Hakim-Hakim
Tentang Seri Ini:
Artikel ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari The Gospel Coalition (TGC) Bible Commentary untuk Kitab Hakim-Hakim.
Penulis: John Currid, Ph.D. (Chancellor's Professor of Old Testament di Reformed Theological Seminary)
Sumber Asli: The Gospel Coalition Bible Commentary — Judges
Diterjemahkan dan dipublikasikan untuk tujuan edukasi dan non-komersial.
Pengantar Kitab Hakim-Hakim
Latar Belakang Kitab Hakim-Hakim
Kitab Hakim-hakim mencakup rentang waktu antara penaklukan Kanaan di bawah Yosua hingga munculnya monarki di bawah raja pertama Israel, yaitu Saul. Periode ini ditandai oleh kekacauan politik dan kekerasan; anarki merajalela di negeri itu. Latar belakang tersebut ditegaskan oleh kalimat tema kitab ini: “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” Refrein ini bukan hanya bergema di sepanjang kitab (Hak. 17:6; 18:1; 19:1), melainkan kitab ini juga ditutup dengannya (21:25) sebagai semacam rangkuman klimaks dari periode tersebut.
Pernyataan tematis tersebut jelas mencerminkan suasana sosio-politik pada masa itu, di mana otoritas pemerintahan pusat, tentara tetap (standing army), dan bahkan tempat kudus pusat di Silo semuanya tidak disebutkan. Israel hanyalah sebuah konfederasi suku-suku yang longgar. Isi kitab ini mencerminkan ketiadaan kesatuan tersebut, yang kerap menyajikan kisah-kisah suku-suku individual yang saling tumpang tindih secara historis. Namun, kalimat tema tersebut lebih dari sekadar komentar sosio-politik—itu juga merupakan komentar moral. Relativisme telah mulai merebak; inilah masa kebingungan rohani dan kemurtadan (apostasy). Sungguh, setiap orang bertindak sebagai raja bagi dirinya sendiri dan melakukan apa pun yang dipandangnya menyenangkan.
Zaman para hakim merupakan saat yang gelap dan suram dalam sejarah umat perjanjian. Kendati demikian, masa ini juga menjadi kesaksian yang luar biasa mengenai kesetiaan Allah kepada umat-Nya, bahkan di tengah-tengah dosa keji mereka. Anugerah Allah kepada mereka di tengah kefasikan mereka sungguh menakjubkan. Janji-janji Allah kepada umat-Nya adalah pasti dan benar; dan bagaimana pun kuasa kegelapan berupaya menggagalkan rencana-rencana Allah, mereka tidak akan pernah berhasil. Pusat janji-janji Allah bersifat Mesianis (mis. Kej. 3:15; 49:10). Keseluruhan Kitab Hakim-hakim, dengan deretan para pembebas yang jatuh dan antihero, berseru bagi kedatangan pembebas yang sejati. Sementara setiap pembebasan dari musuh-musuh umat Allah dalam Kitab Hakim-hakim hanyalah bersifat sementara dan berumur pendek, Mesias yang dijanjikan akan membawa penebusan yang kekal.
Struktur Kitab Hakim-Hakim
Kendati pada pandangan pertama Kitab Hakim-hakim tampak seperti kumpulan cerita yang terpecah-pecah dan tak saling berhubungan, kenyataannya berbeda. Kitab ini menyajikan catatan yang sangat terstruktur dan sangat terpola mengenai periode tersebut. Cerita-cerita individual di dalamnya didasarkan pada suatu pola atau siklus yang didefinisikan dalam Hakim-hakim 2:11–19, menyajikan refrein monoton yang menetapkan sejarah Israel pada masa ini. Sketsa yang berulang tersebut merupakan perangkat sastra yang sengaja digunakan oleh sang penulis. Polanya adalah sebagai berikut:
- Kemurtadan (2:11–13). Adegan pembuka dari siklus ini adalah ketidaksetiaan bangsa Israel kepada TUHAN (Yahweh) dan tindakan mereka menyembah ilah-ilah lain. Mereka “meninggalkan” (disebutkan dua kali) TUHAN dan menggantikannya dengan ilah-ilah lain untuk disembah. Penyembahan berhala adalah dosa utama Israel pada zaman para hakim. Penulis menegaskan hal ini dalam Hakim-hakim 2:11, di mana kata “jahat” dalam bahasa aslinya didahului oleh artikel definit; dengan kata lain, penyembahan berhala adalah kejahatan (“the evil”) pada masa itu.
- Pendisiplinan (2:14–15). Tahap kedua dari siklus ini memaparkan respons Allah terhadap ketidaksetiaan Israel. Dia merespons dengan murka yang adil dan kemudian bertindak dengan menyerahkan Israel ke dalam tangan musuh-musuhnya. Allah menghukum dan mendisiplinkan umat-Nya yang tersesat, namun Dia melakukannya demi tujuan pemulihan (restorative) agar mereka berbalik kepada-Nya dan kepada jalan yang benar (bdk. Am. 4:6–10; Ibr. 12:4–11). Umat kemudian berada dalam kesesakan; mereka mengerang (Hak. 2:18) dan berseru memohon kelepasan dari penindasan (mis. 3:15; 4:3; 6:7).
- Penyelamatan (2:16, 18). Ketiga, Allah membangkitkan seorang “hakim” untuk membebaskan umat-Nya dari musuh-musuh mereka selama jangka waktu tertentu. Istilah Ibrani untuk “hakim” di sini tidak digunakan dalam pengertian seseorang yang memutuskan perkara-perkara pengadilan, kendati fungsi tersebut mungkin menjadi bagian dari tugas jabatannya (mis. 4:5). Sebaliknya, kata ini merujuk kepada seseorang yang membebaskan dari ketidakadilan, dan kerap kali melakukannya melalui kekuatan militer. Sebagian besar isi dari setiap kisah memusatkan perhatian pada aspek siklus ini.
- Pengulangan (2:17). Sekalipun para hakim mungkin berhasil untuk sementara waktu, bangsa Israel dengan cepat kembali ke jalan-jalan mereka dan mereka “berzinah dengan mengikuti allah lain”. Kata kerja Ibrani untuk “berzinah” digunakan di sini dalam arti kiasan untuk mencerminkan perselingkuhan keagamaan Israel dengan ilah-ilah kafir. Penggunaan bahasa ini deskriptif dan tepat karena banyak dari ilah palsu tersebut adalah dewa-dewi kesuburan.
- Dosa yang Kian Membesar (2:19). Orang-orang Ibrani bukan hanya kembali pada jalan-jalan mereka yang jahat, melainkan masuk ke dalam kebobrokan, suatu spiral ke bawah menuju dosa yang lebih dalam. Dosa penyembahan berhala berada di pusat persoalan tersebut, dan orang Israel bersikap “keras kepala” dalam mempertahankan penyembahan berhala itu. Kata Ibrani untuk “keras kepala” ini sebelumnya digunakan untuk menggambarkan hati Firaun yang “keras” dalam penolakannya untuk mengizinkan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir pada peristiwa Keluaran.
Siklus atau pola kemerosotan yang menurun ini muncul dalam bentuk lengkapnya sebanyak tujuh kali di dalam kitab ini:
- Otniel (3:7–11)
- Ehud (3:12–30)
- Debora (4:1–5:31)
- Gideon (6:1–8:28)
- Abimelekh (8:33–9:57)
- Yefta (10:6–12:7)
- Simson (13:1–16:31)
Angka tujuh kerap melambangkan konsep kesempurnaan di dalam Perjanjian Lama. Pada bagian akhir kitab ini, apa yang disaksikan oleh pembaca adalah anarki total di Israel. Kisah penutup mengenai orang Benyamin yang terdegradasi merupakan titik terendah secara rohani dalam sejarah umat Allah (19:1–21:25)[^1]. Sungguh, “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (21:25).
Tujuan Kitab Hakim-Hakim
Relativisme dan anarki pada zaman para hakim menyiapkan panggung bagi pembentukan institusi monarki di Israel dan, pada akhirnya, bagi kedatangan Sang Raja Mesianis.
Ayat Kunci
”Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.”
— Hakim-hakim 21:25 (TB)
Garis Besar Kitab Hakim-Hakim
- I. Ketidaksetiaan Israel (1:1–3:6)
- A. Kelanjutan Penaklukan Negeri (1:1–26)
- B. Kegagalan Menyelesaikan Penaklukan (1:27–36)
- C. Ketidaktaatan Israel (2:1–3:6)
- II. Siklus Kemerosotan yang Menurun (3:7–16:31)
- A. Otniel (3:7–11)
- B. Ehud (3:12–30) dan Samgar (3:31)
- C. Debora (4:1–5:31)
- D. Gideon (6:1–8:32)
- E. Abimelekh (8:33–9:57)
- F. Tola dan Yair (10:1–5)
- G. Yefta (10:6–12:7)
- H. Ibzan, Elon, dan Abdon (12:8–15)
- I. Simson (13:1–16:31)
- III. Jurang Keberdosaan dan Kekacauan (17:1–21:25)
- A. Mikha, Orang Lewi, dan Suku Dan (17:1–18:31)
- B. Dosa Orang Benyamin (19:1–21:25)
I. Ketidaksetiaan Israel (1:1–3:6)
Kelanjutan Penaklukan Negeri (1:1–26)
"¹Sesudah Yosua mati, orang Israel bertanya kepada TUHAN: ”Siapakah dari pada kami yang harus lebih dahulu maju menghadapi orang Kanaan untuk berperang melawan mereka?”
²Firman TUHAN: ”Suku Yehudalah yang harus maju; sesungguhnya telah Kuserahkan negeri itu ke dalam tangannya.”
³Lalu berkatalah Yehuda kepada Simeon, saudaranya itu: ”Majulah bersama-sama dengan aku ke bagian yang telah diundikan kepadaku dan baiklah kita berperang melawan orang Kanaan, maka akupun akan maju bersama-sama dengan engkau ke bagian yang telah diundikan kepadamu.” Lalu Simeon maju bersama-sama dengan dia.
⁴Maka majulah suku Yehuda, lalu TUHAN menyerahkan orang Kanaan dan orang Feris ke dalam tangan mereka, dan mereka memukul kalah orang-orang itu dekat Bezek, sepuluh ribu orang banyaknya. ⁵Di Bezek mereka menjumpai Adoni-Bezek dan berperang melawan dia, dan mereka memukul kalah orang Kanaan dan orang Feris. ⁶Tetapi Adoni-Bezek melarikan diri, lalu mereka mengejarnya, menangkapnya dan memotong ibu jari dari tangannya dan dari kakinya. ⁷Kata Adoni-Bezek: ”Ada tujuh puluh raja dengan terpotong ibu jari tangan dan kakinya memungut sisa-sisa makanan di bawah mejaku; sesuai dengan yang kulakukan itu, demikianlah dibalaskan Allah kepadaku.” Kemudian ia dibawa ke Yerusalem dan mati di sana.
⁸Sesudah itu bani Yehuda berperang melawan Yerusalem, merebutnya lalu memukulnya dengan mata pedang dan memusnahkan kota itu dengan api.
⁹Kemudian bani Yehuda maju berperang melawan orang Kanaan, yang diam di pegunungan, di Tanah Negeb dan di Daerah Bukit. ¹⁰Lalu suku Yehuda bergerak menyerang orang Kanaan yang diam di Hebron--nama Hebron dahulu adalah Kiryat-Arba--dan memukul kalah Sesai, Ahiman dan Talmai. ¹¹Dari sana mereka bergerak menyerang penduduk Debir. Nama Debir dahulu adalah Kiryat-Sefer.
¹²Berkatalah Kaleb: ”Siapa yang mengalahkan dan merebut Kiryat-Sefer, kepadanya akan kuberikan Akhsa, anakku, menjadi isterinya.” ¹³Dan Otniel, anak Kenas adik Kaleb, merebut kota itu; lalu Kaleb memberikan Akhsa, anaknya, kepadanya menjadi isterinya. ¹⁴Ketika perempuan itu tiba, dibujuknya suaminya untuk meminta sebidang ladang kepada ayahnya. Maka turunlah perempuan itu dari keledainya, lalu berkatalah Kaleb kepadanya: ”Ada apa?” ¹⁵Jawabnya kepadanya: ”Berikanlah kepadaku suatu hadiah; telah kauberikan kepadaku tanah yang gersang, berikanlah juga kepadaku mata air.” Lalu Kaleb memberikan kepadanya mata air yang di hulu dan mata air yang di hilir.
¹⁶Keturunan Hobab, ipar Musa, orang Keni itu, maju bersama-sama dengan bani Yehuda dari kota pohon korma ke padang gurun Yehuda di Tanah Negeb dekat Arad; lalu mereka menetap di antara penduduk di sana.
¹⁷Yehuda maju bersama-sama dengan Simeon, saudaranya itu, lalu mereka memukul kalah orang Kanaan, penduduk Zefat; mereka menumpas kota itu. Sebab itu kota itu dinamai Horma. ¹⁸Selanjutnya suku Yehuda merebut Gaza dengan daerahnya, Askelon dengan daerahnya dan Ekron dengan daerahnya. ¹⁹Dan TUHAN menyertai suku Yehuda, sehingga mereka menduduki pegunungan itu; tetapi mereka tidak dapat menghalau penduduk yang di lembah, sebab orang-orang ini mempunyai kereta-kereta besi. ²⁰Kepada Kaleb telah diberikan Hebron, seperti yang dikatakan Musa dahulu, dan dari sana telah dihalaukannya anak Enak yang tiga itu. ²¹Tetapi orang Yebus, penduduk kota Yerusalem, tidak dihalau oleh bani Benyamin, jadi orang Yebus itu masih diam bersama-sama dengan bani Benyamin di Yerusalem sampai sekarang.
²²Keturunan Yusuf juga maju menyerang Betel, dan TUHAN menyertai mereka. ²³Keturunan Yusuf menyuruh orang mengintai Betel itu--nama kota itu dahulu adalah Lus. ²⁴Ketika pengintai-pengintai itu melihat seorang keluar dari kota itu, maka berkatalah mereka kepadanya: ”Tolong tunjukkan bagaimana kami dapat memasuki kota ini, maka kami akan memperlakukan engkau sebagai sahabat.” ²⁵Lalu ditunjukkannyalah kepada mereka bagaimana mereka dapat memasuki kota itu, dan mereka memukul kota itu dengan mata pedang, tetapi orang itu dengan seluruh kaumnya dibiarkan mereka pergi. ²⁶Orang itu pergi ke negeri orang Het dan mendirikan di sana sebuah kota yang dinamainya Lus. Demikianlah nama kota itu sampai sekarang."
— Hakim-hakim 1:1–26 (TB)
Hakim-hakim 1:1. Ayat pertama dari teks ini dibuka dengan pernyataan yang sudah tidak asing lagi, "sesudah Yosua mati." Kitab Yosua telah dimulai dengan frasa "sesudah Musa... mati" (Yos. 1:1). Pengantar sastra ini mencerminkan kebutuhan akan kepemimpinan baru bagi penaklukan dan pendudukan negeri tersebut. Kini kita akan melihat bahwa suku Yehuda akan memegang kepemimpinan dan menjadi terkemuka di antara suku-suku Israel. Kendati terjadi perubahan kepemimpinan, penaklukan yang sama ini hanya melanjutkan penaklukan dalam Kitab Yosua. Dalam teks aslinya, ayat ini diawali dengan kata "dan", yang memperlihatkan alur yang wajar dari satu kitab ke kitab berikutnya. Jelas bahwa sebagian besar tanah Kanaan belum berada di bawah kendali dan kepemilikan orang Israel. Di bawah Yosua, negeri itu pada awalnya dan secara umum telah ditaklukkan, namun belum diduduki sepenuhnya oleh orang Israel pada waktu itu. Keadaan ini mencerminkan gambaran yang terdapat di dalam Kitab Yosua. Menjelang akhir hidup Yosua, Allah telah berfirman kepadanya, "engkau telah tua dan lanjut umur, dan dari negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki" (Yos. 13:1). Tidak ada pertentangan antara kedua kitab ini dalam hal tersebut.
Hakim-hakim 1:2. TUHAN (Yahweh) memberikan peran utama kepada Yehuda dalam kelanjutan penaklukan negeri ini. Mengapa demikian? Peran ini kemungkinan besar berakar pada Kejadian 49:8–12, di mana Yakub memberikan berkat khusus kepada Yehuda (dan keturunannya): ia akan memerintah atas saudara-saudaranya, dan raja yang agung akan datang darinya. Keunggulan ini sudah tampak dalam Kitab Yosua, di mana suku Yehuda menerima pembagian tanah yang pertama di Kanaan (Yos. 15:1).
Hakim-hakim 1:3. Orang-orang Yehuda mengajak suku Simeon untuk berpartisipasi dalam serangan pembuka melawan orang Kanaan. Mengapa Simeon? Nenek moyang suku mereka, Simeon dan Yehuda, dilahirkan dari ibu yang sama (Kej. 29:33–35). Dan oleh karena dosa Simeon dalam perkara Dina dan penghancuran Sikhem (Kej. 34), suku Simeon dipermalukan dan diberi bagian tanah di dalam wilayah Yehuda (Kej. 49:5–7; Yos. 19:9). Kedua suku ini saling terkait erat dan kepentingan mereka saling bertautan.
Hakim-hakim 1:4–7. Di sini ekspedisi militer pertama dicatat secara singkat. Orang Israel mengalahkan pasukan berkekuatan 10.000 tentara di Bezek, yang diperintah oleh Adoni-Bezek. Namanya berarti "tuan atas Bezek", dan kemungkinan besar merupakan gelar kerajaan. Adoni-Bezek melarikan diri dari pertempuran, namun tertangkap, lalu orang Israel memotong ibu jari tangan dan ibu jari kakinya. Mutilasi ini bukan sekadar hukuman, melainkan agar ia tidak lagi dapat menggenggam senjata atau memiliki keseimbangan untuk terus berperang. Memotong tangan para tawanan merupakan praktik yang lazim di Timur Dekat Kuno. Itu adalah salah satu cara bagi pemenang untuk memastikan jumlah korban tewas dan mempermalukan pihak yang kalah. Adoni-Bezek mengakui keadilan yang ironis dalam tindakan tersebut.
Hakim-hakim 1:8. Tentara Yehuda kemudian membawa Adoni-Bezek bersama mereka ketika mereka menyerang dan merebut Yerusalem. Barangkali ia dijadikan piala kemenangan yang digunakan Yehuda untuk mencemooh penduduk Yerusalem. Bagaimanapun, Yehuda merebut Yerusalem, namun mereka tidak menetap di kota itu. Jelas dari Hakim-hakim 1:21 bahwa orang Yebus kembali mendiami kota itu setelah penaklukan awal ini. Memang, Yerusalem belum benar-benar ditaklukkan dan diduduki oleh orang Israel hingga zaman Daud (2Sam. 5:6–9).
Hakim-hakim 1:9–11. Orang-orang Yehuda melanjutkan penaklukan ini dengan sapuan luas melintasi pegunungan Yehuda, Sefela (atau "daerah perbukitan"), dan Negeb utara. Dua dari tempat yang ditaklukkan disebutkan dalam teks: Hebron (di pegunungan), yang dikalahkan lebih dahulu oleh Kaleb (Yos. 10:36–37), dan Debir (di Negeb), yang dihancurkan dalam kampanye militer selatan pada masa Yosua (Yos. 10:38–39). Sebagian komentator percaya bahwa catatan Kitab Hakim-hakim ini sekadar elaborasi atas kisah-kisah Kitab Yosua; namun yang lain meyakininya sebagai narasi penaklukan ulang (re-conquest).
Hakim-hakim 1:12–15. Kaleb menawarkan hadiah berupa putrinya dalam pernikahan kepada siapa pun yang merebut Debir. Otniel, yang kelak menjadi hakim pertama dalam siklus para hakim (Hak. 3:7–11), menyambut panggilan itu, merebut Debir, dan mengambil Akhsa menjadi istrinya. Sebagai mas kawinnya, Akhsa membujuk Otniel untuk meminta sebidang tanah kepada Kaleb. Kaleb memberi mereka tanah di Negeb di mana curah hujan minim. Maka, Akhsa meminta dari ayahnya hak atas air bagi tanah yang telah mereka terima.
Hakim-hakim 1:16. Keterangan sisipan ini memaparkan apa yang terjadi pada orang Keni yang merupakan keturunan mertua Musa, yaitu Yitro (Kel. 3:1)[^2]. Rupanya mereka bepergian bersama tentara Yehuda dari Yerikho, "kota pohon korma", menuju kota Arad di Negeb. Di sanalah mereka menetap. Keterangan sisipan ini juga bertujuan untuk meletakkan dasar bagi kisah selanjutnya di dalam kitab ini, di mana beberapa orang Keni bermigrasi ke tanah Naftali di utara (Hak. 4:11). Namun demikian, sebagian besar orang Keni tetap tinggal di Negeb (1Sam. 15:6–7).
Hakim-hakim 1:17–26. Bagian penutup dari perikop ini memperlihatkan bahwa suku-suku Yehuda, Benyamin, Efraim, dan Manasye ("keturunan Yusuf") meraih beberapa keberhasilan militer dalam penaklukan yang sedang berlangsung. Sebagai contoh, Yehuda merebut Horma dan tiga kota di dataran Filistin. Kendati demikian, teks ini dengan jelas menggarisbawahi sifat penaklukan dan pendudukan negeri yang belum selesai dan tidak lengkap. Realitas ini disajikan dalam dua cara. Pertama, suku-suku tersebut tidak mampu menghalau sebagian penduduk asli. Teks ini secara khusus menyebutkan fakta bahwa orang-orang Yehuda menduduki daerah pegunungan, tetapi mereka tidak dapat menghalau orang Kanaan dari dataran. Orang Kanaan memiliki keunggulan militer berupa kereta-kereta perang. Selain itu, bani Benyamin tidak dapat menghalau orang Yebus di Yerusalem, dan kota itu belum direbut serta diduduki hingga zaman Daud. Kedua, sebagaimana telah disebutkan, suku-suku Ibrani menaklukkan kota-kota musuh, tetapi tidak menetap di dalamnya. Sering kali kota-kota tersebut kembali ke dalam kepemilikan dan pendudukan orang Kanaan. Hal itu nyata terjadi pada penaklukan Yehuda atas Gaza, Askelon, dan Ekron: ketiga kota itu kelak berada di bawah hegemoni bangsa Filistin dan menjadi bagian dari pentapolis mereka (atau "lima kota utama").
Allah telah memerintahkan Israel untuk menduduki seluruh negeri, menghalau musuh-musuh mereka, dan menetap di dalamnya (mis. Ul. 6:18–19). Gagasan pokok dari bagian ini adalah untuk menunjukkan bahwa Israel gagal menyelesaikan penaklukan tersebut. Hal ini menjadi peringatan dini di dalam kitab ini bahwa penduduk asli akan menjadi persoalan terus-menerus dan jerat bagi bangsa Israel. Hal ini akan tersingkap seiring terbentangnya Kitab Hakim-hakim.
Kegagalan Menyelesaikan Penaklukan (1:27–36)
"²⁷Suku Manasye tidak menghalau penduduk Bet-Sean dan penduduk segala anak kotanya, penduduk Taanakh dengan segala anak kotanya, penduduk Dor dengan segala anak kotanya, penduduk Yibleam dengan segala anak kotanya, dan penduduk Megido dengan segala anak kotanya, sebab orang Kanaan itu berkeras untuk tetap diam di negeri itu.
²⁸Setelah orang Israel menjadi kuat, mereka membuat orang Kanaan itu menjadi orang rodi dan tidak menghalau mereka sama sekali.
²⁹Suku Efraimpun tidak menghalau orang Kanaan yang diam di Gezer, sehingga orang Kanaan itu tetap diam di tengah-tengah mereka di Gezer.
³⁰Suku Zebulon tidak menghalau penduduk Kitron dan penduduk Nahalol, sehingga orang Kanaan itu tetap diam di tengah-tengah mereka, walaupun sebagai orang rodi.
³¹Suku Asyer tidak menghalau penduduk Ako, penduduk Sidon serta Ahlab, Akhzib, Helba, Afek dan Rehob, ³²sehingga orang Asyer itu diam di tengah-tengah orang Kanaan, penduduk asli di negeri itu, sebab orang-orang itu tidak dihalaunya.
³³Suku Naftali tidak menghalau penduduk Bet-Semes dan penduduk Bet-Anat, sehingga mereka diam di tengah-tengah orang Kanaan, penduduk asli di negeri itu; tetapi penduduk Bet-Semes dan Bet-Anat itu menjadi orang rodi bagi mereka.
³⁴Orang Amori mendesak bani Dan ke sebelah pegunungan dan tidak membiarkan mereka turun ke lembah, ³⁵dan orang Amori itu berkeras untuk tetap diam di Har-Heres, di Ayalon dan di Saalbim, walaupun mereka mendapat tekanan berat dari keturunan Yusuf, sebab mereka menjadi orang rodi.
³⁶Daerah orang Amori itu mulai dari pendakian Akrabim, dari Sela, terus ke atas."
— Hakim-hakim 1:27–36 (TB)
Hakim-hakim 1:27. Bagian ini menegaskan kegagalan seluruh suku Israel dalam menghalau orang Kanaan dari tanah Kanaan. Orang Israel berhasil memperoleh pijakan yang kuat di daerah pegunungan tengah, tetapi orang Kanaan ”berkeras” untuk tetap tinggal di dataran rendah Kanaan. Daerah-daerah yang secara khusus disebutkan belum ditaklukkan oleh orang Israel mencakup Lembah Yizreel, wilayah pesisir, dan bagian-bagian dari Sefela (atau ”daerah perbukitan”).
Hakim-hakim 1:28–36. Hubungan antara orang Israel dan penduduk asli berlangsung penuh perselisihan. Kadang-kadang orang Israel tampak berada di atas angin, menempatkan orang Kanaan ke dalam kerja paksa (rodi). Terkadang orang Kanaan lebih kuat dan melawan serbuan-serbuan Israel. Jadi, sebagai contoh, milik pusaka suku Dan terletak di sepanjang pantai Mediterania, termasuk pelabuhan kuno Yafo. Orang Amori (atau ”orang Kanaan”) berhasil menentang pendudukan orang Dan atas daerah itu dan memukul mundur mereka kembali ke daerah pegunungan. Kelak suku Dan bermigrasi jauh ke utara (Hak. 18).
Batas-batas geografis antara permukiman orang Israel dan orang Kanaan tidak tergariskan dengan jelas. Hal ini terbukti dari status Gezer yang terletak di daerah perbukitan Kanaan. Gezer adalah negara-kota Kanaan yang penting. Kota ini terletak di wilayah yang telah diwarisi oleh suku Efraim; kendati demikian, orang Efraim tidak mampu menghalau orang Kanaan dari Gezer. Sebaliknya, teks ini memberitahukan kepada kita bahwa penduduk kota itu terus tinggal di tengah-tengah orang Israel (”di tengah-tengah mereka”). Kenyataan ini tentu menimbulkan ancaman besar bagi Israel. Gezer, pada kenyataannya, tidak berada di bawah kedaulatan Israel hingga zaman Salomo (1Raj. 9:15–17).
Ketidaktaatan Israel (2:1–3:6)
"¹Lalu Malaikat TUHAN pergi dari Gilgal ke Bokhim dan berfirman: ”Telah Kutuntun kamu keluar dari Mesir dan Kubawa ke negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangmu, dan Aku telah berfirman: Aku tidak akan membatalkan perjanjian-Ku dengan kamu untuk selama-lamanya, ²tetapi janganlah kamu mengikat perjanjian dengan penduduk negeri ini; mezbah mereka haruslah kamu robohkan. Tetapi kamu tidak mendengarkan firman-Ku. Mengapa kamu perbuat demikian? ³Lagi Aku telah berfirman: Aku tidak akan menghalau orang-orang itu dari depanmu, tetapi mereka akan menjadi musuhmu dan segala allah mereka akan menjadi jerat bagimu.” ⁴Setelah Malaikat TUHAN mengucapkan firman itu kepada seluruh Israel, menangislah bangsa itu dengan keras. ⁵Maka tempat itu dinamai Bokhim. Lalu mereka mempersembahkan korban di sana kepada TUHAN.
⁶Setelah Yosua melepas bangsa itu pergi, maka pergilah orang Israel itu, masing-masing ke milik pusakanya, untuk memiliki negeri itu. ⁷Dan bangsa itu beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua dan sepanjang zaman para tua-tua yang hidup lebih lama dari pada Yosua, dan yang telah melihat segenap perbuatan yang besar, yang dilakukan TUHAN bagi orang Israel. ⁸Dan Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, mati pada umur seratus sepuluh tahun; ⁹ia dikuburkan di daerah milik pusakanya di Timnat-Heres, di pegunungan Efraim, di sebelah utara gunung Gaas. ¹⁰Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.
¹¹Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal. ¹²Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN. ¹³Demikianlah mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret. ¹⁴Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel. Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan perampok dan menjual mereka kepada musuh di sekeliling mereka, sehingga mereka tidak sanggup lagi menghadapi musuh mereka. ¹⁵Setiap kali mereka maju, tangan TUHAN melawan mereka dan mendatangkan malapetaka kepada mereka, sesuai dengan apa yang telah diperingatkan kepada mereka oleh TUHAN dengan sumpah, sehingga mereka sangat terdesak.
¹⁶Maka TUHAN membangkitkan hakim-hakim, yang menyelamatkan mereka dari tangan perampok itu. ¹⁷Tetapi juga para hakim itu tidak mereka hiraukan, karena mereka berzinah dengan mengikuti allah lain dan sujud menyembah kepadanya. Mereka segera menyimpang dari jalan yang ditempuh oleh nenek moyangnya yang mendengarkan perintah TUHAN; mereka melakukan yang tidak patut. ¹⁸Setiap kali apabila TUHAN membangkitkan seorang hakim bagi mereka, maka TUHAN menyertai hakim itu dan menyelamatkan mereka dari tangan musuh mereka selama hakim itu hidup; sebab TUHAN berbelas kasihan mendengar rintihan mereka karena orang-orang yang mendesak dan menindas mereka. ¹⁹Tetapi apabila hakim itu mati, kembalilah mereka berlaku jahat, lebih jahat dari nenek moyang mereka, dengan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya; dalam hal apapun mereka tidak berhenti dengan perbuatan dan kelakuan mereka yang tegar itu.
²⁰Apabila murka TUHAN bangkit terhadap orang Israel, berfirmanlah Ia: ”Karena bangsa ini melanggar perjanjian yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyang mereka, dan tidak mendengarkan firman-Ku, ²¹maka Akupun tidak mau menghalau lagi dari depan mereka satupun dari bangsa-bangsa yang ditinggalkan Yosua pada waktu matinya, ²²supaya dengan perantaraan bangsa-bangsa itu Aku mencobai orang Israel, apakah mereka tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, atau tidak.” ²³Demikianlah TUHAN membiarkan bangsa-bangsa itu tinggal dengan tidak segera menghalau mereka; mereka tidak diserahkan-Nya ke dalam tangan Yosua.
³:¹Inilah bangsa-bangsa yang dibiarkan TUHAN tinggal untuk mencobai orang Israel itu dengan perantaraan mereka, yakni semua orang Israel yang tidak mengenal perang Kanaan. ²--Maksudnya hanyalah, supaya keturunan-keturunan orang Israel yang tidak mengenal perang yang sudah-sudah, dilatih berperang oleh TUHAN. ³Yang tinggal ialah kelima raja kota orang Filistin dan semua orang Kanaan, orang Sidon dan orang Hewi, yang mendiami pegunungan Libanon, dari gunung Baal-Hermon sampai ke jalan yang menuju ke Hamat. ⁴Mereka itu ada di sana, supaya Ia mencobai orang Israel dengan perantaraan mereka untuk mengetahui, apakah mereka mendengarkan perintah yang diberikan TUHAN kepada nenek moyang mereka dengan perantaraan Musa. ⁵Demikianlah orang Israel itu diam di tengah-tengah orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. ⁶Mereka mengambil anak-anak perempuan, orang-orang itu menjadi isteri mereka dan memberikan anak-anak perempuan mereka kepada anak-anak lelaki orang-orang itu, serta beribadah kepada allah orang-orang itu."
— Hakim-hakim 2:1–3:6 (TB)
Hakim-hakim 2:1–5. Pada ayat-ayat pembuka bagian ini, Malaikat TUHAN datang menemui bangsa Israel untuk meminta pertanggungjawaban atas kegagalan mereka dalam menghalau orang Kanaan dari negeri itu. Siapakah figur ini? Malaikat TUHAN berfirman seolah-olah Dia adalah Allah. Identifikasi tersebut dibuat di bagian-bagian lain dalam Perjanjian Lama (mis. Hak. 13:17–22). John Calvin berpendapat bahwa Malaikat TUHAN adalah Mesias, yaitu penampakan Kristus sebelum inkarnasi. Calvin menyatakan: ”Namun, marilah kita menyelidiki siapakah Malaikat ini? ... Para pengajar gereja purba telah memahaminya dengan tepat [bahwa Dia adalah] Anak Allah yang Kekal sehubungan dengan jabatan-Nya sebagai Perantara.”[^3]
Malaikat TUHAN datang dari Gilgal, yang merupakan perkemahan utama orang Israel di Lembah Yordan (Yos. 9:6; 10:6; 14:6), ke Bokhim. Di sanalah Malaikat TUHAN menegur Israel. Kitab ini telah menyoroti kegagalan militer Israel dalam menghalau orang Kanaan, dan kini alasan diberikan bagi kegagalan mereka: mereka tidak menaati perintah-perintah Allah. Oleh karena itu, TUHAN menyerahkan umat itu kepada konsekuensi ketidaktaatan mereka. Dengan demikian, sejak saat itu orang Kanaan akan menjadi duri di sisi mereka. Respons bangsa itu terhadap penghakiman ini adalah bahwa mereka ”menangis”. Kata kerja ini merupakan permainan kata dengan nama tempat tersebut: Bokhim berarti ”orang-orang yang menangis”.
Hakim-hakim 2:6–10. Penulis kitab suci di sini mencatat kematian Yosua, menyajikan catatan yang pada dasarnya serupa dengan yang terdapat dalam Yosua 24:28–31. Penulis Kitab Yosua menyajikan kisahnya untuk menunjukkan kesetiaan dan ketaatan Israel kepada Yahweh sepanjang zaman Yosua dan para tua-tua. Sebaliknya, penulis Kitab Hakim-hakim menyisipkan narasi kematian Yosua untuk memperlihatkan ketidaksetiaan generasi penerus sesudah Yosua dan para tua-tua itu. Kenyataan tersebut ditegaskan dengan membandingkan kedua generasi itu. Pernyataan bahwa generasi berikutnya ”tidak mengenal” TUHAN bukan berarti mereka belum mendengar tentang Yahweh dan karya-Nya dalam penaklukan awal, melainkan bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan langsung baik mengenai Dia maupun pekerjaan-Nya bagi Israel. Mereka hanya telah murtad.
Hakim-hakim 2:11–19. Mengingat perikop ini telah dibahas sebagai kerangka struktural periode para hakim dalam pengantar kitab ini, kita hanya akan menambahkan beberapa catatan yang belum diberikan di sana. Definisi yang sangat jelas mengenai kemurtadan Israel disajikan dalam Hakim-hakim 2:12–13. Pertama, ”mereka meninggalkan TUHAN” (disebutkan dua kali); artinya, mereka berhenti melayani dan menyembah-Nya. Terjemahan KJV menerjemahkan frasa tersebut sebagai ”they forsook the LORD”. Dan sebagai gantinya, orang Israel ”beribadah” kepada ilah-ilah orang Kanaan. Mereka berjalan mengikuti para Baal. Kata ”Baal” berarti ”tuan, majikan”, dan merujuk kepada banyak ilah di Timur Dekat Kuno. Bagi orang Kanaan, Baal adalah dewa utama: ia merupakan simbol kesuburan dan dewa hujan (bdk. 1Raj. 17–18, di mana terjadi pertarungan sengit antara Yahweh dan Baal mengenai penurunan hujan). Orang Israel juga beribadah kepada para Asytoret. Asytoret adalah bentuk jamak dari Asyera, yang merupakan permaisuri El, pemimpin panteon Kanaan. Penyembahan kepadanya dikaitkan dengan tiang atau pohon kultus, yang mencerminkan kesuburan (Ul. 7:5; 16:21). Ketika digunakan dalam bentuk jamak, nama ini dapat merujuk pada dewi-dewi secara umum. Tindakan Israel ini merupakan penolakan terhadap monoteisme dan berpegang teguh pada politeisme.
