Keluaran


Tentang Seri Ini:
Artikel ini merupakan terjemahan bahasa Indonesia dari The Gospel Coalition (TGC) Bible Commentary untuk Kitab Keluaran.
Penulis: Jay Sklar, Ph.D. (Professor of Old Testament, Covenant Theological Seminary)
Sumber Asli: The Gospel Coalition Bible Commentary — Exodus
Diterjemahkan dan dipublikasikan untuk tujuan edukasi dan non-komersial.


Pengantar Kitab Keluaran

Kitab Keluaran menceritakan kisah tentang bagaimana TUHAN membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir, memimpin mereka ke Gunung Sinai, memperbarui hubungan perjanjian dengan mereka, dan hadir untuk berdiam di tengah-tengah mereka di dalam Kemah Suci-Nya (tabernacle). Tokoh manusia utama dalam kisah ini adalah Musa, yang dibangkitkan Allah sebagai pembebas Israel dan melayani sebagai nabi Allah yang meneruskan firman-Nya kepada umat tersebut. Di berbagai titik peristiwa, TUHAN secara eksplisit memerintahkan Musa untuk menuliskan apa yang disaksikannya sendiri sebagai saksi mata (17:14) atau apa yang diterimanya sebagai wahyu ilahi (24:4, 7; 34:2–28). Hal ini menjadi pola yang ia ikuti dalam mencatat peristiwa-peristiwa lain yang ia saksikan secara langsung (seperti Kel. 3–19; 32–40) atau wahyu ilahi lain yang diterimanya (seperti Kel. 25–31), yang menjadikannya sebagai penulis utama kitab ini. Ini juga berarti bahwa bangsa Israel yang baru keluar dari Mesir adalah pembaca dan pendengar mula-mula (primary audience) dari kitab ini, dan konteks jemaat mula-mula inilah yang harus selalu diingat saat membaca Kitab Keluaran. Dengan kata lain, pertanyaan pertama kita terhadap perikop mana pun haruslah: “Apakah makna teks ini bagi bangsa Israel yang sedang mengembara di padang gurun?” Hanya setelah itu kita siap untuk bertanya: “Lalu, apakah maknanya bagi kita pada masa kini?”

Para pakar memperdebatkan penanggalan pasti dari peristiwa-peristiwa dalam kitab ini. Mengingat Prasasti Merneptah (Merneptah Stela, 1207 SM) telah menyebut Israel sebagai salah satu penduduk Kanaan, maka peristiwa keluaran (exodus) pastilah terjadi sebelum waktu tersebut. Berdasarkan 1 Raja-raja 6:1, yang menyatakan bahwa Salomo mulai mendirikan Bait Suci pada tahun keempat pemerintahannya (sekitar 966 SM), dan bahwa masa itu berjarak 480 tahun sesudah bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, maka peristiwa keluaran secara tradisional ditempatkan pada tahun 1446 SM. Namun, sebagian pakar lain berpendapat bahwa kota perbekalan “Raamses” (Kel. 1:11) merujuk kepada Ramses II yang memerintah pada abad ke-13 SM, sehingga menempatkan peristiwa keluaran pada kurun waktu tersebut (dalam pandangan ini, kurun waktu “480 tahun” dalam 1Raj. 6:1 dipahami secara simbolis). Para pakar konservatif cenderung memilih penanggalan awal (early date), kendati beberapa di antara mereka juga ada yang mendukung penanggalan akhir (late date).[^1] Kedua opsi tersebut menempatkan peristiwa keluaran di antara rentang abad ke-15 hingga abad ke-13 SM.

Tema-Tema Utama

Setidaknya terdapat empat tema dalam Kitab Keluaran yang berfokus pada karakter Allah. Salah satu tema pertama yang kita jumpai adalah bahwa Allah setia pada janji-janji perjanjian-Nya. Saat Kitab Keluaran dimulai, kita diberitahu bahwa TUHAN hendak membebaskan bangsa Israel dari penderitaan mereka karena Dia “mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub” (2:24). Ketika Dia berjanji, Dia pasti menepatinya. Seluruh bagian Kitab Keluaran selanjutnya menegaskan hal ini dengan memperlihatkan bagaimana TUHAN mulai menggenapi janji-janji yang telah diikrarkan-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.

Tema kedua adalah kuasa kedaulatan-Nya, yang memperlihatkan bahwa Dia adalah Raja yang sejati dan satu-satunya atas surga maupun bumi. Perhatikan bagaimana pukulan tulah yang ditimpakan-Nya atas Mesir menunjukkan bahwa Dia adalah Raja surga yang sejati dan esa, sebab apa yang disebut sebagai “allah-allah” orang Mesir sama sekali tidak berdaya di hadapan-Nya (lih. eksposisi pada 7:8–13; 10:21–29; 12:12; 15:11). Yitro, setelah mendengar karya penebusan TUHAN yang dahsyat bagi Israel, menyatakannya dengan ringkas: “Sekarang aku tahu bahwa TUHAN lebih besar daripada segala allah” (18:11a). Terlebih lagi, kemenangan TUHAN atas Firaun dan segenap kekuatannya—kekuatan militer paling perkasa di muka bumi pada masa itu—menunjukkan bahwa Dia juga adalah Raja bumi yang sejati dan esa, Pribadi yang di hadapan-Nya seluruh raja lain harus bertekuk lutut dengan rasa gentar dan hormat (lih. 7:1–5; 9:13–30). Nyanyian yang merayakan kemenangan TUHAN atas Mesir dan penyelamatan-Nya atas bangsa Israel merangkumnya dengan indah: “TUHAN memerintah untuk selama-lamanya” (15:18). Dialah satu-satunya Raja surga dan bumi yang sejati, yang bertakhta dalam kedaulatan, keagungan, dan kuasa.

Namun, TUHAN bukan sekadar Raja yang berkuasa. Tema ketiga adalah kerinduan-Nya untuk menyertai umat-Nya (Dia adalah Raja Kehadiran), dan tema keempat adalah sifat-Nya yang berbelaskasihan dan penuh rahmat (Dia adalah Raja Kasih Setia). Dalam hal kehadiran-Nya, TUHAN menyatakan bahwa salah satu tujuan utama Dia menebus bangsa Israel adalah agar Dia dapat berdiam di tengah-tengah mereka: “Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka. Dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka; Akulah TUHAN, Allah mereka” (29:45–46, penekanan dari penulis). Bagi TUHAN, penebusan selalu bertujuan untuk membangun hubungan persekutuan perjanjian (covenant relationship).

Dalam hal sifat-Nya yang penuh kasih dan rahmat, ketika TUHAN menyatakan karakter-Nya kepada Musa, penyataan tersebut diawali dan berpusat pada kenyataan bahwa Dia adalah Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kebenaran, serta melimpahkan kasih setia dan mengampuni kesalahan (34:6–7a). Benar, Dia juga mendisiplin dan menindak dosa—sebagaimana yang dilakukan oleh setiap orang tua yang penuh kasih (34:7b). Namun, fokus utama dari penyataan diri-Nya adalah pada rahmat dan anugerah-Nya. Dorongan pertama dari hati-Nya terhadap umat-Nya bukanlah penghakiman, melainkan kasih setia yang murah hati dan mengampuni (lih. pembahasan lebih lanjut pada 34:5–7). Fakta ini menjelaskan kerinduan-Nya untuk tinggal menyertai umat-Nya: kita selalu rindu untuk dekat dengan mereka yang kita kasihi.

Singkatnya, TUHAN adalah satu-satunya Raja surga dan bumi yang sejati, yang memegang teguh janji-janji perjanjian-Nya, rindu tinggal menyertai umat-Nya, dan berlimpah dengan kasih setia serta pengampunan bagi mereka. Dia juga memberikan sebuah misi kepada umat-Nya, yang mengantar kita pada tema terakhir mengenai identitas yang Dia kehendaki bagi umat-Nya.

TUHAN menyatakan misi bangsa Israel secara ringkas dalam 19:6: “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.” Panggilan untuk menjadi bangsa yang kudus adalah panggilan kepada hidup yang taat, yang ditekankan TUHAN melalui berbagai cara di sepanjang kitab ini: mulai dari seruan untuk taat (19:5; 20:20; 23:21a), teladan ketaatan yang dipuji (38:22; 39:1, 5, 7, 42; 40:16), peringatan terhadap ketidaktaatan (23:21b; 34:7b), hingga disiplin dan penghukuman yang datang akibat ketidaktaatan (32:25–29, 35). Jelas sekali bahwa TUHAN menghendaki umat-Nya hidup setia, dan hal ini berlaku bukan hanya dalam hal ketaatan umum terhadap ketetapan-ketetapan perjanjian-Nya, melainkan secara spesifik dalam kesetiaan untuk melayani dan menyembah Dia saja. Karena itu, Sepuluh Firman (Dasa Titah) diawali dengan dua perintah pertama yang menuntut bangsa Israel menyembah TUHAN semata (20:3–6), dan perintah ini ditegaskan kembali berulang kali di sepanjang kitab (20:22–23; 23:23–25, 32–33; 32:7–10, 25–29; 34:11–17). Dia adalah Raja, dan Israel adalah hamba-Nya yang setia. Dia adalah Bapa, dan Israel adalah anak-Nya yang taat. Dia adalah Mempelai/Suami, dan Israel adalah istri-Nya yang setia. Kebutuhan bangsa Israel akan ketaatan yang setia merupakan tema besar yang menjelaskan identitas yang TUHAN kehendaki atas umat-Nya.

Yang terpenting, ketaatan bangsa Israel dirancang untuk memiliki daya dorong misi (missional thrust). Mereka bukan hanya dipanggil menjadi “bangsa yang kudus”, melainkan juga “kerajaan imam”. Kedua identitas ini tidak terpisahkan. Sebagaimana telah saya catat di tempat lain:

Bahasa tentang imamat dan bangsa yang kudus . . . menunjuk pada peranan Israel di tengah dunia ciptaan TUHAN. Di dalam lingkungan Israel, para imam TUHAN harus hidup kudus, mengajarkan jalan-jalan-Nya kepada bangsa Israel, dan menolong mereka mengetahui bagaimana menjalin hubungan persekutuan dengan-Nya (Im. 10:10–11; 21:1–23). Bangsa Israel dipanggil untuk melakukan hal yang sama di tengah-tengah dunia. Hal ini secara khusus terwujud dengan mencerminkan dan mengejawantahkan karakter kudus TUHAN di dalam kehidupan mereka sendiri, sehingga memperlihatkan kepada bangsa-bangsa lain keindahan dan kemuliaan Pribadi-Nya (Im. 19:2; 20:26). Dengan kata lain, bangsa Israel bukan sekadar hamba kesayangan TUHAN; mereka dipanggil untuk menolong dunia memahami mengapa TUHAN sungguh layak dijunjung tinggi sebagai harta yang paling berharga. Petrus menegaskan poin yang persis sama ini kepada orang-orang Kristen mula-mula saat merujuk kembali pada perikop ini: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1Ptr. 2:9). Masuk ke dalam naungan pemeliharaan TUHAN berarti menerima amanat pengutusan-Nya untuk menolong seisi dunia mengenal, menyembah, menaati, dan mengasihi Dia.[^2]

Gambaran puncak tentang TUHAN yang disajikan Kitab Keluaran kepada kita adalah Allah yang merupakan satu-satunya Raja surga dan bumi yang sejati, penuh keagungan dan keperkasaan, namun berlimpah dengan rahmat, pengampunan, kebaikan, dan kasih setia—Pribadi yang rindu berdiam di tengah-tengah umat-Nya dan memanggil mereka untuk mencerminkan karakter-Nya di dunia ini, demi kemuliaan-Nya, kebaikan mereka sendiri, dan berkat bagi segenap bangsa. (Mengenai bagaimana beberapa tema di atas berkaitan dengan pribadi dan karya Tuhan Yesus, lihat eksposisi pada 15:19–21; 25:8–9; 29:43–46; 30:22; 32:25–29; 34:33–35; 40:36–38.)

Janji-Janji Perjanjian TUHAN dalam KejadianKesetiaan Perjanjian TUHAN dalam Keluaran
Menjadi suatu bangsa yang besar (12:2; 15:5; 17:5–6; 26:4; 28:14; 35:11; 46:3)“Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka” (1:7)
Memberikan kepada mereka suatu negeri (12:1; 15:18–20; 26:3–4; 28:13; 35:12)TUHAN membebaskan Israel untuk membawa mereka masuk ke Tanah Perjanjian (3:8, 17; 6:8) dan menyediakan malaikat-Nya untuk memimpin mereka ke sana (23:20–23)
Mengutuk orang yang mengutuk/mencela mereka (12:3)TUHAN menimpakan pukulan tulah yang menghancurkan atas Firaun dan bangsa Mesir (ps. 7–12) serta menaklukkan mereka secara tuntas dan mutlak di laut (ps. 14)
Menjadi Allah perjanjian mereka (17:7–8; 28:15)TUHAN berjanji untuk menebus mereka agar mengangkat mereka menjadi umat-Nya (6:6–7) dan melaksanakannya dengan menebus mereka (ps. 7–14), lalu mengikat hubungan perjanjian dengan mereka (ps. 20–24)

Tujuan Kitab Keluaran

Tujuan Kitab Keluaran adalah untuk menyatakan karakter Allah dan kehendak-Nya bagi umat-Nya, Israel. Dengan kata lain, sasaran kitab ini adalah memperjelas siapa Allah itu dan siapa yang Dia kehendaki atas umat-Nya. Kitab ini mewujudkan tujuan tersebut dengan berfokus pada berbagai tema kunci.


Ayat-Ayat Kunci

Ayat-ayat kunci berikut ini merangkum dan mewakili tema-tema utama Kitab Keluaran dengan sangat baik:

“Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, kamu akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri di antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.”
Keluaran 19:4–6a
“Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka. Dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka; Akulah TUHAN, Allah mereka.”
Keluaran 29:45–46
“Berjalanlah TUHAN melintas di depannya dan berseru, ‘TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia-Nya dan kebenaran-Nya, yang melimpahkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa; tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.’”
Keluaran 34:6–7

Garis Besar Kitab Keluaran

  • I. Orang Israel di Mesir: Janji Pembebasan dari TUHAN (1:1–11:10)
    • A. Penderitaan Bangsa Israel dan Kebutuhan akan Seorang Pembebas (1:1–2:22)
      • i. Firaun Berusaha Membinasakan Umat Israel yang Berkembang Biak (1:1–22)
      • ii. Pengenalan Tokoh Pembebas Israel (2:1–22)
    • B. TUHAN Memanggil Pembebas Israel: Musa (2:23–4:17)
      • i. TUHAN Mengingat Umat Israel dan Perjanjian-Nya dengan Mereka (2:23–25)
      • ii. TUHAN Memanggil Musa untuk Menjadi Pembebas Israel (3:1–4:17)
    • C. Musa Kembali ke Mesir (4:18–31)
      • i. Musa Kembali ke Mesir (4:18–26)
      • ii. Musa dan Harun Mengumumkan Pembebasan kepada Bangsa Israel (4:27–31)
    • D. Penindasan Firaun dan Janji Pembebasan dari TUHAN (5:1–6:9)
      • i. Firaun Menolak Perintah TUHAN; Umat Israel Berbalik Menyalahkan Musa dan Harun (5:1–21)
      • ii. Janji Pembebasan dari TUHAN dan Keputusasaan Umat Israel (5:22–6:9)
    • E. Pengantar Menuju Pembebasan yang Akan Datang (6:10–7:7)
      • i. TUHAN Memerintahkan Musa Menghadap Firaun (6:10–12)
      • ii. Silsilah Musa dan Harun (6:13–27)
      • iii. TUHAN Memerintahkan Musa Menghadap Firaun dan Memberitahukan Apa yang Akan Terjadi (6:28–7:7)
    • F. Melalui Tanda-Tanda Mukjizat Penghakiman, TUHAN Menyatakan Kuasa Kedaulatan-Nya atas Firaun dan Ilah-Ilah Mesir (7:8–11:10)
      • i. Tanda Pertama: Tongkat Harun Menelan Tongkat-Tongkat Para Pelayan Firaun (7:8–13)
      • ii. Tanda Kedua, Tulah Pertama: Air Menjadi Darah (7:14–25)
      • iii. Tanda Ketiga, Tulah Kedua: Tulah Katak (8:1–15)
      • iv. Tanda Keempat, Tulah Ketiga: Tulah Nyamuk (8:16–19)
      • v. Tanda Kelima, Tulah Keempat: Tulah Lalat Pikat (8:20–32)
      • vi. Tanda Keenam, Tulah Kelima: Penyakit Sampar atas Ternak Mesir (9:1–7)
      • vii. Tanda Ketujuh, Tulah Keenam: Tulah Barah (9:8–12)
      • viii. Tanda Kedelapan, Tulah Ketujuh: Tulah Hujan Es (9:13–35)
      • ix. Tanda Kesembilan, Tulah Kedelapan: Tulah Belalang (10:1–20)
      • x. Tanda Kesepuluh, Tulah Kesembilan: Tulah Kegelapan (10:21–29)
      • xi. Pemberitahuan Mengenai Tanda Kesebelas, Tulah Kesepuluh: Kematian Anak Sulung (11:1–10)
  • II. Bangsa Israel Meninggalkan Mesir: Pembebasan dari TUHAN (12:1–15:21)
    • A. Bangsa Israel Keluar dari Mesir dan Menerima Petunjuk untuk Memperingati Pembebasan Mereka (12:1–13:16)
      • i. Petunjuk Mengenai Paskah (12:1–13)
      • ii. Petunjuk Mengenai Hari Raya Roti Tidak Beragi (12:14–20)
      • iii. Musa Menyampaikan Petunjuk Paskah kepada Bangsa Israel (12:21–28)
      • iv. Terjadinya Tanda Kesebelas, Tulah Kesepuluh, dan Bangsa Israel Keluar dari Mesir (12:29–42)
      • v. Petunjuk Tambahan Mengenai Paskah (12:43–50)
      • vi. Pengudusan Anak Sulung dan Petunjuk Lanjutan Mengenai Hari Raya Roti Tidak Beragi (12:51–13:16)
    • B. Kemenangan Mutlak TUHAN atas Firaun Saat Dia Memimpin Bangsa Israel Keluar dari Mesir (13:17–15:21)
      • i. Rute Keberangkatan Awal dan Pimpinan TUHAN Melalui Tiang Awan (13:17–22)
      • ii. TUHAN Menyelamatkan Umat-Nya Melalui Laut dan Menenggelamkan Pasukan Firaun di Dalamnya (14:1–31)
      • iii. Bangsa Israel Menyanyikan Nyanyian Pembebasan TUHAN (15:1–21)
  • III. Bangsa Israel Menuju Sinai dan Diuji oleh TUHAN (15:22–17:16)
    • A. Tiga Kisah Pengujian di Padang Gurun dan Pemeliharaan TUHAN (15:22–17:7)
      • i. TUHAN Menguji Bangsa Israel: Tidak Ada Air (15:22–27)
      • ii. TUHAN Menguji Bangsa Israel: Tidak Ada Makanan (16:1–36)
      • iii. Bangsa Israel Menguji TUHAN: Apakah TUHAN Ada di Tengah-Tengah Mereka? (17:1–7)
    • B. Bangsa Israel Mengalahkan Orang Amalek dengan Pertolongan TUHAN (17:8–16)
  • IV. Bangsa Israel Tiba di Sinai (18:1–19:25)
    • A. Yitro Memuji TUHAN dan Memberikan Nasihat kepada Musa (18:1–27)
      • i. Yitro Memuji TUHAN (18:1–12)
      • ii. Yitro Menasihati Musa Mengenai Pengelolaan Hukum (18:13–27)
    • B. TUHAN Mengundang Bangsa Israel Masuk ke Dalam Hubungan Perjanjian dan Hadir di Gunung Sinai (19:1–25)
      • i. Undangan TUHAN untuk Masuk ke Dalam Hubungan Perjanjian (19:1–6)
      • ii. Umat Mempersiapkan Diri Menyambut Hadirnya TUHAN (19:7–15)
      • iii. TUHAN Hadir di Gunung Sinai (19:16–25)
  • V. Pemberian Hukum Perjanjian dan Peneguhan Perjanjian Sinai (20:1–24:11)
    • A. Fondasi Hukum Perjanjian: Sepuluh Firman (20:1–21)
      • i. Pembukaan Historis (20:1–2)
      • ii. Sepuluh Firman (20:3–17)
      • iii. Umat Memohon kepada Musa untuk Menjadi Pengantara Suara TUHAN (20:18–21)
    • B. Pengantar Hukum-Hukum Perjanjian Selebihnya: Penyembahan yang Benar (20:22–26)
    • C. Hukum-Hukum Perjanjian Lanjutan bagi Umat (21:1–23:19)
      • i. Hukum Mengenai Perbudakan: Budak Laki-Laki (21:1–6)
      • ii. Hukum Mengenai Perbudakan: Budak Perempuan (21:7–11)
      • iii. Hukum-Hukum yang Diancam dengan Hukuman Mati (21:12–17)
      • iv. Hukum Mengenai Penganiayaan Antara Seseorang terhadap Sesamanya (21:18–27)
      • v. Hukum Mengenai Kerugian Akibat Binatang terhadap Manusia (21:28–32)
      • vi. Hukum Mengenai Kerusakan atau Pencurian Harta Benda (21:33–22:15)
      • vii. Hukum Mengenai Pembujukan Anak Gadis yang Belum Bertunangan (22:16–17)
      • viii. Hukum-Hukum Tambahan yang Diancam dengan Hukuman Mati (22:18–20)
      • ix. Hukum Mengenai Perlakuan Adil dan Penuh Belas Kasih terhadap Orang yang Tertindas (22:21–27)
      • x. Hukum Mengenai Penghormatan terhadap Otoritas Ilahi dan Pemimpin Bangsa (22:28–31)
      • xi. Hukum Mengenai Keadilan yang Tidak Memihak dan Kasih Praktis kepada Musuh (23:1–9)
      • xii. Hukum Mengenai Tahun Sabat, Hari Sabat, dan Hari-Hari Raya Keagamaan (23:10–19)
    • D. Peringatan Penutup untuk Taat dan Janji Berkat (23:20–33)
    • E. Perjanjian Diteguhkan (24:1–11)
  • VI. Bangsa Israel di Sinai: Loh-Loh Batu Perjanjian dan Petunjuk TUHAN untuk Mendirikan Kemah Suci di Tengah-Tengah Umat Israel (24:12–31:18)
    • A. Musa Naik ke Atas Gunung untuk Menerima Loh-Loh Batu Perjanjian dari TUHAN (24:12–18)
    • B. Persembahan Khusus yang Dibutuhkan untuk Kemah Suci (25:1–9)
      • i. Persembahan Khusus yang Diterima dari Mereka yang Tergerak Hatinya dengan Rela (25:1–2)
      • ii. Bahan-Bahan Persembahan Khusus (25:3–7)
      • iii. Tujuan dari Persembahan Khusus (25:8–9)
    • C. Petunjuk Pembuatan Kemah Suci dan Perlengkapannya (25:10–27:21)
      • i. Tabut Perjanjian (25:10–22)
      • ii. Meja Roti Sajian dari Emas (25:23–30)
      • iii. Kandil Emas (25:31–40)
      • iv. Empat Lapis Tudung Penutup Kemah Suci (26:1–14)
      • v. Kerangka Struktur Kemah Suci (26:15–30)
      • vi. Tirai Dalam (26:31–35)
      • vii. Tirai Pintu Masuk (26:36–37)
      • viii. Mezbah Korban Bakaran (27:1–8)
      • ix. Pelataran Kemah Suci (27:9–19)
      • x. Minyak untuk Kandil Emas (27:20–21)
    • D. Pakaian Para Imam (28:1–43)
      • i. Pengantar (28:1–4)
      • ii. Pakaian Imam Besar (28:5–39)
      • iii. Pakaian Para Imam (28:40)
      • iv. Tujuan Pakaian Para Imam (28:41)
      • v. Celana Dalam Lenan Para Imam (28:42–43)
    • E. Upacara Pentahbisan Para Imam (29:1–35)
      • i. Pengantar (29:1–3)
      • ii. Upacara Pentahbisan (29:4–35)
      • iii. Mezbah Korban Bakaran dan Korban-Korbannya (29:36–42)
      • iv. Rangkuman Tujuan Kemah Suci (29:43–46)
    • F. Petunjuk Mengenai Perkakas-Perkakas Lain di Kemah Suci (30:1–38)
      • i. Mezbah Pembakaran Ukupan dari Emas (30:1–10)
      • ii. Pajak Pendaftaran Jiwa / Uang Penebus Nyawa (30:11–16)
      • iii. Bejana Pembasuhan dari Tembaga (30:17–21)
      • iv. Minyak Urapan Kudus dan Ukupan Wangi Kudus (30:22–38)
    • G. Para Ahli Kriya Kemah Suci yang Dikaruniai Roh Allah (31:1–11)
      • i. Bezaleel (31:1–5)
      • ii. Aholiab (31:6a)
      • iii. Para Ahli Kriya Lain yang Dikaruniai Keahlian (31:6b)
      • iv. Barang-Barang yang Harus Dibuat (31:7–11)
    • H. Pentingnya Memelihara Hari Sabat sebagai Tanda Perjanjian (31:12–17)
      • i. Perintah dan Landasan Pertama (31:12–13)
      • ii. Perintah, Landasan Kedua, dan Sanksi Hukuman (31:14–15)
      • iii. Perintah dan Landasan Pertama (31:16–17)
    • I. TUHAN Memberikan Loh-Loh Batu Perjanjian kepada Musa (31:18)
  • VII. Bangsa Israel di Sinai: Bangsa Israel Mengkhianati dan Merusak Perjanjian; TUHAN dengan Berlimpah Rahmat Memperbarui Perjanjian (32:1–34:35)
    • A. Penyembahan Berhala oleh Umat Israel, Murka TUHAN, dan Doa Syafaat Musa bagi Mereka Sehingga Mereka Tidak Dibinasakan (32:1–14)
      • i. Bangsa Israel Menyembah Anak Lembu Emas (32:1–6)
      • ii. TUHAN Menetapkan Kebinasaan Mereka (32:7–10)
      • iii. Musa Berdoa Syafaat bagi Umat (32:11–14)
    • B. Musa Menghancurkan Patung Berhala, Menghardik Harun, dan Menyerukan Pelaksanaan Hukuman (32:15–29)
      • i. Musa Menghancurkan Patung Anak Lembu Emas (32:15–20)
      • ii. Musa Menghardik Harun (32:21–24)
      • iii. Musa Menyerukan Pelaksanaan Hukuman (32:25–29)
    • C. Musa Berdoa Syafaat untuk Kedua Kalinya bagi Umat, dan TUHAN Memperbarui Janji Tanah kepada Leluhur (32:30–33:6)
      • i. Musa Berdoa Syafaat bagi Umat (32:30–32)
      • ii. Jawaban TUHAN (32:33–34)
      • iii. Penghakiman TUHAN (32:35)
      • iv. Firman Lanjutan dari TUHAN (33:1–3)
      • v. Tanggapan Umat (33:4–6)
    • D. Musa Berdoa Syafaat untuk Ketiga Kalinya bagi Umat, dan TUHAN Berjanji untuk Berjalan di Tengah-Tengah Mereka (33:7–17)
      • i. Catatan Penjelasan: Tempat Berdoa Syafaat, yaitu “Kemah Pertemuan” yang Pertama (33:7–11)
      • ii. Musa Berdoa Syafaat bagi Umat (33:12–17)
    • E. Musa Memohon untuk Melihat Kemuliaan TUHAN (33:18–23)
      • i. Permohonan Musa (33:18)
      • ii. Jawaban TUHAN (33:19–23)
    • F. TUHAN Menyatakan Kemuliaan-Nya (34:1–8)
      • i. Persiapan yang Harus Dilakukan Musa (34:1–3)
      • ii. Musa Menaati Perintah TUHAN (34:4)
      • iii. TUHAN Hadir dan Memproklamasikan Nama-Nya (34:5–7)
      • iv. Tanggapan Musa (34:8)
    • G. Musa Berdoa Syafaat untuk Keempat Kalinya bagi Umat, dan Perjanjian Diperbarui (34:9–28)
      • i. Musa Berdoa Syafaat bagi Umat (34:9)
      • ii. Perjanjian Diperbarui (34:10–28)
    • H. Kulit Muka Musa yang Bercahaya (34:29–35)
      • i. Kulit Muka Musa Bercahaya (34:29–32)
      • ii. Musa Mengenakan Selubung (34:33–35)
  • VIII. Bangsa Israel di Sinai: Kemah Suci TUHAN Didirikan, dan Dia Hadir untuk Berdiam di Tengah Umat Perjanjian-Nya (35:1–40:38)
    • A. Pengantar (35:1)
    • B. Pentingnya Memelihara Hari Sabat sebagai Tanda Perjanjian (35:2–3)
    • C. Pengumpulan Bahan-Bahan Kemah Suci (35:4–36:7)
      • i. Persembahan Khusus yang Diperlukan untuk Kemah Suci (35:4–9)
      • ii. Perkakas dan Barang Kemah Suci yang Harus Dibuat (35:10–19)
      • iii. Umat Membawa Persembahan Khusus untuk Kemah Suci (35:20–29)
      • iv. Para Ahli Kriya Kemah Suci yang Dikaruniai Keahlian oleh Allah (35:30–36:1)
      • v. Perintah untuk Berhenti Membawa Persembahan Khusus (36:2–7)
    • D. Pembuatan Kemah Suci dan Bagian-Bagian Terkait (36:8–39:43)
      • i. Empat Lapis Tudung Penutup Kemah Suci (36:8–19)
      • ii. Kerangka Struktur Kemah Suci (36:20–34)
      • iii. Tirai Dalam (36:35–36)
      • iv. Tirai Pintu Masuk (36:37–38)
      • v. Tabut Perjanjian (37:1–9)
      • vi. Meja Roti Sajian dari Emas (37:10–16)
      • vii. Kandil Emas (37:17–24)
      • viii. Mezbah Pembakaran Ukupan dari Emas (37:25–28)
      • ix. Minyak Urapan Kudus dan Ukupan Wangi Kudus (37:29)
      • x. Mezbah Korban Bakaran (38:1–7)
      • xi. Bejana Pembasuhan dari Tembaga (38:8)
      • xii. Pelataran (38:9–20)
      • xiii. Jumlah Logam Persembahan untuk Kemah Suci (38:21–31)
      • xiv. Pakaian Para Imam (39:1–31)
      • xv. Umat Membawa Seluruh Perlengkapan Kemah Suci kepada Musa (39:32–43)
    • E. Kemah Suci Didirikan (40:1–33)
      • i. TUHAN Memerintahkan untuk Mendirikan Kemah Suci (40:1–8)
      • ii. TUHAN Memerintahkan untuk Menguduskan Kemah Suci dan Para Imam (40:9–15)
      • iii. Kemah Suci Didirikan Sesuai dengan Segala yang Diperintahkan TUHAN (40:16–33)
    • F. Kemuliaan TUHAN Memenuhi Kemah Suci (40:34–38)
      • i. Kemuliaan TUHAN Memenuhi Kemah Suci (40:34–35)
      • ii. TUHAN Membimbing dan Berdiam di Tengah-Tengah Bangsa Israel Melalui Awan-Nya (40:36–38)[^3]

