Ulangan


Tentang Seri Ini:
Artikel ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari The Gospel Coalition (TGC) Bible Commentary untuk Kitab Ulangan.
Penulis: J. Gary Millar, D.Phil. (Principal of Queensland Theological College, Brisbane, Australia)
Sumber Asli: The Gospel Coalition Bible Commentary — Deuteronomy
Diterjemahkan dan dipublikasikan untuk tujuan edukasi dan non-komersial.


Pengantar Kitab Ulangan

Kitab Ulangan merupakan poros tempat teologi Perjanjian Lama berputar. Khotbah puncak Musa di ambang Tanah Perjanjian berfungsi ganda sebagai kesimpulan dari Pentateukh sekaligus pintu gerbang menuju sejarah Israel sebagaimana dipaparkan dalam Yosua sampai 2 Raja-raja. Perkataan-perkataannya menguraikan wujud kehidupan yang taat di tanah tersebut dalam hal penyembahan, relasi, dan perilaku; memanggil umat Allah untuk mendengarkan Dia; memperingatkan mereka tentang konsekuensi dari kegagalan mereka yang tak terelakkan; serta membentangkan di hadapan umat Allah prospek mulia dari penyediaan anugerah di masa depan yang akan mentransformasi hati mereka dan membawa kebenaran ke dalam jangkauan mereka.

Terdidik baik dalam dunia diplomasi internasional di istana kerajaan Mesir maupun dalam tradisi bangsa Ibrani, Musa memanfaatkan praktik-praktik hukum dan susunan perjanjian (treaty) kontemporer di dunia kuno saat ia menguraikan komitmen perjanjian yang telah dibuat TUHAN dengan Abraham, Ishak, dan Yakub dalam Kitab Kejadian beserta seluruh implikasinya. Khotbahnya berulang kali memanggil Israel untuk merespons kemurahan hati dan anugerah Allah yang begitu melimpah dengan mendengarkan Dia, berpaut erat kepada-Nya, dan bersukacita di dalam Dia di tanah yang telah diberikan-Nya untuk mereka miliki. Kendati kitab ini jelas diterbitkan beberapa waktu setelah kematian Musa (lihat misalnya, komentar pembuka dalam pasal 1, dan tentu saja, catatan tentang wafatnya Musa dalam pasal 34), tidak ada alasan yang kuat untuk meragukan bahwa Musa sendirilah yang merancang mahakarya teologis ini.

Kitab ini secara mendalam "berpolakan Injil" (gospel-shaped). Musa memulainya dengan memaparkan persoalan dosa dalam penggambaran yang paling kelam. Umat Allah gagal berulang kali dan secara mencolok di sepanjang perjalanan menuju tanah tersebut. Meskipun Allah terus berfirman dan menghadirkan diri-Nya melalui firman-Nya (Ul. 4), segera tampak jelas bahwa Israel tidak akan mendengarkan (bahkan tidak sanggup mendengarkan) undangan penuh anugerah dari Allah untuk menikmati kehidupan yang indah bersama-Nya di tanah itu (lihat Ul. 12–26). Musa menegaskan bahwa hanyalah masalah waktu sebelum Israel memberontak dan merasakan beratnya kutuk-kutuk perjanjian, lalu ia mengumumkan kabar dramatis bahwa Allah sendiri yang akan mengerjakan transformasi yang mutlak diperlukan bagi orang-orang seperti Israel (dan kita) saat Dia menyunat hati mereka, sehingga memampukan mereka untuk taat (30:6). Kematian Musa pada bagian akhir menegaskan bahwa pemimpin besar ini bukanlah jawaban akhir bagi persoalan kita. Untuk itu, kita membutuhkan Pribadi yang jauh lebih agung daripada Musa.


Tujuan Kitab Ulangan

Kitab Ulangan mula-mula disampaikan secara lisan (oleh Musa) dan kemudian dituliskan kembali untuk mendesak umat Allah agar mempersembahkan seluruh hidup mereka dalam rasa syukur sebagai respons terhadap anugerah Allah di tanah baru mereka, serta untuk mengakui bahwa, pada akhirnya, satu-satunya pengharapan mereka untuk menikmati kehidupan bersama-Nya bertumpu pada intervensi anugerah-Nya di masa depan untuk memperbarui hati mereka.


Ayat Kunci

"Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup."
Ulangan 30:6 (TB)

Garis Besar Kitab Ulangan

  • I. Musa Mengkhotbahkan Sejarah (1:1–3:29)
  • A. Pengantar (1:1–8)
  • B. Peringatan yang Ganjil namun Signifikan (1:9–18)
  • C. Keputusan yang Membawa Malapetaka (1:19–46)
  • D. Kilas Balik yang Penuh Ironi (2:1–25)
  • E. Dua Model Penaklukan (2:26–3:22)
  • F. Larangan yang Mengejutkan (3:23–29)
  • II. Musa Mengkhotbahkan Penyataan Allah (4:1–43)
  • III. Musa Mengkhotbahkan Perjanjian (4:44–11:32)
  • A. Pernyataan Pokok Perjanjian di Dataran Transyordan (4:44–49)
  • B. Tuntutan Mendasar Perjanjian (5:1–33)
  • C. Mendengarkan Perjanjian (6:1–25)
  • D. Tuntutan Tegas Perjanjian Anugerah (7:1–26)
  • E. Belajar dari Tahun-Tahun di Padang Gurun (8:1–20)
  • F. Dosa, Kesempatan Kedua, dan Anugerah Allah (9:1–10:11)
  • G. Apa yang Dituntut TUHAN dari Umat-Nya (10:12–11:7)
  • H. Pilihan Berkat atau Kutuk (11:8–32)
  • IV. Musa Mengkhotbahkan Taurat (12:1–26:19)
  • A. Beribadah Menurut Cara Allah di Tempat yang Dipilih-Nya (12:1–28)
  • B. Beribadah Hanya kepada Allah dan Melawan Jerat Penyembahan Berhala (13:1–18)
  • C. Hidup Kudus sebagai Milik Kesayangan Allah (14:1–21)
  • D. Ritme Kehidupan Perjanjian: Persepuluhan, Pembebasan Utang, dan Hari Raya (14:22–16:17)
  • E. Hidup di Bawah Pemimpin yang Ditetapkan Allah: Hakim, Raja, Imam, dan Nabi (16:18–18:22)
  • F. Kematian sebagai Sanksi Tertinggi dan Perlindungan Keadilan (19:1–22:12)
  • G. Kebenaran dan Kekudusan dalam Segala Dimensi Kehidupan (22:13–25:19)
  • H. Kesimpulan: Mempersembahkan Seluruh Kehidupan bagi Allah melalui Hasil Pertama dan Persepuluhan (26:1–19)
  • V. Musa Mengkhotbahkan Berkat dan Kutuk (27:1–28:68)
  • VI. Musa Mengkhotbahkan Perjanjian Baru (29:1–30:20)
  • VII. Catatan Tambahan 1: Ketidakelakan Kegagalan (31:1–32:47)
  • VIII. Catatan Tambahan 2: Kematian Musa (32:48–34:12)

    I. Musa Mengkhotbahkan Sejarah (1:1–3:29)

    Pengantar Khotbah Sejarah (1:1–8)

    "Inilah perkataan-perkataan yang diucapkan Musa kepada seluruh orang Israel di seberang sungai Yordan, di padang gurun, di Araba-Yordan, di tentangan Suf, antara Paran dengan Tofel, Laban, Hazerot dan Di-Zahab.

    Sebelas hari perjalanan jauhnya dari Horeb sampai Kadesh-Barnea, melalui jalan pegunungan Seir.

    Pada tanggal satu bulan sebelas tahun keempat puluh berbicaralah Musa kepada orang Israel sesuai dengan segala yang diperintahkan TUHAN kepadanya demi mereka,

    setelah ia memukul kalah Sihon, raja orang Amori, yang diam di Hesybon, dan Og, raja negeri Basan, yang diam di Asytarot, dekat Edrei.

    Di seberang sungai Yordan, di tanah Moab, mulailah Musa menguraikan hukum Taurat ini, katanya:

    'TUHAN, Allah kita, telah berfirman kepada kita di Horeb, demikian: Telah cukup lama kamu tinggal di gunung ini.

    Majulah, berangkatlah, pergilah ke pegunungan orang Amori dan kepada semua tetangga mereka di Araba-Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Tanah Negeb dan di tepi pantai laut, yakni negeri orang Kanaan, dan ke gunung Libanon sampai Efrat, sungai besar itu.

    Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunannya.'"
    Ulangan 1:1–8 (TB)

    Ulangan 1:1. Kitab Ulangan hampir seluruhnya tersusun dari perkataan-perkataan Musa. Setelah pengantar singkat dalam ayat 1–5, sang pemimpin berbicara hingga 4:40, lalu melanjutkannya kembali pada 4:44 dan meneruskannya hingga 26:19. Setelah berbicara bersama-sama dengan para tua-tua dan kaum Lewi dalam 27:1–28:69, suara Musa sendirilah yang mendominasi bagian selebihnya dari kitab ini, hingga laporan orang ketiga mengenai kematiannya pada pasal terakhir. Judul Ibrani bagi kitab ini, Debarim (“Perkataan-Perkataan”), sangatlah tepat. Perkataan-perkataan ini dikhotbahkan kepada “seluruh orang Israel”, yang mencerminkan kerinduan mendalam Musa bahwa umat Allah sebagai suatu komunitas yang bersatu padu harus hidup menurut jalan Allah di tanah yang hendak mereka masuki. Konteks amanat Musa digambarkan berada “di seberang sungai Yordan, di padang gurun” (artinya, pengantar ini ditulis dari sudut pandang di dalam tanah Kanaan, setelah peristiwa-peristiwa ini berlalu dan umat Israel telah menyeberangi Sungai Yordan). Nama-nama tempat yang disebutkan tidak dapat diidentifikasi secara pasti, tetapi nama-nama tersebut merujuk pada titik-titik persinggahan dalam perjalanan dari Sinai ke Moab, atau lokasi-lokasi tertentu di wilayah Moab (lihat 1:5).

    Ulangan 1:2. Pengamatan bahwa perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu sebelas hari ternyata menghabiskan waktu empat puluh tahun bagi umat Allah mempersiapkan pembaca untuk menghadapi penyingkapan tajam Musa mengenai dosa umat yang akan diuraikan selanjutnya.

    Ulangan 1:3–4. Bersama dengan perincian geografis yang dicatat, ketepatan penanggalan memastikan bahwa kitab ini dibaca sebagai catatan teredit dari suatu khotbah nyata, yang disampaikan dalam waktu nyata oleh seorang tokoh nyata di tempat yang nyata. Khotbah ini menandai akhir dari periode pengembaraan di padang gurun (“tahun yang keempat puluh”), dan tampaknya disampaikan hanya dalam satu hari, yang pada pengujungnya Musa wafat (lihat 32:48). Fakta bahwa khotbah ini disampaikan menyusul kemenangan mutlak yang diraih atas raja-raja orang Amori, yaitu Sihon dan Og (lihat Bil. 21:21–35), mengisyaratkan secara tersirat bahwa kelambanan perjalanan yang memakan waktu lama dalam ayat 2 sesungguhnya sama sekali tidak perlu terjadi.

    Ulangan 1:5. Sekali lagi, latar tempat di Moab di sebelah timur Sungai Yordan ditekankan sebelum Musa mulai “menguraikan hukum Taurat ini.” Di dataran tinggi yang menghadap ke Lembah Yordan (tempat Yerikho dan Yerusalem dapat terlihat pada hari yang cerah), Musa mulai menerangkan atau memperjelas “taurat” (torah). Fakta bahwa judul atau istilah ini diterapkan pada narasi dan nasihat (exhortation) serta peraturan hukum (legislation) menjadi petunjuk awal bahwa torah di dalam Kitab Ulangan bermakna jauh lebih luas daripada sekadar kumpulan aturan hukum. Torah pada hakikatnya adalah “injil menurut Musa” (the gospel according to Moses).[^1]

    Ulangan 1:6–8. Sebelum amanat Musa dimulai secara menyeluruh, firman Allah sendiri dikutip dari Bilangan 10:11–13. Maksud Allah yang dinyatakan adalah untuk menggenapi janji-janji yang telah dibuat-Nya bagi umat-Nya (cakupan wilayah pemberian tanah yang sangat luas tersebut merupakan tanah yang telah dijanjikan kepada Abram dalam Kej. 15:8–10). Sangat kontras dengan maksud anugerah Allah, keengganan umat yang nyata untuk meninggalkan Horeb telah disusul oleh penundaan selama empat puluh tahun. Kini, perkataan yang sama yang mengundang mereka untuk memandang ke seberang tanah tersebut, serta kepastian yang sama akan komitmen Allah terhadap janji-janji perjanjian-Nya, memberikan dampak yang secara mencolok menelanjangi catatan panjang ketidaktaatan umat tersebut.

    Peringatan yang Ganjil namun Signifikan (1:9–18)

    "Pada waktu itu aku berkata kepadamu, demikian: Seorang diri aku tidak dapat memikul tanggung jawab atas kamu. TUHAN, Allahmu, telah membuat kamu banyak dan sesungguhnya, sekarang kamu sudah seperti bintang-bintang di langit banyaknya. TUHAN, Allah nenek moyangmu, kiranya menambahi kamu seribu kali lagi dari jumlahmu sekarang dan memberkati kamu seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu.

    Tetapi bagaimana seorang diri aku dapat memikul tanggung jawab atas kesusahanmu, atas bebanmu dan perkaramu? Kemukakanlah dari suku-sukumu orang-orang yang bijaksana, berakal budi dan berpengalaman, maka aku akan mengangkat mereka menjadi kepala atas kamu. Lalu kamu menjawab aku: Memang baik apa yang kauanjurkan untuk dilakukan itu.

    Kemudian aku mengambil kepala-kepala sukumu, yakni orang-orang yang bijaksana dan berpengalaman, lalu aku mengangkat mereka menjadi pemimpin atas kamu, yakni sebagai kepala pasukan seribu, kepala pasukan seratus, kepala pasukan lima puluh dan kepala pasukan sepuluh dan sebagai pengatur pasukan bagi suku-sukumu. Dan pada waktu itu aku memerintahkan kepada para hakimmu, demikian: Berilah perhatian kepada perkara-perkara di antara saudara-saudaramu dan berilah keputusan yang adil di dalam perkara-perkara antara seseorang dengan saudaranya atau dengan orang asing yang ada padanya.

    Dalam mengadili jangan pandang bulu. Baik perkara orang kecil maupun perkara orang besar harus kamu dengarkan. Jangan gentar terhadap siapapun, sebab pengadilan adalah kepunyaan Allah. Tetapi perkara yang terlalu sukar bagimu, harus kamu hadapkan kepadaku, supaya aku mendengarnya. Demikianlah aku pada waktu itu memerintahkan kepadamu segala hal yang harus kamu lakukan."
    Ulangan 1:9–18 (TB)

    Ulangan 1:9–14. Sedikit di luar dugaan pada titik ini, alih-alih menguraikan perjalanan dari Horeb ke Moab, Musa beralih membahas pengangkatan suatu jaringan kepemimpinan yang baru. Ungkapan “pada waktu itu” (1:9, 16, 18) menggarisbawahi signifikansi momen ini. Keluaran 18:13–26 menyediakan latar belakang peristiwanya (lihat juga pengangkatan para tua-tua dalam Bil. 11:10–25). Kepedulian Musa di sini bukanlah untuk memperjelas proses atau ketepatan kronologinya, melainkan untuk menegaskan dua pokok teologis penting yang melandasi sebagian besar isi kitab ini selanjutnya.

    Pertama, kebutuhan akan struktur kepemimpinan harus dipandang sebagai buah dari karya Allah yang terus menggenapi janji-janji-Nya kepada para Leluhur (mengenai janji tentang keturunan yang “banyaknya seperti bintang di langit,” lihat Kej. 22:17 dan 26:4). Seruan Musa dalam 1:11 memperjelas bahwa ini barulah suatu permulaan. Namun, konsekuensi yang tak terelakkan dari berkat Allah yang kian bertambah pesat adalah bahwa tidak ada satu orang pun yang sanggup memimpin umat Allah secara efektif seorang diri. Kendati demikian, bahasa yang digunakan Musa memberi peringatan yang menyadarkan. Kenyataan bahwa ia harus menghadapi tiga hal inilah yang mendesak perubahan tersebut: “kesusahan”, “beban”, dan “perkara” (atau perselisihan dan keluh kesah) mereka.

    Inilah pokok kedua yang disoroti oleh bagian ini: keberdosaan umat, yang kian berlipat ganda bahkan saat Allah melimpahkan berkat-Nya kepada mereka. Musa menuntut pengangkatan orang-orang yang memenuhi syarat untuk memimpin, dan umat meneguhkan langkah ini dalam ayat 14 (walaupun lihat Yos. 1:16–18; 24:16–18 mengenai keandalan perkataan umat). Bagian ini pada hakikatnya tidak berfokus pada kelayakan atau kualifikasi para pemimpin yang saleh: Musa mengisahkan kembali peristiwa ini sebagai bagian dari dakwaannya atas ketidaktaatan segenap bangsa itu secara keseluruhan. Keputusan-keputusan yang diambil sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian bukanlah tanggung jawab Musa seorang diri.

    Ulangan 1:15–18. Pengangkatan para pemimpin oleh Musa menurut 1:15 merupakan suatu tindakan menyeluruh yang diterapkan pada setiap tingkatan masyarakat. Tidak ada perincian operasional maupun praktis yang dicantumkan pada tahap ini, selain fakta bahwa para pemimpin tersebut haruslah orang-orang yang “bijaksana” dan “berpengalaman.” Prinsip-prinsip umum yang menjadi pedoman kerja bagi para “hakim”—sebutan luas yang tampaknya berlaku untuk setiap tingkatan pengangkatan jabatan ini—ditetapkan dalam ayat 16–18: kebenaran/keadilan, ketidakberpihakan, dan keberanian tanpa rasa takut. Bilamana suatu perkara terlalu rumit atau sensitif, perkara itu dapat diajukan “ke tingkat yang lebih tinggi.” Namun, fokus Musa, menurut ayat 18, tertuju pada relevansi pengangkatan-pengangkatan ini bagi momen tersebut dalam sejarah bangsa itu. “Sistem” kepemimpinan ini menandakan bahwa umat sama-sama bersalah dan tidak berdalih saat mereka mengadakan perjalanan menuju tanah yang dijanjikan.

    Keputusan yang Membawa Bencana di Kadesh-Barnea (1:19–46)

    "Kemudian kita berangkat dari Horeb dan berjalan melalui segenap padang gurun yang besar dan dahsyat yang telah kamu lihat itu, ke arah pegunungan orang Amori, seperti yang diperintahkan kepada kita oleh TUHAN, Allah kita; lalu kita sampai ke Kadesh-Barnea. Ketika itu aku berkata kepadamu: Kamu sudah sampai ke pegunungan orang Amori, yang diberikan kepada kita oleh TUHAN, Allah kita. Ketahuilah, TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan negeri itu kepadamu. Majulah, dudukilah, seperti yang difirmankan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. Janganlah takut dan janganlah patah hati.

    Lalu kamu sekalian mendekati aku dan berkata: Marilah kita menyuruh beberapa orang mendahului kita untuk menyelidiki negeri itu bagi kita dan membawa kabar kepada kita tentang jalan yang akan kita lalui, dan tentang kota-kota yang akan kita datangi. Hal itu kupandang baik. Jadi aku memilih dari padamu dua belas orang, dari tiap-tiap suku seorang. Mereka pergi dan berjalan ke arah pegunungan, lalu sampai ke lembah Eskol, kemudian menyelidiki negeri itu. Maka mereka mengambil buah-buahan negeri itu dan membawanya kepada kita. Pula mereka membawa kabar kepada kita, demikian: Negeri yang diberikan TUHAN, Allah kita, kepada kita itu baik.

    Tetapi kamu tidak mau berjalan ke sana, kamu menentang titah TUHAN, Allahmu. Kamu menggerutu di dalam kemahmu serta berkata: Karena TUHAN membenci kita, maka Ia membawa kita keluar dari tanah Mesir untuk menyerahkan kita ke dalam tangan orang Amori, supaya dimusnahkan. Ke manakah pula kita maju? Saudara-saudara kita telah membuat hati kita tawar dengan mengatakan: Orang-orang itu lebih besar dan lebih tinggi dari pada kita, kota-kota di sana besar dan kubu-kubunya sampai ke langit, lagipula kami melihat orang-orang Enak di sana.

    Ketika itu aku berkata kepadamu: Janganlah gemetar, janganlah takut kepada mereka; TUHAN, Allahmu, yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu sama seperti yang dilakukan-Nya bagimu di Mesir, di depan matamu, dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa TUHAN, Allahmu, mendukung engkau, seperti seseorang mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini. Tetapi walaupun demikian, kamu tidak percaya kepada TUHAN, Allahmu, yang berjalan di depanmu di perjalanan untuk mencari tempat bagimu, di mana kamu dapat berkemah: dengan api pada waktu malam dan dengan awan pada waktu siang, untuk memperlihatkan kepadamu jalan yang harus kamu tempuh."

    "Ketika TUHAN mendengar gerutumu itu, Ia menjadi murka dan bersumpah: Tidak seorangpun dari orang-orang ini, angkatan yang jahat ini, akan melihat negeri yang baik, yang dengan sumpah Kujanjikan untuk memberikannya kepada nenek moyangmu, kecuali Kaleb bin Yefune. Dialah yang akan melihat negeri itu dan kepadanya dan kepada anak-anaknya akan Kuberikan negeri yang diinjaknya itu, karena dengan sepenuh hati ia mengikuti TUHAN. Juga kepadaku TUHAN murka oleh karena kamu, dan Ia berfirman: Juga engkau tidak akan masuk ke sana. Yosua bin Nun, pelayanmu, dialah yang akan masuk ke sana. Berilah kepadanya semangat, sebab dialah yang akan memimpin orang Israel sampai mereka memiliki negeri itu. Dan anak-anakmu yang kecil, yang kamu katakan akan menjadi rampasan, dan anak-anakmu yang sekarang ini yang belum mengetahui tentang yang baik dan yang jahat, merekalah yang akan masuk ke sana dan kepada merekalah Aku akan memberikannya, dan merekalah yang akan memilikinya. Tetapi kamu ini, baliklah, berangkatlah ke padang gurun, ke arah Laut Teberau."

    "Lalu kamu menjawab, katamu kepadaku: Kami berbuat dosa kepada TUHAN. Kami mau maju berperang, menurut segala yang diperintahkan kepada kami oleh TUHAN, Allah kita. Dan setiap orang dari padamu menyandang senjata perangnya, sebab kamu menganggap mudah untuk berjalan maju ke arah pegunungan. Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: Katakanlah kepada mereka: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang, sebab Aku tidak ada di tengah-tengahmu, nanti kamu terpukul kalah oleh musuhmu. Dan aku berbicara kepadamu tetapi kamu tidak mendengarkan, kamu menentang titah TUHAN; kamu berlaku terlalu berani dan maju ke arah pegunungan. Kemudian orang Amori yang diam di pegunungan itu keluar menyerbu kamu, dan mereka mengejar kamu seperti lebah dan mengalahkan kamu dari Seir sampai Horma. Lalu kamu pulang dan menangis di hadapan TUHAN; tetapi TUHAN tidak mendengarkan tangisanmu dan tidak memberi telinga kepada suaramu. Demikianlah kamu lama tinggal di Kadesh, yakni sepanjang waktu kamu tinggal di sana."
    Ulangan 1:19–46 (TB)

    Ulangan 1:19–21. Saat meninggalkan Horeb sebagaimana yang telah diperintahkan Allah, kemajuan perjalanan bangsa tersebut menuju Kadesh-Barnea berlangsung sangat lancar dan tanpa rintangan (sangat kontras dengan 1:2), terlepas dari kondisi medannya yang berat. Kali ini, Musa mengingatkan mereka akan perkataannya sendiri dan bukan firman Allah, dengan menunjukkan “pemandangan” atau bentangan tanah tersebut (kemungkinan bermakna metaforis) serta mendorong umat untuk bertindak tanpa rasa takut selaras dengan perintah Allah.

    Ulangan 1:22–25. Usulan umat untuk mengirim para pengintai ke negeri itu, jika dilihat secara sekilas, tampak sebagai langkah yang masuk akal dan bijak. Hal itu tentu tampak demikian pula bagi Musa (1:23). Laporan misi dari kedua belas wakil suku (yang mencerminkan para hakim pada bagian sebelumnya) diringkas menjadi kesimpulan: “Negeri yang diberikan TUHAN, Allah kita, kepada kita itu baik.” Dari sisi positif, negeri tersebut jelas sangat baik dan berlimpah buah-buahannya (seperti Taman Eden?). Namun, ketiadaan pengintaian strategis yang mendalam bukanlah pertanda baik—tindakan “pengintaian” mereka tampaknya hanya terbatas pada kebun anggur! Bilangan 13:1–2 menyatakan bahwa para pengintai diutus atas perintah Allah, tetapi tidak ada pertentangan yang hakiki di sini. Sama seperti dalam 1:9–18, perhatian utama Musa bukanlah memberikan laporan kronologis peristiwa demi peristiwa secara mendetail, melainkan menegaskan bahwa di tengah kesetiaan Allah yang konsisten, umat justru berulang kali gagal dan berbuat salah pada setiap tahap.

    Ulangan 1:26–33. Niat hati yang sesungguhnya dinyatakan secara gamblang dalam ayat 26, saat umat Allah dengan keras kepala menolak untuk melangkah lebih jauh. Ketidaktaatan diperparah oleh hujatan yang penuh sungut-sungut, ketika umat berdalih bahwa Allah menyelamatkan mereka dari Mesir semata-mata untuk memusnahkan mereka di tangan orang Amori setempat, dan bahwa Ia melakukan hal itu karena Ia “membenci” mereka. Tuduhan yang sangat mengejutkan dan keji ini semakin diperburuk oleh ketidaksetiaan dan ketiadaan iman mereka. Menurut Musa, umat secara bersamaan mempersalahkan para pengintai (karena laporannya) dan mempersalahkan Allah, saat mereka hanya berfokus pada kekuatan pihak lawan. Keluhan dan keberatan mereka tampak sangat dilebih-lebihkan dan sama sekali tidak memberikan alasan yang sah untuk tidak maju. “Orang-orang Enak” (lihat Yos. 11:21–22 dan barangkali 1Sam. 17:4) pada hakikatnya hanyalah para pejuang Kanaan yang berpostur tinggi besar dan menakutkan. Musa langsung menukik ke inti persoalan dengan mengingatkan mereka akan dinamika militer peristiwa Keluaran (Kel. 14:14) dan hakikat pemeliharaan kebapaan Allah di padang gurun, yang mendukung dan menggendong mereka “seperti seseorang mendukung anaknya.” Namun, baik peristiwa keluarnya mereka dari Mesir, maupun kehadiran Allah yang senantiasa memelihara melalui tiang awan dan tiang api di padang gurun, bahkan janji-Nya yang eksplisit, tidak ada yang sanggup menggerakkan hati mereka untuk memercayai-Nya. Akar terdalam dari penolakan mereka untuk melangkah maju adalah ketidakpercayaan (unbelief).

    Ulangan 1:34–36. Saat Musa merangkum respons murka TUHAN terhadap semua perkara ini, ia menyoroti pengucilan dan pelarangan generasi yang jahat tersebut (generasi Keluaran) untuk memasuki negeri itu (yang sangat mungkin menggemakan pengusiran Adam dan Hawa dalam Kej. 3) serta pengecualian yang diberikan bagi Kaleb atas dasar bahwa ia “dengan sepenuh hati... mengikuti TUHAN.” Bahasa yang digunakan menyiratkan bahwa Kaleb menggenapi secara penuh makna mengikuti Allah, tidak seperti bangsa itu selebihnya. Pengintai lain yang juga mendesak untuk maju, yakni Yosua, penerus Musa sebagai pemimpin umat, disebutkan secara terpisah.

    Ulangan 1:37–40. Di luar dugaan, Musa menyebutkan bahwa dirinya sendiri pun dilarang memasuki negeri itu pada titik ini, dan ia menimpakan tanggung jawab atas hal tersebut kepada umat! Kemungkinan besar hal ini dikarenakan tindakannya memukul bukit batu dalam Bilangan 20 tidak akan pernah terjadi seandainya bangsa itu langsung memasuki tanah perjanjian di Kadesh-Barnea. Sangatlah penting untuk mengingat efek retoris yang ditimbulkan oleh peringatan ini, tatkala seluruh generasi dewasa, termasuk pemimpin mereka sendiri, ditetapkan untuk mati di luar tanah perjanjian. Alih-alih mati di tanah tersebut di tangan orang-orang raksasa, mereka kini justru akan binasa di padang gurun, saat Allah mulai membalikkan peristiwa Keluaran itu sendiri.

    Ulangan 1:41–46. Kendati tampak bertobat pada awal ayat 41, desakan umat untuk tetap merangsek maju ke negeri itu—mengabaikan perintah Allah agar mereka berbalik mundur—menggambarkan betapa dalamnya persoalan hati yang sedang disoroti oleh Musa. Fakta bahwa mereka “menganggap mudah untuk berjalan maju” mencerminkan kemandirian yang berdosa dan sikap lancang yang berakar mendalam (1:43). Akibatnya, sebagaimana yang sudah dapat dipastikan, adalah bencana besar: mereka dipukul kalah secara telak oleh orang Amori. Diagnosis Musa sangatlah lugas: “kamu tidak mendengarkan.” Allah yang dahulu mendengar erangan mereka di Mesir (Kel. 2:24) kini tidak lagi menghiraukan tangisan mereka, tatkala peristiwa Keluaran terhenti di tengah jalan.

    Retrospeksi Pengembaraan Penuh Ironi (2:1–25)

    "Kemudian kita balik dan berangkat ke padang gurun, ke arah Laut Teberau, seperti yang difirmankan TUHAN kepadaku. Lama kita berjalan keliling pegunungan Seir. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku, demikian: Telah cukup lamanya kamu berjalan keliling pegunungan ini, beloklah sekarang ke utara. Perintahkanlah kepada bangsa itu, demikian: Sebentar lagi kamu akan berjalan melalui daerah saudara-saudaramu, bani Esau, yang diam di Seir; mereka akan takut kepadamu. Tetapi hati-hatilah sekali; janganlah menyerang mereka, sebab Aku tidak akan memberikan kepadamu setapak kaki dari negeri mereka, karena kepada Esau telah Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya. Makanan haruslah kamu beli dari mereka dengan uang, supaya kamu dapat makan; juga air haruslah kamu beli dari mereka dengan uang, supaya kamu dapat minum. Sebab TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaan tanganmu. Ia memperhatikan perjalananmu melalui padang gurun yang besar ini; keempat puluh tahun ini TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, dan engkau tidak kekurangan apapun.

    Kemudian kita berjalan terus, meninggalkan daerah saudara-saudara kita, bani Esau yang diam di Seir, meninggalkan jalan dari Araba-Yordan, yakni dari Elat dan Ezion-Geber. Sesudah itu kita belok dan berjalan terus ke arah padang gurun Moab. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Janganlah melawan Moab dan janganlah menyerang mereka, sebab Aku tidak akan memberikan kepadamu apapun dari negerinya menjadi milikmu, karena Ar telah Kuberikan kepada bani Lot menjadi miliknya. Dahulu orang Emim diam di sana, suatu bangsa yang besar dan banyak jumlahnya, tinggi seperti orang Enak. Mereka itupun dikira orang Refaim, seperti juga orang Enak, tetapi orang Moab menyebut mereka orang Emim. Dan dahulu di Seir diam orang Hori, tetapi bani Esau telah menduduki daerah mereka, memunahkan mereka dari hadapannya, lalu menetap di sana menggantikan mereka, seperti yang dilakukan orang Israel dengan negeri miliknya yang diberikan TUHAN kepada mereka. Jadi sekarang bersiaplah kamu dan seberangilah sungai Zered. Lalu kita menyeberangi sungai Zered. Lamanya kita berjalan sejak dari Kadesh-Barnea sampai kita ada di seberang sungai Zered, ada tiga puluh delapan tahun, sampai seluruh angkatan itu, yakni prajurit, habis binasa dari perkemahan, seperti yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada mereka; dan tangan TUHAN juga melawan mereka untuk menghamburkan mereka dari perkemahan, sampai mereka habis binasa.

    Maka ketika dari bangsa itu telah habis binasa semua prajurit, berfirmanlah TUHAN kepadaku: Pada hari ini engkau akan berjalan melintasi perbatasan Moab, yakni Ar, maka engkau sampai ke dekat bani Amon. Janganlah melawan mereka dan janganlah menyerang mereka, sebab Aku tidak akan memberikan kepadamu apapun dari negeri bani Amon itu menjadi milikmu, karena Aku telah memberikannya kepada bani Lot menjadi miliknya. --Negeri inipun dikira orang negeri orang Refaim. Dahulu orang Refaim diam di sana, tetapi orang Amon menyebut mereka orang Zamzumim, suatu bangsa yang besar dan banyak jumlahnya, tinggi seperti orang Enak, tetapi TUHAN telah memunahkan mereka dari hadapan bani Amon, sehingga orang-orang ini menduduki daerah mereka dan menetap di sana menggantikan mereka; seperti yang dilakukan TUHAN bagi bani Esau yang diam di Seir, ketika Ia memunahkan orang Hori dari hadapan mereka, sehingga mereka menduduki daerah orang Hori itu dan menetap di sana menggantikan orang-orang itu sampai sekarang. Juga orang Awi yang diam di kampung-kampung sampai Gaza, dipunahkan oleh orang Kaftor yang berasal dari Kaftor, lalu orang Kaftor itu menetap di sana menggantikan mereka. -- Bersiaplah kamu, berangkatlah dan seberangilah sungai Arnon. Ketahuilah, Aku menyerahkan Sihon, raja Hesybon, orang Amori itu, beserta negerinya ke dalam tanganmu; mulailah menduduki negerinya dan seranglah Sihon. Pada hari ini Aku mulai mendatangkan ke atas bangsa-bangsa di seluruh kolong langit keseganan dan ketakutan terhadap kamu, sehingga mereka menggigil dan gemetar karena engkau, apabila mereka mendengar tentang kamu."
    Ulangan 2:1–25 (TB)

    Ulangan 2:1–8a. Hampir empat puluh tahun di padang gurun disingkirkan begitu saja sebagai satu langkah mundur yang panjang. Bangsa tersebut mengembara tanpa tujuan di sekitar pinggiran wilayah Edom (antara Laut Mati dan Teluk Aqaba). Kisah yang dipersingkat ini semakin menggarisbawahi tragedi penolakan mereka untuk memasuki negeri itu, sekaligus menyoroti anugerah Allah yang memulai kembali perjalanan mereka dalam 2:3. Petunjuk bagi mereka sangat jelas: mereka harus membiarkan orang-orang Edom yang takut akan Allah tetap tenang, sebab “kepada Esau telah Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya.” Yang mengejutkan, hubungan darah Edom dengan Abraham (melalui Esau) membawa berkat—dalam hal ini, sebuah negeri milik mereka sendiri. “Kedekatan” relasional dengan Israel ini berarti bahwa alih-alih dimusnahkan oleh Israel, mereka justru akan menyediakan makanan dan air (dengan harga yang pantas). Musa mendorong Israel untuk melihat semua hal ini sebagai bagian dari pemeliharaan Allah yang tak berkesudahan (2:7). Kali ini, tampaknya umat begitu bersemangat untuk memastikan bahwa mereka menaati petunjuk Allah, sehingga mereka berupaya menghindari kontak langsung dengan orang Edom di jalur-jalur utama atau di dekat permukiman-permukiman besar.

    Ulangan 2:8b–15. Saat mereka bergerak ke utara menuju wilayah Moab, Allah juga melarang berperang melawan saudara-saudara sepupu jauh ini (melalui Lot) atas dasar yang sama: Allah telah memberikan negeri kepada orang Moab juga. Pengaruh dari penegasan Musa bahwa Allah telah memberikan negeri kepada bangsa-bangsa lain dinyatakan secara eksplisit melalui tanda kurung penjelas dalam 2:10–12. Sang “penerbit” khotbah Musa memberikan beberapa latar belakang yang agaknya sudah dikenal baik oleh para pendengar pertamanya di Moab. Baik orang Moab maupun orang Edom sebelumnya telah berhasil mengusir dan menaklukkan “orang-orang raksasa” (yang ternyata adalah para pejuang yang berpostur tinggi besar, menakutkan, legendaris, namun sepenuhnya manusia biasa—lihat Kej. 14:5; 15:20; Ul. 3:11), yang membuat kegagalan Israel semakin patut dicela. Kegagalan ini diangkat ke panggung utama saat Musa mengingatkan mereka tentang kematian seluruh generasi laki-laki dewasa yang baru saja selesai terjadi selama tiga puluh delapan tahun ini (generasi orang tua mereka), sebagai akibat langsung dari penolakan mereka untuk merebut negeri yang telah dijanjikan kepada mereka.

    Ulangan 2:16–25. Begitu generasi sebelumnya seluruhnya telah mati (kecuali Kaleb, Yosua, dan Musa sendiri), perjalanan melintasi Moab menuju Amon, jauh di sebelah utara, pun dimulai. Dalam ayat 19, syarat-syarat yang sama diberlakukan bagi Amon—yang juga merupakan keturunan Lot—sebagaimana yang berlaku bagi Moab dan Edom. Tanda kurung penjelas dalam 2:18–23 mencerminkan penjelas dalam 2:10–12 dan memberikan dampak bagi para pembaca Kitab Ulangan untuk menangkap ironi yang kian memuncak dalam khotbah Musa. Bukan saja orang Amon dan orang Edom berhasil mengusir orang Refaim dari negeri-negeri mereka, melainkan bahkan menurut ayat 23, orang Kaftor yang di tempat lain tidak disebutkan pun berhasil mengalahkan “orang-orang raksasa,” sekalipun tanpa pertolongan eksplisit dari TUHAN. Identitas pasti dari kelompok-kelompok etnis ini memang sulit dipastikan, namun intinya sangat jelas: bahkan bangsa-bangsa Kanaan ini berhasil di tempat di mana umat Allah sendiri justru gagal. Berdasarkan latar belakang inilah Allah dengan penuh anugerah memerintahkan umat-Nya untuk menyeberangi perbatasan antara tanah orang Moab dan orang Amori di Lembah Sungai Arnon (Bil. 21:13). Berbeda dengan perlakuan terhadap “kerabat sedarah” mereka, aturan pertempuran (rules of engagement) di sini kini sangat berbeda (2:24). Menurut 2:25, tujuan dari pertempuran melawan Sihon mencakup taktik “kejutan dan kegentaran” (shock and awe) sebagai persiapan menuju penaklukan tanah itu sendiri (lihat Yos. 2:10–11).

    Dua Model Penaklukan: Sihon dan Og (2:26–3:22)

    "Kemudian aku menyuruh utusan dari padang gurun Kedemot kepada Sihon, raja Hesybon, menyampaikan pesan perdamaian, bunyinya: Izinkanlah aku berjalan melalui negerimu. Aku akan tetap berjalan mengikuti jalan raya, dengan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Juallah makanan kepadaku dengan bayaran uang, supaya aku dapat makan, dan berikanlah air kepadaku ganti uang, supaya aku dapat minum; hanya izinkanlah aku lewat dengan berjalan kaki-- seperti yang diperbuat kepadaku oleh bani Esau yang diam di Seir dan oleh orang Moab yang diam di Ar--sampai aku menyeberangi sungai Yordan pergi ke negeri yang diberikan kepada kami oleh TUHAN, Allah kami. Tetapi Sihon, raja Hesybon, tidak mau memberi kita berjalan melalui daerahnya, sebab TUHAN, Allahmu, membuat dia keras kepala dan tegar hati, dengan maksud menyerahkan dia ke dalam tanganmu, seperti yang terjadi sekarang ini. Lalu TUHAN berfirman kepadaku: Ketahuilah, Aku mulai menyerahkan Sihon dan negerinya kepadamu. Mulailah menduduki negerinya supaya menjadi milikmu. Kemudian Sihon dan seluruh tentaranya maju mendatangi kita, untuk berperang dekat Yahas, tetapi TUHAN, Allah kita, menyerahkan dia kepada kita, sehingga kita mengalahkan dia dengan anak-anaknya dan seluruh tentaranya. Pada waktu itu kita merebut segala kotanya dan menumpas penduduk setiap kota: laki-laki dan perempuan serta anak-anak. Tidak ada seorangpun yang kita biarkan terluput; hanya hewan kita rampas bagi kita sendiri, seperti juga jarahan dari kota-kota yang telah kita rebut. Mulai dari Aroer, di tepi sungai Arnon, dan kota di lembah itu, sampai Gilead tidak ada kota yang bentengnya terlalu kuat bagi kita; sebab TUHAN, Allah kita, menyerahkan semuanya kepada kita. Hanya negeri bani Amon tidak engkau dekati, baik sungai Yabok sepanjang tepinya maupun kota-kota di pegunungan, tepat seperti yang dilarang TUHAN, Allah kita."

    "Kemudian beloklah kita dan maju ke arah Basan. Dan Og, raja Basan, dengan seluruh tentaranya maju mendatangi kita, untuk berperang di Edrei. Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: Janganlah takut kepadanya, sebab Aku menyerahkan dia ke dalam tanganmu beserta seluruh tentaranya dan negerinya, dan perlakukanlah dia seperti yang kaulakukan terhadap Sihon, raja orang Amori, yang diam di Hesybon. Dan TUHAN, Allah kita, menyerahkan juga Og, raja Basan, beserta seluruh tentaranya ke dalam tangan kita dan kita mengalahkan dia, sehingga tidak seorangpun luput. Pada waktu itu kita merebut segala kotanya; tidak ada kota yang tidak kita rampas dari pada mereka: enam puluh kota, seluruh wilayah Argob, kerajaan Og di Basan. Semuanya itu adalah kota berkubu, dengan tembok yang tinggi-tinggi, dengan pintu-pintu gerbang dan palang-palangnya; lain dari pada itu sangat banyak kota yang tidak berkubu. Kita menumpas seluruh penduduknya, seperti yang kita lakukan terhadap Sihon, raja Hesybon, dengan menumpas penduduk setiap kota: laki-laki, perempuan dan anak-anak. Tetapi segala hewan dan jarahan dari kota-kota itu kita rampas bagi kita sendiri. Jadi pada waktu itu dari tangan kedua raja orang Amori itu kita merampas negeri yang di seberang sungai Yordan, mulai dari sungai Arnon sampai gunung Hermon --orang Sidon menyebut Hermon itu Siryon dan orang Amori menyebutnya Senir--, segala kota di dataran tinggi, seluruh Gilead dan seluruh Basan sampai Salkha dan Edrei, kota-kota kerajaan Og di Basan. Hanya Og, raja Basan, yang tinggal hidup dari sisa-sisa orang Refaim. Sesungguhnya, ranjangnya adalah ranjang dari besi; bukankah itu masih ada di kota Raba bani Amon? Sembilan hasta panjangnya dan empat hasta lebarnya, menurut hasta biasa."

    "Adapun negeri itu telah kita duduki pada waktu itu; mulai dari Aroer yang di tepi sungai Arnon, beserta setengah dari pegunungan Gilead dengan kota-kotanya aku berikan kepada orang Ruben dan orang Gad; dan yang masih tinggal dari Gilead beserta seluruh Basan, kerajaan Og, yakni seluruh wilayah Argob, aku berikan kepada suku Manasye yang setengah itu. --Seluruh Basan ini disebut negeri orang Refaim. -- Yair, anak Manasye, mengambil seluruh wilayah Argob sampai daerah orang Gesur dan orang Maakha, dan menamai daerah itu, yakni Basan, menurut namanya sendiri: Hawot-Yair, sampai sekarang. Kepada Makhir kuberikan Gilead. Kepada orang Ruben dan kepada orang Gad kuberikan sebagian dari Gilead, sebelah sini sampai sungai Arnon, yakni setengah dari sungai itu dengan daerah pinggirnya, dan sebelah sana sampai sungai Yabok, batas daerah bani Amon; selanjutnya Araba-Yordan dan sungai Yordan dengan daerah pinggirnya, mulai dari Kineret sampai ke Laut Araba, yakni Laut Asin di kaki lereng gunung Pisga ke arah timur."

    Pada waktu itu aku memerintahkan kepadamu, demikian: TUHAN, Allahmu, telah memberikan negeri ini kepadamu untuk dimiliki; namun kamu, yakni semua orang yang gagah perkasa, harus menyeberang dengan bersenjata di depan saudara-saudaramu, orang Israel. Hanya isteri dan anak-anakmu serta ternak-ternakmu--aku tahu ada banyak ternak padamu--boleh tinggal di kota-kota yang telah kuberikan kepadamu, sampai TUHAN mengaruniakan keamanan kepada saudara-saudaramu seperti kepadamu, dan merekapun memiliki negeri, yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepada mereka di seberang sungai Yordan. Sesudah itu bolehlah kamu pulang, masing-masing ke tanah miliknya yang telah kuberikan kepadamu. Dan kepada Yosua kuperintahkan pada waktu itu, demikian: Matamu sendirilah yang melihat segala yang dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap kedua raja itu. Demikianlah akan dilakukan TUHAN terhadap segala kerajaan, ke mana engkau pergi. Janganlah takut kepada mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berperang untukmu."
    Ulangan 2:26–3:22 (TB)

    Ulangan 2:26–30. Setelah menyeberangi Sungai Arnon (Yos. 13:18), pendekatan yang diambil Musa bersifat diplomatik, dan selaras dengan pola yang kelak ditetapkan untuk berurusan dengan bangsa-bangsa lain di luar tanah perjanjian (Ul. 20:10–12). Tawaran Musa kepada Sihon secara mengejutkan menyiratkan bahwa baik Edom maupun Moab dengan senang hati bersedia membantu dengan cara demikian (kontras dengan Bil. 20:14–21[^2] [Edom] dan Bil. 22–24 [Moab], lihat juga Hak. 11:13–23). Hal ini mungkin karena ia menggunakan bahasa diplomasi yang lazim, atau sekadar karena ia tidak merasa perlu untuk sepenuhnya berterus terang kepada seorang penguasa lalim (despot) zaman purbakala (sebagaimana halnya perlakuan terhadap Firaun). Fakta bahwa dalam 2:30 terdapat kesejajaran yang jelas antara kedaulatan Allah atas Sihon dan atas penguasa Mesir pada masa Keluaran—di mana Allah mengeraskan hati keduanya—dapat mendukung kemungkinan yang kedua tersebut.

    Ulangan 2:31–37. Kedaulatan Allah menjadi sorotan utama dan berada di baris terdepan dalam kisah selanjutnya. Narasi ini dimulai dengan pernyataan TUHAN dalam 2:31 bahwa “Ketahuilah, Aku mulai menyerahkan Sihon dan negerinya kepadamu,” dilanjutkan dengan penegasan Musa dalam 2:33 bahwa “TUHAN, Allah kita, menyerahkan dia kepada kita,” dan ditutup dalam 2:36 dengan pernyataan rangkuman bahwa “TUHAN, Allah kita, menyerahkan semuanya kepada kita.” Inilah fokus utamanya. Namun, ketika kita membaca teks ini, bahasa yang digunakan dalam ayat 34 terasa sangat menghentak: “Pada waktu itu kita merebut segala kotanya dan menumpas penduduk setiap kota: laki-laki dan perempuan serta anak-anak.” Kita akan kembali membahas pelaksanaan perang penaklukan ini di pasal 7, 12, dan 20. Dalam konteks ini, kita cukup mencatat poin-poin berikut dari ayat 34–37:

    • Bahasa yang digunakan merupakan ungkapan yang lazim untuk menggambarkan kemenangan telak di dunia kuno. Sekalipun jelas melibatkan kehancuran yang mengerikan dan hilangnya nyawa, ungkapan ini tidak serta-merta bermakna sama sekali tidak ada orang yang selamat.[^3]
    • Penaklukan ini bersifat tuntas (sekaligus membantah keluhan umat dalam 1:28 mengenai rintangan kota-kota yang “berbenteng tinggi”!).
    • Penaklukan ini dibatasi hanya pada kekuatan dan benteng-benteng yang telah ditentukan dan diizinkan oleh Allah. Bagi Musa, pelajaran sederhana dari kekalahan Sihon adalah bahwa ketika umat Allah melakukan segala sesuatu menurut cara Allah, mereka pasti menang.

