (1Sam. 17:52–53). Betapa indahnya gambaran tentang kemenangan yang jauh lebih agung yang dimenangkan oleh Pendekar Sejati kita, Raja Yesus, yang telah menaklukkan Iblis, dosa, dan maut (1Kor. 15:20–28), dan yang kini kita ikuti dengan terus mengejar dan melucuti musuh yang telah dikalahkan itu melalui perlawanan terhadap Iblis serta mematikan kedagingan kita yang berdosa! Hal ini kian ditegaskan oleh kenyataan bahwa dalam 17:54 kita diberitahu bahwa Daud membawa tengkorak Goliat ke Yerusalem. Sebagian ahli meyakini bahwa keberadaan tengkorak Goliat di Yerusalem melandasi penamaan Golgota (bahasa Aram untuk ”tempat tengkorak”; Mat. 27:33; Mrk. 15:22; Luk. 23:33; Yoh. 19:17), kendati bukti alkitabiah maupun historis belum cukup untuk memastikannya. Namun, jika hal itu benar, itu berarti justru di lokasi tempat karya Daud dalam menaklukkan musuh raksasa Israel melalui pemberdayaan Roh itu dikenang, di situlah Yesus mengalahkan ”raksasa” dan musuh terbesar umat-Nya—yakni dosa, Iblis, dan maut itu sendiri—melalui kematian-Nya di atas kayu salib.

Sebagian sarjana memandang pertanyaan Saul mengenai asal-usul keluarga Daud (1Sam. 17:55) sebagai bukti bahwa catatan ini disisipkan dari materi yang telah ada sebelumnya, dan sebagai inkonsistensi lain dengan narasi sebelumnya dalam pasal 16 yang gagal diselaraskan oleh penyusun atau penyunting teks. Sebagai alternatif, hal ini sesungguhnya dapat memperdalam karakterisasi Saul di sini. Ia memang mengenal Daud, kendati mungkin semata-mata sebagai seorang hamba pemain musik yang kurang ia perhatikan (lihat komentar pada 16:21 di atas). Saul mengetahui namanya, tetapi ia sekadar menyebutnya sebagai seorang ”orang muda/pemuda belia” (naʿar), barangkali untuk merendahkan statusnya. Pertanyaannya mengenai sang ayah mungkin mengisyaratkan bahwa Saul kini menyesali janjinya tentang hadiah bagi penakluk Goliat dan ingin mengetahui aliran pendapatan pajak siapa yang bakal hilang darinya (atau siapa yang akan coba ia cegah agar tidak mengetahui status barunya; bdk. 18:2). Di pihaknya, Daud dengan sukacita dan kerendahan hati menghormati ayahnya dengan menyebutkan garis keturunannya (17:58).

1 Samuel 18:1–4. Pemisahan pasal ini jatuh tepat di tengah-tengah adegan. Ketika Saul dan Daud sedang bercakap-cakap bersama, perhatian beralih kepada Yonatan yang hadir di sana dan jiwanya berpadu dengan Daud dalam kasih (18:1). Kita tidak diberitahu alasannya, tetapi kita dapat membayangkan bahwa ia melihat dalam diri Daud seorang sahabat sejiwa, mengingat keduanya dikarakterisasikan memiliki iman yang sama-sama berani (lihat pembahasan 17:34–37 di atas). Tindakan Saul menahan Daud agar tidak kembali ke rumahnya dalam status perbudakan praktis (18:2) mungkin disebabkan oleh penghargaannya yang tinggi terhadap Daud, atau bisa jadi merupakan indikasi bahwa ia mengingkari tawarannya (17:25) dan mulai menunjukkan dirinya sebagai jenis raja yang pernah diperingatkan Samuel kepada bangsa Israel (1Sam. 8:16). Di pihaknya, Yonatan tampaknya mengenali status Daud di hadapan TUHAN, sehingga ia mengikat perjanjian dengan Daud (18:3) dan secara seremonial mengakui Daud sebagai Putra Rajawi yang sejati dengan menanggalkan (pashat) jubah dan perlengkapan perangnya lalu memberikannya kepada Daud (18:4).

1 Samuel 18:5–16. Ketika Saul mempercayakan kepemimpinan pertempuran kepada Daud (18:5), reputasi Daud semakin menanjak di tengah rakyat sehingga ia hidup sesuai dengan arti namanya (”yang dikasihi”), dikasihi bukan hanya oleh Yonatan (18:1), melainkan juga oleh segenap umat Israel (18:6–7). Tidak mengherankan, Saul tidak menyambut baik nyanyian para wanita Israel dalam 18:7, terlepas dari kenyataan bahwa nyanyian itu mungkin tidak dimaksudkan sebagai perbandingan (18:8), melainkan sebagai kiasan puitis yang lazim untuk menghormati dua tokoh besar secara bersama-sama. Kecemburuan Saul yang kian bertumbuh (18:9) akan menandai hubungannya dengan Daud sejak saat itu, dan dua cuplikan khusus mengenai manifestasinya disajikan dalam 18:10–11 dan 18:12–16. Secara ironis, mengingat perbandingan antara ”keperkasaan” tempur Saul dan Daud di sepanjang pasal 18, Saul tampaknya tidak sanggup menancapkan tombaknya kepada Daud kendati jaraknya sangat dekat (18:10) dan dicoba berulang kali (18:11). Ketakutan dan frustrasi Saul terhadap Daud terasa kian memuncak (18:12, 15) saat ia berusaha menurunkan pangkat dan mengecilkan kedudukan Daud (18:13), namun gagal dalam setiap upayanya (18:14, 16).

1 Samuel 18:17–30. Setelah tampaknya mengingkari janjinya mengenai ”kebebasan” (18:2), Saul pada awalnya tampak siap memberikan putri sulungnya, Merab, kepada Daud (17:25), sekalipun disertai syarat pelayanan yang lebih setia. Namun, narator menyingkapkan niat Saul yang sebenarnya—bukan untuk memberkati dan berterima kasih kepada Daud, melainkan untuk memupuk permusuhan Daud dengan orang Filistin agar mereka melenyapkan sosok yang kian menjadi saingannya itu (18:17). Kontras dengan kerendahan hati Saul yang berpura-pura (9:21), Daud tampak benar-benar merasa rendah hati di hadapan tawaran itu (18:18) dan tampaknya menolak untuk mengambilnya sebagai istri sehingga Merab diberikan kepada orang lain (18:19). Akan tetapi, Mikhal, putri Saul yang lain, juga jatuh cinta kepada Daud, sehingga Saul menawarkannya sebagai ”suatu jerat” (moqesh) bagi Daud (18:20–21). Ketika Daud sekali lagi tampak ragu-ragu (18:23), Saul mengerahkan pegawai-pegawainya yang lain (18:22, 24–25) untuk membujuk Daud dengan menetapkan ”mas kawin” berupa seratus kulit khatan orang Filistin (yang tentu mengindikasikan kematian mereka; bdk. 18:27). Kali ini ”setujulah Daud” (secara harfiah: ”perkara itu dipandang baik di mata Daud”), yaitu untuk menjadi ”menantu raja” (18:26), sehingga Daud menewaskan dua kali lipat jumlah mas kawin orang Filistin itu, dan pernikahan pun dilangsungkan (18:27).[^28] Niat Saul untuk memanfaatkan Mikhal bersamaan dengan serangan Daud terhadap orang Filistin sebagai sarana untuk ”menjatuhkan Daud dengan perantaraan orang Filistin” (18:25) justru menjadi bumerang, karena Daud terus meraih keberhasilan di medan pertempuran (18:30) dan kasih Mikhal kepadanya semakin bertambah dalam (18:29). Pada titik ini, ketakutan Saul terhadap Daud bermuara pada kehancuran total hubungan antara kedua orang yang diurapi itu, sehingga sejak saat itu ”Saul tetap menjadi musuh Daud seumur hidupnya” (18:29). Dalam menghadapi permusuhan dari Saul (serta musuh-musuhnya yang lain; Mzm. 3:2–5, 9), Daud mengarahkan kita kepada ”Putra Daud yang Lebih Agung”, Yesus Kristus, yang sekalipun dikasihi oleh murid-murid-Nya dan orang banyak, pada akhirnya ditinggalkan oleh mereka untuk menghadapi musuh-musuh-Nya seorang diri. Namun tidak seperti Daud, yang kepadanya Yonatan mengenakan jubah kerajaan, Yesus menanggalkan kemuliaan-Nya (Flp. 2:5–11) dan ditelanjangi (Mat. 27:28) supaya Ia dapat mengenakan kepada umat-Nya—yakni ”putra-putri rajawi” dari Adam Pertama yang telah terbuang—jubah kebenaran-Nya (Yes. 61:10).

1 Samuel 19:1–10. Pertarungan antara ”dua benih” dari Kejadian 3:15 terbentang di sini dalam permusuhan antara dua ”Mesias” atau ”orang yang diurapi”, namun TUHAN dalam providensi-Nya memelihara raja pilihan-Nya. Serupa dengan tokoh di masa depan yang memiliki nama yang sama dengannya, Saul di sini ”berkobar-kobar hatinya untuk mengancam dan membunuh” (Kis. 9:1) raja pilihan TUHAN (1Sam. 19:1). Yonatan sekali lagi bersinar sebagai putra rajawi yang berkarakter luhur saat ia mencium rencana jahat Saul, menolong Daud agar tidak terjerat di dalamnya (19:2), dan dengan hormat menegur niat jahat ayahnya (19:3–5). Upaya rekonsiliasi yang dilakukan Yonatan tampaknya membuahkan hasil (19:6–7), kendati begitu Daud meraih keberhasilan berikutnya (19:8), kecemburuan Saul kembali meracuni hubungan mereka dan ia secara membabi buta berusaha membunuh Daud sehingga memaksanya melarikan diri (19:9–10). Dalam ironi yang menggelikan, keperkasaan Daud dalam pertempuran kembali dikontraskan dengan kelemahan dan ketidakmampuan Saul yang tidak sanggup mengenai Daud dengan tombaknya sekalipun berada dalam jarak yang sangat dekat (19:10).

Diuji dan Diteguhkan melalui Keluaran di Padang Gurun (19:11–23:29)

¹⁹:¹¹Kemudian Saul mengirim orang-orang suruhan ke rumah Daud untuk mengamat-amatinya dan untuk membunuh dia pada waktu pagi. Tetapi Mikhal, isteri Daud, memberitahukan kepadanya, demikian: "Jika engkau tidak dapat meluputkan dirimu malam ini, maka besok engkau akan dibunuh."

¹²Lalu Mikhal menurunkan Daud dari jendela, ia pergi melarikan diri dan luputlah ia.

¹³Sesudah itu Mikhal mengambil terafim dan menaruhnya di tempat tidur; ditaruhnya sehelai tenunan bulu kambing di bagian kepala dan ditutupinya dengan selimut.

¹⁴Lalu Saul mengirim orang-orang suruhan untuk mengambil Daud, tetapi perempuan itu berkata: "Ia sakit."

¹⁵Sesudah itu Saul mengirim orang-orang suruhan itu untuk melihat Daud, katanya: "Bawalah dia di atas tempat tidur itu ke mari, supaya ia dibunuh."

¹⁶Lalu masuklah para suruhan itu ke dalam, dan tampaklah ada terafim di tempat tidur dengan sehelai tenunan bulu kambing di bagian kepala.

¹⁷Berkatalah Saul kepada Mikhal: "Mengapa engkau menipu aku demikian itu dan melepas musuhku pergi, sehingga ia luput?" Tetapi jawab Mikhal kepada Saul: "Ia berkata kepadaku: Biarkanlah aku pergi, apa perlunya aku membunuh engkau?"

¹⁸Setelah Daud melarikan diri dan luput, sampailah ia kepada Samuel di Rama dan memberitahukan kepadanya segala yang dilakukan Saul kepadanya. Kemudian pergilah ia bersama-sama dengan Samuel dan tinggallah mereka di Nayot.

¹⁹Ketika diberitahukan kepada Saul, demikian: "Ketahuilah, Daud ada di Nayot, dekat Rama,"

²⁰maka Saul mengirim orang-orang suruhan untuk mengambil Daud. Tetapi orang-orang ini melihat sekumpulan nabi kepenuhan, dengan dikepalai oleh Samuel. Dan Roh Allah hinggap pada orang-orang suruhan Saul, sehingga merekapun kepenuhan seperti nabi.

²¹Lalu hal itu diberitahukan kepada Saul; ia mengirim orang-orang suruhan yang lain, tetapi orang-orang itupun juga kepenuhan seperti nabi. Saul mengirim sekali lagi orang-orang suruhan, rombongan yang ketiga, dan orang-orang inipun juga kepenuhan.

²²Lalu ia sendiri pergi ke Rama. Sesampainya ke dekat perigi besar yang di Sekhu, bertanyalah ia, katanya: "Di mana Samuel dan Daud?" Jawab orang: "Ada di Nayot, dekat Rama."

²³Lalu pergilah ia ke sana, ke Nayot, dekat Rama dan pada diapun hinggaplah Roh Allah, dan selama ia melanjutkan perjalanannya ia kepenuhan seperti nabi, hingga ia sampai ke Nayot dekat Rama.

²⁴Iapun menanggalkan pakaiannya, dan iapun juga kepenuhan di depan Samuel. Ia rebah terhantar dengan telanjang sehari-harian dan semalam-malaman itu. Itulah sebabnya orang berkata: "Apakah juga Saul termasuk golongan nabi?"

²⁰:¹Maka larilah Daud dari Nayot, dekat Rama; sampailah ia kepada Yonatan, lalu berkata: "Apakah yang telah kuperbuat? Apakah kesalahanku dan apakah dosaku terhadap ayahmu, sehingga ia ingin mencabut nyawaku?"

²Tetapi Yonatan berkata kepadanya: "Jauhlah yang demikian itu! engkau tidak akan mati dibunuh. Ingatlah, ayahku tidak berbuat sesuatu, baik perkara besar maupun perkara kecil, dengan tidak menyatakannya kepadaku. Mengapa ayahku harus menyembunyikan perkara ini kepadaku? Tidak mungkin!"

³Tetapi Daud menjawab, katanya: "Ayahmu tahu benar, bahwa engkau suka kepadaku. Sebab itu pikirnya: Tidak boleh Yonatan mengetahui hal ini, nanti ia bersusah hati. Namun, demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu, hanya satu langkah jaraknya antara aku dan maut."

⁴Yonatan berkata kepada Daud: "Apapun kehendak hatimu, aku akan melakukannya bagimu."

⁵Lalu kata Daud kepada Yonatan: "Kautahu, besok bulan baru, maka sebenarnya aku harus duduk makan bersama-sama dengan raja. Jika engkau membiarkan aku pergi, maka aku akan bersembunyi di padang sampai lusa petang.

⁶Apabila ayahmu menanyakan aku, haruslah kaukatakan: Daud telah meminta dengan sangat kepadaku untuk pergi dengan segera ke Betlehem, kotanya, karena di sana ada upacara pengorbanan tahunan bagi segenap kaumnya.

⁷Jika begini dikatakannya: Baiklah! maka hambamu ini selamat. Tetapi jika amarahnya bangkit dengan segera, ketahuilah, bahwa ia telah mengambil keputusan untuk mendatangkan celaka.

⁸Jika demikian, tunjukkanlah kesetiaanmu kepada hambamu ini, sebab engkau telah mengikat perjanjian di hadapan TUHAN dengan hambamu ini. Tetapi jika ada kesalahan padaku, engkau sendirilah membunuh aku. Mengapa engkau harus menyerahkan aku kepada ayahmu?"

⁹Tetapi jawab Yonatan: "Jauhlah yang demikian itu! Sebab jika kuketahui dengan pasti, bahwa ayahku telah mengambil keputusan untuk mendatangkan celaka kepadamu, masakan aku tidak memberitahukannya kepadamu?"

¹⁰Lalu bertanyalah Daud kepada Yonatan: "Siapakah yang akan memberitahukan kepadaku, apabila ayahmu menjawab engkau dengan keras?"

¹¹Kata Yonatan kepada Daud: "Marilah kita keluar ke padang." Maka keluarlah keduanya ke padang.

¹²Lalu berkatalah Yonatan kepada Daud: "Demi TUHAN, Allah Israel, besok atau lusa kira-kira waktu ini aku akan memeriksa perasaan ayahku. Apabila baik keadaannya bagi Daud, masakan aku tidak akan menyuruh orang kepadamu dan memberitahukannya kepadamu?

¹³Tetapi apabila ayahku memandang baik untuk mendatangkan celaka kepadamu, beginilah kiranya TUHAN menghukum Yonatan, bahkan lebih lagi dari pada itu, sekiranya aku tidak menyatakannya kepadamu dan membiarkan engkau pergi, sehingga engkau dapat berjalan dengan selamat. TUHAN kiranya menyertai engkau, seperti Ia menyertai ayahku dahulu.

¹⁴Jika aku masih hidup, bukankah engkau akan menunjukkan kepadaku kasih setia TUHAN? Tetapi jika aku sudah mati,

¹⁵janganlah engkau memutuskan kasih setiamu terhadap keturunanku sampai selamanya. Dan apabila TUHAN melenyapkan setiap orang dari musuh Daud dari muka bumi,

¹⁶janganlah nama Yonatan terhapus dari keturunan Daud, melainkan kiranya TUHAN menuntut balas dari pada musuh-musuh Daud."

¹⁷Dan Yonatan menyuruh Daud sekali lagi bersumpah demi kasihnya kepadanya, sebab ia mengasihi Daud seperti dirinya sendiri.

¹⁸Kemudian berkatalah Yonatan kepadanya: "Besok bulan baru; maka engkau nanti akan ditanyakan, sebab tempat dudukmu akan tinggal kosong.

¹⁹Tetapi lusa engkau pasti akan dicari; engkau harus datang ke tempat engkau bersembunyi pada hari peristiwa itu, dan duduklah dekat bukit batu.

²⁰Maka aku akan memanahkan tiga anak panah ke samping batu itu, seolah-olah aku membidik suatu sasaran.

²¹Dan ketahuilah, aku akan menyuruh bujangku: Pergilah mencari anak-anak panah itu. Jika tegas kukatakan kepada bujang itu: Lihat anak-anak panah itu lebih ke mari, ambillah! --maka datanglah, sebab, demi TUHAN yang hidup, engkau selamat dan tidak ada bahaya apa-apa.

²²Tetapi jika begini kukatakan kepada orang muda itu: Lihat anak-anak panah itu lebih ke sana! --maka pergilah, sebab TUHAN menyuruh engkau pergi.

²³Tentang hal yang kita janjikan itu, antara aku dan engkau, sesungguhnya, TUHAN ada di antara aku dan engkau sampai selamanya."

²⁴Sesudah itu bersembunyilah Daud di padang. Ketika bulan baru tiba, duduklah raja pada meja untuk makan.

²⁵Raja duduk di tempatnya seperti biasa, dekat dinding. Yonatan berhadapan dengan dia, Abner duduk di sisi Saul, tetapi tempat Daud tinggal kosong.

²⁶Dan Saul tidak berkata apa-apa pada hari itu, sebab pikirnya: "Barangkali ada sesuatu yang terjadi kepadanya; mungkin ia tidak tahir; ya, tentu ia tidak tahir."

²⁷Tetapi pada hari sesudah bulan baru itu, pada hari yang kedua, ketika tempat Daud masih tinggal kosong, bertanyalah Saul kepada Yonatan, anaknya: "Mengapa anak Isai tidak datang makan, baik kemarin maupun hari ini?"

²⁸Jawab Yonatan kepada Saul: "Daud telah meminta dengan sangat kepadaku untuk pergi ke Betlehem,

²⁹katanya: Biarkanlah aku pergi, sebab ada upacara pengorbanan bagi kaum kami di kota, dan saudara-saudaraku sendirilah yang memanggil aku. Oleh sebab itu, jika engkau mengasihi aku, berilah izin kepadaku untuk menengok saudara-saudaraku. Itulah sebabnya ia tidak datang ke perjamuan raja."

³⁰Lalu bangkitlah amarah Saul kepada Yonatan, katanya kepadanya: "Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu?

³¹Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh. Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati."

³²Tetapi Yonatan menjawab Saul, ayahnya itu, katanya kepadanya: "Mengapa ia harus dibunuh? Apa yang dilakukannya?"

³³Lalu Saul melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya. Maka tahulah Yonatan, bahwa ayahnya telah mengambil keputusan untuk membunuh Daud.

³⁴Sebab itu Yonatan bangkit dan meninggalkan perjamuan itu dengan kemarahan yang bernyala-nyala. Pada hari yang kedua bulan baru itu ia tidak makan apa-apa, sebab ia bersusah hati karena Daud, sebab ayahnya telah menghina Daud.

