Bilangan
Tentang Seri Ini:
Artikel ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari The Gospel Coalition (TGC) Bible Commentary untuk Kitab Bilangan.
Penulis: Adrian Reynolds (Associate National Director of The Fellowship of Independent Evangelical Churches, UK)
Sumber Asli: The Gospel Coalition Bible Commentary — Numbers
Diterjemahkan dan dipublikasikan untuk tujuan edukasi dan non-komersial.
Pengantar Kitab Bilangan
Kitab Bilangan merupakan kitab keempat dari Pentateukh, sebutan yang lazim diberikan bagi lima kitab pertama dalam Perjanjian Lama. Kitab ini menampilkan perpaduan yang kompleks dengan porsi yang hampir seimbang antara narasi (kisah) dan hukum, ditambah sejumlah kecil bagian puisi dan nubuat. Kombinasi dari berbagai genre yang berbeda ini sungguh unik, khususnya dalam dinamika pasang surut (ebb and flow) di antara bagian-bagian tersebut.
Sebagaimana seluruh kitab Perjanjian Lama lainnya, Kitab Bilangan harus dibaca dalam konteks perjanjian dengan Abraham (Kej. 12; 15) serta janji-janji yang dinyatakan mengenai keturunan/umat, tempat/tanah, dan berkat. Seluruh tema ini dieksplorasi secara mendalam di dalam Kitab Bilangan. Terlebih lagi, perjalanan keluar dari Mesir juga harus ditempatkan dalam konteks perjanjian Musa yang diresmikan di Sinai (Kel. 19) dan terus dinyatakan melalui bagian-bagian hukum dalam kitab ini. Umat telah dijanjikan sebuah tanah milik mereka sendiri, namun mereka belum menerima tanah pusaka (inheritance) tersebut.
Kitab ini sendiri terkadang terbaca seperti sebuah panduan perjalanan (lihat secara khusus Bil. 33), namun ini bukanlah dasar terbaik untuk menafsirkan pesannya (lihat bagian kesulitan-kesulitan utama di bawah) dan berisiko mereduksi kitab ini menjadi sekadar pelajaran geografi. Inti persoalan yang sesungguhnya bukanlah tentang di mana orang Israel berada secara geografis, melainkan di mana keadaan mereka secara rohani. Dengan menjawab pertanyaan inilah para pembaca akan menemukan pemahaman serta penerapan yang paling memuaskan.
Kita menyebut kitab ini “Bilangan” (Numbers) dengan mengambil judul dari versi bahasa Yunani Perjanjian Lama (Septuaginta/LXX) yang sangat akrab bagi orang-orang pada zaman Perjanjian Baru (termasuk Yesus). Judul ini diperoleh bukan dari banyaknya data statistik, melainkan dari dua kali sensus perhitungan laskar pria yang sanggup berperang dalam pasal 1 dan 26.
Kitab ini juga memiliki dua judul yang berbeda dalam Kitab Suci Ibrani (Yahudi), yang keduanya diambil dari ayat 1:1 dan keduanya sarat dengan pengajaran penting. Judul pertama, “Di Padang Gurun” (Bemidbar), menggambarkan keadaan fisik sekaligus kondisi rohani bangsa Israel pada masa itu, yaitu berada di tempat transisi—bukan lagi di Mesir, namun belum sampai di Kanaan. Judul kedua, “Dan TUHAN Berfirman”[^1] (Wayyedabber), merupakan judul alternatif yang menyampaikan anugerah Allah yang terus berlanjut dalam berfirman kepada umat-Nya dan memelihara mereka, terlepas dari pemberontakan mereka yang terjadi terus-menerus.
Bagaimana Kita Menerapkan Kitab Bilangan Hari Ini?
Kitab Bilangan menggambarkan kisah dua generasi bangsa Israel dan perjalanan mereka melintasi padang gurun setelah ditebus oleh TUHAN dari perbudakan di Mesir. Mereka belum memasuki Tanah Perjanjian: keselamatan telah dimulai, namun belum digenapi seutuhnya (already, but not yet). Generasi pertama (yang dihitung dalam Bil. 1) gagal memasuki “perhentian” ini (lihat Ibr. 4:1–11, yang mengutip Mzm. 95) karena ketidakpercayaan mereka. Generasi kedua (yang dihitung dalam ps. 26) adalah generasi yang setia yang akan menerima tanah pusaka mereka.
Oleh karena itu, kitab ini menjawab pertanyaan mendesak bagi mereka yang telah ditebus namun masih berada dalam perjalanan pengembaraan: “Apakah mereka akan berhasil sampai ke tujuan?” Jawaban bagi generasi pertama adalah “tidak” yang tegas, sehingga penerapannya sebagian besar berupa peringatan negatif (“jangan menjadi seperti mereka”—lihat 1Kor. 10:1–13). Sebaliknya, jawaban bagi generasi kedua adalah “ya” yang jelas, sehingga penerapannya adalah “ikutilah teladan mereka.”
Akan tetapi, pelajaran-pelajaran ini tidak semata-mata bersifat moralitas. Di sepanjang perjalanan ini, Kristus menyertai dan berjalan bersama mereka (1Kor. 10:4). Dia bukan hanya menjadi Penolong mereka, melainkan suatu hari nanti menyatakan diri-Nya sebagai Orang Israel yang sejati dan sempurna. Karena itu, orang-orang Kristen harus belajar dari Kitab Bilangan dua pelajaran kembar: yaitu “menjadi serupa” dengan Kristus dan “bergantung sepenuhnya” kepada-Nya.
Tema-Tema Penting dalam Kitab Bilangan
Terdapat kontras yang sangat tajam antara karakter TUHAN dan pemberontakan umat pilihan-Nya. Kitab Bilangan sesekali terbaca seperti perwujudan konkret dari penyataan diri TUHAN dalam Keluaran 34:6–7—bahwa Dia adalah Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kebenaran, namun sekaligus adil, kudus, dan tidak pernah berkompromi terhadap dosa. Sebaliknya, bangsa Israel berulang kali tampak plin-plan, tidak setia, dan tidak tahu berterima kasih.
Kendati demikian, janji tentang tanah yang pertama kali diikrarkan kepada Abraham dalam Kejadian 12:7 terus mengalir sebagai tema yang konsisten. Istilah-istilah seperti “tanah”, “milik pusaka”, dan “hak waris” senantiasa hadir di sepanjang kitab ini.
Kesulitan-Kesulitan Utama dalam Kitab Bilangan
Tidak diragukan lagi, terdapat sejumlah perikop yang sulit dalam Kitab Bilangan, seperti misalnya pasal 5:11–31 atau 31:1–20. Bagian-bagian ini akan dibahas seiring berjalannya komentari ini. Namun demikian, para pembaca perlu bergumul dengan dua pertanyaan besar agar dapat memetik manfaat yang optimal dari pembacaan kitab ini. Yang pertama berkaitan dengan struktur umum kitab; yang kedua adalah pertanyaan yang lebih spesifik mengenai bagaimana memahami angka-angka sensus yang sangat besar, suatu isu yang muncul berulang kali di sepanjang teks.
1. Struktur Kitab
Terdapat dua opsi pendekatan dalam membagi struktur Kitab Bilangan. Opsi pertama adalah membaginya secara geografis, yaitu berdasarkan lokasi terjadinya berbagai peristiwa di dalam kitab ini. Berdasarkan pendekatan ini, kitab ini terbagi menjadi tiga bagian:
- Pasal 1–12: Mengambil latar di Sinai, tempat Hukum Taurat juga diberikan kepada Musa (lihat Keluaran 19–20).
- Pasal 13–19 (atau 21 jika bagian perjalanan disertakan): Mengambil latar di padang gurun di Kadesh-Barnea.
- Pasal 22–36: Seluruhnya mengambil latar di Dataran Moab, tepat di perbatasan Tanah Perjanjian.
Pencantuman pasal 33 (daftar panjang mengenai tempat-tempat persinggahan umat) tampak mendukung pembagian ini.
Secara tradisional, banyak penafsir memahami struktur kitab ini dengan cara demikian. Terlepas dari alternatif mana pun, terdapat sejumlah masalah dalam pembagian geografis ini. Sebagai contoh, pembedaan antar-wilayah tidaklah begitu tegas—khususnya dalam pasal 11 ketika peristiwa justru terjadi di lokasi yang sama sekali berbeda (Kibrot-Taawa, lih. 11:34) sebelum perkemahan berpindah ke Hazerot. Terlebih lagi, jika pembagian tiga wilayah ini begitu krusial sebagaimana yang ditekankan oleh sebagian ahli, secara mengejutkan pasal 33 justru hampir tidak menonjolkan skema tersebut.
Akan tetapi, masalah terbesar dari pendekatan geografis ini adalah kegagalannya dalam memperhitungkan kondisi rohani bangsa Israel serta pembingkaian kitab ini di seputar dua generasi dan dua sensus terkait (pasal 1 dan 26). Meskipun pembagian geografis tampak rapi, pada akhirnya pendekatan tersebut tidak menolong kita memahami pesan teologis kitab ini secara mendalam. Sebaliknya, jauh lebih tepat untuk mengambil pendekatan rohani/teologis dan memperlakukan aspek geografi sebagai hal yang penting namun sekunder. Pendekatan inilah yang paling selaras dengan maksud ilahi yang diilhamkan, sebagaimana tampak jelas dalam ayat-ayat kunci di pasal 14. Dengan kata lain, TUHAN berurusan dengan umat-Nya bukan semata-mata berdasarkan lokasi keberadaan mereka, melainkan berdasarkan seberapa besar iman mereka kepada-Nya dan kepada janji-janji perjanjian-Nya.
2. Angka-Angka yang Sangat Besar
Terdapat beberapa bagian dalam kitab ini yang memuat angka-angka total yang sangat besar dan tampaknya dibulatkan. Yang paling nyata adalah dua sensus dalam pasal 1 dan 26. Namun, catatan pertempuran dan penghakiman (misalnya 31:42–47 dan 25:9) juga memuat angka-angka yang sangat besar.
Dalam kasus kedua sensus tersebut, yang dihitung hanyalah kaum pria yang sanggup berperang dan berusia 20 tahun ke atas (1:3) dari seluruh suku di luar suku Lewi. Ketika orang-orang Lewi, kaum lansia, perempuan, dan anak-anak ditambahkan ke dalam jumlah 603.550 orang laskar tersebut (1:46), sangat masuk akal untuk memperkirakan bahwa total populasi yang keluar dari Mesir berkisar antara 2 hingga 3 juta jiwa.
Sejumlah keberatan kerap diajukan terhadap data statistik ini:
- Ukuran Populasi Kuno: Sebagian pihak berargumen bahwa angka tersebut terlalu besar untuk ukuran dunia kuno. Pada zaman Pentateukh, populasi kota dan bangsa jauh lebih kecil dibandingkan masa kini. Sebagai contoh, baru pada abad ke-13 atau ke-14 Masehi populasi Britania Raya—sebuah wilayah yang tergolong padat penduduk—mencapai jumlah sebesar itu.
- Ketiadaan Catatan Sejarah Eksternal: Sebagian pihak berpendapat bahwa jumlah populasi sebesar itu seharusnya meninggalkan jejak yang lebih mendalam pada sejarah Mesir kuno, padahal sumber-sumber kuno Mesir sebagian besar bungkam mengenai perbudakan Israel.
- Kendala Logistik: Aspek praktis dalam memimpin rombongan sebesar itu melintasi padang gurun—mengatur pergerakan dan memberi mereka makan—dianggap mustahil bagi kelompok sebesar itu.
Salah satu solusi yang diajukan para ahli adalah membaca teks Ibrani dengan cara yang sedikit berbeda. Angka memang sulit disampaikan dalam bahasa Ibrani, dan kata Ibrani 'elep (yang lazim kita terjemahkan sebagai “ribu”) dapat pula bermakna “kaum/puak” atau “kelompok” (sebagaimana kata yang sangat serupa digunakan dalam Ul. 7:13). Kendati menyelesaikan beberapa persoalan logistik, solusi ini menimbulkan kesulitan lain, khususnya mengenai cara membaca angka-angka total dalam 1:46 dan bagian serupa lainnya.
Berbagai solusi alternatif lainnya telah diusulkan, namun kita harus mengakui bahwa salah satu pendekatan terbaik adalah membaca angka-angka tersebut secara wajar apa adanya (at face value). Walaupun hal ini memunculkan beberapa ketegangan internal tertentu (lihat pembahasan pada 3:40–51[^2]), pertumbuhan populasi Israel sejak 70 jiwa pertama yang memasuki Mesir (Kel. 1:5) secara matematis bukanlah sesuatu yang mustahil.
Bagaimanapun, penggenapan janji TUHAN kepada Abraham untuk memberkatinya dengan keturunan yang sangat banyak terbukti sedang digenapi secara nyata. Kita seharusnya takjub akan kelimpahan kesetiaan TUHAN terhadap janji-janji-Nya, alih-alih membiarkan diri kita teralihkan oleh kesulitan-kesulitan teknis tersebut.
Tujuan Kitab Bilangan
Kitab Bilangan mengingatkan kita bahwa Allah telah menyelamatkan kita, dan seraya kita menempuh perjalanan melintasi padang gurun dunia ini, kita perlu terus-menerus melatih iman kita untuk dapat masuk ke dalam tanah pusaka kekal yang telah Kristus jamin bagi kita.[^3]
Ayat Kunci
Tujuan dari kitab ini—dipadukan dengan fokus yang tepat pada perbedaan tajam antara kedua generasi—terangkum secara jelas dalam respons TUHAN terhadap pemberontakan bangsa itu di pasal 14:
"Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku. Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun! Tentang anak-anakmu yang telah kamu katakan: Mereka akan menjadi tawanan, merekalah yang akan Kubawa masuk, supaya mereka mengenal negeri yang telah kamu hinakan itu."
— Bilangan 14:29–31 (TB)
Garis Besar Kitab Bilangan
- I. Kisah Generasi Pertama: Mati di Padang Gurun (1:1–25:18)
- II. Kisah Generasi Kedua: Hidup di Tanah Perjanjian (26:1–36:13)
I. Kisah Generasi Pertama: Mati di Padang Gurun (1:1–25:18)
Bagian Satu: Bersiap untuk Berangkat (1:1–10:36)
Sensus Pertama Bangsa Israel di Padang Gurun Sinai (1:1–54)
"TUHAN berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai, dalam Kemah Pertemuan, pada tanggal satu bulan yang kedua dalam tahun yang kedua sesudah mereka keluar dari tanah Mesir:
'Hitunglah jumlah segenap umat Israel menurut kaum-kaum yang ada dalam setiap suku mereka, dan catatlah nama semua laki-laki di Israel yang berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang, orang demi orang. Engkau ini beserta Harun harus mencatat mereka menurut pasukannya masing-masing. Dari tiap-tiap suku harus ada satu orang yang mendampingi kamu, yakni orang yang menjadi kepala dari suku yang diwakilinya itu.
Dan inilah nama semua orang yang harus mendampingi kamu. Dari suku Ruben: Elizur bin Syedeur; dari suku Simeon: Selumiel bin Zurisyadai; dari suku Yehuda: Nahason bin Aminadab; dari suku Isakhar: Netaneel bin Zuar; dari suku Zebulon: Eliab bin Helon; dari keturunan Yusuf: Elisama bin Amihud dari suku Efraim, dan Gamaliel bin Pedazur dari suku Manasye; dari suku Benyamin: Abidan bin Gideoni; dari suku Dan: Ahiezer bin Amisyadai; dari suku Asyer: Pagiel bin Okhran; dari suku Gad: Elyasaf bin Rehuel; dari suku Naftali: Ahira bin Enan.'
Itulah orang-orang yang dipilih dari umat itu, masing-masing sebagai pemimpin dari suku bapa leluhurnya; mereka inilah kepala-kepala pasukan Israel.
Lalu Musa dan Harun memanggil orang-orang yang tertunjuk namanya itu, dan pada tanggal satu bulan yang kedua mereka menyuruh segenap umat berkumpul. Kemudian silsilah orang-orang Israel disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam setiap suku mereka, sedang nama-nama mereka yang berumur dua puluh tahun ke atas dicatat orang demi orang, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Demikianlah Musa mencatat mereka di padang gurun Sinai.
Ketika silsilah bani Ruben, yaitu keturunan anak sulung Israel, disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama semua laki-laki yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang, orang demi orang. Jumlah yang dicatat dari suku Ruben ada empat puluh enam ribu lima ratus orang.
Ketika silsilah bani Simeon disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama semua laki-laki yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang, orang demi orang. Jumlah yang dicatat dari suku Simeon ada lima puluh sembilan ribu tiga ratus orang.
Ketika silsilah bani Gad disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang. Jumlah yang dicatat dari suku Gad ada empat puluh lima ribu enam ratus lima puluh orang.
Ketika silsilah bani Yehuda disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang. Jumlah yang dicatat dari suku Yehuda ada tujuh puluh empat ribu enam ratus orang.
Ketika silsilah bani Isakhar disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang. Jumlah yang dicatat dari suku Isakhar ada lima puluh empat ribu empat ratus orang.
Ketika silsilah bani Zebulon disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang. Jumlah yang dicatat dari suku Zebulon ada lima puluh tujuh ribu empat ratus orang.
Mengenai keturunan Yusuf: Ketika silsilah bani Efraim disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang. Jumlah yang dicatat dari suku Efraim ada empat puluh ribu lima ratus orang. Dan ketika silsilah bani Manasye disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang. Jumlah yang dicatat dari suku Manasye ada tiga puluh dua ribu dua ratus orang.
Ketika silsilah bani Benyamin disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang. Jumlah yang dicatat dari suku Benyamin ada tiga puluh lima ribu empat ratus orang.
Ketika silsilah bani Dan disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang. Jumlah yang dicatat dari suku Dan ada enam puluh dua ribu tujuh ratus orang.
Ketika silsilah bani Asyer disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang. Jumlah yang dicatat dari suku Asyer ada empat puluh satu ribu lima ratus orang.
Ketika silsilah bani Naftali disusun menurut kaum-kaum yang ada dalam suku mereka, maka dicatatlah nama orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas, semua orang yang sanggup berperang. Jumlah yang dicatat dari suku Naftali ada lima puluh tiga ribu empat ratus orang.
Itulah jumlah orang-orang yang dicatat oleh Musa dengan Harun dan dengan kedua belas pemimpin Israel yang masing-masing mewakili sukunya. Jadi semua orang Israel yang dicatat menurut suku-suku mereka, yaitu orang-orang yang berumur dua puluh tahun ke atas dan yang sanggup berperang di antara orang Israel, berjumlah enam ratus tiga ribu lima ratus lima puluh orang.
Tetapi mereka yang menurut suku bapa leluhurnya termasuk orang Lewi, tidak turut dicatat bersama-sama dengan mereka itu. Sebab TUHAN telah berfirman kepada Musa: 'Hanya suku Lewi janganlah kaucatat dan janganlah kauhitung jumlahnya bersama-sama dengan orang Israel, tetapi tugaskanlah mereka untuk mengawasi Kemah Suci, tempat hukum Allah dengan segala perabotan dan perlengkapannya; mereka harus mengangkat Kemah Suci dengan segala perabotannya; mereka harus mengurusnya dan harus berkemah di sekelilingnya. Apabila berangkat, Kemah Suci harus dibongkar oleh orang Lewi, dan apabila berkemah, Kemah Suci harus dipasang oleh mereka; sedang orang awam yang mendekat harus dihukum mati. Orang Israel haruslah berkemah masing-masing di tempat perkemahannya dan masing-masing dekat panji-panjinya, menurut pasukan mereka, tetapi orang Lewi haruslah berkemah di sekeliling Kemah Suci, tempat hukum Allah supaya umat Israel jangan kena murka; orang Lewi haruslah memelihara Kemah Suci, tempat hukum itu.'
Maka orang Israel berbuat demikian; tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat mereka."
— Bilangan 1:1–54 (TB)
Pasal pembuka ini memuat petunjuk-petunjuk dan rincian mengenai sensus pertama dari dua sensus yang membentuk kerangka kitab ini (sensus kedua muncul dalam pasal 26[^4]). Pasal ini menetapkan nada bagi pasal-pasal selanjutnya mengenai perjalanan keluar dari Mesir dan masuk ke Tanah Perjanjian. Salah satu pertanyaan penafsiran yang paling menantang muncul di sini—yaitu mengenai angka-angka yang sangat besar di dalam sensus ini (lihat bagian pengantar untuk pembahasan lebih lanjut).
Bilangan 1:1. Ayat pertama ini sendiri memuat kekayaan informasi. Pertama, ayat ini memperkenalkan sebuah frasa kunci yang muncul 49 kali di dalam kitab ini, "TUHAN berfirman kepada Musa," salah satu dari dua nama kitab ini dalam tradisi Yahudi. Frasa ini kerap menghubungkan bagian-bagian yang tampak terpisah (lihat, misalnya, ps. 6–7). Frasa ini juga berfungsi sebagai kata anugerah setelah pemberontakan: fakta bahwa TUHAN masih berfirman terlepas dari sungut-sungut orang Israel merupakan cerminan dari karakter-Nya (lihat, misalnya, 15:1 yang menyusul setelah 14:39).
Kedua, ayat ini menggambarkan lokasi orang Israel "di padang gurun." Frasa ini (yang juga merupakan judul Yahudi bagi keseluruhan kitab) adalah deskripsi yang tepat mengenai lokasi fisik sekaligus keadaan rohani mereka. Mereka berada di tempat yang bukan tujuan menetap, suatu tempat di mana orang tidak dapat bermukim atau bercocok tanam. Padang gurun ini bukanlah gurun pasir, melainkan wilayah yang tandus dan keras. Ini juga merupakan status rohani mereka. Mereka telah diselamatkan dari Mesir (sebagaimana dinyatakan ayat ini) tetapi belum masuk ke dalam apa yang telah dijanjikan oleh TUHAN (lihat bagian pengantar untuk penjelasan mengenai tema ini).
"Kemah Pertemuan" pada tahap ini hanyalah nama lain bagi Kemah Suci (Kel. 39:32), dan Kitab Bilangan menggunakan kedua istilah ini secara bergantian. TUHAN telah memberikan Hukum Taurat kepada mereka sekitar satu tahun sebelumnya (bandingkan penanggalan dengan Kel. 19:1).
Bilangan 1:2–3. Sensus ini merupakan latihan militer, yang menunjukkan hakikat penaklukan yang menanti mereka. Umat tidak akan sekadar melangkah masuk begitu saja ke Tanah Perjanjian, melainkan harus berperang.
Bilangan 1:4–16. Di sini Musa mendaftarkan nama-nama dari kedua belas kepala suku yang akan mengawasi penghitungan. Kedua separuh suku Yusuf dihitung secara terpisah (1:10) dan tidak ada penghitungan militer bagi suku Lewi (lihat 1:47–54 untuk penjelasannya). Terdapat tujuh daftar suku di dalam Kitab Bilangan. Daftar-daftar yang berkaitan dengan kepemimpinan sebagian besar disajikan menurut urutan yang diberikan di sini.
Bilangan 1:17–46. Pada hari yang sama ketika perintah itu diberikan, penghitungan dilaksanakan. Yehuda adalah suku terbesar; Manasye (salah satu separuh suku Yusuf) adalah yang terkecil. Variasi jumlah ini tidaklah mengejutkan. Umat telah tinggal di tanah pembuangan selama lebih dari 400 tahun (lihat Kej. 15:13). Perubahan kecil dalam ukuran keluarga pada masa-masa awal periode tersebut menghasilkan variasi yang besar pada akhirnya. Daftar ini menghasilkan jumlah 603.550 pria berusia 20 tahun ke atas yang sanggup berperang: hal ini mengindikasikan populasi total sekitar 2,5–3 juta jiwa bergantung pada ukuran keluarga. Penulis kemungkinan besar hendak menunjukkan kontras dengan ayat-ayat pembuka Kitab Keluaran yang menggambarkan jumlah yang sedikit saat memasuki Mesir, sehingga menggenapi janji kepada Abraham dalam Kejadian 12.
Bilangan 1:46. Jumlah total 603.550 orang ini persis sama dengan sensus Kemah Suci dalam Keluaran 38:26, yang dilaksanakan satu bulan sebelumnya. Mungkin sensus Kemah Suci tersebut sempat tertunda selama sebulan, dan kemudian keduanya dilakukan pada waktu yang bersamaan.
Bilangan 1:47–53. Orang Lewi tetap dihitung (3:14), hanya saja bukan sebagai bagian dari kegiatan militer ini. Bagian ini menjelaskan secara ringkas mengapa mereka tidak diikutsertakan, namun tema ini akan dikembangkan lebih lanjut dalam pasal 3 dan 4. Orang Lewi bertugas melindungi umat dari murka Allah: inilah makna utama dari "haruslah memelihara / mengawasi," sebuah frasa yang akan muncul berkali-kali di seluruh Kitab Bilangan.
Bilangan 1:54. Frasa kesimpulan yang tersusun dari dua klausa paralel ini sering diulang tatkala Israel hidup dalam ketaatan (lihat, misalnya, 9:23).
Susunan Perkemahan dan Urutan Perjalanan Suku-Suku Israel (2:1–34)
"TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun:
'Orang Israel harus berkemah masing-masing dekat panji-panjinya, menurut lambang suku-sukunya. Mereka harus berkemah di sekeliling Kemah Pertemuan, agak jauh dari padanya.
Yang berkemah di sebelah timur dekat panji-panjinya, ialah laskar Yehuda, menurut pasukan-pasukan mereka. Pemimpin bani Yehuda ialah Nahason bin Aminadab. Pasukannya terdiri dari tujuh puluh empat ribu enam ratus orang yang dicatat.
Yang berkemah di dekatnya ialah suku Isakhar. Pemimpin bani Isakhar ialah Netaneel bin Zuar. Pasukannya terdiri dari lima puluh empat ribu empat ratus orang yang dicatat.
Kemudian suku Zebulon. Pemimpin bani Zebulon ialah Eliab bin Helon. Pasukannya terdiri dari lima puluh tujuh ribu empat ratus orang yang dicatat.
Jumlah orang yang dicatat dalam laskar Yehuda menurut pasukan-pasukan mereka ada seratus delapan puluh enam ribu empat ratus orang. Merekalah yang terdahulu berangkat.
Panji-panji laskar Ruben adalah di sebelah selatan, menurut pasukan-pasukan mereka. Pemimpin bani Ruben ialah Elizur bin Syedeur. Pasukannya terdiri dari empat puluh enam ribu lima ratus orang yang dicatat.
Yang berkemah di dekatnya ialah suku Simeon. Pemimpin bani Simeon ialah Selumiel bin Zurisyadai. Pasukannya terdiri dari lima puluh sembilan ribu tiga ratus orang yang dicatat.
Kemudian suku Gad. Pemimpin bani Gad ialah Elyasaf bin Rehuel. Pasukannya terdiri dari empat puluh lima ribu enam ratus lima puluh orang yang dicatat.
Jumlah orang yang dicatat dalam laskar Ruben menurut pasukan-pasukan mereka ada seratus lima puluh satu ribu empat ratus lima puluh orang. Merekalah yang nomor dua berangkat.
Sesudah itu berangkatlah Kemah Pertemuan dengan laskar orang Lewi, di tengah-tengah laskar yang lain itu. Sama seperti mereka berkemah, demikianlah juga mereka berangkat, masing-masing di tempatnya menurut panji-panji mereka.
Panji-panji laskar Efraim, menurut pasukan-pasukan mereka, adalah di sebelah barat. Pemimpin bani Efraim ialah Elisama bin Amihud. Pasukannya terdiri dari empat puluh ribu lima ratus orang yang dicatat.
Di dekatnya ialah suku Manasye. Pemimpin bani Manasye ialah Gamaliel bin Pedazur. Pasukannya terdiri dari tiga puluh dua ribu dua ratus orang yang dicatat.
Kemudian suku Benyamin. Pemimpin bani Benyamin ialah Abidan bin Gideoni. Pasukannya terdiri dari tiga puluh lima ribu empat ratus orang yang dicatat.
Jumlah orang yang dicatat dalam laskar Efraim menurut pasukan-pasukan mereka ada seratus delapan ribu seratus orang. Merekalah yang nomor tiga berangkat.
Panji-panji laskar Dan adalah di sebelah utara, menurut pasukan-pasukan mereka. Pemimpin bani Dan ialah Ahiezer bin Amisyadai. Pasukannya terdiri dari enam puluh dua ribu tujuh ratus orang yang dicatat.
Yang berkemah di dekatnya ialah suku Asyer. Pemimpin bani Asyer ialah Pagiel bin Okhran. Pasukannya terdiri dari empat puluh satu ribu lima ratus orang yang dicatat.
Kemudian suku Naftali. Pemimpin bani Naftali ialah Ahira bin Enan. Pasukannya terdiri dari lima puluh tiga ribu empat ratus orang yang dicatat.
Jumlah orang yang dicatat dalam laskar Dan ada seratus lima puluh tujuh ribu enam ratus orang. Merekalah yang terkemudian berangkat, menurut panji-panji mereka.'
Itulah pencatatan orang Israel menurut suku-suku mereka. Jumlah orang yang dicatat dalam laskar-laskar dengan pasukan-pasukannya ada enam ratus tiga ribu lima ratus lima puluh orang. Tetapi orang Lewi tidak turut dicatat bersama-sama dengan orang Israel, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
Maka orang Israel berbuat demikian; tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah mereka berkemah menurut panji-panji mereka, dan demikianlah mereka berangkat, masing-masing menurut kaumnya dan sukunya."
— Bilangan 2:1–34 (TB)
Pasal 2 pada mulanya tampak seperti penjelasan mengenai pengaturan perkemahan, namun pembacaan yang cermat memperlihatkan bahwa petunjuk-petunjuk ini berlaku sama kuatnya bagi barisan perjalanan (2:17, 34). Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit, fokus sentral dari perkemahan ini jelas adalah TUHAN yang berdiam di tengah-tengah umat-Nya (bandingkan 5:3). Seluruh suku menghadap ke titik pusat, tempat Kemah Pertemuan didirikan. Setiap suku memiliki lokasinya masing-masing (inklusi), namun dilindungi dari Kemah Pertemuan oleh salah satu kaum Lewi (hal ini akan dijelaskan dalam pasal 3, yang melambangkan eksklusi). Konsep inklusi/eksklusi ini adalah persoalan dekat, tetapi tidak terlalu dekat: Allah berada di pusat, namun Dia tidak dapat dihampiri secara langsung.
Bilangan 2:1–9. Bagian ini menguraikan mereka yang berada di sebelah timur: Yehuda, Isakhar, dan Zebulon, dengan jumlah total 186.400 laskar, ditambah Musa, Harun, dan keluarga mereka (lihat 3:38). Sisi timur merupakan letak pintu masuk kemah, sehingga sangat tepat bagi suku yang paling senior (Yehuda) untuk berada di sini. Suku-suku ini juga berada di bagian depan dalam urutan barisan perjalanan.
Bilangan 2:10–16. Bagian ini menguraikan mereka yang berada di sebelah selatan: Ruben, Simeon, dan Gad, dengan jumlah total 151.450 laskar, ditambah kaum Kehat dari suku Lewi (lihat 3:29).
Bilangan 2:17. Ayat yang berada tepat di tengah-tengah pasal ini mengarahkan perhatian pada fokus sentral, yakni Kemah Pertemuan—baik ketika berkemah maupun ketika dalam perjalanan.
Bilangan 2:18–24. Suku-suku di sebelah barat diuraikan: Efraim, Manasye, dan Benyamin, dengan jumlah total 108.100 laskar, ditambah kaum Gerson dari suku Lewi (lihat 3:23).
Bilangan 2:25–31. Suku-suku di sebelah utara diuraikan: Dan, Asyer, dan Naftali, dengan jumlah total 157.600 laskar, ditambah kaum Merari dari suku Lewi (lihat 3:35).
Beberapa penafsir terdahulu membayangkan bahwa susunan ini kemungkinan berbentuk salib, yang mengindikasikan kehadiran dan tanda Kristus sekiranya seseorang dapat memandang perkemahan tersebut dari ketinggian. Kristus memang tidak diragukan lagi menyertai mereka di sepanjang perjalanan (lihat 1Kor. 10:4), namun penafsiran semacam itu membaca terlalu jauh ke dalam teks.
Bilangan 2:32–34. Ringkasan bagi pasal ini secara bermanfaat mengulangi fakta bahwa orang Lewi tidak turut dihitung dalam pendekatan militer ini. Frasa ketaatan juga kembali diulangi.
Tugas Pelayanan dan Sensus Suku Lewi (3:1–4:49)
"Inilah keturunan Harun dan Musa pada waktu TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai. Nama anak-anak Harun, ialah: yang sulung Nadab, kemudian Abihu, Eleazar dan Itamar. Itulah nama anak-anak Harun, imam-imam yang diurapi, yang telah ditahbiskan untuk memegang jabatan imam. Tetapi Nadab dan Abihu sudah mati di hadapan TUHAN di padang gurun Sinai, ketika mereka mempersembahkan api yang asing ke hadapan TUHAN. Mereka tidak mempunyai anak. Jadi ketika Harun, ayah mereka, masih hidup, yang memegang jabatan imam ialah Eleazar dan Itamar.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Suruhlah suku Lewi mendekat dan menghadap imam Harun, supaya mereka melayani dia. Mereka harus mengerjakan tugas-tugas bagi Harun dan bagi segenap umat Israel di depan Kemah Pertemuan dan dengan demikian melakukan pekerjaan jabatannya pada Kemah Suci. Mereka harus memelihara segala perabotan Kemah Pertemuan, dan mengerjakan tugas-tugas bagi orang Israel dan dengan demikian melakukan pekerjaan jabatannya pada Kemah Suci. Orang Lewi harus kauserahkan kepada Harun dan anak-anaknya; dari antara orang Israel haruslah orang-orang itu diserahkan kepadanya dengan sepenuhnya. Tetapi Harun dan anak-anaknya haruslah kautugaskan untuk memegang jabatannya sebagai imam, sedang orang awam yang mendekat harus dihukum mati.'
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Sesungguhnya, Aku mengambil orang Lewi dari antara orang Israel ganti semua anak sulung mereka, yang terdahulu lahir dari kandungan, supaya orang Lewi menjadi kepunyaan-Ku, sebab Akulah yang punya semua anak sulung. Pada waktu Aku membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, maka Aku menguduskan bagi-Ku semua anak sulung yang ada pada orang Israel, baik dari manusia maupun dari hewan; semuanya itu kepunyaan-Ku; Akulah TUHAN.'
TUHAN berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai: 'Catatlah bani Lewi menurut puak-puak dan kaum-kaum mereka; semua laki-laki yang berumur satu bulan ke atas harus kaucatat.' Lalu Musa mencatat mereka sesuai dengan titah TUHAN, seperti yang diperintahkan kepadanya.
Inilah anak-anak Lewi dengan nama mereka: Gerson, Kehat dan Merari. Inilah nama anak-anak Gerson dan kaum-kaum mereka: Libni dan Simei. Anak-anak Kehat dan kaum-kaum mereka ialah Amram, Yizhar, Hebron dan Uziel. Anak-anak Merari dan kaum-kaum mereka ialah Mahli dan Musi. Inilah kaum-kaum orang Lewi yang ada dalam puak-puak mereka.
Puak Gerson terdiri dari kaum Libni dan kaum Simei; itulah kaum-kaum Gerson. Jumlah pencatatan mereka ketika semua laki-laki yang berumur satu bulan ke atas dicatat ada tujuh ribu lima ratus orang. Kaum-kaum Gerson ini berkemah di belakang Kemah Suci di sebelah barat. Pemimpin puak Gerson ialah Elyasaf bin Lael. Yang harus dipelihara oleh bani Gerson dalam Kemah Pertemuan ialah Kemah Suci dan Kemah dengan tudungnya, tirai pintu Kemah Pertemuan, layar pelataran dan tirai pintu pelataran yang ada sekeliling Kemah Suci dan mezbah, dan talinya, termasuk segala pekerjaan yang berhubungan dengan semuanya itu.
Puak Kehat terdiri dari kaum Amram, kaum Yizhar, kaum Hebron dan kaum Uziel; itulah kaum-kaum Kehat. Jumlah pencatatan mereka ketika semua laki-laki yang berumur satu bulan ke atas dicatat ada delapan ribu enam ratus orang, yakni mereka yang memelihara barang-barang kudus. Kaum-kaum bani Kehat ini berkemah pada sisi Kemah Suci sebelah selatan. Pemimpin puak Kehat dan kaum-kaumnya ialah Elisafan bin Uziel. Yang harus dipelihara mereka ialah tabut, meja, kandil, mezbah-mezbah, perkakas tempat kudus yang dipakai untuk menyelenggarakan ibadah, juga tirai, termasuk segala pekerjaan yang berhubungan dengan semuanya itu. Adapun pemimpin tertinggi orang Lewi ialah Eleazar, anak imam Harun, yang mengawasi mereka yang memelihara barang-barang kudus.
Puak Merari terdiri dari kaum Mahli dan kaum Musi; itulah kaum-kaum Merari. Jumlah pencatatan mereka ketika semua laki-laki yang berumur satu bulan ke atas dicatat ada enam ribu dua ratus orang. Pemimpin puak Merari dan kaum-kaumnya ialah Zuriel bin Abihail. Mereka berkemah pada sisi Kemah Suci sebelah utara. Yang ditugaskan kepada bani Merari untuk dipelihara ialah papan Kemah Suci, kayu lintangnya, tiang-tiangnya, alasnya, segala perabotannya, termasuk segala pekerjaan yang berhubungan dengan semuanya itu, juga tiang pelataran sekelilingnya, alas, patok dan talinya.
Yang berkemah di depan Kemah Suci di sebelah timur, di depan Kemah Pertemuan, ialah Musa, dan Harun serta anak-anaknya, yang mengerjakan tugas pemeliharaan tempat kudus bagi orang Israel; tetapi orang awam yang mendekat, haruslah dihukum mati.
Jumlah orang Lewi yang sesuai dengan titah TUHAN dicatat oleh Musa dan Harun, menurut kaum-kaum mereka, yakni semua laki-laki yang berumur satu bulan ke atas, ada dua puluh dua ribu orang.
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Catatlah semua anak sulung laki-laki Israel yang berumur satu bulan ke atas, lalu hitunglah jumlah mereka, dan ambillah orang-orang Lewi bagi-Ku—Akulah TUHAN—sebagai ganti semua anak sulung yang ada pada orang Israel, juga hewan orang Lewi ganti semua anak sulung di antara hewan orang Israel.' Maka Musa mencatat semua anak sulung yang ada pada orang Israel, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya. Semua anak sulung laki-laki yang dicatat namanya dalam pencatatan itu, yakni yang berumur satu bulan ke atas, ada dua puluh dua ribu dua ratus tujuh puluh tiga orang.
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Ambillah orang Lewi ganti semua anak sulung yang ada pada orang Israel, juga hewan orang Lewi ganti hewan mereka, supaya orang Lewi itu menjadi kepunyaan-Ku; Akulah TUHAN. Sebagai uang tebusan untuk kedua ratus tujuh puluh tiga anak sulung Israel yang melebihi jumlah orang Lewi itu, haruslah engkau mengambil lima syikal seorang; engkau harus mengambilnya menurut syikal kudus—syikal ini dua puluh gera beratnya—. Berikanlah perak itu kepada Harun dan anak-anaknya sebagai uang tebusan untuk orang-orang yang kelebihan itu.' Lalu Musa mengambil uang tebusan untuk orang-orang yang melebihi jumlah mereka yang telah ditebus oleh orang Lewi itu; dari pada anak-anak sulung Israel diambilnya perak itu, seribu tiga ratus enam puluh lima syikal, ditimbang menurut syikal kudus, maka Musa memberikan uang tebusan itu kepada Harun dan anak-anaknya sesuai dengan titah TUHAN, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: 'Hitunglah jumlah bani Kehat sebagai suatu golongan tersendiri di antara bani Lewi, menurut kaum-kaum yang ada dalam puak mereka. Hitunglah yang berumur tiga puluh tahun ke atas sampai yang berumur lima puluh tahun, semua orang yang kena wajib tugas, supaya mereka melakukan pekerjaan di Kemah Pertemuan. Pekerjaan jabatan orang Kehat di Kemah Pertemuan ialah mengurus barang-barang yang maha kudus.
Kalau perkemahan akan berangkat, haruslah Harun dan anak-anaknya masuk ke dalam untuk menurunkan tabir penudung, dan menudungkannya kepada tabut hukum. Di atasnya mereka harus meletakkan tutup dari kulit lumba-lumba, dan di atasnya lagi mereka harus membentangkan sehelai kain yang seluruhnya ungu tua, kemudian mereka harus memasang kayu-kayu pengusung tabut itu. Lagipula di atas meja roti sajian mereka harus membentangkan sehelai kain ungu tua, dan di atasnya mereka harus meletakkan pinggan, cawan, piala dan kendi korban curahan; juga roti sajian harus tetap ada di atasnya. Di atas semuanya itu mereka harus membentangkan sehelai kain kirmizi, lalu menudungnya dengan tudung dari kulit lumba-lumba, kemudian mereka harus memasang kayu-kayu pengusung meja itu. Lalu mereka harus mengambil sehelai kain ungu tua dan menudungkannya kepada kandil untuk penerangan dengan lampu-lampunya, sepit-sepit dan penadah-penadahnya, dan segala perkakas minyaknya yang dipakai untuk mengurus kandil itu. Dan mereka harus meletakkannya dengan segala perkakasnya ke atas tudung dengan dari kulit lumba-lumba dan meletakkannya di atas usungan. Di atas mezbah dari emas itu mereka harus membentangkan sehelai kain ungu tua dan menudunginya dengan tudung dari kulit lumba-lumba, kemudian mereka harus memasang kayu-kayu pengusung mezbah itu. Lalu mereka harus mengambil segala perkakas yang dipakai untuk menyelenggarakan kebaktian di tempat kudus, meletakkannya di atas sehelai kain ungu tua dan menudunginya dengan tudung dari kulit lumba-lumba, kemudian meletakkannya di atas usungan. Dan mereka harus membersihkan mezbah itu dari abu, lalu membentangkan sehelai kain ungu muda di atasnya, sesudah itu meletakkan di atasnya segala perkakasnya yang dipakai untuk mengurusnya, yakni perbaraan, garpu, penyodok, bokor penyiraman, segala perkakas mezbah itu, dan di atasnya mereka harus membentangkan tutup dari kulit lumba-lumba, kemudian mereka harus memasang kayu-kayu pengusung mezbah itu.
Setelah Harun dan anak-anaknya selesai menudungi barang-barang kudus dan segala perkakas tempat kudus, pada waktu perkemahan akan berangkat, barulah orang Kehat boleh masuk ke dalam untuk mengangkat barang-barang itu; tetapi janganlah mereka kena kepada barang-barang kudus itu, nanti mereka mati. Jadi itulah barang-barang di Kemah Pertemuan yang harus diangkat bani Kehat. Tetapi Eleazar, anak imam Harun, bertanggung jawab atas minyak untuk penerangan, ukupan dari wangi-wangian, korban sajian yang tetap dan minyak urapan; ia bertanggung jawab atas segenap Kemah Suci dan segala isinya, yakni barang-barang kudus dan perabotannya.'
TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: 'Perhatikanlah supaya puak Kehat dan kaum-kaumnya jangan musnah binasa dari tengah-tengah orang Lewi. Inilah yang harus kamu lakukan bagi mereka, supaya mereka tinggal hidup dan jangan mati, apabila mereka mendekat ke barang-barang maha kudus: Harun dan anak-anaknya haruslah masuk ke dalam dan menempatkan mereka masing-masing di tempat tugasnya dekat barang yang harus diangkat. Tetapi janganlah orang Kehat masuk ke dalam untuk melihat barang-barang kudus itu walau sesaatpun, nanti mereka mati.'
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Hitunglah juga jumlah bani Gerson menurut puak dan kaum-kaum mereka. Catatlah mereka yang berumur tiga puluh tahun ke atas sampai yang berumur lima puluh tahun, yakni setiap orang yang wajib tugas, supaya mereka melakukan pekerjaan jabatan di Kemah Pertemuan. Inilah tugas kaum-kaum Gerson dalam hal pekerjaan jabatan dan pengangkatan barang itu: mereka harus mengangkat tenda-tenda Kemah Suci, dan Kemah Pertemuan tudungnya dan tudung dari kulit lumba-lumba yang ada di atasnya, tirai pintu Kemah Pertemuan, layar-layar pelataran dan tirai pintu gerbang pelataran yang ada sekeliling Kemah Suci dan mezbah, dengan talinya dan segala perkakas untuk pekerjaan jabatan mereka; dan mereka harus melakukan segala tugas yang perlu berkenaan dengan semuanya itu. Seluruh pekerjaan jabatan bani Gerson harus dilakukan sesuai dengan perintah Harun dan anak-anaknya, yakni segala tugas pengangkatan barang dan pekerjaan jabatan itu; kamu harus membuat mereka penanggung jawab atas segala yang harus diangkat mereka. Itulah tugas kaum-kaum bani Gerson di Kemah Pertemuan. Mereka harus mengerjakan di bawah pimpinan Itamar, anak imam Harun itu.
Orang Merari haruslah kaucatat menurut kaum-kaum yang ada dalam puak mereka. Catatlah mereka yang berumur tiga puluh tahun ke atas sampai yang berumur lima puluh tahun, yakni setiap orang yang kena wajib tugas, supaya mereka melakukan pekerjaan jabatan pada Kemah Pertemuan. Inilah yang wajib diangkat mereka berhubung dengan seluruh pekerjaan jabatan mereka di Kemah Pertemuan: papan-papan Kemah Suci, kayu-kayu lintangnya, tiang-tiangnya, alas-alasnya, tiang-tiang pelataran sekelilingnya, alas-alasnya, patok-patok dan tali-talinya, serta segala perkakasnya; semuanya termasuk tugas mereka. Dengan terperinci haruslah kamu tunjuk perkakas yang wajib diangkat mereka itu. Itulah tugas kaum-kaum bani Merari, yakni seluruh pekerjaan jabatan mereka di Kemah Pertemuan, yang harus dilakukan di bawah pimpinan Itamar, anak imam Harun.'
Demikianlah Musa dan Harun dengan para pemimpin umat Israel mencatat bani Kehat menurut kaum-kaum yang ada dalam puak mereka, yakni orang-orang yang berumur tiga puluh tahun ke atas sampai yang berumur lima puluh tahun, setiap orang yang kena wajib tugas berhubung dengan pekerjaan jabatan di Kemah Pertemuan. Maka jumlah pencatatan mereka menurut kaum-kaum mereka ada dua ribu tujuh ratus lima puluh orang. Itulah orang-orang yang dicatat dari kaum-kaum Kehat, semua orang yang melakukan pekerjaan jabatan di Kemah Pertemuan, yakni mereka yang dicatat oleh Musa dan Harun, sesuai dengan titah TUHAN dengan perantaraan Musa.
Bani Gerson yang dicatat menurut kaum-kaum yang ada dalam puak mereka, yaitu orang-orang yang berumur tiga puluh tahun ke atas sampai yang berumur lima puluh tahun, setiap orang yang kena wajib tugas berhubung dengan pekerjaan jabatan di Kemah Pertemuan, jadi mereka yang dicatat menurut kaum-kaum yang ada dalam puak mereka, berjumlah dua ribu enam ratus tiga puluh orang. Itulah jumlah pencatatan kaum-kaum bani Gerson, semua orang yang melakukan pekerjaan jabatan di Kemah Pertemuan, yakni mereka yang dicatat oleh Musa dan Harun sesuai dengan titah TUHAN.
Bani Merari yang dicatat menurut kaum-kaum yang ada dalam puak mereka, yaitu orang-orang yang berumur tiga puluh tahun ke atas sampai yang berumur lima puluh tahun, setiap orang yang kena wajib tugas berhubung dengan pekerjaan jabatan di Kemah Pertemuan, jadi mereka yang dicatat menurut kaum-kaum mereka, berjumlah tiga ribu dua ratus orang. Itulah jumlah pencatatan kaum-kaum bani Merari, yakni mereka yang dicatat oleh Musa dan Harun, sesuai dengan titah TUHAN dengan perantaraan Musa.
Semua orang Lewi yang dicatat oleh Musa dan Harun dengan para pemimpin Israel menurut kaum-kaum yang ada dalam puak-puak mereka, yakni orang-orang yang berumur tiga puluh tahun ke atas sampai yang berumur lima puluh tahun, setiap orang yang wajib melakukan pekerjaan jabatan di Kemah Pertemuan dan pekerjaan pengangkatan barang, jadi mereka yang dicatat, berjumlah delapan ribu lima ratus delapan puluh orang. Sesuai dengan titah TUHAN dengan perantaraan Musa, maka mereka masing-masing dibuat penanggung jawab atas apa yang harus dikerjakan dan diangkatnya. Demikianlah mereka dicatat, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa."
— Bilangan 3:1–4:49 (TB)
Kedua pasal ini harus dipahami bersama-sama. Setelah pengantar singkat, terdapat tiga bagian utama: uraian ringkas mengenai tugas masing-masing kaum orang Lewi (3:5–39); penjelasan mengenai relasi orang Lewi dengan TUHAN maupun dengan orang Israel lainnya (3:40–51); serta uraian yang lebih lengkap mengenai tugas masing-masing kaum (4:1–49). Dengan demikian, struktur ini menekankan bagian tengah yang penting tersebut.
Bilangan 3:1–5. Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa dua anak Harun telah mati karena mempersembahkan api yang asing (lihat Im. 10, suatu pelajaran yang harus diulangi lagi dalam Bil. 16). Dua anak lainnya tetap hidup (Eleazar dan Itamar). Eleazar tampil menonjol dalam catatan Kitab Bilangan. Itamar hanya disebutkan secara singkat (4:28, 33; 26:60). Musa dan Harun (dan karenanya garis keturunan imam) sama-sama tergolong ke dalam kaum Kehat yang akan bertanggung jawab merawat dan mengangkut barang-barang yang maha kudus.
Bilangan 3:5–13. Di sini, tugas-tugas orang Lewi diperkenalkan secara garis besar. Dua kata digunakan secara luas: menjaga/memelihara (kata yang sering dipakai di dalam kitab ini) dan melayani. Penjagaan yang harus mereka lakukan bersifat dua arah dalam 3:8: mereka harus menjaga barang-barang agar tidak dicuri, dan mereka juga harus berdiri di antara TUHAN dan umat-Nya. Kedua makna ini saling melengkapi, namun seiring perkembangan kitab ini dan kekudusan TUHAN semakin dinyatakan, penekanan yang lebih besar diberikan kepada makna yang kedua. Orang Lewi adalah milik Harun dan anak-anaknya (yakni para imam, 3:9) sekaligus milik TUHAN sendiri (3:41 dan 8:16).
Dalam 3:11, gagasan mengenai substitusi (penggantian) diperkenalkan, yang kelak diperluas dalam 3:40–51. Setiap anak sulung laki-laki di Israel adalah milik TUHAN (lihat Kel. 13:2), dan orang Lewi diserahkan kepada TUHAN sebagai ganti mereka.
Bilangan 3:14–20. Anak-anak Lewi diperkenalkan: Gerson, Kehat, dan Merari; cabang-cabang kaum mereka yang diuraikan di sini tidak lagi memainkan peran tersendiri dalam bagian selebihnya dari kitab ini.