Respons Allah terhadap kemurtadan Israel berlangsung cepat dan pasti. Penyembahan berhala mereka adalah ”yang jahat” di mata TUHAN, dan karena itu Dia menempatkan mereka ke dalam perhambaan kepada bangsa-bangsa lain yang menjarah mereka. TUHAN telah memperingatkan mereka dan mengangkat sumpah perjanjian bahwa hal ini akan menimpa Israel jika mereka membelot kepada politeisme kafir (lihat Im. 26:14–33; Ul. 28:15–68).
Kendati demikian, sifat panjang sabar Allah terpancar saat Dia membangkitkan para pembebas bagi umat-Nya; Dia tergerak oleh belas kasihan kepada mereka karena mereka sangat tertindas. Namun, sesudah setiap pembebasan, orang Israel menolak para pemimpin yang telah Allah berikan kepada mereka dan menolak firman Allah kepada mereka. Teks ini menggunakan gambaran yang kuat, yang menyatakan bahwa Israel ”berzinah” dengan mengikuti ilah-ilah kafir: mereka tidak setia kepada Allah dengan berzinah.
Hakim-hakim 2:20–22. Murka Yahweh terhadap Israel membawa konsekuensi yang menyakitkan saat Dia menyerahkan mereka kepada dosa mereka. Di sini Allah menyebut mereka sebagai ”bangsa ini”; kata yang digunakan Allah untuk menyebut ”bangsa” di sini bukanlah istilah lazim yang digunakan bagi Israel, melainkan yang biasanya digunakan untuk bangsa-bangsa kafir. Karena Israel berulang kali melanggar perjanjian, Allah memandang mereka seperti bangsa-bangsa yang tidak percaya. Dia terus menguji Israel, dan Israel terus-menerus gagal.
Hakim-hakim 2:23. Hasil akhirnya adalah bahwa Allah ”membiarkan” bangsa-bangsa lain itu tinggal. Kata kerja tersebut dalam bahasa Ibrani pada umumnya berarti ”memberikan ketenteraman/perhentian”; Yahweh memberikan perhentian kepada bangsa-bangsa kafir. Perhentian ini, secara ironis, adalah apa yang telah Allah janjikan kepada Israel (lihat Yos. 1:13, 15). Namun karena ketidaktaatan mereka, Israel tidak akan memiliki perhentian sejati sepanjang periode ini.
Hakim-hakim 3:1–5. Ayat-ayat pembuka pasal ketiga memaparkan rincian spesifik mengenai bangsa-bangsa yang tidak dihalau oleh orang Israel. Kelompok-kelompok yang disebutkan di sini terletak di Galilea Atas, dataran pesisir utara, dan dataran pesisir selatan (wilayah-wilayah ini dihuni oleh orang Fenisia dan orang Filistin). Akibatnya, Israel hidup di tengah-tengah banyak kelompok bangsa yang berbeda. Allah membiarkan bangsa-bangsa ini di negeri itu karena dua alasan: (1) agar generasi penerus orang Israel dapat mempelajari taktik peperangan, dan dengan demikian terlatih dalam pertempuran, dan (2) untuk menguji kesetiaan Israel kepada TUHAN.
Hakim-hakim 3:6. Israel gagal menaati TUHAN. Di dalam hukum-Nya, Allah telah memerintahkan Israel agar tidak melakukan kawin campur dengan bangsa-bangsa kafir di negeri itu (mis. Kel. 34:16; Ul. 7:3). Kendati demikian, akulturasi mereka berlangsung cepat, sebuah pertanda buruk bagi zaman para hakim.
II. Siklus Kemerosotan yang Menurun (3:7–16:31)
Otniel (3:7–11)
"⁷Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera. ⁸Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, sehingga Ia menjual mereka kepada Kusyan-Risyataim, raja Aram-Mesopotamia dan orang Israel menjadi takluk kepada Kusyan-Risyataim delapan tahun lamanya. ⁹Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN, maka TUHAN membangkitkan seorang penyelamat bagi orang Israel, yakni Otniel, anak Kenas adik Kaleb. ¹⁰Roh TUHAN menghinggapi dia dan ia menghakimi orang Israel. Ia maju berperang, lalu TUHAN menyerahkan Kusyan-Risyataim, raja Aram, ke dalam tangannya, sehingga ia mengalahkan Kusyan-Risyataim. ¹¹Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya. Kemudian matilah Otniel anak Kenas."
— Hakim-hakim 3:7–11 (TB)
Hakim-hakim 3:7–8. Putaran pembuka dari siklus yang digunakan di sepanjang Kitab Hakim-hakim tampak dalam ayat-ayat ini. Orang Israel murtad dengan meninggalkan ibadah kepada Yahweh dan beralih beribadah kepada ilah-ilah kafir Kanaan. TUHAN merespons dengan menjual mereka ke dalam perbudakan kepada Kusyan-Risyataim, raja Mesopotamia (Aram-Mesopotamia). Identitas penguasa ini tidak diketahui dari catatan-catatan Timur Dekat Kuno, sekalipun ia mungkin adalah penguasa orang Aram di Mesopotamia. Bagian kedua dari namanya (”risyataim”) dalam bahasa Ibrani berarti ”kejahatan ganda”, dan kemungkinan besar digunakan secara peyoratif oleh sang penulis. Penundukan atas Israel di bawah penindas asing yang jauh ini berlangsung selama delapan tahun.
Hakim-hakim 3:9–11. Orang Israel merintih di bawah penindasan, dan mereka memohon agar Allah turun tangan. Yahweh menjawab mereka dengan membangkitkan seorang pembebas yang menyelamatkan umat itu. Otniel adalah kandidat yang tepat untuk masa jabatan hakim yang pertama ini: ia telah diperkenalkan sebelumnya di dalam kitab ini sebagai seorang pemimpin pemberani yang memimpin kampanye militer melawan kota Debir (Hak. 1:11–13). Kendati demikian, Otniel tidak membebaskan Israel dari Kusyan-Risyataim dengan kekuatannya sendiri, melainkan ”Roh TUHAN menghinggapi dia”. Ini adalah sebuah ungkapan idiomatik (lihat 6:34; 11:29) yang tidak selalu mencerminkan kelahiran kembali secara rohani, melainkan pemberian kuasa Allah yang sementara kepada sang hakim. Kemenangan Otniel membuat negeri itu memiliki perhentian dan kedamaian selama empat puluh tahun; panjang waktu tersebut sering kali menandakan satu generasi penuh dalam Perjanjian Lama. Kemudian Otniel mati, dan fakta ini mengingatkan kita pada perkataan dalam Hakim-hakim 2:18, yang mengindikasikan bahwa umat tersebut mengalami pembebasan ”sepanjang zaman hakim itu”.
Kisah pertama ini merupakan gambaran yang sederhana, lugas, dan apa adanya mengenai masa hakim Otniel. Sebagaimana telah disoroti dalam pengantar, pembaca harus mengingat bahwa periode para hakim adalah siklus kemerosotan yang menurun. Dan saat pembaca bergerak dari satu kisah ke kisah berikutnya, ada bukti mengenai meningkatnya kebobrokan dan penindasan. Realitas ini muncul dalam berbagai cara pada putaran siklus berikutnya.
Ehud (3:12–30) dan Samgar (3:31)
"¹²Tetapi orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; lalu Eglon, raja Moab, diberi TUHAN kuasa atas orang Israel, oleh sebab mereka telah melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. ¹³Raja ini mengajak bani Amon dan bani Amalek menjadi sekutunya. Lalu majulah ia dan memukul orang Israel kalah. Kota pohon korma diduduki mereka. ¹⁴Delapan belas tahun lamanya orang Israel menjadi takluk kepada Eglon, raja Moab.
¹⁵Lalu orang Israel berseru kepada TUHAN, maka TUHAN membangkitkan bagi mereka seorang penyelamat yakni Ehud, anak Gera, orang Benyamin, seorang yang kidal. Dengan perantaraannya orang Israel biasa mengirimkan upeti kepada Eglon, raja Moab. ¹⁶Dan Ehud membuat pedang yang bermata dua, yang panjangnya hampir sehasta, disandangnyalah itu di bawah pakaiannya, pada pangkal paha kanannya. ¹⁷Kemudian ia menyampaikan upeti kepada Eglon, raja Moab. Adapun Eglon itu seorang yang sangat gendut. ¹⁸Setelah Ehud selesai menyampaikan upeti itu, disuruhnya pembawa-pembawa upeti itu pulang, ¹⁹tetapi ia sendiri berhenti pada batu-batu berpahat yang di dekat Gilgal, dan kembali menghadap raja. Berkatalah ia: ”Ada pesan rahasia yang kubawa untuk tuanku, ya raja.” Kata Eglon: ”Diamlah dahulu!” Maka semua orang yang berdiri di depannya itu pergi ke luar.
²⁰Lalu Ehud masuk mendapatkan dia, sedang ia duduk sendirian di kamar atas di rumah peranginannya. Berkatalah Ehud: ”Ada firman Allah yang kubawa untuk tuanku.” Lalu bangunlah ia berdiri dari tempat duduknya. ²¹Kemudian Ehud mengulurkan tangan kirinya, dihunusnya pedang itu dari pangkal paha kanannya dan ditikamkannya ke perut raja, ²²sehingga hulunya beserta mata pedang itu masuk. Lemak menutupi mata pedang itu, sebab pedang itu tidak dicabutnya dari perut raja. Lalu keluarlah ia melalui pintu belakang. ²³Demikianlah Ehud sampai ke serambi; pintu kamar atas itu ditutup dan dikuncinya setelah ia keluar.
²⁴Baru saja ia keluar, datanglah hamba-hamba raja melihat, tetapi pintu kamar atas itu terkunci. Lalu berkatalah mereka: ”Tentulah ia membuang air di kamar rumah peranginan itu.” ²⁵Lalu mereka menunggu-nunggu sampai menjadi bingung, tetapi raja tidak membuka pintu kamar atas itu. Kemudian mereka mengambil kunci, membuka pintu, maka tampaklah tuan mereka mati tergeletak di lantai.
²⁶Sedang mereka berlambat-lambat, Ehud meloloskan diri; ia lewat dari batu-batu berpahat dan meloloskan diri ke arah Seira. ²⁷Setelah ia sampai ke sana, ditiupnyalah sangkakala di pegunungan Efraim, lalu turunlah orang Israel bersama-sama dengan dia dari pegunungan itu, dan ia sendiri di depan. ²⁸Berkatalah ia kepada mereka: ”Ikutlah aku, sebab TUHAN telah menyerahkan musuhmu, orang-orang Moab itu, ke dalam tanganmu.” Maka turunlah mereka mengikuti dia, lalu mereka merebut tempat penyeberangan sungai Yordan ke Moab dan tidak seorangpun dibiarkan mereka menyeberang. ²⁹Pada waktu itu mereka menewaskan kira-kira sepuluh ribu orang dari Moab, semuanya orang yang tegap dan tangkas, seorangpun tidak ada yang lolos. ³⁰Demikianlah pada hari itu Moab ditundukkan oleh Israel, maka amanlah tanah itu, delapan puluh tahun lamanya.
³¹Sesudah dia, bangkitlah Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya. Demikianlah ia juga menyelamatkan orang Israel."
— Hakim-hakim 3:12–31 (TB)
Hakim-hakim 3:12. Narasi berikutnya dimulai dengan kembalinya bangsa Israel kepada kebiasaan penyembahan berhala mereka: mereka melakukan ”apa yang jahat” (disebutkan 2 kali) di mata TUHAN (lihat 2:11; 3:7). Demikianlah putaran lain dari siklus sastra ini dimulai. TUHAN merespons, dan Dia ”menguatkan” (bdk. penggunaan lain dari kata kerja yang diterjemahkan sebagai ”mengeraskan” dalam Kel. 4:21; 9:12; 10:20, 27; 11:10) Eglon, raja Moab, untuk menyerang Israel. Eglon hanya menjalankan kehendak Allah (bdk. Ams. 21:1). Oleh karena itu, raja Moab tersebut bersekutu dengan pasukan orang Amon dan orang Amalek untuk menyerang Israel. Kelompok-kelompok bangsa ini berdiam di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Israel, dan mereka adalah musuh-musuh yang akan terus merongrong Israel selama berabad-abad.
Hakim-hakim 3:13–14. Hasil awal dari serbuan militer tersebut adalah pasukan kafir itu menduduki kota pohon korma—yaitu Yerikho (Ul. 34:3). Yerikho adalah kota pertama yang direbut oleh bangsa Israel pada masa penaklukan Kanaan, dan kini kota itu kembali ke tangan bangsa kafir. Israel akhirnya berada dalam perhambaan kepada Eglon selama delapan belas tahun.
Hakim-hakim 3:15. Menanggapi permohonan bangsa Israel untuk memperoleh kelepasan dari penindasan, Allah membangkitkan seorang pembebas bernama Ehud, anak Gera. Ehud berasal dari suku Benyamin, nama suku yang berarti ”anak tangan kanan”. Namun secara ironis, deskripsi istimewa yang diberikan tentang Ehud adalah bahwa ia ”seorang yang kidal”. Kendati beberapa komentator beranggapan bahwa deskripsi ini mengindikasikan kemampuan licik Ehud sebagai seorang pejuang (bdk. Hak. 20:16), hal sebaliknya mungkin yang terjadi. Pembacaan teks secara saksama menunjukkan bahwa Ehud adalah ”seorang laki-laki yang terikat/terhalang/terhambat tangan kanannya”. Bahasa Ibrani era belakangan menerjemahkan kata kerja tersebut sebagai ”lumpuh/bengkok lengannya”. Bisa jadi Ehud sebenarnya lemah secara fisik pada tangan kanannya dan dengan demikian merupakan pembebas dan pembunuh Eglon yang paling tidak mungkin. Karena status mereka sebagai bangsa taklukan (vassal) bagi Moab, orang Israel mengirimkan upeti kepada Eglon melalui ”tangan” Ehud. Secara ironis, kelak dalam kisah ini, ”tangan” Ehud yang menancapkan pedangnya ke dalam perut Eglon.
Hakim-hakim 3:16–19. Sebagai persiapan untuk pertemuan tersebut, Ehud membuat sebilah pedang belati panjang (satu hasta = sekitar 46 sentimeter) yang ”bermata dua”. Deskripsi ini kemungkinan merupakan sebuah permainan kata (wordplay) karena memiliki arti dasar ”bermulut dua”. Para penafsir mengusulkan bahwa dua mulut/mata pedang itu secara terselubung merujuk pada kata-kata lihai Ehud kepada Eglon yang bermakna ganda (bermata dua). Memang, dalam audiensi keduanya bersama Eglon, Ehud berkata, ”Ada pesan rahasia yang kubawa untuk tuanku, ya raja.” Istilah Ibrani yang diterjemahkan sebagai ”pesan” memiliki dua arti dasar: ”perkataan” atau ”benda/perkara”. Istilah ini kemungkinan besar merupakan makna ganda (double entendre), di mana bagi Eglon, Ehud membawa suatu ”perkataan” rahasia, namun bagi Ehud dan pembaca, sang hakim membawa sebuah benda rahasia yang tersembunyi di balik pakaiannya.
Permainan kata sastra merupakan bagian penting dari jalinan kisah ini. Penulis menggambarkan Eglon sebagai seorang yang ”sangat gendut”. Deskripsi ini sering digunakan untuk ternak di dalam Perjanjian Lama (Kej. 41:2, 4, 5, 7, 18, 20; 1Raj. 4:23). Bahkan, nama ”Eglon” kemungkinan besar berkaitan erat dengan kata benda Ibrani untuk ”anak lembu/lembu tambun”. Ketika kisah ini mencapai puncaknya, teks menyatakan bahwa orang Israel menewaskan 10.000 orang dari Moab yang ”tegap dan tangkas”. Istilah ”tegap/kuat” yang digunakan di situ dalam bahasa Ibrani sering kali berarti ”gemuk/tambun”; bala tentara Eglon sama seperti dirinya sendiri, gemuk dan siap untuk disembelih! Seperti sang raja, demikian pula bangsanya!
Hakim-hakim 3:20–30. Ketika Ehud berbicara kepada Eglon, ia menggunakan nama Elohim untuk menyebut Allah; sebutan ini berakar dari nama El, yang merupakan nama umum untuk sesosok ilah di Timur Dekat Kuno. Eglon tentu akan lebih terbuka menerima suatu perkataan dari El ketimbang dari Yahweh—nama perjanjian bagi Allah Israel. Kelak, ketika Ehud mengumpulkan bangsanya sendiri untuk memerangi orang Moab, ia menggunakan nama Yahweh. Sekali lagi, Ehud bersikap cerdik dalam berurusan dengan penguasa kafir Moab tersebut.
Spiral kemerosotan yang menurun dalam keberadaan Israel selama zaman hakim-hakim ditegaskan melalui eskalasi yang nyata saat teks beralih dari satu kisah ke kisah berikutnya. Pada kisah Otniel sebelumnya (Hak. 3:7–11), bangsa Israel ditindas selama delapan tahun, tetapi kini mereka mengalami penindasan selama delapan belas tahun (3:14). Penindas pada masa kepemimpinan Otniel berasal dari Mesopotamia yang jauh (3:8), namun kini musuh datang dari Moab yang bertetangga dekat (3:12). Masa damai yang mengikuti kedua periode hakim ini juga bertambah panjang, dari empat puluh tahun (3:11) menjadi delapan puluh tahun (3:30). Keadaan semakin menghebat dan meningkat seiring dengan bangsa Israel yang menjadi ”lebih rusak kelakuannya” (2:19).
Hakim-hakim 3:31. Kita hanya mengetahui sedikit mengenai hakim ketiga, yaitu Samgar bin Anat (3:31); ia hanya disebutkan di sini dan dalam Hakim-hakim 5:6. Ada yang menduga bahwa gelarnya ”anak Anat” merujuk kepada Dewi Perang Anat dari Kanaan, namun kaitan pastinya tidak dapat dipastikan. Samgar berperang melawan orang Filistin yang berdiam di sebelah barat Israel dan menyelamatkan bangsanya dari mereka. Di sini kita melihat untuk pertama kalinya di dalam kitab ini bahwa seorang hakim melakukan pencapaian militer yang spektakuler untuk mengalahkan musuh: Samgar menewaskan 600 orang Filistin hanya dengan sebuah alat pertanian!
Debora (4:1–5:31)
"⁴:¹Setelah Ehud mati, orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN. ²Lalu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan Yabin, raja Kanaan, yang memerintah di Hazor. Panglima tentaranya ialah Sisera yang diam di Haroset-Hagoyim. ³Lalu orang Israel berseru kepada TUHAN, sebab Sisera mempunyai sembilan ratus kereta besi dan dua puluh tahun lamanya ia menindas orang Israel dengan keras.
⁴Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. ⁵Ia biasa duduk di bawah pohon korma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim, dan orang Israel menghadap dia untuk berhakim kepadanya. ⁶Ia menyuruh memanggil Barak bin Abinoam dari Kedesh di daerah Naftali, lalu berkata kepadanya: ’Bukankah TUHAN, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau, ⁷dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu.’ ⁸Jawab Barak kepada Debora: ’Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju.’ ⁹Kata Debora: ’Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab TUHAN akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.’ Lalu Debora bangun berdiri dan pergi bersama-sama dengan Barak ke Kedesh. ¹⁰Barak mengerahkan suku Zebulon dan suku Naftali ke Kedesh, maka sepuluh ribu orang maju mengikuti dia; juga Debora maju bersama-sama dengan dia.
¹¹Adapun Heber, orang Keni itu, telah memisahkan diri dari suku Keni, dari anak-anak Hobab ipar Musa, dan telah berpindah-pindah memasang kemahnya sampai ke pohon tarbantin di Zaanaim yang dekat Kedesh.
¹²Setelah dikabarkan kepada Sisera, bahwa Barak bin Abinoam telah maju ke gunung Tabor, ¹³dikerahkannyalah segala keretanya, sembilan ratus kereta besi, dan seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia, dari Haroset-Hagoyim ke sungai Kison. ¹⁴Lalu berkatalah Debora kepada Barak: ’Bersiaplah, sebab inilah harinya TUHAN menyerahkan Sisera ke dalam tanganmu. Bukankah TUHAN telah maju di depan engkau?’ Lalu turunlah Barak dari gunung Tabor dan sepuluh ribu orang mengikuti dia, ¹⁵dan TUHAN mengacaukan Sisera serta segala keretanya dan seluruh tentaranya oleh mata pedang di depan Barak, sehingga Sisera turun dari keretanya dan melarikan diri dengan berjalan kaki. ¹⁶Lalu Barak mengejar kereta-kereta dan tentara itu sampai ke Haroset-Hagoyim, dan seluruh tentara Sisera tewas oleh mata pedang; tidak ada seorangpun yang tinggal hidup.
¹⁷Tetapi Sisera dengan berjalan kaki melarikan diri ke kemah Yael, isteri Heber, orang Keni itu, sebab ada perhubungan baik antara Yabin, raja Hazor, dengan keluarga Heber, orang Keni itu. ¹⁸Yael itupun keluar mendapatkan Sisera, dan berkata kepadanya: ’Singgahlah, tuanku, silakan masuk. Jangan takut.’ Lalu singgahlah ia ke dalam kemah perempuan itu dan perempuan itu menutupi dia dengan selimut. ¹⁹Kemudian berkatalah ia kepada perempuan itu: ’Berilah kiranya aku minum air sedikit, aku haus.’ Lalu perempuan itu membuka kirbat susu, diberinyalah dia minum dan diselimutinya pula. ²⁰Lagi katanya kepada perempuan itu: ’Berdirilah di depan pintu kemah dan apabila ada orang datang dan bertanya kepadamu: Ada orang di sini?, maka jawablah: Tidak ada.’ ²¹Tetapi Yael, isteri Heber, mengambil patok kemah, diambilnya pula palu, mendekatinya diam-diam, lalu dilantaknyalah patok itu masuk ke dalam pelipisnya sampai tembus ke tanah—sebab ia telah tidur nyenyak karena lelahnya—maka matilah orang itu. ²²Pada waktu itu muncullah Barak yang mengejar Sisera. Keluarlah Yael mendapatkan dia dan berkata kepadanya: ’Mari, aku akan menunjukkan kepadamu orang yang kaucari itu.’ Lalu masuklah Barak ke dalam dan tampaklah Sisera mati tergeletak dengan patok dalam pelipisnya.
²³Demikianlah Allah pada hari itu menundukkan Yabin, raja Kanaan, di depan orang Israel. ²⁴Dan kekuasaan orang Israel kian keras menekan Yabin, raja Kanaan, sampai mereka melenyapkan Yabin, raja Kanaan itu.
⁵:¹Pada hari itu bernyanyilah Debora dan Barak bin Abinoam, demikian:
²Karena pahlawan-pahlawan di Israel siap berperang, karena bangsa itu menawarkan dirinya dengan sukarela, pujilah TUHAN!
³Dengarlah, ya raja-raja! Pasanglah telingamu, ya pemuka-pemuka! Kalau aku, aku mau bernyanyi bagi TUHAN, bermazmur bagi TUHAN, Allah Israel.
⁴TUHAN, ketika Engkau bergerak dari Seir, ketika Engkau melangkah maju dari daerah Edom, bergoncanglah bumi, tirislah juga langit, juga awan tiris airnya;
⁵gunung-gunung—yakni Sinai—bergoyang di hadapan TUHAN, di hadapan TUHAN, Allah Israel.
⁶Dalam zaman Samgar bin Anat, dalam zaman Yael, kafilah tidak ada lagi dan orang-orang yang dalam perjalanan terpaksa menempuh jalan yang berbelit-belit.
⁷Penduduk pedusunan diam-diam saja di Israel, ya mereka diam-diam, sampai engkau bangkit, Debora, bangkit sebagai ibu di Israel.
⁸Ketika orang memilih allah baru, maka terjadilah perang di pintu gerbang. Sesungguhnya, perisai ataupun tombak tidak terlihat di antara empat puluh ribu orang di Israel.
⁹Hatiku tertuju kepada para panglima Israel, kepada mereka yang menawarkan dirinya dengan sukarela di antara bangsa itu. Pujilah TUHAN!
¹⁰Kamu, yang menunggang keledai betina putih, kamu, yang duduk di atas permadani, kamu, yang berjalan di jalan, ceriterakanlah hal itu!
¹¹Di tempat-tempat penimbaan air, menurut suara orang-orang yang berdendang, di sanalah orang menyanyikan perbuatan TUHAN yang adil, perbuatan-Nya yang adil terhadap orang-orang-Nya di pedusunan di Israel. Pada waktu itu turunlah umat TUHAN ke pintu gerbang.
¹²Bangunlah, bangunlah, Debora! Bangunlah, bangunlah, nyanyikanlah suatu nyanyian! Bangkitlah, Barak! dan giringlah tawananmu, hai anak Abinoam!
¹³Lalu turunlah para bangsawan yang terluput, umat TUHAN turun bagi-Nya sebagai pahlawan.
¹⁴Dari suku Efraim mereka datang ke lembah, mengikuti engkau, ya suku Benyamin, dengan laskarmu; dari suku Makhir turunlah para panglima dan dari suku Zebulon orang-orang pembawa tongkat pengerah.
¹⁵Juga para pemimpin suku Isakhar menyertai Debora, dan seperti Isakhar, demikianlah Naftali menyertai Barak. Mereka menyusul dia dan menyerbu masuk lembah. Tetapi pihak pasukan-pasukan suku Ruben ada banyak pertimbangan.
¹⁶Mengapa engkau tinggal duduk di antara kandang-kandang sambil mendengarkan seruling pemanggil kawanan? Di pihak pasukan-pasukan suku Ruben ada banyak pertimbangan!
¹⁷Orang Gilead tinggal diam di seberang sungai Yordan; dan suku Dan, mengapa mereka tinggal dekat kapal-kapal? Suku Asyer duduk di tepi pantai laut, tinggal diam di teluk-teluknya.
¹⁸Tetapi suku Zebulon ialah bangsa yang berani mempertaruhkan nyawanya, demikian juga suku Naftali, di tempat-tempat tinggi di padang.
¹⁹Raja-raja datang dan berperang, pada waktu itu raja-raja Kanaan berperang dekat Taanakh, pada mata air di Megido, tetapi perak sebagai rampasan tidak diperoleh mereka.
²⁰Dari langit berperang bintang-bintang, dari peredarannya mereka memerangi Sisera.
²¹Sungai Kison menghanyutkan musuh, Kison, sungai yang terkenal dari dahulu kala itu. —Majulah sekuat tenaga, hai jiwaku! —
²²Ketika itu menderaplah telapak kuda, karena berpacu lari kuda-kudanya.
²³’Kutukilah kota Meros!’ firman Malaikat TUHAN, ’kutukilah habis-habisan penduduknya, karena mereka tidak datang membantu TUHAN, membantu TUHAN sebagai pahlawan.’
²⁴Diberkatilah Yael, isteri Heber, orang Keni itu, melebihi perempuan-perempuan lain, diberkatilah ia, melebihi perempuan-perempuan yang di dalam kemah.
²⁵Air diminta orang itu, tetapi susu diberikannya; dalam cawan yang indah disuguhkannya dadih.
²⁶Tangannya diulurkannya mengambil patok, tangan kanannya mengambil tukul tukang, ditukulnya Sisera, dihancurkannya kepalanya, diremukkan dan ditembusnya pelipisnya.
²⁷Dekat kakinya orang itu rebah, tewas tergeletak, dekat kakinya orang itu rebah dan tewas, di tempat ia rebah, di sanalah orang itu tewas, digagahi.
²⁸Dari jendela ibu Sisera menjenguk dan berseru dari tingkap: ’Mengapa keretanya tak kunjung datang? Mengapa kereta-keretanya belum kedengaran?’
²⁹Yang paling bijak di antara dayang-dayangnya menjawabnya, dan ia sendiri juga membalas perkataannya itu:
³⁰’Bukankah mereka mendapat jarahan dan membagi-baginya, gadis seorang dua untuk setiap orang jarahan kain berwarna sehelai dua untuk Sisera, jarahan kain sulaman aneka warna sehelai dua untuk leherku?’
³¹Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya. Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya."
— Hakim-hakim 4:1–5:31 (TB)
Hakim-hakim 4:1–2. Setelah kematian Ehud, bangsa Israel kembali kepada kebiasaan murtad mereka. Yahweh kemudian menyerahkan mereka ke dalam tangan penindasan Yabin, seorang raja yang memerintah di Hazor. Dalam kampanye militer di wilayah utara pada zaman Yosua, orang Israel telah menghancurkan Hazor (Yos. 11:10–13). Kini kota itu kembali ke tangan orang-orang Kanaan, yang tampaknya telah menduduki kembali kota tersebut serta menjadikannya sebagai pusat kerajaan. Keadaan semakin memburuk bagi orang Israel, sebab kini orang-orang Kanaan di dalam wilayah suku Naftali menindas mereka. Selain itu, penindasan itu semakin hebat saat Israel berada di bawah kendali Yabin selama dua puluh tahun.
Hakim-hakim 4:3. Sebagaimana kebiasaan mereka, orang Israel berseru karena penindasan tersebut. Mereka ditundukkan dengan keras karena tentara Sisera memiliki 900 kereta besi. Israel berada pada posisi yang sangat tidak menguntungkan karena hanya ada sedikit pandai besi di Israel (1Sam. 13:19) sehingga mereka memiliki sedikit senjata logam (Hak. 5:8; 1Sam. 13:22). Kata ”menindas” (oppressed) yang digunakan di sini mengandung makna ”menghimpit/menjepit” (squeezed); kata ini secara grafis digunakan dalam gambaran keledai Bileam yang menghimpit dan meremukkan kaki Bileam pada tembok (Bil. 22:25).
Hakim-hakim 4:4–5. Debora kini diperkenalkan sebagai seorang hakim di Israel. Deskripsi penulis mengenai dirinya dimulai dengan kedudukannya sebagai ”seorang nabiah” (a prophetess). Rincian ini melibatkan dua kata dalam bahasa Ibrani, yaitu ”seorang perempuan nabiah”. Sekalipun penulis telah menggunakan akhiran feminin pada kata ”nabi”, ia memandang perlu untuk menambahkan kata ”perempuan” pada sebutan tersebut. Ia sedang menyoroti sifat yang unik dan khusus dari kedudukan ini. Faktanya, hanya ada lima perempuan yang disebut sebagai ”nabiah” di seluruh Perjanjian Lama (Miryam, Kel. 15:20; Hulda, 2Raj. 22:14; istri Yesaya, Yes. 8:3; dan Noaja, Neh. 6:14). Ini adalah kedudukan yang langka dan istimewa di Israel. Selain itu, Debora tidak bertugas sebagai seorang pemimpin militer seperti hakim-hakim lainnya, melainkan ia berfungsi sebagai seorang hakim sipil yang memutuskan perkara-perkara pengadilan.
Hakim-hakim 4:6–9. Teks ini mencatat peristiwa khusus dari masa jabatan Debora sebagai hakim. Dalam kedudukannya sebagai hakim, ia menyuruh memanggil seorang laki-laki bernama Barak dan bertanya kepadanya bukankah TUHAN telah memerintahkannya untuk mengerahkan tentara guna memerangi Sisera. Mengapa Barak belum bertindak? Di sinilah petunjuk awal mengenai keengganan dan sifat penakut Barak. Dalam Hakim-hakim 4:9, Debora menegur Barak atas keraguannya dan mempermalukannya karena kurangnya keberanian serta kepemimpinannya. Barak tidak akan menerima kehormatan dari kemenangan tersebut, melainkan seorang perempuan yang belum disebutkan namanya yang akan menaklukkan Sisera (yaitu Yael dalam 4:18–22). John Calvin mengomentari kepemimpinan kaum perempuan ini dengan menyatakan, ”Allah tanpa ragu berkehendak mengangkat mereka tinggi-tinggi untuk mempermalukan kaum laki-laki” dan Dia memakai mereka dalam peperangan ”setiap kali Allah hendak mencap manusia dengan tanda kehinaan.”
Hakim-hakim 4:10. Barak akhirnya taat, dan ia mengerahkan 10.000 prajurit dari suku Zebulon dan Naftali. Tidak seluruh Israel terlibat dalam kampanye militer ini, melainkan hanya kedua suku ini yang merespons karena mereka berada langsung di jalur bahaya. Hazor, faktanya, terletak di dalam batas wilayah suku Naftali. Pengerahan pasukan berlangsung di Gunung Tabor, yang menjulang sekitar 1.300 kaki atau 400 meter di atas Lembah Yizreel pada batas selatan wilayah Zebulon dan Naftali.
Hakim-hakim 4:11. Sebuah sisipan menyela alur narasi dan memperkenalkan kepada pembaca latar baru yang kelak menjadi penting di bagian akhir kisah. Sebagaimana disebutkan dalam Hakim-hakim 1:16, satu keluarga orang Keni telah berpindah dari Negeb di selatan untuk menetap di tanah Naftali di utara. Pemimpin dari bagian kaum ini adalah Heber, yang digambarkan sebagai keturunan Hobab, ”ipar/mertua” Musa. Menurut Bilangan 10:29, Hobab sesungguhnya adalah ipar Musa; ia adalah anak Yitro/Rehuel yang merupakan mertua Musa (Kel. 2:18; 3:1). Hal ini bukanlah sebuah persoalan, karena kata Ibrani untuk ”mertua” juga dapat merujuk pada hubungan kekerabatan darah lainnya seperti menantu laki-laki maupun ipar laki-laki.
Hakim-hakim 4:12–16. Setelah jeda singkat tersebut, penulis melanjutkan kembali catatan pertempuran. Bangsa Israel menang atas tentara Sisera. Alasan di balik kemenangan ini dinyatakan secara gamblang: Yahweh ”mengacaukan” Sisera dan seluruh pasukannya. Kata kerja ”mengacaukan” (routed) umumnya berarti ”membuat panik”, dan kata kerja yang sama digunakan ketika Yahweh mengacaukan tentara Mesir di Laut Teberau (Kel. 14:24). Pukulan orang Israel terhadap Sisera tuntas.
Hakim-hakim 4:17–23. Sisera melarikan diri dari medan pertempuran dan tiba di kemah Heber yang telah diperkenalkan dalam Hakim-hakim 4:11. Perpindahan kisah dari satu adegan ke adegan lain bertujuan memberikan efek dramatis. Sisera berlari ke kemah itu dengan mengharapkan perlindungan karena adanya perdamaian antara Heber dan Yabin. Istri Heber membuat Sisera merasa aman, lalu menutupinya dengan selimut untuk menyembunyikannya. Namun, perempuan itu memiliki rencana lain; ia membunuh Sisera dengan darah dingin sementara Sisera terbaring kelelahan di dalam kemah. Pada akhir Hakim-hakim 4:21, penulis menggunakan deretan kata kerja singkat (staccato) yang merangkum narasi ini secara sederhana: terjemahan yang tepat berbunyi, ”ia sedang tidur nyenyak, dan ia lelah, dan ia mati.” Nubuat Debora sebagai seorang nabiah terbukti benar bahwa Yahweh ”akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan”. Kendati demikian, sang penulis memastikan agar pembaca memahami bahwa kemuliaan adalah milik Yahweh saja yang telah membebaskan umat-Nya.
Hakim-hakim 5:1. Kekalahan Sisera disusul oleh sebuah kidung kemenangan yang dinyanyikan oleh Debora dan Barak. Catatan berbentuk prosa yang diikuti oleh gubahan puisi adalah hal yang lazim di Timur Dekat Kuno dan di dalam Alkitab. Sebagai contoh, Nyanyian Musa (Kel. 15) muncul segera setelah kisah kekalahan orang Mesir di Laut Teberau (Kel. 14). Pembaca perlu memperhatikan bahwa selaras dengan narasi kepemimpinan Debora dalam pembebasan dari Yabin, Debora disebutkan sebelum Barak dalam pelantunan kidung kemenangan ini.
Hakim-hakim 5:2–5. Bait pembuka kidung ini merupakan puji-pujian kepada TUHAN. Nama ”Yahweh” muncul enam kali dalam unit ini karena Dialah subjek utama dari bagian ini. Ia disanjung karena Dialah yang maju ke medan pertempuran di barisan terdepan tentara Israel melawan orang-orang Kanaan.
Hakim-hakim 5:6–9. Sebelum campur tangan Allah, Israel berada dalam bahaya besar. Para musafir menghindari jalan-jalan raya utama di negeri itu, kemungkinan besar karena pengawasan orang-orang Kanaan. Dalam Hakim-hakim 5:7, terjemahan Inggris ESV menyebutkan bahwa ”penduduk pedusunan” (villagers) lenyap di negeri itu; namun kata benda tersebut lebih tepat diterjemahkan sebagai ”para pejuang” (warriors), yang mengindikasikan kerentanan militer Israel pada masa itu. Perikop ini selanjutnya menjelaskan bahwa orang Israel tidak memiliki persenjataan bagi tentara profesional, yang menggarisbawahi suasana kelam sebelum Debora ”bangkit sebagai ibu di Israel”.