³⁵Pada waktu pagi keluarlah Yonatan ke padang bersama-sama seorang budak kecil sesuai dengan janjinya kepada Daud.

³⁶Berkatalah ia kepada budaknya: "Larilah, carilah anak-anak panah yang kupanahkan." Baru saja budak itu berlari, maka Yonatan melepaskan sebatang anak panah lewat kepala budak itu.

³⁷Ketika budak itu sampai ke tempat letaknya anak panah yang dilepaskan Yonatan itu, maka berserulah Yonatan dari belakang budak itu, katanya: "Bukankah anak panah itu lebih ke sana?"

³⁸Kemudian berserulah Yonatan dari belakang budak itu: "Ayo, cepat, jangan berdiri saja!" Lalu budak Yonatan memungut anak panah itu dan kembali kepada tuannya.

³⁹Tetapi budak itu tidak tahu apa-apa, hanya Yonatan dan Daudlah yang mengetahui hal itu.

⁴⁰Sesudah itu Yonatan memberikan senjatanya kepada budak yang menyertai dia, dan berkata kepadanya: "Pergilah, bawalah ke kota."

⁴¹Maka pulanglah budak itu, lalu tampillah Daud dari sebelah bukit batu; ia sujud dengan mukanya ke tanah dan menyembah tiga kali. Mereka bercium-ciuman dan bertangis-tangisan. Akhirnya Daud dapat menahan diri.

⁴²Kemudian berkatalah Yonatan kepada Daud: "Pergilah dengan selamat; bukankah kita berdua telah bersumpah demi nama TUHAN, demikian: TUHAN akan ada di antara aku dan engkau serta di antara keturunanku dan keturunanmu sampai selamanya." (20-43) Setelah itu bangunlah Daud dan pergi; dan Yonatanpun pulang ke kota.

²¹:¹Sampailah Daud ke Nob kepada Ahimelekh, imam itu. Dengan gemetar Ahimelekh pergi menemui Daud dan berkata kepadanya: "Mengapa engkau seorang diri dan tidak ada orang bersama-sama dengan engkau?"

²Jawab Daud kepada imam Ahimelekh: "Raja menugaskan sesuatu kepadaku, katanya kepadaku: Siapapun juga tidak boleh mengetahui sesuatu dari hal yang kusuruh kepadamu dan yang kutugaskan kepadamu ini. Sebab itu orang-orangku telah kusuruh pergi ke suatu tempat.

³Maka sekarang, apa yang ada padamu? Berikanlah kepadaku lima roti atau apapun yang ada."

⁴Lalu jawab imam itu kepada Daud: "Tidak ada roti biasa padaku, hanya roti kudus yang ada; asal saja orang-orangmu itu menjaga diri terhadap perempuan."

⁵Daud menjawab imam itu, katanya kepadanya: "Memang, kami tidak diperbolehkan bergaul dengan perempuan, seperti sediakala apabila aku maju berperang. Tubuh orang-orangku itu tahir, sekalipun pada perjalanan biasa, apalagi pada hari ini, masing-masing mereka tahir tubuhnya."

⁶Lalu imam itu memberikan kepadanya roti kudus itu, karena tidak ada roti di sana kecuali roti sajian; roti itu biasa diangkat orang dari hadapan TUHAN, supaya pada hari roti itu diambil, ditaruh lagi roti baru.

⁷Maka pada hari itu juga ada di sana salah seorang pegawai Saul, yang dikhususkan melayani TUHAN; namanya Doeg, seorang Edom, pengawas atas gembala-gembala Saul.

⁸Berkatalah Daud kepada Ahimelekh: "Tidak adakah padamu di sini tombak atau pedang? Sebab baik pedangku maupun senjataku, tidak dapat kubawa, karena perintah raja itu mendesak."

⁹Kemudian berkatalah imam itu: "Pedang Goliat, orang Filistin, yang kaupukul kalah di Lembah Tarbantin, itulah yang ada di sini, terbungkus dalam kain di belakang efod itu. Jika engkau hendak mengambilnya, ambillah; yang lain tidak ada, hanya ini." Kata Daud: "Tidak ada yang seperti itu; berikanlah itu kepadaku."

¹⁰Kemudian bersiaplah Daud dan larilah ia pada hari itu juga dari Saul; sampailah ia kepada Akhis, raja kota Gat.

¹¹Pegawai-pegawai Akhis berkata kepada tuannya: "Bukankah ini Daud raja negeri itu? Bukankah tentang dia orang-orang menyanyi berbalas-balasan sambil menari-nari, demikian: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa?"

¹²Daud memperhatikan perkataan itu, dan dia menjadi takut sekali kepada Akhis, raja kota Gat itu.

¹³Sebab itu ia berlaku seperti orang yang sakit ingatan di depan mata mereka dan berbuat pura-pura gila di dekat mereka; ia menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan ludahnya meleleh ke janggutnya.

¹⁴Lalu berkatalah Akhis kepada para pegawainya: "Tidakkah kamu lihat, bahwa orang itu gila? Mengapa kamu membawa dia kepadaku?

¹⁵Kekurangan orang gilakah aku, maka kamu bawa orang ini kepadaku supaya ia menunjukkan gilanya dekat aku? Patutkah orang yang demikian masuk ke rumahku?"

²²:¹Lalu Daud pergi dari sana dan melarikan diri ke gua Adulam. Ketika saudara-saudaranya dan seluruh keluarganya mendengar hal itu, pergilah mereka ke sana mendapatkan dia.

²Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang.

³Dari sana Daud pergi ke Mizpa di Moab dan berkata kepada raja negeri Moab: "Izinkanlah ayahku dan ibuku tinggal padamu, sampai aku tahu, apa yang dilakukan Allah kepadaku."

⁴Lalu diantarkannyalah mereka kepada raja negeri Moab, dan mereka tinggal bersama dia selama Daud ada di kubu gunung.

⁵Tetapi Gad, nabi itu, berkata kepada Daud: "Janganlah tinggal di kubu gunung itu, pergilah dan pulanglah ke tanah Yehuda." Lalu pergilah Daud dan masuk ke hutan Keret.

⁶Hal itu terdengar oleh Saul, sebab Daud dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia telah diketahui tempatnya. Adapun Saul ada di Gibea, sedang duduk di bawah pohon tamariska di bukit, dengan tombaknya di tangan dan semua pegawainya berdiri di dekatnya.

⁷Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya yang berdiri di dekatnya: "Cobalah dengar, ya orang-orang Benyamin! Apakah anak Isai itu juga akan memberikan kepada kamu sekalian ladang dan kebun anggur, apakah ia akan mengangkat kamu sekalian menjadi kepala atas pasukan seribu dan atas pasukan seratus,

⁸sehingga kamu sekalian mengadakan persepakatan melawan aku dan tidak ada seorangpun yang menyatakan kepadaku, bahwa anakku mengikat diri dengan anak Isai itu? Tidak ada seorangpun dari kamu yang cemas karena aku, atau yang menyatakan kepadaku, bahwa anakku telah menghasut pegawaiku melawan aku menjadi penghadang seperti sekarang ini."

⁹Lalu menjawablah Doeg, orang Edom itu, yang berdiri dekat para pegawai Saul, katanya: "Telah kulihat, bahwa anak Isai itu datang ke Nob, kepada Ahimelekh bin Ahitub.

¹⁰Ia menanyakan TUHAN bagi Daud dan memberikan bekal kepadanya; juga pedang Goliat, orang Filistin itu, diberikannya kepadanya."

¹¹Lalu raja menyuruh memanggil Ahimelekh bin Ahitub, imam itu, bersama-sama dengan seluruh keluarganya, para imam yang di Nob; dan datanglah sekaliannya menghadap raja.

¹²Kata Saul: "Cobalah dengar, ya anak Ahitub!" Jawabnya: "Ya, tuanku."

¹³Kemudian bertanyalah Saul kepadanya: "Mengapa kamu mengadakan persepakatan melawan aku, engkau dengan anak Isai itu, dengan memberikan roti dan pedang kepadanya, menanyakan Allah baginya, sehingga ia bangkit melawan aku menjadi penghadang seperti sekarang ini?"

¹⁴Lalu Ahimelekh menjawab raja: "Tetapi siapakah di antara segala pegawaimu yang dapat dipercaya seperti Daud, apalagi ia menantu raja dan kepala para pengawalmu, dan dihormati dalam rumahmu?

¹⁵Bukan ini pertama kali aku menanyakan Allah bagi dia. Sekali-kali tidak! Janganlah kiranya raja melontarkan tuduhan kepada hambamu ini, bahkan kepada seluruh keluargaku, sebab hambamu ini tidak tahu apa-apa tentang semuanya itu, baik tentang perkara kecil maupun perkara besar."

¹⁶Tetapi raja berkata: "Engkau mesti dibunuh, Ahimelekh, engkau dan seluruh keluargamu."

¹⁷Lalu raja memerintahkan kepada bentara yang berdiri di dekatnya: "Majulah dan bunuhlah para imam TUHAN itu sebab mereka membantu Daud; sebab walaupun mereka tahu, bahwa ia melarikan diri, mereka tidak memberitahukan hal itu kepadaku." Tetapi para pegawai raja tidak mau mengangkat tangannya untuk memarang imam-imam TUHAN itu.

¹⁸Lalu berkatalah raja kepada Doeg: "Majulah engkau dan paranglah para imam itu." Maka majulah Doeg, orang Edom itu, lalu memarang para imam itu. Ia membunuh pada hari itu delapan puluh lima orang, yang memakai baju efod dari kain lenan.

¹⁹Juga penduduk Nob, kota imam itu, dibunuh raja dengan mata pedang; laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak yang menyusu, pula lembu, keledai dan domba dibunuhnya dengan mata pedang.

²⁰Tetapi seorang anak Ahimelekh bin Ahitub, namanya Abyatar luput; ia melarikan diri menjadi pengikut Daud.

²¹Ketika Abyatar memberitahukan kepada Daud, bahwa Saul telah membunuh para imam TUHAN,

²²berkatalah Daud kepada Abyatar: "Memang pada hari itu juga ketika Doeg, orang Edom itu, ada di sana, aku telah tahu, bahwa pasti ia akan memberitahukannya kepada Saul. Akulah sebab utama dari pada kematian seluruh keluargamu.

²³Tinggallah padaku, janganlah takut; sebab siapa yang ingin mencabut nyawamu, ia juga ingin mencabut nyawaku; di dekatku engkau aman."

²³:¹Diberitahukanlah kepada Daud, begini: "Ketahuilah, orang Filistin berperang melawan kota Kehila dan menjarah tempat-tempat pengirikan."

²Lalu bertanyalah Daud kepada TUHAN: "Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?" Jawab TUHAN kepada Daud: "Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila."

³Tetapi orang-orang Daud berkata kepadanya: "Ingatlah, sedangkan di sini di Yehuda kita sudah dalam ketakutan, apalagi kalau kita pergi ke Kehila, melawan barisan perang orang Filistin."

⁴Lalu bertanya pulalah Daud kepada TUHAN, maka TUHAN menjawab dia, firman-Nya: "Bersiaplah, pergilah ke Kehila, sebab Aku akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu."

⁵Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila; ia berperang melawan orang Filistin itu, dihalaunya ternak mereka dan ditimbulkannya kekalahan besar di antara mereka. Demikianlah Daud menyelamatkan penduduk Kehila.

⁶Ketika Abyatar bin Ahimelekh melarikan diri kepada Daud ke Kehila, ia turun dengan membawa efod di tangannya.

⁷Kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah masuk Kehila. Lalu berkatalah Saul: "Allah telah menyerahkan dia ke dalam tanganku, sebab dengan masuk ke dalam kota yang berpintu dan berpalang ia telah mengurung dirinya."

⁸Maka Saul memanggil seluruh rakyat pergi berperang ke Kehila dan mengepung Daud dengan orang-orangnya.

⁹Ketika diketahui Daud, bahwa Saul berniat jahat terhadap dia, berkatalah ia kepada imam Abyatar: "Bawalah efod itu ke mari."

¹⁰Berkatalah Daud: "TUHAN, Allah Israel, hamba-Mu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku.

¹¹Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hamba-Mu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hamba-Mu ini." Jawab TUHAN: "Ia akan datang."

¹²Kemudian bertanyalah Daud: "Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku dengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?" Firman TUHAN: "Akan mereka serahkan."

¹³Lalu bersiaplah Daud dan orang-orangnya, kira-kira enam ratus orang banyaknya, mereka keluar dari Kehila dan pergi ke mana saja mereka dapat pergi. Apabila kepada Saul diberitahukan, bahwa Daud telah meluputkan diri dari Kehila, maka tidak jadilah ia maju berperang.

¹⁴Maka Daud tinggal di padang gurun, di tempat-tempat perlindungan. Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif. Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangannya.

¹⁵Daud takut, karena Saul telah keluar dengan maksud mencabut nyawanya. Ketika Daud ada di padang gurun Zif di Koresa,

¹⁶maka bersiaplah Yonatan, anak Saul, lalu pergi kepada Daud di Koresa. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah

¹⁷dan berkata kepadanya: "Janganlah takut, sebab tangan ayahku Saul tidak akan menangkap engkau; engkau akan menjadi raja atas Israel, dan aku akan menjadi orang kedua di bawahmu. Juga ayahku Saul telah mengetahui yang demikian itu."

¹⁸Kemudian kedua orang itu mengikat perjanjian di hadapan TUHAN. Dan Daud tinggal di Koresa, tetapi Yonatan pulang ke rumahnya.

¹⁹Tetapi beberapa orang Zif pergi menghadap Saul di Gibea dan berkata: "Daud menyembunyikan diri dekat kami di kubu-kubu gunung dekat Koresa, di bukit Hakhila, di sebelah selatan padang belantara.

²⁰Oleh sebab itu, jika tuanku raja berkenan datang, silakanlah datang; tanggungan kamilah untuk menyerahkan dia ke dalam tangan raja."

²¹Berkatalah Saul: "Diberkatilah kiranya kamu oleh TUHAN, karena kamu menunjukkan sayangmu kepadaku.

²²Baiklah pergi, carilah kepastian lagi, berusahalah mengetahui di mana ia berada dan siapa yang telah melihat dia di sana; sebab telah dikatakan orang kepadaku, bahwa ia sangat cerdik.

²³Berusahalah mengetahui segala tempat persembunyiannya. Kemudian datanglah kembali kepadaku dengan kabar yang pasti; dan aku akan pergi bersama-sama dengan kamu. Sesungguhnya, jika ia ada di dalam negeri, maka aku akan meneliti dia di antara segala ribuan orang Yehuda."

²⁴Lalu berkemaslah mereka pergi ke Zif, mendahului Saul. Daud dan orang-orangnya ada di padang gurun Maon, di dataran di sebelah selatan padang belantara.

²⁵Ketika Saul dengan orang-orangnya pergi mencari Daud, diberitahukanlah hal itu kepada Daud, lalu pergilah ia ke gunung batu dan tinggal di padang gurun Maon. Saul mendengar hal itu, lalu mengejar Daud di padang gurun Maon;

²⁶Saul berjalan dari sisi gunung sebelah sini dan Daud dengan orang-orangnya dari sisi gunung sebelah sana. Daud cepat-cepat mengelakkan Saul; tetapi Saul dengan orang-orangnya sudah hampir mengepung Daud serta orang-orangnya untuk menangkap mereka,

²⁷ketika seorang suruhan datang kepada Saul dengan pesan: "Segeralah undur, sebab orang Filistin telah menyerbu negeri."

²⁸Maka berhentilah Saul mengejar Daud dan pergi menghadapi orang Filistin. Itulah sebabnya orang menyebut tempat itu: Gunung Batu Keluputan.

²⁹Daud pergi dari sana, lalu tinggal di kubu-kubu gunung di En-Gedi.
— 1 Samuel 19:11–23:29 (TB)

1 Samuel 19:11–18. Keterasingan Saul yang kian bertambah dari keluarganya sendiri terbukti di sini melalui tindakan Mikhal yang membantu Daud melarikan diri dari ayahnya (19:11–12). Menariknya, Mikhal menggunakan ”patung berhala / terafim keluarga” (terafim) untuk melakukannya, yang menyiratkan bahwa benda-benda ini ada di dalam rumah tangga Daud, kendati barangkali karena Mikhal yang membawanya masuk (bdk. Kej. 31:19). Di sini Saul mengerahkan segenap kekuasaan negara untuk memburu Daud, menjalankan sebagian besar aksi pengejarannya melalui ”orang-orang suruhan / utusan-utusan” (malʾakhim; 1Sam. 19:11, 14, 15, 16). Kendati Saul pada akhirnya membongkar tipu muslihat Mikhal, kesibukan bolak-balik para utusan itu memberi cukup waktu yang dibutuhkan Daud untuk melarikan diri ke tempat yang aman (19:18).

1 Samuel 19:19–24. Pemeliharaan providensi TUHAN atas raja yang diurapi-Nya melalui anak-anak Saul (Yonatan dalam 19:1–7 dan Mikhal dalam 19:8–18) berulang kali ditekankan di sepanjang teks melalui frasa yang berulang bahwa Daud ”melarikan diri dan luput” (19:10, 11, 12, 17, 18; 20:1; bdk. orang Filistin yang melarikan diri namun tidak luput dalam 19:8). Namun pada titik ini, TUHAN turun tangan secara lebih langsung ketika Saul mengejar Daud sampai ke hadapan Samuel di ”Nayot, dekat Rama”. ”Nayot” secara harfiah berarti sesuatu seperti ”tempat penggembalaan/padang rumput”, sehingga nama ini mungkin merujuk pada pemukiman pedesaan atau tempat tinggal di luar kota yang lebih besar (Rama). Samuel mungkin berpikir bahwa berada jauh dari kota akan memungkinkan Daud luput dari perhatian, sekalipun rencana tersebut tampaknya tidak terwujud (19:19). Namun ketika Saul mengirim orang-orang suruhan, dan akhirnya pergi sendiri ke Rama (bdk. Mat. 21:33–41; Mrk. 12:1–12; Luk. 20:9–19), Roh TUHAN turun tangan (1Sam. 19:20) dan secara berdaulat melindungi Daud dari Saul dengan menggagalkan Saul beserta para utusannya (19:21–24). Di mana Daud dilindungi dalam ketidakbersalahannya yang benar (19:4–5), Raja Yesus justru dibiarkan ditangkap oleh para penganiaya-Nya, disiksa, dan dihukum mati sebagai penjahat biasa demi menyelamatkan umat-Nya yang di dalam keberdosaan kita menurut kodratnya adalah musuh-musuh Allah (Rm. 5:10).

1 Samuel 20:1–17. Kendati pada pasal 19 masa pelarian Daud dari Saul telah dimulai, dalam pasal inilah masa pengembaraannya menjauh dari tanah Israel dan Yehuda benar-benar dimulai dengan sungguh-sungguh (1Sam. 20:1). Melalui pertolongan Yonatan, menjadi sangat jelas bahwa ia tidak akan mendapatkan damai di hadapan Saul. Pasal ini menyajikan sebuah gambaran persahabatan yang mendalam, tatkala Daud mendekati Yonatan—yang sebelumnya telah menolong mengupayakan perdamaian dengan Saul (19:2–7)—untuk memohon pertolongan. Yonatan tampaknya percaya bahwa Saul akan tetap berpegang pada sumpah yang telah diucapkannya (19:6; 20:2, 9), sehingga Daud mengemban tugas canggung untuk meyakinkannya akan hal yang sebaliknya (20:3). Karena itu Daud merancang rencana untuk menolong Yonatan dan dirinya sendiri mengetahui kecenderungan hati dan sikap Saul terhadapnya (20:4–8). Hal ini bermuara pada penegasan kembali kasih perjanjian dan komitmen mereka satu sama lain (20:10–17), yang kelak dihormati dan digenapi oleh Daud dalam hubungannya dengan Mefiboset (2Sam. 9, 21). Para penafsir modern yang melihat adanya nuansa seksual dalam persahabatan Daud dan Yonatan yang mendalam dan penuh kasih hanyalah mencerminkan obsesi modern terhadap seksualitas dan bukannya pembacaan teks yang baik dan benar. Persahabatan karib yang alkitabiah senantiasa ditandai oleh komitmen dan kasih perjanjian (Ams. 17:17; 18:24).