    Ulangan 3:1–11. Kemenangan Israel atas Sihon bukanlah peristiwa yang hanya terjadi satu kali. Musa mengingatkan bangsa itu bagaimana pola yang sama terulang kembali saat berhadapan dengan Og, raja Basan—suatu wilayah dataran tinggi yang luas di sebelah timur Danau Galilea (termasuk Dataran Tinggi Golan). Allah menegaskan (3:2) bahwa Og akan mengalami nasib yang sama seperti Sihon, dan itulah yang persis terjadi. Dalam ayat 3–7, Musa menekankan bahwa kemenangan tersebut sungguh menentukan dan mutlak: “tidak seorangpun luput” (3), “tidak ada kota yang tidak kita rampas dari pada mereka” (4), dan sama seperti dalam peristiwa Sihon, segala sesuatu dan semua orang ditumpas secara menyeluruh (atau “dikenakan hukum tumpas” / herem). Catatan bahwa kota-kota Sihon “berbenteng tinggi” kini diperluas dalam ayat 5 untuk memperjelas bahwa tidak ada satu permukiman pun yang sanggup bertahan menghadapi gerak maju umat Allah. Daftar kota-kota yang direbut di wilayah Transyordan ini merupakan antisipasi terhadap pembagian tanah yang akan datang, dengan implikasi yang sangat jelas: jika kota-kota di luar tanah perjanjian ini saja dapat direbut dengan begitu mudah, apa yang mungkin dapat menghentikan umat Allah untuk maju ke tanah Kanaan yang sesungguhnya? Pada titik ini, kita mendapati catatan penjelas di dalam tanda kurung lainnya. Ayat 11 menjelaskan bahwa Og bukan hanya seorang raja, melainkan juga seorang “raksasa”! Fakta bahwa keturunan orang Refaim ini tidur di ranjang yang sangat besar (sekitar 4 m x 2 m, atau 9 hasta x 4 hasta) semata-mata menggarisbawahi bahwa ia adalah seorang pria bertubuh luar biasa besar—namun demikian Israel berhasil mengalahkannya. Jika ada pembaca yang meragukannya, pada masa ketika Kitab Ulangan “diterbitkan,” ranjang tersebut masih dipamerkan di ibu kota bani Amon.[^4]

    Ulangan 3:12–17. Penulis tidak memperdebatkan keabsahan menetap di luar tanah perjanjian, kendati hal tersebut menimbulkan sejumlah pertanyaan. Namun, poin utama Musa di sini hanyalah bahwa memperlengkapi dan memampukan Israel untuk merebut tanah merupakan perkara kecil bagi Allah mereka (bahkan ketika wilayah tersebut tidak secara spesifik dijanjikan kepada mereka). Pembagian tanah oleh Musa kepada dua setengah suku sekali lagi mengantisipasi pembagian tanah dalam Kitab Yosua. Sama seperti Yosua dan Kaleb yang kelak secara khusus dipilih untuk menerima bagian istimewa, Yair dan Makhir (beserta kaum mereka) menerima wilayah-wilayah tertentu (sebagai pengakuan atas peran mereka dalam merebut daerah-daerah tersebut—lihat Bil. 32:29–32). Catatan penjelas dalam 3:13b–14 tidak hanya memperjelas rincian geografis, melainkan sekali lagi memasukkan orang Refaim ke dalam pembahasan demi menyoroti kegagalan masa lalu yang sesungguhnya tidak perlu terjadi, sekaligus menegaskan keberhasilan yang dijamin oleh Allah yang kini terbentang di hadapan Israel.

    Ulangan 3:18–22. Musa kini secara eksplisit menghubungkan apa yang telah terjadi di Transyordan dengan apa yang semestinya terjadi di tanah perjanjian. Pertama, sangatlah penting bahwa “seluruh Israel” berjuang bersama-sama sebagai satu kesatuan. Bagi Musa, hanya ada satu umat Allah yang harus berdiri bersama-sama di hadapan-Nya. Itulah sebabnya dua setengah suku tersebut harus tetap terlibat dalam penaklukan Kanaan sampai “TUHAN mengaruniakan keamanan kepada saudara-saudaramu” (kendati akan sulit untuk menentukan secara persis kapan saat itu tiba—lihat Yos. 12:23; 23:1). Namun, yang pasti adalah bahwa mereka dapat meyakini kehadiran TUHAN dan serangkaian kemenangan telak yang menyerupai peristiwa Keluaran, “sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berperang untukmu” (3:22). Apa yang disampaikan Musa “pada waktu itu” semestinya memberi mereka segenap dorongan yang mereka perlukan untuk (sekalipun terlambat) merebut tanah perjanjian tersebut.

    Larangan yang Mengejutkan bagi Musa (3:23–29)

    "Juga pada waktu itu aku mohon kasih karunia dari pada TUHAN, demikian: Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu dan tangan-Mu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau? Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung Libanon. Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku. Naiklah ke puncak gunung Pisga dan layangkanlah pandangmu ke barat, ke utara, ke selatan dan ke timur dan lihatlah baik-baik, sebab sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi. Dan berilah perintah kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanlah hatinya, sebab dialah yang akan menyeberang di depan bangsa ini dan dialah yang akan memimpin mereka sampai mereka memiliki negeri yang akan kaulihat itu. Demikianlah kita tinggal di lembah di tentangan Bet-Peor."
    Ulangan 3:23–29 (TB)

    Ulangan 3:23–29. Perenungan Musa mengenai sejarah terkini bangsanya bukanlah dasar bagi optimisme yang naif, sebagaimana percakapan pribadi yang ia bagikan dalam bagian ini segera menjelaskannya. Bahkan pada “waktu itu”, ketika Allah sedang menegaskan kembali kerelaan dan kesanggupan-Nya untuk berperang bagi umat-Nya, konsekuensi dari ketidaktaatan Musa sendiri di masa lalu ditegaskan ulang. Bahasa yang digunakan sangat kuat dan mendalam, di mana Musa “mohon kasih karunia dari pada TUHAN” tanpa hasil. Permohonan untuk “melihat” negeri yang baik itu (tampaknya secara khusus bagian-bagian yang tidak terlihat dari dataran Moab) ditolak mentah-mentah. Musa menyatakan bahwa “TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu.” Sekali lagi, ini bukanlah penulisan ulang sejarah (rewriting of history). Musa menggunakan dirinya sendiri untuk mengilustrasikan poin penting bahwa dosa mendatangkan konsekuensi nyata yang tak terelakkan. Allah menghentikan permohonan hamba-Nya itu dan memerintahkannya untuk mendaki sebuah puncak (tampaknya merupakan bagian dari Gunung Nebo, 34:1) guna memandang bentangan seluruh negeri tersebut. Setelah itu, ia harus mempersiapkan Yosua untuk mengambil alih kepemimpinan atas umat itu (3:28). Musa menambahkan bahwa bangsa itu berkemah di dekat Bet-Peor, suatu tempat yang identik dengan penyembahan berhala, yang bukanlah pertanda baik bagi masa depan mereka (lihat Bil. 25:1–9).

    Bagian pembuka Kitab Ulangan ini menetapkan nada dasar bagi apa yang akan datang selanjutnya. Kegagalan Israel di masa lampau sangatlah mengenaskan dan mutlak, terlepas dari kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan. Kendati sesungguhnya tidak ada alasan bagi mereka untuk gagal lagi saat mereka tiba di perbatasan tanah perjanjian, rekam jejak mereka (dan bahkan kegagalan Musa sendiri) memberikan nada peringatan yang genting sejak awal mula.


    II. Musa Mengkhotbahkan Penyataan Allah (4:1–43)

    "Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu. Matamu sendiri telah melihat apa yang diperbuat TUHAN mengenai Baal-Peor, sebab TUHAN, Allahmu, telah memunahkan dari tengah-tengahmu semua orang yang mengikuti Baal-Peor, sedangkan kamu sekalian yang berpaut pada TUHAN, Allahmu, masih hidup pada hari ini.

    Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya. Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi. Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya? Dan bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?

    Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu, yakni hari itu ketika engkau berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu, di Horeb, waktu TUHAN berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa itu berkumpul kepada-Ku, maka Aku akan memberi mereka mendengar segala perkataan-Ku, sehingga mereka takut kepada-Ku selama mereka hidup di muka bumi dan mengajarkan demikian kepada anak-anak mereka. Lalu kamu mendekat dan berdiri di kaki gunung itu, sedang gunung itu menyala sampai ke pusar langit dalam gelap gulita, awan dan kegelapan. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadamu dari tengah-tengah api; suara kata-kata kamu dengar, tetapi suatu rupa tidak kamu lihat, hanya ada suara. Dan Ia memberitahukan kepadamu perjanjian, yang diperintahkan-Nya kepadamu untuk dilakukan, yakni Kesepuluh Firman dan Ia menuliskannya pada dua loh batu. Dan pada waktu itu aku diperintahkan TUHAN untuk mengajarkan kepadamu ketetapan dan peraturan, supaya kamu melakukannya di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya.

    Hati-hatilah sekali—sebab kamu tidak melihat sesuatu rupa pada hari TUHAN berfirman kepadamu di Horeb dari tengah-tengah api—supaya jangan kamu berlaku busuk dengan membuat bagimu patung yang menyerupai berhala apapun: yang berbentuk laki-laki atau perempuan; yang berbentuk binatang yang di bumi, atau berbentuk burung bersayap yang terbang di udara, atau berbentuk binatang yang merayap di muka bumi, atau berbentuk ikan yang ada di dalam air di bawah bumi; dan juga supaya jangan engkau mengarahkan matamu ke langit, sehingga apabila engkau melihat matahari, bulan dan bintang, segenap tentara langit, engkau disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada sekaliannya itu, yang justru diberikan TUHAN, Allahmu, kepada segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka, sedangkan TUHAN telah mengambil kamu dan membawa kamu keluar dari dapur peleburan besi, dari Mesir, untuk menjadi umat milik-Nya sendiri, seperti yang terjadi sekarang ini.

    Tetapi TUHAN menjadi murka terhadap aku oleh karena kamu, dan Ia bersumpah, bahwa aku tidak akan menyeberangi sungai Yordan dan tidak akan masuk ke dalam negeri yang baik, yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu. Sebab aku akan mati di negeri ini dan tidak akan menyeberangi sungai Yordan, tetapi kamu akan menyeberanginya dan menduduki negeri yang baik itu. Hati-hatilah, supaya jangan kamu melupakan perjanjian TUHAN, Allahmu, yang telah diikat-Nya dengan kamu dan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang oleh TUHAN, Allahmu, dilarang kauperbuat. Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu.

    Apabila kamu beranak cucu dan kamu telah tua di negeri itu lalu kamu berlaku busuk dengan membuat patung yang menyerupai apapun juga, dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahmu, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Nya, maka aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu habis binasa dengan segera dari negeri ke mana kamu menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya; tidak akan lanjut umurmu di sana, tetapi pastilah kamu punah. TUHAN akan menyerakkan kamu di antara bangsa-bangsa dan hanya dengan jumlah yang sedikit kamu akan tinggal di antara bangsa-bangsa, ke mana TUHAN akan menyingkirkan kamu. Maka di sana kamu akan beribadah kepada allah, buatan tangan manusia, dari kayu dan batu, yang tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, tidak dapat makan dan tidak dapat mencium. Dan baru di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya. Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu.

    Sebab cobalah tanyakan, dari ujung langit ke ujung langit, tentang zaman dahulu, yang ada sebelum engkau, sejak waktu Allah menciptakan manusia di atas bumi, apakah ada pernah terjadi sesuatu hal yang demikian besar atau apakah ada pernah terdengar sesuatu seperti itu. Pernahkah suatu bangsa mendengar suara ilahi, yang berbicara dari tengah-tengah api, seperti yang kaudengar dan tetap hidup? Atau pernahkah suatu allah mencoba datang untuk mengambil baginya suatu bangsa dari tengah-tengah bangsa yang lain, dengan cobaan-cobaan, tanda-tanda serta mujizat-mujizat dan peperangan, dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan dengan kedahsyatan-kedahsyatan yang besar, seperti yang dilakukan TUHAN, Allahmu, bagimu di Mesir, di depan matamu? Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. Dari langit Ia membiarkan engkau mendengar suara-Nya untuk mengajari engkau, di bumi Ia membiarkan engkau melihat api-Nya yang besar, dan segala perkataan-Nya kaudengar dari tengah-tengah api. Karena Ia mengasihi nenek moyangmu dan memilih keturunan mereka, maka Ia sendiri telah membawa engkau keluar dari Mesir dengan kekuatan-Nya yang besar, untuk menghalau dari hadapanmu bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu, untuk membawa engkau masuk ke dalam negeri mereka dan memberikannya kepadamu menjadi milik pusakamu, seperti yang terjadi sekarang ini. Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain. Berpeganglah pada ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk selamanya."

    Lalu Musa mengkhususkan tiga kota di seberang sungai Yordan, di sebelah timur, supaya orang yang membunuh sesamanya manusia dengan tidak sengaja dan dengan tidak memusuhinya lebih dahulu, dapat melarikan diri ke sana, sehingga ia, apabila melarikan diri ke salah satu kota itu, dapat tetap hidup. Kota-kota itu adalah: Bezer di padang gurun, di daerah dataran tinggi, untuk orang Ruben; Ramot di Gilead untuk orang Gad dan Golan di Basan untuk orang Manasye.
    Ulangan 4:1–43 (TB)

    Setelah menegaskan bahwa di dalam terang sejarah mereka dan komitmen abadi Allah terhadap mereka, umat Allah tidak lagi memiliki dalih untuk tidak merebut tanah perjanjian dan hidup taat di dalamnya, dalam pasal 4, Musa mulai menguraikan bentuk kehidupan yang harus mereka jalani tersebut. Kunci utama bagi Musa adalah mendengarkan firman TUHAN (Yahweh). Pasal ini bersifat sangat luas sekaligus kompleks, dan berfungsi sebagai sebuah overture (lagu pembuka), yang memperkenalkan gagasan-gagasan dan tema-tema yang akan mendominasi seluruh sisa kitab ini.

    Ulangan 4:1–4. Pelajaran-pelajaran dari empat puluh tahun terakhir diterapkan pada masa kini Israel (“Maka sekarang” merupakan penanda penting dalam kitab ini), ketika Musa mendesak umat Allah untuk “mendengar.” Kata kerja ini berulang di berbagai titik kunci dalam kitab ini (lihat juga mis. 4:33; 5:1; 6:3–4) dan memegang kunci bagi kemakmuran dan keberlangsungan hidup Israel di tanah Allah. Kegagalan untuk mendengarkan “ketetapan dan peraturan”—yang dapat terwujud baik dalam menambah-nambahi atau mengabaikan firman Allah—dan tidak menuruti petunjuk-petunjuk Allah hanya akan berujung pada malapetaka. Namun, “ketetapan dan peraturan” ini tidak langsung disajikan di sini (lihat juga pembahasan mengenai 5:1; 6:1; 11:1; dan 12:1). Sebaliknya, Musa mengingatkan umat akan peristiwa yang disinggung dalam 3:29, meskipun kali ini nama tempat tersebut diubah menjadi “Baal-Peor” guna menegaskan sejarah kelamnya yang mematikan. Fakta bahwa para pendengarnya “berpaut” (berpegang teguh atau melekat erat) kepada Allah pada masa itu (sehingga tetap bertahan hidup) berarti bahwa mereka seharusnya tahu apa yang harus mereka lakukan “sekarang”.

    Ulangan 4:5–8. Tujuan penyataan Allah mengenai ketetapan dan peraturan ini—yang menggambarkan kelimpahan hidup yang menjadi panggilan Allah bagi mereka di tanah itu—diuraikan dalam 4:5–8. Musa menyatakan bahwa ia telah “mengajarkan... kepadamu” di masa lalu (tampaknya merujuk pada penyataan terdahulu di Sinai, misalnya dalam Keluaran 20–24 dan Imamat). Pada satu tingkat, Allah telah memberitahukan kepada umat-Nya segala sesuatu yang perlu mereka ketahui untuk hidup bagi-Nya (sebagian besar sisa Kitab Ulangan diperuntukkan guna menguraikan bagaimana wujud hidup di dalam terang anugerah-Nya secara spesifik di tanah Kanaan). Dan jika mereka melakukannya? Hal itu akan menjadi “kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa.” Ini mungkin merupakan antisipasi penggenapan janji kepada Abram bahwa keturunannya akan menjadi berkat bagi segala bangsa. Dapat dipastikan bahwa bangsa-bangsa yang menyaksikan akan tercengang kagum melihat kualitas hidup umat Allah yang tak terbantahkan, apabila mereka hidup menurut torah (bandingkan Yesaya 42:6; 49:6).

    Alasan ganda bagi reaksi ini dinyatakan dalam 4:7–8: (a) TUHAN (Yahweh) dekat dengan Israel setiap kali mereka memanggil kepada-Nya (dengan pengharapan yang jelas bahwa Dia menjawab, yang tentunya memampukan mereka untuk taat); (b) keunggulan mutlak dari peraturan yang telah dinyatakan Allah kepada mereka, yang diakui oleh bangsa-bangsa lain sebagai peraturan yang luar biasa “adil” atau “benar” (satu-satunya tempat di Perjanjian Lama di mana kata ini diterapkan pada sesuatu selain pribadi/individu). Keputusan yang dihadapi Israel adalah apakah mereka akan mengambil pilihan yang tepat “pada hari ini” dengan mendengarkan Allah atau tidak.

    Ulangan 4:9–14. Namun, belum lama Musa menyampaikan seruan tersebut, ia segera beralih kepada kemungkinan ketidaktaatan, yang digambarkan dalam istilah “melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri” (terutama peristiwa Keluaran dan kemenangan-kemenangan di sepanjang perjalanan menuju tanah tersebut), serta membiarkan semuanya itu “hilang dari ingatanmu” (atau menjauh dari hatimu). “Hati” di sini adalah pusat kendali kepribadian manusia. Bagian ini menggambarkan kehidupan yang dijalani tanpa bertumpu pada anugerah. Penawar bagi ketidaktahuan berterima kasih (ingratitude) semacam itu adalah dengan mengingatkan setiap generasi baru akan apa yang telah diperbuat Allah. Namun, Musa memberikan petunjuk yang lebih spesifik daripada sekadar itu—secara khusus, menurut ayat 10, mereka harus diingatkan bahwa Allah mengizinkan mereka untuk “mendengar segala perkataan-Ku.” Penyataan ini dirancang untuk mengajar umat-Nya agar “takut kepada-Ku,” yang pada gilirannya akan mendorong mereka untuk meneruskan isi dan makna firman Allah kepada anak-anak mereka. Dalam 4:11–12, fakta bahwa umat Allah mendengar dan bukan melihat digarisbawahi sebagai aspek krusial dari penyataan di Horeb. Mendengarkan firman Allah diidentifikasi sebagai kunci untuk menjalani kehidupan yang baik di tanah tersebut. Lebih spesifik lagi, Musa menyatakan bahwa “perjanjian” Allah dengan umat-Nya menuntut pemeliharaan “Kesepuluh Firman” (Decalogue), yang dituliskan pada dua loh batu. Allah berfirman, menyatakan kepada umat-Nya bagaimana mereka harus hidup bersama-Nya di tanah itu.

    Ulangan 4:15–20. Kesadaran yang kian mendalam bahwa berpalingnya Israel dari firman Allah hanyalah masalah waktu mulai mengemuka, saat Musa mendesak mereka untuk menjaga diri mereka “baik-baik” (secara sangat berhati-hati). Godaan khusus yang kini disoroti adalah merusak penyataan Horeb dengan membuat patung-patung bisu dari makhluk ciptaan (manusia atau binatang sebagaimana digambarkan dalam Kej. 1:20–23) untuk menggantikan firman ilahi (ayat 16–18) serta “mengarahkan matamu ke langit” dan terseret untuk menyembah benda-benda penerang langit/bintang-bintang (sebagaimana digambarkan dalam Kej. 1:14–19), sekalipun benda-benda tersebut telah “diberikan” oleh Allah “kepada segala bangsa di seluruh kolong langit sebagai bagian mereka.” Ini adalah frasa yang sangat sulit (lihat juga Ul. 32:8–9). Kendati beberapa pihak berpendapat bahwa ini “mengizinkan” penyembahan ilah-ilah lain bagi bangsa-bangsa tersebut, kaitannya dengan Kejadian 1 sangat mengindikasikan bahwa intinya semata-mata adalah betapa konyol dan tidak masuk akalnya menyembah objek-objek ciptaan. Pernyataan dalam 4:20 merupakan salah satu puncak dari kitab ini. Penggambaran dramatis tentang Allah yang menyelamatkan umat-Nya dari “dapur peleburan besi” di Mesir diikuti oleh ungkapan segar mengenai komitmen perjanjian Allah dalam menjadikan mereka “umat milik-Nya sendiri” (umat milik pusaka-Nya), suatu frasa unik yang kemungkinan diilhami oleh permohonan syafaat Musa dalam Keluaran 34:9. Sebagaimana tanah tersebut akan menjadi milik pusaka Israel, umat itu sendiri adalah milik kepunyaan Allah. Penambahan frasa “seperti yang terjadi sekarang ini” (sebagaimana keadaanmu pada hari ini) berfungsi mempertegas bobot dan urgensi respons yang dituntut oleh Musa.

    Ulangan 4:21–24. Secara agak tidak terduga, Musa kembali pada tema mengenai penolakannya sendiri untuk masuk ke tanah perjanjian. Ini adalah salah satu ciri teks yang sesungguhnya hanya masuk akal dalam konteks sebuah khotbah kepada orang-orang nyata pada titik sejarah tertentu. Saat Musa mengingat kembali murka TUHAN (Yahweh), mengingatkan mereka bahwa ia tidak akan menyeberang bersama mereka, menggarisbawahi bahwa ia akan kehilangan kesempatan mengecap kehidupan di “negeri yang baik itu”, dan menyatakan secara lugas dalam 4:22 bahwa “aku akan mati di negeri ini” (Moab), ia sekaligus memberikan setiap dorongan yang mungkin bagi Israel untuk maju dan memberikan kekuatan nyata pada peringatan dalam 4:23. Mereka sama sekali tidak boleh “melupakan” perjanjian yang dianugerahkan Allah dengan tergelincir ke dalam penyembahan berhala. Alasan tertinggi untuk menjauhi penyembahan berhala berakar pada fakta bahwa “TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu” (untuk ungkapan serupa lihat Yes. 33:14; Zef. 1:18; 3:8; Ibr. 12:29). Eksklusivitas penuh kecemburuan kudus dari Allah (God's passionate exclusivity) merupakan gagasan mendasar dalam Kitab Ulangan.

    Ulangan 4:25–31. Kesungguhan abadi dari panggilan menuju kesetiaan eksklusif diuraikan secara lugas dalam sebuah perikop yang merangkum inti teologis dari kitab ini. Seperti halnya “generasi Moab”, seluruh generasi penerus harus memilih antara mendengarkan Allah atau “berlaku busuk” (penyembahan berhala)/“melakukan apa yang jahat”. Konsekuensi dari pilihan yang salah dinyatakan dalam istilah yang paling keras, di mana seluruh kosmos dipanggil sebagai saksi. Menurut Musa, bangsa Israel “pastilah kamu habis binasa dengan segera dari negeri” itu dan “pastilah kamu punah” (4:26). Mereka akan diserakkan, jumlah mereka menyusut drastis, dan mereka akan terpuruk hingga menyembah berhala-berhala bisu buatan tangan manusia (4:27–28).[^5]

    Selain mengantisipasi kutuk-kutuk perjanjian (lihat pasal 27 dan 28), Musa juga mengisyaratkan pengharapan masa depan dalam 30:1–10. Sebagaimana yang ia lakukan dalam pasal tersebut, Musa mendasarkan “perubahan hati” umat-Nya pada inisiatif belas kasihan Allah. Alur logikanya berjalan mundur dari ayat 31—karena Allah mengingat perjanjian-Nya dan tetap setia berpaut pada umat-Nya, Dia bertindak, menggerakkan mereka untuk mencari Dia, lalu bertobat dan mulai mendengarkan suara-Nya. Anugerah adalah penggerak dari segala sesuatu.

    Ulangan 4:32–40. Kembali pada tema tentang keunikan Allah yang menggentarkan (lihat 4:5–8), Musa menggarisbawahi dua hal yang sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya mengenai peristiwa-peristiwa Keluaran: (1) Allah berfirman kepada umat-Nya “dari tengah-tengah api” demi kebaikan mereka (mereka “tetap hidup”!); (2) Allah mengadakan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat, yang dipadukan dengan kuasa mutlak untuk mengalahkan bangsa Mesir. Bersama-sama, tindakan-tindakan ini berfungsi memperlihatkan kepada umat tersebut bahwa TUHAN (Yahweh) sendirilah Allah, tidak ada yang lain. Namun bagi Musa, hal yang terutama adalah bahwa peristiwa-peristiwa ini seharusnya benar-benar mengubah hidup bangsa Israel. Ayat 4:36 memperjelas bahwa tujuan Allah berfirman kepada umat-Nya adalah untuk “mengajari” (atau mendisiplin, memperingatkan, dan melatih) mereka. Kasih pilihan-Nya (electing love) bagi para bapa leluhur, dan perluasannya kepada mereka sebagai keturunan bapa-bapa leluhur tersebut, bermuara pada pemeliharaan pribadi-Nya yang sempurna bagi mereka, di mana Dia menyertai mereka di setiap langkah perjalanan dari Mesir hingga Moab. Kini Musa menegaskan kembali bahwa penyataan melalui firman dan perbuatan ini seharusnya menuntun orang Israel untuk merangkul fakta bahwa Allah mereka adalah satu-satunya Allah, dan karenanya mendengarkan Dia yang berfirman “pada hari ini”, bukan melalui loh-loh batu, melainkan melalui khotbah hamba-Nya, Musa. Selama mereka melakukan hal ini, mereka akan menikmati kehidupan bersama Allah di tanah tersebut—bahkan berpotensi untuk selama-lamanya. Pada titik ini, implikasi bahwa “jika mereka tidak taat, mereka tidak akan menikmatinya” dibiarkan tersirat tanpa diucapkan secara eksplisit.

    Ulangan 4:41–43. Mengingat struktur retoris yang sangat kental dari pasal ini, cukup tidak terduga bahwa Musa tampaknya menghentikan sejenak khotbahnya untuk menetapkan tiga kota di wilayah Transyordan yang baru saja ditaklukkan sebagai “kota-kota perlindungan”, masing-masing satu kota untuk setiap kelompok suku yang akan menetap di luar batas tanah perjanjian utama. Mengapa bagian ini dicantumkan di sini? Catatan ini tampaknya menutup “retrospeksi” mengenai perjalanan menuju tanah perjanjian dengan memfinalisasi ketetapan bagi suku-suku Transyordan (untuk ketetapan serupa di dalam tanah perjanjian, lihat 19:1–13). Hal ini mungkin juga berfungsi sebagai pengingat bahwa bahkan di tanah yang ditaklukkan dengan mudah dan dianugerahkan oleh Allah, kehidupan manusia tetap jauh dari kesempurnaan.

    Pasal 4 dengan demikian memperkenalkan tema-tema teologis kunci yang akan mendominasi seluruh sisa kitab ini. Allah telah bertindak di dalam anugerah (menyelamatkan umat-Nya dan berfirman kepada mereka), dan kini wujud respons yang dituntut dari Israel sangatlah jelas—mereka harus mendengarkan Dia dan melakukan apa yang difirmankan-Nya. Namun, belum sempat kenyataan penuh pengharapan ini tertanam dengan jelas, kemungkinan bahwa bangsa Israel akan menyia-nyiakan kesempatan emas mereka mulai membayang dengan sangat nyata.


    III. Musa Mengkhotbahkan Perjanjian (4:44–11:32)

    Pernyataan Pokok Perjanjian di Dataran Transyordan (4:44–49)

    Inilah hukum Taurat yang dipaparkan Musa kepada orang Israel. Inilah peringatan, ketetapan dan peraturan, yang dikatakan Musa kepada orang Israel, dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir, di seberang sungai Yordan, di lembah di tentangan Bet-Peor, di negeri Sihon, raja orang Amori, yang diam di Hesybon, yang dipukul kalah oleh Musa dan orang Israel dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir. Negerinya diduduki mereka, dan juga negeri Og, raja negeri Basan: kedua-duanya raja orang Amori, yang diam di seberang sungai Yordan, di sebelah timur, mulai dari Aroer, di tepi sungai Arnon, sampai gunung Siryon—itulah gunung Hermon—serta seluruh dataran di seberang sungai Yordan, di sebelah timur, sampai Laut Araba, di kaki lereng gunung Pisga.
    Ulangan 4:44–49 (TB)

    Khotbah Musa dari pasal 4:44–11:32 kemungkinan merupakan seruan yang paling berbobot dan berkelanjutan bagi umat Allah untuk menjalani "kehidupan yang dibentuk oleh Injil" (gospel-shaped life) di seluruh Kitab Suci. Setelah meninjau kembali sejarah masa lalu bangsa itu yang baru saja lewat dan memperlihatkan bagaimana ada segala alasan bagi mereka untuk merespons anugerah Allah di dalam ketaatan, kini Musa beralih untuk menjelaskan secara tepat bagaimana wujud ketaatan tersebut, dengan menerapkan penyataan mendasar di Horeb pada kehidupan di tanah yang baru.

    Ulangan 4:44–49. Penegasan bahwa "Inilah hukum Taurat yang dipaparkan Musa kepada orang Israel" merujuk pada seluruh sisa khotbahnya (yang membentang terus hingga pasal 30). Kata "taurat" (torah) di sini memiliki cakupan makna yang jauh lebih luas daripada sekadar kata "hukum"—kata ini merujuk pada pengajaran Musa yang akan memimpin mereka yang mengikutinya menuju kehidupan yang indah bersama Allah di tanah yang sedang dianugerahkan-Nya kepada umat tersebut. Pengajaran ini akan terdiri dari "peringatan, ketetapan dan peraturan," yang mencakup berbagai macam persoalan dan tantangan yang akan mereka hadapi di tanah tersebut. Kata "peringatan" (testimonies / kesaksian) sangat mungkin mengaitkan hukum-hukum ini dengan apa yang tertulis pada kedua loh batu (lihat Kel. 25:16). Ungkapan baru tentang kehidupan yang setia ini harus dipahami sebagai perluasan dan penerapan dari apa yang telah difirmankan Allah sebelumnya. Jika 4:44 berfungsi sebagai tajuk utama (banner headline) bagi segala hal yang akan menyusul, maka 4:45–49 merekapitulasi 1:1–5 serta mengingatkan para pembaca akan "kisah sejauh ini" menurut pasal 1–3, sembari terus membangun antisipasi menuju bagian inti khotbah Musa yang akan datang.

    Tuntutan Mendasar Perjanjian: Sepuluh Firman (5:1–33)

    Musa memanggil seluruh orang Israel berkumpul dan berkata kepada mereka: "Dengarlah, hai orang Israel, ketetapan dan peraturan, yang pada hari ini kuperdengarkan kepadamu, supaya kamu mempelajarinya dan melakukannya dengan setia. TUHAN, Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeb. Bukan dengan nenek moyang kita TUHAN mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di sini pada hari ini, kita semuanya yang masih hidup. TUHAN telah bicara dengan berhadapan muka dengan kamu di gunung dan di tengah-tengah api— aku pada waktu itu berdiri antara TUHAN dan kamu untuk memberitahukan firman TUHAN kepadamu, sebab kamu takut kepada api dan kamu tidak naik ke gunung—dan Ia berfirman:

    Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

    Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

    Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

    Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau lembumu, atau keledaimu, atau hewanmu yang manapun, atau orang asing yang di tempat kediamanmu, supaya hambamu laki-laki dan hambamu perempuan berhenti seperti engkau juga. Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat.

    Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

    Jangan membunuh.

    Jangan berzinah.

    Jangan mencuri.

    Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

    Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.

    Firman itulah yang diucapkan TUHAN kepada seluruh jemaahmu dengan suara nyaring di gunung, dari tengah-tengah api, awan dan kegelapan, dan tidak ditambahkan-Nya apa-apa lagi. Ditulis-Nya semuanya pada dua loh batu, lalu diberikan-Nya kepadaku."

    "Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu, mendekati aku, dan berkata: Sesungguhnya, TUHAN, Allah kita, telah memperlihatkan kepada kita kemuliaan dan kebesaran-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara TUHAN, Allah kita, kami akan mati. Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api, seperti kami dan tetap hidup? Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan TUHAN, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh TUHAN, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya.

    Ketika TUHAN mendengar perkataanmu itu, sedang kamu mengatakannya kepadaku, maka berfirmanlah TUHAN kepadaku: Telah Kudengar perkataan bangsa ini yang dikatakan mereka kepadamu. Segala yang dikatakan mereka itu baik. Kiranya hati mereka selalu begitu, yakni takut akan Daku dan berpegang pada segala perintah-Ku, supaya baik keadaan mereka dan anak-anak mereka untuk selama-lamanya! Pergilah, katakanlah kepada mereka: Kembalilah ke kemahmu. Tetapi engkau, berdirilah di sini bersama-sama dengan Aku, maka Aku hendak mengatakan kepadamu segenap perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang harus kauajarkan kepada mereka, supaya mereka melakukannya di negeri yang Kuberikan kepada mereka untuk dimiliki.

    Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki."
    Ulangan 5:1–33 (TB)

    Ulangan 5:1–5. Musa kembali mengumpulkan bangsa itu untuk melanjutkan pidatonya dan langsung berfokus pada keharusan untuk “mendengar,” “mempelajari,” dan “melakukan” apa yang dikatakannya. Alasan bagi hal ini sangatlah mencolok menurut 5:2–3. Kebutuhan akan ketaatan berakar pada komitmen perjanjian Allah terhadap bangsa yang baru bertumbuh ini, yang diikat di Horeb (istilah yang lebih disukai Musa untuk merujuk Gunung Sinai di dalam Kitab Ulangan). Akan tetapi, poin yang disampaikannya bukan sekadar historis—ia menambahkan “bukan dengan nenek moyang kita TUHAN mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di sini pada hari ini, kita semuanya yang masih hidup.” Mengingat telah berlalunya generasi Keluaran (Bil. 26:64–65), pernyataan ini tampaknya seperti klaim yang sangat ganjil. Namun, dalam 5:4 Musa memperlihatkan bahwa hal ini bukanlah kelalaian ingatan, melainkan strategi teologis dan retoris yang disengaja. Karena mereka adalah “satu umat” yang melintasi ruang dan waktu, ia dapat mengatakan bahwa Allah telah berfirman kepada mereka “berhadapan muka” (meskipun secara teknis hanya Musa sendirilah yang memiliki hak istimewa tersebut), yang membangkitkan rasa takut akan Allah di dalam diri mereka. “Pada hari ini” respons yang dituntut dari umat di Moab persis sama dengan apa yang dituntut dari generasi Horeb—yaitu mendengar dan menaati firman Allah.

    Ulangan 5:6–21. Musa kemudian menyatakan kembali “kesepuluh firman” (ten words / Dekalog) dari Keluaran 20, yang pada dasarnya merupakan konstitusi Israel sebagai umat perjanjian Allah.[^6] Tidaklah sepenuhnya jelas bagaimana membagi atau mengelompokkan kesepuluh firman ini: tradisi Lutheran/Katolik Roma memandang 5:7–10 sebagai perintah pertama, dan kemudian membagi 5:21 menjadi dua perintah; sedangkan versi Reformed memandang 5:7 dan 5:8–10 sebagai perintah ke-1 dan ke-2, serta 5:21 sebagai satu larangan tunggal. Sangat sulit untuk memilih di antara kedua alternatif ini, namun secara berimbang, pandangan Reformed tampak lebih selaras dan sesuai dengan teks tersebut.[^7]

    Syarat-syarat relasi perjanjian di sini hampir serupa dengan yang ada di Kitab Keluaran, dengan beberapa variasi yang relatif kecil. Variasi yang pertama muncul dalam perintah Sabat di 5:12–15. Kata kerja “ingatlah” dalam Keluaran 20:8 menjadi “tetaplah ingat” (keep / peliharalah) di sini, namun perubahan yang lebih signifikan terletak pada motivasi untuk menguduskan hari Sabat. Alih-alih berakar dari narasi penciptaan, kebutuhan untuk beristirahat di sini dikaitkan dengan peristiwa Keluaran. Tindakan penyelamatan Allah kini membebaskan seluruh komunitas untuk beristirahat, dan dengan melakukan hal tersebut, mereka memperingati karya pembebasan Keluaran. Perubahan kecil yang kedua muncul dalam 5:21, di mana mengingini istri sesama disebutkan terlebih dahulu, bukan hartanya sebagaimana dalam Keluaran 20. Hal ini sejalan dengan kepekaan yang kuat terhadap kaum perempuan yang diperlihatkan Musa di sepanjang kitab ini. Hingga titik ini, belum sepenuhnya jelas mengapa Musa mengulang kembali hal-hal yang sudah pernah dibahas sebelumnya, namun seluruh sisa pasal ini menjelaskannya dengan sangat gamblang.

    Ulangan 5:22–27. Pada masa lampau, Allah berfirman secara definitif kepada seluruh bangsa itu, memaparkan syarat-syarat perjanjian-Nya secara harfiah di atas loh batu. Bangsa itu mendengar suara Allah dan melihat fenomena api, awan, dan kegelapan (dalam rumusan 5:24, mereka melihat “kemuliaan dan kebesaran-Nya”). Kemudian Musa muncul dengan firman Allah yang diukirkan secara ilahi di atas loh batu. Persoalannya adalah, menurut penuturan Musa, bangsa itu sangat mengkhawatirkan nyawa mereka—demikianlah dahsyatnya kuasa dan kekudusan Allah. Pertanyaan dalam 5:26 adalah pertanyaan yang tepat, dan jawabannya adalah “Tidak ada seorang pun!” Namun, alasan mengapa Musa menyertakan seluruh perincian ini kini menjadi jelas: respons bangsa Israel di Horeb dalam 5:27 persis merupakan respons yang diserukan Musa kepada mereka “pada hari ini” di Moab (dan setiap hari yang akan datang): yaitu untuk “mendengar dan melakukan” segala sesuatu yang telah difirmankan Allah kepada Musa.

    Mendengarkan Perjanjian / Shema Israel (6:1–25)

    "Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

    Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

    Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu—kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami—dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi.

    Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa. Haruslah kamu berpegang pada perintah, peringatan dan ketetapan TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; haruslah engkau melakukan apa yang benar dan baik di mata TUHAN, supaya baik keadaanmu dan engkau memasuki dan menduduki negeri yang baik, yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, dengan mengusir semua musuhmu dari hadapanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.

    Apabila di kemudian hari anakmu bertanya kepadamu: Apakah peringatan, ketetapan dan peraturan itu, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN Allah kita? maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat. TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita; tetapi kita dibawa-Nya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita. TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini. Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita."
    Ulangan 6:1–25 (TB)

    Ulangan 6:1–3. Penegasan Musa dalam 6:1–2 bahwa ia kini hendak menguraikan perintah tersebut (yang terdiri atas “ketetapan dan peraturan” sebagaimana telah kita lihat) perlu dibaca dalam terang 4:44 dan 5:1. Bagi Musa, Sepuluh Firman (Ten Commandments), peraturan-peraturan berikutnya dalam Keluaran 21–24 (dan kemungkinan Imamat 17–26), semuanya merupakan bagian dari gambaran yang dinyatakan Allah secara progresif mengenai kehidupan yang baik yang terbentang di hadapan mereka. Allah yang berfirman di Sinai adalah momen fondasional bagi bangsa tersebut. Dalam satu pengertian, tidak ada yang dapat atau perlu ditambahkan padanya; namun dalam pengertian lain, seiring berubahnya konteks mereka, Allah dengan penuh anugerah memperluas penjelasan mengenai seperti apa seharusnya kehidupan bersama-Nya—kehidupan yang digerakkan oleh anugerah.

    Umat itu dipanggil untuk taat kepada “perintah” tersebut, yang menegaskan bahwa penyataan Allah jauh melampaui sekadar kumpulan hukum; penyataan itu adalah sebuah visi kehidupan yang utuh. Mereka dipanggil untuk “takut akan TUHAN (Yahweh)”, yang menggemakan nuansa perjanjian-perjanjian kuno sekaligus permulaan hikmat sejati (Ams. 9:10). Dan apa pendorongnya? Allah menyodorkan prospek yang secara mendasar bersifat relasional, yakni lanjut umur bersama-Nya di tanah milik-Nya. Dan bagaimanakah wujud ketaatan ini? Ketaatan ini dibangun di atas tindakan mendengarkan, sebagaimana yang diperjelas secara eksplisit dalam 5:27. Nyatanya, realisasi seluruh janji Allah kepada para pendahulu mereka, dan bahkan penggenapan tujuan penciptaan, bergantung pada kesediaan umat Allah untuk mendengar suara-Nya melalui perkataan Musa (6:3). Hanya dengan cara itulah mereka akan benar-benar tiba di “negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”, sebagaimana yang dirujuk Allah dalam Keluaran 3:8.

    Ulangan 6:4–5. Panggilan untuk “mendengar” atau “menyimak” (bahasa Ibrani tidak membedakan kedua gagasan ini) dalam 6:3 kemudian digemakan kembali dalam salah satu pernyataan paling penting dalam Perjanjian Lama di ayat 4. “Shema” (sebutan untuk 6:4 dalam tradisi Yahudi) sangat sulit untuk diterjemahkan karena tidak ada kata kerja yang dicantumkan dalam bahasa Ibrani. Teks aslinya hanya berbunyi Yahweh Eloheinu Yahweh Ekhad (TUHAN Allah kita TUHAN esa/satu-satunya). Pernyataan ini dapat dipahami sebagai pernyataan tentang “keesaan/kesatuan” Allah (“TUHAN, Allah kita, TUHAN itu esa”), atau dapat pula berupa penegasan bahwa Israel tidak memiliki allah lain (“Hanya TUHANlah Allah kita”). Usulan Daniel Block tampaknya menangkap esensi frasa ini sebagai semboyan hidup bagi Israel di tanah tersebut: “TUHAN adalah Allah kita! TUHAN saja!”[^8] Kendati gagasan tentang “keesaan” mungkin termuat dalam frasa tersebut, ayat 6:5 lebih condong mengarahkan pada kesetiaan yang eksklusif, saat Israel dipanggil untuk mengasihi Allah dengan “segenap hati, jiwa, dan kekuatan” (pikiran/akal budi), sebuah frasa yang dikutip oleh Yesus sendiri (dan sedikit diperluas) dalam Markus 12:28–34, serta oleh seorang ahli hukum Taurat dalam Lukas 10:25–28. Ini adalah rangkuman brilian mengenai tuntutan hukum Taurat yang berpusat kepada Allah (Godward requirements). Bahasa mengenai “kasih” sesekali muncul dalam naskah perjanjian kuno, tetapi tidak ada alasan untuk membatasinya sekadar sebagai bahasa formal dan menafikan respons pribadi yang menyeluruh. Umat yang telah ditebus Allah harus mendengarkan Dia ketika Dia menyatakan bahwa mereka berutang segalanya kepada-Nya—dan kepada-Nya semata.

    Ulangan 6:6–9. Musa menegaskan kembali bahwa tidak ada yang lebih penting daripada hal ini. Firman ini harus menguasai seluruh kehidupan segenap umat Allah (kata “hati” di sini mencakup cara berpikir sekaligus tindakan). Jika Israel ingin hidup dengan baik bersama Allah di tanah tersebut, perkataan ini harus meresap ke dalam kehidupan bangsa mereka: firman ini harus diwariskan dari generasi ke generasi; firman ini harus mendominasi percakapan di setiap tempat dan di setiap waktu. Bahasa mengenai “tanda pada tanganmu” dan “lambang di dahimu” (atau hiasan pengikat di antara kedua matamu) dalam 6:8 berasal dari Keluaran 13:16, di mana pengudusan anak sulung dimaksudkan sebagai pengingat (secara metaforis) akan identitas mereka sebagai umat Allah. Kini firman Allah harus berfungsi dengan cara yang serupa. Makna persis dari “lambang/hiasan dahi” (frontlets) cukup sulit untuk dipastikan secara tepat. Meskipun 6:8–9 telah ditafsirkan secara harfiah dalam praktik Yahudi Ortodoks (melalui filakteri/tefillin dan mezuzah), tampak lebih selaras dengan teks untuk membaca seluruh bagian ini secara metaforis, yang menguraikan cakupan pengabdian dan ketundukan total yang dituntut dalam 6:4–5.

    Ulangan 6:10–19. Kebalikan dari mendengarkan bagi Musa adalah “melupakan” (6:12). Mengingat anugerah Allah yang melimpah ruah dalam menggenapi janji-janji yang diikrarkan-Nya kepada para Bapa Leluhur (Patriarchs)—yang dinyatakan dalam bentuk penyelamatan mereka dari Mesir dan membawa mereka masuk ke kota-kota berbenteng yang besar, rumah-rumah yang sarat dengan persediaan barang baik, sumber-sumber air yang terjamin, serta pertanian yang subur makmur—sungguh tak terpikirkan jika umat-Nya merosot hingga mengabaikan Tuhan mereka. Bahaya di sini bukan sekadar menjadi tidak tahu berterima kasih, melainkan menukar penyembahan kepada Allah mereka dengan ilah-ilah di tanah tersebut. Sebagaimana dalam 4:10, 5:29, dan 6:2, sikap dasar umat haruslah berupa rasa takut dan hormat yang kudus (reverent awe), yang bermuara pada kesediaan untuk melayani dan bergantung kepada-Nya. “Bersumpah demi nama-Nya” berarti mempersembahkan dan mengakui kuasa hanya milik Allah semata, sebagaimana diperjelas dalam ayat 14. Godaan di tanah tersebut adalah menukar perintah-perintah TUHAN (Yahweh) dengan kesetiaan yang tampaknya tidak terlalu menuntut kepada ilah-ilah bangsa-bangsa sekitar. Masalahnya, Allah Israel adalah Allah yang “cemburu”, dalam pengertian bahwa komitmen perjanjian-Nya kepada umat-Nya menuntut kesetiaan yang mutlak eksklusif sebagai balasannya. Jika Israel menolak untuk mendengarkan, mereka akan berhadapan langsung dengan murka Allah secara nyata, dengan ancaman mengerikan bahwa Allah dapat memperlakukan mereka dengan cara yang sama seperti bangsa-bangsa kafir yang menghadapi penghakiman-Nya, yaitu Dia akan “memunahkan mereka dari muka bumi.” Di sepanjang khotbah ini, Musa senantiasa mengaitkan anugerah Allah yang berlimpah dengan konsekuensi dahsyat akibat mencampakkan anugerah tersebut. Menurut ayat 16, peristiwa masuknya bangsa itu ke tanah perjanjian seharusnya menandai pemutusan total dengan masa lalu mereka yang kelam. Alih-alih mencobai TUHAN sebagaimana yang pernah mereka lakukan dalam Keluaran 17:1–7 di Masa/Meriba (yang menjadi contoh peringatan terkenal—lihat mis. Mzm. 95:8 dan Mzm. 78:18), mereka harus mendengarkan dan taat (6:17). Inilah kunci untuk menikmati kehidupan “baik” dari TUHAN di “negeri yang baik” yang sedang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Ayat 6:19 mengingatkan mereka bahwa agar hal ini menjadi kenyataan, mereka harus senantiasa bergantung kepada Allah untuk menyingkirkan musuh-musuh dari tanah tersebut, atau jika tidak, mereka pasti akan terperosok ke dalam penyembahan berhala.