Bilangan 3:21–37. Dua kata menggambarkan apa yang dilakukan kaum-kaum Lewi: "tugas pemeliharaan" adalah tugas perlindungan, dan "pelayanan" menggambarkan pekerjaan fisik yang berkaitan dengan mengangkut, mendirikan, dan membongkar Kemah Suci.
Bilangan 3:21–26. Pekerjaan kaum Gerson dijelaskan. Terdapat 7.500 laki-laki berumur satu bulan ke atas, dan mereka bertanggung jawab atas bagian-bagian Kemah Suci yang terbuat dari kain: kemah, tudung-tudung, tirai pintu, layar-layar, dan sebagainya.
Bilangan 3:27–32. Pekerjaan kaum Kehat dijelaskan. Harun adalah orang Kehat, sehingga garis keturunan imam merupakan bagian dari kaum ini. Terdapat 8.600 laki-laki berumur satu bulan ke atas. Tanggung jawab mereka adalah barang-barang kudus yang terdapat di Kemah Suci: tabut, meja, kandil, dan sebagainya.
Bilangan 3:33–37. Pekerjaan kaum Merari dijelaskan. Terdapat 6.200 laki-laki berumur satu bulan ke atas, dan mereka bertanggung jawab atas perlengkapan keras (hardware) Kemah Suci: tiang-tiang, alas-alas, dan sebagainya.
Bilangan 3:38–39. Ketiga kaum ini berjumlah 22.000 orang (suatu perkiraan pembulatan, karena jumlah sesungguhnya adalah 22.273, atau 22.300 jika menggunakan angka-angka dalam 3:21–37). Hal ini menjadikannya suku terkecil dengan selisih yang cukup besar; suku penuh yang terkecil adalah Benyamin dengan 35.400 laki-laki berusia 20 tahun ke atas (1:37). Namun, Lewi sendiri hanya memiliki tiga anak laki-laki, dan perbedaan kecil dalam ukuran keluarga pada tahap awal dapat dengan mudah menjelaskan perbedaan yang signifikan 400 tahun kemudian.
Bilangan 3:40–51. Sejak Paskah seterusnya (Kel. 12:1–28), substitusi adalah gagasan kunci dalam Alkitab. Di sini, setiap orang Lewi menjadi pengganti bagi setiap anak sulung laki-laki di Israel (dan hal yang sama diulangi untuk ternak). Jika substitusi orang Lewi berlaku bagi seluruh 603.550 orang Israel, maka hal ini mengasumsikan bahwa setiap keluarga memiliki jumlah anak laki-laki yang luar biasa banyak. Lebih mungkin, substitusi orang Lewi berlaku bagi setiap anak sulung laki-laki yang lahir sejak peristiwa Keluaran (di mana domba Paskah telah berdiri sebagai pengganti). Berdasarkan dasar pemikiran ini, tahun sejak Keluaran tersebut menyaksikan kelahiran 22.300 anak sulung laki-laki, suatu penafsiran yang jauh lebih masuk akal. Namun, bagaimana jika ada selisih antara jumlah anak sulung dan jumlah orang Lewi? Hukum Taurat mengantisipasi skenario ini dan menetapkan harga tebusan sebesar 5 syikal (3:47) untuk setiap kelebihan anak sulung. Inilah "harga tebusan" atau "uang tebusan." Bagian ini diakhiri dengan frasa ketaatan yang sudah lazim.
Bilangan 4:1–20. Ayat-ayat ini menguraikan peran kaum Kehat secara lebih terperinci. Sensus baru dilaksanakan untuk mendaftar mereka yang berumur di atas 30 tahun (usia pelayanan seorang Lewi atau imam). Hasilnya baru diungkapkan di bagian akhir pasal, namun sensus ini akan memungkinkan jadwal giliran tugas (rotas) disusun. Bagian ini menyerupai daftar pengepakan barang untuk liburan atau pindah rumah. Bagian penting dari pekerjaan mereka adalah bahwa barang-barang kudus tidak boleh disentuh secara langsung (4:15), melainkan harus ditutup dan diusung dengan kayu-kayu pengusung. Hal ini sama banyaknya demi perlindungan mereka sendiri (4:17–20) seperti halnya demi perlindungan orang lain. Setiap kaum memiliki seorang pengawas: Eleazar mengawasi kaum Kehat (4:16, 19). Itamar akan bertanggung jawab atas dua kaum lainnya (4:28, 33).
Bilangan 4:21–28. Uraian tugas yang diperluas bagi kaum Gerson didaftarkan. Seperti kaum-kaum lainnya, mereka yang didaftarkan berada di antara usia 30 dan 50 tahun karena pekerjaan ini menuntut fisik.
Bilangan 4:29–33. Uraian tugas yang diperluas bagi kaum Merari didaftarkan.
Bilangan 4:34–49. Hasil sensus kini dinyatakan: ada 8.580 orang Lewi pada usia yang tepat, terbagi cukup merata di ketiga kaum. Bilangan 4:49 mengulangi kembali frasa ketaatan.
Kekudusan Perkemahan dan Hukum Mengenai Kecemburuan (5:1–31)
"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya semua orang yang sakit kusta, semua orang yang mengeluarkan lelehan, dan semua orang yang najis oleh mayat disuruh meninggalkan tempat perkemahan; baik laki-laki maupun perempuan haruslah kausuruh pergi; ke luar tempat perkemahan haruslah mereka kausuruh pergi, supaya mereka jangan menajiskan tempat perkemahan di mana Aku diam di tengah-tengah mereka.' Maka orang Israel berbuat demikian, mereka menyuruh orang-orang itu meninggalkan tempat perkemahan; seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat orang Israel.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Berbicaralah kepada orang Israel: Apabila seseorang, laki-laki atau perempuan, melakukan sesuatu dosa terhadap sesamanya manusia, dan oleh karena itu berubah setia terhadap TUHAN, sehingga orang itu menjadi bersalah, maka haruslah ia mengakui dosa yang telah dilakukannya itu; kemudian membayar tebusan sepenuhnya dengan menambah seperlima, lalu menyerahkannya kepada orang terhadap siapa ia bersalah. Tetapi apabila orang itu tidak ada kaumnya, kepada siapa dapat dibayar tebusan salah itu, maka tebusan salah yang harus dibayar itu menjadi kepunyaan TUHAN, dan adalah bagian imam, belum terhitung domba jantan pendamaian yang dipakai untuk mengadakan pendamaian bagi orang itu. Dari persembahan-persembahan kudus yang disampaikan orang Israel kepada imam, persembahan khususnya adalah bagian imam. Sedang persembahan-persembahan kudus yang dibawa oleh seseorang adalah bagian orang itu sendiri; hanya apa yang diserahkannya kepada seorang imam adalah bagian imam itu.'
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila isteri seseorang berbuat serong dan tidak setia terhadap suaminya, dan laki-laki lain tidur dan bersetubuh dengan perempuan itu, dengan tidak diketahui suaminya, karena tinggal rahasia bahwa perempuan itu mencemarkan dirinya, tidak ada saksi terhadap dia, dia tidak kedapatan, dan apabila kemudian roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, dan perempuan itu memang telah mencemarkan dirinya, atau apabila roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, walaupun perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, maka haruslah orang itu membawa isterinya kepada imam. Dan orang itu harus membawa persembahan karena perempuan itu sebanyak sepersepuluh efa tepung jelai, yang ke atasnya tidak dituangkannya minyak dan yang tidak dibubuhinya kemenyan, karena korban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan.
Maka haruslah imam menyuruh perempuan itu mendekat dan menghadapkannya kepada TUHAN. Lalu imam harus membawa air kudus dalam suatu tempayan tanah, kemudian harus memungut debu yang ada di lantai Kemah Suci dan membubuhnya ke dalam air itu. Apabila imam sudah menghadapkan perempuan itu kepada TUHAN, haruslah ia menguraikan rambut perempuan itu, lalu meletakkan korban peringatan, yakni korban sajian cemburuan, ke atas telapak tangan perempuan itu, sedang di tangan imam haruslah ada air pahit yang mendatangkan kutuk. Maka haruslah imam menyumpah perempuan itu dengan berkata kepadanya: Jika tidak benar ada laki-laki yang tidur dengan engkau, dan jika tidak engkau berbuat serong kepada kecemaran, padahal engkau di bawah kuasa suamimu, maka luputlah engkau dari air pahit yang mendatangkan kutuk ini; tetapi jika engkau, padahal engkau di bawah kuasa suamimu, berbuat serong dan mencemarkan dirimu, oleh karena orang lain dari suamimu sendiri bersetubuh dengan engkau—dalam hal ini haruslah imam menyumpah perempuan itu dengan sumpah kutuk, dan haruslah imam berkata kepada perempuan itu—maka TUHAN kiranya membuat engkau menjadi sumpah kutuk di tengah-tengah bangsamu dengan mengempiskan pahamu dan mengembungkan perutmu, sebab air yang mendatangkan kutuk ini akan masuk ke dalam tubuhmu untuk mengembungkan perutmu dan mengempiskan pahamu. Dan haruslah perempuan itu berkata: Amin, amin.
Lalu imam harus menuliskan kutuk itu pada sehelai kertas dan menghapusnya dengan air pahit itu, dan ia harus memberi perempuan itu minum air pahit yang mendatangkan kutuk itu, dan air itu akan masuk ke dalam badannya dan menyebabkan sakit yang pedih. Maka haruslah imam mengambil korban sajian cemburuan dari tangan perempuan itu lalu mengunjukkannya ke hadapan TUHAN, dan membawanya ke mezbah. Sesudah itu haruslah imam mengambil segenggam dari korban sajian itu sebagai bagian ingat-ingatannya dan membakarnya di atas mezbah, kemudian memberi perempuan itu minum air itu. Setelah terjadi demikian, apabila perempuan itu memang mencemarkan dirinya dan berubah setia terhadap suaminya, air yang mendatangkan sumpah serapah itu akan masuk ke badannya dan menyebabkan sakit yang pedih, sehingga perutnya mengembung dan pahanya mengempis, dan perempuan itu akan menjadi sumpah kutuk di antara bangsanya. Tetapi apabila perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, melainkan ia suci, maka ia akan bebas dan akan dapat beranak.
Itulah hukum tentang perkara cemburuan, kalau seorang perempuan telah berbuat serong dan mencemarkan dirinya, padahal ia di bawah kuasa suaminya, atau kalau roh cemburu menguasai seorang laki-laki, sehingga ia cemburu terhadap isterinya; ia harus menghadapkan perempuan itu kepada TUHAN dan imam haruslah melaksanakan seluruh hukum ini kepada perempuan itu. Laki-laki itu akan bebas dari pada salah, tetapi perempuan itu haruslah menanggung akibat kesalahannya.'"
— Bilangan 5:1–31 (TB)
Pasal 5 dan 6 merupakan satu kesatuan yang membahas tema kekudusan dalam berbagai bentuk: kekudusan di dalam perkemahan (5:1–4), kekudusan dalam relasi (5:5–10), kekudusan dalam pernikahan (5:11–31), dan kekudusan dalam pelayanan (6:1–21). Bagian ini diakhiri dengan berkat Harun (6:22–27), yang paling tepat dipahami sebagai berkat Allah atas kekudusan umat sejalan dengan berkat-berkat Hukum Taurat yang mengalir dari ketaatan (lihat, misalnya, Ul. 28:1–6). Dalam setiap kasus, kekudusan dituntut karena TUHAN berdiam di tengah-tengah umat-Nya (5:3). Bagian-bagian ini dihubungkan oleh frasa "TUHAN berfirman kepada Musa" (5:1, 4, 5, 11; 6:1, 22).
Bilangan 5:1–5. Hukum-hukum yang telah diperinci sebelumnya dalam Imamat 13, 15, dan 21 mengenai penyakit menular dan mereka yang bersentuhan dengan mayat diperluas di sini. Prinsip umumnya adalah bahwa TUHAN yang kudus berada di dalam perkemahan, sehingga mereka yang najis harus dikeluarkan agar tidak menajiskan perkemahan.
Bilangan 5:6–10. Suatu ketetapan umum diberikan: dosa harus diikuti oleh pengakuan dan pemulihan ganti rugi (restitusi). Perhatikan bahwa pengakuan merupakan bagian penting dari proses ini karena dosa apa pun terhadap orang lain (tersirat dari perlunya restitusi) juga merupakan tindakan "berubah setia terhadap TUHAN" (bandingkan Mzm. 51:5–6). Bilangan 5:6–7 mengulangi tuntutan Keluaran 22:7–15 dan Imamat 6:1–7 (khususnya Im. 6:5). Teks ini kemudian beralih ke kasus yang lebih spesifik di mana pihak yang dirugikan telah meninggal dan tidak memiliki kerabat dekat. Dalam kasus ini, restitusi tetap harus dibayarkan, namun jumlahnya dibayarkan kepada imam. Bilangan 5:10 secara khusus sulit dipahami; ayat ini kemungkinan besar merupakan pengulangan ganda dari poin yang sama: apa pun yang diberikan kepada imam menjadi miliknya.
Bilangan 5:11–31. Bagian ini memuat salah satu perikop paling sulit dalam keseluruhan kitab ini. Bagian ini sebenarnya tidak sulit dipahami: prosedurnya relatif jelas, sekalipun tampak rumit. Namun, tantangan bagi para pembaca modern berkaitan dengan prosesnya yang terkesan berat sebelah (semuanya tampak ditimpakan kepada sang perempuan) serta kebrutalan konsekuensi bagi perempuan yang bersalah (5:21–22). Teks ini tampak berasal dari budaya yang sangat didominasi laki-laki.
Untuk menjawab keberatan-keberatan ini, perikop ini harus diletakkan dalam konteks biblika dan konteks hukumnya. Dalam istilah Alkitab, pernikahan dijunjung dengan kehormatan yang sangat tinggi, mencerminkan relasi antara TUHAN dan umat-Nya. Oleh karena itu, ketidaksetiaan selalu dipandang sangat serius (lihat Mal. 2, misalnya). Dalam istilah hukum, sudah ada hukum mengenai perzinaan: baik laki-laki maupun perempuan harus dihukum mati dengan dilempari batu (Im. 20:10). Dalam konteks ini, perikop ini tidak sedang menetapkan hukum baru, melainkan menyediakan prosedur bagi kasus yang sangat spesifik ketika seorang suami mencurigai istrinya berzina, namun hal itu tidak dapat dibuktikan.
Berdasarkan hal ini, proses ini tidaklah kejam; sebaliknya, hukum ini melindungi sang perempuan dari penghakiman massa yang mungkin timbul dalam masyarakat yang didominasi laki-laki. Perkara ini diambil dari tangan sang suami dan diserahkan kepada imam yang berdiri di hadapan TUHAN (yang hadir di setiap tahap: 5:11, 16, 18, 30). Proses ini aman (hanya menuntut meminum cairan yang tidak beracun) bagi orang yang tidak bersalah. Dan bahkan perempuan yang bersalah pun tidak akan kehilangan nyawanya (karena tidak ada dua saksi sebagaimana yang dituntut Hukum Taurat). Namun, ia tidak akan dapat melahirkan anak (inilah makna dari 5:21). Terlebih lagi, dengan menyetujui proses ini, perempuan tersebut menunjukkan agensi pribadinya sendiri (5:22). Maka prosedur ini berbeda dari pengadilan cobaan fisik (trials by ordeal) yang lazim dalam banyak kebudayaan di sepanjang zaman (dan dalam kebudayaan Kanaan pada masa itu).
Bilangan 5:11–16. Ini merupakan pengantar bagi proses yang dimulai karena kecemburuan sang suami. Kata "cemburu" muncul 5 kali hanya dalam beberapa ayat. Kita hendaknya tidak memikirkan gagasan modern mengenai kecemburuan yang lebih mirip dengan gagasan Alkitab tentang mengingini milik sesama (coveting). Dalam Alkitab, kecemburuan adalah kerinduan agar sesuatu diberi penghargaan atau pengakuan atas apa yang selayaknya menjadi haknya. Demikianlah, TUHAN cemburu bagi nama-Nya sendiri dan eksklusivitas-Nya (Kel. 20:5). Maka kecemburuan sang suami merupakan cerminan dari tingginya kedudukan pernikahan dan eksklusivitasnya di tengah bangsa tersebut.
Korban cemburuan yang dibawanya—yang juga disebut korban sajian peringatan (5:15)—tidak dikenal di tempat lain, namun dapat melayani dua tujuan yang saling melengkapi: korban ini mungkin mengadakan pendamaian bagi kesalahan sang suami sekiranya ia terbukti keliru; selain itu, korban ini dapat mentahirkan Kemah Suci jika sang perempuan terbukti bersalah.
Bilangan 5:16–17. Perkara ini diambil dari tangan sang suami tatkala perempuan itu dibawa ke hadapan TUHAN. Imam mulai mempersiapkan cairan untuk diminumnya (kemudian disebut air pahit—cairan ini tidak enak diminum, tetapi tidak berbahaya).
Bilangan 5:18. Menguraikan rambut dapat menandakan banyak hal, namun kemungkinan besar melambangkan kejujuran dan keterbukaan di hadapan hadirat TUHAN. Perempuan itu diberi waktu untuk bertobat jika perlu.
Bilangan 5:19–22. Sumpah yang diucapkan adalah sumpah yang membebaskan orang yang tidak bersalah namun mendatangkan hukuman bagi yang bersalah (lihat 14:18). Yang penting, sang istri menyetujui proses tersebut dengan ucapan ganda "Amin, amin."
Bilangan 5:23–26. Sumpah tersebut diberlakukan saat kata-katanya dihapus ke dalam cairan sebelum diminum. Hal ini menghilangkan mistisisme apa pun yang mungkin timbul; keseluruhan proses tetap merupakan pendekatan berbasis firman. Begitu imam mempersembahkan korban cemburuan, perempuan itu meminum cairan tersebut.
Bilangan 5:27–28. Dampak dari kutukan tersebut agak ambigu, namun kontras dengan kesuburan dalam 5:28 hampir pasti berarti bahwa perempuan yang bersalah tidak dapat mempunyai anak.
Bilangan 5:29–31. Ringkasan ini mengingatkan kita bahwa keseluruhan proses dilakukan di hadapan TUHAN. Kalimat terakhir tampak agak janggal, namun kebebasan dari kesalahan kemungkinan besar merujuk kepada sang suami yang kecemburuannya ternyata beralasan. Dalam kasus-kasus tersebut, kecemburuannya tidak akan dianggap berdosa.
Seluruh bagian ini mengirimkan sinyal penting kepada komunitas mengenai kesucian pernikahan.
Hukum Orang Nazir dan Berkat Imamat Harun (6:1–27)
"TUHAN berfirman kepada Musa:
'Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila seseorang, laki-laki atau perempuan, mengucapkan nazar khusus, yakni nazar orang nazir, untuk mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, maka haruslah ia menjauhkan dirinya dari anggur dan minuman yang memabukkan, jangan meminum cuka anggur atau cuka minuman yang memabukkan dan jangan meminum sesuatu minuman yang dibuat dari buah anggur, dan jangan memakan buah anggur, baik yang segar maupun yang kering. Selama waktu kenazirannya janganlah ia makan sesuatu apapun yang berasal dari pohon anggur, dari bijinya sampai kepada pucuk rantingnya.
Selama waktu nazarnya sebagai orang nazir janganlah pisau cukur lalu di kepalanya; sampai genap waktunya ia mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, haruslah ia tetap kudus dan membiarkan rambutnya tumbuh panjang. Selama waktunya ia mengkhususkan dirinya bagi TUHAN, janganlah ia dekat kepada mayat orang; bahkan apabila mati ayahnya ataupun ibunya, saudaranya laki-laki ataupun saudaranya perempuan, janganlah ia menajiskan dirinya kepada mereka, sebab tanda kenaziran bagi Allahnya ada di atas kepalanya. Selama waktu kenazirannya ia kudus bagi TUHAN.
Tetapi apabila seseorang mati di dekatnya dengan sangat tiba-tiba, sehingga ia menajiskan rambut kenazirannya, maka haruslah ia mencukur rambutnya pada hari pentahirannya, yaitu pada hari yang ketujuh haruslah ia mencukurnya. Pada hari yang kedelapan haruslah ia membawa dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati kepada imam, ke pintu Kemah Pertemuan. Maka haruslah imam mengolah yang seekor menjadi korban penghapus dosa dan yang lain menjadi korban bakaran, dan mengadakan pendamaian bagi dia, oleh karena dia telah berdosa dengan berada dekat mayat. Pada hari itu juga ia harus menguduskan kepalanya dan mengkhususkan waktu kenazirannya bagi TUHAN. Ia harus membawa seekor domba jantan berumur setahun menjadi korban penebus salah. Hari-hari yang sudah lewat dianggap batal, karena rambut kenazirannya telah menjadi najis.
Dan inilah hukum tentang seorang nazir. Apabila waktu kenazirannya genap, ia harus dibawa ke pintu Kemah Pertemuan, dan ia harus mempersembahkan sebagai persembahannya kepada TUHAN seekor domba jantan berumur setahun yang tidak bercela untuk korban bakaran dan seekor domba betina berumur setahun yang tidak bercela untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan yang tidak bercela untuk korban keselamatan, juga sebakul roti yang tidak beragi, yakni roti bundar dari tepung yang terbaik, yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi diolesi dengan minyak, serta dengan korban sajian dan korban-korban curahannya. Lalu haruslah imam membawa semuanya itu ke hadapan TUHAN dan mengolah korban penghapus dosa dan korban bakarannya; domba jantan itu haruslah diolahnya sebagai korban keselamatan bagi TUHAN, beserta sebakul roti yang tidak beragi itu; juga haruslah imam mengolah korban sajian dan korban curahannya.
Maka haruslah orang nazir itu mencukur rambut kenazirannya di depan pintu Kemah Pertemuan, lalu mengambil rambut kenazirannya itu dan melemparkannya ke dalam api yang di bawah korban keselamatan. Imam haruslah mengambil paha depan domba jantan itu, sesudah dimasak, dan satu roti bundar yang tidak beragi dari dalam bakul, dengan satu roti tipis yang tidak beragi, lalu meletakkannya ke atas telapak tangan orang nazir itu, setelah orang ini mencukur rambut kenazirannya; kemudian haruslah imam mengunjukkan semuanya itu ke hadapan TUHAN sebagai persembahan unjukan; semuanya itu menjadi bagian kudus bagi imam, beserta dada persembahan unjukan dan beserta paha persembahan khusus. Sesudah itu barulah boleh orang nazir itu minum anggur.'
Itulah hukum tentang orang nazir yang menazarkan persembahannya kepada TUHAN berdasarkan kenazirannya, belum dihitung apa yang ia mampu mempersembahkan di samping itu. Sesuai dengan bunyi nazar yang diikrarkannya, demikianlah harus dilakukannya berdasarkan hukum tentang kenazirannya.
TUHAN berfirman kepada Musa:
'Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka:
TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.'"
— Bilangan 6:1–27 (TB)
Bagian ini membahas tentang kekudusan dalam pelayanan jangka pendek (berlangsung selama satu tahun). Pengantar yang lazim menghubungkan bagian ini baik dengan perikop sebelumnya maupun perikop sesudahnya. Simson juga disebut sebagai orang nazir (Hak. 13:5–7) dan melayani seumur hidupnya, demikian pula halnya dengan Samuel (1Sam. 1:28, meskipun istilah tersebut tidak digunakan untuk menggambarkan dirinya). Sebaliknya, Simson dan Samuel harus dipandang sebagai pengecualian dari aturan satu tahun, dan bukan mewakili durasi pelayanan yang normal.
Orang nazir adalah pelayan sukarela, baik laki-laki maupun perempuan (6:2, suatu kesetaraan yang luar biasa radikal). Poin keseluruhan dari perikop ini bukanlah untuk menguraikan apa yang mungkin ia lakukan, melainkan pentingnya tetap "kudus bagi TUHAN" (6:8) di sepanjang pelayanan ("selama waktu / hari-harinya", 6:5, 6, 8). Langkah-langkah harus diambil untuk tetap tahir secara seremonial, dan jika terjadi kenajisan yang tidak disengaja, maka jam hitungan satu tahun harus diulang kembali dari awal. Bilangan 6:1–8 mendefinisikan hakikat sumpah tersebut; 6:9–12 menguraikan apa yang terjadi ketika terjadi kontak yang tidak disengaja dengan mayat; 6:13–21 menguraikan akhir dari masa pelayanan.
Bilangan 6:1–8. Tiga cara bagaimana orang nazir yang telah mengucapkan "nazar khusus" (kemungkinan untuk tugas tertentu) harus membawa dirinya diuraikan di sini. Pertama, mereka tidak boleh makan atau minum produk buah anggur apa pun. Hal ini lebih dari sekadar berpantang minuman beralkohol. Buah anggur menandakan kehidupan menetap (lihat, misalnya, 13:23); berpantang dari produk anggur menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan sumpah tersebut melepaskan hak dan miliknya untuk sementara waktu demi membaktikan diri kepada TUHAN.
Kedua, orang nazir tidak boleh mencukur rambutnya. Ketiga, tidak boleh ada kontak dengan mayat (bandingkan 5:2). Signifikansi pelayanan ini sedemikian rupa sehingga hal ini bahkan mengecualikan kematian anggota keluarga dekat sekalipun (6:7). Pelayanan orang nazir menuntut pengorbanan pribadi.
Bilangan 6:9–12. Namun, bagaimana jika orang nazir tanpa sengaja bersentuhan dengan mayat? Situasi seperti ini tidak mustahil dibayangkan di dalam perkemahan yang besar dengan hubungan keluarga yang dekat. Dalam kasus ini, pelayanannya dibatalkan. Ia harus mencukur rambutnya (6:9, bandingkan 6:5) dan mempersembahkan dua korban (burung dalam 6:10 dan seekor anak domba jantan dalam 6:12). Tuntutan korban ini terkesan lebih berat daripada korban yang umumnya dipersembahkan untuk kenajisan, namun hal ini mencerminkan hakikat dari pelayanan orang nazir yang tidak lazim. Jam hitungan untuk peran satu tahunnya diatur ulang dari awal (6:12).
Bilangan 6:13–21. Akhir tahun pelayanan ditandai dengan suatu upacara yang dipimpin di hadapan imam di mana orang nazir tersebut mencukur kepalanya (6:18, bandingkan 6:5) dan meminum anggur (6:20, bandingkan 6:3). Yang paling penting, ia membawa korban penghapus dosa, korban bakaran, korban keselamatan, korban sajian, dan korban curahan—seluruh rangkaian korban yang dibawa oleh orang-orang berdosa ke hadapan Allah. Bahkan setelah masa pelayanan kudus yang diperpanjang, ia datang ke hadapan TUHAN sebagai orang berdosa. Tuntutan ini sesungguhnya adalah batas minimum (6:21). Apa pun hal tambahan yang telah ia setujui untuk lakukan, ia juga harus memenuhinya. Pelayanan seumur hidup dari Simson dan Samuel sangat mungkin berada di bawah ketentuan yang terakhir ini.
Bilangan 6:22–27. Berkat Harun hendaknya tidak dipisahkan dari empat bagian sebelumnya, yang semuanya diawali dengan cara yang sama. Berkat ini harus dipandang sebagai respons TUHAN terhadap kekudusan umat di hadapan-Nya. Meskipun hal ini terkesan agak transaksional, inilah cara berkat beroperasi dalam Hukum Taurat Musa (dan sebaliknya, ketidaktaatan membawa kutuk). Walaupun bangsa ini diselamatkan atas inisiatif anugerah TUHAN (lihat Kel. 20:1–2, tercermin dalam Bil. 1:1), berkat-berkat Perjanjian Lama bergantung pada ketaatan mereka yang berkesinambungan (lihat Kel. 19:5–6 dan Ul. 28:1–14).
Bilangan 6:24–26. Kata-kata yang diucapkan memuat dua gagasan kunci: memberkati dan memelihara/melindungi. Keduanya berasal dari TUHAN sendiri dan diperluas dalam dua kalimat berikutnya. Masing-masing kalimat diawali dengan suatu paralelisme: sedikit sekali perbedaan antara membuat wajah-Nya menyinari dan mengangkat wajah-Nya. Namun masing-masing kalimat juga diakhiri secara berbeda, yang kemungkinan merujuk kembali kepada kata-kata pembuka: "memberi engkau kasih karunia" terhubung paling erat dengan "memberkati," dan "memberi engkau damai sejahtera" terhubung paling erat dengan "melindungi."
Bilangan 6:27. Inti dari berkat ini bukanlah kata-kata yang diucapkan, melainkan apa yang dianugerahkan oleh berkat tersebut—yakni bahwa nama ilahi TUHAN ditaruh atas umat Israel. Kelak di dalam Kitab Bilangan kita akan menemukan dengan tepat apa artinya ini (misalnya, 23:8).
Persembahan Para Pemimpin Suku untuk Pentahbisan Mezbah (7:1–89)
"Pada waktu Musa selesai mendirikan Kemah Suci, diurapinya dan dikuduskannyalah itu dengan segala perabotannya, juga mezbah dengan segala perkakasnya; dan setelah diurapi dan dikuduskannya semuanya itu, maka para pemimpin Israel, para kepala suku mereka, mempersembahkan persembahan. Mereka itu ialah para pemimpin suku yang bertanggung jawab atas pencatatan itu. Sebagai persembahan dibawa mereka ke hadapan TUHAN: enam kereta beratap dengan dua belas ekor lembu; satu kereta untuk dua orang pemimpin dan satu ekor lembu untuk satu orang pemimpin, lalu mereka membawa semuanya itu ke depan Kemah Suci. Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: 'Terimalah semuanya itu dari mereka, supaya dipergunakan untuk pekerjaan pada Kemah Pertemuan; berikanlah semuanya itu kepada orang Lewi, sesuai dengan keperluan pekerjaan masing-masing.' Lalu Musa menerima kereta-kereta dan lembu-lembu itu dan memberikannya kepada orang Lewi; dua kereta dengan empat ekor lembu diberikannya kepada bani Gerson, sesuai dengan keperluan pekerjaan mereka, dan empat kereta dengan delapan ekor lembu diberikannya kepada bani Merari, sesuai dengan keperluan pekerjaan mereka di bawah pimpinan Itamar, anak imam Harun itu. Tetapi kepada bani Kehat tidak diberikannya apa-apa, karena pekerjaan mereka ialah mengurus barang-barang kudus, yang harus diangkat di atas bahunya.
Lagi para pemimpin mempersembahkan persembahan pentahbisan mezbah, pada hari mezbah itu diurapi; para pemimpin membawa persembahan mereka ke depan mezbah itu. TUHAN berfirman kepada Musa: 'Satu pemimpin setiap hari haruslah mempersembahkan persembahannya untuk mentahbiskan mezbah itu.'
Yang mempersembahkan persembahannya pada hari pertama ialah Nahason bin Aminadab, dari suku Yehuda. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan, untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Nahason bin Aminadab.
Pada hari kedua Netaneel bin Zuar, pemimpin suku Isakhar, mempersembahkan persembahan. Sebagai persembahannya dipersembahkannya satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak, tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Netaneel bin Zuar.
Pada hari ketiga: pemimpin bani Zebulon, Eliab bin Helon. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Eliab bin Helon.
Pada hari keempat: pemimpin bani Ruben, Elizur bin Syedeur. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak, tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Elizur bin Syedeur.
Pada hari kelima: pemimpin bani Simeon, Selumiel bin Zurisyadai. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak, tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Selumiel bin Zurisyadai.
Pada hari keenam: pemimpin bani Gad, Elyasaf bin Rehuel. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak, tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Elyasaf bin Rehuel.
Pada hari ketujuh: pemimpin bani Efraim, Elisama bin Amihud. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak, tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Elisama bin Amihud.
Pada hari kedelapan: pemimpin bani Manasye, Gamaliel bin Pedazur. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak, tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Gamaliel bin Pedazur.
Pada hari kesembilan: pemimpin bani Benyamin, Abidan bin Gideoni. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak, tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Abidan bin Gideoni.
Pada hari kesepuluh: pemimpin bani Dan, Ahiezer bin Amisyadai. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak, tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Ahiezer bin Amisyadai.
Pada hari kesebelas: pemimpin bani Asyer, Pagiel bin Okhran. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak, tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Pagiel bin Okhran.
Pada hari kedua belas: pemimpin bani Naftali, Ahira bin Enan. Persembahannya ialah satu pinggan perak, seratus tiga puluh syikal timbangannya, dan satu bokor penyiraman dari perak, tujuh puluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus, keduanya berisi tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, untuk korban sajian; satu cawan, sepuluh syikal emas beratnya, berisi ukupan; seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan seekor domba berumur setahun, untuk korban bakaran; seekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa; dan untuk korban keselamatan dua ekor lembu, lima ekor domba jantan, lima ekor kambing jantan dan lima ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan Ahira bin Enan.
Itulah persembahan pentahbisan mezbah pada hari mezbah itu diurapi, dari pihak para pemimpin Israel, yaitu dua belas pinggan perak, dua belas bokor penyiraman dari perak, dua belas cawan emas. Beratnya tiap-tiap pinggan adalah seratus tiga puluh syikal perak, dan beratnya tiap-tiap bokor penyiraman adalah tujuh puluh syikal; segala perak perkakas-perkakas itu ada dua ribu empat ratus syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus. Selanjutnya dua belas cawan emas berisi ukupan, tiap-tiap cawan sepuluh syikal beratnya, ditimbang menurut syikal kudus; segala emas cawan itu ada seratus dua puluh syikal beratnya. Segala hewan untuk korban bakaran itu ialah dua belas ekor lembu jantan, dua belas ekor domba jantan, dua belas ekor domba berumur setahun, dengan korban sajiannya; juga dua belas ekor kambing jantan untuk korban penghapus dosa. Segala hewan korban keselamatan itu ialah dua puluh empat ekor lembu jantan, enam puluh ekor domba jantan, enam puluh ekor kambing jantan, enam puluh ekor domba berumur setahun. Itulah persembahan pentahbisan mezbah, sesudah mezbah itu diurapi.
Apabila Musa masuk ke dalam Kemah Pertemuan untuk berbicara dengan Dia, maka ia mendengar suara yang berfirman kepadanya dari atas tutup pendamaian, yang di atas tabut hukum Allah, dari antara kedua kerub itu; demikianlah Ia berfirman kepadanya."
— Bilangan 7:1–89 (TB)
Pasal 7 merupakan pasal terpanjang dari tiga puluh enam pasal dalam Kitab Bilangan dan mudah dilewati begitu saja. Beberapa terjemahan Alkitab modern meringkas 7:12–83 karena pengulangan yang terjadi, namun penulis menggunakan pengulangan tersebut untuk menyampaikan suatu poin penting: masing-masing suku—terlepas dari variasi ukurannya—dianggap sama ketika datang ke hadapan TUHAN. Begitu korban-korban pentahbisan dipersembahkan, Musa masuk ke dalam Kemah Pertemuan (di sini jelas merupakan nama lain bagi Kemah Suci, karena tempat ini memuat tabut perjanjian, 7:89). Di sanalah ia berbicara dengan TUHAN (kata kerja ini diulang tiga kali). Segala korban tersebut pada hakikatnya merupakan sarana menuju tujuan yang lebih besar: relasi yang hidup dengan Allah yang berfirman.
Bilangan 7:1. Peristiwa dalam pasal ini berlangsung satu bulan sebelum Kitab Bilangan dimulai (bandingkan penanggalan dalam 1:1). Secara kronologis ketat, bagian ini berkaitan dengan Keluaran 40:17. Namun, penulis menempatkannya di sini sebagai kesimpulan yang wajar bagi bagian-bagian sebelumnya yang menguraikan kekudusan yang diharapkan TUHAN dari umat-Nya. Jika mereka mengejar kekudusan ini, Ia bukan saja akan memberkati mereka (6:24–26), melainkan Ia juga akan berbicara kepada mereka.
Bilangan 7:3–9. Kedua belas suku menyediakan enam kereta di antara mereka (dengan dua suku bergabung bersama untuk menyediakan masing-masing satu kereta) dan dua belas lembu untuk menariknya. Kereta-kereta tersebut kemudian dibagikan kepada kaum-kaum Lewi untuk mengangkut barang-barang yang tidak tergolong maha kudus: dua kereta diberikan kepada kaum Gerson untuk bahan kain kemah; empat kereta diberikan kepada kaum Merari untuk peralatan yang lebih berat seperti tiang-tiang. Tidak ada yang diberikan kepada kaum Kehat, dan narator menjelaskan alasannya dalam 7:9. Tabut dan barang-barang kudus lainnya harus diusung secara pribadi oleh orang Lewi di atas bahu, bukan diangkut dengan kereta (hal ini kelak berpengaruh dalam sejarah perjalanan Tabut Perjanjian—lihat 2 Samuel 6). Setiap suku kemudian mempersembahkan persembahan melalui pemimpin mereka untuk menandai pentahbisan mezbah.
Bilangan 7:12–17. Setiap suku mempersembahkan persembahan yang identik. Bagian-bagian individualnya membentuk "korban sajian," "korban bakaran," "korban penghapus dosa," dan "korban keselamatan" (kadang-kadang disebut korban persekutuan). Korban-korban ini masing-masing diuraikan dalam Imamat 2, 1, 4, dan 3. Kita dapat menyebutnya sebagai seperangkat lengkap korban yang dituntut. Hal ini menunjukkan bahwa, terlepas dari berkat Allah atas kekudusan umat-Nya, relasi apa pun dengan-Nya berdiri sepenuhnya di atas dasar anugerah dan pengampunan. Setiap suku datang kepada-Nya sebagai orang berdosa, dan pendamaian diperlukan sebelum Ia berkenan berbicara.
Bilangan 7:12–83. Urutan suku-suku berbeda dari yang dijumpai dalam Bilangan 1. Kali ini, persembahan korban dilakukan menurut susunan perkemahan—pertama-tama suku-suku di sebelah timur, kemudian selatan, lalu barat, dan akhirnya mereka yang di sebelah utara (lihat Bil. 2). Pembaca hendaknya merasakan dampak dari pengulangan yang hampir kata demi kata ini sehingga menjelang 7:83 kita diyakinkan bahwa setiap suku memiliki bagian yang setara.
Bilangan 7:84–88. Ayat-ayat ini merangkum seluruh persembahan yang dibawa dan kemudian menggambarkannya sebagai satu persembahan tunggal: "persembahan pentahbisan mezbah" (7:88). Bukan saja ada kesetaraan dalam 7:12–83, melainkan juga ada aspek pemersatu dalam upacara pentahbisan ini.
Bilangan 7:89. Musa masuk ke dalam kemah untuk berbicara dengan TUHAN (mengimplikasikan suatu percakapan), namun hasil akhirnya adalah bahwa TUHAN berfirman kepadanya, suatu poin yang ditekankan melalui pengulangan.
Bagaimana seluruh bagian ini diselaraskan dengan Keluaran 40:34–35, yang menceritakan ketidaksanggupan Musa untuk masuk ke dalam kemah pada saat pentahbisannya? Namun di sini dalam Bilangan 7, ia masuk tepat ke tempat maha kudus tempat tabut berada. Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa kemuliaan TUHAN masuk pada saat pendirian kemah, dan masuknya Musa baru dimungkinkan setelah persembahan-persembahan pentahbisan (yang mengadakan pendamaian bagi dosa) dilakukan.
Pemasangan Lampu Kandil dan Pentahbisan Orang Lewi (8:1–26)
"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Berbicaralah kepada Harun dan katakanlah kepadanya: Apabila engkau memasang lampu-lampu itu, haruslah ketujuh lampu itu menerangi yang di sebelah depan kandil.' Demikianlah diperbuat Harun. Di sebelah depan kandil dipasangnyalah lampu-lampunya, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Dan beginilah kandil itu dibuat: dari emas tempaan; kandil itu tempaan, baik kakinya maupun kembangnya; sesuai dengan apa yang telah diperlihatkan TUHAN kepada Musa, demikianlah kandil itu dibuatnya.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Ambillah orang Lewi dari tengah-tengah orang Israel dan tahirkanlah mereka. Beginilah harus kaulakukan kepada mereka untuk mentahirkan mereka: percikkanlah kepada mereka air penghapus dosa, kemudian haruslah mereka mencukur seluruh tubuhnya dan mencuci pakaiannya dan dengan demikian mentahirkan dirinya. Sesudah itu haruslah mereka mengambil seekor lembu jantan muda dengan korban sajiannya dari tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, juga seekor lembu jantan muda yang lain haruslah kauambil untuk korban penghapus dosa. Selanjutnya haruslah kausuruh orang Lewi mendekat ke depan Kemah Pertemuan, dan kaupanggil berkumpul segenap umat Israel. Apabila engkau telah menyuruh orang Lewi mendekat ke hadapan TUHAN, maka haruslah orang Israel meletakkan tangannya atas orang Lewi itu, dan Harun harus mengunjukkan orang Lewi itu sebagai persembahan unjukan dari antara orang Israel di hadapan TUHAN, dan demikianlah mereka diuntukkan melakukan pekerjaan jabatannya bagi TUHAN. Setelah orang Lewi meletakkan tangannya atas kepala lembu-lembu jantan muda itu, maka haruslah yang seekor diolah sebagai korban penghapus dosa dan yang lain sebagai korban bakaran bagi TUHAN untuk mengadakan pendamaian bagi orang Lewi. Maka haruslah engkau menghadapkan orang Lewi kepada Harun dengan anak-anaknya dan mengunjukkan mereka sebagai persembahan unjukan bagi TUHAN. Demikianlah harus engkau mentahirkan mereka dari tengah-tengah orang Israel, supaya orang Lewi itu menjadi kepunyaan-Ku. Barulah sesudah itu orang Lewi boleh masuk untuk melakukan pekerjaan jabatannya pada Kemah Pertemuan, sesudah engkau mentahirkan mereka dan mengunjukkan mereka sebagai persembahan unjukan. Sebab mereka harus diserahkan dengan sepenuhnya kepada-Ku dari tengah-tengah orang Israel; ganti semua yang terdahulu lahir dari kandungan, yakni semua anak sulung yang ada pada orang Israel, telah Kuambil mereka bagi-Ku. Sebab semua anak sulung yang ada pada orang Israel, baik dari manusia maupun dari hewan, adalah kepunyaan-Ku; pada waktu Aku membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, Aku telah menguduskan semuanya bagi-Ku. Maka Aku mengambil orang Lewi ganti semua anak sulung yang ada pada orang Israel, dan Aku menyerahkan orang Lewi dari tengah-tengah orang Israel sebagai pemberian kepada Harun dan anak-anaknya untuk melakukan segala pekerjaan jabatan bagi orang Israel di Kemah Pertemuan, dan untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel, supaya orang Israel jangan kena tulah apabila mereka mendekat ke tempat kudus.'
Lalu Musa, Harun dan segenap umat Israel melakukan yang demikian kepada orang Lewi; tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa mengenai orang Lewi, demikianlah dilakukan orang Israel kepada mereka. Orang Lewi itu menghapus dosa dari dirinya dan mencuci pakaian mereka, kemudian Harun mengunjukkan mereka sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN, dan mengadakan pendamaian bagi mereka sambil mentahirkan mereka. Sesudah itu masuklah orang Lewi untuk melakukan pekerjaan jabatan mereka di Kemah Pertemuan, di bawah pengawasan Harun dan anak-anaknya. Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa mengenai orang Lewi, demikianlah dilakukan kepada mereka.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Inilah yang berlaku bagi orang Lewi: setiap orang yang berumur dua puluh lima tahun ke atas wajib bertugas, supaya ia bekerja pada Kemah Pertemuan, tetapi jika ia berumur lima puluh tahun haruslah ia dibebaskan dari pekerjaan itu, sehingga tak usah ia bekerja lebih lama lagi. Ia boleh membantu saudara-saudaranya di Kemah Pertemuan dalam menjalankan tugas mereka, tetapi tidak usah lagi ia menjabat pekerjaan itu. Demikianlah harus kaulakukan kepada orang Lewi mengenai tugas mereka.'"
— Bilangan 8:1–26 (TB)
Pasal 8 sekilas tampak memiliki sedikit keterkaitan dengan apa yang telah dibahas sebelumnya (pentahbisan Kemah Suci), tetapi seluruh bagian ini sesungguhnya berbicara mengenai pengoperasian Kemah Suci dan orang-orang yang akan melayani di sana. Oleh karena itu, bagian ini mengarah kepada klimaksnya dalam pasal 9—yakni perayaan Paskah kedua.
Bilangan 8:1–4. Pencantuman bagian tentang kandil emas ini merupakan salah satu pertanyaan yang paling membingungkan (kendati tidak terlalu berdampak krusial) dalam Kitab Bilangan. Mengapa di sini? Mengapa sekarang? Jawaban yang paling masuk akal adalah karena kandil tersebut ditempatkan tepat di luar Tempat Kudus di mana Musa berbicara dengan TUHAN, sehingga momentum ini merupakan titik yang paling wajar untuk menyertakan deskripsinya. Pembuatan kandil ini diuraikan secara terperinci dalam Keluaran 25:31–40. Di luar tujuan praktisnya untuk menerangi ruangan (Kel. 25:37), tidak ada penjelasan alkitabiah lain yang diberikan mengenai signifikansinya; oleh karena itu, kita harus berhati-hati agar tidak melekatkan makna simbolis yang berlebihan pada perabot ini.
Bilangan 8:5–13. Pasal sebelumnya telah memaparkan bagaimana setiap suku (di luar suku Lewi) membawa korban penghapus dosanya kepada TUHAN. Pertanyaan yang tersisa adalah: bagaimana orang Lewi (yang sama-sama berdosa) dapat melayani di hadapan TUHAN, khususnya mengingat status mereka yang ditinggikan sebagai pengganti anak-anak sulung (3:40–43)? Di sinilah jawabannya diberikan. Perikop ini menguraikan bagaimana mereka ditahirkan secara ritual (8:7) dengan menggunakan air penghapus dosa (yang tata caranya baru akan dijelaskan kemudian—lihat 19:1–22). Dosa mereka kemudian didamaikan (8:8). Baru setelah itulah mereka dapat dibawa menghadap ke hadapan TUHAN. Dalam suatu upacara yang mengharukan, orang Israel menumpangkan tangan mereka ke atas orang Lewi, yang menandakan adanya substitusi (pergantian perwakilan). Namun, hal ini memunculkan suatu persoalan: orang Lewi yang sebelumnya telah didamaikan dosanya kini menerima penanggungan dosa dari orang Israel. Inilah penjelasan terbaik mengapa korban penghapus dosa harus diulang kembali dalam 8:12 saat orang Lewi sendiri menumpangkan tangan mereka ke atas korban-korban tersebut ("memindahkan" dosa yang telah mereka terima dari kedua belas suku). Dengan ungkapan yang sangat mengesankan, hal ini mengidentifikasikan orang-orang Lewi sebagai persembahan yang hidup (8:13, bandingkan Rm. 12:1).
Bilangan 8:14–19. Bagian yang sekilas tampak sangat berulang-ulang ini sesungguhnya merupakan suatu konstruksi Ibrani yang rumit dengan ayat 8:17 sebagai pusatnya. Dengan kata lain, seluruh upacara yang diwajibkan untuk mengkhususkan orang Lewi bagi pelayanan ini diadakan karena seluruh anak sulung Israel adalah milik kepunyaan TUHAN (lihat 3:40–51 dan Kel. 12:1–28). Meskipun kata "menjaga" tidak diulang dari 3:5–10, gagasan tersebut dinyatakan secara eksplisit dalam 8:19—jika orang Israel mendekat terlalu dekat ke Kemah Suci, mereka akan mendatangkan murka Allah (tulah).
Bilangan 8:20–22. Di sini, Musa merangkum ketaatan semua pihak yang terlibat dengan menggunakan bahasa "diperintahkan" yang diulang dalam 8:20 dan 8:22. Refrain ketaatan yang lazim ini akan sering muncul dalam pasal berikutnya, namun setelah itu akan menghilang dari pandangan narasi.
Bilangan 8:23–26. Ayat-ayat ini mengatur masa pensiun orang Lewi dari pelayanan aktif mereka. Dua elemen dari pekerjaan mereka (menjaga dan bekerja/melayani) kembali diulang dari pasal 3. Di sini tampak ada sedikit ketidaksesuaian mengenai batas usia, karena 4:3 menyebutkan usia awal pelayanan adalah tiga puluh tahun, bukan dua puluh lima tahun seperti dalam 8:24. Para penafsir Ibrani menduga adanya masa magang selama lima tahun, namun penjelasan yang lebih memungkinkan adalah bahwa batasan usia tersebut disesuaikan seiring dengan semakin jelasnya jumlah orang Lewi yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhan tenaga pelayanan yang ada.
Perayaan Paskah Kedua dan Pimpinan Tiang Awan serta Tiang Api (9:1–23)
"TUHAN berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai, pada bulan yang pertama tahun yang kedua sesudah mereka keluar dari tanah Mesir:
'Orang Israel harus merayakan Paskah pada waktunya; pada hari yang keempat belas bulan ini, pada waktu senja, haruslah kamu merayakannya pada waktu yang ditetapkan, menurut segala ketetapan dan peraturannya haruslah kamu merayakannya.'
Lalu Musa menyuruh orang Israel merayakan Paskah. Maka mereka merayakan Paskah pada bulan yang pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu, pada waktu senja, di padang gurun Sinai; tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah dilakukan orang Israel.
Tetapi ada beberapa orang yang najis oleh karena mayat, sehingga tidak dapat merayakan Paskah pada hari itu. Mereka datang menghadap Musa dan Harun pada hari itu juga, lalu berkata kepadanya: 'Sungguhpun kami najis oleh karena mayat, dengan dasar apakah kami dicegah mempersembahkan persembahan bagi TUHAN di tengah-tengah orang Israel pada waktu yang ditetapkan?'
Lalu jawab Musa kepada mereka: 'Tunggulah dahulu, aku hendak mendengar apa yang akan diperintahkan TUHAN mengenai kamu.'
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:
'Katakanlah kepada orang Israel: Apabila salah seorang di antara kamu atau keturunanmu najis oleh karena mayat, atau berada dalam perjalanan jauh, maka ia harus juga merayakan Paskah bagi TUHAN. Pada bulan yang kedua, pada hari yang keempat belas, pada waktu senja, haruslah orang-orang itu merayakannya; beserta roti yang tidak beragi dan sayur pahit haruslah mereka memakannya. Janganlah mereka meninggalkan sebagian dari padanya sampai pagi, dan satu tulangpun tidak boleh dipatahkan mereka. Menurut segala ketetapan Paskah haruslah mereka merayakannya. Sebaliknya orang yang tidak najis, dan tidak dalam perjalanan, tetapi lalai merayakan Paskah, orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya, sebab ia tidak mempersembahkan persembahan yang kepada TUHAN pada waktunya; orang itu akan menanggung akibat dosanya. Apabila seorang asing yang telah menetap padamu hendak merayakan Paskah bagi TUHAN, maka haruslah ia merayakannya menurut segala ketetapan dan peraturan Paskah. Satu ketetapan harus berlaku bagi kamu, baik bagi orang asing maupun bagi orang Israel asli.'
Pada hari didirikan Kemah Suci, maka awan itu menutupi Kemah Suci, kemah hukum Allah; dan pada waktu malam sampai pagi awan itu ada di atas Kemah Suci, kelihatan seperti api. Demikianlah selalu terjadi: awan itu menutupi Kemah, dan pada waktu malam kelihatan seperti api. Dan setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah. Atas titah TUHAN orang Israel berangkat dan atas titah TUHAN juga mereka berkemah; selama awan itu diam di atas Kemah Suci, mereka tetap berkemah.
