Rut


Tentang Seri Ini:
Artikel ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari The Gospel Coalition (TGC) Bible Commentary untuk Kitab Rut.
Penulis: John Currid, Ph.D. (Chancellor's Professor of Old Testament di Reformed Theological Seminary)
Sumber Asli: The Gospel Coalition Bible Commentary — Ruth
Diterjemahkan dan dipublikasikan untuk tujuan edukasi dan non-komersial.


Pengantar Kitab Rut

Menjelajahi Kitab Rut

Kitab Rut adalah sebuah cerita pendek yang sangat digemari. Salah satu alasan daya tarik ini adalah karena narasinya memuat seluruh unsur drama yang memikat: alur cerita yang menarik, karakter-karakter yang hidup, ketegangan, romansa, konflik, perjuangan mengatasi kesulitan hidup, dan masih banyak lagi. Kisah yang menyentuh ini berakhir layaknya kisah Cinderella, di mana kedua tokoh utama menemukan cinta, menikah, dan dikaruniai anak. Sebagian penafsir mendasarkan penjelasan mereka tentang maksud kitab ini pada sudut pandang tersebut, dengan memandang tokoh-tokoh utama dan kasih di antara mereka sebagai teladan dari kasih Allah bagi kita.

Senada dengan itu, beberapa penulis—bahkan mungkin para pembaca Ibrani mula-mula—menekankan kebajikan moral dari tokoh-tokoh dalam kitab ini. Sebagai contoh, dalam Rut 3:11, Boas menyebut Rut sebagai ”seorang perempuan baik-baik”; istilah Ibrani untuk ”baik-baik” (ḥayil) mencerminkan integritas, kecakapan, dan kehormatan.[^1] Dalam Alkitab bahasa Inggris, Rut adalah kitab kedelapan dalam Perjanjian Lama yang ditempatkan tepat setelah Kitab Hakim-Hakim, namun dalam Alkitab Ibrani (Tanakh), kitab ini ditempatkan tepat setelah Kitab Amsal. Mengapa demikian? Pada pasal terakhir Kitab Amsal, sang penulis bertanya apakah ada orang yang dapat menemukan ”isteri yang cakap” (Ams. 31:10). Kitab Rut menjawab pertanyaan Kitab Amsal tersebut dengan sebuah teladan historis: Boas menemukan seorang perempuan yang cakap. Bahkan, kitab ini juga menyebut Boas sebagai “seorang yang kaya raya” (Rut 2:1). Karakter integritas dan kesalehan Rut dan Boas tentu sangat layak diteladani, namun tema kebajikan moral saja belum sepenuhnya mencerminkan tujuan utama dari penulisan kitab ini.

Kitab ini memiliki tujuan yang jauh lebih agung daripada sekadar cerita moral tentang integritas manusiawi. Sang penulis menuturkan sebuah kisah yang berlatar belakang zaman para hakim (lihat komentari Kitab Hakim-Hakim untuk penjelasan lebih mendalam tentang periode ini), yaitu masa di mana ”tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hak. 21:25). Kitab Rut menyajikan catatan mengenai garis keturunan Daud, yang mungkin merupakan raja terbesar dalam sejarah Israel kuno. Kisah ini ditutup dengan menyingkapkan fakta bahwa Rut dan Boas adalah buyut dari Raja Daud. Oleh karena itu, narasi ini bukan sekadar kisah moral mengenai integritas, melainkan menunjuk ke masa depan kepada kedatangan sang raja.

Namun, bahkan kemunculan Daud bukanlah klimaks tertinggi dari kitab ini. Daud sendiri pada akhirnya menunjuk kepada kedatangan Sang Raja Terakhir, yaitu Yesus Kristus, Anak Daud. Silsilah Daud pada bagian penutup Kitab Rut (4:18–22) pada hakikatnya identik dengan yang ditemukan dalam silsilah Yesus (Mat. 1:3–6). Satu perbedaan antara kedua silsilah tersebut adalah bahwa Matius mencantumkan nama dua wanita non-Yahudi (bangsa-bangsa lain), yaitu Rahab dan Rut, dalam garis keturunan Yesus. Salah satu alasan penyertaan tersebut adalah untuk menunjuk pada kenyataan pengikutsertaan bangsa-bangsa bukan Yahudi ke dalam Kerajaan Allah. Kesimpulan yang mulia dari Kitab Rut adalah kedatangan Sang Mesias, dan setiap pembaca perlu senantiasa mengingat kebenaran ini saat mempelajari kitab ini.


Tujuan Kitab Rut

Kitab Rut memaparkan penebusan dan pengikutsertaan bangsa-bangsa bukan Yahudi ke dalam garis keturunan Daud serta Anak Daud, yaitu Sang Raja Mesianis.


Ayat Kunci

”Tetapi kata Rut: ”Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;”
— Rut 1:16 (TB)

Garis Besar Kitab Rut

Kitab Rut dapat digarisbesarkan secara sederhana menurut empat adegan, sebagai berikut:

  • Adegan 1: Di Moab (1:1–18)
    • Latar Belakang Kemalangan (1:1–5)
    • Belas Kasihan TUHAN (1:6–9)
    • Berpaut Erat (1:10–14)
    • Pengakuan Iman Rut (1:15–18)
  • Adegan 2: Di Betlehem (1:19–2:23)
    • Kepulangan ke Betlehem (1:19–22)
    • Di Ladang (2:1–7)
    • Percakapan (2:8–17)
    • Rut Kembali dari Ladang (2:18–23)
  • Adegan 3: Di Tempat Pengirikan (3:1–18)
    • Merancang Rencana (3:1–6)
    • Di Timbunan Jelai (3:7–13)
    • Kembali ke Betlehem (3:14–18)
  • Adegan 4: Di Pintu Gerbang (4:1–22)
    • Di Ruang Sidang Pengadilan (4:1–12)
    • Sang Keturunan (4:13–22)

    Adegan 1: Di Moab (1:1–18)

    Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.

    Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana.

    Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.

    Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya.

    Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.

    Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.

    Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda,

    berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;

    kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras

    dan berkata kepadanya: "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu."

    Tetapi Naomi berkata: "Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti?

    Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki,

    masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?"

    Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.

    Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu."

    Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;

    di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"

    Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya.
    — Rut 1:1–18 (TB)

    Latar Belakang Kemalangan (1:1–5)

    Rut 1:1. Kata-kata pembuka teks ini, ”pada zaman para hakim memerintah”, memberikan latar waktu dan situasi historis bagi kisah ini. Apa yang kita ketahui mengenai periode ini? Kitab Hakim-Hakim diakhiri dengan pernyataan: ”setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hak. 21:25). Itu adalah masa relativisme moral, kemerosotan rohani, dan anarki. Tidak ada otoritas politik terpusat ataupun fokus spiritual yang teguh di Israel. Akibatnya, Kitab Hakim-Hakim mencatat kemerosotan moral yang terus menurun di tengah bangsa Israel. Menjelang akhir kitab tersebut, kita membaca kisah orang-orang Benyamin yang sangat cabul dan memalukan. Latar belakang yang kelam ini berfungsi sebagai latar kontras bagi Kitab Rut (lihat komentari Kitab Hakim-Hakim untuk ulasan lebih mendalam mengenai periode ini). Kendati banyak orang di Israel kehilangan integritas moral dan bertindak selaras dengan orang Kanaan yang fasik, tidak semua orang berperilaku demikian. Dalam kerangka inilah, sang penulis mengajak kita untuk memperhatikan Boas dan Rut. Titik terang di masa yang gelap ini menjadi kesaksian bagi kenyataan yang kelak diproklamasikan oleh Rasul Paulus, yaitu bahwa Allah ”bukan tidak menyatakan diri-Nya” pada zaman-zaman yang lampau (Kis. 14:17).

    Selain waktu historis umum dari peristiwa-peristiwa dalam kitab ini, penulis mengawali narasinya dengan menjelaskan bahwa bencana kelaparan fisik telah melanda tanah Israel—suatu tanda yang sangat mungkin mencerminkan ketidaksenangan Allah atas ketidaksetiaan Israel (Im. 26:18–20). Kisah ini kemudian berfokus secara spesifik ketika seorang laki-laki dan keluarganya meninggalkan tanah Israel akibat bencana alam tersebut. Sungguh ironis, orang tersebut berasal dari kota Betlehem, sebuah nama yang secara harfiah berarti ”rumah roti”! Bagi para pembaca, nama ini juga menjadi pengingat bahwa kota inilah yang kelak menjadi kampung halaman raja agung Israel, Daud, dan tempat kelahiran Sang Raja Mesianis yang jauh lebih agung, yaitu Yesus.