1 Samuel 20:18–34. Yonatan menawarkan suatu rencana kepada Daud agar mereka dapat mengenali maksud hati Saul. Rencana ini memungkinkan Yonatan berkomunikasi dengan Daud melalui bidikan anak panah dan seorang pelayan, yang akan menyediakan perlindungan bagi Yonatan jika Saul memang sedang merencanakan kejahatan terhadap Daud (1Sam. 20:18–23). Kontras yang mendalam antara kedua raja ”Mesias” atau ”orang yang diurapi” disoroti dalam ayat 24, di mana Daud bersembunyi di padang sementara ”raja” duduk santap ”makan roti”. Kita dapat membayangkan rasa lapar Daud yang kian menghebat tatkala perjamuan kerajaan itu berlangsung sepanjang hari pertama hingga hari berikutnya. Saul pada awalnya menganggap ketidakhadiran Daud semata-mata karena ia perlu mentahirkan dirinya secara ritual (20:25–27), kemungkinan karena perjamuan-perjamuan semacam itu berkaitan erat dengan korban-korban sehingga ketahiran ritual diwajibkan untuk ikut makan (1Sam. 9:12–13; Im. 7:19–21; 22:3). Karena ketahiran ritual semestinya sudah dapat dipulihkan pada keesokan harinya (Im. 22:1–7), pada hari kedua perjamuan Saul mulai mengajukan pertanyaan mengenai ketidakhadiran Daud, yang dijawab oleh Yonatan sebagaimana yang telah diinstruksikan oleh Daud (1Sam. 20:27–29). Mahalnya harga yang harus dibayar Yonatan demi persahabatan dan komitmennya kepada Daud menjadi nyata tatkala Saul melampiaskan amarahnya yang membabi buta kepada putranya sendiri yang setia itu (20:30–34).

1 Samuel 20:35–42. Pada titik ini Daud telah bersembunyi di padang selama lebih dari dua hari, namun setia pada perkataannya, Yonatan pergi ke padang dan memberikan tanda rahasia yang telah disepakati (20:35–39). Yonatan tampak melangkah ”di luar rencana semula” tatkala ia menyuruh bujangnya (naʿar) membawa senjata-senjatanya kembali ke kota (20:40) dan, setelah tinggal berdua saja, menemui Daud untuk mengucapkan perpisahan yang layak dan memilukan (20:41–42). Karakter penuh kerelaan berkorban dari tindakan-tindakan Yonatan demi Daud sungguh sangat mengagumkan. Sebagaimana yang ditegaskan Saul, Daud adalah ancaman yang sama besarnya bagi kemungkinan Yonatan menjadi raja sebagaimana ia mengancam kedudukan raja Saul, bahkan mungkin jauh lebih mengancam (20:31). Di sini, berduaan saja di padang terbuka, Yonatan dapat dengan mudah membunuh Daud dan ”meneguhkan” kerajaannya sendiri, kendati fakta bahwa ia telah mengirimkan senjata-senjatanya kembali ke kota (20:40) tentu menolong meyakinkan Daud bahwa ia sama sekali tidak memiliki niat jahat. Kendati demikian, dengan menyelamatkan nyawa Daud, Yonatan semakin menegaskan bahwa kerajaannya sendiri akan sirna dan kerajaan Daudlah yang akan diteguhkan, dan ia sebaliknya menyelaraskan dirinya beserta masa depannya (yakni keturunannya) dengan kerajaan Daud (20:42). Dengan cara ini Yonatan menjadi teladan iman bagi kita, yang harus melepaskan klaim kita atas ”kekuasaan/hak berkuasa” duniawi di dalam Adam Pertama (Rm. 5)—suatu kekuasaan yang sedang berlalu (1Yoh. 2:17; 1Kor. 7:31)—dan sebaliknya menundukkan diri kita serta masa depan kita kepada Adam Kedua, yakni Sang Mesias dan Raja Sejati, Yesus Kristus. Sekalipun Ia datang pertama kali dalam kerendahan hati, menjalani kehidupan dalam pelarian sebagaimana Daud di sini (Luk. 9:57–62), Ia memanggil kita untuk mengikut Dia melintasi berbagai ujian dan peziarahan hidup ini, dan baru sesudah itu masuk ke dalam kemuliaan keselamatan yang menanti pada Kedatangan-Nya yang Kedua kali (1Kor. 15:24–28; 2Kor. 4:17–18).

1 Samuel 21:1–9.[^29] ”Pengembaraan padang gurun pola Keluaran” yang dialami Daud pertama-tama membawanya ke arah selatan menuju Nob (1Sam. 21:1), sebuah kota yang terletak di antara Gibea di sebelah utara dan Yerusalem di sebelah selatan.[^30] Ahimelekh tampak cemas tatkala ia menyambut Daud, menemuinya dengan ”gemetar” (kh-r-d; bdk. 1Sam. 13:7; 14:15; 16:4; 28:5). Barangkali ia telah mendengar kabar bahwa Saul sedang memburu Daud, kendati Ahimelekh tentu berhati-hati agar tidak terlalu terburu-buru menghakimi salah seorang panglima raja, sehingga ia sekadar menanyakan mengapa Daud seorang diri (21:1). Pengakuan Daud bahwa ia sedang mengemban tugas rahasia dari raja (21:2) tampaknya merupakan dusta terang-terangan, dan ini bukanlah satu-satunya dosa Daud yang dicatat dalam 1–2 Samuel (bdk. 2Sam. 11, 24). Mereka yang ingin ”membebaskan Daud dari kesalahan” mungkin berupaya menemukan kebenaran dalam kata-kata Daud jika dalam rujukannya yang bermakna ganda mengenai ”raja”, ia mungkin merujuk kepada TUHAN, atau barangkali kepada dirinya sendiri sebagai pemegang hak yang sah atas takhta.

Untuk mengalihkan kekhawatiran Ahimelekh, Daud langsung menuju pokok persoalan—rasa laparnya yang sangat besar setelah bersembunyi selama tiga hari di padang terbuka (1Sam. 21:3–6). Sekalipun bukan seorang imam (Im. 24:5–9), Daud mengambil roti sajian kudus itu dan memakannya dengan cara yang berupaya menaati hukum-hukum ketahiran (1Sam. 21:4–5; bdk. Kel. 19:15), kendati tidak sepenuhnya sesuai dengan aturan mengenai siapa yang semestinya memakan roti tersebut (Im. 21–22). Namun, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yesus di kemudian hari, dalam keadaan darurat seperti itu TUHAN mengizinkan ”roti-Nya” diberikan kepada raja yang diurapi-Nya demi memelihara nyawanya dan menopangnya dalam melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan Allah kepadanya (Mat. 12:1–8; Mrk. 2:23–28; Luk. 6:1–5). Suatu firasat buruk muncul tatkala kehadiran Doeg, orang Edom itu, dicatat berada di Nob (1Sam. 21:7; bdk. 22:9), kendati narasi segera beralih kepada permintaan Daud akan senjata dan penerimaan kembali pedang Goliat, yang kemudian membangun ketegangan naratif dalam adegan berikutnya (21:10–15).

1 Samuel 21:10–15. Dengan bersenjatakan pedang milik warga paling termasyhur dari Gat, yakni Goliat, Daud melangkah ke arah barat menuju kota tersebut (21:10). Sekalipun para pegawai Akhis, raja Gat, tidak mengenali pedang tersebut, mereka mengenali Daud sebagai penumpas orang Filistin yang diabadikan dalam nyanyian populer umat Israel (21:11). Melihat bahwa mereka mengenalinya (21:12–13), Daud memainkan tipu daya yang luar biasa, secara harfiah ”mengubah (sh-n-h) akal budi / tingkah lakunya (taʿam) di depan mata mereka” dan ”berpura-pura gila (h-l-l) di tangan mereka” (21:13–14). Tanggapan Akhis tentu membuat orang Israel kuno tersenyum geli, tatkala sang raja mencerca para pegawainya sendiri sembari menolak mengizinkan Daud masuk ke istananya (21:14–15). Kendati tipu muslihat Daud tampak ”berhasil”, ketika ia menyanyikan peristiwa ini dalam Mazmur 34:5–7, ia memuliakan TUHAN dan mempersembahkan seluruh pujian kepada-Nya atas pelepasannya.

1 Samuel 22:1–5. Setelah luput dari permusuhan di Gat, Daud selanjutnya bergerak sekitar sepuluh mil (16 km) ke arah tenggara menuju ”gua Adulam” (22:1). Di sini, ”pasukan” Daud mulai bertumbuh tatkala ia menarik ke sisinya sekelompok orang yang beraneka ragam berjumlah ”kira-kira empat ratus orang” yang terpinggirkan oleh pemerintahan Saul, termasuk mereka yang berada dalam ”kesukaran / kesesakan”, orang-orang yang ”dikejar-kejar penagih utang”, dan orang-orang yang ”sakit hati / pahit jiwa” (22:2). Keterdesakan situasi Daud, sekaligus hati gembalanya dalam memelihara orang tuanya yang telah lanjut usia, tampak nyata tatkala ia pergi jauh ke arah tenggara melintasi Laut Mati menuju Moab dan menitipkan mereka kepada raja kafir di sana (22:3). Nenek buyut Daud yang adalah perempuan Moab, yakni Rut (Rut 4:8–21), kemungkinan menyediakan jalinan kekeluargaan dengan kerajaan Moab, yang menjelaskan motif di balik langkah khusus Daud ini. Setelah mengantarkan orang tuanya ke tempat yang aman, Daud kembali ke ”kubu gunung / benteng pertahanan” (metsudah; 1Sam. 22:4). Ini dapat merujuk pada Masada di tebing-tebing sebelah barat Laut Mati, atau bisa jadi merupakan sebutan lain untuk gua Adulam, kendati Daud segera berpindah dari sana atas petunjuk TUHAN melalui nabi Gad untuk kembali ke hutan-hutan di Yehuda (22:5).

1 Samuel 22:6–19. Sementara itu, Saul kembali berada di Gibea dan mendengar pergerakan Daud (22:6). Sekali lagi, kita mendapati Saul dalam sikap kemalasan, atau corak kepemimpinan raja yang menindas dan ”memerintah dengan tangan besi atas orang lain”, tatkala ia ”duduk di Gibea di bawah pohon tamariska di bukit (ba-ramah), dengan tombaknya di tangannya” (bdk. 9:2; 10:22). Saul lebih lanjut diperlihatkan semakin dilanda paranoia tatkala ia memaki para pengikutnya dan merengek secara narsistik (22:7–8), kendati Doeg tampak siap membuktikan loyalitasnya dengan melaporkan peristiwa-peristiwa yang disaksikannya di Nob (22:9–10). Saul memamerkan kecongkakannya tatkala ia memanggil Ahimelekh beserta para imam di Nob (22:11) dan dengan nada meremehkan memanggilnya ”anak Ahitub” (22:12). Ia kemudian memutarbalikkan keadilan sebagaimana yang kerap dilakukan oleh penguasa tiran dengan bertindak sebagai penuntut (22:13) sekaligus hakim (22:16) tanpa mempertimbangkan fakta-fakta yang diperdebatkan dalam perkara tersebut (yakni kesaksian Doeg dalam 22:9–10 vs. pembelaan Ahimelekh dalam 22:14–15). Sebagaimana dalam 14:45, rakyat dan para prajurit memiliki kepekaan keadilan yang lebih baik di bawah hukum Allah sehingga mereka menolak perintah Saul yang melanggar hukum (22:17), sehingga ia terpaksa berpaling kepada orang Edom penjilat itu, Doeg, untuk melakukan pembantaian keji terhadap para imam TUHAN (22:18–19).

1 Samuel 22:20–23. Sangat kontras dengan Saul, Daud memperlihatkan integritas dan karakternya yang penuh kebajikan sebagai seorang pemimpin tatkala salah seorang anak Ahimelekh, yakni Abyatar, berhasil meluputkan diri dari pembantaian Doeg dan lari kepada Daud untuk mencari perlindungan (22:20). Daud secara kesatria mengakui kegagalannya dalam melakukan segala yang dapat ia lakukan demi menjaga keselamatan para imam (22:21–22), serta dengan penuh belas kasihan menghibur dan meneguhkan Abyatar dengan perkataan: ”Tinggallah padaku, janganlah takut; sebab siapa yang ingin mencabut nyawamu, ia juga ingin mencabut nyawaku; di dekatku engkau aman (mishmeret, harfiah ’dalam penjagaan’)” (22:23). Betapa indahnya gambaran yang dihadirkan Daud di sini mengenai Sang ”Orang yang Diurapi” / Sang Mesias yang ditunjukkannya—yakni Yesus Kristus—yang menyambut setiap orang yang lari dari kutukan dosa beserta akibat-akibat mautnya (Rm. 6:23) untuk menemukan di dalam diri-Nya seorang Raja-Gembala yang perkasa. Ia telah mengalahkan musuh-musuh terbesar jiwa kita—dosa, Iblis, dan maut—sehingga tatkala kita bersekutu dengan Dia dan Kerajaan-Nya, kita mendapati perlindungan dan keselamatan yang abadi di dalam hadirat-Nya.

1 Samuel 23:1–5. Ketika Daud bersembunyi di ”Hutan Heret” (22:5), ia mendengar kabar bahwa saudara-saudaranya sesama orang Yehuda (Yos. 15:44) di sebelah barat sedang diserang oleh orang Filistin dan tempat-tempat pengirikan gandum mereka dijarah (1Sam. 23:1). Kehila kemungkinan besar merupakan ”kota perbatasan” antara Israel dan orang Filistin, di mana Gat hanya berjarak sekitar dua belas mil (19 km) di sebelah baratnya. Tanggapan anak buah Daud yang membedakan keberadaan mereka di Heret sebagai ”di sini di Yehuda” dengan pergi ”ke Kehila, melawan barisan perang orang Filistin” (23:3) mengindikasikan perambahan wilayah Filistin ke tanah Yehuda, yang diperkirakan menguasai daerah sejauh Kehila di sebelah timur. Hilangnya hasil panen Kehila dari ”tempat-tempat pengirikan” bukan hanya mengancam persediaan makanan penduduk Kehila untuk bulan-bulan mendatang, melainkan juga membahayakan pasokan masa depan mereka karena panen saat ini menyediakan benih untuk penaburan tahun berikutnya. Daud tampak siap pergi menolong saudara-saudara sebangsanya, sekalipun langkah ini akan membawanya kembali ke arah Gat dan langsung berhadapan dengan ”barisan tempur (maʿarkhot) orang Filistin”. Namun tidak seperti Saul, Daud meminta petunjuk TUHAN dua kali demi menepis kekhawatiran orang-orangnya (23:2, 4). Berbekal janji kemenangan dari TUHAN, Daud memimpin penumpasan kilat atas orang Filistin dan menyelamatkan (y-sh-ʿ) penduduk Kehila (23:5).

1 Samuel 23:6–14. Sekali lagi, informasi mengenai tindakan Daud di Kehila sampai ke telinga Saul dengan cepat (23:7; bdk. 19:19; 22:6), dan ia secara lancang menafsirkan providensi Allah dengan berpikir bahwa ”Allah telah menyerahkan (n-k-r) dia ke dalam tanganku” (23:7). Daud, sebaliknya, memiliki sarana untuk mendengar petunjuk TUHAN melalui imam Abyatar yang membawa baju efod (23:6), sehingga ketika Saul mengerahkan pasukan untuk mengepung Daud (23:8), Daud dapat kembali meminta petunjuk TUHAN (23:9) sebagaimana yang telah dilakukannya sebelumnya (23:2, 4). Uraian terperinci mengenai permohonan petunjuk Daud dalam 23:10–12 tampaknya menyiratkan dialog serupa dengan TUHAN melalui imam-Nya pada kesempatan-kesempatan lain (22:10; 30:8; 2Sam. 5:19, 23; bdk. Bil. 27:21), sekalipun kerap dicatat dalam bentuk ringkasan. Jawaban TUHAN bahwa Saul ”akan turun” (1Sam. 23:11) dan bahwa penduduk Kehila ”akan menyerahkan” Daud (23:12) tampak jelas bersifat kondisional berdasarkan keberadaan Daud di Kehila, sehingga ketika Daud pergi, Saul menghentikan pengejarannya (23:13) dan penduduk Kehila kehilangan kesempatan untuk mengkhianati juruselamat mereka. Kendati pasukan Daud kian membesar (kini mencapai 600 orang; 23:14), jumlah itu masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kekuatan militer yang dapat dikerahkan Saul, sehingga kesediaan Kehila untuk berpihak kepada Saul dapat dipahami dari sudut pandang manusiawi. Di pihaknya, Daud beserta pasukannya bergerak ke arah timur sekali lagi menuju ke kubu-kubu pertahanan (metsadot) ”di padang gurun” (bamidbar, yang merupakan judul bahasa Ibrani untuk Kitab Bilangan), ke daerah pegunungan, dan ke padang gurun Zif beberapa mil di sebelah utara Karmel (25:2). Sementara itu, pengejaran Saul yang tak henti-hentinya terus digagalkan oleh pemeliharaan dan perlindungan providensi Allah (23:14).

1 Samuel 23:15–29. Loyalitas Israel kepada Saul dalam perbandingannya dengan Daud yang tercermin dalam kesediaan orang Kehila untuk menyerahkannya, kian diperdalam tatkala orang Zif kini mengkhianati Daud kepada Saul dengan memberitahukan pelarian Daud ke wilayah mereka (23:15, 19–20). Penguatan yang diberikan oleh Yonatan menggambarkan bagaimana TUHAN memelihara orang yang diurapi-Nya dalam pengembaraannya di padang gurun melalui berkat komunitas iman (23:18) yang sanggup meneguhkan kembali umat Allah akan janji-janji-Nya (23:17) dan ”menguatkan kepercayaan [seseorang] kepada Allah” (23:16). Berkat yang diucapkan Saul atas pengkhianatan orang Zif terasa sangat ironis (23:21), mengingat ia sama sekali tidak berada dalam posisi untuk memohonkan berkat TUHAN dan ia bukanlah pihak yang layak menerima ”belas kasihan” (kh-m-l) umat Allah. Saul tampak enggan mengumpulkan pasukan lagi hanya untuk dikecewakan oleh pelarian Daud (23:13), sehingga ia menyuruh orang Zif kembali untuk memastikan tempat persembunyian Daud secara tepat, yang saat itu berada di padang gurun Maon beberapa mil (13 km) di sebelah selatan Hebron (23:22–24). Ketika Saul akhirnya mengejar Daud ke sana (23:25), ”gunung batu / bukit batu” (selaʿ) memainkan peran penting dalam narasi ini, karena bukit batu itu berdiri memisahkan antara Saul dan Daud untuk melindungi Daud (23:26). Kemudian, dalam ketepatan waktu providensi Allah yang sempurna, sebuah kabar ”secara kebetulan” sampai kepada Saul bahwa orang Filistin sedang menyerbu (secara harfiah: ”merampasi/menjarah”, p-sh-t) wilayah Israel di tempat lain (23:27–28). Tatkala perhatian Saul teralihkan dan Daud melarikan diri lebih jauh ke arah timur menuju En-Gedi di pesisir Laut Mati, bukit batu tersebut dinamai ”Gunung Batu Pemisahan” (Sela-Hamaflekod; 23:28). Mengingat penggambaran rutin Daud tentang TUHAN sebagai ”Gunung Batu-ku” (selaʿ; Mzm. 18:3; 31:4; 40:3; 42:10; 71:3; 78:16; 104:18; 137:9; 141:6), perikop ini mencatat pengabadian tempat tersebut sebagai pengingat abadi akan hadirat Allah yang ”memisahkan” (Mzm. 118:22; Yes. 8:14; 28:16; Rm. 9:32–33; 1Ptr. 2:6, 7), yang memelihara umat-Nya secara providensial, dan secara berdaulat menggagalkan rancangan-rancangan jahat musuh-musuh umat-Nya (Mzm. 33:10).

Tiga Pencobaan di Padang Gurun untuk Mengambil Jalan Pintas ke Takhta (24:1–26:25)

²⁴:¹Ketika Saul pulang sesudah memburu orang Filistin itu, diberitahukanlah kepadanya, demikian: "Ketahuilah, Daud ada di padang gurun En-Gedi."

²Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan.

³Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu.

⁴Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: "Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik." Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam.

⁵Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul;

⁶lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN."

⁷Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya.

⁸Kemudian bangunlah Daud, ia keluar dari dalam gua itu dan berseru kepada Saul dari belakang, katanya: "Tuanku raja!" Saul menoleh ke belakang, lalu Daud berlutut dengan mukanya ke tanah dan sujud menyembah.

⁹Lalu berkatalah Daud kepada Saul: "Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu?

¹⁰Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.

¹¹Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku.

¹²TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau;

¹³seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau.

¹⁴Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kaukejar? Anjing mati! Seekor kutu saja!

¹⁵Sebab itu TUHAN kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu."