Apabila awan itu lama tinggal di atas Kemah Suci, maka orang Israel memelihara kewajibannya kepada TUHAN, dan tidaklah mereka berangkat. Ada kalanya awan itu hanya tinggal beberapa hari di atas Kemah Suci; maka atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat. Ada kalanya awan itu tinggal dari petang sampai pagi; ketika awan itu naik pada waktu pagi, merekapun berangkatlah; baik pada waktu siang baik pada waktu malam, apabila awan itu naik, merekapun berangkatlah. Berapa lamapun juga awan itu diam di atas Kemah Suci, baik dua hari, baik sebulan atau lebih lama, maka orang Israel tetap berkemah dan tidak berangkat; tetapi apabila awan itu naik, barulah mereka berangkat. Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa."
— Bilangan 9:1–23 (TB)
Sama seperti pasal sebelumnya, perikop ini terjadi sebelum sensus dalam 1:1 (dalam hal ini, hanya beberapa minggu sebelumnya). Tujuan dari bagian ini adalah menyatukan seluruh bagian mengenai Kemah Suci dengan berfokus pada Paskah, salah satu perayaan terbesar dalam iman Yahudi dan yang paling tepat untuk disoroti saat ini mengingat signifikansinya dalam narasi Kitab Keluaran. Namun, perikop ini tidak sekadar menarasikan peristiwa perayaan tersebut, melainkan juga menambahkan hukum kasus (case law) yang berorientasi ke masa depan pada perayaan Paskah, yang dibangun di atas ketetapan-ketetapan yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Keluaran 12:1–28 dan Imamat 23:4–8.
Bilangan 9:1–5. Narasi sederhana ini menggambarkan perayaan Paskah yang kedua sesuai dengan segala ketetapan dan peraturannya.
Bilangan 9:6–14. Hukum kasus (case law) tambahan diberikan dalam dua kasus perkecualian khusus, yang salah satunya diangkat oleh umat itu sendiri dan yang lainnya diidentifikasikan oleh TUHAN. Kedua kasus tersebut berkaitan dengan orang-orang yang tidak dapat merayakan hari raya Paskah pada waktu yang ditentukan.
Bilangan 9:6–8. Kasus pertama menyangkut kenajisan ritual, suatu permasalahan yang telah diidentifikasi beberapa kali sebelumnya (misalnya dalam 5:1–4). Sudah sepatutnya, orang-orang yang mengajukan pengaduan tersebut tidak ingin dikucilkan dari perayaan Paskah. Musa tidak memiliki jawaban langsung atas persoalan tersebut, sehingga ia membawa perkara itu ke hadapan TUHAN.
Bilangan 9:9–14. Tanggapan TUHAN memperlihatkan bahwa masalah tersebut memang nyata dan perlu ditangani. Terhadap satu kasus ini, Ia menambahkan kasus lainnya: bagaimana jika seseorang berada dalam perjalanan jauh dan dengan demikian sedang jauh dari rumahnya (9:10)? Dalam kedua keadaan tersebut, solusinya sama. Mereka diizinkan untuk merayakan Paskah tepat satu bulan kemudian, yaitu pada bulan kedua. Mereka harus melaksanakannya dengan cara yang sama persis: Bilangan 9:11–12 menyajikan ringkasan yang apik mengenai ketetapan-ketetapan yang berlaku.
Hukum kasus yang kedua ini mulai berorientasi ke masa depan (sebagaimana hukum-hukum lain yang digariskan dalam Kitab Bilangan, misalnya dalam pasal 10). Sangat kecil kemungkinannya ada orang Israel yang sedang mengembara itu melakukan perjalanan jauh hingga mereka tiba dengan selamat di Tanah Perjanjian. Oleh karena itu, kelonggaran penundaan waktu ini pada hakikatnya merupakan cerminan dari janji anugerah Allah bahwa Dia pasti akan membawa mereka masuk ke Kanaan.
Terhadap perkecualian-perkecualian ini, TUHAN menambahkan dua penegasan lagi. Pertama, siapa pun yang sanggup tetapi sengaja memilih untuk tidak merayakan Paskah harus dilenyapkan dari antara bangsanya. Orang tersebut, pada hakikatnya, telah memandang rendah kelepasan dan keselamatan yang telah dikerjakan Allah. Pendekatan ini mencerminkan Paskah yang pertama, di mana mereka yang tidak berpartisipasi tunduk pada hukuman kematian anak sulung (lihat Kel. 12:13).
Kedua, kelonggaran diberikan bagi orang-orang asing untuk ikut serta mengambil bagian. Ini bukanlah undangan terbuka bagi setiap orang tanpa syarat: orang yang tidak bersunat dilarang ikut serta dalam perayaan tersebut, tetapi orang asing yang bertobat dan memeluk iman perjanjian disambut dengan hangat (Kel. 12:48). Kelonggaran ini juga mengantisipasi kehidupan di Tanah Perjanjian, di mana kemungkinan hadirnya orang-orang asing dan penggabungan mereka ke dalam bangsa Israel menjadi jauh lebih besar.
Bilangan 9:15–23. Akhirnya, berbagai pengaturan untuk keberangkatan harus dipersiapkan. Tiang awan dan tiang api terutama berfungsi untuk mengetahui kapan mereka harus berangkat, bukan ke arah mana mereka harus melangkah. Kemah Suci, di atas mana awan atau api itu bertumpu (9:16), berada tepat di tengah-tengah formasi perjalanan perkemahan (2:17). Tidak menjadi soal berapa lama awan dan api itu tinggal di atasnya, baik dalam waktu singkat maupun lama (9:22). Perikop ini sangat penting terutama karena pengulangan frasa (atau variasi dari) "atas titah TUHAN" / "seperti yang diperintahkan TUHAN" (9:18 dua kali, 9:20 dua kali, 9:23 tiga kali). Frasa ini, yang sering digunakan dalam sembilan pasal pertama, setelah ini akan menjadi jauh lebih jarang muncul, yang mencerminkan kemerosotan ketaatan yang setia dari bangsa Israel.
Pembuatan Dua Nafiri Perak dan Keberangkatan dari Padang Gurun Sinai (10:1–36)
"TUHAN berfirman kepada Musa:
'Buatlah dua nafiri dari perak. Dari perak tempaan harus kaubuat itu, supaya dipergunakan untuk memanggil umat Israel dan untuk menyuruh laskar-laskarnya berangkat. Apabila kedua nafiri itu ditiup, segenap umat itu harus berkumpul kepadamu di depan pintu Kemah Pertemuan. Jikalau hanya satu saja ditiup, maka para pemimpin, para kepala pasukan Israel harus berkumpul kepadamu. Apabila kamu meniup tanda semboyan, maka haruslah berangkat laskar-laskar yang berkemah di sebelah timur; apabila kamu meniup tanda semboyan kedua kalinya, maka haruslah berangkat laskar-laskar yang berkemah di sebelah selatan. Jadi tanda semboyan harus ditiup untuk menyuruh mereka berangkat; tetapi untuk menyuruh jemaah itu berkumpul kamu harus meniup saja tanpa memberi tanda semboyan. Nafiri-nafiri itu harus ditiup oleh anak-anak imam Harun; itulah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dan apabila kamu maju berperang di negerimu melawan musuh yang menyesakkan kamu, kamu harus memberi tanda semboyan dengan nafiri, supaya kamu diingat di hadapan TUHAN, Allahmu, dan diselamatkan dari pada musuhmu. Juga pada hari-hari kamu bersukaria, pada perayaan-perayaanmu dan pada bulan-bulan barumu haruslah kamu meniup nafiri itu pada waktu mempersembahkan korban-korban bakaranmu dan korban-korban keselamatanmu; maksudnya supaya kamu diingat di hadapan Allahmu; Akulah TUHAN, Allahmu.'
Pada tahun yang kedua, pada bulan yang kedua, pada tanggal dua puluh bulan itu, naiklah awan itu dari atas Kemah Suci, tempat hukum Allah. Lalu berangkatlah orang Israel dari padang gurun Sinai menurut aturan keberangkatan mereka, kemudian diamlah awan itu di padang gurun Paran. Itulah pertama kali mereka berangkat menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa.
Terdahulu berangkatlah laskar yang di bawah panji-panji bani Yehuda menurut pasukan mereka; yang mengepalai laskar itu ialah Nahason bin Aminadab; yang mengepalai laskar suku bani Isakhar ialah Netaneel bin Zuar; yang mengepalai laskar suku bani Zebulon ialah Eliab bin Helon. Sesudah itu Kemah Suci dibongkar, dan berangkatlah bani Gerson dan bani Merari yang mengangkat Kemah Suci itu.
Kemudian berangkatlah laskar yang di bawah panji-panji Ruben menurut pasukan mereka; yang mengepalai laskar itu ialah Elizur bin Syedeur; yang mengepalai laskar suku bani Simeon ialah Selumiel bin Zurisyadai; yang mengepalai laskar suku bani Gad ialah Elyasaf bin Rehuel. Sesudah itu berangkatlah orang Kehat, yang mengangkat barang-barang tempat kudus; Kemah Suci sudah dipasang sebelum mereka datang.
Kemudian berangkatlah laskar yang di bawah panji-panji bani Efraim menurut pasukan mereka; yang mengepalai laskar itu ialah Elisama bin Amihud; yang mengepalai laskar suku bani Manasye ialah Gamaliel bin Pedazur; yang mengepalai laskar suku bani Benyamin ialah Abidan bin Gideoni.
Sebagai barisan penutup semua laskar itu berangkatlah laskar yang di bawah panji-panji bani Dan menurut pasukan mereka; yang mengepalai laskar itu ialah Ahiezer bin Amisyadai; yang mengepalai laskar suku bani Asyer ialah Pagiel bin Okhran; yang mengepalai laskar suku bani Naftali ialah Ahira bin Enan. Itulah aturan keberangkatan orang Israel menurut pasukan mereka, ketika mereka berangkat.
Lalu berkatalah Musa kepada Hobab anak Rehuel orang Midian, mertua Musa: 'Kami berangkat ke tempat yang dimaksud TUHAN ketika Ia berfirman: Aku akan memberikannya kepadamu. Sebab itu ikutlah bersama-sama dengan kami, maka kami akan berbuat baik kepadamu, sebab TUHAN telah menjanjikan yang baik tentang Israel.' Tetapi jawabnya kepada Musa: 'Aku tidak ikut, melainkan aku hendak pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku.' Kata Musa: 'Janganlah kiranya tinggalkan kami, sebab engkaulah yang tahu, bagaimana kami berkemah di padang gurun, maka engkau dapat menjadi penunjuk jalan bagi kami. Jika engkau ikut bersama-sama dengan kami, maka kebaikan yang akan dilakukan TUHAN kepada kami akan kami lakukan juga kepadamu.'
Lalu berangkatlah mereka dari gunung TUHAN dan berjalan tiga hari perjalanan jauhnya, sedang tabut perjanjian TUHAN berangkat di depan mereka dan berjalan tiga hari perjalanan jauhnya untuk mencari tempat perhentian bagi mereka. Dan awan TUHAN ada di atas mereka pada siang hari, apabila mereka berangkat dari tempat perkemahan.
Apabila tabut itu berangkat, berkatalah Musa: 'Bangkitlah, TUHAN, supaya musuh-Mu berserak dan orang-orang yang membenci Engkau melarikan diri dari hadapan-Mu.' Dan apabila tabut itu berhenti, berkatalah ia: 'Kembalilah, TUHAN, kepada umat Israel yang beribu-ribu laksa ini.'"
— Bilangan 10:1–36 (TB)
Bagian ini terbagi dengan rapi menjadi dua: beberapa peraturan mengenai nafiri yang harus dibuat dan digunakan oleh Musa (10:1–10) dan kemudian deskripsi mengenai keberangkatan pertama (10:11–36). Kedua bagian ini tidak terpisah satu sama lain karena nafiri-nafiri tersebut digunakan—setidaknya sebagian—untuk membuat keberangkatan berjalan lancar (10:5–6). Sama seperti pasal 9, hukum-hukum yang diberikan oleh TUHAN mengantisipasi kehidupan di Tanah Perjanjian (10:8–10).
Bilangan 10:1–2. Dua ayat pertama dari pasal ini menjelaskan pembuatan kedua nafiri perak tersebut, meskipun kita diberitahu sangat sedikit mengenai bentuk atau rancangannya. Fokus teks ini terutama tertuju pada dua kegunaan utamanya: memanggil jemaah berkumpul dan membongkar perkemahan untuk berangkat.
Bilangan 10:3–4. Dua jenis tiupan yang berbeda (dengan menggunakan satu atau kedua nafiri) berfungsi untuk memanggil para pemimpin/kepala suku atau segenap umat. Mengingat jumlah umat yang sangat besar, solusi semacam ini sangat praktis sekaligus mutlak diperlukan.
Bilangan 10:5–6. Tiupan tanda semboyan (alarm—nada tiupan yang berbeda) memiliki arti lain. Pada tiupan tanda semboyan yang pertama, laskar-laskar di perkemahan sebelah timur harus berangkat. Pada tiupan tanda semboyan yang kedua, perkemahan sebelah selatan menyusul. Tidak ada penyebutan mengenai bagian barat atau utara perkemahan. Hal ini dikarenakan suku-suku timur dan selatan berjalan di depan Kemah Suci (lihat pasal 2). Suku-suku barat dan utara mengikuti di belakang dan mereka dapat mengambil aba-aba dari pergerakan tiang awan atau tiang api (9:15–17).
Bilangan 10:7. Sebagai penjelas, tiupan tanda semboyan (untuk keberangkatan) bukanlah bunyi tiupan yang sama dengan tiupan biasa (untuk berkumpul). Kesalahan dalam membedakan keduanya akan menimbulkan kebingungan yang besar.
Bilangan 10:8–10. Kita mendapati bahwa nafiri-nafiri tersebut juga memiliki tujuan-tujuan lain—secara umum semuanya itu harus menjadi ketetapan yang kekal (hukum yang berlaku untuk selama-lamanya). Nafiri-nafiri tersebut harus digunakan untuk memanggil umat berperang ketika mereka telah berada di negeri tersebut (sebagai pengingat akan kesetiaan Allah kepada umat-Nya dalam membawa mereka tiba di sana). Kita telah mempelajari bahwa nafiri digunakan pada Hari Pendamaian (Im. 25:9); kini kita mendapati bahwa nafiri juga digunakan secara lebih umum pada hari-hari raya dan momen-momen penting lainnya (10:10).
Namun, dalam pengertian apa nafiri-nafiri itu berfungsi sebagai "pengingat" bagi umat di hadapan TUHAN (10:10 mengulang gagasan dalam 10:9)? Mengapa Allah perlu diingatkan tentang apa pun? Tentu saja, Dia tidak pernah lupa. Ini mungkin merupakan cara untuk mengekspresikan komitmen yang mutlak kepada Allah. Mengatakan "Inilah aku TUHAN, jangan lupakan aku" (seperti yang diungkapkan dalam beberapa mazmur, mis. Mzm. 119:49) bukanlah menyatakan bahwa Allah itu pelupa, melainkan merupakan cara kita mengungkapkan kebergantungan total kita kepada-Nya.
Bilangan 10:11–28. Begitu Paskah selesai dirayakan (pada hari kedua puluh), semua orang telah bersiap untuk berangkat. Ini adalah tahap perjalanan pertama yang dicatat dalam Kitab Bilangan, meskipun tentu saja mereka telah melakukan perjalanan sebelumnya (lihat catatan harian perjalanan dalam pasal 33). Perjalanan ini membawa mereka dari Sinai menuju padang gurun Paran (10:12), yang kemungkinan besar merupakan wilayah umum yang mencakup Tabera (11:2), Kibrot-Taawa (11:34), dan Hazerot (11:35).
Bilangan 10:14–16. Keberangkatan perkemahan sebelah timur dipaparkan.
Bilangan 10:17–21. Keberangkatan perkemahan sebelah selatan dipaparkan.
Bilangan 10:22–24. Keberangkatan perkemahan sebelah barat dipaparkan.
Bilangan 10:25–28. Keberangkatan perkemahan sebelah utara dipaparkan, dengan informasi tambahan bahwa ketiga suku Dan, Asyer, dan Naftali bertindak sebagai "barisan penutup" (rear guard).
Bilangan 10:29–32. Ayat-ayat ini menguraikan perjumpaan singkat antara Musa dan seorang pria bernama Hobab, yang diidentifikasi sebagai saudara ipar Musa, anak Rehuel. Hobab ingin kembali ke negerinya sendiri, tetapi Musa berusaha membujuknya agar menyertai orang Israel, suatu upaya yang tampaknya berhasil jika membaca terus hingga Hakim-hakim 1:16. Rehuel tampaknya merupakan nama lain dari Yitro—keduanya diidentifikasi dalam Kitab Keluaran sebagai mertua Musa (Kel. 2:18; 18:1). Namun, Hakim-hakim 4:11 mengidentifikasi Hobab juga sebagai mertua Musa (meskipun beberapa versi terjemahan modern mengubah "ayah mertua" menjadi "ipar"). Bagaimana hal ini dapat direkonsiliasi? Kata Ibrani yang di sini diterjemahkan sebagai "mertua" kemungkinan besar memiliki definisi yang lebih luas daripada yang kita lihat dalam beberapa kali kemunculannya di Kitab Suci.
Bilangan 10:33–34. Urutan barisan perjalanan di sini tampaknya ditata ulang (sebelumnya tabut berada di tengah-tengah kolom barisan). Hal ini mungkin hanyalah ungkapan lepas untuk menyatakan bahwa mereka mengikuti pimpinan TUHAN, bukan menulis ulang aturan-aturan dalam pasal 2.
Bilangan 10:35–36. Narasi Sinai yang bermula di Keluaran 19 kini berakhir. Sang narator mengidentifikasikan dua nyanyian pendek yang dinyanyikan oleh Musa, yang satu ketika perkemahan dibongkar dan umat itu berangkat (10:35 bandingkan Mzm. 68:2), dan yang lainnya ketika perkemahan didirikan kembali. Keduanya menangkap bahasa dari ayat 33—bahwa apa pun urutan fisik dari barisan perjalanan tersebut, TUHAN sendirilah yang memimpin umat-Nya dari depan (lihat juga Bil. 31:6 untuk melihat makna praktis dari hal ini).
Bagian Dua: Mati di Padang Gurun (11:1–25:18)
Sungut-Sungut Umat di Tabera, Pemberian Burung Puyuh, dan Pengangkatan 70 Tua-Tua (11:1–35)
"Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu. Sebab itu orang menamai tempat itu Tabera, karena telah menyala api TUHAN di antara mereka.
Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: 'Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.'
Adapun manna itu seperti ketumbar dan kelihatannya seperti damar bedolah. Bangsa itu berlari kian ke mari untuk memungutnya, lalu menggilingnya dengan batu kilangan atau menumbuknya dalam lumpang. Mereka memasaknya dalam periuk dan membuatnya menjadi roti bundar; rasanya seperti rasa panganan yang digoreng. Dan apabila embun turun di tempat perkemahan pada waktu malam, maka turunlah juga manna di situ.
Ketika Musa mendengar bangsa itu, yaitu orang-orang dari setiap kaum, menangis di depan pintu kemahnya, bangkitlah murka TUHAN dengan sangat, dan hal itu dipandang jahat oleh Musa. Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: 'Mengapa Kauperlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku: Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu, berjalan ke tanah yang Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangnya? Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata: Berilah kami daging untuk dimakan. Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku. Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu, supaya aku tidak harus melihat celakaku.'
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Kumpulkanlah di hadapan-Ku dari antara para tua-tua Israel tujuh puluh orang, yang kauketahui menjadi tua-tua bangsa dan pengatur pasukannya, kemudian bawalah mereka ke Kemah Pertemuan, supaya mereka berdiri di sana bersama-sama dengan engkau. Maka Aku akan turun dan berbicara dengan engkau di sana, lalu sebagian dari Roh yang hinggap padamu itu akan Kuambil dan Kutaruh atas mereka, maka mereka bersama-sama dengan engkau akan memikul tanggung jawab atas bangsa itu, jadi tidak usah lagi engkau seorang diri memikulnya. Tetapi kepada bangsa itu haruslah kaukatakan: Kuduskanlah dirimu untuk besok, maka kamu akan makan daging; sebab kamu telah menangis di hadapan TUHAN dengan berkata: Siapakah yang akan memberi kami makan daging? Begitu baik keadaan kita di Mesir, bukan? --TUHAN akan memberi kamu daging untuk dimakan. Bukan hanya satu hari kamu akan memakannya, bukan dua hari, bukan lima hari, bukan sepuluh hari, bukan dua puluh hari, tetapi genap sebulan lamanya, sampai keluar dari dalam hidungmu dan sampai kamu muak--karena kamu telah menolak TUHAN yang ada di tengah-tengah kamu dan menangis di hadapan-Nya dengan berkata: Untuk apakah kita keluar dari Mesir?'
Tetapi kata Musa: 'Bangsa yang ada bersama aku ini berjumlah enam ratus ribu orang berjalan kaki, namun Engkau berfirman: Daging akan Kuberikan kepada mereka, dan genap sebulan lamanya mereka akan memakannya! Dapatkah sekian banyak kambing domba dan lembu sapi disembelih bagi mereka, sehingga mereka mendapat cukup? Atau dapatkah ditangkap segala ikan di laut bagi mereka, sehingga mereka mendapat cukup?'
Tetapi TUHAN menjawab Musa: 'Masakan kuasa TUHAN akan kurang untuk melakukan itu? Sekarang engkau akan melihat apakah firman-Ku terjadi kepadamu atau tidak!'
Setelah Musa datang ke luar, disampaikannya firman TUHAN itu kepada bangsa itu. Ia mengumpulkan tujuh puluh orang dari para tua-tua bangsa itu dan menyuruh mereka berdiri di sekeliling kemah. Lalu turunlah TUHAN dalam awan dan berbicara kepada Musa, kemudian diambil-Nya sebagian dari Roh yang hinggap padanya, dan ditaruh-Nya atas ketujuh puluh tua-tua itu; ketika Roh itu hinggap pada mereka, kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi sesudah itu tidak lagi.
Masih ada dua orang tinggal di tempat perkemahan; yang seorang bernama Eldad, yang lain bernama Medad. Ketika Roh itu hinggap pada mereka--mereka itu termasuk orang-orang yang dicatat, tetapi tidak turut pergi ke kemah--maka kepenuhanlah mereka seperti nabi di tempat perkemahan. Lalu berlarilah seorang muda memberitahukan kepada Musa: 'Eldad dan Medad kepenuhan seperti nabi di tempat perkemahan.' Maka menjawablah Yosua bin Nun, yang sejak mudanya menjadi abdi Musa: 'Tuanku Musa, cegahlah mereka!' Tetapi Musa berkata kepadanya: 'Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!' Kemudian kembalilah Musa ke tempat perkemahan, dia dan para tua-tua Israel.
Lalu bertiuplah angin yang dari TUHAN asalnya; dibawanyalah burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas tempat perkemahan dan di sekelilingnya, kira-kira sehari perjalanan jauhnya ke segala penjuru, dan kira-kira dua hasta tingginya dari atas muka bumi. Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu--setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer--,kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling tempat perkemahan. Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar. Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus.
Dari Kibrot-Taawa berangkatlah bangsa itu ke Hazerot dan mereka tinggal di situ."
— Bilangan 11:1–35 (TB)
Pasal 11 menandai paruh kedua dari bagian pertama (lihat pengantar untuk pembahasan mengenai struktur kitab). Bagian ini memuat dua belas pemberontakan (kemungkinan sebuah angka yang signifikan), yang berpuncak pada penyembahan ilah-ilah asing (Bil. 25). Bagian-bagian hukum diselingi di antara narasi-narasi pemberontakan tersebut; setiap kali hukum diberikan, ketetapan tersebut selalu memiliki keterkaitan dengan pemberontakan yang baru saja terjadi. Menjelang akhir bagian ini, terdapat kisah Bileam yang luar biasa: tampaknya tepat ketika orang Israel jatuh ke dalam dosa yang paling kelam dan melanggar perintah pertama untuk pertama kalinya, TUHAN justru menegaskan kembali komitmen-Nya kepada umat-Nya (Bil. 22–24).
Bilangan 11 dan 12 saling berkaitan erat karena sungut-sungut dalam pasal 11 (oleh umat, Musa, dan secara singkat, Yosua) menular kepada Harun dan Miryam. Sungut-sungut mereka (Bil. 12) tidak boleh dipisahkan dari apa yang terjadi di pasal 11. Keterkaitan ini memperlihatkan kepada kita betapa menularnya perselisihan dan ketidakpuasan itu sebenarnya.
Bilangan 11:1–3. Perikop ini paling tepat dipahami sebagai pola dasar bagi setiap pemberontakan yang akan terjadi kemudian. Teks ini menyajikan sedikit sekali rincian detail, dan lokasi tempat tersebut (Tabera) tidak diketahui secara pasti. Bahkan, peristiwa ini mungkin bukanlah pemberontakan pertama dalam urutan kronologis yang ketat, namun siklus peristiwanya akan menjadi sangat berulang dan akrab. Siklus ini diawali dengan (a) sungut-sungut dan keluhan. Kemudian (b) TUHAN mendengar dan merespons (c) dengan murka serta penghakiman. Umat itu (d) berteriak berseru kepada Musa dan Musa menjadi pengantara yang berdoa syafaat bagi mereka (e). Kemudian TUHAN berbelaskasihan dan meredakan murka-Nya (f). Sebagian besar dari kedua belas pemberontakan memperlihatkan keenam tahapan ini. Kadang-kadang satu atau dua tahapan terlewatkan. Namun, hati yang condong memberontak dari generasi pertama ini terlihat sangat nyata, sebagaimana juga respons TUHAN yang menyatakan penghakiman sekaligus kemurahan rahmat-Nya.
Bilangan 11:4–35. Bagian ini menguraikan pemberontakan yang kedua dan ketiga. Pemberontakan kedua adalah sungut-sungut bangsa itu yang dimulai pada 11:4. Masalah ini tidak sepenuhnya terselesaikan hingga akhir pasal ini. Isu yang tampak di permukaan adalah makanan. Bercampur dengan persoalan ini adalah sungut-sungut dari Musa dan, secara singkat (11:28), Yosua juga. Di sini isu yang tampak di permukaan adalah kepemimpinan. Pasal ini bergerak bolak-balik di antara kedua narasi yang saling terhubung ini secara berkesinambungan.
Dalam Kitab Bilangan, penghakiman Allah hampir selalu berbentuk penyerahan manusia kepada apa yang mereka inginkan dan nafsuhi (giving people up to what they desire)—sebuah karakteristik penting yang perlu selalu diingat. Bagi bangsa Israel, hal ini terwujud dalam penyediaan burung puyuh (yang sesungguhnya merupakan bentuk penghakiman ketimbang sekadar pemeliharaan, lihat 11:20). Bagi Musa, hal ini terwujud dalam pengalihan sebagian otoritas kepemimpinannya kepada orang lain (11:25, lihat catatan di bawah). Pola ini terus berlanjut di sepanjang kitab ini dan ditegaskan secara eksplisit dalam Mazmur 106:14–15 serta diangkat kembali dalam Roma 1:24.
Bilangan 11:4–6. Hawa nafsu keserakahan dari segelintir orang ("orang-orang bajingan / segerombolan orang asing") merembet dan menular ke segenap bangsa Israel. Sebagian penafsir memandang "segerombolan orang" ini sebagai unsur asing dari bangsa-bangsa lain yang ikut keluar dari Mesir (lihat Kel. 12:38), namun hal ini mungkin merupakan penafsiran yang agak berlebihan terhadap konteksnya. Keluhan itu bermula dari mereka, dan segera menyebar ke seluruh bangsa. Cara pandang mereka terhadap makanan di Mesir tampak begitu dibesar-besarkan dan diidealisasi. Bahkan sekiranya makanan mereka di Mesir mencakup semua yang digambarkan dalam 11:5 (suatu hal yang kecil kemungkinannya), makanan tersebut tentu tidak diperoleh secara "cuma-cuma / tanpa bayar apa-apa" karena saat itu mereka adalah budak tertindas. Ini bukanlah kali terakhir mereka menoleh ke belakang dengan kerinduan yang keliru dan menyimpang (lihat mis. 14:1–4). Penolakan terhadap manna dalam 11:6 merupakan hal yang sangat serius karena manna adalah pemberian anugerah dari Allah sendiri (lihat Kel. 16:4, 31).
Bilangan 11:7–9. Hakikat manna sebagai anugerah pemberian Allah dipertegas kembali oleh sang narator dengan mengingatkan pembaca (bagi siapa pun yang mungkin telah melupakannya) mengenai rasa, tekstur, rupa, dan cara pengolahannya.
Bilangan 11:10–15. Ketika Musa mendengar keluhan umat dan melihat murka Allah yang adil dan kudus, respons pertamanya adalah mengasihani diri sendiri (self-pity). Ia tidak dapat memahami mengapa beban berat kepemimpinan harus ditimpakan ke atas pundaknya. Sama seperti orang Israel yang telah melupakan kenyataan hidup perbudakan di Mesir, Musa tampaknya juga melupakan momen-momen penyataan yang luar biasa seperti dalam Keluaran 34:1–9. Secara khusus, keluhannya adalah bahwa ia tidak sanggup menyediakan daging bagi seluruh umat tersebut, dengan melupakan (seperti yang dilakukan oleh umat itu) bahwa TUHAN sendirilah yang telah menyediakan manna—sebuah prinsip yang kelak akan diingatkan kembali oleh TUHAN kepadanya (lihat catatan di bawah mengenai 11:23). Keluhan mengenai makanan menghilang sejenak dari sorotan saat TUHAN terlebih dahulu berurusan dengan Musa. Sikap mengasihani diri sendiri dari Musa terlihat sangat nyata dalam 11:15: ia lebih memilih mati daripada harus memandang dirinya sendiri sebagai seorang pemimpin yang gagal. Dalam hal ini, Musa tentu saja telah sepenuhnya kehilangan fokus pada pokok yang terutama: TUHANlah Pribadi yang menyediakan segala sesuatu dan memimpin, bukan Musa.
Bilangan 11:16–17. Krisis kepemimpinan Musa diselesaikan dengan ketetapan penghakiman sekaligus pemeliharaan (keduanya tidak dapat dipisahkan). Musa diperintahkan untuk mengumpulkan 70 orang tua-tua dan membawa mereka ke Kemah Pertemuan (tidak jelas apakah mereka adalah orang-orang yang sama dengan yang ditetapkan dalam Keluaran 18 atau ke-70 orang dalam Keluaran 24). Namun demikian, TUHAN tidak secara langsung mencurahkan Roh-Nya yang baru ke atas mereka. Sebaliknya, Ia mengambil sebagian dari Roh yang ada pada Musa dan membagikannya kepada mereka. Kita diarahkan untuk melihat hal ini sebagai bentuk penyerahan Musa kepada keinginannya sendiri (11:14).
Bilangan 11:18–20. Sekarang giliran bangsa Israel yang mendengar mengenai penghakiman sekaligus pemenuhan permintaan mereka. Dalam kasus ini, mereka akan diberikan daging yang sangat mereka dambakan dan nafsuhi; namun hal itu akan diberikan dalam jumlah berlimpah-limpah yang meluap hingga membebani mereka, dan pada akhirnya (11:33) mendatangkan kematian bagi banyak orang dari antara mereka. Dalam 11:20, penolakan terhadap pemeliharaan dan pemberian TUHAN dipandang secara jelas setara dengan penolakan terhadap TUHAN itu sendiri.
Bilangan 11:21–22. Musa masih belum sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi. Ia memandang peran dirinya sendiri secara terlalu tinggi, yang tercermin dalam caranya mengulang kembali frasa "yang ada bersama aku" (bahasa Inggris: among whom I am) yang digunakan oleh TUHAN pada ayat sebelumnya. Allah telah berfirman bahwa "Aku ada di tengah-tengah kamu", dan kini Musa mengungkapkan hal serupa mengenai dirinya. Ia berpikir bahwa penyediaan makanan bagi jutaan orang adalah tanggung jawab pribadinya; sama seperti umat itu, ia juga telah melupakan mukjizat pemeliharaan manna dari Allah.
Bilangan 11:23. Respons TUHAN membungkam keraguan tersebut secara telak. Ada kemungkinan bahwa kata "sekarang" pada kalimat kedua berkaitan dengan kalimat pertama: jika demikian, Allah sedang mengingatkan Musa akan segala karya perkasa yang telah Ia lakukan sebelumnya (tulah-tulah di Mesir, penyeberangan Laut Teberau, air dari gunung batu, manna, dan seterusnya) sebelum menanyakan kepadanya apakah kuasa Allah kini telah berkurang atau berubah. Tentu saja, tidak ada yang berubah dari kuasa dan kesetiaan Allah yang mahakuasa.
Bilangan 11:24–25. Sebagai suatu hal yang patut dipuji dari Musa, ia kini tunduk menerima ketetapan tersebut dan segera melaksanakan perintah TUHAN. Peristiwa kepenuhan seperti nabi (prophesying) menjadi tanda lahiriah yang meneguhkan bahwa Roh Allah memang telah hinggap atas para pemimpin tersebut.
Bilangan 11:26–30. Dua orang dari ketujuh puluh tua-tua itu tidak pergi berkumpul di sekeliling Kemah melainkan tetap tinggal di perkemahan. TUHAN tidak murka kepada mereka (karena Roh itu tetap hinggap atas mereka), sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa mereka memiliki alasan yang sah untuk tidak hadir di sana. Namun demikian, Yosua merasa geram dan, jika penilaian Musa benar, ia merasa cemburu demi membela kehormatan Musa; Yosua memperlihatkan sikap yang persis sama dengan yang ditunjukkan Musa dalam 11:10–14. Sungut-sungut dan ketidakpuasan kini telah menular kepada Yosua juga.
Bilangan 11:31–35. Kesudahan dari kisah ini dipaparkan. TUHAN benar-benar menyediakan daging yang telah dijanjikan-Nya; burung-burung puyuh berjatuhan dan ditangkap (dengan cara yang persis sama seperti penangkapan burung puyuh di Timur Tengah hingga hari ini). Daging itu menjadi sesuatu yang "memuakkan" bagi mereka (11:20) karena pemberian burung puyuh tersebut disertai dengan tulah yang dahsyat. Kita hanya mengetahui sedikit rincian mengenai bentuk penghakiman ini. Rasul Paulus menyebutnya sebagai karya sang "Pemusnah" (1Kor. 10:10). Apa pun bentuknya, Paulus tentu sangat tepat dalam menarik pelajaran rohani mendasar yang harus dipetik: "janganlah bersungut-sungut."
Pemberontakan Miryam dan Harun terhadap Musa serta Doa Syafaat Musa (12:1–16)
"Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. Kata mereka: 'Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?' Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.
Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.
Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: 'Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.' Maka keluarlah mereka bertiga. Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. Lalu berfirmanlah Ia: 'Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?' Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia.
Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta! Lalu kata Harun kepada Musa: 'Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya.' Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: 'Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.'
Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali.' Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali.
Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran."
— Bilangan 12:1–16 (TB)
Sungut-sungut kini menular kepada saudara-saudara kandung Musa: Miryam dan Harun.
Bilangan 12:1–2. Inti dari keluhan mereka adalah bahwa TUHAN juga telah berfirman melalui perantaraan mereka (suatu hal yang tidak diragukan lagi kebenarannya, lihat Kel. 4:14–16; 15:20–21). Namun, hal itu tidaklah sama dengan kepemimpinan. Agaknya tidak seorang pun dari keduanya termasuk di antara ketujuh puluh tua-tua dalam Bilangan 11:24, dan kemungkinan besar rasa frustrasi atas kepemimpinan—dan bukan tuduhan mengenai istri Musa—merupakan motif di balik keluhan mereka. Musa sebelumnya digambarkan telah menikahi seorang perempuan Midian (lihat Kel. 2:11–22), tetapi "Kush" dapat merujuk pada istilah geografis yang luas, sehingga pengaduan mereka mungkin benar secara faktual. Akan tetapi, pernikahan tersebut telah berlangsung sekitar 40 tahun sebelumnya, sehingga tampaknya agak terlambat untuk mengajukan keberatan pada saat ini. Persoalan mengenai istri Musa kemungkinan besar merupakan upaya untuk membungkus amarah pribadi mereka dengan alasan-alasan religius.
Bilangan 12:3. Kedudukan Musa yang unik diperkenalkan dengan merujuk pada karakternya. Klausa ini agaknya disisipkan oleh orang lain di kemudian hari karena akan terdengar kontradiktif jika Musa menuliskannya mengenai dirinya sendiri.
Bilangan 12:4–9. Ayat-ayat ini menggambarkan dengan bahasa yang hidup mengenai penampakan TUHAN untuk menyelesaikan perselisihan terbaru ini. Ia membedakan antara karya seorang nabi (12:6) dan Musa. Bahasa kenabian digunakan di tempat lain untuk menggambarkan Harun (Kel. 7:1) maupun Miryam (Kel. 15:20). Hanya karena TUHAN telah berfirman melalui mereka, tidak seharusnya mereka berpikir bahwa kedudukan mereka setara dengan Musa. Komunikasi TUHAN dengan Musa bersifat langsung dan bukan tidak langsung, dan seharusnya mereka takut untuk bersungut-sungut menentang dia. Tiga frasa: "berhadap-hadapan" (secara harfiah: mulut ke mulut), "terus terang, bukan dengan teka-teki", dan "ia memandang rupa TUHAN" tidak boleh dipahami sebagai pertemuan fisik, sebab hal tersebut tidaklah mungkin (Kel. 33:20). Sebaliknya, secara bersama-sama frasa-frasa tersebut sekadar menunjukkan hubungan yang unik dan begitu dekat yang dimiliki TUHAN dengan Musa yang "setia dalam segenap rumah-Nya" (lihat Ibr. 3:1–5 mengenai bagaimana relasi ini menjadi bayang-bayang dan menunjuk kepada Kristus).
Bilangan 12:10–16. Penghakiman kini menimpa Miryam dalam bentuk penyakit kusta. Hal ini menuntut dirinya untuk dikucilkan ke luar tempat perkemahan (lihat Bil. 5:2), tempat ia akan berada jauh dari Kemah Suci tempat TUHAN berfirman. Dalam sebuah pembalikan keadaan yang memperlihatkan bahwa mereka telah memetik pelajaran, Harun memohon kepada Musa, yang kemudian memohon kepada TUHAN, sehingga hukuman tersebut diringankan. Harun menyadari bahwa hubungannya dengan TUHAN berbeda dari hubungan saudaranya dengan TUHAN.
Mengapa Harun tidak turut ditimpa tulah? Kemungkinan karena ia bukanlah pemrakarsa utama dari keluhan tersebut (perhatikan bagaimana nama Miryam disebut pertama kali dalam 12:1). Selain itu, umat Israel tidak dapat menjalankan ibadah tanpa adanya seorang imam besar yang melayani mereka di mezbah, sehingga TUHAN mungkin menyatakan kemurahan anugerah-Nya dengan tidak membiarkan segenap bangsa Israel menderita akibat dosa Harun.
Pengutusan Dua Belas Pengintai ke Tanah Kanaan dan Laporan Ketakutan Umat (13:1–33)
"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Suruhlah beberapa orang mengintai tanah Kanaan, yang akan Kuberikan kepada orang Israel; dari setiap suku nenek moyang mereka haruslah kausuruh seorang, semuanya pemimpin-pemimpin di antara mereka.'
Lalu Musa menyuruh mereka dari padang gurun Paran, sesuai dengan titah TUHAN; semua orang itu adalah kepala-kepala di antara orang Israel. Dan inilah nama-nama mereka: Dari suku Ruben: Syamua bin Zakur; dari suku Simeon: Safat bin Hori; dari suku Yehuda: Kaleb bin Yefune; dari suku Isakhar: Yigal bin Yusuf; dari suku Efraim: Hosea bin Nun; dari suku Benyamin: Palti bin Rafu; dari suku Zebulon: Gadiel bin Sodi; dari suku Yusuf, yakni dari suku Manasye: Gadi bin Susi; dari suku Dan: Amiel bin Gemali; dari suku Asyer: Setur bin Mikhael; dari suku Naftali: Nahbi bin Wofsi; dari suku Gad: Guel bin Makhi. Itulah nama orang-orang yang disuruh Musa untuk mengintai negeri itu; dan Musa menamai Hosea bin Nun itu Yosua.
Maka Musa menyuruh mereka untuk mengintai tanah Kanaan, katanya kepada mereka: 'Pergilah dari sini ke Tanah Negeb dan naiklah ke pegunungan, dan amat-amatilah bagaimana keadaan negeri itu, apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak; dan bagaimana negeri yang didiaminya, apakah baik atau buruk, bagaimana kota-kota yang didiaminya, apakah mereka diam di tempat-tempat yang terbuka atau di tempat-tempat yang berkubu, dan bagaimana tanah itu, apakah gemuk atau kurus, apakah ada di sana pohon-pohonan atau tidak. Tabahkanlah hatimu dan bawalah sedikit dari hasil negeri itu.' Waktu itu ialah musim hulu hasil anggur.
Mereka pergi ke sana, lalu mengintai negeri itu mulai dari padang gurun Zin sampai ke Rehob, ke jalan yang menuju ke Hamat. Mereka berjalan melalui Tanah Negeb, lalu sampai ke Hebron; di sana ada Ahiman, Sesai dan Talmai, keturunan Enak. Hebron didirikan tujuh tahun lebih dahulu dari Soan di Mesir. Ketika mereka sampai ke lembah Eskol, dipotong merekalah di sana suatu cabang dengan setandan buah anggurnya, lalu berdualah mereka menggandarnya; juga mereka membawa beberapa buah delima dan buah ara. Tempat itu dinamai orang lembah Eskol, karena tandan buah anggur yang dipotong orang Israel di sana.
Sesudah lewat empat puluh hari pulanglah mereka dari pengintaian negeri itu, dan langsung datang kepada Musa, Harun dan segenap umat Israel di Kadesh, di padang gurun Paran. Mereka membawa pulang kabar kepada keduanya dan kepada segenap umat itu dan memperlihatkan kepada sekaliannya hasil negeri itu. Mereka menceritakan kepadanya: 'Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan.'
Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: 'Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!'
Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: 'Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.'
Juga mereka menyampaikan kepada orang Israel kabar busuk tentang negeri yang diintai mereka, dengan berkata: 'Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.'"
— Bilangan 13:1–33 (TB)
Secara menakjubkan, bangsa Israel kini telah berada begitu dekat dengan Tanah Perjanjian. Dua pasal berikutnya akan menceritakan kepada kita mengapa tidak seorang pun dari generasi ini (kecuali Kaleb dan Yosua) yang berhasil masuk ke sana. Kisah ini cukup terkenal dan diajarkan kepada orang-orang percaya sejak usia dini. Namun, ada beberapa liku dan dinamika cerita yang tidak selalu tercantum dalam versi Alkitab anak-anak.
Bilangan 13:1–16. Ini adalah bagian yang lugas yang mencatat nama-nama orang yang diutus ke negeri itu. Perhatikan bagaimana perwakilan dari kedua belas suku diutus ke Tanah Perjanjian (hal ini kelak menjadi signifikan dalam Bilangan 32). Yang terpenting, kita diingatkan kembali bahwa TUHANlah Pribadi yang memberikan tanah itu (13:2). Kosakata mengenai pemberian (gift), kepemilikan (possession), dan milik pusaka (inheritance) hampir selalu menyertai bahasa tentang tanah atau negeri di dalam Kitab Bilangan. Hal ini kelak menjadi sangat penting bahkan di dalam kisah ini (14:39–45), sebab mereka tidak mungkin dapat memasuki negeri itu tanpa pertolongan Pribadi yang memberikannya kepada mereka. Yosua (yang diubah namanya dari Hosea) dan Kaleb termasuk di antara kedua belas orang tersebut.
Bilangan 13:17–20. Musa memiliki pertanyaan-pertanyaan nyata yang perlu mereka selidiki—ia sendiri belum pernah berada di negeri itu. Terdapat tujuh pertanyaan penyelidikan yang termuat dalam ayat-ayat ini (seperti apa negeri itu, apakah penduduknya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak, apakah tanahnya baik atau buruk untuk bercocok tanam, apakah kota-kotanya berkubu, apakah tanahnya subur atau gersang, dan apakah terdapat pepohonan di sana). Dengan kata lain: seberapa mudahkah untuk sampai ke sana, dan bagaimana rasanya hidup di sana? Saat itu adalah musim panen, sehingga sangatlah masuk akal untuk membawa pulang sebagian dari hasil buah-buahan negeri itu (13:20).
Bilangan 13:21–24. Para pengintai melakukan apa yang diminta dan membawa pulang setandan buah anggur yang sangat besar (digandar oleh dua orang pada sebatang kayu, sehingga pastilah ukurannya sangat besar). Negeri itu sungguh-sungguh merupakan tanah yang berkelimpahan, berlimpah dengan susu dan madu (Kel. 3:8). Sejauh ini, semuanya berjalan dengan baik.
Bilangan 13:25–29. Sangat mudah untuk membaca terlalu jauh ke dalam laporan awal ini karena kita telah mengetahui akhir dari kisahnya. Namun, laporan awal dari para pengintai ini sesungguhnya bisa jadi sekadar bersifat faktual. Bangsa itu memang kelak terbukti kuat, dan hanya Kaleb yang sanggup mengemban tugas untuk mengalahkan keturunan Enak (lihat Hak. 1:20). Akan tetapi, kekuatan pihak musuh bukanlah persoalan selama ini (mereka telah mengalahkan bangsa Mesir maupun orang Amalek, lihat Kel. 17:8–16). Tugas tersebut seharusnya bukanlah hal yang mustahil dengan pertolongan TUHAN.
Bilangan 13:30–33. Namun demikian, umat itu merespons dengan buruk. Kaleb berupaya menenteramkan orang banyak tersebut, tetapi intervensinya tampaknya justru memperparah keluhan mereka. Pada titik ini, para pengintai lainnya berpihak kepada orang banyak ketimbang mendukung rekan mereka sesama pengintai, Kaleb. Hingga saat itu, laporan mereka masih bersifat faktual, tetapi kini mereka mulai menafsirkannya secara negatif. Ditambah lagi dengan dosa berdusta karena sejauh ini tidak ada bukti bahwa negeri itu "memakan" penduduknya. Ini adalah distorsi penafsiran yang bercampur dengan misinformasi demi memengaruhi dan mengambil hati orang banyak.
Hanya dalam rentang beberapa menit, suasana telah berubah menjadi mencekam dan penuh kepanikan, dan situasi ini akan semakin memburuk dalam pasal 14.
Pemberontakan Umat di Kadesh, Doa Syafaat Musa, dan Hukuman Pengembaraan 40 Tahun (14:1–45)
"Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu. Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: 'Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?' Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: 'Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir.'
Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ. Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya, dan berkata kepada segenap umat Israel: 'Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.'
Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka.'
Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: 'Jikalau hal itu kedengaran kepada orang Mesir, padahal Engkau telah menuntun bangsa ini dengan kekuatan-Mu dari tengah-tengah mereka, mereka akan berceritera kepada penduduk negeri ini, yang telah mendengar bahwa Engkau, TUHAN, ada di tengah-tengah bangsa ini, dan bahwa Engkau, TUHAN, menampakkan diri-Mu kepada mereka dengan berhadapan muka, waktu awan-Mu berdiri di atas mereka dan waktu Engkau berjalan mendahului mereka di dalam tiang awan pada waktu siang dan di dalam tiang api pada waktu malam. Jadi jikalau Engkau membunuh bangsa ini sampai habis, maka bangsa-bangsa yang mendengar kabar tentang Engkau itu nanti berkata: Oleh karena TUHAN tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada mereka, maka Ia menyembelih mereka di padang gurun. Jadi sekarang, biarlah kiranya kekuatan TUHAN itu nyata kebesarannya, seperti yang Kaufirmankan: TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat. Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari.'
Berfirmanlah TUHAN: 'Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu. Hanya, demi Aku yang hidup dan kemuliaan TUHAN memenuhi seluruh bumi: Semua orang yang telah melihat kemuliaan-Ku dan tanda-tanda mujizat yang Kuperbuat di Mesir dan di padang gurun, namun telah sepuluh kali mencobai Aku dan tidak mau mendengarkan suara-Ku, pastilah tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka! Semua yang menista Aku ini tidak akan melihatnya. Tetapi hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya. Orang Amalek dan orang Kanaan diam di lembah. Sebab itu berpalinglah besok dan berangkatlah ke padang gurun, ke arah Laut Teberau.'
Lagi berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: 'Berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut kepada-Ku? Segala sesuatu yang disungut-sungutkan orang Israel kepada-Ku telah Kudengar. Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu. Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku. Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun! Tentang anak-anakmu yang telah kamu katakan: Mereka akan menjadi tawanan, merekalah yang akan Kubawa masuk, supaya mereka mengenal negeri yang telah kamu hinakan itu. Tetapi mengenai kamu, bangkai-bangkaimu akan berhantaran di padang gurun ini, dan anak-anakmu akan mengembara sebagai penggembala di padang gurun empat puluh tahun lamanya dan akan menanggung akibat ketidaksetiaan, sampai bangkai-bangkaimu habis di padang gurun. Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kamu tahu rasanya, jika Aku berbalik dari padamu: Aku, TUHAN, yang berkata demikian. Sesungguhnya Aku akan melakukan semuanya itu kepada segenap umat yang jahat ini yang telah bersepakat melawan Aku. Di padang gurun ini mereka akan habis dan di sinilah mereka akan mati.'
Adapun orang-orang yang telah disuruh Musa untuk mengintai negeri itu, yang sudah pulang dan menyebabkan segenap umat itu bersungut-sungut kepada Musa dengan menyampaikan kabar busuk tentang negeri itu, orang-orang itu mati, kena tulah di hadapan TUHAN. Tetapi yang tinggal hidup dari orang-orang yang telah pergi mengintai negeri itu hanyalah Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune.
Setelah Musa menyampaikan perkataan ini kepada semua orang Israel, maka berkabunglah bangsa itu dengan sangat. Dan keesokan harinya bangunlah mereka pagi-pagi hendak naik ke puncak gunung sambil berkata: 'Sekarang kita hendak maju ke negeri yang difirmankan TUHAN itu; memang kita telah berbuat dosa.'
Tetapi kata Musa: 'Mengapakah kamu hendak melanggar titah TUHAN? Hal itu tidak akan berhasil. Janganlah maju, sebab TUHAN tidak ada di tengah-tengahmu, supaya jangan kamu dikalahkan oleh musuhmu, sebab orang Amalek dan orang Kanaan ada di sana di depanmu dan kamu akan tewas oleh pedang; dari sebab kamu berbalik membelakangi TUHAN, maka TUHAN tidak akan menyertai kamu.'
Meskipun demikian, mereka nekat naik ke puncak gunung itu, tetapi tabut perjanjian TUHAN dan Musa juga tidaklah meninggalkan tempat perkemahan. Lalu turunlah orang Amalek dan orang Kanaan yang mendiami pegunungan itu dan menyerang mereka; kemudian orang-orang itu mencerai-beraikan mereka sampai ke Horma.'"