Hakim-hakim 5:10–11. Debora dan Barak mendorong segenap umat Allah untuk menceritakan kembali karya penyelamatan yang dikerjakan oleh Yahweh pada waktu itu. Hakim-hakim 5:10 merupakan sebuah merismus (suatu perangkat puitis di mana dua aspek/bagian dari keseluruhan dinyatakan), di mana kaum kaya maupun kaum rendah sama-sama didesak untuk memasyhurkan kemenangan TUHAN. Bahkan mereka yang berkumpul di tempat-tempat penimbaan air, di mana masyarakat sering berkumpul, dipanggil untuk mengingat dan meninjau kembali perbuatan-perbuatan Yahweh melalui nyanyian—barangkali dengan menyanyikan lagu kemenangan ini sendiri.
Hakim-hakim 5:12–19. Menurut pasal 4, Barak memanggil suku Zebulon dan Naftali untuk bersiap maju berperang. Namun beberapa suku lainnya turut menjawab panggilan tersebut: Efraim, Benyamin, Makhir dari Manasye, dan Isakhar. Kidung ini juga menyebutkan suku-suku lain yang sengaja tidak terlibat dalam konflik: Ruben, Gilead dari Manasye, Dan, dan Asyer. Sementara suku Yehuda, Lewi, Simeon, dan Gad tidak disebutkan di dalam catatan ini. Beragamnya respons dari suku-suku yang dicatat di sini mengingatkan pembaca akan sifat regional dari konflik ini, serta bahwa banyak kisah di masa para hakim memiliki identitas kedaerahan serupa.
Hakim-hakim 5:20–27. Kendati dari sudut pandang duniawi bangsa Israel berada dalam posisi kerugian militer yang nyata, kenyataannya adalah kekuatan alam itu sendiri turut berperang di pihak mereka. Sebagian orang diharapkan membantu dalam pertempuran, namun tidak melakukannya; sebaliknya, pihak lain yang tidak terduga membantu perjuangan Israel. Yael diberkati karena ia membunuh Sisera.
Hakim-hakim 5:28–30. Di sini kita menjumpai perpindahan adegan penutup. Ibu Sisera digambarkan sedang menanti-nanti kepulangan putranya dari pertempuran. Mengapa ia terlambat? demikian ia bertanya-tanya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa keterlambatan anaknya disebabkan oleh melimpahnya jarahan yang sedang dibagi-bagikan. Namun kenyataannya, di sinilah seorang ibu yang kehilangan putranya. Figur ini berdiri sebagai kontras dengan Debora, yang memimpin anak-anaknya menuju kemenangan (bdk. 5:7).
Hakim-hakim 5:31. Kesimpulan dari kidung ini adalah sebuah seruan agar segenap musuh Allah binasa seperti Sisera dan permohonan agar umat Allah bangkit seperti matahari saat fajar. Selaras dengan seruan tersebut, ”amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya”.
Gideon (6:1–8:32)
"⁶:¹Tetapi orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian, tujuh tahun lamanya, ²dan selama itu orang Midian berkuasa atas orang Israel. Karena takutnya kepada orang Midian itu, maka orang Israel membuat tempat-tempat perlindungan di pegunungan, yakni gua-gua dan kubu-kubu. ³Setiap kali orang Israel selesai menabur, datanglah orang Midian, orang Amalek dan orang-orang dari sebelah timur, lalu maju mendatangi mereka; ⁴berkemahlah orang-orang itu di daerah mereka, dan memusnahkan hasil tanah itu sampai ke dekat Gaza, dan tidak meninggalkan bahan makanan apapun di Israel, juga domba, atau lembu atau keledaipun tidak. ⁵Sebab orang-orang itu datang maju dengan ternaknya dan kemahnya, dan datangnya itu berbanyak-banyak seperti belalang. Orang-orangnya dan unta-untanya tidak terhitung banyaknya, sekaliannya datang ke negeri itu untuk memusnahkannya, ⁶sehingga orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu. Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN.
⁷Ketika orang Israel berseru kepada TUHAN karena orang Midian itu, ⁸maka TUHAN mengutus seorang nabi kepada orang Israel, yang berkata kepada mereka: ’Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang menuntun kamu keluar dari Mesir dan yang membawa kamu keluar dari rumah perbudakan. ⁹Aku melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan semua orang yang menindas kamu, bahkan Aku menghalau mereka dari depanmu dan negeri mereka Kuberikan kepadamu. ¹⁰Dan Aku telah berfirman kepadamu: Akulah TUHAN, Allahmu, maka janganlah kamu menyembah allah orang Amori, yang negerinya kamu diami ini. Tetapi kamu tidak mendengarkan firman-Ku itu.’
¹¹Kemudian datanglah Malaikat TUHAN dan duduk di bawah pohon tarbantin di Ofra, kepunyaan Yoas, orang Abiezer itu, sedang Gideon, anaknya, mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur agar tersembunyi bagi orang Midian. ¹²Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: ’TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.’ ¹³Jawab Gideon kepada-Nya: ’Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.’ ¹⁴Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: ’Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!’ ¹⁵Tetapi jawabnya kepada-Nya: ’Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.’ ¹⁶Berfirmanlah TUHAN kepadanya: ’Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.’ ¹⁷Maka jawabnya kepada-Nya: ’Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku. ¹⁸Janganlah kiranya pergi dari sini, sampai aku datang kepada-Mu membawa persembahanku dan meletakkannya di hadapan-Mu.’ Firman-Nya: ’Aku akan tinggal, sampai engkau kembali.’
¹⁹Masuklah Gideon ke dalam, lalu mengolah seekor anak kambing dan roti yang tidak beragi dari seefa tepung; ditaruhnya daging itu ke dalam bakul dan kuahnya ke dalam periuk, dibawanya itu kepada-Nya ke bawah pohon tarbantin, lalu disuguhkannya. ²⁰Berfirmanlah Malaikat Allah kepadanya: ’Ambillah daging dan roti yang tidak beragi itu, letakkanlah ke atas batu ini, dan curahkan kuahnya.’ Maka diperbuatnya demikian. ²¹Dan Malaikat TUHAN mengulurkan tongkat yang ada di tangan-Nya; dengan ujungnya disinggung-Nya daging dan roti itu; maka timbullah api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti itu. Kemudian hilanglah Malaikat TUHAN dari pandangannya. ²²Maka tahulah Gideon, bahwa itulah Malaikat TUHAN, lalu katanya: ’Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka.’ ²³Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: ’Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.’ ²⁴Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan. Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer.
²⁵Pada malam itu juga TUHAN berfirman kepadanya: ’Ambillah seekor lembu jantan kepunyaan ayahmu, yakni lembu jantan yang kedua, berumur tujuh tahun, runtuhkanlah mezbah Baal kepunyaan ayahmu dan tebanglah tiang berhala yang di dekatnya. ²⁶Kemudian dirikanlah mezbah bagi TUHAN, Allahmu, di atas kubu pertahanan ini dengan disusun baik, lalu ambillah lembu jantan yang kedua dan persembahkanlah korban bakaran dengan kayu tiang berhala yang akan kautebang itu.’ ²⁷Kemudian Gideon membawa sepuluh orang hambanya dan diperbuatnyalah seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya. Tetapi karena ia takut kepada kaum keluarganya dan kepada orang-orang kota itu untuk melakukan hal itu pada waktu siang, maka dilakukannyalah pada waktu malam.
²⁸Ketika orang-orang kota itu bangun pagi-pagi, tampaklah telah dirobohkan mezbah Baal itu, telah ditebang tiang berhala yang di dekatnya dan telah dikorbankan lembu jantan yang kedua di atas mezbah yang didirikan itu. ²⁹Berkatalah mereka seorang kepada yang lain: ’Siapakah yang melakukan hal itu?’ Setelah diperiksa dan ditanya-tanya, maka kata orang: ’Gideon bin Yoas, dialah yang melakukan hal itu.’ ³⁰Sesudah itu berkatalah orang-orang kota itu kepada Yoas: ’Bawalah anakmu itu ke luar; dia harus mati, karena ia telah merobohkan mezbah Baal dan karena ia telah menebang tiang berhala yang di dekatnya.’ ³¹Tetapi jawab Yoas kepada semua orang yang mengerumuninya itu: ’Kamu mau berjuang membela Baal? Atau kamu mau menolong dia? Siapa yang berjuang membela Baal akan dihukum mati sebelum pagi. Jika Baal itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya sendiri, setelah mezbahnya dirobohkan orang.’ ³²Dan pada hari itu diberikan oranglah nama Yerubaal kepada Gideon, karena kata orang: ’Biarlah Baal berjuang dengan dia, setelah dirobohkannya mezbahnya itu.’
³³Seluruh orang Midian dan orang Amalek dan orang-orang dari sebelah timur telah berkumpul bersama-sama; mereka telah menyeberang dan berkemah di lembah Yizreel. ³⁴Pada waktu itu Roh TUHAN menguasai Gideon; ditiupnyalah sangkakala dan orang-orang Abiezer dikerahkan untuk mengikuti dia. ³⁵Juga dikirimnya pesan kepada seluruh suku Manasye dan orang-orang inipun dikerahkan untuk mengikuti dia. Dikirimnya pula pesan kepada suku Asyer, Zebulon dan Naftali, dan orang-orang inipun maju untuk menggabungkan diri dengan mereka.
³⁶Kemudian berkatalah Gideon kepada Allah: ’Jika Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan itu, ³⁷maka aku membentangkan guntingan bulu domba di tempat pengirikan; apabila hanya di atas guntingan bulu itu ada embun, tetapi seluruh tanah di situ tinggal kering, maka tahulah aku, bahwa Engkau mau menyelamatkan orang Israel dengan perantaraanku, seperti yang Kaufirmankan.’ ³⁸Dan demikianlah terjadi; sebab keesokan harinya pagi-pagi ia bangun, dipulasnya guntingan bulu itu dan diperasnya air embun dari guntingan bulu itu, secawan penuh air. ³⁹Lalu berkatalah Gideon kepada Allah: ’Janganlah kiranya murka-Mu bangkit terhadap aku, apabila aku berkata lagi, sekali ini saja; biarkanlah aku satu kali lagi saja mengambil percobaan dengan guntingan bulu itu: sekiranya yang kering hanya guntingan bulu itu, dan di atas seluruh tanah itu ada embun.’ ⁴⁰Dan demikianlah diperbuat Allah pada malam itu, sebab hanya guntingan bulu itu yang kering, dan di atas seluruh tanah itu ada embun.
⁷:¹Adapun Yerubaal—itulah Gideon—bangun pagi-pagi dengan segala rakyat yang bersama-sama dengan dia, lalu mereka berkemah dekat mata air Harod; perkemahan orang Midian itu ada di sebelah utaranya, dekat bukit More, di lembah. ²Berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: ’Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku. ³Maka sekarang, serukanlah kepada rakyat itu, demikian: Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead.’ Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggallah sepuluh ribu orang.
⁴Tetapi TUHAN berfirman kepada Gideon: ’Masih terlalu banyak rakyat; suruhlah mereka turun minum air, maka Aku akan menyaring mereka bagimu di sana. Siapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang akan pergi bersama-sama dengan engkau, tetapi barangsiapa yang Kufirmankan kepadamu: Inilah orang yang tidak akan pergi bersama-sama dengan engkau, dialah yang tidak akan pergi.’ ⁵Lalu Gideon menyuruh rakyat itu turun minum air, dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: ’Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum.’ ⁶Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air. ⁷Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: ’Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan Kuselamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya.’ ⁸Dari rakyat itu mereka mengambil bekal dan sangkakala; demikianlah seluruh orang Israel disuruhnya pergi, masing-masing ke kemahnya, tetapi ketiga ratus orang itu ditahannya. Adapun perkemahan orang Midian ada di bawahnya, di lembah.
⁹Pada malam itu berfirmanlah TUHAN kepadanya: ’Bangunlah, turunlah menyerbu perkemahan itu, sebab telah Kuserahkan itu ke dalam tanganmu. ¹⁰Tetapi jika engkau takut untuk turun menyerbu, turunlah bersama dengan Pura, bujangmu, ke perkemahan itu; ¹¹maka kaudengarlah apa yang mereka katakan; kemudian engkau akan mendapat keberanian untuk turun menyerbu perkemahan itu.’ Lalu turunlah ia bersama dengan Pura, bujangnya itu, sampai kepada penjagaan terdepan laskar di perkemahan itu. ¹²Adapun orang Midian dan orang Amalek dan semua orang dari sebelah timur itu bergelimpangan di lembah itu, seperti belalang banyaknya, dan unta mereka tidak terhitung, seperti pasir di tepi laut banyaknya. ¹³Ketika Gideon sampai ke situ, kebetulan ada seorang menceritakan mimpinya kepada temannya, katanya: ’Aku bermimpi: tampak sekeping roti jelai terguling masuk ke perkemahan orang Midian; setelah sampai ke kemah ini, dilanggarnyalah kemah ini, sehingga roboh, dan dibongkar-bangkirkannya, demikianlah kemah ini habis runtuh.’ ¹⁴Lalu temannya menjawab: ’Ini tidak lain dari pedang Gideon bin Yoas, orang Israel itu; Allah telah menyerahkan orang Midian dan seluruh perkemahan ini ke dalam tangannya.’
¹⁵Segera sesudah Gideon mendengar mimpi itu diceritakan dengan maknanya, sujudlah ia menyembah. Kemudian pulanglah ia ke perkemahan orang Israel, lalu berkata: ’Bangunlah, sebab TUHAN telah menyerahkan perkemahan orang Midian ke dalam tanganmu.’ ¹⁶Sesudah itu dibaginyalah ketiga ratus orang itu dalam tiga pasukan dan ke tangan mereka semuanya diberikannya sangkakala dan buyung kosong dengan suluh di dalam buyung itu. ¹⁷Dan berkatalah ia kepada mereka: ’Perhatikanlah aku dan lakukanlah seperti yang kulakukan. Maka apabila aku sampai ke ujung perkemahan itu, haruslah kamu lakukan seperti yang kulakukan. ¹⁸Apabila aku dan semua orang yang bersama dengan aku meniup sangkakala, maka haruslah kamu juga meniup sangkakala sekeliling seluruh perkemahan itu, dan berseru: 'Demi TUHAN dan demi Gideon!'’
¹⁹Lalu Gideon dan keseratus orang yang bersama-sama dengan dia sampai ke ujung perkemahan itu pada waktu permulaan giliran jaga tengah malam, ketika penjaga-penjaga baru saja ditempatkan. Lalu mereka meniup sangkakala sambil memecahkan buyung yang di tangan mereka. ²⁰Demikianlah ketiga pasukan itu bersama-sama meniup sangkakala, dan memecahkan buyung dengan memegang obor di tangan kirinya dan sangkakala di tangan kanannya untuk ditiup, serta berseru: ’Pedang demi TUHAN dan demi Gideon!’ ²¹Sementara itu tinggallah mereka berdiri, masing-masing di tempatnya, sekeliling perkemahan itu, tetapi seluruh tentara musuh menjadi kacau balau, berteriak-teriak dan melarikan diri. ²²Sedang ketiga ratus orang itu meniup sangkakala, maka di perkemahan itu TUHAN membuat pedang yang seorang diarahkan kepada yang lain, lalu larilah tentara itu sampai ke Bet-Sita ke arah Zerera sampai ke pinggir Abel-Mehola dekat Tabat.
²³Kemudian dikerahkanlah orang-orang Israel dari suku Naftali dan dari suku Asyer dan dari segenap suku Manasye, lalu mereka mengejar orang Midian itu. ²⁴Gideon menyuruh juga orang ke seluruh pegunungan Efraim dengan pesan: ’Turunlah menghadapi orang Midian, dan dudukilah segala batang air sampai ke Bet-Bara, dan juga sungai Yordan.’ Maka semua orang Efraim dikerahkan, lalu mereka menduduki segala batang air sampai ke Bet-Bara, juga sungai Yordan. ²⁵Mereka berhasil menawan dua raja Midian, yakni Oreb dan Zeeb. Oreb dibunuh di gunung batu Oreb dan Zeeb dibunuh dalam tempat pemerasan anggur Zeeb. Mereka mengejar orang Midian itu, lalu mereka membawa kepala Oreb dan kepala Zeeb kepada Gideon di seberang sungai Yordan.
⁸:¹Lalu berkatalah orang-orang Efraim kepada Gideon: ’Apa macam perbuatanmu ini terhadap kami! Mengapa engkau tidak memanggil kami, ketika engkau pergi berperang melawan orang Midian?’ Lalu mereka menyesali dia dengan sangat. ²Jawabnya kepada mereka: ’Apa perbuatanku dalam hal ini, jika dibandingkan dengan kamu? Bukankah pemetikan susulan oleh suku Efraim lebih baik hasilnya dari panen buah anggur kaum Abiezer? ³Allah telah menyerahkan kedua raja Midian itu, yakni Oreb dan Zeeb, ke dalam tanganmu; apa yang telah dapat kucapai, jika dibandingkan dengan kamu?’ Setelah ia berkata demikian, maka redalah marah mereka terhadap dia.
⁴Ketika Gideon sampai ke sungai Yordan, menyeberanglah ia dan ketiga ratus orang yang bersama-sama dengan dia, meskipun masih lelah, namun mengejar juga. ⁵Dan berkatalah ia kepada orang-orang Sukot: ’Tolong berikan beberapa roti untuk rakyat yang mengikuti aku ini, sebab mereka telah lelah, dan aku sedang mengejar Zebah dan Salmuna, raja-raja Midian.’ ⁶Tetapi jawab para pemuka di Sukot itu: ’Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada tentaramu?’ ⁷Lalu kata Gideon: ’Kalau begitu, apabila TUHAN menyerahkan Zebah dan Salmuna ke dalam tanganku, aku akan menggaruk tubuhmu dengan duri padang gurun dan onak.’ ⁸Maka berjalanlah ia dari sana ke Pnuel, dan berkata demikian juga kepada orang-orang Pnuel, tetapi orang-orang inipun menjawabnya seperti orang-orang Sukot. ⁹Lalu berkatalah ia juga kepada orang-orang Pnuel: ’Apabila aku kembali dengan selamat, maka aku akan merobohkan menara ini.’
¹⁰Sementara itu Zebah dan Salmuna ada di Karkor bersama-sama dengan tentara mereka, kira-kira lima belas ribu orang banyaknya, yakni semua orang yang masih tinggal hidup dari seluruh tentara orang-orang dari sebelah timur; banyaknya yang tewas ada seratus dua puluh ribu orang yang bersenjatakan pedang. ¹¹Gideon maju melalui jalan orang-orang yang diam di dalam kemah di sebelah timur Nobah dan Yogbeha, lalu memukul kalah tentara itu, ketika tentara itu menyangka dirinya aman. ¹²Zebah dan Salmuna melarikan diri, tetapi Gideon mengejar mereka dan menawan kedua raja Midian itu, yakni Zebah dan Salmuna, sedang seluruh tentara itu diceraiberaikannya.
¹³Kemudian kembalilah Gideon bin Yoas dari peperangan dengan melalui pendakian Heres; ¹⁴ditangkapnyalah seorang muda dari penduduk Sukot. Setelah ditanyai, orang itu menuliskan nama para pemuka dan para tua-tua di Sukot untuk Gideon, tujuh puluh tujuh orang banyaknya. ¹⁵Lalu pergilah Gideon kepada orang-orang Sukot sambil berkata: ’Inilah Zebah dan Salmuna yang karenanya kamu telah mencela aku dengan berkata: Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada orang-orangmu yang lelah itu?’ ¹⁶Lalu ia mengumpulkan para tua-tua kota itu, ia mengambil duri padang gurun dan onak, dan menghajar orang-orang Sukot dengan itu. ¹⁷Juga menara Pnuel dirobohkannya dan dibunuhnya orang-orang kota itu.
¹⁸Kemudian bertanyalah ia kepada Zebah dan Salmuna: ’Di manakah orang-orang yang telah kamu bunuh di Tabor itu?’ Jawab mereka: ’Mereka itu serupa dengan engkau, sikap mereka masing-masing seperti anak raja.’ ¹⁹Lalu kata Gideon: ’Saudara-saudarakulah itu, anak-anak ibuku! Demi TUHAN yang hidup, seandainya kamu membiarkan mereka hidup, aku tidak akan membunuh kamu.’ ²⁰Katanya kepada Yeter, anak sulungnya: ’Bangunlah, bunuhlah mereka.’ Tetapi orang muda itu tidak menghunus pedangnya, karena ia takut, sebab ia masih muda. ²¹Lalu kata Zebah dan Salmuna: ’Bangunlah engkau sendiri dan paranglah kami, sebab seperti orangnya, demikian pula kekuatannya.’ Maka bangunlah Gideon, dibunuhnya Zebah dan Salmuna, kemudian diambilnya bulan-bulanan yang ada pada leher unta mereka.
²²Kemudian berkatalah orang Israel kepada Gideon: ’Biarlah engkau memerintah kami, baik engkau baik anakmu maupun cucumu, sebab engkaulah yang telah menyelamatkan kami dari tangan orang Midian.’ ²³Jawab Gideon kepada mereka: ’Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak akan memerintah kamu tetapi TUHAN yang memerintah kamu.’ ²⁴Selanjutnya kata Gideon kepada mereka: ’Satu hal saja yang kuminta kepadamu: Baiklah kamu masing-masing memberikan anting-anting dari jarahannya.’ —Karena musuh itu beranting-anting mas, sebab mereka orang Ismael. ²⁵Jawab mereka: ’Kami mau memberikannya dengan suka hati.’ Dan setelah dihamparkan sehelai kain, maka masing-masing melemparkan anting-anting dari jarahannya ke atas kain itu. ²⁶Adapun berat anting-anting emas yang dimintanya itu ada seribu tujuh ratus syikal emas, belum terhitung bulan-bulanan, perhiasan telinga dan pakaian kain ungu muda yang dipakai oleh raja-raja Midian, dan belum terhitung kalung rantai yang ada pada leher unta mereka. ²⁷Kemudian Gideon membuat efod dari semuanya itu dan menempatkannya di kotanya, di Ofra. Di sanalah orang Israel berlaku serong dengan menyembah efod itu; inilah yang menjadi jerat bagi Gideon dan seisi rumahnya. ²⁸Demikianlah orang Midian tunduk kepada orang Israel dan tidak dapat menegakkan kepalanya lagi; maka amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya pada zaman Gideon.
²⁹Lalu Yerubaal bin Yoas pergilah dan diam di rumahnya sendiri. ³⁰Gideon mempunyai tujuh puluh anak laki-laki, semuanya anak kandungnya, sebab ia beristeri banyak; ³¹juga gundiknya yang tinggal di Sikhem melahirkan seorang anak laki-laki baginya, lalu ia memberikan nama Abimelekh kepada anak itu. ³²Gideon bin Yoas mati pada waktu rambutnya telah putih, lalu dikuburkan dalam kubur Yoas, ayahnya, di Ofra kota orang Abiezer."
— Hakim-hakim 6:1–8:32 (TB)
Hakim-hakim 6:1–6. Pembukaan kisah ini mengumandangkan pola lama yang serupa: bangsa Israel telah meninggalkan TUHAN dan mengikuti allah-allah lain (”apa yang jahat”). TUHAN merespons dengan menyerahkan Israel ke bawah penindasan orang Midian. Orang Midian adalah kelompok masyarakat perbatasan yang berasal dari padang gurun Arabia barat dan Semenanjung Sinai. Bentuk penindasan yang mereka timpakan atas Israel bukanlah perebutan wilayah kekuasaan, melainkan penjarahan yang terjadi terus-menerus. Selama tujuh tahun, orang Midian menyerbu ke tanah Israel pada musim panen dan merampas seluruh hasil bumi, baik hasil panen maupun hewan ternak. Penulis membandingkan orang Midian dengan kawanan belalang yang secara alami datang ke padang rumput dan memusnahkan tanaman pangan. Serbuan-serbuan itu membuat Israel melarat, dan Israel berbalik kepada TUHAN untuk meminta pertolongan.
Hakim-hakim 6:7–10. Sebuah variasi baru ditambahkan ke dalam kerangka siklus ini. Alih-alih langsung membangkitkan seorang pembebas bagi umat yang berada dalam kesesakan, Allah terlebih dahulu menyampaikan dakwaan kenabian (prophetic indictment) terhadap Israel. Ia membangkitkan seorang nabi tanpa nama untuk menegur keras bangsa Israel atas ketidaktaatan mereka kepada Allah, yang bertolak belakang dengan karya-karya-Nya yang ajaib demi kepentingan mereka. Subjek orang pertama tunggal ditekankan di dalam teks: ”Akulah yang menuntun kamu . . . Aku membawa kamu . . . Aku melepaskan kamu . . . Aku menghalau mereka . . . Kuberikan kepadamu.” Dengan demikian, sebelum pembebasan itu terjadi, Allah meminta pertanggungjawaban umat atas dosa-dosa mereka.
Malaikat TUHAN kini menampakkan diri secara tiba-tiba. Sosok ini sebelumnya telah diperkenalkan dalam Hakim-hakim 2:1–5 dan berbicara kepada Israel seolah-olah Ia adalah Allah. Penampakan saat ini juga merupakan sebuah teofani (theophany), di mana Malaikat TUHAN menyampaikan firman Allah secara langsung kepada Gideon (bdk. 6:14). Pada waktu itu, Gideon sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur agar ”tersembunyi” dari jarahan orang Midian. Kata kerja tersebut dalam bahasa Ibrani paling sering bermakna ”membuat melarikan diri”, yang memberikan gambaran bahwa Gideon bekerja sedemikian rupa sehingga ia dapat memindahkan gandum tersebut dengan cepat apabila sewaktu-waktu terancam bahaya. Lokasi Ofra tidak dapat dipastikan, kendati masuk akal untuk berasumsi bahwa tempat itu terletak di jantung wilayah suku Manasye. Kaum Gideon merupakan bagian dari setengah suku Manasye yang bermukim di sebelah barat Sungai Yordan (6:15).
Hakim-hakim 6:11–18. Gideon dipanggil dan ditetapkan untuk menjadi pembebas Israel dari tangan orang Midian. Panggilan ini mengingatkan pembaca akan panggilan Allah kepada Musa untuk menyelamatkan umat-Nya dari penindasan Mesir dalam Keluaran 3. Pertama, Malaikat TUHAN-lah yang berbicara kepada kedua tokoh tersebut (Hak. 6:12; Kel. 3:2), dan panggilan-Nya kepada mereka untuk membebaskan umat jelas (Hak. 6:14; Kel. 3:10). Kedua tokoh pembebas ini sama-sama memperlihatkan keengganan yang besar dengan mempertanyakan status dan kesanggupan diri mereka sendiri (Hak. 6:15; Kel. 3:11). Ketika Allah menjawab keengganan Musa, Dia berfirman, ”Bukankah Aku akan menyertai engkau” (Kel. 3:12); TUHAN mengutip anak kalimat yang persis sama dalam jawaban-Nya kepada Gideon (Hak. 6:16). Dalam kedua peristiwa tersebut, Allah memberikan sebuah tanda kepada mereka mengenai panggilan ilahi mereka (Hak. 6:17; Kel. 3:12). Tujuan dari gema ini adalah untuk memperlihatkan bahwa Allah akan membebaskan Israel dari penindasan Midian melalui bejana manusia yang lemah, sama seperti ketika Ia menyelamatkan umat-Nya keluar dari tanah Mesir.
Hakim-hakim 6:19–27. Menjalankan keramahan (hospitalitas) yang lazim di Timur Dekat Kuno, Gideon menyiapkan hidangan makanan bagi orang asing tersebut (bdk. Kej. 18:6–8). Orang asing itu tidak memakan makanan yang disediakan Gideon, melainkan mempersembahkannya sebagai korban. Malaikat TUHAN menyentuhkan ujung tongkat-Nya untuk menyalakan api yang menghanguskan korban persembahan itu. Orang asing itu kemudian lenyap dari pandangan, dan Gideon akhirnya menyadari bahwa ia baru saja berbicara langsung dengan Malaikat TUHAN. Gideon merasa takut bahwa ia akan mati, sebab Allah sendiri telah berfirman, ”tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup” (Kel. 33:20). Ungkapan ”berhadapan muka” kembali mengingatkan pembaca akan Musa yang, sama seperti Gideon, berhadapan muka dengan Allah dan tetap hidup (Ul. 34:10). Tindakan mendirikan mezbah di lokasi peristiwa rohani yang besar merupakan kebiasaan yang lazim (mis. Kej. 12:7–8; 26:25; 35:1).
TUHAN kemudian memerintahkan Gideon untuk menghancurkan mezbah Baal dan tiang berhala Asyera yang ada di sebelahnya di kota asalnya. Baal—dewa cuaca—adalah dewa kesuburan utama bagi orang Kanaan. Asyera—pasangan dari El—adalah dewi kesuburan yang dipuja melalui simbol sebatang pohon atau tiang kultus berhala (Ul. 16:21). Allah memerintahkan Gideon untuk menebang pohon/tiang berhala tersebut, lalu dalam suatu tindakan keadilan yang ironis, mempersembahkan korban di atas mezbah bagi TUHAN dengan menggunakan kayu dari tiang berhala Asyera itu. Gideon taat; namun ia melakukannya pada malam hari karena ia takut, sekalipun Allah telah berjanji untuk menyertainya dan melarangnya menjadi takut.
Hakim-hakim 6:28–32. Ketakutan Gideon terbukti beralasan, sebab orang-orang kota Ofra menuntut agar ia dihukum mati. Namun ayahnya campur tangan membela dirinya dan menantang agar Baal sendiri yang membela perkaranya. Jika Baal sungguh-sungguh allah, ia harus ”berjuang membela dirinya sendiri” (tiga kali diulang dalam 6:31). Tampaknya, tidak ada tindakan lanjutan yang diambil terhadap Gideon. Akibat peristiwa tersebut, Gideon memperoleh nama lain: Yerubaal, yang bermakna ”biarlah Baal berjuang membela diri”, sebuah nama yang bernada ironis sekaligus polemis.
Hakim-hakim 6:33–35. Setelah pengutusan Gideon dan penghancuran tempat pemujaan Baal serta Asyera olehnya, penulis membawa pembaca kembali kepada ancaman awal yang disebutkan dalam Hakim-hakim 6:3. Ancaman bahaya tersebut berupa serbuan ke Lembah Yizreel oleh orang Midian beserta sekutu-sekutu mereka. Sebagai responsnya, Roh TUHAN ”menguasai” (clothed) Gideon; artinya, Roh itu menyelubungi dan memperlengkapi Gideon dengan kuasa untuk mengupayakan pembebasan Israel (bdk. Hak. 3:10, di mana Roh TUHAN ”menghinggapi” Otniel). Gideon kemudian mengerahkan pasukan dari kaumnya—orang-orang Abiezer (dari suku Manasye)—serta seluruh suku Manasye lainnya dan suku-suku tetangganya, yakni Asyer, Zebulon, dan Naftali.
Hakim-hakim 6:36–40. Pada bagian penutup pasal ini, Gideon kembali memperlihatkan keengganannya untuk menjadi pembebas umat Allah. Ia menguji Allah sebanyak dua kali. Pada malam pertama, ia membentangkan guntingan bulu domba di atas lantai tempat pengirikan dan meminta agar embun hanya membasahi bulu itu pada pagi hari, sementara seluruh tanah di sekitarnya tetap kering. Pada malam berikutnya, ia meminta hal yang sebaliknya—agar embun membasahi seluruh tanah tetapi bulu domba itu tetap kering. Dengan demikian, ia memohon kepada Allah untuk melakukan mukjizat pemisahan. Ekspektasi wajarnya adalah embun akan turun membasahi bulu domba maupun tanah di sekitarnya. Pengecualian satu bagian dari bagian lainnya merupakan salah satu cara yang dipakai Allah dalam Perjanjian Lama untuk memberikan kepastian bagi umat-Nya. Sebagai contoh, secara ajaib Allah mengecualikan orang-orang Israel di tanah Gosyen dari terkena tulah keempat, kelima, ketujuh, dan kesembilan yang melanda Mesir (Kel. 8:23; 9:6, 26; 10:23).
Hakim-hakim 7:1–8. Pasukan Gideon berkumpul dan berkemah di dekat mata air Harod di kaki Gunung Gilboa di sebelah timur Lembah Yizreel. Mereka hanya berjarak sekitar dua mil dari orang Midian yang berkemah di dekat Bukit More di sebelah utara. Gideon membawa 32.000 prajurit bersamanya. Allah berfirman kepada Gideon yang ragu-ragu bahwa jumlah prajurit itu terlalu banyak, dan apabila kemenangan atas orang Midian tercapai, orang-orang Israel akan menuntut kemuliaan bagi diri mereka sendiri dan mengambil pujian atas apa yang telah dilakukan Allah (Ul. 8:11–20; 9:4–5). TUHAN bermaksud mengurangi jumlah prajurit dalam pertempuran melawan Midian yang akan segera berlangsung.
Pengurangan pasukan pertama kali terjadi ketika Allah memerintahkan pembebasan dari kewajiban perang bagi mereka yang takut; ini adalah salah satu ketentuan pembebasan tugas yang diatur dalam hukum Taurat (Ul. 20:5–8). Sebagian besar pasukan—sebanyak 22.000 orang—memilih untuk mundur dari pertempuran yang akan datang. Kendati demikian, jumlah prajurit yang tersisa masih terlalu banyak. Allah menetapkan sebuah ”ujian” bagi 10.000 orang yang tersisa. Kata ”menguji” dalam bahasa Ibrani umumnya bermakna ”melebur, memurnikan”; dengan demikian, Allah menggunakan ujian ini bagaikan kowi peleburan (crucible) untuk membuang terak. Sifat pasti dari ujian ini tidak dapat dipastikan, sekalipun tampaknya para prajurit yang berpengalaman dalam peperangan akan bergerak diam-diam ke mata air, merayap rendah, dan menempelkan mulut mereka langsung ke air. Dengan cara itu mereka tidak akan terlihat oleh musuh. Sebaliknya, kelompok lainnya berada pada posisi yang lebih rentan terhadap musuh karena mereka berdiri sambil membawa air ke mulut menggunakan tangan mereka. Melalui ujian ini, hanya ada 300 prajurit yang melakukan tindakan kedua tersebut, dan merekalah yang dipilih Allah untuk maju bertempur. Allah memakai para prajurit yang kurang berpengalaman ini untuk memperlihatkan bahwa Dialah yang menyelamatkan umat-Nya.
Hakim-hakim 7:9–15a. Namun demikian, sifat penakut Gideon kembali mengemuka: kata kerja ”menjadi takut” telah muncul tiga kali sebelumnya dalam kisah ini terkait emosi Gideon (Hak. 6:10, 23, 27). Allah menguatkan hatinya dalam mengemban tugas ini dengan memperkenankannya mendengar percakapan tentang mimpi seorang penjaga pos Midian. Gideon bersama bujangnya pergi mengintai pinggiran perkemahan Midian, dan mereka melihat barisan prajurit yang tak terhitung banyaknya: betapa menciutkan hati jika dibandingkan dengan 300 prajurit Israel yang tidak berpengalaman! Ketika keduanya mengintai perkemahan itu, mereka mendengar percakapan dua orang penjaga musuh. Salah seorang prajurit musuh menceritakan mimpi yang dialaminya: ia bermimpi melihat sekeping roti kecil yang tidak berarti terguling masuk ke perkemahan Midian dan memporak-porandakannya. Penjaga lainnya menafsirkan mimpi itu sebagai simbol bahwa Gideon akan menaklukkan perkemahan Midian. Mimpi merupakan salah satu cara Allah berbicara kepada manusia dalam Perjanjian Lama, baik kepada orang percaya maupun orang yang tidak percaya (mis. Kej. 20:3; 41:1–8). Mimpi beserta maknanya itu sangat meneguhkan hati Gideon, dan seketika itu juga ia menyembah Allah.
Hakim-hakim 7:15b–18. Karena keyakinannya itu, Gideon mempersiapkan ketiga ratus prajuritnya untuk bertempur. Ia membagi pasukannya menjadi tiga kelompok, lalu membekali setiap prajurit dengan sebuah sangkakala, sebuah buyung kosong, dan sebuah suluh. Teks sama sekali tidak menyebutkan persenjataan perang, dan bangsa Israel memang tidak menggunakan senjata dalam meraih kemenangan awal tersebut (lihat 7:23).