    Teks ini selanjutnya menyatakan bahwa orang tersebut pergi ke Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing (pendatang). Seorang pendatang adalah orang yang bekerja di negeri asing tetapi hanya memiliki sedikit hak dan hak istimewa kewarganegaraan. Ia tidak memiliki tanah milik pusaka, melainkan pada umumnya bekerja melayani penduduk asli setempat (dalam hal ini, orang Moab). Bangsa Moab adalah bangsa kafir (penyembah berhala) yang menyembah dewa Kamos, Baal-Peor, dan banyak ilah lainnya. Pada zaman para hakim, mereka merupakan salah satu musuh bebuyutan Israel (lihat Hak. 3:12–30). Jadi, pria Israel ini meninggalkan tanah pusaka leluhurnya yang telah ditetapkan oleh TUHAN baginya, lalu pergi ke Moab untuk hidup dan bekerja di bawah kekuasaan bangsa kafir. Oleh karena itu, tindakannya tampaknya telah menempatkan keluarganya dalam bahaya besar. Apakah keputusannya itu merupakan hal yang benar? Satu hal penting yang perlu direnungkan adalah kenyataan bahwa tidak semua orang bereaksi terhadap kelaparan tersebut dengan melarikan diri dan menetap sebagai pendatang di negeri asing. Tampak jelas bahwa banyak orang—seperti Boas—tetap bertahan tinggal di Tanah Perjanjian.

    Rut 1:2. Nama-nama anggota keluarga tersebut sangat penting untuk menafsirkan kisah ini. Nama laki-laki itu adalah Elimelekh, yang berarti ”Allahku adalah raja”; namanya mengandung ironi yang mendalam, mengingat pada masa itu ”tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hak. 21:25). Pria ini beserta tindakannya menjadi kesaksian nyata dari relativisme moral pada zamannya. Nama istrinya adalah Naomi, yang berarti ”manis” atau ”menyenangkan.” Kelak di dalam kisah ini, setelah mengalami begitu banyak penderitaan, perempuan itu meminta perempuan-perempuan Betlehem agar tidak lagi memanggilnya Naomi (”manis”), melainkan menyebutnya Mara (”pahit”).

    Keluarga Elimelekh adalah orang-orang Efrata. Kaum atau klan ini merupakan bagian dari suku Yehuda yang mendiami wilayah sekitar Betlehem. Penegasan ini sekali lagi mengingatkan pembaca akan kedatangan Raja Daud di masa depan: kita membaca dalam 1 Samuel 17:12 bahwa Daud ”adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-laki.” Daud bukan hanya berasal dari suku Yehuda dan seorang penduduk Betlehem, melainkan ia berasal tepat dari klan yang sama dengan keluarga Elimelekh.

    Rut 1:3–5. Keluarga ini berada dalam situasi yang amat genting. Mula-mula mereka hidup di bawah tekanan bencana kelaparan, dan kemudian mereka hidup di bawah kekuasaan bangsa Moab selama ”kira-kira sepuluh tahun.” Keadaan hidup mereka jelas memengaruhi keputusan-keputusan mereka, sebagaimana terbukti dari fakta bahwa kedua anak laki-laki mereka menikahi perempuan-perempuan Moab, yang bertentangan dengan firman Allah (lihat Ul. 7:3–4). Tragedi besar kemudian melanda ketika Elimelekh dan kedua anak laki-lakinya meninggal dunia. Peristiwa ini menempatkan Naomi dalam kondisi yang sangat memilukan. Sebagai seorang janda Israel tanpa anak laki-laki, ia sama sekali tidak memiliki perlindungan, menghadapi kemelaratan, kemiskinan ekstrem, dan bahkan potensi perbudakan. Kini ia menjadi orang yang tersingkir, tergolong ke dalam kaum yang terlunta-lunta dan terabaikan. Apa yang harus ia perbuat?


    Belas Kasihan TUHAN (1:6–9)

    Rut 1:6. Naomi kini berencana untuk kembali ke tanah milik pusaka keluarganya di Yehuda karena dua alasan. Pertama, kehidupannya di Moab sudah tidak dapat dipertahankan lagi: ia adalah seorang janda tanpa sarana nafkah dan penopang hidup di tengah masyarakat kafir. Kedua, ia mendengar bahwa Allah telah melawat umat-Nya dan mengakhiri bencana kelaparan itu. Yahweh telah mendatangkan bencana kelaparan tersebut, dan kini Dia dengan penuh anugerah menyingkirkannya. Teks ini menggarisbawahi providensi Allah atas alam.

    Sebuah kata kunci penting muncul berulang kali di sepanjang Rut 1:6–22: kata kerja ”kembali” atau ”pulang” muncul sebanyak dua belas kali. Kendati kata kerja ini memiliki makna umum mengenai seseorang yang berbalik arah dan secara fisik pulang ke suatu tempat, kata ini juga sarat dengan signifikansi rohani dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Lama kerap menggunakan kata ini untuk menggambarkan seseorang yang bertobat dan berbalik kepada Allah (mis. Hos. 3:5; 6:1; 7:10). Pengulangan yang begitu intens dalam teks ini kemungkinan besar mengindikasikan bahwa para tokoh bukan hanya sekadar pulang atau pergi secara fisik menuju Tanah Perjanjian, melainkan juga kembali dan berbalik kepada Yahweh.

    Rut 1:7–9. Ketika Naomi memulai perjalanannya kembali ke Betlehem, kedua menantunya yang juga telah menjanda, Orpa dan Rut, turut menyertainya. Ironisnya, mereka berdua akan tiba di Betlehem dalam status yang sama persis seperti keadaan Naomi di Moab: mereka akan menjadi janda-janda tanpa perlindungan kaum laki-laki dan hidup sebagai pendatang asing di negeri orang. Menurut hukum Timur Dekat Kuno, kedua wanita muda ini tidak diwajibkan untuk pergi bersama Naomi; mereka memiliki hak penuh untuk kembali ke keluarga kandung mereka sendiri. Naomi mendesak mereka agar kembali kepada keluarga Moab mereka, tempat di mana mereka akan mendapatkan pemeliharaan dan perlindungan. Naomi kemudian mengucapkan berkat atas mereka dengan menyerukan nama Yahweh, nama perjanjian Allah Israel. Ia memohon agar Yahweh ”menunjukkan kasih-Nya” kepada mereka—sebuah kata yang sangat berbobot dalam bahasa Ibrani (chesed), yang paling tepat diterjemahkan sebagai ”kasih setia perjanjian”. Naomi memohon agar Allah perjanjian Israel menyatakan kasih setia perjanjian-Nya kepada kedua wanita Moab ini dan menyerahkan hidup mereka ke dalam pemeliharaan-Nya.


    Berpaut Erat (1:10–14)

    Rut 1:10–13a. Kendati Orpa dan Rut menegaskan tekad mereka untuk tetap ikut bersama ibu mertua mereka, Naomi bersikeras agar mereka tidak melakukan hal itu. Ia berargumen bahwa tanah Israel tidak menawarkan prospek masa depan apa pun bagi kedua wanita Moab ini. Naomi tidak memiliki apa pun untuk diberikan kepada mereka. Ia miskin papa, seorang janda, dan tidak memiliki anak laki-laki lagi yang dapat menikahi Orpa dan Rut. Di sini, pembaca diperkenalkan pada adat istiadat Ibrani yang sangat penting yang disebut ”hukum perkawinan levirat” (kata levir berasal dari bahasa Latin yang berarti ”saudara laki-laki suami” atau ipar). Hukum ini dipaparkan paling jelas dalam Ulangan 25:5–6:

    ”Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar. Maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel.” (Ul. 25:5–6)

    Naomi menekankan kepada Orpa dan Rut bahwa ia tidak lagi memiliki anak laki-laki yang dapat menjalankan kewajiban hukum adat ini; oleh sebab itu, ia berusaha mematahkan niat mereka untuk pergi bersamanya. (Sebagai catatan tambahan, hukum levirat ini kelak akan memainkan peranan yang sangat penting di bagian akhir kitab ini).