    Ulangan 6:20–25. Di sini Musa kembali menegaskan pentingnya “mendengarkan perjanjian” secara mendasar bagi masa depan bangsa itu di tanah perjanjian. Mengantisipasi suatu masa ketika seorang anak akan bertanya mengenai perkataan-perkataan yang membentuk wujud kehidupan yang baik di tanah tersebut (kata tanya Ibrani māh dapat memuat berbagai ragam pertanyaan—Mengapa kita memiliki aturan-aturan ini? Apakah artinya? dsb.), Musa memaparkan jawaban definitif dalam bentuk yang pada dasarnya merupakan sebuah kredo pengakuan iman yang sederhana (lihat juga 26:5–11 untuk pendekatan serupa). Ayat 22–23 menguraikan kembali pengalaman peristiwa Keluaran, memperjelas bahwa penyelamatan oleh Allah secara hakiki terkait erat dengan janji-janji anugerah yang diikrarkan kepada para Bapa Leluhur.

    Ayat 24–25 membawa kita ke jantung teologi Kitab Ulangan. Firman Allah, yang memanggil umat-Nya untuk menunjukkan rasa takut yang penuh hormat melalui ketaatan, dirancang demi kebaikan kita (kemungkinan menggemakan Kejadian 1). Mendengarkan Allah menuntun kepada kehidupan (bukan kematian, sebagaimana yang dialami oleh generasi padang gurun). Kendati demikian, Musa memikirkan sesuatu yang jauh melampaui sekadar bertahan hidup (survival), sebagaimana diperjelas dalam ayat 25. Mendengarkan seluruh firman ini secara utuh (“perintah tersebut”) akan, kata Musa, “menjadi kebenaran kita.” Menjalani kehidupan indah yang digambarkan oleh Allah (mendengarkan firman-Nya dan melakukan apa yang difirmankan-Nya) akan bermuara pada pernyataan vonis Allah bahwa umat-Nya adalah “orang benar”, bahkan saat mereka memancarkan dan mencerminkan kebenaran Allah itu sendiri.[^9]

    Tuntutan Tegas Perjanjian Anugerah (7:1–26)

    "Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka. Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari pada-Ku, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera. Tetapi beginilah kamu lakukan terhadap mereka: mezbah-mezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis.

    Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya. Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu—bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa?—tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini untuk dilakukan."

    "Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau TUHAN, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu. Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu. TUHAN akan menjauhkan segala penyakit dari padamu, dan tidak ada satu dari wabah celaka yang kaukenal di Mesir itu akan ditimpakan-Nya kepadamu, tetapi Ia akan mendatangkannya kepada semua orang yang membenci engkau. Engkau harus melenyapkan segala bangsa yang diserahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu; janganlah engkau merasa sayang kepada mereka dan janganlah beribadah kepada allah mereka, sebab hal itu akan menjadi jerat bagimu.

    Jika sekiranya engkau berkata dalam hatimu: Bangsa-bangsa ini lebih banyak dari padaku, bagaimanakah aku dapat menghalaukan mereka? maka janganlah engkau takut kepada mereka; ingatlah selalu apa yang dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap Firaun dan seluruh Mesir, yakni cobaan-cobaan besar, yang kaulihat dengan matamu sendiri, tanda-tanda dan mujizat-mujizat, tangan yang kuat dan lengan yang teracung, yang dipakai TUHAN, Allahmu, untuk membawa engkau keluar. Demikianlah juga akan dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap segala bangsa yang engkau takuti. Lagipula TUHAN, Allahmu, akan melepaskan tabuhan menyerbu mereka, sampai habis binasa orang-orang yang masih tinggal dan yang menyembunyikan diri terhadap engkau. Janganlah gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, ada di tengah-tengahmu, Allah yang besar dan dahsyat. TUHAN, Allahmu, akan menghalau bangsa-bangsa ini dari hadapanmu sedikit demi sedikit; engkau tidak boleh membinasakan mereka dengan segera, supaya jangan binatang hutan menjadi terlalu banyak melebihi engkau. Demikianlah TUHAN, Allahmu, akan menyerahkan mereka kepadamu dan akan mengacaukan mereka sama sekali, sampai mereka punah. Raja-raja mereka akan diserahkan-Nya ke dalam tanganmu, sehingga engkau menghapuskan nama mereka dari kolong langit; tidak akan ada yang dapat bertahan menghadapi engkau, sampai engkau memunahkan mereka. Patung-patung allah mereka haruslah kamu bakar habis; perak dan emas yang ada pada mereka janganlah kauingini dan kauambil bagi dirimu sendiri, supaya jangan engkau terjerat karenanya, sebab hal itu adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu. Dan janganlah engkau membawa sesuatu kekejian masuk ke dalam rumahmu, sehingga engkaupun ditumpas seperti itu; haruslah engkau benar-benar merasa jijik dan keji terhadap hal itu, sebab semuanya itu dikhususkan untuk dimusnahkan."
    Ulangan 7:1–26 (TB)

    Ulangan 7:1–6. Setelah menegaskan pentingnya sikap “mendengarkan perjanjian” dengan saksama, Musa kini beralih pada rincian praktis mengenai pendudukan tanah tersebut. Perhatian utamanya yang menyeluruh adalah memastikan bahwa umat sungguh-sungguh memahami kenyataan bahwa tindakan anugerah Allah (baik dalam pemilihan maupun penaklukan) menuntut respons yang sepadan.

    Penduduk Kanaan di sini digambarkan sebagai tujuh bangsa atau kelompok suku, kemungkinan besar sebagai lambang kelengkapan (lihat juga Yos. 3:10[^10]; 24:11), namun Musa sama sekali tidak menaruh minat pada asal-usul atau hubungan antarsuku tersebut (daftar dan sebutan bagi para penduduk ini sangat bervariasi—lihat, misalnya, daftar dalam 20:17). Pokok penting di sini adalah bahwa mereka “lebih banyak dan lebih kuat” daripada Israel. Sejak awal Kitab Kejadian, Allah telah berkomitmen untuk melipatgandakan umat-Nya, dan bangsa-bangsa yang berada di bawah penghakiman ini tidak akan sanggup menghalangi rencana-Nya. Dalam 7:2, Allah kembali menegaskan bahwa Dialah perancang utama kemenangan mereka (“menyerahkan mereka kepadamu”), namun kini Ia memaparkan apa yang dituntut dari umat-Nya. Mereka tidak hanya dituntut untuk menaklukkan orang Kanaan, melainkan harus “menumpas mereka sama sekali.” Frasa bahasa Ibrani ini, yang memuat penggunaan ganda kata kerja ḥrm (haharēm taharīm), nyaris mustahil untuk diterjemahkan secara sempurna ke dalam bahasa lain. Gagasan kuncinya adalah bahwa objek yang bersangkutan harus dikhususkan sepenuhnya bagi Allah, baik untuk dipergunakan semata-mata bagi-Nya atau dimusnahkan (lihat Im. 27:28–29). Tidak ada alasan teologis yang dipaparkan secara langsung di sini untuk pernyataan yang mengejutkan ini (kendati sejak Kejadian 15:16 dan seterusnya, telah jelas bahwa bangsa-bangsa ini akan dihakimi oleh Allah atas dosa mereka), dan penting untuk memperhatikan bahwa gagasan ḥērem merupakan suatu prinsip ketetapan teologis ketimbang rincian operasional militer belaka. Itulah sebabnya mengapa terjemahan seperti “mengkhususkan mereka bagi Allah” atau “menjatuhkan sanksi tumpas (ban) atas mereka” mungkin lebih menolong untuk memahami maknanya.

    Tujuan Musa di sini adalah memastikan bahwa Israel menanggapi perintah Allah untuk menaklukkan Kanaan dan mengalahkan penduduknya dengan sangat serius. Inilah sebabnya ia melipatgandakan larangan dalam 7:2–3: mereka tidak boleh mengikat perjanjian damai dengan bangsa-bangsa itu, tidak boleh mengasihani mereka, atau kawin-mengawin dengan mereka. Petunjuk terakhir ini setidaknya menyiratkan kekhawatiran Musa bahwa bangsa itu akan berjuang keras dan rentan gagal dalam menjalankan perintah Allah secara tuntas, sekaligus memberi petunjuk bahwa ayat 7:2 mungkin tidak secara mutlak membayangkan pemusnahan biologis instan dari setiap individu orang Kanaan. Motivasi utama di balik perintah ini adalah upaya untuk melindungi bangsa Israel yang lemah dari keniscayaan penyembahan berhala dan murka Allah yang pasti menyusul kemudian. Inilah sebabnya mereka harus memusnahkan setiap sisa peninggalan penyembahan berhala Kanaan, baik mezbah-mezbah korban, lambang-lambang dewa laki-laki (“tugu-tugu berhala”), lambang dewi perempuan (“tiang-tiang berhala”—yakni tiang-tiang Asyera, tiang-tiang kayu yang kemungkinan dipahat menurut rupa dewi Asyera, istri dari Allah Tertinggi El dan ibu dari 70 lebih dewa Kanaan lainnya), serta patung-patung pahatan lainnya. Implikasinya jelas: jika semua itu dibiarkan tersisa, umat Allah pasti akan tergelincir ke dalam penyembahan berhala. Hal ini tidak boleh terjadi, sebab Israel adalah “umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu.” Bangsa ini harus berbakti secara eksklusif kepada TUHAN (Yahweh) sekaligus murni secara moral (serupa dengan karakter-Nya). Selanjutnya Musa menggarisbawahi bahwa Allah telah memilih Israel secara unik untuk menjadi “umat kesayangan-Nya” (harta kepunyaan-Nya yang berharga; lihat juga Kel. 19:5–6).

    Ulangan 7:7–11. Musa mengantisipasi bahaya munculnya sikap merasa berhak (sense of entitlement) ketimbang rasa syukur yang mendalam dalam diri Israel saat memandang kebaikan Allah. Karena itu, ia mengingatkan mereka akan ketidaksignifikanan mereka. Dua alasan yang mendasari pemilihan-Nya atas mereka (yang dinyatakan secara nyata dalam peristiwa Keluaran) adalah kasih-Nya dan janji-Nya (yang kedua-duanya murni mengalir dari anugerah-Nya semata). Bahasa mengenai “kasih” mencerminkan hubungan bapa-anak yang diwujudkan dalam janji-janji perjanjian yang telah diikrarkan Allah kepada para leluhur mereka.

    Tindakan dan firman anugerah dari Sang Bapa membuka kemungkinan bagi umat untuk mengenal-Nya secara pribadi—secara khusus bahwa TUHAN (Yahweh), Allah Israel, adalah satu-satunya Allah yang sejati, yang setia dalam “memegang perjanjian” dan senantiasa menyatakan “kasih setia-Nya” (ḥesed).

    Komitmen yang tanpa syarat ini sekaligus menghadirkan tuntutan tegas yang menentukan bagaimana umat-Nya mengalami kasih dan kesetiaan tersebut. Sikap “kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya” menuntun pada kenikmatan yang terus-menerus di bawah kehangatan perkenanan dan kasih-Nya. Sebaliknya, menolak Dia (“membenci Dia”) pada gilirannya akan mendatangkan penolakan dan hukuman dari Allah. Keistimewaan luar biasa dari teks ini (yang meletakkan fondasi bagi keseluruhan Alkitab) terletak pada bagaimana pengalaman menikmati kasih pemilihan Allah yang tanpa syarat (unconditional electing love) bergantung secara bersyarat (conditional) pada respons ketaatan kita. Baik dimensi ketanpasyaratan maupun dimensi bersyarat dalam teks ini tidak boleh ditiadakan atau dileburkan satu ke dalam yang lain.

    Ulangan 7:12–16. Musa terus menghimpun motivasi bagi umat untuk mendengarkan dan taat seraya menjelaskan bagaimana kesetiaan perjanjian Allah akan bermuara pada berkat yang melimpah ruah bagi umat-Nya saat mereka hidup bersama dan bagi Dia. Ayat 7:13 merangkum pokok ini: inisiatif anugerah Allah seharusnya membuahkan ketaatan dan pengalaman yang berkesinambungan akan anugerah-Nya, yang kini dituangkan dalam konteks hubungan kekeluargaan yang erat (“mengasihi”), penggenapan janji-janji kepada para Bapa Leluhur (“memberkati”), dan bahkan perwujudan amanat penciptaan dalam Kejadian 1:28 (“membuat banyak/berkembang biak”). Berkat ini pada gilirannya akan terwujud dalam kesuburan keturunan manusia, kesuburan hasil panen bumi, dan bahkan keberhasilan peternakan hewan. Pokok ini ditegaskan secara eksplisit dalam 7:14: “Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa” (bdk. 4:5–8). “Kehidupan yang diberkati” ini sangat kontras dengan pengalaman masa lalu mereka di Mesir (yang mengarahkan pada penggambaran “kehidupan terkutuk” sebagai bentuk kemunduran kembali ke Mesir; 7:15; lihat juga 11:26–32; 28:15–68). Sama seperti orang Mesir, semua orang yang menentang umat Allah ketika mereka memasuki tanah tersebut dapat memastikan bahwa kejahatan mereka akan berbalik menimpa diri mereka sendiri. Jika bangsa Israel bersikap lunak terhadap mereka atau menoleransi praktik-praktik mereka, hal itu merupakan kebodohan yang luar biasa dan akan membuat ketaatan sejati menjadi sesuatu yang mustahil.

    Ulangan 7:17–26. Saat memasuki tanah tersebut, Musa melihat dua bahaya kembar yang menghadang umat Allah. Bahaya pertama (7:17–21) adalah kemungkinan bahwa keunggulan kekuatan militer bangsa Kanaan akan menciutkan nyali mereka untuk maju melangkah. Penawar dari sikap gentar ini sederhana: ingatlah selalu apa yang telah diperbuat Allah terhadap Firaun dan segenap orang Mesir (7:18–19). Musa menambahkan sebuah gambaran yang hidup untuk menguatkan keyakinan mereka: Allah akan melepaskan “tabuhan” (hornets), yakni serangga penyengat ganas yang sengatannya dapat berakibat fatal, ke tengah-tengah musuh, sehingga tidak akan ada tempat persembunyian yang aman bagi mereka. Menurut 7:21, hadirat Allah di tengah-tengah merekalah yang seharusnya lebih dari cukup untuk melenyapkan segala rasa takut.

    Namun, dalam 7:22, Musa beralih untuk menghadapi bahaya yang lebih halus—yakni kompromi dan akomodasi yang merayap perlahan terhadap cara hidup orang Kanaan. Hingga titik ini, penaklukan sering digambarkan bagaikan serangan kilat (blitzkrieg), di mana bangsa-bangsa musuh dikalahkan secara seketika. Kini rincian praktis dari kampanye penaklukan tersebut mulai diperlihatkan.[^11] Benar bahwa Allah akan mengalahkan bangsa-bangsa itu sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya (7:23–24), namun proses ini membutuhkan waktu karena tanah tersebut harus diamankan dan dijadikan tempat yang aman bagi umat Allah, sebagaimana yang telah diperjelas-Nya dalam Keluaran 23:29–30. Keamanan ini menuntut penanganan atas ancaman fisik (seperti binatang liar) maupun tantangan rohani (seperti patung-patung berhala berlapis logam mulia yang bertebaran di seluruh negeri). Dua godaan kembar berupa ketamakan (keyakinan keliru bahwa kebaikan pemeliharaan Allah belumlah cukup) dan penyembahan berhala (keyakinan keliru bahwa diri Allah sendiri belumlah cukup) membahayakan kelangsungan hidup bangsa tersebut. Untuk pertama kalinya dalam Kitab Ulangan, Musa menggunakan istilah “kekejian” (abomination / Ibr. tô‘ēbāh), yang merupakan sebutan pilihannya untuk segala bentuk ilah alternatif pengganti Allah—yakni alternatif yang menjanjikan segalanya namun tidak memberikan apa pun. Segala “kekejian” semacam itu harus ditolak mentah-mentah dan disingkirkan secara mutlak (sama seperti penduduk Kanaan itu sendiri, 7:1–5).

    Belajar dari Tahun-Tahun di Padang Gurun (8:1–20)

    "Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.

    Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia. Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.

    Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya. Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.

    Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu."
    Ulangan 8:1–20 (TB)

    Ulangan 8:1–5. Sekali lagi, segala hal yang Allah tuntut dari umat-Nya ditampilkan memuncak dalam satu tuntutan tunggal (kesetiaan perjanjian atau ketaatan), dan satu hal inilah yang akan menentukan masa depan bangsa tersebut (dan dengan demikian menentukan rencana agung Allah untuk memberkati umat yang telah diciptakan dan dipilih-Nya). Lalu, apakah kunci untuk hidup bagi TUHAN (Yahweh) di tanah tersebut? Kerendahan hati. Menurut 8:2, perlakuan Allah terhadap mereka selama empat puluh tahun sebelumnya dirancang untuk melakukan satu hal di atas segalanya: merendahkan hati mereka dengan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka sesungguhnya tidak memiliki keinginan maupun kemampuan untuk taat. Pengalaman kelaparan dan penyediaan manna yang menyusul di sepanjang periode ini (lihat Kel. 16 dan Yos. 5:12) dimaksudkan untuk mengajar mereka bergantung kepada Allah, dan secara khusus bersandar pada firman-Nya (8:3, yang dikutip oleh Yesus di padang gurun dalam Mat. 4:4).[^12] Musa juga menambahkan dua wujud kesetiaan TUHAN yang sebelumnya tidak disebutkan (memelihara pakaian mereka agar tidak rusak dan meluputkan kaki mereka dari pembengkakan; lihat juga Neh. 9:21), sebagai bukti bahwa Allah sedang “mengajari” (mendidik) mereka layaknya seorang anak, melatih mereka dalam ketergantungan yang rendah hati. Kenyataan ini harus membentuk cara hidup mereka di tanah tersebut.

    Ulangan 8:6–10. Ingatan akan kegersangan padang gurun, yang sangat kontras dengan kesuburan tanah perjanjian, seharusnya juga mendorong mereka untuk hidup sepenuh hati bagi Allah, “dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia” (8:6). Tanah tersebut kemudian digambarkan dengan istilah-istilah yang menggemakan kembali deskripsi Taman Eden yang baru saja diciptakan dalam Kejadian 1 dan 2. Tanah ini adalah tanah yang “baik” (8:7, 10). Terdapat limpahan air (lihat Kej. 2:10–14) yang menjamin suburnya berbagai ragam hasil bumi, dan sebagaimana dalam Kejadian 2, terdapat pula kandungan mineral yang kaya. Di tempat inilah, berkat yang dijanjikan Allah dapat dicecap, dan mereka akan memiliki segala alasan untuk memuji Dia.

    Ulangan 8:11–20. Namun, ada kemungkinan bahwa alih-alih mengingat dan belajar dari perjalanan melintasi padang gurun menuju tanah tersebut, Israel justru “melupakan” Allah, yang akan mengejawantah dalam bentuk ketidaktaatan (8:11). Beberapa faktor akan mendorong sikap lupa ini: pola makan yang meningkat jauh lebih baik, rumah-rumah yang nyaman, keberhasilan pengembangbiakan ternak, modal yang bertambah, dan kekayaan secara menyeluruh (8:12–13). Disiplin Allah dirancang untuk merendahkan hati mereka, namun hal-hal materiil ini mengancam untuk “membuat mereka tinggi hati” (memicu kecongkakan). Garis pertahanan pertama mereka dalam 8:14–16 adalah mengingat kembali rincian pemeliharaan Allah dari Mesir hingga ke Moab, termasuk perlindungan dari ular-ular berbisa (lihat Bil. 21:6–9) dan kalajengking, penyediaan air secara mukjizat dari gunung batu (Kel. 17:6; Bil. 20:7–11), serta penyediaan manna yang berkesinambungan. Sekali lagi, Musa mengingatkan mereka bahwa tujuan dari peristiwa-peristiwa tersebut (dan mengingatnya kembali) adalah untuk merendahkan hati mereka, sebab jalan kerendahan hati adalah jalan ketaatan dan berkat. Sebaliknya, bahkan sekadar pengakuan batiniah bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas kemakmuran mereka sendiri merupakan resep menuju bencana, yang setara dengan mengalihkan kesetiaan kepada “allah-allah lain.” Jika alih-alih terus melangkah maju dalam ketaatan sementara Allah “meneguhkan perjanjian-Nya” dengan memberkati mereka, mereka justru memilih penyembahan berhala, mereka akan mengalami nasib yang sama seperti para penduduk negeri sebelumnya, yaitu jatuh di bawah penghakiman Allah. Namun dalam kasus Israel, penyebab tunggal keruntuhan mereka akan sangat jelas: penolakan untuk “mendengarkan suara TUHAN” (Yahweh), Allah mereka (8:20).

    Dosa, Kesempatan Kedua, dan Anugerah Allah (9:1–10:11)

    "Dengarlah, hai orang Israel! Engkau akan menyeberangi sungai Yordan pada hari ini untuk memasuki serta menduduki daerah bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu, yakni kota-kota besar yang kubu-kubunya sampai ke langit—suatu bangsa yang besar dan tinggi, orang Enak, yang kaukenal dan yang tentangnya kaudengar orang berkata: Siapakah yang dapat bertahan menghadapi orang Enak? Maka ketahuilah pada hari ini, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan di depanmu laksana api yang menghanguskan; Dia akan memunahkan mereka dan Dia akan menundukkan mereka di hadapanmu. Demikianlah engkau akan menghalau dan membinasakan mereka dengan segera, seperti yang dijanjikan kepadamu oleh TUHAN.

    Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila TUHAN, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari hadapanmu. Bukan karena jasa-jasamu atau karena kebenaran hatimu engkau masuk menduduki negeri mereka, tetapi karena kefasikan bangsa-bangsa itulah, TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu, dan supaya TUHAN menepati janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub. Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!"

    "Ingatlah, janganlah lupa, bahwa engkau sudah membuat TUHAN, Allahmu, gusar di padang gurun. Sejak engkau keluar dari tanah Mesir sampai kamu tiba di tempat ini, kamu menentang TUHAN. Di Horeb kamu sudah membuat TUHAN gusar, bahkan TUHAN begitu murka kepadamu, hingga Ia mau memunahkan kamu. Setelah aku mendaki gunung untuk menerima loh-loh batu, loh-loh perjanjian yang diikat TUHAN dengan kamu, maka aku tinggal empat puluh hari empat puluh malam lamanya di gunung itu; roti tidak kumakan dan air tidak kuminum. TUHAN memberikan kepadaku kedua loh batu, yang ditulisi jari Allah, di mana ada segala firman yang diucapkan TUHAN kepadamu di gunung itu dari tengah-tengah api, pada hari perkumpulan. Sesudah lewat empat puluh hari empat puluh malam itu, maka TUHAN memberikan kepadaku kedua loh batu, loh-loh perjanjian itu. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Bangunlah, turunlah dengan segera dari sini, sebab bangsamu, yang kaubawa keluar dari Mesir, telah berlaku busuk; mereka segera menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat patung tuangan. Lagi TUHAN berfirman kepadaku: Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah bangsa yang tegar tengkuk. Biarkanlah Aku, maka Aku akan memunahkan mereka dan menghapuskan nama mereka dari kolong langit; tetapi dari padamu akan Kubuat suatu bangsa yang lebih berkuasa dan lebih banyak dari pada bangsa ini.

    Setelah itu berpalinglah aku, lalu turun dari gunung yang sedang menyala itu dengan kedua loh perjanjian di kedua tanganku. Lalu aku menyaksikan, bahwa sesungguhnya kamu telah berbuat dosa terhadap TUHAN, Allahmu: kamu telah membuat suatu anak lembu tuangan, kamu telah segera menyimpang dari jalan yang diperintahkan TUHAN kepadamu. Maka kupeganglah kuat-kuat kedua loh itu, kulemparkan dari kedua tanganku, kupecahkan di depan matamu. Sesudah itu aku sujud di hadapan TUHAN, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, seperti yang pertama kali—roti tidak kumakan dan air tidak kuminum—karena segala dosa yang telah kamu perbuat, yakni kamu melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Nya. Sebab aku gentar karena murka dan kepanasan amarah yang ditimpakan TUHAN kepadamu, sampai Ia mau memunahkan kamu. Tetapi sekali inipun TUHAN mendengarkan aku. Juga kepada Harun TUHAN begitu murka, hingga Ia mau membinasakannya; maka pada waktu itu aku berdoa untuk Harun juga. Tetapi hasil perbuatanmu yang berdosa, yakni anak lembu itu, kuambil, kubakar, kuhancurkan dan kugiling baik-baik sampai halus, menjadi abu, lalu abunya kulemparkan ke dalam sungai yang mengalir turun dari gunung.

    Juga di Tabera, di Masa dan di Kibrot-Taawa, kamu selalu membuat TUHAN gusar. Dan ketika TUHAN menyuruh kamu pergi dari Kadesh-Barnea dengan berfirman: Majulah dan dudukilah negeri yang Kuberikan kepadamu itu, maka kamu menentang titah TUHAN, Allahmu; kamu tidak percaya kepada-Nya dan tidak mendengarkan suara-Nya. Bahkan kamu menentang TUHAN, sejak aku mengenal kamu.

    Maka aku sujud di hadapan TUHAN—empat puluh hari empat puluh malam lamanya aku sujud—,karena TUHAN telah berfirman akan memunahkan kamu, dan aku berdoa kepada TUHAN, kataku: Ya, Tuhan ALLAH, janganlah musnahkan umat milik-Mu sendiri, yang Kautebus dengan kebesaran-Mu, dan yang Kaubawa keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat. Ingatlah kepada hamba-hamba-Mu, kepada Abraham, Ishak dan Yakub; janganlah perhatikan ketegaran bangsa ini ataupun kefasikannya dan dosanya, supaya negeri, dari mana Engkau membawa kami keluar, jangan berkata: Sebab TUHAN tidak dapat membawa mereka masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya kepada mereka, dan sebab benci-Nya kepada mereka, maka Ia membawa mereka keluar untuk membunuh mereka di padang gurun. Bukankah mereka itu umat milik-Mu sendiri, yang Kaubawa keluar dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang teracung?"

    "Pada waktu itu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Pahatlah dua loh batu yang serupa dengan yang mula-mula, naiklah kepada-Ku ke atas gunung, dan buatlah sebuah tabut dari kayu; maka Aku akan menuliskan pada loh itu firman-firman yang ada pada loh yang mula-mula yang telah kaupecahkan itu, kemudian letakkanlah kedua loh ke dalam tabut itu. Maka aku membuat sebuah tabut dari kayu penaga dan memahat dua loh batu yang serupa dengan yang mula-mula; kemudian aku mendaki gunung dengan kedua loh itu di tanganku. Dan pada loh itu Ia menuliskan, sama dengan tulisan yang mula-mula, Kesepuluh Firman yang telah diucapkan TUHAN kepadamu di atas gunung dari tengah-tengah api pada hari kamu berkumpul; sesudah itu TUHAN memberikannya kepadaku. Lalu aku turun kembali dari atas gunung, dan aku meletakkan loh-loh itu ke dalam tabut yang telah kubuat; dan di situlah tempatnya, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadaku.

    Maka orang Israel berangkat dari Beerot Bene-Yaakan ke Mosera; di sanalah Harun mati dan dikuburkan; lalu Eleazar, anaknya, menjadi imam menggantikan dia. Dari sana mereka berangkat ke Gudgod, dan dari Gudgod ke Yotbata, suatu daerah yang banyak sungainya. Pada waktu itu TUHAN menunjuk suku Lewi untuk mengangkut tabut perjanjian TUHAN, untuk bertugas melayani TUHAN dan untuk memberi berkat demi nama-Nya, sampai sekarang. Sebab itu suku Lewi tidak mempunyai bagian milik pusaka bersama-sama dengan saudara-saudaranya; Tuhanlah milik pusakanya, seperti yang difirmankan kepadanya oleh TUHAN, Allahmu.

    Maka aku ini berdiri di atas gunung seperti yang pertama kali, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan sekali inipun TUHAN mendengarkan aku: TUHAN tidak mau memusnahkan engkau. Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Bersiaplah, pergilah berjalan di depan bangsa itu, supaya mereka memasuki dan menduduki negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka."
    Ulangan 9:1–10:11 (TB)

    Ulangan 9:1–3. Seruan lain untuk “mendengar” menegaskan fakta bahwa Musa terus menguraikan respons mendasar yang seharusnya dibangkitkan oleh anugerah. Bahasa yang digunakan (sebagaimana dalam 1:28) menggemakan kembali laporan yang dibesar-besarkan dan penuh ketakutan dari kesepuluh pengintai (lihat Bil. 13:33), yang mengaitkan orang-orang Kanaan yang bertubuh tinggi dengan figur-figur misterius dalam Kejadian 6. Musa sebelumnya telah mengejek kepanikan mereka yang tidak beriman (lihat pasal 2), yang berbatasan dengan takhayul, dan kini ia menegaskan secara gamblang bahwa ketakutan mereka sama sekali tidak berdasar. Kebutuhan utama mereka (sebagaimana dalam 4:39; 7:6 dan 9:6) adalah mengakui suatu kebenaran teologis yang mendasar: Allah Israel yang memimpin mereka memasuki tanah tersebut adalah “api yang menghanguskan” (lihat 4:24; bdk. Ibr. 12:29). Ungkapan ini sebelumnya kerap dikaitkan dengan tindakan penghakiman Allah terhadap umat-Nya yang tidak taat (Im. 9:24; 10:2; Bil. 11:1; 16:35), namun di sini merujuk pada tindakan penghakiman Allah terhadap orang-orang Kanaan. Sekilas tampak ada pertentangan dengan pernyataan dalam 7:22, bahwa Allah akan menghalau bangsa-bangsa tersebut “sedikit demi sedikit.” Perbedaannya hanyalah pada fokus penekanan: ketika berbicara mengenai penaklukan perlawanan pasukan tentara Kanaan, penekanannya jatuh pada fakta bahwa kemenangan akan berlangsung seketika; namun ketika membahas proses pendudukan seluruh wilayah tersebut, diperjelas bahwa kampanye penaklukan akan membutuhkan waktu.

    Ulangan 9:4–7. Sebagaimana dalam 7:7–9 (dan di sepanjang pasal 8), Musa menegaskan bahwa Israel dipilih murni oleh anugerah dan bahwa pemilihan tersebut sama sekali tidak memberi mereka alasan untuk menjadi congkak. Alih-alih berfokus pada kecilnya jumlah atau ketidaksignifikanan mereka seperti sebelumnya, dalam bagian ini Musa menekankan bahwa tidak ada satu pun orang Israel yang dapat mengklaim bahwa mereka telah diberi upah oleh Allah karena “kebenaran” mereka (lihat penjelasan atas 6:25), “ketulusan hati” mereka (yang mencakup perbuatan lahiriah sekaligus motivasi batiniah), atau karena mereka “lebih baik” daripada orang Kanaan. Keberuntungan mereka merupakan hasil dari kebaikan dan kesetiaan Allah dalam menepati janji-janji yang diikrarkan-Nya secara cuma-cuma (“janji yang diikrarkan-Nya dengan sumpah”) kepada para leluhur mereka, serta akibat kefasikan para penduduk negeri itu saat ini. Berdampingan dengan realitas bahwa Allah adalah “api yang menghanguskan,” mereka juga harus “mengetahui” bahwa Ia bertindak bukan karena kebenaran mereka, melainkan terlepas dari “ketegaran” mereka (9:7). Fakta bahwa mereka secara harfiah adalah “bangsa yang tegar tengkuk” (9:6; lihat juga Kel. 32:9; 33:3, 5; 34:9; Ul. 9:13; 31:27; 2Raj. 17:14; Neh. 9:29) menjelaskan kegigihan Musa untuk terus menegaskan pokok ini, dengan mengulang tema-tema mendasar yang sama berkali-kali di sepanjang pasal-pasal ini. Penilaian ini didasarkan pada pengalaman seumur hidupnya dalam memimpin umat Allah. Ayat 9:7 berfungsi sebagai transisi menuju sisa bagian ini, yang merangkum perilaku mereka di sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian sebagai umat yang “memberontak” dan membangkitkan murka TUHAN (Yahweh).

    Ulangan 9:8–21. Bahkan pengalaman yang paling menentukan dan membentuk bangsa itu di Horeb pun diwarnai oleh pemberontakan (yang tentu membayangi masa depan mereka di tanah tersebut dengan kelam). Musa bahkan melangkah sejauh mengatakan bahwa TUHAN (Yahweh) sudah berada di ambang memunahkan umat-Nya saat itu juga. Ayat 9–12 merupakan catatan ringkas tentang pengalamannya di atas gunung, yang sengaja dikontraskan dengan pengalaman bangsa itu di padang gurun. Buah dari waktu yang dihabiskan Musa di Horeb adalah komunikasi yang ajaib dan luar biasa jelas dari Allah. Ungkapan “loh-loh perjanjian” hanya digunakan di sini (dan dalam Ibr. 9:4), yang menyoroti peranan “Kesepuluh Firman” dalam menggariskan wujud kesetiaan perjanjian. Terlepas dari apa yang telah Allah lakukan bagi mereka (dengan membawa mereka ke Horeb) dan apa yang telah diberikan kepada mereka (loh-loh perjanjian), bahkan saat Musa masih berada di atas gunung, umat itu telah meninggalkan Allah dan membuat “patung tuangan.” Allah menyebut mereka sebagai “bangsamu” yang “kaubawa” keluar dari Mesir, kiranya untuk menggarisbawahi bahwa pemimpin dan umat memiliki karakter kedagingan yang sama (9:12). Penyingkapan dosa umat oleh Allah tidak berhenti sampai di situ—kini Ia berbicara langsung kepada Musa, menegaskan bahwa Ia sangat menyadari “ketegaran tengkuk” mereka (9:13).

    Mungkin secara tak terduga, Ia kini memerintahkan Musa untuk menyingkir agar Ia dapat bertindak dalam penghakiman dan “menghapuskan nama mereka dari kolong langit.” Ini adalah bahasa ekstrem yang mengingatkan kita pada Kejadian 6:5–8 (dan juga 7:24 mengenai bangsa Kanaan) yang menyoroti betapa dalamnya kebejatan moral umat tersebut. Niat Allah untuk memulai kembali dari awal bersama Musa (sebagaimana yang telah dilakukan-Nya bersama Nuh) dalam komitmen-Nya untuk menghormati janji-janji kepada Abraham, Ishak, dan Yakub (9:14) sungguh mengejutkan sekaligus unik. Musa sengaja membiarkan ancaman ini menggantung di udara seraya merekonstruksi kembali adegan saat ia turun dari Horeb, membara dengan hadirat TUHAN (Yahweh), sambil mendekap loh-loh batu tersebut. Pernyataan Allah terbukti benar di depan matanya sendiri tatkala ia menyaksikan bukti kelemboan (bovine evidence) dari kecenderungan mereka untuk berbuat dosa (9:16). Reaksinya terjadi seketika saat ia melemparkan kedua loh itu di hadapan seluruh bangsa, melambangkan pelanggaran yang disengaja oleh Israel terhadap perjanjian yang telah diikat Allah (9:17). Sebagaimana dalam 9:9, Musa menjalani “periode padang gurun” lainnya (yang mungkin juga menggemakan periode penghakiman melalui air bah dalam Kej. 7:17; 8:6), di mana nasib bangsa tersebut benar-benar berada di ujung tanduk. Ia menjelaskan sikap bersujudnya dalam ayat 19 dari sudut pandang “murka dan kepanasan amarah” Allah, yang membahayakan kelangsungan hidup umat tersebut. Namun, TUHAN (Yahweh) dalam anugerah-Nya mendengarkan permohonan belas kasihan tersebut (9:19). Fokusnya jelas bukan pada tindakan Musa, melainkan pada bagaimana umat itu nyaris tidak luput dari kebinasaan. Hanya melalui kebaikan Allah yang mengampuni, Israel sanggup bertahan hingga sejauh ini. Bahkan Harun pun nyaris tidak luput dari penghakiman (9:20). Ketelitian Musa dalam memusnahkan “hasil perbuatanmu yang berdosa” menunjukkan bahwa tindakan radikal mutlak diperlukan untuk membentengi orang Israel dari godaan (lihat Kel. 32:20).[^13] Tidak diragukan lagi bahwa bagi Musa, mengisahkan kembali peristiwa ini bertujuan untuk menyadarkan dan memberi peringatan yang menenangkan (sobering effect) bagi umat itu, yang telah berulang kali diberi kesempatan kedua oleh Allah.

    Ulangan 9:22–29. Efek yang menyadarkan dari kisah ini ditegaskan kembali oleh 9:22–24, di mana Musa menegaskan pokok yang sama dari empat peristiwa kunci dalam perjalanan dari Mesir menuju Kanaan: Tabera (Bil. 11:1–3); Masa/Meriba (Kel. 17:1–7); Kibrot-Taawa (Bil. 11:4–34); dan Kadesh-Barnea (Bil. 13–14). Pada setiap tahapan tersebut, umat itu “membuat TUHAN gusar” (melalui sungut-sungut atau pemberontakan), yang bermuara pada kesimpulan yang sangat beralasan dalam 9:24 bahwa “kamu menentang TUHAN, sejak aku mengenal kamu.” Penilaian yang memberatkan ini mulai memunculkan pertanyaan mengganjal yang melandasi pasal-pasal pembuka Kitab Ulangan ini—jika keadaannya demikian, harapan apakah yang ada bahwa keadaannya akan berbeda di tanah perjanjian kelak? Harapan itu hanya dapat ditemukan di satu tempat.

    Sekali lagi, Musa melewatkan “periode padang gurun” dengan berseru kepada Allah, namun kali ini, ia membagikan isi doa syafaatnya (9:26–29). Permohonannya didasarkan pada janji-janji yang diikrarkan Allah kepada para Bapa Leluhur (9:27a) serta seruan agar Allah mengabaikan tabiat berdosa dan tindakan jahat umat itu (9:27b) demi kehormatan dan kemasyhuran nama Allah sendiri. Musa berargumen bahwa bangsa-bangsa yang menyaksikan tidak boleh sampai meremehkan kuasa Allah atau kasih-Nya kepada umat yang telah ditebus-Nya dan yang disebut-Nya sebagai “milik pusaka-Nya” (kepunyaan permanen-Nya atau warisan-Nya yang tidak dapat hilang).

    Ulangan 10:1–5. Suasana menjadi sedikit lebih cerah melalui perintah Allah untuk memahat dua loh batu yang baru, dan juga membuat “sebuah tabut dari kayu.” Peti ini merupakan wadah penampung awal bagi “dokumen-dokumen” perjanjian tersebut, dan dibuat oleh Musa sendiri (10:3), berbeda dari versi permanen yang jauh lebih megah (Tabut Perjanjian yang dibuat oleh Bezaleel dan Oholiab dalam Kel. 35:30–36:1).[^14] “Kesepuluh Firman” sekali lagi dituliskan oleh Allah sendiri di atas batu dan diserahkan kepada Musa, yang kemudian meneruskannya kepada umat. Pada titik ini, Musa menunjuk ke arah peti yang telah dibuatnya yang memuat firman-firman tersebut, yang menjadi dasar kesepakatan mereka dengan TUHAN (Yahweh) (10:5). Pertanyaannya adalah: akankah umat Allah kini memilih untuk melakukan apa yang dituntut Allah dari mereka?

    Ulangan 10:6–11. Alur khotbah Musa terputus sejenak pada titik ini oleh sebuah catatan penjelasan singkat (versi ringkasan padat dari Bil. 33:38–39). Penyertaan kisah kematian Harun (tanpa penjelasan tambahan) pada titik ini menyoroti seriusnya penyembahan berhala Israel sekaligus kebaikan Allah yang berkenan mendengarkan doa Musa dan meluputkan Harun hingga saat itu. Penetapan suku Lewi untuk mengangkut Tabut dan menjalankan pelayanan keimaman secara berkesinambungan, bersama dengan tidak dimasukkannya mereka secara simbolis dari pembagian tanah pusaka (sebab Allah sendiri adalah milik pusaka mereka), memberikan serangkaian petunjuk mengenai kesetiaan perjanjian yang telah diserukan Musa dengan begitu berkobar-kobar.[^15] Khotbah berlanjut dalam ayat 10–11, di mana sekali lagi Musa mengingatkan mereka bahwa ia telah melewatkan 40 hari dan 40 malam dalam doa syafaat, dan bahwa Allah “tidak mau” memunahkan bangsa tersebut. Perhatikan bagaimana teks ini tidak menghubungkan pengampunan tersebut dengan kehebatan doa Musa, melainkan semata-mata dengan kehendak berdaulat Allah sendiri. Terlepas dari kedegilan umat yang terus berlanjut serta banyaknya awal baru yang disusul oleh pengulangan pelanggaran, sungguh tak terselami, Allah tetap berkenan melimpahkan anugerah-Nya kepada umat-Nya dan memerintahkan Musa untuk memimpin umat-Nya melangkah maju menuju tanah yang telah dijanjikan-Nya kepada mereka (10:11).

    Apa yang Dituntut TUHAN dari Umat-Nya (10:12–11:7)

    "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu.

    Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini. Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.

    Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap; yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian. Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.

    Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu, kepada-Nya haruslah engkau beribadah dan berpaut, dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. Dialah pokok puji-pujianmu dan Dialah Allahmu, yang telah melakukan di antaramu perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, yang telah kaulihat dengan matamu sendiri. Dengan tujuh puluh orang nenek moyangmu pergi ke Mesir, tetapi sekarang ini TUHAN, Allahmu, telah membuat engkau banyak seperti bintang-bintang di langit."

    "Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya. Kamu tahu sekarang—kukatakan bukan kepada anak-anakmu, yang tidak mengenal dan tidak melihat hajaran TUHAN, Allahmu—kebesaran-Nya, tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung, tanda-tanda dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya di Mesir terhadap Firaun, raja Mesir, dan terhadap seluruh negerinya; juga apa yang dilakukan-Nya terhadap pasukan Mesir, dengan kuda-kudanya dan kereta-keretanya, yakni bagaimana Ia membuat air Laut Teberau meluap meliputi mereka, ketika mereka mengejar kamu, sehingga TUHAN membinasakan mereka untuk selamanya; dan apa yang dilakukan-Nya terhadapmu di padang gurun, sampai kamu tiba di tempat ini; pula apa yang dilakukan-Nya terhadap Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, anak Ruben, yakni ketika tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya, kemah-kemah dan segala yang mengikuti mereka, di tengah-tengah seluruh orang Israel. Sebab matamu sendirilah yang telah melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN."
    Ulangan 10:12–11:7 (TB)

    Ulangan 10:12–22. Saat bagian nasihat yang panjang ini mendekati akhir, Musa merangkum apa yang dituntut Allah dari umat-Nya ke dalam lima aspek (10:12–13): mereka harus (1) takut akan Allah, (2) hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, (3) mengasihi Dia, (4) beribadah kepada-Nya dengan segenap hati, dan (5) berpegang pada perintah-perintah-Nya yang baik. Hal-hal ini tidak boleh dipandang sebagai respons-respons yang terpisah, melainkan sebagai berbagai cara untuk menggambarkan kehidupan yang indah yang ditawarkan Allah kepada umat yang berada dalam perjanjian. Baik transendensi Allah yang menggentarkan (10:14) maupun kasih sayang-Nya yang lembut kepada umat Israel sejak zaman Abraham dan seterusnya (10:15), keduanya harus mendorong mereka untuk hidup bagi-Nya. Hakikat komitmen radikal yang dituntut TUHAN (Yahweh) terangkum dalam apa yang mungkin merupakan metafora paling penting (dan tentu paling gamblang) dalam kitab ini: Israel harus mengatasi kedegilan mereka yang terus berlanjut dengan “menyunat” hati mereka (10:16; secara harfiah, “menyunat kulit khatan hati”). Ini adalah panggilan untuk perubahan batiniah yang signifikan dan menentukan. Dalam konteks pasal ini, pokok yang ditekankan Musa adalah bahwa inilah yang mutlak dibutuhkan untuk mengikut Allah, dan kita tidak boleh mempersembahkan sesuatu yang kurang daripada itu kepada-Nya. Fakta bahwa Dia adalah “Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan” tentu berarti bahwa umat harus melakukan apa pun yang diperintahkan-Nya. Fakta bahwa Ia tidak mungkin memihak atau berbuat curang, melainkan bertindak adil bagi kaum yang lemah dan rentan (sebagaimana yang telah dilakukan-Nya terhadap segenap bangsa itu di Mesir), seharusnya memimpin mereka untuk melakukan hal yang sama, dengan meneladani teladan-Nya (10:17–19). Musa kemudian kembali melontarkan rentetan seruan untuk memberikan respons sepenuh hati kepada Allah, mengulangi perintah untuk takut dan beribadah, serta menambahkan keharusan untuk “berpaut” (atau “melekat erat”) kepada-Nya dan hanya bersumpah demi nama-Nya, sebagai satu-satunya otoritas yang sejati. Allah sendiri harus menjadi objek kasih dan kekaguman mereka (“pokok puji-pujian mereka”), satu-satunya Pribadi yang telah mengikatkan diri-Nya kepada mereka, menyelamatkan mereka, dan memperbanyak jumlah mereka sebagai penggenapan janji kepada Ishak (lihat Kej. 26:4). Tidak diragukan lagi apa yang seharusnya dilakukan oleh Israel—tetapi sanggupkah mereka melakukannya? Desakan untuk melakukan operasi hati atas diri mereka sendiri ini menyiratkan bahwa Musa ragu akan kemampuan mereka untuk melakukannya (suatu pokok yang ditegaskan oleh fakta bahwa dalam Ulangan 30:6, sebagaimana yang akan kita lihat kelak, Allah sendirilah yang sanggup melakukan prosedur transformatif tersebut).

    Ulangan 11:1–7. Musa belum sepenuhnya selesai. Dengan merujuk pada Kejadian 26:5 untuk menegaskan sekali lagi bahwa umat Allah harus hidup dalam kesetiaan perjanjian, tepat seperti yang dilakukan oleh Abraham, bapa leluhur mereka (11:1), ia menegaskan bahwa para pendengarnya tahu betul bahwa apa yang telah difirmankan dan dilakukan Allah berlaku bagi mereka (sebab mereka bukanlah anak-anak kecil yang belum memahami kisah-kisah Keluaran atau yang belum mampu mengerti firman Allah). Kata “ajaran/hajaran” (discipline) di sini paling tepat diterjemahkan sebagai “pengajaran,” yang berlangsung di dalam dan melalui peristiwa Keluaran (dan khususnya, nasib orang-orang Mesir) serta di sepanjang perjalanan melintasi padang gurun (11:4–5). Musa juga mengutip pemberontakan yang dipimpin oleh Datan dan Abiram (Bil. 16) sebagai peringatan keras terhadap bahaya menolak merespons anugerah besar Allah yang telah dinyatakan secara nyata dalam sejarah mereka (11:7).

    Pilihan Berkat atau Kutuk (11:8–32)

    "Jadi kamu harus berpegang pada seluruh perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya kamu kuat untuk memasuki serta menduduki negeri, ke mana kamu pergi mendudukinya, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunan mereka, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.