Hakim-hakim 7:19–25. Tahap pertama pertempuran berlangsung ketika ketiga pasukan prajurit Israel mengepung perkemahan Midian di tengah malam. Gideon bersama pasukan yang menyertainya memulai serangan dengan meniup sangkakala dan memecahkan buyung-buyung mereka. Dua pasukan lainnya segera melakukan hal yang sama sambil berseru, ”Pedang demi TUHAN dan demi Gideon!” Seluruh kebisingan ini membuat orang-orang Midian dilanda kepanikan sehingga banyak di antara mereka melarikan diri dari perkemahan. Tahap kedua terjadi langsung dari tangan Allah ketika Ia membuat orang Midian saling menyerang satu sama lain dalam pertarungan bersenjata. Mereka yang berhasil melarikan diri lari ke arah selatan dan timur melalui Lembah Yordan menuju tanah Midian. Tahap terakhir berlangsung ketika Gideon menyerukan kepada suku Naftali, Asyer, Manasye, dan Efraim untuk bergabung mengejar orang Midian yang melarikan diri. Tiga suku pertama sebelumnya telah dikerahkan (bdk. Hak. 6:35), namun suku Efraim merupakan peserta baru dalam konflik ini. Suku Efraim, yang bermukim di daerah pegunungan tepat di sebelah selatan Lembah Yizreel, berhasil memotong jalur pelarian musuh ke arah selatan lalu mengejar orang Midian melintasi Sungai Yordan. Sebagai tanda penutup kisah ini, orang-orang Efraim berhasil menawan dua pemimpin Midian, membunuh mereka, memenggal kepalanya, dan membawa kepala-kepala tersebut sebagai trofi yang berlumuran darah kepada Gideon.
Hakim-hakim 8:1–3. Kendati demikian, orang-orang Efraim merasa tidak puas hanya dengan memainkan peran pembersihan dalam konflik melawan Midian tersebut. Faktanya, mereka marah dan berbantah keras dengan Gideon. Suku Efraim memiliki rekam jejak perilaku seperti ini terhadap suku-suku lainnya (bdk. Yos. 17:14–18; Hak. 12:1); nabi Yesaya menyebutnya sebagai ”kecemburuan Efraim” (Yes. 11:13). Gideon meredakan kecemburuan mereka dengan menunjukkan bahwa kontribusi suku Efraim dalam pertempuran mendatangkan hasil yang lebih besar daripada kaum Gideon sendiri, yaitu orang-orang Abiezer—sebab orang Efraimlah yang berhasil menawan kedua pemimpin Midian tersebut!
Hakim-hakim 8:4–9. Perselisihan antarsuku selanjutnya muncul ketika Gideon meminta perbekalan bagi pasukannya kepada dua kota di wilayah teritorial suku Gad: Sukot dan Pnuel, di dekat Sungai Yordan. Gideon dan anak buahnya sedang memburu dua raja Midian, namun mereka sudah kelelahan. Gideon meminta makanan dari kedua kota orang Gad tersebut di tengah perjalanannya, tetapi kedua kota itu menolak memberikan bantuan apa pun. Sebelum melanjutkan pengejaran, Gideon melontarkan ancaman hukuman di masa depan atas kedua kota tersebut—ia berjanji akan ”mencambuki/menggaruk” (flail) tubuh para pemimpin Sukot dengan duri padang gurun dan onak. Kata kerja ”mencambuki/menggaruk” ini umumnya bermakna ”mengirik” (to thresh), yakni suatu proses pertanian untuk meremukkan tanaman pangan guna memisahkan biji-bijian dari batangnya. Gideon kemudian memperingatkan para pemimpin Pnuel bahwa ia akan kembali dan meruntuhkan menara utama kota mereka yang menonjol.
Hakim-hakim 8:10–12. Alur narasi kembali beralih kepada pengejaran terhadap tentara Midian. Pasukan tersebut telah melarikan diri ke Karkor, yang terletak sekitar 100 mil atau 160 kilometer di sebelah timur Laut Mati. Orang-orang Midian berada di wilayah mereka sendiri, sehingga mereka merasa aman dan percaya diri. Kendati jumlah mereka telah menyusut, mereka masih memiliki 15.000 prajurit dibandingkan dengan Gideon yang hanya membawa 300 prajurit. Namun demikian, Gideon melakukan serangan mendadak dan memukul kalah tentara Midian serta menawan kedua raja mereka.
Hakim-hakim 8:13–17. Penulis kembali beralih pada kisah kota Sukot dan Pnuel (pergantian sudut cerita ini bertujuan memberikan efek dramatis). Gideon dan pasukannya kembali ke kawasan kedua kota tersebut, dan di dekat situ mereka menangkap seorang pemuda dari Sukot. Gideon menginterogasinya, lalu pemuda itu menjadi informan dan menyerahkan daftar nama-nama para pemimpin Sukot. Berbekal daftar tertulis di tangannya, Gideon menghajar para pemimpin itu dengan duri sebagaimana telah dijanjikannya dalam Hakim-hakim 8:7. Selanjutnya ia menuju ke Pnuel dan merobohkan menara utamanya sebagaimana telah ia katakan dalam Hakim-hakim 8:9. Namun, Gideon menambah hukuman bagi Pnuel dengan membunuh kaum pria di kota itu, yang barangkali merupakan penumpasan (Heb. cherem) atas kota tersebut. Jika Pnuel merupakan kota permukiman Israel, penerapan penumpasan oleh Gideon ini tidak lazim dan tidak berdasar terhadap bangsanya sendiri. Tindakan ini merupakan pertanda zaman yang disayangkan, dan bahkan mungkin mengantisipasi penumpasan yang kelak dilakukan Israel terhadap suku Benyamin (Hak. 20:48).
Hakim-hakim 8:18–21. Penulis Alkitab kembali beralih kepada kisah kedua raja Midian. Informasi baru disingkapkan: rupanya raja-raja ini telah mengeksekusi beberapa orang Israel di Gunung Tabor, yang kebetulan adalah saudara-saudara kandung Gideon. Dengan demikian, perikop ini memberikan latar belakang tambahan mengenai pembebasan yang dipimpin oleh Gideon. Sebagian dari serangannya terhadap raja-raja Midian tersebut didorong oleh motif balas dendam pribadi (vendetta) terhadap mereka. Namun sekali lagi, Gideon tampak ragu-ragu untuk bertindak. Ia memerintahkan anak sulungnya, Yeter, untuk membunuh raja-raja itu, tetapi Yeter menolak karena rasa takut, faktor usia, dan kurangnya pengalaman. Kedua raja Midian tersebut, yang tetap menantang hingga akhir, mengejek Gideon untuk melakukan tindakan itu sendiri guna membuktikan keperkasaannya. Gideon membunuh mereka dan mengambil bulan-bulanan (hiasan bulan sabit) pada leher unta kepunyaan kaum bangsawan tersebut sebagai trofi kemenangan.
Hakim-hakim 8:22–28. Di sini sifat kemerosotan zaman tersebut tampak dalam diri Gideon. Di satu sisi, penolakan Gideon terhadap tawaran untuk menjadi raja Israel mencerminkan pengakuan yang ortodoks bahwa Yahweh adalah raja. Gideon tidak merebut kekuasaan. Namun di sisi lain, permintaannya akan emas dari rakyat untuk membuat sebuah efod (busana keimaman) yang kelak disembah merupakan tindakan yang sangat menyimpang (grossly unorthodox). Gideon pada akhirnya mendorong umat dalam jalan ”kejahatan” penyembahan berhala mereka. Ia telah membebaskan mereka dari tangan orang Midian, namun menyerahkan mereka ke dalam tangan berhala. Kendati perilaku yang tidak hormat ini, negeri itu aman selama empat puluh tahun di bawah kepemimpinan Gideon sebagai hakim.
Hakim-hakim 8:29–32. Di sinilah kisah tentang Gideon berakhir, dan bagian ini berfungsi sebagai masa transisi menuju hakim berikutnya, yaitu Abimelekh—putra Gideon. Seusai perang melawan Midian, Gideon kembali ke rumahnya, dan ia memperanakkan tujuh puluh orang anak laki-laki dari banyak istri. Selain penyembahan berhala yang dilakukannya, Gideon juga seorang poligamis. Penyebutan tujuh puluh anak laki-laki ini mengantisipasi tindakan Abimelekh dalam Hakim-hakim 9:5. Abimelekh bukanlah putra dari salah seorang istri Gideon di Ofra, melainkan dari gundiknya yang tinggal di Sikhem (yang terletak sekitar tiga puluh mil di sebelah selatan Ofra). Nama Abimelekh bermakna ”ayahku adalah raja”—sebuah nama yang ironis mengingat penolakan Gideon terhadap takhta kerajaan Israel. Barangkali sang anak memanfaatkan arti namanya tersebut dengan berupaya sekuat tenaga untuk menjadi raja.
Abimelekh (8:33–9:57)
"⁸:³³Setelah Gideon mati, kembalilah orang Israel berjalan serong dengan mengikuti para Baal dan membuat Baal-Berit menjadi allah mereka; ³⁴orang Israel tidak ingat kepada TUHAN, Allah mereka, yang telah melepaskan mereka dari tangan semua musuhnya di sekelilingnya, ³⁵juga tidak menunjukkan terima kasihnya kepada keturunan Yerubaal-Gideon seimbang dengan segala yang baik yang telah dilakukannya kepada orang Israel.
⁹:¹Adapun Abimelekh bin Yerubaal pergi ke Sikhem kepada saudara-saudara ibunya dan berkata kepada mereka dan kepada seluruh kaum dari pihak keluarga ibunya: ²”Tolong katakan kepada seluruh warga kota Sikhem: Manakah yang lebih baik bagimu: tujuh puluh orang memerintah kamu, yaitu semua anak Yerubaal, atau satu orang? Dan ingat juga, bahwa aku darah dagingmu.” ³Lalu saudara-saudara ibunya mengatakan hal ihwalnya kepada seluruh warga kota Sikhem, maka condonglah hati orang-orang itu untuk mengikuti Abimelekh, sebab kata mereka: ”Memang ia saudara kita.” ⁴Sesudah itu mereka memberikan kepadanya tujuh puluh uang perak dari kuil Baal-Berit, lalu Abimelekh memberi perak itu sebagai upah kepada petualang-petualang dan orang-orang nekat supaya mengikuti dia. ⁵Ia pergi ke rumah ayahnya di Ofra, lalu membunuh saudara-saudaranya, anak-anak Yerubaal, tujuh puluh orang, di atas satu batu. Tetapi Yotam, anak bungsu Yerubaal tinggal hidup, karena ia menyembunyikan diri. ⁶Kemudian berkumpullah seluruh warga kota Sikhem dan seluruh Bet-Milo; mereka pergi menobatkan Abimelekh menjadi raja dekat pohon tarbantin di tugu peringatan yang di Sikhem.
⁷Setelah hal itu dikabarkan kepada Yotam, pergilah ia ke gunung Gerizim dan berdiri di atasnya, lalu berserulah ia dengan suara nyaring kepada mereka: ”Dengarkanlah aku, kamu warga kota Sikhem, maka Allah akan mendengarkan kamu juga. ⁸Sekali peristiwa pohon-pohon pergi mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun: Jadilah raja atas kami! ⁹Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? ¹⁰Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon ara: Marilah, jadilah raja atas kami! ¹¹Tetapi jawab pohon ara itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan manisanku dan buah-buahku yang baik, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? ¹²Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon anggur: Marilah, jadilah raja atas kami! ¹³Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? ¹⁴Lalu kata segala pohon itu kepada semak duri: Marilah, jadilah raja atas kami! ¹⁵Jawab semak duri itu kepada pohon-pohon itu: Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di gunung Libanon.
¹⁶Maka sekarang, jika kamu berlaku setia dan tulus ikhlas dengan membuat Abimelekh menjadi raja, dan jika kamu berbuat yang baik kepada Yerubaal dan kepada keturunannya dan jika kamu membalaskan kepadanya seimbang dengan jasanya — ¹⁷bukankah ayahku telah berperang membela kamu dan menyabung nyawanya, dan telah melepaskan kamu dari tangan orang Midian, ¹⁸padahal kamu sekarang memberontak terhadap keturunan ayahku dan membunuh anak-anaknya, tujuh puluh orang banyaknya, di atas satu batu, serta membuat Abimelekh anak seorang budaknya perempuan menjadi raja atas warga kota Sikhem, karena ia saudaramu — ¹⁹jadi jika kamu pada hari ini berlaku setia dan tulus ikhlas kepada Yerubaal dan keturunannya, maka silakanlah kamu bersukacita atas Abimelekh dan silakanlah ia bersukacita atas kamu. ²⁰Tetapi jika tidak demikian, maka biarlah api keluar dari pada Abimelekh dan memakan habis warga kota Sikhem dan juga Bet-Milo, dan biarlah api keluar dari pada warga kota Sikhem dan juga dari Bet-Milo dan memakan habis Abimelekh.” ²¹Kemudian larilah Yotam; ia melarikan diri ke Beer, dan tinggal di sana karena takut kepada Abimelekh, saudaranya itu.
²²Setelah tiga tahun lamanya Abimelekh memerintah atas orang Israel, ²³maka Allah membangkitkan semangat jahat di antara Abimelekh dan warga kota Sikhem, sehingga warga kota Sikhem itu menjadi tidak setia kepada Abimelekh, ²⁴supaya kekerasan terhadap ketujuh puluh anak Yerubaal dibalaskan dan darah mereka ditimpakan kepada Abimelekh, saudara mereka yang telah membunuh mereka dan kepada warga kota Sikhem yang membantu dia membunuh saudara-saudaranya itu. ²⁵Sebab warga kota Sikhem itu menempatkan orang untuk menghadang dia di puncak gunung dan merampas setiap orang yang melewati mereka melalui jalan itu. Hal itu dikabarkan kepada Abimelekh.
²⁶Sementara itu Gaal bin Ebed beserta saudara-saudaranya telah datang dan pindah ke kota Sikhem. Warga kota Sikhem percaya kepadanya, ²⁷jadi pergilah mereka ke ladang; mereka mengumpulkan hasil kebun anggur mereka, dan mengirik memerasnya, lalu mengadakan perayaan. Mereka masuk ke kuil allah mereka dan makan minum sambil mengutuki Abimelekh. ²⁸Berkatalah Gaal bin Ebed: ”Siapa itu Abimelekh dan siapa kita orang Sikhem, maka kita menjadi hambanya? Bukankah anak Yerubaal dan Zebul, wakilnya, menjadi hamba orang-orang Hemor, ayah Sikhem, jadi mengapakah kita menjadi hambanya? ²⁹Sekiranya orang-orang kota ini ada di dalam tanganku, maka tentulah aku mengenyahkan Abimelekh.” Lalu berkatalah ia ke arah Abimelekh: ”Perkuatlah tentaramu dan majulah!”
³⁰Ketika Zebul, penguasa kota itu mendengar perkataan Gaal bin Ebed, bangkitlah amarahnya. ³¹Ia mengirim utusan kepada Abimelekh di Aruma dengan pesan: ”Gaal bin Ebed dan saudara-saudaranya telah datang ke Sikhem dan ketahuilah mereka menghasut kota itu melawan engkau. ³²Oleh sebab itu, berangkatlah pada waktu malam, engkau dan rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu, dan adakanlah penghadangan di padang. ³³Esoknya pagi-pagi, pada waktu matahari terbit, haruslah engkau menyerbu kota itu. Dan jika ia dan orang-orangnya keluar melawan engkau, maka engkau dapat berbuat kepadanya sesuai dengan keadaan yang kaudapati.”
³⁴Sebab itu berangkatlah Abimelekh pada waktu malam beserta segala rakyat yang bersama-sama dengan dia, lalu mereka mengadakan penghadangan dalam empat pasukan untuk melawan Sikhem. ³⁵Ketika Gaal bin Ebed pergi ke luar dan berdiri di depan pintu gerbang kota itu, Abimelekh kebetulan bangun dari tempat penghadangannya beserta rakyat yang bersama-sama dengan dia. ³⁶Ketika Gaal melihat rakyat itu, berkatalah ia kepada Zebul: ”Lihat, ada orang banyak turun dari puncak gunung.” Jawab Zebul kepadanya: ”Itu bayang-bayang gunung, yang kausangka manusia.” ³⁷Kata Gaal sekali lagi: ”Lihat, ada orang banyak turun dari gunung Pusat Tanah dan satu kelompok datang dari jalan Pohon Tarbantin Peramal.” ³⁸Jawab Zebul kepadanya: ”Di manakah mulutmu itu yang mengatakan: Siapa itu Abimelekh, maka kita menjadi hambanya? Bukankah ini orang-orang yang telah kauhina itu? Majulah sekarang untuk memerangi mereka.” ³⁹Maka majulah Gaal dengan dipandangi oleh warga kota Sikhem, lalu berperang melawan Abimelekh. ⁴⁰Tetapi Abimelekh mengejar dia, dan ia melarikan diri dari depannya, dan banyaklah orang tewas sampai di depan pintu gerbang. ⁴¹Adapun Abimelekh tinggal di Aruma, tetapi Zebul mengusir Gaal dan saudara-saudaranya, sehingga mereka ini tidak dapat tinggal di Sikhem.
⁴²Keesokan harinya orang-orang kota itu pergi ke ladang. Setelah hal ini dikabarkan kepada Abimelekh, ⁴³dibawanyalah rakyatnya, dibaginya dalam tiga pasukan, lalu mereka mengadakan penghadangan di padang. Ketika dilihatnya, bahwa orang-orang kota itu keluar dari dalam kota, bangunlah ia menyerang mereka serta menewaskan mereka. ⁴⁴Abimelekh dan pasukan yang bersama-sama dengan dia menyerbu dan menduduki pintu gerbang kota, sedang kedua pasukan lain itu menyerbu dan menewaskan semua orang yang ada di padang. ⁴⁵Sehari-harian itu Abimelekh berperang melawan kota itu; ia merebut kota itu dan membunuh orang-orang yang di dalamnya; kemudian dirobohkannya kota itu dan ditaburinya dengan garam.
⁴⁶Mendengar itu masuklah seluruh warga kota Menara-Sikhem ke dalam liang di bawah kuil El-Berit. ⁴⁷Dikabarkanlah kepada Abimelekh, bahwa seluruh warga kota Menara-Sikhem telah berhimpun di sana. ⁴⁸Lalu Abimelekh dan seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia naik ke gunung Zalmon. Abimelekh mengambil kapak, lalu memotong dahan-dahan kayu, mengangkatnya dan meletakkannya ke atas bahunya sambil berkata kepada rakyatnya yang bersama-sama dengan dia: ”Turutilah dengan segera perbuatanku yang kamu lihat ini.” ⁴⁹Kemudian rakyat itu juga masing-masing memotong dahan-dahan, lalu mengikuti Abimelekh, meletakkan dahan-dahan itu di atas liang dan membakar liang itu di atas kepala orang-orang itu. Demikianlah semua penduduk kota Menara-Sikhem juga mati, kira-kira seribu orang laki-laki dan perempuan.
⁵⁰Selanjutnya Abimelekh pergi ke Tebes; ia mengepung Tebes, lalu merebutnya. ⁵¹Tetapi ada sebuah menara yang kuat di tengah-tengah kota, dan semua laki-laki dan perempuan, seluruh warga kota itu, melarikan diri ke situ; mereka menutup pintu di belakangnya dan naik ke atas sotoh menara itu. ⁵²Lalu sampailah Abimelekh ke menara itu, menyerangnya, dan dapat menerobos sampai ke pintu menara itu untuk membakarnya. ⁵³Tetapi seorang perempuan menimpakan sebuah batu kilangan kepada kepala Abimelekh dan memecahkan batu kepalanya. ⁵⁴Dengan segera dipanggilnya bujang pembawa senjatanya dan berkata kepadanya: ”Hunuslah pedangmu dan bunuhlah aku, supaya jangan orang berkata tentang aku: Seorang perempuan membunuh dia.” Lalu bujangnya itu menikam dia, sehingga mati. ⁵⁵Setelah dilihat oleh orang Israel, bahwa Abimelekh telah mati, pergilah mereka, masing-masing ke tempat kediamannya.
⁵⁶Demikianlah Allah membalaskan kejahatan yang dilakukan oleh Abimelekh kepada ayahnya, yaitu pembunuhan atas ketujuh puluh saudaranya; ⁵⁷juga segala kejahatan orang-orang Sikhem ditimpakan kembali oleh Allah kepada kepala mereka sendiri. Demikianlah kutuk Yotam bin Yerubaal mengenai mereka."
— Hakim-hakim 8:33–9:57 (TB)
Hakim-hakim 8:33–9:15. Bangsa Israel bukan saja menyembah efod yang dibuat oleh Gideon, melainkan segera setelah kematiannya, mereka berbalik menyembah allah-allah asing. Mereka beribadah kepada berbagai wujud Baal di negeri itu, dan secara khusus kepada Baal-Berit (”tuan perjanjian”) yang kuilnya berada di Sikhem di daerah pegunungan Efraim. Ironisnya, Sikhem sebelumnya telah dikhususkan sebagai salah satu kota orang Lewi (Yos. 21:21), dan kini menjadi tempat kompleks kuil kafir. Dengan mengikatkan diri kepada sang ”tuan perjanjian”, orang-orang Israel melanggar perjanjian dengan Yahweh dan dengan keluarga Gideon. Kata dalam Hakim-hakim 8:35 untuk ”kasih setia” (steadfast love) lazimnya bermakna ”kesetiaan perjanjian”; bangsa Israel telah mencampakkan perjanjian dengan Allah dan umat-Nya, serta mengikatkan diri mereka melalui perjanjian kepada Baal.
Kemerosotan moral Israel yang terus berlanjut terlihat jelas dengan kemunculan Abimelekh di panggung sejarah. Penulis Alkitab mengarahkan pandangan pembaca kepada Abimelekh sebagai tokoh yang dominan, dengan menyebutkan namanya sebanyak 38 kali di sepanjang pasal sembilan. Abimelekh adalah sosok yang licik dan tidak dapat dipercaya. Dalam episode pembuka, Abimelekh mendatangi kaum kerabat ibunya di Sikhem untuk mencari dukungan mereka agar ia dapat menjadi raja guna menyingkirkan ke-70 anak Gideon yang berdiam di Ofra. Warga Sikhem menyetujuinya karena pertalian kekerabatan pada masa itu dipandang lebih penting daripada kesatuan nasional. Para pemimpin Sikhem mendanai perebutan takhta oleh Abimelekh dengan memberikan tujuh puluh keping perak untuk memusnahkan ketujuh puluh anak Gideon. Abimelekh kemudian membantai semua saudaranya, yang merupakan saingan takhtanya, ”di atas satu batu”. Kendati belum pasti, membunuh saudara-saudaranya di atas batu mungkin merupakan semacam korban ritual yang sesat (bdk. 1Sam. 14:33–34). Setelah pembantaian itu, para pemimpin Sikhem menobatkan Abimelekh menjadi raja di dekat sebatang pohon pada ”tugu peringatan yang di Sikhem”. Para arkeolog telah menemukan sebuah pilar/tugu besar di kuil Kanaan di Sikhem, dan kemungkinan besar di sanalah Abimelekh dinobatkan. Dengan demikian, bangunan kafir tersebut menjadi latar belakang bagi upaya pertama pembentukan monarki di Israel.
Salah seorang saudara, bernama Yotam, luput dari pembantaian tersebut. Setelah pembantaian usai, ia berdiri di sebuah tebing tanjung di Gunung Gerizim, dalam jarak yang aman dari Sikhem, dan menyampaikan sebuah perumpamaan kepada para pemimpin kota itu. Perumpamaan ini disusun dalam struktur sekuens berpanel (paneled sequence), yang mengulang unsur-unsur dalam gerak berturut-turut; artinya, dialog yang sama terjadi antara pohon-pohon dengan empat unsur alam lainnya. Penataan berpanel ini berfungsi untuk membangun ketegangan dramatis di dalam teks. Ketiga unsur pertama yang ditawari jabatan raja atas pohon-pohon—pohon zaitun, pohon ara, dan pohon anggur—semuanya merupakan bagian alam yang sangat produktif. Namun, mereka semua menolak untuk memerintah. Akhirnya, pohon-pohon menawarkan takhta kerajaan kepada semak duri—suatu unsur yang tidak berguna, berbahaya, dan berduri. Pada akhirnya, semak duri tersebut mengancam pohon-pohon itu.
Hakim-hakim 9:16–21. Yotam kemudian menafsirkan dan menerapkan perumpamaan tersebut pada situasi yang sedang terjadi di Sikhem. Jelas bahwa pohon-pohon melambangkan para pemimpin Sikhem yang memilih Abimelekh sebagai raja mereka, dan semak duri menyimbolkan Abimelekh. Yotam menegaskan kaitan tersebut, dengan menyerukan agar api keluar dari Abimelekh untuk menghanguskan para pemimpin Sikhem, sebagaimana semak duri dalam perumpamaan itu mengancam akan memakan habis pohon-pohon. Bagian dari pidato Yotam ini bernada menuduh dan sarkastis, seolah-olah para pemimpin itu telah bertindak adil dalam hal apa pun terhadap Gideon dan anak-anaknya. Karena takut, Yotam melarikan diri untuk bersembunyi, yang mengingatkan pembaca pada pelariannya yang pertama (lihat 9:5).
Hakim-hakim 9:22–25. Selang waktu tiga tahun berlalu sebelum Allah bertindak menabur perselisihan antara Abimelekh dan para pemimpin Sikhem. Allah mengutus roh jahat (semangat permusuhan) untuk melakukan hal ini demi menjatuhkan penghakiman atas mereka semua. Perlu kita perhatikan bahwa TUHAN tidak berbuat jahat, namun unsur-unsur jahat berada di bawah perintah-Nya untuk mewujudkan tujuan-tujuan-Nya (mis. 1Raj. 22:19–22). Dalam kisah ini, penghakiman Allah datang dalam bentuk keadilan yang ironis (ironic justice), dengan membalikkan kekerasan yang dilakukan terhadap anak-anak Gideon ke atas Abimelekh dan para pemimpin Sikhem. Para pemimpin Sikhem yang semula mendukung Abimelekh kini berbalik untuk membinasakannya.
Hakim-hakim 9:26–41. Peluang terjadinya kudeta (coup d’état) terhadap Abimelekh terbuka dengan kemunculan Gaal beserta sanak saudaranya di Sikhem. Mereka kemungkinan besar adalah warga asli Sikhem (perhatikan penggunaan kata ”kita” dalam 9:28). Penduduk Sikhem mengadakan perayaan dengan banyak minum, yang kemudian memicu bualan penuh hinaan terhadap Abimelekh. Gaal, dalam kecongkakan yang meluap, mempertanyakan keabsahan Abimelekh karena ayahnya bukanlah orang Sikhem, lalu ia melontarkan tantangan perang kepada Abimelekh.
Zebul, seorang pejabat yang ditempatkan oleh Abimelekh di Sikhem, mendengar bualan Gaal dan melaporkannya kepada Abimelekh. Karena mengenal baik lingkungan kota itu, Zebul menasihati Abimelekh mengenai cara terbaik untuk menundukkan kota tersebut. Abimelekh menanggapinya dengan memasang pasukan penghadang di sekeliling kota pada malam hari dan melancarkan serbuan jebakan keesokan harinya. Gaal mengira ia melihat pasukan musuh, tetapi Zebul, yang menjalankan perannya dalam siasat tersebut, membuatnya menepis gagasan itu. Hasil akhirnya adalah Gaal dipukul kalah dan melarikan diri.
Hakim-hakim 9:42–45. Abimelekh melampiaskan dendamnya atas Sikhem dan penduduknya. Menyangka bahwa bahaya telah berlalu, orang-orang kota itu keluar ke ladang untuk mengurus hasil panen mereka, dan Abimelekh membantai mereka semua. Ia kemudian merebut kota itu dan membunuh setiap orang yang ada di dalamnya. Hakim-hakim 9:45 menyajikan deretan kata kerja beruntun (staccato) yang mencerminkan tindakan kejam Abimelekh: ia ”berperang . . . merebut . . . membunuh . . . merobohkan . . . menaburi”. Tindakan terakhirnya, yaitu menaburi kota itu dengan garam, merupakan semacam kutukan agar kota tersebut menjadi tandus di masa depan.
Hakim-hakim 9:46–49. Bagian dari penghancuran tersebut mencakup penyerbuan Abimelekh terhadap para pemimpin Sikhem yang telah berkhianat kepadanya. Mereka semua berkumpul untuk mencari perlindungan di dalam liang benteng kuil El-Berit. Abimelekh membakar habis benteng perlindungan itu di atas kepala mereka semua, sesuai dengan perkataan Yotam; sungguh, semak duri telah melahap pohon-pohon dengan api!
Hakim-hakim 9:50–57. Dalam sebuah kisah yang sejajar dengan Menara Sikhem, Abimelekh menyerang kota Tebes, tempat para pemimpin mencari perlindungan di dalam kompleks menara pusatnya. Jika para pemimpin Sikhem yang berkhianat tewas di dalam menara mereka, maka Abimelekh yang berkhianat menemui ajalnya di Menara Tebes. Kisah ini merupakan contoh lain dari keadilan yang ironis (ironic justice), karena Allah membalikkan pengkhianatan serupa ke atas orang-orang yang tidak adil. Kutukan Yotam dari Gunung Gerizim tergenapi melalui kematian setiap pihak yang terlibat.
Kepemimpinan Abimelekh melanjutkan spiral kemerosotan moral di Israel. Sekalipun era ini dimulai dengan kembalinya bangsa Israel kepada penyembahan berhala, Abimelekh tidak melepaskan mereka darinya. Masa kepemimpinannya sebagai hakim adalah masa yang tanpa Allah. Tidak ada catatan di mana pun bahwa Roh TUHAN berkuasa atasnya untuk menyelamatkan Israel, sebagaimana yang dialami oleh para hakim lainnya (bdk. Hak. 3:10; 6:34). Sebaliknya, Allah mengirimkan roh jahat (semangat permusuhan) untuk menjatuhkan penghakiman atas dirinya dan atas para pemimpin Sikhem (9:23). Kisah ini hanyalah sebuah contoh yang brutal dan kasar mengenai ketidaksetiaan suku serta pertikaian internal.
Tola dan Yair (10:1–5)
"¹Sesudah Abimelekh, bangkitlah Tola bin Pua bin Dodo, seorang Isakhar, untuk menyelamatkan orang Israel. Ia diam di Samir, di pegunungan Efraim ²dan ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dua puluh tiga tahun lamanya; kemudian matilah ia, lalu dikuburkan di Samir.
³Sesudah dia, bangkitlah Yair, orang Gilead, yang memerintah sebagai hakim atas orang Israel dua puluh dua tahun lamanya. ⁴Ia mempunyai tiga puluh anak laki-laki, yang mengendarai tiga puluh ekor keledai jantan, dan mereka mempunyai tiga puluh kota, yang sampai sekarang disebutkan orang Hawot-Yair, di tanah Gilead. ⁵Lalu matilah Yair dan dikuburkan di Kamon."
— Hakim-hakim 10:1–5 (TB)
Hakim-hakim 10:1–2. Menyusul kekacauan besar pada zaman Abimelekh, penulis Alkitab menyajikan dua catatan ringkas mengenai masa kepemimpinan hakim Tola dan Yair. Hanya sedikit bahan narasi yang disertakan, yang menggambarkan suatu masa jeda yang damai pada kurun waktu ini. Tola berasal dari suku Isakhar, yang wilayah pembagian tanah pusakanya mencakup sebagian besar Lembah Yizreel. Namun, Tola telah berpindah ke wilayah suku Efraim dan menetap di kota Samir. Samir kemungkinan berkaitan dengan Samaria, yang terletak sekitar 6 mil atau 10 kilometer di sebelah barat laut Sikhem; kota ini kelak menjadi ibu kota kerajaan Israel utara (1Raj. 16:24). Berbeda dengan Abimelekh, Tola bangkit untuk menyelamatkan Israel, yang merupakan tujuan yang dinyatakan dari banyak hakim (mis. Hak. 3:9, 15, 31; 6:14; 8:22). Tola memerintah sebagai hakim atas orang Israel selama 23 tahun, kemudian mati, dan dikuburkan di Samir; keterangan penutup ini serupa dengan apa yang dikatakan mengenai Gideon (bdk. 8:32).
Hakim-hakim 10:3–5. Hakim berikutnya adalah Yair, yang berasal dari tanah Gilead di sebelah timur Sungai Yordan. Penulis melukiskannya sebagai sosok yang terhormat dan berkelimpahan. Yair mempunyai 30 anak laki-laki yang mengendarai 30 ekor keledai; keledai pada masa itu merupakan tunggangan bagi kaum bangsawan. Selain itu, kemakmurannya tercermin dalam penamaan 30 kota menurut namanya: Hawot-Yair berarti ”desa-desa Yair”. Tidak ada kekacauan yang dicatat terjadi selama 22 tahun masa jabatannya sebagai hakim. Yair dikuburkan di Kamon, yang terletak di bagian utara wilayah suku Gad.
Yefta (10:6–12:7)
"¹⁰:⁶Orang Israel itu melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; mereka beribadah kepada para Baal dan para Asytoret, kepada para allah orang Aram, para allah orang Sidon, para allah orang Moab, para allah bani Amon dan para allah orang Filistin, tetapi TUHAN ditinggalkan mereka dan kepada Dia mereka tidak beribadah. ⁷Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, dan Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin dan bani Amon. ⁸Dalam tahun itu juga orang Israel ditindas dan diinjak mereka; delapan belas tahun lamanya mereka memperlakukan demikian semua orang Israel yang di seberang sungai Yordan di tanah orang Amori yang di Gilead. ⁹Dan bani Amonpun menyeberangi sungai Yordan untuk berperang melawan suku Yehuda, suku Benyamin dan keturunan Efraim, sehingga orang Israel sangat terdesak.
¹⁰Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN, katanya: ”Kami telah berbuat dosa terhadap Engkau, sebab kami telah meninggalkan Allah kami lalu beribadah kepada para Baal.” ¹¹Tetapi firman TUHAN kepada orang Israel: ”Bukankah Aku yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir, orang Amori, bani Amon, orang Filistin, ¹²orang Sidon, suku Amalek dan suku Maon yang menindas kamu, ketika kamu berseru kepada-Ku? ¹³Tetapi kamu telah meninggalkan Aku dan beribadah kepada allah lain; sebab itu Aku tidak akan menyelamatkan kamu lagi. ¹⁴Pergi sajalah berseru kepada para allah yang telah kamu pilih itu; biar merekalah yang menyelamatkan kamu, pada waktu kamu terdesak.” ¹⁵Kata orang Israel kepada TUHAN: ”Kami telah berbuat dosa. Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu. Hanya tolonglah kiranya kami sekarang ini!” ¹⁶Dan mereka menjauhkan para allah asing dari tengah-tengah mereka, lalu mereka beribadah kepada TUHAN. Maka TUHAN tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka.
¹⁷Kemudian bani Amon dikerahkan dan berkemah di Gilead, sedang orang Israel berkumpul dan berkemah di Mizpa. ¹⁸Maka para pemimpin bangsa di Gilead berkata seorang kepada yang lain: ”Siapakah orang yang berani memulai peperangan melawan bani Amon itu? Dialah yang harus menjadi kepala atas seluruh penduduk Gilead.”
¹¹:¹Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead. ²Juga isteri Gilead melahirkan anak-anak lelaki baginya. Setelah besar anak-anak isterinya ini, maka mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: ”Engkau tidak mendapat milik pusaka dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain.” ³Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob; di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia.
⁴Beberapa waktu kemudian bani Amon berperang melawan orang Israel. ⁵Dan ketika bani Amon itu berperang melawan orang Israel, pergilah para tua-tua Gilead menjemput Yefta dari tanah Tob. ⁶Kata mereka kepada Yefta: ”Mari, jadilah panglima kami dan biarlah kita berperang melawan bani Amon.” ⁷Tetapi kata Yefta kepada para tua-tua Gilead itu: ”Bukankah kamu sendiri membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku, pada waktu kamu terdesak?” ⁸Kemudian berkatalah para tua-tua Gilead kepada Yefta: ”Memang, kami datang kembali sekarang kepadamu, ikutilah kami dan berperanglah melawan bani Amon, maka engkau akan menjadi kepala atas kami, atas seluruh penduduk Gilead.” ⁹Kata Yefta kepada para tua-tua Gilead: ”Jadi, jika kamu membawa aku kembali untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka kepadaku, maka akulah yang akan menjadi kepala atas kamu?” ¹⁰Lalu kata para tua-tua Gilead kepada Yefta: ”Demi TUHAN yang mendengarkannya sebagai saksi antara kita: Kami akan berbuat seperti katamu itu.” ¹¹Maka Yefta ikut dengan para tua-tua Gilead, lalu bangsa itu mengangkat dia menjadi kepala dan panglima mereka. Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa.