— Bilangan 14:1–45 (TB)
Bilangan 14:1–4. Pengaruh dari laporan yang telah diputarbalikkan tersebut bersifat menyeluruh. Tiga kali dalam Bilangan 14:1–2 sang narator menekankan bagaimana seluruh bangsa berada di bawah pengaruh kepanikan dan histeria itu. Mereka berharap andai saja mereka mati di Mesir—atau bahkan di padang gurun ini. Sebagaimana peristiwa sebelumnya, mereka seharusnya berhati-hati dengan apa yang mereka inginkan, sebab penghakiman TUHAN justru akan menyerahkan mereka kepada keinginan mereka sendiri, dan nasib mereka kelak terbukti tepat seperti apa yang mereka ucapkan (14:28–31). Secara ironis, mereka mengaku mengkhawatirkan anak-anak kecil mereka (14:3), padahal justru anak-anak inilah yang nantinya akan mewarisi Tanah Perjanjian (14:31 dan Bilangan 26 dan seterusnya). Keinginan puncak mereka adalah kembali ke Mesir: bukankah lebih baik pulang ke sana (14:3)? Tentu saja tidak! Dan mereka jelas tidak memetik pelajaran apa pun dari penolakan Miryam dan Harun terhadap kepemimpinan Musa sebelumnya.
Bilangan 14:5–10. Kuartet yang terdiri dari Musa, Harun, Yosua, dan Kaleb merespons dengan cara yang sama—yaitu dengan memohon kepada bangsa Israel agar tidak bersikap sedemikian bebal. Ini adalah pertama kalinya Yosua disebutkan berpihak kepada TUHAN dalam peristiwa ini—dalam pasal 13 fokus narasi hanya tertuju kepada Kaleb, yang kemungkinan besar menjadi alasan mengapa Kaleb sendiri yang secara khusus dipuji oleh TUHAN dalam 14:24. Penilaian mereka berempat mengenai situasi tersebut sepenuhnya tepat—penduduk negeri itu mungkin sangat perkasa, tetapi kekuatan mereka sama sekali tidak ada artinya dibandingkan dengan hadirat TUHAN. Namun, umat itu tidak terbujuk: bahkan suku asal Yosua dan Kaleb sendiri (Efraim dan Yehuda) tidak dapat diyakinkan. Mereka bahkan bersiap-siap untuk membunuh orang-orang yang setia ini. Namun, dalam suatu momen yang mempersiapkan kita pada peristiwa yang sangat penting dan genting, TUHAN menampakkan diri-Nya kepada seluruh jemaah (bandingkan dengan 12:4–5).
Bilangan 14:11–12. Menjadi sangat jelas bahwa akar dosa bangsa itu adalah ketidakpercayaan (unbelief). Mereka "menista" TUHAN dan tidak mau "percaya" kepada-Nya terlepas dari segala mujizat yang telah terjadi selama dan sejak peristiwa Keluaran. Oleh karena itu, Ia menyatakan bahwa Ia akan memusnahkan mereka semua dan memulai kembali sejarah umat-Nya melalui Musa. Awal baru semacam ini tidak akan membatalkan perjanjian Abrahamik, sebab Musa sendiri adalah keturunan Abraham melalui Lewi, anak Yakub. Kita tidak diberitahu apa dampak dari ancaman ini bagi Yosua atau Kaleb, tetapi jelaslah bahwa ancaman pemusnahan tersebut sangat nyata dan serius.
Bilangan 14:13–19. Bagian selanjutnya mencatat salah satu momen paling luar biasa di seluruh Alkitab, ketika Musa menjadi perantara dan bersyafaat demi bangsa yang memberontak tersebut. Sifat permohonan Musa memiliki dua landasan utama. Pertama, dalam 14:13–16 ia memohon demi reputasi dan kehormatan nama TUHAN, khususnya di mata orang Mesir. Musuh-musuh Allah telah mendengar perkara-perkara besar tentang Dia, namun jika Ia memusnahkan umat-Nya sendiri, mereka akan menyimpulkan bahwa TUHAN tidak berkuasa menepati apa yang telah Ia janjikan dengan bersumpah. Kedua, dalam 14:17–19 ia memohon berdasarkan karakter dan sifat TUHAN sendiri, sebagaimana TUHAN telah menyatakannya kepada Musa (Kel. 34:6–7).
Paruh kedua dari permohonan syafaat Musa memunculkan sebuah pertanyaan teologis yang amat mendasar: Bagaimana mungkin TUHAN secara bersamaan menjadi Pribadi yang mengampuni kesalahan, namun pada saat yang sama sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman? Bagaimana ketegangan antara keadilan (justice) dan belas kasihan (mercy) Allah ini didamaikan? Jawabannya sebagian terikat dalam hubungan perjanjian yang dimiliki TUHAN dengan bangsa itu. Ia tidak memusnahkan seluruh bangsa tersebut—dalam pengertian ini mereka diampuni (lihat bagian berikutnya) dan generasi baru akan melangkah lebih baik. Namun demikian, tetap ada hukuman yang harus ditanggung; setiap orang yang memberontak harus mati di padang gurun.
Meskipun demikian, penjelasan ini pun belum sepenuhnya menuntaskan ketegangan tersebut, dan kita harus mengakui bahwa hingga kedatangan Yesus Kristus serta bertemunya murka dan belas kasihan Allah di atas kayu salib, ketegangan antara keduanya akan senantiasa ada (kita melihat pola serupa muncul dalam kehidupan Daud dan penanganannya pasca-dosa bersama Batsyeba, lihat 2Sam. 11–12).
Bilangan 14:20–25. Ayat-ayat ini memuat jawaban TUHAN atas permohonan syafaat Musa, yaitu menyatakan belas kasihan. Ia memang mengampuni mereka (14:20), namun tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi rencana-Nya agar seluruh bumi dipenuhi oleh kemuliaan-Nya (14:21), terlebih lagi oleh bangsa Israel yang memberontak. Oleh sebab itu, tidak seorang pun dari generasi ini yang akan masuk ke negeri itu selain Kaleb (Yosua tidak disebutkan secara eksplisit di sini namun dicantumkan dalam 14:30, lihat catatan pada 14:5–10).
Apakah telah terjadi 10 kali pemberontakan hingga saat ini (14:22)? Meskipun beberapa penafsir Yahudi mempercayai demikian, jumlah tersebut hanya bisa diperoleh dengan menerapkan perhitungan yang dipaksakan (fuzzy math) terhadap Keluaran 16. Kemungkinan besar, angka tersebut merupakan ungkapan idiomatik yang sekaligus menggemakan Sepuluh Firman (Ten Commandments) serta pelanggaran hukum yang telah diperlihatkan oleh bangsa Israel.
Bilangan 14:26–35. Apa yang kita temukan di sini lebih dari sekadar penambahan terhadap apa yang telah difirmankan sebelumnya. Bagian ini dimulai dengan formula firman yang baku, yang menandainya sebagai ketetapan penghakiman yang matang dan pasti terhadap orang Israel. Bilangan 14:28 mengulangi motif penyerahan kepada keinginan mereka sendiri—setiap orang akan tewas di padang gurun. Terlebih lagi, oleh karena ketidaksetiaan dan ketidakpercayaan mereka (14:33), mereka harus mengembara di padang gurun selama satu tahun untuk setiap satu hari pengintaian tanah tersebut—total 40 tahun lamanya. Dengan cara inilah mereka akan merasakan apa artinya berbalik dari TUHAN dan menanggung akibat kesalahan mereka. Pengumuman ketetapan ini ditegaskan dengan pernyataan yang sangat kuat: "Aku, TUHAN, yang berkata demikian." Tidak ada keraguan bahwa ketetapan ini pasti akan terlaksana (suatu hal penting untuk diperhatikan, mengingat apa yang segera terjadi sesudahnya).
Bagian ini merupakan salah satu nas kunci yang membantu kita memahami struktur menyeluruh dari Kitab Bilangan. TUHAN memandang umat-Nya dalam Kitab Bilangan bukan sekadar sebagai kelompok yang berada di lokasi geografis tertentu, melainkan berdasarkan apakah mereka termasuk dalam generasi sensus pertama (14:29) atau anak-anak dari generasi tersebut (14:31). Tidak ada keterangan di sini maupun di tempat lain mengenai apakah suku Lewi tercakup dalam penghakiman ini. Namun, berdasarkan gambaran sungut-sungut dalam 14:1–4, tampaknya sangat mungkin bahwa mereka pun terkena dampaknya secara serupa.
Bilangan 14:36–38. Satu bagian terakhir dari penghakiman TUHAN masih harus digenapi. Kesepuluh pengintai lainnya yang menolak untuk berdiri teguh bersama Kaleb dan Yosua mati seketika terkena tulah di hadapan TUHAN—tulah yang sama dengan yang sebelumnya hendak dipakai TUHAN untuk melenyapkan segenap bangsa itu (14:12) seandainya Musa tidak bersyafaat.
Bilangan 14:39–45. Namun demikian, ini bukanlah akhir dari kisah tersebut. Bangsa itu memang meratapi dosa mereka secara benar, tetapi dengan segera mereka jatuh ke dalam dosa kelancangan (presumption, 14:44). Mereka beranggapan bahwa mereka dapat memperbaiki keadaan dengan tetap nekat merangsek masuk ke Tanah Perjanjian atas kekuatan sendiri. Mereka menolak untuk mendengarkan firman TUHAN yang sudah pasti (14:35) dan menolak menerima hajaran serta disiplin-Nya. Musa berusaha mencegah mereka—namun gagal (14:41–42)—karena memahami betul konsekuensi mematikan dari apa yang mereka rencanakan. Baik tabut perjanjian TUHAN maupun Musa tidak menyertai langkah ceroboh itu, dan bangsa itu dipukul kalah secara telak. Sebagai klimaks yang tragis, pertempuran pertama yang dicatat dalam Kitab Bilangan sekaligus upaya pertama memasuki Tanah Perjanjian berakhir dengan malapetaka kehancuran.
Peraturan Korban Tambahan di Tanah Perjanjian, Dosa yang Disengaja, dan Jumbai Pakaian Kudus (15:1–41)
"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu menjadi tempat kediamanmu, dan kamu hendak mempersembahkan korban api-apian bagi TUHAN, dari lembu sapi atau kambing domba, baik korban bakaran atau korban sembelihan, baik untuk membayar suatu nazar khusus, atau sebagai persembahan sukarela atau pada waktu perayaan-perayaanmu, dan dengan demikian menyediakan bau yang menyenangkan bagi TUHAN, maka orang yang mempersembahkan persembahannya itu kepada TUHAN, haruslah mempersembahkan sebagai korban sajian sepersepuluh efa tepung yang terbaik, diolah dengan seperempat hin minyak. Dan beserta korban bakaran atau korban sembelihan itu engkau harus juga mempersembahkan seperempat hin anggur sebagai korban curahan, untuk setiap ekor domba yang dipersembahkan. Tetapi jikalau persembahanmu itu seekor domba jantan, engkau harus mempersembahkan sebagai korban sajian dua persepuluh efa tepung yang terbaik, diolah dengan sepertiga hin minyak, dan sebagai korban curahan haruslah kaupersembahkan sepertiga hin anggur, menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN. Dan apabila engkau mengolah seekor lembu, sebagai korban bakaran atau sebagai korban sembelihan, baik untuk membayar suatu nazar khusus maupun sebagai korban keselamatan bagi TUHAN, maka beserta lembu itu haruslah dipersembahkan sebagai korban sajian tiga persepuluh efa tepung yang terbaik, diolah dengan setengah hin minyak, dan sebagai korban curahan haruslah kaupersembahkan setengah hin anggur. Itulah korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN. Demikianlah harus diperbuat untuk setiap ekor lembu dan untuk setiap ekor domba jantan dan untuk setiap ekor domba atau kambing. Berapapun jumlah hewan yang kamu olah, untuk setiap hewan itu harus kamu perbuat demikian juga. Setiap orang Israel asli haruslah berbuat demikian, apabila ia mempersembahkan korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN. Dan apabila seorang asing telah menetap padamu, atau seorang lain yang tinggal di antara kamu atau di antara keturunanmu kelak, hendak mempersembahkan korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN, maka seperti yang kamu perbuat, demikianlah harus diperbuatnya. Mengenai jemaah itu, haruslah ada satu ketetapan bagi kamu dan bagi orang asing yang tinggal padamu; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu turun-temurun: kamu dan orang asing haruslah sama di hadapan TUHAN. Satu hukum dan satu peraturan berlaku bagi kamu dan bagi orang asing yang tinggal padamu.'
Lagi berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu masuk ke negeri, ke mana kamu akan Kubawa, maka apabila kamu makan roti hasil negeri itu haruslah kamu mempersembahkan persembahan khusus bagi TUHAN. Tepung jelaimu yang mula-mula haruslah kamu persembahkan sebagai persembahan khusus berupa roti bundar; sama seperti persembahan khusus dari hasil tempat pengirikanmu, demikianlah harus kamu mempersembahkannya. Dari tepung jelaimu yang mula-mula haruslah kamu menyerahkan persembahan khusus kepada TUHAN, turun-temurun.'
'Apabila kamu dengan tidak sengaja melalaikan salah satu dari segala perintah ini, yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa, yakni dari segala yang diperintahkan TUHAN kepadamu dengan perantaraan Musa, mulai dari hari TUHAN memberikan perintah-perintah-Nya dan seterusnya turun-temurun, dan apabila hal itu diperbuat di luar pengetahuan umat ini, tidak dengan sengaja, maka haruslah segenap umat mengolah seekor lembu jantan muda sebagai korban bakaran menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN, serta dengan korban sajiannya dan korban curahannya, sesuai dengan peraturan; juga seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa. Maka haruslah imam mengadakan pendamaian bagi segenap umat Israel, sehingga mereka beroleh pengampunan, sebab hal itu terjadi tidak dengan sengaja, dan karena mereka telah membawa persembahan-persembahan mereka sebagai korban api-apian bagi TUHAN, juga korban penghapus dosa mereka di hadapan TUHAN, karena hal yang tidak disengaja itu. Segenap umat Israel akan beroleh pengampunan, juga orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, karena hal itu dilakukan oleh seluruh bangsa itu dengan tidak sengaja. Apabila satu orang saja berbuat dosa dengan tidak sengaja, maka haruslah ia mempersembahkan kambing betina berumur setahun sebagai korban penghapus dosa; dan imam haruslah mengadakan pendamaian di hadapan TUHAN bagi orang yang dengan tidak sengaja berbuat dosa itu, sehingga orang itu beroleh pengampunan karena telah diadakan pendamaian baginya. Baik bagi orang Israel asli maupun bagi orang asing yang tinggal di tengah-tengah kamu, satu hukum saja berlaku bagi mereka berkenaan dengan orang yang berbuat dosa dengan tidak sengaja. Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya.'
Ketika orang Israel ada di padang gurun, didapati merekalah seorang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat. Lalu orang-orang yang mendapati dia sedang mengumpulkan kayu api itu, menghadapkan dia kepada Musa dan Harun dan segenap umat itu. Orang itu dimasukkan dalam tahanan, oleh karena belum ditentukan apa yang harus dilakukan kepadanya. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Orang itu pastilah dihukum mati; segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.' Lalu segenap umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga ia mati, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN. Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu. Akulah TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya Aku menjadi Allah bagimu; Akulah TUHAN, Allahmu.'"
— Bilangan 15:1–41 (TB)
Pasal 15 merupakan bagian hukum pertama sejak narasi perjalanan dan pemberontakan dimulai (11:1). Bagian ini tampaknya menambahkan perincian pada bagian-bagian persembahan korban seperti Imamat 2 serta beberapa hukum baru. Namun, mengapa bagian ini muncul sekarang? Fungsi berbagai hukum di sini harus dipahami sebagai penegasan kembali atas janji-janji perjanjian yang telah dibuat oleh TUHAN. Jadi, ada anugerah (Ia tetap berfirman, terlepas dari segala sesuatu yang baru saja terjadi), janji-Nya untuk masuk ke negeri itu tetap teguh, Ia terus membuka jalan pendekatan (access) melalui sistem persembahan korban, dan Ia terus menunjukkan kemurahan hati dalam hal bagaimana orang asing dapat bergabung (15:14–16). Kendati demikian, Ia tidak berkompromi terhadap dosa—sebagaimana diperlihatkan oleh ketetapan-ketetapan hukum dalam 15:22–36.
Bilangan 15:1–10. Bagian ini menguraikan korban sajian (food offerings) dan korban bakaran (burnt offerings) yang harus dipersembahkan begitu bangsa itu telah memasuki negeri tersebut. Korban-korban ini adalah korban dari suatu bangsa yang telah menetap dan bercocok tanam (menghasilkan panen gandum dan anggur, 15:3). Persembahan rutin ini bukan dipersembahkan untuk dosa-dosa tertentu, melainkan korban yang diperlukan guna memelihara relasi persekutuan yang berkesinambungan dengan TUHAN. Nuansa menyeluruhnya adalah persembahan korban yang dibawa dari kelimpahan hasil tanah. Para pengintai sebelumnya telah melaporkan bahwa negeri itu memakan penduduknya (13:32); sebaliknya, TUHAN menyatakan bahwa negeri itu akan melimpahkan hasil bagi mereka. Siapakah yang layak dipercayai? Persembahan-persembahan ini menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN (suatu frasa yang diulang tiga kali di sini, 15:3, 7, 10, lalu ditegaskan kembali dalam 15:13, 14).
Bilangan 15:11–16. Ketetapan yang sama ini harus diperluas dan diberlakukan pula bagi pendatang (sojourner, yang melintas) atau orang non-Israel yang telah menetap secara permanen di negeri itu. Dalam kedua kasus tersebut, diasumsikan bahwa mereka telah memeluk agama dan iman Israel. Begitu mereka melakukannya, hukum Taurat tidak lagi membedakan antara orang percaya pribumi (native-born) dan orang percaya yang berasal dari luar Israel (foreign-born believer, 15:15–16). Sejak semula, senantiasa terbuka kemungkinan untuk menjadi bagian dari umat Allah tanpa harus dilahirkan secara jasmani di dalamnya.
Bilangan 15:17–21. Suatu persembahan baru diperkenalkan, yakni persembahan adonan roti (dough offering). Persembahan ini merupakan sejenis hulu hasil atau buah sulung (firstfruits, lih. Im. 23:17, 20), meskipun bersifat persembahan rutin yang berkelanjutan dan bukan sekadar persembahan musiman pada hari raya. Persembahan ini hanya dapat dilakukan begitu umat telah tinggal dan menetap di Tanah Perjanjian.
Bilangan 15:22–31. Bagian ini membahas dua kategori dosa: dosa yang tidak disengaja (unintentional) dan dosa yang dilakukan dengan "tangan teracung" atau dengan sengaja menentang Allah (with a "high hand"). Kedua kategori ini ditinjau secara korporat/komunal (15:22–26) dan kemudian secara individual (15:27–31). Bagian berikutnya (15:32–36) paling tepat dipahami sebagai contoh konkret dari dosa yang dilakukan seseorang dengan sengaja menentang Allah secara lancang. Kategori-kategori ini menuntut pendefinisian yang cermat: ini bukan, misalnya, sekadar perbedaan antara dosa yang diperbuat secara tidak sengaja (accidentally) versus dosa yang diperbuat secara sadar (knowingly). Sebab seluruh dosa pada tingkat tertentu selalu memuat unsur kesadaran dan kehendak. Kategori ini juga tidak sedang menggambarkan apa yang kita pahami sebagai perbedaan antara pembunuhan berencana (murder) dan pembunuhan tanpa sengaja (manslaughter—hukum Taurat membahas hal ini di tempat lain, lih. Bil. 35:9–34). Perbedaan antara kedua kategori tersebut harus dipahami berdasarkan apakah dosa itu bersifat menentang Allah secara terang-terangan (defiant) atau tidak.[^5] Dalam pengertian inilah, dosa yang diperbuat dengan "tangan teracung" (sengaja menentang Allah) paling mirip dengan dosa yang tidak dapat diampuni (lih. Mrk. 3:22–30).
Bilangan 15:22–26. Pada tingkat korporat, pendamaian atas dosa dapat diadakan melalui sistem persembahan korban. Segenap jemaah akan beroleh pengampunan (termasuk orang asing yang menetap di sana, bandingkan 15:15–16). Ditinjau dari segi tata cara prosedural semata, perikop ini menambahkan sedikit perincian dari pasal-pasal pembuka Kitab Imamat. Namun demikian, perikop singkat ini dibingkai dalam kerangka relasi jemaah terhadap dosa yang telah dilakukan tersebut.
Bilangan 15:27–31. Di sini teks bergerak dari hal yang umum ke hal yang khusus (dari segenap jemaah kepada perorangan). Konsep berbuat dosa dengan "tangan teracung" (yakni secara sengaja menentang Allah) mulai diperkenalkan. Hal ini tidak disebutkan dalam bagian sebelumnya karena lebih sulit bagi seluruh bangsa untuk berbuat dosa dengan penentangan terang-terangan semacam itu (meskipun agaknya inilah yang sesungguhnya terjadi dalam pasal-pasal sebelumnya). Sebagaimana sebelumnya, dosa yang dilakukan tanpa sengaja diselesaikan melalui sistem persembahan korban. Sekarang kita belajar bahwa dosa penentangan yang "menista TUHAN" tidak dapat didamaikan melalui korban apa pun. Ini melampaui sekadar mengetahui apa yang sedang Anda lakukan saat berbuat dosa; ini adalah tindakan berdosa dalam pembangkangan mutlak terhadap TUHAN dan terhadap segala hakikat Pribadi serta karya yang telah Ia perbuat. Orang semacam itu harus dilenyapkan (cut off) dari tengah-tengah bangsanya.
Bilangan 15:32–36. Seperti apakah wujud nyata dari dosa penentangan yang sengaja tersebut? Sebagai contoh, seorang pelanggar hari Sabat mengetahui dengan pasti apa yang dituntut oleh firman keempat dalam Sepuluh Firman, namun ia sengaja memilih untuk mengabaikannya. Terlebih lagi, menyalakan api pada hari Sabat (Kel. 35:3) merupakan bentuk penentangan yang sangat terbuka di hadapan umum; kepulan asapnya tentu akan terlihat oleh banyak orang. Ia digiring ke luar perkemahan (menggenapi ketetapan dalam 15:30) dan dihukum mati.
Bilangan 15:37–41. Bagian ini ditutup dengan sesuatu yang menarik dan tampak tidak lazim. Apa signifikansi dari jumbai-jumbai pada pakaian? Jawabannya ditemukan dalam 15:39. Jumbai-jumbai tersebut berfungsi sebagai pengingat, bagaikan rambu lalu lintas yang senantiasa mengulang batas kecepatan. Setiap kali orang Israel melihat jumbai-jumbai itu, mereka akan diingatkan untuk tidak menuruti keinginan jalan mereka sendiri (Bil. 11–14), melainkan setia menaati segala perintah TUHAN. Warna jumbai tersebut (ungu kebiru-biruan) itu sendiri merupakan pengingat akan Kemah Suci (Kel. 26:1). Bagian ini diakhiri dengan peringatan perjanjian, sebab 15:41 menggemakan kembali Keluaran 20:1–2, firman pertama sebagaimana dihitung dalam tradisi Yahudi (meskipun tidak demikian dalam tradisi Protestan).
Pemberontakan Korah, Datan, dan Abiram serta Penghakiman TUHAN (16:1–50)
"Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben, mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan. Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: 'Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?'
Ketika Musa mendengar hal itu, sujudlah ia. Dan ia berkata kepada Korah dan segenap kumpulannya: 'Besok pagi TUHAN akan memberitahukan, siapa kepunyaan-Nya, dan siapa yang kudus, dan Ia akan memperbolehkan orang itu mendekat kepada-Nya; orang yang akan dipilih-Nya akan diperbolehkan-Nya mendekat kepada-Nya. Perbuatlah begini: ambillah perbaraan-perbaraan, hai Korah, dan kamu segenap kumpulannya, bubuhlah api ke dalamnya dan taruhlah ukupan di atasnya, di hadapan TUHAN pada esok hari, dan orang yang akan dipilih TUHAN, dialah yang kudus. Cukuplah itu, hai orang-orang Lewi!'
Lalu berkatalah Musa kepada Korah: 'Cobalah dengar, hai orang-orang Lewi! Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi? Sebab itu, engkau ini dengan segenap kumpulanmu, kamu bersepakat melawan TUHAN. Karena siapakah Harun, sehingga kamu bersungut-sungut kepadanya?'
Adapun Musa telah menyuruh orang untuk memanggil Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, tetapi jawab mereka: 'Kami tidak mau datang. Belum cukupkah, bahwa engkau memimpin kami keluar dari suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya untuk membiarkan kami mati di padang gurun, sehingga masih juga engkau menjadikan dirimu tuan atas kami? Sungguh, engkau tidak membawa kami ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ataupun memberikan kepada kami ladang-ladang dan kebun-kebun anggur sebagai milik pusaka. Masakan engkau dapat mengelabui mata orang-orang ini? Kami tidak mau datang.'
Lalu sangat marahlah Musa dan ia berkata kepada TUHAN: 'Janganlah perhatikan segala persembahan mereka. Belum pernah kuambil satu ekor keledaipun dari mereka, dan belum pernah kulakukan yang jahat kepada seseorangpun dari mereka.'
Lalu berkatalah Musa kepada Korah: 'Engkau ini dengan segenap kumpulanmu harus menghadap TUHAN, engkau dan mereka dan Harun, pada esok hari. Baiklah kamu masing-masing membawa perbaraannya membubuh ukupan di atasnya, lalu kamu mempersembahkan masing-masing perbaraannya ke hadapan TUHAN, dua ratus lima puluh perbaraan; juga engkau ini dan Harun masing-masing harus membawa perbaraannya.' Maka mereka masing-masing membawa perbaraannya, membubuh api ke dalamnya, menaruh ukupan di atasnya, lalu berdirilah mereka di depan pintu Kemah Pertemuan, juga Musa dan Harun. Ketika Korah mengumpulkan segenap umat itu melawan mereka berdua di depan pintu Kemah Pertemuan, tampaklah kemuliaan TUHAN kepada segenap umat itu.
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: 'Pisahkanlah dirimu dari tengah-tengah umat ini, supaya Kuhancurkan mereka dalam sekejap mata.' Tetapi sujudlah mereka berdua dan berkata: 'Ya Allah, Allah dari roh segala makhluk! Satu orang saja berdosa, masakan Engkau murka terhadap segenap perkumpulan ini?'
Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Katakanlah kepada umat itu: Pergilah dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram.'
Lalu pergilah Musa kepada Datan dan Abiram, dan para tua-tua Israel mengikuti dia. Berkatalah ia kepada umat itu: 'Baiklah kamu menjauh dari kemah orang-orang fasik ini dan janganlah kamu kena kepada sesuatu apapun dari kepunyaan mereka, supaya kamu jangan mati lenyap oleh karena segala dosa mereka.' Maka pergilah mereka dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram. Keluarlah Datan dan Abiram, lalu berdiri di depan pintu kemah mereka bersama-sama dengan isterinya, para anaknya dan anak-anak yang kecil. Sesudah itu berkatalah Musa: 'Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN.'
Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu. Dan semua orang Israel yang di sekeliling mereka berlarian mendengar teriak mereka, sebab kata mereka: 'Jangan-jangan bumi menelan kita juga!' Lagi keluarlah api, berasal dari pada TUHAN, lalu memakan habis kedua ratus lima puluh orang yang mempersembahkan ukupan itu.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Katakanlah kepada Eleazar, anak imam Harun, supaya ia mengangkat perbaraan-perbaraan dari antara kebakaran itu, lalu hamburkanlah api itu jauh-jauh, karena semuanya itu kudus, yakni perbaraan orang-orang berdosa yang telah membayarkan nyawanya, kemudian semuanya itu harus ditempa tipis-tipis menjadi salut mezbah, sebab telah dibawa ke hadapan TUHAN oleh orang-orang itu, jadi semuanya itu kudus; dengan demikian hal itu menjadi tanda bagi orang Israel.' Maka imam Eleazar mengambil perbaraan-perbaraan tembaga yang telah dibawa oleh orang-orang yang terbakar itu, lalu ditempa menjadi salut mezbah. Itu menjadi suatu peringatan bagi orang Israel, supaya jangan tampil orang awam yang bukan dari keturunan Harun untuk membakar ukupan di hadapan TUHAN, dan jangan ia menjadi seperti Korah dan kumpulannya--seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya dengan perantaraan Musa.
Tetapi pada keesokan harinya bersungut-sungutlah segenap umat Israel kepada Musa dan Harun, kata mereka: 'Kamu telah membunuh umat TUHAN.' Ketika umat itu berkumpul melawan Musa dan Harun, dan mereka memalingkan mukanya ke arah Kemah Pertemuan, maka kelihatanlah awan itu menutupinya dan tampaklah kemuliaan TUHAN. Lalu pergilah Musa dan Harun ke depan Kemah Pertemuan.
Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Pergilah dari tengah-tengah umat ini, supaya Kuhancurkan mereka dalam sekejap mata.' Lalu sujudlah mereka. Berkatalah Musa kepada Harun: 'Ambillah perbaraan, bubuhlah api ke dalamnya dari atas mezbah, dan taruhlah ukupan, dan pergilah dengan segera kepada umat itu dan adakanlah pendamaian bagi mereka, sebab murka TUHAN telah berkobar, dan tulah sedang mulai.' Maka Harun mengambil perbaraan, seperti yang dikatakan Musa, dan berlarilah ia ke tengah-tengah jemaah itu, dan tampaklah tulah telah mulai di antara bangsa itu; lalu dibubuhnyalah ukupan dan diadakannyalah pendamaian bagi bangsa itu. Ketika ia berdiri di antara orang-orang mati dan orang-orang hidup, berhentilah tulah itu. Dan mereka yang mati kena tulah itu ada empat belas ribu tujuh ratus orang banyaknya, belum terhitung orang-orang yang mati karena perkara Korah. Ketika Harun kembali kepada Musa di depan pintu Kemah Pertemuan, tulah itu telah berhenti.'"
— Bilangan 16:1–50 (TB)
Hingga saat ini, berbagai tantangan yang muncul ditujukan baik kepada kepemimpinan Musa maupun kepada kedaulatan TUHAN. Sekarang, mungkin tidak mengherankan, fokus beralih ke institusi agung lainnya, yaitu keimaman. Hal ini akan menjadi isu penentu dalam pasal 16 sampai 19. Dalam dua pasal pertama, tantangan ini ditangani, termasuk penegasan luar biasa atas Harun sebagai imam (Bil. 16–17). Pasal 18 dan 19 merupakan bagian-bagian hukum yang berkaitan baik secara langsung (Bil. 18) maupun tidak langsung (Bil. 19) dengan keimaman.
Bilangan 16:1–2. Pada mulanya tampak ada empat orang pemimpin utama pemberontakan: Korah berasal dari kaum yang sama dengan Harun (kaum Kehat). Datan dan Abiram adalah anak-anak Eliab, dan karena itu merupakan orang Ruben. On juga seorang Ruben, tetapi tidak disebutkan lagi sesudahnya (mungkin, jika ditafsirkan secara murah hati, karena ia bertobat dari kebodohannya?). Ketika peristiwa ini diingat kembali dalam Mazmur 106:16–18, hanya Datan dan Abiram yang disebutkan (seperti halnya dalam 16:12). Bagian ini paling tepat dipahami sebagai memuat dua pemberontakan yang saling terkait: yang pertama jelas berkaitan dengan jabatan imam dan menyangkut Korah (kepada siapa 16:4–11 ditujukan). Yang kedua lebih bersifat umum mengenai kepemimpinan dan menyangkut Datan dan Abiram.
Ungkapan "mengajak orang-orang" ("took men") memang tidak lazim, tetapi sederhananya bermakna mengumpulkan sejumlah pengikut di sekitar mereka. Hal ini jelas terlihat dari 16:2, yang menambahkan jumlah mereka dan mencakup 250 orang pemimpin. Orang-orang ini berasal dari berbagai suku (itulah sebabnya penegasan dalam 17:1–2 mengikutsertakan seluruh suku; hal ini juga memberikan penjelasan yang masuk akal bagi 27:3).
Bilangan 16:3. Keberatan para pemberontak ini tidak sepenuhnya berbeda dari keberatan Harun dan Miryam (lihat pasal 12) yang memiliki pengenalan yang lebih pribadi akan TUHAN. Pembaca sudah dapat menduga bahwa kisah ini tidak akan berakhir dengan baik.
Bilangan 16:4–11. Meskipun menanggapi keempat pemimpin utama dan 250 pemimpin tersebut, Musa secara khusus memusatkan perhatiannya kepada Korah. Ia dengan tepat memahami bahwa ini adalah penentangan terhadap keimaman dari dalam suku Lewi sendiri (karena itu 16:7, 8, 10), sebagaimana ditegaskan oleh kesimpulan pada kalimat terakhir 16:11. Oleh sebab itu, konflik ini diselesaikan melalui persembahan perbaraan berisi ukupan, suatu tindakan keimaman. Para pemberontak telah begitu cepat melupakan sejarah mereka yang belum lama berselang dan bagaimana dua anak Harun tewas dengan cara seperti ini (lihat Im. 10:1–2). Orang yang bijak tentu akan menarik diri pada titik ini, namun sebagaimana dijelaskan Musa, terlepas dari kedudukan mereka yang tinggi (16:9–10), keangkuhan telah menguasai diri mereka.
Bilangan 16:12–15. Sebelum tantangan keimaman itu dilaksanakan, Musa mengalihkan perhatiannya kepada para pemberontak lainnya. Ketika ia memanggil mereka (16:12), mereka menolak untuk datang. Bahkan, panggilan Musa tampaknya menyulut kemarahan mereka, yang diarahkan kepada kepemimpinan Musa. Mereka mengklaim bahwa Mesir-lah negeri yang berlimpah susu dan madu, bukan Kanaan. Sungguh suatu perkataan yang luar biasa lancang! Mereka mengatakan bahwa mereka belum dibawa masuk ke negeri itu, dan Musa telah mengangkat dirinya sendiri menjadi pemimpin. Ketiga klaim tersebut tidak benar, dan ironi dari situasi ini adalah bahwa orang-orang yang tidak percaya seperti merekalah yang menghalangi bangsa Israel memperoleh tanah pusaka, bukan Musa. Musa sangat wajar merasa marah kepada mereka dan pada dasarnya menegaskan (16:15) bahwa ia tidak pernah memerintah mereka dengan sewenang-wenang.
Bilangan 16:16–24. Kedua kisah ini kini berpadu saat Musa mengundang Korah dan para pemberontak lainnya untuk membawa perbaraan. Apakah Datan dan Abiram termasuk di antara 250 orang yang juga mengambil perbaraan pada saat ini? Tampaknya tidak mungkin, karena Musa harus mendatangi kemah mereka (16:25). Bagaimanapun juga, Korah siap menghadapi tantangan tersebut di hadapan seluruh jemaah dan (yang paling penting) di hadapan TUHAN sendiri (16:19). TUHAN memandang hal ini sebagai pemberontakan nasional (karena kehadiran para pemimpin) dan hendak memusnahkan "semua orang". Doa syafaat Musa memusatkan penghakiman hanya kepada mereka yang telah berdosa—dalam hal ini, ketiga pemimpin utama yang tersisa.
Bilangan 16:25–30. Ayat-ayat ini mencatat penghakiman Musa (yang berasal dari Allah) terhadap para pemberontak. Jemaah seharusnya (dan memang melakukannya, lihat 16:34, kendati agak terlambat) menjauh dari orang-orang yang telah berdosa. Namun mengapa istri dan anak-anak Datan dan Abiram ikut dimasukkan ke dalam hukuman tersebut (16:27)? Perlu kita perhatikan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah diberi kesempatan untuk menjauh, tetapi memilih untuk tetap berdiri bersama keluarga mereka. (Meskipun tidak disebutkan di sini, beberapa orang jelas menjauhkan diri, karena "anak-anak Korah" tetap hidup, lihat 26:11; 1Taw. 6:16–23.) TUHAN menggunakan kesempatan ini untuk menegaskan kembali kepemimpinan Musa dengan menjanjikan sesuatu yang baru (16:30): dalam hal ini, tanah yang merekah dan menelan semua orang berdosa yang telah menista TUHAN (perhatikan kaitannya kembali dengan dosa yang disengaja dalam 15:30–31). Dunia orang mati (sheol) pertama kali disebutkan di sini dalam Alkitab: sheol bukanlah sinonim untuk neraka, melainkan dalam pemahaman Ibrani adalah "apa pun yang terjadi berikutnya" setelah kematian.
Bilangan 16:31–35. Bagian ini memuat dua penghakiman. Pertama, Korah, bersama dengan Datan dan Abiram, benar-benar ditelan oleh bumi. Hanya Korah yang disebutkan di sini, tetapi kedua orang lainnya jelas berada bersamanya (lihat 26:9–11). Tidak heran jika seluruh sisa bangsa itu melarikan diri, bagaikan adegan film bencana modern. Kedua, 250 orang yang bersekongkol itu dimakan habis oleh api, sama seperti yang dialami kedua anak Harun dalam Imamat 10.
Bilangan 16:36–40. Mezbah itu telah disalut dengan tembaga (Kel. 27:1–2). Sekarang pada salutannya akan ditambahkan penutup baru yang terbuat dari perbaraan-perbaraan yang dilebur. Berbeda dengan tabut perjanjian, mezbah berada di luar kemah utama dari Tempat Kudus bagian dalam, sehingga semua orang yang melayani di sana dapat melihat dan mengingat bahwa hanya keturunan Harun yang boleh melayani sebagai imam (suatu peran yang tampaknya sudah mulai dijalankan oleh Eleazar, 16:39).
Bilangan 16:41–50. Orang mungkin mengira bahwa perkara itu telah selesai. Namun kematian begitu banyak orang, yang tampaknya terjadi atas perkataan Musa (lihat 16:28), menyulut perselisihan lebih lanjut. Kita sekarang mengantisipasi terjadinya sesuatu: beberapa kali terakhir kemuliaan TUHAN menampakkan diri (16:42), hal-hal tidak berjalan dengan baik. TUHAN mengulangi ancaman-Nya dari 16:21 di dalam 16:45 (juga menggemakan bahasa dari 16:35). Suatu tulah mulai berkobar, tetapi Musa yang bertindak cepat menginstruksikan saudaranya untuk mengambil ukupan dan mengadakan pendamaian bagi bangsa itu dari atas mezbah. Pendamaian biasanya menuntut darah; mengapa kali ini tidak demikian? Alasannya adalah bahwa Harun berdiri di antara orang-orang yang mati dan orang-orang yang hidup (16:48), bertindak (dan bukan sekadar berbicara) sebagai seorang perantara syafaat (intercessor). Tulah tersebut dihentikan, tetapi tidak sebelum menewaskan 14.700 orang.
Mukjizat Tongkat Harun yang Bertunas sebagai Penegasan Imamat (17:1–13)
"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Katakanlah kepada orang Israel dan suruhlah mereka memberikan kepadamu satu tongkat untuk setiap suku. Semua pemimpin mereka harus memberikannya, suku demi suku, seluruhnya dua belas tongkat. Lalu tuliskanlah nama setiap pemimpin pada tongkatnya. Pada tongkat Lewi harus kautuliskan nama Harun. Bagi setiap kepala suku harus ada satu tongkat. Kemudian haruslah kauletakkan semuanya itu di dalam Kemah Pertemuan di hadapan tabut hukum, tempat Aku biasa bertemu dengan kamu. Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi.'
Setelah Musa berbicara kepada orang Israel, maka semua pemimpin mereka memberikan kepadanya satu tongkat dari setiap pemimpin, menurut suku-suku mereka, dua belas tongkat, dan tongkat Harun ada di antara tongkat-tongkat itu. Musa meletakkan tongkat-tongkat itu di hadapan TUHAN dalam kemah hukum Allah.
Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam. Kemudian Musa membawa semua tongkat itu keluar dari hadapan TUHAN kepada seluruh orang Israel; mereka melihatnya lalu mengambil tongkatnya masing-masing.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Kembalikanlah tongkat Harun ke hadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehingga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati.' Dan Musa berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, demikianlah diperbuatnya.
Tetapi orang Israel berkata kepada Musa: 'Sesungguhnya kami akan mati, kami akan binasa, kami semuanya akan binasa. Siapapun juga yang mendekat ke Kemah Suci TUHAN, niscayalah ia akan mati. Haruskah kami habis binasa?'"
— Bilangan 17:1–13 (TB)
Akan tetapi, tantangan terhadap keimaman belum berakhir. Sebab, meskipun keimaman Harun telah terbukti efektif (16:48), keimaman tersebut belum terbukti bersifat eksklusif. Oleh karena itu, sekarang TUHAN merancang suatu ujian untuk memperlihatkan bahwa Harun adalah orang yang telah dipilih-Nya.
Bilangan 17:1–7. Tiga belas tongkat harus diletakkan di dalam Kemah Pertemuan: satu untuk setiap suku, ditambah satu untuk suku Lewi. Dalam kisah sebelumnya telah dipastikan bahwa Harun, sekalipun bukan kepala kaum keluarga, adalah orang dari suku Lewi yang menjabat sebagai imam (lihat 16:10). Oleh karena itu, sementara nama para kepala suku diukirkan pada masing-masing dari kedua belas tongkat suku lainnya, hanya nama Harun yang diukirkan pada tongkat Lewi. TUHAN akan mendemonstrasikan secara supranatural siapakah orang pilihan-Nya demi menghentikan sungut-sungut umat terhadap Musa dan Harun.
Bilangan 17:8–11. Suatu peristiwa luar biasa terjadi: tongkat Lewi melakukan lebih dari sekadar bertunas—tongkat itu berbunga dan menghasilkan buah yang matang. Mukjizat ini melampaui apa yang diharapkan dan apa yang diminta TUHAN untuk mereka nantikan. Betapa jelasnya penegasan bahwa Harun-lah orang pilihan-Nya! Tongkat Harun disimpan kembali sebagai peringatan akan mukjizat ini, supaya orang Israel tidak lagi bersungut-sungut lalu mati—suatu hal yang jelas tidak dikehendaki oleh TUHAN.
Bilangan 17:12–13. Pasal ini diakhiri dengan suatu pernyataan kerendahan hati yang luar biasa di hadapan TUHAN, yang sayangnya sering kali tidak tampak sepanjang bagian tengah kitab ini. Mereka tampaknya akhirnya memahami hakikat kekudusan Allah yang tidak terhampiri dan mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat beralasan, "Haruskah kami habis binasa?" Dua pasal berikutnya akan menjelaskan bagaimana kematian tersebut dapat dihindarkan. Namun seraya kita terus membaca, kita akan mendapati bahwa kerendahan hati yang mendadak ini ternyata tidak bertahan lama.
Tanggung Jawab serta Hak Keimaman Harun dan Kaum Lewi (18:1–32)
"TUHAN berfirman kepada Harun: 'Engkau ini dan anak-anakmu beserta seluruh sukumu haruslah menanggung akibat setiap kesalahan terhadap tempat kudus; sedang hanya engkau beserta anak-anakmulah yang harus menanggung akibat setiap kesalahan yang dilakukan dalam jabatanmu sebagai imam. Suruhlah juga saudara-saudaramu, suku Lewi, suku bapa leluhurmu, mendekat bersama-sama dengan engkau, supaya mereka menggabungkan diri kepadamu dan melayani engkau, apabila engkau ini beserta anak-anakmu ada di depan kemah hukum. Mereka harus melakukan kewajiban mereka kepadamu, dan kewajiban mereka mengenai kemah seluruhnya; hanya kepada perkakas tempat kudus dan kepada mezbah janganlah mereka mendekat, nanti mereka mati, baik mereka maupun kamu. Mereka harus menggabungkan diri kepadamu dan melakukan kewajiban mereka mengenai Kemah Pertemuan sesuai dengan segala pekerjaan pada kemah itu; tetapi orang awam jangan mendekat kepadamu. Dan kamu ini haruslah melakukan kewajibanmu mengenai tempat kudus dan kewajibanmu mengenai mezbah, supaya orang Israel jangan lagi tertimpa oleh murka. Sesungguhnya Aku ini telah mengambil saudara-saudaramu, orang Lewi, dari tengah-tengah orang Israel sebagai pemberian kepadamu, sebagai orang-orang yang diserahkan kepada TUHAN, untuk melakukan pekerjaan pada Kemah Pertemuan; tetapi engkau ini beserta anak-anakmu harus memegang jabatanmu sebagai imam dalam segala hal yang berkenaan dengan mezbah dan dengan segala sesuatu yang ada di belakang tabir, dan kamu harus mengerjakannya; sebagai suatu jabatan pemberian Aku memberikan kepadamu jabatanmu sebagai imam itu; tetapi orang awam yang mendekat harus dihukum mati.'
Lagi berfirmanlah TUHAN kepada Harun: 'Sesungguhnya Aku ini telah menyerahkan kepadamu pemeliharaan persembahan-persembahan khusus yang kepada-Ku; semua persembahan kudus orang Israel Kuberikan kepadamu dan kepada anak-anakmu sebagai bagianmu; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya. Inilah bagianmu dari segala persembahan-persembahan yang maha kudus itu, yaitu dari bagian yang tidak harus dibakar: segala persembahan mereka yang berupa korban sajian, korban penghapus dosa dan korban penebus salah, yang dibayar mereka kepada-Ku; itulah bagian maha kudus yang menjadi bagianmu dan bagian anak-anakmu. Sebagai bagian maha kudus haruslah kamu memakannya; semua orang laki-laki boleh memakannya; haruslah itu bagian kudus bagimu. Dan inipun adalah bagianmu: persembahan khusus dari pemberian mereka yang lain, termasuk segala persembahan unjukan orang Israel; semuanya itu Kuberikan kepadamu dan kepada anak-anakmu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya. Setiap orang yang tahir dari seisi rumahmu boleh memakannya. Segala yang terbaik dari minyak dan segala yang terbaik dari anggur dan dari gandum, yakni yang sebagai hasil pertamanya dipersembahkan mereka kepada TUHAN, Aku berikan kepadamu. Hulu hasil dari segala yang tumbuh di tanahnya yang dipersembahkan mereka kepada TUHAN adalah juga bagianmu; setiap orang yang tahir dari seisi rumahmu boleh memakannya. Semua yang dikhususkan bagi TUHAN di antara orang Israel menjadi bagianmu. Semua yang terdahulu lahir dari kandungan segala yang hidup, yang dipersembahkan mereka kepada TUHAN, baik dari manusia maupun dari binatang, adalah bagianmu; hanya haruslah kamu menebus anak sulung manusia, juga anak sulung binatang yang najis haruslah kamu tebus. Mengenai uang tebusannya, dari sejak berumur satu bulan haruslah kautebus menurut nilainya, yakni lima syikal perak ditimbang menurut syikal kudus; syikal ini dua puluh gera beratnya. Tetapi anak sulung lembu, domba atau kambing janganlah kautebus; semuanya itu kudus; darahnya haruslah kausiramkan pada mezbah dan lemaknya kaubakar sebagai korban api-apian menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN; tetapi dagingnya adalah bagianmu sama seperti dada persembahan dan paha kanan. Segala persembahan khusus, yakni persembahan kudus yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN, Aku berikan kepadamu dan kepada anak-anakmu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya; itulah suatu perjanjian garam untuk selama-lamanya di hadapan TUHAN bagimu serta bagi keturunanmu.'
TUHAN berfirman kepada Harun: 'Di negeri mereka engkau tidak akan mendapat milik pusaka dan tidak akan beroleh bagian di tengah-tengah mereka; Akulah bagianmu dan milik pusakamu di tengah-tengah orang Israel. Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan. Maka janganlah lagi orang Israel mendekat kepada Kemah Pertemuan, sehingga mereka mendatangkan dosa kepada dirinya, lalu mati; tetapi orang Lewi, merekalah yang harus melakukan pekerjaan pada Kemah Pertemuan dan mereka harus menanggung akibat kesalahan mereka; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Mereka tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel, sebab persembahan persepuluhan yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN sebagai persembahan khusus Kuberikan kepada orang Lewi sebagai milik pusakanya; itulah sebabnya Aku telah berfirman tentang mereka: Mereka tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel.'
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Lagi haruslah engkau berbicara kepada orang Lewi dan berkata kepada mereka: Apabila kamu menerima dari pihak orang Israel persembahan persepuluhan yang Kuberikan kepadamu dari pihak mereka sebagai milik pusakamu, maka haruslah kamu mempersembahkan sebagian dari padanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN, yakni persembahan persepuluhanmu dari persembahan persepuluhan itu, dan persembahan itu akan diperhitungkan sebagai persembahan khususmu, sama seperti gandum dari tempat pengirikan dan sama seperti hasil dari tempat pemerasan anggur. Secara demikian kamupun harus mempersembahkan sebagai persembahan khusus kepada TUHAN sebagian dari segala persembahan persepuluhan yang kamu terima dari pihak orang Israel. Dan yang dipersembahkan dari padanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN haruslah kamu serahkan kepada imam Harun. Dari segala yang diserahkan kepadamu, yakni dari segala yang terbaik di antaranya, haruslah kamu mempersembahkan seluruh persembahan khusus kepada TUHAN, sebagai bagian kudus dari padanya. Lagi haruslah engkau berkata kepada mereka: Apabila kamu mengkhususkan yang terbaik dari padanya, maka bagi orang Lewi haruslah hal itu dihitungkan sebagai hasil tempat pengirikan dan hasil tempat pemerasan anggur; kamu boleh memakannya di setiap tempat, kamu dan seisi rumahmu, sebab upahmulah itu, untuk membalas pekerjaanmu di Kemah Pertemuan. Dan dalam hal itu kamu tidak akan mendatangkan dosa kepada dirimu, asal kamu mengkhususkan yang terbaik dari padanya; demikianlah kamu tidak akan melanggar kekudusan persembahan-persembahan kudus orang Israel, dan kamu tidak akan mati.'"
— Bilangan 18:1–32 (TB)
Pasal ini menjelaskan bagaimana orang Lewi (termasuk jabatan imam) harus bertindak untuk melindungi bangsa Israel dari kematian (17:13). Secara lebih terperinci daripada yang pernah kita lihat sebelumnya, kita mendapati bagaimana para imam sendiri harus dilindungi dari umat oleh orang-orang Lewi, guna mencegah perebutan kekuasaan seperti yang diupayakan oleh para pemberontak dalam pasal 16. Bersamaan dengan ketetapan-ketetapan baru ini, hadir pula bagian terperinci yang memperlihatkan bagaimana kebutuhan para imam (18:8–20)[^6] dan kaum Lewi (18:21–32) akan dipenuhi dan dipelihara.
Bilangan 18:1–7. Keturunan Kehat ("engkau ini dan anak-anakmu beserta seluruh sukumu") harus menanggung kesalahan (mungkin di sini berarti tanggung jawab) atas tempat kudus (yang memang menjadi tanggung jawab pelayanan mereka, 3:27–32). Kelompok imam yang lebih sempit (keturunan Harun) melakukan hal yang sama terhadap jabatan keimaman itu sendiri. Namun kedua kelompok ini sendiri membutuhkan perlindungan dan penjagaan; oleh sebab itu, orang-orang Lewi bertugas melayani mereka dengan cara demikian (18:2–3). Seluruh bagian ini dimaksudkan untuk mencegah suku-suku Israel bersentuhan secara langsung dengan perkakas-perkakas kudus, atau menuntut peran-peran yang tidak dapat mereka pikul. Setiap pelanggaran terhadap benteng perlindungan ini dipastikan akan mendatangkan kematian.