¹⁶Setelah Daud selesai menyampaikan perkataan itu kepada Saul, berkatalah Saul: "Suaramukah itu, ya anakku Daud?" Sesudah itu dengan suara nyaring menangislah Saul.

¹⁷Katanya kepada Daud: "Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu.

¹⁸Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku.

¹⁹Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat? TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini.

²⁰Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu.

²¹Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku demi TUHAN, bahwa engkau tidak akan melenyapkan keturunanku dan tidak akan menghapuskan namaku dari kaum keluargaku."

²²Lalu bersumpahlah Daud kepada Saul. Kemudian pulanglah Saul ke rumahnya, sedang Daud dan orang-orangnya pergi ke kubu gunung.

²⁵:¹Dan matilah Samuel; seluruh orang Israel berkumpul meratapi dia dan menguburkan dia di rumahnya di Rama. Dan Daud berkemas, lalu pergi ke padang gurun Paran.

²Ketika itu ada seorang laki-laki di Maon, yang mempunyai perusahaan di Karmel. Orang itu sangat kaya: ia mempunyai tiga ribu ekor domba dan seribu ekor kambing. Ia ada di Karmel pada pengguntingan bulu domba-dombanya.

³Nama orang itu Nabal dan nama isterinya Abigail. Perempuan itu bijak dan cantik, tetapi laki-laki itu kasar dan jahat kelakuannya. Ia seorang keturunan Kaleb.

⁴Ketika didengar Daud di padang gurun, bahwa Nabal sedang menggunting bulu domba-dombanya,

⁵maka Daud menyuruh sepuluh orang dan kepada orang-orang itu Daud berkata: "Pergilah ke Karmel dan temuilah Nabal. Tanyakanlah keselamatannya atas namaku

⁶dan sampaikanlah salam ini kepadanya: Selamat! Selamatlah engkau, selamatlah keluargamu, selamatlah segala yang ada padamu.

⁷Baru-baru ini aku mendengar bahwa engkau mengadakan pengguntingan bulu domba. Adapun gembala-gembalamu yang ada dengan kami, tidak kami ganggu dan tidak ada sesuatu yang hilang dari pada mereka selama mereka ada di Karmel.

⁸Tanyakanlah kepada orang-orangmu, mereka tentu akan memberitahukan kepadamu. Sebab itu biarlah orang-orang ini mendapat belas kasihanmu; bukankah kami ini datang pada hari raya? Berikanlah kepada hamba-hambamu ini dan kepada anakmu Daud apa yang ada padamu."

⁹Ketika orang-orang Daud sampai ke sana, berkatalah mereka kepada Nabal atas nama Daud tepat seperti yang dikatakan kepada mereka, kemudian mereka menanti.

¹⁰Tetapi Nabal menjawab anak buah Daud itu, katanya: "Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini ada banyak hamba-hamba yang lari dari tuannya.

¹¹Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?"

¹²Lalu orang-orang Daud itu berbalik pulang dan setelah sampai, mereka memberitahukan kepadanya tepat seperti yang dikatakan kepada mereka.

¹³Kemudian berkatalah Daud kepada orang-orangnya: "Kamu masing-masing, sandanglah pedang!" Lalu mereka masing-masing menyandang pedangnya; Daud sendiripun menyandang pedangnya. Sesudah itu kira-kira empat ratus orang maju mengikuti Daud, sedang dua ratus orang tinggal menjaga barang-barang.

¹⁴Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangnya, katanya: "Ketahuilah, Daud menyuruh orang dari padang gurun untuk memberi salam kepada tuan kita, tetapi ia memaki-maki mereka.

¹⁵Padahal orang-orang itu sangat baik kepada kami; mereka tidak mengganggu kami dan kami tidak kehilangan apa-apa selama kami lalu-lalang di dekat mereka, ketika kami ada di ladang.

¹⁶Mereka seperti pagar tembok sekeliling kami siang malam, selama kami menggembalakan domba-domba di dekat mereka.

¹⁷Oleh sebab itu, pikirkanlah dan pertimbangkanlah apa yang harus kauperbuat, sebab telah diputuskan bahwa celaka akan didatangkan kepada tuan kita dan kepada seisi rumahnya, dan ia seorang yang dursila, sehingga orang tidak dapat berbicara dengan dia."

¹⁸Lalu segeralah Abigail mengambil dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai,

¹⁹lalu berkata kepada bujang-bujangnya: "Berjalanlah mendahului aku; aku segera menyusul kamu." Tetapi Nabal, suaminya, tidaklah diberitahunya.

²⁰Ketika perempuan itu dengan menunggang keledainya, turun dengan terlindung oleh gunung, tampaklah Daud dan orang-orangnya turun ke arahnya, dan perempuan itu bertemu dengan mereka.

²¹Daud tadinya telah berkata: "Sia-sialah aku melindungi segala kepunyaan orang ini di padang gurun, sehingga tidak ada sesuatupun yang hilang dari segala kepunyaannya; ia membalas kebaikanku dengan kejahatan.

²²Beginilah kiranya Allah menghukum Daud, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika kutinggalkan hidup sampai pagi seorang laki-laki sajapun dari semua yang ada padanya."

²³Ketika Abigail melihat Daud, segeralah ia turun dari atas keledainya, lalu sujud menyembah di depan Daud dengan mukanya sampai ke tanah.

²⁴Ia sujud pada kaki Daud serta berkata: "Aku sajalah, ya tuanku, yang menanggung kesalahan itu. Izinkanlah hambamu ini berbicara kepadamu, dan dengarkanlah perkataan hambamu ini.

²⁵Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal, orang yang dursila itu, sebab seperti namanya demikianlah ia: Nabal namanya dan bebal orangnya. Tetapi aku, hambamu ini, tidak melihat orang-orang yang tuanku suruh.

²⁶Oleh sebab itu, tuanku, demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu yang dicegah TUHAN dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan, biarlah menjadi sama seperti Nabal musuhmu dan orang yang bermaksud jahat terhadap tuanku!

²⁷Oleh sebab itu, pemberian yang dibawa kepada tuanku oleh budakmu ini, biarlah diberikan kepada orang-orang yang mengikuti tuanku.

²⁸Ampunilah kiranya kecerobohan hambamu ini, sebab pastilah TUHAN akan membangun bagi tuanku keturunan yang teguh, karena tuanku ini melakukan perang TUHAN dan tidak ada yang jahat terdapat padamu selama hidupmu.

²⁹Jika sekiranya ada seorang bangkit mengejar engkau dan ingin mencabut nyawamu, maka nyawa tuanku akan terbungkus dalam bungkusan tempat orang-orang hidup pada TUHAN, Allahmu, tetapi nyawa para musuhmu akan diumbankan-Nya dari dalam salang umban.

³⁰Apabila TUHAN melakukan kepada tuanku sesuai dengan segala kebaikan yang difirmankan-Nya kepadamu dan menunjuk engkau menjadi raja atas Israel,

³¹maka tak usahlah tuanku bersusah hati dan menyesal karena menumpahkan darah tanpa alasan, dan karena tuanku bertindak sendiri dalam mencari keadilan. Dan apabila TUHAN berbuat baik kepada tuanku, ingatlah kepada hambamu ini."

³²Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: "Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini;

³³terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan.

³⁴Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu--jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing."

³⁵Lalu Daud menerima dari perempuan itu apa yang dibawanya untuk dia, dan berkata kepadanya: "Pulanglah dengan selamat ke rumahmu; lihatlah, aku mendengarkan perkataanmu dan menerima permintaanmu dengan baik."

³⁶Sampailah Abigail kepada Nabal dan tampaklah, Nabal mengadakan perjamuan di rumahnya, seperti perjamuan raja-raja. Nabal riang gembira dan mabuk sekali. Sebab itu tidaklah diceriterakan perempuan itu sepatah katapun kepadanya, sampai fajar menyingsing.

³⁷Tetapi pada waktu pagi, ketika sudah hilang mabuk Nabal itu, diceriterakanlah kepadanya oleh isterinya segala perkara itu. Lalu terhentilah jantungnya dalam dada dan ia membatu.

³⁸Dan kira-kira sepuluh hari sesudah itu TUHAN memukul Nabal, sehingga ia mati.

³⁹Ketika didengar Daud, bahwa Nabal telah mati, berkatalah ia: "Terpujilah TUHAN, yang membela aku dalam perkara penghinaan Nabal terhadap aku dan yang mencegah hamba-Nya dari pada berbuat jahat. TUHAN telah membalikkan kejahatan Nabal ke atas kepalanya sendiri." Kemudian Daud menyuruh orang untuk berbicara dengan Abigail tentang mengambil dia menjadi isterinya.

⁴⁰Para hamba Daud datang kepada Abigail di Karmel dan berkata kepadanya, demikian: "Daud menyuruh kami kepadamu untuk mengambil engkau menjadi isterinya."

⁴¹Lalu bangkitlah perempuan itu berdiri, sujudlah ia menyembah dengan mukanya ke tanah sambil berkata: "Sesungguhnya, hambamu ini ingin menjadi budak yang membasuh kaki para hamba tuanku itu."

⁴²Kemudian berkemaslah Abigail dengan segera; ia menunggang keledainya, dengan diiringi lima orang pelayan perempuan. Ia mengikuti suruhan Daud itu dan menjadi isteri Daud.

⁴³Juga Ahinoam dari Yizreel telah diambil Daud menjadi isterinya; kedua perempuan itu menjadi isterinya.

⁴⁴Tetapi Saul telah memberikan Mikhal, anaknya perempuan, isteri Daud, kepada Palti bin Lais, yang dari Galim itu.

²⁶:¹Datanglah orang Zif kepada Saul di Gibea serta berkata: "Daud menyembunyikan diri di bukit Hakhila di padang belantara."

²Lalu berkemaslah Saul dan turun ke padang gurun Zif dengan tiga ribu orang yang terpilih dari orang Israel untuk mencari Daud di padang gurun Zif.

³Berkemahlah Saul di bukit Hakhila yang di tepi jalan di padang belantara, sedang Daud tinggal di padang gurun. Ketika diketahui Daud, bahwa Saul datang mengikuti dia ke padang gurun,

⁴disuruhnyalah pengintai-pengintai, maka diketahuinyalah, bahwa Saul benar-benar datang.

⁵Berkemaslah Daud, lalu sampai ke tempat Saul berkemah. Waktu Daud melihat tempat Saul berbaring dengan Abner bin Ner, panglima tentaranya, --Saul berbaring di tengah-tengah perkemahan, sedang rakyat berkemah sekelilingnya--

⁶berbicaralah Daud kepada Ahimelekh, orang Het itu, dan kepada Abisai, anak Zeruya, saudara Yoab, katanya: "Siapa turun bersama-sama dengan aku kepada Saul ke tempat perkemahan itu?" Jawab Abisai: "Aku turun bersama-sama dengan engkau."

⁷Datanglah Daud dengan Abisai kepada rakyat itu pada waktu malam, dan tampaklah di sana Saul berbaring tidur di tengah-tengah perkemahan, dengan tombaknya terpancung di tanah pada sebelah kepalanya, sedang Abner dan rakyat itu berbaring sekelilingnya.

⁸Lalu berkatalah Abisai kepada Daud: "Pada hari ini Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, oleh sebab itu izinkanlah kiranya aku menancapkan dia ke tanah dengan tombak ini, dengan satu tikaman saja, tidak usah dia kutancapkan dua kali."

⁹Tetapi kata Daud kepada Abisai: "Jangan musnahkan dia, sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman?"

¹⁰Lagi kata Daud: "Demi TUHAN yang hidup, niscaya TUHAN akan membunuh dia: entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana.

¹¹Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN. Ambillah sekarang tombak yang ada di sebelah kepalanya dan kendi itu, dan marilah kita pergi."

¹²Kemudian Daud mengambil tombak dan kendi itu dari sebelah kepala Saul, lalu mereka pergi. Tidak ada yang melihatnya, tidak ada yang mengetahuinya, tidak ada yang terbangun, sebab sekaliannya tidur, karena TUHAN membuat mereka tidur nyenyak.

¹³Setelah Daud sampai ke seberang, berdirilah ia jauh-jauh di puncak gunung, sehingga ada jarak yang besar antara mereka.

¹⁴Dan berserulah Daud kepada tentara itu dan kepada Abner bin Ner, katanya: "Tidakkah engkau menjawab, Abner?" Maka jawab Abner, katanya: "Siapakah engkau ini yang berseru-seru kepada raja?"

¹⁵Kemudian berkatalah Daud kepada Abner: "Apakah engkau ini bukan laki-laki? Siapakah yang seperti engkau di antara orang Israel? Mengapa engkau tidak mengawal tuanmu raja? Sebab ada seorang dari rakyat yang datang untuk memusnahkan raja, tuanmu itu.

¹⁶Tidak baik hal yang kauperbuat itu. Demi TUHAN yang hidup, kamu ini harus mati, karena kamu tidak mengawal tuanmu, orang yang diurapi TUHAN itu. Sekarang, lihatlah, di mana tombak raja dan kendi yang ada di sebelah kepalanya?"

¹⁷Saul mengenal suara Daud, lalu ia berkata: "Suaramukah itu, anakku Daud?" Jawab Daud: "Suaraku, tuanku raja."

¹⁸Lalu berkatalah ia: "Mengapa pula tuanku mengejar hambanya ini? Apa yang telah kuperbuat? Apakah kejahatan yang melekat pada tanganku?

¹⁹Oleh sebab itu, kiranya tuanku raja mendengarkan perkataan hambanya ini. Jika TUHAN yang membujuk engkau melawan aku, maka biarlah Ia mencium bau korban persembahan; tetapi jika itu anak-anak manusia, terkutuklah mereka di hadapan TUHAN, karena mereka sekarang mengusir aku, sehingga aku tidak mendapat bagian dari pada milik TUHAN, dengan berkata: Pergilah, beribadahlah kepada allah lain.

²⁰Sebab itu, janganlah kiranya darahku tertumpah ke tanah, jauh dari hadapan TUHAN. Sebab raja Israel keluar untuk mencabut nyawaku, seperti orang memburu seekor ayam hutan di gunung-gunung."

²¹Lalu berkatalah Saul: "Aku telah berbuat dosa, pulanglah, anakku Daud, sebab aku tidak akan berbuat jahat lagi kepadamu, karena nyawaku pada hari ini berharga di matamu. Sesungguhnya, perbuatanku itu bodoh dan aku sesat sama sekali."

²²Tetapi Daud menjawab: "Inilah tombak itu, ya tuanku raja! Baiklah salah seorang dari orang-orangmu menyeberang untuk mengambilnya.

²³TUHAN akan membalas kebenaran dan kesetiaan setiap orang, sebab TUHAN menyerahkan engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi TUHAN.

²⁴Dan sesungguhnya, seperti nyawamu pada hari ini berharga di mataku, demikianlah hendaknya nyawaku berharga di mata TUHAN, dan hendaknya Ia melepaskan aku dari segala kesusahan."

²⁵Lalu berkatalah Saul kepada Daud: "Diberkatilah kiranya engkau, anakku Daud. Apa juapun yang kauperbuat, pastilah engkau sanggup melakukannya." Lalu pergilah Daud meneruskan perjalanannya dan pulanglah Saul ke tempatnya.
— 1 Samuel 24:1–26:25 (TB)

Dalam 1 Samuel 24–26, Daud didorong untuk mengembara ”di padang gurun” (bamidbar, yang merupakan nama untuk Kitab Bilangan dalam Alkitab Ibrani) dan menghadapi tiga godaan untuk mengambil jalan pintas menuju takhta dengan menegaskan status rajanya sebelum hal itu dikukuhkan oleh TUHAN. Masing-masing godaan ini berpadanan secara sangat tepat dengan tiga godaan yang dihadapi oleh Sang Raja Sejati ”yang berkenan di hati TUHAN”, yakni Yesus Kristus, sekalipun dalam urutan yang sedikit berbeda (Mat. 4; Luk. 4). Kepada Daud ditawarkan jalan lain menuju takhta dalam pasal 24, sama seperti iblis menawarkan kerajaan kepada Yesus asalkan Ia sujud menyembahnya (Mat. 4:8–9; Luk. 4:5–8). Dalam pasal 25 Daud digoda untuk merampas makanan dengan kekerasan, sebagaimana iblis menantang Yesus untuk mengubah batu-batu menjadi roti (Mat. 4:3–4; Luk. 4:3–4). Dalam pasal 26 Daud hampir tampak menguji komitmen Allah terhadapnya, sama seperti iblis menyarankan agar Yesus ”membuktikan diri-Nya” dengan menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah (Mat. 4:5–7; Luk. 4:9–12). Sebagaimana Juruselamatnya yang akan datang, Daud lulus melewati ujian-ujian ini, kendati bukan karena ketaatan dan kesetiaannya sendiri yang benar terhadap Firman Allah, melainkan melalui campur tangan kedaulatan dan pemeliharaan providensi Allah untuk menjaga karakter Daud dan mematangkannya dalam iman serta ketaatan.

1 Samuel 24:1–7. Dalam pasal ini Daud dituntun melewati godaan untuk mengambil jalan pintas menuju takhta. Bukannya percaya kepada TUHAN dan menantikan waktu-Nya, ia justru mendapati kesempatan untuk menghabisi Saul dan merebut takhta, kendati pada tahap ini tindakan tersebut kemungkinan besar akan memicu perang saudara di Israel dan mencabik-cabik kerajaan yang baru bertunas itu menjadi berkeping-keping. Saat perikop ini dibuka, kelegaan Daud dari perburuan Saul berlangsung singkat, sebab segera setelah menyelesaikan urusan dengan orang Filistin (1Sam. 24:1), Saul mengerahkan pasukan yang berkekuatan 3.000 prajurit terlatih (yakni ”orang yang terpilih dari seluruh orang Israel”; 24:2) menuju padang gurun En-Gedi.[^31] Padang gurun berbatu di pesisir barat Laut Mati ini penuh dengan gua, sehingga memudahkan Daud beserta orang-orangnya untuk tetap bersembunyi (24:3). Hal ini membangun ketegangan dramatis dalam perikop ini tatkala Saul memasuki gua tempat Daud dan orang-orangnya bersembunyi (24:3) untuk ”membuang hajat” (secara harfiah: ”menutupi kakinya”, agaknya karena ketika seseorang berjongkok dengan memakai tunik atau jubah, bagian depan kakinya akan tertutupi). Sebagaimana yang dilakukan Saul sebelumnya (23:7), orang-orang Daud ”menafsirkan providensi” sebagai tindakan Allah menyerahkan Saul kepada Daud untuk ”memperbuat kepadanya apa yang kaupandang baik” (24:4). Tidaklah jelas kapan TUHAN pernah memfirmankan perihal hari tersebut, namun ketika Daud menyelinap mendekati Saul dan memotong punca jubahnya (yang melambangkan jabatan kerajaannya; bdk. 15:27; 18:4), hatinya berdebar-debar karena tertuduh oleh hati nuraninya (24:5), dan dengan cukup bersusah payah ia menahan orang-orangnya agar tidak mencelakai Saul (24:6–7).

1 Samuel 24:8–22. Sebagai teguran terhadap Saul, Daud mengikutinya keluar dari dalam gua (24:8) dan menantangnya dengan penuh rasa hormat (24:9–10). Sembari menunjukkan bukti dari kesempatan yang dimilikinya untuk mencelakai sang raja (24:11), Daud menggugah kehormatan dan harga diri Saul (24:14) serta penghakiman TUHAN yang adil (24:12–13, 15), menyerukan agar Saul menghentikan perburuannya dan memperlakukan Daud dengan adil. Saul tampaknya sungguh-sungguh menyesal dan bertobat (24:16), mengakui kesalahannya (24:17–19) dan bahkan menegaskan janji-janji TUHAN kepada Daud (24:20–21). Daud dengan berbesar hati bersumpah untuk memelihara nama dan keturunan Saul dengan baik di dalam kerajaannya kelak, lalu mereka berpisah. Di sini kita melihat di dalam diri Daud suatu gambaran mengenai Sang Mesias yang akan datang, yang kelak digoda oleh iblis sendiri ”di padang gurun” (Mat. 4:1; Luk. 4:1) untuk mengambil jalan pintas menuju takhta-Nya (Mat. 4:8–10; Luk. 4:5–8), namun yang tetap setia dan ”dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia” (Ibr. 12:2) supaya Ia dapat duduk ”di sebelah kanan takhta Allah”, setelah terlebih dahulu mengalahkan segenap musuh-Nya dan musuh kita serta menuntaskan penebusan kita (1Kor. 15:20–28; Kol. 1:13–14).

