Yosua


Tentang Seri Ini:
Artikel ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari The Gospel Coalition (TGC) Bible Commentary untuk Kitab Yosua.
Penulis: Richard L. Pratt Jr., Ph.D. (President of Third Millennium Ministries, Orlando, Florida; mantan Profesor Perjanjian Lama di Reformed Theological Seminary)
Sumber Asli: The Gospel Coalition Bible Commentary — Joshua
Diterjemahkan dan dipublikasikan untuk tujuan edukasi dan non-komersial.


Pengantar Kitab Yosua

Sama seperti setiap bagian lain dari Kitab Suci, Kitab Yosua ditulis untuk memajukan kerajaan Allah di bumi. Kitab ini berkontribusi bagi perluasan pemerintahan Allah sebagai kitab pertama dari enam kitab Perjanjian Lama (Yosua, Hakim-hakim, 1–2 Samuel, dan 1–2 Raja-raja) yang berfokus pada babak-babak sejarah Israel dengan bersandar erat pada perspektif perjanjian (covenantal) dari Pentateukh, terkhusus di dalam Kitab Ulangan. Alur kisah Kitab Yosua dimulai tepat sesudah kematian Musa, memusatkan perhatian pada kepemimpinan Yosua atas Israel, dan meletakkan dasar bagi peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam Kitab Hakim-hakim. Kitab ini mengagungkan TUHAN sebagai Raja Ilahi Israel yang memenangkan pertempuran bagi umat-Nya, menganugerahkan kepada mereka bagian tanah pusaka yang kekal di Tanah Perjanjian, serta menegakkan perjanjian-Nya dengan mereka. Oleh karena itu, Kitab Yosua membimbing umat Allah di segala zaman dalam upaya mereka memajukan kerajaan Allah.

Kepengarangan dan Waktu Penulisan

Pandangan mengenai kepengarangan dan waktu penulisan sangat bervariasi karena Kitab Yosua bersifat anonim. Talmud menetapkan kepengarangannya kepada Yosua sendiri, dengan penambahan-penambahan di kemudian hari oleh Imam Besar Eleazar dan putra Eleazar, Pinehas. Para sarjana Yahudi dan Kristen kuno cenderung mengikuti pandangan ini.

Sebagian besar sarjana kritis modern menafsirkan kitab ini sejalan dengan teori Sejarah Deuteronomistis (Deuteronomistic History) yang sangat berpengaruh. Dalam pandangan ini, satu atau beberapa kelompok orang Lewi dari Israel utara menyelesaikan penulisan Kitab Yosua bersama-sama dengan Kitab Ulangan, Hakim-hakim, Samuel, dan Raja-raja selama masa pembuangan di Babel.

Para penafsir Injili kontemporer yang mengakui otoritas penuh Kitab Suci umumnya sepakat bahwa sang penulis menggunakan berbagai sumber tertulis dan menyusun kitabnya pada suatu waktu antara satu generasi setelah kematian Yosua hingga masa pembuangan di Babel. Batas waktu paling awal untuk penyelesaian kitab ini ditentukan oleh penyebutan tentang "tua-tua yang hidup lebih lama dari Yosua" (24:31). Sebagian penafsir mengusulkan waktu penulisan yang lebih terkemudian selama masa kerajaan terpecah karena teks tradisional Ibrani pada pasal 11:21 membedakan antara "Israel" dan "Yehuda". Namun demikian, Septuaginta (terjemahan Yunani kuno) tidak membuat pembedaan ini dan mungkin mencerminkan pembacaan teks yang lebih unggul. Mengenai batas waktu penulisan paling akhir, beberapa bukti (lihat 6:26; 1Raj. 16:34) mengindikasikan bahwa penulis Kitab Raja-raja bersandar pada Kitab Yosua. Jika penilaian ini tepat, kitab kita ini tentu sudah diselesaikan sebelum berakhirnya masa pembuangan di Babel (lihat 2Raj. 25:27–30).

Bagaimanapun juga, mempertimbangkan berbagai kemungkinan kepengarangan dan waktu penulisan ini menyadarkan kita akan sikap penafsiran yang sangat krusial terhadap Kitab Yosua. Kitab ini tidak ditulis semata-mata untuk memengaruhi orang-orang yang hidup sezaman dengan Yosua; sebaliknya, kitab ini menyajikan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman Yosua guna membimbing generasi-generasi Israel berikutnya ketika mereka melayani TUHAN dan kerajaan-Nya.

Tema-Tema Utama

Setiap bagian utama dari kitab kita dibuka dengan penanda waktu (orientasi temporal) dan berfokus pada salah satu dari tiga tema menonjol:

  1. Pasal 1–12 diawali dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi "sesudah Musa hamba TUHAN itu mati" (1:1). Pasal-pasal ini memusatkan perhatian pada kemenangan penaklukan Israel di Kanaan.
  2. Pasal 13–22 dimulai ketika Yosua "telah tua dan lanjut umurnya" (13:1). Bagian utama ini mengarahkan perhatian pada pembagian tanah pusaka suku-suku Israel.
  3. Pasal 23–24 beralih ke peristiwa-peristiwa yang terjadi "lama sesudah itu" (23:1). Bagian ini berfokus pada seruan Yosua untuk kesetiaan perjanjian kepada Allah.

Sebagaimana akan kita lihat, Perjanjian Baru berbicara banyak mengenai masing-masing tema ini dan bagaimana tema-tema tersebut berlaku bagi para pengikut Kristus.

Tantangan Moral: Kekerasan

Kekerasan dalam kemenangan penaklukan Israel kerap kali menyinggung kepekaan moral modern. Bagaimana mungkin kita tidak mengecam keras apa yang dilakukan Israel terhadap penduduk Kanaan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memahami garis besar mendasar dari apa yang diajarkan oleh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengenai penaklukan Israel tersebut.

Konteks Perjanjian Lama

Penulis kitab kita sangat memahami Pentateukh, dan ia mengerti bahwa penaklukan Kanaan oleh Israel bukanlah agresi manusiawi biasa. Penaklukan itu merupakan wujud historis dari konflik yang bermula sejak pengumuman awal Allah mengenai permusuhan antara keturunan Ular dan keturunan perempuan (Kej. 3:15). Sejak saat itu, manusia yang menyerahkan kesetiaan mereka kepada jalan Ular dan roh-roh jahatnya berada dalam pertentangan dengan manusia yang menyerahkan kesetiaan mereka kepada Hawa dalam pelayanannya kepada TUHAN. Pada masa-masa awal, permusuhan ini nyata antara Kain dan Habel, antara keturunan Kain dan keturunan Set, antara Nuh dan orang-orang sezamannya di dunia, serta di antara ketiga putra Nuh: Sem, Ham, dan Yafet. Israel tampil ke panggung utama konflik ini ketika Allah memanggil Abraham dan keturunannya untuk membawa berkat-berkat Allah kepada seluruh kaum di muka bumi dari tanah air mereka di Kanaan (lihat Kej. 12:1–3). Pada zaman Musa, TUHAN membebaskan Israel dari Mesir serta ilah-ilah Mesir dan menuntun suku-suku Israel menuju Tanah Perjanjian. Jauh dari sekadar penaklukan biasa, penulis kita menegaskan bahwa TUHAN sendiri dan malaikat "Panglima Balatentara TUHAN" (5:13–15) berperang di pihak Israel melawan bangsa Kanaan dan ilah-ilah palsu mereka.

Penaklukan oleh Yosua merupakan salah satu dari sekian banyak peristiwa di mana TUHAN melakukan intervensi secara dramatis ke dalam sejarah untuk melawan kejahatan yang amat keji. Menurut Kitab Kejadian dan Keluaran, TUHAN mendatangkan penghakiman yang keras ke atas umat manusia dalam peristiwa Air Bah zaman Nuh, Menara Babel, Sodom dan Gomora, serta di Mesir. Penaklukan oleh Yosua adalah bentuk intervensi ilahi yang serupa. TUHAN memberitahukan kepada Abraham bahwa Dia akan membiarkan Israel tinggal di Mesir selama 400 tahun, "sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap" (Kej. 15:16). Bukti-bukti arkeologis dari Kanaan menunjukkan bahwa tanah itu penuh dengan kengerian seperti pengorbanan anak, penyimpangan seksual, kekerasan, dan ketidakadilan. Maka, dalam hikmat-Nya yang tak tertandingi, TUHAN menetapkan untuk mengintervensi dengan penghakiman yang keras terhadap orang-orang Kanaan melalui penaklukan oleh Israel.

Catatan Historis: Prasasti-prasasti batu (stelae) di kota Fenisia, Kartago, berfungsi sebagai penanda kubur bagi korban-korban pengorbanan anak. Praktik ini meneguhkan kebenaran klaim Alkitab mengenai kebiasaan keji dalam kebudayaan Kanaan kuno.

Penaklukan oleh Yosua dipandu oleh salah satu dari beragam strategi yang diperintahkan TUHAN kepada umat-Nya yang setia pada berbagai periode sejarah yang berbeda. Betapa pun sulitnya hal ini kita pahami, Allah memerintahkan dalam penaklukan tersebut bahwa orang Kanaan harus "dikhususkan bagi TUHAN untuk dimusnahkan" (herem / devoted to the Lord for destruction, 6:17). Terdapat pengecualian terhadap kebijakan umum ini sebagaimana yang ditetapkan TUHAN, namun Dia bermaksud menyucikan Tanah Perjanjian dari kejahatan bangsa Kanaan yang melampaui batas dan melindungi Israel agar tidak tercemar oleh mereka. Dalam peraturan ibadah Musa, istilah "dikhususkan untuk ditumpas" merujuk pada proses mempersembahkan korban syukur khusus sepenuhnya bagi TUHAN (lihat Im. 27:28; Bil. 18:14; Yeh. 44:29). Pemusnahan total masyarakat Kanaan merupakan bentuk penolakan bangsa Israel untuk mengambil jarahan dan rampasan bagi diri mereka sendiri, sekaligus pengakuan penuh syukur bahwa Kanaan sepenuhnya adalah milik TUHAN.

Tujuan penaklukan Kanaan oleh Israel adalah untuk bergerak menuju sasaran yang jauh lebih besar: yaitu hari ketika keturunan Abraham berhasil menyebarkan berkat-berkat Allah ke seluruh penjuru bumi (lihat Kej. 12:1–3). Tanah Perjanjian adalah tempat di mana Allah menetapkan untuk mendirikan Israel sebagai sebuah kerajaan yang kelak akan menjadi pemerintahan yang mencakup seluruh dunia (lihat Mzm. 72). Ketika kerajaan ini berpaling dari TUHAN, Dia membuang mereka dari tanah air mereka selama berabad-abad. Kendati demikian, para nabi Israel dengan berani memproklamasikan bahwa sesudah masa pembuangan, Putra Daud yang adil dan berhak atas takhta kerajaan akan menduduki takhta-Nya dan memperluas kerajaan Israel sampai ke ujung-ujung bumi (lihat Yes. 9:5–6 [9:6–7]; Yer. 23:5).

Konteks Perjanjian Baru

Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Yesus adalah Putra Daud yang adil dan benar, yang memperluas pemerintahan Allah ke seluruh dunia. Kendati demikian, sama seperti TUHAN menetapkan berbagai strategi untuk diikuti oleh umat-Nya di sepanjang Perjanjian Lama, Yesus dipanggil untuk melantik (menginaugurasi) kerajaan-Nya selama pelayanan-Nya di bumi melalui strategi ganda yang luar biasa:

  • Di satu sisi, Yesus mematahkan cengkeraman Iblis atas dunia melalui kehidupan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya (lihat Kol. 2:15; Ibr. 2:14). Di dalam kuasa Roh Kudus, Dia dan para rasul-Nya tanpa henti menyerang Iblis dan roh-roh jahatnya (lihat Mat. 17:18; Luk. 10:18; Kis. 16:16–18; 19:12).
  • Di sisi lain, Yesus juga memperluas kerajaan Allah melawan kerajaan Iblis dengan menawarkan kemurahan dan belas kasihan kepada umat manusia. Dia mendedikasikan hidup-Nya untuk memanggil manusia beralih ke dalam kerajaan-Nya dengan percaya kepada-Nya (lihat Mat. 11:28–30; Yoh. 7:37).

Yesus merangkum strategi ganda ini selama pelantikan kerajaan-Nya dalam Yohanes 12:31–32: "Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." Setiap penerapan Kristen atas kemenangan penaklukan Israel harus memperhitungkan bahwa Kristus melantik kerajaan-Nya di seluruh dunia dengan strategi ganda ini.

Di sepanjang keberlanjutan (kontinuitas) kerajaan-Nya, Yesus melanjutkan strategi ganda yang serupa melalui Roh-Nya yang berkarya di dalam gereja. Para pengikut-Nya tidak diperintahkan untuk menyerang sesama manusia, sebab "perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan ... penghulu-penghulu dunia yang gelap ini" (Ef. 6:12). Pada saat yang sama, gereja menawarkan kemurahan di dalam nama Yesus kepada semua orang agar mereka "memberi diri didamaikan dengan Allah" (2Kor. 5:20) sebelum hari penghakiman tiba. Setiap bagian dari kisah penaklukan Israel dalam Kitab Yosua berlaku bagi kehidupan Kristen sehari-hari melalui dua cara ini.

Penaklukan oleh Yosua juga mengarahkan hati kita menuju kemenangan akhir Kristus pada saat penyempurnaan (konsumasi) kerajaan-Nya. "[Kristus] harus memegang pemerintahan sebagai Raja [di surga] sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya" (1Kor. 15:25). Ketika Kristus datang kembali, masa pembiaran terhadap roh-roh jahat dan manusia yang memberontak akan berakhir. Iblis akan dihancurkan di bawah kaki para pengikut Kristus (lihat Rm. 16:20), namun mereka yang menolak tawaran keselamatan akan mengalami penghakiman kekal (lihat Why. 20:14–21:8). Setiap aspek penaklukan Yosua berlaku secara tepat bagi para pengikut Kristus ketika kita senantiasa mengingat bahwa kelak "pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya" (Why. 11:15).

Sumber Bacaan yang Dianjurkan

Untuk pembacaan lebih lanjut dan perspektif tambahan mengenai isu ini, lihat sumber-sumber berikut:

  • Michael Kruger, "Is God Guilty of Genocide?"
  • Justin Taylor, "How Could God Command Genocide in the Old Testament?"
  • Paul Copan dan Matt Flannagan, Did God Really Command Genocide?: Coming to Terms with the Justice of God (Baker: 2014).
  • Andrew Judd, "Thinking Through Old Testament Violence."

Tantangan Relevansi: Tanah Pusaka

Sama seperti kekerasan dalam penaklukan Israel yang memunculkan persoalan moral bagi banyak orang Kristen, bagian utama kedua dari kitab kita memunculkan pertanyaan mengenai relevansi. Bagaimana mungkin pembagian tanah pusaka kepada suku-suku Israel memiliki signifikansi bagi para pengikut Kristus? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus senantiasa mengingat sejumlah perspektif Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengenai tanah pusaka Israel.

Konteks Perjanjian Lama

Signifikansi pembagian tanah pusaka suku-suku Israel berakar pada mandat purba Allah kepada orang tua pertama kita di taman Eden (lihat Kej. 1:26–30). Di sana, Sang Raja tertinggi atas seluruh ciptaan memanggil Adam dan Hawa untuk melayani maksud-maksud-Nya dengan memenuhi seluruh bumi dan menaklukkannya. Sesudah Adam dan Hawa diusir dari taman itu dan umat manusia tersebar ke berbagai wilayah di bumi, TUHAN "membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa ... menurut bilangan anak-anak Allah" (Ul. 32:8, menurut naskah Qumran/LXX yang diikuti ESV; TB: "anak-anak Israel"). Artinya, TUHAN menetapkan bagian-bagian bumi sebagai milik pusaka bagi bangsa-bangsa di bawah pemerintahan otoritas malaikat. Oleh karena itu, Israel mengakui bahwa TUHAN adalah "Raja yang besar atas seluruh bumi" (Mzm. 47:3 [47:2]), namun mereka juga percaya dengan teguh bahwa Dia menetapkan suatu "milik pusaka bagi kita ... yang dikasihi-Nya" (Mzm. 47:5 [47:4]). Milik pusaka istimewa Israel mengelilingi "gunung milik-Mu sendiri" (Kel. 15:17, secara harfiah "gunung milik pusaka-Mu"; lihat Yeh. 28:14); itu adalah "tanah-Nya yang kudus" (Mzm. 78:54) bagi "bangsa yang kudus" milik-Nya (Kel. 19:6). Tanah pusaka Israel membentang dari perbatasan Mesir hingga ke Sungai Efrat (lihat Kej. 15:18–21), lokasi wilayah tanah Eden (lihat Kej. 2:10–14). Allah menganugerahkan tanah ini kepada umat-Nya supaya mereka menggenapi mandat awal-Nya bagi umat manusia untuk berkuasa atas bumi dalam pelayanan kepada-Nya.

Kitab Suci menyebut tanah Israel sebagai "milik pusaka" (tanah pusaka / inheritance) dan bukan sekadar "hak milik pribadi" (property), karena tanah tersebut merupakan kepunyaan mereka yang abadi. Tanah pusaka itu dianugerahkan "untuk selama-lamanya" (lihat Kel. 32:13; Im. 25:34, 46), dan kepemilikannya hanya tunduk pada prerogatif Raja Ilahi yang memberikannya kepada mereka. Musa menaklukkan dan membagikan tanah pusaka kepada suku-suku di sebelah timur Sungai Yordan, dan Yosua dipanggil untuk menaklukkan serta menetapkan pembagian suku-suku di sebelah barat Sungai Yordan. Begitu Yosua menuntaskan misi ini, panggung sejarah telah siap bagi seorang raja dari suku kerajaan, yaitu suku Yehuda, untuk membangun Bait Suci bagi TUHAN dan memimpin bangsa itu dalam memperluas tanah pusaka mereka ke seluruh dunia. Sebagaimana firman TUHAN kepada keluarga Daud: "Bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung-ujung bumi menjadi kepunyaanmu" (Mzm. 2:8). Seluruh dunia akan menjadi milik pusaka Israel ketika TUHAN menetapkan untuk "menghakimi bumi" dan "memiliki segala bangsa" (Mzm. 82:8).

Dinasti Daud berhasil mempersatukan suku-suku Israel menjadi satu kerajaan, membangun Bait Suci bagi TUHAN, dan mulai memperluas perbatasan Israel. Namun demikian, pemberontakan Israel terhadap TUHAN akhirnya membawa mereka pada masa pembuangan keluar dari Tanah Perjanjian. Selama berabad-abad, Israel mengalami kehilangan tanah pusaka mereka. Kendati demikian, TUHAN berjanji melalui para nabi-Nya bahwa suatu hari nanti Israel akan kembali ke tanah mereka untuk menggenapi pelayanan mereka kepada-Nya. Seorang putra Daud yang adil dan benar akan menduduki takhta-Nya, membangun kembali Bait Suci TUHAN, dan "seorang seperti anak manusia" akan menerima "kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya" (Dan. 7:13–14).

Konteks Perjanjian Baru

Bagi banyak pengikut Kristus, pasal-pasal dalam kitab kita mengenai pembagian tanah pusaka suku-suku Israel mungkin tampak menjemukan. Namun demikian, pasal-pasal ini sangat relevan bagi kita karena Kristus adalah Anak Manusia yang akan memegang kekuasaan atas seluruh bumi. Dia adalah "keturunan" Abraham yang "akan memiliki dunia" (Rm. 4:13) [ESV: heir of the world, "ahli waris dunia"; TB memakai "memiliki"/"bagian" di mana ESV memakai inheritance]. Yesus mulai mengambil kepemilikan atas warisan-Nya di seluruh dunia dalam pelantikan (inaugurasi) kerajaan-Nya selama pelayanan-Nya di bumi. Sesudah kebangkitan-Nya, Bapa mengaruniakan kepada-Nya "segala kuasa di sorga dan di bumi" (Mat. 28:18). Yesus naik ke takhta Daud di surga dan mencurahkan Roh Kudus sebagai "buah sulung" (Rm. 8:23) serta "jaminan bagian kita" (Ef. 1:14). Yesus juga memanggil para rasul-Nya untuk memulai perluasan kerajaan-Nya di antara bangsa-bangsa non-Yahudi, sehingga baik orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lain yang percaya kepada-Nya "mendapat bagian yang dijanjikan" (Ef. 1:11). Semua orang yang mengikuti-Nya di mana pun di seluruh dunia adalah "ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus" (Rm. 8:17). Saat kita menerapkan apa yang diajarkan Kitab Yosua kepada Israel mengenai tanah pusaka suku-suku ke dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, kita harus senantiasa memandangnya dalam terang apa yang telah diselesaikan oleh Kristus.

Selama keberlanjutan (kontinuitas) pemerintahan Kristus dari takhta-Nya di surga, Dia memperluas pemerintahan-Nya lebih jauh melalui Roh-Nya yang berkarya di dalam gereja. Berita Injil Kristus terus diberitakan ke semakin banyak wilayah di dunia untuk melipatgandakan jumlah "orang yang berhak menerima janji-janji Allah bersama Kristus" (Rm. 8:17). Semakin banyak orang yang percaya kepada Kristus terus menerima Roh Kudus sebagai "jaminan bagian" mereka (Ef. 1:14). Roh itu memampukan kita untuk memperluas pemerintahan Kristus sebagai "saksi-saksi-Nya ... sampai ke ujung bumi" (Kis. 1:8). Kita berjuang dalam peperangan rohani melalui kuasa Roh karena "senjata perjuangan kami bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup meruntuhkan benteng-benteng" di seluruh dunia (2Kor. 10:4). Roh Kudus mempersatukan kita dalam misi ini sebagaimana kepada kita masing-masing "dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama" (1Kor. 12:7). Seluruh penerapan atas catatan tanah pusaka suku-suku Israel dalam Kitab Yosua harus senantiasa dibentuk oleh pengajaran Perjanjian Baru ini.

Di atas segalanya, Perjanjian Baru memanggil para pengikut Kristus untuk menaruh pengharapan mereka pada kepemilikan penuh atas warisan mereka saat penyempurnaan (konsumasi) kerajaan Kristus. Pada penghakiman terakhir, "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya ... semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya ... Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan" (Mat. 25:31–34). Segala sesuatu yang ditulis oleh penulis kita mengenai tanah pusaka suku-suku Israel seharusnya mengarahkan mata hati kita menuju hari ketika kita mengalami "pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya ... betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus" (Ef. 1:18).

Tantangan Spiritual: Jaminan Keselamatan

Dua bagian pertama dari kitab kita memunculkan pertanyaan seputar moralitas dan relevansi. Kerap kali, bagian ketiga mengenai kesetiaan perjanjian memunculkan persoalan rohani mengenai kepastian (security), yaitu jaminan keselamatan di dalam Kristus. Atas dasar perjanjian TUHAN dengan Israel, Yosua memberikan peringatan dan ancaman yang sangat keras kepada suku-suku Israel dalam pasal-pasal ini. Ia menyerukan agar Israel memperbarui perjanjian mereka dengan TUHAN, supaya mereka tidak ditimpa penghakiman TUHAN. Bagaimana mungkin peringatan dan ancaman ini memiliki kaitan dengan kita, sementara perjanjian baru di dalam Kristus menjamin keselamatan kekal bagi semua orang yang percaya kepada-Nya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus memahami beberapa ciri penting dari apa yang diajarkan oleh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengenai perjanjian Israel dengan TUHAN dan perjanjian baru di dalam Kristus.

Konteks Perjanjian Lama

TUHAN mengadakan perjanjian-perjanjian untuk menyatakan kebijakan-kebijakan utama yang melaluinya Dia memerintah kerajaan-Nya di bumi. Pada zaman Yosua, interaksi Allah dengan Israel diatur oleh perjanjian-Nya di Gunung Sinai (lihat Kel. 19–24). Namun demikian, Musa menunjukkan di dalam Pentateukh bahwa perjanjian di Gunung Sinai tidaklah bertentangan dengan perjanjian-perjanjian sebelumnya pada zaman Adam (lihat Hos. 6:7), Nuh (lihat Kej. 6:18; 9:8–17), dan Abraham (lihat Kej. 15:17–21; 17:1–14); sebaliknya, perjanjian Allah melalui Musa menegaskan perjanjian-perjanjian sebelumnya tersebut dan menerapkannya untuk mempersiapkan Israel menjalani kehidupan di Tanah Perjanjian. Pada masa itu, bangsa Israel membutuhkan peraturan-peraturan tertulis yang terkodifikasi bagi peribadahan, pengadilan, dan kehidupan praktis sehari-hari. Dalam pengertian ini, Hukum Taurat Musa "menjanjikan hidup" (Rm. 7:10); hukum itu adalah "kudus, benar dan baik" (Rm. 7:12; lihat Mzm. 119). Sejalan dengan hal ini, mungkin pada masa penulis kita, TUHAN juga mengadakan perjanjian dengan Israel melalui Daud (lihat Mzm. 89, 132). Perjanjian ini menegaskan dan menerapkan perjanjian-perjanjian sebelumnya kepada dinasti kerajaan Israel yang permanen, yaitu keluarga Daud. Jauh di kemudian hari, para nabi TUHAN juga menubuatkan bahwa perjanjian yang lain akan datang sesudah masa pembuangan Israel berakhir (lihat Yes. 42:6; 49:8; 54:10; 55:3; 61:8; Yer. 31:31–34; Yeh. 34:25). Perjanjian baru ini akan mendatangkan tujuan akhir yang untuknya Allah merancang seluruh perjanjian-Nya: yaitu realitas mulia kerajaan Allah di dalam ciptaan yang baru.

Kendati perjanjian-perjanjian TUHAN tidak sepenuhnya serupa, serangkaian dinamika mendasar menjadi ciri khas dari seluruh perjanjian tersebut:

  1. Pertama, seluruh perjanjian TUHAN diprakarsai dan dipelihara di sepanjang waktu oleh kemurahan Allah (divine benevolence), yaitu kasih dan kebaikan-Nya.
  2. Kedua, seluruh perjanjian menuntut kesetiaan manusia (human loyalty) kepada Allah; yakni pengabdian penuh syukur terhadap ketetapan-ketetapan perjanjian sebagai respons atas kemurahan Allah.
  3. Ketiga, seluruh perjanjian mendatangkan konsekuensi (consequences) bagi manusia: yaitu kutuk bagi ketidaktaatan dan berkat bagi ketaatan terhadap ketetapan-ketetapan perjanjian tersebut.

Di balik semua ini, TUHAN senantiasa memegang hak prerogatif kerajaan ilahi-Nya untuk mengarahkan dinamika-dinamika ini menurut kerelaan kehendak-Nya sendiri yang kerap kali tak terselami (lihat Mzm. 115:3; 135:6; Dan. 4:35). Namun demikian, dinamika mendasar berupa kemurahan ilahi, kesetiaan manusia, serta konsekuensi kutuk dan berkat senantiasa mengatur interaksi-Nya dengan umat perjanjian-Nya.

Dinamika perjanjian ini melandasi setiap bagian dari Kitab Yosua, namun penulis kita mengangkatnya secara terang-terangan dalam catatannya mengenai pertemuan-pertemuan raya Israel menjelang akhir hidup Yosua (23:1–24:33). Yosua memperingatkan Israel agar jangan "melangkahi perjanjian yang telah diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu" (23:16) dengan berbalik kepada ilah-ilah lain. Kendati demikian, Yosua melangkah lebih jauh melampaui tindakan lahiriah menuju hati bangsa Israel, yakni motivasi batiniah dan komitmen terdalam mereka. Ia memanggil mereka untuk "berpaut pada TUHAN" (23:8), "mengasihi TUHAN" (23:11), dan beribadah kepada-Nya "dengan tulus ikhlas dan setia" (24:14). Yosua berfokus pada kedalaman komitmen batiniah ini karena ada beragam kondisi rohani di antara umat Israel pada zamannya. Ada orang-orang di Israel yang memiliki iman yang menyelamatkan (saving faith) di dalam janji-janji Allah seperti bapa mereka, Abraham (lihat Kej. 15:6); namun ada pula banyak orang yang memiliki iman yang dangkal, sementara, atau munafik. Oleh karena itu, Yosua berusaha menyalakan iman yang menyelamatkan di dalam diri sebagian orang dan mengobarkan api iman yang menyelamatkan di dalam diri yang lain. Ia mengingatkan setiap orang akan begitu banyak kemurahan yang telah dianugerahkan TUHAN kepada mereka. Ia juga memperingatkan mereka semua bahwa penyembahan berhala akan mendatangkan konsekuensi-konsekuensi yang dahsyat, yaitu hilangnya segala sesuatu yang telah mereka terima dari TUHAN. Ia melakukan semua ini untuk memanggil Israel memperbarui perjanjian mereka dengan Allah supaya mereka menerima berkat-berkat dari-Nya.

Konteks Perjanjian Baru

Kita sekarang hidup pada masa perjanjian baru yang dinubuatkan oleh para nabi Israel (lihat Luk. 22:20; 1Kor. 11:25; 2Kor. 3:6; Ibr. 8:8; 9:15; 12:24). Perjanjian ini menjanjikan pengampunan penuh, kebenaran, dan damai sejahtera dengan Allah bagi segenap umat Israel di dalam ciptaan yang baru. Kendati demikian, sama seperti dampak dari seluruh perjanjian Perjanjian Lama dinyatakan secara bertahap di sepanjang waktu, dampak dari perjanjian baru juga dinyatakan seiring dengan terbentangnya kerajaan Kristus dalam tiga tahap: pelantikannya (inaugurasi), keberlanjutannya (kontinuitas), dan penyempurnaannya (konsumasi).

Perjanjian baru dilantik (inaugurated) selama pelayanan Kristus di bumi. Dalam kemurahan-Nya, Bapa mengutus Yesus kepada Israel setelah mereka menderita selama berabad-abad di bawah kutuk-kutuk perjanjian yang mengerikan pada zaman Musa dan Daud. Di sepanjang hidup-Nya, Kristus menggenapi setiap tuntutan kesetiaan manusiawi dengan memelihara Hukum Taurat Musa demi menuntaskan misi-Nya sebagai Ahli Waris takhta Daud. Dia kemudian mati di kayu salib sebagai Raja Israel untuk menebus dosa semua orang yang mengikut-Nya. Sebagai konsekuensi dari kesetiaan-Nya yang sempurna, Roh Kudus membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan Bapa mendudukkan-Nya di atas takhta Daud di surga (lihat Kis. 2:33–35). Kristus mencurahkan Roh-Nya dan memulai perluasan global kerajaan-Nya sampai ke ujung-ujung bumi. Sejak saat itu, setiap orang dari segala bangsa yang memercayai kabar baik tentang kemenangan Kristus atas dosa dan maut turut mengambil bagian di dalam perjanjian baru.

Dampak perjanjian baru juga dinyatakan selama keberlanjutan (continuation) kerajaan Kristus. Melalui kuasa Roh, Kristus memperluas pemerintahan-Nya semakin jauh di bumi melalui proklamasi kabar baik Injil. Kendati demikian, sama seperti selama pelayanan Yesus di bumi, manusia merespons kabar baik ini dengan berbagai cara yang berbeda. Yesus menjelaskan bahwa ada orang yang "tidak mengertinya"; ada yang "menerimanya dengan gembira" tetapi "hanya bertahan sebentar"; ada yang "mendengar ... tetapi kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu"; dan akhirnya, ada yang "mendengarkan ... mengerti ... dan berbuah" (Mat. 13:19–23). Para teolog Kristen kerap mengidentifikasi respons terakhir terhadap kabar baik ini sebagai iman yang menyelamatkan (saving faith), yaitu jenis iman yang membuahkan perbuatan-perbuatan baik dan kesetiaan kepada Tuhan melalui kuasa Roh Kudus (lihat Yak. 2:14). Yesus memperingatkan dengan tegas, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga" (Mat. 7:21). Hanyalah mereka yang memiliki iman yang menyelamatkan yang dijamin beroleh berkat hidup kekal di dunia yang akan datang. Mereka yang menolak kabar baik dan menjadi "saudara-saudara palsu" di dalam gereja (1Kor. 11:26; Gal. 2:4) akan menghadapi konsekuensi penghakiman kekal di bawah murka Allah. Pada zamannya, Yosua memanggil seluruh bangsa Israel yang kelihatan (visible nation) untuk memperbarui perjanjian. Ia berusaha membawa "saudara-saudara palsu" di Israel menuju iman yang menyelamatkan dan mendorong mereka yang memiliki iman yang menyelamatkan untuk tetap setia. Motivasi yang sama ini melandasi begitu banyak peringatan kepada gereja yang kelihatan (visible church) di dalam Perjanjian Baru (lihat 1Kor. 10:1–13; 2Kor. 13:5–10; Ibr. 6:1–8; 10:26–31).

Pada saat penyempurnaan (consummation) kerajaan Kristus, dampak perjanjian baru akan mencapai kepenuhannya. Kebaikan Allah terhadap mereka yang tidak pernah menjalankan iman yang menyelamatkan akan berakhir. Mereka akan binasa selama-lamanya di bawah penghakiman Allah. Namun demikian, mereka yang mengakui kemurahan Allah di dalam Kristus dan menerima anugerah iman yang menyelamatkan oleh Roh-Nya pasti akan mewarisi hidup kekal di dalam berkat-berkat Allah. "Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal" (Mat. 25:46). Dalam pengertian inilah kita dapat berkata dengan kepastian penuh: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat" (Kis. 16:31).


Tujuan Kitab Yosua

Kitab Yosua ditulis untuk mengajarkan kepada generasi Israel berikutnya tentang bagaimana mereka harus memajukan kerajaan Allah di bumi dalam peperangan mereka melalui kepemilikan tanah pusaka suku-suku dan melalui kesetiaan perjanjian.


Ayat Kunci

"Lalu jawab bangsa itu kepada Yosua: 'Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan.'"
— Yosua 24:24 (TB)

Garis Besar Kitab Yosua

  • I. Kemenangan Penaklukan (1:1–12:24)
  • A. Persiapan Menuju Kemenangan (1:1–18)
  • i. Penugasan dari TUHAN (1:1–9)
  • ii. Tanggapan Israel (1:10–18)
  • B. Kemenangan atas Dua Kota (2:1–8:35)
  • i. Kota Yerikho (2:1–6:27)
  • ii. Kota Ai (7:1–8:29)
  • iii. Pembaruan Perjanjian (8:30–35)
  • C. Kemenangan atas Dua Persekutuan (9:1–11:23)
  • i. Pengantar Kemenangan atas Persekutuan (9:1–2)
  • ii. Kemenangan atas Persekutuan Selatan (9:3–10:43)
  • iii. Kemenangan atas Persekutuan Utara (11:1–15)
  • iv. Kesimpulan Kemenangan atas Persekutuan (11:16–23)
  • D. Kesimpulan Kemenangan yang Meluas (12:1–24)
  • i. Kemenangan di Transyordan (12:1–6)
  • ii. Kemenangan di Kanaan Barat (12:7–24)
  • II. Pembagian Tanah Pusaka Suku-Suku (13:1–22:34)
  • A. Pembagian Tanah Pusaka Suku-Suku (13:1–21:45)
  • i. Banyak Negeri yang Masih Tersisa di Kanaan Barat (13:1–7)
  • ii. Pembagian Milik Pusaka kepada Setiap Suku (13:8–21:42)
  • iii. Penggenapan Janji Tanah Milik Pusaka (21:43–45)
  • B. Pemeliharaan Tanah Pusaka Suku-Suku (22:1–34)
  • i. Pembangunan Mezbah (22:1–10)
  • ii. Ancaman Perang Saudara (22:11–14)
  • iii. Konfrontasi dan Dialog (22:15–31)
  • iv. Redanya Ancaman (22:32–33)
  • v. Signifikansi Mezbah (22:34)
  • III. Kesetiaan Perjanjian (23:1–24:33)
  • A. Pertemuan Raya Peringatan (23:1–16)
  • i. Panggilan Yosua untuk Pertemuan Raya (23:1–2)
  • ii. Amanat dan Pidato Yosua (23:3–16)
  • B. Pertemuan Raya Pembaruan Perjanjian (24:1–28)
  • i. Panggilan Yosua untuk Pertemuan Raya (24:1)
  • ii. Pernyataan Kemurahan Ilahi (24:2–13)
  • iii. Seruan dan Tanggapan (24:14–24)
  • iv. Kodifikasi Perjanjian (24:25–27)
  • v. Pembubaran Pertemuan Raya (24:28)
  • C. Hasil Pertemuan-Pertemuan Raya (24:29–33)
  • i. Kesetiaan Pelayanan Yosua (24:29–30)
  • ii. Kesetiaan Pelayanan Bangsa Israel (24:31–33)

    I. Kemenangan Penaklukan (1:1–12:24)

    Bagian utama pertama dari kitab kita memusatkan perhatian pada kemenangan penaklukan Israel guna membimbing mereka melewati peperangan yang kepadanya TUHAN memanggil mereka. Dengan demikian, bagian ini juga membimbing para pengikut Kristus saat kita melayani perluasan pemerintahan-Nya di seluruh penjuru dunia. Pasal-pasal ini terbagi ke dalam empat bagian utama. Kisah ini dimulai dengan persiapan Israel menuju kemenangan dalam pasal 1:1–18 dan diakhiri dengan ikhtisar kemenangan luas yang diraih Israel dalam pasal 12:1–24. Di antara kedua batasan ini, penulis kita mula-mula mengarahkan perhatian pada kemenangan-kemenangan awal Israel atas dua kota Kanaan dalam pasal 2:1–8:35, dan selanjutnya pada kemenangan-kemenangan di kemudian hari atas dua persekutuan Kanaan dalam pasal 9:1–11:23.

    A. Persiapan Menuju Kemenangan (1:1–18)

    "¹Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:

    ²”Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu. ³Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. ⁴Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu. ⁵Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.

    ⁶Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka. ⁷Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. ⁸Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. ⁹Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

    ¹⁰Lalu Yosua memberi perintah kepada pengatur-pengatur pasukan bangsa itu, katanya: ¹¹”Jalanilah seluruh perkemahan dan perintahkanlah kepada bangsa itu, demikian: Sediakanlah bekalmu, sebab dalam tiga hari kamu akan menyeberangi sungai Yordan ini untuk pergi menduduki negeri yang akan diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diduduki.”

    ¹²Kepada orang Ruben, kepada orang Gad dan kepada suku Manasye yang setengah itu berkatalah Yosua, demikian: ¹³”Ingatlah kepada perkataan yang dipesankan Musa, hamba TUHAN itu, kepadamu, yakni: TUHAN, Allahmu, mengaruniakan keamanan kepadamu dan memberikan kepadamu negeri ini; ¹⁴perempuan-perempuan dan anak-anak di antara kamu dan ternakmu boleh tinggal di negeri yang diberikan Musa kepadamu di seberang sungai Yordan, tetapi kamu, semua pahlawan yang gagah perkasa, haruslah menyeberang di depan saudara-saudaramu dengan bersenjata, dan haruslah menolong mereka, ¹⁵sampai TUHAN mengaruniakan keamanan kepada saudara-saudaramu seperti kepada kamu juga, dan mereka juga menduduki negeri yang akan diberikan kepada mereka oleh TUHAN, Allahmu. Kemudian bolehlah kamu pulang kembali ke negerimu sendiri dan menduduki negeri yang diberikan Musa, hamba TUHAN itu, kepadamu di seberang sungai Yordan, di sebelah matahari terbit.”

    ¹⁶Lalu mereka menjawab Yosua, katanya: ”Segala yang kauperintahkan kepada kami akan kami lakukan dan ke manapun kami akan kausuruh, kami akan pergi; ¹⁷sama seperti kami mendengarkan perintah Musa, demikianlah kami akan mendengarkan perintahmu. Hanya, TUHAN, Allahmu, kiranya menyertai engkau, seperti Ia menyertai Musa. ¹⁸Setiap orang yang menentang perintahmu dan tidak mendengarkan perkataanmu, apapun yang kauperintahkan kepadanya, dia akan dihukum mati. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu!”"
    — Yosua 1:1–18 (TB)

    Penugasan dari TUHAN (1:1–9)

    Yosua 1:1–2. Penaklukan ini tidak berakar dari hawa nafsu manusia yang berdosa. Sebaliknya, "berfirmanlah TUHAN kepada Yosua" (1:1). Penulis kita tidak merasa perlu menjelaskan mengapa Allah memprakarsai penaklukan tersebut, karena ia dan para pembacanya telah memahami latar belakang penugasan ini dari Pentateukh. TUHAN telah menjelaskan kepada Abraham bahwa keturunannya "akan diperbudak dan dianiaya empat ratus tahun lamanya ... tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori [di sini merupakan istilah umum bagi penduduk Kanaan penutur bahasa Semit Barat] itu belum genap" (Kej. 15:13, 16). Raja Ilahi Israel menetapkan bahwa kejahatan bangsa Kanaan tidak dapat lagi ditoleransi. Sama seperti TUHAN telah berulang kali mengintervensi sejarah untuk menghukum kejahatan sebelum zaman Yosua, Dia kini menyatakan bahwa saatnya telah tiba untuk sekali lagi mendatangkan penghakiman-Nya atas dosa.

    Bukanlah suatu kebetulan bahwa pria yang diajak bicara oleh Allah bernama "Yosua". Musa telah memberikan nama Yosua ("TUHAN akan menyelamatkan [membebaskan]" atau "kiranya TUHAN menyelamatkan [membebaskan]") kepada anak didiknya itu karena Yosua akan membebaskan Israel dari musuh-musuh mereka dan membawa mereka menuju kemenangan dalam penaklukan Kanaan (Bil. 13:16). Kristus dinamai Yesus, yang setara dengan nama "Yosua" dalam bahasa Aram dan Ibrani.

    Dengan cara serupa, seorang malaikat menjelaskan bahwa anak yang dilahirkan oleh Maria harus dinamai Yesus/Yosua karena "Dialah yang akan menyelamatkan [membebaskan] umat-Nya dari dosa mereka" (Mat. 1:21). Kristus membebaskan semua orang yang percaya kepada-Nya dari kezaliman kuasa jahat dan membawa mereka ke dalam kemenangan yang mulia.

    Semua ini terjadi karena "hamba-Ku Musa telah mati" (1:2). TUHAN sebelumnya telah memanggil Musa sendiri untuk memimpin Israel memasuki Kanaan, namun dengan wafatnya Musa, Yosua akan meneruskan kepemimpinan menuju sasaran yang sama, "seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa" (1:3)[^1]. Kegagalan tak terduga dari generasi pertama peristiwa Keluaran (lihat Bil. 13–14) serta dosa Musa sendiri yang menggugurkannya (lihat Ul. 3:26–29; 4:21–34) tidak membatalkan rencana TUHAN bagi keturunan Abraham untuk menduduki Tanah Perjanjian dan dari sana memperluas kerajaan Allah ke seluruh dunia (lihat Pengantar).

    Yosua 1:3–5. TUHAN berfirman kepada Yosua dengan perkataan yang menggemakan apa yang telah Dia sampaikan kepada Musa, yakni apa "yang telah Kujanjikan kepada Musa" (1:3). Yosua "dan seluruh bangsa ini", yaitu suku-suku Israel, dipanggil untuk menduduki wilayah-wilayah mulai dari hulu "sungai Efrat ... sampai ke Laut Besar", yaitu Laut Mediterania (1:4). Israel belum menduduki seluruh batas wilayah yang disebutkan di sini hingga masa pemerintahan Daud. Kelak, dinasti kerajaan Daud bertugas memperluas pemerintahan Allah sampai ke ujung-ujung bumi (lihat Pengantar). TUHAN berjanji untuk "menyertai" Yosua sebagaimana Dia telah "menyertai" Musa (1:5). Artinya, Dia berjanji untuk berperang di pihaknya (lihat tafsiran atas 3:7–17). Dia tidak akan "membiarkan" maupun "meninggalkan" dia (1:5; lihat Ul. 31:6, 8; 1Taw. 28:20). Janji yang sama juga diberikan kepada para pengikut Kristus yang setia (Ibr. 13:5).

    Catatan Historis: Prasasti lempengan batu dari Sippar menggambarkan Raja Babilonia Nabu-apla-iddina yang menganugerahkan hibah tanah kepada seorang imam sekitar tahun 870 SM. Bahasa mengenai hibah tanah ilahi kepada Israel sangat nyata terlihat dalam Yosua 1.