I. Orang Israel di Mesir: Janji Pembebasan dari TUHAN (1:1–11:10)

Lihat catatan penulis.[^4]

Dalam Kitab Kejadian, TUHAN telah berjanji kepada nenek moyang bangsa Israel bahwa mereka akan menjadi suatu bangsa yang besar dan memiliki sebuah negeri. Menjelang permulaan Kitab Keluaran, janji mengenai bangsa yang besar itu telah digenapi (1:1–7), tetapi janji mengenai negeri belum terwujud. Bangsa Israel sedang diperbudak dan sangat membutuhkan pembebasan. Pasal-pasal pembuka ini berfokus pada bagaimana pembebasan tersebut akan berlangsung. Bagian ini dapat dikelompokkan ke dalam enam seksi:

Seksi pertama memaparkan kebutuhan akan pembebasan dan memperkenalkan sang pembebas, yaitu Musa (Kel. 1:1–2:22). Seksi berikutnya memperkenalkan secara lebih utuh Allah Sang Pembebas beserta cara-cara yang dipakai-Nya untuk memperlengkapi Musa demi membebaskan umat tersebut (2:23–4:17). Seksi ketiga mencatat masa peralihan ketika Musa kembali ke Mesir (4:18–31), sementara seksi keempat mengisahkan upaya pertama (dan kegagalan awal) Musa dalam pembebasan, namun juga menegaskan karakter setia TUHAN serta janji-Nya untuk membebaskan (5:1–6:9). Seksi kelima menyajikan informasi latar belakang mengenai Musa dan Harun sekaligus memberikan pratinjau mengenai cara TUHAN akan membebaskan umat-Nya (6:10–7:7). Seksi terakhir memaparkan penghakiman mukjizat yang didatangkan TUHAN atas Mesir untuk menyatakan kuasa kedaulatan-Nya (7:8–11:10). Di sepanjang bagian ini, narator berulang kali mengarahkan perhatian kita kepada karakter TUHAN—Pribadi yang memelihara umat-Nya, yang akan menyelamatkan mereka karena kesetiaan perjanjian-Nya, dan yang sanggup menyelamatkan mereka karena kuasa kedaulatan-Nya atas segala kekuatan duniawi maupun kekuatan rohani.


Penderitaan Bangsa Israel dan Kebutuhan akan Seorang Pembebas (1:1–2:22)

Firaun Berusaha Membinasakan Umat Israel yang Berbuah Banyak (1:1–22)

"Inilah nama para anak Israel yang datang ke Mesir bersama-sama dengan Yakub; mereka datang dengan keluarganya masing-masing: Ruben, Simeon, Lewi dan Yehuda; Isakhar, Zebulon dan Benyamin; Dan serta Naftali, Gad dan Asyer. Seluruh keturunan yang diperoleh Yakub berjumlah tujuh puluh jiwa. Tetapi Yusuf telah ada di Mesir. Kemudian matilah Yusuf, serta semua saudara-saudaranya dan semua orang yang seangkatan dengan dia. Orang-orang Israel beranak cucu dan tak terbilang jumlahnya; mereka bertambah banyak dan dengan dahsyat berlipat ganda, sehingga negeri itu dipenuhi mereka.

Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: 'Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan—jika terjadi peperangan—jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.' Sebab itu pengawas-pengawas rodi ditempatkan atas mereka untuk menindas mereka dengan kerja paksa: mereka harus mendirikan bagi Firaun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Raamses. Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu. Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: 'Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup.' Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup. Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka: 'Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?' Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: 'Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.' Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda. Dan karena bidan-bidan itu takut akan Allah, maka Ia membuat mereka berumah tangga. Lalu Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya: 'Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan biarkanlah hidup.'"
Keluaran 1:1–22 (TB)

Kitab Keluaran dimulai dengan pengingat yang kuat bahwa TUHAN telah menggenapi janji-Nya terdahulu untuk menjadikan keturunan Israel suatu bangsa yang besar (1:1–7). Namun, hal ini memicu masalah baru: bangsa Mesir kini menjadi takut kepada bangsa Israel sehingga berupaya mengendalikan pertumbuhan mereka melalui penindasan dan genosida (1:8–22).

Umat Israel Berlipat Ganda di Mesir (1:1–7). Keluaran 1 kembali mengangkat tema-tema yang telah diperkenalkan dalam Kitab Kejadian: orang Israel berkembang menjadi keluarga besar berjumlah tujuh puluh jiwa (1:1–5; lih. Kej. 46:8–27) dan dari sana mereka “beranak cucu” (fruitful) dan “bertambah banyak” (multiplied) (Kel. 1:6–7; lih. Kej. 47:27) hingga memenuhi “negeri” (atau “bumi”). Ayat 6–7 memakai bahasa Kejadian 1:28 untuk menegaskan bahwa Allah sedang mengerjakan di dalam diri Israel apa yang telah Dia rancangkan sejak semula bagi umat manusia. TUHAN ingin memakai Israel sebagai penunjuk arah (signpost) bagi umat manusia mengenai rencana kehendak-Nya atas dunia ciptaan-Nya.

Upaya Firaun Mengendalikan dan Membinasakan Umat Israel (1:8–22). Setelah TUHAN menjadikan Israel suatu bangsa yang besar, kita sewajarnya mengantisipasi bahwa Dia akan segera menggenapi janji-Nya untuk memberikan suatu negeri kepada mereka. Namun sebaliknya, kita mendapati bahwa seorang raja baru bangkit memerintah di Mesir. Kapan persisnya peristiwa ini terjadi tidak disebutkan secara pasti; peristiwa-peristiwa dalam Keluaran 1–2 berlangsung melintasi banyak generasi (lih. 12:40) namun disajikan secara teropong ringkas (telescoped) seolah-olah terjadi hanya dalam kurun satu atau dua generasi. Hal yang paling krusial adalah bahwa raja baru ini tidak mengenal Yusuf (1:8), dan karena itu ia tidak menaruh simpati ataupun memandang baik keturunannya. Firaun ini justru merasa takut kalau-kalau orang Israel bersekutu dengan musuh-musuh Mesir dalam peperangan dan akhirnya meloloskan diri dari negeri itu (1:10). Raja ini beserta rakyatnya merespons melalui tiga langkah tindakan.

Pertama, mereka berupaya mengendalikan bangsa Israel melalui kerja paksa yang berat, dengan memaksa mereka membangun kota-kota perbekalan serta mengerjakan tanah liat, batu bata, dan pekerjaan berat di ladang (1:8–14). Sifat penindasan dari pekerjaan ini sangat ditekankan: “untuk menindas mereka dengan kerja paksa” (1:11); “dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja sebagai budak” (1:13, 14); “memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat” (1:14). Tindakan semacam ini lazimnya akan mengakibatkan banyak kematian di usia dini sehingga populasi dapat terkendali; namun, berkat pemeliharaan dan berkat TUHAN, hal yang sebaliknya justru terjadi: orang Israel makin bertambah banyak dan makin berkembang pesat (1:12).

Kedua, Firaun mengambil pendekatan yang lebih langsung dan keji (1:15–21). Ia memerintahkan bidan-bidan yang melayani perempuan Ibrani untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang baru lahir dan hanya membiarkan anak perempuan hidup. Oleh karena garis silsilah keturunan diperhitungkan melalui pihak laki-laki, bangsa Israel akan lenyap sebagai suatu bangsa tersendiri, sebab anak-anak perempuan tersebut nantinya akan diserap ke dalam keluarga-keluarga Mesir.[^5] Namun, karena bidan-bidan itu “takut akan Allah” melebihi rasa takut mereka kepada Firaun, mereka menolak untuk menaatinya (1:17). Allah memakai ketaatan kedua perempuan ini—yang tanpa diragukan lagi dipandang “lemah” di mata dunia—untuk menggagalkan rencana dari penguasa paling perkasa di muka bumi pada masa itu (bdk. 1Kor. 1:26–29). Allah juga menganugerahi mereka upah, bukan hanya dengan mengabadikan nama mereka di dalam teks Kitab Suci ini (1:15), melainkan juga dengan mengaruniakan keluarga bagi mereka sendiri (1:21).

Akhirnya, karena bangsa Israel terus bertambah banyak secara luar biasa (1:20), Firaun menjadi putus asa dan memerintahkan segenap rakyat Mesir untuk melemparkan setiap bayi laki-laki Israel yang baru lahir ke dalam Sungai Nil (1:22). Kondisi bangsa Israel kini berada dalam bahaya yang sangat genting. Mereka mutlak membutuhkan seorang pembebas—suatu gambaran tentang kebutuhan mendalam yang dimiliki oleh setiap manusia berdosa, yang penggenapannya secara sempurna telah disediakan di dalam Yesus Kristus (Mat. 1:21).


Pengenalan Tokoh Pembebas Israel (2:1–22)

"Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia. Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya. Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: 'Tentulah ini bayi orang Ibrani.' Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: 'Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?' Sahut puteri Firaun kepadanya: 'Baiklah.' Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: 'Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu.' Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya. Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: 'Karena aku telah menariknya dari air.'

Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir. Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, didapatinya dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah itu: 'Mengapa engkau pukul temanmu?' Tetapi jawabnya: 'Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?' Musa menjadi takut, sebab pikirnya: 'Tentulah perkara itu telah ketahuan.' Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur.

Adapun imam di Midian itu mempunyai tujuh anak perempuan. Mereka datang menimba air dan mengisi palungan-palungan untuk memberi minum kambing domba ayahnya. Maka datanglah gembala-gembala yang mengusir mereka, lalu Musa bangkit menolong mereka dan memberi minum kambing domba mereka. Ketika mereka sampai kepada Rehuel, ayah mereka, berkatalah ia: 'Mengapa selekas itu kamu pulang hari ini?' Jawab mereka: 'Seorang Mesir menolong kami terhadap gembala-gembala, bahkan ia menimba air banyak-banyak untuk kami dan memberi minum kambing domba.' Ia berkata kepada anak-anaknya: 'Di manakah ia? Mengapakah kamu tinggalkan orang itu? Panggillah dia makan.' Musa bersedia tinggal di rumah itu, lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya, kepada Musa. Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, maka Musa menamainya Gersom, sebab katanya: 'Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing.'"
Keluaran 2:1–22 (TB)

Pasal ini menguraikan kelahiran Musa serta penyelamatan ajaib yang dialaminya (2:1–10), disusul pelariannya ke tanah Midian (2:11–22), yaitu tempat di mana TUHAN kelak akan mengutus dan menetapkannya menjadi pembebas bagi bangsa Israel (Kel. 3–4).

Kelahiran dan Penyelamatan Sang Pembebas (2:1–10). Sepasang suami-istri dari suku Lewi dikaruniai seorang anak laki-laki (2:1–2). Bayi tersebut tampak sehat dan elok parasnya (dalam pengertian fine / baik), namun akibat ancaman titah Firaun (1:22), sang ibu terpaksa menyembunyikannya selama tiga bulan (2:2). Ketika persembunyian itu tidak lagi memungkinkan, sang ibu meletakkan bayinya di dalam sebuah “peti” (basket) di antara teberau di tepi Sungai Nil. Kata Ibrani untuk “peti” ini (tēbāh) merupakan kata yang persis sama dengan yang digunakan untuk “bahtera” Nuh, memberikan petunjuk terselubung bahwa sama seperti Nuh, anak ini kelak akan menjadi seorang pembebas dan juru selamat.

Ketika kakak perempuan bayi itu mengawasi dari kejauhan (2:4), putri Firaun datang untuk mandi di Sungai Nil. Sang putri menemukan peti tersebut dan menaruh belas kasihan kepada anak itu (2:5–6). Kakak perempuannya segera melangkah maju—perhatikan kembali bagaimana TUHAN berdaulat memakai tokoh-tokoh perempuan (bdk. 1:17)—dan menawarkan diri untuk mencarikan seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani (2:7). Hasilnya? Bayi tersebut diserahkan kembali kepada ibu kandungnya sendiri (2:8)! Sang pembebas diselamatkan agar kelak ia dapat dipakai untuk membebaskan umat Allah (bdk. Mat. 2:13–15). Setelah anak itu bertumbuh cukup besar, ia diserahkan dan diadopsi oleh putri Firaun, yang menamainya Musa karena ia telah menariknya dari air (2:10). (Nama “Musa” berbunyi mirip dengan kata kerja Ibrani yang berarti “menarik keluar” [draw out / māšāh]).

Sang Pembebas Melarikan Diri ke Midian (2:11–22). Musa, yang kini telah dewasa, keluar mendapatkan “saudara-saudaranya” (2:11). Pilihan ungkapan ini memperlihatkan bahwa Musa sangat menyadari akar identitas Ibraninya. Menyaksikan “beban kerja paksa” saudara-saudaranya dan melihat seorang dari mereka sedang “dipukul” (atau “dihantam roboh,” bhs. Ibr. nākah), hatinya tergerak penuh amarah dan ia ganti “memukul roboh” (bhs. Ibr. nākah) orang Mesir itu hingga tewas (2:12). Keesokan harinya, ketika ia menegur seorang Israel yang sedang “memukul” (bhs. Ibr. nākah) saudaranya sesama Ibrani (sehingga bertindak layaknya seorang penindas Mesir), orang Israel tersebut membalas dengan cemoohan yang membuktikan bahwa perbuatan Musa membunuh orang Mesir telah menjadi rahasia umum (2:13–14). Firaun sendiri segera mendengar kabar tersebut, sehingga Musa melarikan diri ke tanah Midian (2:15), suatu daerah yang “kemungkinan besar terletak di barat laut Jazirah Arab, tepat di sebelah timur Teluk Elat (Aqaba).”[^6]

Ketika sedang duduk di dekat sebuah sumur, Musa melihat tujuh anak perempuan dari imam Midian datang untuk memberi minum kawanan ternak mereka, namun diusir dengan kasar oleh para gembala lain (2:15b–17a). Musa bangkit dan “menyelamatkan” serta “menolong” mereka (2:17b, 19)—suatu pertanda awal mengenai apa yang kelak akan dilakukannya bagi segenap bangsa Israel—bahkan ia menimba air untuk memberi minum ternak mereka. Ayah gadis-gadis tersebut, Rehuel (yang juga dikenal sebagai Yitro, 3:1),[^7] mengundang Musa untuk tinggal bersama keluarganya dan memberikan Zipora, putrinya, untuk menjadi istri Musa (2:21). Musa menamai putra sulung mereka Gersom, yang bagian awalnya berbunyi mirip dengan kata Ibrani untuk “pendatang/orang asing” (gēr), mencerminkan pengalaman hidup Musa di tanah pembuangan.

TUHAN Memanggil Pembebas Israel: Musa (2:23–4:17)

TUHAN Mengingat Umat Israel dan Perjanjian-Nya dengan Mereka (2:23–25)

"Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka."
Keluaran 2:23–25 (TB)

Sebuah perikop peralihan mengingatkan kita akan dua fakta mendasar: bangsa Israel sedang menderita dengan sangat berat ("mengeluh karena perbudakan ... berseru-seru ... teriak mereka minta tolong") (2:23), dan TUHAN sepenuhnya mengetahui hal itu serta bersiap untuk bertindak ("mendengar ... mengingat ... melihat ... memperhatikan") (2:24–25). Bagaimana caranya? Yaitu dengan memanggil Musa untuk menjadi pembebas bagi bangsa Israel (3:1–4:17).


TUHAN Memanggil Musa untuk Menjadi Pembebas Bangsa Israel (3:1–4:17)

Penampakan TUHAN di Semak Duri yang Menyala (3:1–22)

"Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: 'Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?' Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: 'Musa, Musa!' dan ia menjawab: 'Ya, Allah.' Lalu Ia berfirman: 'Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.' Lagi Ia berfirman: 'Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.' Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.

Dan TUHAN berfirman: 'Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.'

Tetapi Musa berkata kepada Allah: 'Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?' Lalu firman-Nya: 'Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.'

Lalu Musa berkata kepada Allah: 'Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? — apakah yang harus kujawab kepada mereka?' Firman Allah kepada Musa: 'AKU ADALAH AKU.' Lagi firman-Nya: 'Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.' Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: 'Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.

Pergilah, kumpulkanlah para tua-tua Israel dan katakanlah kepada mereka: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, telah menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku sudah mengindahkan kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di Mesir. Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Dan bilamana mereka mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus beserta para tua-tua Israel pergi kepada raja Mesir, dan kamu harus berkata kepadanya: TUHAN, Allah orang Ibrani, telah menemui kami; oleh sebab itu, izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah kami. Tetapi Aku tahu, bahwa raja Mesir tidak akan membiarkan kamu pergi, kecuali dipaksa oleh tangan yang kuat. Tetapi Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir dengan segala perbuatan yang ajaib, yang akan Kulakukan di tengah-tengahnya; sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi. Dan Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa, tetapi tiap-tiap perempuan harus meminta dari tetangganya dan dari perempuan yang tinggal di rumahnya, barang-barang perak dan emas dan kain-kain, yang akan kamu kenakan kepada anak-anakmu lelaki dan perempuan; demikianlah kamu akan merampasi orang Mesir itu.'"
Keluaran 3:1–22 (TB)

Penampakan TUHAN di dalam Semak Duri yang Menyala (3:1–6). Musa kini menggembalakan kawanan domba milik mertuanya, Yitro (yang juga dikenal sebagai Rehuel, 2:18). Ia tiba di Gunung Sinai—yang di sini disebut sebagai "gunung Allah"—tempat di mana Allah sering kali menampakkan diri kepada umat-Nya (19:16–20; 24:1–18; dll.). Tiba-tiba, seorang malaikat menampakkan diri mewakili TUHAN di dalam semak duri yang menyala namun tidak terbakar habis (3:2). Ketika Musa menyimpang untuk memeriksanya, TUHAN memerintahkannya—kita perlu memahami bahwa sang malaikat berbicara mewakili TUHAN (bandingkan Kej. 22:11 dengan 22:12)—untuk menanggalkan kasutnya sebagai tanda hormat karena ia sedang berdiri di atas tanah yang kudus (3:5; bdk. 30:18–21). Kekudusan tempat itu bersumber dari hadirat Allah di sana, dan Musa seketika itu juga menutupi mukanya (3:6). Jika memandang langsung ke arah seorang raja duniawi dapat dianggap sebagai tindakan tidak hormat pada masa itu (1Sam. 24:9; 2Sam. 14:33), terlebih lagi di hadapan Raja semesta langit!

Janji Pembebasan dari TUHAN dan Pemilihan Musa sebagai Pembebas (3:7–10). Dalam baris-baris kalimat yang berselang-seling, TUHAN mengulangi serta menegaskan kepastian bahwa Dia sepenuhnya mengetahui penderitaan umat-Nya (3:7, 9) dan pasti akan membebaskan mereka (3:8, 10). Secara khusus, Dia akan memakai Musa sebagai pembebas tersebut (3:10).

Penolakan Pertama Musa dan Tanggapan TUHAN (3:11–12). Musa tidak menganggap hal ini sebagai gagasan yang baik (3:11)! Ia menyatakan penolakan atau keberatan sebanyak lima kali di sepanjang pasal-pasal ini (3:11, 13; 4:1, 10, 13). Sebagaimana terlihat di bawah ini, keengganannya lebih didorong oleh rasa takut daripada kerendahan hati. Dengan penuh kasih karunia, TUHAN menjanjikan hadirat penyertaan-Nya (3:12a), yang merupakan penawar bagi segala rasa takut. Dia juga berbicara mengenai sebuah tanda (3:12b), yang dapat merujuk pada peristiwa ketika bangsa Israel kelak "beribadah" (yaitu, "menyembah") Allah di gunung ini pada masa depan (demikian dalam ESV). Namun, jika diterjemahkan secara berbeda, tanda tersebut dapat mengacu pada semak duri yang menyala ("dan inilah [yaitu semak duri ini] tanda bagimu..."). Bagaimanapun juga, hadirat penyertaan Allah berarti tidak ada lagi alasan untuk merasa takut.

Penolakan Kedua Musa dan Tanggapan TUHAN (3:13–22). Musa menunda kepatuhannya dengan mengajukan pertanyaan lain (3:13). Jika bangsa Israel harus percaya bahwa ia diutus oleh Allah nenek moyang mereka, ia merasa perlu mengetahui nama-Nya. TUHAN merespons dengan berfirman, "AKU ADALAH AKU" (3:14) dan kemudian memberikan nama diri-Nya yang kudus dalam 3:15: Yahweh (diterjemahkan dalam Alkitab Indonesia sebagai "TUHAN" dengan huruf kapital penuh, mengikuti konvensi penerjemahan Alkitab Inggris the LORD). Para sarjana sepakat bahwa ungkapan "AKU ADALAH AKU" (3:14), yang menggunakan kata kerja Ibrani hāyāh (hyh), berakar dan bertaut erat dengan nama itu sendiri (3:15), yaitu dalam bahasa Ibrani YHWH (yhwh). Namun, apakah signifikansinya?

Ungkapan "AKU ADALAH AKU" ('Ehyeh 'Asyer 'Ehyeh), dengan pengulangan kata kerjanya, merupakan bentuk konstruksi kalimat yang dapat digunakan untuk memberikan penegasan mutlak: "Aku sungguh-sungguh ADA!" Dalam konteks ini, penekanannya terletak pada keunikan mutlak TUHAN: tidak ada allah yang seperti Dia, dan tidak ada Allah selain Dia. Perhatikan bagaimana TUHAN berulang kali menegaskan nama-Nya ("Akulah TUHAN!") dalam pasal-pasal berikutnya (8:22; 10:2; dll.) ketika menunjukkan bahwa "tidak ada yang sama seperti Aku" (9:14). Dan perhatikan bagaimana Kitab Ulangan menoleh kembali pada pasal-pasal ini lalu menyimpulkan, "tidak ada yang lain kecuali Dia" (Ul. 4:35).[^8] Betapa penghiburan yang luar biasa dari kedua kebenaran ini bagi bangsa Israel! (Dan betapa penghiburan yang agung bagi orang-orang percaya masa kini, yang mengingat bahwa Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Sang "AKU ADALAH AKU" yang agung [Yoh. 8:58]!)

Selanjutnya, TUHAN memerintahkan Musa untuk mengumpulkan para tua-tua (pemimpin) Israel dan memberitahukan kepada mereka mengenai pemeliharaan-Nya serta janji-Nya untuk membebaskan (3:16–18). Dia juga menyatakan bahwa ketika Musa beserta para tua-tua meminta kebebasan kepada Firaun, Firaun pada mulanya akan menolak, tetapi kemudian, di hadapan kuasa Allah yang tak tertandingi, ia akhirnya akan membiarkan umat itu pergi (3:19–20). Selain kebebasan, TUHAN akan mengaruniakan kemurahan hati sedemikian rupa sehingga orang-orang Mesir akan dengan sukarela memberikan perhiasan dan pakaian kepada mereka (3:21–22). Anak-anak yang dahulu hendak dibinasakan oleh orang Mesir kini akan melangkah keluar dari Mesir dengan mengenakan barang-barang berharga milik bangsa Mesir!


Tanda-Tanda Pengukuhan dan Pengutusan Musa (4:1–17)

"Lalu sahut Musa: 'Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?' TUHAN berfirman kepadanya: 'Apakah yang di tanganmu itu?' Jawab Musa: 'Tongkat.' Firman TUHAN: 'Lemparkanlah itu ke tanah.' Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya. Tetapi firman TUHAN kepada Musa: 'Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya' — Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya — 'supaya mereka percaya, bahwa TUHAN, Allah nenek moyang mereka, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub telah menampakkan diri kepadamu.'

Lagi firman TUHAN kepadanya: 'Masukkanlah tanganmu ke dalam bajumu.' Dimasukkannya tangannya ke dalam bajunya, dan setelah ditariknya ke luar, maka tangannya kena kusta, putih seperti salju. Sesudah itu firman-Nya: 'Masukkanlah tanganmu kembali ke dalam bajumu.' Musa memasukkan tangannya kembali ke dalam bajunya dan setelah ditariknya ke luar, maka tangan itu pulih kembali seperti seluruh badannya. 'Jika mereka tidak percaya kepadamu dan tidak mengindahkan tanda mujizat yang pertama, maka mereka akan percaya kepada tanda mujizat yang kedua. Dan jika mereka tidak juga percaya kepada kedua tanda mujizat ini dan tidak mendengarkan perkataanmu, maka engkau harus mengambil air dari sungai Nil dan harus kaucurahkan di tanah yang kering, lalu air yang kauambil itu akan menjadi darah di tanah yang kering itu.'

Lalu kata Musa kepada TUHAN: 'Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.' Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: 'Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.'