    Rut 1:13b–14. Naomi kemudian menyoroti kepahitan nasibnya sendiri yang akan berdampak buruk bagi Orpa dan Rut. Ia menyimpulkan bahwa ”tangan TUHAN teracung terhadap aku.” Naomi memahami bahwa kemalangan yang menimpanya bukanlah akibat kebetulan belaka atau sekadar faktor nasib, melainkan sejarah hidupnya sedang bergulir menurut providensi Allah. Permohonan Naomi yang rasional ini membuahkan respons yang berbeda dari kedua menantunya: Orpa mencium ibu mertuanya untuk minta diri, namun Rut berpaut erat kepadanya sehingga tidak dapat dipisahkan.


    Pengakuan Iman Rut (1:15–18)

    Rut 1:15–16a. Naomi kemudian mendesak Rut agar mengikuti teladan iparnya dan kembali ke Moab. Akan tetapi, Rut bergeming dalam ketetapan hatinya. Ia membaktikan seluruh dirinya kepada Naomi dan bertekad teguh untuk mengikutinya ke Israel. Komitmen yang mendalam ini digarisbawahi oleh serangkaian pernyataan yang oleh para ahli tata bahasa disebut dengan istilah Latin idem per idem (sebuah gaya bahasa di mana kata kerja atau kata benda yang sama digunakan secara berbalasan untuk menggambarkan tindakan dua pihak yang berbeda). Rangkaian ungkapan ”ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi”; ”di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam”; ”bangsamulah bangsaku”, dan seterusnya menggarisbawahi kesatuan tujuan dan ketunggalan langkah di antara kedua wanita ini. Rut mengikrarkan loyalitas dan kesetiaan yang tidak akan pernah padam kepada Naomi.

    Rut 1:16b–18. Namun, ikrar sumpah Rut bukan hanya ditujukan kepada Naomi semata. Ia menyatakan ungkapan idem per idem: ”Allahmulah Allahku.” Penegasan tersebut merupakan klausa nominal tanpa kata kerja (tiada kata kerja yang dinyatakan secara eksplisit), yang memiliki daya penekanan yang unik dalam bahasa Ibrani. Pernyataan ini berdentang laksana halilintar. Sebelumnya dalam Rut 1:15, Orpa telah kembali kepada para allahnya. Sebaliknya, Rut menolak dan melepaskan politeisme (kepercayaan banyak dewa) bangsa Moab, lalu memeluk monoteisme bangsa Ibrani. Rut 1:17 meneguhkan pertobatan ini ketika Rut menyerukan nama TUHAN, yaitu Yahweh, nama perjanjian Allah Israel. Pertobatan dan sumpah Rut membungkam Naomi.

    Pertobatan seorang wanita Moab non-Yahudi yang semula kafir kepada iman sejati seharusnya mengejutkan kita juga. Pertobatan ini lebih jauh menunjuk kepada sebuah kenyataan teologis yang jauh lebih agung: bangsa-bangsa bukan Yahudi diikutsertakan ke dalam umat Allah melalui iman. Dan sebagaimana telah kita sebutkan di bagian pengantar, inilah salah satu alasan mendasar mengapa Matius mencantumkan Rut (beserta Rahab) di dalam silsilah Yesus (Mat. 1:5).

    Adegan 2: Di Betlehem (1:19–2:23)

    Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: "Naomikah itu?"

    Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.

    Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku."

    Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.

    Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas.

    Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku."

    Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.

    Lalu datanglah Boas dari Betlehem. Ia berkata kepada penyabit-penyabit itu: "TUHAN kiranya menyertai kamu." Jawab mereka kepadanya: "TUHAN kiranya memberkati tuan!"

    Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: "Dari manakah perempuan ini?"

    Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: "Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab.

    Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti."

    Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: "Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan.

    Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu."

    Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: "Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?"

    Boas menjawab: "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal.

    TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."

    Kemudian berkatalah Rut: "Memang aku mendapat belas kasihan dari padamu, ya tuanku, sebab tuan telah menghiburkan aku dan telah menenangkan hati hambamu ini, walaupun aku tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan."

    Ketika sudah waktu makan, berkatalah Boas kepadanya: "Datanglah ke mari, makanlah roti ini dan celupkanlah suapmu ke dalam cuka ini." Lalu duduklah ia di sisi penyabit-penyabit itu, dan Boas mengunjukkan bertih gandum kepadanya; makanlah Rut sampai kenyang, bahkan ada sisanya.

    Setelah ia bangun untuk memungut pula, maka Boas memerintahkan kepada pengerja-pengerjanya: "Dari antara berkas-berkas itupun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu;

    bahkan haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia."

    Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya.

    Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu,

    maka berkatalah mertuanya kepadanya: "Di mana engkau memungut dan di mana engkau bekerja hari ini? Diberkatilah kiranya orang yang telah memperhatikan engkau itu!" Lalu diceritakannyalah kepada mertuanya itu pada siapa ia bekerja, katanya: "Nama orang pada siapa aku bekerja hari ini ialah Boas."

    Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: "Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati." Lagi kata Naomi kepadanya: "Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita."

    Lalu kata Rut, perempuan Moab itu: "Lagipula ia berkata kepadaku: Tetaplah dekat pengerja-pengerjaku sampai mereka menyelesaikan seluruh penyabitan ladangku."

    Lalu berkatalah Naomi kepada Rut, menantunya itu: "Ya anakku, sebaiknya engkau keluar bersama-sama dengan pengerja-pengerjanya perempuan, supaya engkau jangan disusahi orang di ladang lain."

    Demikianlah Rut tetap dekat pada pengerja-pengerja perempuan Boas untuk memungut, sampai musim menuai jelai dan musim menuai gandum telah berakhir. Dan selama itu ia tinggal pada mertuanya.
    — Rut 1:19–2:23 (TB)

    Kepulangan ke Betlehem (1:19–22)

    Rut 1:19. Teks Alkitab tidak mencatat apa pun mengenai detail perjalanan menuju Betlehem. Teks hanya menyatakan secara sederhana bahwa ”berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem.” Dengan demikian, terdapat celah waktu di antara Rut 1:18 dan 1:19. Perjalanan ini menempuh jarak sekitar 40–50 mil (sekitar 65–80 kilometer) melintasi medan terjal berbatu yang sebagian besar merupakan tanjakan curam. Diperlukan waktu berhari-hari untuk menuntaskan perjalanan tersebut. Jeda waktu ini mengingatkan kita untuk memperlambat tempo saat membaca dan menyadari bahwa beberapa peristiwa membutuhkan proses yang panjang untuk terwujud.

    Ketika kedua wanita itu tiba di Betlehem, seluruh kota menjadi ”gempar.” Kata asli dalam bahasa Ibrani mengandung gagasan ”berada dalam kegemparan”, sehingga kota itu diliputi keriuhan dan keterkejutan akibat kedatangan mereka yang sama sekali tak terduga. Desas-desus pun merebak kencang tatkala kaum perempuan di kota itu bertanya-tanya: ”Naomikah itu?” Pertanyaan ini mungkin mengandung maksud jahat, atau bisa jadi sekadar terlontar karena rasa ingin tahu belaka.

    Rut 1:20–21. Naomi merespons secara langsung dengan mempermainkan makna namanya sendiri. Kembali pada Rut 1:2, namanya didefinisikan berarti ”manis” atau ”menyenangkan.” Ia memberi tahu kaum perempuan Betlehem untuk tidak lagi memanggilnya dengan nama itu, melainkan memanggilnya Mara, yang berarti ”pahit.” Naomi telah menggunakan kata tersebut sebelumnya dalam Rut 1:13 ketika ia berkata kepada Orpa dan Rut bahwa ”jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku.” Pergantian namanya mencerminkan pemahamannya mengenai providensi Allah. Ia menyatakan dalam Rut 1:20–21 bahwa Allah telah melakukan empat hal terhadap dirinya: mendatangkan kepahitan kepadanya, memulangkannya dengan tangan kosong, bersaksi menentangnya (kata kerja ”bersaksi” dalam teks aslinya juga dapat bermakna ”menindas”), dan menimpakan malapetaka kepadanya.