Bilangan 18:8–20. Berdasarkan klarifikasi-klarifikasi tersebut, TUHAN sekarang menjelaskan bagaimana kebutuhan para imam akan dipelihara. Diberikan suatu daftar yang memuat tujuh jenis persembahan atau pemungutan persembahan: apa yang dipersembahkan tetapi tidak dibakar (18:9); persembahan unjukan (18:11); persembahan hasil pertama (18:12); segala barang yang "dikhususkan" bagi TUHAN (18:14); setiap anak sulung binatang atau manusia (18:15, 17); setiap uang tebusan bagi anak sulung manusia (18:16); serta seluruh persembahan khusus yang diserahkan (18:19). Semua ini tentu saja dipersembahkan kepada TUHAN, namun karena orang-orang Lewi sendiri adalah milik-Nya (18:6), mereka turut menikmati apa yang diserahkan kepada-Nya. Frasa "perjanjian garam" (18:19) merupakan ungkapan yang tidak lazim dan mungkin mengacu pada cara pengikatan perjanjian tersebut, alih-alih sekadar menjadi nama bagi suatu kesepakatan tertentu. Hal ini memperlihatkan bagaimana perjanjian ini akan bertahan lama (lihat juga Mal. 2:4–7).
Kendati demikian, orang-orang Lewi tidak mendapat milik pusaka berupa tanah; sebaliknya, tanah tersebut (melalui persembahan-persembahan di atas) akan menyokong kehidupan mereka secara tidak langsung. Mereka memiliki TUHAN sendiri sebagai milik pusaka mereka.
Bilangan 18:21–31. Musa kini menguraikan bagaimana kelompok kaum Lewi yang lebih besar akan dipelihara. Jika para imam disokong terutama melalui pemberian makanan secara langsung (untuk sebagian besar jenis persembahan), orang-orang Lewi disokong melalui persembahan persepuluhan (18:21). Inilah milik pusaka mereka (18:24); sama seperti para imam, mereka tidak memiliki tanah pusaka sendiri. Kaum Lewi sendiri wajib mempersembahkan sepersepuluh dari persembahan persepuluhan tersebut untuk menyokong Harun. Mengapa Harun berhak menerima bagian tambahan ini melebihi apa yang telah dijanjikan dalam 18:8–20? Barangkali hal ini mencerminkan suatu pengaturan sementara yang memperlihatkan status khusus Harun (dan mungkin juga Musa?).
Bilangan 18:32. Sekalipun seluruh persembahan dan persepuluhan itu kudus (dikhususkan bagi TUHAN), para imam dan orang Lewi tidak berdosa ketika memakannya (18:31–32). Namun, mereka harus berhati-hati agar kebebasan ini tidak memikat mereka ke dalam rasa aman yang palsu saat berhadapan dengan perkakas-perkakas kudus lainnya.
Hukum Lembu Betina Merah dan Air Pentahiran Kenajisan Jenazah (19:1–22)
"TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: 'Inilah ketetapan hukum yang diperintahkan TUHAN dengan berfirman: Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu seekor lembu betina merah yang tidak bercela, yang tidak ada cacatnya dan yang belum pernah kena kuk. Dan haruslah kamu memberikannya kepada imam Eleazar, maka lembu itu harus dibawa ke luar tempat perkemahan, lalu disembelih di depan imam. Kemudian imam Eleazar harus mengambil dengan jarinya sedikit dari darah lembu itu, lalu haruslah ia memercikkan sedikit ke arah sebelah depan Kemah Pertemuan sampai tujuh kali. Sesudah itu haruslah lembu itu dibakar habis di depan mata imam; kulitnya, dagingnya dan darahnya haruslah dibakar habis bersama-sama dengan kotorannya. Dan imam haruslah mengambil kayu aras, hisop dan kain kirmizi dan melemparkannya ke tengah-tengah api yang membakar habis lembu itu. Kemudian haruslah imam mencuci pakaiannya dan membasuh tubuhnya dengan air, sesudah itu masuk ke tempat perkemahan, dan imam itu najis sampai matahari terbenam. Orang yang membakar habis lembu itu haruslah mencuci pakaiannya dengan air dan membasuh tubuhnya dengan air, dan ia najis sampai matahari terbenam. Maka seorang yang tahir haruslah mengumpulkan abu lembu itu dan menaruhnya pada suatu tempat yang tahir di luar tempat perkemahan, supaya semuanya itu tinggal tersimpan bagi umat Israel untuk membuat air pentahiran; itulah penghapus dosa. Dan orang yang mengumpulkan abu lembu itu haruslah mencuci pakaiannya, dan ia najis sampai matahari terbenam. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagi orang Israel dan bagi orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu.
Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya. Ia harus menghapus dosa dari dirinya dengan air itu pada hari yang ketiga, dan pada hari yang ketujuh ia tahir. Tetapi jika pada hari yang ketiga ia tidak menghapus dosa dari dirinya, maka tidaklah ia tahir pada hari yang ketujuh. Setiap orang yang kena kepada mayat, yaitu tubuh manusia yang telah mati, dan tidak menghapus dosa dari dirinya, ia menajiskan Kemah Suci TUHAN, dan orang itu haruslah dilenyapkan dari Israel; karena air pentahiran tidak disiramkan kepadanya, maka ia najis; kenajisannya masih melekat padanya.
Inilah hukumnya, apabila seseorang mati dalam suatu kemah: setiap orang yang masuk ke dalam kemah itu dan segala yang di dalam kemah itu najis tujuh hari lamanya; setiap bejana yang terbuka yang tidak ada kain penutup terikat di atasnya adalah najis. Juga setiap orang yang di padang, yang kena kepada seorang yang mati terbunuh oleh pedang, atau kepada mayat, atau kepada tulang-tulang seorang manusia, atau kepada kubur, orang itu najis tujuh hari lamanya. Bagi orang yang najis haruslah diambil sedikit abu dari korban penghapus dosa yang dibakar habis, lalu di dalam bejana abu itu dibubuhi air mengalir. Kemudian seorang yang tahir haruslah mengambil hisop, mencelupkannya ke dalam air itu dan memercikkannya ke atas kemah dan ke atas segala bejana dan ke atas orang-orang yang ada di sana, dan ke atas orang yang telah kena kepada tulang-tulang, atau kepada orang yang mati terbunuh, atau kepada mayat, atau kepada kubur itu; orang yang tahir itu haruslah memercik kepada orang yang najis itu pada hari yang ketiga dan pada hari yang ketujuh, dan pada hari yang ketujuh itu haruslah ia menghapus dosa orang itu; dan orang yang najis itu haruslah mencuci pakaiannya dan membasuh badannya dengan air, lalu ia tahir pada waktu matahari terbenam. Tetapi orang yang telah najis, dan tidak menghapus dosa dari dirinya, orang itu harus dilenyapkan dari tengah-tengah jemaah itu, karena ia telah menajiskan tempat kudus TUHAN; air pentahiran tidak ada disiramkan kepadanya, jadi ia tetap najis. Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya. Orang yang menyiramkan air penyuci itu, ia harus mencuci pakaiannya, dan orang yang kena kepada air penyuci itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam. Segala yang diraba orang yang najis itu menjadi najis dan orang yang kena kepadanya menjadi najis juga sampai matahari terbenam.'"
— Bilangan 19:1–22 (TB)
Pasal 17 dihubungkan dengan pasal 18 dengan menunjukkan bagaimana umat dapat terhindar dari kematian akibat datang terlalu dekat dengan Kemah Suci. Pasal 18 diakhiri dengan sebuah peringatan bahwa orang-orang Lewi pun dapat mati dengan cara yang sama. Sekalipun segala langkah pencegahan telah diambil, kematian tetaplah terjadi (misalnya kematian alami dan kematian dalam pertempuran). Dan kini, setelah TUHAN menghukum suatu generasi untuk mati di padang gurun (14:29), akan ada lebih banyak lagi kematian yang menyusul. Bersentuhan dengan jenazah menjadikan seseorang najis (5:2), maka secara praktis, bagaimana bangsa itu akan dapat berpindah, berbaris, dan bertempur? Jawabannya terletak pada penyediaan air pentahiran, yang diuraikan dalam pasal 19. Bagian ini cukup lugas, memperlihatkan bagaimana air tersebut dipersiapkan (19:1–10) dan digunakan (19:11–22).
Para pembaca di sini harus membedakan antara dosa (yang menuntut pendamaian darah) dan kenajisan ritual (yang bukan merupakan dosa). Kenajisan ritual paling tepat dipahami sebagai semacam istilah teknis untuk menunjukkan dasar kelayakan seseorang apakah ia boleh atau tidak boleh datang ke hadapan TUHAN. Praktik-praktik semacam ini memang perlu, tetapi tidak memberikan pembasuhan atau pentahiran batiniah (suatu poin yang ditegaskan dalam Ibr. 9:13). Sebaliknya, ritual pentahiran tersebut merupakan gambaran lahiriah mengenai perlunya menjadi tahir di dalam batin.
Bilangan 19:1–10. Sepanjang sejarah, banyak pembahasan dicurahkan mengenai lembu betina merah (red heifer), namun kata aslinya bergender feminin dan di tempat lain diterjemahkan sebagai lembu (cow). Versi bahasa Yunani dari Perjanjian Lama (Septuaginta) mengubah istilah ini menjadi "lembu muda" (heifer) atau "lembu jantan" (bull), sehingga itulah sebabnya kata tersebut diterjemahkan demikian dalam Ibrani 9:13–14. Seluruh lembu betina itu harus dibakar (19:5), yang mengakibatkan sang imam menjadi najis. Orang lain kemudian mengumpulkan abu tersebut dan menaruhnya ke dalam sebuah tempayan, lalu air ditambahkan ke dalamnya (suatu proses yang tidak diuraikan secara eksplisit di sini, namun tampak jelas dari nama campuran tersebut, 19:9). Ini adalah tempayan yang besar—seekor lembu yang dibakar akan menghasilkan sekitar 20 liter abu kering. Mungkin saja tempayan-tempayan inilah yang menjadi pendahulu bagi tempayan-tempayan air dalam Yohanes 2:6.
Bilangan 19:11–13. Siapa pun yang menyentuh jenazah harus menggunakan air tersebut dua kali dan menjadi tahir dalam rentang waktu tujuh hari. Hal ini menjelaskan bagaimana orang yang dikeluarkan dari perkemahan dalam 5:2 dapat masuk kembali (sebuah pertanyaan yang sebelumnya belum terjawab). Kenajisan ritual yang berasal dari jenazah tidak dapat disucikan dengan cara lain, dan orang yang bersangkutan tidak boleh mendekati Kemah Suci.
Bilangan 19:14–22. Hukum-hukum ini diperluas bagi mereka yang menyentuh jenazah tanpa sengaja, barangkali karena memasuki sebuah kemah tempat seseorang meninggal dunia atau menjumpai mayat dalam pertempuran. Sama seperti pada bagian sebelumnya, seseorang yang tidak memanfaatkan air pentahiran tersebut tidak akan dapat menjadi tahir melalui cara lain.
Air Meriba di Kadesh, Ketidaktaatan Musa, dan Kematian Harun di Gunung Hor (20:1–29)
"Kemudian sampailah orang Israel, yakni segenap umat itu, ke padang gurun Zin, dalam bulan pertama, lalu tinggallah bangsa itu di Kadesh. Matilah Miryam di situ dan dikuburkan di situ.
Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun, dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: 'Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?'
Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka. TUHAN berfirman kepada Musa: 'Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.'
Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya. Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: 'Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?' Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.
Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: 'Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.' Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka.
Kemudian Musa mengirim utusan dari Kadesh kepada raja Edom dengan pesan: 'Beginilah perkataan saudaramu Israel: Engkau tahu segala kesusahan yang telah menimpa kami, bahwa nenek moyang kami pergi ke Mesir, dan kami lama diam di Mesir dan kami dan nenek moyang kami diperlakukan dengan jahat oleh orang Mesir; bahwa kami berteriak kepada TUHAN, dan Ia mendengarkan suara kami, mengutus seorang malaikat dan menuntun kami keluar dari Mesir. Sekarang ini kami ada di Kadesh, sebuah kota di tepi perbatasanmu. Izinkanlah kiranya kami melalui negerimu; kami tidak akan berjalan melalui ladang-ladang dan kebun-kebun anggurmu dan kami tidak akan minum air sumurmu; jalan besar saja akan kami jalani dengan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, sampai kami melalui batas daerahmu.'
Tetapi orang Edom berkata kepada mereka: 'Tidak boleh kamu melalui daerah kami, nanti kami keluar menjumpai kamu dengan pedang!' Lalu berkatalah orang Israel kepadanya: 'Kami akan berjalan melalui jalan raya, dan jika kami dan ternak kami minum airmu, maka kami akan membayar uangnya, asal kami diizinkan lalu dengan berjalan kaki, hanya itu saja.' Tetapi jawab mereka: 'Tidak boleh kamu lalu.' Maka keluarlah orang Edom menghadapi mereka dengan banyak rakyatnya dan dengan tentara yang kuat. Ketika orang Edom tidak mau mengizinkan orang Israel lalu dari daerahnya, maka orang Israel menyimpang meninggalkannya.
Setelah mereka berangkat dari Kadesh, sampailah segenap umat Israel ke gunung Hor. Lalu berkatalah TUHAN kepada Musa dan Harun dekat gunung Hor, di perbatasan tanah Edom: 'Harun akan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya, sebab ia tidak akan masuk ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel, karena kamu berdua telah mendurhaka kepada titah-Ku dekat mata air Meriba. Panggillah Harun dan Eleazar, anaknya, dan bawalah mereka naik ke gunung Hor; tanggalkanlah pakaian Harun dan kenakanlah itu kepada Eleazar, anaknya, kemudian Harun akan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya dan mati di sana.'
Lalu Musa melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN. Mereka naik ke gunung Hor sedang segenap umat itu memandangnya. Musa menanggalkan pakaian Harun dan mengenakannya kepada Eleazar, anaknya. Lalu matilah Harun di puncak gunung itu, kemudian Musa dengan Eleazar turun dari gunung itu. Ketika segenap umat itu melihat, bahwa Harun telah mati, maka seluruh orang Israel menangisi Harun tiga puluh hari lamanya."
— Bilangan 20:1–29 (TB)
Pasal ini terutama berkaitan dengan kematian para pemimpin generasi pertama, yang tidak seorang pun dari mereka akan masuk ke Tanah Perjanjian. Kematian Miryam (20:1) dan Harun (20:22–29) membingkai perikop ini, yang sebagian besarnya (20:2–13) dicurahkan untuk menjelaskan mengapa Musa sendiri tidak diperbolehkan masuk ke Kanaan.
Bilangan 20:1. Sangat sedikit hal yang dicatat mengenai kematian Miryam. Tidak ada penyebutan mengenai masa perkabungan yang panjang (bandingkan dengan kematian Harun dalam 20:22–29). Hal ini mungkin dikarenakan sang narator merasa tidak perlu mencatatnya; atau kemungkinan yang lebih besar adalah sang narator memandang Harun (sebagai imam) sebagai figur nasional yang lebih signifikan dibandingkan Miryam.
Bilangan 20:2–9. Pada awalnya, peristiwa ini tampak seperti kisah tentang air yang biasa (lihat juga Kel. 15:22–28; 17:1–7). Masih akan ada kisah lain mengenai air dalam 21:4–9 dan sebuah nyanyian tentang air dalam 21:16–18. (Secara signifikan, salah satu nubuat Bileam juga menyinggung tentang air, 24:17.) Kisah ini bermula dengan sungut-sungut, meskipun disertai dengan kejutan tambahan bahwa umat tersebut berharap mereka telah binasa bersama saudara-saudara mereka. Mengingat bahwa kematian saudara-saudara mereka itu merupakan penghakiman dari TUHAN, harapan semacam ini sungguh luar biasa janggal. Sungut-sungut ini sekali lagi berkaitan erat dengan ketiadaan iman terhadap Tanah Perjanjian serta anggapan keliru bahwa Mesir jauh lebih baik. Mengikuti pola yang sudah lazim, Musa dan Harun sujud di hadapan TUHAN yang menampakkan diri hanya kepada mereka berdua (sebuah pertanda baik bahwa Dia tidak akan menghakimi seluruh umat). Musa menerima petunjuk yang sangat eksplisit: ia harus mengambil tongkat (bisa jadi tongkat miliknya sejak di Mesir, atau mungkin tongkat Harun dari pasal 17) dan "berkata" kepada bukit batu itu agar mengeluarkan airnya. Setiap kisah tentang air mengikuti pola yang berbeda: dalam Keluaran 15 Musa melemparkan sepotong kayu ke dalam air yang pahit agar dapat diminum; dalam Keluaran 17 Musa memukul bukit batu; di sini ia diperintahkan untuk berbicara kepada bukit batu tersebut.
Bilangan 20:10–13. Fokus perikop kini beralih dari sungut-sungut umat kepada ketidaktaatan Musa. Di tengah rasa frustrasinya, ia memukul bukit batu itu dua kali alih-alih menaati petunjuk TUHAN. Ketidaktaatannya memang tidak menghentikan aliran air (umat tidak boleh menderita akibat dosanya), tetapi hal itu mendatangkan ketidaksenangan TUHAN. Sekilas tampak seperti dosa yang relatif kecil, namun TUHAN menegaskan secara jelas dalam 20:12 apa yang sesungguhnya telah dilakukan Musa: ia bukan saja tidak taat (lihat 20:24) atau "berbicara tanpa berpikir" (Mzm. 106:33), melainkan ia telah bertindak dengan "ketidakpercayaan"—sama seperti orang Israel dalam 20:2–9, ia telah menunjukkan ketiadaan iman. Hal inilah yang menghalanginya untuk masuk ke Tanah Perjanjian, meskipun kita belum diberi perincian lebih lanjut mengenai hukuman ini. Tempat tersebut dinamai Meriba yang berarti "pertengkaran"—mungkin merupakan nama yang sudah lazim ketimbang nama resmi, karena nama tersebut telah digunakan untuk menggambarkan kisah air yang lain (Kel. 17:7).
Bilangan 20:14–21. Pada awalnya, kaitan antara kisah ini dan kisah-kisah kepemimpinan lainnya di dalam pasal ini tampak kurang jelas. Namun, seandainya Edom mengizinkan mereka melintas, dua hal akan terjadi. Pertama, rute menuju Tanah Perjanjian akan menjadi jauh lebih singkat (masuk dari arah timur) dan Musa tidak akan memperoleh kesempatan yang dianugerahkan Allah untuk memandang Tanah Perjanjian dari tempat yang tinggi (Ul. 32:48–52; 34:1–8). Kedua, berkat Bileam, yang merupakan bagian kunci dari narasi ini (Bil. 22–24), tidak akan pernah terjadi. Dalam pengertian tertentu, kisah singkat ini sesungguhnya juga merupakan bagian dari kisah kepemimpinan Israel.
Esau (saudara Yakub) digambarkan sebagai bapa orang Edom (Kej. 36:9), sehingga nama Edom dan Esau paling tepat dipandang dapat saling menggantikan. Atas dasar ini, Musa tepat dalam menyapa bangsa tersebut sebagai "saudaramu" (20:14). Musa menceritakan kembali kisah perjalanan Israel ke Mesir lalu memohon izin melintas secara aman berdasarkan permintaan yang tampaknya sangat beralasan, yaitu bahwa mereka akan tetap berjalan di jalan raya dan tidak akan menghabiskan sumber daya alam daerah tersebut. Tanggapan pertama Edom adalah menolak (20:18). Tawaran balasan dari Musa adalah membayar setiap sumber daya alam yang dikonsumsi (mungkin karena ia menyadari bahwa permintaan pertamanya terkesan agak kurang realistis). Edom kembali menolak (20:20) dan memperkuat penolakan itu dengan mengerahkan tentara yang kuat. Ada kemungkinan (meski tidak pasti) untuk memandang kisah ini sebagai refleksi lain atas kepemimpinan Musa. TUHAN hampir tidak disebutkan di sini, kecuali hanya sepintas lalu. Tampaknya Musa sedang mengambil keputusan atas kehendaknya sendiri. Mungkinkah tindakan Musa di sini tidak jauh berbeda dari kelancangan dalam 14:39–45? TUHAN telah berfirman bahwa Musa tidak boleh masuk, namun ia tetap berupaya masuk ke tanah itu dari arah timur.
Bilangan 20:22–29. Bagian ini menguraikan tentang kematian Harun di Gunung Hor di perbatasan Edom. Di sanalah Harun akan "dikumpulkan kepada kaum leluhurnya" (frasa yang sama yang kelak digunakan mengenai Musa dalam 27:13). Kematiannya merupakan semacam penghakiman atas ketidakpercayaannya, yang ditandai dengan pengingat mengenai Meriba (20:24) serta cara jubah keimamannya "ditanggalkan" darinya (20:26) dan dikenakan kepada Eleazar, anaknya. Kendati berlangsung di atas gunung, penyerahan jabatan ini dilakukan di depan mata seluruh umat (20:27): setiap orang harus mengetahui bahwa Eleazar kini adalah imam yang sah, sehingga tidak ada lagi pengulangan atas pemberontakan seperti dalam pasal 16. Umat berkabung selama 30 hari, sebagaimana kelak akan mereka lakukan pula bagi Musa ketika saatnya tiba (Ul. 34:8).
Ular Tembaga dan Kemenangan Umat atas Raja Arad, Sihon, dan Og (21:1–35)
"Raja negeri Arad, orang Kanaan yang tinggal di Tanah Negeb, mendengar, bahwa Israel datang dari jalan Atarim, lalu ia berperang melawan Israel, dan diangkutnya beberapa orang tawanan dari pada mereka.
Maka bernazarlah orang Israel kepada TUHAN, katanya: 'Jika Engkau serahkan bangsa ini sama sekali ke dalam tangan kami, kami akan menumpas kota-kota mereka sampai binasa.' TUHAN mendengarkan permintaan orang Israel, lalu menyerahkan orang Kanaan itu; kemudian orang-orang itu dan kota-kotanya ditumpas sampai binasa. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Horma.
Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: 'Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.'
Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: 'Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.' Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu.
Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.' Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.
Kemudian berangkatlah orang Israel, lalu berkemah di Obot. Berangkatlah mereka dari Obot, lalu berkemah dekat reruntuhan di Abarim, di padang gurun yang di sebelah timur Moab. Dari situ berangkatlah mereka, lalu berkemah di lembah Zered. Dari situ berangkatlah mereka, lalu berkemah di seberang sungai Arnon yang di padang gurun dan yang keluar dari daerah orang Amori, sebab sungai Arnon ialah batas Moab, di antara orang Moab dan orang Amori.
Itulah sebabnya dikatakan dalam kitab peperangan TUHAN: 'Waheb di Sufa dan lembah-lembah ke sungai Arnon, dan lereng lembah-lembah; lereng itu terbentang ke tempat di mana terletak kota Ar, dan bersandar pada batas daerah Moab.'
Dari sana mereka ke Beer. Inilah sumur di mana TUHAN berfirman kepada Musa: 'Kumpulkanlah bangsa itu, maka Aku akan memberikan air kepada mereka.' Pada waktu itu orang Israel menyanyikan nyanyian ini: 'Berbual-buallah, hai sumur! Mari kita bernyanyi-nyanyi berbalas-balasan karena sumur yang digali oleh raja-raja, yang dikorek oleh kaum bangsawan di antara bangsa itu dengan tongkat-tongkat kerajaan, dengan tongkat-tongkat mereka.' Dan dari padang gurun mereka ke Matana; dari Matana ke Nahaliel; dari Nahaliel ke Bamot; dari Bamot ke lembah yang di daerah Moab, dekat puncak gunung Pisga yang menghadap Padang Belantara.
Kemudian orang Israel mengirim utusan kepada Sihon, raja orang Amori, dengan pesan: 'Izinkanlah kami melalui negerimu; kami tidak akan menyimpang masuk ke ladang-ladang dan kebun-kebun anggurmu, kami tidak akan minum air sumurmu, di jalan besar saja kami akan berjalan, sampai kami melalui batas daerahmu.' Tetapi Sihon tidak mengizinkan orang Israel berjalan melalui daerahnya, bahkan ia mengumpulkan seluruh laskarnya, lalu keluar ke padang gurun menghadapi orang Israel, dan sesampainya di Yahas berperanglah ia melawan orang Israel.
Tetapi orang Israel mengalahkan dia dengan mata pedang dan menduduki negerinya dari sungai Arnon sampai ke sungai Yabok, sampai kepada bani Amon, sebab batas daerah bani Amon itu kuat. Dan orang Israel merebut segala kota itu, lalu menetaplah mereka di segala kota orang Amori, di Hesybon dan segala anak kotanya. Sebab Hesybon ialah kota kediaman Sihon, raja orang Amori; raja ini tadinya berperang melawan raja Moab yang lalu, dan merebut dari tangannya seluruh negerinya sampai ke sungai Arnon.
Itulah sebabnya penyair-penyair berkata: 'Datanglah ke Hesybon, baiklah dibangun dan baiklah diperkuat kota kediaman Sihon itu! Sebab api keluar dari Hesybon, nyala dari kota kediaman Sihon, yang memakan habis Ar-Moab, yang berkuasa atas bukit-bukit di sepanjang sungai Arnon. Celakalah engkau, ya Moab; binasa engkau, ya bangsa Kamos! Ia membuat anak-anaknya lelaki menjadi orang-orang pelarian, dan anak-anaknya perempuan menjadi tawanan kepada Sihon, raja orang Amori. Kita telah menembaki mereka, Hesybon binasa sampai ke Dibon, dan kita menanduskannya sampai ke Nofah, yang terbentang sampai ke Medeba.'
Demikianlah orang Israel diam di negeri orang Amori. Setelah Musa menyuruh orang mengintai kota Yaezer, mereka merebut segala anak kota Yaezer dan menghalau orang-orang Amori yang ada di situ. Kemudian berpalinglah mereka dan maju ke arah Basan. Lalu Og, raja Basan, beserta segala rakyatnya maju ke Edrei menjumpai mereka untuk berperang. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: 'Janganlah takut kepadanya, sebab Aku menyerahkan dia dengan seluruh rakyatnya dan negerinya ke dalam tanganmu, dan haruslah kaulakukan kepadanya seperti yang kaulakukan kepada Sihon, raja orang Amori, yang diam di Hesybon.' Maka mereka mengalahkan dia dan anak-anaknya dan seluruh rakyatnya, sehingga seorangpun dari mereka tidak ada yang dibiarkan terlepas; lalu mereka menduduki negerinya."
— Bilangan 21:1–35 (TB)
Ketika kita bergerak menuju kisah tentang generasi kedua, sang narator ingin kita mengetahui bahwa keadaan di Israel mulai membaik. Pasal 21 menggambarkan tiga pertempuran yang berhasil (melawan Arad, Sihon, dan Og). Sungguh luar biasa, pertempuran melawan Arad merupakan pertempuran pertama yang dimenangkan di dalam Kitab Bilangan. Kendati demikian, kita tidak boleh berpikir bahwa pengaruh generasi pertama telah sepenuhnya lenyap. Kita belum lagi mencapai titik terendah dari kisah generasi pertama (Bil. 25), dan pasal yang tampak berhasil ini masih memuat kisah sungut-sungut lainnya (21:4–9). Terlebih lagi, sebagian orang Israel kelak akan menetap di tempat-tempat taklukan ini, kendati daerah-daerah tersebut bukan merupakan bagian dari Tanah Perjanjian (lihat Bil. 32).
Bilangan 21:1–3. Pertempuran ini sangat kontras dengan upaya Musa untuk melintasi wilayah Edom. Di sana, TUHAN sama sekali tidak dimintai petunjuk. Di sini, Dia dimintai petunjuk (21:2), dan konfrontasi tersebut justru dipicu oleh orang Kanaan itu sendiri. Tanggapan Israel terhadap serangan ini sangat baik dan benar, dan TUHAN mendengarkan seruan mereka. Sangat sedikit hal yang dijelaskan di sini mengenai apa artinya "ditumpas sampai binasa" (devoted to destruction / herem), tetapi tema ini kelak akan diperluas dalam Bilangan 31.
Bilangan 21:4–9. Ini merupakan salah satu kisah yang paling dikenal luas dalam Kitab Bilangan karena dikutip dalam Yohanes 3. Penolakan bangsa Edom untuk mengizinkan Israel melintas memaksa mereka menempuh rute memutar yang panjang, yang akhirnya membangkitkan ketidaksabaran umat terhadap TUHAN dan Musa sebagai pemimpin yang ditetapkan-Nya. Keluhan mereka menggabungkan seluruh keluhan terdahulu mengenai makanan dan air, dan sekali lagi mencap pemberian anugerah berupa manna sebagai makanan yang "hambar" (atau tidak berharga). Penghakiman datang dengan sangat cepat (kali ini tanpa ada kesempatan untuk bertobat terlebih dahulu) dalam bentuk ular-ular tedung di perkemahan yang memagut dan mematikan. Sekali lagi Musa diminta untuk menjadi perantara, dan kali ini (atas petunjuk TUHAN), Musa diperintahkan untuk membuat seekor ular tembaga (atau perunggu) lalu menaruhnya pada sebuah tiang. Siapa pun yang memandangnya akan tetap hidup—tentu saja ular tersebut tidak memiliki kekuatan magis, melainkan tindakan memandangnya merupakan suatu tindakan iman (bandingkan Yoh. 3:14–15). Paulus (yang tak diragukan lagi sangat bersandar pada pengajaran Yesus), menyebut peristiwa ini sebagai "mencobai Kristus" (1Kor. 10:9).
Musa tidak diperintahkan secara eksplisit untuk menyimpan ular tersebut (kontras dengan tongkat Harun dalam 17:10), namun ia tetap menyimpannya, dan di kemudian hari benda itu menjadi batu sandungan bagi bangsa tersebut (lihat 2Raj. 18:4).
Bilangan 21:10–20. Bagian ini sekilas tampak seperti bagian catatan perjalanan biasa yang dipenuhi banyak nama tempat, yang sebagian besarnya tidak diketahui secara pasti, namun lebih tepat dipandang sebagai bagian kisah tentang air lainnya. Kali ini, fokusnya bukan pada sungut-sungut orang Israel, melainkan pada penyediaan air yang penuh anugerah dari TUHAN. Bilangan 21:16 menjadi kuncinya. Ketika umat berkumpul sebelumnya, mereka berkumpul untuk bersungut-sungut. Kini mereka berhimpun untuk menerima berkat. Nyanyian tentang sumur yang menyusul kemudian (21:17–18) merupakan respons terhadap penyediaan tersebut, namun nyanyian itu menyingkapkan suatu cacat yang mendalam dalam fokus perhatian umat. Meskipun TUHAN yang mengumpulkan umat-Nya dan menyediakan kebutuhan mereka, nyanyian yang dinyanyikan orang Israel tersebut tampaknya mengabaikan campur tangan ilahi ini, dan sebaliknya justru berfokus pada para pemimpin ("raja-raja" dan "kaum bangsawan") yang mengawasi penggalian sumur tersebut. Jika dilihat secara terpisah, nyanyian ini terkesan sangat bercorak kafir.
Bilangan 21:21–30. Kisah di sini memiliki kemiripan yang luar biasa dengan kisah tentang Edom dalam 20:14–21. Perbedaan kuncinya adalah bahwa dalam Bilangan 20, orang Israel hanya diancam dengan unjuk kekuatan militer; sementara di sini, pasukan Raja Sihon benar-benar melancarkan serangan (21:23). Ia dikalahkan secara telak, dan Israel menduduki kota-kotanya (21:25). Pembaca yang kritis tentu akan merasa penasaran mengenai hal ini. Wilayah Sihon belum termasuk ke dalam Tanah Perjanjian. Apa yang dilakukan orang Israel dengan menetap di sana? Catatan singkat ini merupakan pendahulu dari krisis yang lebih besar pada pasal 32 (lihat juga 21:35). Perikop ini menceritakan bagaimana negeri Raja Sihon itu sendiri sebelumnya direbut dari Moab beberapa waktu silam. Hal ini menjelaskan nyanyian dalam 21:27–29 (perhatikan bahwa nyanyian ini tidak dinyanyikan oleh Israel seperti dalam 21:17, melainkan oleh para penyair balada). Bilangan 21:30 adalah bagian penutup baru dari pihak Israel untuk nyanyian kuno Sihon tersebut.
Bilangan 21:31–35. Pasal ini diakhiri dengan kemenangan lainnya, kali ini melawan Raja Og. Sihon dan Og sering kali dikelompokkan bersama dalam sejarah Alkitab berikutnya—lihat, misalnya, Yosua 13:10–12 atau Nehemia 9:22. Sekali lagi, pertempuran ini dipicu oleh pihak musuh. Atas petunjuk TUHAN, umat berperang dan meraih kemenangan telak lainnya. Sekali lagi, kemenangan tersebut berakhir dengan "pendudukan" (possession).
Balak Memanggil Bileam untuk Mengutuk Israel dan Keledai yang Berbicara (22:1–41)
"Kemudian berangkatlah orang Israel, dan berkemah di dataran Moab, di daerah seberang sungai Yordan dekat Yerikho.
Balak bin Zipor melihat segala yang dilakukan Israel kepada orang Amori. Maka sangat gentarlah orang Moab terhadap bangsa itu, karena jumlahnya banyak, lalu muak dan takutlah orang Moab karena orang Israel. Lalu berkatalah orang Moab kepada para tua-tua Midian: 'Tentu saja laskar besar itu akan membabat habis segala sesuatu yang di sekeliling kita, seperti lembu membabat habis tumbuh-tumbuhan hijau di padang.' Adapun pada waktu itu Balak bin Zipor menjadi raja Moab.
Raja ini mengirim utusan kepada Bileam bin Beor, ke Petor yang di tepi sungai Efrat, ke negeri teman-teman sebangsanya, untuk memanggil dia, dengan pesan: 'Ketahuilah, ada suatu bangsa keluar dari Mesir; sungguh, sampai tertutup permukaan bumi olehnya, dan mereka sedang berkemah di depanku. Karena itu, datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku, sebab mereka lebih kuat dari padaku; mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri ini, sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk.'
Lalu berangkatlah para tua-tua Moab dan para tua-tua Midian dengan membawa di tangannya upah penenung; setelah mereka sampai kepada Bileam, disampaikanlah kepadanya pesan Balak. Lalu berkatalah Bileam kepada mereka: 'Bermalamlah di sini pada malam ini, maka aku akan memberi jawab kepadamu, sesuai dengan apa yang akan difirmankan TUHAN kepadaku.' Maka tinggallah pemuka-pemuka Moab itu pada Bileam.
Kemudian datanglah Allah kepada Bileam serta berfirman: 'Siapakah orang-orang yang bersama-sama dengan engkau itu?' Dan berkatalah Bileam kepada Allah: 'Balak bin Zipor, raja Moab, mengutus orang kepadaku dengan pesan: Ketahuilah, ada bangsa yang keluar dari Mesir, dan permukaan bumi tertutup olehnya; karena itu, datanglah, serapahlah mereka bagiku, mungkin aku akan sanggup berperang melawan mereka dan menghalau mereka.' Lalu berfirmanlah Allah kepada Bileam: 'Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.'
Bangunlah Bileam pada waktu pagi, lalu berkata kepada pemuka-pemuka Balak: 'Pulanglah ke negerimu, sebab TUHAN tidak mengizinkan aku pergi bersama-sama dengan kamu.' Lalu berangkatlah pemuka-pemuka Moab itu dan setelah mereka sampai kepada Balak, berkatalah mereka: 'Bileam menolak datang bersama-sama dengan kami.'
Tetapi Balak mengutus pula pemuka-pemuka lebih banyak dan lebih terhormat dari yang pertama. Setelah mereka sampai kepada Bileam, berkatalah mereka kepadanya: 'Beginilah kata Balak bin Zipor: Janganlah biarkan dirimu terhalang-halang untuk datang kepadaku, sebab aku akan memberi upahmu sangat banyak, dan apapun yang kauminta dari padaku, aku akan mengabulkannya. Datanglah, dan serapahlah bangsa itu bagiku.'
Tetapi Bileam menjawab kepada pegawai-pegawai Balak: 'Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat sesuatu, yang kecil atau yang besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku. Oleh sebab itu, baiklah kamupun tinggal di sini pada malam ini, supaya aku tahu, apakah pula yang akan difirmankan TUHAN kepadaku.' Datanglah Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: 'Jikalau orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah, pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan kepadamu harus kaulakukan.'
Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab.
Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya. Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama dengan dia. Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk memalingkannya kembali ke jalan.
Kemudian pergilah Malaikat TUHAN berdiri pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun anggur dengan tembok sebelah-menyebelah. Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya pula. Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat.
Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: 'Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?' Jawab Bileam kepada keledai itu: 'Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.' Tetapi keledai itu berkata kepada Bileam: 'Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?' Jawabnya: 'Tidak.'
Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud. Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya: 'Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandangan-Ku menuju kepada kebinasaan. Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang dari hadapan-Ku; jika ia tidak menyimpang dari hadapan-Ku, tentulah engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.'
Lalu berkatalah Bileam kepada Malaikat TUHAN: 'Aku telah berdosa, karena aku tidak mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang, jika hal itu jahat di mata-Mu, aku mau pulang.' Tetapi Malaikat TUHAN berfirman kepada Bileam: 'Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan.' Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka Balak itu.
Ketika Balak mendengar, bahwa Bileam datang, keluarlah ia menyongsong dia sampai ke Kota Moab di perbatasan sungai Arnon, pada ujung perbatasan itu. Dan berkatalah Balak kepada Bileam: 'Bukankah aku sudah mengutus orang memanggil engkau? Mengapakah engkau tidak hendak datang kepadaku? Sungguhkah tidak sanggup aku memberi upahmu?' Tetapi berkatalah Bileam kepada Balak: 'Ini aku sudah datang kepadamu sekarang; tetapi akan mungkinkah aku dapat mengatakan apa-apa? Perkataan yang akan ditaruh Allah ke dalam mulutku, itulah yang akan kukatakan.'
Lalu pergilah Bileam bersama-sama dengan Balak dan sampailah mereka ke Kiryat-Huzot. Balak mengorbankan beberapa ekor lembu sapi dan kambing domba dan mengirimkan sebagian kepada Bileam dan kepada pemuka-pemuka yang bersama-sama dengan dia. Keesokan harinya Balak mengambil Bileam dan membawa dia mendaki bukit Baal. Dari situ dilihatnyalah bagian yang paling ujung dari bangsa Israel."
— Bilangan 22:1–41 (TB)
Kisah Bileam yang terdapat dalam bagian ini begitu luar biasa di dalam Kitab Suci sehingga memerlukan pengantar singkat. Keunikannya bukanlah—seperti yang sering diduga—terletak pada kehadiran seekor binatang yang dapat berbicara (22:28). Bagaimanapun, binatang pernah berbicara sebelumnya (Kej. 3:1). Sebaliknya, keunikan kisah ini terletak pada pergeseran fokus narasi dalam jangka waktu yang panjang, yang beralih menjauh dari umat Allah dan masuk ke dalam perkemahan musuh. Hal semacam ini terjadi secara singkat di bagian lain Alkitab (misalnya, Hak. 7:13–14 atau Mat. 26:3–5), tetapi tidak pernah berlangsung dalam kurun waktu yang sedemikian panjang. Poin yang hendak disampaikan sangatlah jelas: umat Allah yang diberkati tidak dapat dikutuk (23:8). Mengetahui kisah ini setara dengan mendapatkan informasi intelijen militer bagi bangsa Israel.
Bileam sendiri merupakan sosok yang penuh teka-teki, dan para pembaca terkadang bertanya-tanya apakah ia berpihak pada Israel atau pada musuh-musuhnya. Pembacaan teks secara saksama memperlihatkan bahwa sang narator memandangnya secara negatif (lihat rinciannya di bawah). Satu contoh sudah cukup untuk membuktikannya: meskipun Bileam kerap menyebut TUHAN dengan menggunakan nama perjanjian-Nya (22:8), sang narator sering kali menolak untuk mengizinkan keakraban serupa dalam respons TUHAN (22:9; kontras dengan pengulangan utama dalam Kitab Bilangan, "Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa...").
Terlebih lagi, terlepas dari kegagalan Bileam untuk mengutuk orang Israel, kelak akan terungkap bahwa dialah perancang kejatuhan mereka dalam Bilangan 25 (lihat 31:16). Ia juga dipandang secara negatif di seluruh Kitab Suci, sering kali sebagai contoh ketamakan (misalnya, 2Ptr. 2:15–16 atau Yud. 11). Meskipun secara sekilas ia tampak seperti seorang protagonis dalam narasi ini, Bileam sama sekali tidak berada di pihak yang benar.
Pasal 22 merupakan salah satu narasi terkaya di dalam Kitab Suci, terlebih lagi dalam Kitab Bilangan. Kisah ini bergulir bolak-balik dan membangun ketegangan dramatis; kisah ini juga memuat unsur humor (kita dimaksudkan untuk menertawakan Bileam, bukan tertawa bersamanya). Pada akhirnya, kita diyakinkan bahwa Bileam hanyalah seorang nabi bayaran tak berguna yang tidak memiliki hubungan yang mendalam dengan TUHAN melampaui orang-orang yang membayar upahnya, apa pun pengakuan yang ia lontarkan.
Bilangan 22:1. Pasal ini dibuka dengan bagian catatan perjalanan terakhir dari kitab ini. Sejak saat ini dan seterusnya, seluruh peristiwa berlangsung di dataran Moab, tepat di tepi Sungai Yordan—titik di mana umat Israel pada akhirnya akan menyeberang dan memasuki negeri perjanjian (lihat Yos. 3). Sebagaimana telah dijelaskan dalam bagian pengantar, kita tidak boleh memandang penanda geografis ini sebagai penanda struktural utama di dalam Kitab Bilangan.
Bilangan 22:2–6. Balak, raja Moab (22:4), telah mendengar tentang pertempuran melawan bangsa Amori (21:31–35) dan kabar itu memenuhinya dengan rasa gentar yang luar biasa. Karena itu, ia meminta bantuan orang-orang Midian. Bangsa Moab dan Midian terhubung sangat erat dalam kisah Kitab Bilangan, kendati kedua nama ini tidak dapat dipertukarkan secara langsung. Orang-orang Moab adalah keturunan Lot (Kej. 19:36–38), sedangkan orang-orang Midian adalah keturunan Abraham melalui Ketura (Kej. 25:1–2). Namun, di sini dan di tempat lain dalam narasi keluaran, mereka bersekutu untuk tujuan yang sama (lihat 22:7 dan perhatikan bagaimana keduanya disebutkan dalam peristiwa kejatuhan Israel dalam 25:1, 14). Persekutuan ini diteguhkan karena Balak adalah seorang keturunan Zipor (22:2), suatu nama yang berlatar belakang Midian (lihat Kel. 2:21).
Balak melakukan apa yang lazim dilakukan oleh setiap orang kafir: ia mencari jasa seorang nabi profesional yang ia harapkan dapat menjatuhkan kutuk atas bangsa Israel yang sangat besar jumlahnya itu (22:6). Reputasi Bileam telah mendahuluinya, dan agaknya bukan tanpa dasar, sebab kampung halamannya di Petor (22:5) hampir pasti berjarak sangat jauh dari Moab.
Bilangan 22:7–14. Rombongan utusan pertama tiba di rumah Bileam dengan membawa "upah penenung" (suatu petunjuk lain bahwa Bileam bukanlah pahlawan iman sejati). Bileam meminta waktu satu malam untuk mendapatkan jawaban dari TUHAN. Ia mengetahui nama kudus TUHAN, namun untuk ukuran seorang nabi, ia tampaknya hanya tahu sangat sedikit tentang bangsa Israel itu sendiri (22:11). Berikutnya berlangsung percakapan dengan TUHAN di mana nama kudus perjanjian tidak digunakan oleh sang narator: "datanglah Allah... berkatalah Bileam kepada Allah... berfirmanlah Allah kepada Bileam"—yang hasilnya adalah Bileam harus tetap tinggal di rumah dan tidak boleh mengutuk orang Israel, sebab "mereka telah diberkati" (22:12)—sebuah gagasan kunci yang mengalir di sepanjang ketiga pasal ini. Oleh karena itu, rombongan utusan tersebut pulang dengan tangan hampa.
Bilangan 22:15–21. Balak tidak mau menyerah begitu saja. Agaknya reputasi Bileam melampaui keahliannya semata sebagai seorang nabi, sebab Balak berupaya membujuk (dan membayar) jalan masuk ke dalam hati Bileam—suatu strategi yang terbukti efektif dalam ayat-ayat ini. Rombongan kedua dari Moab ini bukan saja terdiri dari para pejabat yang lebih banyak jumlahnya dan lebih terhormat kedudukannya (22:15), melainkan kini juga menawarkan imbalan yang sangat berlimpah: 22:17 pada hakikatnya meminta Bileam untuk menetapkan sendiri berapa harga jasanya. Jawaban Bileam dalam 22:18 terdengar sangat terhormat, jenis perkataan yang selayaknya diucapkan oleh seorang Israel sejati (dan paruh kedua dari kalimatnya memang akan terbukti benar). Namun, fakta bahwa ia meminta waktu satu malam lagi untuk berbicara dengan TUHAN memperlihatkan bahwa ia sesungguhnya sangat berharap mendapatkan izin untuk pergi. Secara mengejutkan, TUHAN mengizinkannya pergi (22:20). Mengapa terjadi perubahan ketetapan? Sesungguhnya tidak ada perubahan: sebaliknya, kita harus memandang hal ini sebagai bentuk penghakiman TUHAN atas Bileam, yang di dalam Kitab Bilangan hampir selalu berwujud penyerahan seseorang kepada hal-hal yang diingini dan dicari oleh hatinya sendiri.
Bilangan 22:22. Sekarang kisah ini mengambil kelokan aneh lainnya saat Bileam diadang oleh Malaikat TUHAN. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa murka TUHAN bangkit "ketika" (because / as) ia pergi, mengingat TUHAN sebelumnya telah memberinya izin. Kata dalam bahasa Ibrani dapat berarti semata-mata "pada saat" ia pergi. Bagaimanapun, hal ini selaras dengan narasi dalam 22:20 di mana kita telah melihat bahwa keberangkatan Bileam ke Moab itu sendiri merupakan wujud penghakiman atas dirinya. Peristiwa ini terjadi ketika Bileam sedang menunggangi keledainya. Selain dalam dua peristiwa lain (kisah dalam 1Sam. 9 dan nubuat dalam Za. 9:9), keledai di dalam Kitab Suci hampir selalu berjenis kelamin jantan. Namun keledai ini adalah seekor keledai betina. Sang narator sedang menyoroti kebebalan dari pria yang arogan dan sosok yang konon adalah seorang nabi ini. Bileam bukanlah seorang pelihat sejati, karena bahkan seekor keledai betina pun sanggup melihat apa yang tidak mampu ia lihat.
Bilangan 22:23–30. Inilah inti dari kisah ini, dan kita diharapkan menertawakan Bileam beserta kebodohannya. Nabi macam apa ini! Ia bahkan tidak sanggup melihat Malaikat TUHAN di hadapannya yang siap menebasnya. Tiga kali keledai itu menyelamatkan nyawanya (dalam tiga insiden berturut-turut yang memuncak dengan ruang gerak yang semakin menyempit). Tiga kali pula Bileam memukuli keledai tersebut hingga mencapai puncaknya dalam 22:27, ketika sang keledai menolak untuk melangkah lebih jauh. Bileam tidak layak menerima pesan langsung dari TUHAN, sehingga TUHAN sebaliknya menaruh kata-kata teguran di mulut keledai tersebut.
Bileam tampaknya tidak terlalu terkejut oleh mukjizat keledai yang dapat berbicara tersebut, melainkan lebih terganggu oleh rasa malu yang ia yakini telah ditimpakan oleh perilaku keledainya di depan orang banyak. Keledai itu telah mempermainkan dan mempermalukannya, katanya, dan ia berharap memiliki pedang untuk membunuhnya—tanpa menyadari bahwa sang Malaikat sedang memegang pedang terhunus untuk membunuhnya dan hanya keledai itulah yang telah menyelamatkan nyawanya. Dalam percakapan singkat yang luar biasa, keledai itu pada hakikatnya berkata: seharusnya engkau tahu lebih baik, sebab hingga saat ini aku tidak pernah berbuat hal seperti ini kepadamu.
Bilangan 22:31–35. TUHAN yang membuka mulut keledai itu (22:28) kini membuka mata nabi gadungan tersebut. Sekarang barulah ia dapat melihat Malaikat itu dan menyadari bahaya maut yang sedang mengancamnya. Ia tersungkur sujud di hadapan Malaikat itu dan mendengar apa yang sesungguhnya telah diketahui oleh para pembaca sejak awal—bahwa jalan hidup Bileam itu menyimpang dan menuju kepada kebinasaan. Keledai itulah yang telah menyelamatkan hidupnya. Bahkan sampai pada titik ini pun, Bileam masih berusaha mencari celah untuk berdalih, dan pengakuannya tidaklah sepenuhnya tulus: Malaikat menyatakan jalannya sebagai "menuju kepada kebinasaan" (reckless / tergesa-gesa menyimpang)—sedangkan Bileam hanya mengakui jalannya sebagai "jahat di mata-Mu", yang merupakan ungkapan yang jauh lebih lemah. Ia adalah seorang pembuat dalih yang lihai. Kendati demikian, TUHAN masih memiliki maksud kedaulatan bagi manusia malang ini untuk dikerjakan, sehingga Dia mengizinkannya melanjutkan perjalanannya.
Bilangan 22:36–41. Balak merasa kesal atas penolakan Bileam saat pertama kali dipanggil, yang ditanggapi Bileam dengan santai, yang pada intinya berkata, "Bukankah sekarang aku sudah ada di sini?" Pada bagian kedua dari 22:38, mungkin terdengar seolah-olah Bileam telah memetik pelajaran berharga, namun jawabannya yang tampak saleh itu sesungguhnya persis sama dengan apa yang ia katakan pada permulaan bagian ini (22:18). Ini tetaplah Bileam yang lama dan tak berubah. Persembahan korban yang diadakan (yang tentu saja tidak mengikuti hukum Kitab Imamat) menjadi persiapan bagi sabda-sabda nubuat agung yang akan menyusul kemudian.
Nubuat Pertama dan Kedua Bileam: Janji Berkat yang Tak Terbatalkan atas Israel (23:1–30)
"Lalu berkatalah Bileam kepada Balak: 'Dirikanlah bagiku di sini tujuh mezbah dan siapkanlah bagiku di sini tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan.' Balak melakukan seperti yang dikatakan Bileam, maka Balak dan Bileam mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah itu.
Sesudah itu berkatalah Bileam kepada Balak: 'Berdirilah di samping korban bakaranmu, tetapi aku ini hendak pergi; mungkin TUHAN akan datang menemui aku, dan perkataan apapun yang dinyatakan-Nya kepadaku, akan kuberitahukan kepadamu.' Lalu pergilah ia ke atas sebuah bukit yang gundul. Maka Allah menemui Bileam, lalu Bileam berkata kepada-Nya: 'Ketujuh mezbah itu telah kuatur, dan kupersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah.' Kemudian TUHAN menaruh perkataan ke dalam mulut Bileam dan berfirman: 'Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian.' Ketika ia kembali, maka Balak masih berdiri di situ di samping korban bakarannya, bersama dengan semua pemuka Moab.