¹²Kemudian Yefta mengirim utusan kepada raja bani Amon dengan pesan: ”Apakah urusanmu dengan aku, sehingga engkau mendatangi aku untuk memerangi negeriku?” ¹³Jawab raja bani Amon kepada utusan Yefta: ”Orang Israel, ketika berjalan keluar dari Mesir, telah merampas tanahku, dari sungai Arnon sampai ke sungai Yabok dan sampai ke sungai Yordan. Maka sekarang, kembalikanlah semuanya itu dengan jalan damai.” ¹⁴Lalu Yefta mengirim pula utusan kepada raja bani Amon ¹⁵dengan pesan: ”Beginilah kata Yefta: orang Israel tidak merampas tanah orang Moab atau tanah bani Amon. ¹⁶Sebab ketika berjalan keluar dari Mesir, orang Israel melalui padang gurun sampai ke Laut Teberau dan tiba di Kadesh. ¹⁷Ketika itu orang Israel mengirim utusan kepada raja negeri Edom dengan permintaan: Izinkanlah kiranya kami berjalan melalui negerimu ini. Tetapi raja negeri Edom tidak mau mendengar. Mereka mengirim juga utusan kepada raja negeri Moab, tetapi raja ini menolak. Maka orang Israel tinggal di Kadesh. ¹⁸Kemudian mereka berjalan melalui padang gurun, menempuh jalan keliling tanah Edom dan tanah Moab, lalu sampai ke sebelah timur tanah Moab, maka berkemahlah mereka di seberang sungai Arnon, dengan tidak masuk daerah Moab, sebab sungai Arnon itulah batas daerah Moab. ¹⁹Lalu orang Israel mengirim utusan kepada Sihon, raja orang Amori, raja di Hesybon, dan orang Israel meminta kepadanya: Izinkanlah kiranya kami berjalan melalui negerimu ini sampai ke tempat yang kami tuju. ²⁰Tetapi Sihon tidak percaya kepada orang Israel yang hendak berjalan melalui daerahnya itu, maka dikumpulkannyalah seluruh rakyatnya. Ia berkemah di Yahas, lalu berperang melawan orang Israel. ²¹Tetapi TUHAN, Allah Israel, menyerahkan Sihon dengan seluruh rakyatnya ke dalam tangan orang Israel, dan mereka dikalahkan, sehingga orang Israel menduduki seluruh negeri kepunyaan orang Amori, penduduk negeri itu. ²²Demikianlah dimiliki orang Israel seluruh daerah orang Amori itu, dari sungai Arnon sampai ke sungai Yabok dan dari padang gurun sampai ke sungai Yordan. ²³Maka sekarang TUHAN, Allah Israel, telah merebut milik orang Amori, bagi Israel, umat-Nya. Apakah engkau hendak memiliki pula tanah mereka itu? ²⁴Bukankah engkau akan memiliki apa yang diberi oleh Kamos, allahmu? Demikianlah kami memiliki segala yang direbut bagi kami oleh TUHAN, Allah kami. ²⁵Lagipula, apakah engkau lebih baik dari Balak bin Zipor, raja Moab? Pernahkah ia menuntut hak kepada orang Israel atau pernahkah ia berperang melawan mereka? ²⁶Ketika orang Israel diam di Hesybon dengan segala anak kotanya, di Aroer dengan segala anak kotanya, dan di segala kota sepanjang kedua tepi sungai Arnon selama tiga ratus tahun, mengapa pada waktu itu engkau tidak melepaskan kota-kota itu? ²⁷Jadi aku tidak bersalah terhadap engkau, tetapi engkau berbuat jahat terhadap aku dengan berperang melawan aku. TUHAN, Hakim itu, Dialah yang menjadi hakim pada hari ini antara orang Israel dan bani Amon.” ²⁸Tetapi raja bani Amon tidak mendengarkan perkataan yang disampaikan kepadanya oleh utusan-utusan Yefta.
²⁹Lalu Roh TUHAN menghinggapi Yefta; ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. ³⁰Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: ”Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, ³¹maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” ³²Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya. ³³Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroer sampai dekat Minit — dua puluh kota banyaknya — dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon itu ditundukkan di depan orang Israel.
³⁴Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. ³⁵Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: ”Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.” ³⁶Tetapi jawabnya kepadanya: ”Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.” ³⁷Lagi katanya kepada ayahnya: ”Hanya izinkanlah aku melakukan hal ini: berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku.” ³⁸Jawab Yefta: ”Pergilah,” dan ia membiarkan dia pergi dua bulan lamanya. Maka pergilah gadis itu bersama-sama dengan teman-temannya menangisi kegadisannya di pegunungan. ³⁹Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu; jadi gadis itu tidak pernah kenal laki-laki. Dan telah menjadi adat di Israel, ⁴⁰bahwa dari tahun ke tahun anak-anak perempuan orang Israel selama empat hari setahun meratapi anak perempuan Yefta, orang Gilead itu.
¹²:¹Dikerahkanlah orang Efraim, lalu mereka bergerak ke Zafon. Dan mereka berkata kepada Yefta: ”Mengapa engkau bergerak untuk memerangi bani Amon dengan tidak memanggil kami untuk maju bersama-sama dengan engkau? Sebab itu kami akan membakar rumahmu bersama-sama kamu!” ²Tetapi jawab Yefta kepada mereka: ”Aku dan rakyatku telah terlibat dalam peperangan yang hebat dengan bani Amon; lalu aku memanggil kamu, tetapi kamu tidak datang menyelamatkan aku dari tangan mereka. ³Ketika kulihat, bahwa tidak ada yang datang menyelamatkan aku, maka aku mempertaruhkan nyawaku dan aku pergi melawan bani Amon itu, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tanganku. Mengapa pada hari ini kamu mendatangi aku untuk berperang melawan aku?”
⁴Kemudian Yefta mengumpulkan semua orang Gilead, lalu mereka berperang melawan suku Efraim. Dan orang-orang Gilead mengalahkan suku Efraim itu. Sebab orang-orang itu mengatakan: ”Kamulah orang-orang yang telah lari dari suku Efraim!” — kaum Gilead itu ada di tengah-tengah suku Efraim dan suku Manasye —. ⁵Untuk menghadapi suku Efraim itu, maka orang Gilead menduduki tempat-tempat penyeberangan sungai Yordan. Apabila dari suku Efraim ada yang lari dan berkata: ”Biarkanlah aku menyeberang,” maka orang Gilead berkata kepadanya: ”Orang Efraimkah engkau?” Dan jika ia menjawab: ”Bukan,” ⁶maka mereka berkata kepadanya: ”Coba katakan dahulu: syibolet.” Jika ia berkata: sibolet, jadi tidak dapat mengucapkannya dengan tepat, maka mereka menangkap dia dan menyembelihnya dekat tempat-tempat penyeberangan sungai Yordan itu. Pada waktu itu tewaslah dari suku Efraim empat puluh dua ribu orang.
⁷Yefta memerintah sebagai hakim atas orang Israel enam tahun lamanya. Kemudian matilah Yefta, orang Gilead itu, lalu dikuburkan di sebuah kota di daerah Gilead."
— Hakim-hakim 10:6–12:7 (TB)
Hakim-hakim 10:6–9. Di sini penulis Alkitab menyajikan dua tahap pertama dalam pola berulang zaman para hakim. Bagian ini tidak sekadar mengulang pola tersebut, karena penulis bermaksud memperlihatkan adanya peningkatan intensitas dari setiap tahap dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Tahap pertama berupa gelombang pasang atau tsunami penyembahan berhala di pihak Israel. Mereka beribadah kepada allah-allah yang dekat dan yang jauh. Tanggapan Yahweh sama tegasnya, ketika Dia menyerahkan Israel ke dalam tangan penindasan dua kelompok: orang Filistin di sebelah barat dan bani Amon di sebelah timur. Dua kata kerja yang lazimnya diterjemahkan sebagai ”menindas dan menginjak-injak” (TB: ”ditindas dan diinjak”) pada awal Hakim-hakim 10:8 merupakan suatu bentuk hendiadis (suatu gaya bahasa di mana dua kata digabungkan), yang menekankan beratnya penindasan, khususnya dari pihak bani Amon. Bani Amon bukan saja memerangi orang-orang Israel di sebelah timur Sungai Yordan, melainkan juga menyerbu suku-suku di daerah pegunungan di sebelah barat sungai tersebut. Akibatnya, orang Israel menjadi ”sangat terdesak”.
Hakim-hakim 10:10–16. Seperti biasanya, bangsa Israel merasakan penindasan itu dengan tajam, sehingga mereka berseru kepada Yahweh memohon kelepasan. TUHAN mengingatkan mereka bahwa Dia telah berulang kali menyelamatkan mereka dari berbagai bangsa. Allah mendaftarkan tujuh kelompok bangsa—angka kesempurnaan dan kepenuhan—yang darinya Dia telah melepaskan umat-Nya. Situasi yang sedang berlangsung ini adalah kisah lama yang sama, sehingga Allah mengancam bahwa Dia tidak akan menyelamatkan Israel lagi. Kendati demikian, ancaman ini membuahkan hasil yang semestinya: bangsa Israel bukan saja bertobat, melainkan mereka juga menyingkirkan patung-patung berhala mereka. Ini bukanlah sekadar pengakuan di bibir belaka (lip service). Maka Allah pun bersiap untuk bertindak membela mereka.
Hakim-hakim 10:17–18. Peluang bagi kelepasan Israel terbuka ketika bani Amon mengerahkan pasukan untuk bertempur di Gilead. Orang Israel pun berhimpun, tetapi teks Alkitab hanya menyatakan bahwa mereka ”berkumpul” bersama. Kata kerja ini kemungkinan mencerminkan gagasan bahwa sementara bani Amon telah tersusun dalam barisan tempur, orang Israel lebih menyerupai kerumunan yang tidak berdisiplin atau laskar yang campur aduk. Mereka tidak memiliki kepemimpinan militer ataupun disiplin.
Hakim-hakim 11:1–3. Wilayah Gilead berada di bawah ancaman langsung. Penulis Alkitab tiba-tiba memperkenalkan tokoh Yefta kepada para pembaca, seorang yang berasal dari Gilead. Barangkali dialah sosok yang akan melepaskan Israel dari penindasan, sebab ia memang seorang pahlawan yang gagah perkasa—tepat seperti figur yang dibutuhkan Israel untuk memimpin mereka melawan bani Amon (lihat 10:18). Namun, penulis Alkitab menggarisbawahi silsilah Yefta yang dipertanyakan; ia mungkin seorang yang pemberani, tetapi ia adalah anak dari seorang perempuan sundal. Karena asal-usulnya yang campuran itu, saudara-saudara tirinya mengusir Yefta dari komunitas. Ia melarikan diri ke tanah Tob, suatu daerah di pinggiran padang gurun di sebelah timur Gilead. Di sana, di wilayah pinggiran masyarakat tersebut, sekelompok orang tak beraturan bergabung bersamanya.
Hakim-hakim 11:4–11. Dengan pecahnya pertempuran, para tua-tua Gilead memanggil kembali Yefta dari pengasingannya dan memintanya menjadi ”pemimpin” mereka (TB: ”panglima”; kata ini merujuk kepada komandan militer; perhatikan penggunaannya untuk perwira-perwira berpangkat tinggi dalam tentara Yosua di Yos. 10:24, di mana ESV menerjemahkannya sebagai ”chiefs”). Yefta merasa tersinggung, dan ia menuduh mereka turut mengambil bagian dalam komplotan untuk mencabut hak warisnya. Ia merasa bahwa mereka hanya menginginkan dirinya ketika hal itu sesuai dengan kebutuhan mereka. Menanggapi hal tersebut, para tua-tua menaikkan tawaran mereka: mereka kini memintanya menjadi ”kepala” atas seluruh penduduk Gilead, dan bukan hanya atas bala tentaranya. Suatu kesepakatan sedang dirundingkan, dan Yefta dengan tepat menyertakan nama Yahweh ke dalam pembicaraan tersebut. Para tua-tua kemudian bersumpah demi perjanjian itu, dan Yefta menanggapinya dengan mengucapkan sumpah jabatannya sendiri di hadapan seluruh rakyat di Mizpa (bdk. Hak. 10:17). Rakyat pun mengangkatnya menjadi kepala atas seluruh bangsa sekaligus panglima bala tentara mereka.
Hakim-hakim 11:12–28. Menegaskan kepemimpinan barunya, Yefta memulai perundingan diplomatik dengan bani Amon. Menanggapi para utusan Yefta, raja bani Amon menuduh bahwa Israel telah merampas tanah milik Amon dan Moab pada masa pengembaraan di padang gurun. Suku Gad dan Ruben kini menduduki wilayah tersebut, dan sang raja menuntut agar tanah itu dikembalikan. Sebaliknya, Yefta berusaha meluruskan duduk perkaranya: ia menguraikan kembali peristiwa-peristiwa dalam Bilangan 21–24, yang memperlihatkan bahwa permusuhan awal berasal dari bangsa-bangsa kafir di sebelah timur Sungai Yordan. Raja orang Amori pada masa itu menolak untuk mendengarkan para utusan Israel. Tanggapan serupa kini datang dari raja Amon yang tidak mau mendengarkan para utusan Yefta. Menyadari adanya kebuntuan diplomatik, Yefta dengan tepat memohon kepada Yahweh untuk menghakimi dan bertindak dalam situasi tersebut.
Hakim-hakim 11:29–33. Yahweh memberi kuasa kepada Yefta untuk bertindak (bdk. Hak. 3:10). Sang pembebas kemudian menjelajahi seluruh wilayah Manasye, termasuk Gilead, kemungkinan guna menghimpun pasukan untuk menghadapi bani Amon. Selain mengerahkan prajurit, Yefta mengucapkan suatu nazar kepada Yahweh. Nazar tersebut disusun dengan sebuah protasis (jika . . . ) dan sebuah apodosis (maka . . . ); dengan demikian, nazar tersebut bersifat kondisional (bersyarat). Nazar itu tampak sederhana: jika Yahweh memberikan kemenangan kepadanya, maka Yefta akan mempersembahkan sebagai korban bakaran apa pun yang pertama kali keluar dari pintu rumahnya untuk menyongsongnya setelah kemenangan itu. Objek korban tersebut bersifat ambigu (”apa pun / siapa pun yang keluar”), namun jenis korbannya tidak ambigu. Korban tersebut haruslah berupa korban bakaran utuh yang habis terbakar seluruhnya oleh api (lihat Im. 1). Terjemahan Yunani (Septuaginta) dari kata Ibrani untuk jenis korban ini adalah holocaust.
Nazar ini tampaknya bodoh dan tergesa-gesa. Barangkali Yefta mengira bahwa seekor hewanlah yang akan keluar menemuinya. Pada masa itu, hewan ternak sering kali tinggal di dalam rumah penduduk, biasanya berkeliaran di lantai bawah rumah bertingkat dua. Mengikuti nazar tersebut, TUHAN menyerahkan bani Amon ke dalam tangan Yefta sehingga mereka berhasil ditundukkan. Namun sekarang, bagaimana dengan nazar tersebut?
Hakim-hakim 11:34–39a. Ketika Yefta tiba di rumahnya seusai pertempuran, anak perempuannya keluar dari rumah sambil bernyanyi dan menyambut kepulangan sang pemenang. Yefta bereaksi dengan dukacita dengan mengoyakkan pakaiannya (bdk. Ayb. 1:20). Menurut hukum Taurat, ia tidak dapat membatalkan nazarnya (lihat Bil. 30:2; Ul. 23:21–23). Dan teks Alkitab mengindikasikan bahwa ia melaksanakan nazar korbannya. Anggapan umum yang menyatakan bahwa Yefta hanya mengkhususkan anak perempuannya tampaknya tidak adil terhadap teks dan menghilangkan sengat dari kisah ini.
Mengapa Yefta Membunuh Anak Perempuannya?
Teks Alkitab dan keseluruhan tema Kitab Hakim-hakim mengindikasikan bahwa Yefta melaksanakan nazarnya yang gegabah dan membunuh anak perempuannya sebagai korban manusia. Lantas, bagaimanakah kita menjelaskan nazar Yefta beserta dampaknya ini? Yefta adalah anak seorang perempuan sundal, dan ia diusir dari komunitas Israel di Gilead. Ia melarikan diri ke tanah Tob, yang terletak berdekatan dengan wilayah bani Amon. Kebudayaan dan agama bangsa Amon, yang sesembahan utamanya adalah Molokh—allah korban anak (Im. 18:21; Yer. 32:35)—memengaruhi praktik-praktik Yefta sendiri. Apa yang mungkin sedang kita saksikan di sini adalah sinkretisme, di mana Yefta mencampuradukkan ibadah kepada Yahweh dengan praktik-praktik kultus Molokh. Dengan kata lain, Yefta mengetahui sesuatu tentang Yahweh dan kuasa-Nya, namun ia menambahkan dimensi keji berupa korban manusia kafir ke dalamnya. Kisah mengenai Yefta ini berbau paganisme dan menjadi contoh yang mencolok dari nas tema Kitab Hakim-hakim: ”setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”. Sekali lagi, kita melihat sekilas spiral kemerosotan karakter moral dan rohani zaman tersebut.
Hakim-hakim 11:39b–40. Penulis Alkitab mengakhiri bagian kisah Yefta ini dengan sebuah catatan redaksional bahwa hal itu menjadi suatu kebiasaan di mana perempuan-perempuan Israel pergi selama empat hari dalam setahun untuk meratapi anak perempuan Yefta. Ritual ini tidak pernah lagi disebutkan di bagian lain dalam Perjanjian Lama: barangkali ini hanyalah kegiatan regional setempat, atau tradisi tersebut cepat menghilang. Memang, setelah era para hakim, wilayah Gilead tidak lagi menjadi pusat politik utama di Israel.
Hakim-hakim 12:1–4. Nyaris tanpa diduga-duga, suku Efraim mengerahkan pasukannya, menyeberangi Sungai Yordan, dan mendatangi serta menantang Yefta. Mereka merasa gusar karena tidak dilibatkan dalam pertempuran melawan bani Amon. Reaksi ini sama dengan apa yang pernah mereka lakukan terhadap Gideon dalam perang melawan orang Midian (bdk. Hak. 8:1). Yefta menanggapi ancaman tersebut dengan menempuh jalur diplomasi terlebih dahulu, sebagaimana yang telah dilakukannya terhadap bani Amon. Ia meluruskan orang Efraim dengan mengingatkan mereka bahwa ia telah meminta pertolongan mereka, tetapi mereka enggan bertindak. Namun, serupa pula dengan perkara bani Amon, Yefta kemudian beralih mengangkat senjata untuk memerangi suku Efraim.
Hakim-hakim 12:5–6. Orang Gilead memenangkan pertempuran tersebut, dan mereka menewaskan banyak prajurit Efraim. Tampaknya, banyak prajurit Efraim berusaha melarikan diri menyeberangi kembali Sungai Yordan, namun mereka ketahuan dan dibunuh saat hendak menyeberang. Para pelarian tersebut dikenali melalui ucapan mereka: orang Gilead akan meminta setiap orang pelarian untuk mengucapkan kata ”Syibolet”. Jika ia tidak dapat mengucapkannya dengan tepat, ia akan dibunuh. Pengujian ini bukanlah mengenai arti kata tersebut, karena Syibolet dan Sibolet kemungkinan besar memiliki makna yang sama (”bulir gandum”). Perbedaannya terletak pada pelafalannya. Dialek suku Efraim membuat mereka kesulitan melafalkan bunyi huruf sy pada awal kata tersebut.
Hakim-hakim 12:7. Tulisan nisan (epitaph) terakhir mengenai Yefta bersifat minimalis. Teks hanya menyatakan bahwa ia memerintah sebagai hakim, meninggal dunia, lalu dikuburkan. Penulis tidak menyebutkan bahwa negeri itu aman selama masanya, tidak seperti kebanyakan hakim lainnya (bdk. Hak. 3:11, 30; 5:31; 8:28). Masa itu kemungkinan besar bukanlah masa yang damai: bangsa Israel bukan hanya bertempur melawan musuh-musuh asing, melainkan suku-sukunya juga saling berperang.
Ibzan, Elon, dan Abdon (12:8–15)
"⁸Sesudah dia, maka Ebzan dari Betlehem memerintah sebagai hakim atas orang Israel. ⁹Ia mempunyai tiga puluh anak laki-laki. Tiga puluh anaknya perempuan dikawinkannya ke luar kaumnya dan tiga puluh anak perempuan diambilnya dari luar kaumnya untuk anak-anaknya lelaki itu. Ia memerintah atas orang Israel tujuh tahun lamanya. ¹⁰Kemudian matilah Ebzan, lalu dikuburkan di Betlehem.
¹¹Sesudah dia, maka Elon orang Zebulon memerintah sebagai hakim atas orang Israel. Ia memerintah atas orang Israel sepuluh tahun lamanya. ¹²Kemudian matilah Elon, orang Zebulon itu, lalu dikuburkan di Ayalon, di tanah Zebulon.
¹³Sesudah dia, maka Abdon bin Hilel, orang Piraton, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. ¹⁴Ia mempunyai empat puluh anak laki-laki dan tiga puluh cucu laki-laki, yang mengendarai tujuh puluh ekor keledai jantan. Ia memerintah atas orang Israel delapan tahun lamanya. ¹⁵Kemudian matilah Abdon bin Hilel, orang Piraton itu, lalu dikuburkan di Piraton, di tanah Efraim, di pegunungan orang Amalek."
— Hakim-hakim 12:8–15 (TB)
Hakim-hakim 12:8–10. Tiga hakim berikutnya merentang kurun waktu selama 25 tahun, dan masing-masing dari mereka hanya mendapat sedikit perhatian dari sang penulis Alkitab. Hakim yang pertama adalah Ibzan dari Betlehem. Kita tidak dapat memastikan lokasi kota ini karena ada dua tempat dengan nama tersebut, yaitu satu di Yehuda (Hak. 17:7) dan satu lagi di Zebulon (Yos. 19:15). Ibzan memiliki keturunan yang banyak, yang menjadi indikasi dari kekayaan dan berkat. Pengawasannya atas pernikahan anak-anaknya mencerminkan kecakapan administratifnya sebagai seorang pemimpin suku di Israel.
Hakim-hakim 12:11–12. Ibzan kemudian digantikan oleh Elon dari suku Zebulon. Penulis Alkitab tidak mencatat hal istimewa apa pun mengenai kehidupan ataupun masa jabatannya sebagai hakim.
Hakim-hakim 12:13–15. Hakim yang ketiga adalah Abdon dari suku Efraim. Ia juga adalah seorang yang sangat diberkati, yang memiliki 40 anak laki-laki, 30 cucu laki-laki, dan 70 ekor keledai! Angka 70 secara khusus digunakan untuk melambangkan kelimpahan (bdk. Hak. 8:30). Tiga kata kerja digunakan sebagai rangkuman dari karya ketiga hakim ini: ”ia memerintah sebagai hakim . . . matilah ia . . . lalu dikuburkan.”
Simson (13:1–16:31)
"¹³:¹Orang Israel melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin empat puluh tahun lamanya.
²Pada waktu itu ada seorang dari Zora, dari keturunan orang Dan, namanya Manoah; isterinya mandul, tidak beranak. ³Dan Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu dan berfirman kepadanya, demikian: ”Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. ⁴Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram. ⁵Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin.”
⁶Kemudian perempuan itu datang kepada suaminya dan berkata: ”Telah datang kepadaku seorang abdi Allah, yang rupanya sebagai rupa malaikat Allah, amat menakutkan. Tidak kutanyakan dari mana datangnya, dan tidak juga diberitahukannya namanya kepadaku. ⁷Tetapi ia berkata kepadaku: Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; oleh sebab itu janganlah minum anggur atau minuman yang memabukkan dan janganlah makan sesuatu yang haram, sebab sejak dari kandungan ibunya sampai pada hari matinya, anak itu akan menjadi seorang nazir Allah.”
⁸Lalu Manoah memohon kepada TUHAN, katanya: ”Ya Tuhan, berilah kiranya abdi Allah, yang Kauutus itu, datang pula kepada kami dan mengajar kami, apa yang harus kami perbuat kepada anak yang akan lahir itu.” ⁹Maka Allah mendengarkan permohonan Manoah, sehingga Malaikat Allah datang pula kepada perempuan itu, ketika ia duduk di padang dan ketika Manoah, suaminya itu, tidak ada bersama-sama dengan dia. ¹⁰Kemudian perempuan itu segera berlari memberitahukan kepada suaminya, katanya kepadanya: ”Orang yang datang kepadaku baru-baru ini menampakkan diri pula kepadaku.” ¹¹Lalu bangunlah Manoah dan mengikuti isterinya. Setelah sampai kepada orang itu, berkatalah ia kepadanya: ”Engkaukah orang yang telah berbicara kepada perempuan ini?” Jawabnya: ”Benar!” ¹²Lalu kata Manoah: ”Dan apabila terjadi yang Kaukatakan itu, bagaimanakah nanti cara hidup anak itu dan tingkah lakunya?” ¹³Jawab Malaikat TUHAN itu kepada Manoah: ”Perempuan itu harus memelihara diri terhadap semua yang Kukatakan kepadanya. ¹⁴Janganlah ia makan sesuatu yang berasal dari pohon anggur; anggur atau minuman yang memabukkan tidak boleh diminumnya dan sesuatu yang haram tidak boleh dimakannya. Ia harus berpegang pada segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
¹⁵Kata Manoah kepada Malaikat TUHAN itu: ”Perkenankanlah kami menahan Engkau di sini, supaya kami mengolah anak kambing bagi-Mu.” ¹⁶Tetapi jawab Malaikat TUHAN itu kepada Manoah: ”Sekalipun engkau menahan Aku di sini, hidanganmu itu tidak akan Kumakan. Tetapi jika engkau hendak mengolahnya menjadi korban bakaran, persembahkanlah itu kepada TUHAN.” Sebab Manoah tidak mengetahui, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN. ¹⁷Kemudian berkatalah Manoah kepada Malaikat TUHAN itu: ”Siapakah nama-Mu, sebab apabila terjadi yang Kaukatakan itu, maka kami hendak memuliakan Engkau.” ¹⁸Tetapi jawab malaikat TUHAN itu kepadanya: ”Mengapa engkau juga menanyakan nama-Ku? Bukankah nama itu ajaib?”
¹⁹Sesudah itu Manoah mengambil seekor anak kambing dan korban sajian, lalu mempersembahkannya kepada TUHAN di atas batu. Lalu diperbuat-Nya keajaiban, sementara Manoah dan isterinya memandanginya. ²⁰Sedang nyala api itu naik ke langit dari mezbah, maka naiklah Malaikat TUHAN dalam nyala api mezbah itu. Ketika Manoah dan isterinya melihat hal ini, sujudlah mereka dengan mukanya sampai ke tanah. ²¹Sejak itu Malaikat TUHAN tidak lagi menampakkan diri kepada Manoah dan isterinya. Maka tahulah Manoah, bahwa Dia itu Malaikat TUHAN. ²²Berkatalah Manoah kepada isterinya: ”Kita pasti mati, sebab kita telah melihat Allah.” ²³Tetapi jawab isterinya kepadanya: ”Seandainya TUHAN hendak membunuh kita, maka tidaklah Ia menerima korban bakaran dan korban sajian dari tangan kita dan tidaklah Ia memperlihatkan semuanya itu kepada kita dan tidaklah Ia memperdengarkan hal-hal yang demikian kepada kita pada waktu sekarang ini.”
²⁴Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia. ²⁵Mulailah hatinya digerakkan oleh Roh TUHAN di Mahane-Dan yang terletak di antara Zora dan Esytaol.
¹⁴:¹Simson pergi ke Timna dan di situ ia melihat seorang gadis Filistin. ²Ia pulang dan memberitahukan kepada ayahnya dan ibunya: ”Di Timna aku melihat seorang gadis Filistin. Tolong, ambillah dia menjadi isteriku.” ³Tetapi ayahnya dan ibunya berkata kepadanya: ”Tidak adakah di antara anak-anak perempuan sanak saudaramu atau di antara seluruh bangsa kita seorang perempuan, sehingga engkau pergi mengambil isteri dari orang Filistin, orang-orang yang tidak bersunat itu?” Tetapi jawab Simson kepada ayahnya: ”Ambillah dia bagiku, sebab dia kusukai.” ⁴Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada masa itu orang Filistin menguasai orang Israel.
⁵Lalu pergilah Simson beserta ayahnya dan ibunya ke Timna. Ketika mereka sampai ke kebun-kebun anggur di Timna, maka seekor singa muda mendatangi Simson dengan mengaum. ⁶Pada waktu itu berkuasalah Roh TUHAN atas dia, sehingga singa itu dicabiknya seperti orang mencabik anak kambing — tanpa apa-apa di tangannya. Tetapi tidak diceriterakannya kepada ayahnya atau ibunya apa yang dilakukannya itu. ⁷Maka pergilah ia ke sana, lalu bercakap-cakap dengan perempuan itu, sebab Simson suka kepadanya.
⁸Setelah beberapa waktu kembalilah ia ke sana untuk kawin dengan perempuan itu; dan ketika ia menyimpang dari jalan untuk melihat bangkai singa itu, tampaklah ada kawanan lebah pada kerangka singa itu dan juga madu. ⁹Dikeruknya madu itu ke dalam tangannya dan sambil memakannya ia berjalan terus, kemudian pergilah ia kepada ayahnya dan ibunya, dan memberikannya juga kepada mereka, lalu mereka memakannya. Tetapi tidak diceriterakannya kepada mereka, bahwa madu itu dikeruknya dari kerangka singa.
¹⁰Setelah ayahnya pergi kepada perempuan itu, Simson mengadakan perjamuan di sana, sebab demikianlah biasanya dilakukan orang-orang muda. ¹¹Ketika mereka melihat dia, dipilihlah tiga puluh orang kawan untuk menemani dia. ¹²Kata Simson kepada mereka: ”Aku mau mengatakan suatu teka-teki kepada kamu. Jika kamu dapat memberi jawabnya yang tepat kepadaku dalam tujuh hari selama perjamuan ini berlangsung dan menebaknya, maka aku akan memberikan kepadamu tiga puluh pakaian lenan dan tiga puluh pakaian kebesaran. ¹³Tetapi jika kamu tidak dapat memberi jawabnya kepadaku, maka kamulah yang harus memberikan tiga puluh pakaian dalam dan tiga puluh pakaian kebesaran kepadaku.” Kata mereka kepadanya: ”Katakanlah teka-tekimu itu, supaya kami dengar.” ¹⁴Lalu katanya kepada mereka: ”Dari yang makan keluar makanan, dari yang kuat keluar manisan.” Ada tiga hari lamanya mereka tidak dapat memberi jawab teka-teki itu.
¹⁵Pada hari ketujuh berkatalah mereka kepada isteri Simson: ”Bujuklah suamimu, supaya diberitahukannya kepada kami jawab teka-teki itu; kalau tidak, kami akan membakar engkau beserta seisi rumah ayahmu. Apakah engkau mengundang kami untuk membuat kami menjadi miskin? Tidak, bukan?” ¹⁶Lalu menangislah isteri Simson itu sambil memeluk Simson, katanya: ”Engkau benci saja kepadaku, dan tidak cinta kepadaku; suatu teka-teki kaukatakan kepada orang-orang sebangsaku, tetapi jawabnya tidak kauberitahukan kepadaku.” Sahutnya kepadanya: ”Sedangkan kepada ayahku dan ibuku tidak kuberitahukan, masakan kepada engkau akan kuberitahukan?” ¹⁷Tetapi isterinya itu menangis di sampingnya selama ketujuh hari mereka mengadakan perjamuan itu. Pada hari yang ketujuh diberitahukannyalah kepadanya, karena ia merengek-rengek kepadanya, kemudian perempuan itu memberitahukan jawab teka-teki itu kepada orang-orang sebangsanya.
¹⁸Lalu pada hari yang ketujuh itu, sebelum matahari terbenam, berkatalah orang-orang kota itu kepadanya: ”Apakah yang lebih manis dari pada madu? Apakah yang lebih kuat dari pada singa?” Sahutnya kepada mereka: ”Kalau kamu tidak membajak dengan lembu betinaku, pasti kamu tidak menebak teka-tekiku.” ¹⁹Maka berkuasalah Roh TUHAN atas dia, lalu pergilah ia ke Askelon dan dibunuhnya tiga puluh orang di sana, diambilnya pakaian mereka dan diberikannya pakaian-pakaian kebesaran itu kepada orang-orang yang dapat memberi jawab teka-teki itu. Tetapi amarahnya masih juga bernyala-nyala, lalu pulanglah ia ke rumah ayahnya. ²⁰Maka diberikanlah isteri Simson itu kepada kawannya, bekas pengiringnya.
¹⁵:¹Beberapa waktu kemudian, dalam musim menuai gandum, pergilah Simson mengunjungi isterinya, dengan membawa seekor anak kambing, serta berkata: ”Aku mau ke kamar mendapatkan isteriku.” Tetapi ayah perempuan itu tidak membiarkan dia masuk. ²Kata ayah perempuan itu: ”Aku telah menyangka, bahwa engkau benci sama sekali kepadanya, sebab itu aku memberikannya kepada kawanmu. Bukankah adiknya lebih cantik dari padanya? Baiklah kauambil itu bagimu sebagai gantinya.” ³Lalu kata Simson kepadanya: ”Sekali ini aku tidak bersalah terhadap orang Filistin, apabila aku mendatangkan celaka kepada mereka.”
⁴Maka pergilah Simson, ditangkapnya tiga ratus anjing hutan, diambilnya obor, diikatnya ekor dengan ekor dan ditaruhnya sebuah obor di antara tiap-tiap dua ekor. ⁵Kemudian dinyalakannyalah obor itu dan dilepaskannya anjing-anjing hutan itu ke gandum yang belum dituai kepunyaan orang Filistin, sehingga terbakarlah tumpukan-tumpukan gandum dan gandum yang belum dituai dan kebun-kebun pohon zaitun. ⁶Berkatalah orang Filistin: ”Siapakah yang melakukan ini?” Orang menjawab: ”Simson, menantu orang Timna itu, sebab orang itu telah mengambil isteri Simson dan memberikannya kepada kawannya.” Kemudian pergilah orang Filistin ke sana dan membakar perempuan itu beserta ayahnya. ⁷Lalu berkatalah Simson kepada mereka: ”Jika kamu berbuat demikian, sesungguhnya aku takkan berhenti sebelum aku membalaskannya kepada kamu.” ⁸Dan dengan pukulan yang hebat ia meremukkan tulang-tulang mereka. Lalu pergilah ia dan tinggal dalam gua di bukit batu Etam.
⁹Lalu majulah orang Filistin dan berkemah di daerah Yehuda serta memencar ke Lehi. ¹⁰Berkatalah orang-orang Yehuda: ”Mengapa kamu maju menyerang kami?” Lalu jawab mereka: ”Kami maju untuk mengikat Simson dan memperlakukan dia seperti dia memperlakukan kami.” ¹¹Kemudian turunlah tiga ribu orang dari suku Yehuda ke gua di gunung batu Etam dan berkata kepada Simson: ”Tidakkah kauketahui, bahwa orang Filistin berkuasa atas kita? Apakah juga yang telah kauperbuat terhadap kami?” Tetapi jawabnya kepada mereka: ”Seperti mereka memperlakukan aku, demikianlah aku memperlakukan mereka.” ¹²Kata mereka kepadanya: ”Kami datang ke sini untuk mengikat dan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang Filistin.” Tetapi jawab Simson kepada mereka: ”Bersumpahlah kepadaku, bahwa kamu sendiri tidak akan menyerang aku.” ¹³Lalu kata mereka kepadanya: ”Tidak, kami hanya mau mengikat engkau dan menyerahkan engkau ke dalam tangan mereka, tetapi membunuh engkau kami tidak mau.” Maka mereka mengikat dia dengan dua tali baru dan membawa dia dari bukit batu itu.
¹⁴Setelah ia sampai ke Lehi dan orang-orang Filistin mendatangi dia dengan bersorak-sorak, maka berkuasalah Roh TUHAN atas dia dan tali-tali pada tangannya menjadi seperti batang rami yang telah habis dimakan api dan segala pengikatnya hancur tanggal dari tangannya. ¹⁵Kemudian ia menemui sebuah tulang rahang keledai yang masih baru, diulurkannya tangannya, dipungutnya dan dipukulnya mati seribu orang dengan tulang itu. ¹⁶Berkatalah Simson: ”Dengan rahang keledai bangsa keledai itu kuhajar, dengan rahang keledai seribu orang kupukul.” ¹⁷Setelah berkata demikian, dilemparnya tulang rahang itu dari tangannya. Kemudian dinamailah tempat itu Ramat Lehi.