    Semua peristiwa ini merupakan wujud providensi yang pahit. Kendati demikian, Naomi tidak sedang mempersalahkan Allah atas keadaannya yang malang. Ia hanya mengakui campur tangan tangan Allah di balik segala peristiwa hidup dan menanggapinya dengan ketabahan, ketekunan, serta kesabaran di tengah semuanya.

    Rut 1:22. Bagian ini ditutup dengan pernyataan bahwa Naomi dan Rut telah sampai di Betlehem ”pada permulaan musim menuai jelai.” Musim menuai jelai merupakan panen biji-bijian pertama dalam kalender pertanian tahunan, yang segera disusul oleh musim menuai gandum. Pada tahun tersebut, hasil panen sangat melimpah (Rut 1:6), dan para pekerja dalam jumlah besar akan sangat dibutuhkan di ladang-ladang. Dengan demikian, Rut akan sanggup menemukan pekerjaan untuk menyambung hidup, memberi makan keluarganya, dan berjumpa dengan Boas. Hal ini sungguh-sungguh merupakan waktu yang ditetapkan Allah, dan merupakan wujud providensi yang manis.


    Di Ladang (2:1–7)

    Rut 2:1. Ayat pembuka pada bagian ini merupakan sebuah sisipan yang menyela alur narasi. Penulis kini memperkenalkan kepada pembaca seorang pria bernama Boas. Boas adalah ”seorang sanak atau kerabat” dari Elimelekh, mendiang suami Naomi. Kata ini memiliki cakupan makna yang luas dalam bahasa Ibrani kuno, sehingga pada titik ini pembaca belum mengetahui secara pasti tingkat hubungan kekerabatan di antara kedua pria tersebut. Ayat ini juga menyatakan bahwa Boas berasal dari ”kaum” Elimelekh, yaitu keluarga besar lintas generasi yang terikat oleh pertalian darah. Ketegangan drama dalam kisah ini kian memuncak karena kita belum mengetahui seberapa dekat hubungan di antara kedua pria tersebut.

    Boas adalah ”seorang yang kaya raya”; kata Ibrani yang diterjemahkan ”kaya raya” di sini (ḥayil; lihat catatan kaki nomor 1) memang dapat merujuk pada kekayaan, namun sering kali bermakna integritas, keberanian, dan kehormatan. Karakternya ditegaskan oleh arti namanya: ”di dalam dia ada kekuatan.” Kelak, ketika piut Boas, yakni Raja Salomo, membangun Bait Suci di Yerusalem, ia menamai salah satu tiang fondasi utama bangunan itu ”Boas” (1Raj. 7:21). Pria bernama Boas dan tiang dengan nama yang sama memiliki karakteristik serupa: yang satu adalah tiang penyangga di Betlehem yang menopang komunitasnya, dan yang lain adalah tiang penyangga di Bait Suci yang menopang struktur bangunan monumental tersebut.

    Rut 2:2–3. Di sini penulis melanjutkan kembali kisah Rut. Menurut hukum Taurat Ibrani, seorang petani hanya boleh memungut dan menyabit hasil ladangnya satu kali selama masa panen; ia dilarang menyabit ladangnya hingga bersih habis sampai ke sudut-sudutnya (Im. 19:9–10). Ia harus membiarkan pinggiran ladangnya tidak dituai, dan apa yang tertinggal di ladang harus dibiarkan bagi kaum yang berkekurangan di Israel. Rut meminta izin kepada Naomi apakah ia boleh pergi ke ladang untuk memungut bulir-bulir jelai di belakang penyabit, sebagai salah seorang yang miskin papa di tanah itu.

    Setelah memperoleh izin dari ibu mertuanya, ia pergi bekerja di ladang, dan ”kebetulan ia berada” di bagian tanah milik Boas. Bagaimana pembaca harus memahami komentar narator yang tampaknya menyiratkan bahwa Rut tiba di ladang ini secara kebetulan belaka? Mungkin kalimat ini merupakan ungkapan ironis bernada berseloroh dari sang penulis yang sangat sadar bahwa providensi kedaulatan Allah sedang menggerakkan seluruh kisah ini. Atau mungkin, dari sudut pandang Rut sendiri, peristiwa itu tampak seperti suatu kebetulan belaka; ia tidak pernah merencanakannya. Pernyataan populer yang dinisbatkan kepada John Flavel sangat menolong untuk memahami sudut pandang penulis dalam perikop ini: ”Providensi Allah itu laksana bahasa Ibrani, ia harus dibaca dari belakang ke depan.”

    Rut 2:4–7. Rut 2:4 diawali dengan kata seru ”lihatlah”; ini merupakan pernyataan penegasan yang mengekspresikan kejutan. Tokoh baru kita kini dihadirkan kembali ke panggung narasi. Waktu kedatangan Boas sangatlah tepat karena itu adalah waktu yang ditentukan Allah. Di sinilah hadir seorang pria yang rajin, pekerja keras, dan terhormat yang datang secara langsung untuk mengawasi pekerjaan; ia bukanlah seorang tuan tanah yang tidak pernah hadir.

    Saat menginspeksi pekerjaan itu, Boas melihat sosok yang belum dikenalnya, lalu secara tidak mencolok bertanya kepada bujang mandor penyabit mengenai perempuan itu. Reputasi Rut sebagai perempuan yang berbudi luhur telah mendahului pekerjaannya di ladang; baktinya yang tulus kepada ibu mertuanya memberinya nama yang harum di kalangan penduduk Betlehem. Selain itu, kerja kerasnya di ladang memberi kesaksian nyata tentang karakternya yang terhormat dan rajin. Kepala penyabit menjelaskan kepada Boas bahwa Rut telah bekerja di ladang sepanjang hari ”dan seketikapun ia tidak berhenti.” Pembacaan harfiah dan langsung terhadap perkataan mandor itu adalah: ”Inilah (ladang ini) tempat tinggalnya, rumahnya amat sedikit baginya.” Dengan kata lain, ladang itulah yang menjadi tempat kediaman Rut sepanjang hari, dan rumahnya di kota tidak banyak menyita waktunya. Rut adalah seorang yang memiliki etos kerja tinggi dan ketabahan hati; sungguh, karakternya sangat mirip dengan Boas!


    Percakapan (2:8–17)

    Rut 2:8–9a. Setelah mendengar laporan tersebut, Boas berpaling untuk berbicara secara langsung kepada Rut. Ia berbicara kepadanya dengan penuh keramahan dan rasa hormat. Kemudian ia menyediakan pemeliharaan bagi Rut melalui dua cara. Pertama, ia memberikan perlindungan keamanan. Ia berpesan agar Rut hanya memungut jelai di ladangnya dan tetap dekat dengan ”pengerja-pengerja perempuannya.” Perempuan-perempuan muda ini kemungkinan besar bukanlah budak belian, melainkan gadis-gadis belum menikah dari klan Boas—yang terlindungi dengan baik karena ikatan kekerabatan. Boas juga memerintahkan para pengerja laki-laki yang bekerja di ladang agar tidak mengganggu atau melecehkan Rut. Sebagai seorang perempuan asing yang miskin papa, Rut berada dalam posisi yang sangat rentan, sehingga Boas memagari keselamatannya.

    Rut 2:9b–16. Kedua, Boas menyediakan makanan dan minuman penopang hidup bagi Rut. Ia mengizinkannya mengambil air minum yang telah dicedok bagi para pekerja ladang. Ia kemudian mengundangnya untuk ikut dalam jamuan makan bersama para penyabit, yang menyajikan bertih gandum. Ketika mereka kembali bekerja, Boas memerintahkan para penyabit untuk membiarkan Rut memungut tepat di antara berkas-berkas jelai tempat mereka bekerja: di sini Rut tidak hanya memperoleh sisa-sisa ceceran, melainkan hasil terbaik dari panen tersebut. Lebih dari itu, ia memerintahkan para pekerjanya untuk sengaja menarik dan menjatuhkan beberapa tangkai jelai dari ikatan berkas agar dapat dipungut oleh Rut dengan mudah.