Tetapi Musa berkata: 'Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.' Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: 'Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya. Maka engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan. Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah baginya. Dan bawalah tongkat ini di tanganmu, yang harus kaupakai untuk membuat tanda-tanda mujizat.'"
Keluaran 4:1–17 (TB)

Penolakan Ketiga Musa dan Tanggapan TUHAN (4:1–9). Musa kembali menyatakan keberatan. Klaimnya bahwa "mereka tidak akan percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku" (4:1) secara langsung berkontradiksi dengan apa yang baru saja TUHAN janjikan (3:18). Namun, TUHAN terus menanggapi dengan penuh kesabaran dan menganugerahkan tiga tanda mukjizat pengukuhan kepada Musa (4:2–9). Oleh karena melakukan suatu tindakan sebanyak tiga kali mengomunikasikan penegasan yang kuat di Israel (bdk. 1Sam. 20:41; 1Raj. 17:21), intinya menjadi sangat jelas: Allah sungguh-sungguh telah menampakkan diri kepada Musa.

Penolakan Keempat Musa dan Tanggapan TUHAN (4:10–12). Musa menolak untuk keempat kalinya dengan berdalih mengenai ketidakmampuannya berbicara dengan fasih (4:10). Bagaimana mungkin ia menjadi seorang juru bicara? TUHAN menanggapi dengan mengingatkan Musa akan kekuatan kedaulatan-Nya (Dia sanggup memperlengkapi Musa untuk berbicara) dan hadirat ilahi-Nya (Dia akan menyertai Musa dan mengajarinya apa yang harus dikatakan) (4:11–12). Musa sanggup menaati panggilan tersebut, bukan karena ia kuat atau berbakat secara alami, melainkan karena TUHAN yang Mahakuat menyertainya (bdk. 2Kor. 12:7–10).

Penolakan Kelima Musa dan Tanggapan TUHAN (4:13–17). Musa menyatakan penolakan untuk terakhir kalinya (4:13), dan akhirnya murka TUHAN bangkit. Sekalipun Dia berlimpah dalam kesabaran, pada akhirnya Dia menuntut ketaatan. Namun, bahkan di sini pun Dia tetap menyatakan belas kasihan dengan menyediakan seorang juru bicara bagi Musa: Harun, abang Musa (4:14; lih. 7:7). TUHAN akan berbicara kepada Musa, Musa akan menyampaikan firman itu kepada Harun, dan Harun akan menyampaikannya kepada bangsa itu (4:15–16). Namun, yang terpenting dari semuanya adalah hadirat penyertaan TUHAN yang berkesinambungan bersama Musa dan Harun (4:15b). Hadirat dan kekuatan-Nya-lah yang memampukan keberhasilan mereka.

TUHAN mengakhiri percakapan itu dengan memerintahkan Musa untuk membawa tongkat tersebut (4:17), yang mempersiapkan kita untuk melihat peran sentral yang akan segera dimainkan oleh tongkat itu dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya (7:9–12, 14–21; 8:5–6; dll.).

Musa Kembali ke Mesir (4:18–31)

Musa Kembali ke Mesir (4:18–26)

"Lalu Musa kembali kepada mertuanya Yitro serta berkata kepadanya: 'Izinkanlah kiranya aku kembali kepada saudara-saudaraku, yang ada di Mesir, untuk melihat apakah mereka masih hidup.' Yitro berkata kepada Musa: 'Pergilah dengan selamat.'

Adapun TUHAN sudah berfirman kepada Musa di Midian: 'Kembalilah ke Mesir, sebab semua orang yang ingin mencabut nyawamu telah mati.' Kemudian Musa mengajak isteri dan anak-anaknya lelaki, lalu menaikkan mereka ke atas keledai dan ia kembali ke tanah Mesir; dan tongkat Allah itu dipegangnya di tangannya.

Firman TUHAN kepada Musa: 'Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi. Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.'

Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, TUHAN bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya. Lalu Zipora mengambil pisau batu, dipotongnya kulit khatan anaknya, kemudian disentuhnya dengan kulit itu kaki Musa sambil berkata: 'Sesungguhnya engkau pengantin darah bagiku.' Lalu TUHAN membiarkan Musa. 'Pengantin darah,' kata Zipora waktu itu, karena mengingat sunat itu."
Keluaran 4:18–26 (TB)

Musa memulai perjalanan kembali (4:18–23). Setelah memperoleh izin dari mertuanya, Musa berangkat menuju Mesir bersama istri dan kedua putranya (4:18–20a) serta "tongkat Allah" (4:20b; lih. penjelasan pada 4:17). Sebagaimana dalam 3:16–22, TUHAN memperingatkan Musa tentang apa yang akan terjadi (4:18–21). Sekalipun ia melakukan tanda-tanda mukjizat tersebut, Firaun tidak akan mendengarkan karena TUHAN akan mengeraskan hatinya. Dalam Kitab Keluaran, orang yang "berhati keras" adalah seseorang yang hatinya memberontak dalam ketidaktaatan, sebagaimana tampak jelas dari respons Firaun di sepanjang pasal-pasal ini. Ketika TUHAN mengeraskan hati Firaun, Dia tidak sedang mengubah hati yang baik menjadi jahat (kejahatan hati Firaun sudah sangat nyata); Dia sedang meneguhkan Firaun di dalam pemberontakannya. Allah terkadang menghakimi kita dengan cara "membiarkan kita" larut ke dalam dosa kita (Rm. 1:28–32).

TUHAN kemudian memberitahukan kepada Musa peringatan yang harus disampaikan kepada Firaun (4:22–23). Di dalamnya, Dia menggambarkan bangsa Israel sebagai "anak-Ku yang sulung", yang berarti TUHAN mengasihi bangsa Israel sekaligus bahwa mereka harus memenuhi peran khusus anak sulung di Israel kuno: memelihara "kesejahteraan seisi rumah dan kehormatannya" melalui pelayanan yang taat.[^9] Dengan melayani TUHAN yang mengasihi mereka dalam ketaatan, Israel akan menghormati Bapa mereka di hadapan dunia yang menyaksikan. (Mengenai Yesus sebagai Sang Anak Sulung yang terutama dan sejati, lih. Ibr. 1:1–12. Mengenai pembahasan tentang kematian anak sulung orang Mesir, lih. penjelasan pada 11:4–9.)

Musa diselamatkan dari penghakiman TUHAN (4:24–26). Sebagian perikop mengandaikan pemahaman akan realitas budaya Israel kuno. Tanpa pemahaman tersebut, makna seutuhnya dari perikop-perikop semacam itu tetap menjadi misteri. Ini adalah salah satu perikop tersebut.

Sekurang-kurangnya, tampaknya murka TUHAN timbul akibat kegagalan Musa untuk menyunat putranya (perhatikan bagaimana tindakan Zipora menyunat putra mereka berhasil memalingkan murka Allah). Narasi ini dengan demikian menegaskan pentingnya membesarkan anak-anak di dalam perjanjian (lih. Kej. 17:10–14). Dan terlepas dari berbagai dugaan para penafsir, tetaplah misterius mengapa Zipora menyentuhkan kulit khatan itu ke kaki Musa (yang mungkin merupakan eufemisme untuk "kemaluan") dan berkata, "engkau pengantin darah bagiku."


Musa dan Harun Memberitakan Pembebasan kepada Orang Israel (4:27–31)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Harun: 'Pergilah ke padang gurun menjumpai Musa.' Ia pergi dan bertemu dengan dia di gunung Allah, lalu menciumnya. Kemudian Musa memberitahukan kepada Harun segala firman TUHAN yang disuruhkan-Nya kepadanya untuk disampaikan dan segala tanda mujizat yang diperintahkan-Nya kepadanya untuk dibuat. Lalu pergilah Musa beserta Harun dan mereka mengumpulkan semua tua-tua Israel. Harun mengucapkan segala firman yang telah diucapkan TUHAN kepada Musa, serta membuat di depan bangsa itu tanda-tanda mujizat itu. Lalu percayalah bangsa itu, dan ketika mereka mendengar, bahwa TUHAN telah mengindahkan orang Israel dan telah melihat kesengsaraan mereka, maka berlututlah mereka dan sujud menyembah."
Keluaran 4:27–31 (TB)

TUHAN kini mengutus Harun ke Gunung Sinai, tempat ia bertemu kembali dengan Musa (4:27). Musa menceritakan kepadanya segala firman yang telah disampaikan TUHAN kepadanya dan memperlihatkan tanda-tanda mukjizat itu kepadanya (4:28).

Hal ini mempersiapkan mereka untuk kembali ke Mesir, tempat mereka mengumpulkan para pemimpin bangsa Israel. Harun menyampaikan firman TUHAN, memperlihatkan tanda-tanda mukjizat tersebut kepada mereka, dan umat itu meresponsnya dengan percaya serta sujud menyembah dengan penuh syukur karena TUHAN telah mengingat mereka dan "mengindahkan" (melawat) mereka dengan pemeliharaan yang istimewa (4:29–31; mengenai Yesus sebagai "lawatan" pamungkas dari TUHAN, lih. Luk. 1:68–75).

Penindasan Firaun dan Janji Pembebasan dari TUHAN (5:1–6:9)

Firaun Menolak Perintah TUHAN; Umat Berbalik Melawan Musa dan Harun (5:1–21)

"Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya: 'Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun.'

Tetapi Firaun berkata: 'Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi.'

Lalu kata mereka: 'Allah orang Ibrani telah menemui kami; izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah kami, supaya jangan nanti mendatangkan kepada kami penyakit sampar atau pedang.'

Tetapi raja Mesir berkata kepada mereka: 'Musa dan Harun, mengapakah kamu bawa-bawa bangsa ini melalaikan pekerjaannya? Pergilah melakukan pekerjaanmu!' Lagi kata Firaun: 'Lihat, sekarang telah terlalu banyak bangsamu di negeri ini, masakan kamu hendak menghentikan mereka dari kerja paksanya!'

Pada hari itu juga Firaun memerintahkan kepada pengerah-pengerah bangsa itu dan kepada mandur-mandur mereka sendiri: 'Tidak boleh lagi kamu memberikan jerami kepada bangsa itu untuk membuat batu bata, seperti sampai sekarang; biarlah mereka sendiri yang pergi mengumpulkan jerami, tetapi jumlah batu bata, yang harus dibuat mereka sampai sekarang, bebankanlah itu juga kepada mereka dan jangan menguranginya, karena mereka pemalas. Itulah sebabnya mereka berteriak-teriak: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada Allah kami. Pekerjaan orang-orang ini harus diperberat, sehingga mereka terikat kepada pekerjaannya dan jangan mempedulikan perkataan dusta.'

Maka para pengerah bangsa itu dan para mandurnya pergi dan berkata kepada mereka: 'Beginilah kata Firaun: Aku tidak memberi jerami lagi kepadamu. Pergilah kamu sendiri mengambil jerami, di mana saja kamu mendapatnya, tetapi pekerjaanmu sedikitpun tidak boleh kurang.' Lalu berseraklah bangsa itu ke seluruh tanah Mesir untuk mengumpulkan tunggul gandum sebagai pengganti jerami. Dan pengerah-pengerah itu mendesak mereka dengan berkata: 'Selesaikan pekerjaanmu, yaitu tugas sehari, seperti pada waktu ada jerami.'

Lalu pengerah-pengerah Firaun memukul mandur-mandur Israel, yang mereka angkat, sambil bertanya: 'Mengapakah kamu pada hari ini tidak menyelesaikan jumlah batu bata yang harus kamu buat seperti kemarin?' Sesudah itu pergilah para mandur Israel kepada Firaun dan mengadukan halnya kepadanya: 'Mengapakah tuanku berlaku seperti itu terhadap hamba-hambamu ini? Jerami tidak diberikan lagi kepada hamba-hambamu ini tetapi walaupun begitu, kami diperintahkan: Buatlah batu bata. Dan dalam pada itu hamba-hambamu ini dipukuli, padahal rakyat tuankulah yang bersalah.'

Tetapi ia berkata: 'Pemalas kamu, pemalas! Itulah sebabnya kamu berkata: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada TUHAN! Jadi sekarang, pergilah, bekerja! Jerami tidak akan diberikan lagi kepadamu, tetapi jumlah batu bata yang sama harus kamu serahkan.' Maka mengertilah para mandur Israel, bahwa mereka ada dalam keadaan susah, karena dikatakan kepada mereka: 'Kamu tidak boleh mengurangi jumlah batu bata pada tiap-tiap hari.'

Waktu mereka meninggalkan Firaun berjumpalah mereka dengan Musa dan Harun, yang sedang menantikan mereka, lalu mereka berkata kepada keduanya: 'Kiranya TUHAN memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami.'"
Keluaran 5:1–21 (TB)

Musa dan Harun menyampaikan perintah TUHAN kepada Firaun untuk membiarkan orang Israel pergi supaya mereka dapat beribadah kepada TUHAN (5:1). Respons Firaun, "Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya?" (5:2), sarat dengan penghinaan dan cemoohan. Ia menolak untuk "mengenal/mengakui"—kata Ibrani yang dipakai dalam 5:2b dapat diterjemahkan dengan kedua cara tersebut—kedaulatan TUHAN sebagai Raja dan bahwa Israel adalah umat-Nya. Firaun kemudian melipatgandakan kejahatannya dengan menuntut bangsa Israel membuat jumlah batu bata yang sama sekalipun mereka tidak lagi diberi jerami yang diperlukan untuk membuatnya (5:6–8a; jerami berfungsi memperkuat batu bata lumpur). Hal ini dimaksudkan untuk mengajari mereka agar tidak bermalas-malasan dan, yang lebih penting lagi, untuk menghasut mereka agar berbalik menentang Musa dan Harun (5:8b–9; lih. 5:21).

Ketika orang-orang Israel gagal memenuhi tugas yang mustahil ini—mereka tidak dapat mengumpulkan jerami dengan cepat karena harus menempuh perjalanan jauh untuk mencarinya, terutama ketika yang tersisa hanyalah sedikit tunggul gandum—para mandur Israel dipukuli (5:10–14). Mereka memohon pertolongan dan keringanan kepada Firaun, dengan rendah hati mengutarakan ketidakadilan situasi tersebut ("hamba-hambamu"; 5:15–16), tetapi hati Firaun yang fasik sama sekali tidak bergeming, dan ia justru menegaskan kembali tuduhannya ("pemalas . . . pemalas") beserta titahnya yang tidak adil (5:17–18).

Siasat Firaun berhasil, dan umat itu berbalik melawan Musa dan Harun, bahkan memohon agar Allah menghakimi keduanya karena telah mendatangkan kesusahan dan malapetaka besar bagi orang Israel (5:19–21). Tampaknya perutusan Musa telah berakhir dengan kegagalan mutlak.


Janji Pembebasan dari TUHAN dan Keputusasaan Umat (5:22–6:9)

"Lalu Musa kembali menghadap TUHAN, katanya: 'Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus? Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali.'

Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: 'Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun; sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi, ya dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan mengusir mereka dari negerinya.'

Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: 'Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku.

Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN.'

Lalu Musa mengatakan demikian kepada orang Israel, tetapi mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu."
Keluaran 5:22–6:9 (TB)

Musa kini berdoa, bertanya mengapa TUHAN mendatangkan "kesengsaraan/kesusahan" yang demikian besar atas umat-Nya dengan mengutus dirinya kepada mereka (5:22). Pengamatannya bahwa Allah sama sekali belum melepaskan mereka sesungguhnya merupakan permohonan yang mendesak agar Dia segera bertindak (5:23).

TUHAN menjawab seruan doanya: "sebab dipaksa oleh tangan yang kuat [Firaun] akan membiarkan mereka pergi" (6:1). Dia kemudian mengingatkan Musa bahwa Dia adalah Allah para leluhur Israel[^10] dan telah mengikat janji perjanjian untuk memberikan tanah Kanaan kepada mereka (6:2–4). Dia sangat memperhatikan penderitaan mereka, mengingat janji perjanjian ini, dan akan segera melaksanakannya (6:5).

Atas dasar inilah Musa harus menyampaikan sejumlah janji kepada mereka, yang seluruhnya dibingkai oleh pernyataan "Akulah TUHAN" (6:6, 8; bandingkan dengan pertanyaan sarkastis Firaun dalam 5:2). Janji-janji ini menegaskan bahwa TUHAN adalah Allah yang membebaskan dan menebus (6:6), mengikat relasi perjanjian yang personal dengan umat-Nya (6:7), serta setia menggenapi janji-janji perjanjian-Nya (6:8). Karena itu, Dia dapat dipercayai sepenuhnya betapa pun beratnya pencobaan yang dihadapi (bdk. 2Kor. 12:7–10; 1Ptr. 2:21–23).

Namun, ketika Musa membagikan kabar baik ini kepada bangsa itu, mereka tidak sanggup memercayainya (6:9). Tanpa iman, berbagai pencobaan dan penderitaan akan menindih serta memperkeruh hati kita hingga menjadi pahit, membuat kita tidak mampu mendengar kemungkinan-kemungkinan luar biasa dari penggenapan janji Allah.

Pengantar Menuju Pembebasan yang Akan Datang (6:10–7:7)

TUHAN Memerintahkan Musa Menghadap Firaun (6:10–12)

"Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: 'Pergilah menghadap, katakanlah kepada Firaun, raja Mesir, bahwa ia harus membiarkan orang Israel pergi dari negerinya.'

Tetapi Musa berkata di hadapan TUHAN: 'Orang Israel sendiri tidak mendengarkan aku, bagaimanakah mungkin Firaun akan mendengarkan aku, aku seorang yang tidak petah lidahnya!'"
Keluaran 6:10–12 (TB)

TUHAN kembali berfirman kepada Musa untuk menuntut Firaun agar membiarkan umat itu pergi (bdk. 4:22–23). Sebagaimana dalam pasal 3–4, Musa kembali berkeberatan dan enggan, dengan menggambarkan bibirnya sebagai "tidak bersunat", yaitu tidak sanggup menjalankan tugasnya (bdk. Im. 26:41). Ia merasa tidak memiliki kecakapan bicara yang meyakinkan; ia merasa sama sekali mustahil dapat meyakinkan Firaun jika meyakinkan bangsanya sendiri saja ia tidak sanggup.


Silsilah Musa dan Harun (6:13–27)

"Demikianlah TUHAN telah berfirman kepada Musa dan Harun, serta mengutus mereka kepada orang Israel dan kepada Firaun, raja Mesir, dengan membawa perintah supaya orang Israel dibawa keluar dari Mesir.

Inilah para kepala kaum keluarga mereka: Anak-anak Ruben anak sulung Israel: Henokh, Palu, Hezron dan Karmi; itulah kaum-kaum Ruben.

Anak-anak Simeon: Yemuel, Yamin, Ohad, Yakhin, Zohar, dan Saul, anak seorang perempuan Kanaan; itulah kaum-kaum Simeon.

Inilah nama anak-anak Lewi menurut urutan kelahirannya: Gerson, Kehat dan Merari. Umur Lewi seratus tiga puluh tujuh tahun.

Anak-anak Gerson: Libni dan Simei, menurut kaum mereka.

Anak-anak Kehat: Amram, Yizhar, Hebron dan Uziel. Umur Kehat seratus tiga puluh tiga tahun.

Anak-anak Merari: Mahli dan Musi. Itulah kaum-kaum Lewi menurut urutannya.

Dan Amram mengambil Yokhebed, saudara ayahnya, menjadi isterinya, dan perempuan ini melahirkan Harun dan Musa baginya. Umur Amram seratus tiga puluh tujuh tahun.

Anak-anak Yizhar: Korah, Nefeg dan Zikhri.

Anak-anak Uziel: Misael, Elsafan dan Sitri.

Dan Harun mengambil Eliseba, anak perempuan Aminadab, saudara perempuan Nahason, menjadi isterinya, dan perempuan ini melahirkan baginya Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.

Anak-anak Korah: Asir, Elkana dan Abiasaf; itulah kaum-kaum orang Korah.

Eleazar, anak Harun, mengambil salah seorang anak perempuan Putiel menjadi isterinya dan perempuan ini melahirkan Pinehas baginya. Itulah para kepala kaum keluarga orang Lewi menurut kaum mereka.

Itulah Harun dan Musa, yang diperintahkan TUHAN: 'Bawalah orang Israel keluar dari tanah Mesir menurut pasukan mereka.'

Merekalah yang berbicara kepada Firaun, raja Mesir, supaya mereka membawa orang Israel keluar dari Mesir. Itulah Musa dan Harun."
Keluaran 6:13–27 (TB)

Bagian ini merupakan sebuah jeda (interlude) yang memberikan informasi latar belakang mengenai Musa dan Harun. Bagian ini membentuk sebuah struktur kiasmus: ayat-ayat pembuka dan penutupnya saling mencerminkan satu sama lain, berfokus pada peran Musa dan Harun sebagai para pembebas (6:13, 26–27), sementara ayat-ayat di bagian tengahnya memaparkan silsilah mereka (6:14–25).

Tidak semua masyarakat modern menghargai silsilah, tetapi dalam "masyarakat kesukuan Israel, tatanan masyarakat dibangun berdasarkan garis relasi kekeluargaan yang menentukan keputusan pernikahan serta urusan perniagaan" dan "memberikan rasa memiliki dan jati diri yang mendasar bagi orang-orang . . . Karena itu, mengetahui asal-usul silsilah seseorang menolong Anda untuk memahami bagaimana berhubungan dengan mereka dan bagaimana mereka seharusnya memperlakukan Anda."[^11]

Silsilah ini berpusat pada garis keturunan Lewi, putra ketiga Yakub yang dilahirkan oleh Lea (Ruben dan Simeon adalah dua putra yang pertama, 6:14–15; lih. Kej. 29:31–34). Fokusnya tertuju ke sini karena Musa dan Harun, para pemimpin Israel, berasal dari suku Lewi dan karena suku ini memegang peranan penting dalam urusan-urusan Kemah Suci (lih. Bil. 3–4). Banyak tokoh yang tercatat di sini juga akan tampil dalam narasi-narasi selanjutnya, misalnya Nadab dan Abihu dalam Imamat 10:1–2, atau Korah dalam Bilangan 16:1–32.


TUHAN Memerintahkan Musa Menghadap Firaun dan Memberitahukan Apa yang Akan Terjadi (6:28–7:7)

"Pada waktu TUHAN berfirman kepada Musa di tanah Mesir, TUHAN berfirman kepadanya: 'Akulah TUHAN; katakanlah kepada Firaun, raja Mesir, segala yang Kufirmankan kepadamu.'

Tetapi Musa berkata di hadapan TUHAN: 'Bukankah aku ini seorang yang tidak petah lidahnya, bagaimanakah mungkin Firaun akan mendengarkan aku?'

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu. Engkau harus mengatakan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan Harun, abangmu, harus berbicara kepada Firaun, supaya dibiarkannya orang Israel itu pergi dari negerinya. Tetapi Aku akan mengeraskan hati Firaun, dan Aku akan memperbanyak tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang Kubuat di tanah Mesir. Bilamana Firaun tidak mendengarkan kamu, maka Aku akan mendatangkan tangan-Ku kepada Mesir dan mengeluarkan pasukan-Ku, umat-Ku, orang Israel, dari tanah Mesir dengan hukuman-hukuman yang berat. Dan orang Mesir itu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku mengacungkan tangan-Ku terhadap Mesir dan membawa orang Israel keluar dari tengah-tengah mereka.'

Demikianlah diperbuat Musa dan Harun; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada mereka, demikianlah diperbuat mereka.

Adapun Musa delapan puluh tahun umurnya dan Harun delapan puluh tiga tahun, ketika mereka berbicara kepada Firaun."
Keluaran 6:28–7:7 (TB)

Setelah pemaparan silsilah selesai, 6:28–30 melanjutkan kembali alur kisah dengan merangkum 6:10–12. TUHAN kemudian menenteramkan hati Musa dengan menegaskan bahwa Dia akan memberinya perkataan untuk diucapkan dan Harun pada gilirannya akan menyampaikan perkataan tersebut kepada Firaun (7:1–2). Hal ini menjawab ketakutan yang diungkapkan Musa dalam 6:30. TUHAN juga memberitahukan kepada Musa apa yang akan terjadi: Dia akan mengeraskan hati Firaun (7:3), yaitu meneguhkannya di dalam pemberontakannya, membiarkannya larut ke dalam dosanya (lih. penjelasan pada 4:18–23). Oleh sebab itu Firaun akan terus memberontak, mengabaikan segala perintah dan peringatan TUHAN, tetapi TUHAN pada akhirnya akan menaklukkannya dengan memimpin orang Israel keluar dengan kuasa yang besar. Seluruh Mesir kemudian akan mengetahui bahwa Dialah, Yahweh, Raja yang berdaulat (7:4–5). Penghakiman dan pembebasan semacam itu membayangkan penghakiman dan pembebasan pamungkas yang akan digenapi-Nya kelak saat Yesus datang kembali (Why. 21:1–8).

Perikop ini ditutup dengan menceritakan ketaatan yang ditunjukkan oleh Musa dan Harun dalam pasal-pasal berikutnya (7:6). Perikop ini juga mencatat usia mereka saat misi penting ini dimulai (7:7), suatu ciri khas yang lazim ditemukan pada peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan tokoh-tokoh Alkitab lainnya (Kej. 7:6; 12:4; 17:24; dll.).

Tanda-Tanda Mukjizat Penghakiman: Kuasa Kedaulatan TUHAN atas Firaun dan Ilah-Ilah Mesir (7:8–11:10)

Bagian ini dimulai dengan sebuah tanda yang tidak mendatangkan celaka atau kerugian (7:8–13), lalu memaparkan sepuluh tanda berikutnya yang memukul Mesir beserta penduduknya dengan mendatangkan malapetaka (7:14–11:9). Dari kesepuluh tanda tersebut, sembilan yang pertama terjadi di sini; tanda kesepuluh baru diberitahukan dan akan terjadi kemudian. Meskipun sering disebut sebagai sepuluh "tulah", istilah alkitabiah yang lebih lazim digunakan adalah "tanda-tanda" (7:3; 8:23; 10:1–2) dan "mukjizat-mukjizat" (7:3; 11:9–10), yaitu tanda-tanda mukjizat tentang kuasa kedaulatan TUHAN atas Firaun dan ilah-ilah Mesir melalui tindakan-Nya "memukul" negeri itu (7:25; 12:12). (Oleh karena itu, saya selanjutnya akan menggunakan istilah "tanda" dan "tulah/pukulan penghakiman" alih-alih sekadar "tulah".) Karena kekerasan hati Firaun, ia menolak untuk memercayai tanda-tanda itu dan tidak mau membiarkan umat itu pergi. Hal ini mempersiapkan kita menuju tanda puncak yang dahsyat dalam bagian selanjutnya—yang bermuara pada pembebasan Israel.


Tanda Pertama: Tongkat Harun Menelan Tongkat-Tongkat Para Pegawai Firaun (7:8–13)

"Dan TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun:

'Apabila Firaun berkata kepada kamu: Tunjukkanlah suatu mujizat, maka haruslah kaukatakan kepada Harun: Ambillah tongkatmu dan lemparkanlah itu di depan Firaun. Maka tongkat itu akan menjadi ular.'

Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu mereka berbuat seperti yang diperintahkan TUHAN; Harun melemparkan tongkatnya di depan Firaun dan para pegawainya, maka tongkat itu menjadi ular.

Kemudian Firaunpun memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir; dan merekapun, ahli-ahli Mesir itu, membuat yang demikian juga dengan ilmu mantera mereka.

Masing-masing mereka melemparkan tongkatnya, dan tongkat-tongkat itu menjadi ular; tetapi tongkat Harun menelan tongkat-tongkat mereka.

Tetapi hati Firaun berkeras, sehingga tidak mau mendengarkan mereka keduanya—seperti yang telah difirmankan TUHAN."
Keluaran 7:8–13 (TB)

Atas perintah Musa, Harun melakukan tanda yang pertama, dan tongkatnya berubah menjadi ular. Hal ini jelas merupakan suatu mukjizat adikodrati (perhatikan bagaimana Musa lari ketakutan dari hadapan ular ketika peristiwa ini pertama kali terjadi dalam 4:3). Para ahli sihir Firaun kemudian melakukan hal yang serupa, menampilkan diri sebagai orang-orang yang menguasai "ilmu mantra" untuk mengakses kuasa gaib. Apakah mereka benar-benar melakukan mukjizat adikodrati atau sekadar menggunakan trik sulap kecepatan tangan masih diperdebatkan. Bagaimanapun juga, ketika ular dari tongkat Harun menelan ular-ular mereka, hal itu menyatakan kebenaran yang tak terbantahkan: Allah Harun berkuasa mutlak dan berdaulat atas ilah apa pun yang diwakili oleh para ahli sihir tersebut. Namun, hati Firaun yang berkeras menolak untuk memercayainya. Oleh sebab itu, sepuluh tanda berikutnya—yang secara tradisional dikenal sebagai "sepuluh tulah"—akan menyusul dengan sebuah perbedaan mendasar: masing-masing tanda kini "memukul" bangsa itu atau tanah Mesir dengan malapetaka yang merusak.