1 Samuel 25:1. Sekalipun Samuel tidak lagi menjadi tokoh utama sejak ia memimpin pembentukan institusi monarki Israel dalam penobatan Saul (1Sam. 12) dan pengurapan Daud (1Sam. 16), hubungannya yang berkelanjutan dengan Daud dalam kaitannya dengan Saul (1Sam. 19:18–24) tentu menjadikan kematiannya sebagai kehilangan yang sangat menyedihkan bagi Daud. Catatan singkat mengenai peristiwa ini pada pembukaan pasal 25 dapat menolong menjelaskan ketergesaan Daud untuk melampiaskan amarahnya kepada Nabal (25:13). Karena itu, penyebutan perihal kehilangan sahabat sekaligus mentornya, Samuel, menempatkan ujian dan pencobaan berikutnya ini terjadi dalam konteks dukacita dan kepedihan pribadi yang mendalam, yang semakin meningkatkan intensitas ujian tersebut.

1 Samuel 25:2–8. Seperti bangsa Israel yang mengembara berputar-putar di padang gurun, Daud beserta orang-orangnya kembali menuju ke arah barat daya ke ”padang gurun Paran” (25:1; bdk. Bil. 10:12; 12:16; 13:3, 26) di sebelah tenggara Maon, kota tempat tinggal seorang kaya bernama Nabal (bahasa Ibrani: nabal) dan istrinya yang cantik, Abigail (1Sam. 25:2–3). Karakterisasi yang terperinci mengenai kedua tokoh ini patut diperhatikan, sebab narasi Ibrani cenderung hemat dalam deskripsi kecuali jika hal itu memiliki signifikansi penting bagi jalan cerita. Dalam bahasa Ibrani nabal biasanya berarti ”bebal / bodoh” (25:25), dan catatan bahwa ia adalah seorang keturunan Kaleb (Calebite) dapat menyiratkan bahwa ia ”berperilaku seperti anjing”, sebab kata Ibrani untuk ”Kaleb” (kaleb) terdengar mirip dengan kata untuk ”anjing” (keleb; perhatikan pula deskripsi lebih lanjut tentang dirinya sebagai orang yang ”kasar dan jahat”). Jika nama Nabal mengaitkannya dengan kebebalan, sebaliknya deskripsi Abigail mengaitkannya dengan kecantikan dan akal budi yang baik (sekhel, ”akal budi / kebijaksanaan”; Ams. 13:15; 16:22; 19:11). Acara pengguntingan bulu domba (1Sam. 25:2, 4), sekalipun di satu sisi merupakan masa kerja keras, tampaknya juga berkaitan erat dengan perayaan dan suasana pesta sukacita (Kej. 38:12–19), sehingga permohonan Daud akan tanda ucapan terima kasih dalam 1 Samuel 25:5–8 sangatlah wajar dan sesuai dengan momentum peristiwa tersebut.

1 Samuel 25:9–22. Tanggapan Nabal (25:9–11) merupakan penghinaan yang sangat berat terhadap tata krama dalam latar kebudayaan kehormatan-dan-aib. Sebagaimana yang ditegaskan dalam permohonan Daud, ia sebenarnya dapat dengan mudah merampas apa pun yang diinginkannya bagi dirinya sendiri berdasarkan kekuatannya (pasukannya berkekuatan 600 orang pada saat ini! 23:13; 25:13; 27:2) maupun statusnya sebagai orang yang diurapi TUHAN. Maka dari sudut pandang manusiawi murni, reaksi Daud yang menegakkan bulu kuduk (secara harfiah: ”Sandangkanlah pedangmu masing-masing!”; 25:12–13) dapat dimaklumi. Namun sebagai seorang ”raja yang berkenan di hati TUHAN”, Daud semestinya tidak bertindak berdasarkan ”sudut pandang manusiawi murni”, sebagaimana yang dibuktikan oleh narasi yang terus bergulir. TUHAN campur tangan secara providensial, kali ini dengan menyampaikan kabar mengenai penghinaan tersebut ke telinga Abigail (25:14–17), yang secara diam-diam (25:19, 36) mempersiapkan pemberian yang pantas bagi Daud dan orang-orangnya (25:18) lalu dengan berani keluar menemui Daud (25:20). Secara meresahkan mengingatkan kita pada sumpah gegabah Saul (14:24), sang narator pada titik ini melaporkan bahwa Daud telah mengucapkan sumpah pembalasan yang berlebihan (25:21–22), yang meningkatkan ketegangan naratif dengan memunculkan pertanyaan: ”Akankah ia gagal sebagaimana Saul telah gagal?”

1 Samuel 25:23–44. Akan tetapi, Abigail menjadi penengah dan bersyafaat demi membela Nabal si ”orang dursila / orang yang tidak berguna” (ʾish habbeliyyaʿal) melalui pidatonya yang fasih dan rendah hati (25:23–31), yang dengan segera meyakinkan Daud untuk menempuh jalan yang lebih baik (25:32–35), yakni menyerahkan pembalasan kepada TUHAN (25:36–38; Ul. 32:35; Rm. 12:19; Ibr. 10:30). Hal ini memungkinkan Daud mengambil Abigail menjadi istrinya (1Sam. 25:39–40) tanpa tampak seolah-olah ia telah membunuh suaminya demi merebut dirinya (sebagaimana yang kelak dilakukannya terhadap Batsyeba; 2Sam. 11–12). Mengingat fakta bahwa Abigail dapat memutuskan sendiri untuk menikah dengan Daud (1Sam. 25:41) dan bahwa ia datang kepada Daud didampingi oleh lima orang pelayan perempuan (25:42), ada kemungkinan bahwa seluruh harta milik Nabal telah beralih secara hukum kepada Abigail, yang kemudian membawanya masuk ke dalam kepemilikan Daud melalui ikatan pernikahan. Ini merupakan pemeliharaan dan penyediaan providensial yang sangat penting dari Allah untuk menyediakan kekayaan yang dibutuhkan demi menopang pasukan pengikut Daud yang kian bertambah. Catatan bahwa Daud kini memiliki dua istri (25:43; mengingat Saul telah mengambil kembali Mikhal; 25:44) menimbulkan kekhawatiran jika ditinjau dari petunjuk TUHAN dalam Kitab Ulangan (Ul. 17:17). Namun dalam konteks narasi ini, berkaitan dengan Abigail, Daud mungkin tidak bertindak semata-mata demi kepentingan diri sendiri, melainkan mengingat konteks hukum pada zamannya, ia dengan penuh kemurahan mengambil seorang janda ke bawah perlindungannya sebagaimana yang semestinya dilakukan oleh seorang raja yang baik (Kel. 22:22; Ul. 10:18).

Sama seperti Daud, yang di sini digoda untuk merampas makanan dengan kekerasan melalui cara yang mengancam karakternya sebagai ”raja yang berkenan di hati TUHAN”, Yesus Sang ”Orang yang Diurapi” (yakni ”Sang Kristus”) juga digoda oleh iblis di padang gurun untuk mengubah batu menjadi roti tanpa izin Bapa-Nya (Mat. 4:3–4; Luk. 4:3–4). Namun demikian, Yesus tidak membutuhkan perantara atau pendoa syafaat untuk turun tangan seperti Daud; sebaliknya, Ia dengan setia menjawab menggunakan Firman Allah (Ul. 8:3) dan dengan demikian membuktikan diri-Nya taat secara sempurna ”sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8). Dan melalui kehidupan, kematian, serta kebangkitan-Nya, Yesus menjadi Pengantara dan Pendoa Syafaat bagi orang-orang ”dursila dan tak berharga” seperti yang dilakukan Abigail di sini, yang bertindak sebagai perantara demi umat-Nya. Kendati menurut kodratnya umat-Nya adalah orang-orang yang ”dursila dan tidak berharga” serta menjadi musuh-musuh-Nya di dalam dosa (Ef. 2:1, 2, 12; Kol. 1:21), namun melalui pengantaraan-Nya (1Tim. 2:5; Ibr. 8:6; 9:15; 12:24) dan doa syafaat-Nya (Rm. 8:34; Ibr. 7:25; 1Yoh. 2:1), oleh anugerah melalui iman kita diperdamaikan kembali dengan Bapa (Kol. 1:22–23).

1 Samuel 26:1–12. ”Akhir yang bahagia” dalam 1 Samuel 25 bukanlah akhir dari segala pergumulan, tatkala saudara-saudara sebangsa Daud dari suku Yehuda di Zif mengkhianatinya kepada Saul (26:1). Saul menghimpun kekuatan 3.000 prajurit untuk menumpas Daud beserta 600 pengikutnya (26:2). Kedatangan Saul di wilayah tersebut mempersiapkan godaan padang gurun yang ketiga bagi Daud untuk mengambil jalan pintas menuju takhta (26:3–4). Daud hampir tampak menguji providensi Allah pada titik ini tatkala ia melakukan tindakan yang sangat nekat dan nyaris seperti bunuh diri dengan menyelinap tepat ke pusat perkemahan Saul (26:5–7; bdk. 14:6–15). Sekali lagi, salah seorang anak buah Daud, Abisai, menyarankan untuk ”membaca” providensi Allah dan mendorong Daud untuk mengambil jalan pintas menuju takhta (bdk. 24:4), bahkan menawarkan diri untuk mengeksekusi tindakan itu sendiri (26:8). Dan sekali lagi, Daud lulus melewati ujian ini, kali ini dengan pernyataan iman yang mendalam akan perlindungan dan pemeliharaan providensi Allah (26:9–11), yang kemudian akhirnya diberitahukan oleh sang narator sedang bekerja secara nyata pada saat itu juga melalui tidur nyenyak yang didatangkan TUHAN atas Saul dan para prajuritnya (26:12).

1 Samuel 26:13–25. Tidaklah jelas apa rencana Daud sebelumnya, namun setelah berdiri di dekat Saul yang sedang tertidur nyenyak, Daud dan Abisai hanya mengambil tombaknya (yang melambangkan perlengkapan senjata pelindungnya) dan kendi airnya (yang melambangkan pemeliharaan hidupnya di padang gurun), yang berada di sebelah kepalanya (26:11–12, 16). Dari jarak yang aman (26:13), Daud kemudian berseru untuk membangunkan Abner beserta pasukannya dan membongkar kegagalan mereka dalam melindungi sang raja (26:14–16). Saul pun terbangun dan mengenali suara Daud (26:17), sehingga Daud sekali lagi dapat menegurnya secara langsung atas kecemburuannya yang berdosa (26:18, 20; bdk. 24:9–15) dan bagaimana tindakan Saul itu telah gagal ”menuntun” Daud dalam beribadah dan melayani TUHAN (karena Daud terpaksa melarikan diri dari Tanah Perjanjian tempat Allah hadir di tengah umat-Nya; 26:19). Sekali lagi, Saul tampak bertobat, mengakui dosanya dan menyambut Daud kembali ke hadapannya (26:21), kendati Daud tampaknya tidak memercayai perkataannya (26:22) dan sebaliknya menyerahkan dirinya kepada TUHAN, lalu mereka berpisah ”dengan damai” (26:23–25).

Tatkala kita membandingkan pasal 24 dan 26, yang memiliki banyak kesejajaran, kita melihat Daud bertumbuh dan semakin matang dalam imannya di padang gurun seraya ia terus membayangkan Keturunannya yang lebih besar, yakni Yesus Kristus. Sebagaimana Daud di sini, Yesus dengan penuh keberanian menerobos masuk ke dalam perkemahan orang kuat itu (Luk. 11:14–23), menjadikan kekalahan penguasa dunia ini sebagai tontonan umum (Kol. 2:13–15) tatkala Ia mengalahkan maut beserta sengatnya (yakni ”tombak” Iblis; 1Kor. 15:54–56) dan menghukumnya kepada kebinasaan (Why. 12:9–10).

Tinggalnya Daud di Negeri Filistin dan Pertempuran Terakhir Saul (27:1–31:13)

²⁷:¹Tetapi Daud berpikir dalam hatinya: "Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Jadi tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya."

²Bersiaplah Daud, lalu berjalan ke sana, ia dan keenam ratus orang yang bersama-sama dengan dia itu, kepada Akhis bin Maokh, raja kota Gat.

³Daud dan semua orangnya menetap pada Akhis di Gat, masing-masing dengan rumah tangganya; Daud dengan kedua orang isterinya, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, perempuan Karmel.

⁴Setelah diberitahukan kepada Saul, bahwa Daud telah melarikan diri ke Gat, ia tidak lagi mencarinya.

⁵Berkatalah Daud kepada Akhis: "Jika kiranya aku mendapat belas kasihanmu, biarlah diberikan kepadaku tempat di salah satu kota di tanah datar, supaya aku tinggal di sana. Mengapa hambamu ini tinggal padamu di kota kerajaan ini?"

⁶Maka pada hari itu Akhis memberikan Ziklag kepadanya; itulah sebabnya Ziklag menjadi kepunyaan raja-raja Yehuda sampai sekarang.

⁷Dan lamanya Daud tinggal di daerah orang Filistin adalah satu tahun empat bulan.

⁸Maka Daud dan orang-orangnya bergerak maju dan menyerbu orang Gesur, orang Girzi dan orang Amalek; sebab orang-orang inilah penduduk negeri itu yang membentang dari Telam ke arah Syur sampai tanah Mesir.

⁹Apabila Daud memusnahkan negeri itu, seorangpun tidak dibiarkannya hidup, baik laki-laki maupun perempuan; ia merampas kambing domba, lembu, keledai, unta dan pakaian, kemudian pulanglah ia dan kembali kepada Akhis.

¹⁰Jika Akhis bertanya: "Di mana kamu menyerbu pada hari ini?" maka jawab Daud: "Di Tanah Negeb Yehuda," atau: "Di Tanah Negeb orang Yerahmeel," atau: "Di Tanah Negeb orang Keni."

¹¹Daud tidak membiarkan hidup seorangpun, baik laki-laki maupun perempuan, untuk dibawa ke Gat, sebab pikirnya: "Jangan-jangan mereka mengabarkan tentang kami, dengan berkata: Beginilah dilakukan Daud." Itulah kebiasaannya, selama ia tinggal di daerah orang Filistin.

¹²Tetapi Akhis mempercayai Daud, sebab pikirnya: "Tentulah ia telah membuat diri dibenci di antara orang Israel, bangsanya; ia akan menjadi hambaku sampai selamanya."

²⁸:¹Pada waktu itu orang Filistin mengerahkan tentaranya untuk berperang melawan orang Israel. Lalu berkatalah Akhis kepada Daud: "Ketahuilah baik-baik, bahwa engkau beserta orang-orangmu harus maju berperang bersama-sama dengan aku dalam tentara."

²Jawab Daud kepada Akhis: "Baik, engkau akan tahu, apa yang dapat diperbuat hambamu ini." Lalu Akhis berkata kepada Daud: "Sebab itu aku mengangkat engkau menjadi pengawalku sendiri sampai selamanya."

³Adapun Samuel sudah mati. Seluruh orang Israel sudah meratapi dia dan mereka telah menguburkan dia di Rama, di kotanya. Dan Saul telah menyingkirkan dari dalam negeri para pemanggil arwah dan roh peramal.

⁴Orang Filistin itu berkumpul, lalu bergerak maju, dan berkemah dekat Sunem. Saul mengumpulkan seluruh orang Israel, lalu mereka berkemah di Gilboa.

⁵Ketika Saul melihat tentara Filistin itu, maka takutlah ia dan hatinya sangat gemetar.

⁶Dan Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, baik dengan mimpi, baik dengan Urim, baik dengan perantaraan para nabi.

⁷Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya: "Carilah bagiku seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah; maka aku hendak pergi kepadanya dan meminta petunjuk kepadanya." Para pegawainya menjawab dia: "Di En-Dor ada seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah."

⁸Lalu menyamarlah Saul, ia mengenakan pakaian lain dan pergilah ia dengan dua orang. Ketika mereka pada waktu malam sampai kepada perempuan itu, berkatalah Saul: "Cobalah engkau menenung bagiku dengan perantaraan arwah, dan panggillah supaya muncul kepadaku orang yang akan kusebut kepadamu."

⁹Tetapi perempuan itu menjawabnya: "Tentu engkau mengetahui apa yang diperbuat Saul, bahwa ia telah melenyapkan dari dalam negeri para pemanggil arwah dan roh peramal. Mengapa engkau memasang jerat terhadap nyawaku untuk membunuh aku?"

¹⁰Lalu bersumpahlah Saul kepadanya demi TUHAN, katanya: "Demi TUHAN yang hidup, tidak akan ada kesalahan tertimpa kepadamu karena perkara ini."

¹¹Sesudah itu bertanyalah perempuan itu: "Siapakah yang harus kupanggil supaya muncul kepadamu?" Jawabnya: "Panggillah Samuel supaya muncul kepadaku."

¹²Ketika perempuan itu melihat Samuel, berteriaklah ia dengan suara nyaring. Lalu perempuan itu berkata kepada Saul, demikian: "Mengapa engkau menipu aku? Engkau sendirilah Saul!"

¹³Maka berbicaralah raja kepadanya: "Janganlah takut; tetapi apakah yang kaulihat?" Perempuan itu menjawab Saul: "Aku melihat sesuatu yang ilahi muncul dari dalam bumi."

¹⁴Kemudian bertanyalah ia kepada perempuan itu: "Bagaimana rupanya?" Jawabnya: "Ada seorang tua muncul, berselubungkan jubah." Maka tahulah Saul, bahwa itulah Samuel, lalu berlututlah ia dengan mukanya sampai ke tanah dan sujud menyembah.

¹⁵Sesudah itu berbicaralah Samuel kepada Saul: "Mengapa engkau mengganggu aku dengan memanggil aku muncul?" Kata Saul: "Aku sangat dalam keadaan terjepit: orang Filistin berperang melawan aku, dan Allah telah undur dari padaku. Ia tidak menjawab aku lagi, baik dengan perantaraan nabi maupun dengan mimpi. Sebab itu aku memanggil engkau, supaya engkau memberitahukan kepadaku, apa yang harus kuperbuat."

¹⁶Lalu berbicaralah Samuel: "Mengapa engkau bertanya kepadaku, padahal TUHAN telah undur dari padamu dan telah menjadi musuhmu?

¹⁷TUHAN telah melakukan kepadamu seperti yang difirmankan-Nya dengan perantaraanku, yakni TUHAN telah mengoyakkan kerajaan dari tanganmu dan telah memberikannya kepada orang lain, kepada Daud.

¹⁸Karena engkau tidak mendengarkan suara TUHAN dan tidak melaksanakan murka-Nya yang bernyala-nyala itu atas Amalek, itulah sebabnya TUHAN melakukan hal itu kepadamu pada hari ini.

¹⁹Juga orang Israel bersama-sama dengan engkau akan diserahkan TUHAN ke dalam tangan orang Filistin, dan besok engkau serta anak-anakmu sudah ada bersama-sama dengan daku. Juga tentara Israel akan diserahkan TUHAN ke dalam tangan orang Filistin."

²⁰Pada saat itu juga rebahlah Saul memanjang ke tanah sebab ia sangat ketakutan oleh karena perkataan Samuel itu. Juga tidak ada lagi kekuatannya, karena sehari semalam itu ia tidak makan apa-apa.

²¹Perempuan itu mendekati Saul lalu melihat, bahwa Saul sangat terkejut. Kemudian berkatalah perempuan itu kepadanya: "Lihat, budakmu ini telah mendengarkan permintaanmu; aku telah mempertaruhkan nyawaku dan mendengarkan perkataan yang kaukatakan kepadaku.

²²Oleh sebab itu, kiranya engkaupun mendengarkan permintaan budakmu ini. Izinkanlah aku menyajikan kepadamu sepotong roti; makanlah, supaya ada kekuatanmu, apabila engkau berjalan pula."

²³Tetapi Saul menolak dan berkata: "Aku tidak mau makan." Tetapi ketika para pegawainya serta perempuan itu juga mendesak, maka didengarkannyalah permintaan mereka, lalu bangkitlah ia dari tanah dan duduk di balai-balai.

²⁴Perempuan itu mempunyai seekor anak lembu tambun di rumahnya maka segeralah ia menyembelih itu. Ia mengambil tepung, diremasnya dan dibakarnya menjadi roti yang tidak beragi.

²⁵Dihidangkannyalah semuanya itu ke depan Saul dan ke depan para pegawainya, lalu mereka makan. Kemudian bangkitlah mereka dan pergi pada malam itu juga.

²⁹:¹Orang Filistin mengumpulkan segala tentara mereka ke Afek, sedang orang Israel berkemah dekat mata air yang di Yizreel.