¹⁸Ketika ia sangat haus, berserulah ia kepada TUHAN: ”Oleh tangan hamba-Mu ini telah Kauberikan kemenangan yang besar itu, masakan sekarang aku akan mati kehausan dan jatuh ke dalam tangan orang-orang yang tidak bersunat itu!” ¹⁹Kemudian Allah membelah liang batu yang di Lehi itu, dan keluarlah air dari situ. Ia minum, lalu menjadi kuat dan segar kembali. Sebab itu dinamailah mata air itu Mata Air Penyeru, yang sampai sekarang masih ada di Lehi. ²⁰Ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dalam zaman orang Filistin, dua puluh tahun lamanya.
¹⁶:¹Pada suatu kali, ketika Simson pergi ke Gaza, dilihatnya di sana seorang perempuan sundal, lalu menghampiri dia. ²Ketika diberitahukan kepada orang-orang Gaza: ”Simson telah datang ke sini,” maka mereka mengepung tempat itu dan siap menghadang dia semalam-malaman itu di pintu gerbang kota, tetapi semalam-malaman itu mereka tidak berbuat apa-apa, karena pikirnya: ”Nanti pada waktu fajar kita akan membunuh dia.” ³Tetapi Simson tidur di situ sampai tengah malam. Pada waktu tengah malam bangunlah ia, dipegangnya kedua daun pintu gerbang kota itu dan kedua tiang pintu, dicabutnyalah semuanya beserta palangnya, diletakkannya di atas kedua bahunya, lalu semuanya itu diangkatnya ke puncak gunung yang berhadapan dengan Hebron.
⁴Sesudah itu Simson jatuh cinta kepada seorang perempuan dari lembah Sorek yang namanya Delila. ⁵Lalu datanglah raja-raja kota orang Filistin kepada perempuan itu sambil berkata: ”Cobalah bujuk dia untuk mengetahui karena apakah kekuatannya demikian besar, dan dengan apakah kami dapat mengalahkan dia dan mengikat dia untuk menundukkannya. Maka kami masing-masing akan memberikan seribu seratus uang perak kepadamu.”
⁶Lalu berkatalah Delila kepada Simson: ”Ceritakanlah kiranya kepadaku, karena apakah kekuatanmu demikian besar, dan dengan apakah engkau harus diikat untuk ditundukkan?” ⁷Jawab Simson kepadanya: ”Jika aku diikat dengan tujuh tali busur yang baru, yang belum kering, maka aku akan menjadi lemah dan menjadi seperti orang lain manapun juga.” ⁸Lalu raja-raja kota orang Filistin membawa tujuh tali busur yang baru yang belum kering kepada perempuan itu dan ia mengikat Simson dengan tali-tali itu, ⁹sedang di kamarnya ada orang bersiap-siap. Kemudian berserulah perempuan itu kepadanya: ”Orang-orang Filistin menyergap engkau, Simson!” Tetapi ia memutuskan tali-tali busur itu seperti tali rami yang terbakar putus, apabila kena api. Dan tidaklah ketahuan di mana duduk kekuatannya itu.
¹⁰Kemudian berkatalah Delila kepada Simson: ”Sesungguhnya engkau telah mempermain-mainkan dan membohongi aku. Sekarang ceritakanlah kiranya kepadaku dengan apa engkau dapat diikat.” ¹¹Jawabnya kepadanya: ”Jika aku diikat erat-erat dengan tali baru, yang belum terpakai untuk pekerjaan apapun, maka aku akan menjadi lemah dan menjadi seperti orang lain manapun juga.” ¹²Kemudian Delila mengambil tali baru, diikatnyalah dia dengan tali-tali itu dan berseru kepadanya: ”Orang-orang Filistin menyergap engkau, Simson!” — di kamar ada orang bersiap-siap — tetapi tali-tali itu diputuskannya tanggal dari tangannya seperti benang saja.
¹³Berkatalah Delila kepada Simson: ”Sampai sekarang engkau telah mempermain-mainkan dan membohongi aku. Ceritakanlah kepadaku dengan apakah engkau dapat diikat.” Jawabnya kepadanya: ”Kalau engkau menenun ketujuh rambut jalinku bersama-sama dengan lungsin lalu mengokohkannya dengan patok, maka aku akan menjadi lemah dan menjadi seperti orang lain manapun juga.” ¹⁴Kemudian perempuan itu mengokohkan lagi tenunan itu dengan patok, lalu berserulah ia kepadanya: ”Orang-orang Filistin menyergap engkau, Simson.” Tetapi ketika ia terjaga dari tidurnya, disentaknya lepas patok tenunan dan lungsin itu.
¹⁵Berkatalah perempuan itu kepadanya: ”Bagaimana mungkin engkau berkata: Aku cinta kepadamu, padahal hatimu tidak tertuju kepadaku? Sekarang telah tiga kali engkau mempermain-mainkan aku dan tidak mau menceritakan kepadaku, karena apakah kekuatanmu demikian besar.” ¹⁶Lalu setelah perempuan itu berhari-hari merengek-rengek kepadanya dan terus mendesak-desak dia, ia tidak dapat lagi menahan hati, sehingga ia mau mati rasanya. ¹⁷Maka diceritakannyalah kepadanya segala isi hatinya, katanya: ”Kepalaku tidak pernah kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibuku aku ini seorang nazir Allah. Jika kepalaku dicukur, maka kekuatanku akan lenyap dari padaku, dan aku menjadi lemah dan sama seperti orang-orang lain.”
¹⁸Ketika dilihat Delila, bahwa segala isi hatinya telah diceritakannya kepadanya, disuruhnyalah memanggil raja-raja kota orang Filistin, katanya: ”Sekali ini lagi datanglah ke mari, sebab ia telah menceritakan segala isi hatinya kepadaku.” Lalu datanglah raja-raja kota orang Filistin itu kepadanya sambil membawa uang itu. ¹⁹Sesudah itu dibujuknya Simson tidur di pangkuannya, lalu dipanggilnya seorang dan disuruhnya mencukur ketujuh rambut jalinnya, sehingga mulailah Simson ditundukkan oleh perempuan itu, sebab kekuatannya telah lenyap dari padanya. ²⁰Lalu berserulah perempuan itu: ”Orang Filistin menyergap engkau, Simson!” Maka terjagalah ia dari tidurnya serta katanya: ”Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas.” Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia. ²¹Orang Filistin itu menangkap dia, mencungkil kedua matanya dan membawanya ke Gaza. Di situ ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan pekerjaannya di penjara ialah menggiling. ²²Tetapi rambutnya mulai tumbuh pula sesudah dicukur.
²³Sesudah itu berkumpullah raja-raja kota orang Filistin untuk mengadakan perayaan korban sembelihan yang besar kepada Dagon, allah mereka, dan untuk bersukaria; kata mereka: ”Telah diserahkan oleh allah kita ke dalam tangan kita Simson, musuh kita.” ²⁴Dan ketika orang banyak melihat Simson, mereka memuji allah mereka, sambil berseru: ”Telah diserahkan oleh allah kita ke dalam tangan kita musuh kita, perusak tanah kita, dan yang membunuh banyak teman kita.” ²⁵Ketika hati mereka riang gembira, berkatalah mereka: ”Panggillah Simson untuk melawak bagi kita.” Simson dipanggil dari penjara, lalu ia melawak di depan mereka, kemudian mereka menyuruh dia berdiri di antara tiang-tiang.
²⁶Berkatalah Simson kepada anak yang menuntun dia: ”Lepaskan aku dan biarkanlah aku meraba-raba tiang-tiang penyangga rumah ini, supaya aku dapat bersandar padanya.” ²⁷Adapun gedung itu penuh dengan laki-laki dan perempuan; segala raja kota orang Filistin ada di sana, dan di atas sotoh ada kira-kira tiga ribu orang laki-laki dan perempuan, yang menonton lawak Simson itu. ²⁸Berserulah Simson kepada TUHAN, katanya: ”Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin.” ²⁹Kemudian Simson merangkul kedua tiang yang paling tengah, penyangga rumah itu, lalu bertopang kepada tiang yang satu dengan tangan kanannya dan kepada tiang yang lain dengan tangan kirinya. ³⁰Berkatalah Simson: ”Biarlah kiranya aku mati bersama-sama orang Filistin ini.” Lalu membungkuklah ia sekuat-kuatnya, maka rubuhlah rumah itu menimpa raja-raja kota itu dan seluruh orang banyak yang ada di dalamnya. Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya.
³¹Sesudah itu datanglah ke sana saudara-saudaranya dan seluruh keluarganya, mereka mengangkat dia dan membawanya dari sana, lalu menguburkannya di antara Zora dan Esytaol di dalam kubur Manoah, ayahnya. Dia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dua puluh tahun lamanya."
— Hakim-hakim 13:1–16:31 (TB)
Boleh jadi ancaman militer paling serius bagi Israel pada periode-periode akhir zaman para hakim datang dari bangsa Filistin. Mereka merupakan salah satu kelompok ”Bangsa Laut” (Sea Peoples) yang menginvasi wilayah pesisir Kanaan di Laut Tengah, kira-kira pada kurun waktu yang sama ketika Israel menaklukkan daerah pegunungan Kanaan. Mereka menetap di dataran pesisir selatan dan mendirikan sebuah negara teritorial di bawah organisasi pentapolis, yaitu persekutuan lima kota utama: Asdod, Askelon, Ekron, Gat, dan Gaza. Konflik antara bangsa Israel di daerah pedalaman dan orang-orang Filistin di pesisir pantai berlangsung terus-menerus dan kerap kali sengit.
Hakim-hakim 13:1. Bangsa Israel kembali kepada jalan-jalan penyembahan berhala mereka, dan Allah menanggapi hal tersebut dengan menundukkan mereka di bawah kekuasaan orang Filistin selama 40 tahun. Angka 40 di dalam Perjanjian Lama sering kali digunakan untuk melambangkan suatu kurun waktu pengujian (misalnya, Kej. 7:4, 12, 17; Ul. 8:2; 1Sam. 17:16). Israel akan berhadapan dengan lawan yang paling tangguh dalam ujian yang berat.
Hakim-hakim 13:2. Penulis Alkitab secara teleskopis mengalihkan sorotannya untuk mengamati sebuah keluarga Israel yang sedang mengalami bahaya besar. Manoah tinggal di Zora, yang terletak sekitar dua mil atau tiga kilometer di sebelah utara Bet-Semes di Lembah Sorek. Lembah ini membentang dari timur ke barat di antara permukiman bangsa Israel di dataran tinggi dan wilayah orang Filistin di kawasan pesisir. Keluarga Manoah berasal dari suku Dan, yang bagian tanah pusaka aslinya berbatasan langsung dengan tanah Filistin. Istri Manoah tidak memiliki anak: sang penulis Alkitab menggunakan gaya bahasa hendiadis (suatu gaya bahasa di mana dua kata digabungkan) di sini melalui frasa ”mandul” dan ”tidak beranak” guna menggarisbawahi kepastian dari kemandulannya.
Hakim-hakim 13:3–5. Tiba-tiba, Malaikat TUHAN (lihat Hak. 6:11–12) menampakkan diri kepada perempuan itu dan memberitahukan kepadanya bahwa ia akan segera melahirkan seorang anak laki-laki. Seorang perempuan mandul yang melahirkan seorang tokoh pembebas melalui campur tangan ilahi merupakan motif yang lazim di seluruh Perjanjian Lama (misalnya, Kej. 11:30; 21:1–7; 1Sam. 1:2, 20). Malaikat TUHAN kemudian menyatakan bahwa anak itu harus dikhususkan sebagai seorang nazir bagi Allah sejak kelahirannya. Kata kerja asal dari kata ”nazir” bermakna ”dikhususkan, dikuduskan”, yang menunjuk kepada sekelompok orang di bawah ikrar penyerahan diri kepada Allah. Baik laki-laki maupun perempuan dapat mengambil bagian dalam ikrar ini (Bil. 6:2). Aspek-aspek spesifik dari pengudusan mereka meliputi: tidak meminum minuman yang memabukkan (Bil. 6:3), tidak menyentuh atau mendekati mayat/bangkai (Bil. 6:6), dan tidak membiarkan pisau cukur menyentuh kepalanya (Bil. 6:5). Penggunaan yang menarik dari istilah ini juga muncul di dalam Imamat 25:5 dan 11, yang merujuk kepada pokok anggur yang ”tidak dirantingi” atau tidak dipangkas; tanaman anggur ini dikhususkan selama tahun Sabat. Kaum nazir merupakan figur-figur rohani, dan nabi Amos menyebut mereka sejajar dengan para nabi sebagai para pemimpin rohani di Israel (Am. 2:11–12).
Hakim-hakim 13:6–14. Perempuan itu menceritakan inti percakapan tersebut kepada suaminya. Ia tidak yakin akan jati diri orang asing itu, kendati ia memiliki firasat mengenainya. Namun, Manoah merasa ragu akan kesaksian istrinya, sehingga ia berdoa memohon agar TUHAN mengutus kembali sang pengunjung kepada mereka. Malaikat TUHAN kemudian menampakkan diri lagi kepada perempuan itu beserta suaminya, dan menegaskan kembali perintah-perintah-Nya mengenai persiapan bagi kelahiran anak tersebut.
Hakim-hakim 13:15–20. Bagian ini menggemakan kembali perjumpaan Gideon terdahulu dengan Malaikat TUHAN (bdk. Hak. 6:11–24). Manoah, serupa dengan Gideon, berhasrat untuk menunjukkan keramahan kepada sang tamu dengan menyiapkan hidangan makanan. Dalam kedua peristiwa tersebut, Malaikat TUHAN melakukan mukjizat lalu lenyap dari pandangan mereka (Hak. 6:21; 13:20). Melalui peristiwa inilah Gideon serta Manoah dan istrinya mulai menyadari jati diri sosok tersebut. Manoah secara terus terang menanyakan nama orang asing itu; di dalam Perjanjian Lama, nama seseorang kerap mencerminkan jati dirinya. Malaikat TUHAN menjawab dengan tidak membeberkan nama diri-Nya, melainkan hanya menyatakan bahwa nama-Nya itu ”ajaib”—suatu kata yang mengindikasikan sesuatu yang luar biasa dan tidak tertandingi sifatnya.
Hakim-hakim 13:21–25. Manoah akhirnya tiba pada kesimpulan yang tepat: ia dan istrinya telah melihat Allah. Ia sepatutnya takut bahwa mereka akan mati, kendati istrinya memberikan argumen yang masuk akal untuk membantahnya. Pernyataan Malaikat TUHAN itu pun tergenapi ketika sang istri melahirkan seorang anak laki-laki yang ia beri nama Simson. Anak itu bertumbuh besar dan diberkati oleh TUHAN. Sebagai persiapan menuju peristiwa-peristiwa berikutnya, Roh TUHAN mulai menggerakkan Simson untuk bertindak—mendorongnya untuk bergerak melawan musuh-musuh Allah.
Hakim-hakim 14:1–2. Bagian pembuka dari kehidupan dewasa Simson diawali dengan perjalanannya ”turun” ke kota orang Filistin, Timna. Ia sedang bergerak turun dari wilayah permukiman bangsa Israel di dataran tinggi menuju dataran rendah pesisir orang Filistin. Ekskavasi arkeologis di Timna (kini Tel Batash) menyingkapkan sebuah kota Filistin yang makmur pada zaman para hakim. Di Timna, Simson melihat seorang perempuan Filistin yang ingin ia nikahi, lalu ia menyampaikan keinginannya itu kepada orang tuanya. Tuntutan Simson atas perempuan tersebut keliru; Allah telah berulang kali memperingatkan bangsa Israel agar tidak melakukan pernikahan campur dengan bangsa-bangsa kafir di negeri itu (misalnya, Kel. 34:16; Ul. 7:3).
Hakim-hakim 14:3–4. Orang tua Simson memprotes bahwa ia berani mengambil istri dari kalangan orang Filistin yang ”tidak bersunat”—suatu bangsa yang tidak mengenakan tanda perjanjian. Jawaban Simson sangat menyingkapkan. Ia membantah hikmat orang tuanya dengan menegaskan, ”dia kusukai” (secara harfiah: ”ia benar di mataku”). Pernyataan ini menjadi contoh yang jelas dari tema seluruh Kitab Hakim-hakim: ”setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (misalnya, Hak. 17:6). Namun demikian, kendati perilaku Simson berdosa, Allah sedang mengatur keadaan demi maksud-maksud-Nya sendiri. Ia sedang mencari gara-gara terhadap orang Filistin karena mereka berkuasa atas dan menindas umat-Nya.
Hakim-hakim 14:5–7. Simson beserta orang tuanya kemungkinan besar pergi ke Timna untuk merundingkan ikatan pernikahan tersebut. Di pinggiran kota itu, seekor singa mendatangi Simson dengan ganas. Menanggapi hal tersebut, ”berkuasalah Roh TUHAN atas dia” (secara harfiah: Roh Yahweh menerpa/menerobos masuk atas dirinya) untuk menghadapi singa tersebut. Frasa ini sering kali muncul di dalam narasi mengenai Simson (Hak. 14:19; 15:14), dan di dalam perikop ini ia berfungsi sebagai pratanda bagi apa yang kelak akan dilakukan Simson terhadap musuh-musuh manusia Allah. Ia mencabik-cabik singa itu sebagaimana orang mencabik-cabik anak kambing. Penolakan Simson untuk menceritakan peristiwa itu kepada orang tuanya menimbulkan ketegangan; bahkan orang tuanya sendiri tidak mengetahui jawaban atas teka-teki yang kelak ia ajukan kepada para pria di Timna. Simson kemudian masuk ke Timna untuk menjumpai perempuan itu, dan penulis Alkitab sekali lagi menegaskan bahwa perempuan itu ”disukai Simson” (benar di matanya; lihat penjelasan mengenai 14:3 di atas).
Hakim-hakim 14:8–9. Peristiwa mengenai singa tersebut berlanjut di sini ketika Simson kembali dan mendapati bangkai singa itu dipenuhi lebah dan madu. Ia mengeruk sebagian madu itu lalu membagikannya kepada orang tuanya. Namun, ia sekali lagi tidak membeberkan kepada mereka dari mana ia memperoleh madu tersebut.
Hakim-hakim 14:10–11. Ayah Simson pergi ke Timna untuk memfinalisasi kontrak pernikahan. Simson kemudian menyiapkan sebuah ”perjamuan” bagi pesta pernikahan sebagaimana kebiasaan pada masa itu. Kata ”perjamuan” berasal dari kata kerja yang bermakna ”minum”, yang mencerminkan suatu pesta minum-minum. Hal ini mungkin bermasalah, mengingat Simson adalah seorang nazir yang wajib berpantang dari minuman yang memabukkan (Hak. 13:4). Orang-orang Filistin dari Timna mengumpulkan 30 orang pria untuk menemani Simson ketika mereka ”melihat” dia. Kata kerja ”melihat” dalam bahasa Ibrani sangat mirip ejaannya dengan kata kerja ”takut”, dan keduanya kerap kali tertukar di dalam bahasa tersebut. Ada kemungkinan orang-orang Filistin takut terhadap Simson, sehingga mereka mengelilinginya dengan 30 orang pria Filistin. Ketegangan pun mulai meningkat.
Hakim-hakim 14:12–14. Perjamuan tersebut akan berlangsung selama tujuh hari, dan pada hari pertama Simson melontarkan sebuah teka-teki kepada 30 kawannya itu. Teka-teki tersebut diajukan dalam bentuk taruhan: jika orang-orang itu sanggup memecahkan teka-teki tersebut, Simson akan memberikan kepada masing-masing dari mereka sehelai pakaian lenan dan sepersalinan pakaian kebesaran. Sebaliknya, jika mereka gagal, merekalah yang harus memberikan pakaian yang sama kepadanya. Orang-orang itu menerima taruhan tersebut. Teka-teki itu disusun dalam bentuk puisi dengan paralelisme yang seimbang:
| a | b | c |
| Dari yang makan | keluar | makanan, |
| a¹ | b¹ | c¹ |
| dari yang kuat | keluar | manisan. |
Tiga hari dari masa perjamuan itu berlalu tanpa seorang pun dari mereka sanggup menebak teka-teki tersebut.
Hakim-hakim 14:15–18a. Para kawan perjamuan itu kemudian berupaya mencari jawaban atas teka-teki tersebut melalui ancaman kekerasan terhadap istri Simson dan keluarganya. Pada hari keempat perjamuan[^4] mereka mengancam akan membakarnya hidup-hidup beserta seluruh isi rumah ayahnya jika ia tidak mencari tahu arti teka-teki itu. Karena takut, perempuan itu menangis kepada Simson sepanjang sisa tujuh hari itu untuk mengorek jawabannya. Rengekannya yang penuh muslihat akhirnya membuat Simson tidak tahan lagi, sehingga pada hari terakhir perjamuan ia membeberkan jawaban tersebut kepadanya. Perempuan itu menyampaikannya kepada kawan-kawan itu yang, pada saat-saat terakhir (”sebelum matahari terbenam”), memberikan jawaban itu kepada Simson.
Hakim-hakim 14:18b–19. Simson menanggapi hal tersebut dengan menuduh mereka telah berbuat curang (telah ”membajak dengan lembu betinaku”). Ini merupakan metafora agraris mengenai membajak ladang dengan memakai hewan milik orang lain demi menuai hasil panen: para sahabat perjamuan itu telah memperalat apa yang menjadi milik Simson guna memperoleh apa yang mereka inginkan. Maka, ia bereaksi dengan ”amarah yang bernyala-nyala”. TUHAN, yang telah mencari gara-gara terhadap orang Filistin, memakai insiden ini dan Roh-Nya ”berkuasa atas” Simson (bdk. Hak. 14:6). Roh itu memberi kuasa kepada Simson untuk sementara waktu untuk pergi ke kota utama Filistin, Askelon, sekitar dua puluh mil di sebelah barat daya Timna. Di sana ia membunuh 30 orang Filistin, melucuti pakaian mereka, dan menyerahkannya kepada para tamu perjamuan. Simson kemudian kembali ke rumah keluarganya di Zora. Tindakan licik orang Filistin berbalik menimpa mereka ketika Simson membunuh 30 orang dari bangsa mereka demi memenuhi nazarnya.
Mengapa Allah Memakai Simson?
Di dalam pasal ini, pembaca diperkenalkan pada cacat cela karakter Simson, baik sebagai seorang nazir maupun sebagai seorang Israel. Ia adalah sosok antihero (anti-pahlawan) sejati. Ia jelas sering bergaul dengan orang-orang Filistin, dan ia bahkan berupaya menikahi salah seorang dari mereka. Dalam ketidaktaatan terhadap ikrar nazirnya, ia mengadakan pesta minum-minum, dan ia menyentuh banyak mayat. Namun demikian, Allah memakai dirinya terlepas dari dosa-dosanya. Kebenaran ini tidak memberi Simson izin untuk berbuat dosa, tetapi Allah memakai orang-orang berdosa untuk mewujudkan maksud-maksud-Nya sendiri dan mendatangkan kemuliaan bagi diri-Nya.
Hakim-hakim 14:20. Pada ayat penutup pasal ini, penulis Alkitab mempersiapkan panggung bagi konfrontasi berikutnya antara Simson dan orang Filistin dengan mencatat bahwa istri Simson diberikan kepada sahabat terdekatnya. Tindakan ini tentu meningkatkan ketegangan, dan taruhan drama ini kian memuncak saat Allah terus mencari gara-gara terhadap orang Filistin.
Hakim-hakim 15:1–3. Setelah berselang beberapa waktu, Simson kembali ke Timna untuk menyempurnakan pernikahannya. Latar waktunya adalah pada musim menuai gandum, yang menjadi latar bagi tindakan Simson kelak dalam membakar ladang-ladang gandum orang Filistin. Di tangannya, Simson membawa seekor anak kambing sebagai hadiah bagi istrinya (barangkali serupa dengan membawakan seikat selusin mawar bagi seorang wanita dalam budaya Barat). Namun, ayah perempuan itu melarang Simson menjumpai istrinya, dan ia mengakui bahwa ia telah menyerahkan putrinya kepada pendamping pengantin Simson. Sang ayah menawarkan adik perempuannya sebagai pengganti, tetapi Simson menolaknya karena ia memandang sang ayah telah melanggar kontrak pernikahan. Oleh karena itu, Simson menuntut balas.
Hakim-hakim 15:4–5. Simson bertindak dengan menangkap 300 ekor anjing hutan (foxes). Binatang-binatang ini kemungkinan adalah jakal, yang berkeliaran dalam kelompok, sedangkan rubah berkeliaran sendirian. Ia mengikat ekor mereka dua demi dua, lalu menaruh obor di antara ekor-ekor yang terikat itu. Ia kemudian menyalakan obor-obor tersebut dan melepaskan binatang-binatang itu ke ladang-ladang gandum di Timna. Saat itu adalah musim menuai gandum, sehingga tindakan tersebut sangat menghancurkan.
Hakim-hakim 15:6. Orang Filistin diberitahu bahwa Simson melakukan perusakan tersebut akibat muslihat licik ayah mertuanya dalam membatalkan kontrak pernikahan. Ironisnya, orang-orang Timna membakar perempuan itu beserta ayahnya hingga tewas. Mereka pernah melontarkan ancaman pembakaran tersebut sebelumnya (Hak. 14:15), dan kini mereka melaksanakannya atas alasan yang berbeda.
Hakim-hakim 15:7–8. Eskalasi pertikaian meningkat saat Simson membalas dengan kekuatan, menewaskan sebagian orang Filistin dalam suatu ”pukulan yang hebat” (secara harfiah dalam ungkapan Ibrani: memukul pangkal paha hingga betis / hip to thigh). Makna idiom ini tidak jelas, namun mungkin merupakan gaya bahasa merismus (dua hal yang berlawanan yang mencakup keseluruhan). Istilah pertama menunjuk pada kaki bagian bawah, dan istilah kedua menunjuk pada kaki bagian atas. Ini barangkali menandakan suatu pukulan yang menyeluruh dan menghancurkan atas setiap musuh yang dihantam oleh Simson. Seusai kemenangannya, Simson meninggalkan Timna dan tinggal di daerah bukit batu Etam, barangkali untuk bersembunyi.
Hakim-hakim 15:9–10. Setelah kehancuran hasil panen dan orang-orang mereka, orang Filistin melancarkan serbuan ke wilayah suku Yehuda. Mereka memburu Simson di daerah Lehi; kita tidak mengetahui lokasi Lehi, namun namanya dalam bahasa Ibrani berarti ”tulang rahang” (hal ini akan berperan kelak dalam kisah ini). Pasukan penyerbu itu mencari keadilan yang ironis: ”memperlakukan dia seperti dia memperlakukan kami”.
Hakim-hakim 15:11–13. Karena takut terhadap orang Filistin, orang-orang Yehuda bertindak sebagai perpanjangan tangan bagi musuh: sebanyak 3.000 orang Yehuda mendatangi Simson dan menuduhnya telah mendatangkan malapetaka atas mereka. Simson mengajukan alasan pembalasan yang setimpal sebagaimana orang Filistin, dengan berkata: ”Seperti mereka memperlakukan aku, demikianlah aku memperlakukan mereka.” Bagaimanapun juga, Simson menyerahkan diri kepada orang-orang Yehuda, yang mengikatnya dengan dua utas tali baru lalu membawanya kepada orang Filistin.
Hakim-hakim 15:14–15. Ketika bala tentara Filistin melihat Simson mendekati Lehi, mereka mengeluarkan pekik perang atau sorak kemenangan. Namun, di sinilah kesempatan lain yang dicari Allah terhadap orang Filistin, sehingga Roh-Nya berkuasa atas Simson untuk memberinya kuasa (lihat Hak. 14:6, 19). Ikatan tali pada kedua tangannya bagaikan tanaman di ladang yang terbakar api; kiasan ini jelas dimaksudkan untuk mengingatkan pembaca pada penghancuran ladang panen Filistin oleh Simson terdahulu (14:4–5). Simson kemudian mengambil sebuah ”tulang rahang keledai yang masih baru”, dan memukul mati banyak prajurit Filistin dengannya. Benda itu masih baru, yang berarti tulangnya belum getas dan tidak mudah patah di tangannya. Selain itu, kata Ibrani untuk ”tulang rahang” adalah lehi, yang merupakan nama tempat terjadinya konfrontasi tersebut.
Hakim-hakim 15:16–17. Simson kemudian melantunkan sebuah kidung kemenangan puitis. Dua baris pertama dari kidung puitis ini memanfaatkan permainan kata (wordplay). Kata Ibrani untuk ”keledai” (hamor) dan ”timbunan/tumpukan” (hamor) merupakan suatu heteronim (dua kata dengan ejaan yang sama tetapi dengan dua makna yang berbeda). Selain itu, dua baris terakhir sejajar dengan dua baris pertama, dan pengulangan puitis ini menegaskan proklamasi penuh gairah dari Simson. Simson kemudian lebih lanjut mengagungkan kemenangannya dengan menamai tempat pertempuran tersebut. Ia menyebutnya Ramat-Lehi, yang bermakna ”bukit tulang rahang”. Nama ini mencerminkan ”timbunan demi timbunan” dalam nyanyian Simson.
Hakim-hakim 15:18–20. Seusai pertempuran, Simson kelelahan, dan ia memohon agar Allah melepaskannya dari tangan orang Filistin. Ia mengakui bahwa Allah telah melepaskannya dalam pertempuran itu, namun kini ia takut jika dirinya dibiarkan jatuh ke tangan kaum ”yang tidak bersunat” (bdk. Hak. 14:3). Allah melepaskannya lagi dengan membelah mata air di batu, sehingga Simson disegarkan kembali. Tempat terjadinya peristiwa tersebut diabadikan dengan nama En-Hakore, yang bermakna ”Mata Air Penyeru”—suatu nama yang bertahan hingga masa penulisan kisah ini. Penulis Alkitab akhirnya menyisipkan formula penutup masa kepemimpinan hakim, yaitu bahwa Simson memerintah sebagai hakim atas orang Israel selama dua puluh tahun.
Hakim-hakim 16:1–3. Watak Simson yang cacat dan berdosa disingkapkan lebih lanjut dalam peristiwa ini. Ia adalah orang yang berbuat apa yang ”benar menurut pandangannya sendiri”, sehingga ia pergi ke Gaza, ”melihat” seorang perempuan sundal Filistin, lalu tidur bersamanya. Gaza, serupa dengan Askelon dalam Hakim-hakim 14:19,[^5] adalah salah satu dari lima kota utama (pentapolis) Filistin, yang berarti Simson berada di jantung wilayah musuh. Keberadaannya segera diketahui, dan penduduk Gaza memasang penghadangan untuk membunuhnya. Namun, Simson bukanlah orang yang bisa dipermainkan: dengan kekuatannya yang luar biasa, ia mencabut salah satu sistem pintu gerbang Gaza, memikulnya di punggungnya, lalu mengangkutnya ke kota Israel, Hebron. Hebron terletak sekitar 36 mil atau 58 kilometer menanjak ke arah timur dari Gaza di daerah pegunungan Yehuda. Drama kepemimpinan Simson kian meningkat, dan orang Filistin, yang dipermalukan olehnya, terus mencari cara untuk membinasakannya. Peluang tersebut terbuka dalam peristiwa berikutnya.
Hakim-hakim 16:4–5. Beberapa waktu kemudian, Simson jatuh cinta kepada seorang perempuan dari Lembah Sorek; bekas istrinya dahulu tinggal di lembah yang sama, di kota Timna (Hak. 14:1). Nama perempuan itu adalah Delila (yang bermakna ”penggoda” atau ”orang yang bersikap merayu”). Para pemimpin kota orang Filistin melihat kesempatan untuk menangkap Simson dengan menyuap perempuan Filistin itu agar menggunakan cara-cara rayuannya terhadapnya. Seluruh adegan penjebakan ini (Hak. 16:4–21) disusun secara sangat terstruktur dan repetitif. Alur kisahnya dibangun dalam empat babak beruntun yang memuat unsur-unsur pengulangan. Tujuan dari pola perulangan ini (paneling) adalah untuk meningkatkan drama dan ketegangan saat teks bergerak menuju babak terakhir.
Hakim-hakim 16:6–9. Pada babak pertama, Delila meminta Simson untuk membeberkan sumber kekuatan besarnya. Simson memberikan jawaban palsu, barangkali dengan nada mempermainkannya, bahwa ia akan kehilangan kekuatannya jika diikat dengan tujuh tali busur baru yang belum kering. Delila mengikatnya sedemikian rupa dan berseru bahwa orang Filistin menyergapnya. Namun, Simson dengan mudah memutuskan tali-tali busur tersebut.
Hakim-hakim 16:10–12. Pada babak kedua, adegan serupa terjadi dengan unsur-unsur perulangan yang sama. Delila menuduh Simson telah memperdaya dirinya dan kembali menanyakan rahasia keperkasaannya. Simson sekali lagi memberikan jawaban dusta: bahwa jika ia diikat dengan tali-tali baru yang belum pernah dipakai bekerja, ia akan menjadi lemah. Sungguh ironis, dahulu dalam Hakim-hakim 15:13–14, orang-orang Yehuda telah mengikatnya dengan cara seperti itu, namun ia melepaskan diri dengan sedikit usaha. Bagaimanapun juga, Delila kembali mengikatnya dan memasang jebakan yang sama. Namun, Simson dengan mudah memutuskan tali-tali tersebut.
Hakim-hakim 16:13–14. Pada babak ketiga, jawaban Simson kepada Delila bergerak semakin mendekati sumber kekuatannya yang sejati, yaitu rambutnya. Ia memberitahukan kepadanya bahwa jika ia menenun jalinan rambut kepalanya lalu menancapkan patok ke dalamnya, ia akan menjadi lemah dan tak berdaya. Terjemahan bahasa Inggris (ESV) menerjemahkan teks tersebut sebagai ”she made them tight with the pin”; pembacaan yang lebih mendasar dan harfiah adalah ”ia memancangkan patok itu”. Ini adalah ungkapan yang sama dengan yang digunakan dalam Hakim-hakim 4:21, ketika Yael ”menghunjamkan patok” ke pelipis Sisera. Kedua adegan ini secara umum serupa, yang menggambarkan perempuan-perempuan berbahaya yang berupaya membinasakan seorang prajurit musuh. Namun, Simson menggagalkan upaya ini juga.
Hakim-hakim 16:15–21. Babak terakhir berlangsung panjang dan mencapai puncaknya. Hari demi hari, Delila merengek dan ”mendesak-desak” dia; kata kerja terakhir ini pernah dipakai dalam Hakim-hakim 14:17 mengenai bekas istri Simson yang ”mendesak” dia untuk memberitahukan arti teka-teki tersebut. Kejengkelan Simson terhadap Delila tampak jelas ketika ”ia tidak dapat lagi menahan hati, sehingga ia mau mati rasanya”. Ia akhirnya menyerah dan menjelaskan kepadanya bahwa kekuatannya bersumber dari ikrar nazirnya kepada Allah, yang dilambangkan oleh rambutnya yang tidak pernah dicukur. Jika ikrar itu dilanggar dengan mencukur rambutnya, maka ia akan menjadi lemah sama seperti laki-laki biasa lainnya. Delila segera bertindak atas informasi tersebut dengan memanggil orang Filistin. Ia menerima upah atas pengkhianatannya, lalu dengan rayuan mencukur habis rambut Simson.
Orang-orang Filistin menangkap Simson, membelenggunya, dan mencungkil kedua bola matanya; tindakan terakhir ini mengandung makna satir yang penting, sebab narasi telah berulang kali melukiskan Simson sebagai orang yang berbuat apa yang ”benar menurut pandangannya sendiri”. Mereka membawanya ke Gaza, tempat di mana ia dahulu mencuri pintu gerbang kota (Hak. 16:1–3), dan memaksanya bekerja menggiling di dalam penjara. Simson tidak sanggup melawan karena kekuatannya telah lenyap. Teks menyoroti alasan sebenarnya dari berkurangnya kekuatannya: ”tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia.” Kekuatan Simson yang sebenarnya bukanlah pada rambutnya, melainkan TUHANlah yang memberi kuasa kepadanya. Kebenaran inilah yang kelak akan ”dilihat” oleh Simson.
Hakim-hakim 16:22. Ayat ini menjadi jeda dramatis di antara kisah penangkapan Simson dan kematiannya yang membalaskan dendam. Dampak ayat ini bersifat satir dalam arti bahwa orang Filistin buta dan bodoh karena tidak terus memangkas rambut Simson!