Tanda Kedua, Tulah Pertama: Air Menjadi Darah (7:14–25)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Firaun berkeras hati, ia menolak membiarkan bangsa itu pergi.

Pergilah kepada Firaun pada waktu pagi, pada waktu biasanya ia keluar ke sungai; nantikanlah dia di tepi sungai Nil dengan memegang di tanganmu tongkat yang tadinya berubah menjadi ular.

Dan katakanlah kepadanya: TUHAN, Allah orang Ibrani, telah mengutus aku kepadamu untuk mengatakan: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun; meskipun begitu sampai sekarang engkau tidak mau mendengarkan.

Sebab itu beginilah firman TUHAN: Dari hal yang berikut akan kauketahui, bahwa Akulah TUHAN. Lihat, dengan tongkat yang di tanganku ini akan kupukul air yang di sungai Nil dan air itu akan berubah menjadi darah,

dan ikan yang dalam sungai Nil akan mati, sehingga sungai Nil akan berbau busuk; maka orang Mesir akan segan meminum air dari sungai Nil ini.'

TUHAN berfirman kepada Musa: 'Katakanlah kepada Harun: Ambillah tongkatmu, ulurkanlah tanganmu ke atas segala air orang Mesir, ke atas sungai, selokan, kolam dan ke atas segala kumpulan air yang ada pada mereka, supaya semuanya menjadi darah, dan akan ada darah di seluruh tanah Mesir, bahkan dalam wadah kayu dan wadah batu.'

Demikianlah Musa dan Harun berbuat seperti yang difirmankan TUHAN; diangkatnya tongkat itu dan dipukulkannya kepada air yang di sungai Nil, di depan mata Firaun dan pegawai-pegawainya, maka seluruh air yang di sungai Nil berubah menjadi darah;

matilah ikan di sungai Nil, sehingga sungai Nil itu berbau busuk dan orang Mesir tidak dapat meminum air dari sungai Nil; dan di seluruh tanah Mesir ada darah.

Tetapi para ahli Mesir membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga hati Firaun berkeras dan ia tidak mau mendengarkan mereka keduanya seperti yang telah difirmankan TUHAN.

Firaun berpaling, lalu masuk ke istananya dan tidak mau memperhatikan hal itu juga.

Tetapi semua orang Mesir menggali-gali di sekitar sungai Nil mencari air untuk diminum, sebab mereka tidak dapat meminum air sungai Nil.

Demikianlah genap tujuh hari berlalu setelah TUHAN menulahi sungai Nil."
Keluaran 7:14–25 (TB)

Hati Firaun yang berkeras membingkai perikop ini dan menjelaskan alasan pemberontakannya (7:14, 22–23). Musa diperintahkan untuk menemuinya di tepi Sungai Nil—yang menjadi sasaran dari tanda berikutnya—dengan membawa serta tongkat pembuat mukjizat tersebut. Setelah memperingatkan Firaun mengenai ketidaktaatannya, Musa memberitahukan tanda itu: air Sungai Nil akan berubah menjadi darah, ikan-ikannya akan mati, dan rakyat Mesir akan bersusah payah mencari sumber air lain (7:18; bdk. 7:24). Apa hasilnya? Firaun, yang sebelumnya dengan angkuh berkata, "Tidak kenal aku TUHAN itu" (5:2), akan "mengetahui/mengakui" betapa mahakuasanya TUHAN (7:17)!

TUHAN kemudian memerintahkan Musa bagaimana Harun harus melaksanakan tanda tersebut (7:19), dengan menegaskan bahwa dampaknya akan melanda seluruh perairan permukaan dan berfokus pada orang Mesir ("sungai-sungai mereka, selokan-selokan mereka", dsb.). Para penafsir memperdebatkan apakah air tersebut benar-benar berubah menjadi darah secara harfiah, atau apakah bahasa ini digunakan karena endapan lumpur atau ganggang merah yang meluap atas ketetapan ilahi membuat air tampak seperti darah (bandingkan penggunaan istilah "darah" dalam Yoel 2:31). Bagaimanapun juga, dengan matinya ikan-ikan dan air yang membusuk hingga tak dapat diminum, dampaknya sangat dahsyat dan membinasakan (7:21).

Ketika para ahli sihir Firaun berhasil meniru tanda itu dengan cara tertentu (bdk. 7:8–13), hati Firaun yang berkeras memakainya sebagai dalih untuk tidak mendengarkan atau bahkan tidak mau belajar sama sekali (7:22–23), sehingga rakyatnya harus menanggung penderitaan akibat tanda tersebut selama seminggu penuh (7:24–25). Ketiadaan pertobatan kita sering kali mendatangkan malapetaka bagi orang lain.


Tanda Ketiga, Tulah Kedua: Tulah Katak (8:1–15)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Pergilah menghadap Firaun dan katakan kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku;

jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan menulahi seluruh daerahmu dengan katak.

Katak-katak akan mengeriap dalam sungai Nil, lalu naik dan masuk ke dalam istanamu dan kamar tidurmu, ya sampai ke dalam tempat tidurmu, ke dalam rumah pegawai-pegawaimu, dan rakyatmu, bahkan ke dalam pembakaran rotimu serta ke dalam tempat adonanmu.

Katak-katak itu akan naik memanjati engkau, memanjati rakyatmu dan segala pegawaimu.'

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Katakanlah kepada Harun: Ulurkanlah tanganmu dengan tongkatmu ke atas sungai, ke atas selokan dan ke atas kolam, dan buatlah katak-katak bermunculan meliputi tanah Mesir.'

Lalu Harun mengulurkan tangannya ke atas segala air di Mesir, maka bermunculanlah katak-katak, lalu menutupi tanah Mesir.

Tetapi para ahli itupun membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu mantera mereka, sehingga mereka membuat katak-katak bermunculan meliputi tanah Mesir.

Kemudian Firaun memanggil Musa dan Harun serta berkata: 'Berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya katak-katak itu dari padaku dan dari pada rakyatku; maka aku akan membiarkan bangsa itu pergi, supaya mereka mempersembahkan korban kepada TUHAN.'

Kata Musa kepada Firaun: 'Silakanlah tuanku katakan kepadaku, bila aku akan berdoa untukmu, untuk pegawaimu dan rakyatmu, supaya katak-katak itu dilenyapkan dari padamu dan dari rumah-rumahmu, dan hanya tinggal di sungai Nil saja.'

Katanya: 'Besok.' Lalu kata Musa: 'Jadilah seperti katamu itu, supaya tuanku mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti TUHAN, Allah kami.

Maka katak-katak itu akan dijauhkan dari padamu, dari rumah-rumahmu, dari pegawai-pegawaimu dan dari rakyatmu; dan hanya akan tinggal di sungai Nil saja.'

Lalu Musa dan Harun keluar meninggalkan Firaun, dan Musa berseru kepada TUHAN karena katak-katak, yang didatangkan-Nya kepada Firaun.

Dan TUHAN melakukan seperti yang dikatakan Musa, sehingga katak-katak itu mati lenyap dari rumah, dari halaman dan dari ladang.

Dikumpulkan oranglah bangkai-bangkainya bertumpuk-tumpuk, sehingga tanah itu berbau busuk.

Tetapi ketika Firaun melihat, bahwa telah terasa kelegaan, ia tetap berkeras hati, dan tidak mau mendengarkan mereka keduanya—seperti yang telah difirmankan TUHAN."
Keluaran 8:1–15 (TB)

Peringatan tegas diberikan: jika Firaun tidak membiarkan orang Israel pergi, katak-katak akan membanjiri dan mengerumuni setiap sudut rumah orang Mesir, mulai dari ranjang tidur pribadi Firaun hingga peralatan memasak dan wadah adonan roti rakyatnya (8:1–4). Narasi ini mengandaikan Firaun menolak, sehingga Musa memerintahkan Harun untuk mengacungkan tongkat penghakiman yang penuh mukjizat itu (8:5).

Tanda itu pun terjadi, dan kawanan katak menutupi seluruh negeri laksana hamparan selimut yang berdenyut (8:6). Para ahli sihir sekali lagi sanggup meniru tanda tersebut (8:7; bdk. 7:11, 22), yang dalam kasus ini justru memperparah wabah tersebut! Terlebih lagi, mereka sama sekali tidak berdaya untuk melenyapkan katak-katak itu. Firaun akhirnya terpaksa mengakui bahwa hanya Yahweh yang sanggup melakukannya, lalu meminta Musa berdoa memohon kelepasan sembari berjanji akan membiarkan bangsa itu pergi (8:8). Musa menanyakan kapan Firaun ingin katak-katak itu lenyap, dan Firaun memberikan tenggat waktu yang secara manusiawi mustahil untuk menuntaskan wabah berskala nasional: keesokan harinya juga (8:10a)! Musa menyetujuinya, sembari menegaskan bahwa TUHAN melakukan hal ini agar Firaun "mengetahui/mengakui" bahwa tidak ada yang seperti Yahweh sebagai Allah yang berdaulat (8:10b; bdk. pembahasan pada 5:2).

TUHAN mengabulkan seruan doa Musa yang sungguh-sungguh, dan semua katak itu mati, bangkai-bangkainya segera memenuhi negeri itu dengan bau busuk kematian, menjadi pengingat yang nyata akan akibat dosa (8:13–14; bdk. Rm. 6:23). Namun, begitu hukuman disiplin itu diangkat, Firaun kembali mengeraskan hatinya dan menolak menepati janjinya (8:15). Sikapnya menjadi peringatan bagi kita: pertobatan yang menguap seketika saat hukuman berakhir bukanlah pertobatan sejati.


Tanda Keempat, Tulah Ketiga: Tulah Nyamuk (8:16–19)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Katakanlah kepada Harun: Ulurkanlah tongkatmu dan pukulkanlah itu ke debu tanah, maka debu itu akan menjadi nyamuk di seluruh tanah Mesir.'

Lalu mereka berbuat demikian; Harun mengulurkan tangannya dengan tongkatnya dan memukulkannya ke debu tanah, maka nyamuk-nyamuk itu hinggap pada manusia dan pada binatang. Segala debu tanah menjadi nyamuk di seluruh tanah Mesir.

Para ahli itupun membuat yang demikian juga dengan ilmu-ilmu manteranya untuk mengadakan nyamuk-nyamuk, tetapi mereka tidak dapat. Demikianlah nyamuk-nyamuk itu hinggap pada manusia dan pada binatang.

Lalu berkatalah para ahli itu kepada Firaun: 'Inilah tangan Allah.' Tetapi hati Firaun berkeras, dan ia tidak mau mendengarkan mereka—seperti yang telah difirmankan TUHAN."
Keluaran 8:16–19 (TB)

Atas perintah TUHAN, Harun memukulkan tongkat mukjizat itu ke tanah, dan debu tanah berubah menjadi "nyamuk" (atau agas/kutu) yang menyerang manusia dan binatang (8:16–17a; terjemahan kata ini memiliki beberapa kemungkinan; penafsir lain mengusulkan kutu atau agas). "Seluruh" orang Mesir terkena dampaknya (8:17b).

Kali ini, para ahli sihir tidak sanggup meniru tanda tersebut, dan mereka pun tidak mampu melepaskan diri darinya (8:18). Mereka memperingatkan Firaun bahwa suatu kuasa ilahi sedang bekerja (kuasa yang begitu dahsyat sehingga mereka tak berdaya di hadapannya) (8:19a). Namun, Firaun tidak bergeming sedikit pun; hati yang keras akan menolak untuk mendengar bahkan nasihat dari para penasihat kepercayaannya sendiri (8:19b).


Tanda Kelima, Tulah Keempat: Tulah Pikat (8:20–32)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Bangunlah pagi-pagi dan berdirilah menantikan Firaun, pada waktu biasanya ia keluar ke sungai, dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku;

sebab jika engkau tidak membiarkan umat-Ku itu pergi, maka Aku akan melepaskan pikat terhadap engkau, terhadap pegawai-pegawaimu, rakyatmu dan rumah-rumahmu, sehingga rumah-rumah orang Mesir, bahkan tanah, di mana mereka berdiri akan penuh dengan pikat.

Tetapi pada hari itu Aku akan mengecualikan tanah Gosyen, di mana umat-Ku tinggal, sehingga di sana tidak ada terdapat pikat, supaya engkau mengetahui, bahwa Aku, TUHAN, ada di negeri ini.

Sebab Aku akan mengadakan perbedaan antara umat-Ku dan bangsamu. Besok tanda mujizat ini akan terjadi.'

TUHAN berbuat demikian; maka datanglah banyak-banyak pikat ke dalam istana Firaun dan ke dalam rumah pegawai-pegawainya dan ke seluruh tanah Mesir; negeri itu menderita karena pikat itu.

Lalu Firaun memanggil Musa dan Harun serta berkata: 'Pergilah, persembahkanlah korban kepada Allahmu di negeri ini.'

Tetapi Musa berkata: 'Tidak mungkin kami berbuat demikian, sebab korban yang akan kami persembahkan kepada TUHAN, Allah kami, adalah kekejian bagi orang Mesir. Apabila kami mempersembahkan korban yang menjadi kekejian bagi orang Mesir itu, di depan mata mereka, tidakkah mereka akan melempari kami dengan batu?

Kami harus pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah kami, seperti yang difirmankan-Nya kepada kami.'

Lalu kata Firaun: 'Baik, aku akan membiarkan kamu pergi untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di padang gurun; hanya janganlah kamu pergi terlalu jauh. Berdoalah untuk aku.'

Lalu kata Musa: 'Sekarang aku keluar meninggalkan tuanku dan akan berdoa kepada TUHAN, maka pikat itu akan dijauhkan besok dari Firaun, dari pegawai-pegawainya dan rakyatnya; hanya janganlah Firaun berlaku curang lagi dengan tidak membiarkan bangsa itu pergi untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN.'

Sesudah itu keluarlah Musa meninggalkan Firaun, lalu berdoa kepada TUHAN.

Dan TUHAN membuat seperti yang dikatakan Musa: pikat itu dijauhkan-Nya dari Firaun, dari pegawai-pegawainya dan rakyatnya; seekorpun tidak ada yang tinggal.

Tetapi sekali inipun Firaun tetap berkeras hati; ia tidak membiarkan bangsa itu pergi."
Keluaran 8:20–32 (TB)

Musa memperingatkan Firaun mengenai tanda berikutnya: jika ia menolak membiarkan umat TUHAN keluar dari negerinya, TUHAN akan melepaskan kawanan pikat (lalat pikat) ke seluruh negeri! Hal ini akan memperjelas bahwa TUHAN adalah Raja yang berdaulat atas seluruh bumi. Terlebih lagi, Dia akan mengecualikan tanah Gosyen, tempat orang Israel berdiam, untuk menyatakan dengan tegas bahwa mereka adalah umat kepunyaan-Nya (8:20–23). (Pengecualian dan perlindungan istimewa bagi orang Israel ini juga terjadi pada tulah-tulah lainnya [9:4, 26; 10:23; 11:7], yang mengindikasikan bahwa pemeliharaan ini berlangsung bahkan pada bagian-bagian yang tidak dicatat secara eksplisit.)

Firaun mengabaikan peringatan tersebut, dan tanda itu pun melanda (8:24). Kali ini para ahli sihir bahkan tidak berusaha menirunya. Firaun kemudian menyetujui orang Israel mempersembahkan korban, tetapi melarang mereka meninggalkan negeri Mesir sebagaimana yang diminta (8:25). Musa menyanggah bahwa hal itu dapat berakibat fatal bagi orang Israel (dan dengan demikian merugikan tenaga kerja Firaun), sebab orang Mesir karena alasan tertentu[^12] menganggap korban persembahan Israel sebagai suatu kekejian sehingga mereka dapat melempari orang Israel dengan batu (8:26–27). Firaun akhirnya menyetujui orang Israel pergi ke padang gurun (sekalipun tetap melarang mereka pergi terlalu jauh; 8:28), dan Musa mengingatkan Firaun agar tidak berlaku curang lagi seperti sebelumnya (8:29; bdk. 8:8, 15).

Ketika Musa berdoa, TUHAN mengabulkannya dan melenyapkan setiap ekor pikat dari seluruh negeri (8:30–31). Sayangnya, Firaun kembali mengeraskan hatinya dan mengingkari janjinya (8:32). Perkataan yang dapat dipercaya tidak pernah lahir dari hati yang bebal dan keras.


Tanda Keenam, Tulah Kelima: Kematian Ternak Mesir (9:1–7)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Pergilah menghadap Firaun dan berbicaralah kepadanya: Beginilah firman TUHAN, Allah orang Ibrani: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku.

Sebab jika engkau menolak membiarkan mereka pergi dan masih menahan mereka,

maka ternakmu, yang ada di padang, kuda, keledai, unta, lembu sapi dan kambing domba, akan kena tulah TUHAN, yakni kena penyakit sampar yang dahsyat.

Dan TUHAN akan membuat perbedaan antara ternak orang Israel dan ternak orang Mesir, sehingga tidak ada yang akan mati seekorpun dari segala ternak orang Israel.'

Selanjutnya TUHAN menentukan waktunya, firman-Nya: 'Besoklah TUHAN akan melakukan hal itu di negeri ini.'

Dan TUHAN melakukan hal itu keesokan harinya; segala ternak orang Mesir itu mati, tetapi dari ternak orang Israel tidak ada seekorpun yang mati.

Lalu Firaun menyuruh orang ke sana dan sesungguhnyalah dari ternak orang Israel tidak ada seekorpun yang mati. Tetapi Firaun tetap berkeras hati dan tidak mau membiarkan bangsa itu pergi."
Keluaran 9:1–7 (TB)

Dalam tanda ini, TUHAN membinasakan ternak orang Mesir melalui penyakit sampar.[^13] Karena mata pencaharian dan kelangsungan hidup masyarakat sangat bergantung pada hewan ternak mereka, bencana ini mendatangkan kehancuran ekonomi yang luar biasa bagi orang Mesir. Sebaliknya, ternak orang Israel sama sekali tidak tersentuh, suatu fakta yang bahkan diverifikasi sendiri oleh utusan Firaun (9:7a). Jelaslah bahwa Allah Israel sedang bertindak, dan Dia sungguh Mahakuasa.

Namun, bahkan setelah menyaksikan dan mengonfirmasi kebenaran tanda mukjizat tersebut, Firaun tetap menolak untuk taat (9:7b). Hati yang keras dan bebal tidak mencari kebenaran, melainkan hanya pembenaran diri sendiri.


Tanda Ketujuh, Tulah Keenam: Barah (9:8–12)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: 'Ambillah jelaga dari dapur peleburan serangkup penuh, dan Musa harus menghamburkannya ke udara di depan mata Firaun.

Maka jelaga itu akan menjadi debu meliputi seluruh tanah Mesir, dan akan menjadikan barah yang memecah sebagai gelembung, pada manusia dan binatang di seluruh tanah Mesir.'

Lalu mereka mengambil jelaga dari dapur peleburan, dan berdiri di depan Firaun, kemudian Musa menghamburkannya ke udara, maka terjadilah barah, yang memecah sebagai gelembung pada manusia dan binatang,

sehingga ahli-ahli itu tidak dapat tetap berdiri di depan Musa, karena barah-barah itu; sebab ahli-ahli itupun juga kena barah sama seperti semua orang Mesir.

Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga ia tidak mendengarkan mereka—seperti yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa."
Keluaran 9:8–12 (TB)

Musa kini mengambil alih peran Harun sebagai pelaku tanda-tanda mukjizat, yang mengindikasikan bahwa ia telah mengatasi keraguan dan ketakutannya yang terdahulu (lih. pembahasan pada 3:11–12). Berdiri di hadapan Firaun, Musa menghamburkan jelaga ke udara, yang menyebar ke seluruh negeri dan menyebabkan timbulnya barah bernanah yang sangat menyakitkan pada manusia dan binatang di Mesir. Para ahli sihir, yang sebelumnya berusaha meniru tanda-tanda itu, kini benar-benar tak berdaya dan kewalahan oleh tulah ini (9:11). Allah Musa, bukan ilah mereka, yang memegang kuasa sejati.

Sebagaimana telah difirmankan-Nya sebelumnya (4:21), kini TUHAN mengeraskan hati Firaun (9:12). Dalam tindakan ini, Allah tidak sedang mengambil hati yang baik lalu menjadikannya jahat, melainkan meneguhkan hati yang fasik dalam pemberontakannya sendiri, dengan menyerahkan Firaun kepada dosanya (lih. pembahasan pada 4:18–23). Ini adalah bentuk penghakiman ilahi yang mengerikan dan masih terus berlangsung hingga hari ini (Rm. 1:28–32), yang memberikan peringatan keras bagi kita untuk berpaling dari dosa dengan segenap daya kita.


Tanda Kedelapan, Tulah Ketujuh: Hujan Es (9:13–35)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Bangunlah pagi-pagi dan berdirilah menantikan Firaun dan katakan kepadanya: Beginilah firman TUHAN, Allah orang Ibrani: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku.

Sebab sekali ini Aku akan melepaskan segala tulah-Ku terhadap engkau sendiri, terhadap pegawai-pegawaimu dan terhadap rakyatmu, dengan maksud supaya engkau mengetahui, bahwa tidak ada yang seperti Aku di seluruh bumi.

Bukankah sudah lama Aku dapat mengacungkan tangan-Ku untuk membunuh engkau dan rakyatmu dengan penyakit sampar, sehingga engkau terhapus dari atas bumi;

akan tetapi inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup, yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatan-Ku, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi.

Engkau masih selalu mengalangi umat-Ku, sehingga engkau tidak membiarkan mereka pergi.

Sesungguhnya besok kira-kira waktu ini Aku akan menurunkan hujan es yang sangat dahsyat, seperti yang belum pernah terjadi di Mesir sejak Mesir dijadikan sampai sekarang ini.

Oleh sebab itu, ternakmu dan segala yang kaupunyai di padang, suruhlah dibawa ke tempat yang aman; semua orang dan segala hewan, yang ada di padang dan tidak pulang berkumpul ke rumah, akan ditimpa oleh hujan es itu, sehingga mati.'

Maka siapa di antara para pegawai Firaun yang takut kepada firman TUHAN, menyuruh hamba-hambanya serta ternaknya lari ke rumah,

tetapi siapa yang tidak mengindahkan firman TUHAN, meninggalkan hamba-hambanya serta ternaknya di padang.

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Ulurkanlah tanganmu ke langit, supaya hujan es turun di seluruh tanah Mesir, menimpa manusia dan binatang dan menimpa tumbuh-tumbuhan di padang di tanah Mesir.'

Lalu Musa mengulurkan tongkatnya ke langit, maka TUHAN mengadakan guruh dan hujan es, dan apipun menyambar ke bumi, dan TUHAN menurunkan hujan es meliputi tanah Mesir.

Dan turunlah hujan es, beserta api yang berkilat-kilat di tengah-tengah hujan es itu, terlalu dahsyat, seperti yang belum pernah terjadi di seluruh negeri orang Mesir, sejak mereka menjadi suatu bangsa.

Hujan es itu menimpa binasa segala sesuatu yang ada di padang, di seluruh tanah Mesir, dari manusia sampai binatang; juga segala tumbuh-tumbuhan di padang ditimpa binasa oleh hujan itu dan segala pohon di padang ditumbangkannya.

Hanya di tanah Gosyen, tempat kediaman orang Israel, tidak ada turun hujan es.

Lalu Firaun menyuruh memanggil Musa dan Harun serta berkata kepada mereka: 'Aku telah berdosa sekali ini, TUHAN itu yang benar, tetapi aku dan rakyatkulah yang bersalah.

Berdoalah kepada TUHAN; guruh yang sangat dahsyat dan hujan es itu sudah cukup. Maka aku akan membiarkan kamu pergi, tidak usah kamu tinggal lebih lama lagi.'

Dan berkatalah Musa kepadanya: 'Sekeluar aku dari kota ini, aku akan mengembangkan tanganku kepada TUHAN; guruh akan berhenti dan hujan es tidak akan turun lagi, supaya engkau mengetahui, bahwa bumi adalah milik TUHAN.

Tetapi tentang engkau dan para pegawaimu, aku tahu, bahwa kamu belum takut kepada TUHAN Allah.'

—Tanaman rami dan jelai telah tertimpa binasa, sebab jelai itu sedang berbulir dan rami itu sedang berbunga.

Tetapi gandum dan sekoi tidak tertimpa binasa, sebab belum lagi musimnya. —

Lalu keluarlah Musa dari kota itu meninggalkan Firaun, dikembangkannyalah tangannya kepada TUHAN, maka berhentilah guruh dan hujan es dan hujan tidak tercurah lagi ke bumi.

Tetapi ketika Firaun melihat, bahwa hujan, hujan es dan guruh telah berhenti, maka teruslah ia berbuat dosa; ia tetap berkeras hati, baik ia maupun para pegawainya.

Berkeraslah hati Firaun, sehingga ia tidak membiarkan orang Israel pergi—seperti yang telah difirmankan TUHAN dengan perantaraan Musa."
Keluaran 9:13–35 (TB)

Pukulan penghakiman ini mendatangkan kehancuran hebat atas negeri itu melalui hujan es, yang membinasakan apa saja yang ditinggalkan di tempat terbuka (9:13–21).[^14] Peringatan yang diberikan kali ini luar biasa panjang. Peringatan tersebut menegaskan bahwa TUHAN sengaja membiarkan Firaun dan bangsa Mesir tetap hidup supaya melalui penghakiman yang terus berlanjut ini, Dia dapat menyatakan kuasa kedaulatan-Nya kepada mereka dan kepada seluruh bumi (9:14–16; bdk. Rm. 9:17). Bagian ini juga menyoroti dua jenis sikap hati di antara para pegawai Firaun: mereka yang memiliki hati yang peka dan mengindahkan firman peringatan TUHAN (9:20), serta mereka yang berhati keras dan tidak memedulikannya (9:21; ungkapan Ibrani untuk "tidak mengindahkan" secara harfiah berarti "tidak menaruh hatinya pada").

Tulah ini digambarkan dengan rincian yang amat mengerikan (9:22–25). Hujan es yang tak henti-hentinya, gemuruh guruh yang memekakkan telinga, dan kilatan petir yang menyambar-nyambar menghantam negeri itu laksana tembakan artileri surgawi, membinasakan segala sesuatu di padang terbuka, mulai dari manusia, binatang, hingga tumbuh-tumbuhan. Hanya satu daerah di Mesir yang terluput: tanah Gosyen, tempat orang Israel tinggal (9:26). Allah merekalah yang mendatangkan pukulan ini dan yang melindungi mereka darinya.

Hingga titik ini, Firaun belum pernah mengakui dosanya. Kini ia mengaku bersalah, memohon pembebasan, dan berjanji akan membiarkan umat itu pergi (9:27–28). Musa menyanggupi untuk mendoakannya dan menegaskan bahwa TUHAN akan menjawab doanya supaya Firaun "mengetahui/mengakui" bahwa bumi adalah milik Yahweh sebagai Allah yang berdaulat (9:29; lih. pembahasan pada 5:2). Namun, Musa juga mengamati bahwa Firaun dan para pegawainya sesungguhnya belum "takut kepada TUHAN Allah" (9:30; frasa Ibrani di sini bermakna bahwa mereka belum memiliki kegentaran yang kudus akan penghakiman TUHAN). Tidak jelas apakah ucapan ini merupakan suatu tuduhan ("Aku tidak tertipu oleh perkataan manismu!") atau suatu undangan agar Firaun membuktikan ketulusan janjinya (bdk. Yos. 24:14–21). Bagaimanapun juga, hal ini mempersiapkan kita menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Namun sebelumnya, sebuah catatan singkat memberitahukan tanaman apa saja yang hancur binasa (9:31–32). Hal ini memperjelas penanggalan waktu dalam setahun (sekitar bulan Februari atau awal Maret).