    Yosua 1:6–9. Yosua mengetahui bahwa tantangan dalam penaklukan ini akan sangat berat; ia sendiri telah mengintai tanah itu beberapa dekade sebelumnya (lihat Bil. 13:1–33). Oleh karena itu, TUHAN menasihati Yosua untuk bersiap menghadapi pertempuran dengan memanggilnya sebanyak tiga kali untuk "kuatkan dan teguhkanlah [dengan sungguh-sungguh (1:7)] hatimu" (1:6–7, 9; lihat 10:25; Ul. 31:6–7, 23). Yosua harus memperoleh kekuatan dan keteguhan hati karena dialah yang akan "memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka" (1:6). Kemenangan-kemenangan Israel di Kanaan merupakan penggenapan dari perjanjian Allah dengan para bapa leluhur (lihat Pengantar). Yosua juga harus kuat dan berani dengan menaati "seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa" (1:7). Di sini TUHAN merujuk pada "kitab Taurat ini" (1:8), yang mungkin merujuk pada Kitab Ulangan atau kumpulan peraturan, berkat, dan kutuk yang terus berkembang yang bersumber dari Kitab Ulangan (lihat 8:35; 24:25). Pelanggaran terhadap hukum Allah kelak menimbulkan pukulan berat bagi Yosua (lihat 7:1), dan menjelang akhir hidupnya, Yosua memperingatkan Israel bahwa pelanggaran terhadap Taurat Allah akan mendatangkan penghakiman yang dahsyat (lihat 23:11–13; 24:19–28). Terakhir, Yosua dimampukan untuk melangkah maju dengan penuh kekuatan dan keteguhan hati; ia tidak boleh "kecut dan tawar hati" (lihat tafsiran atas 10:8–9) karena "TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi" (1:9). Kehadiran Allah yang "menyertai" Yosua berarti bahwa Allah sendiri yang akan berperang bersama-sama dengannya. Israel harus senantiasa bergantung pada kehadiran hadirat TUHAN di dalam pertempuran (lihat tafsiran atas 3:7–17).

    Setiap generasi Israel dipanggil untuk belajar dari panggilan Yosua tentang bagaimana mereka dapat memiliki kekuatan dan keberanian dalam peperangan yang diperintahkan Allah kepada mereka. Para pengikut Kristus pun dapat menemukan keteguhan hati dan kekuatan yang mereka butuhkan melalui cara-cara yang sama (lihat 2Kor. 5:6; Flp. 1:20; Ef. 6:10; 1Tim. 1:12).

    Tanggapan Israel (1:10–18)

    Yosua 1:10–17. Yosua segera menyerukan kepada seluruh suku Israel untuk bersiap-siap melakukan penaklukan. Mengikuti perintah Musa sebelumnya (lihat Ul. 3:18–20), Yosua mewajibkan suku-suku yang pada akhirnya akan menetap di sebelah timur Sungai Yordan (Transyordan) untuk bergabung dalam penaklukan bersama mereka yang akan menetap di Kanaan Barat (Kisjordan). Mereka baru boleh kembali setelah penaklukan selesai dan menikmati "keamanan/perhentian" (rest) di tanah milik mereka di sebelah timur Yordan (1:13; lihat tafsiran atas 13:8–33 serta 22:1–8). Terdapat dua kata Ibrani yang kerap diterjemahkan sebagai "perhentian/keamanan" (rest) dalam berbagai terjemahan modern Kitab Yosua. Istilah Ibrani dalam 1:13 juga muncul dalam 1:15, 22:4, dan 23:1 (nuakh), yang menyiratkan perhentian dalam kaitannya dengan rasa aman dan tenteram sesudah kemenangan. Istilah kedua muncul dalam 11:23 dan 14:15 (shaqat) dan lebih tepat diterjemahkan sebagai "ketenangan/keadaan reda" (calm), sebagai kondisi sementara. Pada saat ini, suku-suku di wilayah Transyordan sepakat untuk menaati Yosua sebagaimana mereka dahulu menaati Musa (lihat tafsiran atas 3:7–17, 4:11–14, serta kesimpulan pada 24:29–31), dan mereka mengungkapkan kerinduan mereka: "Hanya, TUHAN, Allahmu, kiranya menyertai engkau, seperti Ia menyertai Musa" (1:17).

    Yosua 1:18. Komitmen bangsa Israel begitu kokoh hingga suku-suku tersebut mengancam akan menghukum mati siapa saja yang menolak bergabung bersama mereka dalam menaati Yosua. Di sepanjang sejarah Israel, hukuman yang keras harus dijatuhkan kepada siapa pun di antara orang Israel yang memberontak terhadap TUHAN dan jalan-jalan-Nya (lihat tafsiran atas 7:1–26 dan 22:1–34).

    Sepanjang masa pelantikan (inaugurasi) dan keberlanjutan (kontinuitas) kerajaan Kristus, majelis gereja menjalankan disiplin pengucilan (ekskomunikasi) terhadap mereka yang telah berpaling dari perjuangan Kristus (lihat Mat. 18:15–20; 1Kor. 5:1–12; Tit. 3:10). Kita melakukannya dengan pengharapan akan pertobatan mereka, sebab kita mengetahui bahwa keselamatan kekal hanya akan dianugerahkan pada saat penyempurnaan (konsumasi) kerajaan Kristus "kepada barangsiapa yang menang" (Why. 2:7; 3:21).

    Dalam gambaran ideal mengenai tanggapan Israel terhadap panggilan penaklukan oleh Yosua ini, penulis kita memperkenalkan sebuah tema yang diulanginya berkali-kali di dalam kitabnya: kesatuan kedua belas suku Israel. Ia kerap menegaskan bahwa seluruh dua belas suku terlibat bersama dalam pertempuran (lihat 3:1, 7, 17; 4:4, 8–9, 14, 20; 5:8). Mereka menyeberangi Sungai Yordan bersama-sama (lihat 4:11–14) dan bertempur bersama-sama di Yerikho. Kegagalan mempertahankan kesatuan di Ai mengakibatkan kekalahan telak dalam pertempuran (lihat 7:1–14). Pembaruan perjanjian awal oleh Yosua juga melibatkan seluruh suku (lihat 8:33). Kemenangan-kemenangan besar diraih di wilayah selatan Tanah Perjanjian oleh "Yosua dengan seluruh Israel" (10:29, 31, 34, 36, 38). Penulis kita juga menekankan bahwa tanah pusaka dibagikan kepada seluruh suku tanpa kecuali (lihat tafsiran atas 14:1–5). Di kemudian hari, Yosua mendesak agar suku-suku tersebut tetap memelihara kesatuan nasional mereka di masa depan (lihat 22:1–34). Seluruh suku menghadiri pertemuan-pertemuan raya yang diadakan Yosua (lihat 23:2; 24:1, 28). Cita-cita mengenai kesatuan Israel ini meresapi seluruh Perjanjian Lama dan meletakkan dasar bagi panggilan Perjanjian Baru mengenai kesatuan di dalam gereja Kristen, dengan tujuan agar kita dapat berhasil memperluas kerajaan Allah di tengah dunia yang memusuhi kita (lihat Yoh. 17:20–21; Ef. 4:4–16).

    B. Kemenangan atas Dua Kota (2:1–8:35)

    Setelah melaporkan persiapan Israel menuju penaklukan, penulis kita beralih pada kemenangan-kemenangan awal atas dua kota di Kanaan. Ia mengarahkan perhatian pada kota Yerikho dalam pasal 2:1–6:27 dan pada kota Ai dalam pasal 7:1–8:29. Kemudian ia menutup bagian ini dengan sebuah catatan mengenai pembaruan perjanjian Israel dalam pasal 8:30–35.

    Kota Yerikho (2:1–6:27)

    Kisah kemenangan atas Yerikho dimulai dalam pasal 2:1–24 dan diakhiri dalam pasal 6:22–27 dengan memusatkan perhatian pada para pengintai suruhan Yosua dan Rahab. Di dalam kerangka ini, bagian-bagian tengah mengisahkan bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan dalam pasal 3:1–5:12, menerima kepastian peneguhan dari Panglima Balatentara TUHAN dalam pasal 5:13–15, serta pembinasaan Yerikho dalam pasal 6:1–21. Seluruh episode ini menampilkan Israel dalam sudut pandang yang sangat positif. Hasilnya, kisah-kisah ini memberikan banyak teladan yang membangun bagi generasi-generasi Israel selanjutnya. Orang-orang percaya saat ini pun menemukan banyak teladan tindakan untuk ditiru saat kita memajukan kerajaan Allah di seluruh bumi di dalam Kristus.


    Para Pengintai Suruhan Yosua dan Rahab (2:1–24)

    "¹Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: "Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho." Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ.

    ²Kemudian diberitahukanlah kepada raja Yerikho, demikian: "Tadi malam ada orang datang ke mari dari orang Israel untuk menyelidik negeri ini."

    ³Maka raja Yerikho menyuruh orang kepada Rahab, mengatakan: "Bawalah ke luar orang-orang yang datang kepadamu itu, yang telah masuk ke dalam rumahmu, sebab mereka datang untuk menyelidik seluruh negeri ini."

    ⁴Tetapi perempuan itu telah membawa dan menyembunyikan kedua orang itu. Berkatalah ia: "Memang, orang-orang itu telah datang kepadaku, tetapi aku tidak tahu dari mana mereka,

    ⁵dan ketika pintu gerbang hendak ditutup menjelang malam, maka keluarlah orang-orang itu; aku tidak tahu, ke mana orang-orang itu pergi. Segeralah kejar mereka, tentulah kamu dapat menyusul mereka."

    ⁶Tetapi perempuan itu telah menyuruh keduanya naik ke sotoh rumah dan menyembunyikan mereka di bawah timbunan batang rami, yang ditebarkan di atas sotoh itu.

    ⁷Maka pergilah orang-orang itu, mengejar mereka ke arah sungai Yordan, ke tempat-tempat penyeberangan, dan ditutuplah pintu gerbang, segera sesudah pengejar-pengejar itu keluar.

    ⁸Tetapi sebelum kedua orang itu tidur, naiklah perempuan itu mendapatkan mereka di atas sotoh

    ⁹dan berkata kepada orang-orang itu: "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu.

    ¹⁰Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas.

    ¹¹Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.

    ¹²Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; dan berikanlah kepadaku suatu tanda yang dapat dipercaya,

    ¹³bahwa kamu akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut."

    ¹⁴Lalu jawab kedua orang itu kepadanya: "Nyawa kamilah jaminan bagi kamu, asal jangan kaukabarkan perkara kami ini; apabila TUHAN nanti memberikan negeri ini kepada kami, maka kami akan menunjukkan terima kasih dan setia kami kepadamu."

    ¹⁵Kemudian perempuan itu menurunkan mereka dengan tali melalui jendela, sebab rumahnya itu letaknya pada tembok kota, jadi pada tembok itulah ia diam.

    ¹⁶Berkatalah ia kepada mereka: "Pergilah ke pegunungan, supaya pengejar-pengejar itu jangan menemui kamu, dan bersembunyilah di sana tiga hari lamanya, sampai pengejar-pengejar itu pulang; kemudian bolehlah kamu melanjutkan perjalananmu."

    ¹⁷Kedua orang itu berkata kepadanya: "Kami akan bebas dari sumpah kami ini kepadamu, yang telah kausuruh kami ikrarkan--

    ¹⁸sesungguhnya, apabila kami memasuki negeri ini, haruslah tali dari benang kirmizi ini kauikatkan pada jendela tempat engkau menurunkan kami, dan ayahmu serta ibumu, saudara-saudaramu serta seluruh kaum keluargamu kaukumpulkan di rumahmu.

    ¹⁹Setiap orang yang keluar nanti dari pintu rumahmu, harus sendiri menanggung akibatnya, kalau darahnya tertumpah, dan kami tidak bersalah; tetapi siapapun juga yang ada di dalam rumahmu, jika ada orang yang menciderainya, kamilah yang menanggung akibat pertumpahan darahnya.

    ²⁰Tetapi jika engkau mengabarkan perkara kami ini, maka bebaslah kami dari sumpah kepadamu itu, yang telah kausuruh kami ikrarkan."

    ²¹Perempuan itupun berkata: "Seperti yang telah kamu katakan, demikianlah akan terjadi." Sesudah itu dilepasnyalah orang-orang itu pergi, maka berangkatlah mereka. Kemudian perempuan itu mengikatkan tali kirmizi itu pada jendela.

    ²²Merekapun pergilah dan tiba di pegunungan. Mereka tinggal di sana tiga hari lamanya, sampai pengejar-pengejar itu pulang. Pengejar-pengejar itu telah mencari di mana-mana sepanjang jalan tanpa menemukan mereka.

    ²³Maka pulanglah kedua orang itu, mereka turun dari pegunungan, lalu menyeberang dan sampai kepada Yosua bin Nun, kemudian mereka ceritakan segala pengalaman mereka.

    ²⁴Kata mereka kepada Yosua: "TUHAN telah menyerahkan seluruh negeri ini ke dalam tangan kita, bahkan seluruh penduduk negeri itu gemetar menghadapi kita.""
    — Yosua 2:1–24 (TB)

    2:1–7. Mengikuti teladan Musa pada generasi sebelumnya (lihat Bil. 13:2), Yosua merencanakan pertempuran dengan mengutus para pengintai ke Yerikho. Penyelidikan dan perencanaan yang cermat merupakan langkah wajar bagi umat Allah saat mereka memajukan kerajaan-Nya (lihat Yos. 7:2). Para pengintai tersebut menginap di sebuah penginapan yang dikelola oleh seorang perempuan sundal [pelacur] bernama Rahab (2:1). Namanya kemungkinan merujuk pada salah satu ilah Kanaan (lihat Ayb. 9:13; 26:12; Mzm. 87:4; 89:11). Namun, bertentangan dengan dugaan beberapa penafsir masa kini, sama sekali tidak ada petunjuk sedikit pun bahwa para pengintai tersebut melakukan hubungan seksual dengan Rahab, atau dengan siapa pun selama masa ini.

    Catatan Historis: Tell es-Sultan, situs penggalian arkeologis kota kuno Yerikho.

    2:8–21. Rahab mengetahui bahwa ”TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu” (2:9). Ia juga menyadari bahwa penduduk negeri itu gemetar dan ”tawarlah hati kami” di hadapan orang Israel (2:9, 11). Kabar telah tersiar luas mengenai apa yang telah diperbuat TUHAN di Mesir dan di wilayah Transyordan (lihat 2:10). Hati segenap penduduk Yerikho ”tawar” karena ketakutan (2:11; lihat tafsiran atas 5:1–8), sehingga Rahab meminta para pengintai itu bersumpah demi TUHAN untuk memperlakukan dirinya beserta kaum keluarganya dengan ramah dan melindungi mereka, dan para pengintai pun menyetujuinya (2:12–14). Perjanjian Baru menyebut Rahab secara positif, memuji imannya, dan mencatat penerimaannya ke dalam umat Israel (lihat Ibr. 11:31; Yak. 2:25). Bangsa Israel dilarang mengadakan perjanjian damai berskala luas dengan bangsa-bangsa Kanaan (lihat Ul. 20:10–20), namun setiap individu orang Kanaan beserta keluarga mereka yang menaruh iman percaya kepada TUHAN akan diluputkan dari penghakiman Allah.

    2:22–24. Dengan pertolongan Rahab, para pengintai itu meloloskan diri dari Yerikho dan kembali kepada Yosua. Teks Kitab Suci tidak memberikan komentar apa pun mengenai dimensi etis dari tipu muslihat yang dilakukan Rahab terhadap orang-orang yang mengejar para pengintai tersebut; sebaliknya, teks ini menyoroti bagaimana Rahab menjadi sarana berkat bagi para pengintai itu. Pengalaman ini meyakinkan para pengintai bahwa TUHAN telah menyerahkan ”seluruh negeri ini ke dalam tangan kita” (2:24; lihat 10:22–28). Berkat Allah pada saat ini memperteguh keyakinan mereka bahwa berkat yang jauh lebih besar akan menyusul di masa depan. Hal yang sama berlaku bagi umat Allah yang setia di setiap zaman. Sukacita atas berkat-berkat saat ini memberi kita keyakinan teguh bahwa semakin banyak berkat yang akan menjadi bagian kita di hari-hari mendatang.


    Menyeberangi Sungai Yordan (3:1–5:12)

    Pasal 3
    "¹Yosua bangun pagi-pagi, lalu ia dan semua orang Israel berangkat dari Sitim, dan sampailah mereka ke sungai Yordan, maka bermalamlah mereka di sana, sebelum menyeberang.

    ²Setelah lewat tiga hari, para pengatur pasukan menjalani seluruh perkemahan,

    ³dan memberi perintah kepada bangsa itu, katanya: "Segera sesudah kamu melihat tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, yang diangkat para imam, yang memang suku Lewi, maka kamu harus juga berangkat dari tempatmu dan mengikutinya--

    ⁴hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya--maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu."

    ⁵Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu."

    ⁶Dan kepada para imam itu Yosua berkata, demikian: "Angkatlah tabut perjanjian dan menyeberanglah di depan bangsa itu." Maka mereka mengangkat tabut perjanjian dan berjalan di depan bangsa itu.

    ⁷Dan TUHAN berfirman kepada Yosua: "Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau.

    ⁸Maka kauperintahkanlah kepada para imam pengangkat tabut perjanjian itu, demikian: Setelah kamu sampai ke tepi air sungai Yordan, haruslah kamu tetap berdiri di sungai Yordan itu."

    ⁹Lalu berkatalah Yosua kepada orang Israel: "Datanglah dekat dan dengarkanlah firman TUHAN, Allahmu."

    ¹⁰Lagi kata Yosua: "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu:

    ¹¹sesungguhnya, tabut perjanjian Tuhan semesta bumi berjalan menyeberang di depan kamu, masuk ke sungai Yordan.

    ¹²Maka sekarang, pilihlah dua belas orang dari suku-suku Israel, seorang dari tiap-tiap suku.

    ¹³Segera sesudah kaki para imam pengangkat tabut TUHAN, Tuhan semesta bumi, berhenti di dalam air sungai Yordan, maka air sungai Yordan itu akan terputus; air yang turun dari hulu akan berhenti mengalir menjadi bendungan."

    ¹⁴Ketika bangsa itu berangkat dari tempat perkemahan mereka untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu.

    ¹⁵Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu--sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai--

    ¹⁶maka berhentilah air itu mengalir. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan, jauh sekali, di dekat Adam, kota yang terletak di sebelah Sartan, sedang air yang turun ke Laut Araba itu, yakni Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu menyeberanglah bangsa itu, di tentangan Yerikho.

    ¹⁷Tetapi para imam pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu tetap berdiri di tanah yang kering, di tengah-tengah sungai Yordan, sedang seluruh bangsa Israel menyeberang di tanah yang kering, sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan.

    Pasal 4

    ¹Setelah seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, demikian:

    ²"Pilihlah dari bangsa itu dua belas orang, seorang dari tiap-tiap suku,

    ³dan perintahkanlah kepada mereka, demikian: Angkatlah dua belas batu dari sini, dari tengah-tengah sungai Yordan ini, dari tempat berjejak kaki para imam itu, bawalah semuanya itu ke seberang dan letakkanlah di tempat kamu akan bermalam nanti malam."

    ⁴Lalu Yosua memanggil kedua belas orang yang ditetapkannya dari orang Israel itu, seorang dari tiap-tiap suku,

    ⁵dan Yosua berkata kepada mereka: "Menyeberanglah di depan tabut TUHAN, Allahmu, ke tengah-tengah sungai Yordan, dan angkatlah masing-masing sebuah batu ke atas bahumu, menurut bilangan suku orang Israel,

    ⁶supaya ini menjadi tanda di tengah-tengah kamu. Jika anak-anakmu bertanya di kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu?

    ⁷maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya."

    ⁸Maka orang Israel itu melakukan seperti yang diperintahkan Yosua. Mereka mengangkat dua belas batu dari tengah-tengah sungai Yordan, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Yosua, menurut jumlah suku Israel. Semuanya itu dibawa merekalah ke seberang, ke tempat bermalam, dan diletakkan di situ.

    ⁹Pula Yosua menegakkan dua belas batu di tengah-tengah sungai Yordan itu, di tempat bekas berjejak kaki para imam pengangkat tabut perjanjian itu. Batu-batu itu masih ada di sana sampai sekarang.

    ¹⁰Para imam pengangkat tabut itu tinggal berdiri di tengah-tengah sungai Yordan, sampai selesai dilakukan segala yang diperintahkan TUHAN kepada Yosua untuk disampaikan kepada bangsa itu, sesuai dengan segala yang diperintahkan Musa kepada Yosua. Maka menyeberanglah bangsa itu dengan cepat-cepat.

    ¹¹Ketika seluruh bangsa itu selesai menyeberang, maka menyeberanglah tabut TUHAN itu serta para imam di depan mata bangsa itu.

    ¹²Juga bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu menyeberang, dengan bersenjata, di depan orang Israel itu, seperti yang dikatakan Musa kepada mereka.

    ¹³Kira-kira empat puluh ribu orang yang siap untuk berperang menyeberang di hadapan TUHAN ke dataran Yerikho untuk berperang.

    ¹⁴Pada waktu itulah TUHAN membesarkan nama Yosua di mata seluruh orang Israel, sehingga mereka takut kepadanya, seperti mereka takut kepada Musa seumur hidupnya.

    ¹⁵Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, demikian:

    ¹⁶"Perintahkanlah para imam pengangkat tabut hukum Allah itu supaya naik dari sungai Yordan."

    ¹⁷Maka Yosua memerintahkan kepada para imam itu, demikian: "Keluarlah dari sungai Yordan."

    ¹⁸Ketika para imam, pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu, keluar dari tengah-tengah sungai Yordan, dan baru saja kaki para imam itu dijejakkan di tanah yang kering, maka berbaliklah air sungai Yordan itu ke tempatnya dan mengalir seperti dahulu dengan meluap sepanjang tepinya.

    ¹⁹Bangsa itu telah keluar dari sungai Yordan pada tanggal sepuluh bulan pertama dan mereka berkemah di Gilgal, di batas timur Yerikho.

    ²⁰Kedua belas batu yang diambil dari sungai Yordan itu ditegakkan oleh Yosua di Gilgal.

    ²¹Dan berkatalah ia kepada orang Israel, demikian: "Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya: Apakah arti batu-batu ini?

    ²²maka haruslah kamu beritahukan kepada anak-anakmu, begini: Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering! --

    ²³sebab TUHAN, Allahmu, telah mengeringkan di depan kamu air sungai Yordan, sampai kamu dapat menyeberang seperti yang telah dilakukan TUHAN, Allahmu, dengan Laut Teberau, yang telah dikeringkan-Nya di depan kita, sampai kita dapat menyeberang,

    ²⁴supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN, dan supaya mereka selalu takut kepada TUHAN, Allahmu."

    Pasal 5:1–12

    ¹Ketika semua raja orang Amori di sebelah barat sungai Yordan dan semua raja orang Kanaan di tepi laut mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air sungai Yordan di depan orang Israel, sampai mereka dapat menyeberang, tawarlah hati mereka dan hilanglah semangat mereka menghadapi orang Israel itu.

    ²Pada waktu itu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Buatlah pisau dari batu dan sunatlah lagi orang Israel itu, untuk kedua kalinya."

    ³Lalu Yosua membuat pisau dari batu dan disunatnyalah orang Israel itu di Bukit Kulit Khatan.

    ⁴Inilah sebabnya Yosua menyunat mereka: semua orang yang keluar dari Mesir, yakni yang laki-laki, semua prajurit, telah mati di padang gurun di tengah jalan, setelah mereka keluar dari Mesir.

    ⁵Sebab, semua orang yang keluar dari Mesir itu telah bersunat, tetapi semua orang yang lahir di padang gurun dalam perjalanan sejak keluar dari Mesir, belum disunat.

    ⁶Sebab empat puluh tahun lamanya orang Israel itu berjalan melalui padang gurun, sampai habis mati seluruh bangsa itu, yakni prajurit yang keluar dari Mesir, yang tidak mendengarkan firman TUHAN. Kepada mereka itu TUHAN telah bersumpah, bahwa Ia tidak akan mengizinkan mereka melihat negeri yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

    ⁷Tetapi anak-anak mereka yang telah dijadikan-Nya ganti mereka, mereka itulah yang disunat Yosua, sebab mereka belum bersunat, karena mereka tidak disunat dalam perjalanan.

    ⁸Setelah seluruh bangsa itu selesai disunat, maka tinggallah mereka di tempatnya masing-masing di perkemahan itu, sampai mereka sembuh.

    ⁹Dan berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu." Itulah sebabnya nama tempat itu disebut Gilgal sampai sekarang.

    ¹⁰Sementara berkemah di Gilgal, orang Israel itu merayakan Paskah pada hari yang keempat belas bulan itu, pada waktu petang, di dataran Yerikho.

    ¹¹Lalu pada hari sesudah Paskah mereka makan hasil negeri itu, yakni roti yang tidak beragi dan bertih gandum, pada hari itu juga.

    ¹²Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya setelah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan."
    — Yosua 3:1–5:12 (TB)

    3:1–6. Sebelum suku-suku Israel maju berperang di Yerikho, mereka menyeberangi Sungai Yordan dalam suatu upacara kudus yang mempersiapkan mereka menghadapi pertempuran. Yosua memerintahkan orang-orang Israel untuk ”menguduskan” diri bagi Allah sebagai persiapan penyeberangan tersebut. Pengudusan berbagai benda dan orang demi perjumpaan khusus dengan TUHAN muncul di sepanjang Perjanjian Lama (mis., 7:13; Kel. 19:10; 22:31; 28:3, 38, 41; 29:1; 30:29). Israel harus berpaling dari aktivitas berdosa maupun kesibukan duniawi yang lazim guna bersiap melayani maksud dan rencana Allah di Kanaan. Dengan cara yang serupa, Bapa menguduskan Yesus dalam persiapan untuk menggenapi misi-Nya (lihat Yoh. 10:36). Kristus menguduskan diri-Nya supaya murid-murid-Nya pun dikuduskan (lihat Yoh. 17:19). Seperti bangsa Israel pada zaman Yosua, para pengikut Kristus harus dikuduskan secara khusus untuk terlibat dengan penuh kemenangan dalam peperangan rohani yang kepadanya Kristus telah memanggil kita (lihat Ef. 6:11–18).

    3:7–17. TUHAN menjelaskan bahwa Dia akan ”mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel” (3:7; lihat tafsiran atas 1:18). Perhatian penulis kita terhadap hal ini mungkin menanggapi kontroversi-kontroversi yang kelak muncul seputar kepemimpinan Yosua (lihat 4:14; 6:27), sebab penerimaan atas kepemimpinannya sangat penting bagi keberhasilan penaklukan Israel dan juga bagi masa depan Israel. Allah juga berjanji untuk ”menyertai” Yosua di medan pertempuran sebagaimana Dia ”telah menyertai Musa” (3:7; lihat tafsiran atas 1:10–18, atas 4:11–14, dan atas 24:29–31). Pernyataan bahwa TUHAN ”menyertai” Yosua bermakna bahwa Dia sendiri yang akan berperang di pihaknya. Ungkapan ini berulang kali muncul di dalam Kitab Yosua (lihat 1:5, 9, 17; 3:7; 6:27; 7:12; 14:12). Inilah latar belakang jaminan Yesus kepada para murid-Nya saat Dia mengutus mereka ke dalam misi agung mereka (lihat 2Kor. 10:3–5). Sebagaimana ditegaskan-Nya, ”Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).

    Selaras dengan formasi barisan perjalanan Israel (lihat Bil. 10:35), para imam melangkah terlebih dahulu ke dalam sungai sambil mengusung tabut. Tabut tersebut dinamai ”tabut perjanjian” (lihat 3:3, 6, 8, 11, 13, 14, 17; 4:7, 9, 18; 6:6; 8:33) karena Sepuluh Firman diletakkan di dalamnya. Tabut itu juga merupakan ”tumpuan kaki” kerajaan TUHAN, tempat ke arah mana bangsa Israel sujud menyembah dalam pengabdian kepada Raja Ilahi mereka (lihat Mzm. 99:5; 132:7; Yes. 66:1; Rat. 2:1). Seperti dalam perikop ini, ketika tabut dikaitkan dengan peperangan, tabut itu berfungsi sebagai ”kereta” bergerak TUHAN (1Taw. 28:18) yang memimpin suku-suku Israel maju ke medan pertempuran. Ketika orang-orang Lewi melangkahkan kaki ke dalam air Sungai Yordan, TUHAN-lah yang memimpin Israel. Akibatnya, air sungai itu terbelah, sama seperti air laut terbelah di hadapan Musa orang Lewi itu (lihat Kel. 14:21–22).

    4:1–10. Sementara para imam tetap berdiri di Sungai Yordan, TUHAN memerintahkan Yosua untuk memilih satu orang dari setiap suku guna mengambil sebuah batu dari tempat para imam berdiri. Dalam Perjanjian Lama, batu-batu kerap digunakan untuk memperingati perbuatan-perbuatan perkasa Allah (lihat tafsiran atas 7:16–26). Kedua belas batu tersebut mengakui partisipasi seluruh dua belas suku Israel sebagai satu kesatuan bala tentara yang utuh (lihat tafsiran atas 1:18).

    Catatan Geografis: Aliran Sungai Yordan, batas alamiah penyeberangan bangsa Israel dari wilayah Sitim menuju dataran Yerikho di Tanah Perjanjian.

    4:11–14. Kedua belas suku Israel menyeberangi Sungai Yordan, termasuk suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye. Penulis kita menekankan signifikansi kepemimpinan Yosua atas seluruh suku dengan melaporkan bahwa TUHAN membesarkan nama Yosua ”di mata seluruh orang Israel” (4:14). Mereka ”takut” kepada Yosua sebagaimana mereka dahulu ”takut kepada Musa” (lihat 1:18, tafsiran atas 3:7–17, dan atas 24:29–31).

    4:15–24. Setelah seluruh bangsa Israel menyeberangi sungai itu, kedua belas batu tersebut ditegakkan di Gilgal, di tepi barat Sungai Yordan, sebagai batu peringatan (lihat tafsiran atas 7:16–26). Terdapat dua tujuan utama dari penegakan batu-batu ini: batu-batu tersebut ditegakkan ”supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN,” dan ”supaya mereka selalu takut kepada TUHAN, Allahmu” (4:24). Setiap generasi Israel harus bersaksi dengan berani mengenai kuasa Allah dan memelihara rasa takut yang kudus kepada TUHAN secara pribadi. Hal yang sama berlaku bagi orang-orang percaya saat ini yang menyaksikan penyataan kuasa Allah yang bahkan jauh lebih agung di dalam Kristus.

    Catatan Arkeologis: Peta Mosaik Madaba adalah mosaik lantai Bizantium dari Gereja Santo George di wilayah dekat tempat Yohanes membaptis di Sungai Yordan. Bagian peta ini menggambarkan 12 batu peringatan di Gilgal (bagian tengah-bawah).

    5:1–8. Ketika ”semua raja orang Amori” di sebelah barat Sungai Yordan dan ”semua raja orang Kanaan” di tepi laut mendengar bahwa bangsa Israel telah menyeberangi Sungai Yordan melalui mukjizat yang sedemikian dahsyat, ”tawarlah hati mereka” (5:1). Ungkapan ”tawarlah hati” menggambarkan kengerian yang melumpuhkan dan kegentaran mutlak, khususnya sebagai reaksi terhadap campur tangan adikodrati yang luar biasa dahsyat (lihat 5:13–15). Kondisi gentar ini disebutkan dalam sejumlah peristiwa (lihat 2:11; 5:1; 7:5; 14:8; Kel. 15:15; Ul. 20:8; 2Sam. 17:10; Yes. 19:1). Dengan musuh-musuh berada dalam kondisi ketakutan yang melumpuhkan demikian, situasi menjadi aman bagi seluruh laki-laki Israel untuk disunat. Generasi pertama peristiwa Keluaran telah melanggar perjanjian dengan tidak menyunat anak-anak lelaki mereka di padang gurun (lihat Yos. 5:5–7). Sejak zaman Abraham, orang-orang Israel yang setia memelihara perjanjian dengan Allah melalui pelaksanaan sunat sebagai tanda lahiriah dari hati yang bertekad memelihara perjanjian (lihat Kej. 17:10–14; Gal. 5:3). Ketetapan Allah mengenai sunat memperlihatkan betapa pentingnya bagi Israel untuk mengabdikan diri dalam memelihara perjanjian saat mereka menghadapi musuh-musuh mereka. Hal yang sama berlaku bagi mereka yang dibaptis ke dalam Kristus (lihat Kol. 2:11–12).

    5:6. Tanah Kanaan digambarkan di sini dengan bahasa tradisional sebagai ”suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.” Deskripsi ini hanya muncul satu kali dalam kitab kita, tetapi tercatat dua puluh kali dalam Perjanjian Lama. Ungkapan ini merujuk pada kesuburan Tanah Perjanjian yang luar biasa, di mana ternak lembu menghasilkan begitu banyak susu dan lebah menghasilkan begitu banyak madu sehingga susu dan madu seolah-olah mengalir melimpah di seluruh negeri.

    5:9. Tempat terjadinya peristiwa-peristiwa ini dinamai ”Gilgal.” Penulis kita menafsirkan nama tersebut sebagai permainan kata dengan kata kerja Ibrani yang berarti ”menggulingkan / menghapuskan” (galal). Dengan ”menggulingkan” kulit khatan melalui penyunatan, TUHAN ”menghapuskan cela Mesir” (5:9), yakni aib dari penderitaan dan kehinaan Israel selama masa perbudakan mereka di Mesir.

    Catatan Historis: Kawasan Gilgal, lokasi perkemahan dan pusat ibadah pertama umat Israel di Tanah Perjanjian pasca-penyeberangan Sungai Yordan.

    5:10–12. Bangsa Israel merampungkan rangkaian upacara kudus penyeberangan Sungai Yordan dengan merayakan Paskah. Paskah pertama dirayakan di Mesir, tetapi sesuatu yang baru terjadi pada hari ini. Perayaan Yosua berlangsung di ”dataran Yerikho” (5:10), dan umat itu ”makan hasil negeri itu” pada tahun tersebut (5:12). Pemeliharaan sementara berupa manna bagi bala tentara TUHAN yang mengembara kini telah berakhir. Kendati penaklukan masih terbentang di depan mereka, orang-orang Israel telah tiba pada momen yang menentukan dalam sejarah mereka. Mereka akhirnya mulai hidup di tempat dari mana TUHAN akan memperluas kerajaan-Nya ke seluruh penjuru bumi. Para pengikut Kristus merayakan Paskah di dalam Perjamuan Kudus saat kita mengecap berkat-berkat dari kelanjutan (kontinuitas) kerajaan Kristus, sembari kita menanti untuk merayakannya bersama Dia dalam kepenuhan kerajaan-Nya pada saat penyempurnaan (konsumasi) (lihat Luk. 22:16).


    Kepastian dari Sang Panglima (5:13–15)

    "¹³Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: "Kawankah engkau atau lawan?"

    ¹⁴Jawabnya: "Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang." Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: "Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?"

    ¹⁵Dan Panglima Balatentara TUHAN itu berkata kepada Yosua: "Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus." Dan Yosua berbuat demikian."
    — Yosua 5:13–15 (TB)

    5:13–15. Yosua tiba di ”dekat Yerikho” (5:13), di mana suatu peristiwa misterius terjadi yang meneguhkan perkenanan TUHAN baginya dalam pertempuran-pertempuran yang terbentang di depan. Yosua menjumpai ”seorang laki-laki” (5:13), atau ”seseorang”. Sebagian penafsir mengidentifikasi ”laki-laki” ini sebagai teofani atau penampakan visual Allah. Banyak penafsir lain berpendapat bahwa ”laki-laki” ini adalah Kristus sebelum berinkarnasi (pre-incarnate Christ). Pandangan-pandangan ini tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan; namun di bagian lain Kitab Suci para malaikat kerap digambarkan sebagai ”seorang laki-laki” (Dan. 10:5; Yeh. 9:2). Sosok di hadapan Yosua mengidentifikasi dirinya sebagai ”Panglima Balatentara TUHAN” (Yos. 5:14; lihat 5:15). Sangatlah sulit untuk tidak mengaitkan sebutan ini dengan malaikat yang disebut ”Panglima bala tentara” dalam Daniel 8:11. ”Panglima” dalam Kitab Daniel ini kemungkinan besar adalah malaikat Mikhael (lihat Dan. 10:13; 12:1). Bandingkan pula ”Mikhael dan malaikat-malaikatnya”, yakni bala tentara surgawi Allah yang berperang bersama melawan sang naga (Why. 12:7; lihat Yud. 9).

    Panglima ini adalah ”Malaikat TUHAN” yang hanya memberkati mereka yang setia kepada TUHAN. Ia menolong Israel yang setia sebelum zaman Yosua (lihat Kel. 3:2; Bil. 22:22), tetapi ia menolak menyertai orang-orang Israel yang tidak taat ke medan pertempuran (lihat Hak. 2:1–5). Ia meneguhkan kembali Gideon yang setia akan pertolongan TUHAN dalam pertempuran (Hak. 6:11), namun menumpas 70.000 orang di Israel sebagai reaksi atas sensus yang dilakukan Daud (lihat 2Sam. 24:15–17). Kendati demikian, setelah Hizkia bertobat, Malaikat TUHAN menumpas 185.000 pasukan Asyur demi membela Yerusalem (lihat 2Raj. 19:35). Dinubuatkan pula bahwa Malaikat TUHAN akan memainkan peranan sentral dalam kemenangan Israel di seluruh dunia pasca-pembuangan (lihat Za. 1:11; 3:1; 12:8). Karena alasan-alasan inilah, perjumpaan Yosua dengan sang Panglima memiliki signifikansi yang sangat besar bagi setiap generasi Israel, sama seperti halnya bagi para pengikut Kristus saat kita terlibat dalam perluasan kerajaan Kristus di seluruh dunia.

    Dalam antisipasi menjelang pertempuran di Yerikho, Yosua mengajukan pertanyaan krusial dalam 5:13: ”Kawankah engkau atau lawan?” Sosok itu menjawab: ”Bukan [atau 'bukan kedua-duanya'], tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN” (5:14). Pada intinya, sang panglima menyatakan bahwa bala tentara malaikat TUHAN hanya berperang membela mereka yang melayani TUHAN dengan setia.

    Menanggapi hal itu, Yosua dengan tepat bersujud: ”sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah” (5:14). Ia kemudian bertanya kepada panglima surgawi itu: ”Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?” Apakah sang panglima akan memimpin Balatentara TUHAN maju bertempur membela Israel, atau tidak? Sang panglima menjawab secara positif: ”Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus” (5:15). Signifikansi persis dari ritual ini tidak dijelaskan secara terperinci dalam bagian Kitab Suci lainnya, ataupun dalam sumber-sumber kuno lainnya. Namun bagaimanapun juga, undangan untuk menanggalkan kasut di hadapan hadirat Allah melambangkan penerimaan dan perkenanan Allah. Kesejajaran dengan peristiwa Musa di hadapan semak duri yang menyala (lihat Kel. 3:5) menegaskan bahwa Allah memperkenan Yosua sebagaimana Dia telah memperkenan Musa. Balatentara TUHAN akan berperang bagi Israel.

    Seperti halnya Yosua, setiap generasi Israel dipanggil untuk merendahkan diri di hadapan TUHAN dan memohon pertolongan dari bala tentara malaikat TUHAN. Para malaikat sering kali disebutkan di dalam Perjanjian Baru sebagai pihak-pihak yang menyampaikan firman Allah dan melayani dalam bala tentara surgawi-Nya (lihat Mat. 26:53; Luk. 2:13; Why. 9:12). Mereka pun akan memainkan peranan krusial pada saat penyempurnaan (konsumasi) zaman kita (Why. 19:14). Kita tidak boleh sekali-kali memberanikan diri melangkah ke dalam peperangan rohani yang kita hadapi tanpa bala tentara TUHAN di pihak kita.


    Pembinasaan Yerikho (6:1–21)

    "¹Dalam pada itu Yerikho telah menutup pintu gerbangnya; telah tertutup kota itu karena orang Israel; tidak ada orang keluar atau masuk.

    ²Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.

    ³Haruslah kamu mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya,

    ⁴dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala.

    ⁵Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, maka haruslah seluruh bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung ke depan."

    ⁶Kemudian Yosua bin Nun memanggil para imam dan berkata kepada mereka: "Angkatlah tabut perjanjian itu dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut TUHAN."

    ⁷Dan kepada bangsa itu dikatakannya: "Majulah, kelilingilah kota itu, dan orang-orang bersenjata harus berjalan di depan tabut TUHAN."

    ⁸Segera sesudah Yosua berkata kepada bangsa itu, maka berjalanlah maju ketujuh orang imam, yang membawa ketujuh sangkakala tanduk domba itu di hadapan TUHAN, lalu mereka meniup sangkakala, sedang tabut perjanjian TUHAN mengikut mereka.

    ⁹Dan orang-orang bersenjata berjalan di depan para imam yang meniup sangkakala dan barisan penutup mengikut tabut itu, sedang sangkakala terus-menerus ditiup.

    ¹⁰Tetapi Yosua telah memerintahkan kepada bangsa itu, demikian: "Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah katapun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah! --maka kamu harus bersorak."

    ¹¹Demikianlah tabut TUHAN mengelilingi kota itu, mengedarinya sekali saja. Kemudian kembalilah mereka ke tempat perkemahan dan bermalam di tempat perkemahan itu.

    ¹²Keesokan harinya Yosua bangun pagi-pagi, lalu para imam mengangkat tabut TUHAN.

    ¹³Maka berjalanlah juga ketujuh orang imam, yang membawa ketujuh sangkakala tanduk domba itu di depan tabut TUHAN, sambil berjalan mereka meniup sangkakala, sedang orang-orang bersenjata berjalan di depan mereka dan barisan penutup mengikut tabut TUHAN, sementara sangkakala terus-menerus ditiup.

    ¹⁴Demikianlah pada hari kedua mereka mengelilingi kota itu sekali saja, lalu pulang ke tempat perkemahan. Dan begitulah dilakukan mereka enam hari lamanya.

    ¹⁵Tetapi pada hari yang ketujuh mereka bangun pagi-pagi, ketika fajar menyingsing, dan mengelilingi kota tujuh kali dengan cara yang sama; hanya pada hari itu mereka mengelilingi kota itu tujuh kali.

    ¹⁶Lalu pada ketujuh kalinya, ketika para imam meniup sangkakala, berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Bersoraklah, sebab TUHAN telah menyerahkan kota ini kepadamu!

    ¹⁷Dan kota itu dengan segala isinya akan dikhususkan bagi TUHAN untuk dimusnahkan; hanya Rahab, perempuan sundal itu, akan tetap hidup, ia dengan semua orang yang bersama-sama dengan dia dalam rumah itu, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang kita suruh.

    ¹⁸Tetapi kamu ini, jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan, supaya jangan kamu mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu setelah mengkhususkannya dan dengan demikian membawa kemusnahan atas perkemahan orang Israel dan mencelakakannya.

    ¹⁹Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN."

    ²⁰Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu.

    ²¹Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai."
    — Yosua 6:1–21 (TB)

    6:1–5. Pembinasaan Yerikho yang sesungguhnya dimulai dengan petunjuk-petunjuk TUHAN kepada Yosua. Yerikho telah bersiap menghadapi pengepungan yang berkepanjangan, namun alih-alih memerintahkan pengepungan konvensional atau serangan langsung, Allah memerintahkan siasat yang unik untuk menunjukkan bahwa Dia dan para malaikat-Nyalah yang memenangkan pertempuran ini. Para imam kembali harus memimpin di baris depan dengan mengusung tabut perjanjian, kereta kerajaan Allah (lihat tafsiran atas 3:7–17). Mereka harus mengelilingi kota itu sekali sehari selama enam hari dengan disertai para prajurit. Pada hari yang ketujuh, mereka harus mengelilingi kota itu sebanyak tujuh kali. Tujuh imam harus meniup tujuh sangkakala tanduk domba untuk memanggil bala tentara malaikat TUHAN ke medan pertempuran (lihat Za. 9:14–15; Mat. 24:31; 1Kor. 15:52). Pada hari ketujuh, sangkakala tanduk domba harus ditiup panjang[^2], dan ”seluruh bangsa” Israel harus bersorak-sorai (6:5; lihat tafsiran atas 1:18). TUHAN menjamin kepada Yosua bahwa tembok-tembok Yerikho akan runtuh dan membuka jalan menuju kemenangan besar. Tanpa diragukan lagi, ini adalah pertempuran yang dimenangkan oleh kekuatan adikodrati (lihat tafsiran atas 5:13–15).

    Catatan Arkeologis: Signifikansi historis Yerikho tercermin pada salah satu bangunan batu tertua di dunia yang pernah ditemukan, yaitu Menara Yerikho—berasal dari sekitar tahun 8000 SM.