Hakim-hakim 16:23–30. Orang Filistin kemudian mengadakan pesta dan korban sembelihan yang besar di kuil Dagon di Gaza. Kata ”rumah/gedung” muncul sebanyak empat kali dalam bagian akhir ini (Hak. 16:25, 27, 29, 30), dan kata itu sering kali dapat sekadar menunjuk pada bangunan kuil. Nama ”Dagon” dapat dikaitkan dengan kata ”gandum” (dagan) atau ”ikan” (dag); jelas ia adalah semacam dewa penyedia makanan. Orang banyak yang hadir dalam acara itu memuji Dagon karena telah menyerahkan Simson ke dalam tangan mereka. Mereka kemudian memanggil dan mengarak Simson di depan orang banyak serta menyuruhnya berdiri di antara tiang-tiang kuil.
Sebuah kuil Filistin telah diekskavasi di Tel Qasile. Di sana ditemukan dua umpak batu bundar yang berjarak sekitar sepuluh kaki atau tiga meter, yang dahulu menyangga dua tiang kayu. Tiang-tiang inilah yang menopang lantai dua dan atap gedung tersebut. Di dalam kuil di Gaza, Simson ditempatkan di antara kedua tiang fondasi ini. Ketika ia mendorongnya, seluruh bangunan itu roboh dan menewaskan banyak orang yang hadir.
Hakim-hakim 16:31. Sebagian besar narasi mengenai kehidupan dan kepemimpinan Simson sarat dengan kepentingan diri yang memikat. Simson senantiasa ”berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”. Namun, dalam peristiwa terakhir ini, ia memperoleh penglihatan yang baru, dan ia berpaling kepada TUHAN dengan suatu pengakuan yang baru. TUHAN telah ”mencari gara-gara terhadap orang Filistin” (Hak. 14:4), dan keadilan-Nya datang atas mereka melalui kematian Simson. Kisah ini ditutup dengan cara yang serupa dengan narasi para hakim lainnya, yaitu dengan pencatatan mengenai penguburan Simson dan lamanya masa jabatannya sebagai hakim (bdk. 8:28, 32; 10:2; 12:7).
III. Jurang Keberdosaan dan Kekacauan (17:1–21:25)
Mikha, Orang Lewi, dan Suku Dan (17:1–18:31)
"¹⁷:¹Ada seorang dari pegunungan Efraim, Mikha namanya. ²Berkatalah ia kepada ibunya: ”Uang perak yang seribu seratus itu, yang diambil orang dari padamu dan yang karena itu kauucapkan kutuk — aku sendiri mendengar ucapanmu itu — memang uang itu ada padaku, akulah yang mengambilnya.” Lalu kata ibunya: ”Diberkatilah kiranya anakku oleh TUHAN.” ³Sesudah itu dikembalikannyalah uang perak yang seribu seratus itu kepada ibunya. Tetapi ibunya berkata: ”Aku mau menguduskan uang itu bagi TUHAN, aku menyerahkannya untuk anakku, supaya dibuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu. Maka sekarang, uang itu kukembalikan kepadamu.” ⁴Tetapi orang itu mengembalikan uang itu kepada ibunya, lalu perempuan itu mengambil dua ratus uang perak dan memberikannya kepada tukang perak, yang membuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu; lalu patung itu ditaruh di rumah Mikha. ⁵Mikha ini mempunyai kuil. Dibuatnyalah efod dan terafim, ditahbiskannya salah seorang anaknya laki-laki, yang menjadi imamnya. ⁶Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.
⁷Maka ada seorang muda dari Betlehem-Yehuda, dari kaum Yehuda; ia seorang Lewi dan tinggal di sana sebagai pendatang. ⁸Lalu orang itu keluar dari kota Betlehem-Yehuda untuk menetap sebagai pendatang di mana saja ia mendapat tempat; dan dalam perjalanannya itu sampailah ia ke pegunungan Efraim di rumah Mikha. ⁹Bertanyalah Mikha kepadanya: ”Engkau dari mana?” Jawabnya kepadanya: ”Aku orang Lewi dari Betlehem-Yehuda, dan aku pergi untuk menetap sebagai pendatang di mana saja aku mendapat tempat.” ¹⁰Lalu kata Mikha kepadanya: ”Tinggallah padaku dan jadilah bapak dan imam bagiku; maka setiap tahun aku akan memberikan kepadamu sepuluh uang perak, sepasang pakaian serta makananmu.” ¹¹Orang Lewi itu setuju untuk tinggal padanya. Maka orang muda itu menjadi seperti salah seorang anaknya sendiri. ¹²Mikha mentahbiskan orang Lewi itu; orang muda itu menjadi imamnya dan diam di rumah Mikha. ¹³Lalu kata Mikha: ”Sekarang tahulah aku, bahwa TUHAN akan berbuat baik kepadaku, karena ada seorang Lewi menjadi imamku.”
¹⁸:¹Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel dan pada zaman itu suku Dan sedang mencari milik pusaka untuk menetap, sebab sampai hari itu mereka belum juga mendapat bagian milik pusaka di tengah-tengah suku-suku Israel. ²Sebab itu bani Dan menyuruh dari kaumnya lima orang dari seluruh jumlah mereka, semuanya orang-orang yang gagah perkasa, yang berasal dari Zora dan Esytaol, untuk mengintai negeri itu dan menyelidikinya, serta berkata kepada mereka: ”Pergilah menyelidiki negeri itu.” Ketika orang-orang itu sampai ke pegunungan Efraim di rumah Mikha, bermalamlah mereka di sana. ³Ketika mereka ada dekat rumah Mikha itu, dikenal merekalah logat orang muda suku Lewi itu, lalu singgahlah mereka ke sana dan berkata kepadanya: ”Siapakah yang membawa engkau ke mari? Apakah pekerjaanmu dan urusanmu di sini?” ⁴Katanya kepada mereka: ”Begini begitulah dilakukan Mikha kepadaku; ia menggaji aku dan aku menjadi imamnya.” ⁵Kata mereka kepadanya: ”Tanyakanlah kiranya kepada Allah, supaya kami ketahui apakah perjalanan yang kami tempuh ini akan berhasil.” ⁶Kata imam itu kepada mereka: ”Pergilah dengan selamat! Perjalanan yang kamu tempuh itu dipandang baik oleh TUHAN.”
⁷Sesudah itu pergilah kelima orang itu, lalu sampailah mereka ke Lais. Dilihat merekalah, bahwa rakyat yang diam di sana hidup dengan tenteram, menurut adat orang Sidon, aman dan tenteram. Orang-orang itu tidak kekurangan apapun yang ada di muka bumi, malah kaya harta. Mereka tinggal jauh dari orang Sidon dan tidak bergaul dengan siapapun juga. ⁸Setelah mereka kembali kepada saudara-saudara sesukunya di Zora dan Esytaol, berkatalah saudara-saudara sesukunya kepada mereka: ”Apakah yang kamu dapati di sana?” ⁹Jawab mereka: ”Bersiaplah, marilah kita maju menyerang mereka, sebab kami telah melihat negeri itu, dan memang sangat baik. Masakan kamu tinggal diam! Janganlah bermalas-malas untuk pergi memasuki dan menduduki negeri itu. ¹⁰Apabila kamu memasukinya kamu mendapati rakyat yang hidup dengan tenteram, dan negeri itu luas ke sebelah kiri dan ke sebelah kanan. Sesungguhnya, Allah telah menyerahkannya ke dalam tanganmu; itulah tempat yang tidak kekurangan apapun yang ada di muka bumi.”
¹¹Lalu berangkatlah dari sana, dari Zora dan Esytaol, enam ratus orang dari kaum suku Dan, diperlengkapi dengan senjata. ¹²Mereka maju, lalu berkemah di Kiryat-Yearim di Yehuda. Itulah sebabnya tempat itu disebut Mahane-Dan sampai sekarang; letaknya di sebelah barat Kiryat-Yearim. ¹³Dari sana mereka bergerak terus ke pegunungan Efraim dan sampai di rumah Mikha.
¹⁴Lalu berbicaralah kelima orang yang telah pergi mengintai daerah Lais itu, katanya kepada saudara-saudara sesukunya: ”Tahukah kamu, bahwa dalam rumah-rumah ini ada efod, terafim, patung pahatan dan patung tuangan? Oleh sebab itu, insafilah apa yang akan kamu perbuat!” ¹⁵Kemudian mereka menuju ke tempat itu, lalu sampai di rumah orang muda suku Lewi itu, di rumah Mikha, dan menanyakan apakah ia selamat. ¹⁶Sementara keenam ratus orang dari bani Dan yang diperlengkapi dengan senjata itu tinggal berdiri di pintu gerbang, ¹⁷maka kelima orang yang telah pergi mengintai negeri itu berjalan terus, masuk ke dalam lalu mengambil patung pahatan, efod, terafim dan patung tuangan itu. Adapun imam itu berdiri di pintu gerbang bersama-sama dengan keenam ratus orang yang diperlengkapi dengan senjata itu. ¹⁸Tetapi, setelah yang lain-lain itu masuk ke dalam rumah Mikha dan mengambil patung pahatan, efod, terafim dan patung tuangan itu, berkatalah imam itu kepada mereka: ”Berbuat apakah kamu ini?” ¹⁹Tetapi jawab mereka kepadanya: ”Diamlah, tutup mulut, ikutlah kami dan jadilah bapak dan imam kami. Apakah yang lebih baik bagimu: menjadi imam untuk seisi rumah satu orang atau menjadi imam untuk suatu suku dan kaum di antara orang Israel?” ²⁰Maka gembiralah hati imam itu, diambilnyalah efod, terafim dan patung pahatan itu, lalu masuk ke tengah-tengah orang banyak.
²¹Kemudian berbaliklah mereka dan pergi, dengan anak-anak, ternak dan barang-barang yang berharga ditempatkan di depan mereka. ²²Ketika mereka telah jauh dari rumah Mikha, dikerahkanlah orang-orang dari rumah-rumah yang di dekat rumah Mikha dan orang-orang itu mengejar bani Dan itu. ²³Mereka memanggil-manggil bani Dan, maka berbaliklah orang-orang itu dan berkata kepada Mikha: ”Mau apa engkau dengan mengerahkan orang?” Lalu jawabnya: ²⁴”Allahku yang kubuat serta imam juga kamu ambil, lalu kamu pergi. Apakah lagi yang masih tinggal padaku? Bagaimana perkataanmu itu kepadaku: Mau apa engkau?” ²⁵Berkatalah bani Dan kepadanya: ”Janganlah suaramu kedengaran lagi kepada kami, nanti ada orang yang menyerang engkau karena sakit hati dan dengan demikian engkau serta seisi rumahmu kehilangan nyawa.” ²⁶Lalu bani Dan melanjutkan perjalanannya, dan Mikha, setelah dilihatnya mereka itu lebih kuat dari padanya, berpalinglah ia pulang ke rumahnya.
²⁷Lalu bani Dan, dengan membawa barang-barang yang dibuat Mikha, juga imamnya, mendatangi Lais, yakni rakyat yang hidup dengan aman dan tenteram. Mereka memukul orang-orang itu dengan mata pedang dan kotanya dibakar. ²⁸Tidak ada orang yang datang menolong, sebab kota itu jauh dari Sidon dan orang-orang kota itu tidak bergaul dengan siapapun juga. Letak kota itu di lembah Bet-Rehob. Kemudian bani Dan membangun kota itu kembali dan diam di sana. ²⁹Mereka menamai kota itu Dan, menurut nama bapa leluhur mereka, yakni Dan, yang lahir bagi Israel, tetapi nama kota itu dahulu adalah Lais.
³⁰Bani Dan menegakkan bagi mereka sendiri patung pahatan itu, lalu Yonatan bin Gersom bin Musa bersama-sama dengan anak-anaknya menjadi imam bagi suku Dan, sampai penduduk negeri itu diangkut sebagai orang buangan. ³¹Demikianlah mereka menempatkan bagi mereka sendiri patung pahatan yang telah dibuat Mikha itu, dan patung itu ada di sana selama rumah Allah ada di Silo."
— Hakim-hakim 17:1–18:31 (TB)
Kisah para hakim berakhir dengan kematian dan pemakaman Simson (Hak. 16:28–31), dan lima pasal terakhir ini berfungsi sebagai epilog (penutup) bagi kitab Hakim-hakim. Kisah mengenai Mikha dalam pasal 17–18 mencerminkan kemerosotan yang drastis dalam spiral bangsa Israel selama zaman para hakim.
Hakim-hakim 17:1–4a. Teks ini dibuka dengan memperkenalkan seorang laki-laki bernama Mikha kepada pembaca. Ia berasal dari suku Efraim, yang bermukim di daerah pegunungan tengah. Nama Mikha berarti ”siapakah yang seperti Yahweh?” Nama perjanjian Allah ini muncul dua kali lagi dalam tiga ayat pertama dari kisah tersebut. Tampaknya, ibu Mikha kehilangan sejumlah besar perak karena dicuri orang, dan Mikha mengakui perbuatan pencurian yang dilakukannya itu. Ibunya memberkati Mikha di dalam nama Yahweh dan kemudian, secara ironis, menguduskan perak tersebut bagi Yahweh dengan menyuruh seorang pandai perak untuk menempa sebuah patung pahatan dari sebagian perak itu. Tindakan ini tidak ortodoks dan barangkali mencerminkan sinkretisme serta penggambaran Yahweh melalui patung.
Hakim-hakim 17:4b–6. Mikha kemudian menempatkan patung berhala tersebut di dalam ”rumahnya”, yang lebih lanjut didefinisikan sebagai sebuah ”kuil” (makna harfiahnya adalah ”rumah allah-allah”). Dengan demikian, Mikha adalah seorang penyembah berhala dan penganut politeisme. Ia selanjutnya membuat efod—suatu jubah keimaman—serta menahbiskan salah seorang anak laki-lakinya untuk menjadi imam di tempat kudusnya. Seluruh tindakan ini jelas melanggar perintah-perintah Allah yang diberikan kepada Musa di Sinai. Allah telah memerintahkan agar Israel beribadah hanya kepada-Nya di tempat kudus terpusat yang akan ditetapkan-Nya, dan hanya melalui keimaman kaum Lewi yang telah ditegakkan-Nya. Tepat pada titik inilah, penulis Alkitab menyisipkan catatan redaksional yang sudah tidak asing lagi bagi pembaca: ”Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” Mikha sedang mendirikan pusat keagamaan liarnya sendiri. Ironisnya, ia hidup berlawanan dengan arti namanya (yakni ”siapakah yang seperti Yahweh?”).
Hakim-hakim 17:7–11. Tokoh lain tiba-tiba muncul di dalam teks, seorang Lewi yang sebelumnya tinggal di Betlehem di tanah suku Yehuda. Sebagai seorang Lewi, ia sendiri tidak memiliki bagian tanah milik pusaka, sehingga ia digambarkan mengembara di negeri itu untuk mencari pekerjaan. Dalam perjalanannya, orang Lewi itu tiba di rumah Mikha. Mikha jelas melihat adanya peluang untuk melegitimasikan kuilnya dengan mempekerjakan seseorang yang berasal dari suku keimaman Israel. Mikha meminta orang Lewi itu untuk tinggal bersamanya dan menjadi bapak rohani serta imam bagi tempat kudusnya. Mikha menawarkan tempat tinggal, makanan, pakaian, dan sepuluh keping perak (upah satu tahun bagi seorang pekerja biasa).
Hakim-hakim 17:12–13. Mikha kemudian menahbiskan orang Lewi tersebut. Tindakan ini barangkali mengindikasikan bahwa pemuda itu bukanlah seorang imam Lewi, melainkan hanya seorang Lewi. Ada sebuah pepatah: ”Tidak semua orang Lewi adalah imam, tetapi semua imam adalah orang Lewi.” Seluruh peristiwa ini ortodoksinya dipertanyakan: atas otoritas apa Mikha menahbiskan seorang Lewi ke dalam jabatan imam di sebuah kuil lokal yang tidak sah? Keyakinan Mikha bahwa ia akan makmur karena keberadaan orang Lewi itu merupakan anggapan yang lancang: mengapa Yahweh memberkati suatu tempat kudus liar dan seorang imam yang ditahbiskan secara palsu?
Kisah mengenai Mikha dan orang Lewi dalam pasal 17 bukan sekadar mencerminkan iklim budaya dan keagamaan pada masa itu, melainkan juga melayani tujuan yang lebih besar. Narasi ini menyiapkan panggung bagi migrasi suku Dan dari daerah milik pusaka awal mereka menuju wilayah di ujung utara Israel. Narasi yang lebih awal ini memberikan pembenaran lebih lanjut bagi migrasi suku Dan serta penghancuran mereka atas Lais, sebuah kota Kanaan di utara.
Hakim-hakim 18:1–2. Pasal ini dibuka dengan pengingat tematis: ”Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel.” Suku Dan tidak mampu mengamankan tanah milik pusaka mereka, yang terletak pada posisi rentan berbatasan dengan Laut Tengah dan tanah orang Filistin (lihat Hak. 1:34). Oleh karena itu, suku tersebut, yang tampaknya berdasarkan inisiatif mereka sendiri, memutuskan untuk mencari daerah milik pusaka lain tempat mereka dapat menetap. Mereka mengutus lima orang dari Zora dan Esytaol (kota-kota penting dalam kisah Simson; Hak. 13:25), lalu mereka melakukan perjalanan ke arah timur menuju daerah pegunungan Efraim.
Hakim-hakim 18:3–6. Dalam perjalanan mereka, para pengintai itu tinggal beberapa waktu di rumah Mikha, dan di sanalah mereka mendengar suara orang Lewi itu. Barangkali mereka telah mengenalnya sebelumnya, karena Zora dan Esytaol hanya berjarak sekitar 12 mil atau 19 kilometer dari Betlehem, tempat tinggal orang Lewi itu sebelumnya (Hak. 17:7). Di bawah pertanyaan-pertanyaan mereka, orang Lewi itu menceritakan kisahnya. Mengetahui status keimamannya, para pengintai itu meminta petunjuk (orakel) darinya untuk mengetahui apakah misi perjalanan mereka akan berhasil. Orang Lewi itu meyakinkan mereka bahwa perjalanan mereka berada di bawah pengawasan Yahweh; hal ini tentu saja dipandang sebagai pembenaran ilahi bagi misi mereka dan migrasi suku Dan.
Hakim-hakim 18:7. Kelima pengintai suku Dan itu bergerak maju untuk melanjutkan penyelidikan atas negeri tersebut, hingga mereka tiba di ujung utara dan melihat kota Lais. Mereka melihat sebuah kota yang damai dan penduduknya merasa aman. Seluruh wilayah Lais pada zaman kuno berpenduduk jarang, dan kota Lais sendiri terisolasi. Daerah tersebut hijau dan subur.
Hakim-hakim 18:8–10. Para pengintai kembali ke Zora dan Esytaol, lalu menyampaikan laporan mereka. Penilaian umum mereka sangat jelas: negeri itu sangat baik dan, karena keterpencilannya, akan menjadi sasaran empuk bagi laskar suku Dan. Kesimpulannya adalah bahwa Allah telah menyerahkan kota itu beserta wilayah sekitarnya ke dalam tangan mereka; kesimpulan ini selaras dengan pernyataan petunjuk (orakel) dari orang Lewi tersebut.
Hakim-hakim 18:11–13. Enam ratus prajurit suku Dan, yang diperlengkapi untuk berperang, berangkat dari perkemahan dan menelusuri kembali rute perjalanan kelima pengintai itu. Mereka pertama-tama berhenti di Kiryat-Yearim, yang terletak di perbatasan antara suku Yehuda dan suku Benyamin. Persinggahan ini pasti cukup penting, karena nama tempat itu di kemudian hari sering disebut Mahaneh-Dan (artinya, ”perkemahan Dan”). Dari sana, pasukan tersebut bergerak ke arah timur laut memasuki wilayah milik pusaka suku Efraim, hingga tiba di rumah Mikha.
Hakim-hakim 18:14–20. Tempat tinggal Mikha kemungkinan besar berupa kompleks dengan beberapa bangunan dan pintu gerbang masuk. Ketika laskar suku Dan tiba, mereka berdiri dengan persenjataan lengkap di area pintu gerbang. Rupanya, orang Lewi itu berdiam di sebuah kuil (tempat kudus), dan kelima pengintai masuk ke dalamnya serta berusaha melarikan benda-benda pemujaan itu. Orang Lewi itu menghadapi mereka, namun pada akhirnya ia bersekutu dengan mereka. Para pengintai suku Dan memikatnya dengan iming-iming pelayanan yang lebih besar, sehingga ia terbawa oleh ambisinya sendiri. Orang Lewi itu kemudian mengambil tanggung jawab atas benda-benda pemujaan tersebut yang kini berada di bawah naungan suku Dan.
Hakim-hakim 18:21–26. Suku Dan beranjak pergi dan bergerak ke arah utara menuju Lais. Dalam barisan perjalanan mereka, mereka menempatkan bagian rombongan yang rentan di bagian depan karena adanya ancaman dari orang-orang Mikha di barisan belakang mereka. Benar saja, orang-orang Mikha berkumpul untuk bertempur dan berhasil mengejar orang-orang Dan. Dalam perdebatan lisan di antara kedua kelompok tersebut, mereka bertengkar mengenai kepemilikan benda-benda pemujaan dan imam itu. Suasana rohani pada masa itu telah merosot begitu rendah sehingga anggota dari dua suku Israel saling bertengkar memperebutkan kepemilikan benda-benda pemujaan yang tidak ortodoks! Pada akhirnya, suku Dan memiliki kekuatan militer yang lebih unggul, sehingga Mikha mengurungkan pengejarannya dan pulang ke rumahnya.
Hakim-hakim 18:27–29. Pasukan militer suku Dan menyerang, memusnahkan, lalu membangun kembali kota Lais. Sebagaimana diperkirakan, pertempuran itu berlangsung mudah karena tidak ada seorang pun yang datang untuk membela kota tersebut. Orang-orang Dan kemudian menamai kota itu menurut nama bapa leluhur mereka, yaitu Dan, yang lahir bagi Israel (yakni Yakub; Kej. 49:2, 16–18). Mengganti nama sebuah kota atau penguasa yang ditaklukkan merupakan tindakan yang sering dilakukan untuk mencerminkan penaklukan atau penegakan otoritas atas pihak lain (lihat 2Raj. 24:17).
Hakim-hakim 18:30. Dua ayat terakhir dari kisah ini mengecewakan dan memperlihatkan betapa dalamnya kemurtadan umat Allah pada masa itu. Kita membaca bahwa bani Dan menegakkan patung pahatan itu di Dan lalu membentuk garis keturunan keimaman untuk mengawasi ibadah tersebut. Pada akhirnya, nama orang Lewi itu disingkapkan: ia adalah Yonatan bin Gersom, cucu dari Musa. Kemurtadan bahkan telah menjangkiti garis keturunan sang pemberi hukum yang agung bagi Israel! Bobot penyingkapan ini terbukti dalam tradisi juru tulis atas perikop ini; beberapa juru tulis berusaha memperhalus dampak negatif dari identifikasi ini dengan menambahkan huruf konsonan ”n” (nun) pada nama Musa, sehingga teks terbaca ”Yonatan bin Gersom bin Manasye”. Namun dampak dari pembacaan teks yang tepat sangatlah jelas: garis keturunan imam murtad ini bermula hanya tiga generasi dari Musa dan melayani selama berabad-abad di Dan hingga penaklukan kerajaan utara Israel oleh bangsa Asyur pada tahun 722 SM.
Hakim-hakim 18:31. Patung pahatan itu juga berdiri dalam waktu yang lama di Dan. Teks mengindikasikan bahwa patung itu tidak diturunkan sampai Kemah Suci tidak lagi berada di Silo: Silo baru dihancurkan pada masa paling akhir dari zaman para hakim, sekitar tahun 1050 SM. Kota Dan memiliki sejarah panjang dalam penyembahan berhala dan ketidakortodoksan; di kota inilah Yerobeam I kelak mendirikan salah satu patung anak lembu emas dalam masa pemerintahannya yang sesat (lihat 1Raj. 12:25–33).
Dosa Orang Benyamin (19:1–21:25)
"¹⁹:¹Terjadilah pada zaman itu, ketika tidak ada raja di Israel, bahwa di balik pegunungan Efraim ada seorang Lewi tinggal sebagai pendatang. Ia mengambil seorang gundik dari Betlehem-Yehuda. ²Tetapi gundiknya itu berlaku serong terhadap dia dan pergi dari padanya ke rumah ayahnya di Betlehem-Yehuda, lalu tinggal di sana empat bulan lamanya. ³Berkemaslah suaminya itu, lalu pergi menyusul perempuan itu untuk membujuk dia dan membawanya kembali; bersama-sama dia bujangnya dan sepasang keledai. Ketika perempuan muda itu membawa dia masuk ke rumah ayahnya, dan ketika ayah itu melihat dia, maka bersukacitalah ia mendapatkannya. ⁴Mertuanya, ayah perempuan muda itu, tidak membiarkan dia pergi, sehingga ia tinggal tiga hari lamanya pada ayah itu; mereka makan, minum dan bermalam di sana. ⁵Tetapi pada hari yang keempat, ketika mereka bangun pagi-pagi dan ketika orang Lewi itu berkemas untuk pergi, berkatalah ayah perempuan muda itu kepada menantunya: ”Segarkanlah dirimu dahulu dengan sekerat roti, kemudian bolehlah kamu pergi.” ⁶Jadi duduklah mereka, lalu makan dan minumlah keduanya bersama-sama. Kata ayah perempuan muda itu kepada laki-laki itu: ”Baiklah putuskan untuk tinggal bermalam dan biarlah hatimu gembira.” ⁷Tetapi ketika orang itu bangun untuk pergi juga, mertuanya itu mendesaknya, sehingga ia tinggal pula di sana bermalam. ⁸Pada hari yang kelima, ketika ia bangun pagi-pagi untuk pergi, berkatalah ayah perempuan muda itu: ”Mari, segarkanlah dirimu dahulu, dan tinggallah sebentar lagi, sampai matahari surut.” Lalu makanlah mereka keduanya. ⁹Ketika orang itu bangun untuk pergi, bersama dengan gundiknya dan bujangnya, berkatalah mertuanya, ayah perempuan muda itu, kepadanya: ”Lihatlah, matahari telah mulai turun menjelang petang; baiklah tinggal bermalam, lihat, matahari hampir terbenam, tinggallah di sini bermalam dan biarlah hatimu gembira; maka besok kamu dapat bangun pagi-pagi untuk berjalan dan pulang ke rumahmu.”
¹⁰Tetapi orang itu tidak mau tinggal bermalam; ia berkemas, lalu pergi. Demikian sampailah ia di daerah yang berhadapan dengan Yebus — itulah Yerusalem —; bersama-sama dengan dia ada sepasang keledai yang berpelana dan gundiknya juga. ¹¹Ketika mereka dekat ke Yebus dan ketika matahari telah sangat rendah, berkatalah bujang itu kepada tuannya: ”Marilah kita singgah di kota orang Yebus ini dan bermalam di situ.” ¹²Tetapi tuannya menjawabnya: ”Kita tidak akan singgah di kota asing yang bukan kepunyaan orang Israel, tetapi kita akan berjalan terus sampai ke Gibea.” ¹³Lagi katanya kepada bujangnya: ”Marilah kita berjalan sampai ke salah satu tempat yang di sana dan bermalam di Gibea atau di Rama.” ¹⁴Lalu berjalanlah mereka melanjutkan perjalanannya, dan matahari terbenam, ketika mereka dekat Gibea kepunyaan suku Benyamin. ¹⁵Sebab itu singgahlah mereka di Gibea, lalu masuk untuk bermalam di situ, dan setelah sampai, duduklah mereka di tanah lapang kota. Tetapi tidak ada seorangpun yang mengajak mereka ke rumah untuk bermalam.
¹⁶Tetapi datanglah pada malam itu seorang tua, yang pulang dari pekerjaannya di ladang. Orang itu berasal dari pegunungan Efraim dan tinggal di Gibea sebagai pendatang, tetapi penduduk tempat itu adalah orang Benyamin. ¹⁷Ketika ia mengangkat mukanya dan melihat orang yang dalam perjalanan itu di tanah lapang kota, berkatalah orang tua itu: ”Ke manakah engkau pergi dan dari manakah engkau datang?” ¹⁸Jawabnya kepadanya: ”Kami sedang dalam perjalanan dari Betlehem-Yehuda ke balik pegunungan Efraim. Dari sanalah aku berasal; aku tadinya pergi ke Betlehem-Yehuda dan sekarang sedang berjalan pulang ke rumah. Tetapi tidak ada orang yang mengajak aku ke rumahnya, ¹⁹walaupun ada padaku jerami dan makanan untuk keledai kami, pula roti dan anggur untuk aku sendiri, untuk hambamu perempuan ini dan untuk bujang yang bersama-sama dengan hambamu ini; kami tidak kekurangan sesuatu.” ²⁰Lalu berkatalah orang tua itu: ”Jangan kuatir! Segala yang engkau perlukan biarlah aku yang menanggung, tetapi janganlah engkau bermalam di tanah lapang kota ini.” ²¹Sesudah itu dibawanyalah dia masuk ke rumahnya, lalu keledai-keledai diberinya makan; maka merekapun membasuh kaki, makan dan minum.
²²Tetapi sementara mereka menggembirakan hatinya, datanglah orang-orang kota itu, orang-orang dursila, mengepung rumah itu. Mereka menggedor-gedor pintu sambil berkata kepada orang tua, pemilik rumah itu: ”Bawalah ke luar orang yang datang ke rumahmu itu, supaya kami pakai dia.” ²³Lalu keluarlah pemilik rumah itu menemui mereka dan berkata kepada mereka: ”Tidak, saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat; karena orang ini telah masuk ke rumahku, janganlah kamu berbuat noda. ²⁴Tetapi ada anakku perempuan, yang masih perawan, dan juga gundik orang itu, baiklah kubawa keduanya ke luar; perkosalah mereka dan perbuatlah dengan mereka apa yang kamu pandang baik, tetapi terhadap orang ini janganlah kamu berbuat noda.” ²⁵Tetapi orang-orang itu tidak mau mendengarkan perkataannya. Lalu orang Lewi itu menangkap gundiknya dan membawanya kepada mereka ke luar, kemudian mereka bersetubuh dengan perempuan itu dan semalam-malaman itu mereka mempermainkannya, sampai pagi. Barulah pada waktu fajar menyingsing mereka melepaskan perempuan itu. ²⁶Menjelang pagi perempuan itu datang kembali, tetapi ia jatuh rebah di depan pintu rumah orang itu, tempat tuannya bermalam, dan ia tergeletak di sana sampai fajar.
²⁷Pada waktu tuannya bangun pagi-pagi, dibukanya pintu rumah dan pergi ke luar untuk melanjutkan perjalanannya, tetapi tampaklah perempuan itu, gundiknya, tergeletak di depan pintu rumah dengan tangannya pada ambang pintu. ²⁸Berkatalah ia kepada perempuan itu: ”Bangunlah, marilah kita pergi.” Tetapi tidak ada jawabnya. Lalu diangkatnyalah mayat itu ke atas keledai, berkemaslah ia, kemudian pergi ke tempat kediamannya. ²⁹Sesampai di rumah, diambilnyalah pisau, dipegangnyalah mayat gundiknya, dipotong-potongnya menurut tulang-tulangnya menjadi dua belas potongan, lalu dikirimnya ke seluruh daerah orang Israel. ³⁰Dan setiap orang yang melihatnya, berkata: ”Hal yang demikian belum pernah terjadi dan belum pernah terlihat, sejak orang Israel berangkat keluar dari tanah Mesir sampai sekarang. Perhatikanlah itu, pertimbangkanlah, lalu berbicaralah!”
²⁰:¹Lalu majulah semua orang Israel; dari Dan sampai Bersyeba dan juga dari tanah Gilead berkumpullah umat itu secara serentak menghadap TUHAN di Mizpa. ²Maka berdirilah para pemuka dari seluruh bangsa itu, dari segala suku orang Israel, memimpin jemaah umat Allah yang jumlahnya empat ratus ribu orang berjalan kaki, yang bersenjatakan pedang. ³Kedengaranlah kepada bani Benyamin, bahwa orang Israel telah maju ke Mizpa. Berkatalah orang Israel: ”Ceritakan bagaimana kejahatan itu terjadi.” ⁴Lalu orang Lewi, suami perempuan yang terbunuh itu, menjawab: ”Aku sampai dengan gundikku di Gibea kepunyaan suku Benyamin untuk bermalam di sana. ⁵Lalu warga-warga kota Gibea itu mendatangi aku dan mengepung rumah itu pada malam hari untuk menyerang aku. Mereka bermaksud membunuh aku, tetapi gundikku diperkosa mereka, sehingga mati. ⁶Maka kuambillah mayat gundikku, kupotong-potong dia dan kukirimkan ke seluruh daerah milik pusaka orang Israel, sebab orang-orang itu telah berbuat mesum dan berbuat noda di antara orang Israel. ⁷Sekarang kamu sekalian, orang Israel, telah ada di sini. Berikanlah di sini pertimbanganmu dan nasihatmu.”
⁸Kemudian bangunlah seluruh bangsa itu dengan serentak, sambil berkata: ”Seorangpun dari pada kita takkan pergi ke kemahnya, seorangpun dari pada kita takkan pulang ke rumahnya. ⁹Inilah yang akan kita lakukan kepada Gibea; memeranginya, dengan membuang undi! ¹⁰Kita akan memilih dari seluruh suku Israel sepuluh orang dari tiap-tiap seratus, seratus orang dari tiap-tiap seribu, seribu orang dari tiap-tiap sepuluh ribu, untuk mengambil bekal bagi laskar ini, supaya sesudah mereka datang, dilakukan kepada Gibea-Benyamin setimpal dengan segala perbuatan noda yang telah diperbuat mereka di antara orang Israel.” ¹¹Demikianlah orang Israel berkumpul melawan kota itu, semuanya bersekutu dengan serentak.
¹²Kemudian suku-suku Israel mengirim orang kepada seluruh suku Benyamin dengan pesan: ”Apa macam kejahatan yang terjadi di antara kamu itu! ¹³Maka sekarang, serahkanlah orang-orang itu, yakni orang-orang dursila yang di Gibea itu, supaya kami menghukum mati mereka dan dengan demikian menghapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.” Tetapi bani Benyamin tidak mau mendengarkan perkataan saudara-saudaranya, orang Israel itu. ¹⁴Sebaliknya, bani Benyamin dari kota-kota lain berkumpul di Gibea untuk maju berperang melawan orang Israel. ¹⁵Pada hari itu dihitunglah jumlah bani Benyamin dari kota-kota lain itu: dua puluh enam ribu orang yang bersenjatakan pedang, belum termasuk penduduk Gibea, yang terhitung tujuh ratus orang pilihan banyaknya. ¹⁶Dari segala laskar ini ada tujuh ratus orang pilihan yang kidal, dan setiap orang dari mereka dapat mengumban dengan tidak pernah meleset sampai sehelai rambutpun.
¹⁷Juga orang-orang Israel dihitung jumlahnya; dengan tidak termasuk suku Benyamin ada empat ratus ribu orang yang bersenjatakan pedang; semuanya itu prajurit. ¹⁸Lalu orang Israel berangkat dan maju ke Betel. Di sana mereka bertanya kepada Allah: ”Siapakah dari kami yang lebih dahulu maju berperang melawan bani Benyamin?” Jawab TUHAN: ”Suku Yehudalah lebih dahulu.” ¹⁹Lalu orang-orang Israel bangun pagi-pagi dan berkemah mengepung Gibea. ²⁰Kemudian majulah orang-orang Israel berperang melawan suku Benyamin; orang-orang Israel mengatur barisan perangnya melawan mereka dekat Gibea. ²¹Juga bani Benyamin maju menyerang dari Gibea dan menggugurkan ke bumi dua puluh dua ribu orang dari antara orang Israel pada hari itu. ²²Tetapi laskar orang Israel mengumpulkan segenap kekuatannya, lalu mengatur pula barisan perangnya di tempat mereka mengatur barisannya semula. ²³Kemudian pergilah orang-orang Israel, lalu menangis di hadapan TUHAN sampai petang, sesudah itu mereka bertanya kepada TUHAN: ”Akan pergi pulakah kami berperang melawan bani Benyamin, saudara kami itu?” Jawab TUHAN: ”Majulah melawan mereka.”