    Rut menanggapi perlakuan Boas dengan kerendahan hati yang amat dalam dan penuh ketakjuban. Rut menggunakan permainan kata di sini (kata kerja ”memperhatikan” dan kata benda ”orang asing” berakar dari kata yang sama), mengungkapkan keheranannya atas kemurahan hati Boas. Orang asing adalah mereka yang biasanya hidup tanpa diperhatikan dan diabaikan: Rut pun bertanya-tanya, mengapakah ia justru begitu diperhatikan oleh Boas? Ia semakin terpana karena Boas berbicara begitu ramah dan menenangkan hatinya, padahal ia hanyalah ”hambamu” dan bahkan ”tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan.” Di sini sekali lagi kerendahan hati dan kejujuran Rut bersinar terang.

    Akhirnya, Boas memproklamasikan berkat Yahweh atas Rut, memohon agar TUHAN membalas perbuatan dan kelakuan Rut dengan upah yang penuh. Dalam berkat ini, Boas mengakui sepenuhnya pertobatan sejati Rut, saat ia menggambarkan hubungan Rut dengan TUHAN sebagai: ”yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung.” Boas menggambarkan Allah laksana induk burung yang melindungi anak-anaknya di bawah kepakan sayapnya; ini merupakan metafora dalam Perjanjian Lama yang digunakan untuk menggambarkan umat Allah yang menjadi milik kepunyaan-Nya dan berada di bawah naungan pemeliharaan-Nya (mis. Ul. 32:11; Kel. 19:4).

    Rut 2:17. Rut terus memungut jelai hingga petang hari. Kemudian ia mengirik apa yang telah dipungutnya itu, memisahkan bulir-bulir jelai yang baik dari sekamnya. Setelah kerja keras tersebut, Rut berhasil membawa pulang kira-kira seefa jelai (seefa setara dengan sekitar dua pertiga gantang atau sekitar 22 liter,[^2] dengan berat sekitar 30 pon atau 14 kilogram, yang mampu menghasilkan sekitar 672 potong roti gandum utuh). Ini merupakan jumlah perolehan yang luar biasa melimpah untuk hasil kerja satu hari.


    Rut Kembali dari Ladang (2:18–23)

    Rut 2:18. Selepas bekerja keras seharian, Rut pulang menemui Naomi dan menunjukkan hasil jelai melimpah yang dipungutnya. Ia kemudian memberikan kepada Naomi makanan yang tersisa sesudah ia kenyang. Pilihan kata yang sama muncul sebelumnya dalam Rut 2:14; dengan kata lain, Rut membawakan bagi Naomi sebagian dari bertih gandum yang diterimanya dari Boas saat santap siang di ladang. Rut bukan hanya membopong pulang jelai seberat 14 kilogram dari ladang, melainkan ia juga membawakan makanan siap santap bagi ibu mertuanya. Rut adalah pribadi yang senantiasa mendahulukan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri.

    Rut 2:19–20. Naomi merespons dengan memanjatkan dua ucapan berkat atas Boas. Luapan kegembiraan dan antusiasme Naomi terpancar dengan sangat jelas saat ia menyebut pria itu sebagai ”salah seorang yang wajib menebus kita.” Istilah Ibrani untuk ”penebus” adalah go'el, dan konsep ini memainkan peranan yang teramat penting di sepanjang Kitab Rut.

    Apakah yang Dimaksud dengan Kerabat Penebus (Kinsman-Redeemer)?

    Seorang go'el adalah seorang kerabat dekat yang bertindak membebaskan dan menyelamatkan sanak saudaranya dari situasi yang sukar, menebus mereka dari marabahaya.

    Di Israel kuno, seorang go'el memiliki empat kewajiban mendasar:

    1. Ia berkewajiban menebus kerabatnya dari perbudakan, yang biasanya terjadi ketika seseorang terlilit utang dan terpaksa menghambakan dirinya kepada sesama orang Ibrani (Im. 25:47–49; Ul. 15:12–17);
    2. Ia memiliki kewajiban membeli kembali tanah milik pusaka keluarga yang terpaksa dijual oleh kerabatnya (Im. 25:23–25);
    3. Ia berkewajiban menjalankan Hukum Perkawinan Levirat dengan menikahi janda di dalam keluarga yang tidak memiliki ahli waris laki-laki, demi membangkitkan keturunan bagi mendiang suaminya (Ul. 25:5–6; lihat catatan komentari pada Rut 1:11);
    4. Ia berkewajiban menjadi penuntut tebusan darah bagi pembunuhan seorang kerabat (Bil. 35:16–19).

    Konsep penebusan oleh seorang go'el merupakan gambaran tipologis yang sangat indah di dalam Kitab Suci mengenai karya keselamatan Allah bagi umat-Nya. Di sepanjang Perjanjian Lama, istilah go'el kerap digunakan untuk menggambarkan Allah yang bertindak membela dan menebus umat-Nya (Ayb. 19:25–26; Mzm. 19:15). Peristiwa Keluaran dari tanah Mesir merupakan karya penebusan agung dalam Perjanjian Lama di mana Allah menebus umat-Nya dari belenggu perbudakan (Kel. 6:6–8).

    Dalam Perjanjian Baru, Yesus adalah Sang Go'el yang membawa kemerdekaan bagi umat-Nya (Luk. 4:16–21). Dia membebaskan saudara-saudara-Nya dari belenggu perhambaan (Rm. 8:29), Dia memperoleh kembali tanah pusaka bagi umat-Nya (1Ptr. 1:3–4), Dia membangkitkan benih keturunan di dalam nama-Nya (Ef. 1:5), dan Dia bertindak sebagai penuntut tebusan darah (lihat Kitab Wahyu). Yesus, Sang Go'el sejati, telah datang!

    Rut 2:21–23. Terakhir, perhatikan bagaimana Rut kembali disebut dengan predikat ”perempuan Moab.” Penyebutan status ini dalam Rut 2:2 dan Rut 2:21 berfungsi sebagai bingkai sastra (inclusio), yang mengingatkan pembaca sejak awal hingga akhir pasal ini bahwa Rut adalah seorang asing yang berada di luar komunitas perjanjian, yang membutuhkan penebusan.

    Adegan 3: Di Tempat Pengirikan (3:1–18)

    Lalu Naomi, mertuanya itu, berkata kepadanya: "Anakku, apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat perlindungan bagimu supaya engkau berbahagia?

    Maka sekarang, bukankah Boas, yang pengerja-pengerjanya perempuan telah kautemani itu, adalah sanak kita? Dia pada malam ini menampi jelai di tempat pengirikan;

    maka mandilah dan beruraplah, pakailah pakaian bagusmu dan pergilah ke tempat pengirikan itu. Tetapi janganlah engkau ketahuan kepada orang itu, sebelum ia selesai makan dan minum.

    Jika ia membaringkan diri tidur, haruslah engkau perhatikan baik-baik tempat ia berbaring; kemudian datanglah dekat, singkapkanlah selimut dari kakinya dan berbaringlah di sana. Maka ia akan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan."

    Lalu kata Rut kepadanya: "Segala yang engkau katakan itu akan kulakukan."

    Sesudah itu pergilah ia ke tempat pengirikan dan dilakukannyalah tepat seperti yang diperintahkan mertuanya kepadanya.

    Setelah Boas habis makan dan minum dan hatinya gembira, datanglah ia untuk membaringkan diri tidur pada ujung timbunan jelai itu. Kemudian datanglah perempuan itu dekat dengan diam-diam, disingkapkannyalah selimut dari kaki Boas dan berbaringlah ia di situ.

    Pada waktu tengah malam dengan terkejut terjagalah orang itu, lalu meraba-raba ke sekelilingnya, dan ternyata ada seorang perempuan berbaring di sebelah kakinya.

    Bertanyalah ia: "Siapakah engkau ini?" Jawabnya: "Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami."

    Lalu katanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN, ya anakku! Sekarang engkau menunjukkan kasihmu lebih nyata lagi dari pada yang pertama kali itu, karena engkau tidak mengejar-ngejar orang-orang muda, baik yang miskin maupun yang kaya.

    Oleh sebab itu, anakku, janganlah takut; segala yang kaukatakan itu akan kulakukan kepadamu; sebab setiap orang dalam kota kami tahu, bahwa engkau seorang perempuan baik-baik.

    Maka sekarang, memang aku seorang kaum yang wajib menebus, tetapi walaupun demikian masih ada lagi seorang penebus, yang lebih dekat dari padaku.