    Angka ”tujuh” muncul empat belas kali di dalam pasal ini untuk menghubungkan pertempuran Yerikho dengan penataan ciptaan yang gelap dan kacau oleh Allah dalam Kejadian 1:1–2:3. Sebagaimana TUHAN menata dunia pada mulanya, Dia menyatakan kuasa-Nya atas kegelapan dan kekacauan dari kejahatan bangsa Kanaan melalui kekalahan Yerikho. Yerikho adalah sebuah permulaan baru, saat ketika Allah mulai memulihkan dunia kembali ke tujuan semula. Tidak mengherankan bila Yosua sendiri menggambarkan seluruh Tanah Perjanjian dengan cara-cara yang mengingatkan pada kisah penciptaan. Negeri itu ”baik” (23:13, 15, 16). Sebelumnya ia menyatakan bahwa negeri itu ”luar biasa [amat sangat] baik” (Bil. 14:7; lihat tafsiran atas 23:15–16).

    6:6–16. Penulis kita melanjutkan dengan menjelaskan mengapa Yosua berhasil di Yerikho. Ia menaati perintah-perintah Allah dengan sangat teliti dan saksama. Yosua begitu menyadari pentingnya menaati petunjuk-petunjuk Allah sehingga ia berulang kali memperingatkan bangsa Israel agar tidak bersorak sampai tiba hari ketujuh (lihat 6:10).

    6:17–21. Yosua memerintahkan bahwa ”kota itu dengan segala isinya akan dikhususkan bagi TUHAN untuk dimusnahkan” (6:17). Musa menginstruksikan Israel untuk menawarkan perjanjian damai kepada bangsa-bangsa di luar Kanaan, tetapi penduduk Kanaan harus ditumpas atau dikhususkan bagi TUHAN (lihat Ul. 20:10–18). ”Pengkhususan untuk ditumpas” (herem / devotion to destruction) atas bangsa Kanaan dirancang untuk menyingkirkan kejahatan yang keji dari masyarakat Kanaan dari Tanah Perjanjian (lihat Kel. 34:11–16; Bil. 33:50–56; Ul. 7:1–5). Dalam sistem Imamat, ”mengkhususkan untuk ditumpas” merujuk pada persembahan-persembahan khusus yang dipersembahkan oleh umat yang beribadah kepada TUHAN (lihat Im. 27:28; Bil. 18:14; Yeh. 44:29; lihat Pengantar). Dalam pengertian ini, ”pengkhususan untuk ditumpas” atas masyarakat Kanaan merupakan bentuk penyangkalan diri bangsa Israel dalam penyembahan untuk tidak mengambil jarahan dan rampasan perang bagi diri mereka sendiri.

    Namun di sini, TUHAN membuat pengecualian bagi ”Rahab ... dan seisi rumahnya” (6:17). Terlebih lagi, setiap orang dan segala sesuatu lainnya harus dimusnahkan, kecuali ”emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi”, yang harus dikuduskan bagi ”perbendaharaan TUHAN”, yakni bagi Kemah Suci (6:19). Dalam hal ini dan kasus-kasus lainnya, TUHAN menjalankan hak prerogatif kerajaan ilahi-Nya dan mengesampingkan tuntutan ”pengkhususan untuk ditumpas” sesuai dengan maksud-Nya yang kerap kali tak terselami (lihat 6:19, 24; 8:27; 11:14).

    Catatan Arkeologis: Patung kecil ilah lembu jantan Kanaan diekskavasi di Dhahrat et-Tawileh dan berasal dari sekitar tahun 1200 SM. Benda-benda berhala semacam inilah yang dikhususkan untuk dimusnahkan di Yerikho.

    Para Pengintai Suruhan Yosua dan Rahab (6:22–27)

    "²²Tetapi kepada kedua orang pengintai negeri itu Yosua berkata: "Masuklah ke dalam rumah perempuan sundal itu dan bawalah ke luar perempuan itu dan semua orang yang bersama-sama dengan dia, seperti yang telah kamu janjikan dengan bersumpah kepadanya."

    ²³Lalu masuklah kedua pengintai muda itu dan membawa ke luar Rahab dan ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya dan semua orang yang bersama-sama dengan dia, bahkan seluruh kaumnya dibawa mereka ke luar, lalu mereka menunjukkan kepadanya tempat tinggal di luar perkemahan orang Israel.

    ²⁴Tetapi kota itu dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dibakar mereka dengan api; hanya emas dan perak, barang-barang tembaga dan besi ditaruh mereka di dalam perbendaharaan rumah TUHAN.

    ²⁵Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho.

    ²⁶Pada waktu itu bersumpahlah Yosua, katanya: "Terkutuklah di hadapan TUHAN orang yang bangkit untuk membangun kembali kota Yerikho ini; dengan membayarkan nyawa anaknya yang sulung ia akan meletakkan dasar kota itu dan dengan membayarkan nyawa anaknya yang bungsu ia akan memasang pintu gerbangnya!"

    ²⁷Dan TUHAN menyertai Yosua dan terdengarlah kabar tentang dia di seluruh negeri itu."
    — Yosua 6:22–27 (TB)

    6:22–25. Untuk menutup kisah kemenangan Israel di Yerikho, narasi ini kembali pada perjanjian khidmat antara para pengintai suruhan Yosua dan Rahab (2:1–24). Para pengintai tersebut memenuhi sumpah mereka dengan memelihara keselamatan Rahab beserta kaum keluarganya. Sementara itu, Israel membakar kota itu dan segala isinya dengan api, kecuali logam-logam yang diserahkan ke dalam ”perbendaharaan rumah TUHAN” (6:24). Penulis menambahkan catatan yang luar biasa bahwa Rahab ”diam di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang” (6:25). Masuknya Rahab ke dalam persekutuan umat Allah sangat penting bagi generasi-generasi Israel selanjutnya karena ia bergabung dengan suku kerajaan Yehuda melalui pernikahan dan menjadi salah seorang nenek moyang Daud. Ia juga sangat signifikan bagi orang-orang Kristen karena ia adalah salah seorang nenek moyang dari Putra Kerajaan Daud yang benar, yaitu Yesus Kristus (lihat Mat. 1:5). Rahab mengingatkan kita bahwa setiap orang yang memiliki iman yang menyelamatkan menjadi sangat penting bagi pelayanan kerajaan TUHAN.

    6:26–27. Sesudah itu, Yosua mengucapkan kutuk atas siapa pun yang membangun kembali kota itu (bdk. 1Raj. 16:34). Reruntuhan kota tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan kemenangan awal yang menentukan yang telah dianugerahkan Allah kepada Israel di Tanah Perjanjian. Penulis menutup bagian ini dengan mencatat perkenanan Allah atas Yosua pada masa itu. TUHAN ”menyertai Yosua dan terdengarlah kabar tentang dia di seluruh negeri itu” (Yos. 6:27). Kemenangan di Yerikho membuat hampir mustahil bagi siapa pun untuk meremehkan apa yang telah diperbuat TUHAN melalui kepemimpinannya (lihat tafsiran atas 3:7–17). Dalam banyak segi, kemenangan-kemenangan Yesus pada masa pelantikan (inaugurasi) kerajaan-Nya memberikan kesaksian serupa mengenai kemuliaan diri-Nya.

    Kota Ai (7:1–8:29)

    Menurut penulis kita, hingga titik ini bangsa Israel telah bertindak dalam cara-cara yang ideal; ia sama sekali belum menyebutkan dosa-dosa mereka. Namun, catatan mengenai peristiwa-peristiwa di kota Ai dalam pasal 7:1–8:29 secara mendadak mengakhiri gambaran ideal tersebut. Dengan demikian, bagian ini memberikan teladan-teladan tindakan serta sikap yang harus ditolak maupun yang patut ditiru oleh generasi-generasi Israel selanjutnya dan oleh para pengikut Kristus. Catatan ini terbagi ke dalam tiga bagian: kegagalan Israel dalam pasal 7:1–5, penyelesaian atas kegagalan ini dalam pasal 7:6–26, dan kemenangan Israel atas kota itu dalam pasal 8:1–29.


    Kegagalan di Ai (7:1–5)

    "¹Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel.

    ²Yosua menyuruh orang dari Yerikho ke Ai, yang letaknya dekat Bet-Awen, di sebelah timur Betel, dan berkata kepada mereka, demikian: "Pergilah ke sana dan intailah negeri itu." Maka pergilah orang-orang itu ke sana dan mengintai kota Ai.

    ³Kemudian kembalilah mereka kepada Yosua dan berkata kepadanya: "Tidak usah seluruh bangsa itu pergi, biarlah hanya kira-kira dua atau tiga ribu orang pergi untuk menggempur Ai itu; janganlah kaususahkan seluruh bangsa itu dengan berjalan ke sana, sebab orang-orang di sana sedikit saja."

    ⁴Maka berangkatlah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu ke sana; tetapi mereka melarikan diri di depan orang-orang Ai.

    ⁵Sebab orang-orang Ai menewaskan kira-kira tiga puluh enam orang dari mereka; orang-orang Israel itu dikejar dari depan pintu gerbang kota itu sampai ke Syebarim dan dipukul kalah di lereng. Lalu tawarlah hati bangsa itu amat sangat."
    — Yosua 7:1–5 (TB)

    7:1. Pertempuran merebut kota Ai diawali dengan komentar yang mengejutkan bahwa umat Israel ”berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu” (7:1). Ungkapan ”berubah setia” (atau ”berkhianat”, sebagaimana dapat diterjemahkan) mengindikasikan pelanggaran yang teramat serius yang mendatangkan konsekuensi-konsekuensi yang dahsyat (lihat 22:16, 20, 31; Bil. 5:6, 12; Yeh. 14:13; 15:8; 17:20; 18:24; 20:27). Di sini, pelanggaran tersebut melibatkan ”barang-barang yang dikhususkan [untuk ditumpas]” (lihat tafsiran atas 6:17–21).

    Catatan Historis: Benteng Khirbet el-Maqatir, lokasi yang mungkin dari kota Ai dalam Alkitab, dihancurkan sekitar tahun 1400 SM.

    7:2–4. Pengabaian Israel terhadap perintah-perintah TUHAN bermula sejak dini. Penduduk kota Ai berjumlah sedikit, dan para pengintai mendesak agar Yosua tidak menyuruh ”seluruh bangsa itu pergi” dan berlelah-lelah (7:3). Nasihat ini sangat bertolak belakang dengan apa yang telah terjadi di Yerikho serta meremehkan perintah Allah bahwa segenap suku harus berperang bersama-sama sebagai satu kesatuan umat (lihat tafsiran atas 1:18). TUHAN sendiri secara khusus mengoreksi kekeliruan ini dalam pertempuran kedua merebut Ai (lihat 8:1).

    7:5. Pertempuran pertama Israel di Ai berakhir dengan kekalahan yang memalukan, dan ”tawarlah hati bangsa itu amat sangat” (7:5; lihat tafsiran atas 5:1–8). Untuk menekankan betapa parahnya krisis ini, penulis kita menunjukkan bahwa orang Israel bereaksi di sini sama persis seperti reaksi bangsa-bangsa Kanaan dalam situasi-situasi lain. Untuk sementara waktu, mereka justru menjadi musuh-musuh Allah yang terpukul kalah.

    Israel harus belajar dari peristiwa ini tentang betapa pentingnya memelihara kesatuan saat menghadapi berbagai pertempuran yang kepadanya TUHAN memanggil mereka. Para pengikut Kristus pun harus bersungguh-sungguh memelihara kesatuan Roh agar gereja dapat maju dalam menjalankan misi globalnya (lihat Ef. 4:1–16).


    Penyelesaian atas Kegagalan (7:6–26)

    "⁶Yosuapun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel, sambil menaburkan debu di atas kepalanya.

    ⁷Dan berkatalah Yosua: "Ah, Tuhanku ALLAH, mengapa Engkau menyuruh bangsa ini menyeberangi sungai Yordan? supaya kami diserahkan kepada orang Amori untuk dibinasakan? Lebih baik kalau kami putuskan tadinya untuk tinggal di seberang sungai Yordan itu!

    ⁸O Tuhan, apakah yang akan kukatakan, setelah orang Israel lari membelakangi musuhnya?

    ⁹Apabila hal itu terdengar oleh orang Kanaan dan seluruh penduduk negeri ini, maka mereka akan mengepung kami dan melenyapkan nama kami dari bumi ini. Dan apakah yang akan Kaulakukan untuk memulihkan nama-Mu yang besar itu?"

    ¹⁰Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Bangunlah! Mengapa engkau sujud demikian?

    ¹¹Orang Israel telah berbuat dosa, mereka melanggar perjanjian-Ku yang Kuperintahkan kepada mereka, mereka mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu, mereka mencurinya, mereka menyembunyikannya dan mereka menaruhnya di antara barang-barangnya.

    ¹²Sebab itu orang Israel tidak dapat bertahan menghadapi musuhnya. Mereka membelakangi musuhnya, sebab mereka itupun dikhususkan untuk ditumpas. Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika barang-barang yang dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah-tengahmu.

    ¹³Bangunlah, kuduskanlah bangsa itu dan katakan: Kuduskanlah dirimu untuk esok hari, sebab, demikianlah firman TUHAN, Allah Israel: Hai, orang Israel ada barang-barang yang dikhususkan di tengah-tengahmu; kamu tidak akan dapat bertahan menghadapi musuhmu, sebelum barang-barang yang dikhususkan itu kamu jauhkan dari tengah-tengah kamu.

    ¹⁴Besok pagi kamu harus tampil ke muka suku demi suku dan suku yang ditunjuk oleh TUHAN harus tampil ke muka kaum demi kaum, dan kaum yang ditunjuk oleh TUHAN harus tampil ke muka keluarga demi keluarga dan keluarga yang ditunjuk oleh TUHAN harus tampil ke muka seorang demi seorang.

    ¹⁵Dan siapa yang didapati menyimpan barang-barang yang dikhususkan itu, akan dibakar dengan api, ia dan segala sesuatu yang ada padanya, sebab ia telah melanggar perjanjian TUHAN dan berbuat noda di antara orang Israel."

    ¹⁶Keesokan harinya bangunlah Yosua pagi-pagi, lalu menyuruh orang Israel tampil ke muka suku demi suku, maka didapatilah suku Yehuda.

    ¹⁷Ketika disuruhnya tampil ke muka kaum-kaum Yehuda, maka didapatinya kaum Zerah. Ketika disuruhnya tampil ke muka kaum Zerah, seorang demi seorang, maka didapatilah Zabdi.

    ¹⁸Ketika disuruhnya keluarga orang itu tampil ke muka, seorang demi seorang, maka didapatilah Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda.

    ¹⁹Berkatalah Yosua kepada Akhan: "Anakku, hormatilah TUHAN, Allah Israel, dan mengakulah di hadapan-Nya; katakanlah kepadaku apa yang kauperbuat, jangan sembunyikan kepadaku."

    ²⁰Lalu Akhan menjawab Yosua, katanya: "Benar, akulah yang berbuat dosa terhadap TUHAN, Allah Israel, sebab beginilah perbuatanku:

    ²¹aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali."

    ²²Lalu Yosua menyuruh orang segera pergi ke kemah itu, dan sesungguhnya, semuanya itu disembunyikan dalam kemah Akhan, dan perak itu ada di bawah sekali.

    ²³Maka mereka mengambil semuanya itu dari dalam kemah, lalu membawanya kepada Yosua dan kepada semua orang Israel, dan mencurahkannya di hadapan TUHAN.

    ²⁴Kemudian Yosua, beserta seluruh Israel mengambil Akhan bin Zerah, dan perak, jubah dan emas sebatang itu, anak-anaknya yang laki-laki dan perempuan, lembunya, keledainya dan kambing dombanya, kemahnya dan segala kepunyaannya, lalu semuanya itu dibawa ke lembah Akhor.

    ²⁵Berkatalah Yosua: "Seperti engkau mencelakakan kami, maka TUHAN pun mencelakakan engkau pada hari ini." Lalu seluruh Israel melontari dia dengan batu, semuanya itu dibakar dengan api dan dilempari dengan batu.

    ²⁶Sesudah itu didirikanlah di atasnya suatu timbunan batu yang besar, yang masih ada sampai sekarang. Lalu surutlah murka TUHAN yang bernyala-nyala itu. Oleh sebab itu nama tempat itu sampai sekarang disebutkan lembah Akhor."
    — Yosua 7:6–26 (TB)

    7:6–9. Penulis kita melukiskan suasana perkabungan dan kepedihan yang mendalam. Menghadapi kekalahan pertamanya, Yosua ”mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah” (7:6). Ia beserta para tua-tua Israel sujud ”di depan tabut TUHAN hingga petang” dengan ”menaburkan debu di atas kepalanya” (7:6). Yosua berseru dalam ratapan. Ia bertanya ”mengapa” Allah menyeberangkan bangsa Israel melintasi Sungai Yordan hanya ”untuk dibinasakan” (7:7). TUHAN sebelumnya telah menghapuskan cela Mesir dari mereka (lihat 5:9), namun kini Yosua khawatir bahwa musuh-musuh Israel akan ”melenyapkan nama kami dari bumi ini” (7:9a). Alih-alih memohon Allah menyelamatkan bangsa itu demi kepentingan mereka sendiri, Yosua memohon agar Allah mengingat kemuliaan-Nya sendiri dan menganugerahkan kemenangan demi kehormatan ”nama-Mu yang besar itu” (7:9b). Motif-motif teologis semacam ini kerap muncul pula dalam sejumlah doa ratapan di Kitab Mazmur.

    7:10–12. Allah menjawab ratapan Yosua dengan memberikan penjelasan dan petunjuk. Tanggapan ilahi terhadap doa ratapan muncul dalam beragam bentuk di seluruh Kitab Suci (lihat 1Sam. 1:17; Mzm. 12:5; 27:14; 60:6–8; 91:14–16). Di sini, TUHAN berfirman secara langsung kepada Yosua dan menyatakan bahwa bangsa Israel telah ”melanggar [secara harfiah: 'melangkahi' atau keluar dari batas-batas] perjanjian-Ku” (7:11). Dia mengulangi kembali pernyataan ini di bagian selanjutnya dari perikop ini (lihat 7:15).

    Ini adalah kali pertama dari tiga kali kemunculan istilah ”perjanjian” yang digunakan secara mandiri dalam kitab kita (7:11), selain rujukan pada ”tabut perjanjian” dalam upacara penyeberangan Sungai Yordan di pasal 3–6 dan 8 (lihat tafsiran atas 3:7–17) serta perjanjian yang diadakan antara Israel dan orang Gibeon dalam pasal 9. Di sini TUHAN menyebutnya sebagai ”perjanjian-Ku” (7:11). Yosua kelak menyebutnya sebagai ”perjanjian TUHAN, Allahmu” (23:16), dan penulis kita mencatat bahwa ”Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu” (atau ”bagi bangsa itu”, sebagaimana dapat diterjemahkan) di hadapan TUHAN (24:25). Sebagaimana lazimnya di banyak bagian Kitab Keluaran hingga Ulangan, perjanjian TUHAN merujuk pada perjanjian yang diikat di Gunung Sinai beserta pendahulu-pendahulunya dalam diri Adam, Nuh, dan Abraham yang dicatat dalam Kitab Kejadian (lihat Pengantar).

    Tindakan ”melanggar [perjanjian]” (7:11; lihat 7:15; 23:16) bukanlah persoalan sepele. Istilah ini menandakan pelanggaran berat terhadap ketetapan-ketetapan dasar perjanjian yang senantiasa membangkitkan murka Allah yang dahsyat. Sama seperti Akhan, Saul melanggar perjanjian dengan mengabaikan perintah pengkhususan untuk pemusnahan (herem) pascapertempuran, sehingga ia kehilangan takhtanya (lihat 1Sam. 15:24). Bentuk-bentuk pelanggaran perjanjian lainnya juga berujung pada kekalahan (lihat Bil. 14:41; 2Raj. 18:12). Pelanggaran perjanjian kerap dikaitkan dengan kesetiaan kepada ilah-ilah lain, yang mengakibatkan kematian, kekalahan dalam perang, dan pembuangan (lihat 23:16; Ul. 17:2; Hak. 2:20; Hos. 6:7; 8:1; Yer. 34:18; 2Taw. 24:20).

    Lembaga peradilan Israel di setiap generasi harus dapat membedakan antara kelemahan atau kekurangan yang mencirikan kehidupan setiap orang berdosa dan pelanggaran perjanjian yang mencolok yang membangkitkan murka Allah yang menyala-nyala atas umat-Nya. Yesus sendiri membedakan antara ”hukum yang terpenting” (the weightier matters of the law) dan dosa-dosa lainnya (Mat. 23:23), seraya menegaskan bahwa terdapat dosa-dosa yang mendatangkan penghakiman yang jauh lebih berat daripada yang lain (lihat Mat. 11:20–23). Dia juga menuntut para murid-Nya untuk memiliki kepekaan tajam dalam melihat bahwa dosa-dosa tertentu jauh lebih fatal dan merusak daripada yang lain (lihat Mat. 7:5).

    Situasi di Ai begitu gawat sehingga TUHAN harus memerintahkan Yosua sebanyak dua kali: ”Bangunlah!” (7:10, 13) karena seseorang telah mengambil ”barang-barang yang dikhususkan itu” (7:11, 15), yakni barang-barang yang telah diperintahkan Allah untuk dimusnahkan secara mutlak (devotion to destruction) sebagai wujud ibadah persembahan (lihat tafsiran atas 6:17–21). TUHAN bahkan memperingatkan sebuah ancaman malapetaka yang mengerikan: ”Aku tidak akan menyertai kamu lagi” (7:12; lihat Kel. 33:1–23). Dia tidak akan lagi berperang membela pihak Israel (lihat tafsiran atas 3:7–17).

    7:13–15. Di dalam anugerah dan belas kasihan-Nya, Allah memerintahkan Yosua untuk kembali menguduskan umat itu (7:13; lihat tafsiran atas 3:1–6). Dia memerintahkan agar undi dibuang guna mengidentifikasi suku dari orang yang telah mengambil barang-barang yang dikhususkan bagi TUHAN (7:14). Penulis kita kerap menyebutkan praktik membuang undi sebagai cara menerima petunjuk dari Allah (lihat tafsiran atas 14:1–5). Penyelidikan ini mutlak diperlukan karena seseorang telah melakukan pelanggaran berat: ia telah ”melanggar perjanjian TUHAN” (7:15; lihat tafsiran atas 7:10–12).

    7:16–26. Yosua melaksanakan ketetapan firman TUHAN tanpa keraguan, dan Akhan pun terbukti sebagai pelakunya. Yosua memadukan rasa belas kasihan dengan komitmen yang teguh terhadap perintah TUHAN. Ia menyapa Akhan dengan sebutan ”anakku” dan mendorongnya untuk memuliakan TUHAN dan mengaku di hadapan-Nya (7:19). Sekalipun Akhan mengakui perbuatannya, TUHAN tidak membatalkan hukuman-Nya. ”Seluruh Israel” (7:25; lihat tafsiran atas 1:18) sebagai satu kesatuan umat melontari Akhan dengan batu dan membakarnya dengan api bersama-sama dengan ”perak, jubah dan emas sebatang itu, anak-anaknya yang laki-laki dan perempuan, lembunya, keledainya dan kambing dombanya, kemahnya dan segala kepunyaannya” (7:24). Penulis kita mencatat bahwa ”suatu timbunan batu yang besar” masih berdiri kokoh ”sampai sekarang” sebagai peringatan keras (7:26), agar generasi-generasi mendatang tidak mengulangi apa yang telah diperbuat Akhan. Di dalam Kitab Yosua, batu-batu digunakan sebagai monumen peringatan untuk menandai baik berkat maupun kutuk dari TUHAN (lihat 4:1–20; 7:26; 8:29; 24:26–27).

    Para pembaca modern kerap merasa terusik dengan kenyataan bahwa Allah menuntut kematian segenap keluarga Akhan. Namun, perlu diperhatikan bahwa keluarga Akhan mungkin terlibat dan bersekongkol, setidak-tidaknya dengan berusaha menyembunyikan dan merahasiakan dosanya. Dalam segala hal, sangatlah penting untuk senantiasa menyadari bahwa seluruh penghakiman TUHAN adalah benar, adil, dan baik. Semua itu merupakan ketetapan penghakiman dari takhta pengadilan agung ilahi, bukan keputusan dari pengadilan manusia yang serba terbatas. Para hakim manusia di Israel dibatasi dari hukuman yang berlebihan oleh prinsip ”mata ganti mata” (Im. 24:20). Bahkan, para hakim manusia dituntut untuk memastikan bahwa ”setiap orang dihukum mati karena dosanya sendiri” (Ul. 24:16). Kendati demikian, dalam sejarah keselamatan Alkitab, TUHAN kerap menjalankan hak prerogatif ilahi-Nya dengan mencurahkan kutuk maupun berkat kepada mereka yang tidak terlibat secara langsung dalam tindakan yang memicu keputusan-Nya tersebut (lihat Kel. 20:5–6; Bil. 14:18; Mzm. 79:8; 109:14; Yes. 65:6–7; Yer. 32:18)[^3]. Berulang kali, di dalam pengetahuan dan hikmat TUHAN yang berdaulat, banyak orang harus menanggung penderitaan akibat dosa sekelompok mayoritas, segelintir orang, atau bahkan satu orang saja—dengan contoh puncaknya adalah Adam (lihat 1Kor. 15:22). Kelak dalam kitab kita, suku-suku di wilayah Kanaan barat (Kisjordan) merujuk pada peristiwa-peristiwa nyata ketika mereka harus menderita akibat penghakiman TUHAN yang dipicu oleh orang lain (lihat tafsiran atas 22:15–20). Namun, hal yang sebaliknya juga kerap terjadi. Di dalam kemurahan dan anugerah TUHAN yang tiada tara, kebenaran dari sekelompok mayoritas, segelintir orang, atau bahkan satu orang saja sering kali mendatangkan kelimpahan berkat bagi banyak orang—dengan contoh puncaknya yang sempurna adalah Kristus (lihat 1Kor. 15:22; Rm. 5:12–19).

    Kematian Akhan mencerminkan bagaimana pelanggaran-pelanggaran fatal terhadap Hukum Allah ditangani melalui lembaga peradilan umat Israel pada zaman Perjanjian Lama. Hal ini bersesuaian dengan pelaksanaan disiplin gerejawi oleh sidang majelis jemaat pada era Perjanjian Baru, yakni disiplin pengucilan atau ekskomunikasi (lihat tafsiran atas 1:18).


    Kemenangan di Ai (8:1–29)

    "¹Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Janganlah takut dan janganlah tawar hati; bawalah seluruh tentara dan bersiaplah, majulah ke Ai. Ketahuilah, Aku serahkan kepadamu raja negeri Ai, rakyatnya, kotanya dan negerinya,

    ²dan haruslah kaulakukan kepada Ai dan rajanya, seperti yang kaulakukan kepada Yerikho dan rajanya; hanya barang-barangnya dan ternaknya boleh kamu jarah. Suruhlah orang bersembunyi di belakang kota itu."

    ³Lalu bersiaplah Yosua beserta seluruh tentara untuk pergi ke Ai. Yosua memilih tiga puluh ribu orang, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa, mereka disuruhnya pergi pada waktu malam

    ⁴dan kepada mereka diperintahkannya, katanya: "Ketahuilah, kamu harus bersembunyi di belakang kota itu untuk menyerangnya, janganlah terlalu jauh dari kota itu, dan bersiap-siaplah kamu sekalian.

    ⁵Aku dan semua orang yang bersama-sama dengan aku akan mendekati kota itu; apabila mereka keluar menyerbu kami, seperti yang pertama kali, maka kami akan melarikan diri dari hadapan mereka.

    ⁶Jadi mereka akan keluar menyusul kami, sehingga kami memancing mereka jauh dari kota itu, sebab mereka akan berkata: orang-orang itu melarikan diri dari hadapan kita seperti yang pertama kali. Jika kami melarikan diri dari hadapan mereka,

    ⁷maka kamu harus bangun dari tempat persembunyianmu itu untuk menduduki kota itu, dan TUHAN, Allahmu, akan menyerahkannya ke dalam tanganmu.

    ⁸Segera setelah kamu merebut kota itu, haruslah kamu membakarnya; sesuai dengan firman TUHAN kamu harus melakukan semuanya itu; ingatlah, itulah perintahku kepadamu."

    ⁹Demikianlah Yosua menyuruh mereka pergi, lalu berjalanlah mereka ke tempat persembunyian dan tinggal di antara Betel dan Ai, di sebelah barat Ai. Tetapi Yosua bermalam di tengah-tengah rakyat pada malam itu.

    ¹⁰Keesokan harinya Yosua bangun pagi-pagi, lalu diperiksanyalah barisan bangsa itu dan berjalanlah ia maju beserta para tua-tua orang Israel di depan bangsa itu ke Ai.

    ¹¹Juga seluruh tentara yang bersama-sama dengan dia berjalan maju; mereka maju mendekat, lalu sampai ke tentangan kota itu, kemudian berkemahlah mereka di sebelah utara Ai, sehingga lembah itu ada di antara mereka dan Ai.

    ¹²Yosua telah mengambil kira-kira lima ribu orang, lalu disuruhnya mereka bersembunyi di antara Betel dan Ai, di sebelah barat kota itu.

    ¹³Beginilah rakyat itu diatur: seluruh tentara itu di sebelah utara kota dengan barisan belakang di sebelah barat kota. Pada malam itu berjalanlah Yosua melalui lembah itu.

    ¹⁴Pagi-pagi, ketika raja negeri Ai melihat hal itu, maka ia dan seluruh rakyatnya, orang-orang kota itu, segera keluar berperang, menyerbu orang Israel, ke lereng di seberang dataran itu; raja itu tidak tahu, bahwa ada orang bersembunyi di belakang kota.

    ¹⁵Yosua dan seluruh orang Israel itu berlaku seolah-olah dipukul mundur oleh mereka, lalu melarikan diri ke arah padang gurun.

    ¹⁶Sebab itu semua orang yang ada di kota dikerahkan untuk mengejar orang Israel. Maka mereka mengejar Yosua, sehingga makin jauhlah mereka terpancing dari kota.

    ¹⁷Seorangpun tidak tertinggal lagi di Ai dan Betel yang tidak keluar memburu orang Israel. Mereka meninggalkan kota itu terbuka, karena mereka mengejar orang Israel.

    ¹⁸Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Acungkanlah lembing yang ada di tanganmu ke arah Ai, sebab Aku menyerahkan kota itu ke dalam tanganmu." Maka Yosua mengacungkan lembing yang di tangannya ke arah kota itu.

    ¹⁹Ketika diacungkannya tangannya, maka segeralah bangun orang-orang yang bersembunyi itu dari tempatnya, mereka berlari memasuki kota, merebutnya, lalu segera membakar kota itu.

    ²⁰Ketika orang Ai berpaling menoleh ke belakang, tampaklah asap kota itu naik membubung ke langit; mereka tidak sempat melarikan diri ke manapun juga, sebab rakyat yang tadinya lari ke padang gurun, berbalik melawan pengejar-pengejarnya.

    ²¹Ketika Yosua dan seluruh Israel melihat, bahwa orang-orang yang bersembunyi itu telah merebut kota dan bahwa asap kota itu naik membubung, berbaliklah mereka, lalu menewaskan orang-orang Ai.

    ²²Sementara itu juga keluar orang-orang Israel yang lain dari dalam kota menyerbu orang-orang Ai, sehingga terjepit di tengah-tengah orang Israel itu, yang ini dari sini dan yang itu dari sana; orang-orang Ai ditewaskan, sehingga seorangpun dari mereka tidak ada yang dibiarkan terlepas atau luput.

    ²³Tetapi raja Ai ditangkap mereka hidup-hidup dan dihadapkan kepada Yosua.

    ²⁴Segera sesudah orang Israel selesai membunuh seluruh penduduk kota Ai di padang terbuka ke mana orang Israel mengejar mereka, dan orang-orang ini semuanya tewas oleh mata pedang sampai orang yang penghabisan, maka seluruh Israel kembali ke Ai dan memukul kota itu dengan mata pedang.

    ²⁵Jumlah semua orang yang tewas pada hari itu, baik laki-laki maupun perempuan, ada dua belas ribu orang, semuanya orang Ai.

    ²⁶Dan Yosua tidak menarik tangannya yang mengacungkan lembing itu, sebelum seluruh penduduk kota Ai ditumpasnya.

    ²⁷Hanya ternak dan barang-barang kota itu dijarah oleh orang Israel, sesuai dengan firman TUHAN, yang diperintahkan-Nya kepada Yosua.

    ²⁸Yosua membakar Ai dan membuatnya menjadi timbunan puing untuk selama-lamanya, menjadi tempat yang tandus sampai sekarang.

    ²⁹Dan raja Ai digantungnya pada sebuah tiang sampai petang. Ketika matahari terbenam, Yosua memerintahkan orang menurunkan mayat itu dari tiang, lalu dilemparkan di depan pintu gerbang kota, kemudian didirikan oranglah di atasnya suatu timbunan batu yang besar, yang masih ada sampai sekarang."
    — Yosua 8:1–29 (TB)

    8:1–2. Sangat bertolak belakang dengan nasihat keliru yang diterima Yosua sebelumnya (lihat 7:3), TUHAN menegaskan bahwa ”seluruh tentara” (seluruh prajurit tempur) harus maju menyerbu kota Ai dalam pertempuran kedua (8:1; lihat tafsiran atas 1:18). TUHAN juga memerintahkan penumpasan mutlak atas kota Ai, dengan satu pengecualian: Dia mengizinkan pasukan tersebut mengambil ”barang-barangnya dan ternaknya” sebagai jarahan (8:2; 8:27; lihat tafsiran atas 6:17–21). Ironi yang tragis di sini begitu nyata. Dalam pertempuran pertama merebut Ai, Akhan dihukum mati dengan sangat berat karena mencuri barang jarahan untuk dirinya sendiri; namun kini Allah justru menganugerahkan barang-barang jarahan tersebut kepada umat yang taat dan setia pascapertempuran kedua.

    8:3–13. Allah memberikan petunjuk-petunjuk terperinci lebih lanjut, dan Yosua mempersiapkan pasukan tentara Israel sesuai dengan petunjuk-petunjuk tersebut. Yosua memiliki keyakinan teguh bahwa mereka akan beroleh kemenangan (lihat 8:7), namun ia sangat berhati-hati untuk senantiasa mengingatkan umat: ”Sesuai dengan firman TUHAN kamu harus melakukan semuanya itu” (8:8)—suatu hal yang sempat mereka abaikan dalam pertempuran pertama yang membawa malapetaka di Ai.

    8:14–23. Ketika ”Yosua dan seluruh orang Israel” (lihat 1:18; 8:15) berpura-pura lari ketakutan dan dipukul mundur, ”semua orang yang ada di kota” Ai keluar mengejar (8:16). Kemudian TUHAN memerintahkan Yosua: ”Acungkanlah lembing yang ada di tanganmu ke arah Ai” (8:18). Tindakannya ini mengingatkan kita pada tindakan Musa dalam pertempuran di Rafidim (lihat Kel. 17:8–16). Ketaatan Yosua kepada TUHAN membawa kemenangan gilang-gemilang. Orang Israel memasuki kota yang telah ditinggalkan kosong tersebut dan merebutnya. Tidak seorang pun penduduk yang selamat dari serangan itu, kecuali raja negeri Ai.

    8:24–29. Yosua menumpas seluruh penduduk kota Ai (8:26) sebagai korban persembahan bagi Allah. Kemudian, ”sesuai dengan firman TUHAN” (8:27), bangsa Israel diizinkan untuk melengkapi kembali perbekalan mereka dengan barang-barang jarahan perang (lihat tafsiran atas 6:17–21). ”Suatu timbunan batu yang besar” mengabadikan peristiwa-peristiwa ini dan masih berdiri ”sampai sekarang” (8:29; lihat tafsiran atas 7:16–26). Generasi-generasi Israel selanjutnya harus belajar bahwa kemenangan tetap dapat diraih bahkan setelah kegagalan militer yang dahsyat, asalkan umat Allah mau bertobat dan berbalik dari dosa-dosa mereka serta menaati segenap ketetapan firman TUHAN.

    Pembaruan Perjanjian (8:30–35)

    "³⁰Pada waktu itulah Yosua mendirikan mezbah di gunung Ebal bagi TUHAN, Allah Israel,

    ³¹seperti yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN, kepada orang Israel, menurut apa yang tertulis dalam kitab hukum Musa: suatu mezbah dari batu-batu yang tidak dipahat, yang tidak diolah dengan perkakas besi apapun. Di atasnyalah mereka mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN dan mengorbankan korban keselamatan.

    ³²Dan di sanalah di atas batu-batu itu, dituliskan Yosua salinan hukum Musa, yang dituliskannya di depan orang Israel.

    ³³Seluruh orang Israel, para tua-tuanya, para pengatur pasukannya dan para hakimnya berdiri sebelah-menyebelah tabut, berhadapan dengan para imam yang memang suku Lewi, para pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu, baik pendatang maupun anak negeri, setengahnya menghadap ke gunung Gerizim dan setengahnya lagi menghadap ke gunung Ebal, seperti yang dahulu diperintahkan oleh Musa, hamba TUHAN, apabila orang memberkati bangsa Israel.

    ³⁴Sesudah itu dibacakannyalah segala perkataan hukum Taurat, berkatnya dan kutuknya, sesuai dengan segala apa yang tertulis dalam kitab hukum.

    ³⁵Tidak ada sepatah katapun dari segala apa yang diperintahkan Musa yang tidak dibacakan oleh Yosua kepada seluruh jemaah Israel dan kepada perempuan-perempuan dan anak-anak dan kepada pendatang yang ikut serta."
    — Yosua 8:30–35 (TB)

    Penulis kita menutup catatannya mengenai kemenangan atas dua kota dengan sebuah catatan tentang pembaruan perjanjian Israel di Gunung Gerizim dan Gunung Ebal. Kedua gunung ini membentuk sebuah amfiteater alami dengan kota Sikhem (Nablus modern) yang terletak di celah sempit di antara keduanya. Tempat ini merupakan latar yang sempurna bagi upacara pembaruan perjanjian yang digambarkan dalam Ulangan 11:29–32; 27:1–26 (lihat tafsiran atas 24:1).

    Catatan Geografis: Panorama yang diambil dari Gunung Ebal, menghadap ke kota modern Nablus (Sikhem dalam Alkitab), dengan Gunung Gerizim di sebelah kiri bingkai foto.

    Kita perlu memperhatikan bahwa berbagai naskah kuno Kitab Yosua menempatkan narasi ini di lokasi yang berbeda-beda dalam kitab kita. Alkitab Ibrani tradisional (Teks Masoret) menempatkannya di sini dalam pasal 8:30–35. Gulungan Kitab Yosua dari gua keempat di Qumran (4QJosha) menempatkannya tepat sesudah 5:1 untuk menyelaraskan tindakan Yosua dengan seruan Musa mengenai pembaruan perjanjian segera sesudah memasuki Tanah Perjanjian (lihat Ul. 11:29–32). Tanpa alasan yang jelas, terjemahan Yunani Kuno (Septuaginta / LXXB) menempatkan perikop ini sesudah pengantar mengenai persekutuan Kanaan selatan dalam pasal 9:2.

    Ungkapan pembuka dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan sebagai ”pada waktu itulah” (8:30) bermakna ganda (lihat 10:12; 22:1). Ungkapan ini sangat mungkin berarti ”kemudian” atau ”setelah ini”. Namun, ungkapan tersebut juga dapat berarti ”pada masa itu”, yaitu pada suatu titik waktu di sepanjang rangkaian peristiwa-peristiwa sebelumnya. Jika terjemahan ini benar, penulis kita menyajikan perikop ini sebagai sebuah analepsis (kilas balik), yakni narasi yang membawa pembaca kembali ke masa lampau. Dengan menempatkan peristiwa yang terjadi lebih awal ini di sini, penulis kita mengingatkan para pembacanya mengenai kesetiaan mendasar Israel kepada Allah yang melandasi kemenangan-kemenangan di Yerikho dan Ai.

    Upacara yang diadakan Yosua ini sering disebut sebagai pembaruan perjanjian. Pembaruan perjanjian (covenant renewal) adalah istilah umum yang menandakan penegasan kembali secara bersama (korporat) atas tuntutan-tuntutan kesetiaan kepada Allah yang ditetapkan di dalam perjanjian-perjanjian-Nya. Terdapat keberagaman di antara upacara-upacara perjanjian pada zaman Musa (lihat Kel. 19–24; Bil. 25:10–13; Ul. 11:29–32; 27:1–26; Ul. 29:1–30:19), di kemudian hari pada zaman Yosua (Yos. 24:1–28), dan juga dalam sejarah monarki Israel (lihat 2Raj. 23:1–27; 2Taw. 29:3–30:27). Catatan di sini tampak cukup ringkas, namun selaras dengan baik dengan petunjuk-petunjuk Musa sebelumnya (lihat Ul. 27:1–26). Unsur-unsur pembaruan perjanjian mencerminkan pola-pola yang lazim muncul dalam perjanjian-perjanjian internasional di Timur Dekat Kuno (lihat Pengantar).

    Yosua mendirikan sebuah mezbah dan mempersembahkan ”korban bakaran” serta ”korban keselamatan” (8:31). Ia kemudian menuliskan ”di atas batu-batu itu salinan hukum Musa” (8:32). ”Seluruh orang Israel”, serta orang-orang lain yang bersama-sama dengan mereka (8:33; lihat tafsiran atas 1:18), berdiri di sisi-sisi yang berhadapan dari mezbah tersebut ke arah Gunung Gerizim dan Gunung Ebal. Yosua memberkati mereka dan membacakan ”segala perkataan hukum Taurat”, ”berkatnya dan kutuknya” (atau ”berkat-berkat dan kutuk-kutuk”, sebagaimana dapat diterjemahkan) (8:34). Berkat dan kutuk ini kemudian ”tertulis dalam kitab hukum [Taurat]”, yang kemungkinan besar merupakan kumpulan tertulis dari serangkaian ketetapan yang bersumber dari Kitab Ulangan (lihat Yos. 1:8; 24:26).

    Catatan Arkeologis: Situs kuno tempat ibadah orang Israel di Gunung Ebal, yang diidentifikasi oleh beberapa pakar sebagai ”Mezbah Yosua”.

    Bagian ini sangat relevan bagi para pembaca mula-mula yang dituju oleh penulis kita karena bangsa Israel kerap kali memperbarui perjanjian dengan menegaskan kembali kesetiaan mereka kepada TUHAN. Perikop ini memiliki signifikansi mendalam bagi para pengikut Kristus karena nabi-nabi Israel telah menubuatkan pembaruan perjanjian pascapembuangan Israel (lihat Yes. 54:10; Yer. 31:31–34; Yeh. 34:25; 37:26). Nubuat-nubuat ini digenapi di dalam perjanjian baru (atau perjanjian yang diperbarui) di dalam Kristus. Ciri-ciri pembaruan perjanjian ini memiliki implikasi-implikasi praktis bagi kehidupan sehari-hari dan telah memengaruhi praktik ibadah di sepanjang sejarah gereja Kristen (lihat Pengantar).

    C. Kemenangan atas Dua Persekutuan (9:1–11:23)

    Kitab Yosua beralih dari keberhasilan-keberhasilan Israel menghadapi dua kota menuju ancaman-ancaman dan kemenangan-kemenangan yang lebih besar yang melibatkan dua persekutuan Kanaan dalam pasal 9:1–11:23. Penulis kita memperkenalkan ancaman-ancaman dari persekutuan-persekutuan tersebut dalam pasal 9:1–2 dan menutupnya dengan berbagai pengamatan mengenai kemenangan-kemenangan Israel atas persekutuan-persekutuan itu dalam pasal 11:16–23. Di dalam kerangka ini, ia mula-mula membahas persekutuan di wilayah selatan dalam pasal 9:3–10:43 dan kemudian persekutuan di wilayah utara dalam pasal 11:1–15.

    Pengantar Kemenangan atas Persekutuan (9:1–2)

    "¹Ketika terdengar oleh raja-raja di sebelah barat sungai Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit dan sepanjang tepi pantai Laut Besar sampai ke seberang gunung Libanon, yakni raja-raja orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus,

    ²bergabunglah mereka dengan seia sekata untuk memerangi Yosua dan orang Israel."
    — Yosua 9:1–2 (TB)

    9:1–2. Berita menyebar luas mengenai apa yang telah dilakukan TUHAN di Yerikho dan Ai, lalu ”semua raja” [TB: ”raja-raja”] (9:1) di Kanaan, dari timur ke barat dan dari utara ke selatan, ”bergabunglah mereka dengan seia sekata” (9:2; secara harfiah: ”berkumpul bersama sebagai satu kesatuan”) untuk menentang para penyerbu Israel. Catatan mengenai persekutuan-persekutuan yang melawan Israel di Kanaan ini sangat relevan bagi generasi-generasi Israel selanjutnya yang kerap kali menghadapi persekutuan-persekutuan yang kuat (lihat Hak. 3:13; 6:3; 2Raj. 16:7; 24:2; 2Taw. 12:3; 20:1; Ob. 1:10–14; Mzm. 137:7–8). Nabi-nabi Israel telah menubuatkan bahwa sesudah kepulangan Israel dari pembuangan, persekutuan-persekutuan besar akan dikalahkan oleh putra Daud yang benar (lihat Yeh. 38:14–39:8; Za. 14). Kemenangan ini telah dimulai ketika Kristus datang, terus berlanjut pada masa kini, dan akan dimenangkan secara paripurna oleh Kristus pada saat kedatangan-Nya kembali (lihat Why. 11:15).