²⁴Tetapi ketika orang-orang Israel pada hari kedua sampai di dekat bani Benyamin, ²⁵maka pada hari kedua itu majulah suku Benyamin dari Gibea menyerbu mereka, dan digugurkannya pula ke bumi delapan belas ribu orang di antara orang-orang Israel; semuanya orang-orang yang bersenjatakan pedang. ²⁶Kemudian pergilah semua orang Israel, yakni seluruh bangsa itu, lalu sampai di Betel; di sana mereka tinggal menangis di hadapan TUHAN, berpuasa sampai senja pada hari itu dan mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan TUHAN. ²⁷Dan orang-orang Israel bertanya kepada TUHAN — pada waktu itu ada di sana tabut perjanjian Allah, ²⁸dan Pinehas bin Eleazar bin Harun menjadi imam Allah pada waktu itu — kata mereka: ”Haruskah kami maju sekali lagi untuk berperang melawan bani Benyamin, saudara kami itu, atau haruskah kami hentikan itu?” Jawab TUHAN: ”Majulah, sebab besok Aku akan menyerahkan mereka ke dalam tanganmu.”
²⁹Lalu orang Israel menempatkan penghadang-penghadang sekeliling Gibea. ³⁰Pada hari ketiga majulah orang-orang Israel melawan bani Benyamin dan mengatur barisannya melawan Gibea seperti yang sudah-sudah. ³¹Maka majulah bani Benyamin menyerbu laskar itu; mereka terpancing dari kota, dan seperti yang sudah-sudah, mereka mulai menyerang laskar itu pada kedua jalan raya — yang satu menuju ke Betel, dan yang lain ke Gibea melalui padang — sehingga terbunuh beberapa orang, kira-kira tiga puluh orang di antara orang Israel. ³²Maka kata bani Benyamin: ”Orang-orang itu telah terpukul kalah oleh kita seperti semula.” Tetapi orang-orang Israel telah bermupakat lebih dahulu: ”Marilah kita lari dan memancing mereka dari kota ke jalan-jalan raya.” ³³Jadi orang Israel bangun dari tempatnya dan mengatur barisannya di Baal-Tamar, sedang orang Israel yang menghadang itu tiba-tiba keluar dari tempatnya, yakni tempat terbuka dekat Geba, ³⁴dan sampai di depan Gibea, sebanyak sepuluh ribu orang pilihan dari seluruh Israel. Pertempuran itu dahsyat, tetapi bani Benyamin tidak tahu bahwa malapetaka datang menimpa mereka. ³⁵TUHAN membuat suku Benyamin terpukul kalah oleh orang Israel, dan pada hari itu orang-orang Israel memusnahkan dari antara suku Benyamin dua puluh lima ribu seratus orang, semuanya orang-orang yang bersenjatakan pedang. ³⁶Bani Benyamin melihat, bahwa mereka telah terpukul kalah. Sementara orang-orang Israel agak mundur di depan suku Benyamin — sebab mereka mempercayai penghadang-penghadang yang ditempatkan mereka untuk menyerang Gibea —
³⁷maka segeralah penghadang-penghadang itu menyerbu Gibea. Mereka bergerak maju dan memukul seluruh kota itu dengan mata pedang. ³⁸Tetapi orang-orang Israel telah bermupakat dengan penghadang-penghadang itu untuk menaikkan gumpalan asap tebal dari kota itu. ³⁹Ketika orang-orang Israel mundur dalam pertempuran itu, maka suku Benyamin mulai menyerang orang Israel, sehingga terbunuh kira-kira tiga puluh orang, karena pikir mereka: ”Tentulah orang-orang itu terpukul kalah sama sekali oleh kita seperti dalam pertempuran yang dahulu.” ⁴⁰Tetapi pada waktu itu mulailah gumpalan asap naik dari kota itu seperti tiang asap. Suku Benyamin menoleh ke belakang dan tampaklah kota itu seluruhnya terbakar, apinya naik ke langit. ⁴¹Lagipula orang-orang Israel maju lagi. Maka gemetarlah orang-orang Benyamin itu, sebab mereka melihat, bahwa malapetaka datang menimpa mereka. ⁴²Jadi larilah mereka dari depan orang-orang Israel itu, ke arah padang gurun, tetapi pertempuran itu tidak dapat dihindari mereka, lalu orang-orang dari kota-kota menghabisi mereka di tengah-tengahnya. ⁴³Mereka mengepung suku Benyamin itu, mengejarnya dengan tak henti-hentinya dan melandanya sampai di depan Gibea, di sebelah timur. ⁴⁴Dari bani Benyamin ada tewas delapan belas ribu orang, semuanya orang-orang gagah perkasa. ⁴⁵Yang lain berpaling lari ke padang gurun, ke bukit batu Rimon. Tetapi di jalan-jalan raya masih diadakan penyabitan susulan di antara mereka: lima ribu orang; mereka diburu sampai ke Gideom dan dipukul mati dua ribu orang dari mereka. ⁴⁶Maka yang tewas dari suku Benyamin pada hari itu seluruhnya berjumlah dua puluh lima ribu orang yang bersenjatakan pedang, semuanya orang-orang gagah perkasa. ⁴⁷Tetapi enam ratus orang berpaling lari ke padang gurun, ke bukit batu Rimon, dan tinggal empat bulan lamanya di bukit batu itu. ⁴⁸Tetapi orang-orang Israel kembali kepada bani Benyamin dan memukul mereka dengan mata pedang, baik manusia baik hewan dan segala sesuatu yang terdapat di sana. Juga segala kota yang terdapat di sana mereka musnahkan dengan api.
²¹:¹Orang-orang Israel telah bersumpah di Mizpa, demikian: ”Seorangpun dari kita takkan memberikan anaknya perempuan kepada seorang Benyamin menjadi isterinya.” ²Ketika bangsa itu datang ke Betel dan tinggal di situ di hadapan Allah sampai petang, maka merekapun menyaringkan suaranya menangis dengan sangat keras, ³katanya: ”Mengapa, ya TUHAN, Allah Israel, terjadi hal yang begini di antara orang Israel, yakni bahwa hari ini satu suku dari antara orang Israel hilang?” ⁴Keesokan harinya pagi-pagi maka bangsa itu mendirikan mezbah di situ, lalu mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan.
⁵Pada waktu itu berkatalah orang-orang Israel: ”Siapakah dari seluruh suku Israel yang tidak ikut datang dengan jemaah ini untuk menghadap TUHAN?” Sebab mereka telah bersumpah dengan sungguh-sungguh mengenai orang yang tidak datang menghadap TUHAN di Mizpa, demikian: ”Pastilah ia dihukum mati.” ⁶Orang-orang Israel merasa kasihan terhadap suku Benyamin, saudaranya itu, maka kata mereka: ”Hari ini ada satu suku terputus dari orang Israel. ⁷Apakah yang dapat kita lakukan kepada orang-orang yang tinggal itu dalam hal mencarikan isteri, karena kitalah yang bersumpah demi TUHAN untuk tidak memberikan seorangpun dari anak-anak perempuan kita kepada mereka menjadi isterinya?” ⁸Sebab itu berkatalah mereka: ”Dari suku-suku Israel adakah satu yang tidak datang menghadap TUHAN di Mizpa?” Lalu tampaklah, bahwa dari Yabesh-Gilead tidak ada seorangpun yang datang ke perkemahan jemaah itu. ⁹Lalu diperiksa jumlah bangsa itu, dan tampaklah tidak hadir seorangpun dari penduduk Yabesh-Gilead. ¹⁰Maka perkumpulan itu menyuruh ke situ dua belas ribu orang dari orang-orang gagah perkasa dengan memerintahkan kepada mereka, demikian: ”Pergilah, pukullah penduduk Yabesh-Gilead dengan mata pedang, juga perempuan-perempuan dan anak-anak. ¹¹Tetapi perbuatlah begini: hanya semua laki-laki sajalah dan semua perempuan yang telah pernah tidur dengan laki-laki harus kamu tumpas.” ¹²Mereka menjumpai di antara penduduk Yabesh-Gilead empat ratus orang anak gadis, perawan yang belum pernah tidur dengan orang laki-laki, lalu gadis-gadis itu dibawa mereka ke perkemahan di Silo, di tanah Kanaan.
¹³Sesudah itu segenap umat itu menyuruh orang membawa pesan kepada bani Benyamin yang ada di bukit batu Rimon, lalu memaklumkan damai kepada mereka. ¹⁴Pada waktu itu kembalilah suku Benyamin, dan kepada mereka diberikan perempuan-perempuan yang telah dibiarkan hidup dari antara perempuan Yabesh-Gilead; tetapi belum cukup juga jumlahnya bagi mereka. ¹⁵Maka bangsa itu merasa kasihan kepada suku Benyamin, karena TUHAN telah membuat keretakan di antara suku-suku Israel. ¹⁶Kemudian berkatalah para tua-tua umat itu: ”Apakah yang dapat kita lakukan kepada yang tinggal ini dalam hal mencarikan isteri? Sebab perempuan-perempuan telah punah dari antara suku Benyamin.” ¹⁷Lagi kata mereka: ”Warisan orang-orang yang terluput itu haruslah tetap tinggal pada suku Benyamin, supaya jangan ada suku yang terhapus dari antara orang Israel. ¹⁸Tetapi kita ini tidak dapat memberikan isteri kepada mereka dari anak-anak perempuan kita.” Sebab orang-orang Israel telah bersumpah, demikian: ”Terkutuklah orang yang memberikan isteri kepada suku Benyamin!”
¹⁹Lalu kata mereka pula: ”Setiap tahun ada perayaan bagi TUHAN di Silo yang letaknya di sebelah utara Betel, di sebelah timur jalan raya yang menuju dari Betel ke Sikhem dan di sebelah selatan Lebona.” ²⁰Maka mereka berpesan kepada bani Benyamin, demikian: ”Pergilah menghadang di kebun-kebun anggur. ²¹Perhatikanlah baik-baik; maka apabila anak-anak perempuan Silo keluar untuk menari-nari, baiklah kamu keluar dari kebun-kebun anggur itu, dan masing-masing melarikan seorang dari anak-anak perempuan Silo itu menjadi isterinya dan pergi ke tanah Benyamin. ²²Apabila ayah atau saudaranya laki-laki datang untuk menuntutnya kepada kami, maka kami akan berkata kepada mereka: Serahkanlah mereka itu kepada kami dengan rela hati, sebab dalam pertempuran kita tidak dapat menangkap seorang perempuan untuk menjadi isteri mereka masing-masing. Memang kamu ini tidak memberikan anak-anak gadis itu kepada mereka; sebab seandainya demikian, kamu bersalah.” ²³Jadi bani Benyamin berbuat demikian; dari gadis-gadis yang menari-nari yang dirampas itu mereka mengambil perempuan, jumlahnya sama dengan jumlah mereka, kemudian pulanglah mereka ke milik pusakanya lalu membangun kota-kotanya kembali dan diam di sana. ²⁴Pada waktu itu pergilah orang Israel dari sana, masing-masing menurut suku dan kaumnya; mereka masing-masing berangkat dari sana ke milik pusakanya.
²⁵Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri."
— Hakim-hakim 19:1–21:25 (TB)
Pasal 19 diawali persis seperti pasal 18 dengan pengingat bahwa tidak ada raja manusiawi atau pemerintahan terpusat di Israel. Relativisme merajalela, dan seperti yang akan kita saksikan dalam kisah di hadapan kita, bahkan suku-suku secara individual melakukan apa yang benar menurut pandangan mereka sendiri.
Hakim-hakim 19:1–3a. Penulis memperkenalkan seorang Lewi tanpa nama lainnya yang tinggal sebagai pendatang (bdk. Hak. 17:7). Namun, orang Lewi ini bertempat tinggal di tanah Efraim, dan ia mengambil seorang gundik dari Betlehem di tanah suku Yehuda (Betlehem adalah kota asal orang Lewi sebelumnya dalam kisah Mikha). Suatu persoalan timbul dalam hubungan tersebut, sehingga gundik itu meninggalkan orang Lewi tersebut dan melarikan diri ke rumah ayahnya di Betlehem. Baik ESV maupun NIV mencatat bahwa perempuan itu ”berlaku tidak setia kepadanya” (was unfaithful to him), dan akibatnya, lari pulang ke rumah ayahnya. Septuaginta (terjemahan PL berbahasa Yunani) menerjemahkan frasa tersebut sebagai ”ia menjadi marah kepadanya,” dan penafsiran ini mungkin saja tepat karena di sepanjang narasi perempuan itu tampak sebagai pihak yang tersakiti, sementara orang Lewi itulah yang berupaya mencari rekonsiliasi dengannya. Terlepas dari bentuk pasti dari permasalahan tersebut, orang Lewi itu pergi ke Betlehem untuk berupaya membawanya kembali ke Efraim.
Hakim-hakim 19:3b–9. Orang Lewi itu tiba di Betlehem, dan ayah mertuanya menyambutnya. Mereka berdua kemudian berpesta dan bersukacita selama lima hari—sebuah pertunjukan keramahtamahan yang berlebihan. Pembaca hendaknya memperhatikan pengulangan dengan sedikit variasi di sepanjang narasi ini: terdapat tiga panel sastra ketika orang Lewi itu berupaya untuk berangkat, namun keberangkatannya terus ditunda oleh keramahtamahan lanjutan dari ayah perempuan muda tersebut. Tujuan dari struktur panel semacam ini dalam sebuah narasi adalah demi efek dramatis, dan hal itu menegaskan sifat keramahtamahan yang berlimpah itu.
Hakim-hakim 19:10–14. Akhirnya, orang Lewi itu beserta rombongannya berhasil menyudahi keramahtamahan sang mertua dan memulai perjalanan mereka. Ketika mereka mendekati kota Yebus (nama pra-Israel untuk Yerusalem), kira-kira enam mil atau sepuluh kilometer di sebelah utara Betlehem, hari mulai menjelang malam, dan mereka mencari tempat untuk bermalam. Namun, orang Lewi itu memutuskan untuk tidak singgah di kota itu karena kota tersebut berada di bawah kekuasaan non-Israel. Kemungkinan ia berpikir, siapa yang tahu apa yang bisa menimpa kita di kota yang berbahaya seperti itu? Oleh karena itu, mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di Gibea, sebuah kota orang Israel kepunyaan suku Benyamin. Rombongan tersebut merasa jauh lebih aman di sana ketimbang di Yebus.
Hakim-hakim 19:15. Orang Lewi beserta rombongannya memasuki Gibea dan duduk di tanah lapang di tengah kota. Tempat terbuka pada zaman kuno ini sering kali terletak tepat di sebelah dalam pintu gerbang utama sebuah kota. Namun, tidak ada seorang pun yang mengajak mereka masuk. Sambutan yang dingin ini sangat kontras dengan sambutan yang diterima orang Lewi itu di Betlehem pada bagian awal pasal ini. Ketiadaan keramahtamahan di Gibea merupakan pertanda buruk.
Hakim-hakim 19:16–21. Seorang tokoh baru diperkenalkan dalam bagian kisah ini. Dialah satu-satunya orang yang menunjukkan keramahtamahan kepada orang-orang asing tersebut. Penulis lebih lanjut memastikan agar pembaca mengetahui bahwa orang tua itu bukanlah penduduk asli suku Benyamin, melainkan seorang Efraim yang tinggal sebagai pendatang di Gibea. Sebelum menawarkan tempat bermalam kepada orang Lewi itu, orang tua itu terlebih dahulu menanyainya. Di sinilah kita mengetahui untuk pertama kalinya bahwa orang Lewi itu tidak hanya sedang dalam perjalanan pulang, melainkan juga berencana untuk pergi ke rumah TUHAN (Kemah Suci) di Silo, sekitar 17 mil atau 27 kilometer di sebelah utara Gibea di wilayah Efraim. Orang tua itu kemudian mengajak mereka ke rumahnya, namun ajakan tersebut bukan sekadar untuk memelihara adat keramahtamahan. Ucapannya kepada orang Lewi itu, ”janganlah engkau bermalam di tanah lapang kota ini,” mencerminkan adanya bahaya yang mengintai di Gibea, sehingga ia membawa mereka masuk demi melindungi mereka dari ancaman yang belum diketahui tersebut.
Hakim-hakim 19:22–25. Ketika kedua laki-laki itu sedang berpesta di dalam rumah, tiba-tiba beberapa ”orang dursila” menggedor pintu rumah itu, dan menuntut agar pemilik rumah menyerahkan tamunya kepada mereka. Istilah ”orang dursila” secara harfiah berbunyi ”anak-anak Belial,” dan frasa ini merujuk kepada orang-orang yang bajingan dan biadab (mis., 1Sam. 2:12). Niat orang-orang itu jelas: kata kerja ”mengenal” adalah eufemisme untuk persetubuhan, sehingga tujuan mereka adalah pemerkosaan massal sesama jenis (homoseksual). Orang tua itu menolak menuruti tuntutan mereka, dan menyebut tindakan itu apa adanya: suatu perbuatan yang keji, memalukan, dan fasik. Namun demikian, tindakan alternatif yang ditawarkan orang tua itu sama mengerikannya. Dengan menawarkan anak perempuannya sendiri serta gundik itu kepada mereka, orang tua tersebut sedang melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Dan kemudian ia berkata kepada para perusuh itu untuk berbuat kepada perempuan-perempuan itu ”apa yang kamu pandang baik”! Inilah tema Kitab Hakim-hakim yang tampak dalam segala keburukan dan kejahatannya yang mencolok. Orang-orang kota itu kemudian mengambil gundik tersebut, memperkosanya beramai-ramai, menyiksanya, lalu membuangnya.
Alur kisah ini merupakan gaung dari suatu peristiwa terdahulu. Kita membaca dalam Kejadian 19 mengenai dua musafir malaikat yang duduk di tanah lapang kota Sodom dan bagaimana Lot membawa mereka masuk ke dalam rumahnya (Kej. 19:1–11). Setelah mereka dipersilakan masuk ke dalam rumah, laki-laki penduduk kota itu mengepung rumah dengan tujuan bersetubuh dengan para tamu tersebut. Demi mencegah pemerkosaan massal homoseksual yang akan terjadi, Lot menawarkan kedua anak perempuannya kepada orang-orang di luar itu. Kedua narasi ini bukan hanya memiliki kemiripan dalam tema dan struktur, melainkan juga memiliki kesamaan linguistik (lihat, mis., Kej. 19:4; Hak. 19:22; Kej. 19:5; Hak. 19:22; Kej. 19:7; Hak. 19:23; dan Kej. 19:8[^6]; Hak. 19:24). Bagaimanakah kita harus memahami pengulangan semacam ini? Hakim-hakim 19 merupakan contoh penggunaan yang disengaja atas narasi Kejadian 19 demi membingkai penuturan peristiwa yang baru ini. Tujuannya mencolok: bagian ini memperlihatkan bahwa orang-orang Benyamin, yang adalah orang Israel, bertindak sama seperti orang-orang Sodom yang kafir. Bahkan, paralelisme ini mengantisipasi bahwa penghakiman akan menimpa bani Benyamin sebagaimana penghakiman itu telah menimpa orang Sodom. Dan memang benar, pasal berikutnya mengisahkan kehancuran Gibea dan sebagian besar suku Benyamin.
Hakim-hakim 19:25–29. Pada pagi hari, orang Lewi itu keluar dari rumah, dan ia tampak tidak berperasaan terhadap gundiknya. Namun, perempuan itu tidak menjawabnya karena ia telah mati. Orang Lewi itu kemudian kembali ke rumahnya di Efraim, memotong-motong mayat gundik itu menjadi dua belas bagian, dan mengirimkannya ke seluruh daerah orang Israel. Tujuannya tentu saja untuk mendorong tanggapan nasional, barangkali demi memobilisasi pasukan untuk melawan suku Benyamin. Sebagian komentator berasumsi bahwa orang Lewi itu mengirimkan satu potongan tubuh gundik kepada setiap suku, namun hal itu tidak mungkin. Teks Alkitab menyatakan bahwa ia memotong-motong mayat itu dan mengirimkan ”perempuan itu” ke seluruh daerah orang Israel, yang berarti bahwa kedua belas potongan tubuh tersebut dikirimkan bersama-sama. Makna tindakannya bersifat simbolis: satu tubuh yang terbagi menjadi dua belas bagian mencerminkan bangsa Israel sebagai satu umat yang terbagi menjadi dua belas suku dan tidak bertindak sebagai satu tubuh. Orang Lewi itu sedang menyerukan persatuan seluruh Israel untuk melawan suku Benyamin yang telah menyimpang.
Hakim-hakim 19:30. Betapa buruknya keadaan saat itu terlihat jelas dari tanggapan suku-suku Israel. Mereka menyimpulkan bahwa hal seperti ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah bangsa Israel, sejak masa keluaran dari Mesir hingga hari itu. Suku-suku tersebut kemudian berunding untuk memutuskan langkah apa yang harus diambil.
Hakim-hakim 20:1–3. Menanggapi tindakan orang Lewi tersebut, seluruh orang Israel berkumpul di Mizpa, sebuah kota yang terletak sekitar lima mil atau delapan kilometer di sebelah utara Gibea, di perbatasan wilayah suku Efraim dan Benyamin. Penulis menegaskan kehadiran seluruh Israel dengan menggunakan ungkapan lazim yang menggambarkan seluruh cakupan negeri, yaitu ”dari Dan sampai Bersyeba.” Bahkan sebagian penduduk dari daerah Transyordan turut hadir dalam perkumpulan tersebut. Mereka semua berkumpul ”secara serentak” (makna harfiahnya: ”sebagai satu orang”), yakni sebagai satu tubuh, sebagaimana yang diharapkan oleh orang Lewi itu melalui tindakannya yang mengerikan. Namun, satu-satunya pengecualian adalah suku Benyamin tidak hadir dalam pertemuan itu.
Hakim-hakim 20:4–7. Di dalam pertemuan raya itu, orang Lewi tersebut berdiri sebagai saksi dan menceritakan kembali kepada segenap orang Israel semua hal yang telah terjadi di Gibea. Ia menambahkan satu detail penting pada narasinya—bukan hanya para pemimpin Gibea merestui perbuatan keji itu, melainkan mereka sendiri turut serta mengambil bagian di dalamnya. Dengan demikian, perbuatan yang memalukan ini melibatkan para pemuka sosial-politik di kota tersebut. Orang Lewi itu marah secara moral, dan oleh sebab itu ia meminta pertemuan itu untuk memutuskan apa yang harus dilakukan.
Hakim-hakim 20:8–11. Jawaban bangsa Israel bulat; mereka merespons ”secara serentak” atau ”sebagai satu orang” (Hak. 20:8, 11 membingkai tanggapan ini dengan ungkapan tersebut). Orang Israel memutuskan untuk menetapkan sistem wajib militer atau pungutan pasukan, di mana sepuluh persen (sepersepuluh) dari pasukan yang memenuhi syarat akan dikerahkan dari setiap suku. Dan laskar dari berbagai suku tersebut berhimpun menjadi satu bala tentara yang ”bersekutu” melawan Gibea.
Hakim-hakim 20:12–17. Orang Israel kemudian mengirim utusan-utusan kepada suku Benyamin guna memberikan kesempatan kepada suku tersebut untuk menyerahkan orang-orang dursila itu dan menghapuskan kejahatan dari tengah-tengah Israel (bdk. Ul. 13:5; 17:7). Tindakan keji suku Benyamin memiliki dampak komunal bagi seluruh Israel, dan oleh sebab itu harus ditangani (lihat kisah Akhan dalam Yos. 7:10–26). Namun demikian, bani Benyamin menolak dan kemudian mengerahkan pasukan mereka untuk bertempur di Gibea. Pasukan Benyamin kalah jumlah jauh (dengan rasio sekitar 16 banding 1), meskipun mereka memiliki sejumlah prajurit yang luar biasa. Pasukan pembidik kidal (pengumban) ini menyerupai leluhur mereka, Ehud, yang juga bertangan kidal (Hak. 3:15).
Hakim-hakim 20:18. Sebelum pertempuran dimulai, orang-orang Israel pergi ke Betel—yang terletak sekitar tujuh mil atau 11 kilometer di sebelah utara Gibea di perbatasan wilayah Efraim dan Benyamin—untuk meminta petunjuk kepada TUHAN mengenai siapa yang harus memimpin mereka dalam pertempuran. TUHAN menetapkan bahwa suku Yehuda yang memperoleh kehormatan tersebut. Dahulu Dia telah memilih Yehuda untuk memimpin peperangan melawan orang-orang Kanaan (Hak. 1:1–2), dan kini Dia menetapkan Yehuda untuk menjadi yang pertama maju melawan bani Benyamin.
Hakim-hakim 20:19–23. Pada hari pertama pertempuran, suku Benyamin menimpakan kekalahan telak yang mengejutkan atas Israel. Dengan cemas, orang-orang Israel kembali menanyakan petunjuk TUHAN, dan Allah memerintahkan mereka untuk melanjutkan pertempuran tersebut.
Hakim-hakim 20:24–28. Hari kedua pertempuran berlangsung hampir serupa dengan hari pertama, di mana suku Benyamin kembali menimpakan pukulan atas Israel. Jelaslah bahwa keunggulan jumlah tidak akan memberikan kemenangan yang mudah bagi Israel. Maka dengan tepat mereka datang ke hadapan TUHAN dalam ibadah dan menanyakan apa yang harus mereka perbuat. Pinehas, sang imam besar, memimpin permintaan petunjuk tersebut; ia adalah seorang yang berintegritas dan terhormat (lihat Bil. 25:6–11). Jawaban TUHAN jelas: Allah akan menyerahkan bani Benyamin ke dalam tangan Israel pada keesokan harinya.
Hakim-hakim 20:29–36a. Pertempuran yang menentukan terjadi pada hari ketiga. Alih-alih menghadapi laskar Benyamin secara berhadapan langsung seperti pada pertempuran hari-hari sebelumnya, orang Israel menerapkan taktik penyergapan (penghadangan). Para prajurit Benyamin dipancing keluar dari Gibea dengan keyakinan penuh akan kemenangan lain. Mereka terjebak ke dalam perangkap dan dipukul kalah. Penyebab kemenangan Israel dinyatakan dengan jelas: ”TUHAN membuat suku Benyamin terpukul kalah oleh orang Israel.” Seluruh skenario taktik ini mengingatkan kita pada kemenangan Yosua atas kota Ai dalam Yosua 8: di sana pun TUHANlah yang memberikan kemenangan kepada Israel melalui penghadangan (bdk. Yos. 8:7).
Hakim-hakim 20:36b–48.[^7] Bagian terakhir dari pasal ini memberikan perincian lebih lanjut mengenai peristiwa penghadangan yang telah diuraikan secara umum pada bagian sebelumnya. Pengulangan dan penjabaran merupakan hal yang lazim dalam penulisan narasi Perjanjian Lama (bdk. catatan mengenai penaklukan Kaleb atas wilayah Hebron dalam Hak. 1:10–15 sebagai penjabaran lebih lanjut dari Yos. 15:13–19). Dalam catatan peperangan antara Israel dan Benyamin ini, penulis memperlihatkan bagaimana laskar Benyamin dipancing keluar dari Gibea lalu terjepit dalam cengkeraman militer bagaikan catut. Israel membinasakan sebagian besar bala tentara Benyamin yang berjumlah 25.000 prajurit. Namun demikian, enam ratus prajurit berhasil meloloskan diri ke perbukitan. Pada akhirnya, orang Israel memberlakukan hukum ”tumpas” (cherem) atas Gibea dan kota-kota Benyamin lainnya. Israel memperlakukan mereka layaknya kota-kota kafir yang ditaklukkan, seperti Yerikho.
Hakim-hakim 21:1. Ayat pembuka dari pasal ini menyisipkan sebuah ketetapan yang telah diambil oleh bangsa Israel ketika mereka pertama kali berkumpul di Mizpa sebelum perang melawan suku Benyamin (lihat Hak. 20:1). Pada saat dan tempat itu, orang Israel menetapkan larangan bahwa mereka tidak akan mengizinkan anak-anak perempuan mereka menikah dengan orang Benyamin. Alasan di balik ketetapan ini diperdebatkan oleh para komentator, namun kemungkinan besar bertujuan untuk menjaga agar orang Israel tidak tercemar oleh perilaku bejat suku Benyamin. Ketetapan ini bahkan mungkin sejajar dengan perintah Allah yang berulang kali melarang bangsa Israel untuk menikah campur dengan bangsa-bangsa kafir di Kanaan (mis., Ul. 7:3). Sekali lagi, suku Benyamin telah menjadi seperti penduduk asli Kanaan (yakni seperti orang-orang Sodom).
Hakim-hakim 21:2–5. Seusai perang antara Israel dan Benyamin, umat Israel datang menghadap Allah di Betel dan meratapi kehancuran suku Benyamin. Kata yang diterjemahkan sebagai ”hilang” atau ”kurang” sebenarnya adalah kata kerja yang berarti ”mengerahkan/menghitung pasukan,” yang digunakan dalam Hakim-hakim 20:15 untuk menggambarkan persiapan perang suku Benyamin. Suku Benyamin kini tidak lagi memiliki laskar pasukan yang dapat dikerahkan setelah kekalahan mereka di tangan Israel. Orang-orang Israel kemudian mendirikan sebuah mezbah dan mempersembahkan korban, namun Allah tidak menjawab permohonan mereka. Bangsa Israel dibiarkan untuk melakukan apa yang benar menurut pandangan mereka sendiri.
Hakim-hakim 21:6–7. Orang Israel menaruh belas kasihan kepada suku Benyamin, sehingga mereka memutuskan untuk bertindak atas persoalan yang paling mendesak: orang-orang Benyamin tidak memiliki istri untuk melahirkan anak demi melanjutkan garis keturunan Benyamin. Namun demikian, bangsa Israel tidak dapat mengisi kekosongan itu karena mereka telah terikat oleh sumpah di Mizpa untuk tidak melakukannya. Oleh sebab itu, mereka menyusun sebuah siasat untuk mencarikan istri bagi suku Benyamin.
Hakim-hakim 21:8–11. Korban dari siasat bangsa Israel ini adalah penduduk Yabesh-Gilead, sebuah kota yang terletak di wilayah Transyordan di daerah milik pusaka setengah suku Manasye. Kota ini tidak memenuhi panggilan pengerahan pasukan untuk melawan Benyamin, dan oleh karena itu kota tersebut menjadi sasaran sumpah bangsa Israel. Di sepanjang Kitab Yosua, Israel memberlakukan hukum penumpasan (cherem) terhadap orang Kanaan (mis., Yos. 6:17–21), namun kini mereka menerapkannya terhadap bangsa mereka sendiri. Tindakan ini kemungkinan merupakan perbuatan yang terlalu keras, kejam, dan tidak adil; bangsa Israel hanya sedang melakukan apa yang benar menurut pandangan mereka sendiri.
Hakim-hakim 21:12–15. Terdapat satu pengecualian terhadap hukum penumpasan di Yabesh-Gilead: orang Israel membiarkan hidup 400 gadis perawan, lalu membawa mereka ke perkemahan di Silo, di sebelah barat Sungai Yordan. Mereka kemudian menyerahkan perempuan-perempuan tawanan itu kepada bani Benyamin, nyaris sebagai tanda berakhirnya permusuhan. Dengan cara ini bangsa Israel menaruh belas kasihan kepada suku Benyamin. Namun demikian, teks tampaknya mengindikasikan bahwa orang Israel mungkin menyalahkan TUHAN atas ”keretakan” di antara suku-suku itu, padahal kesalahan tersebut jelas berada pada orang-orang Benyamin.
Hakim-hakim 21:16–24. Masalah masih tetap ada: jumlah perempuan itu tidak mencukupi untuk melanjutkan kelangsungan garis keturunan Benyamin. Oleh sebab itu, para tua-tua Israel menyusun siasat kedua. Rencana ini melibatkan penculikan perempuan-perempuan dari Silo yang berada di sana untuk merayakan hari raya tahunan bagi TUHAN. Silo adalah tempat di mana Kemah Suci berada dan tempat imam besar memimpin ibadah kepada TUHAN. Perayaan tahunan ini barangkali sama dengan yang dirujuk dalam 1 Samuel 1:3, di mana Elkana melakukan perjalanan tahunan ke Silo dan Eli melayani sebagai imam besar di ”bait TUHAN” (1Sam. 1:9). Dalam siasat ini, orang Israel memerintahkan orang-orang Benyamin untuk memasang penghadangan, dan ketika perempuan-perempuan itu datang menari-nari di ladang, mereka harus menculik perempuan-perempuan itu dan membawanya pulang ke daerah suku Benyamin.
Orang Israel menyiapkan dalih atas perampasan terhadap bangsa mereka sendiri. Jika sanak saudara perempuan-perempuan itu datang untuk mengadukan penculikan itu, orang-orang Israel hanya akan berdalih bahwa mereka tidak mengambil perempuan-perempuan itu dengan kekuatan militer. Di samping itu, sanak saudara itu juga tidak begitu saja memberikan perempuan-perempuan itu. Maka mereka akan menjawab, ”apa lagi yang hendak kamu tuntut?” Pola penalaran semacam ini merupakan pemikiran yang kacau dan tercela secara moral—puncak absurditas. Bangsa Israel menjarah kaum mereka sendiri di tempat kudus TUHAN, lalu dengan tidak berperasaan pergi, masing-masing pulang ke milik pusaka suku dan keluarganya sendiri.
Hakim-hakim 21:25. Ayat penutup dari kitab ini menghadirkan sengatan yang hebat. Penulis sekadar mengulangi kalimat tema dari keseluruhan kitab: ”Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” Kemerosotan bangsa Israel telah mencapai titik yang sedemikian rendah hingga mereka menjarah kaum mereka sendiri. Mereka telah memberlakukan hukum penumpasan atas bangsa mereka sendiri, dan mereka telah menculik kaum perempuan mereka sendiri yang sedang beribadah di Kemah Suci TUHAN. Degradasi mereka telah sempurna. Israel membutuhkan seorang raja yang akan membawa mereka berbalik kepada TUHAN dan kembali kepada kesetiaan kepada perjanjian. Siapakah raja itu? Dan tentu saja, itulah kelanjutan kisah Alkitab: Israel kelak akan memiliki banyak raja di masa depan, namun mereka semua gagal memulihkan umat Allah. Kendati demikian, suatu janji yang akan datang menunjuk kepada seorang Raja kekal yang akan datang menegakkan kerajaan kekal bagi umat-Nya—sang Raja ”Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan” (1Tim. 6:15).
Kepustakaan (Bibliography)
- Block, D. L. Judges, Ruth. New American Commentary. Nashville, TN: B&H, 1999.
- Chisholm, R. B. A Commentary on Judges and Ruth. Kregel Exegetical Library. Grand Rapids, MI: Kregel Academic, 2013.
- Davis, D. R. Judges: Such a Great Salvation. Focus on the Bible. Fearn, Ross-shire: Christian Focus, 2000.
- Keddie, G. J. Even in Darkness, Judges and Ruth Simply Explained. Welwyn Commentary Series. Darlington, England: EP, 1993.
- Younger, K. L. Judges, Ruth. NIV Application Commentary. Grand Rapids, MI: Zondervan, 2002.
[^1]: Naskah asli bahasa Inggris secara keliru mencantumkan rujukan "19:1–20:24" dan "20:25", padahal narasi penutup dan ayat tema kitab ini berada pada Hakim-hakim 19:1–21:25.
[^2]: Naskah bahasa Inggris merujuk pada Yitro mertua Musa (Moses's father-in-law Jethro, Kel. 3:1). Dalam teks TB Hakim-hakim 1:16, figur ini disebut sebagai "Hobab, ipar Musa" (Ibrani: khoten, yang dapat merujuk pada mertua maupun kerabat laki-laki dari pihak istri; bandingkan Bil. 10:29).
[^3]: John Calvin, Commentaries on the Four Last Books of Moses Arranged in the Form of a Harmony, jil. 1, komentar atas Keluaran 3:2 (Calvin tidak menulis tafsiran atas Kitab Hakim-hakim; kutipan ini dirujuk Currid tanpa keterangan sumber).
[^4]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis ”hari keempat” (on the fourth day), mengikuti sejumlah naskah kuno (antara lain Septuaginta dan Siria) yang mencatat awal ancaman kawan-kawan Simson pada hari keempat perjamuan. Teks Masoret Ibrani dan LAI TB mencatat ”hari ketujuh” (Hak. 14:15).
[^5]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Hakim-hakim 15:19, yang merupakan salah cetak untuk Hakim-hakim 14:19 (peristiwa Simson membunuh tiga puluh orang di Askelon).
[^6]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis Kejadian 19:7, yang merupakan salah cetak untuk Kejadian 19:8 (peristiwa Lot menawarkan anak-anak perempuannya kepada orang-orang Sodom).
[^7]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan ”20:36b–49”, yang merupakan salah cetak untuk Hakim-hakim 20:36b–48 (pasal 20 dalam Alkitab Ibrani, ESV, maupun LAI TB hanya terdiri atas 48 ayat).
Komentar ()