²Maka ketika raja-raja kota orang Filistin berjalan lewat dalam pasukan-pasukan seratus dan seribu, dan ketika juga Daud beserta orang-orangnya berjalan lewat di belakangnya bersama-sama dengan Akhis,

³berkatalah para panglima orang Filistin itu: "Apa gunanya orang-orang Ibrani ini?" Jawab Akhis kepada para panglima orang Filistin itu: "Bukankah dia itu Daud, hamba Saul, raja Israel, yang sudah satu dua tahun bersama-sama dengan aku, tanpa kudapati sesuatupun kesalahan padanya sejak saat ia membelot sampai hari ini?"

⁴Tetapi para panglima orang Filistin itu menjadi marah kepadanya; serta berkata kepadanya: "Suruhlah orang itu pulang, supaya ia kembali ke tempat, yang kautunjukkan kepadanya, dan janganlah ia pergi berperang, bersama-sama dengan kita, supaya jangan ia menjadi lawan kita dalam peperangan. Sebab dengan apakah orang ini dapat menyukakan hati tuannya, kecuali dengan memberi kepala-kepala orang-orang ini?

⁵Bukankah dia ini Daud yang dinyanyikan orang secara berbalas-balasan sambil menari-nari, demikian: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa?"

⁶Lalu Akhis memanggil Daud, dan berkata kepadanya: "Demi TUHAN yang hidup, engkau ini orang jujur dan aku memandang baik, jika engkau keluar masuk bersama-sama dengan aku dalam tentara, sebab aku tidak mendapati sesuatu kejahatan padamu, sejak saat engkau datang kepadaku sampai hari ini; tetapi engkau ini tidak disukai oleh raja-raja kota.

⁷Sebab itu, pulanglah, pergilah dengan selamat dan jangan lakukan apa yang jahat di mata raja-raja kota orang Filistin itu."

⁸Tetapi Daud berkata kepada Akhis: "Apa yang telah kuperbuat? Dan kesalahan apa yang kaudapati pada hambamu ini, sejak saat aku menjadi hamba kepadamu, sampai hari ini, sehingga aku tidak boleh ikut pergi berperang melawan musuh tuanku raja?"

⁹Lalu Akhis menjawab Daud: "Aku tahu, engkau ini memang kusukai seperti utusan Allah. Hanya, para panglima orang Filistin telah berkata: Ia tidak boleh pergi berperang bersama-sama dengan kita.

¹⁰Jadi, bangunlah pagi-pagi beserta orang-orang tuanmu ini yang datang bersama-sama dengan engkau; bangunlah kamu pagi-pagi, segera sesudah hari cukup terang bagimu, dan pergilah."

¹¹Lalu bangunlah Daud dan orang-orangnya pagi-pagi untuk berjalan pulang ke negeri orang Filistin, sedang orang Filistin itu bergerak maju ke Yizreel.

³⁰:¹Ketika Daud serta orang-orangnya sampai ke Ziklag pada hari yang ketiga, orang Amalek telah menyerbu Tanah Negeb dan Ziklag; Ziklag telah dikalahkan oleh mereka dan dibakar habis.

²Perempuan-perempuan dan semua orang yang ada di sana, tua dan muda, telah ditawan mereka, dengan tidak membunuh seorangpun; mereka menggiring sekaliannya, kemudian meneruskan perjalanannya.

³Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke kota itu, tampaklah kota itu terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan.

⁴Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis.

⁵Juga kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu.

⁶Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.

⁷Lalu Daud memberi perintah kepada imam Abyatar bin Ahimelekh: "Bawalah efod itu kepadaku." Maka Abyatar membawa efod itu kepada Daud.

⁸Kemudian bertanyalah Daud kepada TUHAN, katanya: "Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?" Dan Ia berfirman kepadanya: "Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan."

⁹Lalu pergilah Daud beserta keenam ratus orang yang bersama-sama dengan dia, dan sampailah mereka ke sungai Besor. Sementara orang-orang yang mau tinggal di belakang berhenti di sana,

¹⁰maka Daud melanjutkan pengejaran itu beserta empat ratus orang. Dua ratus orang yang terlalu lelah untuk menyeberangi sungai Besor itu, berhenti di sana.

¹¹Kemudian mereka menemui seorang Mesir di padang lalu membawanya kepada Daud. Mereka memberi dia roti, lalu makanlah ia, kemudian mereka memberi dia minum air,

¹²dan memberikan kepadanya sepotong kue ara dan dua buah kue kismis, dan setelah dimakannya, ia segar kembali, sebab ia tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam.

¹³Kemudian bertanyalah Daud kepadanya: "Budak siapakah engkau dan dari manakah engkau?" Jawabnya: "Aku ini seorang pemuda Mesir, budak kepunyaan seorang Amalek. Tuanku meninggalkan aku, karena tiga hari yang lalu aku jatuh sakit.

¹⁴Kami telah menyerbu Tanah Negeb orang Kreti dan daerah Yehuda dan Tanah Negeb Kaleb, dan Ziklag telah kami bakar habis."

¹⁵Daud bertanya kepadanya: "Dapatkah engkau menunjuk jalan kepadaku ke gerombolan itu?" Katanya: "Bersumpahlah kepadaku demi Allah, bahwa engkau tidak akan membunuh aku, dan tidak akan menyerahkan aku ke dalam tangan tuanku itu, maka aku akan menunjuk jalan kepadamu ke gerombolan itu."

¹⁶Ia menunjuk jalan kepada Daud ke sana, dan tampaklah orang-orang itu berpencar-pencar di atas seluruh daerah itu, sambil makan, minum dan mengadakan perayaan karena jarahan yang besar, yang telah dirampas mereka dari tanah orang Filistin dan dari tanah Yehuda.

¹⁷Dan pada keesokan harinya Daud menghancurkan mereka dari pagi-pagi buta sampai matahari terbenam; tidak ada seorangpun dari mereka yang lolos, kecuali empat ratus orang muda yang melarikan diri dengan menunggang unta.

¹⁸Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud.

¹⁹Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali.

²⁰Daud mengambil segala kambing domba dan lembu; semuanya itu digiring mereka di hadapannya, serta berkata: "Inilah jarahan Daud."

²¹Ketika Daud sampai kepada kedua ratus orang yang telah terlalu lelah untuk mengikuti Daud, yang telah dibiarkannya tinggal di dekat sungai Besor, maka keluarlah orang-orang ini menyongsong Daud dan menyongsong rakyat yang bersama-sama dengan dia. Daud mendekati orang-orang itu dan memberi salam kepada mereka.

²²Kemudian mulailah berbicara semua orang jahat dan orang dursila di antara orang-orang, yang ikut pergi bersama-sama dengan Daud itu, katanya: "Karena mereka tidak ikut pergi bersama-sama dengan kita, janganlah kita berikan kepada mereka apa-apa dari jarahan yang kita selamatkan itu, kecuali kepada masing-masing mereka isterinya dan anak-anaknya. Itu boleh mereka bawa, dan biarlah mereka pergi!"

²³Tetapi Daud berkata: "Janganlah kamu, saudara-saudaraku, berbuat demikian, dengan apa yang diberikan TUHAN kepada kita; sebab Ia telah melindungi kita, dan menyerahkan ke dalam tangan kita gerombolan yang menyerang kita.

²⁴Siapa yang mau mendengarkan kamu dalam perkara ini? Sebab, bagian orang yang tinggal di dekat barang-barang adalah sama seperti bagian orang yang pergi berperang; itu akan dibagi sama-sama."

²⁵Dan demikianlah halnya sejak hari itu dan seterusnya; hal itu ditentukannya menjadi ketetapan dan peraturan bagi orang Israel sampai sekarang.

²⁶Ketika Daud sampai ke Ziklag, dikirimnyalah sebagian dari jarahan itu kepada para tua-tua di Yehuda, kepada teman-temannya, dengan pesan: "Inilah pemberian kepadamu dari jarahan yang dirampas dari musuh TUHAN,"

²⁷yakni kepada yang di Betel, kepada yang di Ramot di Tanah Selatan, kepada yang di Yatir,

²⁸kepada yang di Aroer, kepada yang di Sifmot, kepada yang di Estemoa,

²⁹kepada yang di Rakhal, kepada yang di kota-kota orang Yerahmeel, kepada yang di kota-kota orang Keni,

³⁰kepada yang di Horma, kepada yang di Bor-Asan, kepada yang di Atakh,

³¹kepada yang di Hebron dan kepada segala tempat di mana Daud dengan orang-orangnya mengembara.

³¹:¹Sementara itu orang Filistin berperang melawan orang Israel. Orang-orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin dan banyak yang mati terbunuh di pegunungan Gilboa.

²Orang Filistin terus mengejar Saul dan anak-anaknya dan menewaskan Yonatan, Abinadab dan Malkisua, anak-anak Saul.

³Kemudian makin beratlah pertempuran itu bagi Saul; para pemanah menjumpainya, dan melukainya dengan parah.

⁴Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya: "Hunuslah pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang tidak bersunat ini menikam aku dan memperlakukan aku sebagai permainan." Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat segan. Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya.

⁵Ketika pembawa senjatanya melihat, bahwa Saul telah mati, iapun menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, lalu mati bersama-sama dengan Saul.

⁶Jadi Saul, ketiga anaknya dan pembawa senjatanya, dan seluruh tentaranya sama-sama mati pada hari itu.

⁷Ketika dilihat orang-orang Israel, yang di seberang lembah dan yang di seberang sungai Yordan, bahwa tentara Israel telah melarikan diri, dan bahwa Saul serta anak-anaknya sudah mati, maka mereka meninggalkan kota-kota mereka lalu melarikan diri juga; kemudian datanglah orang Filistin dan menetap di sana.

⁸Ketika keesokan harinya orang Filistin datang merampasi orang-orang yang mati terbunuh itu, didapati mereka Saul dan ketiga anaknya tergelimpang di pegunungan Gilboa.

⁹Mereka memancung kepala Saul, merampas senjata-senjatanya dan menyuruh orang berkeliling di negeri orang Filistin untuk menyampaikan kabar itu di kuil berhalanya dan kepada rakyat.

¹⁰Kemudian mereka menaruh senjata-senjata Saul di kuil Asytoret, dan mayatnya dipakukan mereka di tembok kota Bet-Sean.

¹¹Ketika penduduk Yabesh-Gilead mendengar tentang apa yang telah dilakukan orang Filistin kepada Saul,

¹²maka bersiaplah segenap orang gagah perkasa, mereka berjalan terus semalam-malaman, lalu mengambil mayat Saul dan mayat anak-anaknya dari tembok kota Bet-Sean. Kemudian pulanglah mereka ke Yabesh dan membakar mayat-mayat itu di sana.

¹³Mereka mengambil tulang-tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh. Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya.
— 1 Samuel 27:1–31:13 (TB)

Pengembaraan dan tinggalnya Daud di wilayah Filistin ini menggemakan arah sekaligus karakter pengembaraan Israel ke Mesir serta perjalanan tabut perjanjian pada bagian awal Kitab 1 Samuel (ps. 4–7). Dan seperti Keturunannya yang lebih besar, Yesus Kristus, yang juga harus menyingkir ke Mesir (Mat. 2), kepergian Daud membuat Saul akhirnya menghentikan pengejarannya (1Sam. 27:4).

1 Samuel 27:1–28:2. Menyusul langsung tindakan imannya yang berani dan penuh keyakinan akan perlindungan Allah tatkala menyusup ke dalam perkemahan Saul di pasal 26, sebagaimana kerap terjadi dalam kehidupan umat Allah, iman Daud tampak goyah (27:1) dan ia kembali melarikan diri ke arah barat menuju Gat (27:2). Tampaknya, Raja Akhis tidak lagi mempersoalkan kepura-puraan gila Daud sebelumnya (mungkin karena kini ia membawa pasukan berkekuatan 600 orang? 21:10–15), dan ia mengizinkan Daud, istri-istrinya, serta orang-orangnya beserta istri mereka untuk menetap di negerinya selama lebih dari satu tahun (27:7), kendati tidak di kota kediaman Akhis sendiri (27:3–6). Sama seperti tabut perjanjian sebelum dirinya (1Sam. 5), masa tinggal Daud di antara orang Filistin dimanfaatkan dengan baik untuk menjarah mereka serta menyatakan kuasa dan penghakiman TUHAN kepada mereka. Pertama-tama, Akhis memberikan Ziklag kepada Daud, sehingga tanpa perlu bertempur, Daud mulai memperluas wilayah Israel ke kawasan barat daya Filistin (27:6). Kemudian, Daud dan orang-orangnya menjadikan Ziklag sebagai pangkalan utama untuk melancarkan serbuan penjarahan (secara harfiah: ”menelanjangi / merampasi”; pashaṭ) ke arah barat daya terhadap ”orang Gesur, orang Girzi, dan orang Amalek” (27:8). Dalam semua serbuan ini, Daud tampaknya menerapkan hukum perang penumpasan (herem; lihat catatan atas 15:1–2 sebelumnya), kendati ia menyelamatkan barang rampasan selain manusia (27:9; bdk. Ul. 20:10–18).

Oleh karena orang-orang ini tinggal di negeri itu dan telah ditetapkan oleh TUHAN untuk dimusnahkan (mengenai orang Gesur lihat Yos. 13:1–13; mengenai orang Girzi lihat Yos. 16:5–10; mengenai orang Amalek lihat 1Sam. 15), tampak bahwa Daud di sini tidak sepenuhnya menaati hukum-hukum TUHAN secara sempurna tatkala membiarkan orang-orangnya mengambil barang jarahan. Ia juga tampak berdusta kepada Akhis ketika ditanya mengenai lokasi serbuannya (27:10–12). Sekalipun sang narator tidak secara terbuka mengecam tindakan-tindakan ini, seiring berjalannya narasi, tipu muslihat Daud menempatkannya dalam dilema yang sangat pelik dalam pertempuran Israel melawan orang Filistin (ps. 29) serta mengakibatkan tertawannya keluarga Daud dan keluarga orang-orangnya (ps. 30)—semua konsekuensi yang pada akhirnya hanya dapat diselesaikan melalui berkat anugerah dan pemeliharaan providensi TUHAN semata. Ketegangan naratif yang dipicu oleh tindakan Daud ini diperkenalkan dalam 28:1–2 tatkala, menjelang akhir masa tinggal Daud di Filistin, orang Filistin mengerahkan pasukan untuk berperang melawan Israel, dan Akhis memberitahukan (bukan ”meminta” atau ”mengundang”) Daud bahwa ia dan orang-orangnya harus maju berperang bersamanya (28:1). Tanggapan Daud yang bersifat ambigu (”Baik, engkau akan tahu, apa yang dapat diperbuat hambamu ini”; 28:2) membuat Akhis menaruh kepercayaan penuh kepada Daud, sekaligus mengarahkan pembaca untuk bertanya-tanya apakah dan bagaimanakah Daud akan sanggup meloloskan diri dari jerat lubang tipu muslihat yang dalam ini.

1 Samuel 28:3–14. Sementara iman Daud yang goyah membawanya pada perilaku yang paling banter dapat dipertanyakan (27:8–12), sebaliknya Saul melakukan tindakan ketidaktaatan dan ketidakpercayaan yang terang-terangan dalam 28:3–25. Pengingatan akan kematian Samuel (28:3) menyajikan informasi latar yang sangat penting bagi peristiwa selanjutnya (28:11–20). Keberdosaan Saul yang nyata dan lancang dalam perikop ini langsung ditegaskan sejak awal tatkala sang narator melaporkan tindakan Saul yang sebelumnya telah menyingkirkan para pemanggil arwah dan peramal dari negeri itu (28:3) sebagai ketaatan terhadap perintah-perintah TUHAN (Kel. 22:18; Im. 19:31; 20:27; Ul. 18:10, 11). Saul memandang dengan penuh ketakutan tatkala orang Filistin berkumpul di Sunem (1Sam. 28:4–5), tepat di tengah-tengah Lembah Yizreel, yang secara efektif memisahkan suku-suku Israel bagian utara dari bagian selatan (serta dari pusat pemerintahan Saul di Gibea). Kendati Saul dengan penuh keputusasaan bertanya kepada TUHAN, ia tidak menerima petunjuk apa pun (28:6), sehingga secara mengejutkan ia menuntut para pegawainya untuk mencarikannya seorang pemanggil arwah (secara harfiah: ”seorang perempuan pemilik arwah”; ʾesheth baʿalath-ʾov; 28:7). Para pegawainya tampaknya tidak perlu mencari terlalu jauh dan segera memberitahukan keberadaan seorang perempuan semacam itu di En-Dor di sisi utara Lembah Yizreel, persis berseberangan dengan posisi Saul di Gunung Gilboa di sebelah selatan. Agaknya, pasukan Filistin berada di lembah antara posisi Saul dan En-Dor, sehingga perjalanan menuju ke sana merupakan ikhtiar yang amat berbahaya. Bahaya ini tampak nyata dari keharusan Saul untuk menyamar dan berjalan menemui perempuan pemanggil arwah itu di tengah kegelapan malam (28:8). Saul menambahkan dusta dan sumpah palsu (28:10) ke atas dosanya yang meminta petunjuk dari pemanggil arwah, tatkala perempuan itu ragu-ragu melayaninya karena takut akan ancaman hukuman raja (28:9). Karena suatu alasan, perempuan itu merasa diyakinkan oleh sumpah Saul (28:11), namun kemudian mengenali identitas Saul setelah ia melihat Samuel (28:12). Mungkin Samuel mengidentifikasi Saul dengan suatu cara tertentu, atau mungkin perempuan itu tidak terbiasa melihat praktik ”pemanggilan arwah”-nya benar-benar ”berhasil”. Terlepas dari hal tersebut, Saul (yang di sini disebut sebagai ”raja”, agaknya untuk menyoroti kegagalannya menjadi raja sejati bagi Israel) menenangkannya dan memohon dengan sangat untuk mengetahui apa yang sedang dilihatnya (28:13). Mendengar deskripsi penglihatannya mengenai ”sosok ilahi muncul dari dalam bumi” dan ”seorang tua muncul ... berselubungkan jubah”, Saul hampir tampak ”sujud menyembah” Samuel (28:14).

1 Samuel 28:15–25. Di pihaknya, Samuel tampak terganggu karena ”dikagetkan” dan ditarik kembali ke negeri orang hidup (28:15); ia sama sekali tidak menunjukkan simpati terhadap keputusasaan Saul yang menyedihkan, melainkan mengulangi kembali ketetapan penghakiman atasnya dan menubuatkan kejatuhan serta kematiannya pada keesokan harinya (28:16–19). Terkadang, memperoleh lebih banyak informasi bukanlah berkat sebagaimana yang kerap kita duga. Kita melihat hal ini dalam diri Saul, yang hancur luluh seutuhnya oleh firman tersebut (28:20), kendati orang mungkin bertanya-tanya, ”Apa sesungguhnya yang ia harapkan?” Saul di sini menjadi gambaran nyata dari kemurtadan, tatkala narasi yang bermula dalam kegelapan malam (28:3) ini berakhir dalam keputusasaan yang bahkan jauh lebih pekat, dengan Saul menundukkan dirinya pada bujukan dan perintah seorang perempuan pemanggil arwah (28:21–23). Perempuan itu menyajikan baginya perjamuan sakral (pagan) terakhir sebelum ia berangkat dengan perut kenyang menyongsong kematian akhirnya (28:25).

Kabar baik Injil berdiri dalam kontras yang amat mencolok dengan pasal ini, tatkala Raja kita yang baik memasuki malam gelap gulita jiwa yang serupa—bukan karena Ia layak menerimanya akibat dosa-Nya dan bukan pula karena Ia mencari pengetahuan terlarang, melainkan karena itulah yang selayaknya diterima oleh umat-Nya yang berdosa. Selepas merayakan perjamuan sakral terakhir-Nya (yang sungguh-sungguh kudus) tatkala menetapkan Perjamuan Kudus bersama para murid-Nya (Mat. 26:26–30; Mrk. 14:22–25; Luk. 22:18–20; 1Kor. 11:23–25), Ia melangkah keluar menembus kegelapan malam untuk menyongsong kematian-Nya dalam pertempuran, bukan melawan tentara manusia melainkan melawan segenap laskar neraka. Tidak seperti Saul, Ia tidak mati di dalam dosa-Nya sendiri, melainkan ”terputus dari negeri orang-orang hidup” oleh karena pemberontakan umat-Nya (Yes. 53:8) serta demi menanggung penyakit kita, memikul kesengsaraan kita, dan diremukkan oleh karena kejahatan kita (Yes. 53:4–5). Namun tidak seperti Saul, fajar merekah pada hari yang ketiga selepas kematian-Nya, bukan dengan tubuh-Nya tergelimpang tak bernyawa di medan pertempuran (1Sam. 31:8), melainkan dengan diri-Nya mengalahkan segenap musuh-Nya dan musuh kita, bahkan maut itu sendiri, melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati (Yoh. 20; 1Kor. 15). Oleh karena itu, umat-Nya tidak lagi membutuhkan para peramal dan pemanggil arwah untuk berkomunikasi dengan Sang Nabi Sejati ”dari balik kubur” guna memperoleh petunjuk TUHAN; sebaliknya, kita dapat melakukannya kapan pun kita rindu tatkala kita bersekutu dengan Kristus yang telah bangkit melalui Firman-Nya, sakramen-sakramen, dan doa (Katekismus Singkat Westminster No. 88).