Kisah ini kemudian berlanjut. Musa berdoa, TUHAN menjawab, dan badai hujan es pun reda (9:33). Sekali lagi, begitu kelegaan tiba, Firaun mengeraskan hatinya—demikian pula para pegawainya—dan mengingkari janjinya (9:34–35; bandingkan 8:8 dengan 8:15, serta 8:28 dengan 8:32). Pengakuan dosanya (9:27) terbukti hampa dan tidak tulus, yang mengingatkan kita bahwa pertobatan sejati tetap bertahan bahkan setelah pendisiplinan atas dosa telah berakhir.


Tanda Kesembilan, Tulah Kedelapan: Belalang (10:1–20)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Pergilah menghadap Firaun, sebab Aku telah membuat hatinya dan hati para pegawainya berkeras, supaya Aku mengadakan tanda-tanda mujizat yang Kubuat ini di antara mereka,

dan supaya engkau dapat menceriterakan kepada anak cucumu, bagaimana Aku mempermain-mainkan orang Mesir dan tanda-tanda mujizat mana yang telah Kulakukan di antara mereka, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.'

Lalu Musa dan Harun pergi menghadap Firaun dan berkata kepadanya: 'Beginilah firman TUHAN, Allah orang Ibrani: Berapa lama lagi engkau menolak untuk merendahkan dirimu di hadapan-Ku? Biarkanlah umat-Ku pergi supaya mereka beribadah kepada-Ku.

Sebab jika engkau menolak membiarkan umat-Ku pergi, maka besok Aku akan mendatangkan belalang-belalang ke dalam daerahmu;

belalang itu akan menutupi permukaan bumi, sehingga orang tidak dapat melihat tanah; belalang itu akan memakan habis sisa yang terluput, yang masih tinggal bagimu dari hujan es itu, bahkan akan memakan habis segala pohonmu yang tumbuh di padang.

Belalang itu akan memenuhi rumahmu, rumah semua pegawaimu, rumah semua orang Mesir seperti yang belum pernah dilihat oleh bapamu dan nenek moyangmu, sejak mereka lahir ke bumi sampai hari ini.' Lalu berpalinglah ia dan keluar meninggalkan Firaun.

Sesudah itu berkatalah para pegawai Firaun kepadanya: 'Berapa lama lagi orang ini akan menjadi jerat kepada kita? Biarkanlah orang-orang itu pergi supaya mereka beribadah kepada TUHAN, Allah mereka. Belumkah tuanku insaf, bahwa Mesir pasti akan binasa?'

Lalu Musa dan Harun dibawalah kembali kepada Firaun dan berkatalah Firaun kepada mereka: 'Pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, Allahmu. Siapa-siapa sebenarnya yang akan pergi itu?'

Jawab Musa: 'Kami hendak pergi dengan orang-orang yang muda dan yang tua; dengan anak-anak lelaki kami dan perempuan, dengan kambing domba kami dan lembu sapi kami, sebab kami harus mengadakan perayaan untuk TUHAN.'

Tetapi Firaun berkata kepada mereka: 'TUHAN boleh menyertai kamu, jika aku membiarkan kamu pergi dengan anak-anakmu! Lihat, jahatlah maksudmu!

Bukan demikian, kamu boleh pergi, tetapi hanya laki-laki, dan beribadahlah kepada TUHAN, sebab itulah yang kamu kehendaki.' Lalu mereka diusir dari depan Firaun.

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Ulurkanlah tanganmu ke atas tanah Mesir mendatangkan belalang dan belalang akan datang meliputi tanah Mesir dan memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah, semuanya yang ditinggalkan oleh hujan es itu.'

Lalu Musa mengulurkan tongkatnya ke atas tanah Mesir, dan TUHAN mendatangkan angin timur melintasi negeri itu, sehari-harian dan semalam-malaman, dan setelah hari pagi, angin timur membawa belalang.

Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian.

Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir.

Maka segeralah Firaun memanggil Musa dan Harun serta berkata: 'Aku telah berbuat dosa terhadap TUHAN, Allahmu, dan terhadap kamu.

Oleh sebab itu, ampunilah kiranya dosaku untuk sekali ini saja dan berdoalah kepada TUHAN, Allahmu itu, supaya bahaya maut ini dijauhkan-Nya dari padaku.'

Lalu keluarlah Musa meninggalkan Firaun dan berdoa kepada TUHAN.

Maka TUHAN membuat angin bertiup dari jurusan sebaliknya, yakni angin barat yang sangat kencang, yang membawa belalang itu dan melemparkannya ke dalam Laut Teberau: tidak ada satu belalangpun yang tinggal di seluruh daerah Mesir.

Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga tidak mau membiarkan orang Israel pergi."
Keluaran 10:1–20 (TB)

Firaun dan para pegawainya baru saja mengeraskan hati mereka sendiri (9:34). Sekarang, TUHAN menyatakan bahwa Dia juga mengeraskan hati mereka, meneguhkan mereka dalam pemberontakannya (10:1a; lih. pembahasan lebih lanjut pada 4:18–23).

Menanggapi ketidaktaatan yang akan menyusul, TUHAN akan terus mengerjakan tanda-tanda mukjizat-Nya di tengah-tengah mereka, yang kelak harus diceritakan berulang-ulang oleh orang Israel kepada generasi mendatang sebagai kesaksian tentang siapa TUHAN itu (10:1b–2; bdk. Mzm. 78:1–8). Dalam peristiwa ini, tanda tersebut berupa tulah belalang yang meluluhlantakkan negeri itu secara mutlak, melahap apa saja yang tersisa dari hujan es (atau tunas-tunas baru yang mulai bertumbuh), dan "memenuhi" rumah-rumah orang Mesir laksana air yang memenuhi cawan (10:3–6).

Para pegawai Firaun memercayai ancaman itu dan mendesak Firaun untuk bertindak (10:7), tetapi usulan mereka untuk hanya mengizinkan kaum "laki-laki" pergi alih-alih seluruh "bangsa" (10:3) meleset dari ketaatan yang sejati. Sekalipun mereka melihat negeri itu telah hancur binasa, mereka tetap tidak mau taat sepenuhnya kepada Allah.

Firaun mengikuti saran mereka. Awalnya ia menyuruh Musa pergi, tetapi kemudian bertanya siapa saja yang akan berangkat (10:8). Ketika Musa menegaskan bahwa seluruh bangsa tanpa kecuali harus pergi, Firaun menolak keras, menuduh mereka memiliki maksud jahat, dan menegaskan bahwa hanya kaum pria dewasa yang boleh pergi (yang menjamin bahwa mereka pasti akan kembali karena tidak mungkin menelantarkan istri dan anak-anak mereka) (10:9–11). Fakta bahwa Musa dan Harun "diusir" dari hadapan Firaun menggarisbawahi betapa meluapnya kemarahan sang raja.

Atas petunjuk TUHAN, Musa mengacungkan tongkat penghakiman, dan TUHAN mendatangkan kawanan belalang melalui hembusan angin timur yang kencang (10:11–13). Belum pernah ada kawanan belalang sebanyak itu menyerbu suatu negeri, "menggelapkan" tanah Mesir baik secara harfiah (laksana hamparan awan tebal yang menutupi bumi) maupun secara metaforis (kegelapan kerap dikaitkan dengan penghakiman ilahi; lih. 10:21–23; 1Sam. 2:9; Yes. 5:30; dsb.) (10:14–15).

Tanpa membuang waktu, Firaun segera memanggil Musa. Untuk kedua kalinya, ia mengaku berdosa, kali ini mengakui bahwa ia telah bersalah kepada TUHAN maupun kepada Musa dan Harun (10:16; bandingkan dengan 9:27). Ia memohon pengampunan dan sekali lagi memohon kelepasan (dengan implikasi tersirat bahwa ia akan membiarkan bangsa itu pergi setelah bencana reda) (10:17). Ketika Musa berdoa, TUHAN menyingkirkan belalang-belalang itu melalui angin barat yang sangat kencang sehingga "tidak ada satu belalang pun yang tinggal" (10:19), suatu peristiwa yang kelak akan tercermin dalam penghakiman TUHAN atas tentara Mesir di laut tidak lama kemudian (14:28)!

Namun, Firaun sesungguhnya tidak pernah berniat menepati perkataannya, dan TUHAN meneguhkan dia dalam pemberontakannya (10:20). Oleh karena itu, tanda-tanda penghakiman akan terus berlanjut, mendatangkan malapetaka yang semakin parah bagi Firaun dan rakyatnya.


Tanda Kesepuluh, Tulah Kesembilan: Gelap Gulita (10:21–29)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Ulurkanlah tanganmu ke langit, supaya datang gelap meliputi tanah Mesir, sehingga orang dapat meraba gelap itu.'

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke langit dan datanglah gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari.

Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari; tetapi pada semua orang Israel ada terang di tempat kediamannya.

Lalu Firaun memanggil Musa serta berkata: 'Pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, hanya kambing dombamu dan lembu sapimu harus ditinggalkan, juga anak-anakmu boleh turut beserta kamu.'

Tetapi Musa berkata: 'Bahkan korban sembelihan dan korban bakaran harus engkau berikan kepada kami, supaya kami menyediakannya untuk TUHAN, Allah kami.

Dan juga ternak kami harus turut beserta kami dan satu kakipun tidak akan tinggal, sebab dari ternak itulah kami harus ambil untuk beribadah kepada TUHAN, Allah kami; dan kami tidak tahu, dengan apa kami harus beribadah kepada TUHAN, sebelum kami sampai di sana.'

Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga dia tidak mau membiarkan mereka pergi.

Lalu Firaun berkata kepadanya: 'Pergilah dari padaku; awaslah engkau, jangan lihat mukaku lagi, sebab pada waktu engkau melihat mukaku, engkau akan mati.'

Kemudian Musa berkata: 'Tepat seperti ucapanmu itu! Aku takkan melihat mukamu lagi!'"
Keluaran 10:21–29 (TB)

Dalam tanda ini, tanah Mesir diselimuti oleh kegelapan yang begitu pekat, sehingga penduduknya terpaksa meraba-raba dan tidak sanggup menjalankan aktivitas sehari-hari selama tiga hari (10:21–23a). Sebagaimana telah dicatat, kegelapan melambangkan penghakiman ilahi (lih. pembahasan pada 10:14–15). Dan seperti sebelumnya, penghakiman ini tidak menimpa umat TUHAN (10:23b; bandingkan 8:22; 9:4, 26). Terlebih lagi, karena bangsa Mesir menyembah matahari "sebagai manifestasi dari berbagai dewa, seperti Atum, Re, Amun, dan Amun-Re,"[^15] penghakiman ini tidak hanya ditujukan kepada orang Mesir, melainkan juga kepada ilah-ilah mereka, yang bahkan tidak berdaya memperlihatkan wajah mereka di hadapan kedahsyatan kuasa TUHAN!

Menanggapi hal ini, Firaun menyatakan bahwa orang Israel boleh pergi beserta anak-anak mereka, tetapi ternak mereka harus ditinggalkan (yang sekali lagi menjadi jaminan kepulangan orang Israel karena hewan ternak sangat krusial bagi kelangsungan hidup; bandingkan pada 10:9–11) (10:24). Ketika Musa bersikukuh bahwa seluruh ternak harus dibawa serta, TUHAN meneguhkan Firaun dalam pemberontakannya yang berkeras hati (10:25–27). Firaun menolak membiarkan Israel pergi dan mengancam Musa dengan hukuman mati jika ia berani menghadapnya lagi (10:28). Jawaban Musa mengindikasikan bahwa Firaun telah menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya: "Aku tidak akan terus melihat mukamu" (yaitu dengan tidak akan lagi berinisiatif datang menghadap Firaun seperti yang selama ini dilakukannya) (10:29).[^16] Kesabaran Allah telah habis, dan ketika hal itu terjadi, penghakiman yang menyusul sungguh sangat dahsyat dan tak terelakkan (lih. Rm. 2:4–11).


Pemberitahuan Tanda Kesebelas, Tulah Kesepuluh: Kematian Anak Sulung (11:1–10)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Aku akan mendatangkan satu tulah lagi atas Firaun dan atas Mesir, sesudah itu ia akan membiarkan kamu pergi dari sini; apabila ia membiarkan kamu pergi, ia akan benar-benar mengusir kamu dari sini.

Baiklah katakan kepada bangsa itu, supaya setiap laki-laki meminta barang-barang emas dan perak kepada tetangganya dan setiap perempuan kepada tetangganya pula.'

Lalu TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu; lagipula Musa adalah seorang yang sangat terpandang di tanah Mesir, di mata pegawai-pegawai Firaun dan di mata rakyat.

Berkatalah Musa: 'Beginilah firman TUHAN: Pada waktu tengah malam Aku akan berjalan dari tengah-tengah Mesir.

Maka tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir akan mati, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya sampai kepada anak sulung budak perempuan yang menghadapi batu kilangan, juga segala anak sulung hewan.

Dan seruan yang hebat akan terjadi di seluruh tanah Mesir, seperti yang belum pernah terjadi dan seperti yang tidak akan ada lagi.

Tetapi kepada siapa juga dari orang Israel, seekor anjingpun tidak akan berani menggonggong, baik kepada manusia maupun kepada binatang, supaya kamu mengetahui, bahwa TUHAN membuat perbedaan antara orang Mesir dan orang Israel.

Dan semua pegawaimu ini akan datang kepadaku dan sujud kepadaku serta berkata: Keluarlah, engkau dan seluruh rakyat yang mengikut engkau; sesudah itu aku akan keluar.' Lalu Musa meninggalkan Firaun dengan marah yang bernyala-nyala.

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Firaun tidak akan mendengarkan kamu, supaya mujizat-mujizat yang Kubuat bertambah banyak di tanah Mesir.'

Musa dan Harun telah melakukan segala mujizat ini di depan Firaun. Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga tidak membiarkan orang Israel pergi dari negerinya."
Keluaran 11:1–10 (TB)

Ayat 1–3 melompat ke depan untuk memberitahukan hasil akhir dari tanda yang terakhir: pembebasan Israel dari Mesir dengan limpahan kemurahan hati (bandingkan 3:21–22). Narasi kemudian kembali ke saat sekarang, dan Musa memaparkan pukulan penghakiman terakhir yang mengerikan itu serta bagaimana seluruh Mesir akan tertimpa (11:4–6), tetapi bagaimana umat TUHAN akan menikmati perlindungan dan perkenanan-Nya (11:7–8a).[^17]

Hakikat dari pukulan ini telah diantisipasi sebelumnya dalam 4:23, ketika TUHAN memperingatkan: "Jika engkau menolak membiarkan [Israel, anak sulung-Ku] pergi, lihatlah, Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung" (4:23). TUHAN dengan penuh belas kasihan telah menunda pelaksanaan hukuman ini, memperingatkan orang Mesir berulang kali, tetapi mereka berkeras menolak untuk mendengarkan, sehingga penghakiman yang amat mengerikan ini akhirnya tiba. Ada banyak pergumulan pelik di sini. Banyak orang dengan wajar bertanya, "Apakah tindakan ini sungguh-sungguh adil?" Dalam pergumulan pribadi saya terhadap bagian ini, pemikiran-pemikiran berikut telah memberikan kejelasan yang menolong. Pertama, karena kata "anak sulung" merujuk pada urutan kelahiran (bukan usia), banyak dari mereka yang mati adalah orang-orang dewasa yang turut berpartisipasi dalam kejahatan Mesir dan karena itu bersalah. Fakta bahwa TUHAN hanya membunuh anak sulung dan bukan seluruh anak laki-laki (bandingkan taktik brutal Mesir, 1:22) merupakan tanda dari belas kasihan-Nya. Kendati demikian, banyak pula anak-anak kecil yang ikut mati sekalipun mereka tidak berpartisipasi dalam kejahatan Mesir. Dalam hal ini, membedakan antara penghakiman temporal (di dunia) dan nasib kekal seseorang dapat menolong kita. Fokus perikop ini adalah penghakiman temporal. Mengenai nasib kekal anak-anak kecil Mesir tersebut, Alkitab tidak menjelaskan secara rinci apa yang terjadi pada anak-anak kecil di luar keluarga perjanjian yang meninggal, namun "pada titik ini saya teringat akan pertanyaan Abraham: 'Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?' (Kej. 18:25). Dan saya beristirahat dengan tenang dalam kebenaran itu."[^18]

Perikop ini ditutup dengan kepergian Musa yang meninggalkan Firaun dalam amarah yang bernyala-nyala, kemungkinan sebagai respons terhadap sikap keras hati Firaun (11:8b), dan dengan sebuah ringkasan yang menjelaskan bahwa di sepanjang seluruh pemberontakan Firaun, TUHAN senantiasa memegang kendali kedaulatan mutlak untuk rencana dan kemuliaan-Nya sendiri (11:9–10; bdk. 2Ptr. 3:9).


II. Bangsa Israel Meninggalkan Mesir: Pembebasan dari TUHAN (12:1–15:21)

Paruh pertama dari bagian ini memaparkan apa yang pada akhirnya membawa kepada pembebasan bangsa Israel dari Mesir (12:29–42) dan memberikan petunjuk mengenai tiga peristiwa untuk memperingatinya: Paskah, Hari Raya Roti Tidak Beragi, dan pengudusan anak sulung (12:1–28; 12:43–13:16). Paruh kedua dari bagian ini memaparkan rute awal keberangkatan bangsa Israel (13:17–22), kemenangan mutlak TUHAN atas Firaun beserta pasukannya (14:1–31), dan respons umat dalam pujian serta penyembahan (15:1–21). Berkat keselamatan dari TUHAN, generasi bangsa Israel ini tidak akan pernah lagi ditindas oleh Mesir.


Bangsa Israel Keluar dari Mesir dan Petunjuk Peringatan Pembebasan (12:1–13:16)

Petunjuk tentang Paskah (12:1–13)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir:

'Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.

Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga.

Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang.

Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing.

Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.

Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya.

Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit.

Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya.

Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi; apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api.

Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.

Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.

Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir."
Keluaran 12:1–13 (TB)

TUHAN memulai dengan menyatakan bahwa bulan pembebasan bangsa Israel, yaitu sekitar bulan Maret atau April, akan menjadi bulan pertama dalam setahun. Kalender mereka kini diawali dengan sebuah pengingat akan penebusan (12:1–2).

Peristiwa pertama yang dirayakan pada bulan itu adalah Paskah (12:3–13). Pada tanggal sepuluh bulan tersebut, setiap keluarga harus mengambil seekor anak domba atau, jika keluarga itu terlalu kecil, bergabung bersama tetangga untuk mengambil seekor anak domba (12:3–4). Anak domba itu harus tidak bercela, sebagaimana layaknya untuk korban persembahan (lih. Mal. 1:8), dan harus seekor jantan yang berumur satu tahun, yang mungkin memberikan bobot yang baik namun dagingnya tetap empuk. Hewan tersebut boleh diambil dari domba atau kambing (12:5).

Anak domba itu harus disembelih dan dimakan pada tanggal empat belas bulan itu, dan darahnya harus dibubuhkan pada kedua tiang pintu serta ambang atas pintu rumah (12:6–7). Dagingnya harus dimakan terpanggang pada malam itu juga (dengan sisa-sisa daging yang belum habis dibakar habis, mungkin demi mencegah kecemaran ritual atasnya), dan harus dimakan bersama roti tidak beragi beserta sayur pahit, di mana sayur pahit tersebut merupakan pengingat akan pahitnya perbudakan yang daripadanya TUHAN menyelamatkan bangsa Israel (12:8–10). Mereka harus mengenakan pakaian siap bepergian sebelum memakannya dan kemudian memakannya dengan tergesa-gesa; pembebasan sudah di ambang pintu (12:11)!

TUHAN kemudian menegaskan kembali penghakiman yang akan datang atas anak sulung orang Mesir, yang juga merupakan penghakiman atas allah-allah Mesir, yang membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak berdaya di hadapan TUHAN. Dialah satu-satunya Allah yang benar; mereka sama sekali bukan allah (12:12). Mengenai anak sulung orang Israel, mereka akan dilindungi oleh darah anak domba Paskah, yang menggantikan posisi mereka dan memberi tanda kepada TUHAN untuk "melewati" (pass over)—inilah asal mula nama korban tersebut—rumah tersebut (12:13). (Di dalam Yesus, TUHAN kini telah menyediakan Anak Domba Paskah yang terutama dan sejati; lih. 1Kor. 5:7.)


Petunjuk tentang Hari Raya Roti Tidak Beragi (12:14–20)

"Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.

Kamu makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya; pada hari pertamapun kamu buanglah segala ragi dari rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, dari hari pertama sampai hari ketujuh, orang itu harus dilenyapkan dari antara Israel.

Kamu adakanlah pertemuan yang kudus, baik pada hari yang pertama maupun pada hari yang ketujuh; pada hari-hari itu tidak boleh dilakukan pekerjaan apapun; hanya apa yang perlu dimakan setiap orang, itu sajalah yang boleh kamu sediakan.

Jadi kamu harus tetap merayakan hari raya makan roti yang tidak beragi, sebab tepat pada hari ini juga Aku membawa pasukan-pasukanmu keluar dari tanah Mesir. Maka haruslah kamu rayakan hari ini turun-temurun; itulah suatu ketetapan untuk selamanya.

Dalam bulan pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu pada waktu petang, kamu makanlah roti yang tidak beragi, sampai kepada hari yang kedua puluh satu bulan itu, pada waktu petang.

Tujuh hari lamanya tidak boleh ada ragi dalam rumahmu, sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, orang itu harus dilenyapkan dari antara jemaah Israel, baik ia orang asing, baik ia orang asli.

Sesuatu apapun yang beragi tidak boleh kamu makan; kamu makanlah roti yang tidak beragi di segala tempat kediamanmu.'"
Keluaran 12:14–20 (TB)

Petunjuk mengenai Hari Raya Roti Tidak Beragi menyusul berikutnya karena perayaan ini berlangsung tepat setelah hari Paskah (12:14–20). Selama tujuh hari perayaan tersebut, bangsa Israel tidak boleh menggunakan ragi sama sekali saat membuat roti, demi mengingatkan diri mereka akan pembebasan dari TUHAN (12:14–17), yang terjadi sedemikian mendadak sehingga mereka hanya membawa adonan roti yang belum beragi untuk dibakar setelah keberangkatan mereka (12:34, 39). Dengan demikian, makanan perayaan itu sendiri menjadi penunjuk arah kepada fakta bahwa TUHAN adalah Juruselamat mereka (bdk. 1Kor. 11:23–26). Karena alasan inilah, siapa pun yang menolak untuk merayakan hari raya tersebut harus disingkirkan ("dilenyapkan") dari tengah-tengah umat, kemungkinan melalui pembuangan/pengucilan, sebab penolakan untuk merayakannya merupakan penolakan untuk mengakui apa yang dilambangkan oleh hari raya tersebut (12:15, 19). (Hal ini serupa dengan seorang Kristen yang memandang Perjamuan Kudus sebagai sesuatu yang tidak bernilai.)


Musa Menyampaikan Petunjuk Paskah kepada Bangsa Israel (12:21–28)

"Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: 'Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah.

Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi.

Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi.

Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu.

Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, maka kamu harus pelihara ibadah ini.

Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini?

maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.' Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah.

Pergilah orang Israel, lalu berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka."
Keluaran 12:21–28 (TB)

Musa kini meneruskan petunjuk-petunjuk Paskah tersebut kepada para tua-tua, yang pada gilirannya akan menyampaikannya kepada segenap bangsa Israel. Teks ini pada awalnya berfokus pada kuasa perlindungan darah, yang akan menyelamatkan anak sulung dari kematian (12:21–23). (Frasa "pemusnah" dalam ay. 23 dapat merujuk pada sesosok malaikat pemusnah, namun dapat pula diterjemahkan sebagai "kebinasaan/pemusnahan"; bagaimanapun juga, darah kehidupan anak domba tersebut melindungi anak sulung dari maut.)

Teks ini kemudian beralih fokus untuk membahas pentingnya merayakan ritual Paskah (12:24–27a). Di Israel, suatu ritual dimaksudkan sebagai ruang belajar tempat anak-anak diajar mengenai karakter dan karya Allah sehingga mereka rindu mengasihi-Nya dengan segenap hati mereka. (Hal ini mengundang kita untuk bertanya: Bagaimana kita dapat memakai liturgi/praktik ritual untuk melakukan hal yang sama pada masa kini?)

Bangsa Israel merespons perkataan ini dengan menyembah TUHAN (12:27b; bandingkan 4:31) dan dengan bersiap-siap menyambut pembebasan yang akan segera tiba (12:28).


Tanda Kesebelas, Pukulan Penghakiman Kesepuluh Terjadi, dan Bangsa Israel Keluar dari Mesir (12:29–42)

"Maka pada tengah malam TUHAN membunuh tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya sampai kepada anak sulung orang tawanan, yang ada dalam liang tutupan, beserta segala anak sulung hewan.

Lalu bangunlah Firaun pada malam itu, bersama semua pegawainya dan semua orang Mesir; dan kedengaranlah seruan yang hebat di Mesir, sebab tidak ada rumah yang tidak kematian.

Lalu pada malam itu dipanggilnyalah Musa dan Harun, katanya: 'Bangunlah, keluarlah dari tengah-tengah bangsaku, baik kamu maupun orang Israel; pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, seperti katamu itu.

Bawalah juga kambing dombamu dan lembu sapimu, seperti katamu itu, tetapi pergilah! Dan pohonkanlah juga berkat bagiku.'

Orang Mesir juga mendesak dengan keras kepada bangsa itu, menyuruh bangsa itu pergi dengan segera dari negeri itu, sebab kata mereka: 'Nanti kami mati semuanya.'

Lalu bangsa itu mengangkat adonannya, sebelum diragi, dengan tempat adonan mereka terbungkus dalam kainnya di atas bahunya.

Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain.

Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.

Kemudian berangkatlah orang Israel dari Raamses ke Sukot, kira-kira enam ratus ribu orang laki-laki berjalan kaki, tidak termasuk anak-anak.

Juga banyak orang dari berbagai-bagai bangsa turut dengan mereka; lagi sangat banyak ternak kambing domba dan lembu sapi.

Adonan yang dibawa mereka dari Mesir dibakarlah menjadi roti bundar yang tidak beragi, sebab adonan itu tidak diragi, karena mereka diusir dari Mesir dan tidak dapat berlambat-lambat, dan mereka tidak pula menyediakan bekal baginya.

Lamanya orang Israel diam di Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun.

Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir.

Malam itulah malam berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel, turun-temurun, untuk kemuliaan TUHAN."
Keluaran 12:29–42 (TB)

Pada malam itu, pukulan penghakiman yang terakhir terjadi, dan bangsa Mesir hancur binasa, "sebab tidak ada rumah yang tidak kematian" (12:30). (Lihat pembahasan pada 11:1–10 untuk penjelasan lebih lanjut mengenai kematian anak sulung). Firaun akhirnya menyerah, menyuruh Musa dan Harun pergi membawa seluruh bangsa tersebut dan bahkan meminta berkat bagi dirinya (12:31–32). Kini ia mengetahui bahwa Yahweh adalah satu-satunya Allah yang berkuasa untuk memberkati.