    Tinggallah di sini malam ini; dan besok pagi, jika ia mau menebus engkau, baik, biarlah ia menebus; tetapi jika ia tidak suka menebus engkau, maka akulah yang akan menebus engkau, demi TUHAN yang hidup. Berbaring sajalah tidur sampai pagi."

    Jadi berbaringlah ia tidur di sebelah kakinya sampai pagi; lalu bangunlah ia, sebelum orang dapat kenal-mengenal, sebab kata Boas: "Janganlah diketahui orang, bahwa seorang perempuan datang ke tempat pengirikan."

    Lagi katanya: "Berikanlah selendang yang engkau pakai itu dan tadahkanlah itu." Lalu ditadahkannya selendang itu. Kemudian ditakarnyalah enam takar jelai ke dalam selendang itu. Sesudah itu pergilah Boas ke kota.

    Setelah perempuan itu sampai kepada mertuanya, berkatalah mertuanya itu: "Bagaimana, anakku?" Lalu diceritakannyalah semua yang dilakukan orang itu kepadanya

    serta berkata: "Yang enam takar jelai ini diberikannya kepadaku, sebab katanya: Engkau tidak boleh pulang kepada mertuamu dengan tangan hampa."

    Lalu kata mertuanya itu: "Duduk sajalah menanti, anakku, sampai engkau mengetahui, bagaimana kesudahan perkara itu; sebab orang itu tidak akan berhenti, sebelum diselesaikannya perkara itu pada hari ini juga."
    — Rut 3:1–18 (TB)

    Merancang Rencana (3:1–6)

    Rut telah bekerja di ladang Boas selama sekitar tiga bulan, hingga berakhirnya musim menuai gandum (Rut 2:23). Sepanjang kurun waktu ini, belum ada tindakan penebusan apa pun yang diprakarsai oleh Boas, sehingga Naomi memutuskan untuk bertindak dan membantu menggerakkan proses tersebut.

    Rut 3:1. Sebagian penafsir berpendapat bahwa tindakan Naomi bersifat manipulatif—bahkan nyaris licik—demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Kesepakatan terselubung semacam itu tidak mungkin karena Naomi sangat peduli akan kesejahteraan Rut, dan ia memikirkan pemenuhan kebutuhan jasmani yang akan disediakan oleh seorang penebus. Memang benar, mereka berdua hidup pas-pasan demi menyambung hidup, bahkan Naomi berada pada titik di mana ia mungkin harus menjual tanahnya untuk bertahan hidup (Rut 4:3). Selain itu, sebagai seorang perempuan Moab, Rut mungkin belum memahami bagaimana hukum penebusan Israel bekerja, dan dengan demikian, Naomi sedang membimbingnya.

    Rut 3:2. Naomi menyuruh Rut pergi ke tempat pengirikan pada malam itu juga, tempat di mana Boas akan mengawasi penampian hasil panennya. Boas akan berada di sana sepanjang malam demi menjaga hasil panennya. Naomi kemudian menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Rut: ia harus mandi, berurap (memakai minyak wangi), dan mengganti pakaiannya. Sebagian penafsir menduga bahwa Naomi menginstruksikan Rut untuk bersikap menggoda atau memikat. Namun lebih tepatnya, tindakannya menunjukkan kepada Boas bahwa masa berkabung Rut telah berakhir. Dalam 2 Samuel 12:20, Daud melakukan tiga hal yang sama persis untuk menandakan bahwa ia telah menyelesaikan perkabungannya atas kematian anaknya.

    Rut 3:3–6. Rut harus menunggu sampai Boas sendirian sebelum mendekatinya. Sekali lagi, ini bukanlah sebuah jebakan yang memalukan atau skandal. Rut mendekati Boas secara pribadi agar reputasinya tetap terjaga seandainya Boas menolak tawarannya. Boas adalah seorang pria saleh yang tidak akan memanfaatkan keadaan Rut, melainkan akan menangani perkara tersebut dengan cara yang patut dan terhormat. Namun, sekilas mungkin tampak bahwa perintah Naomi agar Rut ”menyingkapkan selimut dari kakinya dan berbaring” di samping Boas merupakan ajakan ke arah hubungan seksual. Sebaliknya, tindakan tersebut merupakan sebuah tindakan yang sangat simbolis. Dengan masuk dan berbaring di kaki Boas di bawah ujung selimut, Rut sedang menempatkan dirinya pada posisi yang dikhususkan bagi seorang istri. Secara efektif, ia sedang menyatakan kerinduannya untuk menjadi istri Boas melalui jalur penebusan. Tindakannya adalah sebuah wujud ketundukan, bukan skandal yang tercela. Bagian narasi selanjutnya memberikan kesaksian lebih lanjut mengenai keluhuran budi pekerti dan kebajikan baik dari Rut maupun Boas.


    Di Timbunan Jelai (3:7–13)

    Rut 3:7. Drama narasi berlanjut saat Boas menyelesaikan makan dan minumnya, lalu merebahkan diri untuk tidur. ”Hatinya gembira”—yang bermakna ”puas atau tenteram” dan sama sekali tidak mengindikasikan mabuk atau mudah terbujuk godaan. Rut kemudian datang kepadanya ”dengan diam-diam”, sebuah terjemahan yang keliru jika diasumsikan sebagai pose sensual atau memikat dari pihak Rut. Kata tersebut sebenarnya mengandung arti bahwa ia mendatangi Boas secara sembunyi-sembunyi dan privat atau rahasia (lihat penggunaannya dalam 1Sam. 18:22). Ini bukanlah sebuah adegan rayuan birahi.

    Rut ”menyingkapkan selimut dari kakinya” dan berbaring. Sekali lagi, sejumlah penulis menafsirkan tindakan ini sebagai aktivitas seksual. Sejujurnya, kata kerja ”menyingkapkan” memang dapat digunakan dengan makna tersebut dalam Perjanjian Lama (lihat, mis., Im. 20:11, 19–21). Akan tetapi, frasa yang digunakan di tempat lain adalah ”menyingkapkan ketelanjangan atau aurat seseorang” dan bukan ”menyingkapkan selimut dari kakinya.” Kita seharusnya menerima tindakan Rut sesuai dengan makna harfiahnya: ia menyingkapkan kaki Boas dengan mengangkat selimutnya, lalu berbaring di samping kakinya dan menyelimuti dirinya sendiri dengan selimut tersebut. Rut kelak akan menjelaskan maksud metaforisnya dengan meminta agar Boas ”mengembangkan sayapnya melindungi hambanya, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus.” Tindakan Rut menarik selimut ke atas dirinya merupakan perlambang bahwa ia ingin berada di bawah naungan perlindungan dan pemeliharaan penebusan Boas. Sebagai penegasan terhadap gagasan ini, dalam Rut 2:12, Boas telah berbicara kepada Rut mengenai keberadaannya yang datang berlindung di bawah ”sayap” (yaitu, naungan perlindungan) Yahweh.

    Rut 3:8–13. Boas terbangun ”dengan terkejut” dan menanyakan jati diri perempuan itu. Jika keduanya sedang terlibat dalam hubungan seksual, pertanyaan ini tentu tidak masuk akal. Seluruh adegan ini adalah permohonan yang rendah hati dan penuh kebajikan dari pihak Rut agar Boas menjalankan perannya sebagai penebus. Boas mengakui karakternya yang mulia dan luhur, seraya menjelaskan bahwa seluruh kota Betlehem mengetahui Rut sebagai ”seorang perempuan baik-baik” (kata Ibrani yang sama dengan yang menggambarkan Boas sebagai ”kaya raya” dalam Rut 2:1; lihat catatan kaki nomor 1). Mereka berdua adalah pribadi-pribadi yang berintegritas dan terhormat, dan memandang adegan ini sebagai peristiwa rayuan yang kotor justru merendahkan karakter moral mereka yang lurus.

    Boas berjanji untuk bertindak, namun ia menyampaikan satu potensi kendala dalam rencananya: ada go'el lain yang memiliki pertalian darah lebih dekat dan memegang hak penebusan pertama. Hal ini berarti Boas harus mencari jalan untuk mendorong sang penebus terdekat tersebut mengambil keputusan atas perkara ini. Bagaimanapun juga, Boas mengikrarkan sumpahnya kepada Rut, dan ia memeteraikannya dengan menyebut nama perjanjian Yahweh. Sumpahnya didasarkan pada keberadaan Allah Israel yang hidup.