    Sebab negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, bukanlah negeri seperti tanah Mesir, dari mana kamu keluar, yang setelah ditabur dengan benih harus kauairi dengan jerih payah, seakan-akan kebun sayur. Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit; suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.

    Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang. Hati-hatilah, supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya. Jika demikian, maka akan bangkitlah murka TUHAN terhadap kamu dan Ia akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan dan tanah tidak mengeluarkan hasil, lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan TUHAN kepadamu.

    Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu, supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi.

    Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut pada-Nya, maka TUHAN akan menghalau segala bangsa ini dari hadapanmu, sehingga kamu menduduki daerah bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu. Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya: mulai dari padang gurun sampai gunung Libanon, dan dari sungai itu, yakni sungai Efrat, sampai laut sebelah barat, akan menjadi daerahmu. Tidak ada yang akan dapat bertahan menghadapi kamu: TUHAN, Allahmu, akan membuat seluruh negeri yang kauinjak itu menjadi gemetar dan takut kepadamu, seperti yang dijanjikan TUHAN kepadamu.

    Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal. Jadi apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke negeri, yang engkau masuki untuk mendudukinya, maka haruslah engkau mengucapkan berkat di atas gunung Gerizim dan kutuk di atas gunung Ebal. Bukankah keduanya terletak di sebelah barat sungai Yordan, di belakang jalan raya sebelah matahari terbenam, di negeri orang Kanaan yang diam di Araba-Yordan, di tentangan Gilgal dekat pohon-pohon tarbantin di More? Sebab kamu ini sebentar lagi hendak menyeberangi sungai Yordan untuk memasuki dan menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu; dan bila kamu akan menduduki dan mendiaminya, maka haruslah kamu melakukan dengan setia segala ketetapan dan peraturan yang kupaparkan kepadamu pada hari ini."
    Ulangan 11:8–32 (TB)

    Ulangan 11:8–17. Dalam bagian akhir dari khotbah Musa yang luas dan menyeluruh ini, yang terbentang hingga ayat 11:32, ia melukiskan gambaran yang sangat hidup mengenai pilihan mendasar yang dihadapi oleh umat Allah. Berpegang pada “seluruh perintah” (seperti dalam 5:31; 8:1) adalah kunci untuk hidup dalam kekuatan Allah, untuk berhasil menaklukkan dan menduduki negeri itu (11:8), serta untuk menikmati kehidupan yang baik di tanah yang indah tersebut (“suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,” sebagaimana digambarkan kepada Musa dalam Kel. 3:8, 17 dan ditolak oleh umat itu dalam Bil. 14:8, 16:13–14) turun-temurun bagi generasi-generasi yang akan datang. Firdaus baru ini sama sekali berbeda dengan Mesir—pertanian berbasis irigasi di Mesir memang cukup mengagumkan (11:10), namun Kanaan tidak memerlukan bantuan buatan (yang menguras banyak tenaga) semacam itu, karena negeri ini langsung “mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit,” yang dipelihara secara langsung oleh Allah sendiri. Negeri ini menikmati tatapan pengawasan Allah setiap hari sepanjang tahun (11:12)—dan dengan demikian negeri tersebut dirancang sedemikian rupa untuk membuat kehidupan ketaatan yang penuh sukacita menjadi semudah mungkin. Musa kemudian melanjutkan dengan menunjukkan bahwa kesuburan tanah itu sendiri akan menjadi tolok ukur yang andal bagi ketaatan umat Allah. Jika mereka melakukan apa yang difirmankan Allah kepada mereka dengan segenap hati (seperti dalam 6:4–5), maka hujan akan turun secara teratur (termasuk “hujan awal” pada akhir musim gugur yang melembutkan tanah untuk penaburan benih, dan “hujan akhir” yang sangat krusial pada musim semi untuk menghasilkan panen yang baik), yang menghasilkan panen berlimpah atas bahan makanan pokok kuno berupa gandum, anggur, dan minyak zaitun, serta kelimpahan rumput pakan ternak berkualitas, dengan hasil bahwa “engkau dapat makan dan menjadi kenyang” (11:15).[^16] Sebaliknya, jika umat itu memercayai dusta dan tergelincir ke dalam penyembahan allah-allah lain, maka murka Allah akan dinyatakan dalam bentuk “menutup langit,” di mana kekeringan akan menggagalkan panen yang baik dan pada akhirnya membuat negeri itu mustahil untuk ditinggali, dengan akibat bahwa mereka akan “lenyap dengan cepat” (seperti bangsa-bangsa lain dalam 9:3). Itulah sebabnya dalam kitab-kitab sejarah sesudahnya (lihat mis. 1Raj. 17:1–7), bencana kekeringan tidak pernah sekadar merupakan fenomena meteorologi belaka, melainkan tanda nyata bahwa umat Allah yang tidak taat sedang hidup di bawah kutuk, dan bukannya di bawah berkat perjanjian.

    Ulangan 11:18–25. Musa kembali pada tema-tema dan bahasa dalam 6:1–9, tempat khotbah perjanjiannya pertama kali dimulai secara intensif (menandakan bahwa bagian khotbah ini sedang mendekati akhirnya). Kali ini penekanan jatuh pada tindakan “menaruh” perkataan Allah di dalam hati dan jiwa. Kata yang digunakan secara sederhana berarti “menaruh” atau “menetapkan,” yang kemungkinan besar bermakna menyimpannya senantiasa melekat pada hati, atau “memasangnya” sebagai semacam sistem operasi bagi hati. Alih-alih menyajikan prospek pertambahan populasi dan panjang umur secara terpisah (6:2, 3) seiring Allah menggenapi janji-janji-Nya, kedua hal tersebut digabungkan dalam 11:21. Kelonggaran gaya bahasa ini memperlihatkan semua ciri variasi retoris alami dalam sebuah khotbah lisan yang sesungguhnya.

    Berbeda dengan pasal 6, Musa menegaskan fakta bahwa menaati “seluruh perintah ini” (mengasihi, hidup menurut jalan Allah, dan berpaut kepada Allah) merupakan kunci mutlak untuk menduduki negeri itu (11:22–23). Sekali lagi, keseimbangan antara tindakan manusia (ketaatan) dan tindakan ilahi (menghalau bangsa-bangsa yang jauh lebih kuat ini) terpelihara dengan sangat indah. Hasil akhir dari ketaatan akan sangat luar biasa: seluruh bentangan tanah perjanjian akan menjadi milik mereka tanpa kecuali (“setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu”); tidak ada seorang pun yang akan mampu mengalahkan mereka, dan mereka akan hidup aman tenteram dalam kenyataan bahwa tidak ada yang berani melawan mereka. Hampir tidak ada keraguan bahwa Allah berkomitmen penuh untuk menggenapi janji-janji-Nya, tetapi nada penyampaian Musa telah memunculkan kemungkinan yang sangat nyata (yang kelak terbukti dalam Kitab Yosua) bahwa memenuhi kewajiban perjanjian dari sisi mereka mungkin berada di luar kesanggupan bangsa Israel itu sendiri.

    Ulangan 11:26–32. Di sini, penggunaan kata “pada hari ini” secara berulang-ulang oleh Musa memperjelas bahwa inilah hari penentuan keputusan bagi bangsa tersebut.[^17] Pilihan yang mereka hadapi kini dinyatakan dalam istilah-istilah yang paling ringkas sekaligus gamblang. Mereka harus memilih antara “berkat” atau “kutuk.” Kedua konsep ini telah didefinisikan dalam berbagai cara di sepanjang khotbah hingga titik ini. Memperoleh “berkat” berarti menikmati seluruh cakupan penggenapan janji-janji perjanjian Allah dalam hal pertumbuhan populasi, panjang umur, kemakmuran, dan keamanan nasional di tanah tersebut. Mengalami “kutuk” berarti kehilangan “berkat-berkat” ini, dipulangkan kembali ke “Mesir” (setidaknya secara metaforis), dan diperlakukan sama seperti bangsa-bangsa fasik yang akan mereka halau. Menurut 11:28, semua ini bergantung pada dua keputusan kembar: menaati Allah dan menyembah Dia semata-mata. Musa menegaskan agar keputusan mendasar ini ditegakkan di pusat kehidupan baru bangsa itu melalui sebuah upacara ritual yang akan dilaksanakan di jantung tanah perjanjian dekat Sikhem. Gunung Gerizim dan Gunung Ebal adalah sepasang puncak berketinggian hampir 1.000 meter (sekitar 3.000 kaki) di dekat kota modern Nablus (ayat 11:30 memuat petunjuk arah kuno menuju gunung-gunung tersebut di sebelah barat Moab di seberang sungai Yordan, pada jalan raya utama timur-barat di wilayah tersebut). Rincian lebih lanjut mengenai upacara ritual ini akan diberikan dalam pasal 27 dan 28 (dan kelak dilaksanakan dalam Yos. 8).

    Pilihannya sudah sangat jelas. Sekaranglah saatnya bagi mereka untuk menyeberangi sungai Yordan, menduduki tanah itu, seraya mengikrarkan komitmen diri untuk menaati TUHAN (Yahweh) dengan segenap hati saat mereka melangkah maju (11:31–32).

    Ulangan 5–11 memuat beberapa khotbah yang paling berkuasa dan menggugah emosi di seluruh Alkitab, tatkala Musa mendesak umat Allah untuk hidup dalam terang anugerah-Nya. Variasi ungkapan dan motivasi yang digunakannya merupakan teladan luar biasa bagi komunikator mana pun, dan seruannya yang bervariasi namun seragam dalam urgensinya untuk mendengarkan serta menaati firman Allah sebagai kunci kehidupan terus bergema dengan kuat melintasi zaman. Namun, kita tidak boleh melewatkan nada kepedihan yang tersirat dalam seruan Musa agar umat mengikut Allah dengan sepenuh hati. Tidak diragukan lagi bahwa anugerah penyelamatan Allah menuntut respons yang sedemikian rupa. Masalah mendasar yang mulai mengemuka adalah bahwa Israel tidak akan sanggup mempertahankan ketaatan tersebut. Harapan jangka panjang bagi bangsa ini tentu saja semata-mata bertumpu pada anugerah Allah, dan bukan pada kesanggupan mereka sendiri untuk taat.


    IV. Musa Mengkhotbahkan Taurat (12:1–26:19)

    Beribadah Menurut Cara Allah di Tempat yang Dipilih-Nya (12:1–28)

    "Inilah ketetapan dan peraturan yang harus kamu lakukan dengan setia di negeri yang diberikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu untuk memilikinya, selama kamu hidup di muka bumi. Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun. Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu. Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu.

    Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.

    Jangan kamu melakukan apapun yang kita lakukan di sini sekarang, yakni masing-masing berbuat segala sesuatu yang dipandangnya benar. Sebab hingga sekarang kamu belum sampai ke tempat perhentian dan ke milik pusaka yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Tetapi apabila nanti sudah kamu seberangi sungai Yordan dan kamu diam di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dimiliki, dan apabila Ia mengaruniakan kepadamu keamanan dari segala musuhmu di sekelilingmu, dan kamu diam dengan tenteram, maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN. Kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, kamu ini, anakmu laki-laki dan anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, sebab orang Lewi tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama kamu. Hati-hatilah, supaya jangan engkau mempersembahkan korban-korban bakaranmu di sembarang tempat yang kaulihat; tetapi di tempat yang akan dipilih TUHAN di daerah salah satu sukumu, di sanalah harus kaupersembahkan korban bakaranmu, dan di sanalah harus kaulakukan segala yang kuperintahkan kepadamu.

    Tetapi engkau boleh menyembelih dan memakan daging sesuka hatimu, sesuai dengan berkat TUHAN, Allahmu, yang diberikan-Nya kepadamu di segala tempatmu. Orang najis ataupun orang tahir boleh memakannya, seperti juga daging kijang atau daging rusa; hanya darahnya janganlah kaumakan, tetapi harus kaucurahkan ke bumi seperti air. Di dalam tempatmu tidak boleh kaumakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, ataupun sesuatu dari korban yang akan kaunazarkan, ataupun dari korban sukarelamu, ataupun persembahan khususmu. Tetapi di hadapan TUHAN, Allahmu, haruslah engkau memakannya, di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, engkau ini, anakmu laki-laki dan anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, dan haruslah engkau bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, karena segala usahamu. Hati-hatilah, supaya jangan engkau melalaikan orang Lewi, selama engkau ada di tanahmu.

    Apabila TUHAN, Allahmu, telah meluaskan daerahmu nanti, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu dan engkau berpikir: Aku mau makan daging, karena engkau ingin makan daging, maka bolehlah engkau makan daging sesuka hatimu. Apabila tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk menegakkan nama-Nya di sana, terlalu jauh dari tempatmu, maka engkau boleh menyembelih dari lembu sapimu dan kambing dombamu yang diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang kuperintahkan kepadamu, dan memakan dagingnya di tempatmu sesuka hatimu. Tetapi engkau harus memakan dagingnya, seperti memakan daging kijang atau daging rusa; baik orang najis maupun orang tahir boleh memakannya. Tetapi jagalah baik-baik, supaya jangan engkau memakan darahnya, sebab darah ialah nyawa, maka janganlah engkau memakan nyawa bersama-sama dengan daging. Janganlah engkau memakannya; engkau harus mencurahkannya ke bumi seperti air. Janganlah engkau memakannya, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, apabila engkau melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Tetapi persembahan kudusmu yang ada padamu dan korban nazarmu haruslah kaubawa ke tempat yang akan dipilih TUHAN; engkau harus mengolah korban bakaranmu, daging dan darahnya, di atas mezbah TUHAN, Allahmu, dan darah korban sembelihanmu haruslah dicurahkan ke atas mezbah TUHAN, Allahmu, tetapi dagingnya boleh kaumakan. Dengarkanlah baik-baik segala yang kuperintahkan kepadamu, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian untuk selama-lamanya, apabila engkau melakukan apa yang baik dan benar di mata TUHAN, Allahmu."

    "Apabila TUHAN, Allahmu, telah melenyapkan dari hadapanmu bangsa-bangsa yang daerahnya kaumasuki untuk mendudukinya, dan apabila engkau sudah menduduki daerahnya dan diam di negerinya, maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang allah mereka dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada allah mereka? Akupun mau berlaku begitu. Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi TUHAN, apa yang dibenci-Nya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi allah mereka. Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.
    Ulangan 12:1–32 (TB)

    Sepanjang pasal 4–11, Musa telah mendesak bangsa Israel untuk merespons anugerah penyelamatan Allah yang berlandaskan perjanjian dengan segenap hati. Ia telah memaparkan bentuk respons ini secara garis besar (misalnya, "berpegang pada seluruh perintah," "takut akan Allah," "mengasihi TUHAN dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan," serta "mendengarkan Allah"). Di awal pasal 12, ia mulai menguraikan secara terperinci wujud ketaatan yang dituntut oleh Allah.

    "Ketetapan dan peraturan" ini telah dijanjikan dan diantisipasi sejak pasal 4 dan seterusnya (lihat mis. 4:1; 5:1; 6:1; 8:11; 11:1), dan kini diuraikan secara panjang lebar dalam kumpulan hukum terbesar di dalam Alkitab. Bagian kitab ini kerap disebut sebagai "kitab hukum" (law-code, sejalan dengan kumpulan hukum kuno lainnya seperti Kitab Undang-Undang Hamurabi),[^18] namun penggambaran ini kemungkinan besar keliru. Tidak ada kitab hukum kuno yang benar-benar sepadan dengan kumpulan hukum ini. Pasal-pasal ini tidak sekadar mendaftarkan ketetapan-ketetapan khusus beserta sanksi hukumnya. Sebaliknya, Musa terus berkhotbah seraya menyajikan visi yang luas dan menyeluruh tentang kehidupan kemerdekaan yang dijalani di hadirat TUHAN di tanah yang telah diberikan-Nya kepada mereka oleh anugerah sebagai penggenapan janji-janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, serta berikhtiar meyakinkan Israel untuk memeluk visi tersebut.

    Telah banyak diskusi mengenai hubungan antara Sepuluh Firman (Dekalog) dan hukum-hukum dalam Ulangan 12–26.[^19] Apa pun hakikat pasti dari hubungan tersebut, jelaslah bahwa saat menguraikan wujud kehidupan yang taat di tanah itu, Musa sedang menerapkan dan memperluas penyataan yang telah diberikan di Horeb. Pasal 4–11 telah menegaskan bahwa respons yang dituntut Allah adalah apa yang dipaparkan dalam Hukum Pertama—yaitu tidak ada allah lain di hadapan-Nya. Kini sejak pasal 12, Musa memaparkan bagaimana kerangka umum Dekalog tersebut harus diterapkan secara nyata di tanah itu. Keluaran 20 dan hukum-hukum dalam Kitab Ulangan memiliki keselarasan garis besar yang luas, sekalipun hal ini sulit untuk dipastikan secara kaku, terutama saat kita melangkah ke bagian-bagian akhir dari pasal 12–26.

    Penting pula untuk dicatat bahwa hukum-hukum ini bersifat indikatif (memberikan petunjuk dan prinsip dasar) dan bukannya berupaya menjadi komprehensif atau lengkap mencakup segala hal. Selain itu, hukum-hukum ini hampir tidak memperlihatkan ciri sebagai sebuah "konstitusi nasional" ataupun "kitab undang-undang" yang terus berkembang. Banyak situasi yang dibayangkan bersifat hipotetis, dan bukannya "hukum yurisprudensi kasus" (case law) yang aktual. Kepedulian hukum-hukum ini pada hakikatnya bersifat teologis daripada sekadar bersifat "legalistis-yuridis" dalam arti sempit. Hukum-hukum ini berfokus pada bagaimana wujud hidup dalam "kebenaran" (seperti Allah sendiri) di tanah tersebut, dan terpusat di seputar kebutuhan akan penyembahan yang benar, relasi yang benar, serta perilaku hidup yang benar.

    Ulangan 12:1–7. "Ketetapan dan peraturan" yang dimaksudkan untuk mengatur kehidupan Israel di tanah itu secara turun-temurun ("selama kamu hidup di muka bumi") dimulai dengan perintah untuk melenyapkan sama sekali setiap tempat di mana penyembahan berhala kafir dan ritual kesuburan berlangsung di Kanaan, sehingga meniadakan segala klaim kepemilikan lain atas tanah tersebut. Sangatlah mencolok bahwa perintah yang paling mendasar ini pun menjadi salah satu perintah yang amat sulit ditaati dan dipenuhi oleh bangsa Israel (terutama sehubungan dengan "bukit-bukit pengorbanan," lihat juga 1Raj. 3:1–3; 11:7; 14:23; 15:14, dll.). Sebagaimana dalam 7:2–5, setiap perkakas kultis penyembahan berhala harus dihancurkan agar segala ingatan akan ilah-ilah palsu dihapuskan seluruhnya. Hal ini bermuara pada prinsip kunci bahwa "Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu." Intinya adalah bahwa umat Allah tidak memiliki kebebasan untuk mengadaptasi cara-cara penyembahan bangsa Kanaan demi kepentingan mereka sendiri, melainkan wajib beribadah menurut cara yang diperintahkan oleh Allah sendiri. Hal ini secara utama dinyatakan melalui pilihan Allah sendiri untuk menampakkan hadirat-Nya secara nyata di tempat yang akan dipilih oleh Dia semata (12:5). Hanya satu tempat yang akan menyandang nama-Nya, dan sebagaimana mereka telah melakukan perjalanan bersama Allah menuju tanah tersebut, kini mereka akan melakukan perjalanan menuju satu tempat khusus di tanah itu, tempat di mana seluruh rangkaian kegiatan keagamaan (korban persembahan) nasional akan dipusatkan. Musa merangkum seluruh aktivitas ini sebagai tindakan "makan" di hadapan TUHAN dan bersukaria bersama seisi rumah tangga/keluarga, sebagai puncak berkat Allah yang telah membawa mereka masuk ke dalam tanah tersebut. Sejak permulaan pemaparan hukum-hukum ini, penting untuk diperhatikan bahwa fokus perhatian Musa bersifat luas dan teologis, bukan mendalam secara teknis-preskriptif. Sebagai contoh, tidak disebutkannya peranan imam dalam perikop ini menjadi signifikan terutama karena penekanan Musa memang terletak pada kedaulatan Allah dan sukacita umat-Nya.

    Ulangan 12:8–14. Menurut Musa, pendekatan ibadah yang longgar dan semaunya (laissez-faire) di sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian kini akan segera berubah (meskipun kemunduran terulang kembali dalam Hak. 21:25) saat mereka memasuki "tempat perhentian" (keamanan dan kepuasan sejati) di Kanaan. Dalam fase yang baru ini, tidak ada lagi dalih apa pun atas kegagalan menyelaraskan ibadah mereka dengan ketetapan-ketetapan Allah. Musa kini memperluas cakupan bahasannya hingga mencakup "semuanya yang kuperintahkan kepadamu." Di era baru ini, sukacita ditegaskan secara khusus mencakup setiap anggota rumah tangga, termasuk anak-anak, para hamba, dan secara istimewa "orang Lewi," yang secara simbolis tidak memiliki bagian milik pusaka selain Allah sendiri (10:9). Perintah tegas untuk beribadah di tempat yang dipilih oleh Allah diulangi sekali lagi (12:13–14). Perhatikanlah bahwa ini bukanlah perundang-undangan hukum yang kaku dan dingin—aturan-aturan ini benar-benar disampaikan dalam nada khotbah yang berbobot (preached).[^20]

    Ulangan 12:15–19. Petunjuk-petunjuk ini sama sekali tidak dirancang untuk menghambat kenikmatan hidup di tanah tersebut—sebaliknya, petunjuk ini menjaga komitmen bangsa itu kepada TUHAN (Yahweh) dan dengan demikian melindungi masa depan mereka. Hingga titik ini, tampaknya semua hewan korban harus disembelih di tempat kudus/kemah suci. Namun di tanah perjanjian, siapa pun (terlepas dari status tahir atau najisnya secara ritual) boleh memakan daging hewan ternak seolah-olah itu adalah binatang buruan dan memakannya sebanyak yang mereka inginkan! Akan tetapi, keliru jika hal ini disebut sebagai "penyembelihan profan"—setiap kali mereka menyembelih seekor binatang, mereka harus "mencurahkan darahnya ke bumi seperti air," sebagai peringatan yang sederhana namun khidmat di lingkungan geografis yang gersang bahwa seluruh kehidupan pada hakikatnya adalah milik Allah semata. Bahaya yang timbul dari "kelonggaran" semacam ini, tentu saja, adalah bahwa umat Allah bisa melupakan kewajiban kudus mereka kepada Allah. Hal inilah yang mendorong Musa untuk mengulangi hampir kata demi kata petunjuk dalam 12:7–9 dengan penegasan ekstra mengenai pentingnya memperhatikan kaum Lewi. Dalam bagian kitab ini, mengingat orang Lewi berarti mengingat Allah yang tidak hanya mengaruniakan tanah pusaka kepada mereka, melainkan juga mengaruniakan diri-Nya sendiri kepada mereka.

    Ulangan 12:20–28. Demi meyakinkan umat bahwa kelonggaran ini memang sangat dibutuhkan dan akan terus berlaku luas, Musa melukiskan situasi di mana seseorang sangat ingin menikmati hidangan daging sementara ia tinggal jauh dari tempat yang dipilih Allah. Kini ditegaskan secara eksplisit (12:21) bahwa setiap hewan korban yang diizinkan boleh disembelih, dimasak, dan dimakan, dengan syarat baku yang kini dipertegas dalam ayat 23–25 (lihat juga Im. 17:10–11). Pernyataan bahwa "darah ialah nyawa" bersifat simbolis dan bukannya fisiologis, serta mengungkapkan prinsip mendasar bahwa Allah sendirilah Penguasa mutlak atas hidup dan mati, dan bahwa kelangsungan hidup serta kesejahteraan mereka bergantung sepenuhnya pada kebaikan-Nya. Rasa syukur ini harus dinyatakan dalam "persembahan-persembahan kudus," yaitu kewajiban korban persembahan mereka, yang harus ditunaikan di tempat pilihan Allah dan menurut cara Allah—sebagaimana darah yang dicurahkan ke atas mezbah menyatakan kenyataan bahwa orang yang mempersembahkan korban berutang segala sesuatu kepada Allah (bahkan sesungguhnya layak menerima hukuman mati). Di dalam kemurahan Allah, daging persembahan boleh dimakan, tetapi pesan kudus dari "darah" tidak boleh diabaikan. Menikmati keseimbangan indah antara kelimpahan makanan jasmani dan pengampunan dosa yang dijanjikan melalui korban adalah kunci untuk menjalani kehidupan yang berkenan ("apa yang baik dan benar") bersama Allah di tanah tersebut.

    Ulangan 12:29–32. Pada akhir pasal ini, Musa kembali ke tema utamanya: Allah harus disembah menurut cara-Nya sendiri. Allah tidak menghalau bangsa-bangsa kafir dari hadapan mereka agar bangsa Israel meniru pola hidup dan penyembahan yang justru telah mendatangkan penghakiman atas bangsa Kanaan tersebut. Mereka wajib beribadah menurut cara Allah, karena alternatif selain itu adalah "kekejian," yang bahkan meluas hingga pengorbanan anak-anak dengan api (12:31).[^21] Pernyataan tegas dalam 12:32 merangkum panggilan hidup mereka: "Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya."

    Beribadah Hanya kepada Allah dan Melawan Jerat Penyembahan Berhala (13:1–18)

    "Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut. Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan—dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.

    Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi, maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Maka seluruh orang Israel akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu.

    Apabila di salah satu kota yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diam di sana, kaudengar orang berkata: Ada orang-orang dursila tampil dari tengah-tengahmu, yang telah menyesatkan penduduk kota mereka dengan berkata: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak kamu kenal, maka haruslah engkau memeriksa, menyelidiki dan menanyakan baik-baik. Jikalau ternyata benar dan sudah pasti, bahwa kekejian itu dilakukan di tengah-tengahmu, maka bunuhlah dengan mata pedang penduduk kota itu, dan tumpaslah dengan mata pedang kota itu serta segala isinya dan hewannya. Seluruh jarahan harus kaukumpulkan di tengah-tengah lapangan dan harus kaubakar habis kota dengan seluruh jarahan itu sebagai korban bakaran yang lengkap bagi TUHAN, Allahmu. Semuanya itu akan tetap menjadi timbunan puing untuk selamanya dan tidak akan dibangun kembali. Dari barang-barang yang dikhususkan itu janganlah apapun melekat pada tanganmu, supaya TUHAN berhenti dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, menunjukkan belas kasihan-Nya kepadamu, mengasihani engkau dan membuat jumlahmu banyak, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Sebab dengan demikian engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, untuk berpegang pada segala perintah-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, dengan melakukan apa yang benar di mata TUHAN, Allahmu."
    Ulangan 13:1–18 (TB)

    Ulangan 13:1–5. Pasal 13 mengangkat persoalan tentang umat Allah (baik seluruh bangsa, suatu keluarga, maupun suatu kota) yang disesatkan oleh seseorang yang menganjurkan untuk kembali menyembah ilah-ilah Kanaan. Teks ini mengasumsikan bahwa realitas penaklukan tanah itu (yang agaknya mencakup laju penaklukannya, 7:22, sekaligus kerumitan dan kekacauan prosesnya, mis. Yos. 19:47–48) berarti Israel harus senantiasa waspada terhadap kebangkitan kembali penyembahan berhala dan harus bertindak cepat ketika hal itu terjadi. Kata-kata untuk "nabi" dan "pemimpi" pada dirinya sendiri tidaklah bernada merendahkan (pejorative)—persoalan dalam skenario pertama ini adalah bahwa pesan yang didukung oleh mukjizat tersebut sangat beracun. Menyembah allah-allah yang "tidak kaukenal" merupakan penolakan radikal terhadap Allah perjanjian yang telah menyatakan diri-Nya kepada para bapa leluhur dan kepada Israel dalam peristiwa Keluaran. Israel harus bereaksi terhadap godaan semacam itu dengan memperteguh ikhtiar mereka untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan jiwa, serta hidup bagi Dia dan mendengarkan firman-Nya (kosakata yang sama yang telah kita jumpai berulang kali dalam Ulangan 5–11). Hukuman bagi tindakan yang membahayakan bangsa dengan mengkhotbahkan pemberontakan dan kemurtadan adalah hukuman mati. Musa menegaskan untuk pertama kalinya bahwa umat Allah harus bertindak tanpa kompromi dalam memberantas kejahatan dari dalam (lihat juga 17:7; 19:19; 21:21; 22:21, 24; 24:7).

    Ulangan 13:6–11. Dalam skenario kedua, tantangan tersebut datang secara diam-diam dari kerabat dekat atau sahabat karib. Ungkapan "anak ibumu" mencerminkan ikatan khusus antara saudara kandung seibu di dunia kuno ketika persalinan kerap kali berujung fatal dan "keluarga campuran" (blended families, poligami) merupakan hal yang lazim. Kali ini bujukan tersebut bahkan dapat meluas melampaui allah-allah Kanaan hingga kepada ilah-ilah palsu dari ujung-ujung bumi (13:7).[^22] Respons yang harus diberikan pun sama tegasnya. Tidak hanya godaan untuk merasa iba atau melindungi orang yang bersalah tersebut harus ditolak mentah-mentah, melainkan "engkau" sendiri harus mengambil peran utama dalam pelaksanaan eksekusi komunitas dengan pelemparan batu (13:9), yang dimaksudkan untuk menjadi peringatan dan pencegah permanen bagi seluruh orang Israel. Sekali lagi, penting untuk memperhatikan sifat dari materi teks ini—secara efektif Musa menyatakan, "jika hal ini sampai terjadi, hal itu harus ditangani dengan begitu tegas sehingga tidak akan pernah terulang lagi." Perhatian utamanya bukanlah bersifat legislatif semata, melainkan teologis, demi memastikan bahwa kesetiaan perjanjian umat tetap terpelihara atau dipulihkan.

    Ulangan 13:12–18. Situasi terakhir yang digambarkan oleh Musa sama seriusnya. Kali ini, salah satu kota berbenteng di Kanaan yang (baru saja?) diduduki terjerumus ke dalam jerat pengaruh beberapa "orang dursila" (secara harfiah "anak-anak Belial" atau "orang-orang yang tidak berharga") yang mendesakkan pesan yang sama untuk menyembah "allah lain yang tidak kamu kenal." Jika kabar mengenai hal ini sampai ke seluruh penjuru negeri, penyelidikan yang saksama harus dilakukan (13:14), dan jika kabar itu terbukti benar, kota tersebut harus diperlakukan sama seperti kota Kanaan yang kafir dan "ditumpas habis" (cherem / dikhususkan untuk dimusnahkan). Satu korban bakaran raksasa harus dipersembahkan (13:16; Im. 6:8–9),[^23] agaknya sebagai pendamaian (atonement), dengan "timbunan puing" yang hangus terbakar berdiri sebagai peringatan abadi bagi siapa pun yang melihatnya. Sekali lagi, penekanannya terletak pada tindakan pencegahan yang segera dan memberi efek jera seketika (instant deterrence), bukan pada program penegakan hukum yang rutin dan berkelanjutan. Kepedulian terbesar Musa dalam semua ini adalah agar perjanjian Allah tetap terpelihara, dan janji-janji-Nya digenapi dalam kehidupan umat-Nya (13:17). Dan apa kunci untuk mencapai hal ini? Sekali lagi, kita melihat bahwa hal terpenting adalah mendengarkan suara Allah—bukan mereka yang hendak menyesatkan umat-Nya—serta melakukan apa yang "benar" di mata-Nya.

    Hidup Kudus sebagai Milik Kesayangan Allah (14:1–21)

    "Kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu; janganlah kamu menoreh-noreh dirimu ataupun menggundul rambut di atas dahimu karena kematian seseorang; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, dan engkau dipilih TUHAN untuk menjadi umat kesayangan-Nya dari antara segala bangsa yang di atas muka bumi."

    "Janganlah engkau memakan sesuatu yang merupakan kekejian. Inilah binatang-binatang berkaki empat yang boleh kamu makan: lembu, domba dan kambing; rusa, kijang, rusa dandi, kambing hutan, kijang gunung, lembu hutan dan domba hutan. Setiap binatang berkaki empat yang berkuku belah—yaitu yang kukunya bersela panjang menjadi dua—dan yang memamah biak di antara binatang-binatang berkaki empat, itu boleh kamu makan. Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari antara yang memamah biak atau dari antara yang berbelah dan bersela kukunya: unta, kelinci hutan dan marmot, karena semuanya itu memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram semuanya itu bagimu. Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya.

    Inilah yang boleh kamu makan dari segala yang hidup di dalam air; segala yang bersirip dan bersisik boleh kamu makan, tetapi segala yang tidak bersirip atau bersisik janganlah kamu makan; haram semuanya itu bagimu.

    Setiap burung yang tidak haram boleh kamu makan. Tetapi yang berikut janganlah kamu makan: burung rajawali, ering janggut dan elang laut; elang merah, elang hitam dan burung dendang menurut jenisnya; setiap burung gagak menurut jenisnya; burung unta, burung hantu, camar dan elang sikap menurut jenisnya; burung pungguk, burung hantu besar, burung hantu putih; burung undan, burung ering dan burung dendang air; burung ranggung, dan bangau menurut jenisnya, meragai dan kelelawar.

    Juga segala binatang mengeriap yang bersayap, itupun haram bagimu, jangan dimakan. Segala burung yang tidak haram boleh kamu makan.

    Janganlah kamu memakan bangkai apapun, tetapi boleh kauberikan kepada pendatang yang di dalam tempatmu untuk dimakan, atau boleh kaujual kepada orang asing; sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam air susu induknya."
    Ulangan 14:1–21 (TB)

    Ulangan 14:1–2. Sejauh ini dalam pasal 12–13, Musa jelas bergerak dalam ranah tiga hukum pertama dari Sepuluh Firman (sekalipun terdapat perbedaan pendapat mengenai hakikat perintah-perintah ini maupun hubungannya dengan pasal-pasal tersebut). Namun, ketika kita sampai pada Ulangan 14, berbagai ikhtiar untuk memetakan pola Dekalog secara kaku tampak agak dipaksakan, sebab Musa kini beralih menangani pentingnya kekhasan (distinctiveness) dan pemisahan diri dari penduduk negeri terdahulu. Israel kini secara eksplisit digambarkan sebagai "anak-anak" Allah (lihat 1:31 dan 8:5). Bahasa yang digunakan memiliki nuansa hubungan kekeluargaan (filial) sekaligus perjanjian (covenantal), dan implikasinya sangat mendalam. Israel dipanggil untuk hidup dengan cara yang mencerminkan kekudusan TUHAN sendiri, karena mereka telah diadopsi secara unik oleh-Nya menjadi milik kesayangan-Nya (sebagaimana juga dalam 7:6). Secara khusus, mereka harus menjauhi tindakan menoreh-noreh diri atau mencukur rambut mereka dalam semacam ritual perkabungan kafir yang berkaitan dengan orang mati (lihat larangan serupa dalam Im. 19:27–28). Apa pun hakikat pasti dari tindakan tersebut, praktik semacam itu akan mengaburkan kekhasan mereka dan menyamakan identitas mereka dengan orang-orang Kanaan.

    Ulangan 14:3–21. Bagian selanjutnya memuat daftar panjang mengenai ketentuan makanan (dietary requirements), yang dirancang secara cermat untuk menghindari kontak dengan segala "kekejian". Kata ini telah digunakan sebelumnya untuk menandai praktik-praktik penyembahan berhala kaum pagan (7:25–26; 12:31; 13:13), dan kehadirannya di sini mengirimkan sinyal yang jelas bahwa Musa dalam konteks ini sedang menegaskan bahwa menu makanan Israel harus membedakan bangsa itu secara nyata dari bangsa-bangsa lain. Keempat kelompok binatang ini mengikuti pola umum yang sama dengan Imamat 11: binatang darat berukuran sedang hingga besar (14:4–8), makhluk air (14:9–10), burung-burung (14:11–18), dan serangga (14:19–20), namun nada penyampaiannya sangat berbeda. Di sini penjelasannya jauh lebih sedikit, dan beberapa penekanan dalam Kitab Imamat tidak dicantumkan (seperti menghindari kontak dengan bangkai dan kejijikan terhadap binatang yang merayap/mengeriap [Im. 11:42, yang menggemakan Kej. 3]). Sebaliknya, sistem yang ditetapkan Allah ini (yang didasarkan secara sederhana pada karakteristik kuku belah dan memamah biak) tidak diberikan pembenaran teoretis yang rumit, melainkan dinyatakan secara langsung. Hal ini selaras dengan hak prerogatif Allah untuk memerintahkan umat-Nya bagaimana menyembah dan menaati Dia dalam Kitab Ulangan. Daftar binatang yang boleh dimakan dalam ayat 4–5 pada dasarnya merupakan perluasan dari kategori dalam 12:15, 22,[^24] di mana unta, kelinci hutan, marmot, dan babi menjadi perwakilan dari mamalia yang haram. Makhluk laut dibahas secara sangat singkat dan teoretis (14:9–10), kemungkinan karena hal ini masih merupakan persoalan masa depan ketika mereka masih berada di dataran Moab; sebaliknya, jenis burung disebutkan lebih banyak daripada kelompok binatang lainnya. Pada sisi positifnya, Musa hanya menyatakan bahwa mereka boleh memakan semua "burung yang tidak haram" (tanpa merincinya), sebelum kemudian mendaftarkan burung-burung yang harus dihindari sama seperti dalam Imamat 11:13–19.[^25] Identifikasi pasti dari sebagian besar burung ini masih belum dapat dipastikan secara mutlak. Daftar ini kemudian ditutup dengan larangan memakan serangga bersayap yang mengeriap. Sekali lagi, perhatian utama Musa adalah menegakkan kekhasan dan kekudusan umat, bukan sekadar menyediakan buku panduan diet yang lengkap bagi umat Allah. Hal ini ditegaskan oleh larangan memakan binatang yang mati secara alami (kemungkinan besar karena sulitnya memastikan darahnya tercurah habis) dalam 14:21a, serta larangan yang terkesan ganjil mengenai "memasak anak kambing dalam air susu induknya". Dalam Imamat 22:8, praktik ini dilarang bagi para imam, tetapi kini larangan tersebut diperluas kepada seluruh bangsa (kemungkinan karena mereka adalah bangsa yang kudus dan kerajaan imam). Hakikat pasti dari latar belakang 14:21b tetap menjadi misteri, namun sangat mungkin merujuk pada suatu ritual Kanaan kuno yang belum diketahui, yang sangat masuk akal mengingat fokus teks ini adalah agar umat Allah berdiri terpisah dan berbeda dari bangsa-bangsa lain.[^26]

    Ritme Kehidupan Perjanjian: Persepuluhan, Pembebasan Utang, dan Hari Raya (14:22–16:17)

    ""Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu.

    Apabila, dalam hal engkau diberkati TUHAN, Allahmu, jalan itu terlalu jauh bagimu, sehingga engkau tidak dapat mengangkutnya, karena tempat yang akan dipilih TUHAN untuk menegakkan nama-Nya di sana terlalu jauh dari tempatmu, maka haruslah engkau menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau membelanjakan uang itu untuk segala yang disukai hatimu, untuk lembu sapi atau kambing domba, untuk anggur atau minuman yang memabukkan, atau apapun yang diingini hatimu, dan haruslah engkau makan di sana di hadapan TUHAN, Allahmu dan bersukaria, engkau dan seisi rumahmu. Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu janganlah kauabaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau.

    Pada akhir tiga tahun engkau harus mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu dalam tahun itu dan menaruhnya di dalam kotamu; maka orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu, akan datang makan dan menjadi kenyang, supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu.""

    ""Pada akhir tujuh tahun engkau harus mengadakan penghapusan hutang. Inilah cara penghapusan itu: setiap orang yang berpiutang harus menghapuskan apa yang dipinjamkannya kepada sesamanya; janganlah ia menagih dari sesamanya atau saudaranya, karena telah dimaklumkan penghapusan hutang demi TUHAN. Dari seorang asing boleh kautagih, tetapi piutangmu kepada saudaramu haruslah kauhapuskan. Maka tidak akan ada orang miskin di antaramu, sebab sungguh TUHAN akan memberkati engkau di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milik pusaka, asal saja engkau mendengarkan baik-baik suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segenap perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini. Apabila TUHAN, Allahmu, memberkati engkau, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, maka engkau akan memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak akan meminta pinjaman; engkau akan menguasai banyak bangsa, tetapi mereka tidak akan menguasai engkau.

    Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan. Hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang, dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan hal itu menjadi dosa bagimu. Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.""

    ""Apabila seorang saudaramu menjual dirinya kepadamu, baik seorang laki-laki Ibrani ataupun seorang perempuan Ibrani, maka ia akan bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh engkau harus melepaskan dia sebagai orang merdeka. Dan apabila engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka, maka janganlah engkau melepaskan dia dengan tangan hampa, engkau harus dengan limpahnya memberi bekal kepadanya dari kambing dombamu, dari tempat pengirikanmu dan dari tempat pemerasanmu, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kauberikan kepadanya. Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu; itulah sebabnya aku memberi perintah itu kepadamu pada hari ini. Tetapi apabila dia berkata kepadamu: Aku tidak mau keluar meninggalkan engkau, karena ia mengasihi engkau dan keluargamu, sebab baik keadaannya padamu, maka engkau harus mengambil sebuah penusuk dan menindik telinganya pada pintu, sehingga ia menjadi budakmu untuk selama-lamanya. Demikian juga kauperbuat kepada budakmu perempuan. Janganlah merasa susah, apabila engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka, sebab enam tahun lamanya ia telah bekerja padamu dengan jasa dua kali upah seorang pekerja harian. Maka TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala sesuatu yang kaukerjakan.""

    ""Segala anak sulung jantan yang lahir di antara lembu sapimu dan kambing dombamu, haruslah kaukuduskan bagi TUHAN, Allahmu; janganlah engkau memakai anak sulung lembumu, dan janganlah engkau menggunting bulu anak sulung dombamu. Di hadapan TUHAN, Allahmu, engkau harus memakan dagingnya tahun demi tahun di tempat yang akan dipilih TUHAN, engkau ini dan seisi rumahmu. Tetapi apabila ada cacatnya, jika timpang atau buta, bahkan cacat apapun yang buruk, maka janganlah engkau menyembelihnya bagi TUHAN, Allahmu. Di dalam tempatmu boleh engkau, baik orang najis maupun orang tahir, memakan dagingnya, seperti daging kijang atau daging rusa. Hanya darahnya janganlah kaumakan; haruslah kaucurahkan ke tanah seperti air.""

    ""Ingatlah akan bulan Abib dan rayakanlah Paskah bagi TUHAN, Allahmu, sebab dalam bulan Abib itulah TUHAN, Allahmu, membawa engkau keluar dari Mesir pada waktu malam. Maka engkau harus menyembelih kambing domba dan lembu sapi sebagai korban Paskah bagi TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih TUHAN untuk membuat nama-Nya diam di sana. Janganlah engkau makan sesuatu yang beragi besertanya; tujuh hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi besertanya, yakni roti penderitaan, sebab dengan buru-buru engkau keluar dari tanah Mesir. Maksudnya supaya seumur hidupmu engkau teringat akan hari engkau keluar dari tanah Mesir. Janganlah terdapat padamu ragi di seluruh daerahmu, tujuh hari lamanya; dan dari daging hewan yang kausembelih pada waktu petang pada hari pertama, janganlah ada yang bermalam sampai pagi. Engkau tidak boleh mempersembahkan korban Paskah di salah satu tempat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Tetapi di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, engkau harus mempersembahkan korban Paskah itu pada waktu senja, ketika matahari terbenam, bertepatan dengan saat engkau keluar dari Mesir. Engkau harus memasaknya dan memakannya di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu; kemudian paginya engkau harus pulang kembali ke kemahmu. Enam hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi dan pada hari yang ketujuh harus ada perkumpulan raya bagi TUHAN, Allahmu; maka janganlah engkau melakukan pekerjaan.

    Tujuh minggu harus kauhitung: pada waktu orang mulai menyabit gandum yang belum dituai, haruslah engkau mulai menghitung tujuh minggu itu. Kemudian haruslah engkau merayakan hari raya Tujuh Minggu bagi TUHAN, Allahmu, sekedar persembahan sukarela yang akan kauberikan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Haruslah engkau bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, engkau ini dan anakmu laki-laki serta anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, dan orang asing, anak yatim dan janda, yang di tengah-tengahmu, di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana. Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir, dan haruslah engkau melakukan ketetapan ini dengan setia.

    Hari raya Pondok Daun haruslah kaurayakan tujuh hari lamanya, apabila engkau selesai mengumpulkan hasil tempat pengirikanmu dan tempat pemerasanmu. Haruslah engkau bersukaria pada hari rayamu itu, engkau ini dan anakmu laki-laki serta anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu. Tujuh hari lamanya harus engkau mengadakan perayaan bagi TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih TUHAN; sebab TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala hasil tanahmu dan dalam segala usahamu, sehingga engkau dapat bersukaria dengan sungguh-sungguh.

    Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu."

    Ulangan 14:22–16:17 (TB)

    Ulangan 14:22–27. Jika agak sulit melihat bagaimana bagian sebelumnya cocok dengan pola Dekalog (Sepuluh Firman), maka hubungan antara perintah Sabat dan kumpulan hukum dari 14:22–16:17 tampak jauh lebih jelas. Bagian ini dibuka dengan tuntutan untuk melakukan perjalanan tahunan ke tempat yang dipilih Allah guna merayakan kebaikan-Nya melalui pesta perjamuan dari sepersepuluh hasil bumi yang telah dianugerahkan-Nya. Sepersepuluh dari gandum, anggur, minyak zaitun, dan ternak yang dihasilkan harus dibawa (atau, jika jarak yang jauh menghalanginya, diuangkan dengan hasil penjualannya digunakan untuk membiayai pesta perjamuan tersebut) demi memungkinkan terselenggaranya perayaan yang melibatkan semua orang di hadapan Allah. Menurut ayat 23, perjalanan tahunan ini dirancang untuk memupuk "rasa takut" (kekaguman dan hormat yang mendalam) yang berkesinambungan kepada Allah yang baik dan murah hati ini. Petunjuk untuk membelanjakan uang tersebut sesuai selera dan pilihan hati (14:26) menegaskan bahwa perjamuan ini merupakan kesaksian yang penuh kuasa tentang kebaikan dan kemurahan Allah, suatu kenyataan yang sekali lagi digarisbawahi melalui pelibatan orang Lewi (14:27).