1 Samuel 29:1–11. Narasi kini berputar kembali ke masa sebelum malam nahas Saul yang dikisahkan dalam 1 Samuel 28. Orang Filistin belum mencapai Sunem (1Sam. 28:4), melainkan sedang menghimpun kekuatan di Afek (29:1) di dataran pesisir sebelah barat Israel sebelum bergerak masuk ke Lembah Yizreel. Daud telah berbaris maju dari Gat bersama Akhis dan menghadapi buah simalakama yang pelik—apakah ia akan bergabung dengan orang Filistin dan berperang melawan umat TUHAN, yakni Israel, ataukah ia akan berbalik menyerang orang Filistin sehingga kehilangan perlindungan dari Akhis sekaligus harus berhadapan dengan Saul? Pada titik inilah TUHAN campur tangan membebaskannya dari dilema yang dibuatnya sendiri, tatkala para panglima Filistin melihat dirinya beserta pasukannya dan menyuarakan kekhawatiran besar (29:2–5). Kendati Akhis membela Daud (29:3), ia terpaksa menyuruh Daud dan orang-orangnya kembali ke Ziklag (29:7–10), sementara Daud sendiri mengajukan protes membela ketidakbersalahannya (29:8), agaknya demi mempertahankan sandiwaranya. Maka, keesokan paginya mendapati Daud beserta orang-orangnya berjalan kembali ke arah selatan menuju Ziklag, sementara orang Filistin bergerak maju ke Lembah Yizreel, tempat di mana pada malam berikutnya Saul akan menyamar untuk menyelinap menemui perempuan pemanggil arwah (28:4–8).

1 Samuel 30:1–15. Namun demikian, kesulitan bagi Daud dan orang-orangnya masih jauh dari selesai, sebagaimana yang segera mereka sadari tatkala mereka tiba kembali di Ziklag ”pada hari yang ketiga” (30:1). Setelah menempuh perjalanan yang sangat cepat sejauh kurang lebih 97 km (60 mil) dalam tiga hari (hampir sebanding dengan jarak maraton setiap harinya lengkap dengan senjata dan perlengkapan!), mereka tiba di Ziklag dalam keadaan letih lesu akibat perjalanan berat itu, hanya untuk disambut oleh kengerian pemandangan Ziklag yang telah dibakar habis dan dijarah secara mutlak (secara harfiah: ”ditelanjangi / dirampasi”; pashaṭ) baik penduduk maupun seluruh harta bendanya (30:1–3, 5). Tidaklah mengherankan bila tanggapan pertama mereka adalah nyaris hancur luluh oleh kedukaan yang melelahkan (30:4), disusul oleh kemarahan meluap yang diarahkan kepada pemimpin mereka, Daud, yang telah membawa mereka ke dalam kekacauan ini (30:6)[^32]. Pada titik inilah Daud memulihkan imannya, sebagaimana teks Kitab Suci secara eksplisit menyatakan bahwa ia ”menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya” (30:6; bdk. 23:16). Sementara Saul dibiarkan tanpa sarana apa pun untuk meminta petunjuk TUHAN (28:6), Daud memiliki Abyatar beserta efod, sehingga ia bertanya kepada TUHAN mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya (30:7–8) dan segera taat melangkah. Namun keletihan akibat gerak cepat tiga hari menuju Ziklag tampak tak terelakkan, tatkala 200 orang hanya sanggup bertahan menempuh sekitar 19 km (12 mil) dalam perjalanan ke arah selatan, lalu berhenti di dekat sungai Besor (30:9–10). Selepas menyeberang, campur tangan pemeliharaan providensi Allah menjadi sangat nyata tatkala di padang gurun terbuka di sebelah selatan Sungai Besor mereka secara kebetulan mendapati seorang Mesir yang dibiarkan tergeletak hampir mati (30:11–12). Begitu dipulihkan kekuatannya, orang tersebut ”kebetulan” adalah seorang budak dari gerombolan penjarah Amalek yang sedang dikejar Daud (30:13–14), dan sebagai imbalan atas jaminan perlindungan Daud, budak itu bersedia menuntun Daud menemui gerombolan tersebut (30:15).

1 Samuel 30:16–31. Daud beserta orang-orangnya mendapati orang-orang Amalek sedang berpesta pora merayakan kemenangan mereka (30:16) dan langsung menyerang pada petang itu juga, bertempur ”sejak senja sampai petang keesokan harinya” (30:17, menurut terjemahan ESV).[^33] Oleh pertolongan anugerah TUHAN, kehancuran orang Amalek terjadi secara mutlak (30:18) sehingga Daud dan orang-orangnya tidak kehilangan apa pun (30:19), bahkan memperoleh kelimpahan harta milik jarahan tambahan (30:20). Orang dapat memahami sentimen dan keberatan dari ke-400 orang yang maju berperang bersama Daud terhadap ke-200 orang yang tinggal di belakang (30:21–22), namun Daud tampil di sini dengan karakter rajawi yang kian matang tatkala menegakkan keadilan, kasih persaudaraan, serta memimpin dalam ucapan syukur yang semestinya dan pengakuan akan anugerah TUHAN (30:23–25). Lebih jauh lagi, secara diplomatis Daud mulai memikat kesetiaan saudara-saudara sebangsanya dari suku Yehuda dengan mengirimkan bagian dari barang jarahan kepada para tua-tua mereka (30:26–30).

Sekalipun kesulitan yang dialami Daud dalam perikop ini sebagian bersumber dari kesalahannya sendiri, dalam kepemimpinannya menuntun orang-orangnya melewati masa sukar tersebut menuju kemenangan gilang-gemilang yang berlimpah barang jarahan, ia mengarahkan pandangan pembaca kepada Sang Raja Mesias yang akan datang. Yesus Kristus juga dengan penuh keberanian memimpin umat-Nya ke medan pertempuran—bukan melawan bangsa Amalek, melainkan melawan Iblis, dosa, dan maut—meraih kemenangan mutlak, menjarah musuh-musuh-Nya, dan membawa ”tawanan-tawanan” dalam arak-arakan kemenangan-Nya tatkala Ia menerima serta mengaruniakan pemberian-pemberian kepada manusia (Mzm. 68:19; Ef. 4:1–16).

1 Samuel 31:1–7. Hari terakhir dan kematian Saul di medan pertempuran pada akhirnya dituturkan dalam beberapa ayat naratif yang singkat dan padat (1Sam. 31:1–2). Sama seperti pemeliharaan providensi kedaulatan Allah menyertai Daud untuk meluputkannya bahkan dari konsekuensi perilakunya yang meragukan dalam pasal 29–30, di sini providensi Allah berbalik menentang Saul tatkala para pemanah ”menjumpainya” dan ia terluka parah serta amat gemetar ketakutan karena mereka (31:3). Saul khawatir mengenai bagaimana ia akan diperlakukan sebagai raja musuh yang tertawan (mungkin mengingat kembali apa yang dahulu hendak dilakukannya terhadap raja Amalek, Agag; 1Sam. 15:9, 32–33), sehingga ia memohon kepada pembawa senjatanya untuk menghabisinya (31:4). Akan tetapi, pelayan Saul tersebut tampaknya memiliki keengganan yang serupa dengan Daud untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN dan menolak membunuh Saul, sehingga Saul akhirnya menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya sendiri dan mati bunuh diri (31:4). Melihat situasi tanpa harapan tersebut, pembawa senjatanya mengikuti langkahnya (31:5), dan kekalahan telak dalam pertempuran itu dikisahkan meluas hingga menjangkau ke seberang Sungai Yordan di sebelah timur (31:6–7).

1 Samuel 31:8–13. Ayat-ayat penutup Kitab 1 Samuel mengisahkan hari sesudah kemenangan orang Filistin tatkala mereka merampasi (secara harfiah: ”menelanjangi”; pashaṭ) mayat orang-orang yang tewas di medan perang dan menjumpai jenazah Saul beserta ketiga anaknya di Pegunungan Gilboa (31:8). Tampaknya ketakutan Saul beralasan (31:4), tatkala orang Filistin merusak jenazahnya, memenggal kepalanya, merampasi (pashaṭ) senjata-senjatanya, serta menyebarkan ”injil” atau ”kabar baik” mengenai kekalahan Saul ke kuil berhala mereka dan kepada rakyat (31:9). Mereka menaruh persenjataannya sebagai trofi bagi berhala-berhala mereka, dan mayatnya dipakukan di tembok sebagai tontonan umum bagi khalayak ramai dan burung-burung (31:10). Namun dalam tindakan kasih dan pengabdian yang penuh keberanian serta rasa terima kasih, penduduk Yabesh-Gilead (31:11)—yang tampaknya mengingat kembali pertolongan Saul pada masa awal pemerintahannya tatkala menyelamatkan mereka dari Raja Nahas (1Sam. 11)—mengambil jenazah Saul dan anak-anaknya (31:12) demi memberikan penguburan yang layak dan terhormat (31:13).

Betapa kontras yang amat mencolok tampak pada diri Saul, bukan hanya bila dibandingkan dengan Daud yang kian bertumbuh menjadi raja yang lebih saleh ”yang berkenan di hati TUHAN”, melainkan terlebih lagi bila dibandingkan dengan Yesus Kristus, yang pemerintahan-Nya tidak berakhir sebagaimana pemerintahan setiap raja duniawi lainnya—yakni di dalam kekalahan maut! Sebaliknya, selepas mengalami kematian yang sama sekali tidak layak diterima-Nya, digantung sebagai tontonan di atas salib Romawi, dan jenazah-Nya diturunkan dengan penuh kasih untuk dibaringkan di dalam kubur (Mat. 27:57–61) serupa dengan Saul, Ia bangkit kembali pada hari yang ketiga guna membuktikan bahwa Ia telah mengalahkan dosa kita dan maut itu sendiri untuk selama-lamanya (Kis. 2:24; 2Tim. 1:10; Why. 1:18)! Maka kini Sang Raja Sejati dari Israel Sejati (umat Allah melalui iman) memerintah selama-lamanya atas kerajaan-Nya dan kelak akan datang kembali untuk menghakimi seluruh dunia, menegakkan kerajaan damai-Nya di langit yang baru dan bumi yang baru.


Kesimpulan Kitab 1 Samuel

Sekalipun 1–2 Samuel merupakan satu karya utuh, keduanya kemungkinan besar selalu hadir dalam dua jilid terpisah sejak semula (yakni mulanya berupa dua gulungan kitab; lihat Pengantar). Karena itu, tatkala kita mencapai akhir Kitab 1 Samuel, kita sesungguhnya baru berada di tengah-tengah kisah yang lebih besar ini. Kendati demikian, pembagian kisah pada titik ini kemungkinan memiliki akar sejarah kuno dan merupakan titik pemisah yang sangat wajar mengingat bagian ini menandai kematian Saul, raja pertama Israel. Hal ini memungkinkan kita untuk menengok kembali seluruh Kitab 1 Samuel dan merenungkan pesan keseluruhannya. Dengan melakukan hal tersebut, kita melihat bahwa kitab ini berfokus pada kepemimpinan di Israel pada masa peralihan dari zaman hakim-hakim menuju pembentukan monarki Israel di bawah raja-raja manusia. Di sepanjang masa transisi ini, kita melihat bahwa kepemimpinan di dalam Kerajaan Allah haruslah sangat berbeda dari kepemimpinan di dalam dunia yang tidak percaya (yakni monarki ”sama seperti segala bangsa-bangsa lain”; 1Sam. 8:5, 20). Sebagai hakim terakhir (1Sam. 7:6, 15–16), Samuel secara keseluruhan berfungsi sebagai teladan kepemimpinan yang baik, yang dalam tingkat tertentu menjadi hakim yang unggul. Kendati demikian, ia juga memperlihatkan kelemahan dan kegagalan yang menyertai para pemimpin manusia yang berdosa, tatkala sama seperti anak-anak Eli, anak-anak Samuel gagal mengikuti jejaknya dan hidup dalam kebobrokan moral yang sangat kontras dengan ayah mereka (1Sam. 2:12–36; 8:1–3). Sebagai tokoh penutup dari zaman hakim-hakim tatkala ”tidak ada raja di antara orang Israel” dan ”setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hak. 21:25), karakter Samuel yang patut diteladani tampak menegaskan kebutuhan mendesak akan seorang raja, mengingat kegagalan menyeluruh dari bangsa Israel untuk setia mengikuti kepemimpinan TUHAN melalui para hakim-Nya.

Namun demikian, tatkala TUHAN mengabulkan tuntutan Israel akan seorang raja ”sama seperti segala bangsa-bangsa lain” (1Sam. 8:5, 20) dengan mengurapi Saul, kita belajar bahwa bukanlah semata-mata institusi kerajaan yang dibutuhkan oleh umat Allah (sebagaimana telah terbukti pada zaman para hakim), melainkan suatu sosok raja dengan karakter tertentu (yakni ”seorang yang berkenan di hati TUHAN”; 1Sam. 13:14). Sosok ini kita lihat diteladankan di dalam diri Daud, yang mengawali perjalanannya sebagai raja yang diurapi (mashiakh), membuktikan keberanian serta imannya untuk memimpin umat Allah dalam pertempuran kemenangan (1Sam. 17), namun kemudian dianiaya oleh pemimpin tandingan umat Allah yang telah ditolak. Dengan demikian, kita mulai memahami bahwa raja yang kita butuhkan harus menempuh jalan penderitaan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kemuliaan (Luk. 24:26; 1Ptr. 1:11). Melalui penderitaannya, hamba sang raja kepunyaan TUHAN ini menyatakan keberanian, iman, dan ketaatan yang setia, bahkan terhadap otoritas manusiawi yang berdosa dan ditolak dalam kehidupannya.

Kini dengan kematian Saul pada akhir Kitab 1 Samuel, kita bersiap menyongsong transisi agung dalam kenaikan takhta Raja Daud yang dikasihi atas seluruh Israel. Ia telah banyak menderita di tangan orang-orang fasik, namun tatkala kita beralih ke Kitab 2 Samuel, kita siap menyaksikan ”kemuliaan-kemuliaan” yang akan mengikuti penderitaan orang yang diurapi (mashiakh) TUHAN ini, yang melaluinya umat Allah belajar untuk merindukan Sang Raja Gembala Juruselamat, Anak Daud (Mat. 1:1; Luk. 1:32–33; Rm. 1:3; 2Tim. 2:8; Why. 22:16), yang lahir di Betlehem (Yoh. 7:42), kota Daud, dan dinamai Yesus Kristus atau Yesus Sang Mesias / Orang yang Diurapi (bahasa Ibrani: mashiakh atau bahasa Yunani: christos).


Kepustakaan (Bibliography)

  • Davis, Dale Ralph. 1 Samuel: Looking on the Heart. Focus on the Bible. Fearn, Ross-shire, Great Britain: Christian Focus, 2010.
  • ———. 2 Samuel: Out of Every Adversity. Focus on the Bible. Fearn, Ross-shire, Great Britain: Christian Focus, 2013.
  • Long, V. Phillips. 1 and 2 Samuel. Tyndale Old Testament Commentaries 8. Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2020.
  • Mackay, John L. “1–2 Samuel,” dalam 1 Samuel–2 Chronicles, 19–490. ESV Expository Commentary 3. Disunting oleh Iain Duguid, James Hamilton, dan Jay Sklar. Wheaton, IL: Crossway, 2019.
  • Vannoy, J. Robert. 1–2 Samuel. Cornerstone Biblical Commentary 4a. Carol Stream, IL: Tyndale House, 2009.

[^1]: Sekalipun bentuk verbalnya ambigu, berdasarkan urutan kata, ”berkat” keimaman dalam 1:17 kemungkinan besar seharusnya dibaca bukan sebagai ”harapan baik” (”kiranya Allah Israel memberikan kepadamu apa yang engkau minta”), melainkan sebagai sebuah janji (”Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta daripada-Nya”).

[^2]: Di sepanjang ayat-ayat ini, pengulangan kata Ibrani untuk ”meminta” (sh-ʾ-l dalam 1:17, 20) dan tindakan TUHAN ”memberi” (natan dalam 1:11 [2x], 16, 17, 27) dapat berfungsi sebagai bayang-bayang sastra bagi Saul (shaʾul, ”orang yang diminta”) dan Yonatan (Yonatan, ”TUHAN telah memberi”; Long, 42–43). Yang cukup menarik, kendati Hana mendasarkan penamaan Samuel pada fakta bahwa ”Aku telah memintanya (shaʾalti) daripada TUHAN,” namanya (Shemuʾel) terdengar seperti ”Allah telah mendengar” namun berdasarkan ejaannya tampaknya berarti ”(Sang) nama adalah El (atau Allah).”

[^3]: Sekalipun beberapa versi kuno mencatat bahwa Hana membawa ”seekor lembu jantan berumur tiga tahun” (LXX; Gulungan Laut Mati), teks Ibrani mencatat bahwa ia membawa tiga ekor lembu jantan, yang setara dengan tiga kali lipat persembahan yang diwajibkan untuk memenuhi suatu nazar, yang juga diimbangi dengan persembahan tepung dan anggur pendamping yang lebih dari tiga kali lipat (Bil. 15:8–10). Tampaknya Hana tidak hanya menyapih anaknya sebagai bentuk pelayanan kepada Eli dan Kemah Suci TUHAN agar sang imam tidak perlu merawat bayi, melainkan ia juga ”membayar” Allah atas privilese melakukan hal tersebut dengan mempersembahkan seekor lembu jantan untuk setiap tahun ia telah ”meminjam” anak itu.

[^4]: Sebagian kesulitan dalam mengidentifikasi ”imam yang setia” ini sebagai sosok yang pada akhirnya menunjuk kepada Yesus disebabkan oleh cara kita menerjemahkan frasa penutup dalam 2:35: ”ia (?) akan hidup [harfiah: ’keluar masuk’] di hadapan orang yang Kuurapi itu [harfiah: ’mesias-Ku’, bahasa Ibrani mashiakh] untuk selamanya,” yang membuatnya terdengar seolah-olah sang imam adalah pribadi yang berbeda dari sang Mesias. Subjek dari kata kerja Ibrani di sini sesungguhnya dapat merujuk pada ”keturunan” itu (harfiah: ’rumah’), sehingga ayat ini dapat dibaca: ”Keturunan itu (yaitu keluarga atau umat beriman sang Mesias) akan keluar masuk (yaitu melayani atau dipimpin dalam peperangan) di hadapan Mesias-Ku untuk selamanya,” yang dengan demikian menggambarkan karakter umat Allah, yaitu ”keluarga iman”-Nya yang dipimpin oleh Sang Mesias yang akan datang.

[^5]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Keluaran 27:31–40, yang merupakan salah cetak untuk teks Keluaran 27:20–21 mengenai lampu dan minyak untuk lampu di Kemah Suci (Keluaran 27 hanya terdiri atas 21 ayat; lih. juga Kel. 25:31–40 mengenai pembuatan kandil emas).

[^6]: Perhatikan bahwa terjemahan-terjemahan biasanya menempatkan ”TUHAN” sebagai anteseden dari kata ”yang bersemayam / duduk” (yosheb), kendati dalam konstruksi kalimat yang ada ”tabut” tersebut mungkin seharusnya dipahami sebagai antesedennya (lihat Stephen Coleman, The Biblical Hebrew Transitivity Alternation in Cognitive Linguistic Perspective [AKM 114; Wiesbaden: Harrossowitz, 2018], 137–39).

[^7]: Frasa ”sampai ke batu besar” dalam 6:18 mengikuti pembacaan yang telah diemendasi yaitu ”batu” (ʾeben) menggantikan teks Masoret (MT) yang berbunyi ”sungai / padang rumput” (ʾabel; akar kata Ibrani ʾbl), kendati teks Masoret mungkin merupakan permainan kata yang mengantisipasi apa yang menyusul dalam 6:19–7:3 di mana, akibat penghakiman TUHAN, umat ”berkabung” (dari akar kata Ibrani yang sama ʾbl; 6:19).