    Kembali ke Betlehem (3:14–18)

    Rut 3:14. Rut tetap berada di tempat pengirikan sepanjang sisa malam itu dan berbaring di sebelah kaki Boas. Ini adalah tempat perlindungan tanpa sedikit pun ketidaksenonohan. Adegan ini memancarkan pengendalian diri dan kehati-hatian. Rut kemudian bangun sebelum fajar menyingsing: Boas sangat memedulikan reputasi Rut, dan karena itu, ia memastikan agar Rut bergegas pergi lebih awal sebelum orang dapat saling mengenal.

    Rut 3:15. Sebelum Rut pergi, Boas memberikannya enam takar jelai. Sebagian penafsir menganggap hal ini sebagai semacam imbalan atas layanan seksual (bdk. Kej. 38, di mana Yehuda memberikan bayaran kepada Tamar atas pelacuran). Penafsiran semacam itu sangatlah tidak pantas dan keliru. Sebaliknya, jelai tersebut berfungsi sebagai jaminan dari Boas kepada Rut dan Naomi bahwa ia akan menepati janjinya. Ia memberikan sebuah tanda bukti komitmen bahwa ia akan mengurus penebusan tersebut pada hari itu juga. Kalimat terakhir dari ayat ini mengonfirmasikan niat Boas. Sebagian versi bahasa Inggris (seperti ESV) menerjemahkan kalimat tersebut dengan subjek feminin: ”then she went into the city” (”lalu pergilah perempuan itu ke kota”). Persoalannya adalah bahwa teks Ibrani menggunakan subjek maskulin: ”then he went into the city” (sebagaimana tercermin dalam TB: ”Sesudah itu pergilah Boas ke kota”). Maksud dari subjek maskulin dalam teks tersebut adalah bahwa Boas bersungguh-sungguh dengan komitmennya, dan ia segera pergi ke Betlehem untuk membereskan perkara itu pada hari itu juga.

    Rut 3:16–18. Rut kembali ke rumahnya dan menceritakan kepada Naomi semua peristiwa yang telah terjadi. Ia menutup laporannya dengan mengutip perkataan Boas bahwa tidaklah pantas jika Rut pulang kepada Naomi dengan ”tangan hampa.” Ini adalah kata yang persis sama dengan yang digunakan sebelumnya dalam Rut 1:21, di mana Naomi menyatakan bahwa Yahweh telah memulangkannya dari Moab dengan ”tangan kosong / hampa.” Kini, Naomi tidak akan lagi hampa, melainkan akan dipenuhi berkat melalui janji penebusan dari Boas.

    Adegan 4: Di Pintu Gerbang (4:1–22)

    Boas telah pergi ke pintu gerbang dan duduk di sana. Kebetulan lewatlah penebus yang disebutkan Boas itu. Lalu berkatalah Boas: "Hai saudara, datanglah dahulu ke mari, duduklah di sini." Maka datanglah ia, lalu duduk.

    Kemudian dipilihnyalah sepuluh orang dari para tua-tua kota itu, dan berkata: "Duduklah kamu di sini." Maka duduklah mereka.

    Lalu berkatalah ia kepada penebus itu: "Tanah milik kepunyaan saudara kita Elimelekh hendak dijual oleh Naomi, yang telah pulang dari daerah Moab.

    Jadi pikirku: baik juga hal itu kusampaikan kepadamu sebagai berikut: Belilah tanah itu di depan orang-orang yang duduk di sini dan di depan para tua-tua bangsa kita. Jika engkau mau menebusnya, tebuslah; tetapi jika engkau tidak mau menebusnya, beritahukanlah kepadaku, supaya aku tahu, sebab tidak ada orang yang dapat menebusnya kecuali engkau, dan sesudah engkau: aku." Lalu berkatalah ia: "Aku akan menebusnya."

    Tetapi kata Boas: "Pada waktu engkau membeli tanah itu dari tangan Naomi, engkau memperoleh Rut juga, perempuan Moab, isteri orang yang telah mati itu, untuk menegakkan nama orang itu di atas milik pusakanya."

    Lalu berkatalah penebus itu: "Jika demikian, aku ini tidak dapat menebusnya, sebab aku akan merusakkan milik pusakaku sendiri. Aku mengharap engkau menebus apa yang seharusnya aku tebus, sebab aku tidak dapat menebusnya."

    Beginilah kebiasaan dahulu di Israel dalam hal menebus dan menukar: setiap kali orang hendak menguatkan sesuatu perkara, maka yang seorang menanggalkan kasutnya sebelah dan memberikannya kepada yang lain. Demikianlah caranya orang mensahkan perkara di Israel.

    Lalu penebus itu berkata kepada Boas: "Engkau saja yang membelinya." Dan ditanggalkannyalah kasutnya.

    Kemudian berkatalah Boas kepada para tua-tua dan kepada semua orang di situ: "Kamulah pada hari ini menjadi saksi, bahwa segala milik Elimelekh dan segala milik Kilyon dan Mahlon, aku beli dari tangan Naomi;

    juga Rut, perempuan Moab itu, isteri Mahlon, aku peroleh menjadi isteriku untuk menegakkan nama orang yang telah mati itu di atas milik pusakanya. Demikianlah nama orang itu tidak akan lenyap dari antara saudara-saudaranya dan dari antara warga kota. Kamulah pada hari ini menjadi saksi."

    Dan seluruh orang banyak yang hadir di pintu gerbang, dan para tua-tua berkata: "Kamilah menjadi saksi. TUHAN kiranya membuat perempuan yang akan masuk ke rumahmu itu sama seperti Rahel dan Lea, yang keduanya telah membangunkan umat Israel. Biarlah engkau menjadi makmur di Efrata dan biarlah namamu termasyhur di Betlehem,

    keturunanmu kiranya menjadi seperti keturunan Peres yang dilahirkan Tamar bagi Yehuda oleh karena anak-anak yang akan diberikan TUHAN kepadamu dari perempuan muda ini!"

    Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki.

    Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: "Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel.

    Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki."

    Dan Naomi mengambil anak itu serta meletakkannya pada pangkuannya dan dialah yang mengasuhnya.

    Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: "Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki"; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud.

    Inilah keturunan Peres: Peres memperanakkan Hezron,

    Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab,

    Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon,

    Salmon memperanakkan Boas, Boas memperanakkan Obed,

    Obed memperanakkan Isai dan Isai memperanakkan Daud.
    — Rut 4:1–22 (TB)

    Di Ruang Sidang Pengadilan (4:1–12)

    Rut 4:1. Latar cerita kini beralih, dan Boas hadir di pintu gerbang utama Betlehem. Pintu gerbang utama sebuah kota kuno berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para tua-tua kota, dan berbagai perkara hukum diputuskan di sana: tempat itu merupakan ruang pengadilan pada zaman kuno. Waktu kehadiran Boas sangatlah tepat, karena penebus yang paling dekat pertalian darahnya kebetulan melintasi pintu gerbang tersebut. Boas berseru kepadanya, ”Hai saudara, datanglah dahulu ke mari, duduklah di sini.” Kata ”saudara” dalam bahasa Ibrani sebenarnya terdiri atas dua kata (peloni almoni) yang secara lazim bermakna ”si anu, si fulan”. Pria itu sengaja tidak dipanggil dengan menyebut namanya, dan hal ini sangatlah signifikan. Mungkin penghilangan namanya merupakan tanda aib karena pada akhirnya ia tidak menjalankan kewajibannya dalam hal penebusan (lihat Ul. 25:9–10). Dengan kata lain, ia mencemarkan namanya sendiri dan membuat reputasinya tercela.

    Rut 4:2–4. Kini setelah sang penebus terdekat hadir, Boas mengumpulkan sepuluh orang tua-tua kota untuk bertindak sebagai kuorum peradilan. Boas kemudian memaparkan perkara tersebut di hadapan mereka. Kita mengetahui bahwa Naomi berencana menjual sebidang tanah milik Elimelekh demi menyambung hidupnya; ia sedang menghadapi kemelaratan. Akan tetapi, tanah tidak boleh dijual untuk selama-lamanya, melainkan harus ditebus oleh kaum kerabatnya (Im. 25:23–24). Boas mendorong sang go'el terdekat untuk mengambil keputusan, dan orang itu merespons dengan berkata, ”Aku akan menebusnya.”