    Kemenangan atas Persekutuan Selatan (9:3–10:43)

    Persekutuan pertama yang dihadapi Israel di wilayah-wilayah selatan Kanaan dilaporkan dalam pasal 9:3–10:43. Narasi ini berfokus pada alasan pembentukan persekutuan tersebut dalam pasal 9:3–10:5, pertempuran awal melawan persekutuan itu dalam pasal 10:6–28, dan kemenangan-kemenangan lebih lanjut di wilayah selatan dalam pasal 10:29–43.


    Pembentukan Persekutuan Selatan (9:3–10:5)

    Persekutuan Kanaan selatan bermula sebagai reaksi terhadap suatu perjanjian yang dibuat Israel dengan orang-orang Gibeon dalam pasal 9:3–27, dan raja-raja wilayah selatan bereaksi dengan membentuk persekutuan melawan Israel dalam pasal 10:1–5.

    Perjanjian dengan Orang Gibeon (9:3–27)

    "³Tetapi ketika terdengar kepada penduduk negeri Gibeon apa yang dilakukan Yosua terhadap Yerikho dan Ai,

    ⁴maka merekapun bertindak dengan memakai akal: mereka pergi menyediakan bekal, mengambil karung yang buruk-buruk untuk dimuatkan ke atas keledai mereka dan kirbat anggur yang buruk-buruk, yang robek dan dijahit kembali,

    ⁵dan kasut yang buruk-buruk dan ditambal untuk dikenakan pada kaki mereka dan pakaian yang buruk-buruk untuk dikenakan oleh mereka, sedang segala roti bekal mereka telah kering, tinggal remah-remah belaka.

    ⁶Demikianlah mereka pergi kepada Yosua, ke tempat perkemahan di Gilgal. Berkatalah mereka kepadanya dan kepada orang-orang Israel itu: "Kami ini datang dari negeri jauh; maka sekarang ikatlah perjanjian dengan kami."

    ⁷Tetapi berkatalah orang-orang Israel kepada orang-orang Hewi itu: "Barangkali kamu ini diam di tengah-tengah kami, bagaimana mungkin kami mengikat perjanjian dengan kamu?"

    ⁸Lalu kata mereka kepada Yosua: "Kami ini hamba-hambamu." Tanya Yosua: "Siapakah kamu ini dan dari manakah kamu datang?"

    ⁹Jawab mereka kepadanya: "Dari negeri yang sangat jauh hamba-hambamu ini datang karena nama TUHAN, Allahmu, sebab kami telah mendengar kabar tentang Dia, yakni segala yang dilakukan-Nya di Mesir,

    ¹⁰dan segala yang dilakukan-Nya terhadap kedua raja orang Amori itu di seberang sungai Yordan, Sihon, raja Hesybon, dan Og, raja Basan, yang diam di Asytarot.

    ¹¹Sebab itu para tua-tua kami dan seluruh penduduk negeri kami berkata kepada kami, demikian: Bawalah bekal untuk di jalan dan pergilah menemui mereka dan berkatalah kepada mereka: Kami ini hamba-hambamu, maka sekarang ikatlah perjanjian dengan kami.

    ¹²Inilah roti kami: masih panas ketika kami bawa sebagai bekal dari rumah pada hari kami berangkat berjalan mendapatkan kamu, tetapi sekarang, lihatlah, telah kering dan tinggal remah-remah belaka.

    ¹³Inilah kirbat-kirbat anggur, yang masih baru ketika kami mengisinya, tetapi lihatlah, telah robek; dan inilah pakaian dan kasut kami, semuanya telah buruk-buruk karena perjalanan yang sangat jauh itu."

    ¹⁴Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN.

    ¹⁵Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka.

    ¹⁶Tetapi setelah lewat tiga hari, sesudah orang Israel mengikat perjanjian dengan orang-orang itu, terdengarlah oleh mereka, bahwa orang-orang itu tinggal dekat mereka, bahkan diam di tengah-tengah mereka.

    ¹⁷Sebab orang Israel berangkat pergi dan pada hari ketiga sampai ke kota-kota orang-orang itu; adapun kota-kota itu ialah Gibeon, Kefira, Beerot dan Kiryat-Yearim.

    ¹⁸Orang Israel tidak menewaskan, sebab para pemimpin umat telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel. Lalu bersungut-sungutlah segenap umat kepada para pemimpin.

    ¹⁹Berkatalah pemimpin-pemimpin itu kepada seluruh umat: "Kami telah bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel; oleh sebab itu kita tidak dapat mengusik mereka.

    ²⁰Beginilah akan kita perlakukan mereka: membiarkan mereka hidup, supaya kita jangan tertimpa murka karena sumpah yang telah kita ikrarkan itu kepada mereka."

    ²¹Lagi kata para pemimpin kepada mereka: "Biarlah mereka hidup." Maka merekapun dijadikan tukang belah kayu dan tukang timba air untuk segenap umat, seperti yang ditetapkan oleh para pemimpin mengenai mereka.

    ²²Lalu Yosua memanggil mereka dan berkata kepada mereka, demikian: "Mengapa kamu menipu kami dengan berkata: Kami ini tinggal sangat jauh dari pada kamu, padahal kamu diam di tengah-tengah kami?

    ²³Oleh sebab itu, terkutuklah kamu dan tak putus-putusnya kamu menjadi hamba, tukang belah kayu dan tukang timba air untuk rumah Allahku."

    ²⁴Jawab mereka kepada Yosua, katanya: "Sebab telah dikabarkan dengan sungguh-sungguh kepada hamba-hambamu ini, bahwa TUHAN, Allahmu, memerintahkan kepada Musa hamba-Nya, memberikan seluruh negeri itu kepadamu dan memunahkan seluruh penduduk negeri itu dari depan kamu, maka sangatlah kami takut kehilangan nyawa, menghadapi kamu; itulah sebabnya kami melakukan yang demikian.

    ²⁵Maka sekarang, kami ini dalam tanganmu; perlakukanlah kami seperti yang kaupandang baik dan benar untuk dilakukan kepada kami."

    ²⁶Demikianlah dilakukannya kepada mereka. Dilepaskannyalah mereka dari tangan orang-orang Israel, sehingga mereka tidak dibunuh.

    ²⁷Dan pada waktu itu Yosua menjadikan mereka tukang belah kayu dan tukang timba air untuk umat itu dan untuk mezbah TUHAN, sampai sekarang, di tempat yang akan dipilih-Nya."
    — Yosua 9:3–27 (TB)

    9:3–27 Pembentukan Perjanjian. Musa telah menginstruksikan orang Israel agar tidak mengadakan perjanjian dengan penduduk tanah Kanaan (Ul. 20:10–20). Mereka harus ”menumpas mereka sama sekali” (Ul. 20:17; lihat Yos. 6:17–21). Namun, orang Gibeon memperdaya Israel hingga mengira bahwa mereka berasal dari luar tanah Kanaan. Mereka mengenakan ”kasut yang buruk-buruk dan ditambal ... dan pakaian yang buruk-buruk”; mereka membawa bekal yang ”telah kering, tinggal remah-remah belaka” (9:5).

    9:9–13. Allah telah memberikan kemenangan kepada Israel atas Mesir dan raja-raja di sebelah timur Sungai Yordan. Kemasyhuran Yosua telah tersebar luas ke mana-mana (lihat 6:27). Orang Gibeon juga mengetahui apa yang telah terjadi di dekat mereka di Yerikho dan Ai, dan mereka datang ”karena nama TUHAN, Allahmu” (9:9). Israel menyerukan nama TUHAN dalam peperangan mereka (lihat 1Raj. 8:33). Karena alasan inilah orang Gibeon memiliki alasan kuat untuk takut terhadap apa yang mungkin dilakukan Israel kepada mereka.

    9:14–15. Penulis kita dengan cermat menunjukkan bahwa Yosua menerima situasi ini begitu saja secara lahiriah: ia ”tidak meminta keputusan TUHAN” (Yos. 9:14) guna memohon petunjuk spesifik sebelum mengikat perjanjian dengan orang Gibeon. Sikap lancang Yosua ini berujung pada kekeliruan serius dan mengingatkan umat Allah di setiap zaman akan perlunya kita menerapkan Firman Allah dengan senantiasa mencari bimbingan TUHAN melalui doa di tengah berbagai situasi yang kita hadapi.

    9:16–27. Untuk menegaskan bahwa Yosua sama sekali tidak berniat melanggar ketetapan Allah mengenai larangan mengadakan perjanjian dengan bangsa Kanaan (lihat Ul. 20:10–20), penulis kita sekali lagi memperjelas bahwa orang Gibeonlah yang telah memperdaya Israel (lihat Yos. 9:22). Selain itu, Yosua juga ditampilkan sebagai pribadi yang benar dan murah hati. Ketika kebenaran itu terungkap, dengan berbelaskasihan ia melindungi orang Gibeon dari beberapa orang Israel yang hendak menuntut balas. Ia tetap memegang teguh perjanjian itu dengan syarat bahwa ”tak putus-putusnya kamu menjadi hamba, tukang belah kayu dan tukang timba air untuk rumah Allahku” (9:23; lihat Ul. 29:11). Orang Gibeon terus hidup di tengah-tengah bangsa Israel. Namun, pada masa kepulangan Yehuda dari pembuangan, orang-orang Gibeon telah sepenuhnya terserap ke dalam umat Israel dan diperhitungkan di antara mereka yang kembali untuk membangun bait suci di Yerusalem (lihat Neh. 3:7; 7:25).


    Reaksi terhadap Perjanjian (10:1–5)

    "¹Setelah terdengar oleh Adoni-Zedek, raja Yerusalem, bahwa Yosua telah merebut Ai dan telah menumpasnya--seperti yang dilakukannya terhadap Yerikho dan terhadap rajanya, demikianlah juga dilakukannya terhadap Ai dan terhadap rajanya--dan bahwa penduduk kota Gibeon telah mengadakan ikatan persahabatan dengan orang Israel dan diam di tengah-tengah mereka,

    ²maka sangat takutlah orang, sebab Gibeon itu kota yang besar, seperti salah satu kota kerajaan, bahkan lebih besar dari Ai, dan semua orangnya adalah pahlawan.

    ³Sebab itu Adoni-Zedek, raja Yerusalem, menyuruh orang kepada Hoham, raja Hebron, kepada Piream, raja Yarmut, kepada Yafia, raja Lakhis, dan kepada Debir, raja Eglon, mengatakan:

    ⁴"Datanglah kepadaku dan bantulah aku, supaya kita menggempur Gibeon, karena telah mengadakan ikatan persahabatan dengan Yosua dan orang Israel."

    ⁵Lalu kelima raja orang Amori itu berkumpul dan bergerak maju: raja Yerusalem, raja Hebron, raja Yarmut, raja Lakhis dan raja Eglon, mereka beserta seluruh tentara mereka. Mereka berkemah mengepung Gibeon dan berperang melawannya."
    — Yosua 10:1–5 (TB)

    10:1–5 Reaksi terhadap Perjanjian. Raja Yerusalem, Adoni-Zedek, tidak hanya mendengar tentang apa yang terjadi di Yerikho dan Ai, tetapi juga tentang perjanjian Israel dengan orang Gibeon. Akibatnya, ”sangat takutlah orang, sebab Gibeon itu kota yang besar ... dan semua orangnya adalah pahlawan” (10:2). Perjanjian Israel dengan Gibeon merupakan ancaman serius bagi seluruh wilayah selatan Kanaan.

    Dua kali penulis kita menarik perhatian pada nama Adoni-Zedek (10:1, 3), yang berarti ”tuan kebenaran” atau ”tuanku adalah kebenaran,” suatu pujian bagi sesembahan dewa lokal Kanaan. Namanya mengingatkan kita pada Melkisedek, raja Salem terdahulu (yaitu Yerusalem; lihat Mzm. 76:2), yang namanya berarti ”raja kebenaran” atau ”rajaku adalah kebenaran,” suatu pujian bagi TUHAN, Allah Abraham. Melkisedek dahulu merayakan kemenangan Abraham atas persekutuan raja-raja (lihat Kej. 14:17–18). Di kemudian hari Israel merujuk Melkisedek sebagai suatu golongan keimaman kerajaan seperti halnya keluarga Daud (lihat Mzm. 110:4) dan Yesus (lihat Ibr. 5:6; 6:20; 7:1). Namun, raja Yerusalem yang sekarang ini justru mengorganisasi sebuah persekutuan untuk melawan Israel. Ia menghimpun sebuah persekutuan selatan yang sangat besar yang ”berkemah mengepung Gibeon dan berperang melawannya” (10:5).


    Pertempuran Melawan Persekutuan Selatan (10:6–28)

    Kisah pertempuran antara Israel dan persekutuan selatan dimulai dengan pertempuran di Gibeon itu sendiri dalam pasal 10:6–15 dan kemudian beralih pada dampak pascapertempuran dalam pasal 10:16–28.

    Pertempuran di Gibeon (10:6–15)

    "⁶Lalu orang-orang Gibeon itu menyuruh orang kepada Yosua, ke tempat perkemahan di Gilgal, mengatakan: "Jangan menarik tanganmu dari pada hamba-hambamu ini. Datanglah dengan segera kepada kami, lepaskanlah kami dan bantulah kami, sebab semua raja orang Amori, yang diam di pegunungan, telah bergabung melawan kami."

    ⁷Lalu Yosua bergerak maju dari Gilgal, dia dan seluruh tentara yang bersama-sama dengan dia, semuanya pahlawan yang gagah perkasa.

    ⁸Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyerahkan mereka kepadamu. Tidak seorangpun dari mereka yang akan dapat bertahan menghadapi engkau."

    ⁹Lalu Yosua menyerang mereka dengan tiba-tiba, setelah semalam-malaman bergerak maju dari Gilgal.

    ¹⁰Dan TUHAN mengacaukan mereka di depan orang Israel, sehingga Yosua menimbulkan kekalahan yang besar di antara mereka dekat Gibeon, mengejar mereka ke arah pendakian Bet-Horon dan memukul mereka mundur sampai dekat Azeka dan Makeda.

    ¹¹Sedang mereka melarikan diri di depan orang Israel dan baru di lereng Bet-Horon, maka TUHAN melempari mereka dengan batu-batu besar dari langit, sampai ke Azeka, sehingga mereka mati. Yang mati kena hujan batu itu ada lebih banyak dari yang dibunuh oleh orang Israel dengan pedang.

    ¹²Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: "Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!"

    ¹³Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh.

    ¹⁴Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.

    ¹⁵Kemudian Yosua dan seluruh orang Israel yang menyertainya pulang kembali ke tempat perkemahan di Gilgal."
    — Yosua 10:6–15 (TB)

    10:6–15 Pertempuran di Gibeon. Orang-orang Gibeon meminta Yosua untuk menyelamatkan mereka dari persekutuan selatan, dan Israel terikat kewajiban untuk membela mereka. Meskipun orang Gibeon telah memperdaya Israel, bangsa Israel tetap telah ”bersumpah kepada mereka demi TUHAN, Allah Israel” (9:19). Kesetiaan semacam itu memang dituntut dari orang-orang yang benar (lihat Mzm. 15:4). Yosua menghadapi persekutuan itu bersama ”seluruh tentara ... semuanya pahlawan yang gagah perkasa” (10:7; lihat tafsiran atas 1:18). TUHAN mengaruniakan kemenangan besar kepada Yosua.

    10:8–9. Allah memerintahkan Yosua agar tidak takut atau tawar hati ketika menghadapi persekutuan bangsa Kanaan ini dan meyakinkannya akan kemenangan. TUHAN juga memberikan kepastian dengan cara yang serupa kepada Musa maupun Yosua pada kesempatan-kesempatan lain (lihat Ul. 1:29; 7:21; 20:3; Yos. 1:9; 8:1; 11:6). Yosua meneruskan penguatan yang sama kepada orang lain (lihat 10:25). Tugas memerangi kejahatan di dalam dunia pada setiap zaman memanglah berat. Rasa takut dan tawar hati adalah reaksi yang lazim terjadi, bahkan bagi hamba-hamba Allah yang paling setia sekalipun. Perjanjian Baru juga meyakinkan kita dengan cara serupa bahwa tidak ada alasan untuk takut ketika kita berhadapan dengan dunia yang memusuhi kita dalam pelayanan bagi Kristus (lihat Why. 1:17; 2:10).

    10:10–11. Pelayanan Yosua yang setia dan berani kepada TUHAN membuat musuh diliputi kepanikan besar, dan Israel menewaskan banyak di antara mereka. Terlebih lagi, TUHAN sendiri turun tangan. Ia melempari mereka dengan ”batu-batu besar”, ”hujan batu” (mungkin meteorit), dan membunuh musuh dalam jumlah yang lebih banyak daripada yang dibunuh oleh orang Israel dengan pedang (10:11).

    10:12–15. Bagian perikop yang menceritakan tentang matahari dan bulan yang berhenti tidak bergerak sementara Yosua mengejar musuh-musuhnya ini sangatlah terkenal. Sifat hakiki yang tepat mengenai peristiwa ini dapat dipahami melalui berbagai cara. Tidak diragukan lagi, suatu peristiwa adikodrati benar-benar terjadi (lihat tafsiran atas 5:13–15). TUHAN dapat dengan mudah mengubah perputaran normal bumi atau menyebabkan perpanjangan terang siang hari yang luar biasa melalui cara lain. Tidak ada hal yang melampaui kuasa-Nya. Namun, penting untuk dicatat bahwa perintah TUHAN agar matahari dan bulan berhenti tersaji dalam bentuk puisi (lihat 10:12). Perubahan genre ini dapat mengindikasikan bahwa peristiwa berhentinya matahari dan bulan tersebut merupakan bahasa kiasan atau figuratif (lihat Hab. 3:11). Bagaimanapun juga, penulis Kitab Yosua menegaskan kebenaran dan keabsahan catatannya dengan menyebutkan bahwa ia mengutipnya dari ”Kitab Orang Jujur” (10:13), yaitu sebuah kitab puisi yang telah beredar sekurang-kurangnya sejak zaman Daud (lihat 2Sam. 1:17–27).

    Penulis kita mengungkapkan kekagumannya sendiri atas apa yang terjadi dengan memberikan komentar bahwa ”belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian” karena cara bagaimana ”TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia” (10:14). Peranan menentukan yang dimainkan oleh doa Yosua di dalam kemenangan adikodrati ini memanggil generasi-generasi Israel masa depan untuk senantiasa berdoa saat mereka menghadapi musuh-musuh mereka (lihat 2Taw. 12:6; 13:14; 14:11–12; 15:4; 20:5–12). Sikap yang terus ”berdoa setiap waktu di dalam Roh dengan segala doa dan permohonan” juga merupakan hal yang mutlak esensial bagi peperangan rohani yang kepadanya Kristus memanggil para pengikut-Nya (Ef. 6:18).


    Dampak Pascapertempuran (10:16–28)

    "¹⁶Kelima raja itu melarikan diri dan bersembunyi di dalam gua di Makeda.

    ¹⁷Kepada Yosua dikabarkan, demikian: "Kelima raja itu telah ditemukan bersembunyi di dalam gua di Makeda."

    ¹⁸Lalu berkatalah Yosua: "Gulingkanlah batu-batu yang besar ke mulut gua itu dan tempatkanlah di sana orang untuk menjaga mereka.

    ¹⁹Tetapi kamu, janganlah kamu berhenti, kejarlah musuhmu dan hantamlah barisan belakangnya; janganlah biarkan mereka masuk ke dalam kota-kota mereka, sebab TUHAN, Allahmu, menyerahkan mereka kepadamu!"

    ²⁰Setelah Yosua dan orang Israel selesai menimbulkan kekalahan yang besar sekali di antara mereka, sampai mereka dihancurkan sama sekali--beberapa orang dari mereka dapat lolos dan masuk ke kota-kota yang diperkuat--

    ²¹pulanglah seluruh bangsa itu dengan selamat kepada Yosua ke tempat perkemahan, di Makeda. Tidak ada seorangpun yang berani melemparkan kata-kata ancaman terhadap orang Israel.

    ²²Kemudian berkatalah Yosua: "Bukalah mulut gua dan keluarkanlah kelima raja itu dari dalam dan bawa kepadaku."

    ²³Dilakukan oranglah demikian, kelima raja itu dikeluarkan dari gua itu dan dibawa kepadanya: raja Yerusalem, raja Hebron, raja Yarmut, raja Lakhis dan raja Eglon.

    ²⁴Setelah raja-raja itu dikeluarkan dan dibawa kepada Yosua, maka Yosuapun memanggil semua orang Israel berkumpul dan berkata kepada para panglima tentara, yang ikut berperang bersama-sama dengan dia: "Marilah dekat, taruhlah kakimu ke atas tengkuk raja-raja ini." Maka datanglah mereka dekat dan menaruh kakinya ke atas tengkuk raja-raja itu.

    ²⁵Lalu berkatalah Yosua kepada mereka: "Janganlah takut dan janganlah tawar hati, kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab secara itulah akan dilakukan TUHAN kepada semua musuhmu, yang kamu perangi."

    ²⁶Sesudah itu Yosua membunuh raja-raja itu, dan menggantung mereka pada lima tiang, dan mereka tinggal tergantung pada tiang-tiang itu sampai matahari terbenam.

    ²⁷Tetapi menjelang matahari terbenam, atas perintah Yosua mayat mereka diturunkan dari tiang-tiang itu, dan dilemparkan ke dalam gua, tempat mereka bersembunyi. Lalu mulut gua itu ditutupi orang dengan batu-batu besar, yang masih ada sampai sekarang.

    ²⁸Pada hari itu Yosua merebut Makeda dan kota itu dipukulnya dengan mata pedang, juga rajanya; kota itu dan semua makhluk yang ada di dalamnya ditumpasnya, tidak ada seorangpun yang dibiarkannya lolos, dan raja Makeda, diperlakukannya seperti telah diperlakukannya raja Yerikho."
    — Yosua 10:16–28 (TB)

    10:16–28 Dampak Pascapertempuran. Penulis kita kini beralih pada apa yang terjadi setelah intervensi Allah. Yosua mengejar raja-raja yang melarikan diri dari Gibeon ke arah selatan menuju Makeda, tempat mereka bersembunyi secara memalukan di dalam sebuah gua. Pertempuran masih terus berlanjut, tetapi raja-raja ini telah meninggalkan rakyat mereka demi menyelamatkan diri mereka sendiri.

    10:20–21. Orang-orang Israel ”selesai menimbulkan kekalahan yang besar sekali di antara mereka, sampai mereka dihancurkan sama sekali,” kecuali beberapa orang yang melarikan diri ke kota-kota berbenteng di sekitarnya (10:20). Pengejaran ini menimbulkan kehancuran yang sedemikian dahsyat sehingga tidak ada seorang pun yang berani ”melemparkan kata-kata ancaman terhadap ... orang Israel” (10:21). Tidak seorang pun di wilayah itu yang berani melontarkan perkataan menentang orang Israel, apalagi mengangkat perang melawan mereka.

    Catatan Historis: Pedang sabit Asyur, 1307–1275 SM.

    10:22–28. Sesudah itu, Yosua kembali kepada raja-raja yang bersembunyi di dalam gua di Makeda. Ia ”memanggil semua orang Israel” (lihat tafsiran atas 1:18) untuk menaruh ”kaki [mereka] ke atas tengkuk raja-raja ini” (10:24; bdk. Kej. 49:8; 2Sam. 22:41; Mzm. 18:41) demi meyakinkan mereka bahwa ”secara itulah akan dilakukan TUHAN kepada semua musuhmu, yang kamu perangi” (10:25; bdk. 1:6–9; Ul. 31:6–8). Hal yang sama juga berlaku bagi generasi-generasi Israel selanjutnya yang berpaling memohon pertolongan kepada TUHAN sebagaimana yang dilakukan Yosua. Kemenangan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya serta kemenangan-kemenangan yang telah Ia menangkan bagi umat-Nya yang setia di sepanjang ribuan tahun memberi kita keyakinan teguh bahwa suatu hari kelak Ia akan ”meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya” (1Kor. 15:25) dan bahwa Allah juga akan segera ”meremukkan Iblis di bawah kaki [kita]” (Rom. 16:20).

    Setelah Yosua mengeksekusi kelima raja yang telah meninggalkan rakyat mereka itu, ia menggantung mereka pada pohon/tiang sampai petang untuk memperingatkan semua orang lain mengenai betapa dahsyatnya penghakiman Allah. Ia juga menyuruh orang menutup mulut gua itu dengan batu-batu besar, ”yang masih ada sampai sekarang” (10:27), supaya generasi-generasi Israel masa depan diteguhkan hatinya tatkala mereka menghadapi peperangan melawan persekutuan musuh pada zaman mereka (lihat tafsiran atas 7:16–26).

    Penulis kita menutup rangkaian kisah ini dengan sebuah catatan bahwa Yosua ”menumpas ... semua makhluk yang ada di dalamnya” di Makeda (10:28). Seluruh kota itu diserahkan kepada TUHAN sebagai wujud ungkapan syukur atas intervensi-Nya yang luar biasa (lihat tafsiran atas 6:17–21).


    Kemenangan Lebih Lanjut di Wilayah Selatan (10:29–43)

    "²⁹Kemudian Yosua dengan seluruh Israel berjalan terus dari Makeda ke Libna, lalu memerangi Libna.

    ³⁰Dan TUHAN menyerahkan kota itu juga kepada orang Israel, beserta rajanya. Yosua memukul kota itu dan semua makhluk yang ada di dalamnya dengan mata pedang, tidak ada seorangpun di dalamnya yang dibiarkannya lolos, dan rajanya itu, diperlakukannya seperti telah diperlakukannya raja Yerikho.

    ³¹Kemudian Yosua dengan seluruh Israel berjalan terus dari Libna ke Lakhis, lalu berkemah mengepung kota itu dan berperang melawannya.

    ³²Dan TUHAN menyerahkan Lakhis kepada orang Israel. Yosua merebut kota itu pada hari yang kedua. Kota itu dan semua makhluk yang ada di dalamnya dipukulnya dengan mata pedang, tepat seperti yang dilakukannya terhadap Libna.

    ³³Lalu Horam, raja Gezer, maju untuk membantu Lakhis, tetapi Yosua menewaskan dia dan rakyatnya, sehingga tidak ada seorangpun padanya yang dibiarkannya lolos.

    ³⁴Kemudian Yosua dengan seluruh Israel berjalan terus dari Lakhis ke Eglon, lalu mereka berkemah mengepung kota itu dan berperang melawannya.

    ³⁵Kota itu direbut mereka pada hari itu juga dan dipukul dengan mata pedang. Semua makhluk yang ada di dalamnya ditumpasnya pada hari itu, tepat seperti yang dilakukan terhadap Lakhis.

    ³⁶Kemudian Yosua dengan seluruh Israel bergerak maju dari Eglon ke Hebron, lalu berperang melawannya.

    ³⁷Negeri itu direbut mereka dan dipukul dengan mata pedang, juga rajanya dan segala kotanya dan semua makhluk yang ada di dalamnya, tidak seorangpun yang dibiarkannya lolos, tepat seperti yang dilakukannya terhadap Eglon. Kota itu dan semua makhluk yang ada di dalamnya ditumpasnya.

    ³⁸Kemudian Yosua dengan seluruh Israel kembali ke Debir, lalu berperang melawannya.

    ³⁹Negeri itu beserta rajanya dan segala kotanya direbutnya, dan dipukul dengan mata pedang. Semua makhluk yang ada di dalamnya ditumpas mereka, tidak seorangpun yang dibiarkannya lolos; seperti yang dilakukannya terhadap Hebron, demikianlah dilakukan terhadap Debir beserta rajanya, sama seperti yang dilakukannya terhadap Libna beserta rajanya.

    ⁴⁰Demikianlah Yosua mengalahkan seluruh negeri itu, Pegunungan, Tanah Negeb, Daerah Bukit dan Lereng Gunung, beserta semua raja mereka. Tidak seorangpun yang dibiarkannya lolos, tetapi ditumpasnya semua yang bernafas, seperti yang diperintahkan TUHAN, Allah Israel.

    ⁴¹Yosua menewaskan mereka dari Kadesh-Barnea sampai Gaza, juga seluruh tanah Gosyen sampai Gibeon.

    ⁴²Semua raja ini dan negeri mereka telah dikalahkan Yosua sekaligus, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN, Allah Israel.

    ⁴³Kemudian Yosua dengan seluruh Israel pulang kembali ke tempat perkemahan di Gilgal."
    — Yosua 10:29–43 (TB)

    10:29–39. Kekalahan persekutuan selatan membuka jalan bagi Yosua untuk mendesak lebih jauh ke wilayah-wilayah selatan Kanaan. Serangkaian laporan dengan ringkas menggambarkan kemenangan Israel di Libna (lihat 10:29–30), Lakhis (lihat 10:31–33), Eglon (lihat 10:34–35), Hebron (lihat 10:36–37), dan di Debir (lihat 10:38–39). Untuk menyoroti bahwa Israel berperang di tempat-tempat ini dengan berkat Allah, penulis kita mengulangi bahwa Yosua menggenapi dua petunjuk bagi peperangan Israel. Pertama, ”Yosua dengan seluruh Israel” bertempur dalam setiap peperangan ini (10:29, 31, 34, 36, 38; lihat tafsiran atas 1:18). Kedua, ”semua makhluk yang ada di dalamnya” dibunuh dan ”ditumpas” di hadapan TUHAN (10:30, 32, 35, 37, 39; lihat tafsiran atas 6:17–21).

    10:40–43. Hasil dari kepatuhan Israel terhadap perintah-perintah TUHAN mendatangkan dampak yang sangat positif. Yosua ”mengalahkan seluruh negeri itu” (10:40; lihat 11:23), yang berarti di seantero wilayah selatan Kanaan. Kemenangan-kemenangan yang meluas ini terjadi ”sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN, Allah Israel” (10:42; lihat tafsiran atas 3:7–17).

    Catatan Alkitab mengindikasikan bahwa instruksi-instruksi TUHAN mengenai pertempuran berubah sesuai dengan apa yang ditentukan-Nya. Namun, saat bangsa Israel berperang dalam pengabdian kepada TUHAN, mereka dapat berharap bahwa TUHAN akan berperang bagi mereka jika mereka mengikuti taktik-taktik yang ditetapkan-Nya dalam berbagai keadaan yang berlainan. Para pengikut Kristus harus dengan saksama memperhatikan bagaimana Perjanjian Baru menginstruksikan kita untuk menjalankan penaklukan Kristus di seluruh dunia pada masa kini, sementara kita memandang ke belakang pada apa yang telah dilakukan Kristus dan memandang ke depan pada apa yang akan dilakukan-Nya pada saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan. Hanya dengan demikianlah kita dapat berharap TUHAN akan berperang bagi kita sebagaimana yang telah diperbuat-Nya bagi Yosua.

    Kemenangan atas Persekutuan Utara (11:1–15)

    Ancaman Persekutuan Utara (11:1–5)

    "¹Setelah hal itu terdengar kepada Yabin, raja Hazor, diutusnyalah orang kepada Yobab, raja Madon, dan kepada raja negeri Simron, kepada raja negeri Akhsaf,

    ²serta kepada raja-raja yang di sebelah utara, di Pegunungan, di Araba-Yordan di sebelah selatan Kinerot, di Daerah Bukit dan di tanah bukit Dor di sebelah barat,

    ³yakni raja-raja orang Kanaan di sebelah timur dan di sebelah barat, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Yebus di pegunungan dan orang Hewi di kaki gunung Hermon, di tanah Mizpa.

    ⁴Kemudian keluarlah raja-raja ini bersama-sama semua tentaranya, amat banyak rakyat, seperti pasir di tepi laut banyaknya, beserta sangat banyak kuda dan kereta.

    ⁵Raja-raja ini bersekutu dan datang berkemah bersama-sama dekat mata air Merom untuk memerangi orang Israel."
    — Yosua 11:1–5 (TB)

    11:1–5. Setelah kemenangan-kemenangan Israel di wilayah selatan, raja Hazor membentuk sebuah persekutuan yang sangat besar di wilayah utara. Ia mengumpulkan ”amat banyak rakyat, seperti pasir di tepi laut banyaknya, beserta sangat banyak kuda dan kereta” (11:4). Di dalam Kitab Yosua, inilah satu-satunya pasukan tentara yang jumlahnya digambarkan ”seperti pasir [di tepi laut]” (lihat 1Sam. 13:5) dan memiliki ”sangat banyak kuda dan kereta” (Yos. 11:4; lihat 17:16). Dalam ukuran manusia, besarnya jumlah dan kecanggihan perlengkapan militer dari persekutuan utara ini mengancam Israel melebihi musuh mana pun lainnya.

    Catatan Arkeologis: Relief (pahatan timbul) yang menggambarkan kereta perang orang Het sekitar abad ke-8 SM, tersimpan di Museum Peradaban Anatolia. Pasukan kereta berkuda merupakan kekuatan tempur yang paling canggih dan mematikan pada zaman kuno, yang kini dihadapi oleh Israel di Kanaan utara.

    Pertempuran Dekat Mata Air Merom (11:6–9)

    "⁶Lalu TUHAN berkata kepada Yosua: "Janganlah takut menghadapi mereka, sebab besok kira-kira waktu ini Aku menyerahkan mereka mati terbunuh semuanya kepada orang Israel. Kuda mereka haruslah kamu lumpuhkan dan kereta mereka haruslah kamu bakar dengan api."

    ⁷Lalu Yosua dengan seluruh tentaranya mendatangi mereka dengan tiba-tiba dekat mata air Merom, dan menyerbu mereka.

    ⁸Dan TUHAN menyerahkan mereka kepada orang Israel. Mereka dikalahkan dan dikejar sampai Sidon-Besar dan sampai Misrefot-Maim, dan sampai lembah Mizpa yang di sebelah timur. Demikianlah mereka dihancurkan, sehingga tidak seorangpun dari mereka yang dibiarkan lolos.

    ⁹Yosua melakukan terhadap mereka seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya: kuda mereka dilumpuhkan dan kereta mereka dibakar dengan api."
    — Yosua 11:6–9 (TB)

    11:6–9. Sebagaimana yang terjadi selama konflik-konflik dengan persekutuan selatan, TUHAN memerintahkan Yosua: ”Janganlah takut menghadapi mereka” (11:6; lihat tafsiran atas 10:8–9). Yosua menanggapi dengan penuh ketaatan melalui sebuah serangan langsung terhadap kuda-kuda dan kereta-kereta perang yang mengancam Israel tersebut. Persekutuan itu dikalahkan dan melarikan diri. Yosua mengejar musuh-musuh ini dan menewaskan mereka ”sehingga tidak seorangpun dari mereka yang dibiarkan lolos” (11:8; lihat tafsiran atas 10:29–39).


    Penaklukan Hazor dan Kota-Kota di Utara (11:10–15)

    "¹⁰Pada waktu itu Yosua kembali, direbutnya Hazor, dan rajanya dibunuhnya dengan mata pedang. Sebab Hazor pada waktu dahulu adalah yang terutama di antara segala kerajaan itu.

    ¹¹Semua makhluk yang ada di dalamnya dibunuhnya dengan mata pedang, sambil menumpas orang-orang itu. Tidak ada yang tinggal hidup dari semua yang bernafas dan Hazor dibakarnya.

    ¹²Selanjutnya segala kota kepunyaan raja-raja itu dan semua rajanya dikalahkan Yosua dan dibunuhnya dengan mata pedang. Mereka ditumpasnya seperti yang diperintahkan Musa, hamba TUHAN itu.

    ¹³Tetapi kota-kota yang letaknya di atas bukit-bukit puing tidaklah dibakar oleh orang Israel, hanya Hazor saja yang dibakar oleh Yosua.

    ¹⁴Segala barang dari kota-kota itu serta ternaknya telah dijarah orang Israel. Tetapi manusia semuanya dibunuh mereka dengan mata pedang, sehingga orang-orang itu dipunahkan mereka. Tidak ada yang ditinggalkan hidup dari semua yang bernafas.

    ¹⁵Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, hamba-Nya itu, demikianlah diperintahkan Musa kepada Yosua dan seperti itulah dilakukan Yosua: tidak ada sesuatu yang diabaikannya dari segala yang diperintahkan TUHAN kepada Musa."
    — Yosua 11:10–15 (TB)

    11:10–15. Yosua kemudian pergi ke Hazor, kota yang ”pada waktu dahulu adalah yang terutama di antara segala kerajaan itu” (11:10). Yosua membakar habis kota Hazor hingga rata dengan tanah, sama seperti yang dilakukannya di Yerikho dan Ai (lihat 6:24; 8:28). Ia juga menumpas penduduk Hazor sebagai persembahan pemusnahan bagi TUHAN (herem) (11:11; lihat tafsiran atas 6:17–21). Meskipun demikian, ia tidak memusnahkan sama sekali segala sesuatunya. Seperti halnya di Ai, bangsa Israel mengambil barang ”jarahan” dari ”kota-kota itu serta ternaknya” yang tidak dikhususkan untuk dimusnahkan bagi TUHAN (11:14; lihat 8:2, 27). Penulis kita meyakinkan para pembacanya bahwa pengambilan barang jarahan ini sama sekali tidak melanggar kehendak Allah dengan menambahkan bahwa ”[Yosua] tidak ada sesuatu yang diabaikannya dari segala yang diperintahkan TUHAN kepada Musa” (11:15).

    Catatan Arkeologis: Reruntuhan kota Hazor, tempat dilakukannya berbagai penggalian arkeologis yang mengonfirmasi arti penting kota tersebut dan fungsinya sebagai benteng pertahanan utama pada masa penaklukan oleh Yosua.

    Kesimpulan Kemenangan atas Persekutuan (11:16–23)

    "¹⁶Demikianlah Yosua merebut seluruh negeri itu, pegunungan, seluruh Tanah Negeb, seluruh tanah Gosyen, Daerah Bukit, serta Araba-Yordan, dan Pegunungan Israel dengan tanah rendahnya;

    ¹⁷mulai dari Pegunungan Gundul, yang mendaki ke arah Seir, sampai ke Baal-Gad di lembah gunung Libanon, di kaki gunung Hermon. Semua rajanya ditangkapnya, dan dibunuhnya.

    ¹⁸Lama Yosua melakukan perang melawan semua raja itu.

    ¹⁹Tidak ada satu kotapun yang mengadakan ikatan persahabatan dengan orang Israel, selain dari pada orang Hewi yang diam di Gibeon itu, semuanya telah direbut mereka dengan berperang.

    ²⁰Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

    ²¹Pada waktu itu Yosua datang dan melenyapkan orang Enak dari pegunungan, dari Hebron, Debir dan Anab, dari seluruh pegunungan Yehuda dan dari seluruh pegunungan Israel. Mereka dan kota-kota mereka ditumpas oleh Yosua.

    ²²Tidak ada lagi orang Enak ditinggalkan hidup di negeri orang Israel; hanya di Gaza, di Gat dan di Asdod masih ada yang tertinggal.

    ²³Demikianlah Yosua merebut seluruh negeri itu sesuai dengan segala yang difirmankan TUHAN kepada Musa. Dan Yosuapun memberikan negeri itu kepada orang Israel menjadi milik pusaka mereka, menurut pembagian suku mereka. Lalu amanlah negeri itu, berhenti dari berperang."
    — Yosua 11:16–23 (TB)

    11:16–18. Seimbang dengan bagian pengantar mengenai ancaman persekutuan-persekutuan dalam pasal 9:1–2, di sini kita menemukan kesimpulan dan penjelasan mengenai kemenangan-kemenangan Israel atas persekutuan-persekutuan tersebut. Cakupan dari kesimpulan ini meliputi wilayah selatan dan utara Tanah Perjanjian (lihat 11:16–17) dan mengakui bahwa ”Lama Yosua melakukan perang” (11:18).

    11:19–20. Baik dalam sejarah alkitabiah maupun dalam pengalaman umum manusia, kemenangan-kemenangan awal dari suatu pihak penyerbu kerap kali mendorong pihak-pihak lain di wilayah sekitarnya untuk mencari peredaan atau perdamaian; namun tidak seorang pun kecuali ”orang Hewi yang diam di Gibeon itu” yang berupaya mengadakan perdamaian dengan Israel (11:19). Penulis kita menyodorkan sebuah penjelasan teologis yang sangat krusial mengenai perilaku yang tidak lazim dari bangsa Kanaan ini dengan menyingkapkan maksud-maksud tersembunyi Allah (lihat Hak. 14:4): ”Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras” (11:20). Untuk memahami sudut pandangnya, kita harus mengingat kembali bahwa bangsa Israel dahulu ditahan di Mesir ”sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap” (Kej. 15:16). Kenyataannya, menjelang masa penaklukan oleh Israel, dosa telah sedemikian merusak bangsa Kanaan sehingga kerendahan hati di hadapan Israel menjadi hal yang sangat langka (lihat 2:8–14; 9:3–11). Karena itu, secara adil Allah mengeraskan hati orang Kanaan sedemikian rupa sehingga mereka ”berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan” (11:20; lihat tafsiran atas 6:17–21). Bangsa Israel menumpas penduduk Kanaan karena TUHAN telah menetapkan mereka bagi kesudahan tersebut. Bagian-bagian Kitab Suci lainnya menegaskan bahwa Allah kerap kali mengeraskan hati orang-orang berdosa (lihat Kel. 4:21; 7:3; 8:15, 32; 9:12, 35; 10:1, 20; 11:10; Ul. 2:30; Mzm. 81:12; Rat. 3:65; Yes. 63:17; Yoh. 12:40; Rm. 9:18; 11:7, 25).

    11:21–22. Demi menegaskan betapa mencengangkannya kemenangan-kemenangan Israel tersebut, penulis kita mengalihkan perhatian kepada orang Enak (kaum raksasa), yang mendiami wilayah pegunungan dan tergolong di antara para pejuang paling terkemuka di tanah Kanaan. Para pengintai yang tidak setia pada zaman Musa dahulu telah menyebabkan generasi pertama peristiwa Keluaran undur dari upaya penaklukan karena takut terhadap orang Enak (lihat Bil. 13:28, 33; Ul. 1:28). Walaupun demikian, Musa telah meyakinkan generasi kedua bangsa Israel bahwa mereka akan memperoleh kemenangan atas orang Enak, sekalipun mereka adalah orang-orang yang ”besar dan tinggi” (Ul. 9:2). Yosua memusnahkan orang Enak, kecuali sejumlah kecil yang masih tertinggal di Gat dan Asdod. Di kemudian hari, Kaleb menghalau ketiga putra Enak dari Hebron (lihat 14:12; 15:13–14). Goliat dari Gat beserta raksasa-raksasa lainnya (2Sam. 21:16–22; 1Taw. 20:4–8) tergolong di antara sisa-sisa terakhir dari orang Enak.

    11:23. Penulis Kitab Yosua merangkum kemenangan-kemenangan Israel atas persekutuan-persekutuan Kanaan dengan menyatakan bahwa Yosua merebut ”seluruh negeri itu sesuai dengan segala yang difirmankan TUHAN kepada Musa” (lihat 10:40). Kita harus berhati-hati agar tidak melebih-lebihkan pernyataan ini. Penaklukan Kanaan oleh Yosua memang sangat luas, namun generasi Yosua tidak memusnahkan seluruh orang Kanaan hingga tuntas (lihat tafsiran atas 13:1–14 dan 15:63). Penulis kita memandang ke masa depan dan melaporkan bahwa kelak Yosua memberikan wilayah Kanaan Barat (Kisjordan) ”kepada orang Israel menjadi milik pusaka mereka, menurut pembagian suku mereka” (lihat 13:1–21:45) dan bahwa ”amanlah negeri itu, berhenti dari berperang” (11:23; lihat tafsiran atas 1:13).

    D. Kesimpulan Kemenangan yang Meluas (12:1–24)

    Bagian terakhir dari kemenangan penaklukan Israel ini merangkum hasil-hasil yang meluas dari persiapan Yosua, pertempuran dengan dua kota, dan pertempuran dengan dua persekutuan. Pasal ini mula-mula beralih ke wilayah Transyordan dalam pasal 12:1–6 dan kemudian ke wilayah Kanaan Barat (Kisjordan) dalam pasal 12:7–24.