    Ulangan 14:28–29. Dalam sentuhan yang indah, dipastikan pula bahwa komunitas lokal turut menikmati sukacita yang sama seperti yang dialami setiap tahun oleh segenap bangsa secara keseluruhan. Setiap tiga tahun sekali, suatu perayaan komunitas bersama harus diadakan, di mana setiap orang yang berpotensi terpinggirkan dari menikmati kelimpahan tanah perjanjian (orang Lewi, pendatang/orang asing, anak yatim, dan janda) harus diikutsertakan, terutama karena hal ini akan menjamin berkat di masa depan. Allah berkomitmen untuk menjadikan negeri tersebut sebagai tempat di mana seluruh umat menikmati hidup bersama-Nya. Musa tidak merinci urusan logistik dari perayaan ini, yang hanya dijelaskan di sini dan dalam 26:12–15.[^27]

    Ulangan 15:1–6. Setelah pelibatan kaum rentan dalam persepuluhan tiga tahunan, alur pemikiran berlanjut secara wajar kepada ketetapan mengenai pembebasan utang. Imamat 25:1–7 menetapkan perhentian bagi tanah satu tahun dalam setiap tujuh tahun, tetapi kini Musa menetapkan ketentuan bagi mereka yang berada dalam kesulitan ekonomi. Sekali lagi, Musa tidak memaparkan rincian teknis secara berlebihan karena perhatian utamanya adalah menegaskan suatu prinsip teologis. Dalam hal ini, menurut ayat 2–4, saudara sesama orang Israel yang telah berutang (kemungkinan dengan memberikan sejumlah harta sebagai jaminan) harus "dilepaskan" (yang dapat berarti penghapusan atau penangguhan utang). Alasan untuk hal ini adalah penegasan Musa yang berulang kali bahwa keberadaan kemiskinan yang akut di tengah umat-Nya merupakan suatu penghinaan terhadap Allah sendiri (15:4). Israel harus menaati seluruh ketetapan TUHAN agar "kehidupan mereka yang indah" memancarkan dan memperkenalkan Allah kepada bangsa-bangsa yang menyaksikan. Kemakmuran dan kedaulatan mereka akan berbicara tentang kemuliaan Allah. Inilah cita-cita luhur yang dipaparkan oleh khotbah Musa di hadapan umat-Nya.

    Ulangan 15:7–11. Namun, dalam Kitab Ulangan, idealisme selalu diimbangi dengan realisme yang berakar dari doktrin yang kokoh mengenai keberdosaan manusia. Hal ini tampak nyata dalam 15:7 (dan bahkan dinyatakan secara lebih eksplisit dalam ayat 11). Kemiskinan akan menimpa orang-orang tertentu, dan manakala hal itu terjadi, umat Allah lainnya wajib merespons dengan menyalurkan anugerah kemurahan hati yang "berlapang dada" (open-handed) dan melimpah sebagaimana yang telah ditunjukkan Allah kepada mereka (15:8). Salah satu perbedaan utama antara kumpulan "hukum yang dikhotbahkan" ini dengan teks-teks hukum kuno serupa adalah cara Musa melangkah melampaui sekadar undang-undang tertulis menuju diagnosis atas kedalaman dosa hati manusia. Ayat 15:9–10 mengantisipasi munculnya kepentingan pribadi dan keserakahan yang mengalahkan perintah Allah untuk bermurah hati (sebagaimana yang dilakukan kaum Farisi dengan aturan "Korban" dalam Markus 7). Peringatan agar tidak menahan bantuan dengan dalih bahwa "tahun penghapusan utang" sudah dekat (yang memperkecil keuntungan bagi pihak yang meminjamkan) didasarkan pada kemurahan hati Allah sendiri yang tiada henti. Hidup bersama Allah di tanah perjanjian—termasuk perlakuan terhadap kaum miskin—harus menjadi wujud nyata yang terus-menerus dari kebaikan-Nya.

    Ulangan 15:12–18. Melangkah lebih jauh, bagian ini membahas situasi di mana kemiskinan telah memaksa seorang sesama orang Israel untuk menjual dirinya menjadi hamba sewaan/perbudakan demi melunasi utang (indentured service). Baik Keluaran 21:1–11 maupun Imamat 25:39–46 menangani realitas perbudakan/penghambaan utang yang pelik, tetapi di sini Musa menggunakan nada yang berbeda dan berfokus pada tanggung jawab sang tuan, terlepas dari tindakan atau kondisi apa pun yang telah menyebabkan situasi tersebut terjadi. Warisan abadi dari peristiwa Keluaran dan kasih setia (hesed) Allah yang berkesinambungan menciptakan dinamika kemurahan hati yang kian bertumbuh saat umat-Nya memasuki tanah perjanjian. Oleh karena itu, mulai saat ini, penghambaan utang hanya boleh berlangsung selama enam tahun (15:12). Ketetapan ini dibangun di atas prinsip yang sama dengan "tahun pembebasan", tetapi tampaknya beroperasi secara terpisah, di mana hitungan waktunya dimulai sejak saat penghambaan itu dimulai. Selain itu, menurut 15:14, periode ini harus memungkinkan orang tersebut untuk berkembang di masa depan, karena masa enam tahun tersebut harus diakhiri dengan pemberian bekal yang limpah dari tuannya. Alasannya sederhana: pembebasan dari perbudakan yang dikaruniakan dalam peristiwa Keluaran (sebagai penggenapan komitmen Allah untuk memberkati). Hal ini harus diteladani dan dicerminkan dalam hubungan antara tuan dan hamba. Dalam kasus luar biasa di mana sang hamba tidak ingin pergi (lihat skenario serupa dalam Kel. 21:5–6), hal tersebut diizinkan, tetapi ritual khusus penindikan telinga menandai bahwa ini merupakan kesepakatan yang tidak lazim dan bersifat sukarela. Musa menambahkan bahwa ketetapan-ketetapan ini sungguh-sungguh mendatangkan kebaikan bagi semua pihak yang terlibat dan akan memelihara berkat Allah.

    Ulangan 15:19–23. Penempatan aturan mengenai penanganan anak sulung ternak di sini tampak agak tidak lazim—namun hal itu mungkin terjadi hanya karena pembahasan mengenai ritual terkait hamba utang memunculkan keterkaitan untuk menyertakan anak sulung binatang pada titik ini. Sebagaimana yang telah kita lihat, pendekatan Musa di sini sedikit berbeda dari bagian-bagian sebelumnya (lihat Kel. 13:2, 11–16; 22:29–30; Im. 27:26–27; Bil. 18:15–18). Hal ini tampaknya merupakan konsekuensi dari perubahan kondisi di tanah perjanjian serta tujuan Musa dalam mengkhotbahkan materi ini. Prinsip dasarnya adalah apa yang terdapat dalam Keluaran 22:30–31—setiap binatang yang sulung adalah milik TUHAN sebagai pengingat akan peristiwa Keluaran. Musa menambahkan bahwa di tanah perjanjian, binatang-binatang ini tidak boleh dipekerjakan (sehingga tetap tersedia untuk keperluan persembahan dalam 14:23). Daripada dibawa ke tempat kudus pusat setelah 8 hari (yang akan memakan waktu perjalanan pulang-pergi yang sangat menyita waktu), binatang-binatang tersebut (yaitu yang jantan—Kel. 13:11–13) harus menjadi bagian dari pesta perayaan persepuluhan. Namun, jika ditemukan cacat atau ketidaksempurnaan pada binatang tersebut, dagingnya boleh dimakan di rumah masing-masing dengan tetap mematuhi batasan teologis yang lazim (15:23). Dengan demikian, perhatian kini beralih ke ritme paling mendasar dalam kehidupan bangsa tersebut—tiga hari raya tahunan utama.

    Ulangan 16:1–8. Sejak awal, Paskah dan Hari Raya Roti Tidak Beragi telah saling bertaut (lihat Kel. 12:8, 15–20, 34, 39; 34:18–25). Mulai saat ini, setibanya di tanah perjanjian, keduanya digabungkan menjadi satu "perayaan akbar" yang dirayakan pada bulan pertama dalam setahun, yaitu Abib (yang kemudian dikenal dengan nama Babelnya, Nisan). Fakta bahwa Allah telah membawa mereka keluar pada tanggal 14 Abib kiranya telah tertanam mendalam dalam kesadaran nasional, sehingga tidak perlu lagi menyebutkan tanggalnya secara khusus. Sekali lagi, perhatian Musa bukan pada perincian teknis, melainkan pada prinsipnya: dalam hal ini, bahwa hari raya pertama dari tiga perayaan tahunan tersebut harus memadukan perayaan pembebasan bangsa dari Mesir dengan kenikmatan akan hadirat dan perhentian Allah dalam penggenapan janji-janji-Nya di jantung tanah perjanjian. Seluruh Israel harus melakukan perjalanan ke tempat yang dipilih oleh Allah, menyembelih binatang yang tahir (biasanya seekor domba) dengan penuh khidmat (pada waktu matahari terbenam), memasaknya (lihat Kel. 12:9), serta membagikan dan memakannya bersama-sama sepanjang malam itu. Roti tidak beragi dimakan hingga keesokan harinya, saat peringatan "hari keluarmu" dimulai. Perayaan gabungan ini akan diakhiri dengan suatu "perkumpulan raya", setelah itu umat kembali bubar untuk menjalani hidup bersama Allah di tanah tersebut. Penegasan bahwa seluruh bangsa harus berziarah ke tempat yang dipilih oleh Allah mengukuhkan gerakan/ziarah yang berkesinambungan di pusat kehidupan di tanah perjanjian, sekaligus memastikan bahwa identitas mereka sebagai satu umat perjanjian senantiasa diteguhkan secara teratur.

    Ulangan 16:9–12. Beberapa waktu kemudian, tujuh minggu setelah musim panen dimulai, perjalanan ke tempat yang dipilih oleh Allah harus diulangi. Menurut Imamat 23:15–16, perhitungan mundur dimulai tepat setelah berakhirnya Hari Raya Roti Tidak Beragi (yang kemudian memunculkan nama Yunani "Pentakosta" [50 hari] bagi perayaan ini). Tidak seperti Imamat 23 dan Bilangan 28:26–31 yang menetapkan persembahan-persembahan khusus yang harus dibawa, fokus di sini semata-mata adalah pengakuan secara sukarela atas kebaikan Allah kepada umat Keluaran-Nya dalam menuntun mereka masuk ke tanah perjanjian. Hal ini harus diwujudkan dalam pesta perjamuan lain yang penuh sukacita dan merangkul semua golongan di hadirat Allah (16:11). Bagi Musa, asal-usul historis dari perayaan ini bukanlah hal utama—yang terpenting adalah bahwa perayaan ini kini mengambil bagian dalam memelihara ritme ucapan syukur yang bersukacita dalam kehidupan umat Allah di tanah tersebut.

    Ulangan 16:13–15. Bagian ketiga dari rangkaian hari raya ini adalah Hari Raya Pondok Daun, yang diselenggarakan ketika hasil panen bukan saja telah dikumpulkan, melainkan juga telah diolah dan siap untuk dikonsumsi, disimpan, atau diperdagangkan. Sekali lagi, perincian yang lebih lengkap diberikan dalam Imamat 23:33–44 dan Bilangan 29:12–39, namun penekanan Musa di sini memiliki ciri khas tersendiri. Fokusnya sekali lagi adalah menikmati persekutuan dengan Allah bersama-sama dengan segenap komunitas di tempat yang dipilih-Nya. Puncak dari siklus tahunan ini adalah "engkau dapat bersukaria dengan sungguh-sungguh". Allah telah menyelamatkan umat-Nya dan membawa mereka ke tanah perjanjian agar mereka dapat bersukacita di hadirat-Nya.

    Ulangan 16:16–17. Dalam pernyataan ringkasan penutup, Musa menegaskan bahwa setiap laki-laki dewasa Israel wajib menghadiri setiap perayaan tersebut setiap tahun (sekalipun tentu saja setiap orang lainnya diizinkan untuk bergabung jika mereka menghendakinya). Hal ini sangat penting karena menempatkan rasa syukur kepada Allah di pusat kesadaran nasional. Allah telah memberkati mereka, sehingga mereka harus mengakuinya dengan "memberi sekadar persembahan sesuai kemampuan", di mana kebaikan Allah tidak memungkinkan siapa pun hadir dengan "tangan hampa". Allah memampukan terselenggaranya ritme rasa syukur tahunan ini. Ketaatan merekalah yang akan mewujudkannya menjadi kenyataan.

    Hidup di Bawah Pemimpin yang Ditetapkan Allah: Hakim, Raja, Imam, dan Nabi (16:18–18:22)

    ""Hakim-hakim dan petugas-petugas haruslah kauangkat di segala tempat yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu, menurut suku-sukumu; mereka harus menghakimi bangsa itu dengan pengadilan yang adil. Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.""

    ""Janganlah engkau menanam sesuatu pohon sebagai tiang berhala di samping mezbah TUHAN, Allahmu, mezbah yang akan kaubuat bagimu. Janganlah juga kaudirikan bagimu tugu berhala, yang dibenci oleh TUHAN, Allahmu.

    Janganlah engkau mempersembahkan bagi TUHAN, Allahmu, lembu atau domba, yang ada cacatnya, atau sesuatu yang buruk; sebab yang demikian adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.""

    ""Apabila di tengah-tengahmu di salah satu tempatmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, ada terdapat seorang laki-laki atau perempuan yang melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahmu, dengan melangkahi perjanjian-Nya, dan yang pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, atau kepada matahari atau bulan atau segenap tentara langit, hal yang telah Kularang itu; dan apabila hal itu diberitahukan atau terdengar kepadamu, maka engkau harus memeriksanya baik-baik. Jikalau ternyata benar dan sudah pasti, bahwa kekejian itu dilakukan di antara orang Israel, maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan perbuatan jahat itu ke luar ke pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus kaulempari dengan batu sampai mati. Atas keterangan dua atau tiga orang saksi haruslah mati dibunuh orang yang dihukum mati; atas keterangan satu orang saksi saja janganlah ia dihukum mati. Saksi-saksi itulah yang pertama-tama menggerakkan tangan mereka untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.""

    ""Apabila sesuatu perkara terlalu sukar bagimu untuk diputuskan, misalnya bunuh-membunuh, tuntut-menuntut, atau luka-melukai—perkara pendakwaan di dalam tempatmu—maka haruslah engkau pergi menghadap ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu; haruslah engkau pergi kepada imam-imam orang Lewi dan kepada hakim yang ada pada waktu itu, dan meminta putusan. Mereka akan memberitahukan kepadamu keputusan hakim. Dan engkau harus berbuat menurut keputusan yang diberitahukan mereka kepadamu dari tempat yang akan dipilih TUHAN; engkau harus melakukan dengan setia segala yang ditunjukkan mereka kepadamu. Menurut petunjuk yang diberikan mereka kepadamu dan menurut keputusan yang dikatakan mereka kepadamu haruslah engkau berbuat; janganlah engkau menyimpang ke kanan atau ke kiri dari keputusan yang diberitahukan mereka kepadamu. Orang yang berlaku terlalu berani dengan tidak mendengarkan perkataan imam yang berdiri di sana sebagai pelayan TUHAN, Allahmu, ataupun perkataan hakim, maka orang itu harus mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel. Maka seluruh bangsa itu akan mendengar dan menjadi takut dan tidak lagi berlaku terlalu berani.""

    ""Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan telah mendudukinya dan diam di sana, kemudian engkau berkata: Aku mau mengangkat raja atasku, seperti segala bangsa yang di sekelilingku, maka hanyalah raja yang dipilih TUHAN, Allahmu, yang harus kauangkat atasmu. Dari tengah-tengah saudara-saudaramu haruslah engkau mengangkat seorang raja atasmu; seorang asing yang bukan saudaramu tidaklah boleh kauangkat atasmu. Hanya, janganlah ia memelihara banyak kuda dan janganlah ia mengembalikan bangsa ini ke Mesir untuk mendapat banyak kuda, sebab TUHAN telah berfirman kepadamu: Janganlah sekali-kali kamu kembali melalui jalan ini lagi. Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak.

    Apabila ia duduk di atas takhta kerajaan, maka haruslah ia menyuruh menulis baginya salinan hukum ini menurut kitab yang ada pada imam-imam orang Lewi. Itulah yang harus ada di sampingnya dan haruslah ia membacanya seumur hidupnya untuk belajar takut akan TUHAN, Allahnya, dengan berpegang pada segala isi hukum dan ketetapan ini untuk dilakukannya, supaya jangan ia tinggi hati terhadap saudara-saudaranya, supaya jangan ia menyimpang dari perintah itu ke kanan atau ke kiri, agar lama ia memerintah, ia dan anak-anaknya di tengah-tengah orang Israel.""

    ""Imam-imam orang Lewi, seluruh suku Lewi, janganlah mendapat bagian milik pusaka bersama-sama orang Israel; dari korban api-apian kepada TUHAN dan apa yang menjadi milik-Nya harus mereka mendapat rezeki. Janganlah ia mempunyai milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya; Tuhanlah milik pusakanya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadanya. Inilah hak imam terhadap kaum awam, terhadap mereka yang mempersembahkan korban sembelihan, baik lembu maupun domba: kepada imam haruslah diberikan paha depan, kedua rahang dan perut besar. Hasil pertama dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, dan bulu guntingan pertama dari dombamu haruslah kauberikan kepadanya. Sebab dialah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu, supaya ia senantiasa melayani TUHAN dan menyelenggarakan kebaktian demi nama-Nya, ia dan anak-anaknya.

    Apabila seorang Lewi datang dari tempat manapun di Israel, di mana ia tinggal sebagai pendatang, dan dengan sepenuh hati masuk ke tempat yang akan dipilih TUHAN, dan menyelenggarakan kebaktian demi nama TUHAN, Allahnya, sama seperti semua saudaranya, orang-orang Lewi, yang melayani TUHAN di sana, maka haruslah mereka mendapat rezeki yang sama, dengan tidak terhitung apa yang ia peroleh dengan menjual harta nenek moyangnya.""

    ""Apabila engkau sudah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau belajar berlaku sesuai dengan kekejian yang dilakukan bangsa-bangsa itu. Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu. Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu. Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini tidak diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian.

    Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.

    Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? — apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya."

    Ulangan 16:18–18:22 (TB)

    Ulangan 16:18–20. Prinsip pendelegasian wewenang yang telah ditetapkan dalam 1:9–18 kini diperluas untuk kehidupan di tanah perjanjian, dengan ketentuan tambahan bahwa para pejabat yang ditunjuk dari suku-suku ini harus mencakup "seluruh kotamu". Peran para pejabat ini adalah untuk menjalankan "pengadilan yang adil" (righteous-judgment), sebuah ungkapan gabungan yang unik, yang secara sengaja mengaitkan keputusan hukum manusia dengan kebenaran dan keadilan Allah yang sempurna. Hal ini digarisbawahi oleh ungkapan yang mencolok (dan tiada bandingnya) dalam ayat 20: "Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar" (secara harfiah: "Kebenaran, kebenaranlah yang harus kauikuti"). Ini merupakan prasyarat mutlak untuk merebut dan menduduki tanah tersebut serta menikmati hidup bersama Yahweh di dalamnya. Ulangan 16:19 memberikan gambaran ringkas mengenai bagaimana keadilan ilahi ini diwujudkan dalam praktik: tidak memutarbalikkan sistem peradilan, tidak memandang bulu (favoritisme), dan tidak menerima suap. Suap secara khusus memiliki kuasa untuk membutakan mata hakim yang bijaksana sekalipun dan menuntun kepada perlakuan yang tidak adil terhadap orang-orang yang saleh.

    Ulangan 16:21–17:7. Ketika Musa memperluas penjelasan mengenai peran para pejabat ini, ia menegaskan bahwa tanggung jawab utama mereka adalah menegakkan perjanjian (bukan sekadar menjalankan fungsi "hukum" formal dalam pengertian kita yang sempit). Hal ini dimulai dengan memastikan bahwa ibadah kepada Allah di mezbah terlindung dari potensi penyembahan berhala melalui larangan menanam pohon tiang berhala (Asyera) atau mendirikan tugu berhala di dekat tempat kudus (16:21–22), mencegah persembahan korban yang cacat atau di bawah standar (17:1), dan, dalam pembahasan yang lebih panjang, menindak tegas para penyembah berhala (17:2–7). Dalam Kitab Ulangan, tanggung jawab atas kesetiaan perjanjian dipikul bersama oleh seluruh umat Allah. Penyembahan berhala di dalam "pintu-pintu gerbang" mereka (yang mengindikasikan batas yurisdiksi kota) harus ditangani dengan kesungguhan yang paling tegas, karena perbuatan itu merupakan pelanggaran berat terhadap perjanjian dengan Allah. Namun demikian, bahkan dalam kasus seperti ini, pihak yang dituduh harus diperlakukan secara adil, yang menuntut adanya kesaksian sekurang-kurangnya dua orang saksi (17:6). Tanggung jawab komunitas untuk berjaga-jaga terhadap dan menindaki penyembahan berhala dinyatakan dengan sangat jelas (sebagaimana dalam 13:9); orang-orang yang membongkar perbuatan fasik tersebutlah yang harus pertama-tama menggerakkan tangan untuk memulai eksekusi mati yudisial melalui pelemparan batu bersama. Hukuman mati mutlak diperlukan untuk membersihkan komunitas umat dari akar yang beracun ini (17:7).

    Ulangan 17:8–13. Musa sangat menyadari kompleksitas kehidupan nasional dan kini berupaya memperluas prinsip yang telah termaktub dalam 1:17 bagi kehidupan di tanah perjanjian setelah kepergiannya kelak. Baik dalam menangani perkara pembunuhan, kasus-kasus perdata yang rumit, maupun penganiayaan fisik, proses peradilan di tingkat komunitas lokal terkadang akan menemui jalan buntu (17:8). Jika hal itu terjadi, perkara tersebut dapat diteruskan (dieskalasikan) kepada para imam orang Lewi dan kepada "hakim yang bertugas pada waktu itu", yang kemungkinan besar adalah orang yang dipilih untuk memimpin majelis peradilan keimaman tersebut (17:9). Berbicara dari tempat kediaman Allah dan dengan wewenang yang didelegasikan oleh-Nya, keputusan mereka harus diterima seolah-olah datang langsung dari Allah sendiri. Tidak boleh ada tawar-menawar, sebab sikap membangkang akan merusak tatanan dasar kehidupan bangsa perjanjian tersebut. Perkataan para imam atau hakim dalam konteks ini wajib ditaati, sebab Israel harus menjadi bangsa yang kudus, dan inilah mekanisme ketetapan ilahi untuk melenyapkan kejahatan dari tengah-tengah mereka, yang dirancang baik untuk menghukum pelaku maupun memberikan efek jera bagi segenap umat. Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa dalam konsep Musa mengenai satu umat Allah, tidak ada pemisahan antara otoritas sekuler dan otoritas keagamaan: para hakim menjaga komunitas dari penyembahan berhala dalam 17:2–7, dan para imam Lewi memutuskan perkara-perkara peradilan hukum dalam 17:8–13.

    Ulangan 17:14–20. Jika masih dibutuhkan penegasan bahwa kitab ini bukanlah sebuah "kitab undang-undang hukum" konvensional, penegasan itu dapat ditemukan dalam 17:14–20, yang merupakan salah satu perikop paling berpengaruh sekaligus paling mengejutkan dalam Kitab Ulangan, saat Musa beralih membahas persoalan tentang jabatan raja. Seolah muncul tanpa diduga, Musa mengantisipasi suatu permintaan yang bodoh: bahwa bangsa Israel akan berhasrat menggantikan Tuhan Perjanjian mereka dengan mengangkat seorang "raja seperti segala bangsa yang di sekelilingku".[^28] Mengingat rekam jejak umat tersebut hingga saat itu, serta tantangan kepemimpinan yang sangat nyata setelah kepergian Musa, kemungkinan masa depan ini tidak membutuhkan imajinasi yang muluk-muluk. Musa mengizinkan bahwa hal ini dapat saja terjadi, namun dengan satu syarat utama: bahwa sang Raja, sama seperti tempat di mana mereka harus beribadah, haruslah dipilih oleh Allah sendiri (17:15). Batasan-batasan yang ditetapkan Allah kemudian dinyatakan: sang raja haruslah seorang Israel ("dari antara saudara-saudaramu" juga mengindikasikan bahwa ia tetap berkedudukan "setara" sebagai sesama saudara); ia tidak boleh "memelihara banyak kuda" atau "mengembalikan bangsa ini ke Mesir", yang tampaknya berarti ia tidak boleh mengejar kekuatan militer atau pengaruh politik berlebihan; sang raja tidak boleh mempunyai banyak istri (baik didorong oleh hawa nafsu, keinginan membangun aliansi diplomatik, maupun keduanya) ataupun menimbun kekayaan yang melimpah. Kesan bahwa raja yang dipilih Allah ini sungguh-sungguh berbeda dari raja mana pun di dunia semakin diperkuat dalam 17:18–20. Secara positif, kewajiban raja dimulai dengan menyalin sendiri dengan tangannya salinan yang akurat dan "tersertifikasi oleh imam" dari "hukum ini" (kemungkinan besar Kitab Ulangan, yang memperoleh namanya, "hukum kedua", dari [salah] terjemahan bahasa Yunani atas ayat ini). Sang raja kemudian harus senantiasa menyimpannya di dekatnya, mendedikasikan diri untuk membacanya secara teratur sepanjang sisa hidupnya. Hal ini dimaksudkan agar sang raja menjadi teladan orang Israel sejati, yang takut akan Allah dan menaati firman-Nya secara konsisten serta, secara mencolok, dengan rendah hati (17:20), seraya memimpin di bawah otoritas Allah dengan cara yang memampukan umat Allah berkembang dan terpelihara secara turun-temurun. Gambaran mengenai raja ini meletakkan fondasi teologis bagi kritik kenabian terhadap raja-raja Israel dan Yehuda, mulai dari 1 Samuel hingga akhir 2 Raja-raja (lihat misalnya penilaian atas Salomo dalam 1Raj. 10:23–11:8). Namun demikian, penting untuk diperhatikan bahwa ada unsur-unsur dari ketetapan ini yang tidak ditekankan dalam narasi-narasi sejarah selanjutnya (ungkapan mengenai meninggikan hati hanya muncul dalam 2Raj. 14:10 dalam pesan yang dikirimkan oleh Yoas raja Israel kepada Amazia raja Yehuda, dan tidak pernah tercatat ada raja yang secara pribadi menyalin firman tersebut). Teks ini memang tampak sebagai sebuah teks kuno yang idealistis, yang hanya sebagian ketentuannya diangkat kembali oleh karya-karya kitab berikutnya.

    Ulangan 18:1–8. Fokus pembahasan kini beralih kepada "para imam orang Lewi". Musa umumnya tidak membedakan secara kaku antara suku Lewi secara keseluruhan dengan keluarga-keluarga tertentu yang ditahbiskan untuk melayani sebagai imam (meskipun lihat 10:6; 31:25). Dalam Kitab Ulangan, seluruh suku Lewi, yang secara luas dipahami sebagai "suku keimaman", memiliki fungsi teologis yang sangat vital, yang ditegaskan kembali dalam 18:2: "Janganlah ia mempunyai milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya; Tuhanlah milik pusakanya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadanya." Merupakan tanggung jawab seluruh bangsa untuk memelihara "struktur" (kepemimpinan) ini, di mana suku Lewi hidup dari bagian korban sembelihan dan persembahan yang dialokasikan bagi mereka (18:3–4) untuk selama-lamanya. Hal ini akan menjadi pengingat abadi bahwa tujuan utama Allah dalam mengaruniakan tanah tersebut kepada mereka sesungguhnya adalah untuk memberikan diri-Nya sendiri kepada mereka. Pada gilirannya, ini berarti tidak seorang pun boleh memainkan manuver kekuasaan politis terhadap lembaga keimaman. Setelah menetap di negeri tersebut, setiap orang Lewi berhak untuk berpindah (mungkin untuk sementara waktu) ke tempat yang akan dipilih oleh Allah dan menikmati pemeliharaan Allah, tanpa memandang harta warisan apa pun yang dimilikinya (kemungkinan dari kepemilikan di dalam kota-kota orang Lewi). Dengan demikian, peran orang Lewi menjadi pengingat yang berkesinambungan bahwa pada akhirnya, Israel hanya memiliki satu Pemimpin sejati dan satu Allah yang esa.

    Ulangan 18:9–14. Tampaknya peran simbolis suku Lewi ini memicu serangkaian peringatan baru yang tegas agar umat tidak meniru "kekejian" bangsa-bangsa kafir. Terlepas dari fakta bahwa praktik-praktik keji inilah yang telah mendatangkan penghakiman Allah atas orang-orang Kanaan, Musa mengantisipasi bahwa bangsa Israel—sekalipun dipanggil untuk hidup "tanpa cela"—sangat mungkin terjerumus ke dalam perilaku serupa. Tidaklah mudah untuk mengidentifikasi seluruh praktik terlarang tersebut dengan pasti, namun praktik-praktik itu mencakup pengorbanan anak (lihat Im. 20:2–5); berbagai upaya ramalan untuk menyingkapkan pikiran dewa-dewa; merapal mantra atas orang lain; serta berikhtiar menghubungi dan memanipulasi orang mati (pemanggilan arwah).[^29] Sebagaimana telah dinyatakan dengan sangat gamblang sejak pasal 4, tidak ada perlunya melakukan semua hal itu manakala seseorang menjadi milik kepunyaan Allah yang hidup dan yang berfirman.

    Ulangan 18:15–22. Musa mengumumkan bahwa Allah berkomitmen untuk membangkitkan seorang "nabi seperti" dirinya pada suatu waktu yang belum ditentukan di masa depan (18:15).[^30] Paradigma bagi pelayanan nabi masa depan ini adalah peran Musa sendiri di Gunung Horeb. Sebagai tanggapan atas permohonan umat bahwa penyataan langsung dari Allah terlalu dahsyat untuk sanggup mereka tanggung, Allah menyediakan Musa sebagai juru bicara-Nya. Menengok kembali kepada peristiwa-peristiwa tersebut, Allah sendiri membenarkan hikmat di balik perkataan mereka (18:17) dan menegaskan maksud-Nya untuk menyediakan figur serupa di masa depan. Perbandingan dengan peristiwa di Horeb mengindikasikan bahwa figur ini akan hadir pada momen yang sangat menentukan dalam kehidupan umat Allah dan tentu akan membawa dampak yang sebanding dengan peristiwa Keluaran dan Horeb. Lalu, bagaimanakah umat dapat mengenali nabi sejati ini (atau sebaliknya, mengenali seorang penipu yang mengaku-ngaku sebagai nabi tersebut atau sebagai utusan dari Allah)? Ujiannya sangat jelas dan lugas: menurut 18:22, jika nubuat yang disampaikannya terbukti terjadi dan digenapi, maka nabi tersebut adalah nabi yang sejati. Namun, jika ia berbicara secara dusta (atau bernubuat demi nama allah lain), ia harus dihukum mati (18:20). Demikianlah bobot tanggung jawab yang sedemikian besar bagi siapa saja yang mengklaim berbicara dengan otoritas Allah. Perkataan Musa di sini meletakkan fondasi bagi pemahaman Perjanjian Lama mengenai kenabian (lihat mis. Yer. 28:1–17 dan kematian nabi palsu Hananya). Namun, yang agak mengejutkan, gagasan mengenai seorang nabi yang akan datang seperti Musa tidak banyak muncul dalam bagian Perjanjian Lama lainnya (yang sekali lagi mengindikasikan bahwa ini merupakan teks kuno orisinal, dan bukan hasil rekayasa balik untuk melayani kepentingan zaman Yosia atau masa pembuangan). Dalam teks-teks ekstra-alkitabiah yang lebih kemudian dari Qumran dan tempat-tempat lain, terdapat pengharapan yang jelas bahwa Allah akan mengutus seorang individu yang memenuhi kriteria ini. Dalam Markus 6:15, Kisah Para Rasul 3:22–23,[^31] dan Kisah Para Rasul 7:37, Yesus diidentifikasi secara tepat sebagai penggenapan dari figur nabi yang dijanjikan ini.

    Kematian sebagai Sanksi Tertinggi dan Perlindungan Keadilan (19:1–22:12)

    "Apabila TUHAN, Allahmu, sudah melenyapkan bangsa-bangsa yang negerinya diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan engkau sudah menduduki daerah mereka dan diam di kota-kota dan rumah-rumah mereka, maka engkau harus mengkhususkan tiga kota di dalam negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk diduduki. Engkau harus menetapkan jauhnya jalan, dan membagi dalam tiga bagian wilayah negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, untuk dimiliki olehmu, supaya setiap pembunuh dapat melarikan diri ke sana. Inilah ketentuan mengenai pembunuh yang melarikan diri ke sana dan boleh tinggal hidup: apabila ia membunuh sesamanya manusia dengan tidak sengaja dan dengan tidak membenci dia sebelumnya, misalnya apabila seseorang pergi ke hutan dengan temannya untuk membelah kayu, ketika tangannya mengayunkan kapak untuk menebang pohon kayu, mata kapak terlucut dari gagangnya, lalu mengenai temannya sehingga mati, maka ia boleh melarikan diri ke salah satu kota itu dan tinggal hidup. Maksudnya supaya jangan penuntut tebusan darah sementara hatinya panas dapat mengejar pembunuh itu, karena jauhnya perjalanan, menangkapnya dan membunuhnya, padahal pembunuh itu tidak patut mendapat hukuman mati, karena ia tidak membenci dia sebelumnya. Itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: tiga kota haruslah kaukhususkan.

    Dan jika TUHAN, Allahmu, sudah meluaskan daerahmu nanti, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, dan sudah memberikan kepadamu seluruh negeri yang dikatakan-Nya akan diberikan kepada nenek moyangmu, —apabila engkau melakukan dengan setia perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dan dengan senantiasa hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya—maka haruslah engkau menambah tiga kota lagi kepada yang tiga itu, supaya jangan tercurah darah orang yang tidak bersalah di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milikmu dan hutang darah melekat kepadamu.

    Tetapi apabila seseorang membenci sesamanya manusia, dan dengan bersembunyi menantikan dia, lalu bangun menyerang dan memukul dia, sehingga mati, kemudian melarikan diri ke salah satu kota itu, maka haruslah para tua-tua kotanya menyuruh mengambil dia dari sana dan menyerahkan dia kepada penuntut tebusan darah, supaya ia mati dibunuh. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya. Demikianlah harus kauhapuskan darah orang yang tidak bersalah dari antara orang Israel, supaya baik keadaanmu."

    "Janganlah menggeser batas tanah sesamamu yang telah ditetapkan oleh orang-orang dahulu di dalam milik pusaka yang akan kaumiliki di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milikmu."

    "Satu orang saksi saja tidak dapat menggugat seseorang mengenai perkara kesalahan apapun atau dosa apapun yang mungkin dilakukannya; baru atas keterangan dua atau tiga orang saksi perkara itu tidak disangsikan. Apabila seorang saksi jahat menggugat seseorang untuk menuduh dia mengenai suatu pelanggaran, maka kedua orang yang mempunyai perkara itu haruslah berdiri di hadapan TUHAN, di hadapan imam-imam dan hakim-hakim yang ada pada waktu itu. Maka hakim-hakim itu harus memeriksanya baik-baik, dan apabila ternyata, bahwa saksi itu seorang saksi dusta dan bahwa ia telah memberi tuduhan dusta terhadap saudaranya, maka kamu harus memperlakukannya sebagaimana ia bermaksud memperlakukan saudaranya. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. Maka orang-orang lain akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki."

    "Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, dan engkau melihat kuda dan kereta, yakni tentara yang lebih banyak dari padamu, maka janganlah engkau takut kepadanya, sebab TUHAN, Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir, menyertai engkau. Apabila kamu menghadapi pertempuran, maka seorang imam harus tampil ke depan dan berbicara kepada rakyat, dengan berkata kepada mereka: Dengarlah, hai orang Israel! Kamu sekarang menghadapi pertempuran melawan musuhmu; janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu.

    Para pengatur pasukan haruslah berbicara kepada tentara, demikian: Siapakah orang yang telah mendirikan rumah baru, tetapi belum menempatinya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang menempatinya. Dan siapa telah membuat kebun anggur, tetapi belum mengecap hasilnya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengecap hasilnya. Dan siapa telah bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi belum mengawininya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengawininya. Lagi para pengatur pasukan itu harus berbicara kepada tentara demikian: Siapa takut dan lemah hati? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya hati saudara-saudaranya jangan tawar seperti hatinya. Apabila para pengatur pasukan selesai berbicara kepada tentara, maka haruslah ditunjuk kepala-kepala pasukan untuk mengepalai tentara.

    Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya. Apabila kota itu menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu. Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya; dan setelah TUHAN, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang. Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kaurampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, boleh kaupergunakan. Demikianlah harus kaulakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu, yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini.

    Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kaubiarkan hidup apapun yang bernafas, melainkan kautumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi, dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya mereka jangan mengajar kamu berbuat sesuai dengan segala kekejian, yang dilakukan mereka bagi allah mereka, sehingga kamu berbuat dosa kepada TUHAN, Allahmu.

    Apabila dalam memerangi suatu kota, engkau lama mengepungnya untuk direbut, maka tidak boleh engkau merusakkan pohon-pohon sekelilingnya dengan mengayunkan kapak kepadanya; buahnya boleh kaumakan, tetapi batangnya janganlah kautebang; sebab, pohon yang di padang itu bukan manusia, jadi tidak patut ikut kaukepung. Hanya pohon-pohon, yang engkau tahu tidak menghasilkan makanan, boleh kaurusakkan dan kautebang untuk mendirikan pagar pengepungan terhadap kota yang berperang melawan engkau, sampai kota itu jatuh."

    "Apabila di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milikmu, terdapat seorang yang mati terbunuh di padang, dengan tidak diketahui siapa yang membunuhnya, maka haruslah para tua-tuamu dan para hakimmu keluar mengukur jarak ke kota-kota yang di sekeliling orang yang terbunuh itu. Kota yang ternyata paling dekat dengan tempat orang yang terbunuh itu, para tua-tua kota itulah harus mengambil seekor lembu betina yang muda, yang belum pernah dipakai, yang belum pernah menghela dengan kuk. Para tua-tua kota itu haruslah membawa lembu muda itu ke suatu lembah yang selalu berair dan yang belum pernah dikerjakan atau ditaburi, dan di sana di lembah itu haruslah mereka mematahkan batang leher lembu muda itu. Imam-imam bani Lewi haruslah tampil ke depan, sebab merekalah yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk melayani Dia dan untuk memberi berkat demi nama TUHAN; menurut putusan merekalah setiap perkara dan setiap hal luka-melukai harus diselesaikan. Dan semua tua-tua dari kota yang paling dekat dengan tempat orang yang terbunuh itu, haruslah membasuh tangannya di atas lembu muda yang batang lehernya dipatahkan di lembah itu, dan mereka harus memberi pernyataan dengan mengatakan: Tangan kami tidak mencurahkan darah ini dan mata kami tidak melihatnya. Adakanlah pendamaian bagi umat-Mu Israel yang telah Kautebus itu, TUHAN, dan janganlah timpakan darah orang yang tidak bersalah ke tengah-tengah umat-Mu Israel. Maka karena darah itu telah diadakan pendamaian bagi mereka. Demikianlah engkau harus menghapuskan darah orang yang tidak bersalah itu dari tengah-tengahmu, sebab dengan demikian engkau melakukan apa yang benar di mata TUHAN."

    "Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu, dan TUHAN, Allahmu, menyerahkan mereka ke dalam tanganmu dan engkau menjadikan mereka tawanan, dan engkau melihat di antara tawanan itu seorang perempuan yang elok, sehingga hatimu mengingini dia dan engkau mau mengambil dia menjadi isterimu, maka haruslah engkau membawa dia ke dalam rumahmu. Perempuan itu harus mencukur rambutnya, memotong kukunya, menanggalkan pakaian yang dipakainya pada waktu ditawan, dan tinggal di rumahmu untuk menangisi ibu bapanya sebulan lamanya. Sesudah demikian, bolehlah engkau menghampiri dia dan menjadi suaminya, sehingga ia menjadi isterimu. Apabila engkau tidak suka lagi kepadanya, maka haruslah engkau membiarkan dia pergi sesuka hatinya; tidak boleh sekali-kali engkau menjual dia dengan bayaran uang; tidak boleh engkau memperlakukan dia sebagai budak, sebab engkau telah memaksa dia."

    "Apabila seorang mempunyai dua orang isteri, yang seorang dicintai dan yang lain tidak dicintainya, dan mereka melahirkan anak-anak lelaki baginya, baik isteri yang dicintai maupun isteri yang tidak dicintai, dan anak sulung adalah dari isteri yang tidak dicintai, maka pada waktu ia membagi warisan harta kepunyaannya kepada anak-anaknya itu, tidaklah boleh ia memberikan bagian anak sulung kepada anak dari isteri yang dicintai merugikan anak dari isteri yang tidak dicintai, yang adalah anak sulung. Tetapi ia harus mengakui anak yang sulung, anak dari isteri yang tidak dicintai itu, dengan memberikan kepadanya dua bagian dari segala kepunyaannya, sebab dialah kegagahannya yang pertama-tama: dialah yang empunya hak kesulungan."

    "Apabila seseorang mempunyai anak laki-laki yang degil dan membangkang, yang tidak mau mendengarkan perkataan ayahnya dan ibunya, dan walaupun mereka menghajar dia, tidak juga ia mendengarkan mereka, maka haruslah ayahnya dan ibunya memegang dia dan membawa dia keluar kepada para tua-tua kotanya di pintu gerbang tempat kediamannya, dan harus berkata kepada para tua-tua kotanya: Anak kami ini degil dan membangkang, ia tidak mau mendengarkan perkataan kami, ia seorang pelahap dan peminum. Maka haruslah semua orang sekotanya melempari anak itu dengan batu, sehingga ia mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu; dan seluruh orang Israel akan mendengar dan menjadi takut."

    "Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu."

    "Apabila engkau melihat, bahwa lembu atau domba saudaramu tersesat, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; haruslah engkau benar-benar mengembalikannya kepada saudaramu itu. Dan apabila saudaramu itu tidak tinggal dekat denganmu dan engkau tidak mengenalnya, maka haruslah engkau membawa hewan itu ke dalam rumahmu dan haruslah itu tinggal padamu, sampai saudaramu itu datang mencarinya; engkau harus mengembalikannya kepadanya. Demikianlah harus kauperbuat dengan keledainya, demikianlah kauperbuat dengan pakaiannya, demikianlah kauperbuat dengan setiap barang yang hilang dari saudaramu dan yang kautemui; tidak boleh engkau pura-pura tidak tahu. Apabila engkau melihat keledai saudaramu atau lembunya rebah di jalan, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; engkau harus benar-benar menolong membangunkannya bersama-sama dengan saudaramu itu."

    "Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.

    Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya. Setidak-tidaknya induk itu haruslah kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu.

    Apabila engkau mendirikan rumah yang baru, maka haruslah engkau memagari sotoh rumahmu, supaya jangan kaudatangkan hutang darah kepada rumahmu itu, apabila ada seorang jatuh dari atasnya.

    Janganlah kautaburi kebun anggurmu dengan dua jenis benih, supaya seluruh hasil benih yang kautaburkan dan hasil kebun anggurmu jangan menjadi milik tempat kudus. Janganlah engkau membajak dengan lembu dan keledai bersama-sama. Janganlah engkau memakai pakaian yang dua jenis bahannya, yakni bulu domba dan lenan bersama-sama. Haruslah engkau membuat tali yang terpilin pada keempat punca kain penutup tubuhmu."

    Ulangan 19:1–22:12 (TB)

    Ulangan 19:1–14. Seiring Musa terus mengkhotbahkan hukum-hukum ini, fokus yang jelas dari setiap bagian mulai berkurang, dan keterkaitan antara hukum-hukum yang berdampingan menjadi lebih sukar untuk dikenali. Namun, dalam bagian eksposisinya ini, masih terdapat benang merah yang jelas menghubungkan sebagian besar materi ketika ia membahas perlindungan dan ketetapan seputar pembunuhan yang dapat dibenarkan (dan yang tidak dapat dibenarkan), yang secara garis besar berkaitan dengan Perintah Keenam dari Sepuluh Firman. Ia memulai dengan menguraikan penyediaan tiga kota perlindungan yang ditempatkan secara cermat di bagian utara, tengah, dan selatan negeri tersebut (19:1–3; lih. juga Kel. 21:12–14). Hal ini memastikan bahwa setiap warga memiliki akses yang relatif setara ke tempat-tempat perlindungan ini. Penetapan khusus atas kota-kota yang sudah ada ini mengantisipasi keadaan-keadaan seperti yang diuraikan dalam 19:4–5, di mana mata kapak terlepas dari gagangnya dan menewaskan sesamanya (yang tampaknya lebih merupakan ilustrasi yang hidup daripada sekadar "hukum kasus" teknis!). Fakta bahwa tidak ada permusuhan di antara pihak-pihak yang terlibat ("dengan tidak membenci dia sebelumnya") dan bahwa kematian tersebut jelas-jelas terjadi secara tidak sengaja memungkinkan si pelaku melarikan diri untuk memperoleh keselamatan. Perlindungan tersebut mungkin diperlukan karena "amarah yang meluap-luap" dari sang "penuntut tebusan darah". Tampaknya hal ini dibayangkan sebagai ketentuan sementara hingga situasi mereda. Ketetapan ini sedemikian penting sehingga perintah untuk menetapkan tiga kota semacam itu ketika memasuki negeri tersebut (19:7) diperkuat dengan ketentuan penyediaan tiga kota tambahan (19:8–10). Motivasi di balik ketetapan ini melampaui sekadar keadilan yuridis biasa: tujuannya adalah mencegah tertumpahnya darah orang yang tidak bersalah di negeri tersebut. Menurut 19:10, utang darah ini akan merusak relasi Israel dengan Allah, yang secara intrinsik terikat dengan tanah pusaka itu. Hal ini menjelaskan mengapa larangan "mencuri" tanah sesama melalui penggeseran batas tanah dicantumkan di sini (19:14). Ulangan 19:11–13 (lih. juga Bil. 35:16–23) menegaskan bahwa perlindungan hanya dapat diberikan kepada mereka yang terlibat dalam kematian yang tidak disengaja: pembunuhan berencana berada dalam kategori yang sama sekali berbeda dan harus ditindak secara tegas demi "menghapuskan darah orang yang tidak bersalah" (utang darah) dari tengah-tengah umat Allah (sekalipun Musa tidak memerinci prosedur-prosedur pengadilannya).

    Ulangan 19:15–21. Fokus ganda pada proses peradilan yang patut dan adil di satu sisi, serta penanganan "kejahatan" secara tepat di sisi lain, tercermin dalam aturan mengenai bukti yang sah dalam 19:15–21. Ambang batas pembuktiannya adalah keterangan dari "dua atau tiga orang saksi" (19:15). Sangat menyadari kecenderungan hati manusia yang penuh tipu daya, Musa juga memaparkan prosedur penanganan dakwaan palsu. Perkara tersebut harus dibawa ke hadapan "para imam dan para hakim yang bertugas pada waktu itu" di hadirat Allah sendiri. Apabila terbukti bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar, maka saksi dusta itu harus dijatuhi hukuman yang sedianya ditujukan bagi terdakwa atas dugaan kejahatan tersebut (19:19). Hal ini menghasilkan dampak "menghapuskan yang jahat" dari tengah-tengah bangsa itu, yang pada hakikatnya memulihkan keadilan. Ketetapan ini juga berfungsi sebagai pencegah (deterrent) terhadap perilaku serupa di masa depan. Prinsip dalam 19:21 merupakan ungkapan ringkas mengenai proporsionalitas keadilan yang sejati (lex talionis), yang sekaligus membatasi sekaligus menetapkan bobot hukuman peradilan.

    Ulangan 20:1–4. Pasal 20 beralih membahas cara bangsa Israel harus menjalankan peperangan. Kendati penaklukan Kanaan yang unik dan sudah di ambang pintu jelas berada dalam benak Musa, ia menguraikan cakupan yang jauh lebih luas untuk membahas prinsip-prinsip teologis mendasar, menjelaskan bahwa kebenaran dan kesalehan tetap dituntut dari umat Allah bahkan di medan pertempuran sekalipun. Berulang kali Israel telah dipanggil untuk takut hanya kepada Allah—hal ini tidak boleh berubah bahkan menjelang pecahnya pertempuran, ketika mereka berhadapan dengan kekuatan musuh yang jauh lebih besar (20:3). Musa menjabarkan secara tepat apa yang harus diucapkan oleh imam pada momen tersebut, mengingatkan mereka bahwa tidak ada alasan untuk gentar atau panik, sebab Allah sendiri yang akan berperang bagi umat-Nya (lih. juga Kel. 14:14). Hal ini tidak memberi Israel kebebasan untuk melakukan agresi militer ekspansionis—sebab komitmen Allah adalah berperang bagi mereka dalam menaklukkan Kanaan serta ketika mereka diserang oleh musuh.