Rakyat Mesir juga mendesak bangsa Israel untuk segera pergi; mereka tidak menginginkan kematian lagi di tangan Allah bangsa Israel (12:33). Desakan mereka sedemikian mendesak sehingga bangsa Israel berangkat tanpa sempat menyiapkan bekal makanan yang memadai, membawa adonan roti mereka sebelum sempat diberi ragi (dan kelak membakarnya menjadi roti tidak beragi) (12:34, 39). Kendati demikian, mereka telah menaati perintah Musa untuk meminta barang-barang perhiasan dan pakaian kepada orang Mesir (lih. 3:22; 11:1). Mereka diperlengkapi dengan limpah ruah berkat kemurahan yang TUHAN karuniakan kepada mereka di mata orang Mesir, sedemikian rupa sehingga mereka secara efektif menjarah orang Mesir (12:35–36), yang "merupakan kompensasi yang layak atas masa perbudakan yang amat berat selama bertahun-tahun."[^19]

Awal perjalanan mereka dipaparkan dan jumlah laki-laki disebutkan (12:37). Sekalipun angka tersebut sengaja diperbesar secara hiperbolis sebagaimana lazimnya dalam tradisi Timur Dekat Kuno untuk angka-angka yang besar,[^20] intinya sangat jelas: TUHAN telah menggenapi janji-Nya untuk menjadikan keturunan Abraham suatu bangsa yang besar (lih. Kej. 12:2). Kita juga mengetahui adanya "banyak orang dari berbagai-bagai bangsa" (mixed multitude) yang turut keluar bersama Israel (Kel. 12:38), yang berarti bangsa-bangsa lain, sebuah petunjuk bahwa janji TUHAN untuk menjadikan Israel berkat bagi bangsa-bangsa juga mulai terwujud (lih. Kej. 12:3).

Keterangan bahwa bangsa Israel keluar dari Mesir setelah 430 tahun memperlihatkan bahwa firman nubuat TUHAN kepada Abraham telah tergenapi (Kel. 12:40–41; lih. Kej. 15:13–14). Dan sama seperti TUHAN telah berjaga-jaga secara khusus pada malam itu untuk membebaskan Israel, demikian pula bangsa Israel harus berjaga-jaga secara khusus pada hari peringatan tahunan malam tersebut untuk menghormati Dia (Kel. 12:42).


Petunjuk Lanjutan tentang Paskah (12:43–50)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: 'Inilah ketetapan mengenai Paskah: Tidak seorangpun dari bangsa asing boleh memakannya.

Seorang budak belian barulah boleh memakannya, setelah engkau menyunat dia.

Orang pendatang dan orang upahan tidak boleh memakannya.

Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikitpun dari daging itu keluar rumah; satu tulangpun tidak boleh kamu patahkan.

Segenap jemaah Israel haruslah merayakannya.

Tetapi apabila seorang asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi TUHAN, maka setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli. Tetapi tidak seorangpun yang tidak bersunat boleh memakannya.

Satu hukum saja akan berlaku untuk orang asli dan untuk orang asing yang menetap di tengah-tengah kamu.'

Seluruh orang Israel berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka."
Keluaran 12:43–50 (TB)

Setelah menyebutkan mengenai malam Paskah (12:42), petunjuk-petunjuk lanjutan mengenai Paskah sewajarnya menyusul berikutnya (12:43–50). Petunjuk ini berfokus pada siapa saja yang boleh merayakannya, yaitu bukan hanya orang Israel dan para pelayan rumah tangga yang telah disunat, melainkan juga siapa pun dari bangsa-bangsa lain yang menerima sunat sebagai tanda perjanjian (12:43–45, 47–49).[^21] Menerima sunat pada masa itu setara dengan baptisan pada masa kini: sebuah pernyataan iman kepada Allah perjanjian. Keberadaan hukum semacam ini memperlihatkan kerinduan TUHAN agar bangsa-bangsa lain turut menjadi bagian dari umat perjanjian-Nya.

Di tengah-tengah petunjuk ini, terdapat tiga perintah yang berkaitan dengan anak domba Paskah (12:46). Dua perintah pembuka selaras dengan petunjuk dalam 12:3–10. Alasan di balik perintah terakhir (tidak mematahkan tulangnya) masih diperdebatkan. Apa pun alasannya, rasul Yohanes langsung mengingat ketetapan ini ketika ia mencatat bahwa tidak ada satu pun dari tulang-tulang Yesus yang dipatahkan saat penyaliban (Yoh. 19:33–36). Pesan yang disampaikannya sangat jelas: Yesus adalah Anak Domba Paskah yang terutama dan sejati, yang darah-Nya membebaskan kita dari maut kekal.


Pengudusan Anak Sulung dan Petunjuk Lanjutan tentang Hari Raya Roti Tidak Beragi (12:51–13:16)

"Dan tepat pada hari itu juga TUHAN membawa orang Israel keluar dari tanah Mesir, menurut pasukan mereka.

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

'Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka.'

Lalu berkatalah Musa kepada bangsa itu: 'Peringatilah hari ini, sebab pada hari ini kamu keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan; karena dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kamu keluar dari sana. Sebab itu tidak boleh dimakan sesuatupun yang beragi.

Hari ini kamu keluar, dalam bulan Abib.

Apabila TUHAN telah membawa engkau ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Hewi dan orang Yebus, negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, maka engkau harus melakukan ibadah ini dalam bulan ini juga.

Makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya dan pada hari yang ketujuh akan diadakan hari raya bagi TUHAN.

Roti yang tidak beragi haruslah dimakan selama tujuh hari itu; sesuatupun yang beragi tidak boleh dilihat padamu, bahkan ragi tidak boleh dilihat padamu di seluruh daerahmu.

Pada hari itu harus kauberitahukan kepada anakmu laki-laki: Ibadah ini adalah karena mengingat apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku keluar dari Mesir.

Hal itu bagimu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi peringatan di dahimu, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu; sebab dengan tangan yang kuat TUHAN telah membawa engkau keluar dari Mesir.

Haruslah kaupegang ketetapan ini pada waktunya yang sudah ditentukan, dari tahun ke tahun.

Apabila engkau telah dibawa TUHAN ke negeri orang Kanaan, seperti yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dan negeri itu telah diberikan-Nya kepadamu,

maka haruslah kaupersembahkan bagi TUHAN segala yang lahir terdahulu dari kandungan; juga setiap kali ada hewan yang kaupunyai beranak pertama kali, anak jantan yang sulung adalah bagi TUHAN.

Tetapi setiap anak keledai yang lahir terdahulu kautebuslah dengan seekor domba; atau, jika engkau tidak menebusnya, engkau harus mematahkan batang lehernya. Tetapi mengenai manusia, setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus.

Dan apabila anakmu akan bertanya kepadamu di kemudian hari: Apakah artinya itu? maka haruslah engkau berkata kepadanya: Dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan.

Sebab ketika Firaun dengan tegar menolak untuk membiarkan kita pergi, maka TUHAN membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung manusia sampai anak sulung hewan. Itulah sebabnya maka aku biasa mempersembahkan kepada TUHAN segala binatang jantan yang lahir terdahulu dari kandungan, sedang semua anak sulung di antara anak-anakku lelaki kutebus.

Hal itu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi lambang di dahimu, sebab dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN membawa kita keluar dari Mesir.'"
Keluaran 12:51–13:16 (TB)

Setelah baru saja berfokus pada peringatan peristiwa keluaran melalui Paskah (12:43–50), teks ini kini berfokus pada peringatannya melalui pengudusan anak sulung dan perayaan Hari Raya Roti Tidak Beragi. Perikop ini tersusun dengan sangat indah: pembahasan mengenai hari raya tersebut (13:3–10) dibingkai oleh pembahasan mengenai pengudusan anak sulung (13:1–2, 11–16).

Semua anak sulung laki-laki dan hewan jantan yang lahir terdahulu harus "dikuduskan" bagi TUHAN (13:1–2), yaitu dikhususkan sebagai milik kepunyaan-Nya (13:12a). Melakukan hal ini akan memberi kesempatan bagi para orang tua untuk mengajar anak-anak mereka: "Aku melakukan hal ini demi menghormati TUHAN, Pribadi yang telah membinasakan anak sulung orang Mesir namun meluputkan anak-anak sulung kita, serta dengan penuh kuasa membebaskan kita dari perbudakan yang kejam" (lih. 13:15–16). Hewan kurban yang sulung dikuduskan melalui korban persembahan (13:15). Hewan yang bukan hewan kurban (seperti keledai) harus "ditebus" dengan seekor anak domba; artinya, anak domba itu berfungsi sebagai pembayaran tebusan yang mengalihkan kembali hak kepemilikan kepada orang Israel (13:13a). Jika tidak ditebus, hewan itu harus dipatahkan batang lehernya (dibunuh) supaya orang Israel tidak memakai apa yang menjadi milik TUHAN sebagai milik mereka sendiri (13:13a). Anak-anak sulung manusia juga harus ditebus (13:13b); di kemudian hari kita mengetahui bahwa pembayaran tebusannya adalah lima syikal (Bil. 18:16).

Petunjuk mengenai Hari Raya Roti Tidak Beragi mengulangi perintah-perintah sebelumnya (bandingkan 13:3–7 dengan 12:14–20), tetapi juga menekankan pentingnya memanfaatkan hari raya ini untuk mendidik generasi-generasi penerus tentang natur TUHAN yang penuh kuasa dan menebus (13:8–10). Kita dipanggil untuk membagikan kepada anak-anak kita tentang cara-cara Allah bekerja dalam kehidupan kita sendiri, supaya mereka pun datang untuk mengenal betapa luar biasa dan agungnya Dia.

Kemenangan Mutlak TUHAN atas Firaun saat Ia Memimpin Bangsa Israel Keluar dari Mesir (13:17–15:21)

Rute Awal Keberangkatan dan Pimpinan TUHAN melalui Tiang Awan (13:17–22)

"Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: 'Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.'

Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir.

Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh: 'Allah tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.'

Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun.

TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.

Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu."
Keluaran 13:17–22 (TB)

Kini kita melanjutkan kisah keberangkatan bangsa Israel yang telah dimulai dalam 12:29–42. Karena mengetahui betapa takutnya bangsa itu, TUHAN tidak memimpin mereka melalui rute yang akan segera menghadapkan mereka pada peperangan di awal perjalanan, melainkan melalui rute lain yang menghindarkan mereka dari pertempuran tersebut (13:17–18). Cara TUHAN memimpin mereka sangatlah nyata dan tidak dapat disalahartikan: sebuah tiang awan yang tampak jelas pada siang hari dan bernyala menerangi pada waktu malam (13:20–22). TUHAN secara nyata hadir menyertai mereka.

Perikop ini juga mencatat bahwa Musa menggenapi sumpah yang diminta oleh Yusuf kepada nenek moyang bangsa Israel ketika ia mengantisipasi penggenapan janji-janji perjanjian Allah (13:19; lih. Kej. 50:25; Yos. 24:32). Penegasan atas hal ini menunjukkan bahwa TUHAN senantiasa setia kepada janji-janji perjanjian-Nya.


TUHAN Menyelamatkan Umat-Nya Melalui Laut dan Menenggelamkan Pasukan Firaun di Dalamnya (14:1–31)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian:

'Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut.

Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka.

Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.' Lalu mereka berbuat demikian.

Ketika diberitahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah mereka: 'Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?'

Kemudian ia memasang keretanya dan membawa rakyatnya serta.

Ia membawa enam ratus kereta yang terpilih, ya, segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya.

Demikianlah TUHAN mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar orang Israel. Tetapi orang Israel berjalan terus dipimpin oleh tangan yang dinaikkan.

Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon.

Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN,

dan mereka berkata kepada Musa: 'Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?

Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.'

Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: 'Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.

TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.'

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat.

Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering.

Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku.

Maka orang Mesir akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda.'

Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka.

Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.

Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu.

Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.

Orang Mesir mengejar dan menyusul mereka—segala kuda Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda—sampai ke tengah-tengah laut.

Dan pada waktu jaga pagi, TUHAN yang di dalam tiang api dan awan itu memandang kepada tentara orang Mesir, lalu dikacaukan-Nya tentara orang Mesir itu.

Ia membuat roda keretanya berjalan miring dan maju dengan berat, sehingga orang Mesir berkata: 'Marilah kita lari meninggalkan orang Israel, sebab Tuhanlah yang berperang untuk mereka melawan Mesir.'

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda.'

Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut.

Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka.

Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.

Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut.

Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu."
Keluaran 14:1–31 (TB)

TUHAN kini memasang perangkap bagi Firaun. Ia memerintahkan bangsa Israel untuk berbalik dan berkemah di tepi laut, yang akan memberi kesan kepada Firaun bahwa bangsa Israel sedang kebingungan dan tersesat (14:1–3). Ia juga menyatakan bahwa Ia akan kembali mengeraskan hati Firaun yang memang sudah mengeras (lih. penjelasan pada 4:18–23) sehingga ia akan mengejar Israel. Ketika hal ini terjadi, TUHAN akan melakukan suatu mukjizat—kita belum diberitahukan apa bentuk mukjizat itu—yang akan memimpin mereka yang menyaksikannya, termasuk orang-orang Mesir, untuk memuliakan TUHAN sebagai satu-satunya Allah yang benar (14:4).

Ketika Firaun dan para pegawainya menyadari bahwa bangsa Israel benar-benar telah pergi, hati mereka berubah, dan Firaun memutuskan untuk mengejar mereka dengan kekuatan militer yang sangat besar (14:5–7). Sebagaimana telah difirmankan TUHAN, Ia mengeraskan hati Firaun, yang terus melangkah di jalan kenekatannya untuk membinasakan bangsa Israel, bahkan ketika mereka sedang meninggalkan Mesir dengan penuh kemenangan dan keteguhan (14:8–9).

Ketika pasukan Firaun telah terlihat di depan mata, bangsa Israel menyadari bahwa merekalah yang kini terperangkap, dengan pasukan Firaun di belakang mereka dan lautan di depan mereka. Mereka berseru-seru dalam ketakutan yang amat sangat kepada TUHAN (14:10), namun itu bukanlah seruan iman, sebagaimana langsung terlihat jelas dari kata-kata tuduhan mereka kepada Musa (14:11–12). Musa merespons dengan iman yang teguh, menasihati bangsa Israel agar jangan takut: TUHAN sendiri yang akan memenangkan pertempuran bagi mereka—mereka bahkan tidak perlu mengangkat seujung jari pun!—dan mereka tidak akan pernah lagi melihat orang-orang Mesir ini untuk selama-lamanya (14:13–14). Pembebasan dari TUHAN akan bersifat tuntas dan sempurna.

TUHAN memberitahukan kepada Musa apa yang akan terjadi (14:15–18). Oleh karena Musa baru saja menyatakan imannya yang teguh, teguran TUHAN dalam ay. 15 tentulah ditujukan melalui Musa kepada bangsa Israel. TUHAN memerintahkan mereka untuk maju, hal mana sanggup mereka lakukan karena Ia dengan suatu cara adikodrati akan membelah laut di hadapan mereka (14:16). Ia juga akan melakukan mukjizat penghakiman atas Firaun beserta segenap pasukannya sedemikian rupa sehingga mereka sepenuhnya mengakui bahwa TUHAN layak menerima segala kemuliaan dan pujian (14:17–18). Bagaimana tepatnya hal-hal ini akan terwujud segera dinyatakan berikutnya.

Selanjutnya kita mengetahui bahwa sesosok malaikat telah berjalan di depan Israel di dalam tiang awan (mengenai malaikat sebagai wakil atau perwujudan kehadiran TUHAN, lih. penjelasan pada 3:1–6). Malaikat dan tiang awan itu berpindah ke antara perkemahan orang Israel dan perkemahan orang Mesir (14:19–20). Hal ini memberi waktu bagi Musa untuk mengacungkan tongkat Allah ke atas laut sehingga TUHAN dapat merespons dengan mengirimkan angin timur yang keras untuk membelah laut dan menyediakan jalan tanah kering di antara dua dinding air (14:21–22). Begitu bangsa Israel menyeberang melaluinya, malaikat dan tiang awan itu bergeser, dan orang-orang Mesir bergegas mengejar masuk (14:23). Tindakan itu merupakan kesalahan yang fatal. TUHAN dengan cara tertentu merusakkan seluruh kereta perang mereka, membuat kereta-kereta itu sulit dikemudikan (14:24–25a). Sebagaimana telah dinubuatkan-Nya, orang Mesir menyadari bahwa TUHAN sedang bekerja dan harus ditakuti (14:25b; lih. 14:17–18). Namun semuanya sudah terlambat. Ketika Musa kembali mengulurkan tangannya, air laut berbalik ke tempatnya semula, dan seluruh orang Mesir yang mengejar bangsa Israel tenggelam, tidak pernah lagi terlihat hidup untuk selama-lamanya (14:26–28; lih. 14:13–14, 30). Bangsa Israel diselamatkan, bukan melalui usaha atau pekerjaan mereka sendiri, melainkan semata-mata oleh anugerah TUHAN, Sang Juruselamat mereka (bdk. Ef. 2:1–10).

Pasal ini ditutup dengan menekankan kuasa agung TUHAN yang dengannya Ia menyelamatkan umat-Nya (14:29–31a). Umat-Nya merespons dengan rasa hormat dan gentar yang kudus ("takutlah bangsa itu kepada TUHAN"), menaruh percaya kepada TUHAN dan kepada hamba-Nya Musa (14:31b), serta meluapkan sukacita dalam nyanyian sorak-sorai (15:1–21). Keselamatan dari TUHAN sedemikian luar biasa sehingga umat-Nya tidak dapat menahan diri untuk tidak bernyanyi memuji Dia (bdk. Why. 5:9–10).


Bangsa Israel Menyanyikan Keselamatan dari TUHAN (15:1–21)

"Pada waktu itu Musa bersama-sama dengan orang Israel menyanyikan nyanyian ini bagi TUHAN yang berbunyi: 'Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.

TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia.

TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya.

Kereta Firaun dan pasukannya dibuang-Nya ke dalam laut; para perwiranya yang pilihan dibenamkan ke dalam Laut Teberau.

Samudera raya menutupi mereka; ke air yang dalam mereka tenggelam seperti batu.

Tangan kanan-Mu, TUHAN, mulia karena kekuasaan-Mu, tangan kanan-Mu, TUHAN, menghancurkan musuh.

Dengan keluhuran-Mu yang besar Engkau meruntuhkan siapa yang bangkit menentang Engkau; Engkau melepaskan api murka-Mu, yang memakan mereka sebagai tunggul gandum.

Karena nafas hidung-Mu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut.

Kata musuh: Aku akan mengejar, akan mencapai mereka, akan membagi-bagi jarahan; nafsuku akan kulampiaskan kepada mereka, akan kuhunus pedangku; tanganku akan melenyapkan mereka!

Engkau meniup dengan taufan-Mu, lautpun menutupi mereka; sebagai timah mereka tenggelam dalam air yang hebat.

Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?

Engkau mengulurkan tangan kanan-Mu; bumipun menelan mereka.

Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.

Bangsa-bangsa mendengarnya, merekapun menggigil; kegentaran menghinggapi penduduk tanah Filistin.

Pada waktu itu gemparlah para kepala kaum di Edom, kedahsyatan menghinggapi orang-orang berkuasa di Moab; semua penduduk tanah Kanaan gemetar.

Ngeri dan takut menimpa mereka, karena kebesaran tangan-Mu mereka kaku seperti batu, sampai umat-Mu menyeberang, ya TUHAN, sampai umat yang Kauperoleh menyeberang.

Engkau membawa mereka dan Kaucangkokkan mereka di atas gunung milik-Mu sendiri; di tempat yang telah Kaubuat kediaman-Mu, ya TUHAN; di tempat kudus, yang didirikan tangan-Mu, ya TUHAN.

TUHAN memerintah kekal selama-lamanya.'

Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut.

Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari.

Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka: 'Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.'"
Keluaran 15:1–21 (TB)

Saya telah memparafrasakan nyanyian ini di tempat lain sebagai berikut:[^22]

Aku akan bernyanyi bagi TUHAN, yang telah menyatakan kemegahan dan keperkasaan-Nya secara berlimpah dengan mengalahkan bala tentara Mesir, mengangkat setiap kuda dan penunggangnya semudah seorang pemanah mengambil anak panah lalu melesatkannya ke tengah-tengah kedalaman laut (15:1b). TUHAN telah menyatakan kekuatan keselamatan-Nya demi kepentinganku, dan karena Dia aku dapat bernyanyi dengan penuh sukacita, bersorak-sorai atas keselamatan yang telah dikerjakan-Nya bagiku (15:2a). Aku mempersembahkan kesetiaan penuh kepada-Nya sebagai Allahku dan akan memaparkan keindahan pribadi-Nya; sesungguhnya, nenek moyangku telah mempersembahkan kesetiaan mereka kepada-Nya, dan aku akan meninggikan nama-Nya sebagai satu-satunya Pribadi yang layak menerima segala pujian (15:2b). Dengan mengalahkan bangsa Mesir dalam peperangan, Ia telah menyatakan bahwa Dialah, Yahweh, Allah berdaulat yang berkuasa di seluruh bumi (15:3). Ia mencampakkan kereta-kereta perang dan segenap pasukan Firaun ke dalam laut hingga mereka tenggelam, baik mereka maupun para perwira terbaik pilihan Mesir (15:4). Samudra raya menutupi mereka laksana selimut, dan mereka tenggelam laksana batu ke tengah-tengah kedalaman laut (15:5).

Ya TUHAN, tangan kanan-Mu yang perkasa menjulang dalam kekuatan yang megah dan meremukkan musuh hingga hancur binasa (15:6). Dalam keagungan kemegahan dan kekuatan-Mu, Engkau meruntuhkan mereka yang bangkit memberontak melawan Engkau; Engkau melepaskan api murka-Mu yang menyala-nyala atas mereka, dan murka itu menghanguskan mereka laksana jerami yang dilahap api (15:7). Lubang hidung-Mu mengembuskan murka, dan oleh tiupan napas-Mu air laut bertimbun-timbun laksana gandum, menggunung tinggi, dan membeku menjadi dua dinding yang kokoh (15:8). Setelah kami keluar dari Mesir dan meloloskan diri melalui jalan yang Kaubuat di tengah laut, musuh berkata, 'Aku akan mengejar dan menyusul mereka! Aku akan menjarah harta benda mereka! Aku akan memuaskan nafsuku atas mereka! Aku akan menghunus pedangku dari sarungnya dan menghalau mereka tanpa tanah tempat tinggal!' (15:9). Namun Engkau, ya TUHAN, mengembuskan angin dan mengembalikan air laut ke tempatnya semula serta menutupi mereka, sehingga mereka tenggelam laksana timah di dalam air yang dahsyat (15:10). Siapakah yang seperti Engkau di antara segala ilah, ya TUHAN? Tidak ada seorang pun! Ilah manakah yang keunikan mutlaknya sedemikian megah, yang sedemikian layak menerima ketakjuban kudus saat dipuji, yang sanggup melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dan mukjizat sedahsyat ini? Tidak ada satu pun! (15:11). Engkau mengulurkan tangan kanan-Mu laksana seorang pahlawan perkasa dalam pertempuran dan membuat bumi menelan musuh di dalam laut (15:12).

Adapun bagi umat-Mu, Israel, Engkau bukan hanya melepaskan mereka dari kesesakan, melainkan Engkau sedang memimpin mereka di dalam kasih setia (khesed) anugerah-Mu, melindungi mereka laksana seorang gembala yang kuat saat Engkau menuntun mereka bagaikan kawanan domba menuju tanah padang rumput-Mu yang kudus di Kanaan (15:13). Bangsa-bangsa lain yang mendengar segala sesuatu yang telah Kauperbuat akan gemetar ketakutan (15:14a), termasuk empat musuh bebuyutan Israel: penduduk Filistin akan menggeliat kesakitan laksana perempuan yang hendak melahirkan (15:14b), para kepala kaum di Edom akan terpaku lumpuh karena teror (15:15a), para pemimpin Moab akan gemetar ketakutan (15:15b), dan seluruh penduduk Kanaan akan hancur luluh hatinya dalam kegentaran (15:15c). Ya, teror dan kegentaran dahsyat akan menimpa mereka! Ketika mereka melihat betapa agung dan berkuasanya tindakan-tindakan mukjizat penebusan-Mu membuktikan jati diri-Mu, mereka akan membeku laksana batu, membiarkan umat-Mu—yang telah Kautebus dan Kauperoleh sebagai hamba-Mu—lewat menyeberang tanpa terluka sedikit pun (15:16). Engkau kemudian akan membawa umat-Mu dan menanam mereka laksana pokok anggur supaya mereka dapat berakar dan bertumbuh subur di tanah-Mu, yang laksana sebuah gunung yang megah, gunung yang sedang Kausiapkan, ya TUHAN, untuk menjadi tempat kediaman-Mu sendiri, suatu tempat kudus, ya TUHAN, yang didirikan oleh tangan-Mu sendiri (15:17). TUHAN, Dialah satu-satunya Pribadi yang akan bertakhta memerintah sebagai Raja kekal selama-lamanya! (15:18).

Nyanyian ini disusul oleh sebuah ringkasan mengenai keselamatan yang dirayakannya (15:19) serta oleh catatan bahwa Miryam, sang nabiah, saudara perempuan Harun (dan Musa; lih. Bil. 26:59), memimpin kaum perempuan dalam paduan suara kecil untuk merayakan tema yang sama (15:20–21; bdk. Hak. 11:34; 1Sam. 18:6). Seluruh umat Allah dipersatukan bersama-sama dalam puji-pujian bagi Raja mereka!

Memandang ke depan, penghakiman yang digambarkan di sini mengantisipasi penghakiman terakhir yang akan datang atas semua orang yang menolak Yesus, Pribadi yang telah diutus oleh TUHAN sebagai Raja dan Juruselamat yang terutama; sementara itu, keselamatan yang digambarkan di sini mengantisipasi keselamatan dari dosa beserta segala konsekuensinya yang Allah anugerahkan kepada semua orang yang dengan sukacita berlutut menyembah Raja Yesus, Pribadi yang telah datang untuk menyelamatkan. Kiranya kita termasuk ke dalam kelompok yang kedua ini!


III. Bangsa Israel Menuju Sinai dan Diuji oleh TUHAN (15:22–17:16)

Tiga Kisah Pengujian di Padang Gurun dan Pemeliharaan TUHAN (15:22–17:7)

Secara umum, pengujian alkitabiah (a biblical test) adalah suatu situasi di mana ketaatan dan iman terasa sulit untuk dijalani. Pengujian memungkinkan orang-orang yang diuji untuk bertumbuh dalam kerendahan hati dan membuktikan iman yang sejati (Ul. 8:2), sekaligus mengalami pemeliharaan TUHAN atas kebutuhan-kebutuhan mereka (lih. Ul. 8:16). Dalam bagian ini, bangsa Israel gagal dalam dua ujian pertama dan kemudian secara berdosa menguji TUHAN, yang meskipun demikian tetap memelihara kebutuhan mereka dengan penuh kesetiaan.


TUHAN Menguji Bangsa Israel: Tidak Ada Air (15:22–27)

"Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air.

Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara.

Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: 'Apakah yang akan kami minum?'

Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,

firman-Nya: 'Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau.'

Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu."
Keluaran 15:22–27 (TB)

Setelah meninggalkan Laut Teberau, bangsa Israel berjalan selama tiga hari menuju padang gurun Syur, di sebelah timur Mesir, tanpa menemukan air (15:22). Ketika mereka akhirnya menemukan air, air tersebut terlalu pahit untuk diminum (kata Ibrani untuk "pahit"—mar—menjadi asal nama tempat tersebut, "Mara") (15:23).

Bangsa Israel merespons dengan "bersungut-sungut", yaitu mengeluh dengan getir dari sikap ketidakpercayaan dan amarah, alih-alih berpegang teguh pada iman yang percaya (15:24; lih. juga 16:2; 17:3; Bil. 14:2; dst.). Menanggapi hal tersebut, Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu untuk dilemparkan ke dalam air itu agar menjadi layak minum, yang agaknya terjadi melalui suatu mukjizat (15:25a).

TUHAN kemudian memperkenalkan tema pengujian (15:25b). Secara garis besar, ujian tersebut adalah apakah bangsa Israel akan tetap setia kepada-Nya (15:26a). Jika demikian, sebagai ganti dari penyakit-penyakit yang diterima bangsa Mesir dalam penghakiman, bangsa Israel akan mengalami pemeliharaan kesembuhan dari TUHAN (15:26b). Hal ini bukanlah karena ketaatan mereka berhak menuntut kasih Allah. "Ketaatan bukanlah mengenai upaya memperoleh kelayakan bagi kasih Allah, melainkan mengenai tetap tinggal di dalam kasih-Nya dan, dengan cara ini, menikmati hasil-hasil yang memberi hidup yang dialami ketika seseorang tetap dekat dengan Sang Raja yang penuh kasih" (bdk. Yoh. 15:10).[^23] Ia senang mengaruniakan hal-hal yang baik kepada anak-anak-Nya.