    Kemenangan di Transyordan (12:1–6)

    "¹Inilah raja-raja negeri yang dikalahkan oleh orang Israel dan yang negerinya diduduki mereka di seberang Yordan ke arah matahari terbit, dari sungai Arnon sampai gunung Hermon, serta seluruh Araba-Yordan ke arah timur:

    ²yakni Sihon, raja orang Amori, yang diam di Hesybon, yang memerintah atas suatu daerah dari Aroer, yang letaknya di tepi sungai Arnon, pada pertengahan sungai itu, ditambah setengah Gilead, sampai sungai Yabok, batas daerah bani Amon,

    ³dan atas Araba-Yordan sampai sebelah timur danau Kinerot dan sampai sebelah timur Laut Araba, yakni Laut Asin, ke arah Bet-Yesimot dan ke arah selatan sampai kaki lereng-lereng gunung Pisga.

    ⁴Selanjutnya daerah Og, raja Basan, seorang dari sisa-sisa orang Refaim. Raja ini diam di Asytarot dan di Edrei,

    ⁵dan memerintah atas gunung Hermon, atas Salkha dan atas seluruh Basan sampai daerah orang Gesur dan orang Maakha dan atas setengah Gilead, sampai daerah Sihon, raja Hesybon.

    ⁶Musa, hamba TUHAN itu, beserta orang Israel, telah mengalahkan mereka, dan Musa, hamba TUHAN itu, telah memberikan daerah itu kepada orang Ruben, orang Gad dan suku Manasye yang setengah itu, menjadi milik mereka."
    — Yosua 12:1–6 (TB)

    12:1–6. Rangkuman penulis kita dimulai dengan kemenangan-kemenangan di ”seberang Yordan ke arah matahari terbit” (12:1). Pada zaman Musa, bangsa Israel telah mengalahkan ”Sihon, raja orang Amori” (12:2; lihat Bil. 21:21–30; Ul. 2:26–35). Musa juga telah mengalahkan ”Og, raja Basan” yang merupakan ancaman yang lebih besar karena ia adalah ”seorang dari sisa-sisa orang Refaim” (12:4; lihat tafsiran atas 13:8–12). Orang Refaim adalah bangsa yang berbadan sangat besar dan tinggi, ”sama tingginya dengan orang Enak” (Ul. 2:21), namun bangsa Israel beroleh kemenangan atas mereka (lihat Bil. 21:31–35; Ul. 3:1–11).

    Kemenangan di Kanaan Barat (12:7–24)

    "⁷Inilah raja negeri yang dikalahkan oleh Yosua dan oleh orang Israel di sebelah barat sungai Yordan, dari Baal-Gad di lembah gunung Libanon sampai Pegunungan Gundul, yang mendaki ke arah Seir—negeri ini diberikan Yosua kepada suku-suku Israel menjadi miliknya, menurut pembagiannya,

    ⁸di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Araba-Yordan, di Lereng Gunung, di Padang Gurun dan di Tanah Negeb, yakni di negeri orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus—:

    ⁹Raja negeri Yerikho, satu; raja negeri Ai, di sebelah Betel, satu;

    ¹⁰raja negeri Yerusalem, satu; raja negeri Hebron, satu;

    ¹¹raja negeri Yarmut, satu; raja negeri Lakhis, satu;

    ¹²raja negeri Eglon, satu; raja negeri Gezer, satu;

    ¹³raja negeri Debir, satu; raja negeri Geder, satu;

    ¹⁴raja negeri Horma, satu; raja negeri Arad, satu;

    ¹⁵raja negeri Libna, satu; raja negeri Adulam, satu;

    ¹⁶raja negeri Makeda, satu; raja negeri Betel, satu;

    ¹⁷raja negeri Tapuah, satu; raja negeri Hefer, satu;

    ¹⁸raja negeri Afek, satu; raja negeri Lasaron, satu;

    ¹⁹raja negeri Madon, satu; raja negeri Hazor, satu;

    ²⁰raja negeri Simron Meron, satu; raja negeri Akhsaf, satu;

    ²¹raja negeri Taanakh, satu; raja negeri Megido, satu;

    ²²raja negeri Kedesh, satu; raja negeri Yokneam di dekat gunung Karmel, satu;

    ²³raja negeri Dor di tanah bukit Dor, satu; raja negeri Goyim di Galilea, satu;

    ²⁴raja negeri Tirza, satu; jadi jumlah semua raja itu, tiga puluh satu orang."
    — Yosua 12:7–24 (TB)

    12:7–24. Kemenangan-kemenangan di ”sebelah barat sungai Yordan” (12:7) diraih di bawah kepemimpinan Yosua. Demi memperlihatkan betapa meluas kemenangan-kemenangannya, penulis kita mendaftarkan para raja dan lokasi dari utara ke selatan. Untuk mengakhiri bagian kitabnya ini dengan nada kemenangan, ia mencatat bahwa ”jumlah semua raja itu, tiga puluh satu orang” (12:24) yang dikalahkan oleh Yosua di Kanaan Barat. Kemenangan-kemenangan Yosua di Kanaan Barat sungguh tiada bandingnya.

    Penulis kita menutup bagian utama pertama dari kitabnya dengan tinjauan luas atas kemenangan-kemenangan Yosua ini untuk memuliakan TUHAN atas segala sesuatu yang telah diperbuat-Nya, serta membuka mata para pembacanya terhadap apa yang sanggup diperbuat TUHAN pada zaman mereka sendiri. Yosua memajukan kerajaan Allah melalui pelayanannya yang setia. Hati setiap generasi bangsa Israel seharusnya tergerak untuk melakukan hal yang sama. Lebih dari itu, setiap generasi gereja Kristen dapat melihat bahwa Kristus telah meraih kemenangan-kemenangan yang bahkan jauh lebih besar daripada Yosua. Kita yang melayani di dalam kuasa Roh Kudus seharusnya rindu melihat kerajaan Allah semakin meluas melalui pelayanan kita hari ini. Pada akhirnya, penaklukan berkemenangan oleh Yosua atas Kanaan memanggil kita untuk menaruh pengharapan pada kemenangan Kristus atas seluruh dunia yang akan kita saksikan pada saat kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan.


    II. Pembagian Tanah Pusaka Suku-Suku (13:1–22:34)

    Bagian utama kedua dari kitab kita dalam 13:1–22:34 memusatkan perhatian pada tanah pusaka suku-suku Israel di Tanah Perjanjian guna menjawab sejumlah tantangan yang dihadapi oleh generasi-generasi Israel di kemudian hari. Dengan demikian, bagian ini juga berbicara mengenai banyak segi dari warisan/milik pusaka yang diterima oleh para pengikut Kristus di dalam Dia (lihat Pengantar). Pasal-pasal ini terbagi ke dalam dua bagian utama. Kisah ini dimulai dengan pembagian milik pusaka suku-suku oleh Yosua dalam 13:1–21:45. Kemudian, kisah ini beralih kepada pemeliharaan milik pusaka tersebut dalam 22:1–34.

    A. Pembagian Milik Pusaka Suku-Suku (13:1–21:45)

    Catatan mengenai milik pusaka suku-suku Israel dalam 13:1–21:45 dimulai dalam 13:1–7 dengan masalah bahwa bangsa-bangsa lain masih mendiami banyak bagian di Kanaan Barat (Kisjordan). Bagian ini ditutup dengan catatan bahwa Yosua telah memperluas pendudukan Israel atas Kanaan Barat dalam 21:43–45. Di dalam kerangka ini, penulis kita memaparkan bagaimana tanah-tanah tersebut dibagikan kepada setiap suku Israel dalam 13:8–21:42.

    Sebelum bagian utama kitab kita ini, penulis kita hanya menyebutkan ”milik pusaka” (inheritance) Israel secara singkat sebanyak dua kali (lihat 1:6; 11:23). Pada titik ini di dalam kitabnya, ia menuliskan sembilan pasal mengenai milik pusaka Israel. Tiga puluh delapan dari empat puluh dua kali kemunculan kata benda ”milik pusaka” di dalam Kitab Yosua terdapat di dalam pasal-pasal ini.

    Tanah Perjanjian adalah ”milik pusaka” (inheritance) Israel dan bukan sekadar properti atau tanah air biasa bagi mereka karena tanah tersebut merupakan milik pusaka yang bersifat kekal (enduring inheritance). TUHAN ”bersumpah” dengan otoritas kerajaan yang mutlak (lihat 14:9; 21:43, 44) dan ”berjanji” dari takhta-Nya untuk memberikannya kepada Israel (lihat 14:10, 12; 20:1; 21:45; 22:4). Dia memberikannya ”untuk selama-lamanya” (14:9; lihat Kel. 32:13; Im. 25:34, 46) dan menyatakan tanah itu sebagai tempat di mana ketetapan-ketetapan tertentu harus dipelihara ”untuk selama-lamanya” (lihat Kel. 12:24–25; Im. 23:9–14; 1Taw. 16:14–18). Oleh karena alasan inilah, tanah pusaka tersebut diwariskan dari generasi ke generasi (lihat 17:3–6; Kej. 35:12; 38:8–9; Im. 25:46; Bil. 27:1–11; Ul. 25:5–10; Rut 4:10; 1Raj. 21:1–29; Ezr. 9:12). Hanya TUHAN sendiri yang berhak mencabut kembali milik pusaka yang telah Dia berikan (lihat tafsiran atas 23:3–16 serta tafsiran atas 24:1–28).

    Sifat kekal dari milik pusaka Israel ini mengartikan bahwa pembagian suku-suku yang dicatat di sini tidak hanya berlaku untuk zaman itu saja. Generasi-generasi Israel di masa depan juga harus tunduk pada pembagian ini. Setiap penyimpangan, di luar petunjuk-petunjuk langsung yang kemudian dinyatakan oleh Allah sendiri, merupakan pelanggaran terhadap otoritas kerajaan-Nya.


    Banyak Negeri yang Masih Tersisa di Kanaan Barat (13:1–7)

    "¹Setelah Yosua menjadi tua dan lanjut umurnya, berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Engkau telah tua dan lanjut umur, dan dari negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki.

    ²Inilah negeri yang tertinggal: segenap wilayah orang Filistin dan seluruh negeri orang Gesur,

    ³mulai dari sungai Sikhor di sebelah timur Mesir sampai ke daerah Ekron ke arah utara—semuanya itu terhitung tanah orang Kanaan—;ada lima raja kota orang Filistin, yakni di Gaza, di Asdod, di Askelon, di Gat dan di Ekron—;dan orang Awi

    ⁴di sebelah selatan; seluruh negeri orang Kanaan dan Meara, kepunyaan orang Sidon, sampai ke Afek, sampai ke daerah orang Amori;

    ⁵selanjutnya negeri orang Gebal dan seluruh gunung Libanon di sebelah matahari terbit, mulai dari Baal-Gad di kaki gunung Hermon sampai ke jalan yang menuju ke Hamat;

    ⁶semua orang yang diam di pegunungan, mulai dari gunung Libanon sampai ke Misrefot-Maim; semua orang Sidon. Aku sendiri akan menghalau mereka dari depan orang Israel; hanya undikanlah dahulu negeri itu di antara orang Israel menjadi milik pusaka mereka, seperti yang Kuperintahkan kepadamu.

    ⁷Oleh sebab itu, bagikanlah negeri ini kepada suku yang sembilan itu dan kepada suku Manasye yang setengah itu menjadi milik pusaka mereka.""
    — Yosua 13:1–7 (TB)

    Penulis kita memulai bagian kitabnya ini dengan suatu persoalan yang dihadapi Yosua menjelang akhir penaklukan—suku-suku Israel belum menaklukkan banyak daerah yang seharusnya mereka duduki di Kanaan Barat (Kisjordan).

    Yosua 13:1. Bagian ini dibuka dengan sebuah narasi singkat yang mengarahkan perhatian pada kenyataan bahwa ”Yosua telah tua dan lanjut umur” (13:1a; lihat 1:1; 23:1). TUHAN sendiri menegaskan kebenaran hal ini saat Dia berfirman kepada Yosua (13:1b). Usia Yosua menghadirkan tantangan karena ”dari negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki” di Kanaan Barat (13:1c). Secara garis besar, Yosua menaklukkan ”seluruh negeri itu” selama kampanye militernya di wilayah selatan dan utara (lihat 10:40; 11:23). Namun demikian, bangsa-bangsa lain masih mendiami bagian-bagian penting dari tanah Kanaan, dan Yosua sudah terlampau tua untuk menaklukkan mereka.

    Yosua 13:2–6a. TUHAN menguraikan sejumlah wilayah yang masih berada di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain dari selatan ke utara. ”Segenap wilayah orang Filistin dan seluruh negeri orang Gesur” (13:2) masih tertinggal. Bangsa-bangsa ini bukanlah penduduk asli Kanaan. Orang Filistin telah bermigrasi dari Kaftor, yakni Pulau Kreta modern (lihat Ul. 2:23; Yer. 47:4), dan orang Gesur datang dari ”sungai Sikhor di sebelah timur Mesir” (13:3). Oleh karena itu, mereka tidak dikenai perintah untuk ”ditumpas” (devoted to destruction), kecuali jika mereka menolak untuk mengadakan perdamaian dengan Israel (lihat tafsiran atas 9:3–27). TUHAN juga mendaftarkan lokasi-lokasi di sebelah utara di sepanjang pesisir pantai dan pedalaman di Fenisia (lihat 13:4b–5a). Selanjutnya, Dia beralih lebih jauh ke timur laut, ke daerah pegunungan Libanon (lihat 13:5b–6a).

    Yosua 13:6b–7. Yosua sudah terlalu tua untuk maju ke medan pertempuran, maka TUHAN meyakinkannya: ”Aku sendiri akan menghalau mereka dari depan orang Israel” (13:6b; lihat tafsiran atas 23:5). Sementara itu, Yosua tidak boleh menunggu TUHAN bertindak. Ia diperintahkan untuk ”undikanlah dahulu negeri itu di antara orang Israel menjadi milik pusaka mereka” (13:6b) dan ”bagikanlah negeri ini ... menjadi milik pusaka mereka” (13:7), selagi bangsa-bangsa lain masih mendiami sebagian besar wilayah tersebut. Pada hakikatnya, melalui iman kepada janji Allah (lihat Kej. 15:6), Yosua harus mengklaim seluruh Kanaan Barat sebagai milik pusaka Israel dengan cara membagi-bagikan dan mengundikannya kepada suku-suku Israel.

    Petunjuk TUHAN ini menuntut Yosua untuk beriman selagi ia menantikan TUHAN menggenapi janji-Nya. Ia harus melangkah maju dan membagikan seluruh tanah tersebut, sekalipun bangsa Israel belum menaklukkan semuanya. Setiap generasi Israel dipanggil untuk melakukan hal yang sama tatkala mereka terus berhadapan dengan penduduk-penduduk lain di Tanah Perjanjian. Para pengikut Kristus di setiap zaman menghadapi situasi yang serupa. Kita telah memiliki ”jaminan milik pusaka kita” di dalam Roh Kudus (Ef. 1:14), namun kita harus menanti hingga kedatangan Kristus kembali untuk menerima kepenuhan milik pusaka kita (lihat Pengantar). Sementara itu, melalui iman kepada janji Allah, kita melangkah maju memberitakan bahwa seluruh dunia adalah milik pusaka Kristus dan bahwa kita telah menjadi ”ahli waris” yang ”akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (lihat Rm. 8:17; Gal. 4:28–31).

    Pembagian Milik Pusaka kepada Setiap Suku (13:8–21:42)

    Setelah menetapkan bahwa orang-orang Israel harus membagi dan mengundikan tanah pusaka mereka sebelum seluruh penduduk Kanaan dihalau keluar, penulis kita memusatkan perhatian pada bagaimana Yosua melaksanakan hal ini dalam 13:8–21:42. Berdasarkan urutan kronologis, ia terlebih dahulu membahas suku-suku di wilayah Transyordan dalam 13:8–33, kemudian suku-suku di wilayah Kanaan Barat (Kisjordan) dalam 14:1–19:51, dan akhirnya suku Lewi yang berdiam di kedua sisi Sungai Yordan dalam 20:1–21:42.


    Wilayah Transyordan (13:8–33)

    Yosua telah memerintahkan suku-suku Transyordan untuk maju berperang di Kanaan dan baru boleh kembali setelah kemenangan diraih (lihat tafsiran atas 1:18 dan atas 22:1–8). Pembagian milik pusaka kepada suku-suku Transyordan telah berlangsung di bawah kepemimpinan Musa sebelum penaklukan yang dipimpin Yosua, sehingga mereka menempati urutan pertama dalam penyajian kronologis ini. Penulis kita memulai dengan pengantar wilayah Transyordan dalam 13:8–14. Kemudian, ia membahas secara terpisah suku Ruben dalam 13:15–23, suku Gad dalam 13:24–28, dan setengah suku Manasye dalam 13:29–31.

    13:8–14 Pengantar Wilayah Transyordan. Bertahun-tahun sebelumnya, Musa telah membagikan tanah-tanah kepada setengah suku Manasye, orang Ruben, dan orang Gad di wilayah Transyordan, ”di sebelah timur Sungai Yordan” (13:8; lihat Bil. 32:33–42; Ul. 3:8–17). Suku-suku ini telah ”menerima milik pusaka mereka” (13:8). ”Musa telah mengalahkan dan menghalau” banyak penduduk Transyordan (13:12). Rincian lebih lanjut mengenai kemenangan-kemenangan ini disajikan kemudian (lihat 13:15–33). Di sini penulis kita menyebutkan Og sebagai salah seorang ”dari sisa-sisa orang Refaim” (13:12). Kata ”Refaim” dapat merujuk kepada arwah-arwah orang mati (lihat Mzm. 88:10; Yes. 14:9; 26:14), namun di sini istilah tersebut menunjuk kepada para kesatria perkasa yang garang seperti orang Enak dan orang Emim yang disebutkan di bagian lain (lihat tafsiran atas 14:7–15; lihat juga Ul. 2:10–11, 20–21).

    Meskipun demikian, penulis kita juga mengemukakan sebuah alasan bagi suku-suku Transyordan untuk memiliki kerendahan hati terhadap suku-suku lainnya. ”Orang Israel tidak menghalau orang Gesur dan orang Maakha.” Faktanya, ”Gesur dan Maakha masih tetap diam di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang” (13:13; lihat 2Sam. 3:3; 23:34; 2Raj. 25:23; 1Taw. 2:23; Yer. 40:8). Agaknya, kedua suku bangsa ini hanyalah dua contoh dari banyak penduduk Transyordan lainnya yang tidak dihalau oleh orang Israel. Di kemudian hari, kegagalan-kegagalan serupa dicatat pula bagi suku-suku lainnya (lihat tafsiran atas 15:63).

    13:14. Penulis kita menambahkan catatan singkat untuk mengantisipasi persoalan yang akan ia bahas dalam beberapa kesempatan: milik pusaka suku Lewi (lihat tafsiran atas 21:1–2). Ia menempatkan catatan ini di sini karena minat kronologisnya terhadap apa yang telah dilakukan Musa sebelum masa Yosua. Pada titik ini, ia sekadar mengingatkan para pembacanya bahwa ”Musa tidak memberikan milik pusaka” kepada suku Lewi. Sebaliknya, ”korban api-apian bagi TUHAN, Allah Israel, itulah milik pusaka mereka.”

    13:15–23 Suku Ruben. Setelah memberikan tinjauan pengantar mengenai Transyordan, penulis kita mengarahkan perhatiannya secara khusus kepada suku Ruben dalam 13:15–23. Ruben adalah anak sulung Yakub, namun ia kehilangan status kesulungannya akibat dosa sumbang (inses; lihat Kej. 35:22). Yakub menyebutnya ”membual seperti air” dan menegaskan, ”tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu” (Kej. 49:4). Namun, sebagaimana diperlihatkan oleh catatan ini, suku Ruben tetap diberkati dengan sejumlah tanah wilayah.

    13:24–28 Suku Gad. Lea menamai anaknya Gad melalui permainan kata yang bermakna ”beruntung” atau ”mujur.” Yakub mengartikan nama tersebut dalam kaitannya dengan gerombolan penyerang, dengan menyatakan, ”Gad, dia akan diserang oleh gerombolan penyerang, tetapi dia akan menyerang tumit mereka” (Kej. 49:19). Di sini penulis kita secara ringkas mengakui bahwa suku Gad berhasil merebut banyak daerah dari musuh-musuhnya.

    13:29–31 Setengah Suku Manasye. Manasye adalah salah seorang anak Yusuf yang, bersama-sama dengan Efraim, diperlakukan sejajar dengan paman-pamannya (lihat tafsiran atas 14:1–5). Ia menguasai tanah-tanah di sebelah barat maupun di sebelah timur Sungai Yordan. Yakub menubuatkan bahwa Yusuf, dan dengan demikian Efraim serta Manasye, akan sangat diberkati ”bukit-bukit yang berabad-abad” (Kej. 49:26). Penulis kita menggarisbawahi bahwa setengah suku Manasye lebih menonjol daripada suku Ruben dan suku Gad di wilayah Transyordan.

    Signifikansi Teologis Milik Pusaka Transyordan

    Narasi dalam 22:1–34 mengungkapkan bahwa suku-suku Kanaan Barat menganggap diri mereka lebih unggul dibandingkan suku-suku Transyordan pada zaman Yosua. Terlebih lagi, suku-suku di sebelah timur Yordan sering kali harus berjuang keras mempertahankan kendali atas tanah mereka di sepanjang sejarah mereka. Faktor-faktor inilah yang mendorong penulis kita untuk menonjolkan signifikansi pembagian tanah di Transyordan setidaknya melalui lima cara:

    1. Penegasan sebagai Milik Pusaka Abadi: Penulis kita menyebut tanah milik setiap suku sebagai ”milik pusaka” (inheritance), yakni kepemilikan abadi yang tidak tunduk kepada siapa pun kecuali kepada TUHAN sendiri. Berbeda dari sejumlah terjemahan modern, teks Ibrani dalam 13:15, 24, 29 tidak memuat kata benda ”milik pusaka”; teks tersebut hanya berbunyi, ”dan Musa memberikan...” Namun, istilah ”milik pusaka” muncul dalam bagian pengantar (13:8), dalam perkataan penutup mengenai suku Ruben (13:23) dan suku Gad (13:28), serta dalam rangkuman akhir (13:31). Istilah ini menegaskan bahwa generasi-generasi Israel di masa depan harus senantiasa menghormati pembagian tanah ini.
    1. Pembagian Berdasarkan Kaum Keluarga: Sebanyak enam kali penulis kita menegaskan bahwa milik pusaka ini dibagikan kepada ”kaum-kaum” (clans) atau ”keluarga-keluarga” di dalam suku Ruben, Gad, dan Manasye. Catatan setiap suku dibuka dan ditutup dengan frasa ”menurut kaum-kaum mereka” (13:15, 23, 24, 28, 29, 31). Kaum keluarga merupakan unit kemasyarakatan terkecil yang menerima milik pusaka spesifik dan mewakili tingkatan di mana kesinambungan milik pusaka suku harus dipelihara lintas generasi (lihat 15:13–19; 17:3–6). Dengan demikian, rincian ini menetapkan keharusan kesinambungan milik pusaka di Transyordan pada tingkat yang sama persis dengan yang diharapkan bagi suku-suku di Kanaan Barat (lihat 15:1, 12, 20; 16:5, 8; 17:2 [2x]; 18:11, 20, 21, 28; 19:1, 8, 10, 16, 17, 23, 24, 31, 32, 39, 40, 48). Di kedua sisi Sungai Yordan, milik pusaka kaum hanya boleh diperjualbelikan secara sementara. Pada Tahun Yobel, yakni setiap lima puluh tahun sekali, setiap bagian tanah yang terlepas harus dikembalikan (lihat Im. 25:23–34).
    1. Otoritas Musa sebagai Pemimpin Tertinggi: Penulis kita merujuk sebanyak tujuh kali pada fakta bahwa Musalah yang menetapkan pembagian tanah suku-suku di Transyordan (lihat 13:8 [2x], 12, 15, 24, 29, 32). Musa telah memimpin kemenangan-kemenangan tersebut dan menganugerahkan milik pusaka kepada masing-masing suku. Jika ada generasi Israel di masa depan yang meremehkan signifikansi milik pusaka suku-suku di sebelah timur Yordan, itu sama saja dengan mengabaikan otoritas pemimpin tertinggi Israel, yaitu Musa.
    1. Kemenangan Melalui Intervensi Ilahi yang Supranatural: Pembagian wilayah di Transyordan diraih melalui campur tangan ilahi yang bersifat supranatural (lihat tafsiran atas 5:13–15). Ayat-ayat ini merujuk kepada kemenangan-kemenangan mukjizat atas orang ”Refaim” (13:12), raja-raja orang Amori yakni Sihon (13:21, 27; lihat Bil. 21:21–30; Ul. 2:26–35) dan Og (13:12, 30–31; lihat Ul. 3:11), serta peristiwa kemenangan yang berkaitan dengan Bileam dan orang Moab (13:22; lihat Bil. 22–24). Hingga titik ini di dalam kitabnya, penulis kita telah menekankan sifat supranatural dari kemenangan-kemenangan yang terjadi di Kanaan Barat (lihat Yos. 2:1–11:23; 12:7–24), sehingga ia mengingatkan para pembacanya akan kemenangan-kemenangan supranatural di Transyordan yang telah sangat dikenal dari kitab-kitab Musa. Siapa pun di Israel yang mendevaluasi milik pusaka di sebelah timur Yordan pada hakikatnya telah gagal memuliakan TUHAN atas intervensi-intervensi kuasa-Nya.
    1. Besarnya Berkat bagi Seluruh Bangsa: Mustahil mengabaikan betapa luar biasanya berkat yang diwakili oleh milik pusaka ini bagi segenap bangsa Israel. Mereka menerima ”segala kota Sihon” (13:10), ”seluruh tanah Basan sampai ke Salkha” (13:11), dan ”seluruh kerajaan Og” (13:12). Suku Ruben dan Gad menerima ”segala kota” di wilayah mereka (13:17, 21, 25). Suku Manasye menerima setidaknya ”enam puluh kota” (13:30–31). Kota-kota ini merupakan berkat yang sangat melimpah yang tidak dibangun oleh orang-orang dari suku-suku ini sendiri (lihat 15:20–62; 17:7–13; 18:11–48; 24:13; Ul. 6:10; Mzm. 105:44). Kehilangan kota-kota tersebut akan berakibat pada hilangnya kemakmuran besar yang telah dijanjikan TUHAN kepada Israel.

    Bangsa Israel harus belajar dari catatan-catatan ini bahwa mereka wajib menjaga agar milik pusaka suku-suku di Transyordan tetap aman dan terlindungi. Dengan cara yang sangat serupa, para pengikut Kristus harus mengakui pentingnya setiap perwujudan dari milik pusaka Kristus di dalam gereja. Orang-orang percaya di seluruh dunia telah dikaruniai jaminan uang muka dari milik pusaka mereka di dalam Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya. Mengabaikan karunia-karunia tersebut hanya akan mendatangkan kerugian bagi gereja dan misi pelayanan kita (lihat 1Kor. 12:12–30).


    Wilayah Kanaan Barat / Kisjordan (14:1–19:51)

    Penulis kita mencurahkan perhatian yang sangat besar terhadap pembagian wilayah di Kanaan Barat (Kisjordan) dalam 14:1–19:51, sebagian karena keseluruhan kitabnya berfokus pada Yosua sebagai pemimpin Israel. Ia juga membahas berbagai kontroversi dan konflik di antara suku-suku Kanaan Barat dalam pasal-pasal ini.

    Catatan-catatan ini dimulai dengan pengantar dalam 14:1–5 dan ditutup dengan rangkuman dalam 19:51. Di dalam kerangka ini, pasal-pasal ini disusun secara kronologis: mula-mula memberikan perhatian kepada suku-suku yang menerima pembagian wilayah yang lebih besar di Gilgal dalam 14:6–17:18, kemudian beralih kepada suku-suku yang menerima pembagian wilayah yang lebih kecil di Silo dalam 18:1–19:50.

    Pengantar Wilayah Kanaan Barat (14:1–5)

    Bagian pengantar ini meletakkan dasar bagi uraian selanjutnya setidaknya melalui tiga cara:

    Pertama, penulis kita menyebut pembagian wilayah ”di tanah Kanaan” (14:1) sebagai ”milik pusaka” (inheritance) yang kekal sebanyak lima kali (14:1 [2x], 2, 3 [2x]). Sebelum membahas hal-hal yang bersifat kontroversial, ia menegaskan bahwa pembagian tanah suku-suku ini semata-mata tunduk pada kehendak Allah.

    Kedua, pembagian tanah kepada suku-suku di Kanaan Barat diotorisasi oleh para pemimpin pilihan TUHAN—yakni ”imam Eleazar, dan Yosua... dan para kepala kaum keluarga” (14:1). Lebih dari itu, di bawah arahan mereka, banyak dari pembagian ini diberikan ”dengan mengundi milik pusaka itu, seperti yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa” (14:2). Pembuangan undi menyatakan kehendak Allah secara berdaulat (lihat 7:14; 15:1; 17:1, 14; 18:6, 8, 10, 11; 19:1, 10, 17, 24, 32, 40, 51; 21:4–11, 20; bdk. Ams. 16:33; Kis. 1:26). Tanah-tanah yang diberikan di Kanaan Barat bukanlah hasil dari favoritisme manusiawi atau keserakahan, melainkan dianugerahkan oleh Allah sendiri.

    Ketiga, penulis kita juga menunjukkan bahwa pembagian tanah suku-suku di Kanaan Barat menggenapi tujuan agar seluruh kedua belas suku Israel memperoleh milik pusaka di Tanah Perjanjian (lihat tafsiran atas 1:18). Guna menyelesaikan keberatan apa pun yang mungkin timbul, ia menjelaskan cara ia menghitung suku-suku tersebut. Suku-suku yang berjumlah ”sembilan setengah suku” memperoleh tanah di sebelah barat Yordan (14:2) dan ”dua setengah suku” di sebelah timur Yordan. Namun, sebagaimana telah dicatat sebelumnya, kepada suku Lewi ”tidak diberikannya milik pusaka di tengah-tengah mereka” (14:3; lihat tafsiran atas 21:1–2). Maka dari itu, penulis kita menjelaskan bahwa ”bani Yusuf... Manasye dan Efraim” dihitung sebagai ”dua suku” (14:4). Status Efraim dan Manasye dibahas dengan begitu cermat dalam Kejadian 48 sehingga pengaturan ini pastilah cukup menimbulkan perdebatan, bahkan pada zaman Musa. Penulis kita menegaskan apa yang diajarkan oleh Musa. Ia menunjukkan bahwa Efraim dan Manasye adalah suku-suku terkemuka di Israel. Oleh sebab itu, ia berhenti sejenak untuk mengingatkan pembacanya bahwa Yusuf telah diangkat ke dalam status anak sulung Yakub dan menerima bagian ganda dari warisan Yakub (lihat Ul. 21:17).

    Kitab Kejadian menjelaskan mengapa pembagian tanah kepada seluruh kedua belas suku Israel begitu penting bagi penulis kita. Milik pusaka Abraham diteruskan kepada Ishak (bukan Ismael) dan kepada Yakub (bukan Esau). Yakub kemudian meneruskannya kepada kedua belas anaknya, para kepala suku Israel (lihat Kej. 49). Sejak saat itu, suku-suku Israel harus menerima milik pusaka mereka secara bersama-sama. Saul, Daud, dan Salomo memerintah atas seluruh suku sebagai satu bangsa yang utuh. Hizkia mempersatukan kembali kerajaan yang terpecah (lihat 2Taw. 30). Perwakilan dari seluruh Israel dibawa ke pembuangan, dan pengharapan Israel pasca-pembuangan berkaitan erat dengan pemulihan seluruh kedua belas suku (lihat Yeh. 40–48).

    Penulis kita meyakinkan para pembacanya bahwa Yosua telah membagikan tanah pusaka kepada segenap bangsa Israel. Generasi-generasi Israel di kemudian hari harus meresapkan pandangan ini ke dalam hati dan berikhtiar sekuat tenaga demi memastikan bahwa cita-cita ini terwujud pada zaman mereka. Perspektif ini menjelaskan mengapa para rasul Yesus begitu berkomitmen untuk mencari pengganti Yudas (lihat Kis. 1:12–26). Sebagai kaum sisa Israel yang sejati, Yesus memanggil dua belas murid yang secara simbolis berpadanan dengan kedua belas suku Israel. Mereka menjadi fondasi bagi gereja (lihat Ef. 2:20), dan pengajaran mereka akan senantiasa krusial bagi penyebaran Kerajaan Kristus di seluruh dunia (lihat Yoh. 17:18–21; Ef. 4:11).


    Pembagian Wilayah di Gilgal (14:6–17:18)

    Suku Yehuda, Efraim, dan Manasye menerima pembagian tanah yang luas ”di Gilgal” (14:6; bdk. 18:1). Catatan-catatan ini mengingatkan kembali pada kehormatan yang dianugerahkan kepada Yehuda dalam 14:6–15:63 dan kepada Yusuf dalam 16:1–17:18, serta menjelaskan bagaimana kehormatan ini seharusnya dipandang oleh setiap generasi di Israel.

    Pembagian Milik Pusaka Suku Yehuda (14:6–15:63)

    Kedudukan utama di antara suku-suku diberikan kepada Yehuda karena Yakub telah meninggikan Yehuda sebagai suku kerajaan Israel (lihat Kej. 49:10). Yehuda ditetapkan untuk memimpin suku-suku lain ke medan pertempuran pada zaman Hakim-Hakim karena alasan yang sama (lihat Hak. 1:2). Di kemudian hari, TUHAN menetapkan dinasti Daud sebagai dinasti kerajaan abadi bagi Israel (2Sam. 7:16). Kepemimpinan garis keturunan raja dari Yehuda juga sangat penting bagi pemulihan Israel pasca-pembuangan (lihat Yes. 9:6–7). Suku Yehuda juga sangat menonjol di dalam Perjanjian Baru karena Yesus berasal dari suku Yehuda. Berbeda dari kegagalan garis keturunan raja Daud, Yesus adalah Anak Daud yang benar secara sempurna.

    Mengingat pentingnya suku Yehuda, penulis kita mencurahkan perhatian yang lebih besar kepadanya dibandingkan suku-suku lain di Kanaan Barat. Catatan mengenai pembagian tanah Yehuda terbagi menjadi pengantar singkat dalam 14:6, diikuti oleh rangkaian materi dalam 14:7–15:62, dan kesimpulan singkat dalam 15:63.

    14:6 Pengantar Suku Yehuda. Latar belakang ditetapkan bagi catatan pembagian tanah suku Yehuda. Peristiwa ini berlangsung ”bani Yehuda datang menghadap Yosua di Gilgal” (14:6) untuk menerima bagian mereka dari Tanah Perjanjian.

    14:7–15 Milik Pusaka Kaleb di Yehuda. Kehormatan yang diberikan kepada Yehuda pertama-tama ditunjukkan melalui perhatian terhadap salah satu tokoh terkemuka suku tersebut, yaitu Kaleb. Kaleb terkenal karena pelayanannya yang setia saat mengintai Tanah Perjanjian pada generasi sebelumnya (lihat Bil. 13–14). Ia ”tetap setia mengikuti TUHAN” tatkala para pengintai lainnya ”membuat tawar hati bangsa itu” (Yos. 14:8; lihat tafsiran atas 5:1–7). Maka dari itu, penulis kita mengawali catatannya mengenai keunggulan Yehuda bersama tokoh ini.

    Narasi ini merupakan yang pertama dari enam narasi yang menarik perhatian pada keadaan-keadaan khusus, yang mungkin agak kontroversial, terkait pembagian tanah suku di Kanaan Barat (lihat 15:13–19; 17:3–6, 14–18; 18:1–6; 19:49–50). Kaleb menerima Hebron sebagai milik pusaka bagi kaum keluarganya. Ini adalah kehormatan istimewa karena para bapa leluhur Israel dimakamkan di sana (lihat Kej. 23:1–9, 19; 25:9; 35:27; 37:14). Yosua telah menaklukkan Hebron dalam kampanye militernya di selatan (lihat 10:36–37), namun orang Enak (lihat Ul. 2:10–11, 20–21; lihat tafsiran atas 13:8–12) telah merebutnya kembali (lihat 14:12–15). Kaleb berdoa, ”mudah-mudahan TUHAN menyertai aku” sehingga ia dapat memenangkan pertempuran tersebut (14:12; lihat tafsiran atas 3:7–17). Ia berhasil menaklukkan orang Enak dan menerima Hebron karena dalam keadaan-keadaan tersebut ”ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati” (14:14; lihat 14:8). Akibatnya, wilayah Hebron menikmati ”keamanan, berhenti dari perang” (lihat tafsiran atas 1:10–18). Kelak, penulis kita akan menyebut kembali milik pusaka Kaleb di Hebron dalam daftar kota-kota orang Lewi (lihat 21:12). Namun pada titik ini di dalam kitabnya, ia menegaskan bahwa Hebron adalah ”milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya” (14:9). Setiap generasi Israel harus mengakuinya demikian.

    Penulis kita meninggikan Yehuda dengan menghormati pelayanan Kaleb yang berani dan sepenuh hati kepada TUHAN. Sebagai pengikut Kristus, kita pun meninggikan suku Yehuda dan menghormati Kaleb. Namun, betapa pun kita diteguhkan tatkala belajar mengenai Kaleb, Perjanjian Baru menghormati seorang anggota suku Yehuda yang lain dengan jauh lebih agung. Yesus memiliki keberanian yang sempurna dan mempersembahkan pelayanan sepenuh hati yang tiada bandingnya kepada Allah di setiap hembusan napas hidup-Nya. Dialah teladan tertinggi bagi semua orang untuk diteladani hari ini (lihat Flp. 2:5–11).

    15:1–12 Batas-Batas Wilayah Yehuda. Kepemilikan Kaleb atas Hebron hanyalah salah satu dari sekian banyak milik pusaka yang dibagikan kepada Yehuda ”menurut kaum-kaum mereka” (15:1, 12; lihat tafsiran atas 13:15–32). Yehuda menerima tanah yang lebih luas daripada suku mana pun. Daftar ini mengarahkan perhatian pada batas-batas wilayah yang sangat luas di mana setiap keluarga Yehuda menerima bagiannya. Kata-kata pembukanya secara harfiah berbunyi, ”dan terjadilah undian itu” (15:1). Upacara pembuangan undi dilaksanakan guna menepis perselisihan apa pun yang mungkin timbul di antara suku-suku atau di antara kaum-kaum Yehuda di masa depan (lihat tafsiran atas 14:1–5).

    Catatan mengenai Yehuda ini mengantisipasi hari tatkala keluarga Daud akan memerintah atas segenap bangsa Yehuda dan mendorong setiap orang Israel untuk sujud di hadapan takhta Daud. Umat Kristen kini melayani Putra Daud yang agung, yang bertakhta di atas takhta Daud dan memerintah atas seluruh alam semesta, dan kita wajib menghormati-Nya sebagai Raja kita (lihat Kis. 2:30–32).

    15:13–19 Anak Perempuan Kaleb di Yehuda. Penulis kita beralih ke narasi kedua yang berkaitan erat dengan narasi pertama (lihat 14:7–15). Kaleb maju menyerang Debir dan menawarkan anak perempuannya, Akhsa, sebagai istri bagi laki-laki yang berhasil merebut kota tersebut. Otniel merebut kota itu dan menikahi Akhsa. Atas permintaan Akhsa, Otniel meminta sebidang ladang kepada Kaleb bagi keluarganya yang baru, dan Kaleb mengabulkannya. Lebih jauh dari itu, Akhsa secara langsung memohon kepada Kaleb suatu ”berkat” berupa sumber daya yang sangat berharga di wilayah tersebut, yakni ”mata air” (15:19). Menanggapi hal itu, Kaleb memberikannya lebih dari yang ia minta, yaitu ”mata air yang di hulu dan mata air yang di hilir” (15:19). Ini adalah peristiwa pertama dari dua kali penulis kita membahas persoalan yang tampaknya kontroversial: penghormatan yang tinggi terhadap perempuan dalam proses penetapan dan pelestarian milik pusaka kaum keluarga mereka (lihat 17:3–4).

    Mengingat konteks budaya Israel pada zaman Perjanjian Lama, fokus penulis kita pada kaum perempuan di sini dan dalam 17:3–4 kemungkinan besar didorong oleh kontroversi berulang mengenai hak perempuan dan milik pusaka kaum. Kenyataan bahwa hal ini terjadi di tengah suku Yehuda yang sangat terhormat mengartikan bahwa ketetapan ini harus diteladani pula oleh seluruh suku lainnya. Rasul Paulus mencerminkan pandangan serupa ketika ia menyatakan bahwa ”tidak ada laki-laki atau perempuan” dan menambahkan, ”jika kamu adalah milik Kristus, maka kamu adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah” (Gal. 3:28–29). Penghormatan yang tinggi terhadap kaum perempuan sebagai ”ahli waris” yang ”akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rm. 8:17) merupakan nilai luhur yang harus terus ditegakkan di dalam gereja Kristen.

    15:20–62 Kota-Kota Yehuda. Milik pusaka suku Yehuda beralih ke lebih banyak contoh pembagian ”menurut kaum-kaum mereka” (15:20; lihat tafsiran atas 13:15–32). Penulis kita terus meninggikan Yehuda dengan mencatat bahwa sebanyak 112 kota diserahkan kepada kaum-kaum Yehuda. Ia juga mengulang sebanyak sepuluh kali bahwa Yehuda menerima ”kota-kota beserta desa-desanya,” yaitu kota-kota yang cukup besar sehingga memiliki desa-desa di sekelilingnya (15:32, 36, 41, 44, 51, 54, 57, 59, 60, 62; lihat juga 18:24, 28; 19:6, 7, 15, 16, 22, 23, 30, 31, 38, 39, 48). Ia melakukan hal ini untuk mengangkat profil Yehuda sebagai suku yang diberkati TUHAN secara luar biasa melimpah (lihat 24:2–13).

    Peninggian Yehuda di atas seluruh suku lainnya memanggil setiap generasi Israel untuk mengakui Yehuda sebagai suku pemimpin di Israel. Terlepas dari banyaknya kekurangan keluarga kerajaan Yehuda berabad-abad kemudian, dinasti Daud tetap menjadi tumpuan pengharapan Israel bagi masa depan. Sebagai para pengikut Kristus, kita harus senantiasa mengingat bahwa Yehuda adalah suku asal Yesus, Sang Anak Daud yang benar secara sempurna, yang kini memiliki ”segala kuasa di sorga dan di bumi” (Mat. 28:18) dan memimpin umat-Nya hingga tiba harinya saat Dia memerintah atas segala sesuatu.

    15:63 Kesimpulan bagi Suku Yehuda. Terlepas dari kedudukan terkemuka yang diterima oleh Yehuda, penulis kita menutup dengan seruan agar suku Yehuda memiliki kerendahan hati: ”Tetapi orang Yebus, penduduk kota Yerusalem, tidak dapat dihalau oleh bani Yehuda. Jadi orang Yebus itu masih tetap diam bersama-sama dengan bani Yehuda di Yerusalem sampai sekarang.” Keberadaan orang Yebus di Israel menjadi masalah selama bergenerasi-generasi. Mereka menyulitkan Israel sepanjang zaman Hakim-Hakim (lihat Hak. 1:21; 19:11). Daud membebaskan Yerusalem dari kekuasaan orang Yebus (2Sam. 5:6–9), namun beberapa penafsir mengusulkan bahwa Daud hanya menyingkirkan mereka dari bagian Yerusalem yang lebih kecil yang dikenal sebagai Kota Daud. Orang Yebus tidak pernah sepenuhnya dihalau dari Tanah Perjanjian. Penulis kita menyerukan kerendahan hati dengan cara serupa kepada suku-suku besar lainnya (lihat 13:13; 16:10; 17:12; 17:14–18). Kendati kehormatan besar telah dianugerahkan TUHAN kepada Yehuda, orang-orang Yehuda tidak memiliki alasan untuk menyombongkan diri atas suku-suku lainnya. Umat Allah di sepanjang zaman dapat dengan mudah terjerumus ke dalam kesombongan yang keliru akibat berkat-berkat yang mereka terima dari TUHAN. Kesombongan demikian harus diredam oleh kesadaran yang rendah hati akan kelemahan dan godaan kita (lihat 2Kor. 10:13–17; Yak. 1:9–10). Janganlah ada orang yang ”memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut dipikirkannya, melainkan hendaklah ia berpikir begitu rupa, sehingga ia menguasai diri menurut ukuran iman yang dikaruniakan Allah kepadanya” (Rm. 12:3).