    Ulangan 20:5–9. Ketergantungan mutlak kepada Allah, bukan kepada kehebatan atau kekuatan militer manusia, melandasi pendekatan wajib militer yang luar biasa longgar dan penuh tenggang rasa di saat-saat krisis. Para "petugas" (lih. 1:16; 1Taw. 27:1; 2Taw. 26:11), yang tampaknya merupakan administrator non-militer, harus membebaskan orang-orang yang baru membangun rumah baru, mereka yang pohon-pohon buahnya sedang berada pada tahap penting untuk berbuah, serta mereka yang sudah bertunangan dan akan segera menikah (20:5–7). Ketentuan ini jauh lebih murah hati daripada peraturan bangsa mana pun pada zaman itu dan merupakan wujud nyata dari kebaikan Allah. Sebaliknya, pembebasan bagi mereka yang takut dan cemas bertujuan memastikan agar barisan tentara terlindung dari kepanikan yang menular dan tidak beriman, sebelum pasukan mengambil formasi tempur di bawah komando para panglima (20:9).

    Ulangan 20:10–20. Cara "normal" yang harus diterapkan oleh bangsa Israel ketika berperang melawan kota-kota lain setelah penaklukan tanah Kanaan (yakni kota-kota non-Kanaan yang letaknya sangat jauh) dipaparkan dalam ayat-ayat ini. Tahapan yang harus dilakukan adalah:

    1. Menawarkan syarat-syarat perdamaian terlebih dahulu;
    2. Jika tawaran tersebut diterima, menjadikan penduduknya sebagai pekerja rodi (rakyat taklukan);
    3. Jika ditolak, mengepung kota tersebut;
    4. Kemudian membunuh semua laki-laki (yakni para prajurit/kombatan) tetapi tidak membunuh yang lain;
    5. Mengambil perempuan, anak-anak, ternak, dan segala barang rampasan lainnya sebagai "jarahan".

    Pendekatan ini jauh lebih manusiawi dibandingkan dengan praktik lazim di Timur Dekat Kuno. Sebaliknya, Ulangan 20:16–18 menegaskan secara gamblang bahwa enam bangsa yang disebutkan (pada dasarnya seluruh penduduk Kanaan) harus ditumpas habis (herem) sebagaimana yang diperintahkan Allah berdasarkan penghakiman-Nya atas kefasikan mereka (Kej. 15:16)[^32] dan untuk mengakhiri praktik-praktik mereka yang jahat (dan sangat berbahaya). Jika tindakan tegas ini tidak dijalankan, maka tidak terelakkan lagi bangsa Israel akan "berbuat dosa kepada TUHAN". Instruksi-instruksi ini sangat mengguncangkan, namun sangat mencolok karena batas cakupannya yang dibatasi secara ketat.[^33] Catatan dalam 20:19–20 bahwa ketika mengepung kota-kota (bahkan di Kanaan sekalipun) tidak boleh diterapkan kebijakan "bumi hangus", semakin menggarisbawahi cakupan tindakan penghakiman yang didefinisikan secara cermat pada ayat-ayat sebelumnya. Pohon-pohon harus diperlakukan secara berbeda bukan terutama karena alasan ekologis semata, melainkan semata-mata karena pepohonan tidak bertanggung jawab kepada Allah atas perbuatannya sendiri! Di samping alasan teologis ini, Musa menambahkan larangan yang sangat praktis untuk tidak menebang pohon-pohon yang menghasilkan buah (yang dalam banyak kasus memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bertumbuh dan berbuah), kemungkinan besar agar tidak merusak pasokan pangan di masa depan.

    Ulangan 21:1–9. Beralih sejenak dari hukum-hukum peperangan, Musa membahas cara yang benar dalam menangani kasus pembunuhan yang tidak terpecahkan (pelakunya tidak diketahui). Namun, perhatian utamanya bukanlah pada upaya menemukan si pembunuh, melainkan memastikan bahwa hubungan umat dengan Allah tidak dirusak oleh "utang darah". Fokus utama Musa bersifat teologis, bukan sekadar yuridis: umat Allah harus memahami bahwa relasi mereka dengan Allah dibangun di atas kebutuhan akan pendamaian (atonement) dan pengampunan. Ritual ini melibatkan penetapan oleh para tua-tua (kepala-kepala keluarga) dan para "hakim" yang ditunjuk—yang perannya kemungkinan besar adalah memastikan agar tidak timbul konflik antarkomunitas—untuk menentukan kota mana yang paling dekat dan bertanggung jawab melaksanakan ritual tersebut. Ritual itu sendiri diawasi oleh para imam keturunan Lewi (21:5). Hewan yang dipilih haruslah seekor lembu betina muda yang belum pernah dipakai bekerja (yang mungkin mengindikasikan "tanpa cacat" dan juga memungkinkannya lebih mudah disembelih/dipatahkan batang lehernya di lembah) dan lokasinya harus menyerupai gambaran Eden—lembah yang belum pernah dibajak atau ditaburi dengan sungai yang senantiasa mengalir (21:4).[^34] Tindakan ini bukanlah korban sembelihan per se—darahnya tidak dipercikkan di mezbah, dan lokasinya bukan di tempat yang dipilih Allah—tetapi pernyataan tidak bersalah oleh seluruh tua-tua atas nama komunitas (dan pada akhirnya segenap bangsa) dalam 21:7, serta bahasa pendamaian (kipper) yang sangat mencolok dalam 21:8–9 berakar pada fakta bahwa hanya Allah sendiri yang dapat (dan harus) mengadakan pendamaian bagi dosa kejahatan ini dan mengampuni umat-Nya. Musa menegaskan dengan sangat kuat bahwa ancaman "utang darah/kesalahan dosa" merupakan tantangan paling mendasar yang dihadapi oleh umat di tanah perjanjian.

    Ulangan 21:10–14. Ayat-ayat berikutnya secara tiba-tiba kembali ke topik peperangan, namun kali ini bukan membahas pembunuhan yang sah dalam perang, melainkan konsekuensi dari penawanan musuh. Jika seorang prajurit Israel terpikat oleh kecantikan seorang perempuan tawanan dan berhasrat menjadikannya istri (bahasa yang digunakan sama dengan 7:7 dan 10:15 ketika Yahweh "menaruh hati-Nya" atas umat-Nya), maka ketentuan perlindungan ditetapkan baik bagi perempuan tersebut maupun bagi komunitas. Proses peralihan dalam 21:12–13 memungkinkannya untuk mengekspresikan kedukaan atas statusnya sebagai tawanan sekaligus keluar dari masa perkabungan itu sebagai pribadi yang baru, ditanggalkan dari segala tanda identitas budaya (penyembahan berhala) masa lalunya. Hal ini memungkinkan pernikahan tersebut dilangsungkan. Namun demikian, Musa sangat menyadari bahaya penyalahgunaan kekuasaan oleh suami (pemenang perang) tersebut, sehingga ia menegaskan bahwa jika pernikahan itu kandas karena sang suami (secara memalukan) tidak lagi menginginkannya, maka perempuan tawanan itu harus dilepaskan secara bebas tanpa stigma atau status sebagai budak. Ketentuan-ketentuan ini sungguh luar biasa maju dan manusiawi bagi zaman dunia kuno.

    Ulangan 21:15–17. Situasi yang dipaparkan dalam 21:15–17 (seorang suami dengan dua istri, mencintai yang satu dan secara harfiah "membenci" yang lain [lih. Mal. 1:2–3, yang menunjukkan bahwa kata tersebut memiliki cakupan semantik yang lebih luas daripada sekadar kebencian emosional biasa]) mungkin bersambung dari ayat-ayat sebelumnya (yang melibatkan mantan tawanan perang) atau bahkan mengingatkan pada peristiwa di antara anak-anak Yakub.[^35] Barangkali terkesan mengejutkan bahwa tidak ada komentar yang diberikan mengenai poligami itu sendiri, namun hak-hak istri yang tidak dicintai dilindungi secara penuh melalui anak laki-lakinya (berbeda dari kasus Lea dan Rahel, di mana Yusuf menggantikan Ruben sebagai penerima hak "kesulungan" resmi yang memperoleh dua bagian warisan). Kepedulian Musa terhadap pihak yang lemah di satu sisi, dan realisme yang mendalam mengenai realitas kehidupan di Israel di sisi lain, tampak begitu menonjol.

    Ulangan 21:18–23. Kembali ke topik kematian, Musa membahas betapa seriusnya pemberontakan di dalam keluarga, yang pada hakikatnya setara dengan pengkhianatan terhadap perjanjian. Jika seorang anak laki-laki bersifat "degil dan membangkang" (paling tepat dipahami bersama sebagai watak yang sama sekali bebal dan tidak dapat diperbaiki lagi), yang berulang kali melawan dan menolak segala upaya pendisiplinan orang tuanya, maka komunitas harus menghukumnya mati dengan melempari batu (21:21), sebab perilaku seperti ini mengancam kelangsungan hidup umat perjanjian itu sendiri. Hal ini menjelaskan mengapa hukum ini lebih keras dibandingkan dengan sanksi-sanksi lain di Timur Dekat Kuno terhadap anak-anak pembangkang. Keharusan tindakan drastis semacam itu (dan cara penanganan jenazahnya) dieksplorasi lebih lanjut dalam 21:22–23. Penyebutan mengenai mayat yang "digantung pada sebuah tiang" (hukuman semacam ini belum pernah disebutkan sebelumnya dalam hukum Musa) tampaknya merujuk pada praktik umum pada masa itu (lih. Kej. 40:19, 22; Yos. 8:23, 29; 10:26; 2Sam. 4:12; 21:12). Sangat jelas bahwa orang tersebut telah jatuh di bawah kutuk Allah, dan pembersihan kutuk itu mutlak diperlukan agar berkat di tanah perjanjian dapat terus terpelihara. Inilah sebabnya mengapa Yohanes dan Paulus mengutip prinsip ini (Yoh. 19:31; Gal. 3:13) untuk menjelaskan bahwa di atas kayu salib, Kristus telah menanggung baik dosa kita maupun kutuk yang timbul daripadanya, menanggung murka Allah menggantikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam berkat keselamatan Allah.

    Ulangan 22:1–12. Kumpulan hukum dalam 22:1–12 menandai pergeseran dari blok-blok materi besar yang terorganisasi secara rapi di sekitar satu tema terpadu menuju pendekatan yang lebih eklektik (kendati sesekali tampak mengikuti urutan Sepuluh Firman secara longgar). Serangkaian hukum yang berkaitan dengan dua tema utama tampak terjalin erat: "persaudaraan sejati di antara bangsa Israel" dan "keharusan untuk tetap terpisah dan berbeda dari bangsa-bangsa Kanaan". Dalam 22:1–4, memperlakukan satu sama lain sebagai saudara mencakup tanggung jawab menyelamatkan dan mengembalikan ternak sesama yang tersesat atau terancam bahaya, serta "setiap barang yang hilang dari saudaramu". Hal ini juga mencakup ketaatan pada aturan bangunan yang ketat (22:8) dengan memasang pagar pada sotoh (atap) rumah demi mencegah kematian akibat kecelakaan orang yang jatuh dari atasnya.

    Larangan mengenakan pakaian lawan jenis (cross-dressing, 22:5) tampaknya berkaitan dengan semacam ritual kultis Kanaan (kemungkinan ritual kesuburan tertentu), mengingat perbuatan itu dikecam sebagai suatu "kekejian" (abomination) bagi Allah. Tuntutan agar Israel tetap terpisah dan kudus dari bangsa-bangsa kafir juga mendasari empat petunjuk dalam ayat 9–12: larangan mencampur benih di kebun anggur, larangan membajak dengan pasangan dua jenis hewan yang berbeda, larangan memadukan dua jenis bahan kain pakaian (semuanya berpotensi merusak simbolisme keunikan dan kemurnian identitas Israel), serta perintah pembuatan tali terpilin (jumbai-jumbai) pada punca jubah sebagai penegas identitas perjanjian tersebut (Bil. 15:37–41). Hukum mengenai "sarang burung" dalam 22:6–7 memang tidak mudah ditempatkan secara langsung dalam alur tematis ini, namun menjadi bukti lebih lanjut mengenai sifat penuh belas kasihan dan kebaikan yang terkandung dalam hukum-hukum perjanjian ini.

    Kebenaran dan Kekudusan dalam Segala Dimensi Kehidupan (22:13–25:19)

    "Apabila seseorang mengambil isteri dan setelah menghampiri perempuan itu, menjadi benci kepadanya, menuduhkan kepadanya perbuatan yang kurang senonoh dan membusukkan namanya dengan berkata: Perempuan ini kuambil menjadi isteriku, tetapi ketika ia kuhampiri, tidak ada kudapati padanya tanda-tanda keperawanan—maka haruslah ayah dan ibu gadis itu memperlihatkan tanda-tanda keperawanan gadis itu kepada para tua-tua kota di pintu gerbang. Dan ayah si gadis haruslah berkata kepada para tua-tua itu: Aku telah memberikan anakku kepada laki-laki ini menjadi isterinya, lalu ia menjadi benci kepadanya, dan ketahuilah, ia menuduhkan perbuatan yang kurang senonoh dengan berkata: Tidak ada kudapati tanda-tanda keperawanan pada anakmu. Tetapi inilah tanda-tanda keperawanan anakku itu. Lalu haruslah mereka membentangkan kain itu di depan para tua-tua kota. Maka haruslah para tua-tua kota itu mengambil laki-laki itu, menghajar dia, mendenda dia seratus syikal perak dan memberikan perak itu kepada ayah si gadis—karena laki-laki itu telah membusukkan nama seorang perawan Israel. Perempuan itu haruslah tetap menjadi isterinya; selama hidupnya tidak boleh laki-laki itu menyuruh dia pergi. Tetapi jika tuduhan itu benar dan tidak didapati tanda-tanda keperawanan pada si gadis, maka haruslah si gadis dibawa ke luar ke depan pintu rumah ayahnya, dan orang-orang sekotanya haruslah melempari dia dengan batu, sehingga mati—sebab dia telah menodai orang Israel dengan bersundal di rumah ayahnya. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.

    Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.

    Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan—jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. Tetapi jikalau di padang laki-laki itu bertemu dengan gadis yang telah bertunangan itu, memaksa gadis itu tidur dengan dia, maka hanyalah laki-laki yang tidur dengan gadis itu yang harus mati, tetapi gadis itu janganlah kauapa-apakan. Gadis itu tidak ada dosanya yang sepadan dengan hukuman mati, sebab perkara ini sama dengan perkara seseorang yang menyerang sesamanya manusia dan membunuhnya. Sebab laki-laki itu bertemu dengan dia di padang; walaupun gadis yang bertunangan itu berteriak-teriak, tetapi tidak ada yang datang menolongnya.

    Apabila seseorang bertemu dengan seorang gadis, yang masih perawan dan belum bertunangan, memaksa gadis itu tidur dengan dia, dan keduanya kedapatan—maka haruslah laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puluh syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi isterinya, sebab laki-laki itu telah memperkosa dia; selama hidupnya tidak boleh laki-laki itu menyuruh dia pergi.

    Seorang laki-laki janganlah mengambil isteri ayahnya dan jangan menyingkapkan punca kain ayahnya."

    "Orang yang hancur buah pelirnya atau yang terpotong kemaluannya, janganlah masuk jemaah TUHAN. Seorang anak haram janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan keturunannya yang kesepuluhpun tidak boleh masuk jemaah TUHAN. Seorang Amon atau seorang Moab janganlah masuk jemaah TUHAN, bahkan keturunannya yang kesepuluhpun tidak boleh masuk jemaah TUHAN sampai selama-lamanya, karena mereka tidak menyongsong kamu dengan roti dan air pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir, dan karena mereka mengupah Bileam bin Beor dari Petor di Aram-Mesopotamia melawan engkau, supaya dikutukinya engkau. Tetapi TUHAN, Allahmu, tidak mau mendengarkan Bileam dan TUHAN, Allahmu, telah mengubah kutuk itu menjadi berkat bagimu, karena TUHAN, Allahmu, mengasihi engkau. Selama engkau hidup, janganlah engkau mengikhtiarkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka sampai selama-lamanya. Janganlah engkau menganggap keji orang Edom, sebab dia saudaramu. Janganlah engkau menganggap keji orang Mesir, sebab engkaupun dahulu adalah orang asing di negerinya. Anak-anak yang lahir bagi mereka dalam keturunan yang ketiga, boleh masuk jemaah TUHAN."

    "Apabila engkau maju dengan tentaramu melawan musuhmu, maka haruslah engkau menjaga diri terhadap segala yang jahat. Apabila ada di antaramu seorang laki-laki yang tidak tahir disebabkan oleh sesuatu yang terjadi atasnya pada malam hari, maka haruslah ia pergi ke luar perkemahan, janganlah ia masuk ke dalam perkemahan. Kemudian menjelang senja haruslah ia mandi dengan air, dan pada waktu matahari terbenam, ia boleh masuk kembali ke dalam perkemahan. Di luar perkemahan itu haruslah ada bagimu suatu tempat ke mana engkau pergi untuk kada hajat. Di antara perlengkapanmu haruslah ada padamu sekop kecil dan apabila engkau jongkok kada hajat, haruslah engkau menggali lobang dengan itu dan menimbuni kotoranmu. Sebab TUHAN, Allahmu, berjalan dari tengah-tengah perkemahanmu untuk melepaskan engkau dan menyerahkan musuhmu kepadamu; sebab itu haruslah perkemahanmu itu kudus, supaya jangan Ia melihat sesuatu yang tidak senonoh di antaramu, lalu berbalik dari padamu."

    "Janganlah kauserahkan kepada tuannya seorang budak yang melarikan diri dari tuannya kepadamu. Bersama-sama engkau ia boleh tinggal, di tengah-tengahmu, di tempat yang dipilihnya di salah satu tempatmu, yang dirasanya baik; janganlah engkau menindas dia."

    "Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti, dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti. Janganlah kaubawa upah sundal atau uang semburit ke dalam rumah TUHAN, Allahmu, untuk menepati salah satu nazar, sebab keduanya itu adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu."

    "Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan. Dari orang asing boleh engkau memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga—supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala usahamu di negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya."

    "Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri."

    "Apabila engkau melalui kebun anggur sesamamu, engkau boleh makan buah anggur sepuas-puas hatimu, tetapi tidak boleh kaumasukkan ke dalam bungkusanmu. Apabila engkau melalui ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu."

    "Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya, dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri orang lain, dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu mati, maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.

    Apabila baru saja seseorang mengambil isteri, janganlah ia keluar bersama-sama dengan tentara maju berperang atau dibebankan sesuatu pekerjaan; satu tahun lamanya ia harus dibebaskan untuk keperluan rumah tangganya dan menyukakan hati perempuan yang telah diambilnya menjadi isterinya."

    "Janganlah mengambil kilangan atau batu kilangan atas sebagai gadai, karena yang demikian itu mengambil nyawa orang sebagai gadai.

    Apabila seseorang kedapatan sedang menculik orang, salah seorang saudaranya, dari antara orang Israel, lalu memperlakukan dia sebagai budak dan menjual dia, maka haruslah penculik itu mati. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.

    Hati-hatilah dalam hal penyakit kusta dan lakukanlah dengan tepat segala yang diajarkan imam-imam orang Lewi kepadamu; apa yang kuperintahkan kepada mereka haruslah kamu lakukan dengan setia. Ingatlah apa yang dilakukan TUHAN, Allahmu, kepada Miryam pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir.

    Apabila engkau meminjamkan sesuatu kepada sesamamu, janganlah engkau masuk ke rumahnya untuk mengambil gadai dari padanya. Haruslah engkau tinggal berdiri di luar, dan orang yang kauberi pinjaman itu haruslah membawa gadai itu ke luar kepadamu. Jika ia seorang miskin, janganlah engkau tidur dengan barang gadaiannya; kembalikanlah gadaian itu kepadanya pada waktu matahari terbenam, supaya ia dapat tidur dengan memakai kainnya sendiri dan memberkati engkau. Maka engkau akan menjadi benar di hadapan TUHAN, Allahmu.

    Janganlah engkau memeras pekerja harian yang miskin dan menderita, baik ia saudaramu maupun seorang asing yang ada di negerimu, di dalam tempatmu. Pada hari itu juga haruslah engkau membayar upahnya sebelum matahari terbenam; ia mengharapkannya, karena ia orang miskin; supaya ia jangan berseru kepada TUHAN mengenai engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu.

    Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri.

    Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai. Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu, dari sana; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini.

    Apabila engkau menuai di ladangmu, lalu terlupa seberkas di ladang, maka janganlah engkau kembali untuk mengambilnya; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda—supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu. Apabila engkau memetik hasil pohon zaitunmu dengan memukul-mukulnya, janganlah engkau memeriksa dahan-dahannya sekali lagi; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda. Apabila engkau mengumpulkan hasil kebun anggurmu, janganlah engkau mengadakan pemetikan sekali lagi; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda. Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini."

    "Apabila ada perselisihan di antara beberapa orang, lalu mereka pergi ke pengadilan, dan mereka diadili dengan dinyatakannya siapa yang benar dan siapa yang salah, maka jika orang yang bersalah itu layak dipukul, haruslah hakim menyuruh dia meniarap dan menyuruh orang memukuli dia di depannya dengan sejumlah dera setimpal dengan kesalahannya. Empat puluh kali harus orang itu dipukuli, jangan lebih; supaya jangan saudaramu menjadi rendah di matamu, apabila ia dipukul lebih banyak lagi.

    Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik."

    "Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar. Maka anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati itu, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel. Tetapi jika orang itu tidak suka mengambil isteri saudaranya, maka haruslah isteri saudaranya itu pergi ke pintu gerbang menghadap para tua-tua serta berkata: Iparku menolak menegakkan nama saudaranya di antara orang Israel, ia tidak mau melakukan kewajiban perkawinan ipar dengan aku. Kemudian para tua-tua kotanya haruslah memanggil orang itu dan berbicara dengan dia. Jika ia tetap berpendirian dengan mengatakan: Aku tidak suka mengambil dia sebagai isteri—maka haruslah isteri saudaranya itu datang kepadanya di hadapan para tua-tua, menanggalkan kasut orang itu dari kakinya, meludahi mukanya sambil menyatakan: Beginilah harus dilakukan kepada orang yang tidak mau membangun keturunan saudaranya. Dan di antara orang Israel namanya haruslah disebut: Kaum yang kasutnya ditanggalkan orang."

    "Apabila dua orang berkelahi dan isteri yang seorang datang mendekat untuk menolong suaminya dari tangan orang yang memukulnya, dan perempuan itu mengulurkan tangannya dan menangkap kemaluan orang itu, maka haruslah kaupotong tangan perempuan itu; janganlah engkau merasa sayang kepadanya."

    "Janganlah ada di dalam pundi-pundimu dua macam batu timbangan, yang besar dan yang kecil. Janganlah ada di dalam rumahmu dua macam efa, yang besar dan yang kecil. Haruslah ada padamu batu timbangan yang utuh dan tepat; haruslah ada padamu efa yang utuh dan tepat—supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Sebab setiap orang yang melakukan hal yang demikian, setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu."

    "Ingatlah apa yang dilakukan orang Amalek kepadamu pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir; bahwa engkau didatangi mereka di jalan dan semua orang lemah pada barisan belakangmu dihantam mereka, sedang engkau lelah dan lesu. Mereka tidak takut akan Allah. Maka apabila TUHAN, Allahmu, sudah mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada segala musuhmu di sekeliling, di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dimiliki sebagai milik pusaka, maka haruslah engkau menghapuskan ingatan kepada Amalek dari kolong langit. Janganlah lupa!"

    Ulangan 22:13–25:19 (TB)

    Ulangan 22:13–21. Pelanggaran seksual mendominasi rangkaian hukum berikutnya, dimulai dengan ketentuan untuk melindungi seorang perempuan yang dituduh secara tidak benar melakukan ketidaksetiaan sebelum menikah oleh suaminya yang baru, setelah sang suami memutuskan bahwa ia tidak ingin lagi bersamanya (seperti dalam 21:10–11). Namun kali ini, dampaknya bagi seluruh komunitas perjanjian sangatlah besar. Kehidupan umat Allah harus dibangun di atas kebenaran—tuduhan semacam itu mencemarkan nama baik sang perempuan, orang tuanya, dan seluruh komunitas asalnya. Berbeda secara unik dari konteks Timur Dekat Kuno, proses dalam ayat 13–19 dirancang untuk melindungi dan membebaskan sang perempuan (serta komunitasnya) dari tuduhan palsu. Ayah mempelai perempuan harus menunjukkan bukti keperawanannya (kemungkinan kain alas tempat tidur pengantin—kata ini biasanya berarti "jubah," tetapi seperti yang ditunjukkan Keluaran 22:26–27, kain itu juga dapat digunakan sebagai selimut tidur). Ketika para tua-tua melihat bukti tersebut (22:18), mereka harus menghukum cambuk sang suami, mewajibkannya membayar dua kali lipat maskawin yang lazim, serta mencabut haknya untuk menceraikan istrinya seumur hidup. Kebohongan semacam ini mengancam tatanan mendasar umat perjanjian. Namun, jika tuduhan itu terbukti benar, perempuan itu harus dihukum mati karena perzinaan di hadapan komunitas asalnya (yang "membiarkan" hal itu terjadi), karena perilaku tersebut menghantam jantung perjanjian sebagaimana yang telah kita lihat.

    Ulangan 22:22–30. Prinsip dasarnya (selaras dengan Hukum Ketujuh dalam Dasa Titah) dipaparkan dalam 22:22. Perzinaan adalah dosa yang sangat berat dan dijatuhi hukuman mati bagi kedua belah pihak. Hal ini sangat krusial bagi kelangsungan hidup Israel sebagai umat perjanjian. Namun bagaimana dengan kasus-kasus yang tidak begitu jelas? Tiga skenario berikutnya (22:23–24[^36], 25–27, dan 28–29) melibatkan seorang laki-laki lajang dengan seorang perempuan yang telah bertunangan di dalam kota, di padang terbuka, dan kemudian dengan seorang gadis perawan yang belum bertunangan. Mengingat latar budaya saat itu (di mana laki-laki dan perempuan pada umumnya tidak memiliki kesempatan untuk berduaan di bawah situasi normal), anggapannya adalah jika perbuatan itu terjadi di dalam kota, maka perempuan itu dianggap menyetujuinya, sehingga keduanya harus menghadapi hukuman yang sama seperti dalam 22:22. Namun, jika hal itu terjadi di luar kota (di padang), perempuan tersebut dianggap tidak bersalah dan hanya laki-laki itu yang harus dihukum mati. Dalam kedua kasus tersebut, isu utamanya adalah pelanggaran perjanjian yang menuntut hukuman mati. Sebaliknya, hubungan seksual pranikah di mana sang perempuan belum bertunangan menetapkan bahwa laki-laki itu harus membayar maskawin dan mereka harus menikah (tanpa kemungkinan untuk bercerai seumur hidup). Meskipun hukum-hukum ini singkat (sehingga mau tidak mau menyisakan beberapa pertanyaan tak terjawab), aturan-aturan ini secara konsisten diarahkan untuk melindungi kaum perempuan yang terlibat. Cukup mengejutkan pada titik ini menemukan larangan menikahi perempuan yang sebelumnya pernah menjadi istri ayahmu (tampaknya hal ini mengasumsikan seorang ayah dengan banyak istri, alih-alih membahas inses sedarah secara langsung). Frasa "menyingkapkan punca kain ayahnya" tidak sepenuhnya jelas maknanya, namun jelas mendatangkan aib bagi keluarga, dan dengan demikian bagi seluruh umat perjanjian.

    Ulangan 23:1–8. Hak masuk ke dalam jemaah umat perjanjian Allah ditutup bagi beberapa kelompok orang. Identifikasi orang-orang ini (beserta alasan di balik pengucilan mereka) tidak selalu dapat dipastikan, namun pesan utamanya jelas. Dalam 23:1, sasaran larangan ini kemungkinan besar adalah orang-orang yang terlibat dalam ritual ekstrem Kanaan (yang mungkin telah diisyaratkan dalam 14:1), dan pada ayat berikutnya, sebuah kata langka digunakan yang hanya muncul di sini dan dalam Zakharia 9:6 (mamzer / anak haram). Kata ini mungkin merujuk kepada keturunan dari "perkawinan campur" dengan bangsa-bangsa lain yang dilarang dalam ayat 3–8, atau, yang lebih mungkin, merujuk kepada anak-anak dari pelacur bakti kuil (sebagaimana dalam ayat 17–18), mengingat status pengucilan permanen mereka. Terlepas dari adanya hubungan kekerabatan dengan orang Amon dan Moab (melalui Lot), perlakuan buruk yang mereka timpakan kepada Israel "di tengah jalan" (lihat Bil. 22–24) mendiskualifikasi keturunan mereka dari keanggotaan umat perjanjian. Israel pun tidak boleh membiarkan masa lalu mereka mendorong mereka untuk membela bangsa-bangsa tersebut (23:6).[^37] Sebaliknya, orang Edom, keturunan Esau, harus diperlakukan sebagai "saudara," dengan implikasi bahwa setiap orang Edom yang berkehendak dapat menjadi anggota umat perjanjian (kemungkinan karena hubungan garis keturunan langsung dengan Abraham). Hal yang paling mengejutkan adalah bahwa orang Mesir tidak boleh dianggap keji, dan keturunan generasi ketiga mereka dapat diterima penuh sebagai bagian umat Israel, "sebab engkau pun dahulu adalah orang asing di negerinya" (23:7). Mengingat latar belakang pengasuhan Musa sendiri serta meningkatnya pengaruh suku Yusuf, bukanlah hal yang aneh jika empat puluh tahun setelah peristiwa Keluaran, muncul sikap yang lebih positif terhadap Mesir.

    Ulangan 23:9–14. Fokus kini beralih kepada pentingnya kemurnian ritual saat menjalankan ekspedisi militer (seperti perang yang akan segera dimulai). Musa mengasumsikan pemahaman audiensnya tentang pola pikir dan kategori-kategori dalam Kitab Imamat (Im. 15:1–33; lih. juga Bil. 5:1–4), dan secara ringkas menyinggung fakta bahwa keluarnya cairan mani pada malam hari membuat seorang prajurit harus berada di luar perkemahan hingga hari berikutnya (23:11). Buang hajat juga menjadi penyebab potensial kecemaran ritual, sehingga Musa menambahkan petunjuk yang sangat spesifik, mulai dari menentukan lokasi jamban di luar perkemahan, menggali lubang dengan sekop, berjongkok, hingga menutup kembali kotoran tersebut. Mengapa hal ini sangat penting? Karena, sebagai gaung dari Kejadian 3:8, Allah sendiri hadir dan berjalan di tengah-tengah perkemahan, sehingga tidak boleh ada sesuatu pun yang najis dibiarkan hadir yang dapat membuat-Nya berpaling—terlebih lagi karena kemenangan peperangan sepenuhnya bergantung pada kehadiran-Nya!

    Ulangan 23:15–16. Sangat kontras dengan hukum-hukum bangsa sezaman di sekitarnya, suaka perlindungan harus diberikan kepada budak-budak asing yang melarikan diri dan mencari perlindungan di Israel. Ketetapan ini mengalir dari fakta bahwa tidak ada perbudakan mutlak di tanah perjanjian, dan hak bagi mereka untuk bebas memilih tempat tinggal merupakan bentuk kemurahan hati yang luar biasa.

    Ulangan 23:17–18. Larangan terhadap praktik seksual kultus yang fasik di antara umat Allah (yang kemungkinan besar dikaitkan dengan tempat yang dipilih Allah) merupakan ungkapan dari keprihatinan yang sering disuarakan bahwa umat, cepat atau lambat, akan terjerumus ke dalam penyembahan berhala. Kebencian terhadap praktik ini dinyatakan dengan sangat tegas, di mana pelacur bakti laki-laki disamakan dengan "anjing" (semburit), dan seluruh penghasilan dari aktivitas cemar semacam itu dilarang keras digunakan untuk tujuan keagamaan apa pun.

    Ulangan 23:19–25. Bangsa Israel harus berfungsi layaknya sebuah keluarga besar, dengan adanya larangan memungut bunga dari "saudara sebangsa" (lihat juga Kel. 22:25–27; Im. 25:35–38). Kemurahan hati Allah kepada umat-Nya harus dicerminkan dalam interaksi mereka satu sama lain (meskipun pemungutan bunga diperbolehkan terhadap pedagang asing!), baik dalam transaksi uang maupun bahan makanan. Inilah cara hidup sebagai umat perjanjian janji Allah demi menikmati berkat-Nya. Membuat komitmen dalam bentuk apa pun tidak boleh dianggap sepele di tengah komunitas. Musa menegaskan bahwa bagi Israel, memberikan janji pada hakikatnya sama dengan mengucapkan nazar kepada Allah, yang wajib ditepati jika Israel ingin terhindar dari dosa (23:23; lihat juga peristiwa Ananias dan Safira dalam Kis. 5). Israel harus berbicara dengan integritas sebagaimana Allah telah berfirman kepada mereka. Inilah dasar bagi terciptanya rasa saling percaya yang melandasi ayat 24–25, yang mengizinkan setiap orang menikmati hasil bumi sesamanya (karena pada akhirnya tanah adalah milik kepunyaan Allah yang mutlak) tanpa berusaha mengeksploitasi sesama demi keuntungan materi pribadi. Inilah wujud nyata kebenaran dalam tindakan.

    Ulangan 24:1–7. Pembahasan tentang perceraian dalam 24:1–4 menimbulkan teka-teki dalam beberapa hal: realitas perceraian begitu saja diasumsikan terjadi; sulit membayangkan hal ini sebagai peristiwa yang lazim; situasi khusus tersebut digambarkan sebagai "kekejian," istilah yang biasanya diperuntukkan bagi perilaku najis bangsa Kanaan; dan tindakan itu dikatakan mendatangkan dosa ke atas negeri, sehingga merusak relasi Israel dengan Allah. Penjelasan paling sederhana adalah bahwa teks ini menggarisbawahi bahwa kebenaran dan integritas harus mencirikan kehidupan etis Israel dalam setiap ranah, termasuk pernikahan bahkan dalam kepedihan perceraian. Dalam kasus ini, sang perempuan harus dilindungi. Melakukan hal selain itu adalah pelanggaran perjanjian (sebagaimana Yeremia 3:1 memahami nas ini). Ayat 24:5 sangat mirip dengan 20:7–8, meskipun di sini penekanannya adalah pada kenikmatan positif pernikahan di mana masa "bulan madu" diperluas hingga pembebasan dari segala bentuk dinas militer dan tugas pelayanan publik. Menolak hak suami (atau istri) atas hal ini jelas merupakan kesalahan fatal, demikian pula halnya dengan "mengambil kilangan atau batu kilangan atas sebagai gadai" (24:6), yang merampas kemampuan seseorang untuk menggiling gandum dan memberi makan dirinya sendiri (serta keluarganya). Melangkah lebih jauh lagi, merampas kebebasan seorang saudara sebangsa dengan menculiknya dijatuhi hukuman mati. Kejahatan semacam itu tidak boleh ada di dalam keluarga Allah.

    Ulangan 24:8–9. Perubahan fokus yang tiba-tiba memperkenalkan penyakit kulit yang telah dibahas panjang lebar dalam Imamat 13 dan 14. Namun di sini, isu utamanya sesungguhnya adalah rasa hormat dan ketaatan terhadap otoritas (dalam hal ini, para imam orang Lewi), yang dipertegas dengan rujukan historis pada pemberontakan Miryam terhadap Musa dalam Bilangan 12:1–10.

    Ulangan 24:10–21. Mulai dari 24:10, Musa beralih ke kumpulan bahan hukum yang menghimpun berbagai perlindungan bagi kaum yang rentan dan kurang beruntung (terlepas apakah kemalangan itu akibat kesalahan mereka sendiri atau bukan). Dalam 24:10–11, orang-orang yang berutang tidak boleh dipermalukan (di dalam rumah mereka sendiri), melainkan harus diberi kesempatan untuk menyerahkan barang gadaian dengan bermartabat. Jika orang itu miskin, ia tidak boleh dirampas jubahnya yang berfungsi ganda sebagai selimut tidur. Kebaikan hati harus ditunjukkan kepadanya, yang akan membuahkan hubungan yang benar dengan sesama manusia ("ia akan memberkati engkau") dan dengan Allah sendiri ("engkau akan menjadi benar di hadapan TUHAN"). Para pekerja harian, apa pun latar belakang etnis mereka, harus diperlakukan dengan kebaikan dan tenggang rasa, bukannya dieksploitasi (24:15), sebagai wujud nyata dari kebenaran yang sama. Setiap individu harus bertanggung jawab atas dosanya sendiri (24:16), dan kaum rentan tidak boleh dirampas hak hukum atau perlindungannya, baik orang asing yang melintas, anak yatim, maupun janda. Semua ini mengalir secara wajar dari cara Allah memperlakukan Israel dalam peristiwa Keluaran (24:18, 22). Keuntungan dan produktivitas materi tidak boleh dikejar dengan mengorbankan kaum yang berkekurangan. Sebaliknya, kesengajaan untuk tidak memanen secara tuntas gandum, buah anggur, dan buah zaitun (24:19–21) menjadi jalan untuk beroleh berkat berkesinambungan dari TUHAN (sebagaimana terbukti dalam Rut 2). Bahkan mereka yang terbukti bersalah di pengadilan tetap dilindungi, di mana hukuman mereka dibatasi secara ketat hanya sebatas yang setimpal (25:1–4). Saudara sebangsa yang bersalah pun tidak boleh direndahkan harkat kemanusiaannya atau dipermalukan secara berlebihan. Pernyataan penutup dalam bagian ini terdengar seperti amsal—lembu yang bekerja keras tidak boleh dipaksa mencium bau makanan yang sedang diiriknya tanpa diizinkan memakannya—dan berfungsi sebagai ringkasan komitmen TUHAN terhadap keadilan bagi kaum yang lemah (Paulus mengangkat prinsip ini saat berbicara tentang pemeliharaan bagi para pengajar jemaat dalam 1Kor. 9:9 dan 1Tim. 5:18).[^38] Beban utama Musa adalah melihat kebenaran Allah mewujud nyata dalam seluruh kehidupan bangsa, khususnya dalam perlindungan terhadap kaum rentan berdasarkan karya penebusan dalam Keluaran.

    Ulangan 25:5–10. Kebenaran di Israel berarti memedulikan kaum yang rentan sekaligus memegang tanggung jawab keluarga dengan sangat sungguh-sungguh. Hal ini mencakup memastikan bahwa janda dari seorang saudara yang meninggal sebelum memiliki keturunan terpelihara dengan baik (25:5). Fokus hukum ini adalah menjamin kelangsungan "nama" saudara tersebut (dengan demikian mempertahankan warisan tanah dan keamanan ekonominya). Penolakan untuk memenuhi kewajiban perkawinan ipar (levirate marriage) ini akan mendatangkan penghinaan di depan umum (di hadapan para tua-tua) oleh janda saudaranya serta dicap aib yang melekat pada keluarganya (25:10). Kendati ketentuan ini terkesan asing bagi kita saat ini, ketetapan ini jelas merupakan tindakan kasih yang nyata untuk melindungi anggota perempuan dalam keluarga besar.

    Ulangan 25:11–12. Hal serupa dapat dikatakan mengenai intervensi yang digambarkan dalam 25:11! Dalam kasus ini, tindakan sang istri-lah yang memalukan, yaitu mencengkeram kemaluan laki-laki yang memukul suaminya. Tidak ada alasan spesifik yang dicantumkan untuk intervensi ini, namun hukumannya sangat keras secara unik.[^39] Perintah "janganlah engkau merasa sayang" telah muncul dalam 13:8; 19:13 dan 21, yang mengimplikasikan bahwa tindakan ini menghantam inti kelangsungan hidup umat perjanjian, yang mungkin berarti bahwa dalam kasus ini, terdapat upaya sengaja untuk memutus kemungkinan pria tersebut memperoleh keturunan. Hal ini menjelaskan mengapa peristiwa (yang kemungkinan sangat jarang terjadi!) ini dimasukkan pada bagian ini.

    Ulangan 25:13–16. "Kebenaran" juga menuntut penggunaan batu timbangan dan sukatan efa yang sepenuhnya tepat dan jujur ("benar") (25:15; lihat juga Im. 19:35–36), alih-alih menggunakan batu timbangan yang lebih ringan untuk menghitung utang diri sendiri dan batu yang lebih berat untuk menakar apa yang menjadi hak orang lain. Inilah jalan berkat yang pantas bagi umat perjanjian. Berbuat curang dan menipu satu sama lain adalah cara hidup bangsa-bangsa fasik.

    Ulangan 25:17–19. Keluaran 17:8–16 (lihat juga Bil. 14:43–45) menjadi latar belakang bagi perintah penutup dari kumpulan utama hukum Taurat ini. Israel harus hidup dalam terang apa yang telah terjadi sebelumnya, yang dalam kasus ini berarti melaksanakan penghakiman Allah atas musuh-musuh yang pengecut, oportunistis, dan tidak takut akan Allah seperti bangsa Amalek. Saat mereka bersiap untuk memasuki negeri perjanjian, mereka mutlak harus bertindak dalam "kebenaran," baik itu berarti memperlakukan saudara sebangsa dengan adil, maupun melakukan dengan saksama apa yang diperintahkan Allah untuk menimpakan penghakiman-Nya atas bangsa-bangsa tertentu.

    Kesimpulan: Mempersembahkan Seluruh Kehidupan bagi Allah melalui Hasil Pertama dan Persepuluhan (26:1–19)

    "Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana, maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana. Dan sesampainya kepada imam yang ada pada waktu itu, haruslah engkau berkata kepadanya: Aku memberitahukan pada hari ini kepada TUHAN, Allahmu, bahwa aku telah masuk ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang kita untuk memberikannya kepada kita. Maka imam harus menerima bakul itu dari tanganmu dan meletakkannya di depan mezbah TUHAN, Allahmu.

    Kemudian engkau harus menyatakan di hadapan TUHAN, Allahmu, demikian: Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya. Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat, maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami. Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mujizat-mujizat. Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya TUHAN. Kemudian engkau harus meletakkannya di hadapan TUHAN, Allahmu; engkau harus sujud di hadapan TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau, orang Lewi dan orang asing yang ada di tengah-tengahmu bersukaria karena segala yang baik yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu dan kepada seisi rumahmu."

    "Apabila dalam tahun yang ketiga, tahun persembahan persepuluhan, engkau sudah selesai mengambil segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu, maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang. Dan haruslah engkau berkata di hadapan TUHAN, Allahmu: Telah kupindahkan persembahan kudus itu dari rumahku, juga telah kuberikan kepada orang Lewi, dan kepada orang asing, anak yatim dan kepada janda, tepat seperti perintah yang telah Kauberikan kepadaku. Tidak kulangkahi atau kulupakan sesuatu dari perintah-Mu itu. Pada waktu aku berkabung sesuatu tidak kumakan dari persembahan kudus itu, pada waktu aku najis sesuatu tidak kujauhkan dari padanya, juga sesuatu tidak kupersembahkan dari padanya kepada orang mati, tetapi aku mendengarkan suara TUHAN, Allahku, aku berbuat sesuai dengan segala yang Kauperintahkan kepadaku. Jenguklah dari tempat kediaman-Mu yang kudus, dari dalam sorga, dan berkatilah umat-Mu Israel, dan tanah yang telah Kauberikan kepada kami, seperti yang telah Kaujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang kami—suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya."

    "Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya."

    Ulangan 26:1–19 (TB)

    Ulangan 26:1–11. Pasal 26 mengangkat kembali banyak elemen dari pasal 12, saat umat dipanggil untuk pergi ke tempat yang dipilih oleh Allah guna bersukaria di hadapan hadirat-Nya, dan dengan demikian menjadi kesimpulan yang sangat tepat bagi bagian inti yang panjang dari khotbah Musa ini. Ritual hasil pertama berkaitan erat dengan Hari Raya Tujuh Minggu dan oleh sebab itu dapat saja dimasukkan ke dalam pasal 16 (atau bahkan di tempat penyebutannya dalam 18:4), namun Musa menahannya hingga saat ini demi efek retoris, karena ritual ini merangkum banyak tema utama kitab ini sejauh ini. Dua belas tindakan digambarkan—lima oleh penyembah, dua oleh imam, dan kemudian lima tindakan lagi oleh penyembah. Pada pusat upacara ini terdapat gagasan mengenai rasa syukur: Allah telah memberikan negeri tersebut (26:1, 2, 3), dan kini umat harus menyatakan ucapan syukur mereka, baik melalui persembahan ini maupun melalui "pengakuan" yang harus menyertainya. Pengakuan tersebut diawali dengan Yakub ("seorang Aram, seorang pengembara") dalam 26:5, yang membawa keluarganya ke Mesir dengan hasil bahwa mereka berkembang pesat sebagai penggenapan Kejadian 12:1–3. Ayat 6–8 mengingat kembali peristiwa Keluaran dalam istilah-istilah yang lazim.[^40] Penyembah kemudian harus mengucap syukur kepada Allah atas anugerah negeri yang berlimpah ruah tersebut, yang memampukan seluruh Israel untuk bersukaria bersama di hadapan hadirat Allah dalam "segala yang baik" yang telah Allah berikan kepada mereka, mencakup orang Lewi maupun orang asing. Inilah tampilan kebenaran Allah yang memikat dan inklusif (lihat 4:5–8).

    Ulangan 26:12–15. Penyerahan persembahan persepuluhan tiga tahunan telah dibahas dalam 14:28–29, namun kini Musa meninjau kembali ritual ini sebagai sebuah model ketaatan dalam tindakan nyata. Pengakuan dalam 26:13 menegaskan bahwa sang penyembah telah mendengarkan dan taat, dengan membagikan hasil tanahnya kepada orang Lewi yang tidak memiliki milik pusaka tanah, orang asing yang kurang beruntung, anak-anak yatim, dan para janda dari keluarga Allah. Harus dinyatakan dengan lantang dan jelas bahwa persembahan persepuluhan ini tidak tercemar oleh keterikatan dengan agama Kanaan (26:14). Ketaatan sepenuh hati ini kemudian menciptakan kondisi bagi Allah untuk terus memberkati umat-Nya di negeri-Nya dari "tempat kediaman-Nya yang kudus." Inilah gambaran tentang umat Allah di tanah Allah yang menjalani kehidupan yang indah dan benar sebagaimana telah Ia panggil dalam pasal-pasal sebelumnya.

    Ulangan 26:16–19. Musa tidak hanya meringkaskan tuntutan akan kebenaran, yang dipaparkan dengan begitu berkuasa dalam pasal 12–26 ("ketetapan dan peraturan ini"), melainkan juga pesan dari keseluruhan kitab ini. Pada momen tersebut, adalah tanggung jawab Israel untuk menanggapi dengan ketaatan sepenuh hati (sebagaimana dalam 6:4), mendengarkan Dia, dan melakukan tepat seperti yang Ia firmankan, terutama karena Israel adalah "umat kesayangan-Nya" (7:6), umat perjanjian janji. Jika mereka melakukan apa yang diperintahkan, mereka akan diangkat "untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat di atas segala bangsa" (suatu gagasan yang diantisipasi dalam Ul. 4:5–8 dan diangkat kembali dalam Yesaya 42:6 dan 49:6), sebagai umat yang "kudus bagi TUHAN, Allahmu." Bentuk "deklarasi ganda" ini menyerupai perjanjian kuno antarpemimpin yang "setara" (misalnya antara Ramses II dari Mesir dan Hattusili III dari Het),[^41] meskipun tidak sepenuhnya jelas siapa yang mengucapkan apa (atau kapan), karena Musa hanya meringkaskan situasi yang berlaku saat ini. Sangatlah jelas apa yang Allah tuntut dari umat-Nya dan apa yang Ia janjikan kepada umat-Nya. Satu-satunya persoalan yang tersisa adalah kesanggupan mereka untuk melaksanakannya.