Kisah ini ditutup dengan mencatat bahwa bangsa Israel tiba di Elim, tempat di mana terdapat mata air yang melimpah dan pohon-pohon kurma (15:27). TUHAN terus melimpahi umat-Nya dengan pemeliharaan-Nya.


TUHAN Menguji Bangsa Israel: Tidak Ada Makanan (16:1–36)

"Setelah mereka berangkat dari Elim, tibalah segenap jemaah Israel di padang gurun Sin, yang terletak di antara Elim dan Gunung Sinai, pada hari yang kelima belas bulan yang kedua, sejak mereka keluar dari tanah Mesir.

Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun;

dan berkata kepada mereka: 'Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan.'

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.

Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.'

Sesudah itu berkatalah Musa dan Harun kepada seluruh orang Israel: 'Petang ini kamu akan mengetahui bahwa TUHANlah yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir.

Dan besok pagi kamu melihat kemuliaan TUHAN, karena Ia telah mendengar sungut-sungutmu kepada-Nya. Sebab, apalah kami ini maka kamu bersungut-sungut kepada kami?'

Lagi kata Musa: 'Jika memang TUHAN yang memberi kamu makan daging pada waktu petang dan makan roti sampai kenyang pada waktu pagi, karena TUHAN telah mendengar sungut-sungutmu yang kamu sungut-sungutkan kepada-Nya—apalah kami ini? Bukan kepada kami sungut-sungutmu itu, tetapi kepada TUHAN.'

Kata Musa kepada Harun: 'Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Marilah dekat ke hadapan TUHAN, sebab Ia telah mendengar sungut-sungutmu.'

Dan sedang Harun berbicara kepada segenap jemaah Israel, mereka memalingkan mukanya ke arah padang gurun—maka tampaklah kemuliaan TUHAN dalam awan.

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

'Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.'

Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu.

Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.

Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: 'Apakah ini?' Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: 'Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.

Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.'

Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit.

Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.

Musa berkata kepada mereka: 'Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi.'

Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka.

Setiap pagi mereka memungutnya, tiap-tiap orang menurut keperluannya; tetapi ketika matahari panas, cairlah itu.

Dan pada hari yang keenam mereka memungut roti itu dua kali lipat banyaknya, dua gomer untuk tiap-tiap orang; dan datanglah semua pemimpin jemaah memberitahukannya kepada Musa.

Lalu berkatalah Musa kepada mereka: 'Inilah yang dimaksudkan TUHAN: Besok adalah hari perhentian penuh, sabat yang kudus bagi TUHAN; maka roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa yang perlu kamu masak, masaklah; dan segala kelebihannya biarkanlah di tempatnya untuk disimpan sampai pagi.'

Mereka membiarkannya di tempatnya sampai keesokan harinya, seperti yang diperintahkan Musa; lalu tidaklah berbau busuk dan tidak ada ulat di dalamnya.

Selanjutnya kata Musa: 'Makanlah itu pada hari ini, sebab hari ini adalah sabat untuk TUHAN, pada hari ini tidaklah kamu mendapatnya di padang.

Enam hari lamanya kamu memungutnya, tetapi pada hari yang ketujuh ada sabat; maka roti itu tidak ada pada hari itu.'

Tetapi ketika pada hari ketujuh ada dari bangsa itu yang keluar memungutnya, tidaklah mereka mendapatnya.

Sebab itu TUHAN berfirman kepada Musa: 'Berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintah-Ku dan hukum-Ku?

Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorangpun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu.'

Lalu beristirahatlah bangsa itu pada hari ketujuh.

Umat Israel menyebutkan namanya: manna; warnanya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti rasa kue madu.

Musa berkata: 'Beginilah perintah TUHAN: Ambillah segomer penuh untuk disimpan turun-temurun, supaya keturunan mereka melihat roti yang Kuberi kamu makan di padang gurun, ketika Aku membawa kamu keluar dari tanah Mesir.'

Sebab itu Musa berkata kepada Harun: 'Ambillah sebuah buli-buli, taruhlah manna di dalamnya segomer penuh, dan tempatkanlah itu di hadapan TUHAN untuk disimpan turun-temurun.'

Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah buli-buli itu ditempatkan Harun di hadapan tabut hukum Allah untuk disimpan.

Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan.

Adapun segomer ialah sepersepuluh efa."
Keluaran 16:1–36 (TB)

Sekitar satu bulan setelah meninggalkan Mesir (bdk. 16:1 dengan 12:2–6), bangsa Israel tiba di padang gurun Sin (ini adalah sebuah nama Ibrani; tidak ada kaitannya dengan kata bahasa Inggris sin yang berarti dosa) (16:1). Mereka kembali bersungut-sungut, kali ini karena kekurangan makanan (16:2–3; bdk. penjelasan pada 15:24). TUHAN menjanjikan pemeliharaan yang berlimpah dan juga menyatakan bahwa Ia akan menguji mereka (16:4–5; ujian tersebut datang dalam 16:16–30).

Musa dan Harun memberitahukan kepada umat bahwa TUHAN akan memelihara kebutuhan mereka secara ajaib supaya mereka mengetahui—yaitu mengakui (lih. penjelasan pada 5:2)—bahwa TUHAN adalah Sang Pembebas ajaib yang layak menerima segala kemuliaan (16:6–7). Musa kemudian memberikan rincian lebih lanjut mengenai apa yang akan TUHAN sediakan, namun ia juga menekankan bahwa sesungguhnya bangsa Israel sedang mengeluh melawan TUHAN, bukan melawan Musa dan Harun (16:8).

Sampai pada titik ini, ayat 1–8 telah merangkum peristiwa-peristiwa tertentu. Ayat 9–12 kini kembali ke belakang untuk melengkapi beberapa rincian. Harun telah mengumpulkan bangsa Israel yang sedang bersungut-sungut itu untuk menerima pesan dari TUHAN (16:9). TUHAN kemudian menyinari awan yang memimpin mereka dengan kemuliaan-Nya, yaitu dengan kilat dan api yang menyatakan hakikat kemuliaan-Nya dengan jelas (16:10; bdk. 19:16–18; 20:18; 24:17). Pada saat itulah Ia menyampaikan firman-Nya kepada Musa (16:11–12).

Kisah ini berlanjut. TUHAN menyediakan daging (16:13a) dan roti (16:13b–15) secara mukjizat. Roti tersebut adalah sesuatu yang baru (lih. 16:31 untuk gambarannya); nama Ibraninya, mān, berasal dari pertanyaan orang Israel: "Apakah ini (Ibr. mān hûʾ)?" (16:15). TUHAN juga memberikan petunjuk-petunjuk untuk menguji ketaatan bangsa Israel. Mereka harus memungut "menurut keperluannya", yaitu satu gomer (sekitar 2 liter) per orang (16:16). Orang Israel melakukannya, artinya mereka mengumpulkan dalam jumlah yang tepat, tidak peduli apakah untuk banyak orang atau sedikit (16:17–18; untuk penerapan Perjanjian Baru dari perikop ini, lih. 2Kor. 8:10–15). Mereka juga harus menghabiskannya dalam satu hari, suatu perintah yang dilanggar oleh sebagian orang Israel, sehingga mereka sebagiannya gagal dalam ujian tersebut (16:19–20a). TUHAN mendatangkan hukuman yang serupa dengan apa yang ditimpakan-Nya atas bangsa Mesir (bdk. 16:20b dengan 7:18, 21; 8:10), dan kemarahan Musa terhadap bangsa itu sangat dapat dipahami. Agaknya, mereka memetik pelajaran dari peristiwa ini dan mulai percaya kepada TUHAN dalam memelihara kebutuhan harian mereka.

Petunjuk tersebut berlanjut. Bangsa Israel harus memungut dan mengolah manna dua kali lipat dari jumlah biasanya pada hari keenam supaya mereka dapat beristirahat pada hari Sabat, dengan demikian menghormati TUHAN sebagai Allah perjanjian mereka (16:22–23). (Hari Sabat diperkenalkan di sini untuk pertama kalinya; petunjuk dan penjelasan yang lebih lengkap akan diberikan dalam 20:8–11.) Bangsa Israel benar-benar mengumpulkan dan mengolah dua kali lipat dari biasanya serta melihat bahwa makanan itu tidak menjadi busuk seperti sebelumnya (16:24; bdk. 16:20). Namun, beberapa orang masih saja dengan tidak taat keluar pada hari Sabat untuk memungutnya (16:27), yang berujung pada teguran keras dari TUHAN (kata "kamu" dalam 16:28 berbentuk jamak; firman TUHAN ini ditujukan kepada segenap bangsa Israel). Sekali lagi, umat memetik pelajaran dan mulai taat (16:30).

Kisah ini kembali berfokus pada manna. Setelah memberikan gambaran singkat mengenainya (16:31), narasi bergerak maju dalam garis waktu (lih. khususnya 16:34–35), menjelaskan bahwa bangsa Israel harus memperingati pemeliharaan manna dari TUHAN dengan menaruh sebagian di dalam sebuah buli-buli dan menyimpannya di dalam Kemah Suci di hadapan tabut hukum,[^24] yang memuat loh-loh batu perjanjian ("kesaksian"; bdk. 25:16 dan 31:18) (16:32–35). Dengan cara ini, bangsa Israel akan mengingat bahwa TUHAN telah menyelamatkan mereka dan juga memelihara kebutuhan hidup harian mereka. Pemeliharaan manna ini sesungguhnya berlangsung hingga mereka tiba di Tanah Perjanjian dan dapat menikmati hasil buminya (16:35; lih. Yos. 5:12).


Bangsa Israel Menguji TUHAN: Apakah Ia Ada di Tengah-Tengah Mereka? (17:1–7)

"Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu.

Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: 'Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.' Tetapi Musa berkata kepada mereka: 'Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?'

Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: 'Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?'

Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: 'Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!'

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah.

Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.' Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel.

Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: 'Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?'"
Keluaran 17:1–7 (TB)

Bangsa Israel melanjutkan perjalanan mereka (bdk. Bil. 33:5–15) dan kembali tiba di suatu tempat yang tidak berair (Kel. 17:1; bdk. 15:22–23). Dalam kisah-kisah sebelumnya, TUHAN memakai peristiwa semacam itu untuk menguji karakter Israel, yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil-hasil yang positif (lih. penjelasan pada 15:22–17:7). Namun dalam kisah ini, bangsa Israel justru memanfaatkan peristiwa tersebut untuk menguji TUHAN (17:2), meragukan kesetiaan-Nya (17:7), suatu tindakan yang dilarang keras oleh Alkitab sebagai ketidakpercayaan yang berdosa (Bil. 14:22; Ul. 6:16; Mzm. 95:8–9; Mat. 4:7).

Meskipun demikian, TUHAN tetap menyediakan kebutuhan mereka dengan penuh kesetiaan. Dengan menyatakan hadirat-Nya di atas sebuah gunung batu, Ia memerintahkan Musa untuk memukulnya dengan tongkat pembuat mukjizat, dan air pun memancar keluar. Ini jelas merupakan pemeliharaan mukjizat dari TUHAN, dan para tua-tua Israel menyaksikannya atas nama segenap umat Israel (17:5–6). Namun, kisah ini berakhir dengan nada yang muram: kedua nama tempat tersebut—Masa ("pengujian") dan Meriba ("pertengkaran") (17:7)—menjadi pengingat yang menyedihkan akan ketidaksetiaan Israel sekaligus peringatan yang tegas untuk tidak mengulangi perbuatan mereka (bdk. 1Kor. 10:1–13).

Bangsa Israel Mengalahkan Orang Amalek dengan Pertolongan TUHAN (17:8–16)

"Lalu datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim.

Musa berkata kepada Yosua: 'Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.'

Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit.

Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.

Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.

Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang.

Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit.'

Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: 'TUHANlah panji-panjiku!'

Ia berkata: 'Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.'"
Keluaran 17:8–16 (TB)

Orang-orang Amalek berperang melawan bangsa Israel (17:8), sekalipun mereka sesungguhnya adalah sanak saudara jauh (Kej. 36:12). Musa memerintahkan Yosua—seorang pemuda pemberani yang kelak menjadi abdinya (Kel. 33:11; Bil. 13:16)—untuk mengumpulkan pasukan perang (Kel. 17:9a). Musa akan memantau jalannya pertempuran sambil memegang "tongkat Allah" (17:9b), yang melambangkan kuasa mukjizat Allah (7:20; 8:1, 12).

Selama pertempuran berlangsung, ketika Musa mengangkat kedua tangannya (suatu sikap tubuh dalam berdoa) sambil memegang tongkat tersebut, Yosua lebih unggul. Ketika Musa karena keletihan menurunkan tangannya, orang Amaleklah yang lebih unggul (17:11). Makna simbolisnya sangatlah jelas: TUHAN melepaskan umat-Nya ketika mereka berseru memohon pertolongan kepada-Nya dalam doa, sehingga Harun dan Hur berdiri di samping Musa untuk menopang kedua tangannya (17:12). (Betapa seringnya kita membutuhkan orang lain untuk menopang kita dalam doa!) Bangsa Israel pun meraih kemenangan (17:13).

Tindakan orang Amalek begitu keji dan licik (bdk. Ul. 25:17–18) sehingga TUHAN akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada mereka (Kel. 17:14, 16b; makna dari 17:16a tidak sepenuhnya jelas). TUHAN juga disebut sebagai "panji-panji" Israel (17:15), yaitu "pemimpin mereka, Pribadi yang menjadi tumpuan Anda untuk berhimpun, [yang] akan berjalan di depan Anda saat Anda menghadapi musuh."[^25] Dialah Pribadi yang berperang bagi umat-Nya (bdk. Why. 19:11–16).


IV. Bangsa Israel Tiba di Sinai (18:1–19:25)

Keluaran 18 berfokus pada TUHAN sebagai pembebas (18:1–12) dan bagaimana menyelenggarakan hukum-Nya (18:13–27), yang dengan demikian menjembatani pasal-pasal sebelumnya mengenai pembebasan dari TUHAN (pasal 1–17) dengan pasal-pasal berikutnya mengenai pemberian hukum-Nya (pasal 20–23). Keluaran 19 memperkenalkan pasal-pasal mengenai hukum tersebut. Pasal ini mengisahkan bagaimana bangsa Israel menerima undangan TUHAN untuk masuk ke dalam hubungan perjanjian (19:1–6) dan bagaimana Dia menyatakan diri di Gunung Sinai (19:7–25), tempat di mana Dia akan memberikan hukum perjanjian-Nya.


Yitro Memuji TUHAN dan Menasihati Musa (18:1–27)

Yitro Memuji TUHAN (18:1–12)

"Kedengaranlah kepada Yitro, imam di Midian, mertua Musa, segala yang dilakukan Allah kepada Musa dan kepada Israel, umat-Nya, yakni bahwa TUHAN telah membawa orang Israel keluar dari Mesir.

Lalu Yitro, mertua Musa, membawa serta Zipora, isteri Musa--yang dahulu disuruh Musa pulang--

dan kedua anak laki-laki Zipora; yang seorang bernama Gersom, sebab kata Musa: 'Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing,'

dan yang seorang lagi bernama Eliezer, sebab katanya: 'Allah bapaku adalah penolongku dan telah menyelamatkan aku dari pedang Firaun.'

Ketika Yitro, mertua Musa, beserta anak-anak dan isteri Musa sampai kepadanya di padang gurun, tempat ia berkemah dekat gunung Allah,

disuruhnyalah mengatakan kepada Musa: 'Aku, mertuamu Yitro, datang kepadamu membawa isterimu beserta kedua anaknya.'

Lalu keluarlah Musa menyongsong mertuanya itu, sujudlah ia kepadanya dan menciumnya; mereka menanyakan keselamatan masing-masing, lalu masuk ke dalam kemah.

Sesudah itu Musa menceritakan kepada mertuanya segala yang dilakukan TUHAN kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel dan segala kesusahan yang mereka alami di jalan dan bagaimana TUHAN menyelamatkan mereka.

Bersukacitalah Yitro tentang segala kebaikan, yang dilakukan TUHAN kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir.

Lalu kata Yitro: 'Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun.

Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka.'

Dan Yitro, mertua Musa, mempersembahkan korban bakaran dan beberapa korban sembelihan bagi Allah; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Allah."
Keluaran 18:1–12 (TB)

Dalam Keluaran 4:18, Musa meminta izin kepada mertuanya, Yitro, untuk kembali ke Mesir bersama istrinya, Zipora, dan kedua anak laki-lakinya, yang nama-namanya mencerminkan pengalaman Musa sebagai seorang pendatang (nama Gersom mirip dengan kata Ibrani untuk "pendatang") dan sebagai orang yang telah mengalami pertolongan TUHAN (Eliezer berarti "Allah penolong" atau "Allah adalah penolongku") (18:3–4). Pada suatu titik setelah berangkat menuju Mesir, Musa menyuruh keluarganya kembali ke Midian. Tidak jelas apakah hal ini terjadi sebelum tiba di Mesir, selama tinggal di Mesir, atau setelah dibebaskan dari Mesir ketika sudah berjalan menuju arah Midian. Bagaimanapun juga, Yitro, yang telah mendengar tentang pembebasan dari TUHAN (18:1), kini membawa mereka kembali kepada Musa di Gunung Sinai (18:5).

Ketika Yitro tiba, Musa menceritakan kepadanya segala sesuatu yang telah dilakukan TUHAN bagi bangsa Israel, dengan membebaskan mereka dari Mesir dan memelihara mereka di tengah berbagai kesukaran di padang gurun (18:8–9). Yitro merespons dengan memuji TUHAN. Ia berfokus pada TUHAN sebagai Pembebas Israel (18:10), dan menyimpulkan, "Sekarang aku tahu"—artinya, mengakui (lih. penjelasan pada 5:2)—"bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah" karena Dia telah menghukum orang-orang Mesir atas penindasan mereka yang penuh keangkuhan terhadap Israel, sehingga mengalahkan ilah-ilah yang mereka sembah (18:11). TUHAN sebelumnya telah berfirman bahwa perbuatan-perbuatan-Nya akan memimpin orang-orang untuk "mengetahui/mengakui" siapa Dia (7:5), dan itulah yang terjadi di sini. Yitro, seorang non-Israel, menaikkan pujian kepada-Nya dan ikut serta dalam perjamuan korban persembahan penyembahan bersama umat perjanjian-Nya (18:12; bandingkan 24:9–11). Berkat Allah sedang menyebar kepada bangsa-bangsa melalui umat-Nya (lih. Kej. 12:3; bdk. Gal. 3:8).


Yitro Menasihati Musa tentang Penyelenggaraan Hukum (18:13–27)

"Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang.

Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: 'Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?'

Kata Musa kepada mertuanya itu: 'Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah.

Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah.'

Tetapi mertua Musa menjawabnya: 'Tidak baik seperti yang kaulakukan itu.

Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja.

Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah.

Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan.

Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya.

Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya.'

Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.

Dari seluruh orang Israel Musa memilih orang-orang cakap dan mengangkat mereka menjadi kepala atas bangsa itu, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.

Mereka ini mengadili di antara bangsa itu sewaktu-waktu; perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri.

Kemudian Musa membiarkan mertuanya itu pergi dan ia pulang ke negerinya."
Keluaran 18:13–27 (TB)

Pasal-pasal mendatang memaparkan bagaimana Musa menerima Hukum Taurat bagi bangsa Israel (pasal 20–23). Kisah ini mempersiapkan kita menyambut masa tersebut dengan menceritakan bagaimana Hukum itu akan diselenggarakan.

Saat kisah ini bermula, Musa mendengarkan perkara-perkara hukum dan memberikan keputusan pengadilan sepanjang hari (18:13). Ketika Yitro menanyakan hal ini, Musa menjawab bahwa Allah menyatakan hukum-hukum-Nya kepada Musa dan oleh karena itu Musalah yang bertugas memberikan penghakiman dan mengajarkan Hukum tersebut (18:14–16).

Yitro menunjukkan bahwa satu orang tidak mungkin bertindak sebagai hakim untuk setiap perkara di seluruh bangsa. Melakukan hal itu hanya akan membuat sang hakim maupun orang-orang yang harus menunggu begitu lama untuk menemuinya menjadi letih lesu (18:17–18). Jauh lebih baik jika beban itu dipikul bersama!

Yitro menyuruh Musa untuk tetap melanjutkan perannya dalam menerima hukum-hukum Allah dan menyampaikannya kepada bangsa itu (18:19–20), tetapi juga mengangkat orang-orang berkarakter luhur sebagai hakim atas kelompok-kelompok masyarakat dengan berbagai ukuran jumlah, sehingga dapat turut memikul beban bersama Musa dan memberikan pertolongan kepada bangsa itu secara lebih cepat (18:21–23). Para pemimpin yang bijaksana berupaya membagikan beban-beban kepemimpinan sebisa mungkin demi kebaikan diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka pimpin. Musa menunjukkan hikmat semacam itu di sini dengan menaati nasihat Yitro secara saksama (18:24–26).

Undangan Perjanjian dan Hadirnya TUHAN di Gunung Sinai (19:1–25)

Undangan TUHAN untuk Masuk ke dalam Hubungan Perjanjian (19:1–6)

"Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga.

Setelah mereka berangkat dari Rafidim, tibalah mereka di padang gurun Sinai, lalu mereka berkemah di padang gurun; orang Israel berkemah di sana di depan gunung itu.

Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: 'Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel:

Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.

Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.

Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.'"
Keluaran 19:1–6 (TB)

Dalam 18:5, kita membaca bahwa Yitro menemui Musa di Gunung Sinai. Sang narator kini menyajikan kilas balik untuk menceritakan bagaimana bangsa Israel tiba di sana pada bulan ketiga (arti harfiah: "bulan baru") pada tahun tersebut (19:1–2).

Setibanya di sana, Musa mendaki gunung untuk menerima pesan dari TUHAN. TUHAN mengingatkan Israel bagaimana Dia telah membawa mereka dengan cepat dan aman kepada diri-Nya sendiri (seolah-olah mereka terbang di atas sayap burung rajawali) dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam hubungan perjanjian (19:4–6). Ayat 5–6 tidak bermaksud mengatakan, "Taatilah Aku dan dapatkanlah kasih-Ku sebagai upahmu." Dia baru saja menebus mereka karena kasih-Nya (pasal 1–17)! "Sebaliknya, undangan TUHAN ini sebanding dengan seorang raja yang menyelamatkan suatu bangsa yang tak berdaya . . . lalu mengundang mereka untuk menjadi rakyatnya yang setia dengan segala tanggung jawab dan manfaat yang menyertainya."[^26] Atau dengan ungkapan lain, "Hal ini seperti lamaran pernikahan dari TUHAN kepada Israel: 'Jika engkau masuk ke dalam ikatan pernikahan yang setia dengan-Ku, engkau akan merasakan kehadiran seorang suami yang akan menjaga engkau, memelihara engkau, dan memandang engkau sebagai harta kesayangan-Nya.' Itu bukanlah janji untuk mendapatkan kasih sebagai upah; itu adalah janji untuk mengalami dan menikmati kasih."[^27] Israel harus merespons kasih yang sedemikian besar dengan hidup dalam ketaatan dan kekudusan (bdk. Rm. 12:1), yang dengan cara demikian memancarkan karakter TUHAN yang mulia kepada dunia (bdk. 1Ptr. 2:9).


Umat Bersiap Menyambut Hadirnya TUHAN (19:7–15)

"Lalu datanglah Musa dan memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan TUHAN kepadanya.

Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: 'Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan.' Lalu Musapun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN.

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu.' Lalu Musa memberitahukan perkataan bangsa itu kepada TUHAN.

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya.

Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai.

Sebab itu haruslah engkau memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapapun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati.

Tangan seorangpun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan dibiarkan hidup. Hanya apabila sangkakala berbunyi panjang, barulah mereka boleh mendaki gunung itu.'

Lalu turunlah Musa dari gunung mendapatkan bangsa itu; disuruhnyalah bangsa itu menguduskan diri dan merekapun mencuci pakaiannya.

Maka kata Musa kepada bangsa itu: 'Bersiaplah menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perempuan.'"
Keluaran 19:7–15 (TB)

Umat dengan sepenuh hati menerima undangan TUHAN (19:8). Kini mereka harus bersiap menyambut kehadiran-Nya yang istimewa: mereka akan melihat Dia datang dalam awan yang tebal, mendengar Dia berbicara kepada Musa, dan mengetahui secara pasti bahwa Musa adalah juru bicara-Nya (19:9). Untuk bersiap menyambut kedatangan-Nya yang kudus, mereka harus menguduskan diri secara ritual (dengan mencuci pakaian mereka) dan menjauhi hal-hal yang dapat menajiskan mereka secara ritual (seperti hubungan seksual) (19:10–11, 14–15). Mereka juga harus menghindari sentuhan dengan gunung tersebut—dengan ancaman hukuman mati!—karena hadirat TUHAN menjadikannya begitu kudus sehingga umat akan menajiskannya jika mereka menyentuhnya (19:12–13).


TUHAN Hadir di Gunung Sinai (19:16–25)

"Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan.

Lalu Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung.

Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat.

Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Berbicaralah Musa, lalu Allah menjawabnya dalam guruh.

Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas.

Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: 'Turunlah, peringatkanlah kepada bangsa itu, supaya mereka jangan menembus mendapatkan TUHAN hendak melihat-lihat; sebab tentulah banyak dari mereka akan binasa.

Juga para imam yang datang mendekat kepada TUHAN haruslah menguduskan dirinya, supaya TUHAN jangan melanda mereka.'

Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: 'Tidak akan mungkin bangsa itu mendaki gunung Sinai ini, sebab Engkau sendiri telah memperingatkan kepada kami, demikian: Pasanglah batas sekeliling gunung itu dan nyatakanlah itu kudus.'

Lalu TUHAN berfirman kepadanya: 'Pergilah, turunlah, kemudian naiklah pula, engkau beserta Harun; tetapi para imam dan rakyat tidak boleh menembus untuk mendaki menghadap TUHAN, supaya mereka jangan dilanda-Nya.'

Lalu turunlah Musa mendapatkan bangsa itu dan menyatakan hal itu kepada mereka."
Keluaran 19:16–25 (TB)

Pada hari ketiga, TUHAN menyatakan kehadiran-Nya dalam awan tebal yang disertai kilatan kilat, gemuruh guruh, tiupan sangkakala yang sangat keras, serta kepulan asap yang membubung tinggi. Umat gemetar karena takut dan gunung itu gemetar dahsyat karena kuasa-Nya (19:16–18)! Musa mulai berbicara, dan suara TUHAN yang bergemuruh menjawabnya (19:19).

Setelah memanggil Musa ke puncak Sinai, TUHAN menegaskan bahwa hanya Musa dan Harun yang boleh mendaki ke atas Gunung Sinai, dan kembali menegaskan bahwa bangsa Israel, termasuk para imam, tidak boleh menerobos naik ke atas gunung yang kudus itu untuk melihat Allah secara lebih langsung, yang akan berakibat fatal bagi mereka (19:21–24; untuk alasan teologisnya, lih. penjelasan pada 3:1–6; 33:19–23). TUHAN yang kudus harus dihormati sepenuhnya. Perjanjian Baru menekankan hal ini dengan menyatakan bahwa jika bangsa Israel menghadapi penghakiman karena menolak perjanjian lama di Sinai, betapa lebih beratnya lagi penghakiman yang akan kita hadapi jika kita menolak perjanjian baru yang jauh lebih mulia dan berkuasa yang diperantarai oleh Yesus (Ibr. 12:18–29).


V. Pemberian Hukum Perjanjian dan Peneguhan Perjanjian Sinai (20:1–24:11)

Di Timur Dekat kuno, ketika seorang raja mengadakan perjanjian dengan bangsa taklukan (servant nation / vasal), perjanjian tersebut sering kali memaparkan sejarah hubungan di antara kedua pihak terlebih dahulu, lalu mencantumkan kewajiban-kewajiban bagi bangsa taklukan tersebut. Hal serupa terjadi di sini: TUHAN memaparkan karya penebusan-Nya atas bangsa Israel (20:1–2) dan kemudian memberi mereka hukum-hukum yang wajib mereka taati (20:3–23:33). Perjanjian ini diteguhkan melalui sebuah perjamuan makan, yang merupakan cara penandatanganan kontrak di Timur Dekat kuno (24:1–11).