    Pembagian Milik Pusaka Suku Yusuf (16:1–17:18)

    Setelah membahas milik pusaka suku Yehuda yang luas di sebelah selatan, penulis kita beralih ke pembagian tanah yang diberikan kepada suku-suku keturunan Yusuf di sebelah utara. Bagian ini terbagi ke dalam pengantar dalam 16:1–4, pembahasan mengenai suku Efraim dalam 16:5–10, dan pembahasan mengenai suku Manasye dalam 17:1–13.

    16:1–4 Pengantar Suku Yusuf. Karena tidak adanya rujukan geografis lain, kemungkinan besar pembagian ini pun berlangsung di Gilgal (lihat 14:6; 18:1). Pengantar ini secara ringkas memaparkan wilayah luas yang diberikan kepada ”bani Yusuf” (16:1). Penulis kita mengidentifikasi ”bani Yusuf” sebagai ”Efraim dan Manasye” (16:4) untuk mengingatkan para pembacanya sekali lagi (lihat 14:1–5) mengapa kedua suku ini begitu menonjol. Secara bersama-sama, suku-suku Yusuf dianugerahi wilayah kekuasaan yang luasnya menempati urutan kedua setelah Yehuda. Oleh karena itu, penulis kita mengakui keunggulan mereka dengan membahas pembagian tanah mereka pada urutan berikutnya.

    16:5–10 Suku Efraim. Sekalipun Manasye adalah anak sulung Yusuf, melalui penyelenggaraan ilahi (divine providence) yang khusus, Yakub meninggikan Efraim di atas Manasye (lihat Kej. 48:13–20). Penulis kita mencatat sebanyak dua kali bahwa tanah ini dibagikan di antara orang-orang Efraim ”menurut kaum-kaum mereka” (16:5, 8; lihat tafsiran atas 13:15–32). Ia juga memaparkan batas-batas luas wilayah Efraim yang mencakup bagian yang relatif besar di Kanaan Barat (16:5–8). Sebanyak tiga kali ia menyebut tanah-tanah ini sebagai ”milik pusaka” (16:5, 8, 9) guna menegaskan bahwa tidak ada kaum di dalam suku Efraim yang boleh kehilangan pembagian milik pusaka abadinya di luar ketetapan TUHAN. Selain itu, penulis kita memberikan pertimbangan atas pembagian-pembagian yang tidak biasa, yang pastilah menjadi bahan perdebatan seiring berjalannya waktu. Beberapa ”kota... di tengah-tengah milik pusaka bani Manasye” adalah kepunyaan suku Efraim (16:9). Namun, catatan ini ditutup dengan seruan kerendahan hati bagi Efraim, sama seperti Yehuda (lihat 15:63). Suku terkemuka ini ”tidak menghalau orang Kanaan yang diam di Gezer” (16:10), sehingga mereka pun tidak memiliki alasan untuk menyombongkan diri atas suku-suku lainnya (lihat tafsiran atas 15:63).

    Catatan Arkeologis: Patung kecil dewa pencipta Kanaan, El, ditemukan di Megido dan berasal dari sekitar tahun 1400–1200 SM.

    17:1–13 Suku Manasye. Materi mengenai suku Manasye terus berfokus pada pembagian tanah ”menurut kaum-kaum mereka” (17:2 [2x]; lihat tafsiran atas 13:15–32). Bagian ini dibuka dengan ungkapan ”dan terjadilah undian itu” (secara harfiah 17:1; lihat tafsiran atas 14:1–5) untuk mengingatkan pembaca bahwa Allah sendirilah yang memimpin pembagian ini. Pada titik ini, penulis kita juga menyebutkan enam keturunan terkemuka Manasye dan mencatat bahwa mereka adalah ”anak-anak lelaki Manasye” (17:2) sebagai pengantar menuju narasi berikutnya.

    17:3–6 Anak-Anak Perempuan Zelafehad di Manasye. Narasi ini merupakan yang ketiga dari enam narasi khusus (lihat tafsiran atas 14:7–15) dan yang kedua yang mengarahkan perhatian pada kaum perempuan (lihat 15:13–19). ”Zelafehad” mempunyai lima anak perempuan dan ”tidak mempunyai anak laki-laki” (17:3), dan ia telah meninggal di padang gurun (lihat Bil. 27:1–11). Maka dari itu, anak-anak perempuan Zelafehad mendekati ”imam Eleazar, dan Yosua... serta para pemimpin” (17:4) untuk memperoleh jawaban otoritatif atas suatu masalah krusial: Bagaimana milik pusaka kaum Zelafehad dilindungi bagi generasi-generasi mendatang? Anak-anak perempuan tersebut menegaskan bahwa tatkala ayah mereka meninggal, ”TUHAN telah memerintahkan kepada Musa” agar mereka menerima ”milik pusaka,” yakni kepemilikan abadi (17:4), bersama-sama dengan ”saudara-saudara [ayah] mereka” (atau paman/sepupu mereka). Setiap generasi Israel harus belajar dari narasi ini bahwa anak-anak perempuan adalah ahli waris yang sah atas milik pusaka abadi kaum keluarga mereka. Dengan demikian, gereja Kristus menegakkan keyakinan bahwa laki-laki dan perempuan yang mengikut Kristus adalah ”keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah” (Gal. 3:28–29).

    17:7–13 Wilayah-Wilayah Manasye. Catatan mengenai Manasye ditutup dengan pemaparan mengenai wilayah, perbatasan, kota-kota, dan desa-desa milik Manasye. Mengingat letaknya yang berdekatan dengan Efraim, kepemilikan atas sejumlah ”kota” perlu diperjelas bagi generasi-generasi masa depan (17:9; lihat 16:9). Seruan bagi kerendahan hati menyusul kemudian. ”Bani Manasye tidak dapat menduduki” kota-kota tertentu karena ”orang Kanaan berhasil untuk tetap diam di negeri itu” (17:12). Mereka tidak memiliki alasan untuk menyombongkan diri (bdk. 15:63).

    17:14–18 Kesimpulan bagi Keturunan Yusuf. Penulis kita menutup bagian ini dengan sebuah narasi singkat mengenai suku Efraim dan Manasye secara bersama-sama sebagai ”bani Yusuf” (17:14; lihat 16:1–4). Narasi ini merupakan yang keempat dari enam narasi khusus tersebut dan memberikan gambaran yang cukup kelam atas kedua suku keturunan Yusuf. Mereka bersungut-sungut kepada Yosua bahwa undian perlu dibuang kembali karena jumlah penduduk mereka yang sangat besar (lihat 17:14). Yosua menawarkan agar mereka memperluas wilayah mereka dengan membuka hutan, namun mereka takut kepada orang-orang Kanaan di sana karena mereka memiliki ”kereta-kereta besi” (17:16; lihat Hak. 1:19; 4:3). Yosua menyetujui pembuangan undi kedua (lihat 17:17) dan meyakinkan mereka bahwa ”pegunungan itu akan menjadi milikmu... sampai kepada ujung-ujungnya,” terlepas dari kekuatan orang-orang Kanaan di daerah tersebut (17:18).

    Catatan Historis: Salah satu kereta perang Raja Tutankhamun sebagaimana dipamerkan di Museum Luxor.

    Melalui narasi ini, penulis kita mendesak perlunya keturunan Yusuf untuk memiliki kerendahan hati yang bahkan jauh lebih dalam daripada suku Yehuda. Perhatian khusus terhadap kegagalan ini sangatlah tepat, sebab pada masa kerajaan yang terpecah, suku-suku ini memimpin pemberontakan melawan keluarga kerajaan Yehuda dan melawan TUHAN dengan mendirikan raja mereka sendiri serta pusat-pusat penyembahan berhala yang menentang Bait Suci di Yerusalem (lihat 1Raj. 12:1–14:20). Kendati demikian, penulis kita tetap menghormati Efraim dan Manasye sebagai suku-suku terkemuka di wilayah utara. Sikap ini muncul dalam berbagai peristiwa di sepanjang sejarah Israel. Hizkia menyerukan kaum beriman dari suku-suku ini untuk bergabung bersamanya merayakan Paskah di Yerusalem (lihat 2Taw. 30), dan mereka disambut hangat oleh komunitas pasca-pembuangan tatkala mereka mendukung pekerjaan Allah di Yerusalem (lihat 1Taw. 9:3).

    Penulis Kitab Yosua memperlakukan suku Efraim dan Manasye dengan hikmat yang luar biasa. Ia tidak menyangkal berkat-berkat yang dilimpahkan kepada suku-suku ini di masa lampau, namun ia pun tidak mengabaikan pemberontakan mereka terhadap TUHAN. Para pengikut Kristus harus bersikap serupa. Di sepanjang sejarah, bagian-bagian dari gereja yang dahulunya setia dan sangat dihormati telah berpaling dari Kristus. Berkat-berkat mereka di masa lalu tidak boleh dilupakan, namun kemurtadan mereka tidak boleh diabaikan. Para pengikut Kristus yang setia diperintahkan untuk menyerukan pertobatan serta menawarkan pengampunan dan pemulihan (lihat Why. 2:1–3:22).


    Pembagian Wilayah di Silo (18:1–19:50)

    Setelah mencurahkan perhatiannya kepada suku-suku yang lebih terkemuka di Kanaan Barat, penulis kita beralih kepada suku-suku yang menerima pembagian wilayah yang jauh lebih kecil di Silo dalam 18:1–19:50. Ia membuka materi ini dengan merangkum proses yang dijalankan dalam 18:1–10 dan menutupnya dengan penegasan singkat mengenai signifikansinya dalam 19:51. Bagian utama dari pasal-pasal ini melaporkan tanah-tanah yang diberikan kepada masing-masing suku tersebut dalam 18:11–19:50.

    18:1–10 Pengantar Pembagian di Silo. Penulis kita mengawali dengan narasi kelima dari enam narasinya untuk menegaskan bahwa TUHAN maupun segenap bangsa Israel mengesahkan pembagian tanah ini. Di satu pihak, ”berkumpullah segenap umat Israel” (18:1). Kata ”umat” (congregation) sering kali merujuk pada perhimpunan kudus Israel di hadapan hadirat Allah (lihat 22:16–17; Kel. 12:3, 6; Bil. 14:5; 27:17; 31:16). Peristiwa ini terjadi di ”Silo” di hadirat Allah di dekat ”Kemah Pertemuan” (18:1). Di pihak lain, perhimpunan tersebut mencakup ”segenap umat orang Israel” (18:1). Pembagian tanah ini tidak dilakukan secara tersembunyi, melainkan atas persetujuan seluruh umat (lihat tafsiran atas 1:10–18).

    Sadar akan betapa pentingnya bagi seluruh kedua belas suku untuk menerima bagian milik pusaka, penulis kita mencatat bahwa pada waktu itu masih ada tujuh suku ”yang belum mendapat bagian milik pusaka” (18:2). TUHAN memimpin pembagian ini melalui cara yang membangkitkan keyakinan di tengah umat. Yosua meminta tiga orang wakil dari masing-masing ketujuh suku ini untuk menjelajahi tanah yang tersisa, membaginya ke dalam tujuh bagian, dan membawa laporan tertulis kepadanya (lihat 18:4–9). Namun pada akhirnya, Yosua ”membuang undi bagi mereka di Silo di hadapan TUHAN” (18:10) untuk membagikan tanah tersebut sesuai dengan kehendak TUHAN yang berdaulat. Berdasarkan tindakan-tindakan ini, generasi-generasi Israel di masa depan wajib mengakui dan memelihara pembagian tanah suku-suku tersebut.

    18:11–28 Suku Benyamin. Undian yang pertama dari tujuh undian itu jatuh kepada suku Benyamin, dan tanah itu dibagikan ”menurut kaum-kaum mereka” (18:11). Sebagaimana dalam daftar lainnya, setiap catatan mengenai ketujuh suku ini dibuka dan ditutup dengan rujukan kepada kaum-kaum mereka (lihat 18:11, 28; 19:1, 8, 10, 16, 17, 23, 24, 31, 32, 39, 40, 48). Pembagian wilayah yang lebih kecil ini harus dihormati di setiap generasi. Tidak dapat dimungkiri, hal ini cukup sulit dilakukan bagi suku Benyamin. Suku Benyamin hampir musnah akibat kejahatannya pada zaman Hakim-Hakim (lihat Hak. 19:16–30). Saul berasal dari suku Benyamin, dan di kemudian hari, orang-orang Benyamin terpecah kesetiaannya di antara kerajaan utara dan kerajaan selatan. Kendati demikian, Benyamin memainkan peran khusus di antara kaum sisa Israel yang kembali dari pembuangan (lihat 1Taw. 9:3). Karena alasan-alasan ini dan alasan lainnya, penulis kita mencurahkan waktu lebih banyak untuk membahas Benyamin daripada suku mana pun di antara ketujuh suku tersebut. Ia melaporkan batas-batas milik pusaka suku Benyamin ”sekelilingnya menurut perbatasannya” (18:20) dan mencatat berkat berupa ”dua belas kota dengan desa-desanya” (18:24; lihat tafsiran atas 15:20–62).

    19:1–9 Suku Simeon. Penulis kita mencatat bahwa tanah bagi suku Simeon pun dibagikan ”menurut kaum-kaum mereka” (19:1, 8; lihat tafsiran atas 13:15–32) dan bahwa suku tersebut menerima berkat lebih dari ”empat kota dengan desa-desanya” (19:7–8; lihat tafsiran atas 15:20–62). Namun, ia menekankan bahwa milik pusaka Simeon berada ”di tengah-tengah milik pusaka bani Yehuda” (19:1, 9). Yakub telah menubuatkan bahwa Allah akan ”membagi-bagi” dan ”mencerai-beraikan” Simeon bersama-sama dengan Lewi akibat kekerasan mereka yang melampaui batas saat membalas pencemaran adik perempuan mereka (lihat Kej. 34:1–31; 49:7). Keterkaitan erat antara Simeon dan Yehuda telah dimulai sejak pasal-pasal awal Kitab Hakim-Hakim, di mana Simeon bergabung dengan Yehuda memimpin Israel maju berperang (Hak. 1:3).

    19:10–39 Suku Zebulon, Isakhar, Asyer, dan Naftali. Penulis kita memaparkan wilayah suku-suku ini guna menegaskan kembali hak mereka atas milik pusaka ini ”menurut kaum-kaum mereka” (19:10, 16, 17, 23, 24, 31, 32, 39). Ia juga menyoroti berkat istimewa mereka dari Allah dengan mencatat jumlah ”kota dengan desa-desanya” yang diterima masing-masing suku: ”dua belas kota” bagi Zebulon (19:15–16), ”enam belas kota” bagi Isakhar (19:22, 23), ”dua puluh dua kota” bagi Asyer (19:30, 31), dan ”sembilan belas kota” bagi Naftali (19:38–39).

    19:40–48 Suku Dan. Catatan mengenai suku Dan hampir tidak menyebutkan ”kota-kota dengan desa-desanya” di bagian akhir (19:48). Sebaliknya, catatan ini berfokus pada serangkaian peristiwa tragis yang menimpa suku Dan. Pembagian tanah awal bagi suku Dan berada di wilayah selatan dekat Yehuda, namun suku Dan tidak sanggup menduduki wilayah yang semula diundikan bagi mereka (lihat Hak. 1:34; 18:27–31). Akibatnya, orang-orang Dan meninggalkan tanah pusaka tersebut lalu ”maju berperang melawan Lesem... mendudukinya, dan menamainya Dan” (19:47). Kota itu juga disebut ”Lais” (Hak. 18:27, 29). Penulis kita memusatkan perhatian pada peristiwa ini karena lokasi tersebut menjadi sangat tercela pada masa kerajaan yang terpecah. Yerobeam I mendirikan patung anak lembu emas penyembahan berhala di sana sebagai alternatif ibadah bagi Bait Suci di Yerusalem (lihat 1Raj. 12:28–29). Kemungkinan besar, penulis kita melaporkan migrasi suku Dan ini untuk menyerukan kepada segenap suku agar mendesak suku Dan berbalik kepada TUHAN dan kembali ke milik pusaka mereka yang semula.

    19:49–50 Milik Pusaka Yosua. Catatan mengenai milik pusaka Yosua merupakan narasi terakhir dari enam narasi yang berfokus pada pembagian tanah khusus. Yosua adalah seorang dari suku Efraim (lihat Bil. 13:8), namun penulis kita menempatkan catatan ini di sini demi alasan kronologis. Bagian ini juga berkorelasi erat dengan narasi milik pusaka Kaleb pada awal pembagian wilayah Kanaan Barat (lihat 14:7–15). Bersama dengan Kaleb, Yosua adalah pengintai yang setia dalam pelayanan Musa (lihat Bil. 13–14). Ia dianugerahi kehormatan berupa kota ”Timnat-Serah di pegunungan Efraim” (19:50). Pemberian ini tidak dapat diganggu gugat karena dianugerahkan ”sesuai dengan titah TUHAN” (19:50). Perhatian khusus terhadap Yosua ini sangat penting bagi para pengikut Kristus, yang nama-Nya adalah ”Yosua” (Yeshua) dalam bahasa Ibrani dan Aram (lihat tafsiran atas 1:1–2).

    19:51 Penutup Pembagian di Silo. Sebagai keseimbangan bagi pengantar peristiwa-peristiwa di Silo (lihat 18:1–10), penulis kita menutup dengan penegasan yang kuat mengenai signifikansi abadi dari milik pusaka suku-suku ini. Milik pusaka tersebut ditetapkan oleh para otoritas yang telah ditetapkan Allah, yaitu ”imam Eleazar, dan Yosua bin Nun, dan para kepala kaum keluarga” (19:51). Pembagian itu juga dilakukan ”dengan mengundi di Silo di hadapan TUHAN” (19:51).

    Generasi-generasi Israel di kemudian hari menghadapi banyak rintangan dalam memelihara dan menegakkan kembali pembagian tanah yang diberikan kepada suku-suku yang lebih kecil di Kanaan Barat, namun penulis kita menegaskan bahwa hal itu merupakan kewajiban kudus mereka. Kendati suku-suku ini tidak memiliki keunggulan sebesar Yehuda, Efraim, dan Manasye, mereka tetap diperhitungkan di antara umat Israel. Di dalam gereja Kristen, kita pun wajib berhati-hati untuk menghormati mereka yang tidak memiliki kedudukan menonjol. Setiap perwujudan dari buah sulung Roh Kudus sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan tubuh Kristus (lihat 1Kor. 12:1–26), sehingga ”jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita” (1Kor. 12:26). Kita pun dipanggil untuk menguatkan yang lemah dan mengusahakan perdamaian di dalam gereja demi memastikan bahwa ”jangan ada akar yang pahit yang tumbuh dan menimbulkan kerusuhan” (lihat Ibr. 12:12–15).


    Kota-Kota Tambahan di Silo (20:1–21:42)

    Tugas Yosua belum selesai. Diduga kuat masih berlangsung di Silo (lihat 21:2), ia menetapkan kota-kota yang diserahkan kepada suku Lewi. Dalam empat kesempatan sebelumnya, penulis kita telah menyebutkan bahwa suku Lewi tidak memiliki tanah milik pusaka seperti suku-suku lainnya (lihat tafsiran atas 21:1–2); namun demikian, suku Lewi diberikan kota-kota yang tersebar di antara suku-suku lainnya untuk menyediakan pelayanan yang teramat vital bagi seluruh bangsa. Pasal-pasal ini terlebih dahulu mengarahkan perhatian kepada kota-kota perlindungan orang Lewi (20:1–9) dan kemudian kepada kota-kota lain yang ditetapkan bagi suku Lewi (21:1–42).

    Kota-Kota Perlindungan (20:1–9)

    Penulis kita tidak menyebutkan suku Lewi dalam pasal ini. Tampaknya, ia menganggap para pembacanya telah memahami bahwa keenam kota perlindungan ini merupakan bagian dari empat puluh delapan kota yang ditetapkan bagi kaum-kaum suku Lewi (lihat tafsiran atas 21:9–42). Setelah baru saja membahas persoalan kontroversi dan konflik di antara suku-suku, ia menempatkan materi ini di sini untuk mengilustrasikan pentingnya memelihara perdamaian di antara kaum dan suku-suku Israel. Ia berfokus pada situasi hukum spesifik yang kemungkinan besar sering terjadi di Israel: Apa yang harus dilakukan tatkala seseorang dari satu kaum atau suku tanpa sengaja menewaskan seseorang dari kaum atau suku lainnya? Penulis kita terlebih dahulu merangkum petunjuk-petunjuk yang diterima Yosua dari TUHAN (20:1–6), lalu menjelaskan bagaimana bangsa Israel menaati petunjuk-petunjuk tersebut (20:7–9).

    20:1–6 Petunjuk Mengenai Kota-Kota Perlindungan. TUHAN berfirman kepada Yosua, ”Katakanlah kepada orang Israel” (20:2)[^4]. Maka dari itu, alih-alih hanya berbicara kepada para pemimpin, Yosua menyampaikan ketetapan ini langsung kepada segenap umat. Petunjuk-petunjuk ini menuntut tindakan-tindakan kompleks di berbagai lokasi yang jauh dari Yosua dan para pemimpin lainnya di Silo. Umat diperintahkan untuk ”menentukan kota-kota perlindungan,” yakni kota-kota yang tersebar di antara suku-suku di kedua sisi Sungai Yordan. Allah sendiri telah memerintahkan hal ini ”dengan perantaraan Musa” (20:2). Musa telah menetapkan enam kota bagi suku Lewi demi melindungi orang yang membunuh seseorang tanpa sengaja atau tanpa niat (lihat Kel. 21:12–14; Bil. 35:6–29; Ul. 19:1–10). Musa sendiri telah menetapkan tiga kota di wilayah Transyordan (lihat Ul. 4:41–43). Pada waktu ini, TUHAN memanggil Yosua untuk memastikan bahwa tiga kota lainnya didirikan di wilayah Kanaan Barat (Kisjordan).

    TUHAN memberikan rangkuman singkat kepada Yosua mengenai apa yang harus berlaku di kota-kota ini. Siapa pun yang membunuh seseorang tanpa sengaja dapat melarikan diri ke salah satu kota ini guna meloloskan diri dari ”penuntut tebusan darah” (the avenger of blood, 20:3), yaitu kerabat dekat dari orang yang terbunuh yang hendak menuntut balas. Dokumen-dokumen Asyur kuno mengonfirmasi bahwa penuntutan balas darah merupakan praktik yang sangat luas pada zaman Yosua, sebagaimana yang masih terjadi di beberapa kebudayaan bahkan hingga hari ini. Dalam kebudayaan-kebudayaan di luar Israel, kerabat dekat memiliki hak untuk menuntut pembayaran ganti rugi atau bahkan menuntut kematian siapa pun yang membunuh anggota kaum atau sukunya, sekalipun peristiwa itu terjadi karena ketidaksengajaan murni. Di Israel hal ini tidak boleh dibiarkan. Pembunuh yang tidak sengaja itu harus melarikan diri ke kota perlindungan dan menjelaskan perkaranya kepada para tua-tua kota. Para tua-tua harus memberikan perlindungan kepadanya hingga ia dinyatakan tidak bersalah dan melewati masa penantian hingga imam besar yang sedang menjabat meninggal dunia. Dengan demikian, pembunuhan demi balas dendam dihapuskan dari tengah-tengah Israel ”turun-temurun di segala tempat kediamanmu” (Bil. 35:29).

    20:7–9 Penetapan Kota-Kota Perlindungan. Pada waktunya, orang Israel melaksanakan tepat seperti yang diperintahkan TUHAN. Dari utara ke selatan di Kanaan Barat, umat mengkhususkan ”Kedesh... Sikhem... dan Kiryat-Arba (yaitu Hebron)” (20:7). Dari selatan ke utara, mereka pun menetapkan ”Bezer... Ramot... dan Golan” di wilayah Transyordan sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Musa (20:8). Kota-kota ini ditempatkan secara strategis di seluruh negeri untuk menjalankan fungsi pelayanannya yang teramat penting bagi Israel.

    Kota-kota perlindungan menyingkapkan salah satu pelayanan vital yang disediakan oleh orang-orang Lewi bagi seluruh suku lainnya. Di bawah pengawasan mereka yang saksama, TUHAN melindungi orang yang tidak bersalah serta meredam amarah dan dendam berdarah di Israel. Kota-kota ini di Israel menjadi latar belakang penting bagi petunjuk Perjanjian Baru untuk ”hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang [dan] janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan” (Rm. 12:18–19; lihat 2Kor. 13:11; 1Ptr. 3:9). Perlindungan terhadap orang yang tidak bersalah serta pengekangan amarah dan dendam tetap menjadi pelayanan esensial yang harus disediakan oleh para pemimpin gereja di setiap zaman.

    Kota-Kota Orang Lewi (21:1–42)

    Setelah memperkenalkan pelayanan vital yang diselenggarakan oleh suku Lewi di keenam kota perlindungan, penulis kita memperluas cakrawala pembahasannya kepada seluruh kota orang Lewi. Catatannya terbagi menjadi dua bagian: penetapan kota-kota ini dalam 21:1–3 dan daftar kota-kota orang Lewi tersebut dalam 21:4–42.

    21:1–3 Penetapan Kota-Kota Orang Lewi. Dalam pasal-pasal sebelumnya, penulis kita telah menunjukkan sebanyak empat kali bahwa suku Lewi tidak menerima tanah milik pusaka seperti suku-suku lainnya (lihat 13:14, 33; 14:3; 18:7). Milik pusaka abadi mereka mencakup pelayanan khusus dalam ibadah di Kemah Suci dan kelak di Bait Suci. Namun pada tataran yang lebih praktis, milik pusaka mereka mencakup pula persembahan persepuluhan yang mereka terima dari suku-suku lain tatkala mereka menjalankan tugas pelayanan dalam ibadah terpusat Israel (lihat Bil. 18:1–32).

    Dalam pasal ini, penulis kita mengarahkan perhatian pada bentuk pelayanan lain yang disediakan oleh orang-orang Lewi. Mereka memikul tanggung jawab untuk mengajarkan dan menerapkan Hukum Taurat Musa ke dalam kehidupan sehari-hari di antara segenap suku Israel (lihat Im. 10:11; Ul. 33:10; 2Taw. 15:3; 17:7–9; 35:3; Ezr. 7:10; Neh. 8:7–9; Yeh. 44:23–24; Mal. 2:6–9). Tugas pelayanan ini menuntut orang-orang Lewi untuk tersebar di seluruh penjuru negeri agar mereka memiliki akses yang mudah kepada seluruh suku. Di Dataran Moab, Musa telah memberikan instruksi spesifik agar suku Lewi dianugerahi kota-kota ini di seluruh Kanaan Barat dan Transyordan (lihat 20:1; Bil. 35:1–8). Karena alasan inilah, ”para kepala kaum keluarga orang Lewi” (21:1) mendekati para pemimpin Israel yang berwenang secara ilahi, yakni ”imam Eleazar, dan Yosua... serta para kepala kaum keluarga dari suku-suku” (21:1). Mereka meminta ”kota-kota untuk didiami dan tanah-tanah penggembalaannya untuk ternak kami” (21:2). Orang-orang Lewi bukan hanya membutuhkan tempat tinggal di antara suku-suku, melainkan mereka juga memerlukan ”tanah-tanah penggembalaan.” Tanah penggembalaan sedemikian pentingnya sehingga penulis kita menyebutnya sebanyak lima puluh delapan kali di dalam pasal ini. Faktanya, Musa telah memberikan petunjuk khusus mengenai ukuran luasnya (lihat Bil. 35:1–8). Begitu suku-suku lain telah menerima pembagian tanah mereka, demi kesetiaan mereka kepada TUHAN, orang-orang Lewi harus diberikan kota-kota ini.

    Penetapan kota-kota orang Lewi memiliki signifikansi yang terus berlanjut karena Pinehas bin Eleazar telah menunjukkan kecemburuan ilahi yang tiada tara demi kekudusan Kemah Suci di Peor (lihat Bil. 25:1–9). Sebagai buah dari kegigihannya, TUHAN menganugerahkan kepadanya suatu ”perjanjian damai” (Bil. 25:12–13). Ini bukanlah ketetapan sementara; melainkan TUHAN memberikannya ”perjanjian mengenai keimaman selama-lamanya bagi dia dan bagi keturunannya” (Bil. 25:13). Setiap generasi Israel harus mengakui keimaman ini dan sistem pelayanan orang Lewi yang menyertainya. Mereka memimpin ibadah Israel dan memastikan bahwa umat Israel mempelajari Hukum Allah. Tidak ada hal yang lebih krusial bagi kehidupan bangsa itu.

    Perjanjian Baru pun mengakui kebutuhan mutlak ini. Namun demikian, Perjanjian Baru memandangnya di dalam terang Kristus dan keimaman rajani-Nya yang tertinggi sebagai Putra Daud yang benar (lihat Ibr. 7:1–28). Setelah pengorbanan diri Kristus yang paripurna dan tuntas di atas kayu salib, ritual-ritual pengorbanan yang terkait dengan suku Lewi—yang hanya menawarkan pendamaian sementara bagi dosa—kini telah usang dan digenapi. Namun di luar itu, mereka yang memimpin dalam ibadah dan mengajarkan Firman Allah tetap sangat vital bagi gereja. Rasul Paulus mengakui prinsip ini tatkala ia mengidentifikasi mereka yang ”hidup dari pemberitaan Injil” sebagai kelanjutan fungsional dari prinsip pelayanan suku Lewi (lihat 1Kor. 9:13–14). Tatkala mereka memimpin ibadah dan mengajarkan Firman Allah kepada segenap gereja Kristen, mereka layak menerima dukungan yang murah hati dari berkat-berkat yang telah diterima oleh jemaat lain dari Allah.

    21:3–42 Pembagian Kota-Kota Orang Lewi. Pembagian kota-kota orang Lewi diawali dengan tinjauan umum mengenai kaum-kaum Lewi dan dukungan yang mereka terima dari suku-suku lain dalam 21:3–8. Kemudian, bagian ini beralih ke daftar kota yang lebih terperinci dalam 21:9–42.

    21:3–8. Kota-kota orang Lewi bukanlah tanah milik pusaka suku Lewi secara teritorial tersendiri. ”Kota-kota dan tanah-tanah penggembalaannya” merupakan bagian dari ”milik pusaka” suku-suku lainnya (21:3). Di antara rangkuman pembuka dan penutup dalam 21:3, 8, catatan ini terbagi menurut ketiga anak Lewi (lihat Kej. 46:11): Kehat dalam 21:4–5, Gerson dalam 21:6, dan Merari dalam 21:7. Sama seperti catatan suku-suku lainnya (lihat 13:15–32), daftar kota-kota Lewi ini menyebutkan kaum-kaum suku Lewi (lihat 21:4, 5, 6, 7, 10, 20, 26, 27, 33, 34, 40 [2x]). Keluarga-keluarga Lewi ini menerima kota-kota beserta tanah penggembalaannya dari berbagai suku di Kanaan Barat dan Transyordan (lihat 21:4–7). Guna meyakinkan para pembacanya bahwa ketetapan-ketetapan ini berlangsung menurut kehendak Allah, penulis kita mencatat bahwa keputusan-keputusan tersebut diambil melalui ”undian” (21:4 [2x], 5, 6, 8). Hal yang sama berlaku bagi mereka yang meneruskan pelayanan firman di dalam gereja hari ini; mereka melayani sesuai dengan penetapan Allah tanpa adanya favoritisme manusiawi atau mencari keuntungan pribadi.

    21:9–42. Kota-kota spesifik disebutkan namanya bagi keturunan Kehat yang berasal dari garis keturunan imam besar Harun dalam 21:9–19 dan bagi keturunan Kehat lainnya dalam 21:20–26. Kota-kota lainnya diidentifikasi bagi keturunan Gerson dalam 21:27–32 dan bagi keturunan Merari dalam 21:33–40. Penulis kita secara eksplisit mengaitkan materi ini dengan pasal 20 dengan mencatat bahwa sebuah ”kota perlindungan bagi orang yang membunuh” dikaitkan dengan masing-masing dari ketiga keluarga besar suku Lewi tersebut (21:13, 21, 27, 32, 38). Ia juga merujuk kembali pada catatannya terdahulu mengenai status khusus Hebron sebagai milik pusaka abadi Kaleb (21:12; lihat tafsiran atas 14:7–15). Rangkaian materi ini diakhiri dengan laporan penuh sukacita dari sang penulis bahwa sebanyak ”empat puluh delapan kota dengan tanah-tanah penggembalaannya” (21:41) telah berhasil ditetapkan. Kebutuhan suku Lewi dipenuhi secara berkelimpahan dan seutuhnya (lihat 21:42) agar suku Lewi dapat melayani segenap suku lainnya dalam ibadah dan dalam pengajaran Hukum Allah.

    Penggenapan Janji Tanah Milik Pusaka (21:43–45)

    "⁴³Jadi seluruh negeri itu diberikan TUHAN kepada orang Israel, yakni negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka. Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana.

    ⁴⁴Dan TUHAN mengaruniakan kepada mereka keamanan ke segala penjuru, tepat seperti yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka. Tidak ada seorangpun dari semua musuhnya yang tahan berdiri menghadapi mereka; semua musuhnya diserahkan TUHAN kepada mereka.

    ⁴⁵Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi."
    — Yosua 21:43–45 (TB)

    Sebagai keseimbangan dengan bagian pembuka yang mengarahkan perhatian pada negeri-negeri yang masih belum dikuasai oleh Israel dalam 13:1–7, penulis kita dengan penuh antusias menutup catatannya dalam 21:43–45 dengan pertambahan wilayah negeri yang diterima oleh bangsa Israel. Keberhasilan Israel dalam memperoleh wilayah tanah yang semakin luas merupakan penggenapan dari apa yang ”dijanjikan [TUHAN] dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka” (21:43)[^5]. Dengan doksologi yang penuh sukacita, penulis kita menegaskan bahwa ”tidak ada yang tidak dipenuhi” dari segala firman yang baik yang telah dijanjikan (21:45).

    Banyak terjemahan menimbulkan kesan keliru seolah-olah seluruh penduduk asing lainnya telah dihalau keluar dari Tanah Perjanjian pada saat itu: ”seluruh negeri itu diberikan TUHAN kepada orang Israel ... Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana ... keamanan ke segala penjuru ... Tidak ada seorangpun dari semua musuhnya yang tahan berdiri menghadapi mereka ... semuanya terpenuhi” (21:43–45). Namun demikian, penulis kita telah mencatat sebelumnya bahwa penduduk-penduduk lain masih tetap tinggal di negeri itu (lihat 15:63; 16:10; 17:12). Di kemudian hari, ia akan melaporkan bahwa Yosua membangkitkan pengharapan bahwa TUHAN ”akan mengusir dan menghalau mereka dari depanmu” (23:5) di masa depan. Pasal-pasal pembuka Kitab Hakim-Hakim menegaskan bahwa persoalan ini masih tetap berlanjut setelah kematian Yosua. Namun, penting untuk dicatat bahwa teks Ibrani di sini dapat diterjemahkan sebagai tindakan progresif di masa lampau (progressive action in the past): ”TUHAN sedang memberikan kepada orang Israel seluruh negeri itu ... mereka sedang mendudukinya ... mereka sedang menetap di sana ... tidak ada seorang pun dari semua musuhnya yang sanggup bertahan menghadapi mereka ... semuanya sedang digenapi.” Sudah pasti bangsa Israel terus memperluas pendudukan mereka atas tanah Kanaan, namun masih banyak hal yang harus diselesaikan.

    B. Pemeliharaan Tanah Pusaka Suku-Suku (22:1–34)

    "¹Lalu Yosua memanggil orang Ruben, orang Gad dan suku Manasye yang setengah itu,

    ²dan berkata kepada mereka: 'Kamu telah memelihara segala yang diperintahkan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, dan telah mendengarkan perkataanku dalam segala yang kuperintahkan kepadamu.

    ³Kamu tidak meninggalkan saudara-saudaramu selama waktu ini, sampai sekarang, tetapi kamu setia memelihara perintah TUHAN, Allahmu, kepadamu.

    ⁴Tetapi sekarang TUHAN, Allahmu, telah mengaruniakan keamanan kepada saudara-saudaramu, seperti yang dijanjikan-Nya kepada mereka. Oleh sebab itu, pulanglah ke kemahmu, ke tanah milikmu, yang telah diberikan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, di seberang Yordan.

    ⁵Hanya, lakukanlah dengan sangat setia perintah dan hukum, yang diperintahkan kepadamu oleh Musa, hamba TUHAN itu, yakni mengasihi TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti perintah-Nya, berpaut pada-Nya dan berbakti kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.'

    ⁶Lalu Yosua memberkati mereka dan melepas mereka pergi. Maka pulanglah mereka ke kemah mereka.

    ⁷Kepada suku Manasye yang setengah telah diberikan Musa bagian mereka di Basan; kepada suku yang setengah lagi telah diberikan Yosua bagian mereka di antara saudara-saudara mereka di sebelah barat sungai Yordan. Lagipun ketika Yosua melepas mereka pergi ke kemah mereka, setelah memberkati mereka,

    ⁸maka ia berkata kepada mereka, demikian: 'Pulanglah ke kemahmu dengan kekayaan yang banyak dan dengan sangat banyak ternak, dengan perak, emas, tembaga, besi dan dengan pakaian yang sangat banyak. Bagilah dengan saudara-saudaramu jarahan yang dari musuhmu itu.'

    ⁹Maka pulanglah bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu dan mereka pergi meninggalkan orang Israel, keluar dari Silo di tanah Kanaan untuk pergi ke tanah Gilead, tanah milik mereka yang didiami mereka sesuai dengan titah TUHAN dengan perantaraan Musa.

    ¹⁰Ketika mereka sampai ke Gelilot pada sungai Yordan, yang di tanah Kanaan, maka bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu mendirikan mezbah di sana di tepi sungai Yordan, mezbah yang besar bangunannya.

    ¹¹Lalu terdengarlah oleh orang Israel itu cakap orang: 'Telah didirikan mezbah oleh bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu, mezbah menghadap ke tanah Kanaan, di Gelilot pada sungai Yordan, di sebelah wilayah orang Israel.'

    ¹²Ketika hal itu terdengar oleh orang Israel, berkumpullah segenap umat Israel di Silo, untuk maju memerangi mereka.

    ¹³Kemudian orang Israel mengutus kepada bani Ruben, kepada bani Gad dan kepada suku Manasye yang setengah itu, ke tanah Gilead, imam Pinehas bin Eleazar,

    ¹⁴dan bersama-sama dengan dia sepuluh pemimpin, yakni seorang pemimpin kaum keluarga sebagai wakil tiap-tiap suku Israel. Masing-masing mereka itu kepala kaum keluarganya di antara kaum-kaum orang Israel.

    ¹⁵Setelah mereka sampai kepada bani Ruben, kepada bani Gad dan kepada suku Manasye yang setengah itu di tanah Gilead, berkatalah mereka kepada orang-orang itu, demikian:

    ¹⁶'Beginilah kata segenap umat TUHAN: Apa macam perbuatanmu yang tidak setia ini terhadap Allah Israel, dengan sekarang berbalik dari pada TUHAN dan mendirikan mezbah bagimu, dengan demikian memberontak terhadap TUHAN pada hari ini?

    ¹⁷Belum cukupkah bagi kita noda yang di Peor itu, yang dari padanya kita belum mentahirkan diri sampai hari ini dan yang menyebabkan umat TUHAN kena tulah,

    ¹⁸sehingga kamu berbalik pula sekarang ini membelakangi TUHAN? Jika kamu hari ini memberontak terhadap TUHAN, maka besok Ia akan murka kepada segenap umat Israel.

    ¹⁹Akan tetapi, jika sekiranya tanah milikmu itu najis, marilah menyeberang ke tanah milik TUHAN, tempat kedudukan Kemah Suci TUHAN, dan menetaplah di tengah-tengah kami. Tetapi janganlah memberontak terhadap TUHAN dan janganlah memberontak terhadap kami, dengan mendirikan mezbah bagimu sendiri, selain dari mezbah TUHAN, Allah kita.

    ²⁰Ketika Akhan bin Zerah berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan, bukankah segenap umat Israel kena murka? Bukan orang itu saja yang mati karena dosanya.'

    ²¹Lalu jawab bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu, katanya kepada para kepala kaum-kaum orang Israel:

    ²²'Allah segala allah, TUHAN, Allah segala allah, TUHAN, Dialah yang mengetahui, dan patutlah orang Israel mengetahuinya juga! Jika sekiranya hal ini terjadi dengan maksud memberontak atau dengan maksud berubah setia terhadap TUHAN—biarlah jangan TUHAN selamatkan kami pada hari ini.

    ²³Jika sekiranya kami mendirikan mezbah untuk berbalik dari pada TUHAN, untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban sajian di atasnya serta korban keselamatan di atasnya, biarlah TUHAN sendiri yang menuntut balas terhadap kami.

    ²⁴Tetapi sesungguhnya, kami telah melakukannya karena cemas. Sebab pikir kami: Di kemudian hari anak-anak kamu mungkin berkata kepada anak-anak kami, demikian: Apakah sangkut pautmu dengan TUHAN, Allah Israel?

    ²⁵Bukankah TUHAN telah menentukan sungai Yordan sebagai batas antara kami dan kamu, hai orang bani Ruben dan bani Gad! Kamu tidak mempunyai bagian akan TUHAN. Demikianlah mungkin anak-anak kamu membuat anak-anak kami berhenti dari pada takut akan TUHAN.

    ²⁶Sebab itu kata kami: Biarlah kita mendirikan mezbah itu bagi kita! Bukanlah untuk korban bakaran dan bukanlah untuk korban sembelihan,

    ²⁷tetapi supaya mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu, dan antara keturunan kita kemudian, bahwa kami tetap beribadah kepada TUHAN di hadapan-Nya dengan korban bakaran, korban sembelihan dan korban keselamatan kami. Jadi tidaklah mungkin anak-anak kamu di kemudian hari berkata kepada anak-anak kami: Kamu tidak mempunyai bagian pada TUHAN.

    ²⁸Lagi kata kami: Apabila di kemudian hari demikian dikatakan mereka kepada kita dan kepada keturunan kita, maka kita akan berkata: Tengoklah bangunan tiruan mezbah TUHAN itu, yang telah dibuat oleh nenek moyang kami. Bukan untuk korban bakaran dan bukan untuk korban sembelihan, tetapi mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu.

    ²⁹Jauhlah dari pada kami untuk memberontak terhadap TUHAN, dan untuk berbalik dari pada TUHAN pada hari ini dengan mendirikan mezbah untuk korban bakaran, korban sajian atau korban sembelihan, mezbah yang bukan mezbah TUHAN, Allah kita, yang ada di depan Kemah Suci-Nya!'

    ³⁰Setelah imam Pinehas dan para pemimpin umat serta para kepala kaum-kaum orang Israel yang bersama-sama dengan dia, mendengar perkataan yang dikatakan oleh bani Ruben, bani Gad dan bani Manasye itu, maka mereka menganggap hal itu baik.

    ³¹Kemudian berkatalah imam Pinehas bin Eleazar kepada bani Ruben, bani Gad dan bani Manasye: 'Sekarang tahulah kami bahwa TUHAN ada di tengah-tengah kita, sebab tidaklah kamu berubah setia terhadap TUHAN. Dengan demikian kamu telah melepaskan orang Israel dari hukuman TUHAN.'

    ³²Sesudah itu imam Pinehas bin Eleazar serta para pemimpin itu meninggalkan bani Ruben dan bani Gad di tanah Gilead, pulang ke Kanaan kepada orang Israel, lalu disampaikanlah berita itu kepada mereka.

    ³³Hal itu dipandang baik oleh orang Israel, sehingga orang Israel memuji Allah dan tidak lagi berkata hendak maju memerangi mereka untuk memusnahkan negeri yang didiami bani Ruben dan bani Gad itu.

    ³⁴Dan bani Ruben dan bani Gad menamai mezbah itu: Saksi, karena inilah saksi antara kita, bahwa TUHAN itulah Allah."
    — Yosua 22:1–34 (TB)

    Penulis kita mengakhiri perhatiannya terhadap milik pusaka suku-suku bagi segenap kedua belas suku dengan memusatkan perhatian pada pemeliharaan dan pelestarian milik pusaka tersebut. Telah tiba saatnya bagi suku-suku di wilayah Transyordan untuk kembali ke tanah milik mereka. Namun, tatkala mereka melakukannya, perang antarsuku nyaris pecah—suatu peperangan saudara yang mengancam untuk meruntuhkan apa yang telah dicapai selama ini. Penulis kita mengangkat peristiwa ini guna menjawab suatu kebutuhan yang dialami oleh setiap generasi Israel: kebutuhan untuk memelihara milik pusaka suku-suku dari segenap bangsa Israel.

    Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari pasal ini bagi umat Allah pada masa kini. Narasi ini mendemonstrasikan perlunya kesediaan untuk menegakkan disiplin di dalam jemaat, perlunya perhatian dan penanganan yang saksama terhadap kontroversi dan perselisihan, serta komitmen teguh untuk memastikan bahwa kesatuan kita senantiasa berakar pada kesetiaan kepada Tuhan kita.

    Kisah dalam 22:1–34 ini menyajikan jalan untuk menyikapi rasa takut, prasangka, kecurigaan, dan ketidakpercayaan yang sering kali mengancam kesatuan suku-suku Israel. Pembagian tanah suku-suku Israel hanya akan dapat dipertahankan selama suku-suku tersebut tetap bersatu dalam komitmen mereka kepada TUHAN. Narasi ini terbagi menjadi lima langkah utama: pembangunan mezbah dalam 22:1–10, ancaman perang yang meningkat dalam 22:11–14, konfrontasi dan dialog dalam 22:15–31, redanya ancaman dalam 22:32–33, serta signifikansi penamaan mezbah dalam 22:34.


    Pembangunan Mezbah (22:1–10)

    Narasi ini diawali dengan petunjuk Yosua kepada suku-suku Transyordan untuk kembali ke tanah milik pusaka mereka dalam 22:1–8 dan respons suku-suku tersebut dalam 22:9–10.

    Petunjuk Yosua (22:1–8)

    Yosua[^6] berbicara kepada suku-suku Transyordan pada waktu itu (22:1), yakni pada suatu titik waktu tidak lama sesudah pembagian tanah suku-suku pada pasal-pasal sebelumnya selesai diselenggarakan di Silo (lihat 18:1; 19:51; 21:2)[^7]. Perkataan Yosua mengingatkan kembali pada bagian pembuka kitab kita tatkala ia memerintahkan suku-suku Transyordan untuk bergabung dan maju berperang bersama suku-suku lainnya hingga penaklukan Kanaan tuntas (lihat 1:10–18; 13:8–33). Pada saat inilah mereka menerima ”keamanan” (rest) atau ketenteraman mereka (22:4; lihat tafsiran atas 1:10–18). Karena fase penaklukan di bawah pimpinan Yosua telah selesai, ia memberkati mereka dan melepas mereka pulang (22:6–7)[^8].

    22:1–6. Yosua menyampaikan banyak penilaian positif tentang ”orang Ruben, orang Gad dan suku Manasye yang setengah itu” (22:1). Ia menegaskan bahwa mereka telah setia menaati segala sesuatu yang diperintahkan oleh Musa maupun oleh dirinya sendiri (lihat 22:2). Mereka ”tidak meninggalkan” saudara-saudara mereka dan tidak berlaku tidak setia terhadap suku-suku di Kanaan Barat (22:3)[^9]. Ia juga menyebut suku Manasye di kedua sisi Sungai Yordan sebagai ”saudara-saudara” (22:7, 8). Maka, karena ”keamanan” atau ketenteraman berkat kemenangan perang telah terwujud di Kanaan Barat (22:4), telah tiba waktunya bagi mereka untuk berbalik dan pulang ke kemah serta tanah milik pusaka abadi mereka di seberang Sungai Yordan (22:4).

    Meskipun demikian, Yosua memperingatkan suku-suku Transyordan untuk ”lakukanlah dengan sangat setia” (22:5; lihat 23:11). Ia memerintahkan mereka ”lakukanlah dengan sangat setia perintah dan hukum” (22:5). Yosua mengingatkan kembali apa yang telah diperintahkan oleh Musa, ”mengasihi TUHAN, Allahmu” (22:5; lihat 23:11; Ul. 6:5; 10:12; 11:1, 13, 22; Mat. 22:37). Perintah ini berkaitan erat dengan dokumen-dokumen perjanjian kerajaan dari Timur Dekat Kuno, di mana para raja menuntut rakyat taklukannya untuk ”mengasihi” mereka—yakni melayani sang raja dengan devosi batiniah, kesetiaan penuh, dan ketaatan yang bersumber dari rasa syukur atas kebaikan yang telah dilimpahkan sang raja kepada mereka (lihat Ul. 7:7–9, 13; 10:15).

    Tatkala suku-suku Transyordan melangkah pergi menjauh secara geografis dari suku-suku lainnya, mereka harus sepenuhnya berkomitmen pada kesetiaan pribadi yang tulus dan penuh syukur kepada TUHAN sendiri. Mereka harus ”berpaut,” berpegang teguh ”pada-Nya dan berbakti kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (22:5), sama seperti suami dan istri yang saling mengasihi (lihat Kej. 2:24) serta ibu dan anak yang saling mengasihi (lihat Rut 1:14) berpaut erat satu sama lain (lihat tafsiran atas 23:6–8). Dengan bekal amanat pastoral tersebut, Yosua ”memberkati mereka dan melepas mereka pergi” (22:6).

    22:7–8. Penulis kita kemudian beralih pada apa yang disampaikan Yosua kepada suku Manasye mengenai suatu hal yang tampaknya cukup sensitif dan memicu perdebatan. Seluruh suku Manasye telah berjuang bersama-sama ”di antara saudara-saudara mereka di sebelah barat sungai Yordan” (22:7). Oleh sebab itu, Yosua menetapkan bahwa sudah sepatutnya dan sah bagi setengah suku Manasye untuk pulang ”dengan kekayaan yang banyak dan dengan sangat banyak ternak, dengan perak, emas, tembaga, besi dan dengan pakaian yang sangat banyak” (22:8) yang telah mereka peroleh di Kanaan Barat. Mereka berhak membagikan ”jarahan” pertempuran itu dengan saudara-saudara mereka yang tinggal menjaga perkemahan (22:8), sebagaimana prinsip pembagian jarahan yang telah ditetapkan TUHAN di Kanaan (lihat tafsiran atas 6:17–21).

    Respons Suku-Suku Transyordan (22:9–10)

    Suku-suku tersebut memulai perjalanan pulang menuju ”tanah Gilead” di wilayah Transyordan (22:9). Namun demikian, secara mengejutkan dan membingungkan pada mulanya, suku-suku Transyordan berhenti sejenak ”di Gelilot pada sungai Yordan, yang di tanah Kanaan,” barangkali di sekitar wilayah Gilgal (22:9). Di sana mereka mendirikan sebuah ”mezbah” (22:10). Penulis kita secara sederhana menggambarkannya sebagai sebuah ”mezbah,” yaitu suatu konstruksi bangunan yang lazim digunakan untuk mempersembahkan korban-korban.

    Yang memperkeruh situasi, bangunan tersebut adalah ”mezbah yang besar bangunannya” atau mezbah yang sangat mencolok ukurannya (22:10)[^10], yang secara visual tampak seolah-olah dimaksudkan untuk menyaingi atau meremehkan mezbah di Kemah Suci. Persoalan ini langsung memicu kegemparan bagi orang-orang Israel yang setia di setiap generasi. Musa telah memerintahkan dengan sangat tegas bahwa bangsa Israel hanya boleh mempersembahkan korban di atas mezbah tunggal TUHAN di Kemah Suci dan kelak di Bait Suci terpusat (lihat Im. 17:1–9; Ul. 12:13–14). Berdasarkan segala penampakan lahiriah, tampak seakan-akan suku-suku Transyordan telah melakukan pelanggaran terang-terangan terhadap peringatan ketat yang baru saja disampaikan Yosua (lihat 22:5).


    Ancaman Perang Saudara (22:11–14)

    Pada akhirnya, kabar mengenai pembangunan mezbah ini terdengar oleh orang-orang Israel di Kanaan Barat. Mendirikan mezbah tandingan di sebelah timur Sungai Yordan saja sudah merupakan penyimpangan yang sangat berat. Namun, mereka dengan geram mendengar bahwa suku-suku Transyordan mendirikannya di tapal batas tanah Kanaan, ”di Gelilot pada sungai Yordan, di sebelah wilayah orang Israel” (22:11).

    Seketika itu juga, ”segenap umat Israel” berkumpul di Silo (22:12; lihat 22:16, 18)—suatu bentuk pertemuan raya kudus jemaat yang berwenang baik untuk penyelenggaraan ibadah maupun untuk penghakiman hukum antarsuku (lihat Kel. 12:6; Hak. 20:1). Umat ini memutuskan ”untuk maju memerangi” suku-suku Transyordan (22:12). Setiap individu yang mempersembahkan korban di luar mezbah resmi Kemah Suci atau Bait Suci harus dihukum mati (lihat Im. 17:1–9). Dalam kasus ini, dugaan pelanggaran tersebut berskala sedemikian masif, sehingga suku-suku lainnya merasa terpanggil dan berkewajiban untuk memerangi sesama saudara sebangsa, sebagaimana preseden hukum yang berlaku dalam Taurat (lihat Ul. 13:12–15; Hak. 20:1–48; 1Sam. 11:6–8).

    Perang saudara semacam itu bukanlah perkara yang dapat diputuskan secara serampangan. Peperangan internal akan memporak-porandakan seluruh kemajuan yang telah dibangun di bawah kepemimpinan Yosua. Oleh sebab itu, umat terlebih dahulu mengutus imam Pinehas bin Eleazar (22:13), seorang utusan yang memiliki integritas dan otoritas tertinggi. Pinehas sangat dihormati karena kegigihannya dalam membela kekudusan Kemah Pertemuan tatkala krisis kemurtadan terjadi di Peor (lihat 22:17; Bil. 25:1–18). Menyertai Pinehas, diutus pula ”sepuluh pemimpin, yakni seorang pemimpin kaum keluarga sebagai wakil tiap-tiap suku Israel” (22:14) guna memastikan bahwa kehendak seluruh umat terwakili secara sah dan bulat.


    Konfrontasi dan Dialog (22:15–31)

    Titik balik yang kompleks dari narasi ini dalam 22:15–31 terbagi ke dalam tiga segmen: tuduhan delegasi Kanaan Barat dalam 22:15–20, tanggapan dan pembelaan suku-suku Transyordan dalam 22:21–29, serta keputusan delegasi dalam 22:30–31.

    Tuduhan Delegasi Kanaan Barat (22:15–20)

    Delegasi tersebut dengan keras mencap apa yang telah diperbuat oleh suku-suku Transyordan sebagai suatu ”perbuatan yang tidak setia” atau pelanggaran iman (a breach of faith, 22:16), sebuah istilah yang muncul dua kali lagi di dalam narasi ini (22:20, 31). Terminologi yang sangat tajam bagi dosa pemberontakan ini juga digunakan untuk menggambarkan pemberontakan Israel di Ai (lihat tafsiran atas 7:1). Pelanggaran tersebut bukanlah perselisihan sepele; melainkan dipandang sebagai penghinaan langsung ”terhadap Allah Israel... dengan sekarang berbalik dari pada TUHAN dan mendirikan mezbah... memberontak terhadap TUHAN pada hari ini” (22:16).

    Akibatnya, delegasi dari Kanaan Barat dicekam ketakutan bahwa murka TUHAN akan menghukum segenap bangsa secara korporat. Delegasi tersebut memiliki dasar historis yang kuat bagi ketakutan mereka; dosa yang keji kerap kali mengundang penghakiman ilahi yang memukul pihak-pihak lain yang tidak ikut serta secara langsung dalam perbuatan dosa tersebut (lihat 7:16–26). Para delegasi menguatkan pandangan mereka dengan mengingatkan bahwa ”kita belum mentahirkan diri sampai hari ini” dari ”noda yang di Peor itu” yang pernah mendatangkan tulah ke atas umat TUHAN bertahun-tahun silam (22:17; lihat Bil. 25:1–18). Dampak rohani dari penghakiman atas dosa itu masih membekas dalam kehidupan mereka. Mereka juga sangat cemas bahwa pemberontakan suku-suku Transyordan dapat menjadikan seluruh umat sebagai pemberontak di mata Allah (22:18, 19).

    Lebih jauh lagi, mereka mengemukakan preseden Akhan pada pertempuran di Ai (lihat 7:1), di mana seluruh suku menderita akibat perbuatan satu orang: ”Ketika Akhan bin Zerah berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan, bukankah segenap umat Israel kena murka? Bukan orang itu saja yang mati karena dosanya” (22:20; lihat 22:16).

    Dalam keputusasaan, delegasi tersebut menawarkan jalan keluar: jika suku-suku Transyordan memandang bahwa tanah milik pusaka mereka di sebelah timur Yordan dipandang ”najis” untuk mezbah mereka, maka mereka dipersilakan untuk ”menyeberang ke tanah milik TUHAN, tempat kedudukan Kemah Suci TUHAN, dan menetaplah di tengah-tengah kami” (22:19). Mereka dapat menetap di Kanaan Barat dan beribadah dengan benar di Kemah Suci.

    Catatan Historis: Situs Silo, tempat berdirinya Kemah Suci dan pusat peribadahan bersama seluruh suku Israel pada masa Yosua dan zaman para Hakim.

    Penjelasan dan Pembelaan Suku-Suku Transyordan (22:21–29)

    Para pemimpin dari suku Ruben, Gad, dan setengah Manasye memberikan jawaban dengan penjelasan yang penuh semangat dan tulus mengenai ketidabersalahan mereka. Mereka bersumpah di hadapan TUHAN, menyatakan devosi mendalam mereka dengan berseru: ”Allah segala allah, TUHAN! Allah segala allah, TUHAN!” (El Elohim Yahweh! El Elohim Yahweh!, 22:22). Mereka yakin sepenuhnya bahwa ”Dialah yang mengetahui,” sembari berdoa, ”patutlah orang Israel mengetahuinya juga!” (22:22).

    Mereka kemudian menyerahkan diri pada belas kasihan para penuduh mereka. Jika para penuduh mereka benar, mereka menyatakan: ”biarlah jangan TUHAN selamatkan kami pada hari ini” (22:22). Jika mereka mendirikan mezbah untuk mempersembahkan korban, biarlah ”TUHAN sendiri yang menuntut balas terhadap kami” (22:23).

    Selanjutnya, mereka menjelaskan motivasi mereka yang sesungguhnya. Mereka tidak bermaksud untuk berbalik dari TUHAN; sebaliknya, mereka justru cemas bahwa di kemudian hari, ”anak-anak kamu mungkin berkata kepada anak-anak kami, demikian: Apakah sangkut pautmu dengan TUHAN, Allah Israel?” (22:24–25), dengan melarang mereka bergabung dalam ibadah di Kemah Suci. Jika hal ini sampai terjadi, mereka dapat menunjuk kepada ”bangunan tiruan mezbah TUHAN itu” (22:28). Suku-suku Transyordan tidak menyebut mezbah mereka sebagai ”mezbah TUHAN,” melainkan semata-mata sebagai tiruan atau replika (copy) dari mezbah tersebut. Bangunan itu ”bukanlah untuk korban bakaran dan bukanlah untuk korban sembelihan” (22:26, 28). Mereka sama sekali tidak bermaksud mendirikan alternatif tandingan bagi mezbah TUHAN, Allah kita, yang ada di depan Kemah Suci-Nya (22:29).

    Mezbah di tepi sungai Yordan tersebut memiliki tujuan yang sangat berbeda. Mezbah itu dibangun semata-mata ”supaya mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu” (22:27)[^11]. Istilah ”saksi” (kesaksian atau bukti) digunakan bagi orang-orang yang bersaksi, terutama dalam konteks hukum (lihat Kel. 20:16; Im. 5:1; Bil. 35:30). Istilah ini juga digunakan bagi hal-hal fisik seperti tugu peringatan yang menjadi bukti atas suatu klaim (lihat 24:22a). Mezbah di tepi Sungai Yordan dirancang untuk berfungsi sebagai bukti berkesinambungan, suatu saksi bagi iman yang secara tulus dimiliki bersama oleh suku-suku di Transyordan dan Kanaan Barat, yakni komitmen bersama mereka pada jalan-jalan TUHAN.

    Keputusan Delegasi (22:30–31)

    Ketika delegasi mendengar penjelasan ini, ”maka mereka menganggap hal itu baik” (22:30). Pinehas berseru, ”Sekarang tahulah kami bahwa TUHAN ada di tengah-tengah kita” (22:31). TUHAN telah campur tangan dengan penuh kemurahan. Suku-suku Transyordan tidak ”berubah setia” terhadap TUHAN (22:31; lihat tafsiran atas 7:1). Melalui penjelasan mereka yang rendah hati dan tulus, mereka ”telah melepaskan orang Israel dari hukuman TUHAN” (22:31), yakni luput dari tangan murka TUHAN. Peristiwa-peristiwa ini menetapkan jalan bagi seluruh generasi Israel untuk diikuti setiap kali timbul perselisihan serupa di antara suku-suku. Kisah ini juga menunjukkan kehati-hatian yang harus diterapkan tatkala menangani tuduhan dosa di dalam tubuh Kristus (lihat Gal. 6:1).


    Redanya Ancaman (22:32–33)

    Sebagai keseimbangan dengan meningkatnya ancaman perang dalam 22:11–14, penulis kita melaporkan bahwa imam Pinehas dan para pemimpin itu kembali ke tanah Kanaan (22:32). Umat Israel di Kanaan Barat ”memuji Allah dan tidak lagi berkata hendak maju memerangi mereka” (22:33). Sukacita merebak di antara suku-suku Kanaan Barat karena Allah dengan penuh belas kasihan telah memelihara milik pusaka Israel.


    Signifikansi Mezbah (22:34)

    Ketegangan dari narasi ini mencapai resolusi penuh dengan pengingat mengenai apa yang harus dipetik oleh generasi-generasi masa depan di Israel. Nama mezbah itu telah mengemuka sebelumnya dalam kisah ini (lihat 22:27), namun penulis kita menggarisbawahi pentingnya nama ini dan signifikansinya yang berkesinambungan dengan mengulanginya di sini. Suku-suku di Transyordan ”menamai mezbah itu: Saksi, karena inilah saksi antara kita, bahwa TUHAN itulah Allah” (22:34; lihat tafsiran atas 24:22a).

    Generasi demi generasi orang-orang setia di Israel yang mendengar atau melihat mezbah di Sungai Yordan akan mengetahui signifikansi dari kesetiaan kepada TUHAN sebagai sumber kesatuan Israel. Sukacita penulis kita atas nama yang diberikan kepada bangunan tiruan mezbah ini juga mengingatkan kita akan pentingnya kesetiaan kepada Tuhan sebagai sumber kesatuan di antara para pengikut Kristus di sepanjang masa perintisan (inauguration), kelanjutan (continuation), dan penyempurnaan (consummation) Kerajaan-Nya.


    III. Kesetiaan Perjanjian (23:1–24:33)

    Bagian utama ketiga sekaligus penutup dari kitab kita dalam 23:1–24:33 memusatkan perhatian pada kesetiaan perjanjian (covenant loyalty) Israel. Pasal-pasal ini menyajikan lensa teologis yang melaluinya penulis kita berharap para pembacanya dapat menilai signifikansi dari seluruh isi kitab ini. Sebelum tiba pada bagian ini, ia menyampaikan sudut pandangnya terutama melalui tindakan para tokohnya serta perkataan-perkataan yang terangkum di dalam tindakan-tindakan tersebut. Namun tatkala ia menutup kitabnya melalui pasal-pasal ini, ia mengambil pendekatan yang secara dramatis berbeda. Ia menuliskan dua narasi, tetapi narasi-narasi tersebut memuat sangat sedikit tindakan fisik. Suara Yosua sendiri menjadi sarana utama bagi pemaparan pandangannya sendiri. Melalui perkataan Yosua, penulis kita menyerukan kepada suku-suku Israel untuk setia sebagai umat yang berada dalam perjanjian dengan TUHAN. Dengan demikian, perkataan Yosua juga menyerukan kepada orang-orang Kristen untuk setia sebagai umat perjanjian baru di dalam Kristus (lihat Pengantar).

    Catatan ini terbagi ke dalam tiga bagian utama: suatu pertemuan raya di mana Yosua memperingatkan bangsa Israel agar tidak melanggar perjanjian dalam 23:1–16, suatu pertemuan raya di mana Yosua memimpin bangsa Israel melalui upacara pembaruan perjanjian dengan TUHAN dalam 24:1–28, serta refleksi penutup penulis kita mengenai hasil dari pertemuan-pertemuan raya tersebut dalam 24:29–33.


    A. Pertemuan Raya Peringatan (23:1–16)

    Penulis kita beralih pertama-tama dalam 23:1–16 kepada suatu pertemuan raya di mana Yosua memperingatkan suku-suku Israel agar tidak melanggar perjanjian TUHAN. Catatannya mengenai peristiwa ini terbagi ke dalam dua bagian: diawali dengan panggilan Yosua untuk mengumpulkan pertemuan raya dalam 23:1–2, dan kemudian beralih kepada peringatan keras Yosua mengenai akibat-akibat dari pelanggaran perjanjian dalam 23:3–16.


    "¹Lama setelah TUHAN mengaruniakan keamanan kepada orang Israel ke segala penjuru terhadap semua musuhnya, dan ketika Yosua telah tua dan lanjut umur,

    ²dipanggilnya seluruh orang Israel, para tua-tuanya, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya dan berkata kepada mereka: 'Aku telah tua dan sangat lanjut umur,

    ³dan kamu ini telah melihat segala yang dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada semua bangsa di sini demi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang telah berperang bagi kamu.

    ⁴Ingatlah, aku telah membagikan dengan membuang undi bangsa-bangsa yang masih tinggal ini kepada suku-sukumu menjadi milik pusakamu, seperti juga semua bangsa yang telah kulenyapkan hari itu, mulai dari sungai Yordan sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam.

    ⁵Dan TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan mengusir dan menghalau mereka dari depanmu, sehingga kamu menduduki negeri mereka, seperti yang dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

    ⁶Kuatkanlah benar-benar hatimu dalam memelihara dan melakukan segala yang tertulis dalam kitab hukum Musa, supaya kamu jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri,

    ⁷dan supaya kamu jangan bergaul dengan bangsa-bangsa yang masih tinggal di antaramu itu, serta mengakui nama allah mereka dan bersumpah demi nama itu, dan beribadah atau sujud menyembah kepada mereka.

    ⁸Tetapi kamu harus berpaut pada TUHAN, Allahmu, seperti yang kamu lakukan sampai sekarang.

    ⁹Bukankah TUHAN telah menghalau bangsa-bangsa yang besar dan kuat dari depanmu, dan akan kamu ini, seorangpun tidak ada yang tahan menghadapi kamu sampai sekarang.

    ¹⁰Satu orang saja dari pada kamu dapat mengejar seribu orang, sebab TUHAN Allahmu, Dialah yang berperang bagi kamu, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu.

    ¹¹Maka demi nyawamu, bertekunlah mengasihi TUHAN, Allahmu.

    ¹²Sebab jika kamu berbalik dan berpaut kepada sisa bangsa-bangsa ini yang masih tinggal di antara kamu, kawin-mengawin dengan mereka serta bergaul dengan mereka dan mereka dengan kamu,

    ¹³maka ketahuilah dengan sesungguhnya, bahwa TUHAN, Allahmu, tidak akan menghalau lagi bangsa-bangsa itu dari depanmu. Tetapi mereka akan menjadi perangkap dan jerat bagimu, menjadi cambuk pada lambungmu dan duri di matamu, sampai kamu binasa dari tanah yang baik ini, yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

    ¹⁴Maka sekarang, sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana. Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satupun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satupun yang tidak dipenuhi.

    ¹⁵Tetapi seperti telah datang atas kamu segala yang baik, yang telah dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, demikianlah TUHAN akan mendatangkan atas kamu segala yang tidak baik sampai Ia telah memusnahkan kamu dari tanah yang baik ini, yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu,

    ¹⁶apabila kamu melangkahi perjanjian, yang telah diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepada mereka. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu, sehingga kamu segera binasa dari negeri yang baik, yang telah diberikan-Nya kepadamu.'"
    — Yosua 23:1–16 (TB)

    Panggilan Yosua untuk Pertemuan Raya (23:1–2)

    Bagian ketiga dari kitab kita diawali dengan sebuah catatan mengenai rentang waktu yang cukup panjang (lihat 1:1; 13:1). Peristiwa-peristiwa ini terjadi ”lama setelah” (23:1a), setelah Israel menerima ”keamanan ... terhadap semua musuhnya” (23:1a). Penulis kita kembali menegaskan bahwa Yosua telah ”tua dan lanjut umur” (23:1b; lihat 13:1a), namun kali ini dengan sedikit sentuhan ironi. Sebelumnya, TUHAN menegaskan bahwa Yosua telah ”lanjut umur” (13:1b), namun waktu yang cukup lama telah berlalu sedemikian rupa sehingga Yosua sekarang harus mengakui usianya sendiri: ”Aku telah tua dan sangat lanjut umur” (23:2b). Bahkan, usia lanjut Yosua ada di dalam pikirannya sedemikian rupa hingga di kemudian bagian dari pidatonya ia mengaku, ”sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana” (23:14)[^12]. Tidak mengherankan apabila Yosua berbicara kepada para pemimpin Israel dengan cara yang menyerupai pidato terakhir Musa menjelang kematiannya.

    Lokasi pertemuan ini tidak disebutkan secara spesifik. Pertemuan ini mungkin berlangsung di Silo (lihat 22:12), namun ketiadaan catatan pembubaran pada akhir pasal ini mengindikasikan bahwa pertemuan ini bisa jadi berlangsung di Sikhem sebagai persiapan bagi pertemuan raya yang diadakan di sana (lihat 24:1). Terlepas dari itu, Yosua ”memanggil seluruh orang Israel, para tua-tuanya, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya” (23:2a), sebagaimana yang dilakukannya pula dalam pertemuan raya kedua (lihat 24:1). Daftar para pemimpin ini berbeda dari daftar-daftar lain di dalam kitab kita karena di sini tidak disebutkan para imam yang memegang peranan begitu penting pada waktu-waktu lainnya (lihat 14:1; 17:4; 19:51; 21:1). Yosua secara khusus berbicara kepada para pemimpin yang memiliki kontak lebih langsung dengan kehidupan sehari-hari umat Israel. Para pemimpin inilah yang berwenang menegakkan ketetapan-ketetapan penting yang disampaikan Yosua serta memberikan bimbingan praktis bagi keluarga-keluarga dan setiap individu.


    Amanat dan Pidato Yosua (23:3–16)

    Sintaksis bahasa Ibrani dari pidato ini memperlihatkan intensitas emosional Yosua; pidato ini bukanlah sebuah pemaparan yang tenang dan formal. Yosua dengan penuh gelora berseru kepada suku-suku Israel agar jangan sampai ”melangkahi perjanjian yang telah diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu” (23:16). Sebagaimana ditegaskan dalam pidatonya, perkara ini bukanlah masalah sepele (lihat tafsiran atas 7:11).

    Yosua memanfaatkan ketiga dimensi dari dinamika perjanjian: kemurahan Allah, tuntutan kesetiaan, serta akibat-akibat dari ketidaktaatan dan ketaatan. Ini merupakan unsur-unsur penting dalam interaksi TUHAN dengan umat-Nya di dalam seluruh perjanjian alkitabiah, dan pola ini menyerupai dinamika perjanjian internasional antara raja agung dan raja taklukan di Timur Dekat Kuno (lihat Pengantar).

    Meskipun demikian, ketiga segmen dari pidato Yosua tidak memaparkan dinamika interaksi antara TUHAN dan umat-Nya ini secara seimbang. Segmen pertama dalam 23:3–8 hanya menyebutkan kemurahan Allah dan tuntutan kesetiaan. Segmen kedua dalam 23:9–13 menyebutkan kemurahan Allah, kesetiaan, serta akibat-akibat dari ketidaktaatan. Segmen ketiga dalam 23:14–16 beralih secara langsung dari kemurahan ilahi kepada akibat-akibat hukuman yang berat akibat ketidaktaatan. Dengan berbicara kepada Israel dalam cara seperti ini, Yosua berupaya menggugah kegentaran bangsa Israel mengenai kutuk-kutuk mengerikan yang akan menimpa mereka apabila mereka melanggar perjanjian TUHAN.

    Kemurahan Allah dan Kesetiaan Umat (23:3–8)

    Segmen pertama dari pidato Yosua diawali dengan dua contoh kemurahan Allah dalam 23:3–5, lalu bergerak menuju seruan bagi kesetiaan Israel dalam 23:6–8. Yosua mengingatkan kembali kebaikan TUHAN pertama-tama dengan merujuk pada apa yang telah ”dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada semua bangsa di sini demi kamu” (23:3), yakni isi dari bagian utama pertama kitab kita (lihat 1:1–12:24). Sebagaimana telah berulang kali ditunjukkan oleh penulis kita, bangsa Israel tidak memenangkan peperangan di Kanaan dengan kekuatan sendiri; TUHAN beserta bala tentara malaikat-Nya sendirilah yang telah campur tangan (lihat tafsiran atas 6:1–5 dan 10:12–15; lihat Pengantar). Tentu saja tentara Israel turut bertempur; seluruh Israel berperang. Namun dalam analisis terakhir, ”TUHAN, Allahmu, Dialah yang telah berperang bagi kamu” (23:3)[^13]. Musuh-musuh Israel begitu kuat sehingga Israel pasti menghadapi kekalahan telak sekiranya TUHAN tidak menyertai mereka, bertempur di samping mereka (lihat tafsiran atas 3:7–17).

    Yosua juga mengingatkan kembali isi dari bagian utama kedua kitab kita (lihat 13:1–22:34) dengan memusatkan perhatian pada kemurahan pembagian tanah suku-suku di Kanaan Barat. Ia berbicara dari hatinya kepada suku-suku itu dengan menyatakan, ”aku telah membagikan dengan membuang undi” dan ”semua bangsa yang telah kulenyapkan” (23:4). Kemudian ia mengingatkan mereka bahwa TUHAN berfirman, ”bangsa-bangsa yang masih tinggal ini ... kamu menduduki negeri mereka” (23:4–5; lihat 13:6), karena TUHAN berfirman bahwa Dia ”akan mengusir dan menghalau mereka dari depanmu” (23:5).

    Setiap generasi Israel setelah zaman Yosua dituntut untuk bersyukur atas kemurahan Allah pada masa lampau, dan hal yang sama berlaku bagi para pengikut Kristus pada masa kini. Kita memandang kembali apa yang telah Dia lakukan demi kita serta janji-janji yang telah Dia berikan bagi masa depan kita saat kita hidup bagi-Nya hari demi hari.

    Setelah menguraikan kemurahan Allah, Yosua beralih kepada tuntutan kesetiaan yang penuh rasa syukur dari pihak Israel. Ia menggemakan kembali apa yang telah difirmankan TUHAN kepadanya tatkala ia bersiap memimpin penaklukan bertahun-tahun sebelumnya. Suku-suku Israel harus ”kuatkanlah benar-benar hatimu dalam memelihara dan melakukan segala yang tertulis dalam kitab hukum Musa” dan jangan sampai ”menyimpang ke kanan atau ke kiri” (23:6).

    Bangsa Israel harus memelihara ”segala yang tertulis dalam kitab hukum Musa” (23:6), namun Yosua langsung mengarahkan perhatian pada inti persoalan yang mendesak: godaan penyembahan berhala. Merupakan hal yang lumrah dalam dunia kuno—bahkan dapat dikatakan masuk akal bagi akal sehat umum—untuk menghadapi kerasnya kesulitan hidup dengan melayani banyak ilah, memohon bantuan kepada ilah tertentu untuk urusan ini dan kepada ilah lainnya untuk urusan itu. Namun demikian, praktik ini dikutuk di Israel dalam istilah yang paling keras sebelum zaman Yosua (lihat Kel. 20:3–6; Ul. 4:15–31; Im. 19:4)[^14]. Para nabi Israel memandangnya sebagai sumber segala kejahatan selama zaman kerajaan (lihat Am. 4:1–13; Yes. 44:9–20). Penyembahan berhala juga menjadi penyebab utama kehancuran Yerusalem dan pembuangan ke Babel (2Taw. 33:3–9). Maka, peringatan Yosua di sini berbicara dengan sangat jelas sepanjang sejarah Israel, sebagaimana peringatan ini berbicara kepada orang-orang percaya di era Perjanjian Baru yang kerap tergoda untuk melakukan hal yang serupa (lihat Gal. 5:20; Kol. 3:5–10).

    Yosua kemudian menyoroti berbagai cara di mana bangsa Israel dapat jatuh ke dalam penyembahan berhala. Suku-suku dilarang ”bergaul dengan bangsa-bangsa” Kanaan, suatu rujukan kepada perkawinan campur (23:7; lihat Ul. 7:2–3). Yosua tidak melarang perkawinan antarras atau antaretnis; bagaimanapun, Musa menikahi seorang perempuan Midian (lihat Kel. 2:16–22), Salmon menikahi Rahab yang berkebangsaan Kanaan (lihat Mat. 1:5), dan Boas menikahi Rut yang berkebangsaan Moab (lihat Rut 4:13). Yang dilarang Yosua adalah perkawinan lintas agama, sebab pernikahan semacam itu kerap kali menyeret pada kerusakan di Israel (lihat 1Raj. 11:1–2; 16:31–32; Ezr. 10:1–5). Ancaman kerusakan rohani ini begitu besar sehingga menjadi salah satu alasan mengapa penduduk Kanaan harus ”ditumpas sama sekali” (Kel. 34:11–16; Bil. 33:50–56; Ul. 7:1–5). Perkawinan campur beda agama dilarang dalam Perjanjian Baru atas alasan yang sama (lihat 1Kor. 7:12–16; 2Kor. 6:14–18).

    Yosua menyerukan agar bangsa Israel tidak ”mengakui [atau memperingati] nama allah mereka” (23:7; lihat Kel. 23:13). Mengingat tokoh-tokoh saleh dan penulis Alkitab sendiri menyebutkan nama allah-allah lain, larangan ini ditujukan terhadap tindakan mengingat atau memperingati allah-allah palsu dengan menyeru dan memuja mereka.

    Dengan cara yang sama, bangsa Israel tidak boleh ”bersumpah” demi ilah-ilah lain (23:7); mereka hanya boleh bersumpah demi nama TUHAN (lihat Ul. 6:13–15), dan itu pun tidak dengan sembarangan (lihat Kel. 20:7). Mengangkat sumpah demi nama ilah lain merupakan penghinaan berat terhadap TUHAN karena tindakan tersebut menunjukkan rasa gentar terhadap apa yang mungkin dilakukan ilah itu jika sumpah tersebut dilanggar (lihat Yer. 5:7).

    Bangsa Israel tidak boleh ”beribadah kepada mereka” (23:7). Istilah ini merujuk baik kepada ibadah formal maupun kegiatan hidup yang lebih luas. Suku-suku Israel tidak boleh melayani ilah-ilah palsu dalam cara apa pun. Mereka juga tidak boleh ”sujud menyembah kepada mereka” (23:7), sebuah rujukan langsung terhadap partisipasi dalam pusat-pusat ibadah Kanaan yang tersebar di seluruh Tanah Perjanjian.

    Yosua mengakhiri seruannya bagi kesetiaan Israel dengan pemahaman mendalam mengenai apa yang membentuk kesetiaan sejati kepada TUHAN. Kesetiaan itu bukanlah sekadar kepatuhan lahiriah atau konformitas perilaku terhadap serangkaian aturan; melainkan, Yosua memilih bahasa yang tepat bagi godaan penyembahan berhala. Penyembahan berhala di Kanaan dan kawasan lain di dunia kuno berkaitan erat dengan ”pelacuran bakti”, yakni pemanfaatan seksual atas kaum perempuan (lihat Ul. 23:18; Hos. 4:14) dan kaum laki-laki (lihat Ul. 23:17; 1Raj. 14:24; 15:12; 2Raj. 23:7) di dalam ritual kesuburan penyembahan. Berbeda dari penyerahan diri pada bujukan seksual berhala, suku-suku Israel diperintahkan untuk ”berpaut [berpegang teguh] pada TUHAN”, sebagaimana Yosua katakan telah mereka lakukan, setidaknya sebagian besarnya, ”sampai sekarang” (23:8). Perintah untuk ”berpaut” ini menggambarkan keintiman hubungan antara suami dan istri, serta antara ibu dan anak (lihat 22:5; Kej. 2:24; Rut 1:14). Dengan demikian, panggilan kepada kesetiaan perjanjian ini memberikan latar belakang bagi perenungan Hosea mengenai Israel sebagai mempelai TUHAN (lihat Hos. 2:14–20) serta potret Perjanjian Baru mengenai gereja sebagai mempelai Kristus (lihat Ef. 5:21–24; Why. 19:7–8). Kesetiaan kepada TUHAN senantiasa menuntut pertautan yang intim dan sepenuh hati pada-Nya.

    Kemurahan, Kesetiaan, dan Konsekuensi (23:9–13)

    Segmen kedua dari pidato Yosua berfokus pada ketiga dinamika perjanjian TUHAN. Bagian ini diawali dengan kemurahan ilahi dalam 23:9–10, beralih pada kesetiaan Israel dalam 23:11, dan diakhiri dengan akibat-akibat dari ketidaktaatan dalam 23:12–13.

    23:9–10. Yosua kembali mengarahkan pandangan pada kebaikan Allah pada masa lampau. ”Bukankah TUHAN [atau secara harfiah, 'Dan TUHAN'] telah menghalau bangsa-bangsa yang besar dan kuat dari depanmu” (23:9). Dengan hiperbola doksologis Yosua menambahkan bahwa ”seorangpun tidak ada yang tahan menghadapi kamu sampai sekarang” (23:9; lihat 1:5; 10:8; 21:44). Dalam semangat yang sama, ia menambahkan bahwa ”satu orang saja dari pada kamu dapat mengejar seribu orang” (23:10; lihat Im. 26:8; Ul. 32:30). Semua ini terjadi karena TUHAN ”berperang bagi kamu” (23:10; lihat 3:7–17). Kemenangan-kemenangan menakjubkan pada masa lalu menawarkan pengharapan bahwa lebih banyak kemenangan akan datang di masa depan.

    23:11. Yosua kemudian menyerukan agar Israel setia kepada TUHAN dalam 23:11. Ia menegaskan agar mereka ”bertekunlah [atau berhati-hatilah sangat]” (lihat 1:7; 22:5); ia hendak memberitahukan kepada mereka apa yang paling penting. Bangsa Israel tidak sekadar harus menghindari berhala; mereka harus ”mengasihi TUHAN, Allahmu” (23:11). Mereka harus memiliki devosi yang tulus dari lubuk hati kepada Raja Ilahi mereka atas sekian banyak kebaikan yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka (lihat 22:1–6; 23:6–8).

    23:12–13. Untuk pertama kalinya di dalam pidato ini, Yosua beralih kepada akibat-akibat berupa kutuk yang akan menimpa Israel jika mereka tidak mengasihi TUHAN. Mengapa kesetiaan kepada TUHAN begitu krusial? Karena kutuk dan berkat di masa depan bersifat bersyarat (conditional). Jika suku-suku memilih untuk ”berpaut kepada sisa bangsa-bangsa ini” yang masih tinggal di Kanaan alih-alih berpaut kepada TUHAN (23:12), ”kawin-mengawin dengan mereka” (23:12; lihat 23:7), atau ”bergaul dengan mereka dan mereka dengan kamu” secara terlampau dekat (23:12), maka hasilnya akan sangat mengerikan. Mereka dapat ”mengetahuinya dengan sesungguhnya” apa yang akan terjadi. TUHAN ”tidak akan menghalau lagi bangsa-bangsa itu” (23:13). Orang Kanaan akan menjadi ”perangkap” dan ”jerat” yang tak terelakkan, menjadi ”cambuk” yang menyakitkan dan ”duri di matamu” yang menyiksa (23:13; lihat Kel. 23:33; Bil. 33:55; Ul. 7:16). Kemudian, pada akhirnya, Israel akan ”binasa dari tanah yang baik ini” (23:13, 15–16).

    Perkataan Yosua berbicara dengan penuh kuasa kepada Israel di setiap generasi. Sedini zaman Hakim-Hakim, orang Kanaan menjadi ”duri” dan ”allah mereka menjadi jerat” (Hak. 2:3). Suku-suku Israel juga menanggung pahitnya keterlibatan politik dan peperangan melawan Asyur dan Babel. Pada akhirnya, Samaria runtuh di tangan Asyur, dan sebagian besar penduduknya tercerai-berai ke berbagai penjuru. Orang Babel menghancurkan Yerusalem dan menyeret Yehuda ke pembuangan. Yosua memperingatkan bahwa seluruh kutuk mengerikan dari TUHAN ini akan datang jika mereka berpaling kepada penyembahan berhala. Ancaman ini sekaligus memperingatkan kita mengenai konsekuensi sementara dan kekal yang berat yang menanti orang-orang yang berbalik meninggalkan Kristus (lihat Ibr. 6:1–4; 10:26–31; 12:3–17).

    Kemurahan Allah dan Konsekuensi Hukuman (23:14–16)

    Dalam segmen ketiga dari pidatonya, Yosua sekali lagi merujuk pada kemurahan Allah (23:14). Kemudian ia langsung beralih kepada akibat-akibat berupa kutuk dari Allah dalam 23:15–16.

    23:14. Dalam pemaparan singkatnya mengenai kebaikan TUHAN di sini, Yosua mengajukan seruan yang sangat personal kepada para pendengarnya: ”sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana” (23:14; lihat 23:2). Yosua telah melayani Israel dengan setia hingga akhir hidupnya, sehingga kesaksiannya dapat dipercaya ketika ia mengatakan bahwa ”satupun” dari janji-janji Allah ”tidak ada yang tidak dipenuhi” (23:14; lihat 21:45). Ia juga menyapa para pendengarnya secara langsung. Janji-janji TUHAN itu telah diberikan ”kepadamu” (23:14). TUHAN tidak berbuat baik secara abstrak atau di masa lalu yang jauh; Dia telah melimpahkan kemurahan-Nya kepada orang-orang yang berdiri di hadapannya pada hari itu.

    23:15–16. Tanpa mengulangi kembali seruan kesetiaan (lihat 23:6–8, 11), Yosua langsung memperingatkan suku-suku mengenai konsekuensi yang akan didatangkan oleh ketidaksetiaan ke atas mereka. Sama seperti ”segala yang baik” yang dijanjikan TUHAN ”kepadamu” telah digenapi, demikian pula Dia akan mendatangkan ”segala yang tidak baik” yang baru saja diancamkan Yosua ”atas kamu” (23:15; lihat Yes. 45:7) jika mereka berpaling dari-Nya. Malapetaka ini akan memusnahkan Israel ”dari tanah yang baik ini” (23:15). Yosua tidak mengancamkan penghakiman berat ini jika Israel sekadar gagal mencapai kesempurnaan; bagaimanapun juga, tidak ada seorang pun yang mencapai kesempurnaan dalam hidup ini. Penghakiman ini akan terjadi ”apabila kamu melangkahi perjanjian” (23:16). ”Melangkahi perjanjian” berarti melanggar ketetapan-ketetapan yang paling mendasar dari perjanjian itu (lihat tafsiran atas 7:10–12). Pelanggaran terjadi ketika Israel menolak TUHAN dan mengikuti ”allah lain” (23:16; lihat 23:12–13). Jika Israel melakukan hal ini, maka ”murka TUHAN” akan mendatangkan kekalahan dan pembuangan ”dari negeri yang baik” yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka dengan penuh kebaikan (23:16).

    Sebanyak lima kali di dalam pidato ini Yosua menyebut apa yang diterima Israel dari TUHAN sebagai hal yang ”baik”: ”tanah yang baik” (23:13), ”segala yang baik” (23:14, 15a), dan ”tanah/negeri yang baik” (23:15b, 16). Fokus pada kata ”baik” ini mengungkapkan keyakinan penulis kita bahwa Tanah Perjanjian adalah tempat di bumi yang berada dalam jalur untuk menjadi seperti dunia ketika pertama kali dijadikan, suatu negeri yang dipenuhi kebenaran dan kelimpahan, suatu tempat yang ”sungguh amat baik” (lihat 6:1–5; Kej. 1:31).

    Yosua memberitahukan kepada Israel tanpa keraguan bahwa mereka akan kehilangan lebih daripada yang dapat mereka bayangkan jika mereka berpaling kepada allah-allah lain. Setiap generasi Israel harus menaruh hal ini di dalam hati. Mereka akan kehilangan berkat-berkat Allah jika berpaling kepada allah-allah lain. Dengan cara yang sama, mereka yang mengaku nama Kristus tidak akan mengalami berkat keselamatan jika mereka berpaling dari-Nya (lihat Ibr. 6:4–6).