Lalu Bileam mengucapkan sanjaknya, katanya: 'Dari Aram aku disuruh datang oleh Balak, raja Moab, dari gunung-gunung sebelah timur: Datanglah, katanya, kutuklah bagiku Yakub, dan datanglah, kutuklah Israel. Bagaimanakah aku menyerapah yang tidak diserapah Allah? Bagaimanakah aku mengutuk yang tidak dikutuk TUHAN? Sebab dari puncak gunung-gunung batu aku melihat mereka, dari bukit-bukit aku memandang mereka. Lihat, suatu bangsa yang diam tersendiri dan tidak mau dihitung di antara bangsa-bangsa kafir. Siapakah yang menghitung debu Yakub dan siapakah yang membilang bondongan-bondongan Israel? Sekiranya aku mati seperti matinya orang-orang jujur dan sekiranya ajalku seperti ajal mereka!'
Lalu berkatalah Balak kepada Bileam: 'Apakah yang kaulakukan kepadaku ini? Untuk menyerapah musuhkulah aku menjemput engkau, tetapi sebaliknya engkau memberkati mereka.' Tetapi ia menjawab: 'Bukankah aku harus berawas-awas, supaya mengatakan apa yang ditaruh TUHAN ke dalam mulutku?'
Lalu Balak berkata kepadanya: 'Baiklah pergi bersama-sama dengan aku ke tempat lain, dan dari sana engkau dapat melihat bangsa itu; engkau akan melihat hanya bagiannya yang paling ujung, tetapi seluruhnya tidak akan kaulihat; serapahlah mereka dari situ bagiku.' Lalu dibawanyalah dia ke Padang Pengintai, ke puncak gunung Pisga; ia mendirikan tujuh mezbah dan mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah itu.
Kemudian berkatalah ia kepada Balak: 'Berdirilah di sini di samping korban bakaranmu, sedang aku hendak bertemu dengan TUHAN di situ.' Lalu TUHAN menemui Bileam dan menaruh perkataan ke dalam mulutnya, dan berfirman: 'Kembalilah kepada Balak dan katakanlah demikian.' Ketika ia sampai kepadanya, Balak masih berdiri di samping korban bakarannya bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. Berkatalah Balak kepadanya: 'Apakah yang difirmankan TUHAN?'
Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: 'Bangunlah, hai Balak, dan dengarlah; pasanglah telingamu mendengarkan aku, ya anak Zipor. Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? Ketahuilah, aku mendapat perintah untuk memberkati, dan apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat membalikkannya. Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel. TUHAN, Allah mereka, menyertai mereka, dan sorak-sorak karena Raja ada di antara mereka. Allah, yang membawa mereka keluar dari Mesir, adalah bagi mereka seperti tanduk kekuatan lembu hutan, sebab tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel. Pada waktunya akan dikatakan kepada Yakub, begitu juga kepada Israel, keajaiban yang diperbuat Allah: Lihat, suatu bangsa, yang bangkit seperti singa betina, dan yang berdiri tegak seperti singa jantan, yang tidak membaringkan dirinya, sebelum ia memakan mangsanya dan meminum darah dari yang mati dibunuhnya.'
Lalu berkatalah Balak kepada Bileam: 'Jika sekali-kali tidak mau engkau menyerapah mereka, janganlah sekali-kali memberkatinya.' Tetapi Bileam menjawab Balak: 'Bukankah telah kukatakan kepadamu: Segala yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kulakukan?'
Kemudian berkatalah Balak kepada Bileam: 'Marilah aku akan membawa engkau ke tempat lain; mungkin benar di mata Allah bahwa engkau menyerapah mereka bagiku dari tempat itu.' Lalu Balak membawa Bileam ke puncak gunung Peor, yang menghadap Padang Belantara.
Berkatalah Bileam kepada Balak: 'Dirikanlah bagiku di sini tujuh mezbah dan siapkanlah di sini bagiku tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan.' Lalu Balak melakukan seperti yang dikatakan Bileam, maka ia mempersembahkan seekor lembu jantan dan seekor domba jantan di atas setiap mezbah itu.'"
— Bilangan 23:1–30 (TB)
Pasal 23 dan 24 menggambarkan dialog bolak-balik antara Bileam dan Raja Balak, yang kian jengkel karena kutukan yang ia yakini telah ia bayar tidak kunjung terucap. Seiring berlanjutnya dialog ini, Bileam mengucapkan tujuh nubuat: empat nubuat yang lebih panjang dan tiga yang lebih pendek. Nubuat-nubuat yang lebih panjang semuanya berkenaan dengan bangsa Israel itu sendiri dan memperlihatkan bahwa bangsa ini tidak dapat dikutuk (lihat 22:12 dan bandingkan 23:8). Tiga nubuat yang lebih pendek berkenaan dengan bangsa-bangsa atau orang-orang lain: Amalek (24:20), orang Keni (24:21–22), serta Asyur dan Eber (24:23–24, yang kemungkinan besar merupakan cikal bakal bangsa Asyur).
Bilangan 23:1–6. Bileam mendirikan tujuh mezbah dan mempersembahkan tujuh ekor lembu jantan serta tujuh ekor domba jantan di atasnya. Tak diragukan lagi, ia meyakini bahwa tindakan ini akan berkenan kepada TUHAN, dan ia bahkan menggunakan istilah yang tepat ("korban bakaran") saat melakukannya. Akan tetapi, "Allah" dan bukan "TUHAN" yang menemui Bileam, dan ketika Bileam berkata, 'lihatlah apa yang telah kuperbuat' (23:4), TUHAN tidak memberikan respons lain selain menyampaikan pesan-Nya kepada Bileam. Persembahan-persembahan ini bukanlah aroma yang menyenangkan bagi TUHAN (bandingkan 15:3). Dengan membaca bagian-bagian selanjutnya, kita mungkin perlu memandang persembahan korban Bileam ini sebagai bentuk praktik keagamaan yang takhayul, sebab kelak dalam narasi ini kita membaca bahwa ia akhirnya berhenti mencari "pertanda-pertanda" (omens / tenungan) (24:1).
Bilangan 23:7–10. Masing-masing dari ketujuh nubuat ini ditandai dengan frasa yang sama: "mengucapkan sanjaknya" (took up his discourse). Nubuat pertama merupakan sebuah karya puisi yang indah yang tersusun atas tujuh kuplet (dua kuplet dalam 23:7, satu dalam 23:8, serta masing-masing dua dalam 23:9 dan 23:10). Setiap kuplet merupakan bentuk paralelisme yang mengulangi (dalam pilihan kata yang sedikit berbeda) pokok yang telah dinyatakan pada baris pertama. Tema menyeluruh dari nubuat pertama ini adalah bahwa "Israel tidak dapat dikutuk." Bileam melihat bahwa Israel yang diberkati ini berbeda dari setiap bangsa lain (23:9), suatu bangsa yang telah diberkati TUHAN sehingga berlipat ganda dalam jumlah yang sangat besar (23:10). Betapa Bileam mendambakan untuk menjadi salah satu dari mereka (23:10) dan mati seperti mereka—sebuah keinginan yang tidak akan pernah terwujud, sebab sebaliknya ia kelak akan mati di tangan mereka (31:8).
Bilangan 23:11–17. Balak, sebagaimana dapat diduga, menjadi sangat murka terlepas dari pembelaan Bileam, dan ia mengajak Bileam untuk mencoba sekali lagi—suatu prosedur standar dalam berurusan dengan ilah-ilah palsu ketika seseorang tidak memperoleh jawaban yang semula ia inginkan. Balak berkeyakinan bahwa mungkin jumlah orang Israel yang sangat banyak telah membuat Bileam gentar dan kewalahan (karena itu lihat 23:10), sehingga ia memilih lokasi baru yang akan menutupi sebagian dari mereka dari pandangan (23:13). Atas dasar inilah ia berharap suatu kutukan dapat dijatuhkan. Sekali lagi TUHAN memberikan suatu nubuat kepada Bileam, namun sekali lagi pula, nubuat tersebut sama sekali bukanlah apa yang diharapkan oleh Balak.
Bilangan 23:18–24. Nubuat kedua, sama seperti nubuat pertama, merupakan syair puisi yang indah yang tersusun atas kuplet-kuplet; kali ini terdapat sembilan kuplet, dan sebagian besar—meskipun tidak seluruhnya—berbentuk paralelisme. Tema utama dari nubuat kedua ini dapat dirumuskan sebagai: "TUHAN berjanji untuk tetap menyertai Israel dan memberi mereka kemenangan." Dia tidak akan pernah berubah pikiran! Janji semacam ini perlu dipahami dalam terang narasi Kitab Bilangan secara keseluruhan, di mana umat telah berulang kali membuktikan ketidaksetiaan mereka; kendati demikian Allah tetap setia. Perhatikan dalam 23:21 bahwa cara pihak luar memandang Israel (tanpa "kepincangan" atau "kesukaran" [TB] / "kemalangan" atau "kesusahan" [misfortune / trouble]) tidaklah sama dengan sudut pandang internal yang disajikan di sepanjang Kitab Bilangan. Segala sungut-sungut dan dosa yang telah terjadi tidak boleh mengubah pandangan pihak luar mengenai berkat TUHAN atas umat-Nya.
Bahasa kemenangan di sini diungkapkan melalui metafora binatang—tanduk kekuatan seekor lembu hutan dalam 23:22 dan kemenangan mutlak yang digambarkan melalui perumpamaan singa (23:24).
Bilangan 23:25–30. Balak bahkan lebih suka sekiranya Bileam tidak berkata apa-apa sama sekali! Namun ia belum siap untuk menyerah begitu saja, sehingga ia memikirkan tempat ketiga dengan harapan Allah mungkin akan berubah pikiran. Ia sungguh-sungguh sama sekali tidak mengenal dan memahami siapa TUHAN itu.
Nubuat Ketiga dan Keempat Bileam: Bintang yang Terbit dari Yakub (24:1–25)
"Ketika dilihat Bileam, bahwa baik di mata TUHAN untuk memberkati Israel, ia tidak mencarikan pertanda lagi seperti yang sudah-sudah, tetapi ia menghadapkan mukanya ke arah padang gurun. Ketika Bileam memandang ke depan dan melihat orang Israel berkemah menurut suku mereka, maka Roh Allah menghinggapi dia.
Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: 'Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya; tutur kata orang yang mendengar firman Allah, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa sambil rebah, namun dengan mata tersingkap. Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel! Sebagai lembah yang membentang semuanya; sebagai taman di tepi sungai; sebagai pohon gaharu yang ditanam TUHAN; sebagai pohon aras di tepi air. Air mengalir dari timbanya, dan benihnya mendapat air banyak-banyak. Rajanya akan naik tinggi melebihi Agag, dan kerajaannya akan dimuliakan. Allah, yang membawa mereka keluar dari Mesir, adalah bagi mereka seperti tanduk kekuatan lembu hutan. Bangsa-bangsa yang menjadi lawannya akan ditelannya habis, dan tulang-tulang mereka akan dihancurkannya dan akan ditembaknya tembus dengan panah-panahnya. Ia meniarap dan merebahkan diri sebagai singa jantan, dan sebagai singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Diberkatilah orang yang memberkati engkau, dan terkutuklah orang yang mengutuk engkau!'
Lalu bangkitlah amarah Balak terhadap Bileam dan dengan meremas-remas jarinya berkatalah ia kepada Bileam: 'Untuk menyerapah musuhku aku memanggil engkau, tetapi sebaliknya sampai tiga kali engkau memberkati mereka. Oleh sebab itu, enyahlah engkau ke tempat kediamanmu; aku telah berkata kepadamu aku telah bermaksud memberi banyak upah kepadamu, tetapi TUHAN telah mencegah engkau memperolehnya.' Tetapi berkatalah Bileam kepada Balak: 'Bukankah telah kukatakan juga kepada utusan-utusan yang kaukirim kepadaku: Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup melanggar titah TUHAN dengan berbuat baik atau jahat atas kemauanku sendiri; apa yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan. Dan sekarang, aku ini sudah hendak pergi kepada bangsaku; marilah kuberitahukan kepadamu apa yang akan dilakukan bangsa itu kepada bangsamu di kemudian hari.'
Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: 'Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya; tutur kata orang yang mendengar firman Allah, dan yang beroleh pengenalan akan Yang Mahatinggi, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa, sambil rebah, namun dengan mata tersingkap. Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set. Maka Edom akan menjadi tanah pendudukan dan Seir akan menjadi tanah pendudukan—musuh-musuhnya itu. Tetapi Israel akan melakukan perbuatan-perbuatan yang gagah perkasa, dan dari Yakub akan timbul seorang penguasa, yang akan membinasakan orang-orang yang melarikan diri dari kota.'
Ketika ia melihat orang Amalek, diucapkannyalah sanjaknya, katanya: 'Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan.'
Ketika ia melihat orang Keni, diucapkannyalah sanjaknya, katanya: 'Kokoh tempat kediamanmu, tertaruh di atas bukit batu sarangmu, namun orang Keni akan hapus; berapa lama lagi maka Asyur akan menawan engkau?'
Diucapkannyalah juga sanjaknya, katanya: 'Celaka! Siapakah yang akan hidup, apabila Allah melakukan hal itu? Tetapi kapal-kapal akan datang dari pantai orang Kitim, mereka akan menindas Asyur dan menindas Heber, lalu iapun juga akan sampai kepada kebinasaan.'
Lalu bersiaplah Bileam dan pulang ke tempat kediamannya; dan Balakpun pergilah juga.'"
— Bilangan 24:1–25 (TB)
Bilangan 24:1–2. Setiap nubuat membawa pemahaman kita mengenai bangsa Israel selangkah lebih mendalam. Kali ini Bileam berbicara ketika "Roh Allah" menghinggapinya. Kita tidak boleh mengira bahwa hal ini mencerminkan kebangunan rohani dalam hatinya (demikian pula dengan keputusannya untuk tidak lagi mencari pertanda atau tenungan). Sebaliknya, teks ini menegaskan bahwa sekalipun Bileam berkarakter kafir, perkataan yang disampaikannya sungguh-sungguh merupakan firman dari TUHAN.
Bilangan 24:3–9. Nubuat ketiga dari seorang yang kini melihat dengan jelas (24:3–4, bandingkan 22:32) menunjukkan secara tepat apa arti berkat Allah atas Israel. Bangsa ini digambarkan indah (24:5), berlimpah ruah (24:6–7), dan menang dalam pertempuran (24:8–9). Semua ini menggemakan kembali janji-janji kepada Abraham (Kej. 12:1–3). Kelimpahan dalam 24:6–7 digambarkan melalui empat metafora agrikultur dalam 24:6 yang memadukan keindahan sekaligus kesuburan dan keberbuahan. Penyediaan air dalam 24:7 merupakan tema kunci di sepanjang kitab ini (lihat, misalnya, penjelasan mengenai 21:10–20). Sosok Agag memang tidak kita ketahui dengan pasti (24:7), tetapi ia jelas sangat dikenal oleh para pendengar sezaman pada masa itu. Bilangan 24:8–9 mengulangi kembali sebagian ungkapan dari nubuat kedua, tetapi dengan daya penekanan yang jauh lebih kuat. Balak semestinya mengerti dengan sangat jelas—ia tidak akan mampu bertahan melawan umat yang telah diberkati ini.
Bilangan 24:10–14. Balak kini sangat murka (meremas-remas jarinya merupakan tanda kekecewaan dan frustrasinya). Ia menuntut agar Bileam segera pergi, dan ia harus pergi tanpa memperoleh kekayaan yang telah dijanjikan; bagaimanapun juga, Bileam telah gagal mendatangkan kutukan yang dibutuhkan Balak. Bileam bersikap tenang dan tak acuh terhadap situasi tersebut, sambil memperingatkan Balak bahwa ia hanya melakukan apa yang telah ia katakan sejak awal akan ia lakukan, dan terlebih lagi masih ada hal lain yang akan datang! Kini fokus beralih pada apa yang akan terjadi di masa depan.
Bilangan 24:15–19. Nubuat keempat Bileam kini memandang jauh ke masa depan. Nubuat ini diawali dengan cara yang sama seperti nubuat sebelumnya, tetapi kini Bileam melihat sosok pria misterius di masa depan (24:17) yang akan mengalahkan Edom dan Seir (Edom adalah nama bangsanya, Seir adalah negeri yang mereka diami, lihat Kej. 32:3). Sosok misterius ini akan memerintah atas kerajaan yang besar (24:19). Siapakah sosok misterius ini? Bagian pertama dari 24:17 menggambarkan siapa dirinya (bintang dan tongkat kerajaan); bagian kedua menjelaskan apa yang akan ia lakukan (meremukkan musuh-musuhnya). Ini bisa merujuk pada seorang tokoh individu yang memerintah bangsa tersebut, atau representasi dari Israel sebagai suatu bangsa; bagaimana pun, sulit untuk tidak melihat kerajaan Daud sebagai penggenapan sebagian (partial fulfillment) dan, tentu saja, Yesus Kristus sebagai penggenapan purna yang tertinggi (ultimate depiction).
Bilangan 24:20. Sudut pandang kini bergeser, seolah-olah Bileam melayangkan pandangannya ke sekeliling dan melihat bangsa-bangsa lain dari ketinggian tempatnya berdiri, lalu mengomentari bangsa-bangsa itu dari perspektif yang tinggi tersebut dalam tiga nubuat terakhir. Orang Amalek sebelumnya telah berperang melawan orang Israel (Kel. 17:8–13); karena alasan inilah mereka dianggap sebagai "yang pertama"—yaitu bangsa pertama yang menentang orang Israel ketika mereka keluar dari tanah Mesir. Mereka adalah musuh bebuyutan Israel yang sudah ada sejak lama, dan masih tetap ada hingga zaman Raja Hizkia (1Taw. 4:42–43).
Bilangan 24:21–22. Kita hanya mengetahui sedikit hal mengenai orang Keni atau kota kediaman mereka (Kain), namun mereka pun akan dikalahkan, meskipun bukan oleh Israel; melainkan Asyur yang akan menaklukkan mereka.
Bilangan 24:23–24. Dalam nubuat ketujuh kita melihat bahwa para penakluk itu sendiri pada akhirnya akan ditaklukkan. Apakah Asyur merupakan nama kuno bagi bangsa Asiria ataukah merujuk pada tempat yang sama sekali berbeda (keduanya memungkinkan), mereka sendiri akan dikalahkan oleh kapal-kapal yang datang dari Kitim (Kreta). Allah sendiri yang akan memastikan kebinasaan mutlak atas semua orang yang bangkit menentang-Nya.
Bilangan 24:25. Ayat ini tampak seperti akhir dari kisah Bileam, tetapi seiring bergulirnya pasal berikutnya, kita perlu mengingat bahwa kejahatan yang terjadi di kemudian hari sesungguhnya merupakan rancangan Bileam (31:16). Ia tidak mau melepaskan upahnya begitu saja, dan itulah sebabnya Perjanjian Baru menampilkan dirinya sebagai teladan buruk dari ketamakan.
Dosa Penyembahan Baal-Peor, Murka TUHAN, dan Perjanjian Damai Abadi bagi Pinehas (25:1–18)
"Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu. Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel; lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Tangkaplah semua orang yang mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka di hadapan TUHAN di tempat terang, supaya murka TUHAN yang bernyala-nyala itu surut dari pada Israel.' Lalu berkatalah Musa kepada hakim-hakim Israel: 'Baiklah masing-masing kamu membunuh orang-orangnya yang telah berpasangan dengan Baal-Peor.'
Kebetulan datanglah salah seorang Israel membawa seorang perempuan Midian kepada sanak saudaranya dengan dilihat Musa dan segenap umat Israel yang sedang bertangis-tangisan di depan pintu Kemah Pertemuan. Ketika hal itu dilihat oleh Pinehas, anak Eleazar, anak imam Harun, bangunlah ia dari tengah-tengah umat itu dan mengambil sebuah tombak di tangannya, mengejar orang Israel itu sampai ke ruang tengah, dan menikam mereka berdua, yakni orang Israel dan perempuan itu, pada perutnya. Maka berhentilah tulah itu menimpa orang Israel. Orang yang mati karena tulah itu ada dua puluh empat ribu orang banyaknya.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Pinehas, anak Eleazar, anak imam Harun, telah menyurutkan murka-Ku dari pada orang Israel, oleh karena ia begitu giat membela kehormatan-Ku di tengah-tengah mereka, sehingga tidaklah Kuhabisi orang Israel dalam cemburu-Ku. Sebab itu katakanlah: Sesungguhnya Aku berikan kepadanya perjanjian keselamatan yang dari pada-Ku untuk menjadi perjanjian mengenai keimaman selama-lamanya bagi dia dan bagi keturunannya, karena ia telah begitu giat membela Allahnya dan telah mengadakan pendamaian bagi orang Israel.'
Nama orang Israel yang mati terbunuh bersama-sama dengan perempuan Midian itu ialah Zimri bin Salu, pemimpin salah satu puak orang Simeon, dan nama perempuan Midian yang mati terbunuh itu ialah Kozbi binti Zur; Zur itu adalah seorang kepala kaum—yaitu puak—di Midian.
Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Lawanlah orang Midian itu, dan tewaskanlah mereka, sebab mereka telah melawan kamu dengan daya upaya yang dirancang mereka terhadap kamu dalam hal Peor dan dalam hal Kozbi, saudara mereka, yakni anak perempuan seorang pemimpin Midian; Kozbi itu mati terbunuh pada waktu turunnya tulah karena Peor itu.'"
— Bilangan 25:1–18 (TB)
Pasal 25 merupakan sebuah kisah yang menyedihkan yang membawa kita ke titik terendah dari narasi pengembaraan bangsa Israel di padang gurun. Memang benar, mereka telah berulang kali memberontak hingga saat ini, menolak baik pemeliharaan maupun janji TUHAN. Namun demikian, mereka belum pernah berpaling kepada ilah-ilah lain secara langsung (melanggar hukum pertama dari Sepuluh Firman). Hal tersebut justru mereka lakukan sekarang, terpikat oleh agama palsu orang-orang Moab dan Midian. Hanya tindakan tanggap dan berani dari Pinehas, cucu Harun, yang menghentikan penghakiman TUHAN agar tidak memusnahkan segenap bangsa itu. Inilah bagian terakhir yang mencatat mengenai generasi pertama yang mati di padang gurun.
Bilangan 25:1–5. "Berzinah" (atau bertindak tidak setia) merupakan istilah Alkitab yang diterapkan pada pelacuran rohani maupun jasmani. Sering kali kedua makna tersebut relevan secara bersamaan, sebagaimana yang terjadi di sini. Ritual-ritual bangsa Kanaan melibatkan hubungan seksual (lihat 25:1, 6) dan makanan persembahan (25:2). "Perempuan-perempuan Moab" ini kelak akan muncul kembali dalam Bilangan 31. "Allah / ilah-ilah" (25:2) yang disembah oleh Israel digambarkan sebagai "Baal-Peor" (lokasi yang sama yang sebelumnya dikunjungi oleh Bileam dalam 23:28). Nama Baal disebutkan lebih dari 100 kali di dalam Perjanjian Lama, tetapi ini adalah kemunculan yang pertama. Nama ini mungkin merupakan sebutan umum bagi ilah-ilah Timur Tengah Kuno; tidak ada kepastian bahwa ilah ini adalah Baal yang sama seperti dalam kisah 1 Raja-raja 18, misalnya. Perintah pertama (Kel. 20:3) dilanggar untuk pertama kalinya, dan bangsa itu mendatangkan murka Allah atas diri mereka. Meskipun demikian, masih ada pengharapan, dan Musa diinstruksikan untuk menghukum mati para pemimpin yang telah menyesatkan bangsa itu (25:4). Bilangan 25:5 tidak perlu dianggap bertentangan dengan ketetapan ini, sebab para hakim (lihat Kel. 18:24–27) bertindak mengawasi dan melaksanakan proses peradilan tersebut.
Bilangan 25:6–9. Bahkan ketika vonis hukuman sedang dijatuhkan, seorang laki-laki Israel membawa seorang perempuan Midian kepada "sanak saudaranya". Bilangan 25:8 memperjelas bahwa ini adalah bahasa kiasan halus untuk menggambarkan tindakannya membawa perempuan itu untuk berzina dengannya. Ini merupakan dosa pembangkangan yang disengaja, yang dilakukan secara terang-terangan di depan mata seluruh bangsa sementara umat sedang menangis meratapi keadaan mereka di depan Kemah Pertemuan. Sebagaimana telah kita lihat sebelumnya, tidak ada belas kasihan bagi pembangkangan yang sedemikian lancang (15:32–36). Pinehas, anak dari imam Eleazar, melihat apa yang terjadi dan bertindak dengan penuh kebenaran. Ia melangkah masuk ke dalam ruang dalam kemah mereka dan menikam keduanya tembus dengan tombaknya (indikasi kuatnya adalah ia melakukannya saat mereka berdua sedang berzina). Tindakannya ini mengadakan pendamaian (atonement, lihat 25:13). Apakah tulah yang berhasil dihentikan ini? Tulah tersebut adalah penghakiman terhadap bangsa itu yang telah TUHAN mulai karena ketetapan hukuman dalam 25:4–5 belum sempat dilaksanakan sepenuhnya. Sebanyak 24.000 orang tewas. Rasul Paulus mencatat jumlah korban tewas sebanyak 23.000 orang dalam 1 Korintus 10:8, sebuah perbedaan angka yang cukup sulit dijelaskan; akan tetapi, fokus Paulus bukanlah pada perincian teknis angka tersebut, melainkan pada pelajaran yang harus dipetik: "Janganlah kita melakukan percabulan."
Bilangan 25:10–18. Pinehas telah memperlihatkan jenis kecemburuan kudus yang benar (tokoh terakhir yang memperlihatkan kecemburuan dalam Kitab Bilangan adalah Yosua, lihat catatan pada 11:28–29). Tindakannya telah menyurutkan murka Allah (25:11) dan mengadakan pendamaian (25:13) karena adanya penumpahan darah (Ibr. 9:22). Sebagai hasilnya, TUHAN mengikat perjanjian dengan Pinehas dan garis keturunannya. Apakah perjanjian ini? Perjanjian ini tidak mungkin sekadar penegasan ulang perjanjian imamat (lihat 18:19), karena garis keimaman tidak berjalan secara eksklusif hanya melalui dirinya (lihat 1Taw. 24:1–2). Kemungkinan besar, berkat yang dimaksudkan di sini adalah perkataan berkat pribadi atas tindakan imannya yang luar biasa ini, yang darinya seluruh keturunan imamnya akan beroleh faedah. Narator kini menyingkapkan betapa seriusnya dosa tersebut, sebab baik sang laki-laki (Zimri) maupun sang perempuan (Kozbi) merupakan anak-anak dari para pemimpin terkemuka. Peristiwa ini menjelaskan murka Allah yang kelak akan dicurahkan ke atas orang-orang Midian (25:16–18), sebuah ketetapan penghakiman yang akan digenapi dalam Bilangan 31.
Demikianlah berakhir kisah generasi pertama bangsa Israel. Selain Yosua dan Kaleb (serta Musa yang juga akan segera wafat), ini adalah bagian terakhir yang mencatat mengenai generasi tersebut. Sekarang adalah saatnya untuk menyimak kisah anak-anak mereka—suatu generasi yang benar-benar baru, yang tidak mengulangi dosa-dosa orang tua mereka.
II. Kisah Generasi Kedua: Hidup di Tanah Perjanjian (26:1–36:13)
Sensus Kedua Generasi Baru di Dataran Moab Menjelang Penyeberangan Yordan (26:1–65)
"Sesudah tulah itu berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan kepada Eleazar, anak imam Harun: 'Hitunglah jumlah segenap umat Israel, yang berumur dua puluh tahun ke atas menurut suku mereka, semua orang yang sanggup berperang di antara orang Israel.' Lalu berkatalah Musa dan imam Eleazar kepada mereka di dataran Moab, di tepi sungai Yordan dekat Yerikho: 'Hitunglah jumlah semua orang yang berumur dua puluh tahun ke atas!' —seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Inilah orang Israel yang telah keluar dari tanah Mesir:
Ruben ialah anak sulung Israel; bani Ruben ialah: dari Henokh kaum orang Henokh; dari Palu kaum orang Palu; dari Hezron kaum orang Hezron dan dari Karmi kaum orang Karmi. Itulah kaum-kaum orang Ruben, dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah empat puluh tiga ribu tujuh ratus tiga puluh orang. Adapun anak Palu ialah Eliab, dan anak-anak Eliab ialah Nemuel, Datan dan Abiram. Datan dan Abiram, orang-orang yang dipilih oleh umat itu, ialah orang-orang yang telah membantah Musa dan Harun dalam kumpulan Korah, ketika mereka membantah TUHAN, tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan. Tetapi anak-anak Korah tidaklah mati.
Bani Simeon, menurut kaum mereka, ialah: dari Nemuel kaum orang Nemuel; dari Yamin kaum orang Yamin; dari Yakhin kaum orang Yakhin; dari Zerah kaum orang Zerah dan dari Saul kaum orang Saul. Itulah kaum-kaum orang Simeon, dua puluh dua ribu dua ratus orang banyaknya.
Bani Gad, menurut kaum mereka, ialah: dari Zefon kaum orang Zefon; dari Hagi kaum orang Hagi; dari Syuni kaum orang Syuni; dari Ozni kaum orang Ozni; dari Eri kaum orang Eri; dari Arod kaum orang Arod dan dari Areli kaum orang Areli. Itulah kaum-kaum bani Gad, dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah empat puluh ribu lima ratus orang.
Anak-anak Yehuda ialah: Er dan Onan; tetapi Er dan Onan itu mati di tanah Kanaan. Bani Yehuda, menurut kaum mereka, ialah: dari Syela kaum orang Syela; dari Peres kaum orang Peres dan dari Zerah kaum orang Zerah. Bani Peres ialah: dari Hezron kaum orang Hezron dan dari Hamul kaum orang Hamul. Itulah kaum-kaum Yehuda, dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah tujuh puluh enam ribu lima ratus orang.
Bani Isakhar, menurut kaum mereka, ialah: dari Tola kaum orang Tola; dari Pua kaum orang Pua; dari Yasub kaum orang Yasub dan dari Simron kaum orang Simron. Itulah kaum-kaum Isakhar, dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah enam puluh empat ribu tiga ratus orang.
Bani Zebulon, menurut kaum mereka, ialah: dari Sered kaum orang Sered; dari Elon kaum orang Elon dan dari Yahleel kaum orang Yahleel. Itulah kaum-kaum orang Zebulon, dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah enam puluh ribu lima ratus orang.
Keturunan Yusuf, menurut kaum mereka, ialah orang Manasye dan orang Efraim. Bani Manasye ialah: dari Makhir kaum orang Makhir; dan Makhir beranakkan Gilead; dari Gilead kaum orang Gilead. Inilah bani Gilead: dari Iezer kaum orang Iezer; dari Helek kaum orang Helek; dari Asriel kaum orang Asriel; dari Sekhem kaum orang Sekhem; dari Semida kaum orang Semida dan dari Hefer kaum orang Hefer. Adapun Zelafehad bin Hefer tidak mempunyai anak laki-laki, tetapi anak perempuan saja, dan nama anak-anak perempuan Zelafehad ialah Mahla, Noa, Hogla, Milka dan Tirza. Itulah kaum-kaum Manasye, dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah lima puluh dua ribu tujuh ratus orang.
Inilah bani Efraim, menurut kaum mereka: dari Sutelah kaum orang Sutelah; dari Bekher kaum orang Bekher dan dari Tahan kaum orang Tahan. Dan inilah bani Sutelah: dari Eran kaum orang Eran. Itulah kaum-kaum bani Efraim, dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah tiga puluh dua ribu lima ratus orang banyaknya. Itulah bani Yusuf menurut kaum mereka.
Bani Benyamin, menurut kaum mereka, ialah: dari Bela kaum orang Bela; dari Asybel kaum orang Asybel; dari Ahiram kaum orang Ahiram; dari Sefufam kaum orang Sefufam dan dari Hufam kaum orang Hufam. Dan anak-anak Bela ialah Ared dan Naaman; dari Ared kaum orang Ared dan dari Naaman kaum orang Naaman. Itulah bani Benyamin menurut kaum mereka, dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah empat puluh lima ribu enam ratus orang.
Inilah bani Dan, menurut kaum mereka: dari Suham kaum orang Suham. Itulah kaum-kaum Dan menurut kaum mereka. Segala kaum orang Suham, orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah enam puluh empat ribu empat ratus orang.
Bani Asyer, menurut kaum mereka, ialah: dari Yimna kaum orang Yimna; dari Yiswi kaum orang Yiswi dan dari Beria kaum orang Beria. Mengenai bani Beria: dari Heber kaum orang Heber dan dari Malkiel kaum orang Malkiel. Dan nama anak perempuan Asyer ialah Serah. Itulah kaum-kaum bani Asyer, dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah lima puluh tiga ribu empat ratus orang.
Bani Naftali, menurut kaum mereka, ialah: dari Yahzeel kaum orang Yahzeel; dari Guni kaum orang Guni; dari Yezer kaum orang Yezer dan dari Syilem kaum orang Syilem. Itulah kaum-kaum Naftali menurut kaum mereka, dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah empat puluh lima ribu empat ratus orang.
Itulah orang-orang yang dicatat dari orang Israel, enam ratus satu ribu tujuh ratus tiga puluh orang banyaknya.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Kepada suku-suku itulah harus dibagikan tanah itu menjadi milik pusaka menurut nama-nama yang dicatat; kepada yang besar jumlahnya haruslah engkau memberikan milik pusaka yang besar dan kepada yang kecil jumlahnya haruslah engkau memberikan milik pusaka yang kecil; kepada setiap suku sesuai dengan jumlah orang-orangnya yang dicatat haruslah diberikan milik pusaka. Tetapi tanah itu harus dibagikan dengan membuang undi; menurut nama suku-suku nenek moyang mereka haruslah mereka mendapat milik pusaka; seperti yang ditunjukkan undian haruslah dibagikan milik pusaka setiap suku, di antara yang besar dan yang kecil jumlahnya.'
Inilah orang-orang yang dicatat dari orang Lewi, menurut kaum mereka: dari Gerson kaum orang Gerson; dari Kehat kaum orang Kehat dan dari Merari kaum orang Merari. Inilah kaum-kaum Lewi: kaum orang Libni, kaum orang Hebron, kaum orang Mahli, kaum orang Musi dan kaum orang Korah. Adapun Kehat beranakkan Amram. Dan nama isteri Amram ialah Yokhebed, anak perempuan Lewi, yang dilahirkan bagi Lewi di Mesir; dan bagi Amram perempuan itu melahirkan Harun dan Musa dan Miryam, saudara mereka yang perempuan. Pada Harun lahir Nadab dan Abihu, Eleazar dan Itamar. Tetapi Nadab dan Abihu mati, ketika mereka mempersembahkan persembahan api yang asing ke hadapan TUHAN. Dan orang-orang yang dicatat dari mereka berjumlah dua puluh tiga ribu orang, semuanya laki-laki, yang berumur satu bulan ke atas, sebab mereka tidak dicatat bersama-sama dengan orang Israel, karena mereka tidak diberikan milik pusaka di tengah-tengah orang Israel.
Itulah orang-orang yang dicatat oleh Musa dan imam Eleazar, ketika keduanya mencatat orang-orang Israel di dataran Moab di tepi sungai Yordan dekat Yerikho. Di antara mereka tidak ada terdapat seorangpun yang dicatat Musa dan imam Harun, ketika keduanya mencatat orang Israel di padang gurun Sinai, sebab TUHAN telah berfirman tentang mereka: 'Pastilah mereka mati di padang gurun.' Dari mereka itu tidak ada seorangpun yang masih tinggal hidup selain dari Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun.'"
— Bilangan 26:1–65 (TB)
Kisah mengenai generasi kedua yang dituturkan dalam Bilangan 26–36 sesungguhnya tidak membawa mereka berpindah lebih dekat secara geografis ke Tanah Perjanjian (hal itu baru akan terlaksana dalam Yosua 3). Kendati demikian, kisah ini membawa mereka lebih dekat secara rohani dan memberikan gambaran antisipatif mengenai seperti apa wujud kehidupan di Tanah Perjanjian kelak. Hanya ada satu peristiwa negatif di sepanjang bagian ini (sangat kontras dengan narasi pada 25 pasal sebelumnya), yaitu ketika dua setengah suku memutuskan untuk tidak menyeberang dan menetap di luar Tanah Perjanjian (Bil. 32). Di luar kelompok minoritas yang membangkang tersebut, seluruh pertanda yang ada bernilai positif. Ketidakpercayaan dari generasi terdahulu kini digantikan oleh keteguhan iman dari anak-anak mereka.
Pasal 26 mencatat sensus kedua dari dua sensus yang diadakan di padang gurun. Pasal ini merupakan paralel langsung dari pasal 1. Dengan satu pengecualian (urutan separuh suku Yusuf dipertukarkan posisinya, lihat catatan di bawah), suku-suku tersebut didaftarkan dalam urutan yang sama persis. Seluruh generasi sebelumnya telah tewas rebah di padang gurun, tepat sebagaimana yang telah difirmankan oleh TUHAN (14:29–30). Terlepas dari satu atau dua catatan redaksional, strukturnya mengikuti pola yang sama dengan Bilangan 1.
Bilangan 26:1–4. Perhatikan bagaimana hakikat dari tugas yang diberikan kepada umat itu tidak berubah sejak pasal 1: ini tetap merupakan sensus militer untuk menghitung laskar perang.
Bilangan 26:5–11. Suku Ruben disertai dengan sebuah catatan penjelasan mengenai dosa Datan dan Abiram (Bil. 16).
Bilangan 26:28–37. Kedua separuh suku Manasye dan Efraim posisinya dibalik dalam sensus kedua ini (bandingkan dengan 1:32–35). Terdapat dua alasan untuk hal ini: pertama, kelima anak perempuan Zelafehad diperkenalkan di sini (Mahla, Noa, Hogla, Milka, dan Tirza, 26:33). Tokoh-tokoh perempuan ini dapat dikatakan sebagai karakter yang paling signifikan di paruh kedua Kitab Bilangan, bahkan mungkin di seluruh kitab ini. Nama-nama mereka dicatat sebanyak tiga kali (juga dalam 27:1; 36:10). Karena mereka berasal dari suku Manasye, maka suku tersebut disebutkan terlebih dahulu. Kedua, dalam pengertian angka murni, jumlah suku Manasye telah bertumbuh sebesar 64% sejak sensus pertama, sementara suku Efraim telah menyusut sebesar 20%.
Bilangan 26:51. Jumlah total keseluruhan praktis hampir tidak berubah dari sensus pertama, sebuah indikasi anugerah yang sungguh luar biasa mengingat besarnya dosa yang merajalela sebelumnya. Lima suku mengalami penyusutan jumlah (Ruben -6%, Gad -11%, Simeon -63%, Efraim -20%, dan Naftali -15%). Tujuh suku mengalami pertambahan (Yehuda +3%, Isakhar +18%, Zebulon +5%, Manasye +64%, Benyamin +29%, Dan +3%, Asyer +29%). Penyebab dari perubahan-perubahan ini mustahil dianalisis secara pasti selain dari fakta bahwa kita tidak perlu terkejut jika penghakiman tertentu menimpa sebagian suku lebih berat daripada yang lain, terutama karena tulah, misalnya, "berasal dari" Kemah Suci (16:46) sehingga sering kali berdampak paling parah pada suku-suku yang berkemah paling dekat dengannya.
Bilangan 26:52–56. Sensus militer ini juga digunakan sebagai dasar untuk membagi-bagikan tanah pusaka (suatu fungsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada sensus pertama). Pembagian tanah ini dilaksanakan melalui dua cara: berdasarkan besarnya ukuran suku (26:52–54) dan melalui pengundian (26:55). Bagaimana kedua proses ini berjalan bersama-sama tidak dijelaskan secara rinci di sini, kendati pendekatan yang memadukan ukuran populasi dan pembuangan undi akan menghasilkan pembagian yang adil sekaligus proporsional. Perhatikan bagaimana kata milik pusaka muncul sebanyak enam kali hanya dalam rentang lima ayat ini. TUHAN sendirilah yang mengaruniakan tanah tersebut kepada umat-Nya.
Bilangan 26:57–62. Kaum Lewi kini dihitung dalam perikop yang paralel dengan 3:14–39. Sama seperti sensus militer, terjadi sangat sedikit perubahan pada jumlah total mereka (23.000 orang dalam 26:62 dibandingkan dengan 22.000 orang dalam 3:39).
Bilangan 26:63–65. Sebuah catatan penutup menegaskan kembali bahwa ini adalah generasi yang sepenuhnya baru. Mengingat penempatan komentar ini tepat setelah penghitungan orang Lewi, dapat diasumsikan bahwa orang-orang Lewi generasi pertama pun turut tewas di padang gurun, sekalipun Kitab Bilangan tidak pernah menyatakannya secara eksplisit.
Hak Waris Anak-Anak Perempuan Zelafehad dan Penunjukan Yosua sebagai Penerus Musa (27:1–23)
"Kemudian mendekatlah anak-anak perempuan Zelafehad bin Hefer bin Gilead bin Makhir bin Manasye dari kaum Manasye bin Yusuf—nama anak-anaknya itu adalah: Mahla, Noa, Hogla, Milka dan Tirza—dan berdiri di depan Musa dan imam Eleazar, dan di depan para pemimpin dan segenap umat itu dekat pintu Kemah Pertemuan, serta berkata: 'Ayah kami telah mati di padang gurun, walaupun ia tidak termasuk ke dalam kumpulan yang bersepakat melawan TUHAN, ke dalam kumpulan Korah, tetapi ia telah mati karena dosanya sendiri, dan ia tidak mempunyai anak laki-laki. Mengapa nama ayah kami harus hapus dari tengah-tengah kaumnya, oleh karena ia tidak mempunyai anak laki-laki? Berilah kami tanah milik di antara saudara-saudara ayah kami.'
Lalu Musa menyampaikan perkara mereka itu ke hadapan TUHAN. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu benar; memang engkau harus memberikan tanah milik pusaka kepadanya di tengah-tengah saudara-saudara ayahnya; engkau harus memindahkan kepadanya hak atas milik pusaka ayahnya. Dan kepada orang Israel engkau harus berkata: Apabila seseorang mati dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka haruslah kamu memindahkan hak atas milik pusakanya kepada anaknya yang perempuan. Apabila ia tidak mempunyai anak perempuan, maka haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada saudara-saudaranya yang laki-laki. Dan apabila ia tidak mempunyai saudara-saudara lelaki, maka haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada saudara-saudara lelaki ayahnya. Dan apabila ayahnya tidak mempunyai saudara-saudara lelaki, maka haruslah kamu memberikan milik pusakanya itu kepada kerabatnya yang terdekat dari antara kaumnya, supaya dimilikinya.' Itulah yang harus menjadi ketetapan hukum bagi orang Israel, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Naiklah ke gunung Abarim ini, dan pandanglah negeri yang Kuberikan kepada orang Israel. Sesudah engkau memandangnya, maka engkaupun juga akan dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, abangmu, dahulu. Karena pada waktu pembantahan umat itu di padang gurun Zin, kamu berdua telah memberontak terhadap titah-Ku untuk menyatakan kekudusan-Ku di depan mata mereka dengan air itu.' Itulah mata air Meriba dekat Kadesh di padang gurun Zin.
Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: 'Biarlah TUHAN, Allah dari roh segala makhluk, mengangkat atas umat ini seorang yang mengepalai mereka waktu keluar dan masuk, dan membawa mereka keluar dan masuk, supaya umat TUHAN jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala.'
Lalu TUHAN berfirman kepada Musa: 'Ambillah Yosua bin Nun, seorang yang penuh roh, letakkanlah tanganmu atasnya, suruhlah ia berdiri di depan imam Eleazar dan di depan segenap umat, lalu berikanlah kepadanya perintahmu di depan mata mereka itu dan berilah dia sebagian dari kewibawaanmu, supaya segenap umat Israel mendengarkan dia. Ia harus berdiri di depan imam Eleazar, supaya Eleazar menanyakan keputusan Urim bagi dia di hadapan TUHAN; atas titahnya mereka akan keluar dan atas titahnya mereka akan masuk, ia beserta semua orang Israel, segenap umat itu.'
Maka Musa melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya. Ia memanggil Yosua dan menyuruh dia berdiri di depan imam Eleazar dan di depan segenap umat itu, lalu ia meletakkan tangannya atas Yosua dan memberikan kepadanya perintahnya, seperti yang difirmankan TUHAN dengan perantaraan Musa.'"
— Bilangan 27:1–23 (TB)
Pasal 27 terdiri dari dua kisah yang terpisah, yang keduanya mengangkat tentang orang-orang yang bertindak dalam kebenaran. Anak-anak perempuan Zelafehad (yang telah kita jumpai dalam 26:33) digambarkan sebagai pihak yang "benar" dalam 27:7. Mereka tergolong ke dalam generasi kedua. Sementara itu, Yosua adalah salah satu dari dua orang yang selamat dari generasi pertama dan digambarkan sebagai seorang yang penuh dengan Roh (27:18). Perhatikan bahwa kedua kisah ini merangkum baik ranah kepemimpinan Israel maupun umat itu sendiri. Dalam kisah generasi pertama, kedua pihak tersebut sama-sama pernah berbuat salah dan gagal. Kini, situasi tampak jauh lebih menjanjikan.
Bilangan 27:1–4. Kelima anak perempuan Zelafehad mengajukan sebuah pertanyaan penting menyusul petunjuk-petunjuk mengenai pembagian tanah pusaka (26:52–56). Mereka tidak memiliki saudara laki-laki, lantas apa yang akan terjadi dengan tanah warisan mereka? Mengingat ini adalah persoalan yang sangat penting, mereka membawanya ke hadapan segenap jemaat (27:2). Dengan melakukan hal tersebut, mereka menegaskan bahwa sekalipun ayah mereka tewas di padang gurun sama seperti orang-orang seangkatannya, ia bukanlah bagian dari kelompok orang yang berbuat dosa dengan "sengaja / berkeras hati" (high hand, 15:30). Tindakan memberontak secara sengaja seperti itu pastilah membuat seseorang dilenyapkan dari tengah-tengah umat dan hak warisnya dicabut.
Karena tidak ada anak laki-laki dari Zelafehad yang dapat mewarisi tanah tersebut, mereka pun mengajukan permohonan hak. Permintaan itu tampaknya disampaikan dengan agak lugas dan tanpa basa-basi: "Berilah kami tanah milik" (27:4). Namun, kita tidak boleh menarik kesimpulan yang berlebihan atas permohonan ini dengan menganggapnya sebagai luapan ketamakan atau kesombongan, sebagaimana tampak nyata dari penilaian TUHAN sendiri dalam 27:7. Sebaliknya, kita harus melihat bahwa kelima perempuan ini telah menangkap apa yang gagal dipahami oleh orang-orang lain: bahwa tanah pusaka dari TUHAN adalah anugerah terbesar yang sedang mereka nanti-nantikan.
Bilangan 27:5–11. Musa membawa kasus uji (test case) mereka ini ke hadapan TUHAN, yang menegaskan bahwa ini adalah perkara nyata yang memang harus diselesaikan. TUHAN kemudian memberikan solusi khusus yang diikuti dengan sejumlah ketetapan hukum preseden (case law) yang berlaku umum. Keputusan khusus tersebut (27:7) adalah bahwa kelima perempuan itu berhak memperoleh tanah milik pusaka yang seharusnya menjadi bagian ayah mereka. Secara lebih umum, menurut 27:8–11, tanah pusaka harus tetap berada di dalam kelompok keluarga, dan ketentuan hukum pun ditetapkan untuk situasi di mana tidak ada anak laki-laki (27:8), tidak ada anak sama sekali (27:9), tidak ada saudara laki-laki (27:10), bahkan tidak ada saudara laki-laki dari pihak ayah/paman (27:11). Kendati demikian, persoalan ini belum sepenuhnya tuntas, sebagaimana yang kelak akan kita jumpai dalam pasal 36.
Bilangan 27:12–23. Musa diingatkan kembali bahwa ia tidak boleh masuk ke Tanah Perjanjian akibat ketidaktaatannya di mata air Meriba (20:10–13), sekalipun di dalam kebaikan Allah, ia diizinkan untuk memandang negeri itu dari kejauhan (27:12). Selanjutnya, ia harus melantik penerusnya.
Tampaknya paling mudah untuk memandang Yosua sebagai penerus yang serupa seutuhnya (like-for-like) dengan Musa, tetapi teks Alkitab menegaskan secara gamblang bahwa Yosua akan menjadi tipe pemimpin yang berbeda. Ia tidak menikmati relasi keintiman yang sama dengan TUHAN sebagaimana yang dimiliki oleh Musa (lihat 12:6–8). Musa diutus secara langsung oleh TUHAN sendiri dalam Keluaran 3–4, sedangkan penetapan Yosua berlangsung melalui perantaraan Musa. Yosua hanya menerima "sebagian" dari kewibawaan dan otoritas Musa (27:20, kendati itu sudah cukup untuk memimpin umat), dan ia harus menghampiri TUHAN melalui perantaraan imam (27:21), tidak seperti Musa yang adalah orang Lewi dan berbicara langsung berhadapan muka dengan Allah. Petunjuk ilahi bagi Yosua akan diperoleh melalui penggunaan "Urim"—sebuah sarana yang jarang kita dengar perinciannya, tetapi jelas berada di bawah tingkat keintiman hubungan Musa dengan TUHAN.
Kapan pastinya Yosua menerima Roh Kudus tidak dinyatakan secara eksplisit, selain fakta bahwa kepenuhan Roh itu telah terjadi sebelum pelantikan ini (27:18). Sekalipun tidak ada rujukan langsung, Yosua kemungkinan besar merupakan salah satu dari tujuh puluh tua-tua dalam 11:25, yang juga dapat menjelaskan reaksi keras Yosua terhadap dua orang yang bernubuat di luar perkemahan (11:26–30).
Ungkapan "Allah dari roh segala makhluk" (27:16) hanya muncul di sini dan dalam 16:22. Mengapa ungkapan ini hanya muncul dua kali tidak langsung terlihat jelas alasannya; kemungkinan kedua peristiwa tersebut sama-sama menggambarkan krisis dalam kepemimpinan (dalam Bilangan 16 berupa upaya kudeta yang gagal terhadap Musa, dan di sini berupa suksesi kepemimpinan yang dipimpin secara ilahi oleh Allah). Yang mungkin jauh lebih signifikan, ini adalah tempat pertama di mana frasa kunci biblika "domba-domba yang tidak mempunyai gembala" muncul (lihat juga 1Raj. 22:17; Yes. 13:14; Mat. 9:36, serta berbagai kiasan senada di bagian Alkitab lainnya). Kepemimpinan ideal sebagaimana digambarkan dalam Alkitab bukanlah mengenai kediktatoran tangan besi, melainkan penggembalaan kawanan domba Allah yang penuh kelembutan dan kehati-hatian.
Kalender Persembahan Korban Harian, Sabat, Bulan Baru, dan Hari-Hari Raya Tahunan (28:1–29:40)
"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Dengan setia dan pada waktu yang ditetapkan haruslah kamu mempersembahkan persembahan-persembahan kepada-Ku sebagai santapan-Ku, berupa korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi-Ku.