    Rut 4:5–6. Boas kemudian menghadirkan kejutan dalam alur cerita: jika sang go'el terdekat mau menebus tanah Naomi, ia juga harus bertindak berdasarkan hukum perkawinan levirat, yaitu memperistri Rut dan membangkitkan keturunan bagi orang yang telah mati. Sang penebus pertama kini mengambil kesimpulan yang berbeda: ”Jika demikian, aku ini tidak dapat menebusnya.” Ia menyadari bahwa jika ia melaksanakan penebusan tersebut, hal itu akan menimbulkan perselisihan dalam keluarganya karena milik pusakanya sendiri harus dibagi dengan keturunannya dan dengan Rut. Selain itu, jika ia tidak memiliki anak laki-laki lain, seluruh harta miliknya akan beralih kepada anak laki-laki yang lahir dari pernikahan levirat tersebut. Karena itu, ia memilih untuk melindungi kepentingannya sendiri.

    Rut 4:7–11a. Maka Boas menerima hak penebusan tersebut dan memeteraikannya melalui sebuah adat kuno, yaitu menanggalkan dan menyerahkan kasut kepada pihak yang lain. Tindakan ini merupakan bukti pengesahan resmi atas transaksi tersebut. Para tua-tua dan seluruh orang banyak di pintu gerbang mengesahkan kesepakatan itu secara hukum dengan menjadi saksi atas perkara di pengadilan tersebut. Pernyataan pengesahan mereka dalam bahasa aslinya hanya terdiri atas satu kata: ”Saksi!” Mereka semua berbicara secara serempak dan seia sekata.

    Rut 4:11b–12. Akhirnya, seluruh umat mengucapkan berkat yang terdiri atas tiga bagian bagi Rut dan Boas. Pertama, mereka memohon agar Yahweh menjadikan Rut sama seperti Rahel dan Lea. Kedua perempuan ini adalah istri-istri Yakub, yang bersama-sama dengan hamba-hamba perempuan mereka, melahirkan kedua belas anak laki-laki Yakub dan dengan demikian ”membangunkan umat Israel.” Kedua, mereka berseru agar Boas ”menjadi makmur”—yakni terus bertindak dengan terhormat (kata Ibrani yang sama yang digunakan untuk Boas dalam Rut 2:1 dan untuk Rut dalam Rut 3:11; lihat catatan kaki nomor 1)—serta memohon agar namanya termasyhur di Betlehem. Dan akhirnya, umat berdoa agar keluarga Boas menjadi seperti ”keturunan Peres yang dilahirkan Tamar bagi Yehuda.” Permohonan ini merujuk pada Kejadian 38, di mana Tamar, seorang perempuan asing, memanfaatkan hukum perkawinan levirat untuk melestarikan garis keturunan suku Yehuda. Penduduk Betlehem berasal dari suku tersebut, dan dengan demikian, mereka menaruh pengharapan besar bahwa keturunan dari Rut dan Boas juga akan melanjutkan garis keturunan Yehuda.


    Sang Keturunan (4:13–22)

    Rut 4:13. Dalam Rut 4:13–17, kita melihat kisah kitab ini mencapai klimaks awalnya. Perjalanan kisah Rut telah menaik dalam sebuah alur yang indah: ia tiba di Betlehem sebagai seorang yang ”tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan” (Rut 2:13), kemudian menyatakan kepada Boas, ”Aku Rut, hambamu” (Rut 3:9), dan kini, dalam nas ini, ia dinyatakan sebagai istrinya. Rut kemudian mengandung; kedaulatan Allah tampak nyata tanpa keraguan dalam peristiwa ini ketika Dia membuka kandungannya sehingga ia melahirkan seorang anak laki-laki. Inilah ahli waris laki-laki yang akan meneruskan nama keluarga dan tanah milik pusaka!

    Rut 4:14–16. Kaum perempuan di kota itu datang dan mengucapkan berkat bagi Naomi. Mereka pertama kali muncul dalam narasi pada Rut 1:19, di mana mereka mungkin merendahkan Naomi dengan bertanya: ”Naomikah itu?” Kini mereka memuji Yahweh karena telah mengaruniakan seorang penebus baginya. Dua ucapan dari kaum perempuan kota ini berfungsi sebagai sebuah inclusio, yang membingkai seluruh peristiwa di Betlehem. Kaum perempuan tersebut, dalam arti tertentu, bertindak bagaikan paduan suara yang mengomentari pergerakan kisah ini dari kepahitan menuju kemanisan.

    Rut 4:17. Kaum perempuan Betlehem menamai anak itu ”Obed”, yang berarti ”orang yang melayani” (hamba). Nama Obed sangatlah tepat karena ia melayani untuk memelihara garis keturunan Elimelekh dan tanah milik pusaka keluarga tersebut. Penulis kini menyatakan signifikansi yang jauh lebih besar dari kesinambungan garis keturunan Obed dengan mencatat bahwa Obed menjadi ayah Isai dan kakek Daud, raja besar Israel. Dengan demikian, para pembaca mulai melihat gambaran yang lebih luas: kita melihat Allah berkarya menegakkan garis keturunan raja Israel melalui pasangan yang tampaknya tak terduga antara Rut dan Boas.

    Rut 4:18–22. Kitab Rut diakhiri dengan sebuah silsilah yang lebih luas yang merunut garis keturunan dari Peres, anak Yehuda, hingga kepada Daud. Silsilah yang lebih terperinci ini dihadirkan untuk menghubungkan Daud kembali kepada Yehuda, yang kepadanya telah dijanjikan sebuah garis keturunan raja dan kekuasaan kerajaan (lihat Kej. 49:8–10). Perhatikan bahwa silsilah ini bersifat selektif; silsilah ini tidak mencantumkan setiap generasi dari Peres hingga Daud. Silsilah ini mencatat sepuluh nama, dan dalam budaya Ibrani, angka sepuluh sering kali melambangkan kelengkapan atau kepenuhan. Gagasan di balik silsilah ini bukanlah untuk memberikan daftar historis yang menyeluruh dan lengkap tanpa celah, melainkan untuk menunjukkan bahwa silsilah tersebut mencapai klimaks dan kepenuhannya di dalam pribadi Daud.

    Namun, silsilah selektif ini tidak hanya memandang ke belakang, tetapi juga memandang ke depan. Daftar sepuluh keturunan dari Peres hingga Daud sama persis dengan apa yang dicatat oleh Matius dalam silsilah Yesus (Mat. 1:3–6), dengan menambahkan tiga perempuan: Tamar, Rahab, dan Rut. Hal ini membuktikan bahwa silsilah yang terdapat pada akhir Kitab Rut menemukan klimaks puncaknya dalam kedatangan Yesus, Sang Anak Daud dan Raja Terakhir Israel. Perhatikan bagaimana tokoh-tokoh utama dalam kisah Rut—Naomi, Boas, dan Rut—telah memudar dari narasi. Kisah mereka bukanlah kisah utamanya. Kedatangan Sang Mesias adalah tujuan utama dan puncak tertinggi dari seluruh Kitab Rut.


    Kepustakaan (Bibliography)

    • Block, D. L., Judges, Ruth. New American Commentary. Nashville, TN: B&H, 1999.
    • Campbell, E. F., Ruth. The Anchor Bible, vol. 7. New York: Doubleday, 1975.
    • Duguid, I. M., Esther and Ruth. Reformed Expository Commentary. Phillipsburg, NJ: P&R, 2005.
    • Ferguson, S. B., Faithful God: An Exposition of the Book of Ruth. Darlington, England: Evangelical Press, 2005.
    • Hubbard, R. L., The Book of Ruth. New International Commentary on the Old Testament. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1989.

    [^1]: Catatan penerjemah: kata Ibrani yang sama (ḥayil) diterjemahkan secara berbeda-beda oleh TB, yaitu ”cakap” (Ams. 31:10), ”kaya raya” (Rut 2:1), ”baik-baik” (Rut 3:11), dan ”makmur” (Rut 4:11). Penulis menunjuk pada satu kata Ibrani yang sama di keempat tempat tersebut.

    [^2]: Catatan penerjemah: naskah asli bahasa Inggris menulis ”delapan liter”; dua pertiga gantang (bushel) setara dengan sekitar 22–24 liter.