    B. Pertemuan Raya Pembaruan Perjanjian (24:1–28)

    Setelah memperingatkan bangsa Israel mengenai akibat-akibat yang mengerikan dari penyembahan berhala, Yosua mengadakan sebuah pertemuan raya di mana ia memimpin bangsa Israel melalui upacara pembaruan perjanjian (covenant renewal) dalam 24:1–28, yaitu sebuah komitmen ulang untuk setia kepada Allah. Sama seperti pidatonya sebelumnya (lihat 23:3–16), pembaruan perjanjian ini juga mencerminkan dinamika fundamental dari kehidupan dalam ikatan perjanjian dengan TUHAN (lihat Pengantar). Dengan demikian, peristiwa ini memiliki banyak kesejajaran dengan berbagai corak pengesahan perjanjian antara raja agung (suzerain) dan raja taklukan (vassal) di Timur Dekat Kuno. Peristiwa ini diawali dengan pemanggilan bangsa Israel untuk menghadiri pertemuan raya dalam 24:1 dan ditutup dengan pembubaran serta kepulangan mereka dalam 24:28. Di dalam kerangka ini, Yosua menyampaikan amanat mengenai kemurahan Allah dalam 24:2–13, memimpin serangkaian seruan dan tanggapan komitmen dalam 24:14–24, serta mengkodifikasi perjanjian tersebut secara seremonial dalam 24:25–27.


    "¹Kemudian Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah.

    ²Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: 'Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.

    ³Tetapi Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya.

    ⁴Kepada Ishak Kuberikan Yakub dan Esau. Kepada Esau Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya, sedang Yakub serta anak-anaknya pergi ke Mesir.

    ⁵Lalu Aku mengutus Musa serta Harun dan menulahi Mesir, seperti yang Kulakukan di tengah-tengah mereka, kemudian Aku membawa kamu keluar.

    ⁶Setelah Aku membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir dan kamu sampai ke laut, lalu orang Mesir mengejar nenek moyangmu dengan kereta dan orang berkuda ke Laut Teberau.

    ⁷Sebab itu berteriak-teriaklah mereka kepada TUHAN, maka diadakan-Nya gelap antara kamu dan orang Mesir itu dan didatangkan-Nya air laut atas mereka, sehingga mereka diliputi. Dan matamu sendiri telah melihat, apa yang Kulakukan terhadap Mesir. Sesudah itu lama kamu diam di padang gurun.

    ⁸Aku membawa kamu ke negeri orang Amori yang diam di seberang sungai Yordan, dan ketika mereka berperang melawan kamu, mereka Kuserahkan ke dalam tanganmu, sehingga kamu menduduki negerinya, sedang mereka Kupunahkan dari depan kamu.

    ⁹Ketika itu Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan orang Israel. Disuruhnya memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki kamu.

    ¹⁰Tetapi Aku tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga iapun memberkati kamu. Demikianlah Aku melepaskan kamu dari tangannya.

    ¹¹Setelah kamu menyeberangi sungai Yordan dan sampai ke Yerikho, berperanglah melawan kamu warga-warga kota Yerikho, orang Amori, orang Feris, orang Kanaan, orang Het, orang Girgasi, orang Hewi dan orang Yebus, tetapi mereka itu Kuserahkan ke dalam tanganmu.

    ¹²Kemudian Aku melepaskan tabuhan mendahului kamu dan binatang-binatang ini menghalau mereka dari depanmu, seperti kedua raja orang Amori itu. Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu.

    ¹³Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya.

    ¹⁴Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.

    ¹⁵Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!'

    ¹⁶Lalu bangsa itu menjawab: 'Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!

    ¹⁷Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui,

    ¹⁸TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita.'

    ¹⁹Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: 'Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.

    ²⁰Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu.'

    ²¹Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua: 'Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.'

    ²²Kemudian berkatalah Yosua kepada bangsa itu: 'Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya.' Jawab mereka: 'Kamilah saksi!'

    ²³Ia berkata: 'Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.'

    ²⁴Lalu jawab bangsa itu kepada Yosua: 'Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan.'

    ²⁵Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem.

    ²⁶Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu yang besar dan mendirikannya di sana, di bawah pohon besar, di tempat kudus TUHAN.

    ²⁷Kata Yosua kepada seluruh bangsa itu: 'Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu.'

    ²⁸Sesudah itu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya."
    — Yosua 24:1–28 (TB)

    Panggilan Yosua untuk Pertemuan Raya (24:1)

    Yosua mengumpulkan bangsa Israel ”ke Sikhem” (24:1; lihat 23:1–2). Sikhem (Nablus modern) terletak di celah sempit di antara Gunung Gerizim di sebelah selatan dan Gunung Ebal di sebelah utara. Wilayah ini begitu kompak sehingga aktivitas pertemuan raya ini dapat dengan mudah melibatkan kedua gunung tersebut, sangat mirip dengan upacara pembaruan perjanjian bangsa Israel sebelumnya (lihat 8:30–35). Walaupun demikian, ada kemungkinan bahwa pertemuan raya ini sepenuhnya terpisah dari pertemuan sebelumnya dalam pasal 23 (lihat 23:1–16). Untuk mendukung pandangan ini, rujukan geografis terakhir mencatat bahwa bangsa Israel berada di Silo (lihat 21:2; 22:9)[^15], sedangkan pertemuan ini diselenggarakan di Sikhem.

    Perbedaan paling signifikan antara pasal 23 dan pasal 24 adalah bahwa di sini Yosua dan bangsa Israel ”berdiri di hadapan Allah” (24:1; lihat 1Sam. 10:19), sebuah rujukan mengenai pendekatan ke Kemah Pertemuan, yaitu ”tempat kudus TUHAN” (24:26). Pada saat yang sama, sejumlah faktor mendukung pandangan bahwa pertemuan terdahulu dalam pasal 23 diselenggarakan di Sikhem pula. Daftar para pesertanya hampir identik: ”seluruh orang Israel” (23:2a) dan ”semua suku orang Israel” (24:1), bersama-sama dengan ”para tua-tua ... para kepala ... para hakim dan para pengatur pasukan” (23:2a; 24:1). Selain itu, kata-kata pembuka pasal ini tidak menyatakan adanya jeda waktu yang signifikan yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan sejauh dua belas mil dari Silo ke Sikhem.

    Bagaimanapun keadaannya, isi dari pasal 23 meletakkan landasan bagi isi pasal 24. Pasal terdahulu memperingatkan tentang akibat-akibat mengerikan yang akan menimpa Israel sekiranya umat Israel ”melangkahi perjanjian TUHAN” (23:16). Pasal ini berfokus pada komitmen pembaruan bangsa Israel untuk memelihara perjanjian dalam terang ancaman tersebut.

    Upacara pengesahan dan pembaruan perjanjian memiliki variasi dalam Perjanjian Lama bergantung pada situasinya (lihat Kej. 6:18–22; 9:1–17; 15:17–21; 17:1–14; Kel. 19–24; Bil. 25:10–13; Ul. 11:29–32; 27:1–26; 2Raj. 22–23; 2Taw. 34:29–33; Neh. 8–9; Mzm. 89, 132). Di sini, Yosua mengikuti pola yang menyerupai apa yang dilakukan Musa di Gunung Sinai (lihat Kel. 19–24).


    Pernyataan Kemurahan Ilahi (24:2–13)

    Yosua memulai dengan menyatakan, ”Beginilah firman TUHAN, Allah Israel,” dan berbicara atas nama Allah dalam sudut pandang orang pertama (24:2). Ia berdiri teguh di dalam tradisi Musa (lihat Kel. 4:22; 5:1; 20:22–26; Ul. 29:6) dan para nabi Israel di kemudian hari (lihat Hak. 6:8; 1Sam. 10:18). Di sini, TUHAN sendiri berfirman mengenai bagaimana Dia telah melimpahkan kebaikan-Nya kepada Israel (lihat Yes. 41:8–10; Yer. 2:7; Mi. 6:4–5). Dia berbicara dengan cara yang menyerupai kebiasaan para raja manusiawi di Timur Dekat Kuno. Dia menyatakan bagaimana Dia telah melimpahkan manfaat kepada suku-suku Israel dengan menaklukkan musuh-musuh mereka beserta ilah-ilah musuh mereka. Pemaparan TUHAN mengenai apa yang telah Dia lakukan bagi Israel terbagi ke dalam empat segmen yang merangkum informasi dari Pentateukh.

    24:2–3. Pertama, TUHAN berbicara mengenai masa ”dahulu kala”, tatkala ”di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu” dan ”mereka beribadah kepada allah lain” (24:2). Penggambaran nenek moyang sebagai para penyembah ilah-ilah lain ini selaras dengan fokus utama dari pertemuan-pertemuan raya Yosua: godaan Israel untuk melayani allah-allah lain (lihat 23:11–13, 16; 24:14–16). TUHAN melanjutkan dengan menyatakan bahwa Dia telah memimpin Abraham menjelajahi seluruh tanah Kanaan dan ”membuat banyak keturunannya” (24:3). Dia memberikan kepada Esau—ayah dari orang Edom yang terkenal sebagai penyembah berhala—”pegunungan Seir” di sebelah selatan dan berbatasan langsung dengan Tanah Perjanjian (24:4; lihat 15:1, 21).

    24:5–7. Kedua, TUHAN mengingatkan kembali bagaimana Dia melepaskan bangsa Israel dari Mesir. Dia mengutus Musa serta Harun dan kemudian ”menulahi Mesir” (24:5). Kelepasan ini tidak sekadar melibatkan ”manusia dan hewan”, melainkan juga ”semua allah di Mesir” (Kel. 12:12). Selain itu, di tepi Laut Teberau, TUHAN dimuliakan sebagai ”pahlawan perang” (Kel. 15:3) yang jauh lebih besar daripada seluruh ilah lainnya (lihat Kel. 15:11).

    24:8–10. Ketiga, TUHAN menganugerahkan kemenangan-kemenangan di wilayah Transyordan. ”Mereka Kupunahkan dari depan kamu” (24:8) dan ”melepaskan kamu dari tangannya”, yakni membebaskan mereka dari ancaman kekalahan menuju kemenangan atas ”Balak bin Zipor, raja Moab” (24:9–10). Moab adalah bangsa tetangga lainnya yang beribadah kepada ilah-ilah palsu (lihat 2Raj. 3:27; 23:12).

    24:11–12a. Keempat, TUHAN menyatakan bahwa Dia telah memenangkan pertempuran-pertempuran di Kanaan Barat melawan ”warga-warga kota Yerikho” dan tujuh bangsa lainnya di tanah Kanaan yang telah Dia janjikan untuk ditumpas (lihat 3:10). Binatang ”tabuhan” berjalan mendahului orang Israel sebagaimana telah dinubuatkan sebelumnya (lihat Kel. 23:28; Ul. 7:20), baik secara harfiah maupun metaforis. ”Kedua raja orang Amori” yang dimaksudkan di sini (24:12) kemungkinan besar adalah para pemimpin persekutuan selatan dan utara, yakni Adoni-Zedek (lihat 10:1) dan Yabin (lihat 11:1), yang juga merupakan para penyembah berhala.

    24:12b–13. Rentetan kemenangan yang dilimpahkan TUHAN ini menuntun-Nya untuk menegaskan bahwa jemaat seharusnya bersyukur tanpa henti. Dia mengingatkan mereka bahwa kemenangan-kemenangan ini diraih ”bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu” (24:12b; lihat Mzm. 44:4). Segala jerih lelah mereka sia-sia tanpa campur tangan adikodrati dari pihak TUHAN (lihat 5:13–15). Bahkan, mereka menerima sebuah negeri ”tanpa bersusah-susah” (24:13). Mereka mendiami kota-kota yang ”tidak kamu dirikan” (24:13; lihat 13:15–33). Dan mereka makan hasil dari kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang ”tidak kamu tanami” (24:13; lihat Ul. 6:11). Bangsa Israel mengecap berkat-berkat indah dari Tanah Perjanjian semata-mata karena TUHAN, Prajurit Raja mereka yang perkasa, telah menaklukkan segenap musuh mereka.


    Seruan dan Tanggapan (24:14–24)

    Setelah pemaparan langsung dari TUHAN mengenai kemurahan-Nya kepada bangsa Israel dalam sudut pandang orang pertama dalam 24:2–13, Yosua kembali berbicara dalam sudut pandang orang ketiga. Ia memimpin bangsa Israel dalam empat putaran seruan dan tanggapan komitmen dalam 24:14–18, 19–21, 22, dan 23–24[^16].

    Seruan dan Tanggapan Pertama (24:14–18)

    Yosua mengawali seruannya dengan perkataan ”Oleh sebab itu” (now therefore), sebuah formula untuk menuntut respons konkret dalam perkataan atau tindakan tatkala diikuti oleh bentuk imperatif (24:14).

    24:14–15. Yosua menyerukan agar umat merespons dengan tiga tindakan tegas: ”takutlah”, ”beribadahlah”, dan ”jauhkanlah” (24:14). Tindakan ”takut akan TUHAN” dalam konteks ini berarti memiliki kegentaran dan rasa hormat yang kudus terhadap kuasa Prajurit Raja Ilahi Israel, terkhusus di dalam penghakiman-penghakiman yang telah diperingatkan pada pasal sebelumnya dan yang akan kembali diperingatkan pada pasal ini. Ini adalah satu-satunya kesempatan di dalam kitab kita di mana ”takut akan TUHAN” ditampilkan secara positif, namun tema ini kerap muncul di bagian-bagian lain dari Kitab Suci (lihat Ul. 4:10; 5:29; 6:2; 8:6; 10:12; 13:4). Dalam pengertian ini, takut akan Allah adalah ”suci, tetap untuk selamanya” (Mzm. 19:10) dan ”permulaan hikmat” (Ams. 9:10).

    Tindakan ”beribadah” kepada TUHAN (24:14) berarti menaati-Nya sebagai hamba yang rendah hati dan setia. Dalam konteks langsungnya, beribadah kepada TUHAN (lihat 24:14, 18, 19, 21, 24) dikontraskan secara tajam dengan beribadah kepada allah-allah lain (lihat 24:14, 15). Ibadah tidak boleh sekadar dipersembahkan secara lahiriah; melainkan harus dijalankan ”dengan tulus ikhlas dan setia” (24:14), dengan penuh antusiasme dan tanpa kompromi.

    Perintah untuk ”jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah” (24:14) menyiratkan bahwa setidaknya sebagian dari anggota jemaat masih menyimpan dan memiliki patung-patung berhala. Ini merupakan persoalan yang terus berulang sepanjang sejarah Israel, bahkan di Yerusalem sekalipun. Merupakan hal yang lumrah dan diterima luas di dunia kuno untuk mencari perlindungan dan berkat dari banyak ilah (lihat tafsiran atas 23:6–8). Pada titik ini, Yosua tidak secara langsung menuduh siapa pun yang hadir di hadapannya sedang menyembah allah lain. Ia menyatakan, ”jika” (atau ”kecuali”) siapa pun menganggap bahwa beribadah kepada TUHAN itu ”tidak baik” (24:15). Pemikiran semacam itu tentu tidak terbayangkan bagi sebagian besar orang dalam pertemuan raya tersebut. Bahkan mereka yang terbiasa mencampuradukkan ibadah kepada TUHAN dengan pemujaan berhala sekalipun tidak akan menganggap bahwa beribadah kepada TUHAN itu tidak baik (lihat Kel. 32:3–6).

    Namun Yosua menarik garis tegas. TUHAN menuntut loyalitas eksklusif dari Israel. Loyalitas eksklusif semacam itu mungkin dipandang merugikan atau ”tidak baik” oleh sebagian orang di Israel karena mereka menimpakan kesulitan hidup—seperti penyakit, kekalahan perang, dan kematian—pada kelalaian mereka dalam memuja ilah-ilah lain. Kemungkinan inilah yang mendorong Yosua menuntut Israel mengambil keputusan tegas: ”pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (24:15). Mereka boleh memilih beribadah kepada ”allah nenek moyang” (24:15; lihat 24:2) atau ilah-ilah orang ”Amori” (sebutan lain bagi orang Kanaan, 24:15). Namun demikian, mereka tidak boleh lagi mencampuradukkan iman mereka dengan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Yosua memimpin dengan memberikan teladan pribadinya (lihat 23:5): ”Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (24:15).

    24:16–18. Bangsa itu menjawab seruan Yosua dengan penuh keyakinan: ”Jauhlah dari pada kami” meninggalkan TUHAN. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain. Mereka menanggapi dengan ringkasan mengenai kemurahan yang telah dinyatakan TUHAN (lihat 24:2–13). TUHAN telah ”menuntun kita dan nenek moyang kita” keluar dari Mesir; Dia telah melakukan ”tanda-tanda mujizat yang besar” dan ”melindungi kita” tatkala Dia menghalau bangsa-bangsa Kanaan di sepanjang perjalanan mereka menuju Tanah Perjanjian (24:17–18). Atas dasar inilah, umat dengan segenap hati mengikrarkan ikrar bersama: ”Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita” (24:18). TUHAN adalah satu-satunya Allah bagi Israel.

    Seruan dan Tanggapan Kedua (24:19–21)

    Yosua berseru kepada jemaat untuk kedua kalinya, dan mereka kembali merespons dengan komitmen yang teguh kepada TUHAN.

    24:19–20. Yosua memperingatkan jemaat: ”Tidaklah kamu sanggup [atau mungkin tidak sanggup] beribadah kepada TUHAN” di masa depan (24:19). Ia mengetahui betapa kuatnya godaan untuk menyembah allah-allah lain. Mereka telah berulang kali gagal di masa lalu. Ketidaksanggupan untuk tetap setia ini merupakan persoalan yang luar biasa besar karena TUHAN adalah ”Allah yang cemburu” (24:19); Dia tidak akan mentoleransi umat-Nya menduakan kasih dan devosi mereka kepada ilah-ilah lain. Melakukan hal tersebut akan mendatangkan konsekuensi berat bagi banyak generasi (lihat Kel. 20:5; Ul. 4:24; 5:9). Yosua menegaskan bahwa pembaruan perjanjian membawa implikasi yang sangat serius. Jika bangsa Israel berpaling kepada allah asing setelah mengikrarkan pembaruan kesetiaan kepada TUHAN, maka TUHAN akan ”berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu” (24:20). Sebagaimana telah diperingatkan Yosua sebelumnya (lihat 23:15–16), hukuman penghakiman ilahi akan sangat dahsyat, terkhusus mengingat betapa besarnya kebaikan yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka.

    24:21. Menanggapi peringatan keras tersebut, bangsa itu kembali menegaskan komitmen mereka secara gigih: ”Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah” (24:21) dan menolak segala allah lainnya (lihat 23:6–8).

    Seruan dan Tanggapan Ketiga (24:22)

    Meskipun menyadari kelemahan-kelemahan mereka di masa lalu, bangsa itu siap memperbarui perjanjian mereka dengan TUHAN. Maka, seruan terakhir Yosua secara eksplisit mengangkat dialog mereka ke ranah hukum legal formal.

    24:22a. Yosua mengumumkan bahwa jika umat terbukti tidak setia di kemudian hari, mereka akan berdiri sebagai saksi yang mendakwa diri mereka sendiri: ”Kamulah saksi terhadap kamu sendiri” (24:22a). Istilah ”saksi” kerap digunakan bagi bukti fisik maupun bagi orang-orang yang memberikan kesaksian di pengadilan manusia (lihat 22:21–29), sebagaimana juga di dalam pengadilan surgawi TUHAN di mana Dia sendiri dapat bertindak sebagai saksi (lihat Yes. 43:9; Yer. 29:23). Sebagaimana dalam perjanjian internasional di Timur Dekat Kuno, Yosua memaksudkan bangsa Israel bertindak sebagai saksi-saksi dalam pengadilan mereka sendiri di hadapan TUHAN sekiranya mereka melanggar perjanjian (lihat Ul. 4:26; 31:19, 21).

    24:22b. Bahkan di hadapan ancaman seberat itu, bangsa itu menyetujuinya tanpa ragu: ”Kamilah saksi!” Mereka sepakat untuk tidak mencari-cari dalih, melainkan siap mendakwa diri mereka sendiri jika terbukti tidak setia. Komitmen ini mencerminkan sumpah kutuk diri (self-malediction) yang khidmat sebagaimana terdapat dalam pemotongan hewan kurban dan upacara sunat dalam perjanjian Allah dengan Abraham (lihat Kej. 15:9–19; 17:10–14). Bersumpah untuk menerima kutuk atas diri sendiri akibat ketidaksetiaan kepada TUHAN merupakan bagian esensial dari pembaruan perjanjian Israel.

    Seruan dan Tanggapan Keempat (24:23–24)

    Berdasarkan apa yang telah diikrarkan bersama, Yosua menuntut tindakan nyata dan menentukan terkait patung-patung berhala, dan bangsa itu pun meresponsnya.

    24:23. Yosua memerintahkan umat dalam pertemuan raya tersebut untuk berbalik meninggalkan berhala-berhala mereka dan berbalik kepada TUHAN. Pada hakikatnya, ia menyerukan kepada mereka untuk bertobat—berpaling dari satu hal dan berbalik kepada hal lainnya. Di satu sisi, mereka harus ”jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu” (lihat 24:14–15); di sisi lain, mereka juga harus ”condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.” Tindakan ”mencondongkan” hati (atau mengarahkan/memalingkan) menandakan perubahan haluan secara radikal, suatu reorientasi batin dari keterikatan pada ilah-ilah asing menuju kepada TUHAN. Loyalitas terdalam mereka harus secara eksklusif tertuju hanya kepada TUHAN, ”Allah Israel,” dan bukan kepada ilah-ilah lain.

    TUHAN berulang kali memanggil bangsa Israel kepada pertobatan di sepanjang sejarah mereka, terutama tatkala bangsa itu menghadapi kutuk-kutuk penghakiman dari-Nya (lihat Ul. 4:30; 30:2; Yes. 55:7; Hos. 6:1; 14:2; Yl. 2:13). Tindakan berbalik atau kembali kepada TUHAN senantiasa memiliki dua sisi: berakar dari rasa syukur atas kebaikan-kebaikan-Nya sekaligus didorong oleh kegentaran akan penghakiman-Nya. Pertobatan menuntut tindakan meninggalkan dosa dan penyembahan berhala dalam segala wujudnya, serta berbalik seutuhnya kepada TUHAN. Prinsip yang sama berlaku bagi panggilan pertobatan di dalam Perjanjian Baru (lihat Mat. 3:2, 8; Mrk. 6:12; Luk. 3:3; Kis. 8:22; 17:30; 2Tim. 2:25).

    24:24. Jemaat kini memproklamasikan reorientasi hati mereka. Alih-alih mencampuradukkan iman mereka dengan kepercayaan lain, mereka menegaskan: ”Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah” (lihat 24:14–15). Dan alih-alih mendengarkan suara-suara asing lainnya, mereka berikrar: ”firman-Nya akan kami dengarkan.” Mereka berjanji untuk hidup dalam ketaatan yang penuh rasa syukur kepada firman TUHAN (lihat 24:2–13).

    Yosua berbicara kepada suatu perhimpunan jemaat di mana ada sebagian orang yang mengucapkan kata-kata komitmen ini tanpa ketulusan sebagai pengalaman iman yang menyelamatkan, dan ada pula sebagian orang yang mengucapkannya sebagai ungkapan dari iman yang menyelamatkan yang terus bertumbuh. Hal yang sama terjadi di dalam Perjanjian Baru. Sementara ada orang yang bertobat secara lahiriah namun tidak menghasilkan buah yang membuktikan ketulusan hati mereka (lihat Mat. 3:7–8), ada orang yang bertobat sebagai tindakan awal iman yang menyelamatkan (lihat Kis. 17:30–31; 20:21), dan ada pula orang-orang yang terus bertobat sebagai wujud kesinambungan iman yang menyelamatkan (lihat 2Kor. 7:8–13).


    Kodifikasi Perjanjian (24:25–27)

    Setelah putaran seruan dan tanggapan komitmen ini tuntas, Yosua ”mengikat perjanjian” (secara harfiah, ”memotong perjanjian”) dengan bangsa itu (24:25). Terminologi ini mencerminkan ritual pemotongan hewan kurban yang menyertai sumpah kutuk diri di dalam perjanjian-perjanjian khidmat di Timur Dekat Kuno serta dalam perjanjian-perjanjian alkitabiah (lihat 24:22a). Yosua mengikat perjanjian ini ”dengan bangsa itu” (atau ”bagi” atau ”atas nama” bangsa itu). Ini bukanlah perjanjian bilateral antara Yosua dan umat; melainkan pembaruan perjanjian antara TUHAN dan jemaat yang dimediasi oleh Yosua.

    Yosua menutup upacara pembaruan perjanjian ini dengan sebuah kebiasaan yang lazim dalam ritual pengesahan perjanjian kerajaan di Timur Dekat Kuno. Ia mengkodifikasi ketetapan-ketetapan perjanjian antara TUHAN dan Israel. Tindakannya di sini mencerminkan apa yang dilakukan Musa di Gunung Sinai (lihat Kel. 24:7, 8) serta upacara pembaruan perjanjian yang dipimpin Yosua sebelumnya di Gunung Ebal (lihat Yos. 8:32)[^17]. Ia ”membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka” di Sikhem (24:25). Frasa ini dapat diterjemahkan secara lebih harfiah sebagai ”sebuah ketetapan dan sebuah peraturan baginya (yakni bagi perjanjian tersebut).” Dalam sejumlah kesempatan, istilah-istilah ini muncul bersamaan dalam bentuk tunggal dan merujuk pada regulasi bagi situasi-situasi partikular (lihat Kel. 15:25; 1Sam. 30:25; Ezr. 7:10; Mzm. 81:5). Yosua ”menuliskan semuanya itu”—kemungkinan besar aturan-aturan spesifik perihal larangan beribadah kepada allah lain—”dalam kitab hukum Allah,” yang kemungkinan besar merupakan kumpulan ketetapan hukum beserta berkat dan kutuk yang bersumber dari Kitab Ulangan (24:26; lihat 1:8; 8:35).

    Deskripsi mengenai tindakan Yosua pada titik ini dicatat secara sangat padat dan ringkas. Kemungkinan besar ia menyelenggarakan seluruh elemen yang terdapat dalam upacara pembaruan perjanjian sebelumnya (lihat 8:30–35)[^18]. Di sini kita diberitahukan bahwa Yosua mendirikan ”batu yang besar ... di tempat kudus TUHAN” (24:26), sehingga sangat mungkin Yosua mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan sebagaimana yang ia lakukan dalam 8:31. Batu besar ini kemungkinan ditulisi dengan ”ketetapan dan peraturan” tersebut (24:25). Yosua tampaknya membacakan perkataan-perkataan hukum ini dengan suara nyaring sebagaimana dalam 8:34, sebab dikatakan bahwa batu tersebut telah ”mendengar” perkataan-perkataan itu (24:27).

    Catatan Arkeologis: Tel Balata, lokasi kota Sikhem dalam Alkitab. Batu tegak (standing stone) di situs ini dahulu berdiri setinggi sekitar 2,2 meter dan mungkin merupakan batu yang disebutkan dalam Yosua 24:26.

    Kita juga diberitahukan secara eksplisit bahwa Yosua menambahkan bukti saksi lainnya. Bukan hanya umat itu sendiri yang akan menjadi saksi yang mendakwa diri mereka sendiri di masa depan (lihat 24:22–24), melainkan Yosua juga menegaskan bahwa batu tersebut ”akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu” (24:27; lihat 22:34). Jika bangsa Israel berpaling kepada allah-allah lain, maka batu saksi tersebut akan dihadirkan sebagai bukti yang memberatkan mereka—suatu bukti nyata bahwa mereka telah melanggar perjanjian mereka dengan TUHAN. Para pengikut Kristus memiliki saksi lain yang bersaksi bagi atau mendakwa kita, yakni ”banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita,” yang teladannya memanggil kita untuk ”menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” serta ”berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibr. 12:1).


    Pembubaran Pertemuan Raya (24:28)

    Dengan ditegakkannya saksi kedua tersebut, Yosua melepas seluruh bangsa itu pergi, ”masing-masing ke milik pusakanya” (24:28). Suku-suku telah memperbarui ikatan perjanjian mereka dengan TUHAN, sehingga sudah selayaknya mereka kembali ke tanah milik pusaka abadi mereka untuk hidup dalam pengabdian yang setia kepada Allah. Pembaruan perjanjian yang mereka ikrarkan memanggil setiap generasi Israel—dan pada akhirnya segenap pengikut Kristus di setiap zaman—untuk memperbarui komitmen perjanjian agar kita pun dapat hidup bagi Tuhan di dalam bagian warisan pusaka kita di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.

    C. Hasil Pertemuan-Pertemuan Raya (24:29–33)

    Penulis kita menutup kisahnya mengenai pertemuan-pertemuan raya Yosua dengan sebuah rangkuman singkat mengenai dampaknya dalam 24:29–33. Apakah hasil dari amanat Yosua dan pembaruan perjanjian tersebut? Di sini kita menemukan gambaran yang ringkas namun sangat positif, sebuah ikhtisar mengenai apa yang seharusnya dirindukan oleh setiap generasi Israel bagi kehidupan mereka sendiri. Sintaksis bahasa Ibrani membagi ayat-ayat ini ke dalam dua segmen: kesetiaan pelayanan Yosua dalam 24:29–30 dan kesetiaan pelayanan Israel dalam 24:31–33.


    "²⁹Dan sesudah peristiwa-peristiwa ini, maka matilah Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, ketika berumur seratus sepuluh tahun.

    ³⁰Lalu ia dikuburkan di daerah milik pusakanya, di Timnat-Serah yang di pegunungan Efraim, di sebelah utara gunung Gaas.

    ³¹Orang Israel beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua dan sepanjang zaman para tua-tua yang hidup lebih lama dari pada Yosua, dan yang mengenal segenap perbuatan yang dilakukan TUHAN bagi orang Israel.

    ³²Tulang-tulang Yusuf, yang dibawa orang Israel dari Mesir, dikuburkan mereka di Sikhem, di tanah milik yang dibeli Yakub dengan harga seratus kesita dari anak-anak Hemor, bapa Sikhem, dan yang ditentukan bagi bani Yusuf menjadi milik pusaka mereka.

    ³³Juga Eleazar bin Harun mati, dan dia dikuburkan di bukit yang diberikan kepada Pinehas, anaknya itu, di pegunungan Efraim."
    — Yosua 24:29–33 (TB)

    Kesetiaan Pelayanan Yosua (24:29–30)

    Yosua wafat ”sesudah peristiwa-peristiwa ini” (24:29). Kita tidak mengetahui secara pasti berapa lama waktu berselang sebelum Yosua meninggal dunia. Dalam pertemuan raya terakhirnya, Yosua sendiri telah mengantisipasi bahwa ia ”sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana” (23:14)[^19]. Penulis kita menghormati Yosua sebagai seorang tokoh yang senantiasa setia kepada pembaruan perjanjian yang berlangsung dalam pertemuan rayanya, setidaknya melalui tiga hal.

    Pertama, ia menyebut Yosua sebagai ”hamba TUHAN” (24:29). Gelar kehormatan ini diterapkan kepada Musa dalam Ulangan 34:5, dan penulis kita merujuk kepada Musa dengan sebutan ini sebanyak delapan kali di dalam kitabnya (lihat 1:1; 8:31; 11:12; 12:6; 13:8; 14:7; 18:7; 22:2). Berbagai perbandingan positif lainnya antara Yosua dan Musa telah muncul pada bagian awal kitab ini (lihat 1:17–18; 3:7–17; 4:14), namun di sini gelar ”hamba TUHAN” secara resmi dialihkan kepada Yosua. Pengalihan gelar ini juga muncul dalam Kitab Hakim-Hakim (Hak. 2:8). Gelar ini terasa sangat berbobot dan mengesankan dalam konteks ini karena kedua pertemuan raya tersebut secara tajam mempertentangkan antara beribadah kepada ilah-ilah lain dengan beribadah kepada TUHAN, terutama menjelang akhir pertemuan raya kedua (lihat 23:7, 16; 24:2, 14 [2x], 15 [4x], 16, 18, 19, 20, 21, 22, 24). Yosua telah menyatakan dengan tegas bahwa ia beserta seisi rumahnya akan ”beribadah kepada TUHAN” dan menolak allah mana pun lainnya (24:15). Ia wafat setelah menggenapi komitmen tersebut.

    Kedua, penulis kita mencatat bahwa Yosua hidup sampai ”berumur seratus sepuluh tahun” (24:29). Sekali lagi, ia membandingkan Yosua secara sangat positif dengan Musa, yang usianya hanya terpaut sepuluh tahun lebih panjang (lihat Ul. 34:7). Umur panjang merupakan salah satu tanda perkenanan dan berkat TUHAN (lihat Kel. 20:12; Ams. 16:31; Ef. 6:3). Usia Yosua yang panjang menunjukkan bahwa TUHAN sendiri berkenan mengakui kesetiaan pelayanannya.

    Ketiga, Yosua dikuburkan ”di daerah milik pusakanya” (24:30; lihat tafsiran atas 13:6b–7). Sebagaimana dicatat oleh penulis kita sebelumnya dalam kitab ini, kota ”Timnat-Serah” secara khusus dianugerahkan kepada Yosua dan kaum keluarganya sebagai milik pusaka yang abadi ”sesuai dengan titah TUHAN” (19:50). Dalam pertemuan-pertemuan rayanya, Yosua telah memperingatkan bahwa siapa pun yang melangkahi perjanjian akan dilenyapkan ”dari tanah yang baik ini” (23:15). Penguburannya di tanah milik pusakanya sendiri membuktikan bahwa ia tetap setia kepada TUHAN.

    Kitab Suci Perjanjian Lama kerap memberikan penghormatan tinggi kepada para pemimpin yang tetap menjadi hamba-hamba TUHAN yang setia sepanjang masa hidup mereka. Mereka tidak hanya membawa berkat bagi diri mereka sendiri, melainkan kesetiaan mereka juga mendatangkan manfaat yang tak terhitung banyaknya bagi seluruh umat Israel. Teladan hidup Yosua ini juga menjadi standar dan teladan luhur bagi para pemimpin di dalam gereja. Semangat masa muda memang dapat memajukan Kerajaan Allah dengan cara-cara yang luar biasa, namun seorang pemimpin yang berpaut erat kepada TUHAN hingga akhir hayatnya akan meninggalkan warisan yang bertahan lama.


    Kesetiaan Pelayanan Bangsa Israel (24:31–33)

    Setelah menarik perhatian pembaca pada dampak mendalam dari pertemuan-pertemuan raya tersebut terhadap kehidupan pribadi Yosua, penulis kita beralih menyoroti seluruh bangsa (24:31–33). Ia merujuk kepada ”orang Israel”, sebuah sebutan umum untuk seluruh suku beserta para pemimpin mereka. Bangsa Israel telah mendengarkan peringatan serta teguran tegas dari Yosua, dan mereka telah menyambut panggilannya untuk melakukan pembaruan perjanjian. Mengikuti komitmen pribadi Yosua, mereka menjawab: ”Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita” (24:18). Di sini, penulis kita menegaskan bahwa umat Israel benar-benar menepati komitmen mereka. ”Orang Israel beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua” (24:31). Sekali lagi, penulis kita menekankan bahwa mereka ”beribadah” (melayani), sebuah kaitan tematis yang sangat kuat dengan pertemuan-pertemuan raya Yosua (lihat 24:29–31). Lebih daripada itu, ia menguraikan bahwa pelayanan dan ibadah yang setia dari umat Israel ini berlanjut terus melintasi ”sepanjang zaman para tua-tua yang hidup lebih lama dari pada Yosua” (24:31). Para tua-tua ini ”mengenal” — yakni telah mengalami secara langsung dalam pengalaman hidup mereka — ”segenap perbuatan yang dilakukan TUHAN bagi orang Israel” (24:31). Mereka telah menyaksikan secara langsung dan turut mengambil bagian dalam berbagai kemenangan di Kanaan, pembagian tanah milik pusaka suku-suku, serta pertemuan-pertemuan raya yang dipimpin Yosua (lihat tafsiran atas 23:1–2). Keterangan ini menunjukkan bahwa mereka sepenuhnya menyadari segala kemurahan dan berkat yang telah dicurahkan Allah, sekaligus memahami tantangan-tantangan besar yang dihadapi Israel di masa lalu maupun dalam situasi mereka saat itu. Para tua-tua ini menjadi teladan dalam kesetiaan mereka kepada TUHAN dan memimpin seluruh bangsa Israel untuk melangkah di jalan ketaatan yang sama. Untuk mengilustrasikan hal ini, penulis kita secara singkat memaparkan dua cara di mana para tua-tua tersebut memimpin umat Israel dalam melayani Allah.

    Pertama, umat Israel menguburkan ”tulang-tulang Yusuf” yang telah ”dibawa orang Israel dari Mesir” (24:32). Berabad-abad sebelumnya[^20], Yusuf telah menyuruh saudara-saudaranya bersumpah bahwa mereka akan membawa tulang-tulangnya ke Tanah Perjanjian (lihat Kej. 50:25), dan Musa membawa serta tulang-tulang tersebut ketika ia memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir (lihat Kel. 13:19). Selepas kematian Yosua, sesungguhnya sangat mudah bagi umat Israel untuk mengabaikan atau melupakan amanat ini, namun penulis kita melaporkan bahwa ”dikuburkan mereka” tulang-tulang Yusuf di tempat yang sangat istimewa, yaitu ”di tanah milik yang dibeli Yakub” (24:32; lihat Kej. 33:19). Pengaruh dari pertemuan-pertemuan raya Yosua begitu mendalam sehingga umat Israel memastikan bahwa kerinduan Yusuf, sumpah para leluhur, serta jerih lelah Musa benar-benar dihormati dan digenapi sebagaimana mestinya. Mereka membaringkan tulang-tulang Yusuf di tanah yang ditentukan bagi ”bani Yusuf menjadi milik pusaka mereka” (24:32)[^21] (lihat 16:1–4), sama seperti mereka membaringkan Yosua untuk beristirahat di tanah milik pusakanya sendiri (lihat 24:30)[^22].

    Pengabdian luar biasa dari bangsa Israel ini bersumber dari hati yang berpaut erat kepada TUHAN—suatu sikap batin yang sangat diharapkan oleh Yosua untuk mewarnai kehidupan bangsa itu pasca-pertemuan raya. Hati yang telah dipersembahkan seutuhnya kepada TUHAN di setiap zaman akan selalu berikhtiar sekuat tenaga untuk menghormati dan melayani kebutuhan serta kerinduan sesama. Kristus sendiri memberikan teladan agar kita ”dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Flp. 2:3).

    Kedua, penulis kita juga mengilustrasikan bagaimana bangsa Israel setia beribadah kepada TUHAN di bawah kepemimpinan para tua-tua yang hidup melampaui masa Yosua dengan mencatat kematian dan penguburan Eleazar dalam 24:33. Eleazar adalah ”anak Harun” dan menjabat sebagai imam besar tatkala Yosua memimpin Israel. Namanya muncul sebanyak delapan kali di dalam kitab ini dan senantiasa digambarkan dalam sudut pandang yang sangat positif. Penggambaran Eleazar yang konsisten ini, beserta fakta bahwa penulis kita mengakhiri kitabnya dengan memberikan perhatian khusus kepada Eleazar dan putranya, Pinehas, memberikan indikasi kuat bahwa sang penulis sendiri adalah seorang anggota kaum keimaman. Terlepas dari hal tersebut, penulis kita dengan sukacita menutup kitabnya dengan menunjukkan bahwa kesetiaan Israel kepada TUHAN tercermin nyata dalam penghormatan tinggi yang mereka berikan kepada imam besar mereka. Eleazar dikuburkan ”di bukit yang diberikan kepada Pinehas, anaknya itu ... di pegunungan Efraim” (24:33).

    Sekali lagi, penulis kita mengarahkan perhatian para pembacanya kepada penekanan utama dari pertemuan-pertemuan raya Yosua. Di sana, Yosua berulang kali menegaskan bahwa umat Israel harus menolak segala bentuk penyembahan berhala demi beribadah hanya kepada TUHAN (lihat 23:6–8). Penghormatan yang diberikan Israel kepada Imam Besar Eleazar membuktikan bahwa mereka benar-benar melakukan hal tersebut. Sebagai buah dari pertemuan-pertemuan raya Yosua, umat Israel senantiasa mencari petunjuk TUHAN, memperoleh pengampunan dosa, serta mempersembahkan puji-pujian dan ucapan syukur melalui ibadah kepada Allah yang benar. Sebagai para pengikut Kristus, ujian atas kesetiaan kita terletak pada pengabdian kita dalam ibadah kepada TUHAN melalui perantaraan ”Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah” (Ibr. 4:14).


    Kepustakaan (Bibliography)

    • Boice, James M. Joshua: An Expositional Commentary. Boice Commentary Series. Grand Rapids, MI: Baker Books, 2006.
    • Butler, Trent C. Joshua. Word Biblical Themes. Grand Rapids, MI: Zondervan, 1991.
    • Davis, Dale R. Joshua: No Falling Words. Focus on the Bible. Fearn, Scotland: Christian Focus Publications, 2000.
    • Hess, Richard S. Joshua: An Introduction and Commentary. Volume 6. Nottingham, UK: Inter-Varsity Press, 2008.
    • Howard Jr., David M. Joshua. The New American Commentary. Nashville, TN: Broadman & Holman Publishers, 1998.
    • Woudstra, Marten H. The Book of Joshua. The New International Commentary on the Old Testament. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1981.

    [^1]: Catatan Penerjemah: Teks naskah asli mencantumkan rujukan ayat 1:2, namun kutipan firman perjanjian tersebut ("seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa") termaktub dalam Yosua 1:3.

    [^2]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis bahwa sangkakala tanduk domba dan nafiri harus ditiup "tujuh kali" (seven times) pada hari ketujuh; Yosua 6:5 (TB) berbicara tentang sangkakala yang "panjang bunyinya", sedangkan tujuh kali adalah jumlah putaran mengelilingi kota (6:4, 15).

    [^3]: Catatan Penerjemah: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Yeremia 32:11, yang merupakan salah cetak untuk teks pembalasan kesalahan orang tua kepada anak-anaknya dalam Yeremia 32:18.

    [^4]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Yosua 20:1, yang merupakan salah cetak untuk kutipan firman dan ketetapan perantaraan Musa dalam Yosua 20:2.

    [^5]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 21:44, yang merupakan salah cetak untuk teks Yosua 21:43 ("negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka").

    [^6]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis "Joseph", yang merupakan salah cetak untuk Yosua (Joshua).

    [^7]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 21:7, 9, yang merupakan salah cetak untuk rujukan perihal Silo (bdk. Yos. 18:1; 19:51; 21:2).

    [^8]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 2:6, 7, yang merupakan salah cetak untuk Yosua 22:6–7.

    [^9]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 22:2, yang merupakan salah cetak untuk teks Yosua 22:3 ("Kamu tidak meninggalkan saudara-saudaramu..."). Kalimat aslinya juga berbunyi "had proven unfaithful" (telah berlaku tidak setia), yang merupakan salah cetak untuk "had not proven unfaithful" sesuai dengan 22:3.

    [^10]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 2:10, yang merupakan salah cetak untuk Yosua 22:10.

    [^11]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 22:29, yang merupakan salah cetak untuk teks Yosua 22:27 ("supaya mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu").

    [^12]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 23:13, yang merupakan salah cetak untuk teks Yosua 23:14 ("aku akan menempuh jalan segala yang fana").

    [^13]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 23:4, yang merupakan salah cetak untuk teks Yosua 23:3 ("TUHAN, Allahmu, Dialah yang telah berperang bagi kamu").

    [^14]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Imamat 16:1, yang merupakan salah cetak untuk larangan penyembahan berhala (bdk. Im. 19:4 atau 26:1).

    [^15]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 21:7, 9, yang merupakan salah cetak untuk rujukan perihal Silo (bdk. Yos. 18:1; 19:51; 21:2; 22:9).

    [^16]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 23–34, yang merupakan salah cetak untuk Yosua 24:23–24.

    [^17]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Yosua 9:32, yang merupakan salah cetak untuk Yosua 8:32 (di mana Yosua menuliskan salinan hukum Musa pada batu-batu di Gunung Ebal).

    [^18]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 7:16–26, yang merupakan salah cetak untuk upacara pembaruan perjanjian sebelumnya dalam Yosua 8:30–35.

    [^19]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 24:14, yang merupakan salah cetak untuk teks Yosua 23:14 ("sebentar lagi aku akan menempuh jalan segala yang fana").

    [^20]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis "beberapa dekade sebelumnya" (decades earlier); sumpah yang diminta Yusuf dari saudara-saudaranya (Kej. 50:25) terjadi beberapa abad sebelum penguburan tulang-tulangnya oleh Israel.

    [^21]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 24:33, yang merupakan salah cetak untuk teks Yosua 24:32 (penguburan tulang-tulang Yusuf).

    [^22]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 24:32, yang merupakan salah cetak untuk teks Yosua 24:30 (penguburan Yosua di tanah milik pusakanya).