Katakanlah kepada mereka: Inilah korban api-apian yang harus kamu persembahkan kepada TUHAN: dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela setiap hari sebagai korban bakaran yang tetap; domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi, domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja. Juga sepersepuluh efa tepung yang terbaik untuk korban sajian, diolah dengan seperempat hin minyak tumbuk. Itulah korban bakaran yang tetap yang diolah pertama kali di atas gunung Sinai menjadi bau yang menyenangkan, suatu korban api-apian bagi TUHAN. Dan korban curahannya ialah seperempat hin untuk setiap domba; curahkanlah minuman yang memabukkan sebagai korban curahan bagi TUHAN di tempat kudus. Dan domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja; sama seperti korban sajian pada waktu pagi dan sama seperti korban curahannya haruslah engkau mengolahnya sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.'
'Pada hari Sabat: dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, dan dua persepuluh efa tepung yang terbaik sebagai korban sajian, diolah dengan minyak, serta dengan korban curahannya. Itulah korban bakaran Sabat pada tiap-tiap Sabat, di samping korban bakaran yang tetap dan korban curahannya.
Pada bulan barumu haruslah kamu mempersembahkan sebagai korban bakaran kepada TUHAN: dua ekor lembu jantan muda, seekor domba jantan, tujuh ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, dan juga tiga persepuluh efa tepung yang terbaik sebagai korban sajian, diolah dengan minyak, untuk tiap-tiap lembu jantan, serta dua persepuluh efa tepung yang terbaik sebagai korban sajian, diolah dengan minyak, untuk domba jantan yang seekor itu, serta sepersepuluh efa tepung yang terbaik sebagai korban sajian, diolah dengan minyak, untuk tiap-tiap domba; itulah suatu korban bakaran, bau yang menyenangkan, suatu korban api-apian bagi TUHAN. Dan korban-korban curahannya haruslah untuk seekor lembu jantan setengah hin anggur, untuk seekor domba jantan sepertiga hin dan untuk seekor domba seperempat hin. Itulah korban bakaran pada setiap bulan baru dalam setahun. Dan seekor kambing jantan haruslah diolah menjadi korban penghapus dosa bagi TUHAN, serta dengan korban curahannya, di samping korban bakaran yang tetap.'
'Dalam bulan yang pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu, ada Paskah bagi TUHAN. Pada hari yang kelima belas bulan itu ada hari raya; tujuh hari lamanya harus dimakan roti yang tidak beragi. Pada hari yang pertama ada pertemuan kudus, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat, dan haruslah kamu mempersembahkan kepada TUHAN sebagai korban api-apian, sebagai korban bakaran: dua ekor lembu jantan muda, seekor domba jantan dan tujuh ekor domba berumur setahun; haruslah kamu ambil yang tidak bercela. Sebagai korban sajiannya haruslah kamu olah tepung yang terbaik diolah dengan minyak, yakni tiga persepuluh efa untuk seekor lembu jantan dan dua persepuluh efa untuk seekor domba jantan; sepersepuluh efa harus kauolah untuk setiap domba dari ketujuh ekor domba itu. Selanjutnya seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa untuk mengadakan pendamaian bagimu; selain dari korban bakaran pagi yang termasuk korban bakaran yang tetap haruslah kamu mengolah semuanya itu. Secara demikian haruslah setiap hari selama tujuh hari kamu olah santapan berupa korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN; di samping korban bakaran yang tetap haruslah itu diolah, serta dengan korban curahannya. Dan pada hari yang ketujuh haruslah kamu mengadakan pertemuan yang kudus, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat.
Pada hari hulu hasil, pada waktu kamu mempersembahkan korban sajian baru kepada TUHAN, pada hari raya lepas tujuh minggu, haruslah kamu mengadakan pertemuan kudus, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat. Pada waktu itu haruslah kamu mempersembahkan sebagai korban bakaran menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN: dua ekor lembu jantan muda, seekor domba jantan, tujuh ekor domba berumur setahun; juga sebagai korban sajiannya: tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, yakni tiga persepuluh efa untuk setiap ekor lembu jantan, dua persepuluh efa untuk domba jantan yang seekor itu, sepersepuluh efa untuk setiap domba dari ketujuh ekor domba itu; seekor kambing jantan untuk mengadakan pendamaian bagimu. Selain dari korban bakaran yang tetap dan korban sajiannya, haruslah kamu mengolah semuanya itu, serta dengan korban-korban curahannya. Haruslah kamu ambil yang tidak bercela.
Pada bulan yang ketujuh, pada tanggal satu bulan itu, haruslah kamu mengadakan pertemuan yang kudus, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat; itulah hari peniupan serunai bagimu. Pada waktu itu haruslah kamu mengolah sebagai korban bakaran menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN: seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan, tujuh ekor domba berumur setahun yang tidak bercela; juga sebagai korban sajiannya: tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, yakni tiga persepuluh efa untuk lembu jantan itu, dua persepuluh efa untuk domba jantan itu dan sepersepuluh efa untuk setiap domba dari ketujuh ekor domba itu; dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa untuk mengadakan pendamaian bagimu, selain dari korban bakaran bulan baru serta dengan korban sajiannya, dan korban bakaran yang tetap serta dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya, sesuai dengan peraturannya, menjadi bau yang menyenangkan, suatu korban api-apian bagi TUHAN.
Pada hari yang kesepuluh bulan yang ketujuh itu haruslah kamu mengadakan pertemuan yang kudus dan merendahkan dirimu dengan berpuasa, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan. Pada waktu itu haruslah kamu mempersembahkan sebagai korban bakaran kepada TUHAN, sebagai bau yang menyenangkan: seekor lembu jantan muda, seekor domba jantan, tujuh ekor domba berumur setahun; haruslah tidak bercela semuanya itu; juga sebagai korban sajiannya: tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, yakni tiga persepuluh efa untuk lembu jantan itu, dua persepuluh efa untuk domba jantan yang seekor itu, sepersepuluh efa untuk setiap domba dari ketujuh ekor domba itu; dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa, selain dari pada korban penghapus dosa pembawa pendamaian dan korban bakaran yang tetap serta dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya.
Pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu haruslah kamu mengadakan pertemuan yang kudus, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat; haruslah kamu mengadakan perayaan bagi TUHAN, tujuh hari lamanya. Pada waktu itu haruslah kamu mempersembahkan sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN: tiga belas ekor lembu jantan muda, dua ekor domba jantan, empat belas ekor domba berumur setahun; haruslah tidak bercela semuanya itu; juga sebagai korban sajiannya: tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, yakni tiga persepuluh efa untuk setiap lembu dari ketiga belas ekor lembu jantan itu, dua persepuluh efa untuk setiap domba dari kedua ekor domba jantan itu, dan sepersepuluh efa untuk setiap domba dari keempat belas ekor domba itu; dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa, selain dari korban bakaran yang tetap dengan korban sajiannya dan korban curahannya.
Pada hari yang kedua: dua belas ekor lembu jantan muda, dua ekor domba jantan, empat belas ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, serta dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya, yakni untuk lembu-lembu jantan, untuk domba-domba jantan dan untuk domba-domba muda itu, menurut jumlah yang sesuai dengan peraturan; dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa, selain dari korban bakaran yang tetap serta dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya.
Pada hari yang ketiga: sebelas ekor lembu jantan, dua ekor domba jantan, empat belas ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, serta dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya, yakni untuk lembu-lembu jantan, untuk domba-domba jantan dan untuk domba-domba muda itu, menurut jumlah yang sesuai dengan peraturan; dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa, selain dari korban bakaran yang tetap serta dengan korban sajiannya dan korban curahannya.
Pada hari yang keempat: sepuluh ekor lembu jantan, dua ekor domba jantan, empat belas ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, serta dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya, yakni untuk lembu-lembu jantan, untuk domba-domba jantan dan untuk domba-domba muda itu, menurut jumlah yang sesuai dengan peraturan; dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa, selain dari korban bakaran yang tetap dengan korban sajiannya dan korban curahannya.
Pada hari yang kelima: sembilan ekor lembu jantan, dua ekor domba jantan, empat belas ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, serta dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya, yakni untuk lembu-lembu jantan, untuk domba-domba jantan dan untuk domba-domba muda itu, menurut jumlah yang sesuai dengan peraturan; dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa, selain dari korban bakaran yang tetap serta dengan korban sajiannya dan korban curahannya.
Pada hari yang keenam: delapan ekor lembu jantan, dua ekor domba jantan, empat belas ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, serta dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya, yakni untuk lembu-lembu jantan, untuk domba-domba jantan dan untuk domba-domba muda itu, menurut jumlah yang sesuai dengan peraturan; dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa, selain dari korban bakaran yang tetap dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya.
Pada hari yang ketujuh: tujuh ekor lembu jantan, dua ekor domba jantan, empat belas ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, serta dengan korban sajiannya, dan korban-korban curahannya, yakni untuk lembu-lembu jantan, untuk domba-domba jantan dan untuk domba-domba muda itu, menurut jumlah yang sesuai dengan peraturannya; dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa, selain dari korban bakaran yang tetap dengan korban sajiannya dan korban curahannya.
Pada hari yang kedelapan haruslah kamu mengadakan perkumpulan raya, maka tidak boleh kamu melakukan sesuatu pekerjaan berat. Pada waktu itu haruslah kamu mempersembahkan sebagai korban bakaran, sebagai korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN: seekor lembu jantan, seekor domba jantan, tujuh ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, dengan korban sajiannya dan korban-korban curahannya, yakni untuk lembu-lembu jantan, untuk domba-domba jantan dan untuk domba-domba muda itu, menurut jumlah yang sesuai dengan peraturan; dan seekor kambing jantan sebagai korban penghapus dosa, selain dari korban bakaran yang tetap serta dengan korban sajiannya dan korban curahannya.
Itulah semuanya yang harus kamu olah bagi TUHAN pada hari-hari rayamu sebagai korban-korban bakaranmu, korban-korban sajianmu, korban-korban curahanmu dan korban-korban keselamatanmu, selain dari korban-korban nazarmu dan korban-korban sukarelamu.' Lalu berbicaralah Musa kepada orang Israel sesuai dengan segala yang diperintahkan TUHAN kepada Musa."
— Bilangan 28:1–29:40 (TB)
Dua pasal yang panjang ini menghimpun bersama seluruh hukum dan ketetapan mengenai persembahan korban di bawah satu pernyataan rangkuman utama (28:2)—bahwa korban-korban tersebut (perhatikan bagaimana TUHAN menyebutnya sebagai persembahan "kepada-Ku / santapan-Ku") merupakan "bau yang menyenangkan" (pleasing aroma) yang harus dipersembahkan pada waktu yang telah ditetapkan. Ungkapan "bau yang menyenangkan" muncul sebanyak sebelas kali (28:2, 6, 8, 13, 24, 27; 29:2, 6, 8, 13, 36). Korban-korban tersebut menyenangkan bagi TUHAN karena menunjukkan kebergantungan kepada-Nya, disertai dengan kesadaran bahwa mereka tidaklah kudus seperti Dia dan perlu diperdamaikan dengan-Nya. Dalam Perjanjian Lama, suatu persembahan korban yang sejati yang dibawa dengan hati yang bertobat merangkum keseluruhan relasi perjanjian dari sudut pandang umat. Kini, kita telah memasuki kisah generasi kedua yang hidup dalam kebenaran iman, sehingga menjadi tempat yang sangat tepat untuk merangkum kembali seluruh tuntutan ketetapan ini.
Korban-korban yang diuraikan di sini dipersembahkan di samping "korban bakaran yang tetap serta korban curahannya"—suatu frasa (atau variasinya) yang berulang kali muncul sebagai refrain umum. Berbagai korban khusus ini (jika kita boleh menyebutnya demikian) membangun ritme penanggalan yang berpusat di sekitar angka tujuh, angka kudus yang melambangkan kelengkapan. Korban-korban dijadwalkan untuk hari ketujuh, bulan ketujuh, dan korban-korban dipersembahkan dalam kelipatan angka tujuh. Korban-korban ini membentuk keseluruhan respons nasional terhadap Allah yang telah menyelamatkan mereka. Masing-masing korban menangani aspek khusus dari karya TUHAN di tengah-tengah mereka (lihat perinciannya di bawah).
Secara garis besar, persembahan-persembahan tersebut dapat dirangkum ke dalam: harian (28:1–8), mingguan (28:9–10), bulanan (28:11–15), dan tahunan. Korban-korban tahunan berpusat pada perayaan-perayaan atau peristiwa-peristiwa khusus: Paskah (28:16–25), Hari Raya Tujuh Minggu (28:26–31), Hari Raya Peniupan Serunai (29:1–6), Hari Pendamaian (29:7–11), dan—yang paling rumit dari semuanya—Hari Raya Pondok Daun (29:12–40).
Bilangan 28:1–8. Korban harian yang tetap mengingatkan umat akan kehadiran TUHAN di tengah perkemahan. Setiap pagi ketika mereka bangun, di sanalah TUHAN menyertai mereka—sehingga persembahan korban dituntut pada awal dan akhir setiap hari (28:4).
Bilangan 28:9–10. Korban Sabat mingguan mengingatkan umat akan penciptaan Allah, sebagaimana hari Sabat berakar erat pada pola penciptaan TUHAN (lihat Kel. 20:11). Ini merupakan satu-satunya penyebutan dalam hukum Taurat mengenai korban yang dipersembahkan secara khusus pada hari ini.
Bilangan 28:11–15. Ayat-ayat ini menguraikan persembahan korban bulan baru setiap bulan (bulan-bulan Ibrani dalam setahun didasarkan pada kalender lunar). Sekalipun hari raya ini tidak dicantumkan dalam kitab hukum Imamat, sang penulis tampak mengandaikan bahwa para pembaca telah mengenalnya dengan baik. Korban bulanan merupakan korban pertama di mana angka tujuh menjadi sangat signifikan (28:11), suatu pola yang sekarang akan diulang dalam setiap persembahan korban berikutnya. Korban bulan baru menolong umat untuk mengingat kembali kesetiaan Allah, sebab korban-korban tersebut dipersembahkan "pada setiap bulan baru dalam setahun" (bandingkan pengingat lainnya dalam Kej. 8:22 dan lihat Mzm. 72:5).
Bilangan 28:16–25. Korban-korban harus dipersembahkan pada hari Paskah—yang terintegrasi ke dalam perayaan Roti Tidak Beragi selama tujuh hari. Perikop ini sama sekali tidak membahas mengenai anak domba Paskah (lihat Kel. 12 untuk perinciannya), melainkan berfokus pada korban-korban pelengkap yang dituntut oleh festival tersebut. Sebuah frasa baru, "pertemuan yang kudus", digunakan untuk hari pertama (28:18) dan hari ketujuh (28:25), suatu ungkapan yang kelak akan dilekatkan pada setiap perayaan atau hari raya berikutnya di bagian ini. Dengan kata lain, hari-hari tersebut dikuduskan secara khusus bagi TUHAN dan bagi umat-Nya untuk berhimpun bersama. Setiap pertemuan kudus mewajibkan umat untuk menahan diri dari pekerjaan berat. Para pembaca tidak perlu merasa heran atas ketiadaan aturan mengenai anak domba Paskah itu sendiri. Perayaan Paskah merupakan persembahan rumah tangga; sementara kedua pasal ini menguraikan korban-korban nasional. Hari raya roti yang tidak beragi mengingatkan umat akan penyelamatan Allah (Kel. 12:17).
Bilangan 28:26–31. Perincian diberikan mengenai persembahan korban yang dibawa pada "hari hulu hasil" (sebutan yang hanya muncul di sini), yang merupakan bagian dari Hari Raya Tujuh Minggu: perayaan ini mengingatkan Israel akan pemeliharaan TUHAN. Di tempat lain perayaan ini juga disebut Hari Raya Menuai (Kel. 23:16). Yang membingungkan, hari dan festival tersebut berlangsung 50 hari sesudah buah sulung yang sesungguhnya dituai dan diunjukkan pertama kali di hadapan TUHAN (lihat Im. 23:15–16), kemungkinan besar untuk memberikan waktu yang cukup bagi berlangsungnya masa panen yang sesungguhnya. Periode lima puluh hari inilah yang melahirkan istilah Pentakosta.
Bilangan 29:1–6. Hari raya peniupan serunai menghubungkan kita kembali dengan Bilangan 10. Di sana, instrumen-instrumen tersebut dikaitkan dengan pertempuran, sehingga festival ini menolong mengingatkan Israel akan kemenangan dari TUHAN. Hari raya ini menandai permulaan dari bulan yang paling kudus dalam setahun—yakni bulan ketujuh. Bulan ini memuat hari peniupan serunai, hari pendamaian (hari ke-10, 29:7), dan hari raya pondok daun (dimulai pada hari ke-15, 29:12).
Bilangan 29:7–11. Bagian ini memerinci persembahan korban untuk satu hari yang khusus, yakni hari pendamaian—sebuah kesempatan bagi segenap bangsa untuk mengingat kemurahan TUHAN. Di samping bahasa yang telah lazim mengenai "pertemuan yang kudus" dan larangan melakukan pekerjaan, terdapat pula perintah bagi umat untuk "merendahkan diri" (29:7). Hal ini mungkin merujuk pada tindakan berpantang makanan (lihat penggunaannya dalam Im. 23:27), yang dalam hal ini menjadikannya satu-satunya kewajiban puasa yang termuat di dalam hukum Taurat, berbeda dengan bagaimana kehidupan rohani bangsa itu berkembang di kemudian hari (bandingkan, mis. Za. 8:19). Kata kerja "merendahkan diri" (afflict) barangkali lebih tepat diterjemahkan sebagai "merendahkan hati" (mis. Kel. 10:3; Ul. 8:2). Kata ini menandai sikap batin yang harus mereka bawa saat menghampiri hari pendamaian tersebut, daripada sekadar tindakan lahiriah tertentu yang harus mereka jalani.
Bilangan 29:12–39. Ini adalah bagian terpanjang dalam pasal ini dan merupakan perayaan yang paling rumit di antara seluruh hari raya, yakni hari raya pondok daun, dinamai demikian karena selama tujuh hari perayaan tersebut umat tinggal di dalam kemah-kemah (Im. 23:42). Pada pandangan pertama, perayaan ini juga tampak merayakan penyelamatan umat dari Mesir (lihat Im. 23:43), namun kelimpahan persembahan korban yang luar biasa dalam peraturan Kitab Bilangan menunjuk secara spesifik pada cara penyelamatan mereka—yakni seturut dengan kemurahan hati dan kelimpahan dari TUHAN. Ini bukanlah penyelamatan yang "nyaris saja lolos", melainkan sebuah rencana ilahi yang sepenuh hati untuk membawa umat memasuki negeri yang berlimpah susu dan madu.
Setiap hari diuraikan secara tersendiri dan terdapat susunan persembahan korban yang rumit: 13 ekor lembu jantan dipersembahkan pada hari pertama, berkurang satu ekor setiap harinya hingga tersisa 7 ekor lembu pada hari ketujuh; 2 ekor domba jantan setiap hari; 14 ekor domba berumur setahun[^7] dan 1 ekor kambing jantan juga dipersembahkan setiap hari. Pada hari kedelapan, diadakan perkumpulan raya penutup (29:35–38). Apa tujuan di balik jumlah lembu jantan yang terus berkurang setiap harinya? Pengurangan tersebut kemungkinan besar berfungsi bagaikan hitung mundur (countdown) modern, membangun antisipasi dan mendorong bangsa Israel untuk senantiasa memandang ke depan: esensi dari berhimpun di dalam kemah adalah untuk mengingatkan mereka bahwa pengembaraan di padang gurun hanyalah tempat persinggahan sementara dalam perjalanan menuju tanah pusaka mereka yang kekal.
Sangatlah mudah untuk terpaku pada perincian mengenai apa yang harus dilakukan pada hari-hari tertentu, namun pembaca harus mengingat bahwa tujuan menyeluruh dari seluruh persembahan korban ini adalah pemeliharaan relasi perjanjian dengan Allah yang menyelamatkan dan memelihara mereka.
Hukum Mengenai Ikrar dan Nazar Kaum Perempuan (30:1–16)
"Musa berkata kepada kepala-kepala suku Israel, demikian: 'Inilah yang diperintahkan TUHAN.
Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu; haruslah ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya.
Tetapi apabila seorang perempuan bernazar kepada TUHAN dan mengikat dirinya kepada suatu janji di rumah ayahnya, yakni pada waktu ia masih gadis, dan ayahnya mendengar nazar dan janji yang mengikat diri anaknya itu, tetapi ayahnya tidak berkata apa-apa kepadanya, maka segala nazarnya itu akan tetap berlaku dan setiap janji mengikat dirinya akan tetap berlaku juga.
Tetapi jika ayahnya melarang dia pada waktu mendengar itu, maka segala nazar dan janji yang mengikat diri anaknya itu tidak akan berlaku; dan TUHAN akan mengampuni perempuan itu, sebab ayahnya telah melarang dia.
Tetapi jika perempuan itu bersuami, dan ia masih berhutang karena salah satu nazar atau salah satu janji yang diucapkan begitu saja dan yang mengikat dirinya, dan suaminya mendengar tentang hal itu, tetapi tidak berkata apa-apa kepadanya pada waktu mendengarnya, maka nazarnya itu akan tetap berlaku dan janji yang mengikat dirinya akan tetap berlaku juga.
Tetapi apabila suaminya itu, pada waktu mendengarnya, melarang dia, maka ia telah membatalkan nazar yang menjadi hutang isterinya dan janji yang diucapkan begitu saja dan yang mengikat isterinya; dan TUHAN akan mengampuni isterinya itu.
Mengenai nazar seorang janda atau seorang perempuan yang diceraikan, segala apa yang mengikat dirinya akan tetap berlaku baginya.
Jika seorang perempuan di rumah suaminya bernazar atau mengikat dirinya kepada suatu janji dengan bersumpah, dan suaminya mendengarnya, tetapi tidak berkata apa-apa kepadanya dan tidak melarang dia, maka segala nazar perempuan itu akan tetap berlaku, dan setiap janji yang mengikat diri perempuan itu akan tetap berlaku juga.
Tetapi jika suaminya itu membatalkannya dengan tegas pada waktu mendengarnya, maka ucapan apapun yang keluar dari mulutnya, baik nazar maupun janji, tidak akan berlaku; suaminya telah membatalkannya, dan TUHAN akan mengampuni isterinya itu.
Setiap nazar dan setiap janji sumpah perempuan itu untuk merendahkan diri dengan berpuasa, dapat dinyatakan berlaku oleh suaminya atau dapat dibatalkan oleh suaminya.
Tetapi apabila suaminya sama sekali tidak berkata apa-apa kepadanya dari hari ke hari, maka dengan demikian ia telah menyatakan berlaku segala nazar isterinya atau segala ikatan janji yang menjadi hutang isterinya; ia telah menyatakannya berlaku, karena ia tidak berkata apa-apa kepadanya pada waktu mendengarnya.
Tetapi jika ia baru membatalkannya beberapa lama setelah didengarnya, maka ia akan menanggung akibat kesalahan isterinya.'
Itulah ketetapan-ketetapan yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, yakni antara seorang suami dengan isterinya, dan antara seorang ayah dengan anaknya perempuan pada waktu ia masih gadis di rumah ayahnya."
— Bilangan 30:1–16 (TB)
Pasal ini merupakan salah satu pasal yang—pada pembacaan pertama—tampaknya tidak memiliki kaitan dengan konteks dekat maupun konteks yang lebih luas dari Kitab Bilangan. Namun, apabila dicermati secara lebih saksama, pokok bahasan dalam pasal ini berakar dari dua bagian yang telah kita bahas sebelumnya. Pertama, sekalipun pasal ini membahas mengenai nazar yang dibuat oleh kaum laki-laki (30:1–2), sebagian besar isi pasal ini secara khusus mengatur nazar kaum perempuan beserta keabsahannya dalam konteks budaya mereka yang lebih luas. Hal ini bertautan rapi dengan permohonan anak-anak perempuan Zelafehad yang tertinggal tanpa ayah ataupun saudara laki-laki. Sekalipun nama mereka tidak disebutkan di sini, kesinambungan tema mengenai kaum perempuan dan status rumah tangga mereka yang khas tampak sangat jelas.
Kedua, Bilangan 29:39 sebelumnya telah menyinggung secara sepintas tentang "korban-korban nazar". Jelas bahwa pasal 28 dan 29 membahas tentang korban-korban persembahan tingkat nasional. Korban-korban pribadi sebagaimana diuraikan dalam pasal-pasal pembuka Kitab Imamat tidak berada dalam cakupan pembahasan di sini, termasuk "korban nazar" yang juga disinggung dalam Imamat 7:16 dan Imamat 22:18–23 namun tidak dijelaskan secara terperinci. Rujukan sepintas ini mendorong pembaca untuk bertanya, "Jelaskan lebih lanjut tentang nazar," yang kemudian menerangkan isi dan penempatan pasal 30 pada bagian ini.
Di sepanjang bagian ini, dua kata digunakan untuk menggambarkan janji yang dibuat oleh seseorang. Kata "nazar" (vow) menerjemahkan sebuah istilah Ibrani yang bermakna janji untuk melakukan sesuatu secara aktif; sedangkan kata "ikrar" (pledge) dapat mencakup janji positif tersebut, tetapi lebih tepat dipahami sebagai janji untuk menahan diri atau menjauhkan diri dari sesuatu. Oleh karena itu, jika digabungkan bersama (sebagaimana dilakukan dalam perikop ini), kedua istilah ini mencakup setiap janji yang mungkin dibuat oleh seseorang di hadapan Allah.
Bilangan 30:1–2. Di sini Musa membahas pembuatan nazar oleh kaum laki-laki. Keberadaan nazar-nazar semacam itu diandaikan (dan pertama kali dicatat dalam Kej. 28:20). Nazar semacam itu bersifat mutlak dan tidak dapat dibatalkan. Umat TUHAN dipanggil untuk kudus sama seperti Dia kudus, dan sebagaimana TUHAN senantiasa menggenapi firman-Nya (23:19), demikian pulalah seharusnya umat-Nya. Ini merupakan ketetapan Perjanjian Lama yang tampaknya digantikan dalam Khotbah di Bukit (lihat Mat. 5:33–37).
Bilangan 30:3–16. Kaum perempuan membuat nazar sehubungan dengan dua situasi khusus: ketika ia masih tinggal di rumah ayahnya (30:3–5) dan ketika ia telah menikah (30:6–15). Sangatlah mudah untuk memandang aturan-aturan ini sebagai hal yang mengekang; namun, pembaca harus melihat bahwa ketentuan-ketentuan ini sesungguhnya memberikan pengecualian terhadap prinsip umum yang lebih mendasar: pada umumnya, kaum perempuan memiliki kebebasan penuh untuk bernazar, dan ketika mereka melakukannya, nazar tersebut memiliki bobot serta keabsahan yang setara dengan nazar yang dibuat oleh kaum laki-laki.
Bilangan 30:3–5. Seorang perempuan yang hidup di bawah otoritas ayahnya juga membuat nazar di bawah otoritas tersebut. Sang ayah memiliki tenggang waktu satu hari untuk membatalkan setiap nazar yang dibuatnya, namun setelah itu nazar atau ikrar tersebut tetap berlaku sebagaimana halnya pada seorang laki-laki. Pengampunan yang dinyatakan oleh TUHAN (30:5) merupakan kebebasan dari rasa bersalah akibat tidak dapat menepati janjinya. Perhatikan bahwa aturan ini berlaku bagi perempuan pada masa mudanya (30:3). Wewenang untuk membatalkan nazar seorang perempuan (baik di sini maupun di bagian selanjutnya dalam pasal ini) bukanlah didasarkan pada persoalan gender, melainkan pada prinsip otoritas dalam struktur keluarga.
Bilangan 30:6–9. Seorang perempuan yang menikah menempatkan nazar-nazar yang pernah dibuatnya sebelumnya di bawah otoritas suaminya. Dalam keadaan ini terdapat otoritas baru di dalam rumah tangga, dan ketika suami barunya mendengar tentang nazar tersebut, ia dapat membatalkannya pada hari itu saja. Setelah itu, nazar tersebut tetap berlaku. Setiap nazar yang dibatalkan—sebagaimana dalam 30:5—tidak diperhitungkan sebagai kesalahan atau dosa bagi perempuan tersebut.
Bilangan 30:10–14. Seorang perempuan yang telah bersuami menempatkan nazar-nazar barunya di bawah otoritas suaminya. Realitas yang mencolok (dan membebaskan) adalah bahwa ia memiliki kebebasan untuk membuat nazar atas kemauannya sendiri. Dalam kebudayaan pada masa itu, hak semacam ini merupakan hal yang sangat tidak lazim bagi kaum perempuan. Sekali lagi, jika suaminya mendengar tentang janji tersebut, ia dapat membatalkannya pada hari ia mendengarnya. Jika tidak, nazar tersebut dinyatakan "tetap berlaku" (established), artinya nazar itu mengikat secara sah. Sikap diam dari sang suami dianggap sebagai bentuk persetujuan yang cukup.
Bilangan 30:15. Sebagian laki-laki pada akhirnya menjalankan otoritas di rumah tangga mereka secara fasik dan tidak berkenan kepada Allah. Ayat ini membahas keadaan yang sangat spesifik, yaitu ketika seorang suami membatalkan ikrar-ikrar istrinya di kemudian hari (setelah sebelumnya ia berdiam diri). Dalam kebudayaan pada masa itu, sang istri tidak berdaya untuk melakukan apa pun mengenai hal ini. Dalam kasus semacam itu, ia tidak menanggung dosa apa pun akibat janji yang dilanggar tersebut; sebaliknya, dosa pelanggaran itu sepenuhnya ditimpakan ke atas kepala sang suami.
Bilangan 30:16. Ketentuan-ketentuan ini harus dipandang sebagai sesuatu yang membebaskan bagi kaum perempuan. Ayat penutup ini menegaskan bahwa persoalan mendasar yang sesungguhnya dipertaruhkan bukanlah semata-mata mengenai nazar itu sendiri, melainkan mengenai integritas relasi yang mendasarinya.
Pembalasan TUHAN terhadap Midian dan Pengaturan Pembagian Harta Jarahan (31:1–54)
"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Lakukanlah pembalasan orang Israel kepada orang Midian; kemudian engkau akan dikumpulkan kepada kaum leluhurmu.'
Lalu berkatalah Musa kepada bangsa itu: 'Baiklah sejumlah orang dari antaramu mempersenjatai diri untuk berperang, supaya mereka melawan Midian untuk menjalankan pembalasan TUHAN terhadap Midian. Dari setiap suku di antara segala suku Israel haruslah kamu menyuruh seribu orang untuk berperang.'
Demikianlah diserahkan dari kaum-kaum Israel seribu orang dari tiap-tiap suku, jadi dua belas ribu orang bersenjata untuk berperang. Lalu Musa menyuruh mereka untuk berperang, seribu orang dari tiap-tiap suku, bersama-sama dengan Pinehas, anak imam Eleazar, untuk berperang, dengan membawa perkakas tempat kudus dan nafiri-nafiri pemberi tanda semboyan. Kemudian berperanglah mereka melawan Midian, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, lalu membunuh semua laki-laki mereka. Selain dari orang-orang yang mati terbunuh itu, merekapun membunuh juga raja-raja Midian, yakni Ewi, Rekem, Zur, Hur dan Reba, kelima raja Midian, juga Bileam bin Beor dibunuh mereka dengan pedang.
Kemudian Israel menawan perempuan-perempuan Midian dan anak-anak mereka; juga segala hewan, segala ternak dan segenap kekayaan mereka dijarah, dan segala kota kediaman serta segala tempat perkemahan mereka dibakar. Kemudian diambillah seluruh jarahan dan seluruh rampasan berupa manusia dan hewan itu, dan dibawalah orang-orang tawanan, rampasan dan jarahan itu kepada Musa dan imam Eleazar dan kepada umat Israel, ke tempat perkemahan di dataran Moab yang di tepi sungai Yordan dekat Yerikho.
Lalu pergilah Musa dan imam Eleazar dan semua pemimpin umat itu sampai ke luar tempat perkemahan untuk menyongsong mereka. Maka gusarlah Musa kepada para pemimpin tentara itu, kepada para kepala pasukan seribu dan para kepala pasukan seratus, yang pulang dari peperangan, dan Musa berkata kepada mereka: 'Kamu biarkankah semua perempuan hidup? Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN. Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh. Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu biarkan hidup bagimu.
Tetapi kamu ini, berkemahlah tujuh hari lamanya di luar tempat perkemahan; setiap orang yang telah membunuh orang dan setiap orang yang kena kepada orang yang mati terbunuh haruslah menghapus dosa dari dirinya pada hari yang ketiga dan pada hari yang ketujuh, kamu sendiri dan orang-orang tawananmu; juga setiap pakaian dan setiap barang kulit dan setiap barang yang dibuat dari bulu kambing dan setiap barang kayu haruslah disucikan.'
Lalu berkatalah imam Eleazar kepada para prajurit, yang telah pergi bertempur itu: 'Inilah ketetapan hukum yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. Hanya emas dan perak, tembaga, besi, timah putih dan timah hitam, segala yang tahan api, haruslah kamu lakukan dari api, supaya menjadi tahir; tetapi semuanya itu haruslah juga disucikan dengan air penyuci; dan segala yang tidak tahan api haruslah kamu lalukan dari air. Lagipula kamu harus mencuci pakaianmu pada hari yang ketujuh, supaya kamu tahir, dan kemudian bolehlah kamu masuk ke tempat perkemahan.'
TUHAN berfirman kepada Musa: 'Hitunglah jumlah rampasan yang telah diangkut, yang berupa manusia dan hewan--engkau ini dan imam Eleazar serta kepala-kepala puak umat itu. Lalu bagi dualah rampasan itu, kepada pasukan bersenjata yang telah keluar berperang, dan kepada segenap umat yang lain. Dan engkau harus mengkhususkan upeti bagi TUHAN dari para prajurit yang keluar bertempur itu, yakni satu dari setiap lima ratus, baik dari manusia, baik dari lembu, dari keledai dan dari kambing domba; dari yang setengah yang telah didapat mereka haruslah engkau mengambilnya, lalu menyerahkannya kepada imam Eleazar, sebagai persembahan khusus bagi TUHAN. Tetapi dari yang setengah lagi yang untuk orang Israel lain haruslah engkau mengambil satu ambilan dari setiap lima puluh, baik dari manusia, baik dari lembu, dari keledai dan dari kambing domba, jadi dari segala hewan, lalu menyerahkan semuanya kepada orang Lewi yang memelihara Kemah Suci TUHAN.'
Kemudian Musa dan imam Eleazar melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
Adapun rampasan, yakni yang masih tinggal dari apa yang telah dijarah laskar itu berjumlah: enam ratus tujuh puluh lima ribu ekor kambing domba dan tujuh puluh dua ribu ekor lembu, dan enam puluh satu ribu ekor keledai, selanjutnya orang-orang, yaitu perempuan-perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki, seluruhnya tiga puluh dua ribu orang. Yang setengah yang menjadi bagian orang-orang yang telah keluar berperang itu jumlahnya tiga ratus tiga puluh tujuh ribu lima ratus ekor kambing domba, jadi upeti bagi TUHAN dari kambing domba itu ada enam ratus tujuh puluh lima ekor; lembu-lembu tiga puluh enam ribu ekor, jadi upetinya bagi TUHAN ada tujuh puluh dua ekor; keledai-keledai tiga puluh ribu lima ratus ekor, jadi upetinya bagi TUHAN ada enam puluh satu ekor; dan orang-orang enam belas ribu orang, jadi upetinya bagi TUHAN tiga puluh dua orang.
Lalu Musa menyerahkan upeti yang dikhususkan bagi TUHAN itu kepada imam Eleazar, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
Yang setengah lagi yang menjadi bagian orang Israel lain, yang dipisahkan Musa dari bagian orang-orang yang telah berperang itu, yaitu yang setengah yang menjadi bagian umat yang lain itu: domba-domba tiga ratus tiga puluh tujuh ribu lima ratus ekor, lembu-lembu tiga puluh enam ribu ekor, keledai-keledai tiga puluh ribu lima ratus ekor, dan orang-orang enam belas ribu orang. Lalu Musa mengambil dari yang setengah yang menjadi bagian orang Israel lain itu satu ambilan dari setiap lima puluh, baik dari manusia baik dari hewan, kemudian menyerahkan semuanya kepada orang Lewi yang memelihara Kemah Suci, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
Lalu mendekatlah para pemimpin tentara, yakni kepala-kepala pasukan seribu dan kepala-kepala pasukan seratus, kepada Musa serta berkata kepadanya: 'Hamba-hambamu ini telah menghitung jumlah prajurit yang ada di bawah kuasa kami dan dari mereka tidak ada seorangpun yang hilang. Sebab itu kami mempersembahkan sebagai persembahan kepada TUHAN apa yang didapat masing-masing, yakni barang-barang emas, gelang kaki, gelang tangan, cincin meterai, anting-anting dan kerongsang untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa kami di hadapan TUHAN.'
Maka Musa dan imam Eleazar menerima dari mereka emas itu, semuanya barang-barang tempaan. Dan segala emas persembahan khusus yang dipersembahkan mereka kepada TUHAN, yakni yang dari pihak kepala-kepala pasukan seribu dan kepala-kepala pasukan seratus, ada enam belas ribu tujuh ratus lima puluh syikal beratnya. Tetapi prajurit-prajurit itu masing-masing telah mengambil jarahan bagi dirinya sendiri.
Setelah Musa dan imam Eleazar menerima emas itu dari pihak kepala-kepala pasukan seribu dan kepala-kepala pasukan seratus, maka mereka membawanya ke dalam Kemah Pertemuan sebagai peringatan di hadapan TUHAN untuk mengingat orang Israel."
— Bilangan 31:1–54 (TB)
Pasal yang panjang ini melukiskan pembalasan yang dilakukan oleh bangsa Israel atas orang Midian sesuai perintah TUHAN. Peristiwa ini menggenapi perintah Allah dalam 25:16–18 menyusul hasutan terhadap orang Israel untuk menyembah Baal. Banyak bagian dalam Kitab Bilangan yang membingungkan, dan beberapa bagian memuat hal-hal yang sangat sukar dipahami, namun pemusnahan total dan yang tampak brutal yang dilakukan dalam pasal ini termasuk yang paling sukar. Tema-tema ini perlu dibahas di sini karena persoalan perang total (total warfare) terus muncul berulang kali di dalam Perjanjian Lama. Bermanfaat bahwa agresivitas semacam itu diungkapkan di sini sebagai tindakan "menjalankan pembalasan TUHAN" (31:3). Terlepas dari panjangnya pasal ini, sebagian besar teks sesungguhnya tidak dicurahkan pada rincian pertempuran itu sendiri, melainkan pada refleksi teologis atas peristiwa tersebut dan harta jarahan yang dihasilkan. Bagian ini bahkan dapat dipandang sebagai sebuah pola (template) mengenai bagaimana melancarkan "perang suci" (holy war, kendati istilah teknis tersebut tidak digunakan secara eksplisit di sini).
Bilangan 31:1–12. Pertempuran awal dimulai, diprakarsai oleh TUHAN sebagai pembalasan baik atas pelanggaran yang telah mereka lakukan terhadap Israel (31:2) maupun pelanggaran terhadap TUHAN (31:3). Israel adalah umat perjanjian TUHAN, sehingga kedua aspek ini tidak dapat dipisahkan. Ini akan menjadi tindakan terakhir dari Musa—sangatlah tepat karena ia adalah orang terakhir dari generasi pertama yang akan mati, dan sekalipun pertempuran ini dilancarkan oleh generasi kedua, pertempuran ini menjadi pendamaian atas dosa yang dilakukan terhadap generasi pertama.
Setiap suku mengutus prajurit ke medan pertempuran—berjumlah 12.000 orang secara keseluruhan (31:5). Ini merupakan pasukan yang relatif kecil, mengingat bahwa terdapat 32.000 orang non-kombatan yang berhasil ditawan (lihat 31:35). Jika pembaca mengambil pandangan alternatif mengenai bilangan-bilangan besar (lihat Pengantar), maka ketidakseimbangan jumlah tersebut menjadi bahkan lebih signifikan, kendati kisah selanjutnya mengenai orang Midian menunjukkan bahwa ukuran pasukan bukanlah penghalang menuju kemenangan (lihat Hak. 7).
Kita mengetahui bahwa pertempuran ini adalah milik TUHAN karena imam Pinehas, "perkakas tempat kudus", serta nafiri-nafiri pemberi tanda semboyan perang (lihat Bil. 10) menyertai para prajurit. Mereka membunuh setiap laki-laki (lihat catatan di bawah), kelima raja Midian, dan juga Bileam (lihat catatan atas 24:25). Pinehas diutus ke medan perang, bukannya ayahnya, Imam Besar Eleazar, kemungkinan besar demi memelihara ketahiran ritual keimaman (lihat catatan atas 12:10–16). Harta jarahan yang dikumpulkan diuraikan secara garis besar; di bagian selanjutnya dalam pasal ini jarahan tersebut akan diperinci secara lebih mendalam.
Sejauh ini, semuanya tampak berjalan lancar. Peristiwa ini tampak seperti pertempuran yang lugas kendati brutal yang dimenangkan oleh bangsa Israel, dan para pemenang yang pulang tak diragukan lagi menghadap ke depan Musa dan Eleazar (31:12) dengan harapan mendengar pujian yang membakar semangat: "Kerja bagus!". Namun, kenyataannya tidaklah demikian.
Bilangan 31:13–20. Sekalipun kebrutalan pertempuran tersebut telah memberikan kesan yang mendalam dan menakutkan, masih ada hal berat lainnya yang akan menyusul. Musa marah kepada para prajurit yang telah "membiarkan semua perempuan hidup" dan mengirim kembali pasukan untuk tahap kedua dari pertempuran tersebut guna membunuh anak-anak laki-laki dan para perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki (31:17–18). Namun, ia memerintahkan agar perempuan-perempuan muda dibiarkan hidup, dan mereka dibawa ke dalam perhambaan. Kita harus jujur mengakui bahwa kedua ayat ini sangatlah sukar, tetapi membacanya dalam konteks aslinya menjawab banyak pertanyaan yang muncul.
Pertama, membunuh anak-anak laki-laki merupakan praktik militer yang lazim pada zaman itu. Merekalah yang kelak akan tumbuh dewasa menjadi prajurit dan menuntut balas atas mereka yang telah membunuh generasi terdahulu. Sesungguhnya, inilah yang persis terjadi di kemudian hari, dan kita harus menyimpulkan bahwa pertempuran ini pada kenyataannya tidak menemukan dan membunuh setiap laki-laki Midian (perhatikan bagaimana mereka meneror orang Israel di dalam Kitab Hakim-Hakim, mis. Hak. 6:1–6).
Kedua, ini adalah pertempuran teologis, bukan sekadar pertempuran duniawi, dan pembunuhan kaum perempuan tersebut—bila dipandang sebagai suatu penghakiman—juga masuk akal. Teks Alkitab menegaskan secara jelas bahwa dosa di Peor adalah dosa seksual (25:1). Karena itu, perintah untuk menjalankan pembalasan TUHAN terhadap perempuan-perempuan yang telah "pernah bersetubuh dengan laki-laki" adalah sepenuhnya tepat. Tindakan ini memastikan bahwa penghakiman ilahi dijatuhkan secara adil kepada pihak-pihak yang bersalah.
Ketiga, sekalipun ada kemungkinan untuk menafsirkan pembiaran hidup bagi perempuan-perempuan muda sebagai bentuk perbudakan seksual, penafsiran semacam itu tidaklah perlu. Kualifikasi belas kasihan tersebut ("belum pernah bersetubuh dengan laki-laki") tidak serta-merta menjadikan mereka budak nafsu; melainkan, kualifikasi tersebut berfungsi sebagai sarana untuk memisahkan perempuan-perempuan ini dari mereka yang telah bersalah dalam dosa-dosa di Bilangan 25.
Sebagai bentuk penghakiman ilahi, keseluruhan episode ini koheren dan utuh, kendati tidak lepas dari kesulitan untuk dipahami bagi mereka yang hidup dalam kebudayaan abad kedua puluh satu. Namun, tidak ada jalan untuk melarikan diri dari penghakiman TUHAN yang adil dan benar. Para sejarawan dari era tersebut menunjukkan bahwa pendekatan ini sesungguhnya jauh lebih berbelaskasihan daripada perlakuan yang lazim diterapkan oleh sebagian besar bangsa lain pada masa itu.
Bilangan 31:21–47. Bagian tengah ini membahas mengenai harta jarahan yang dikumpulkan. Imam Eleazar (perhatikan bagaimana arahan teologis telah mengalami transisi dari Musa kepadanya) memberikan petunjuk mengenai bagaimana harta jarahan harus ditahirkan bersama-sama dengan para prajurit itu sendiri yang telah bersentuhan dengan kematian (31:21–24).
Bilangan 31:25–31 selanjutnya memaparkan bagaimana harta jarahan tersebut harus dibagikan menurut sebuah formula pembagian yang cukup rumit. Sebanyak 50% diberikan kepada segenap umat dan 50% kepada para prajurit. Dari masing-masing bagian separuh tersebut, 98% disimpan dan 2% (1/50) diberikan kepada orang Lewi (dari bagian jemaat) atau kepada para imam (dari bagian prajurit). Ketentuan ini berbeda dari, dan merupakan tambahan di luar, persembahan persepuluhan yang biasa.
Harta jarahan tersebut kini digambarkan dengan perincian yang sangat luar biasa. Jumlah yang terlibat sangat besar sehingga membuat sebagian pembaca meragukan keandalannya. Namun, tidak ada alasan untuk meragukan bahwa pertempuran yang sedemikian menentukan seperti ini menghasilkan jumlah barang dan ternak yang sangat berlimpah.
Bilangan 31:48–54. Sebuah kejutan penutup dalam kisah pertempuran ini adalah bahwa tidak ada satu pun prajurit Israel yang gugur dalam penugasan tersebut (31:49). Ketika mereka melaporkan fakta yang mencengangkan ini kepada Musa, mereka juga mempersembahkan "apa yang didapat masing-masing" sebagai "pendamaian" (atonement) di hadapan TUHAN. Namun, dalam pengertian apa pendamaian itu diperlukan? Dosa apakah yang telah diperbuat?
Terdapat dua kemungkinan pilihan. Yang pertama adalah bahwa pengumpulan harta pribadi (31:50) bertentangan dengan ketetapan mengenai harta jarahan, yang seluruhnya adalah milik TUHAN. Ungkapan yang terkesan santai, "apa yang didapat masing-masing", dapat dipahami dalam kerangka ini. Namun, kemungkinan yang lebih besar adalah bahwa para perwira telah melakukan pelanggaran dengan mengadakan sensus militer tanpa izin (31:48–49). Tentu saja mereka takjub menyaksikan bahwa tidak ada seorang pun yang tampak celaka, tetapi menghitung pasukan tanpa izin dari TUHAN dipandang sebagai bentuk kurangnya iman, dan hukum Taurat telah menyediakan tebusan pendamaian yang wajib dipersembahkan dalam situasi semacam itu (lihat Kel. 30:11–12).
Permohonan dan Pembagian Wilayah Transyordan bagi Suku Ruben, Gad, dan Setengah Suku Manasye (32:1–42)
"Adapun bani Ruben dan bani Gad ternaknya banyak, bahkan sangat banyak sekali. Ketika mereka melihat tanah Yaezer dan tanah Gilead, tampaklah tempat itu tempat yang baik untuk peternakan.
Lalu datanglah bani Gad dan bani Ruben dan berkata kepada Musa, imam Eleazar dan para pemimpin umat itu: 'Atarot, Dibon, Yaezer, Nimra, Hesybon, Eleale, Sebam, Nebo dan Beon, negeri yang telah dikalahkan oleh TUHAN untuk umat Israel, itulah suatu negeri yang baik untuk peternakan dan hamba-hambamu ini memang ada ternaknya.' Lagi kata mereka: 'Jika kami mendapat kasihmu, biarlah negeri ini diberikan kepada hamba-hambamu ini sebagai milik; janganlah kami harus pindah ke seberang sungai Yordan.'
Jawab Musa kepada bani Gad dan bani Ruben itu: 'Masakan saudara-saudaramu pergi berperang dan kamu tinggal di sini? Mengapa kamu hendak membuat enggan hati orang Israel untuk menyeberang ke negeri yang diberikan TUHAN kepada mereka? Demikian juga dilakukan bapa-bapamu, ketika aku menyuruh mereka dari Kadesh-Barnea untuk melihat-lihat negeri itu; mereka berjalan sampai ke lembah Eskol, melihat-lihat negeri dan membuat enggan hati orang Israel, sehingga mereka tidak mau pergi ke negeri yang diberikan TUHAN kepada mereka.
Maka bangkitlah murka TUHAN pada waktu itu dan Ia bersumpah: Bahwasanya orang-orang yang telah berjalan dari Mesir, yang berumur dua puluh tahun ke atas, tidak akan melihat negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, oleh karena mereka tidak mengikut Aku dengan sepenuh hatinya, kecuali Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, dan Yosua bin Nun, sebab keduanya mengikut TUHAN dengan sepenuh hatinya.
Sebab itu bangkitlah murka TUHAN kepada orang Israel, sehingga Ia membuat mereka mengembara di padang gurun empat puluh tahun lamanya, sampai habis mati segenap angkatan yang telah berbuat jahat di mata TUHAN. Dan sekarang kamu bangkit ganti bapa-bapamu, suatu kawanan orang-orang berdosa, untuk menambah lagi murka TUHAN yang menyala-nyala kepada orang Israel itu. Jika kamu berbalik membelakangi Dia, maka kamu akan lebih lama lagi dibiarkan-Nya tinggal di padang gurun dan kamu akan membawa kemusnahan atas seluruh bangsa ini.'
Tetapi mendekatlah mereka kepadanya serta berkata: 'Kami hendak mendirikan kandang-kandang kambing domba di sini untuk ternak kami dan kota-kota untuk anak-anak kami, tetapi kami sendiri akan mempersenjatai diri dan dengan bersegera kami akan berjalan di depan orang Israel, sampai kami membawa mereka ke tempatnya; sementara itu anak-anak kami akan tinggal dalam kota-kota yang berkubu oleh karena penduduk negeri ini; kami tidak akan pulang ke rumah kami, sampai setiap orang Israel memperoleh milik pusakanya; sebab kami tidak mau menerima milik pusaka di seberang sungai Yordan sana dan seterusnya, apabila kami mendapat milik pusaka di seberang sungai Yordan sini, di sebelah timur.'
Lalu berkatalah Musa kepada mereka: 'Jika kamu hendak berbuat demikian, jika kamu hendak mempersenjatai diri untuk berperang di hadapan TUHAN, dan setiap orang dari kamu yang telah bersenjata hendak menyeberangi sungai Yordan di hadapan TUHAN, sampai Ia menghalau musuh-musuh-Nya dari hadapan-Nya, sehingga negeri itu takluk ke hadapan TUHAN, dan jika kemudian kamu pulang, maka akan bebaslah kamu dari kewajibanmu kepada TUHAN dan kepada Israel, dan negeri inipun akan menjadi milikmu di hadapan TUHAN. Tetapi jika kamu tidak berbuat demikian, sesungguhnya kamu berdosa kepada TUHAN, dan kamu akan mengalami, bahwa dosamu itu akan menimpa kamu. Dirikanlah kota-kota bagi anak-anakmu dan kandang-kandang bagi kambing dombamu, dan perbuatlah apa yang telah kamu ucapkan.'