[^8]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 2 Samuel 7:2, yang merupakan salah cetak untuk teks 1 Samuel 7:2.

[^9]: Perhatikan permainan kata dengan nama Saul: shaʾul dari akar kata sh-ʾ-l yang berarti ”yang diminta”, dan bangsa itu digambarkan sebagai ”orang-orang yang meminta (hash-shoʾalim) seorang raja” dalam 8:9.

[^10]: Teks Ibrani dalam 9:24–25 cukup sulit, sehingga wajar jika versi-versi kuno mencoba memperhalusnya. Teks Masoret (MT) mencatat, ”Samuel bercakap-cakap dengan Saul di atas sotoh” setelah turun dari bukit pengorbanan, sedangkan Septuaginta (LXX) mencatat, ”Samuel membentangkan (tempat tidur?) bagi Saul di atas sotoh.”

[^11]: Sering kali dikemukakan bahwa ”kerajaan” yang ingin ”dipulihkan/dibaharui” oleh Samuel dalam perhimpunan di Gilgal adalah kerajaan Saul. Namun, pemahaman ini menimbulkan sejumlah kesulitan. Salah satunya adalah masalah bagaimana kerajaan Saul dapat ”dibaharui” apabila ia sendiri belum memulai masa pemerintahannya, sebagaimana tersirat dari kepulangannya ke Gibea setelah perhimpunan di Mizpa dan kembali bekerja di ladang (1Sam. 11:5). Sebaliknya, ”menobatkan Saul menjadi raja” (yakni memulai masa pemerintahannya) adalah salah satu tujuan diselenggarakannya perhimpunan Gilgal (11:15). Dan baru setelah perhimpunan Gilgal inilah kita menemukan formula takhta yang khas yang menandai permulaan masa pemerintahan seorang raja (”Saul berumur tiga puluh tahun ketika ia menjadi raja, dan ia memerintah atas Israel empat puluh dua tahun”, 1Sam. 13:1 [NIV]; lihat juga 2Sam. 2:10; 5:4 serta banyak contoh formula takhta lainnya dalam 1–2 Raja-raja). Mengingat hal ini, terjemahan ESV dan KJV tampak lebih tepat daripada NIV dalam cara menerjemahkan 1 Samuel 11:14–15: ”’marilah kita . . . membarui kerajaan di sana.’ . . . mereka menobatkan Saul menjadi raja” vs. ”’let us . . . reaffirm the kingship.’ . . . all the people . . . confirmed Saul as king”. Versi NJPS memperjelas hal ini lebih jauh dalam terjemahannya: ”’let us . . . inaugurate the monarchy.’ . . . they declared Saul king”. (Catatan penerjemah: TB menerjemahkan 11:14 ”membaharui jabatan raja”, sejalan dengan NIV, tetapi 11:15 ”menjadikan Saul raja”, sejalan dengan ESV.)

[^12]: Meskipun Teks Masoret (MT) mencatat ”Bedan”, hal ini sangat mungkin merupakan kekeliruan penyalinan dari naskah asli ”Barak” (sebagaimana ditemukan dalam Septuaginta / LXX) mengingat kemiripan huruf r dan d serta q (> k) dan n dalam aksara Ibrani kuno.

[^13]: Beberapa versi, seperti HCSB, KJV, dan NLT, membaca apodosis tersebut pada anak kalimat terakhir (”maka kamu, baik kamu maupun rajamu yang memerintah kamu itu, akan mengikuti TUHAN, Allahmu”), yang meskipun secara tata bahasa dimungkinkan, kemungkinan besar tidak tepat (sering kali apodosis dalam kalimat bersyarat ʾim semacam ini ditandai oleh perubahan subjek kata kerja, yang tidak terjadi di sini). Sebaliknya, penafsiran yang diambil di sini memandang ketiadaan apodosis secara utuh (sehingga dibiarkan hanya tersirat) sebagai hal yang disengaja oleh Samuel, karena ia mungkin merasa puas dengan ancaman kutuk atas ketidaktaatan Israel mengingat penolakan mereka yang nyata terhadap dirinya.

[^14]: Biasanya formula tersebut mencatat usia sang raja saat naik takhta dan kemudian lama masa pemerintahannya—yakni ”X berumur Y tahun ketika ia menjadi raja, dan ia memerintah selama Z tahun” (mis. 2Raj. 8:17). Namun, jika formula ini yang dimaksudkan dalam 1 Samuel 13:1, teks Ibrani tampaknya menyatakan bahwa ”Saul berumur satu tahun ketika ia menjadi raja, dan ia memerintah atas Israel selama dua tahun”, yang di samping sangat janggal, sama sekali tidak cocok dengan perincian lain dalam narasi tersebut. Sejumlah versi memperbaiki teks dengan apa yang tampak lebih masuk akal, mis. ”Saul berumur tiga puluh tahun ketika ia menjadi raja, dan ia memerintah atas Israel empat puluh dua tahun” (NIV; bdk. HCSB, NLT). Versi lain mengasumsikan adanya kerusakan teks tanpa mengusulkan perubahan, mis. ”Saul berumur . . . tahun ketika ia mulai memerintah; dan ia memerintah . . . dan dua tahun atas Israel” (NRSV; bdk. NJPS). Penafsiran lain mengajukan interpretasi yang diikuti di sini, bahwa 13:1 sebaliknya menempatkan peristiwa-peristiwa dalam 1 Samuel 13–14 pada tahun kedua setelah Saul diurapi, mis. ”Saul memerintah satu tahun; dan ketika ia telah memerintah dua tahun atas Israel, . . .” (KJV; bdk. ESV).

[^15]: Frasa dalam 14:2 dapat pula diterjemahkan ”di bawah pohon delima”, yang menjelaskan terjemahan sejumlah versi bahasa Inggris yang membaca ”di bawah pohon delima” (under the pomegranate tree; NJPS, NRSV, NIV). Pengamatan mutakhir terhadap sebuah gua besar dengan ceruk melingkar di wilayah Migron yang menyerupai buah delima telah mengarahkan pada penafsiran yang diikuti oleh versi ESV yang memahami ”buah delima” sebagai rujukan pada gua ini, sehingga diterjemahkan ”di dalam gua buah delima” (in the pomegranate cave). Sebagaimana ditunjukkan oleh Long (hlm. 150), hal ini memberikan alasan yang masuk akal mengapa seorang pengintai diperlukan (14:16); hal itu tampak tidak perlu jika mereka berada di bawah pohon besar di puncak bukit.

[^16]: Tebing-tebing batu terjal dalam 14:4–6 yang bernama Bozes (”licin”) dan Sene (”berduri”) tampaknya melukiskan situasi terjepit yang sangat sukar, yang membuat langkah Yonatan dan pembawa senjatanya semakin menantang, serta mutlak membutuhkan tangan providensi Allah yang menyertai mereka.

[^17]: Jarak yang ditempuh Israel saat mengejar orang Filistin dari Mikhmas hingga ke Ayalon (14:31) adalah sekitar dua puluh mil (32 km), hampir sepanjang perlombaan lari maraton, yang membuat penggambaran bahwa orang Israel ”sangat letih lesu” terasa sebagai ungkapan yang merendah.

[^18]: Menariknya, teks Ibrani tampaknya menyatakan bahwa Saul sekadar mulai mendirikan sebuah mezbah bagi TUHAN, yang menyiratkan bahwa ia hanya melakukan secukupnya untuk ”memenuhi formalitas ritual” keagamaan tanpa sepenuhnya menaati protokol yang semestinya.

[^19]: Tanpa membahas secara terlampau mendalam mengenai perang penumpasan (herem), atau ”pemusnahan total” sebagaimana istilah ini dapat diterjemahkan, perintah TUHAN untuk melaksanakannya terhadap bangsa Kanaan dan musuh-musuh sejenis sering kali menimbulkan kegelisahan bagi para pembaca modern. Agar dapat memahaminya dengan tepat, seseorang harus masuk secara mendalam ke dalam teks Kitab Suci guna menyelami pandangan dunianya, di mana keadilan dan kebenaran vonis TUHAN menjadi sangat masuk akal. Pertama-tama, harus diakui bahwa di dalam Adam ”semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 3:23; 5:12–21) dan oleh sebab itu patut menerima kematian dan kebinasaan seketika sebagai upah atas dosa kita (Kej. 2:17; Rm. 6:23). Hanya karena kesabaran Allah yang panjang dan anugerah umum-Nya yang melimpah sajalah manusia yang berdosa diizinkan memiliki waktu hidup di bumi. Oleh karena itu, tindakan TUHAN dalam mengakhiri kehidupan sejumlah orang secara tiba-tiba bukanlah suatu ketidakadilan, melainkan sebuah kilasan kecil dari ”keadilan yang segera” sebagai kontras terhadap ”keadilan yang ditunda” dalam kesabaran-Nya (Ul. 32:4–5; Yes. 61:8; Mzm. 147). Hal ini mengarahkan pada penjelasan mengenai perang herem sebagai ”etika intrusi” (intrusion ethics), di mana penghakiman eskatologis pada hari terakhir atau ”Hari TUHAN” (2Ptr. 3:9–10) menerobos masuk secara antisipatif ke dalam kurun waktu dan tempat tertentu dalam sejarah penebusan Allah bagi umat-Nya demi memperlihatkan murka penghakiman yang pasti akan datang (mis. peristiwa air bah dalam Kej. 6–9). Kedua, perintah Allah bagi umat-Nya untuk melaksanakan herem terutama difokuskan pada wilayah Tanah Perjanjian selama era kerajaan teokratis Israel. Tanah Perjanjian sebagai gambaran antisipatif dari Kerajaan Allah eskatologis harus disucikan dari dosa, penyembahan berhala, dan bahaya maut sebagai ruang kudus bagi TUHAN untuk berdiam di tengah umat-Nya dalam damai sejahtera (bdk. gambaran Yerusalem Baru dalam Why. 21–22). Kendati orang-orang kafir yang bertobat disambut hangat dan dihisapkan ke dalam umat perjanjian Allah (mis. Rahab, Rut), para penyembah berhala yang tegar tengkuk sebagai musuh TUHAN akan senantiasa mengancam kedamaian Israel dari dalam (sebagaimana terlihat di sepanjang Kitab Hakim-Hakim) dan menggiring Israel menjauh dari TUHAN serta perintah-perintah-Nya ke dalam dosa penyembahan berhala (Hak. 2:11–3:6). Bahkan, kota-kota Israel sendiri yang menyimpang dari jalan TUHAN dan terjerumus ke dalam penyembahan berhala harus ”ditumpas sama sekali” (herem; Ul. 13:12–18). Dengan demikian, perang herem memiliki tujuan historis-penebusan yang spesifik untuk menyatakan penghakiman TUHAN yang akan datang agar orang-orang berdosa bertobat (Luk. 10:13–16; 13:1–5). Perang ini menemukan puncak penggenapan akhirnya bagi umat Allah di kayu salib Yesus Kristus, di mana Ia diletakkan ”di bawah kutuk penumpasan” (herem), dan segenap murka penghakiman atas dosa umat-Nya dicurahkan ke atas diri-Nya guna menebus umat-Nya dari kebinasaan kekal yang sesungguhnya layak mereka terima.

[^20]: Kendati ruang yang ada tidak mencukupi untuk pembahasan panjang mengenai doktrin ketidakberubahan Allah dan bagaimana doktrin ini selaras dengan pernyataan di sini mengenai Allah yang ”menyesal” telah menjadikan Saul raja, beberapa catatan ringkas kiranya dapat menolong untuk memperlihatkan bagaimana para teolog ortodoks menangani nas ini di masa lampau dan masa kini. Patut dicatat sejak awal bahwa mereka yang merumuskan pandangan yang kokoh mengenai ketidakberubahan Allah adalah para pembaca Alkitab yang sangat cermat dan menyadari bahwa nas ini harus dijelaskan dalam terang keseluruhan doktrin tersebut. Cara penafsiran atas kata ”menyesal” di sini adalah sebagai bahasa antropomorfis, yang melukiskan perubahan tindakan Allah terhadap umat-Nya dengan memakai istilah-istilah yang biasa digunakan untuk motivasi perubahan pada manusia (yakni perubahan pikiran), padahal dalam Diri Allah, ketetapan kekal dan kehendak-Nya tidak pernah berubah. Inilah bahasa Kitab Suci yang sangat jelas yang bahkan ditemukan dalam perikop ini sendiri ketika teks berbicara secara lebih doktrinal daripada antropomorfis: ”Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal [nkhm]; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal [nkhm]” (1Sam. 15:29; bdk. Bil. 23:19; Yeh. 24:14).

[^21]: Tema mengenai jubah dan pakaian merentang di sepanjang Kitab 1–2 Samuel, dimulai dari jubah Samuel yang dibuat oleh Hana (1Sam. 2:19), Yonatan yang menyerahkan jubah kerajaannya kepada Daud (1Sam. 18:4), Daud yang memotong punca jubah Saul di dalam gua (1Sam. 24), dan seterusnya.

[^22]: Kata kerja Ibrani yang diterjemahkan sebagai ”mencincang” atau ”memenggal” dalam 15:33 (shsp) hanya muncul satu kali ini di seluruh Alkitab Ibrani dan mungkin sekadar merupakan istilah teknis untuk ”pemenggalan kepala” atau ”pelaksanaan hukuman mati” (bdk. Septuaginta/LXX: sphazo; Targum: pshkh).

[^23]: Sekalipun sudah menjadi praktik umum untuk merujuk pada kenyataan bahwa ”TUHAN melihat hati” (1Sam. 16:7) sebagai pembenaran atas perilaku yang secara lahiriah dinilai ”buruk”, di sepanjang Kitab Suci kebenaran ini lebih sering berdiri sebagai peringatan bagi kita bahwa TUHAN melihat kejahatan yang tersembunyi di dalam batin manusia (Kej. 6:5; Mzm. 7:10; Ams. 24:12; Yer. 11:20; 17:9–10; 20:12; Mat. 15:18–19; Luk. 16:14–15; Yoh. 2:25; 5:42). Kenyataan bahwa hal ini pada umumnya merupakan ”kabar buruk” semakin mengilustrasikan penampilan Daud sebagai seseorang yang hatinya dilihat oleh TUHAN dan didapati layak menjadi pilihan-Nya sebagai raja (lihat pembahasan di atas mengenai apa artinya menjadi seorang yang ”berkenan di hati TUHAN”).

[^24]: Untuk memperjelasnya, dalam menangani masalah-masalah kesehatan mental pada masa kini, implikasi dari perikop ini mengindikasikan bahwa kita tidak boleh mengadopsi pandangan yang semata-mata materialistik atau mekanistik atas isu-isu tersebut. Di mana pun kita menemukan kerusakan dan distorsi terhadap ciptaan yang baik, di situ terdapat sumber dan karakter yang bersifat Setani dan/atau demonis. Di sisi lain, alih-alih mengklaim kuasa bagi diri kita sendiri atas kuasa kegelapan dan mempromosikan proses-proses ”peperangan rohani yang sukses” (yakni metode-metode untuk ”mengusir setan” dan ”mengikat Iblis” dengan doa atau mantra tertentu), Allah memanggil kita untuk menerapkan sarana-sarana anugerah (Firman, sakramen, dan doa; lih. Katekismus Besar Westminster No. 154) bersama-sama dengan sarana anugerah umum lainnya yang disingkapkan melalui penyataan umum (yakni pengobatan medis, hikmat kesehatan mental, dsb.; Yak. 5:14; Katekismus Besar Westminster No. 135).

[^25]: Sekalipun perkenanan Saul atas Daud sangat jelas (16:23), siapa sebenarnya yang mengasihi siapa dalam 16:21 tidak begitu jelas. Teks Ibrani agak ambigu, sekadar menyatakan (diterjemahkan secara kaku): ”Daud datang kepada Saul. Dan ia berdiri di hadapannya. Dan ia sangat mengasihinya. Dan ia menjadi pembawa senjatanya” (demikian KJV). Mengingat bahwa subjek dari seluruh kata kerja lainnya adalah ”Daud”, pembacaan tata bahasa yang paling wajar tampaknya adalah bahwa Daudlah yang sangat mengasihi Saul, bukannya sebaliknya (sebagaimana diterjemahkan oleh sebagian besar versi bahasa Inggris dan TB dengan menyisipkan ”Saul” sebagai subjek klausa ini). Namun, mengingat arti nama Daud (”yang dikasihi”), ambiguitas tersebut mungkin memang disengaja, guna memunculkan pertanyaan yang akan dijawab oleh narasi-narasi berikutnya: ”Oleh siapakah Daud dikasihi?” Sementara Saul di kemudian hari jelas-jelas tidak mengasihi Daud, rakyat dan bahkan banyak anggota keluarga Saul sendiri bertumbuh untuk sangat mengasihi Daud (mis. Yonatan, dan Mikhal untuk sementara waktu). Namun pada akhirnya dan yang paling penting, Daud terbukti dikasihi oleh TUHAN, yang kepada-Nya Daud dengan setia mempersembahkan pujian atas segala berkat besar dan keberhasilannya yang luar biasa.

[^26]: Pernyataan di seluruh 1 Samuel 16–17 bahwa Daud adalah anak kedelapan Isai tampaknya bertentangan dengan 1 Tawarikh 2:13–16. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjelaskan perbedaan ini, dan penjelasan terbaik mungkin adalah bahwa Penulis Tawarikh kemungkinan telah menghilangkan seorang anak yang entah bagaimana kehilangan statusnya sebagai ”anak Isai” dalam sejarah antara saat teks Kitab Nabi-Nabi Awal (Former Prophets) dituliskan dan masa hidup Penulis Tawarikh.

[^27]: Mengingat pertanyaan Saul mengenai asal-usul keluarga Daud dalam 17:55–58 dan pengulangan rincian dalam 17:12–14, sebagian penafsir melihat adanya kemungkinan diskronologisasi di sini, atau bahkan kontradiksi dalam teks. Namun, penafsiran yang diikuti di atas mampu memperhitungkan seluruh rincian ini sebagai sesuatu yang masuk akal secara historis dan signifikan secara naratif.

[^28]: Tindakan menewaskan orang Filistin ini mungkin terkesan kejam, sekalipun mereka adalah musuh bebuyutan dan penindas Israel. Meskipun demikian, dalam konteks perintah umum untuk perang penumpasan (herem) di dalam tanah Israel, Daud menunjukkan dirinya setia kepada TUHAN maupun perintah TUHAN bagi raja-Nya. Lihat komentar dan catatan kaki pada 1 Samuel 15:1–3 di atas.

[^29]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 21:1–15, yang merupakan salah cetak untuk 21:1–9 (ayat 21:10–15 dibahas pada paragraf berikutnya).

[^30]: Perlu dicatat bahwa dalam teks Ibrani 1 Samuel 20:42 diberi nomor sebagai 21:1, sehingga ayat pertama dari pasal ini dalam versi bahasa Inggris (dan Indonesia) diberi nomor 21:2 dalam teks Masoret Ibrani.

[^31]: Perlu dicatat bahwa 23:29 diberi nomor sebagai 24:1 dalam teks Ibrani, sehingga penomoran ayat-ayat selanjutnya dalam pasal 24 pada versi-versi bahasa Inggris tidak sepenuhnya bersesuaian. Catatan penerjemah: TB mengikuti penomoran Ibrani di sini (TB 24:1 = 23:29 dalam versi-versi bahasa Inggris). Rujukan ayat dari pasal 24 dalam tafsiran ini, termasuk nomor-nomor ayat pada kutipan Alkitab di atas, mengikuti penomoran bahasa Inggris yang dipakai penulis; dalam TB nomornya lebih besar satu (mis. 24:6 di sini = TB 24:7).

[^32]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 1 Samuel 31:6, yang merupakan salah cetak untuk 1 Samuel 30:6 (ayat mengenai rakyat yang bermaksud melempari Daud dengan batu serta Daud yang menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN).

[^33]: Sejumlah penafsir dan penerjemah menganggap hal ini kurang mungkin terjadi, terutama mengingat keletihan fisik Daud beserta orang-orangnya, sehingga mereka menerjemahkan kata ”senja” (nesheph) sebagai ”[kegelapan] sebelum fajar” (NJPS) atau sekadar ”pagi hari” (LES). Di sisi lain, mengingat keletihan pasukan Daud dan kemungkinan keadaan mabuk dari orang-orang Amalek, pertempuran yang panjang dan kacau semacam itu mungkin justru merupakan situasi yang tepat ingin digambarkan oleh teks Alkitab. Catatan penerjemah: TB mengikuti pemahaman yang pertama: ”Dan pada keesokan harinya Daud menghancurkan mereka dari pagi-pagi buta sampai matahari terbenam” (1Sam. 30:17).