    Dengan demikian, dalam Ulangan 12–26, Musa memberikan gambaran kebenaran yang paling lengkap dan paling luas cakupannya (yang dipahami dalam kerangka ibadah yang benar, relasi yang benar, dan perilaku yang benar) di seluruh Kitab Suci. Ini adalah gambaran memukau tentang kehidupan yang indah di hadirat Allah di dalam negeri-Nya. Mengembangkan Dasa Titah, Musa menerapkan dan mengilustrasikan seperti apa rupa kehidupan yang benar bersama Allah, memadukan perintah dengan bujukan, serta contoh-contoh dengan nasihat. Ini adalah kumpulan hukum yang tiada bandingnya di dunia kuno dalam hal cakupan, maksud, dan visinya.


    V. Musa Mengkhotbahkan Berkat dan Kutuk (27:1–28:68)

    Lagi Musa dan para tua-tua Israel memerintahkan kepada bangsa itu: "Berpeganglah pada segenap perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini. Dan pada hari kamu menyeberangi sungai Yordan ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka haruslah engkau menegakkan batu-batu besar, dan mengapurnya, lalu pada batu itu haruslah kautuliskan segala perkataan hukum Taurat ini, sesudah engkau menyeberang, supaya engkau masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, seperti yang dijanjikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu. Dan sesudah kamu menyeberangi sungai Yordan, maka haruslah batu-batu itu, yang telah kuperintahkan kepadamu pada hari ini, kamu tegakkan di gunung Ebal dan kaukapuri. Juga haruslah kaudirikan di sana mezbah bagi TUHAN, Allahmu, suatu mezbah dari batu yang tidak boleh kauolah dengan perkakas besi. Dari batu yang tidak dipahat haruslah kaudirikan mezbah TUHAN, Allahmu, itu dan di atasnya haruslah kaupersembahkan korban bakaran kepada TUHAN, Allahmu. Juga haruslah engkau mempersembahkan korban keselamatan, memakannya di sana dan bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu. Selanjutnya haruslah engkau menuliskan pada batu-batu itu segala perkataan hukum Taurat ini dengan jelas dan terang."

    Juga berbicaralah Musa dan imam-imam orang Lewi kepada seluruh orang Israel: "Diamlah dan dengarlah, hai orang Israel. Pada hari ini engkau telah menjadi umat TUHAN, Allahmu. Sebab itu engkau harus mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini."

    Pada hari itu Musa memberi perintah kepada bangsa itu: "Sesudah kamu menyeberangi sungai Yordan, maka mereka inilah yang harus berdiri di gunung Gerizim untuk memberkati bangsa itu, yakni suku Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Yusuf dan Benyamin. Dan mereka inilah yang harus berdiri di gunung Ebal untuk mengutuki, yakni suku Ruben, Gad, Asyer, Zebulon, Dan serta Naftali. Maka haruslah orang-orang Lewi mulai bicara dan mengatakan kepada seluruh orang Israel dengan suara nyaring:

    Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi TUHAN, buatan tangan seorang tukang, dan yang mendirikannya dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah menjawab: Amin!

    Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu dan bapanya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

    Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

    Terkutuklah orang yang membawa seorang buta ke jalan yang sesat. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

    Terkutuklah orang yang memperkosa hak orang asing, anak yatim dan janda. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

    Terkutuklah orang yang tidur dengan isteri ayahnya, sebab ia telah menyingkapkan punca kain ayahnya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

    Terkutuklah orang yang tidur dengan binatang apapun. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

    Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak ayah atau anak ibunya. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

    Terkutuklah orang yang tidur dengan mertuanya perempuan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

    Terkutuklah orang yang membunuh sesamanya manusia dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!

    Terkutuklah orang yang menerima suap untuk membunuh seseorang yang tidak bersalah. Dan seluruh bangsa itu harus berkata: Amin!

    Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin!"

    "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:

    Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang.

    Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu.

    Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu.

    Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar.

    TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu. TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. TUHAN akan menetapkan engkau sebagai umat-Nya yang kudus, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu, jika engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. Maka segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu. Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu—di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu. TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman. TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."

    "Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau:

    Terkutuklah engkau di kota dan terkutuklah engkau di ladang.

    Terkutuklah bakulmu dan tempat adonanmu.

    Terkutuklah buah kandunganmu, hasil bumimu, anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu.

    Terkutuklah engkau pada waktu masuk dan terkutuklah engkau pada waktu keluar.

    TUHAN akan mendatangkan kutuk, huru-hara dan penghajaran ke antaramu dalam segala usaha yang kaukerjakan, sampai engkau punah dan binasa dengan segera karena jahat perbuatanmu, sebab engkau telah meninggalkan Aku. TUHAN akan melekatkan penyakit sampar kepadamu, sampai dihabiskannya engkau dari tanah, ke mana engkau pergi untuk mendudukinya. TUHAN akan menghajar engkau dengan batuk kering, demam, demam kepialu, sakit radang, kekeringan, hama dan penyakit gandum; semuanya itu akan memburu engkau sampai engkau binasa. Juga langit yang di atas kepalamu akan menjadi tembaga dan tanah yang di bawahpun menjadi besi. TUHAN akan menurunkan hujan abu dan debu ke atas negerimu; dari langit akan turun semuanya itu ke atasmu, sampai engkau punah.

    TUHAN akan membiarkan engkau terpukul kalah oleh musuhmu. Bersatu jalan engkau akan keluar menyerang mereka, tetapi bertujuh jalan engkau akan lari dari depan mereka, sehingga engkau menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi. Mayatmu akan menjadi makanan segala burung di udara serta binatang-binatang di bumi, dengan tidak ada yang mengganggunya. TUHAN akan menghajar engkau dengan barah Mesir, dengan borok, dengan kedal dan kudis, yang dari padanya engkau tidak dapat sembuh. TUHAN akan menghajar engkau dengan kegilaan, kebutaan dan kehilangan akal, sehingga engkau meraba-raba pada waktu tengah hari, seperti seorang buta meraba-raba di dalam gelap; perjalananmu tidak akan beruntung, tetapi engkau selalu diperas dan dirampasi, dengan tidak ada seorang yang datang menolong.

    Engkau akan bertunangan dengan seorang perempuan, tetapi orang lain akan menidurinya. Engkau akan mendirikan rumah, tetapi tidak akan mendiaminya. Engkau akan membuat kebun anggur, tetapi tidak akan mengecap hasilnya. Lembumu akan disembelih orang di depan matamu, tetapi engkau tidak akan memakan dagingnya. Keledaimu akan dirampas dari depanmu, dan tidak akan dikembalikan kepadamu. Kambing dombamu akan diberikan kepada musuhmu dengan tidak ada orang yang datang menolong engkau. Anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan akan diserahkan kepada bangsa lain, sedang engkau melihatnya dengan matamu sendiri, dan sehari-harian engkau rindu kepada mereka, dengan tidak dapat berbuat apa-apa. Suatu bangsa yang tidak kaukenal akan memakan hasil bumimu dan segala hasil jerih payahmu; engkau akan selalu ditindas dan diinjak. Engkau akan menjadi gila karena apa yang dilihat matamu. TUHAN akan menghajar engkau dengan barah jahat, yang dari padanya engkau tidak dapat sembuh, pada lutut dan pahamu, bahkan dari telapak kakimu sampai kepada batu kepalamu.

    TUHAN akan membawa engkau dengan raja yang kauangkat atasmu itu kepada suatu bangsa yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu; di sanalah engkau akan beribadah kepada allah lain, kepada kayu dan batu. Engkau akan menjadi kedahsyatan, kiasan dan sindiran di antara segala bangsa, ke mana TUHAN akan menyingkirkan engkau. Banyak benih yang akan kaubawa ke ladang, tetapi sedikit hasil yang akan kaukumpulkan, sebab belalang akan menghabiskannya. Kebun-kebun anggur akan kaubuat dan kauusahakan, tetapi engkau tidak akan meminum atau menyimpan anggur, sebab ulat akan memakannya. Pohon-pohon zaitun akan kaupunyai di seluruh daerahmu, tetapi engkau tidak akan berurap dengan minyaknya; sebab buah zaitunmu akan gugur. Engkau akan mendapat anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan, tetapi mereka bukan bagi dirimu, sebab mereka akan menjadi tawanan. Segala pohon-pohonmu dan hasil bumimu akan diduduki oleh kawanan belalang. Orang asing yang ada di tengah-tengahmu akan menjadi makin tinggi mengatasi engkau, tetapi engkau menjadi makin rendah. Ia akan memberi pinjaman kepadamu, tetapi engkau tidak akan memberi pinjaman kepadanya; ia akan menjadi kepala, tetapi engkau akan menjadi ekor.

    Segala kutuk itu akan datang ke atasmu, memburu engkau dan mencapai engkau, sampai engkau punah, karena engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu dan tidak berpegang pada perintah dan ketetapan yang diperintahkan-Nya kepadamu; semuanya itu akan menjadi tanda dan mujizat di antaramu dan di antara keturunanmu untuk selamanya." "Karena engkau tidak mau menjadi hamba kepada TUHAN, Allahmu, dengan sukacita dan gembira hati walaupun kelimpahan akan segala-galanya, maka dengan menanggung lapar dan haus, dengan telanjang dan kekurangan akan segala-galanya engkau akan menjadi hamba kepada musuh yang akan disuruh TUHAN melawan engkau. Ia akan membebankan kuk besi ke atas tengkukmu, sampai engkau dipunahkan-Nya.

    TUHAN akan mendatangkan kepadamu suatu bangsa dari jauh, dari ujung bumi, seperti rajawali yang datang menyambar; suatu bangsa yang bahasanya engkau tidak mengerti, suatu bangsa yang garang mukanya, yang tidak menghiraukan orang tua-tua dan tidak merasa kasihan kepada anak-anak; yang akan memakan habis hasil ternakmu dan hasil bumimu, sampai engkau punah; yang tidak akan meninggalkan bagimu gandum, air anggur atau minyak, ataupun anak lembu sapimu atau anak kambing dombamu, sampai engkau dibinasakannya. Engkau akan ditekannya di segala tempatmu, sampai runtuh tembok-tembokmu yang tinggi dan berkubu, yang kaupercayai itu di seluruh negerimu, bahkan engkau akan ditekan di dalam segala tempatmu, di seluruh negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

    Dan engkau akan memakan buah kandunganmu, yakni daging anak-anakmu lelaki dan anak-anakmu perempuan yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu,—dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu. Dan orang laki-laki yang paling lemah dan paling manja di antaramu akan kesal terhadap saudaranya atau terhadap isterinya sendiri atau terhadap anak-anaknya yang masih tinggal padanya, sehingga kepada salah seorang dari mereka itu ia tidak mau memberikan sedikitpun dari daging anak-anaknya yang dimakannya, karena tidak ada lagi sesuatu yang ditinggalkan baginya, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu di segala tempatmu. Perempuan yang lemah dan manja di antaramu, yang tidak pernah mencoba menjejakkan telapak kakinya ke tanah karena sifatnya yang manja dan lemah itu, akan kesal terhadap suaminya sendiri atau terhadap anaknya laki-laki atau anaknya perempuan, karena uri yang keluar dari kandungannya ataupun karena anak-anak yang dilahirkannya; sebab karena kekurangan segala-galanya ia akan memakannya dengan sembunyi-sembunyi, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhmu kepadamu di dalam tempatmu.

    Jika engkau tidak melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat yang tertulis dalam kitab ini, dan engkau tidak takut akan Nama yang mulia dan dahsyat ini, yakni akan TUHAN, Allahmu, maka TUHAN akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu, dan kepada keturunanmu, yakni pukulan-pukulan yang keras lagi lama dan penyakit-penyakit yang jahat lagi lama. Ia akan mendatangkan pula segala wabah Mesir yang kautakuti itu kepadamu, sehingga semuanya itu melekat padamu. Juga berbagai-bagai penyakit dan pukulan, yang tidak tertulis dalam kitab Taurat ini, akan ditimbulkan TUHAN menimpa engkau, sampai engkau punah. Dari pada kamu hanya sedikit orang yang tertinggal, padahal kamu dahulu seperti bintang-bintang di langit banyaknya—karena engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.

    Seperti TUHAN bergirang karena kamu untuk berbuat baik kepadamu dan membuat kamu banyak, demikianlah TUHAN akan bergirang karena kamu untuk membinasakan dan memunahkan kamu, dan kamu akan dicabut dari tanah, ke mana engkau pergi untuk mendudukinya. TUHAN akan menyerakkan engkau ke antara segala bangsa dari ujung bumi ke ujung bumi; di sanalah engkau akan beribadah kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, yakni kepada kayu dan batu. Engkau tidak akan mendapat ketenteraman di antara bangsa-bangsa itu dan tidak akan ada tempat berjejak bagi telapak kakimu; TUHAN akan memberikan di sana kepadamu hati yang gelisah, mata yang penuh rindu dan jiwa yang merana.

    Hidupmu akan terkatung-katung, siang dan malam engkau akan terkejut dan kuatir akan hidupmu. Pada waktu pagi engkau akan berkata: Ah, kalau malam sekarang! dan pada waktu malam engkau akan berkata: Ah, kalau pagi sekarang! karena kejut memenuhi hatimu, dan karena apa yang dilihat matamu. TUHAN akan membawa engkau kembali ke Mesir dengan kapal, melalui jalan yang telah Kukatakan kepadamu: Engkau tidak akan melihatnya lagi, dan di sana kamu akan menawarkan diri kepada musuhmu sebagai budak lelaki dan budak perempuan, tetapi tidak ada pembeli."

    Ulangan 27:1–28:68 (TB)

    Dalam babak akhir dari kitab ini, Kitab Ulangan mengambil peralihan teologis dan retoris yang signifikan, tatkala Musa menguraikan secara gamblang apa yang selama ini hanyalah berupa rasa kegelisahan yang mengganjal. Jurang pemisah antara apa yang Allah tuntut dan apa yang sanggup dilakukan oleh Israel kini tampak sepenuhnya di depan mata seiring dipaparkannya ritual yang harus dilaksanakan saat memasuki tanah perjanjian.

    Ulangan 27:1–8. Didampingi untuk pertama kalinya oleh para tua-tua, Musa mengulangi seruannya yang lantang untuk menaati "segenap perintah," dan melakukannya pada hari ini. Ketaatan setiap hari ini harus menjadi ciri khas kehidupan nasional sejak saat itu dan seterusnya, bahkan ketika bangsa itu menyeberangi sungai Yordan. Menurut ayat 3, batu-batu besar yang dilabur kapur harus dipersiapkan dan ditulisi perkataan "hukum Taurat ini," yang secara paling wajar merujuk pada pasal 12–26 ataupun keseluruhan pidato khotbah Musa. Batu-batu ini kemungkinan besar diambil dari Gunung Ebal yang kaya akan batu kapur, salah satu dari dua puncak berketinggian 1.000 meter (sekitar 3.000 kaki) di atas Sikhem di sebelah timur negeri itu di atas Lembah Yordan. Keseluruhan peristiwa ini menggemakan Keluaran 24:1–11. Lapisan kapur tersebut mudah dibuat dan ditulisi (atau dipahat), namun juga akan cepat terhapus oleh cuaca, menegaskan bahwa ini adalah ritual satu kali saja.[^42] Sebuah mezbah alami (Kel. 20:25, menghindari teknologi buatan "Kanaan") harus didirikan di sebelah batu-batu tersebut, dan bangsa itu harus mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan (atau persekutuan) di sana, bersukaria di hadapan hadirat TUHAN di tanah itu untuk pertama kalinya. Fungsi abadi dari batu-batu ini adalah membuat ketetapan-ketetapan Allah tidak hanya jelas melainkan juga mengikat, sehingga Israel tidak memiliki dalih apa pun jika mereka menyimpang darinya. Lokasi penempatannya di Gunung Ebal ("gunung kutukan" menurut uraian berikutnya) dapat menyiratkan bahwa batu-batu ini akan berfungsi sebagai surat dakwaan terhadap bangsa itu di tahun-tahun mendatang.

    Ulangan 27:9–10. Kali ini didampingi oleh para imam orang Lewi, Musa menyerukan kepada bangsa itu untuk "diam" dan mendengarkan (sebuah gema dari 6:4 dan bagian lainnya), sebagai sikap dasar dari mereka yang telah "menjadi umat TUHAN, Allahmu." Pentingnya kata "pada hari ini" dalam pasal ini semakin menjadi jelas.[^43] Allah telah berfirman (sebagaimana yang Ia lakukan pada "hari" di Horeb). Kini Israel telah menjadi dewasa rohani, dan setiap hari sejak saat itu harus menjadi hari untuk mendengarkan dan taat. Retorika yang semakin meninggi ini menciptakan rasa kegelisahan yang kian bertumbuh.

    Ulangan 27:11–26. Musa dan para imam kemudian kembali pada perincian ritual yang harus dilakukan di atas Sikhem saat memasuki tanah tersebut. Bangsa itu harus dibagi dua di atas dua gunung kembar: enam suku mendaki Gunung Gerizim (dilihat dari Sikhem, puncak di sebelah selatan/kiri) dan enam suku di Gunung Ebal. Pengelompokan suku-suku ini tidak dijelaskan, tetapi mencerminkan periode sebelum Yusuf dibagi menjadi Efraim dan Manasye. Pada titik ini, orang mungkin mengharapkan berkat dan kutuk akan diucapkan bersamaan (sebagaimana yang terjadi dalam pasal 28). Namun sebaliknya, orang Lewi justru mengucapkan daftar dua belas kutukan, yang secara jelas berpadanan dengan jumlah dua belas suku. Tidak sepenuhnya jelas apakah orang Lewi berbicara dari posisi kesukuan mereka ataukah dibagi menjadi dua kelompok (seperti yang sesungguhnya terjadi dalam Yos. 8:30–35). Isi dari kedua belas kutukan ini sangat menarik, mencakup beberapa isi Sepuluh Firman (penyembahan berhala, menghormati orang tua), namun lebih menonjolkan dorongan akan kebenaran "Ulanganik" (tidak menggeser batas tanah, tidak mengeksploitasi kaum rentan atau menerima suap, melainkan memelihara kesucian seksual, serta melakukan segala yang diperintahkan Allah). Ulangan 27:18, 21–22 mengangkat dosa-dosa (menyesatkan orang buta, persetubuhan dengan binatang/bestialitas, dan sumbang/inses) yang tidak disebutkan di bagian lain dalam kitab ini. Pada setiap ucapan kutuk, bangsa itu harus menyatakan "Amin" sebagai ikrar komitmen untuk taat. Hadirnya kutukan-kutukan ini memperkuat kesan yang kian mendalam bahwa Israel pada akhirnya akan memilih untuk tidak taat, sebuah kesan yang ditegaskan kembali dalam pasal 28.

    Ulangan 28:1–14. Melanjutkan apa yang telah diisyaratkan dalam ayat 27:13 dan 14, berkat dan kutuk yang harus diserukan oleh kedua kelompok suku di atas gunung-gunung tersebut kini diperinci. (Menurut Yosua 8, mereka melakukannya dengan saling berhadapan di lereng bawah lembah di antara Gunung Ebal dan Gerizim). Bagian berkat relatif singkat. Ulangan 28:1 mengangkat janji menyeluruh dari 26:19, menjanjikan keunggulan bagi Israel dalam tatanan kedaulatan Allah. Pertama, enam ucapan berkat diserukan, meliputi penduduk perkotaan maupun pedesaan (28:3), kesuburan manusia, hewan ternak, dan hasil bumi, pengolahan makanan rumah tangga (28:4–5), serta segala perincian aktivitas kehidupan (28:6). Tema berkat ini kemudian diuraikan lebih lanjut dalam ayat 7–14. Sebagaimana telah kita lihat dalam 26:16–19, kekudusan internal dan reputasi internasional Israel dijamin jika mereka taat (28:9–10). Janji-janji Allah kepada para leluhur yang terdahulu akan digenapi, negeri itu akan makmur berlimpah (lih. 11:11–14), dan bangsa itu akan berdiri tegak dengan terhormat di panggung internasional. Ungkapan arah yang cermat menyatakan bahwa mereka hanya akan terus naik (bukan turun) jika mereka tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri ke dalam penyembahan berhala. Bahasa kiasan mengenai "kepala" dan bukan "ekor" hanya muncul di dalam pasal ini (juga 28:44) dan Yesaya 9:14–15.[^44]

    Ulangan 28:15–68. Pola dalam 28:15–19 mencerminkan pola dalam 28:1–6, diawali dengan pernyataan mengenai konsekuensi dari ketidaksediaan untuk mendengarkan, yang diikuti oleh daftar enam kutukan. Urutannya sedikit berbeda, yang mungkin semata-mata bersumber dari gaya penyampaian lisan Musa yang luwes. Akan tetapi, banyaknya jumlah kutukan yang didaftarkan merupakan ciri paling mencolok dari pasal ini. Ulangan 28:20–24 diawali dengan kehancuran bangsa itu melalui wabah sampar pada manusia dan hewan ternak serta bencana kekeringan. Fokus beralih dalam 28:25 kepada musuh militer dari luar, yang akan menjadikan Israel sebagai contoh kengerian, di mana "mayat" mereka akan menjadi mangsa burung-burung bangkai. Seolah-olah keadaan belum cukup buruk, bangsa itu akan dihajar dengan "barah Mesir" dan penyakit kulit lainnya; penyakit jiwa/kegilaan, kebutaan, kehilangan akal/kebingungan, serta kesadaran tragis bahwa tidak ada seorang pun yang datang menolong (28:29). Dalam 28:30–35, gambaran yang dibayangkan meliputi kehilangan segala sesuatu dan terpaksa menyaksikannya sendiri: calon istri atau rumah yang baru dibangun akan direbut orang lain, hewan ternak disembelih, dan anak-anak dideportasi serta dijual menjadi budak. Semua ini secara kasat mata adalah perbuatan bangsa lain (28:33–34), namun di balik semua ini berdirilah TUHAN (Yahweh) sendiri (28:35)[^45], yang kemudian akan membawa mereka (beserta raja mereka) ke pembuangan, di mana mereka akan beribadah kepada allah-allah lain dan menjadi peringatan yang kelam bagi segala bangsa.[^46] Segala jerih lelah mereka secara harfiah tidak akan membuahkan hasil (28:38–42), karena serbuan belalang, ulat, serangga, dan bahkan penjarah asing yang menawan anak-anak mereka. Berkat dalam 28:13 akan berbalik total, dan bangsa itu akan menjadi tunduk kepada orang asing (28:44). Sebagaimana yang dilakukannya di sepanjang kitab ini, Musa tidak segan menyisipkan komentar mengenai apa yang mungkin terjadi—karena penolakan mereka untuk mendengarkanlah maka "tanda dan mukjizat" (penghakiman) ini kini menimpa Israel: ketiadaan sukacita mereka akan berujung pada kelaparan, kehausan, ketelanjangan, dan serba kekurangan, saat mereka dihancurkan di bawah kuk besi (28:48).

    Pelaku dari seluruh penghakiman ini beserta dampak kedatangannya digambarkan dengan bahasa yang sangat hidup dan mengerikan dalam 28:49–57. "Rajawali" ini akan menyambar turun, menyerang dengan kejam orang-orang dari segala usia dan memporak-porandakan negeri itu tanpa sisa. Israel akan dikepung dan kemudian dilahap (28:53) seiring tatanan sosial Israel runtuh dan ikatan "persaudaraan" Israel hanyut dalam gelombang keputusasaan yang ekstrem, di mana para ayah memakan daging anak-anak mereka sendiri dan para ibu memakan tembuni/uri mereka sendiri (28:55, 57). Dalam 28:58–68, seluruh kehancuran ini dicirikan sebagai sebuah "kembali ke Mesir." Janji-janji yang diberikan oleh Allah sejak zaman Adam hingga saat itu dibalikkan secara sistematis—pertumbuhan populasi, berkat hadirat TUHAN (Yahweh), dan bahkan kepemilikan atas tanah itu sendiri lenyap. Kemerdekaan dari peristiwa Keluaran digantikan oleh tulah dan penyakit-penyakit Mesir. "Kembalinya" bangsa ini secara metaforis akan membawa serta penyembahan berhala yang lebih parah, hilangnya "ketenteraman/perhentian" (28:65), dan ketakutan bukan kepada TUHAN (Yahweh) melainkan ketakutan terhadap kehidupan itu sendiri, tatkala mereka terpaksa berupaya sia-sia mencari tuan dan penguasa yang baru setelah mencampakkan Tuan mereka yang sejati.

    Terurainya janji Allah dalam pasal-pasal ini, serta kenyataan kutuk yang membayangi dan menenggelamkan berkat, memunculkan kesadaran yang semakin kuat bahwa cepat atau lambat, inilah yang akan menjadi nasib akhir bangsa Israel.


    VI. Musa Mengkhotbahkan Perjanjian Baru (29:1–30:20)

    Inilah perkataan perjanjian yang diikat Musa dengan orang Israel di tanah Moab sesuai dengan perintah TUHAN, selain perjanjian yang telah diikat-Nya dengan mereka di gunung Horeb.

    Musa memanggil seluruh orang Israel berkumpul, lalu berkata kepada mereka: "Sudah kamu lihat segala yang dilakukan TUHAN di tanah Mesir di depan matamu terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan terhadap seluruh negerinya: cobaan-cobaan yang besar yang telah dilihat oleh matamu sendiri, tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang besar itu. Tetapi sampai sekarang ini TUHAN tidak memberi kamu akal budi untuk mengerti atau mata untuk melihat atau telinga untuk mendengar. Empat puluh tahun lamanya Aku memimpin kamu berjalan melalui padang gurun; pakaianmu tidak menjadi rusak di tubuhmu, dan kasutmu tidak menjadi rusak di kakimu. Roti tidak kamu makan, anggur atau minuman yang memabukkan tidak kamu minum—supaya kamu tahu bahwa Akulah TUHAN, Allahmu. Ketika kamu sudah sampai ke tempat ini, maka keluarlah Sihon, raja Hesybon, dan Og, raja Basan, mendatangi kita untuk berperang, dan kita memukul mereka kalah, merebut negeri mereka dan memberikannya kepada orang Ruben, kepada orang Gad, dan kepada suku Manasye yang setengah itu menjadi milik pusaka mereka. Sebab itu lakukanlah perkataan perjanjian ini dengan setia, supaya kamu beruntung dalam segala yang kamu lakukan.

    Kamu sekalian pada hari ini berdiri di hadapan TUHAN, Allahmu: para kepala sukumu, para tua-tuamu dan para pengatur pasukanmu, semua laki-laki Israel, anak-anakmu, perempuan-perempuanmu dan orang-orang asing dalam perkemahanmu, bahkan tukang-tukang belah kayu dan tukang-tukang timba air di antaramu, untuk masuk ke dalam perjanjian TUHAN, Allahmu, yakni sumpah janji-Nya, yang diikat TUHAN, Allahmu, dengan engkau pada hari ini, supaya Ia mengangkat engkau sebagai umat-Nya pada hari ini dan supaya Ia menjadi Allahmu, seperti yang difirmankan-Nya kepadamu dan seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Bukan hanya dengan kamu saja aku mengikat perjanjian dan sumpah janji ini, tetapi dengan setiap orang yang ada di sini pada hari ini bersama-sama dengan kita, yang berdiri di hadapan TUHAN, Allah kita, dan juga dengan setiap orang yang tidak ada di sini pada hari ini bersama-sama dengan kita.

    Sebab kamu ini tahu, bagaimana kita diam di tanah Mesir dan bagaimana kita berjalan dari tengah-tengah segala bangsa yang negerinya kamu lalui, dan kamu sudah melihat dewa kejijikan dan berhala mereka, yakni kayu dan batu, emas dan perak itu, yang ada terdapat pada mereka. Sebab itu janganlah di antaramu ada laki-laki atau perempuan, kaum keluarga atau suku yang hatinya pada hari ini berpaling meninggalkan TUHAN, Allah kita, untuk pergi berbakti kepada allah bangsa-bangsa itu; janganlah di antaramu ada akar yang menghasilkan racun atau ipuh. Tetapi apabila seseorang pada waktu mendengar perkataan sumpah serapah ini menyangka dirinya tetap diberkati, dengan berkata: Aku akan selamat, walaupun aku berlaku degil—dengan demikian dilenyapkannya baik tanah yang kegenangan maupun yang kekeringan— maka TUHAN tidak akan mau mengampuni orang itu, tetapi murka dan cemburu TUHAN akan menyala atasnya pada waktu itu; segenap sumpah serapah yang tertulis dalam kitab ini akan menghinggapi dia, dan TUHAN akan menghapuskan namanya dari kolong langit. TUHAN akan memisahkan orang itu dari segala suku Israel supaya dia mendapat celaka, sesuai dengan segala sumpah serapah perjanjian yang tertulis dalam kitab hukum Taurat ini. Maka keturunan yang akan datang, yakni anak-anakmu yang bangkit sesudah kamu, dan orang asing yang datang dari negeri jauh akan berkata—apabila mereka melihat hajaran dan penyakit yang dijatuhkan TUHAN ke negeri itu, seluruh tanahnya yang telah hangus oleh belerang dan garam, yang tidak ditaburi, tidak menumbuhkan apa-apa dan tidak ada tumbuh-tumbuhan apapun yang timbul dari padanya, seperti pada waktu ditunggangbalikkan-Nya Sodom, Gomora, Adma dan Zeboim, yakni yang ditunggangbalikkan TUHAN dalam murka dan kepanasan amarah-Nya— bahkan segala bangsa akan berkata: Apakah sebabnya TUHAN berbuat demikian kepada negeri ini? Apakah artinya murka yang hebat bernyala-nyala ini? Maka orang akan menjawab: Sebab mereka itu telah melalaikan perjanjian TUHAN, Allah nenek moyang mereka, yakni perjanjian yang diikat-Nya dengan mereka ketika mereka dibawa-Nya keluar dari tanah Mesir, dan sebab mereka itu sudah pergi berbakti kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, yakni allah yang tidak dikenal mereka dan yang tidak diberikan TUHAN kepada mereka sebagai bagiannya. Itulah sebabnya murka TUHAN bangkit terhadap negeri ini, sehingga didatangkan ke atasnya segala kutuk yang tertulis dalam kitab ini: TUHAN telah menyentakkan mereka dari tanah mereka dalam murka dan kepanasan amarah dan gusar-Nya yang hebat, lalu melemparkan mereka ke negeri lain, seperti yang terjadi sekarang ini. Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini."

    "Maka apabila segala hal ini berlaku atasmu, yakni berkat dan kutuk yang telah kuperhadapkan kepadamu itu, dan engkau menjadi sadar dalam hatimu di tengah-tengah segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, menghalau engkau, dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau. Sekalipun orang-orang yang terhalau dari padamu ada di ujung langit, dari sanapun TUHAN, Allahmu, akan mengumpulkan engkau kembali dan dari sanapun Ia akan mengambil engkau. TUHAN, Allahmu, akan membawa engkau masuk ke negeri yang sudah dimiliki nenek moyangmu, dan engkaupun akan memilikinya pula. Ia akan berbuat baik kepadamu dan membuat engkau banyak melebihi nenek moyangmu. Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup. TUHAN, Allahmu, akan menjatuhkan segala sumpah serapah itu kepada musuhmu dan pembencimu, yang telah mengejar engkau. Engkau akan mendengarkan kembali suara TUHAN dan melakukan segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini. TUHAN, Allahmu, akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam segala pekerjaanmu, dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu, sebab TUHAN, Allahmu, akan bergirang kembali karena engkau dalam keberuntunganmu, seperti Ia bergirang karena nenek moyangmu dahulu— apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."

    "Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.

    Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya. Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya. Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka."

    Ulangan 29:1–30:20 (TB)

    Pasal-pasal ini membawa kita kepada puncak khotbah Musa dan jantung teologis dari seluruh kitab ini. Memahami bagian kitab ini membukakan perspektif teologi-alkitabiah Musa yang begitu luas dan meletakkan fondasi bagi bagian Perjanjian Lama selanjutnya serta kedatangan Kristus dalam Perjanjian Baru.

    Ulangan 29:1. Inilah satu-satunya tempat di dalam Alkitab di mana "perjanjian di tanah Moab" dinamai secara eksplisit (meskipun ini semata-mata merupakan penegasan dari pengajaran Musa, misalnya dalam 5:2–3). Ini merupakan pembaruan atau penyegaran kembali dari perjanjian di Horeb, di mana Allah memanggil umat tebusan-Nya untuk hidup kudus (mis. Kel. 19:6) dan menetapkan arah bagi masa depan umat perjanjian di tanah tersebut, dengan memilih untuk mendengarkan Allah "pada hari ini."

    Ulangan 29:2–9. Namun, terdapat satu ciri baru dari perjanjian di tanah Moab—pengulangan perjanjian kali ini mengakui bahwa pada akhirnya, perjanjian ini tidak sanggup memberikan apa yang dijanjikannya. Setelah mengingatkan mereka sekali lagi mengenai intervensi Allah yang dramatis dalam peristiwa Keluaran, Musa berkata, "Tetapi sampai sekarang ini TUHAN tidak memberi kamu akal budi untuk mengerti atau mata untuk melihat atau telinga untuk mendengar" (29:4). Untuk pertama kalinya dinyatakan secara gamblang bahwa mendengarkan, melihat, dan memercayai sesungguhnya berada di luar kesanggupan Israel. Tanpa jeda, Musa terus mengulang kembali kebaikan Allah di padang gurun (seperti dalam 8:4), menyinggung manfaat rohani dari pola makan di padang gurun berupa manna daripada roti dan anggur biasa, serta mengingatkan mereka akan mudahnya penaklukan wilayah Transyordan, sebagai latihan awal sebelum merebut tanah perjanjian. Ketegangan ini merupakan inti dari pesan kitab ini.

    Ulangan 29:10–29. Musa kemudian berbicara mengenai perjanjian yang baru ini, yang sedang diteguhkan dengan seluruh bangsa Israel tanpa terkecuali, hingga kepada mereka—yang kemungkinan merupakan bagian dari orang-orang dari berbagai bangsa yang turut keluar dari Mesir—yang membelah kayu dan menimba air (29:11–12). Tujuan dari perjanjian yang segar ini adalah "supaya Ia mengangkat engkau sebagai umat-Nya pada hari ini dan supaya Ia menjadi Allahmu, seperti yang difirmankan-Nya kepadamu dan seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub" (29:13). Dengan kata lain, tujuannya selaras dengan janji-janji Allah terdahulu dan menjadi paradigmatis bagi apa yang akan datang, sebagaimana diperjelas dalam 29:14–15. Perjanjian Moab yang senantiasa aktual ini menjadi kunci bagi kehidupan di tanah itu bagi generasi-generasi mendatang. Pengalaman di Mesir dan bangsa-bangsa di sepanjang perjalanan menuju tanah tersebut (terutama berbagai berhala mereka) seharusnya meyakinkan Israel untuk hidup sepenuh hati bagi Allah. Di bawah syarat-syarat perjanjian ini, bahkan satu individu yang komitmennya mulai goyah merupakan ancaman bagi kelangsungan hidup segenap bangsa. "Akar yang menghasilkan racun atau ipuh" (29:18) ini harus diisolasi dan ditangani secara tegas. Kecongkakannya ("Aku akan selamat, walaupun aku berlaku degil") akan mendatangkan dampak menyeluruh (secara tidak lazim diungkapkan dengan: "baik tanah yang kegenangan maupun yang kekeringan"). Ia bukan saja akan menghadapi murka dan cemburu Allah serta segala kutuk perjanjian, melainkan juga namanya akan "dihapuskan dari kolong langit" (lih. mis. Kej. 7:23 mengenai penghakiman pada air bah, dan Mzm. 9:6; 69:29; 109:13–14). Namun, akibat dari penyembahan berhala tidak hanya terbatas pada pelaku awalnya saja. Para pelawat asing maupun generasi penerus akan sama-sama menyaksikan kehancuran tersebut, sebagai bukti nyata penghakiman Allah seperti atas Sodom dan Gomora (Kej. 19).[^47] Jikalau perjanjian ini dilanggar, bangsa-bangsa lain akan menjadi saksi dari tragedi ini seraya bertanya, "Apakah sebabnya TUHAN berbuat demikian kepada negeri ini? Apakah artinya murka yang hebat bernyala-nyala ini?" (29:24). Musa memberikan jawabannya terlebih dahulu: pelanggaran perjanjianlah penyebabnya, karena mereka telah beribadah kepada allah-allah lain (29:26). Sekali lagi, kutuk perjanjian menjadi sorotan utama, di mana Musa membayangkan suatu hari ketika TUHAN dibangkitkan murka-Nya, perjanjian dilanggar, dan tanah itu hilang (29:27–28). Pernyataan yang tampaknya terselubung dalam 29:29 berbicara mengenai "hal-hal yang tersembunyi" dan "hal-hal yang dinyatakan" bagi generasi di Moab dan mereka yang menyusul kemudian. "Hal-hal yang dinyatakan" paling tepat dipahami sebagai isi dari perjanjian di Moab, sebagai kulminasi dari segala yang telah disampaikan Musa dalam khotbah-khotbahnya ini. Perkataan-perkataan ini harus didengarkan dan dilakukan. Dan "hal-hal yang tersembunyi"? Hal itu paling wajar merujuk pada peristiwa-peristiwa masa depan yang telah diisyaratkan oleh Musa, termasuk apa yang segera akan ia uraikan dalam pasal 30.

    Ulangan 30:1–10. Setelah memperingatkan tentang kemungkinan kehilangan tanah akibat penyembahan berhala, Musa berbicara mengenai masa depan yang jauh dalam bagian yang paling luar biasa di seluruh kitab ini.[^48] Untuk pertama kalinya, dinyatakan secara eksplisit bahwa Israel akan mengalami baik berkat maupun kutuk dari perjanjian tersebut (secara harfiah "segala hal ini", 30:1), menyiratkan bahwa mereka tidak akan sanggup mempertahankan ketaatan dan cepat atau lambat akan kehilangan tanah itu. Musa juga berbicara mengenai hari ketika mereka "berbalik" kepada Allah dan taat sebagaimana mereka dipanggil dalam 6:4. Pada hari itu, Allah akan "memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau", membawa mereka pulang ke tanah tersebut untuk mengecap tingkat berkat yang bahkan jauh lebih besar daripada sebelumnya (30:5). Bagaimanakah pembalikan keadaan yang menyeluruh dalam setiap dimensi relasi perjanjian ini dapat dijelaskan? Tepat di jantung perikop yang disusun dengan sangat cermat ini terdapat pernyataan yang menjelaskan bagaimana semua ini dapat terjadi: "Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup" (30:6). Dalam 10:16, Israel dipanggil untuk menyunat hati mereka. Pada hari yang jauh di masa depan tersebut, Allah sendiri yang akan melakukannya bagi mereka. Intervensi anugerah yang dramatis ini akan membalikkan segala yang telah terjadi: kutuk akan berbalik menimpa musuh-musuh mereka (30:7). Ketaatan akan menjadi hal yang wajar, kemakmuran akan dipulihkan, dan Allah akan kembali bergirang dalam memberkati umat-Nya (30:8–10).

    Ulangan 30:11–14. Petunjuk Musa dalam 30:11–14 paling tepat dipahami bersamaan dengan 30:1–10. Ini adalah perkataan yang baru akan dapat diucapkan di bawah tatanan yang baru tersebut (yang setara dengan perjanjian baru, meskipun belum secara eksplisit diberi nama itu hingga Yeremia 31:31) setelah Allah menyunat hati umat-Nya. Pada saat itulah dan hanya pada saat itulah (hanya pada hari itu) dapat dikatakan bahwa "perintah ini" (seluruh hukum Taurat) tidak terlalu sukar bagimu untuk kamu jalani (30:11). Hanya sesudah Allah mengintervensi, barulah "firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan" (30:14). Musa sedang berbicara secara profetis mengenai apa yang dinyatakan lebih lengkap di kemudian hari dalam Perjanjian Lama dan selanjutnya di dalam Tuhan Yesus, Sang Pribadi yang menetapkan perjanjian baru melalui kematian-Nya (Luk. 22:20). Inilah tepatnya bagaimana ayat-ayat ini dibaca dan dipahami oleh Paulus dalam Roma 10:5–13.

    Ulangan 30:15–20. Kata "ingatlah" (secara harfiah "lihatlah") digunakan di sini sebagai penanda untuk membawa bangsa Israel kembali ke masa kini yang nyata (sebagaimana digunakan pada titik-titik penting dalam pidato khotbah Musa di 1:8; 4:5 dan 11:26, lih. juga laporan di 1:21; 2:24, 31; 3:27). Pilihan antara berkat dan kutuk kini dipertajam menjadi pilihan antara kehidupan dan kematian atau keberuntungan/kebaikan dan kecelakaan/kejahatan. Sifat tanpa syarat (unconditionality) dari 30:1–14 kini digantikan kembali dengan persyaratan (conditionality)—hanya ketaatan penuh yang dapat menghasilkan berkat dan penggenapan janji. Segala sesuatu yang kurang dari itu sama saja dengan penyembahan berhala dan akan berujung pada bencana serta masa tinggal yang sangat singkat di tanah tersebut (30:18). Sebagaimana dalam 4:26 (dan 31:28), segenap kosmos dihadirkan untuk menjadi saksi atas pilihan yang telah secara jelas dibentangkan di hadapan mereka, sebelum Musa mendesak mereka untuk "memilih kehidupan", dengan mengasihi, mendengarkan, dan berpaut pada Allah, sebagai kunci untuk menikmati kehidupan yang dijanjikan di tanah perjanjian bersama dengan Dia yang adalah "hidupmu."

    Pasal-pasal ini sepenuhnya mengalibrasi ulang pesan kitab ini. Ketaatan yang memang sewajarnya dituntut oleh Allah, dan yang dengan penuh semangat dikhotbahkan oleh Musa, ternyata berada di luar jangkauan kesanggupan Israel. Namun, Allah telah berkomitmen untuk melakukan apa yang perlu demi memampukan orang-orang seperti kita untuk hidup bagi-Nya—Ia telah berjanji untuk memperbarui hati kita melalui suatu perjanjian baru yang akan datang.


    VII. Catatan Tambahan 1: Ketidakelakan Kegagalan (31:1–32:47)

    Kemudian pergilah Musa, lalu mengatakan segala perkataan ini kepada seluruh orang Israel. Berkatalah ia kepada mereka: "Aku sekarang berumur seratus dua puluh tahun; aku tidak dapat giat lagi, dan TUHAN telah berfirman kepadaku: Sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi. TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu; Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa itu dari hadapanmu, sehingga engkau dapat memiliki negeri mereka; Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN. Dan TUHAN akan melakukan terhadap mereka seperti yang dilakukan-Nya terhadap Sihon dan Og, raja-raja orang Amori, yang telah dipunahkan-Nya itu, dan terhadap negeri mereka. TUHAN akan menyerahkan mereka kepadamu dan haruslah kamu melakukan kepada mereka tepat seperti perintah yang kusampaikan kepadamu. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."

    Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya. Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."

    Setelah hukum Taurat itu dituliskan Musa, maka diberikannyalah kepada imam-imam bani Lewi, yang mengangkut tabut perjanjian TUHAN, dan kepada segala tua-tua Israel. Dan Musa memerintahkan kepada mereka, demikian: "Pada akhir tujuh tahun, pada waktu yang telah ditetapkan dalam tahun penghapusan hutang, yakni hari raya Pondok Daun, apabila seluruh orang Israel datang menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya, maka haruslah engkau membacakan hukum Taurat ini di depan seluruh orang Israel. Seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak, dan orang asing yang diam di dalam tempatmu, supaya mereka mendengarnya dan belajar takut akan TUHAN, Allahmu, dan mereka melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini, dan supaya anak-anak mereka, yang tidak mengetahuinya, dapat mendengarnya dan belajar takut akan TUHAN, Allahmu, —selama kamu hidup di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya."

    Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya sudah dekat waktunya bahwa engkau akan mati; maka panggillah Yosua dan berdirilah bersama-sama dengan dia dalam Kemah Pertemuan, supaya Aku memberi perintah kepadanya." Lalu pergilah Musa dan Yosua berdiri dalam Kemah Pertemuan. Dan TUHAN menampakkan diri di kemah itu dalam tiang awan, dan tiang awan itu berdiri pada pintu kemah. TUHAN berfirman kepada Musa: "Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari perjanjian-Ku yang Kuikat dengan mereka. Pada waktu itu murka-Ku akan bernyala-nyala terhadap mereka, Aku akan meninggalkan mereka dan menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, sehingga mereka termakan habis dan banyak kali ditimpa malapetaka serta kesusahan. Maka pada waktu itu mereka akan berkata: Bukankah malapetaka itu menimpa kita, oleh sebab Allah kita tidak ada di tengah-tengah kita? Tetapi Aku akan menyembunyikan wajah-Ku sama sekali pada waktu itu, karena segala kejahatan yang telah dilakukan mereka: yakni mereka telah berpaling kepada allah lain. Oleh sebab itu tuliskanlah nyanyian ini dan ajarkanlah kepada orang Israel, letakkanlah di dalam mulut mereka, supaya nyanyian ini menjadi saksi bagi-Ku terhadap orang Israel. Sebab Aku akan membawa mereka ke tanah yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka, yakni tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya; mereka akan makan dan kenyang dan menjadi gemuk, tetapi mereka akan berpaling kepada allah lain dan beribadah kepadanya. Aku ini akan dinista mereka dan perjanjian-Ku akan diingkari mereka. Maka apabila banyak kali mereka ditimpa malapetaka serta kesusahan, maka nyanyian ini akan menjadi kesaksian terhadap mereka, sebab nyanyian ini akan tetap melekat pada bibir keturunan mereka. Sebab Aku tahu niat yang dikandung mereka pada hari ini, sebelum Aku membawa mereka ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka." Maka Musa menuliskan nyanyian ini dan mengajarkannya kepada orang Israel.

    Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau."

    Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian TUHAN, demikian: "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati. Suruhlah berkumpul kepadaku segala tua-tua sukumu dan para pengatur pasukanmu, maka aku akan mengatakan hal yang berikut kepada mereka dan memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap mereka. Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu." Lalu Musa menyampaikan ke telinga seluruh jemaah Israel nyanyian ini sampai perkataan yang penghabisan.

    "Pasanglah telingamu, hai langit, aku mau berbicara, dan baiklah bumi mendengarkan ucapan mulutku. Mudah-mudahan pengajaranku menitik laksana hujan, perkataanku menetes laksana embun, laksana hujan renai ke atas tunas muda, dan laksana dirus hujan ke atas tumbuh-tumbuhan. Sebab nama TUHAN akan kuserukan: Berilah hormat kepada Allah kita, Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia. Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit. Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap TUHAN, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau?

    Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu. Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel. Tetapi bagian TUHAN ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya. Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya. Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia, dan tidak ada allah asing menyertai dia.

    Dibuat-Nya dia berkendaraan mengatasi bukit-bukit di bumi, dan memakan hasil dari ladang; dibuat-Nya dia mengisap madu dari bukit batu, dan minyak dari gunung batu yang keras, dadih dari lembu sapi dan susu kambing domba, dengan lemak anak-anak domba; dan domba-domba jantan dari Basan dan kambing-kambing jantan, dengan gandum yang terbaik; juga darah buah anggur yang berbuih engkau minum.

    Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, —bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun—dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya. Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian, mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar. Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau.

    Ketika TUHAN melihat hal itu, maka Ia menolak mereka, karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya lelaki dan perempuan. Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan. Mereka membangkitkan cemburu-Ku dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan umat, dan akan menyakiti hati mereka dengan bangsa yang bebal. Sebab api telah dinyalakan oleh murka-Ku, dan bernyala-nyala sampai ke bagian dunia orang mati yang paling bawah; api itu memakan bumi dengan hasilnya, dan menghanguskan dasar gunung-gunung.

    Aku akan menimbun malapetaka ke atas mereka, seluruh anak panah-Ku akan Kutembakkan kepada mereka. Apabila mereka sudah lemas karena lapar dan merana oleh demam yang membara, dan oleh penyakit sampar, maka Aku akan melepaskan taring binatang buas kepada mereka, dengan racun binatang yang menjalar di dalam debu. Pedang di luar rumah dan kengerian di dalam kamar akan melenyapkan teruna maupun dara, anak menyusu serta orang ubanan. Seharusnya Aku berfirman: Aku meniupkan mereka, melenyapkan ingatan kepada mereka dari antara manusia, tetapi Aku kuatir disakiti hati-Ku oleh musuh, jangan-jangan lawan mereka salah mengerti, jangan-jangan mereka berkata: Tangan kami jaya, bukanlah TUHAN yang melakukan semuanya ini. Sebab mereka itu suatu bangsa yang tidak punya pertimbangan, dan tidak ada pengertian pada mereka. Sekiranya mereka bijaksana, tentulah mereka mengerti hal ini, dan memperhatikan kesudahan mereka. Bagaimana mungkin satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang, kalau tidak gunung batu mereka telah menjual mereka, dan TUHAN telah menyerahkan mereka!

    Sebab bukanlah seperti gunung batu kita gunung batu orang-orang itu; musuh kita boleh menjadi hakim! Sesungguhnya, pohon anggur mereka berasal dari pohon anggur Sodom, dan dari kebun-kebun Gomora; buah anggur mereka adalah buah anggur yang beracun, pahit gugusan-gugusannya. Air anggur mereka adalah racun ular, dan bisa ular tedung yang keras ganas. Bukankah hal itu tersimpan pada-Ku, termeterai dalam perbendaharaan-Ku? Hak-Kulah dendam dan pembalasan, pada waktu kaki mereka goyang, sebab hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka. Sebab TUHAN akan memberi keadilan kepada umat-Nya, dan akan merasa sayang kepada hamba-hamba-Nya; apabila dilihat-Nya, bahwa kekuatan mereka sudah lenyap, dan baik hamba maupun orang merdeka sudah tiada. Maka Ia akan berfirman: Di manakah allah mereka, —gunung batu tempat mereka berlindung— yang memakan lemak dari korban sembelihan mereka, meminum anggur dari korban curahan mereka? Biarlah mereka bangkit untuk menolong kamu, sehingga kamu mendapat perlindungan.

    Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku. Sesungguhnya, Aku mengangkat tangan-Ku ke langit, dan berfirman: Demi Aku yang hidup selama-lamanya, apabila Aku mengasah pedang-Ku yang berkilat-kilat, dan tangan-Ku memegang penghukuman, maka Aku membalas dendam kepada lawan-Ku, dan mengadakan pembalasan kepada yang membenci Aku. Aku akan memabukkan anak panah-Ku dengan darah, dan pedang-Ku akan memakan daging: darah orang-orang yang mati tertikam dan orang-orang yang tertawan, dari kepala-kepala musuh yang berambut panjang. Bersorak-sorailah, hai bangsa-bangsa karena umat-Nya, sebab Ia membalaskan darah hamba-hamba-Nya, Ia membalas dendam kepada lawan-Nya, dan mengadakan pendamaian bagi tanah umat-Nya."

    Lalu datanglah Musa bersama-sama dengan Yosua bin Nun dan menyampaikan ke telinga bangsa itu segala perkataan nyanyian tadi. Setelah Musa selesai menyampaikan segala perkataan itu kepada seluruh orang Israel, berkatalah ia kepada mereka: "Perhatikanlah segala perkataan yang kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu, dan dengan perkataan ini akan lanjut umurmu di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya."

    Ulangan 31:1–32:47 (TB)

    Setelah puncak khotbah Musa, pasal 31–34 menguraikan secara terperinci peralihan kepemimpinan kepada Yosua serta perkataan-perkataan terakhir dan kematian Musa, termasuk nyanyian di pasal 32 dan berkat di pasal 33. Walaupun khotbah yang sesungguhnya telah berakhir, materi ini menekankan dan mempertegas kembali pokok-pokok perhatian teologis utama dari kitab ini.

    Ulangan 31:1–8. Musa menunjukkan usianya yang telah lanjut dan berkurangnya kesanggupannya untuk memimpin, khususnya dalam pertempuran (mengenai ungkapan "keluar dan masuk", lih. Bil. 27:17, dan juga Ul. 28:6). Fakta bahwa Musa sendiri yang mengumumkan hal ini merupakan sesuatu yang tidak lazim, tetapi pengingat bahwa Allah sendirilah yang telah melarang sang pemimpin besar ini masuk ke tanah perjanjian memberikan dampak yang signifikan, yang memperkuat kesan bahwa segenap bangsa Israel secara keseluruhan pasti juga akan gagal.[^49] Sekali lagi pengalaman di Transyordan dikutip sebagai bukti tak terbantahkan bahwa Allah yang menyertai mereka adalah Allah yang dapat dipercayai, dan oleh sebab itu mereka harus taat (31:5). Musa kemudian memberikan seruan tegas yang menggugah agar mereka "kuat dan teguh hati", yang kemudian ia ulangi kepada Yosua di hadapan segenap bangsa yang berkumpul (lih. Yos. 1 untuk versi yang diperluas dari perkataan ini). Pengharapan umat harus diletakkan pada janji Allah dan hadirat-Nya saat mereka melangkah masuk ke tanah perjanjian.

    Ulangan 31:9–13. Pada titik-titik penting dalam kitab ini, rujukan kerap dibuat mengenai naskah-naskah tertulis (4:13; 5:22; 10:4; 17:18; 27:3, 8), dan kini Musa sendiri menuliskan perkataan-perkataan amanatnya ini (kemungkinan besar pada perkamen atau lembaran kulit binatang) dan menyerahkannya kepada para imam keturunan Lewi dan para tua-tua. Catatan tertulis seperti ini dirancang untuk memfasilitasi pembaruan berkala atas komitmen-komitmen perjanjian yang ditetapkan di dalam dokumen tersebut.[^50] Setiap tujuh tahun sekali, seluruh bangsa (bukan hanya laki-laki saja, lih. 16:16) harus berkumpul di tempat yang dipilih untuk perjumpaan yang segar dengan Allah sendiri melalui firman-Nya. Para imam Lewi dan tua-tua bertugas membacakan seluruh hukum Taurat ini kepada segenap komunitas umat. Hal ini memastikan agar setiap generasi penerus mengetahui bahwa "pada hari ini" Allah adalah Allah mereka dan memanggil mereka untuk beribadah kepada-Nya dengan segenap hati (lih. 5:1–2; 29:29; 30:18–20). Namun demikian, sangat sedikit bukti yang menunjukkan bahwa ketetapan ini pernah benar-benar tertanam dan dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan bangsa tersebut.

    Ulangan 31:14–29. Dalam sebuah bagian narasi yang mencengangkan, Allah sendiri mengonfirmasi kesimpulan dari khotbah Musa. Setelah memerintahkan Musa dan Yosua untuk datang ke kemah pertemuan demi penahbisan/pengangkatan Yosua, TUHAN menampakkan diri dalam tiang awan (untuk pertama kalinya sejak Bil. 14:14, ketika perjalanan menuju tanah perjanjian dibatalkan). Dalam 31:16, alih-alih langsung melanjutkan ke proses penahbisan itu sendiri, Allah berbicara kepada Musa dengan bahasa yang luar biasa gamblang mengenai keniscayaan kemurtadan yang akan datang: "bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk." Pelanggaran perjanjian akan mendatangkan murka ilahi dan penarikan diri Allah dari umat-Nya, saat Ia "menyembunyikan wajah-Nya." Sebelum Yosua mengambil alih kepemimpinan, baik dirinya maupun segenap umat perlu menghadapi kenyataan dasar yang keras ini, itulah sebabnya Allah memerintahkan Musa dan Yosua (bentuk perintahnya jamak) untuk "menuliskan nyanyian ini" dan mengajarkannya (termasuk memaparkannya) kepada umat Israel (31:19).

    Tujuan dari nyanyian ini adalah untuk menjadi "saksi" yang menentang umat tersebut. Ini merupakan peringatan dini bahwa mereka memiliki kecenderungan bawaan untuk tidak taat, dan cepat atau lambat akan menjadi terlena, mementingkan diri sendiri, lalu berpaling kepada allah-allah lain (31:20). Menyanyikan "lagu kebangsaan" ini, sebagaimana Daniel Block menyebutnya, akan mengingatkan mereka akan kebenaran bahkan setelah mereka memberontak (31:21). Maka Musa menuliskannya dan mengajarkannya kepada mereka. Sama seperti pembacaan Taurat setiap tujuh tahun, sangat sedikit bukti bahwa mereka pernah benar-benar menghafal dan memelajari nyanyian ini. Ketika pengangkatan Yosua benar-benar berlangsung dalam 31:23, seruan untuk "kuat dan teguh hati" memiliki nuansa yang berbeda, mengingat peringatan-peringatan kelam pada ayat-ayat sebelumnya (perspektif ini juga tercermin dalam narasi Yosua 1, melalui jaminan hampa dari bangsa tersebut: "Sama seperti kami mendengarkan perintah Musa, demikianlah kami akan mendengarkan perintahmu!"). Pasal ini diakhiri dengan tuntasnya penulisan "kitab" (atau lebih tepatnya "gulungan kitab" atau "dokumen") yang harus diletakkan di samping tabut perjanjian sebagai saksi terhadap umat tersebut (sebagaimana nyanyian tadi). Tabut perjanjian dan gulungan kitab tersebut secara bersama-sama menangkap ketegangan mendasar antara komitmen Allah untuk hadir menyertai umat-Nya dan ketidaksanggupan (serta keengganan) umat tersebut untuk taat. Perkataan Musa kepada orang-orang Lewi (31:27) dan apa yang akan ia sampaikan kepada umat (31:28–29) merangkum apa yang telah ia dengar dari Allah. Umat ini sangat berdosa, dan kegagalan mereka di masa depan adalah sebuah keniscayaan.

    Ulangan 31:30–32:43. Nyanyian Musa (atau Nyanyian TUHAN yang disalin oleh Musa), yang dinyanyikan (atau dilafalkan) dan diajarkan oleh Musa, adalah rangkaian dinamika yang bergejolak antara penggambaran agung tentang kuasa dan keindahan Allah (mis. 32:1–4) serta kritik tajam yang menghunjam mengenai tabiat Israel (mis. 32:5). Setelah langit dan bumi sekali lagi dipanggil sebagai saksi (lih. 30:19), dan sebuah doa dinaikkan agar pesan nyanyian ini meresap ke dalam batin (32:2), penyanyi nyanyian ini dipanggil untuk mengakui dan memproklamasikan kebesaran, kesempurnaan, kesetiaan, dan keadilan Allah (32:3–4). Namun, dengan segera tema utama nyanyian ini dinyatakan dalam 32:5–6: umat Allah telah menanggapi anugerah Allah secara sangat mengerikan, karena mereka "berlaku busuk", menjadi "angkatan yang bengkok dan belat-belit".

    Ayat 32:7–14 memerinci kebaikan Allah sejak zaman purbakala: menetapkan batas-batas wilayah bangsa (dan mungkin memberikan perlindungan para malaikat, jika pembacaan ESV tepat dalam menerjemahkan "anak-anak Allah" ketimbang "anak-anak Israel"), memilih dan memelihara Israel di padang belantara (32:10–12), serta memberikan kelimpahan pemeliharaan sepanjang perjalanan menuju dan di dalam tanah perjanjian—termasuk anggur yang berbuih (32:13–14).

    Tanggapan Israel atas semua kebaikan ini dirangkum dalam 32:15–18. Yesyurun, sebutan yang di luar pasal ini dan pasal berikutnya hanya digunakan dalam Yesaya 44:2, merupakan nama puitis kuno bagi Israel yang secara ironis berarti "orang yang tulus/lurus". Namun mereka telah menjadi seperti lembu yang gemuk dan siap untuk disembelih, memberontak melawan Allah dan menukar-Nya dengan ilah-ilah palsu, melupakan Pribadi yang telah melahirkan dan memberi mereka kehidupan (32:15–18). Tanggapan TUHAN yang digambarkan dalam ayat 19–35 persis seperti yang telah diuraikan dalam pasal 27–31: Ia "menolak" umat-Nya (32:19); menyembunyikan wajah-Nya dari mereka (32:20); "cemburu" (32:21); menyatakan "murka-Nya" melalui bangsa lain (32:21–22); dan mencurahkan kutuk-kutuk perjanjian (32:23–25). Satu-satunya hal yang menahan tangan-Nya dari pemusnahan total adalah kemungkinan timbulnya kesalahpahaman di antara bangsa-bangsa yang menyaksikan peristiwa itu, yang dapat memicu kecongkakan mereka (32:26–27). Allah menegaskan bahwa umat-Nya sama sekali tidak memiliki kesadaran diri maupun pengertian (32:28–29), terlepas dari fakta yang sangat gamblang bahwa kemalangan mereka semata-mata disebabkan oleh penarikan diri Allah (32:30), karena bangsa-bangsa penindas itu sendiri berada di bawah kendali Allah dan pada akhirnya akan dihakimi (32:31–35).

    Nyanyian ini mengambil kelokan yang tak terduga dalam ayat 36, saat Allah dengan penuh anugerah turun tangan demi membela umat-Nya ketika "dilihat-Nya, bahwa kekuatan mereka sudah lenyap". Perkataan Allah sendiri mengejek umat karena telah menaruh percaya kepada ilah-ilah semu, seraya mendeklarasikan bahwa hanya Dialah satu-satunya yang berkuasa (dan rela) untuk memulihkan umat-Nya dan menuntut pembalasan atas musuh-musuh mereka (32:39–42). Dan Ia pasti akan melakukannya—sebab Ia telah berjanji. Dalam 32:43, nyanyian ini ditutup pada titik di mana ia bermula, memanggil langit dan kini ilah-ilah palsu untuk sujud menyembah kepada Allah yang adil dan berkuasa, Pribadi yang secara luar biasa akan "mengadakan pendamaian bagi tanah umat-Nya", memberikan secercah pengharapan akan masa depan baru yang ditandai oleh kekudusan.

    Ulangan 32:44–47. Perkataan-perkataan nyanyian yang disampaikan oleh Musa (didukung oleh Yosua) dipautkan erat dengan segala hal yang telah disampaikan sebelumnya, saat umat didesak untuk "memperhatikan dalam hati" perkataan-perkataan tersebut dan meneruskannya kepada anak-anak mereka agar mereka taat dengan segenap hati. Teologi nyanyian ini (yang merupakan teologi dari segenap "perkataan/firman" Musa) adalah "hidup mereka sendiri" (30:20). Menyanyikan kidung tentang dosa dan anugerah ini (serta melakukan firman ini) adalah kunci bagi masa depan—baik selama berada di tanah perjanjian maupun jauh melampauinya.

    Pesan dari khotbah Musa ditegaskan secara mendalam baik melalui firman langsung dari TUHAN sendiri maupun melalui bait-bait nyanyian kebangsaan Israel. Israel adalah bangsa yang sangat berdosa, dan pada akhirnya, satu-satunya pengharapan mereka hanya dapat ditemukan di dalam anugerah Allah di masa depan.


    VIII. Catatan Tambahan 2: Kematian Musa (32:48–34:12)

    Pada hari itulah juga TUHAN berfirman kepada Musa:

    "Naiklah ke atas pegunungan Abarim, ke atas gunung Nebo, yang di tanah Moab, di tentangan Yerikho, dan pandanglah tanah Kanaan yang Kuberikan kepada orang Israel menjadi miliknya,

    kemudian engkau akan mati di atas gunung yang akan kaunaiki itu, supaya engkau dikumpulkan kepada kaum leluhurmu, sama seperti Harun, kakakmu, sudah meninggal di gunung Hor dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya—

    oleh sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel, dekat mata air Meriba di Kadesh di padang gurun Zin, dan oleh sebab kamu tidak menghormati kekudusan-Ku di tengah-tengah orang Israel.

    Engkau boleh melihat negeri itu terbentang di depanmu, tetapi tidak boleh masuk ke sana, ke negeri yang Kuberikan kepada orang Israel."

    Inilah berkat yang diberikan Musa, abdi Allah itu, kepada orang Israel sebelum ia mati.

    Berkatalah ia: "TUHAN datang dari Sinai dan terbit kepada mereka dari Seir; Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah-tengah puluhan ribu orang yang kudus; di sebelah kanan-Nya tampak kepada mereka api yang menyala.

    Sungguh Ia mengasihi umat-Nya; semua orang-Nya yang kudus—di dalam tangan-Mulah mereka, pada kaki-Mulah mereka duduk, menangkap sesuatu dari firman-Mu.

    Musa telah memerintahkan hukum Taurat kepada kita, suatu milik bagi jemaah Yakub.

    Ia menjadi raja di Yesyurun, ketika kepala-kepala bangsa datang berkumpul, yakni segala suku Israel bersama-sama.

    Biarlah Ruben hidup dan jangan mati, tetapi biarlah orang-orangnya sedikit jumlahnya."

    Dan inilah tentang Yehuda. Katanya: "Dengarlah, ya TUHAN, suara Yehuda dan bawalah dia kepada bangsanya. Berjuanglah baginya dengan tangan-Mu, dan jadilah Engkau penolongnya melawan musuhnya."

    Tentang Lewi ia berkata: "Biarlah Tumim dan Urim-Mu menjadi kepunyaan orang yang Kaukasihi, yang telah Kaucoba di Masa, dengan siapa Engkau berbantah dekat mata air Meriba;

    yang berkata tentang ayahnya dan tentang ibunya: aku tidak mengindahkan mereka; ia yang tidak mau kenal saudara-saudaranya dan acuh tak acuh terhadap anak-anaknya. Sebab orang-orang Lewi itu berpegang pada firman-Mu dan menjaga perjanjian-Mu;

    mereka mengajarkan peraturan-peraturan-Mu kepada Yakub, hukum-Mu kepada Israel; mereka menaruh ukupan wangi-wangian di depan-Mu dan korban yang terbakar seluruhnya di atas mezbah-Mu.

    Berkatilah, ya TUHAN, kekuatannya dan berkenanlah kepada pekerjaannya. Remukkanlah pinggang orang yang melawan dia dan yang membenci dia, sehingga mereka tidak dapat bangkit."

    Tentang Benyamin ia berkata: "Kekasih TUHAN yang diam pada-Nya dengan tenteram! TUHAN melindungi dia setiap waktu dan diam di antara lereng-lereng gunungnya."

    Tentang Yusuf ia berkata: "Kiranya negerinya diberkati oleh TUHAN dengan yang terbaik dari langit, dengan air embun, dan dengan air samudera raya yang ada di bawah;

    dengan yang terbaik dari yang dihasilkan matahari, dan dengan yang terbaik dari yang ditumbuhkan bulan;

    dengan yang terutama dari gunung-gunung yang sejak dahulu, dan dengan yang terbaik dari bukit-bukit yang berabad-abad,

    dan dengan yang terbaik dari bumi serta segala isinya; dengan perkenanan Dia yang diam dalam semak duri. Biarlah itu semuanya turun ke atas kepala Yusuf, ke atas batu kepala orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya.

    Anak sulung lembu sapinya adalah kegemilangannya dan tanduk-tanduknya seperti tanduk-tanduk lembu hutan; dengan itu ia akan menanduk bangsa-bangsa, seluruh bumi, dari ujung ke ujung. Itulah orang Efraim yang puluhan ribu, dan itulah orang Manasye yang ribuan."

    Tentang Zebulon ia berkata: "Bersukacitalah, hai Zebulon, atas perjalanan-perjalananmu, dan engkaupun, hai Isakhar, atas kemah-kemahmu.

    Bangsa-bangsa akan dipanggil mereka datang ke gunung; di sanalah mereka akan mempersembahkan korban sembelihan yang benar, sebab mereka akan mengisap kelimpahan laut dan harta yang terpendam di dalam pasir."

    Tentang Gad ia berkata: "Terpujilah Dia yang memberi kelapangan kepada Gad. Seperti singa betina ia diam dan menerkam lengan, bahkan batu kepala.

    Ia memilih bagian yang terutama, sebab di sanalah tersimpan bagian panglima; ia datang kepada para kepala bangsa itu; dilakukannya kebenaran TUHAN serta penghukuman-penghukuman-Nya bersama-sama dengan orang Israel."

    Tentang Dan ia berkata: "Adapun Dan ialah anak singa yang melompat keluar dari Basan."

    Tentang Naftali ia berkata: "Naftali kenyang dengan perkenanan dan penuh dengan berkat TUHAN; milikilah tasik dan wilayah sebelah selatan."

    Tentang Asyer ia berkata: "Diberkatilah Asyer di antara anak-anak lelaki; biarlah ia disukai oleh saudara-saudaranya, dan biarlah ia mencelupkan kakinya ke dalam minyak.

    Biarlah dari besi dan dari tembaga palang pintumu, selama umurmu kiranya kekuatanmu.

    Tidak ada yang seperti Allah, hai Yesyurun. Ia berkendaraan melintasi langit sebagai penolongmu dan dalam kejayaan-Nya melintasi awan-awan.

    Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari depanmu dan berfirman: Punahkanlah!

    Maka Israel diam dengan tenteram dan sumber Yakub diam tidak terganggu di dalam suatu negeri yang ada gandum dan anggur; bahkan langitnya menitikkan embun.

    Berbahagialah engkau, hai Israel; siapakah yang sama dengan engkau? Suatu bangsa yang diselamatkan oleh TUHAN, perisai pertolongan dan pedang kejayaanmu. Sebab itu musuhmu akan tunduk menjilat kepadamu, dan engkau akan berjejak di bukit-bukit mereka."

    Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke atas gunung Nebo, yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu: daerah Gilead sampai ke kota Dan,

    seluruh Naftali, tanah Efraim dan Manasye, seluruh tanah Yehuda sampai laut sebelah barat,

    Tanah Negeb dan lembah Yordan, lembah Yerikho, kota pohon korma itu, sampai Zoar.

    Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: "Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana."

    Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN.

    Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini.

    Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang.

    Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya. Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu.

    Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

    Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel,

    dalam hal segala tanda dan mujizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya,

    dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel.

    Ulangan 32:48–34:12 (TB)

    Gerakan penutup dari kitab ini (dan dari "kelima kitab Musa" / Pentateukh) secara wajar dan dapat dipahami berfokus pada kematian Musa di luar tanah perjanjian.

    Ulangan 32:48–52. Tepat setelah Musa mengajarkan nyanyian tersebut, Allah berfirman kepada Musa dan menyuruhnya mendaki Gunung Nebo di sisi timur Lembah Yordan di seberang Yerikho ("Abarim" kemungkinan merujuk pada rangkaian pegunungan di mana Nebo menjadi bagian di dalamnya), tempat dari mana ia dapat memandang tanah tersebut (pada hari yang cerah, Yerikho, Yerusalem, Laut Mati, dan pegunungan di sebelah utara semuanya dapat terlihat). Alasan di balik perintah ini merupakan pengingat yang kuat akan kerapuhan dan keberdosaan bahkan dari manusia yang terbaik sekalipun. Musa telah "berubah setia" (Bil. 20:3, 13; lih. juga Ul. 1:19–46) dan gagal menghormati kekudusan Allah, sehingga ia harus menanggung nasib yang sama seperti segenap generasinya (melengkapi gambaran dalam 3:26). Kematiannya membayangi generasi ini dan generasi-generasi yang akan datang dengan bayang-bayang kelam yang panjang.

    Ulangan 33:1–5. Berkat yang diucapkan oleh Musa hanya memiliki satu padanan yang sebanding—yaitu berkat dari Yakub sendiri, bapa leluhur bangsa Israel, dalam Kejadian 49. Namun, ucapan berkat Musa tidak mengikuti urutan kelahiran, melainkan tampaknya disusun secara geografis. Selain itu, alih-alih berbicara secara profetis murni, Musa menyatakan harapan, perintah, serta membuat pernyataan-pernyataan penegasan. Namun, ciri yang paling mencolok adalah keutamaan suku Lewi dan Yusuf (serta kurangnya perhatian yang diberikan kepada Yehuda, dan dihilangkannya suku Simeon, yang wilayahnya berada di dalam wilayah suku Yehuda). Signifikansi simbolis dari suku Lewi di sepanjang kitab ini dilanjutkan di sini. Kebangkitan suku Yusuf sepanjang periode ini juga tercermin. Penekanan Musa pada persaudaraan segenap orang Israel dalam jangka menengah (kendati demikian, lih. Ul. 17:14–20) kemungkinan besar melandasi perkataannya mengenai Yehuda. Musa, yang digambarkan sebagai "abdi Allah" (terlepas dari 32:51–52), pertama-tama berbicara mengenai TUHAN yang datang dalam segala keperkasaan (militer) dan kemuliaan-Nya dari wilayah Sinai (yang juga disebut sebagai Seir dan Pegunungan Paran).[^51] Penyebutan diri Musa sendiri dalam sudut pandang orang ketiga pada ayat 4 cukup mengejutkan, dan mengindikasikan bahwa Musa sangat mungkin sedang melafalkan sebuah "pengakuan iman" kuno, yang berpuncak pada penegasan bahwa "TUHAN menjadi raja di Yesyurun"—satu-satunya rujukan eksplisit mengenai Allah sebagai raja dalam kitab ini.

    Ulangan 33:6–25. Pemberian berkat dimulai tanpa bertele-tele. Doa bagi Ruben sangat ringkas dan hanya memohon kelangsungan hidup semata (lih. Kej. 34:30). Yehuda menerima sedikit perhatian lebih dalam 33:7, dengan Musa hanya memohon kepada Allah untuk mengaruniakan keberhasilan bagi mereka dalam peperangan. Sebaliknya, bagi Lewi, Musa menyoroti peran-peran kunci dalam kehidupan rohani bangsa tersebut: mengelola petunjuk ilahi melalui Urim dan Tumim (Kel. 28:30; Im. 8:8); menjaga perjanjian (latar belakangnya mencakup Kel. 32:26–29; Bil. 25:11–12, serta peristiwa-peristiwa yang telah disebutkan); mengajarkan firman Allah (Hos. 4:6; Mi. 3:11; Mal. 2:1–9); dan menjalankan sistem korban. Itulah sebabnya ia memohon kepada Allah untuk memberkati kekuatan/sumber daya mereka ("kekayaannya/substansinya") dan meremukkan mereka yang menentang kaum Lewi (meskipun tidak ada penyebutan mengenai pembagian tanah pusaka bagi mereka). Berkat bagi Benyamin terbilang singkat namun sangat hangat dan bercahaya (33:12), sedangkan berkat bagi Yusuf dalam 33:13–17 sangat luas, mendalam, dan berlimpah. Fokusnya tidak hanya jatuh pada berkat bagi satu suku—Musa memohon agar seluruh kosmos bersatu padu mencurahkan kelimpahan ke atas tanah itu, dan dengan menggemakan Keluaran 3, memohon "perkenanan Dia yang diam dalam semak duri." Dalam ungkapan-ungkapan yang mengingatkan pada Kejadian 49:22–26, suku ini digambarkan laksana anak lembu jantan dan lembu hutan, yang sanggup menghadapi segala musuh mereka, dengan Efraim, suku asal Yosua, memimpin di garis depan. Dalam 33:18–25, Musa membahas enam suku di bagian utara. Ia menyerukan sukacita bagi Zebulon dan kakaknya, Isakhar, saat mereka memanggil bangsa-bangsa untuk bergabung bersama mereka dalam penyembahan yang benar, merayakan pemeliharaan Allah yang murah hati dari laut dan padang gurun (33:18–19). Berkat dimohonkan atas siapa saja yang mendukung Gad dalam tekadnya yang membara untuk merebut dan mempertahankan tanah pusakanya di Transyordan, bahkan saat Musa memuji kepedulian Gad terhadap "kebenaran" di tengah bangsa itu secara keseluruhan (33:20–21). Dan digambarkan secara ringkas dalam istilah-istilah yang mengingatkan pada Yehuda (Kej. 49:9). Naftali didorong untuk mengambil seluruh bagian tanah pusakanya, seraya suku ini menikmati kepenuhan berkat TUHAN. Akhirnya, Musa berdoa memohon keamanan dan kemakmuran bagi Asyer, saat minyak mengalir turun dari perbukitan, dan suku ini sanggup menyediakan perlindungan terbaik, kian bertambah kuat dari waktu ke waktu.

    Ulangan 33:26–29. Pada akhir pemberkatan ini, Musa kembali memproklamasikan keunikan Allah dalam 33:26–27, Pribadi yang datang menolong umat-Nya dari tempat tinggi dan menjadi sumber perlindungan serta keamanan kekal bagi mereka. Dialah Pribadi yang menjamin keberadaan umat-Nya yang penuh sukacita dan damai di tanah yang indah permai (33:28). Perkataan terakhir Musa memproklamasikan kebaikan Allah Sang Penyelamat bagi umat-Nya yang membuahkan kepuasan dan kebahagiaan yang tiada tara (lih. 4:5–8). Perisai pertolongan dan (secara unik) pedang kejayaan mereka akan mengalahkan segala musuh, memastikan bahwa mereka beroleh kemenangan mutlak.

    Ulangan 34:1–8. Peralihan narasi saat Musa mendaki Gunung Nebo, ke puncak Pisga (kemungkinan lereng/puncak rangkaian di mana Nebo menjadi bagian di dalamnya), sangat menggugah emosi. Musa diperlihatkan segenap tanah perjanjian dari puncak gunung tersebut, yang kini digambarkan berdasarkan batas-batas wilayah pusaka suku-suku Israel. Musa tidak berbicara, tetapi firman TUHAN dicatat: "Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu . . . tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana." Allah akan senantiasa menepati janji-janji-Nya, namun implikasi yang tak terelakkan adalah bahwa bahkan Musa sekalipun tidak sanggup memelihara perjanjian secara sempurna. Hal ini digarisbawahi dalam 34:6. "Hamba TUHAN" ini mati, "sesuai dengan firman TUHAN." Lokasi persis kuburnya tidak pernah diketahui, namun fakta bahwa Bet-Peor, sebuah tempat penyembahan berhala yang kelam, disebutkan sebagai penanda lokasi, kian menambah kepedihan dan kesedihan. Fakta bahwa Musa mencapai usia 120 tahun disorot, dan kita diberitahu bahwa penglihatan maupun "kekuatannya" (mungkin termasuk kesanggupan mental dan fisiknya) tidak berkurang hingga akhir hayatnya. Maka tidaklah mengherankan jika seluruh umat meratapi dan menangisi kepergiannya.

    Ulangan 34:9–12. Yosua adalah penerus yang layak ("ia penuh dengan roh kebijaksanaan") dan didukung sepenuhnya oleh Musa yang telah menetapkannya. Ia memiliki kepercayaan penuh dari segenap umat dan berkomitmen pada ketaatan (34:9). Namun kitab ini ditutup dengan nada yang bernuansa getir dan menggugah bahwa bahkan Yosua sekalipun tidak dapat diharapkan untuk menandingi Musa sebagai pemimpin, mengingat hak-hak istimewa besar yang telah Allah limpahkan kepadanya serta cara-cara bagaimana Allah telah memakai Musa di sepanjang peristiwa Keluaran dan seterusnya. Namun demikian, sebagaimana ayat-ayat sebelumnya telah menegaskan dengan sangat jelas, bahkan Musa sendiri pada akhirnya gagal dan tidak sempurna. Pengharapan sejati dan keamanan mutlak Israel hanya dapat ditemukan di dalam diri Allah semata.

    Kitab Ulangan berakhir dengan nada yang meresahkan sekaligus penuh peringatan. Kutuk-kutuk perjanjian, nyanyian kesaksian, kematian Musa, dan firman TUHAN sendiri telah menyingkapkan secara gamblang keniscayaan dosa serta kegagalan Israel di tanah perjanjian. Namun, bahkan dalam penyingkapan tersebut, teks ini telah menjanjikan dan memberitakan fakta bahwa anugerah Allah yang tak tergoyahkan pada akhirnya akan menang. Allah telah menyatakan komitmen-Nya untuk menyediakan jalan kembali bagi umat-Nya yang berdosa melalui suatu perjanjian baru yang mentransformasi, yang akan menggenapi secara nyata segala hal yang telah Dia janjikan sejak semula, membawa kehidupan yang indah bersama-Nya ke dalam jangkauan orang-orang berdosa seperti kita—suatu perjanjian kekal yang ditegakkan dan digenapi di dalam Tuhan Yesus Kristus sendiri.


    Kepustakaan (Bibliography)

    Komentari yang Direkomendasikan

    • Block, Daniel I. Deuteronomy. NIVAC. Grand Rapids MI: Zondervan, 2012.

    Komentari Ringkas

    • Craigie, Peter A. Deuteronomy. NICOT. Grand Rapids MI: Eerdmans, 1976.
    • Woods, Edward J. Deuteronomy. TOTC. Nottingham: InterVarsity Press, 2011.
    • Wright, Christopher J. H. Deuteronomy. NIBC. Peabody MA: Hendrickson, 1996.

    Komentari Teknis

    • McConville, J. Gordon. Deuteronomy. AOTC. Leicester: InterVarsity Press, 2002.

    Karya Lain yang Direkomendasikan untuk Studi Lanjutan Kitab Ulangan

    • Barker, Paul A. The Triumph of Grace in Deuteronomy. Paternoster Biblical Monographs. Eugene OR: Wipf and Stock, 2006.
    • Block, Daniel I. How I Love Your Torah, O Lord!: Studies in the Book of Deuteronomy. Eugene OR: Wipf and Stock, 2011.
    • ——————. The Gospel according to Moses. Eugene OR: Wipf and Stock, 2012.
    • ——————. The Triumph of Grace: Literary and Theological Studies in Deuteronomy and Deuteronomic Themes. Eugene OR: Wipf and Stock, 2017.
    • Millar, J. Gary. Now Choose Life: Theology and Ethics in Deuteronomy. NSBT 6. Leicester: InterVarsity Press, 1998.
    • McConville, J. Gordon. Law and Theology in Deuteronomy. JSOTS 33. Sheffield: Sheffield Academic Press, 1984.
    • McConville, J. Gordon dan J. Gary Millar. Time and Place in Deuteronomy. JSOTS 179. Sheffield: Sheffield Academic Press, 1994.
    • Olson, Dennis T. Deuteronomy and the Death of Moses. OBT. Minneapolis: Fortress, 1994.
    • Wilson, Ian. Out of the Midst of the Fire: Divine Presence in Deuteronomy. SBLDS 151. Atlanta: Society of Biblical Literature, 1995.

    [^1]: Ungkapan yang diciptakan oleh Dan Block dalam judul kumpulan esainya.

    [^2]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Bilangan 21:14–21, yang merupakan salah cetak untuk Bilangan 20:14–21 mengenai penolakan Edom atas permintaan Israel untuk melintasi negerinya.

    [^3]: Karya klasik mengenai pokok bahasan ini ditulis oleh K. Lawson Younger, Ancient Conquest Accounts, JSOTS 98 (Sheffield: Sheffield Academic Press, 1990). Younger menunjukkan bahwa bahasa tersebut serupa dengan ungkapan "Jerman menaklukkan Prancis" pada masa Perang Dunia II. Orang dapat mengatakan bahwa seluruh perlawanan telah ditumpas, namun hal itu tidak menyangkal keberadaan Gerakan Perlawanan Prancis (French Resistance)!

    [^4]: Hal ini menyiratkan bahwa Kitab Ulangan "diterbitkan" relatif tidak lama setelah zaman Musa. Daniel I. Block memperkirakan bahwa ranjang tersebut mungkin sampai ke ibu kota bani Amon (Amman modern) pada zaman Yefta dalam Hakim-hakim 10–12 (lihat Deuteronomy, 95).

    [^5]: Keberadaan “prediksi” atau nubuat ini sering kali dianggap menyiratkan bahwa Kitab Ulangan ditulis jauh lebih lambat daripada era Musa. Akan tetapi, bahasa yang digunakan di sini jauh lebih masuk akal dipahami sebagai gambaran umum mengenai kutuk-kutuk perjanjian yang diumumkan sebelum peristiwanya terjadi, daripada sebuah catatan tentang masa pembuangan yang dibuat setelah peristiwa tersebut berlangsung.

    [^6]: Ada banyak diskusi mengenai hubungan antara berbagai jenis perjanjian kuno (ancient treaties, khususnya yang melibatkan bangsa Het dan Asyur). Menurut pandangan saya, kemiripan struktural sering kali dibesar-besarkan, namun fakta bahwa salinan syarat-syarat pengaturan perjanjian ini sering kali disimpan di tempat-tempat kudus merupakan latar belakang yang sangat bermanfaat bagi Ulangan 5, sekaligus menjadi penunjuk bagi sifat mendasar dari pasal ini.

    [^7]: Untuk pembahasan mendalam mengenai peran Dekalog dalam Kitab Ulangan, lihat John H. Walton, “The Decalogue Structure of the Deuteronomic Law” dalam Interpreting Deuteronomy, diedit oleh David G. Firth dan Philip S. Johnston (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2012), hlm. 93–117.

    [^8]: Lihat Daniel I. Block, Deuteronomy, NIVAC (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2012), hlm. 181–182 dan J. G. McConville, Deuteronomy, AOTC (Leicester: Apollos, 2002), hlm. 140–142. Lihat juga pembahasan Block, “How Many Is God” dalam How I Love Your Torah, O Lord!: Studies in the Book of Deuteronomy (Eugene, OR: Wipf & Stock, 2011), hlm. 73–97.

    [^9]: Kebenaran Allah di sini adalah “sekaligus ketulusan moral (rectitude), pembenaran/pembebasan dari dakwaan (acquittal), dan kondisi/keadaan yang dihasilkan sebagai akibatnya.” McConville, Deuteronomy, hlm. 145.

    [^10]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Yosua 3:1, yang merupakan salah cetak untuk Yosua 3:10 yang memuat daftar tujuh bangsa Kanaan.

    [^11]: Terdapat begitu banyak teori mengenai perbedaan tradisi di balik teks ini. Namun, jauh lebih memuaskan untuk melihat bahwa teks ini mencerminkan pendekatan idealistis (strategis) sekaligus realistis (taktis) secara harmonis.

    [^12]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Matius 3:4, yang merupakan salah cetak untuk teks kutipan Yesus di padang gurun dalam Matius 4:4.

    [^13]: Dalam Keluaran 32, narasi memuat rincian tambahan bahwa Musa menyuruh bangsa itu meminum air tersebut. Dalam versi ringkas ini, rincian tersebut dihilangkan, kemungkinan besar karena pokok penekanan dalam Kitab Ulangan berfokus pada pengampunan Allah dan apa yang akan dilakukan umat saat melangkah maju.

    [^14]: Mengenai contoh-contoh bangsa Het pada abad ke-14 SM yang menyimpan dokumen-dokumen perjanjian di dalam sebuah peti, lihat Block, Deuteronomy, 262 n.9.

    [^15]: Mengenai hubungan yang rumit antara para Imam dan kaum Lewi dalam Kitab Ulangan, lihat McConville, Law and Theology in Deuteronomy.

    [^16]: Lihat Block, Deuteronomy, 287, untuk penjelasan terperinci mengenai pola curah hujan di Kanaan.

    [^17]: Untuk pembahasan mendalam mengenai signifikansi dan penggunaan frasa “pada hari ini” dalam Kitab Ulangan, lihat Millar dalam McConville dan Millar, Time and Place in Deuteronomy.

    [^18]: Prasasti yang memuat Kitab Undang-Undang Hamurabi dapat dilihat di Museum Louvre di Paris, dan terjemahannya dapat diakses dengan mudah secara daring.

    [^19]: Lihat Millar, Now Choose Life, 99–108, dan Walton yang dikutip dalam catatan kaki nomor 7 di atas.

    [^20]: Gagasan ini pertama kali diajukan oleh sarjana Jerman, Gerhard von Rad, pada pertengahan abad ke-20, meskipun sebagai bagian dari pemahaman yang sangat berbeda mengenai Kitab Ulangan.

    [^21]: Terdapat bukti mengenai praktik-praktik semacam ini di Fenisia pada masa itu, yang menunjukkan bahwa kita dapat secara wajar berasumsi bahwa penilaian terhadap perilaku bangsa Kanaan ini akurat. Lihat McConville, Deuteronomy, 228–229.

    [^22]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 12:7, yang merupakan salah cetak untuk Ulangan 13:7 mengenai ilah-ilah dari ujung bumi.

    [^23]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 16:16, yang merupakan salah cetak untuk Ulangan 13:16 mengenai persembahan korban bakaran seluruh isi kota dan jarahannya.

    [^24]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan ayat 5–6 dan 12:27–28, yang merupakan salah cetak untuk Ulangan 14:4–5 mengenai binatang yang boleh dimakan serta perluasan kategori dari Ulangan 12:15, 22.

    [^25]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Imamat 11:12–19, yang merupakan salah cetak untuk Imamat 11:13–19 yang memuat daftar burung yang haram.

    [^26]: C. J. Labuschagne berpendapat bahwa kolostrum dalam air susu induk akan menimbulkan efek visual seolah-olah anak kambing tersebut sedang dimasak di dalam darah, dalam artikel “You Shall Not Boil a Kid in its Mother’s Milk”: A New Proposal for the Origin of the Prohibition,” dalam The Scriptures and the Scrolls, diedit oleh F. G. Martinez dkk., VTSup 49 (Leiden: Brill, 1992), hlm. 6–17. Hal ini mungkin saja benar.

    [^27]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 26:15–18, yang merupakan salah cetak untuk Ulangan 26:12–15 mengenai persembahan persepuluhan tahun ketiga bagi orang Lewi, orang asing, anak yatim, dan janda.

    [^28]: Fakta bahwa tidak dinyatakan secara eksplisit bahwa Yahweh adalah Raja Israel di sini (atau di bagian mana pun dalam kitab ini sebelum pasal 32) melemahkan dugaan bahwa Kitab Ulangan disusun secara ketat menurut model perjanjian internasional kuno.

    [^29]: Lihat pembahasan yang sangat mendalam beserta daftar bibliografi mengenai ayat-ayat ini dalam Block, Deuteronomy, 437.

    [^30]: Beberapa pihak berpendapat bahwa makna kata "membangkitkan" di sini bersifat distributif dan mengindikasikan adanya suksesi para nabi yang berkesinambungan. Pandangan ini tidak meyakinkan, dan lebih tepat untuk memahami ayat-ayat ini merujuk kepada seorang figur individu.

    [^31]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Kisah Para Rasul 3:33, yang merupakan salah cetak untuk Kisah Para Rasul 3:22–23 mengenai nabi seperti Musa (Kisah Para Rasul pasal 3 hanya memiliki 26 ayat).

    [^32]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Genesis 16:16–20, yang merupakan salah cetak untuk Kejadian 15:16 mengenai penghakiman atas kedurhakaan orang Amori (Kejadian pasal 16 hanya terdiri atas 16 ayat).

    [^33]: Namun demikian, penting untuk mengingat beberapa hal: (1) ini merupakan penghakiman khusus (one-off) dari Allah yang berakar pada akumulasi kefasikan bangsa-bangsa Kanaan itu sendiri; (2) dalam dunia kuno, suatu komunitas yang secara keseluruhan menanggung akibat dari perbuatan bersama merupakan konsep yang lazim dipahami; (3) teks Alkitab sendiri melarang tindakan ini dijadikan sebagai kebijakan perang umum. Ini adalah tindakan-tindakan ekstrem yang dirancang khusus demi melindungi masa depan kelangsungan hidup umat Allah.

    [^34]: Lihat G. Brin, “The Firstling of Unclean Animals”, JQR 68 (1977/78): 12–14.

    [^35]: McConville, Deuteronomy, 330.

    [^36]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 23:23–24, yang merupakan salah cetak untuk Ulangan 22:23–24 mengenai skenario perempuan bertunangan di kota.

    [^37]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 22:6, yang merupakan salah cetak untuk Ulangan 23:6 mengenai larangan mengikhtiarkan kesejahteraan orang Amon dan Moab.

    [^38]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 1 Tim 5:8, yang merupakan salah cetak untuk 1 Timotius 5:18 mengenai larangan memberangus mulut lembu yang mengirik.

    [^39]: Ini adalah satu-satunya contoh perintah pemotongan anggota tubuh di seluruh Perjanjian Lama. Hal ini mungkin dikarenakan perbedaan fisiologis yang menghalangi penerapan kesetaraan hukuman "mata ganti mata" yang lazim! Keseriusan ancaman terhadap kelangsungan garis keturunan pria tersebut mungkin melandasi beratnya ancaman hukuman ini (yang tampaknya tidak pernah benar-benar dilaksanakan).

    [^40]: Tidak ada penyebutan mengenai Horeb dalam penuturan kembali kebaikan Allah ini. Mengingat porsi perhatian besar yang telah diberikan kepadanya sebelumnya, serta fokus di sini pada penggenapan janji-janji agung Allah, hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan.

    [^41]: Lihat James B. Pritchard (ed.), Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament, ed. ke-3 (Princeton: Princeton University Press, 1969), 199–203.

    [^42]: Craigie, Deuteronomy, 328, mengemukakan bahwa hal ini mengikuti tradisi/gaya Mesir kuno.

    [^43]: Sekali lagi, lihat Millar, Time and Place in Deuteronomy, dan Now Choose Life, 67–98.

    [^44]: Kutukan-kutukan ini memanfaatkan khazanah gagasan kuno yang umum. Lihat K. A. Kitchen, On the Reliability of the Old Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 2003), 294.

    [^45]: Dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan 20:35, yang merupakan salah cetak untuk Ulangan 28:35 (atau 28:35–36).

    [^46]: Patut dicatat bahwa bahasa di sini sama sekali tidak mencerminkan peristiwa Pembuangan ke Babel yang terjadi di kemudian hari.

    [^47]: Adma dan Zeboim sama-sama disebutkan dalam hubungannya dengan Sodom dan Gomora baik dalam Kejadian 10:19 maupun Kejadian 14:2, 8 (dalam naskah asli bahasa Inggris tertulis rujukan Kejadian 9 dan 14, yang merupakan salah cetak untuk Kejadian 10:19 dan 14:2, 8). Meskipun kedua kota tersebut tidak secara spesifik dinamai dalam Kejadian 19, tampaknya komunitas-komunitas yang terkait ini juga turut dihancurkan dalam penghakiman.

    [^48]: Lihat pembahasan yang sangat baik oleh Paul Barker, The Triumph of Grace, hlm. 140–213.

    [^49]: Suatu poin yang ditekankan secara kuat oleh Dennis Olson dalam Deuteronomy and the Death of Moses.

    [^50]: Moshe Weinfeld, Deuteronomy and the Deuteronomic School (Oxford: Clarendon Press, 1972), hlm. 63–64.

    [^51]: Ini adalah satu-satunya kemunculan nama "Sinai" dalam kitab ini, karena Musa biasanya lebih memilih menggunakan nama "Horeb."