Maka berkatalah bani Gad dan bani Ruben itu kepada Musa: 'Hamba-hambamu ini akan berbuat seperti yang diperintahkan tuanku. Anak-anak dan isteri-isteri kami, ternak dan hewan kami akan tinggal di sini di kota-kota Gilead, tetapi hamba-hambamu ini akan menyeberang di hadapan TUHAN untuk bertempur, yakni setiap orang yang bersenjata untuk berperang, seperti yang dikatakan tuanku.'
Lalu Musa memberi perintah mengenai mereka kepada imam Eleazar dan kepada Yosua bin Nun, dan kepada kepala-kepala puak dari suku-suku Israel, kata Musa kepada mereka: 'Jika bani Gad dan bani Ruben itu telah menyeberangi sungai Yordan bersama-sama dengan kamu untuk berperang di hadapan TUHAN, yakni semuanya orang yang bersenjata untuk berperang, dan jika negeri itu telah takluk kepadamu, maka haruslah kamu memberikan tanah Gilead kepada mereka sebagai milik. Tetapi jika mereka tidak menyeberang dengan bersenjata bersama-sama dengan kamu, maka haruslah mereka menerima tanah miliknya di tengah-tengahmu di tanah Kanaan.'
Lalu bani Gad dan bani Ruben itu menjawab: 'Apa yang difirmankan TUHAN kepada hamba-hambamu ini akan kami lakukan. Kami sendiri akan menyeberang dengan bersenjata di hadapan TUHAN ke tanah Kanaan, tetapi bagi kami tetaplah tanah milik pusaka kami di seberang sungai Yordan sini.'
Lalu Musa memberikan kepada mereka, kepada bani Gad, kepada bani Ruben dan kepada setengah suku Manasye bin Yusuf: kerajaan Sihon, raja orang Amori, dan kerajaan Og, raja Basan, yakni negeri mereka beserta kota-kotanya di seluruh negeri itu, dengan daerah-daerah setiap kota itu.
Maka bani Gad membangun kota-kota Dibon, Atarot, Aroer, Atarot-Sofan, Yaezer, Yogbeha, Bet-Nimra, Bet-Haran, sebagai kota-kota yang berkubu dan sebagai tempat kandang-kandang kambing domba. Dan bani Ruben membangun kota-kota Hesybon, Eleale, Kiryataim, Nebo, Baal-Meon, --dengan mengganti nama-namanya--dan Sibma; dan mereka memberi nama lain kepada kota-kota yang dibangun mereka itu.
Bani Makhir bin Manasye pergi ke Gilead; mereka merebutnya dan menghalaukan orang Amori yang ada di sana. Lalu Musa memberikan Gilead kepada Makhir bin Manasye dan diamlah ia di sana. Yair, anak Manasye, pergi merebut dusun-dusunnya dan menamainya Hawot-Yair. Nobah pergi merebut Kenat dengan segala anak kotanya dan menamainya Nobah menurut namanya sendiri."
— Bilangan 32:1–42 (TB)
Pasal ini memaparkan permohonan yang diajukan oleh dua suku—Ruben dan Gad, yang kemudian disusul oleh sebagian dari suku Manasye (32:33)—untuk menetap di sebelah timur sungai Yordan (Transyordan). Musa menanggapi permohonan tersebut dengan kemarahan yang besar, namun di kemudian hari ia mencapai kesepakatan (settlement) dengan suku-suku tersebut yang diuraikan secara cukup terperinci. Terdapat sebuah pertanyaan eksegetis yang pelik—apakah teks Alkitab memandang permohonan ini beserta penyelesaiannya secara positif atau negatif? Banyak penafsir berpandangan bahwa permohonan tersebut wajar dan fakta bahwa Musa (serta kemudian TUHAN) mengakomodasi permohonan itu dipandang sebagai bukti persetujuan ilahi. Atas dasar pemikiran ini, pesan menyeluruh dari narasi ini adalah bahwa Musa telah bertindak bijak dan berhasil dalam memelihara keutuhan kedua belas suku.
Namun, sejumlah penafsir lainnya (yang merupakan mayoritas tipis) mengambil pandangan yang negatif. Permohonan itu sendiri pada hakikatnya berdosa, dan akomodasi yang diberikan Musa merupakan upaya untuk meminimalkan dampak buruk dari situasi yang salah, atau bahkan—seperti halnya penghakiman-penghakiman lain dalam Kitab Bilangan—merupakan tindakan menyerahkan suku-suku yang memberontak itu kepada apa yang mereka kehendaki. Kita akan memeriksa sejumlah bukti tekstual dalam pembahasan ini, namun yang terpenting, permohonan awal tersebut pada hakikatnya adalah penolakan terhadap firman TUHAN bagi mereka. Tanah yang mereka minta terletak di luar batas Tanah Perjanjian (lihat 34:12) sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Berdasarkan hal ini, suku Gad dan Ruben paling tepat dipandang sebagai pihak yang merusak kesatuan Israel, sementara Musa berupaya sekuat tenaga untuk membatasi kerusakan tersebut.
Bagaimana hal ini selaras dengan nada positif yang digunakan teks Alkitab untuk melukiskan generasi kedua? Nada positif tersebut paling tepat dipahami berlaku bagi bagian dari generasi baru yang tetap setia (seperti anak-anak perempuan Zelafehad), sehingga mengecualikan suku-suku tertentu ini. Satu poin umum lainnya perlu ditekankan: sangat menggoda untuk membaca frasa "setengah suku Manasye" (32:33) sebagai rujukan bahwa mereka hanyalah separuh dari keturunan Yusuf (dengan Efraim sebagai "setengah suku" lainnya). Namun, tidak ada satu pun bagian Kitab Suci yang menggambarkan Efraim dengan cara demikian. Frasa ini muncul 25 kali di dalam Perjanjian Lama dan selalu merujuk kepada suku Manasye, serta hanya pernah digunakan dalam konteks tanah yang diduduki di sebelah timur sungai Yordan. Hal ini dikarenakan sebagian dari suku Manasye memang menetap di sebelah barat sungai Yordan. Dengan demikian, suku-suku yang memberontak tersebut adalah seluruh suku Ruben dan Gad, serta separuh dari suku Manasye.
Bilangan 32:1–5. Ruben dan Gad mengajukan permohonan awal mereka. Argumen kedua suku ini tampaknya memiliki kadar permasalahan yang serupa dengan pemberontakan dalam Bilangan 13–14. Alasan yang mereka berikan sepenuhnya bersifat pragmatis: tanah tersebut "adalah negeri yang baik untuk peternakan, dan pada hamba-hambamu ini memang ada ternaknya." Sama sekali tidak ada refleksi teologis atau pengakuan bahwa TUHAN semata yang mengaruniakan tanah tersebut. Bahasa "melihat" dalam 32:1 menggemakan kembali pendekatan Lot dalam Kejadian 13:10.
Bilangan 32:6–15. Respons Musa jauh lebih panjang daripada permohonan mereka dan sarat dengan kemarahan. Tidak ada teguran dari TUHAN kepada Musa (bandingkan dengan 20:12), dan sekalipun ini adalah argumen dari ketiadaan penyebutan (argument from silence), kita harus menyimpulkan bahwa kemarahannya bukanlah kemarahan yang salah tempat. Musa sungguh-sungguh menyamakan dosa mereka dengan dosa dalam pasal 13–14, dengan menyatakan bahwa permohonan mereka akan mematahkan semangat (discourage) suku-suku lainnya (32:7, 9). Mereka tidak lebih baik daripada orang-orang Ruben dan Gad generasi pertama, dan mereka bukan hanya akan binasa di bawah penghakiman TUHAN, melainkan juga akan menyebabkan orang lain mengalami kebinasaan yang sama (32:15). Ini adalah perkataan yang sangat keras dan tegas.
Bilangan 32:16–19. Bagian pertama dari negosiasi yang rumit dan peka dimulai dengan suku-suku yang memberontak ini. Mereka tidak dapat dicegah atau digoyahkan oleh tuduhan-tuduhan Musa (yang dengan sendirinya mencerminkan sikap hati mereka yang buruk). Sebaliknya, mereka menawarkan diri untuk menyeberang dan berperang bersama-sama tanpa melepaskan klaim mereka atas tanah di sebelah timur Yordan. Bahasa yang mereka gunakan menunjukkan sikap yang menganggap remeh kebaikan Allah (presumes on God's goodness)—mengklaim bahwa wilayah ini adalah tanah milik pusaka mereka (32:19) tidak jauh berbeda dengan dosa kelancangan dalam 14:39–45. Barangkali frasa "mempersenjatai diri" dapat dipahami sebagai pengutusan pasukan "terbaik" atau pasukan "penggempur" (shock troops)—hanya sebagian kecil dari seluruh pasukan—dan hal ini memberikan konteks yang masuk akal bagi penekanan Musa dalam 32:21 di bawah.
Bilangan 32:20–24. Musa memberikan tawaran balasan dan sebuah akomodasi. Jika suku-suku tersebut mengirimkan seluruh prajurit mereka, bukan hanya sebagian saja (lihat catatan di atas), dan jika pasukan ini bertekun dalam tugas tersebut hingga tanah Kanaan berhasil ditaklukkan, barulah ia akan menyetujui permohonan mereka. Namun, ada peringatan keras—jika mereka tidak setia kepada janji ini, dosa mereka akan menemukan mereka dan mereka harus menanggung akibatnya. Perhatikan bagaimana Musa sekarang berbicara mengenai suku-suku ini secara terpisah dari "Israel" (32:22)—implikasi kuatnya adalah bahwa permohonan mereka telah menempatkan diri mereka di luar perkenanan TUHAN.
Bilangan 32:25–27. Kedua suku tersebut menyetujui persyaratan Musa, dengan mengulang tuntutan "setiap orang" sebagai kebalikan dari tawaran pertama mereka dalam 32:17.
Bilangan 32:28–32. Musa kini meneruskan kesepakatan ini kepada Eleazar dan Yosua yang kelak harus memastikan penggenapannya. Pengabulan permohonan mereka bergantung pada pemenuhan sumpah yang telah mereka ikrarkan. Suku-suku pemberontak tersebut kembali menegaskan komitmen mereka terhadap janji ini (32:31).
Bilangan 32:33–42. Di sini suku Manasye diperkenalkan untuk pertama kalinya. Mengapa mereka tidak disebutkan sampai saat ini tidaklah dijelaskan secara eksplisit. Kita hanya dapat menduga bahwa "keberhasilan" yang tampak dari permohonan suku-suku lain telah memicu mereka untuk ikut bergabung. Situasi mereka cukup rumit karena suku tersebut tidak bersatu di dalam dirinya sendiri mengenai apa yang hendak mereka lakukan.
Apakah mereka menepati janji ini? Yosua 4:12–13 tampaknya mengimplikasikan bahwa mereka melakukannya; demikian pula pelepasan kewajiban mereka oleh Yosua dalam Yosua 22:2. Namun, pemeriksaan yang lebih cermat terhadap data Alkitab menunjukkan bahwa jawabannya adalah negatif. Ketiga suku tersebut bersama-sama memiliki 137.000 prajurit perang (masing-masing 43.730 + 40.500 dan 52.700 orang, lihat Bil. 26). Namun, hanya 40.000 orang yang menyeberangi sungai Yordan (Yos. 4:12), sebagian di antaranya adalah separuh suku Manasye yang setia—kemungkinan sekitar 25.000 orang. Dengan kata lain, mereka jauh dari memenuhi janji mereka; pelepasan dalam Yosua 22 paling tepat dipandang sebagai perkataan yang ditujukan kepada sisa kaum yang benar (righteous remnant) dari suku-suku tersebut yang sungguh-sungguh melakukan apa yang telah mereka janjikan kepada Musa. Dan dalam bentangan sejarah Israel yang lebih luas dan panjang, terbukti benar pula bahwa dosa mereka sungguh-sungguh menimpa mereka.
Rekapitulasi Rute Perjalanan dari Mesir ke Moab dan Perintah Penumpasan Penduduk Kanaan (33:1–56)
"Inilah tempat-tempat persinggahan orang Israel, setelah mereka keluar dari tanah Mesir, pasukan demi pasukan, di bawah pimpinan Musa dan Harun;
Musa menuliskan perjalanan mereka dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan sesuai dengan titah TUHAN; dan inilah tempat-tempat persinggahan mereka dalam perjalanan mereka:
Mereka berangkat dari Rameses pada bulan yang pertama, pada hari yang kelima belas bulan yang pertama itu; pada hari sesudah Paskah berjalanlah orang Israel keluar, oleh tangan yang dinaikkan, di depan mata semua orang Mesir,
sementara orang Mesir sedang menguburkan orang-orang yang telah dibunuh TUHAN di antara mereka, yakni semua anak sulung; sebab TUHAN telah menjatuhkan hukuman-hukuman kepada para allah mereka.
Berangkatlah orang Israel dari Rameses, lalu berkemah di Sukot.
Mereka berangkat dari Sukot, lalu berkemah di Etam yang di tepi padang gurun.
Mereka berangkat dari Etam, lalu balik kembali ke Pi-Hahirot yang di depan Baal-Zefon, kemudian berkemah di tentangan Migdol.
Mereka berangkat dari Pi-Hahirot dan lewat dari tengah-tengah laut ke padang gurun, lalu mereka berjalan tiga hari perjalanan jauhnya di padang gurun Etam, kemudian mereka berkemah di Mara.
Mereka berangkat dari Mara, lalu sampai ke Elim; di Elim ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma; di sanalah mereka berkemah.
Mereka berangkat dari Elim, lalu berkemah di tepi Laut Teberau.
Mereka berangkat dari Laut Teberau, lalu berkemah di padang gurun Sin.
Mereka berangkat dari padang gurun Sin, lalu berkemah di Dofka.
Mereka berangkat dari Dofka, lalu berkemah di Alus.
Mereka berangkat dari Alus, lalu berkemah di Rafidim, dan di sana tidak ada air minum untuk bangsa itu.
Mereka berangkat dari Rafidim, lalu berkemah di padang gurun Sinai.
Mereka berangkat dari padang gurun Sinai, lalu berkemah di Kibrot-Taawa.
Mereka berangkat dari Kibrot-Taawa, lalu berkemah di Hazerot.
Mereka berangkat dari Hazerot, lalu berkemah di Ritma.
Mereka berangkat dari Ritma, lalu berkemah di Rimon-Peros.
Mereka berangkat dari Rimon-Peros, lalu berkemah di Libna.
Mereka berangkat dari Libna, lalu berkemah di Risa.
Mereka berangkat dari Risa, lalu berkemah di Kehelata.
Mereka berangkat dari Kehelata, lalu berkemah di Har-Syafer.
Mereka berangkat dari Har-Syafer, lalu berkemah di Harada.
Mereka berangkat dari Harada, lalu berkemah di Makhelot.
Mereka berangkat dari Makhelot, lalu berkemah di Tahat.
Mereka berangkat dari Tahat, lalu berkemah di Tarah.
Mereka berangkat dari Tarah, lalu berkemah di Mitka.
Mereka berangkat dari Mitka, lalu berkemah di Hasmona.
Mereka berangkat dari Hasmona, lalu berkemah di Moserot.
Mereka berangkat dari Moserot, lalu berkemah di Bene-Yaakan.
Mereka berangkat dari Bene-Yaakan, lalu berkemah di Hor-Gidgad.
Mereka berangkat dari Hor-Gidgad, lalu berkemah di Yotbata.
Mereka berangkat dari Yotbata, lalu berkemah di Abrona.
Mereka berangkat dari Abrona, lalu berkemah di Ezion-Geber.
Mereka berangkat dari Ezion-Geber, lalu berkemah di padang gurun Zin, yaitu Kadesh.
Mereka berangkat dari Kadesh, lalu berkemah di gunung Hor, di perbatasan tanah Edom.
Ketika itu imam Harun naik ke gunung Hor sesuai dengan titah TUHAN, dan di situ ia mati pada tahun keempat puluh sesudah orang Israel keluar dari tanah Mesir, pada bulan yang kelima, pada tanggal satu bulan itu;
Harun berumur seratus dua puluh tiga tahun, ketika ia mati di gunung Hor.
Pada waktu itu raja negeri Arad, orang Kanaan itu, yang tinggal di Tanah Negeb di tanah Kanaan, mendengar kabar tentang kedatangan orang Israel.
Berangkatlah mereka dari gunung Hor, lalu berkemah di Zalmona.
Mereka berangkat dari Zalmona, lalu berkemah di Funon.
Mereka berangkat dari Funon, lalu berkemah di Obot.
Mereka berangkat dari Obot, lalu berkemah dekat reruntuhan di Abarim di daerah Moab.
Mereka berangkat dari reruntuhan itu, lalu berkemah di Dibon-Gad.
Mereka berangkat dari Dibon-Gad, lalu berkemah di Almon-Diblataim.
Mereka berangkat dari Almon-Diblataim, lalu berkemah di pegunungan Abarim di depan Nebo.
Mereka berangkat dari pegunungan Abarim, lalu berkemah di dataran Moab di tepi sungai Yordan dekat Yerikho.
Mereka berkemah di tepi sungai Yordan, dari Bet-Yesimot sampai ke Abel-Sitim di dataran Moab.
TUHAN berfirman kepada Musa di dataran Moab di tepi sungai Yordan dekat Yerikho:
'Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu menyeberangi sungai Yordan ke tanah Kanaan,
maka haruslah kamu menghalau semua penduduk negeri itu dari depanmu dan membinasakan segala batu berukir kepunyaan mereka; juga haruslah kamu membinasakan segala patung tuangan mereka dan memusnahkan segala bukit pengorbanan mereka.
Haruslah kamu menduduki negeri itu dan diam di sana, sebab kepadamulah Kuberikan negeri itu untuk diduduki.
Maka haruslah kamu membagi negeri itu sebagai milik pusaka dengan membuang undi menurut kaummu: kepada yang besar jumlahnya haruslah kamu memberikan milik pusaka yang besar, dan kepada yang kecil jumlahnya haruslah kamu memberikan milik pusaka yang kecil; yang ditunjuk oleh undi bagi masing-masing, itulah bagian undiannya; menurut suku nenek moyangmu haruslah kamu membagi milik pusaka itu.
Tetapi jika kamu tidak menghalau penduduk negeri itu dari depanmu, maka orang-orang yang kamu tinggalkan hidup dari mereka akan menjadi seperti selumbar di matamu dan seperti duri yang menusuk lambungmu, dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu.
Maka akan Kulakukan kepadamu seperti yang Kurancang melakukan kepada mereka.'"
— Bilangan 33:1–56 (TB)
Pasal 33 terdiri atas dua bagian yang tidak sama panjang. Bagian pertama (33:1–49) mencatat perintah TUHAN kepada Musa untuk membukukan tempat-tempat persinggahan mereka di sepanjang rute menuju tempat perkemahan terakhir mereka di dataran Moab (yang telah mereka capai dalam 22:1). Kemudian bagian kedua yang lebih ringkas (33:50–56) memberikan instruksi-instruksi singkat mengenai penaklukan negeri Kanaan.
Bilangan 33:1–4. TUHAN memerintahkan Musa untuk mencatat semua tempat persinggahan orang Israel. Mengapa? Kemungkinan besar, catatan semacam ini bertujuan untuk memastikan bahwa hakikat dan karakter dari perjalanan tersebut—bukan sekadar nama-nama tempatnya—dapat terus diingat oleh umat. Ini adalah masa pengembaraan di padang gurun yang mencerminkan pemberontakan bangsa itu terhadap TUHAN, sekaligus memancarkan kesetiaan-Nya yang pada akhirnya membawa mereka tiba di negeri yang telah Dia janjikan. Hal ini dipertegas dengan pengingat akan penyelamatan dahsyat dari Mesir dalam 33:3–4.
Bilangan 33:5–49. Bagian panjang ini memerinci sekitar 40 nama tempat di mana orang Israel pernah berkemah. Sebagian penafsir berupaya mencari pola-pola serta makna simbolis di balik daftar ini, namun spekulasi semacam itu pada akhirnya sia-sia. Sebagian dari nama-nama tempat tersebut memang dikenal dan merujuk pada peristiwa-peristiwa penting di dalam Kitab Bilangan, seperti Kibrot-Taawa (33:16, bandingkan dengan 11:34) dan Hazerot (33:17, bandingkan dengan 11:35). Namun, mayoritas nama tempat tersebut tidak diketahui secara pasti—baik di dalam Kitab Bilangan sendiri maupun dalam catatan-catatan sejarah sezaman yang lebih luas.
Iain Duguid (lihat rekomendasi bacaan pilihan) dengan sangat menolong mengelompokkan nama-nama tempat ini ke dalam tiga kategori:
- Tempat-tempat yang berdiri sebagai pengingat akan kesetiaan Allah, yaitu lokasi-lokasi di mana TUHAN bertindak dan menyatakan karya-Nya;
- Tempat-tempat terjadinya pemberontakan yang mengingatkan bangsa Israel akan kesalahan mereka sendiri sekaligus akan anugerah Allah; dan
- Tempat-tempat lain yang sama sekali tidak kita ketahui rincian peristiwanya—yang menurut Duguid, mencerminkan aspek kewajaran dan rutinitas dari sebagian besar perjalanan hidup orang percaya (Christian journey).
Bilangan 33:50–56. Ayat-ayat ini memuat—sangat tepat setelah daftar panjang tempat persinggahan dalam perjalanan—suatu pernyataan ringkas mengenai penaklukan. Bangsa Israel diperintahkan untuk menghalau semua penduduk negeri itu (33:52). Kegagalan untuk melakukan hal tersebut akan berakibat pada tindakan TUHAN yang kelak akan menghalau bangsa Israel sendiri keluar dari negeri itu (33:56)—sebuah ringkasan yang sangat tepat mengenai garis besar narasi Perjanjian Lama. Risiko utama bagi bangsa Israel apabila mereka gagal adalah bahaya rohani. Oleh sebab itu, mereka harus membinasakan segala sisa peninggalan agama kafir purbakala penduduk setempat (33:52) dan menduduki apa yang TUHAN karuniakan. Setiap penduduk asli yang dibiarkan hidup dan tersisa (sebagaimana kelak dibuktikan oleh sejarah) akan menjadi "selumbar", "duri", dan "kesesatan/kesusahan" (33:55)—rangkaian kata yang secara utuh menggambarkan kepedihan, penderitaan, dan kesulitan besar yang akan timbul akibat kompromi rohani.
Batas-Batas Wilayah Kanaan dan Para Pemimpin Pembagi Tanah Pusaka (34:1–29)
TUHAN berfirman kepada Musa:
"Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu masuk ke negeri Kanaan, maka inilah negeri yang akan jatuh kepadamu sebagai milik pusaka, yakni tanah Kanaan menurut batas-batasnya.
Adapun sisi selatanmu ialah dari padang gurun Zin menyusur Edom, maka batas selatanmu mulai dari ujung Laut Asin di sebelah timur.
Lalu batasmu membelok di selatan pendakian Akrabim, terus ke Zin dan berakhir di sebelah selatan Kadesh-Barnea. Sesudah itu ia mencapai Hazar-Adar, dan terus ke Azmon.
Kemudian batas itu membelok dari Azmon ke sungai Mesir dan berakhir ke laut.
Batas baratmu ialah laut besar dan pantainya; itulah batas baratmu.
Inilah batas utaramu: mulai dari laut besar haruslah kamu buat tanda batas ke gunung Hor,
dari gunung Hor harus kamu buat tanda batas ke jalan yang menuju ke Hamat, lalu batas itu mencapai Zedad.
Kemudian batas itu mencapai Zifron dan berakhir di Hazar-Enan; itulah batas utaramu.
Sebagai batasmu di sebelah timur haruslah kamu membuat tanda batas dari Hazar-Enan ke Sefam.
Dari Sefam batas itu turun ke Ribla, di sebelah timur Ain; kemudian batas itu turun lagi dan mencapai tebing danau Kineret di sebelah timur.
Lalu batas itu turun ke sungai Yordan dan berakhir di Laut Asin. Itulah negerimu menurut batas-batasnya sekeliling."
Musa memerintahkan kepada orang Israel: "Itulah negeri yang akan kamu bagi sebagai milik pusaka dengan membuang undi, yang diperintahkan TUHAN untuk diberikan kepada suku yang sembilan setengah itu.
Sebab suku bani Ruben menurut puak-puak mereka dan suku bani Gad menurut puak-puak mereka telah menerima milik pusakanya; juga suku Manasye yang setengah itu telah menerimanya.
Dua setengah suku itu telah menerima milik pusaka mereka di seberang sungai Yordan di dekat Yerikho, ke sebelah timur."
TUHAN berfirman kepada Musa:
"Inilah nama orang-orang yang harus membagikan tanah itu kepadamu sebagai milik pusaka: imam Eleazar dan Yosua bin Nun.
Lagi haruslah kamu mengambil seorang pemimpin dari setiap suku untuk membagikan tanah itu sebagai milik pusaka.
Inilah nama orang-orang itu: dari suku Yehuda: Kaleb bin Yefune;
dari suku bani Simeon: Samuel bin Amihud;
dari suku Benyamin: Elidad bin Kislon;
dari suku bani Dan seorang pemimpin: Buki bin Yogli;
dari anak-anak Yusuf, yakni dari suku bani Manasye seorang pemimpin Haniel bin Efod;
dan dari suku bani Efraim seorang pemimpin: Kemuel bin Siftan;
dari suku bani Zebulon seorang pemimpin: Elisafan bin Parnah;
dari suku bani Isakhar seorang pemimpin: Paltiel bin Azan;
dari suku bani Asyer seorang pemimpin: Ahihud bin Selomi;
dari suku bani Naftali seorang pemimpin: Pedael bin Amihud.
Itulah orang-orang yang diperintahkan TUHAN untuk membagikan milik pusaka kepada orang Israel di tanah Kanaan."
— Bilangan 34:1–29 (TB)
Pasal 34 seluruhnya membahas mengenai kepemilikan tanah pusaka, pertama-tama dengan mendefinisikan batas-batas wilayahnya (34:1–15), lalu memberikan petunjuk-petunjuk praktis untuk pembagiannya (34:16–29). Peta atlas Alkitab akan menggambarkan batas-batas ini secara visual dan jelas. Perhatikan bagaimana di sepanjang kedua bagian ini, bahasa "milik pusaka" (inheritance) sangat mendominasi. Bangsa Israel tidak boleh berpikir bahwa mereka telah menghasilkan atau merebut negeri itu dengan kekuatan mereka sendiri. Sebaliknya, di dalam Kitab Bilangan, tanah tersebut selalu dinyatakan sebagai sesuatu yang dikaruniakan oleh TUHAN.
Bilangan 34:1–12. Batas-batas selatan (34:3–5), barat (34:6), utara (34:7–9), dan timur (34:10–12) dari tanah itu kini diuraikan. Di sini kita melihat deskripsi paling jelas mengenai luas dan bentang wilayah tanah perjanjian yang terdapat di dalam Pentateukh. Batas-batas bagian utara dan selatan merupakan yang paling rumit, memadukan kombinasi titik-titik ketinggian (seperti pendakian Akrabim dalam 34:4 dan gunung Hor dalam 34:7) serta bentang perairan seperti sungai-sungai dan laut. Sekalipun rumit, batas-batas tersebut mudah untuk dikenali. Batas sebelah barat adalah pesisir Laut Tengah / Laut Besar (34:6), sedangkan batas sebelah timur sebagian besar ditentukan oleh sungai Yordan (34:12).
Bilangan 34:13–15. Penyebutan khusus dan terpisah ditujukan kepada suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye (lihat catatan eksposisi pada Bilangan 32). Tanah yang akan mereka terima tetap digambarkan sebagai milik pusaka (karena berasal dari TUHAN), namun cara perikop ini disusun memperlihatkan bagaimana wilayah mereka tidak dianggap sebagai bagian utuh dari keseluruhan tanah perjanjian utama. Kita dapat melihat hal tersebut dalam kontras yang tajam antara tanah yang "dibagi sebagai milik pusaka dengan membuang undi" (34:13) dan bagian dua setengah suku tersebut ("telah menerima"). Yang sangat signifikan, suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye memilih sendiri tanah mereka (32:1–5), alih-alih tunduk secara pasrah pada pembagian yang ditetapkan oleh TUHAN.
Bilangan 34:16–29. Ayat-ayat ini sekilas tampak hanyalah daftar para kepala suku yang akan terlibat dalam proses pembagian tanah (yang rincian mekanismenya belum dijelaskan secara mendalam). Sekalipun demikian, tidaklah mungkin kita melewatkan gaung dan gema dari pasal 1 di sini, serta melihat bagaimana TUHAN kini akhirnya berurusan secara penuh dengan generasi yang baru, termasuk imam Eleazar dan Yosua sebagai para pemimpin utama umat (34:17).
Penetapan Kota-Kota Tempat Kediaman Orang Lewi dan Enam Kota Perlindungan (35:1–34)
TUHAN berfirman kepada Musa di dataran Moab di tepi sungai Yordan di dekat Yerikho:
"Perintahkanlah kepada orang Israel, supaya dari milik pusaka kepunyaannya diberikan mereka kota-kota kepada orang Lewi untuk didiami; juga haruslah kamu memberikan kepada orang Lewi tanah-tanah penggembalaan yang di sekeliling kota-kota itu.
Kota-kota itu akan menjadi kepunyaan mereka untuk didiami dan tanah-tanah penggembalaannya untuk hewan yang mereka miliki dan untuk segala ternak mereka yang lain.
Tanah-tanah penggembalaan kota-kota yang harus kamu berikan kepada orang Lewi itu ialah dari tembok kota ke luar seribu hasta berkeliling.
Di luar kota itu haruslah kamu mengukur dua ribu hasta di sisi timur dan dua ribu hasta di sisi selatan dan dua ribu hasta di sisi barat dan dua ribu hasta di sisi utara, sehingga kota itu berada di tengah-tengah; itulah bagi mereka tanah-tanah penggembalaan kota-kota.
Mengenai kota-kota yang harus kamu berikan kepada orang Lewi itu, ialah enam kota perlindungan yang harus kamu berikan, supaya orang pembunuh dapat melarikan diri ke sana; di samping itu haruslah kamu memberikan empat puluh dua kota.
Segala kota yang harus kamu berikan kepada orang Lewi itu berjumlah empat puluh delapan kota, semuanya dengan tanah-tanah penggembalaannya.
Mengenai kota-kota yang akan kamu berikan dari tanah milik orang Israel, dari suku yang banyak jumlahnya haruslah kamu ambil banyak, dan dari suku yang sedikit jumlahnya haruslah kamu ambil sedikit. Setiap suku harus memberikan dari kota-kotanya kepada orang Lewi sekadar milik pusaka yang dibagikan kepadanya."
TUHAN berfirman kepada Musa:
"Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu menyeberangi sungai Yordan ke tanah Kanaan,
maka haruslah kamu memilih beberapa kota yang menjadi kota-kota perlindungan bagimu, supaya orang pembunuh yang telah membunuh seseorang dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke sana.
Kota-kota itu akan menjadi tempat perlindungan bagimu terhadap penuntut balas, supaya pembunuh jangan mati, sebelum ia dihadapkan kepada rapat umat untuk diadili.
Dan kota-kota yang kamu tentukan itu haruslah enam buah kota perlindungan bagimu.
Tiga kota harus kamu tentukan di seberang sungai Yordan sini dan tiga kota harus kamu tentukan di tanah Kanaan; semuanya kota-kota perlindungan.
Keenam kota itu haruslah menjadi tempat perlindungan bagi orang Israel dan bagi orang asing dan pendatang di tengah-tengahmu, supaya setiap orang yang telah membunuh seseorang dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke sana.
Tetapi jika ia membunuh orang itu dengan benda besi, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh.
Dan jika ia membunuh orang itu dengan batu di tangan yang mungkin menyebabkan matinya seseorang, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh.
Atau jika ia membunuh orang itu dengan benda kayu di tangan yang mungkin menyebabkan matinya seseorang, sehingga orang itu mati, maka ia seorang pembunuh; pastilah pembunuh itu dibunuh.
Penuntut darahlah yang harus membunuh pembunuh itu; pada waktu bertemu dengan dia ia harus membunuh dia.
Juga jika ia menumbuk orang itu karena benci atau melempar dia dengan sengaja, sehingga orang itu mati,
atau jika ia memukul dia dengan tangannya karena perasaan permusuhan, sehingga orang itu mati, maka pastilah si pemukul itu dibunuh; ia seorang pembunuh; penuntut darah harus membunuh pembunuh itu, pada waktu bertemu dengan dia.
Tetapi jika ia sekonyong-konyong menumbuk orang itu dengan tidak ada perasaan permusuhan, atau dengan tidak sengaja melemparkan sesuatu benda kepadanya,
atau dengan kurang ingat menjatuhkan kepada orang itu sesuatu batu yang mungkin menyebabkan matinya seseorang, sehingga orang itu mati, sedangkan dia tidak merasa bermusuh dengan orang itu dan juga tidak mengikhtiarkan celakanya,
maka haruslah rapat umat mengadili antara orang yang membunuh itu dan penuntut darah, menurut hukum-hukum ini,
dan haruslah rapat umat membebaskan pembunuh dari tangan penuntut darah, dan haruslah rapat umat mengembalikan dia ke kota perlindungan, ke tempat ia telah melarikan diri; di situlah ia harus tinggal sampai matinya imam besar yang telah diurapi dengan minyak yang kudus.
Tetapi jika terjadi bahwa pembunuh itu keluar dari batas kota perlindungan, tempat ia melarikan diri,
dan penuntut darah mendapat dia di luar batas kota perlindungannya, dan penuntut darah membunuh pembunuh itu, maka tidaklah ia berhutang darah,
sebab pembunuh itu wajib tinggal di kota perlindungan sampai matinya imam besar, tetapi sesudah matinya imam besar bolehlah pembunuh itu kembali ke tanah kepunyaannya sendiri.
Itulah semuanya yang harus menjadi ketetapan hukum bagimu turun-temurun di segala tempat kediamanmu.
Setiap orang yang telah membunuh seseorang haruslah dibunuh sebagai pembunuh menurut keterangan saksi-saksi, tetapi kalau hanya satu orang saksi saja tidak cukup untuk memberi keterangan terhadap seseorang dalam perkara hukuman mati.
Janganlah kamu menerima uang tebusan karena nyawa seorang pembunuh yang kesalahannya setimpal dengan hukuman mati, tetapi pastilah ia dibunuh.
Juga janganlah kamu menerima uang tebusan karena seseorang yang telah melarikan diri ke kota perlindungannya, supaya ia boleh kembali untuk diam di tanahnya sebelum matinya imam besar.
Jadi janganlah kamu mencemarkan negeri tempat tinggalmu, sebab darah itulah yang mencemarkan negeri itu, maka bagi negeri itu tidak dapat diadakan pendamaian oleh karena darah yang tertumpah di sana, kecuali dengan darah orang yang telah menumpahkannya.
Maka janganlah najiskan negeri tempat kedudukanmu, yang di tengah-tengahnya Aku diam, sebab Aku, TUHAN, diam di tengah-tengah orang Israel."
— Bilangan 35:1–34 (TB)
Pada awal Kitab Bilangan, kita telah mengetahui bahwa orang-orang Lewi tidak diperlakukan sama seperti orang Israel lainnya (1:47–54). Mereka adalah milik TUHAN sebagai pengganti anak-anak sulung dari setiap keluarga (3:11–13) dan bertugas melayani di dalam Kemah Suci serta menangani pengangkutannya. Karena itu, mereka tidak pernah menerima tanah sebagai milik pusaka. Namun, di manakah mereka akan tinggal? Bagian pertama yang singkat (35:1–8) menjawab pertanyaan ini, tetapi sekaligus memunculkan lebih banyak persoalan daripada yang diselesaikannya karena memperkenalkan gagasan tentang "kota-kota perlindungan" (35:6), yang kemudian dijelaskan dalam bagian kedua yang lebih panjang (35:9–34).
Bilangan 35:1–8. Bahasa "milik pusaka" (inheritance) dan "milik/kepunyaan" (possession) (35:2) tidak pernah diterapkan bagi orang Lewi. Sebagai gantinya, mereka menerima sebagian dari milik pusaka suku-suku lain untuk digunakan sebagai "kota-kota bagi mereka untuk didiami." Mereka juga menerima padang-padang penggembalaan bagi kawanan ternak mereka, yakni sejauh 1.000 hasta di setiap sisi kota (sekitar 450 meter atau 1.500 kaki), sehingga menghasilkan dimensi total 2.000 hasta di sekelilingnya (35:5) dengan kota tersebut berada di tengah-tengahnya. Sebanyak empat puluh delapan kota harus diserahkan kepada mereka, yang rata-rata berjumlah empat kota per suku, sekalipun alokasinya didasarkan pada besarnya ukuran suku demi asas keadilan (35:8). TUHAN senantiasa memelihara dan mencukupi seluruh umat-Nya. Teks ini memperkenalkan sebuah ketetapan baru yang belum pernah muncul di dalam hukum-hukum sebelumnya: "kota-kota perlindungan."
Bilangan 35:9–34. Fungsi kota-kota perlindungan kini diuraikan secara terperinci. Bagian ini relatif panjang karena, tidak seperti sejumlah hukum lainnya, belum pernah ada ketetapan hukum terperinci mengenai pokok ini sebelumnya, sekalipun terdapat rujukan singkat dalam Keluaran 21:13. Seluruh perikop ini merupakan ketetapan hukum yang baru.
Bilangan 35:9–15. Prinsip-prinsip umum ditegakkan. Tiga kota di sebelah timur dan tiga kota di sebelah barat sungai Yordan ditetapkan sebagai kota-kota perlindungan, tempat orang yang membunuh sesamanya tanpa sengaja dapat melarikan diri. Hukum yang mengatur pembunuhan tanpa sengaja telah diperinci dalam Keluaran 21 dan—mengingat betapa berharganya kehidupan bagi TUHAN (lihat Kel 21:33–34)—tidaklah mengherankan jika ada begitu banyak ketetapan yang diberikan. Kota-kota ini terbuka bagi siapa saja tanpa pembedaan—baik bagi orang Israel asli maupun orang asing dan pendatang (35:15). Namun, ketetapan ini memunculkan banyak pertanyaan praktis yang kini dijawab oleh hukum tersebut.
Bilangan 35:16–21. Dasar penetapan pembunuhan yang disengaja dan tidak disengaja ditegakkan: jika seseorang dipukul dengan suatu benda (besi atau kayu) atau dipukul di dalam amarah permusuhan, hal itu tidak dapat diklaim sebagai ketidaksengajaan. Pelaku pembunuhan tersebut pastilah dihukum mati (sebuah frasa yang diulang sebanyak tujuh kali untuk menegaskan poin ini). Hukuman mati ini sudah ada sebelum hukum Taurat Musa dan bahkan mendahului zaman Abraham, menggemakan perintah TUHAN kepada Nuh (Kej 9:6), yang merupakan penerapan langsung dari maksud-maksud penciptaan Allah.
Bilangan 35:22–29. Namun, tidak setiap peristiwa kematian masuk ke dalam kategori pembunuhan berencana tersebut. Rapat umat harus memutuskan apakah tindakan itu disengaja atau tidak, dan jika terbukti tidak sengaja, si pelaku dapat melarikan diri ke sebuah kota perlindungan. Mengapa ia perlu melakukan hal tersebut? Karena tetap harus ada pengakuan bahwa darah telah tertumpah. Tertuduh harus tetap tinggal di dalam kota itu sampai matinya imam besar (35:25), yang sekilas tampak seperti batasan waktu yang arbitrer. Kita tidak dapat memastikan secara mutlak mengapa kematian imam besar dikaitkan dengan pembebasan dari kota perlindungan. Mungkin kehidupan sang imam dalam arti tertentu dipandang bernilai menggantikan kehidupan orang yang telah meninggal. Pembunuh itu tidak boleh meninggalkan kota perlindungan tersebut; itulah hukumannya. Jika ia nekat keluar (35:26–29), ia menambahkan dosa yang disengaja di atas ketidaksengajaannya membunuh, dan "penuntut darah" (kemungkinan kerabat dari korban yang meninggal) berhak mencarinya serta menuntut nyawanya.
Bilangan 35:30–32. Agar kita tidak menganggap remeh hilangnya nyawa seseorang, kita diingatkan kembali bahwa pembunuhan berencana mendatangkan hukuman mati (Kej 9:6; Kel 21:12–14). Kematian tidak boleh dipandang sepele—karena itulah dibutuhkan kesaksian sekurang-kurangnya dua orang saksi, sebuah hukum yang kemudian diulangi dalam Ulangan 17:6 dan diangkat kembali di dalam Injil (Mat 18:16). Tidak boleh ada pengganti, ataupun pembayaran uang tebusan sebagai ganti hukuman mati; hukum ini bersifat mutlak.
Bilangan 35:33–34. Sebuah landasan teologis mempertegas fungsi dari kota-kota perlindungan. Darah mencemarkan tanah, dan tidak ada pendamaian (atonement) yang dapat diadakan bagi kematian selain kematian orang yang bersalah. Mengapa demikian? Karena TUHAN sendiri berdiam di tanah tersebut. Selama tahun-tahun pengembaraan di padang gurun, umat perlu mengetahui bahwa TUHAN berdiam di tengah-tengah perkemahan mereka (5:3). Kini, saat mereka memasuki tanah perjanjian, mereka harus belajar bahwa Dia berdiam di tanah itu sendiri—suatu milik pusaka yang Dia anugerahkan secara cuma-cuma kepada umat pilihan-Nya.
Ketetapan Pernikahan bagi Ahli Waris Perempuan demi Keutuhan Tanah Pusaka Antar-Suku (36:1–13)
Mendekatlah kepala-kepala puak dari kaum bani Gilead bin Makhir bin Manasye, salah satu dari kaum-kaum keturunan Yusuf, dan berbicara di depan Musa dan pemimpin-pemimpin, kepala-kepala suku orang Israel,
kata mereka: "TUHAN telah memerintahkan tuanku untuk memberikan tanah itu kepada orang Israel sebagai milik pusaka dengan membuang undi, dan oleh TUHAN telah diperintahkan kepada tuanku untuk memberikan milik pusaka Zelafehad, saudara kami, kepada anak-anaknya yang perempuan.
Tetapi seandainya mereka kawin dengan salah seorang anak laki-laki dari suku lain di antara orang Israel, maka milik pusaka perempuan itu akan dikurangkan dari milik pusaka bapa-bapa kami dan akan ditambahkan kepada milik pusaka suku yang akan dimasukinya, jadi akan dikurangkan dari milik pusaka yang diundikan kepada kami.
Maka apabila tiba tahun Yobel bagi orang Israel, milik pusaka perempuan itu akan ditambahkan kepada milik pusaka suku yang akan dimasukinya dan akan dikurangkan dari milik pusaka suku nenek moyang kami."
Lalu Musa memerintahkan kepada orang Israel sesuai dengan titah TUHAN: "Perkataan suku keturunan Yusuf itu benar.
Inilah firman yang diperintahkan TUHAN mengenai anak-anak perempuan Zelafehad, bunyinya: Mereka boleh kawin dengan siapa saja yang suka kepada mereka, asal mereka kawin di lingkungan salah satu kaum dari suku ayah mereka.
Sebab milik pusaka orang Israel tidak boleh beralih dari suku ke suku, tetapi orang Israel haruslah masing-masing memegang milik pusaka suku nenek moyangnya.
Jadi setiap anak perempuan di antara suku-suku orang Israel yang telah mewarisi milik pusaka, haruslah kawin dengan seorang dari salah satu kaum yang termasuk suku ayahnya, supaya setiap orang Israel mewarisi milik pusaka nenek moyangnya.
Sebab milik pusaka itu tidak boleh beralih dari suku ke suku, tetapi suku-suku orang Israel haruslah masing-masing memegang milik pusakanya sendiri."
Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat anak-anak perempuan Zelafehad.
Maka Mahla, Tirza, Hogla, Milka dan Noa, anak-anak perempuan Zelafehad, kawin dengan anak-anak lelaki dari pihak saudara-saudara ayah mereka;
mereka kawin dengan laki-laki dari kaum-kaum bani Manasye bin Yusuf, sehingga milik pusaka mereka tetap tinggal pada suku kaum ayahnya.
Itulah perintah dan peraturan yang diperintahkan TUHAN kepada orang Israel dengan perantaraan Musa di dataran Moab di tepi sungai Yordan dekat Yerikho.
— Bilangan 36:1–13 (TB)
Kitab ini berakhir dengan apa yang sekilas tampak sebagai nada yang agak ganjil dan negatif. Kita kembali kepada kisah kelima anak perempuan Zelafehad (lihat 27:1–11) dan persoalan lanjutan yang timbul karena mereka tidak memiliki saudara laki-laki. Kisah para perempuan ini harus dibaca di dalam terang keseluruhan kitab. Kitab Bilangan berbicara mengenai perjalanan dari Mesir menuju Kanaan, tempat umat akan menerima tanah milik pusaka yang dijanjikan kepada mereka. Kita dapat mengatakan bahwa pemberian tanah tersebut merupakan tema agung dari kitab ini dan tema agung dari pasal ini: kata "milik pusaka" (inheritance) muncul sebanyak tujuh belas kali hanya dalam beberapa ayat singkat. Hal ini mungkin terkesan berulang-ulang, tetapi berfungsi untuk mengingatkan kita tentang apa sebenarnya inti dari seluruh kisah ini. Mahla, Tirza, Hogla, Milka, dan Noa melakukan apa pun yang diperlukan untuk memegang teguh milik pusaka ini: dipandang dari sudut ini, merekalah pahlawan sejati dari Kitab Bilangan.
Bilangan 36:1–4. Satu persoalan mengenai anak-anak perempuan Zelafehad telah diselesaikan sebelumnya—apakah mereka sebagai kaum perempuan berhak mewarisi tanah dari ayah mereka: jawabannya adalah ya. Terlebih lagi, itu adalah pertanyaan yang tepat untuk diajukan (27:7). Namun, kerumitan lanjutan kini muncul, yang dibawa kepada Musa oleh para pemimpin suku (36:1) karena persoalan ini tidak lagi sekadar masalah pribadi bagi kelima perempuan tersebut, melainkan masalah yang harus dihadapi oleh seluruh suku. Apa yang akan terjadi jika salah satu dari anak-anak perempuan itu menikah dengan pria dari suku lain? Kepada siapakah tanah tersebut akan beralih nantinya? Sebagai contoh, kita dapat membayangkan Noa menikah dengan Boas dari suku Yehuda. Tanah bagian Noa (tanah kepunyaan suku Manasye) secara efektif akan beralih kepada anak-anaknya saat Noa meninggal, padahal anak-anaknya tersebut adalah orang-orang Yehuda. Bahkan ketika tahun Yobel tiba (pemulihan hak milik atas segala properti menurut Imamat 25), masalah ini tetap tidak akan terselesaikan (36:4). Seiring berjalannya waktu, petak-petak tanah di dalam wilayah pembagian suatu suku pada akhirnya akan menjadi milik suku-suku yang sama sekali berbeda. Dan teks ini bahkan belum menyebutkan komplikasi yang timbul jika seorang perempuan pemilik tanah menikah dengan seorang Lewi!
Bilangan 36:5–9. Sebuah solusi diberikan, dan itu diawali dengan konfirmasi yang sama dalam 36:5 sebagaimana yang telah muncul dalam 27:7. Solusi tersebut sangat lugas dan mencapai tujuan yang ditetapkan: milik pusaka (perhatikan bahwa kata ini yang digunakan, bukan kata yang lebih netral yaitu "tanah") "tidak boleh beralih." Bagaimana hal ini dicapai? Setiap anak perempuan yang memegang hak atas tanah atas namanya sendiri hanya boleh menikah di lingkungan sukunya sendiri. Pernikahan imajiner kita antara Noa dan Boas harus dibatalkan, dan Noa hanya boleh menikah dengan seorang pria dari suku Manasye.
Ketentuan ini mungkin terdengar bukan sebagai pembatasan yang berat: bagaimanapun juga, bahkan setelah memperhitungkan pemisahan suku Manasye menjadi dua bagian akibat peristiwa dalam pasal 32, masih ada sekitar 25.000 laki-laki berusia di atas 20 tahun (26:34). Akan tetapi, banyak dari mereka yang tentu sudah berstatus menikah, sehingga kelompok calon yang tersedia tidaklah sebesar yang kita bayangkan, dan kita tepat memandangnya sebagai sebuah pembatasan.
Bilangan 36:10–12. Kelima anak perempuan tersebut menanggung pembatasan ini dengan rela hati. Teks Alkitab menerapkan kepada mereka frasa ketaatan baku (standard obedience refrain) dalam 36:10. Kita dapat menyatakannya seperti ini: mereka menyadari bahwa tanah milik pusaka adalah segalanya, dan mereka bersedia melakukan apa pun untuk memegang teguh milik pusaka tersebut, apa pun pembatasan yang dituntut darinya. Dalam kerangka Perjanjian Baru, sikap ini setara dengan ungkapan: "aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus" (Flp. 3:13–14).
Bilangan 36:13. Kisah tentang ketaatan dan pengorbanan diri dalam upaya memegang teguh apa yang telah TUHAN karuniakan ini menjadi penutup yang sangat tepat bagi kitab ini. Tuntutan-tuntutan TUHAN sudah jelas, dan kini kita telah menyaksikan dua generasi—generasi pertama yang menolak untuk taat dan menanggung akibatnya; serta generasi kedua yang dengan rela hati tunduk kepada kehendak TUHAN dan mewarisi apa yang telah Dia janjikan.
Kepustakaan (Bibliography)
- Ashley, T. R. The Book of Numbers. Grand Rapids: Eerdmans, 1993.
- Duguid, I. M. Numbers: God’s Presence in the Wilderness. Wheaton: Crossway, 2006.
- Pakula, M. Numbers: Homeward Bound. Sydney, Aquila Press, 2006.
- Reynolds, A. Teaching Numbers: From Text to Message. Fearn: Christian Focus/Proclamation Trust Media, 2013.
- Wenham, G. J. Numbers: An Introduction and Commentary. Nottingham: Inter-Varsity Press, 1981.
[^1]: Di sepanjang komentari ini, penulis mengikuti konvensi terjemahan-terjemahan Alkitab utama dengan menyebut nama kudus Allah (sering dituliskan sebagai YHWH/Yahweh) sebagai TUHAN (the LORD).
[^2]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 4:40–51, yang merupakan salah cetak untuk Bilangan 3:40–51 (pasal 4 hanya memiliki 49 ayat).
[^3]: Lihat catatan oleh penulis dalam NIV Proclamation Bible (Grand Rapids, MI: Zondervan), 2015.
[^4]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis "Num 36", yang merupakan salah cetak untuk Bilangan 26.
[^5]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis "should not be understood as whether the sin is defiant or not" ("tidak boleh dipahami berdasarkan apakah dosa itu bersifat menentang atau tidak"), yang tampaknya merupakan salah cetak: kalimat berikutnya dan catatan penulis pada 15:27–31 ("yakni secara sengaja menentang Allah") menunjukkan bahwa perbedaan kedua kategori itu justru terletak pada sikap menentang tersebut.
[^6]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 18:18–20, yang merupakan salah cetak untuk 18:8–20 mengenai ketentuan persembahan bagi para imam.
[^7]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis "7 lambs" (tujuh ekor domba), yang merupakan salah cetak untuk 14 ekor domba berumur setahun pada hari pertama sampai ketujuh perayaan (bdk. Bil. 29:13, 17, 20, 23, 26, 29, 32; ESV/TB: fourteen male lambs / empat belas ekor domba). Jumlah 7 ekor domba baru dipersembahkan pada hari kedelapan perkumpulan raya (Bil. 29:36).
Komentar ()