Meskipun para raja di Timur Dekat kuno belum tentu memiliki hubungan yang akrab dengan bangsa taklukannya, TUHAN memandang Israel sebagai "harta kesayangan-Nya" (19:5). Ketika TUHAN mengikat perjanjian dengan seseorang, itu adalah "suatu jenis hubungan yang jauh lebih personal daripada sebuah kontrak biasa dan jauh lebih kekal daripada sebuah hubungan biasa."[^28] Layaknya seorang Bapa yang baik, Dia rindu agar anak-anak-Nya mengenal Dia (lih. Yoh. 14:6–7).


Fondasi Hukum Perjanjian: Sepuluh Firman (20:1–21)

Prolog Historis (20:1–2)

"Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

'Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.'"
Keluaran 20:1–2 (TB)

Sebelum memberikan Hukum-Nya kepada bangsa Israel, TUHAN mengingatkan mereka akan karya penebusan-Nya (20:1–2). Keselamatan tidak diperoleh dari menaati Hukum Taurat; umat Allah menaati Hukum Taurat sebagai respons terhadap keselamatan-Nya yang ajaib.


Sepuluh Firman (20:3–17)

"'Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,

tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:

enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,

tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.

Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

Jangan membunuh.

Jangan berzinah.

Jangan mencuri.

Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.'"
Keluaran 20:3–17 (TB)

Empat perintah pertama bersifat lebih "vertikal", yang berfokus pada komitmen-komitmen yang ditujukan secara langsung kepada Allah, sedangkan enam perintah terakhir bersifat lebih "horizontal", yang berfokus pada komitmen-komitmen yang ditujukan secara langsung kepada sesama. Sebagaimana sering terjadi dalam produk hukum, banyak dari Sepuluh Firman ini menetapkan standar minimum perilaku etis yang tidak boleh dilanggar ke bawahnya. Namun, setiap perintah juga memiliki prinsip dasar yang mengarahkan kepada suatu cita-cita (ideal) perilaku etis yang harus diperjuangkan. Sebagai contoh, "Jangan membunuh" menetapkan batas minimum perilaku yang tidak boleh dilakukan. Namun prinsip dasarnya adalah bahwa kehidupan itu sangat berharga, yang mengarahkan kepada cita-cita yang harus dituju: memajukan dan memelihara kehidupan agar bertumbuh subur. Orang benar bukanlah orang yang sekadar terpaku pada batas minimum, melainkan orang yang mewujudkan cita-cita tersebut. (Penjelasan berikut berfokus pada pengidentifikasian batas minimum perilaku yang dipaparkan oleh hukum-hukum ini. Untuk pembahasan yang sangat menolong mengenai cita-cita etis yang dituju oleh hukum-hukum tersebut, lihat Katekismus Besar Westminster [pertanyaan 102–148] dan Katekismus Heidelberg [pertanyaan 94–113], yang keduanya dapat diakses secara cuma-cuma dalam jaringan).

Perintah pertama melarang bangsa Israel memiliki allah lain di hadapan TUHAN, yaitu mengutamakan ilah lain di atas Dia atau menyembah ilah lain selain Dia (20:3). Hanya TUHAN sajalah yang wajib mereka sembah.

Perintah kedua melarang pembuatan atau penyembahan berhala apa pun (20:4). Sebagaimana seorang suami memiliki hak yang benar untuk cemburu ketika istrinya berzina secara fisik, TUHAN pun berhak untuk cemburu ketika umat-Nya berzina secara rohani (20:5a). Ketika umat-Nya menunjukkan ketidaksetiaan semacam itu ("membenci Aku"), Dia akan menghukum mereka, dan hukuman tersebut dapat berdampak pada seluruh keluarga (yang pada zaman itu kerap terdiri atas tiga hingga empat generasi) (20:5b). Sungguh menyedihkan, dosa kita kerap berdampak pada orang-orang yang terhubung dengan kita (lih. khususnya Bil. 14:33). Namun kerinduan TUHAN yang sesungguhnya adalah agar umat-Nya setia ("mengasihi Aku") dan menikmati kasih setia yang Dia limpahkan kepada orang-orang yang senantiasa dekat dengan-Nya (lih. penjelasan pada Kel. 15:26).

Perintah ketiga melarang bangsa Israel menyalahgunakan nama TUHAN dalam perkataan, seperti bersumpah palsu demi nama-Nya atau menghujat Dia (20:7; bdk. Im. 6:3; 24:10–16). Karena sebuah nama mewakili pribadi pemiliknya, tindakan-tindakan semacam itu menunjukkan penghinaan terhadap TUHAN, dan Dia akan menuntut pertanggungjawaban dari orang tersebut.

Perintah keempat mewajibkan bangsa Israel untuk menguduskan hari Sabat dengan berhenti bekerja (20:8–11). Melakukan hal ini "bagi TUHAN" berarti mereka memelihara hari ini demi memuliakan Dia, Pribadi yang mereka teladani dengan beristirahat pada hari ketujuh, sehingga menjadikan Sabat sebagai pengingat mingguan bahwa Dialah Allah perjanjian mereka. Mereka juga memuliakan Dia dengan membiarkan semua orang dan makhluk di tanah itu beristirahat, yang dengan demikian menyatakan belas kasihan-Nya kepada dunia. Sungguh, "hari Sabat diadakan untuk manusia" (Mrk. 2:27a) dan dianugerahkan kepada kita sebagai pemberian Allah.

Perintah-perintah selebihnya berfokus pada hubungan dengan sesama manusia. Perintah kelima mewajibkan umat untuk menghormati orang tua mereka (20:12). Ketika kita masih anak-anak, hal ini berarti ketaatan (Ef. 6:1–3); ketika kita telah dewasa, hal ini berarti merawat dan memelihara orang tua yang telah lanjut usia (bdk. Ams. 19:26; 1Tim. 5:4, 8). Inilah satu-satunya perintah yang secara eksplisit mencantumkan upah janji: rawatlah mereka yang telah berumur panjang, maka TUHAN akan mengaruniakan kepadamu umur panjang (bdk. Ef. 6:1–3).

Perintah keenam melarang pembunuhan (20:13). Karena manusia menyandang gambar Allah (imago Dei), mereka harus dihormati dan dihargai, bukan dicelakai (Kej. 9:6–7; bdk. Yak. 3:9).

Perintah ketujuh melarang perzinaan (20:14), yaitu seseorang yang telah menikah melakukan hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangannya. Perzinaan mengkhianati pasangan sah kita dan menodai rancangan Allah bagi seksualitas, yang seharusnya hanya diungkapkan dalam ikatan kasih pernikahan (Kej. 2:18–24; Ibr. 13:4).

Perintah kedelapan melarang pencurian (20:15), yaitu mengambil kepunyaan orang lain menjadi milik pribadi kita. Hal ini merugikan sesama kita dan merongrong stabilitas masyarakat, yang bergantung pada kemampuan orang-orang untuk memenuhi kebutuhan materi mereka.

Perintah kesembilan melarang memberikan kesaksian palsu (20:16), yang mendatangkan celaka yang tidak adil. "TUHAN adalah Allah yang adil; umat-Nya harus bersaksi dengan jujur agar keadilan dapat ditegakkan."[^29]

Perintah kesepuluh melarang mengingini apa pun kepunyaan orang lain (20:17), yaitu menaruh hasrat yang serakah atas milik sesama dan berusaha untuk mendapatkannya. Kita harus bertobat dari keinginan-keinginan berdosa terhadap kepunyaan sesama, dan bukannya membiarkan keinginan itu berakar lalu bermuara pada tindakan berdosa.


Bangsa Israel Memohon agar Musa Menjadi Perantara Firman TUHAN (20:18–21)

"Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh.

Mereka berkata kepada Musa: 'Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.'

Tetapi Musa berkata kepada bangsa itu: 'Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa.'

Adapun bangsa itu berdiri jauh-jauh, tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada.'"
Keluaran 20:18–21 (TB)

Ketika bangsa itu mendengar suara guruh TUHAN yang menggelegar menyampaikan Sepuluh Firman dan menyaksikan kedahsyatan kuasa-Nya yang dinyatakan di dalam awan, mereka gemetar ketakutan dan mundur menjauh, karena takut akan mati jika TUHAN terus berfirman secara langsung kepada mereka. Mereka memohon agar Musa saja yang mendengarkan suara TUHAN atas nama mereka (20:18–19).

Musa berkata kepada mereka agar tidak takut mati. TUHAN datang bukan untuk membinasakan mereka, melainkan untuk menguji mereka (apakah mereka mau menaati perintah-perintah-Nya?) serta menanamkan di dalam diri mereka rasa takut yang kudus agar mereka tidak berbuat dosa terhadap Pribadi yang begitu berkuasa (20:20). Meskipun demikian, permohonan bangsa itu dikabulkan, dan Musa melangkah mendekat kembali untuk mendengarkan sisa hukum-hukum TUHAN atas nama mereka (20:21). TUHAN senantiasa setia menyediakan seorang perantara (mediator) bagi umat-Nya (lih. 1Tim. 2:5; Ibr. 8:6; 9:15).

Pengantar Hukum-Hukum Perjanjian: Penyembahan yang Benar (20:22–26)

"Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Kamu sendiri telah menyaksikan, bahwa Aku berbicara dengan kamu dari langit.

Janganlah kamu membuat di samping-Ku allah perak, juga allah emas janganlah kamu buat bagimu.

Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya korban bakaranmu dan korban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu. Pada setiap tempat yang Kutentukan menjadi tempat peringatan bagi nama-Ku, Aku akan datang kepadamu dan memberkati engkau.

Tetapi jika engkau membuat bagi-Ku mezbah dari batu, maka jangan engkau mendirikannya dari batu pahat, sebab apabila engkau mengerjakannya dengan beliung, maka engkau melanggar kekudusannya.

Juga jangan engkau naik tangga ke atas ke mezbah-Ku, supaya auratmu jangan kelihatan di atasnya.'"
Keluaran 20:22–26 (TB)

TUHAN mengawali perintah-perintah-Nya lebih lanjut dengan membahas mengenai penyembahan yang benar. Jika bangsa Israel menyembah ilah-ilah palsu, mereka tidak mungkin dapat mengikut satu-satunya Allah yang benar.

Perintah-perintah ini terbagi ke dalam tiga kelompok:

Pertama, penyembahan berhala dilarang keras (20:22–23). Bangsa Israel tidak melihat wujud apa pun ketika Allah berfirman kepada mereka; oleh karena itu, mereka tidak boleh membuat wujud apa pun untuk menyembah-Nya, ataupun membuat wujud ilah-ilah palsu untuk disembah.

Kedua, mereka harus menyembah Dia di tempat-tempat yang telah Dia tetapkan dan menggunakan mezbah yang tepat (20:24–25). Dia berkenan merespons penyembahan yang demikian dengan persekutuan dan berkat.

Akhirnya, mereka tidak boleh menyingkapkan aurat mereka saat beribadah (bandingkan 28:42–43). Ketelanjangan di depan umum dipandang sebagai hal yang memalukan (Yes. 47:3), sehingga sangat tidak pantas bagi ibadah yang kudus kepada TUHAN.

Hukum-Hukum Perjanjian Lanjutan bagi Umat (21:1–23:19)

TUHAN melanjutkan firman-Nya dengan memberikan berbagai ketetapan untuk membimbing bangsa Israel dalam kehidupan perjanjian yang benar serta memandu keputusan-keputusan hukum dari para hakim yang baru saja diangkat (lih. 18:13–26).

Banyak dari ketetapan ini merupakan "hukum kasus" (case laws), yang menggambarkan suatu situasi ("kasus") dan kemudian menjelaskan apa yang harus dilakukan dalam situasi tersebut. Hukum-hukum semacam ini membimbing para hakim untuk menangani situasi yang dideskripsikan serta menyediakan prinsip-prinsip hukum untuk diterapkan dalam situasi-situasi serupa.


Hukum Mengenai Perhambaan: Pelayan Laki-Laki (21:1–6)

"Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka.

Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh ia diizinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa.

Jika ia datang seorang diri saja, maka keluarpun ia seorang diri; jika ia mempunyai isteri, maka isterinya itu diizinkan keluar bersama-sama dengan dia.

Jika tuannya memberikan kepadanya seorang isteri dan perempuan itu melahirkan anak-anak lelaki atau perempuan, maka perempuan itu dengan anak-anaknya tetap menjadi kepunyaan tuannya, dan budak laki-laki itu harus keluar seorang diri.

Tetapi jika budak itu dengan sungguh-sungguh berkata: Aku cinta kepada tuanku, kepada isteriku dan kepada anak-anakku, aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka,

maka haruslah tuannya itu membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau ke tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup.
Keluaran 21:1–6 (TB)

Dalam hukum-hukum pembuka ini, istilah "pelayan" (servant) atau "hamba" lebih tepat daripada istilah "budak" (slave) (perhatikan catatan kaki ESV: "istilah Ibrani ʿebed mencakup berbagai macam peran sosial dan ekonomi"). Di Israel, kebanyakan orang masuk ke dalam perhambaan karena jeratan utang, menjadikan mereka seperti "pekerja kontrak terikat" (indentured servants) yang "diperoleh" oleh seseorang (terjemahan yang lebih baik daripada "membeli", 21:2) untuk jangka waktu tertentu. Berbeda dengan budak barang milik (chattel slaves), para pelayan ini tidak boleh diculik (21:16), mereka memiliki hak-hak (20:10; 21:26–27), dan mereka harus diperlakukan dengan bermartabat (Ul. 15:12–15).

Hukum-hukum pertama ini membahas berbagai skenario terkait seorang pelayan laki-laki. Setelah enam tahun, ia dibebaskan tanpa beban utang (21:2). Jika ia datang sendirian dan tidak menikah, ia keluar sendirian (21:3a). Jika ia datang bersama seorang istri, ia keluar bersama istrinya (21:3b). Jika tuannya memberikan seorang istri kepadanya dan perempuan itu melahirkan anak-anak (21:4), istri dan anak-anak tersebut secara hukum tetap menjadi kepunyaan keluarga sang tuan, karena sang pelayan tidak memiliki sarana untuk memberikan mas kawin/hadiah pertunangan (betrothal gift) yang lazim, yang secara hukum melepaskan sang istri dari keluarga tuannya (bdk. Kej. 34:12; Kel. 22:16–17). Yang penting dicatat, ayat 4 tidak mengasumsikan bahwa pria itu pasti akan pergi; ayat ini semata-mata menjawab pertanyaan: "Secara hukum, milik keluarga siapakah istri dan anak-anak tersebut?" Yang diharapkan untuk dilakukan oleh sang pelayan adalah menjadi pelayan seumur hidup, sehingga dapat tetap tinggal bersama keluarga (dan tuan) yang ia kasihi (21:5–6). (Jika para pelayan tidak menyukai tuan mereka, sejak awal mereka dapat menolak untuk menerima seorang istri dari tuannya.)


Hukum Mengenai Perhambaan: Pelayan Perempuan (21:7–11)

Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar.

Jika perempuan itu tidak disukai tuannya, yang telah menyediakannya bagi dirinya sendiri, maka haruslah tuannya itu mengizinkan ia ditebus; tuannya itu tidak berhak untuk menjualnya kepada bangsa asing, karena ia memungkiri janjinya kepada perempuan itu.

Jika tuannya itu menyediakannya bagi anaknya laki-laki, maka haruslah tuannya itu memperlakukannya seperti anak-anak perempuan berhak diperlakukan.

Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia.

Jika tuannya itu tidak melakukan ketiga hal itu kepadanya, maka perempuan itu harus diizinkan keluar, dengan tidak membayar uang tebusan apa-apa."
Keluaran 21:7–11 (TB)

Di Israel kuno, pernikahan biasanya diatur oleh keluarga (memberikan keamanan ekonomi bagi anak perempuan Anda melalui sebuah keluarga dan rumah tangga dipandang sebagai tindakan kasih). Jadi, sekalipun jeratan utang mungkin menjadi pemicu penyerahan anak perempuan tersebut, tujuan akhirnya adalah agar ia menikah masuk ke dalam keluarga sang tuan, yang dapat menjelaskan mengapa ia tidak dibebaskan begitu saja setelah tujuh tahun (21:7).

Perhatikan bagaimana hukum-hukum dalam bagian ini melindungi pelayan perempuan dari perlakuan tidak adil. Jika sang tuan semula bermaksud menikahinya tetapi kemudian memutuskan untuk tidak melakukannya, ia harus mengizinkan perempuan itu ditebus (oleh keluarganya); ia tidak boleh menjualnya layaknya barang milik (21:8). Jika anak laki-laki sang tuan yang akan menikahinya, sang tuan harus memperlakukannya seperti anak perempuan kandungnya sendiri (dan bukan sebagai pelayan) (21:9). Jika sang tuan mengambil perempuan lain menggantikan dirinya, ia harus tetap menyediakan makanan, pakaian, dan tempat tinggal baginya (21:10). (Kata yang diterjemahkan sebagai "hak-hak pernikahan" / "hubungan perkawinan" [marital rights] merupakan kata yang langka; kata dasarnya di bagian lain dapat bermakna "tempat tinggal" atau "naungan" [shelter], yang paling cocok dengan konteks ini.) Jika sang tuan tidak memenuhinya, maka perempuan itu harus dibebaskan tanpa membayar apa pun (21:11).


Hukum yang Berganjaran Hukuman Mati (21:12–17)

"Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati.

Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.

Tetapi apabila seseorang berlaku angkara terhadap sesamanya, hingga ia membunuhnya dengan tipu daya, maka engkau harus mengambil orang itu dari mezbah-Ku, supaya ia mati dibunuh.

Siapa yang memukul ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati.

Siapa yang menculik seorang manusia, baik ia telah menjualnya, baik orang itu masih terdapat padanya, ia pasti dihukum mati.

Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti dihukum mati.
Keluaran 21:12–17 (TB)

Ada enam hukum yang diberikan. Tiga hukum pertama membedakan antara pembunuhan berencana (murder) (21:12, 14) dan pembunuhan tidak disengaja (manslaughter) (21:13). Para pembunuh berencana harus dihukum mati, sekalipun mereka mencari perlindungan di tempat suci (sanctuary); karena telah secara sengaja membinasakan sesama penyandang gambar Allah (image of God), mereka telah kehilangan hak mereka untuk hidup (bdk. Kej. 9:6). Sebaliknya, TUHAN menyediakan perlindungan bagi mereka yang bersalah atas pembunuhan tidak disengaja, karena kematian tersebut terjadi di luar niat pelaku (lih. Bil. 35:9–28).

Dua hukum berikutnya menggambarkan penyerangan terhadap orang tua secara fisik (21:15) maupun secara verbal (21:17; kata "mengutuki" mengindikasikan perlakuan dengan permusuhan dan menginginkan celaka atas mereka). Serangan-serangan semacam itu merupakan pengkhianatan (treasonous rejection) terhadap tatanan masyarakat yang dirancang Allah, di mana orang tua harus dihormati (20:12). Sama seperti kejahatan pengkhianatan dalam banyak masyarakat di sepanjang sejarah, hukuman di sini adalah hukuman mati (capital punishment).

Hukum terakhir melarang penculikan dan perdagangan manusia (21:16), yang—sama seperti pembunuhan—sangat melecehkan manusia sebagai penyandang gambar Allah dan menuntut si pelaku untuk dihukum mati. Kehidupan manusia memiliki nilai yang sedemikian agung sehingga siapa pun yang berbuat dosa besar terhadapnya harus dijatuhi hukuman tertinggi.


Hukum Mengenai Pencederaan Sesama Manusia (21:18–27)

Apabila ada orang bertengkar dan yang seorang memukul yang lain dengan batu atau dengan tinjunya, sehingga yang lain itu memang tidak mati, tetapi terpaksa berbaring di tempat tidur,

maka orang yang memukul itu bebas dari hukuman, jika yang lain itu dapat bangkit lagi dan dapat berjalan di luar dengan memakai tongkat; hanya ia harus membayar kerugian orang yang lain itu, karena terpaksa menganggur, dan menanggung pengobatannya sampai sembuh.

Apabila seseorang memukul budaknya laki-laki atau perempuan dengan tongkat, sehingga mati karena pukulan itu, pastilah budak itu dibalaskan.

Hanya jika budak itu masih hidup sehari dua, maka janganlah dituntut belanya, sebab budak itu adalah miliknya sendiri.

Apabila ada orang berkelahi dan seorang dari mereka tertumbuk kepada seorang perempuan yang sedang mengandung, sehingga keguguran kandungan, tetapi tidak mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka pastilah ia didenda sebanyak yang dikenakan oleh suami perempuan itu kepadanya, dan ia harus membayarnya menurut putusan hakim.

Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa,

mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki,

lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.

Apabila seseorang memukul mata budaknya laki-laki atau mata budaknya perempuan dan merusakkannya, maka ia harus melepaskan budak itu sebagai orang merdeka pengganti kerusakan matanya itu.

Dan jika ia menumbuk sampai tanggal gigi budaknya laki-laki atau gigi budaknya perempuan, maka ia harus melepaskan budak itu sebagai orang merdeka pengganti kehilangan giginya itu.
Keluaran 21:18–27 (TB)

Empat kasus dipaparkan di sini. Dalam kasus pertama, dua orang laki-laki berkelahi dan salah satunya cedera (21:18–19). Jika pihak yang cedera pulih kembali, pihak yang mencederai harus mengganti kerugian waktu kerja yang hilang serta biaya perawatan sampai sembuh, tetapi tidak ada hukuman lebih lanjut. Ini bukanlah penyerangan sepihak, melainkan perkelahian yang dimasuki secara sukarela oleh kedua belah pihak.

Kasus kedua mengasumsikan bahwa para tuan dapat mendisiplinkan pelayan yang malas dengan hukuman fisik korporal (bdk. Ams. 29:19). Namun dalam kasus ini, pendisiplinan tersebut melampaui batas dan pelayan itu mati (Kel. 21:20–21). Jika kematian terjadi seketika, hal itu tergolong pembunuhan berencana, dan pelayan yang mati itu harus "dibalaskan", yaitu tuannya dihukum mati (bandingkan penggunaan kata "dibalaskan" dalam Kej. 4:15; Im. 26:25). Ketetapan ini sangat mencegah hukuman fisik yang berlebihan (demikian pula hukum dalam Kel. 21:26–27). Jika pelayan itu tidak langsung mati melainkan bertahan satu atau dua hari, itu tergolong kematian tidak disengaja (manslaughter); karena sifat kematiannya yang tidak disengaja, pembalasan darah tidak diberlakukan. ("Penggambaran pelayan sebagai uang milik tuannya bukanlah untuk mendehumanisasi sang pelayan, melainkan untuk menunjukkan fakta bahwa ini adalah suatu kesepakatan komersial di mana para tuan memiliki wewenang untuk menerapkan disiplin fisik.")[^30]

Rincian kasus ketiga masih diperdebatkan karena kurangnya kekhususan teks dan penggunaan kata-kata langka (21:22–25). Yang jelas, dua orang laki-laki berkelahi dan seorang perempuan hamil terbentur sehingga mengalami kelahiran prematur atau keguguran. Jelas pula bahwa dalam satu skenario dikenakan denda (21:22), sedangkan dalam skenario lain hukumannya dapat mencakup hukuman mati ("nyawa ganti nyawa") atau kompensasi setimpal ("mata ganti mata"; lihat di bawah). Yang kurang jelas adalah apakah "kecelakaan / bahaya" (harm) merujuk kepada sang ibu, anak yang dikandungnya, atau keduanya dalam ayat 22, dan demikian pula dalam ayat 23. Saya condong pada pandangan bahwa 21:22 merujuk pada keguguran tanpa adanya bahaya maut bagi sang ibu, dan 21:23 merujuk pada sang ibu yang mengalami cedera fatal atau kematian sehingga pihak yang bersalah dihukum secara setimpal. Dua pengamatan lebih lanjut sangatlah penting:

Pertama, denda atas keguguran tidak berarti bahwa anak dalam kandungan tidak dipandang sebagai manusia. Bandingkan Ayub 31:15, Mazmur 139:13–15, dan Yeremia 1:5, yang menegaskan dengan sangat gamblang bahwa anak-anak yang belum lahir "bukan sekadar embrio; mereka adalah penyandang gambar Allah yang masih kecil."[^31] Denda diizinkan di sini—sebagaimana halnya bagi orang dewasa hanya beberapa ayat kemudian (21:30–32)—karena dalam kedua kasus tersebut kematian terjadi secara tidak langsung dan dapat dipandang sebagai pembunuhan tidak disengaja (suatu pandangan yang tidak mungkin diterapkan pada aborsi). Kedua, prinsip "nyawa ganti nyawa, mata ganti mata"—yang dikenal sebagai lex talionis (hukum pembalasan setimpal)—harus dipahami secara harfiah dalam kasus pembunuhan, namun dalam kasus-kasus lain berfungsi sebagai ungkapan pepatah (proverbial) yang menegaskan bahwa hukuman harus sebanding dan proporsional dengan tindak kejahatannya (sebagaimana diperjelas dalam 21:26).

Dalam kasus keempat, seorang tuan melukai pelayannya secara parah (21:26–27). Sekalipun disiplin fisik diizinkan (lihat di atas), tindakan itu harus masuk akal. Mencacatkan seorang pelayan telah melanggar batas, dan pelayan tersebut harus dimerdekakan—membebaskan mereka dari kezaliman sekaligus menjatuhkan hukuman finansial bagi sang tuan (yang kehilangan pelayan serta kehilangan hak atas pelunasan sisa utang yang menjadi kewajiban pelayan tersebut).


Hukum Mengenai Hewan yang Mencelakakan Manusia (21:28–32)

Apabila seekor lembu menanduk seorang laki-laki atau perempuan, sehingga mati, maka pastilah lembu itu dilempari mati dengan batu dan dagingnya tidak boleh dimakan, tetapi pemilik lembu itu bebas dari hukuman.

Tetapi jika lembu itu sejak dahulu telah sering menanduk dan pemiliknya telah diperingatkan, tetapi tidak mau menjaganya, kemudian lembu itu menanduk mati seorang laki-laki atau perempuan, maka lembu itu harus dilempari mati dengan batu, tetapi pemiliknyapun harus dihukum mati.

Jika dibebankan kepadanya uang pendamaian, maka haruslah dibayarnya segala yang dibebankan kepadanya itu sebagai tebusan nyawanya.

Kalau ditanduknya seorang anak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus diperlakukan menurut peraturan itu juga.

Tetapi jika lembu itu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus membayar tiga puluh syikal perak kepada tuan budak itu, dan lembu itu harus dilempari mati dengan batu.
Keluaran 21:28–32 (TB)

Ada lima kasus yang membahas mengenai lembu jantan yang menanduk seseorang hingga tewas. Dalam kasus pertama, lembu itu harus dilempari batu sampai mati dan dagingnya tidak boleh dimakan, tetapi pemilik lembu itu bebas dari kesalahan karena lembu tersebut belum pernah bertindak demikian sebelumnya (21:28). Dalam kasus kedua, lembu tersebut telah diketahui berbahaya tetapi tidak dijaga dengan baik oleh pemiliknya (21:29). Tindakan ini tergolong kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain (negligent homicide), dan pemilik lembu tersebut harus dijatuhi hukuman mati. Kasus ketiga mendeskripsikan jalan keluar (a way of escape): keluarga korban yang meninggal dapat memilih untuk memandangnya sebagai pembunuhan tidak disengaja dan mengenakan denda uang penebusan nyawa kepada pemilik lembu (21:30). Kasus keempat memperjelas bahwa hukum-hukum di atas tetap berlaku sekalipun korban yang meninggal bukanlah orang dewasa (21:31). Kasus kelima menjelaskan kompensasi finansial yang diberikan kepada seorang tuan yang pelayannya tewas ditanduk (21:32); agaknya kompensasi ini merupakan tambahan di atas ketetapan dalam 21:29–31 (bandingkan penjelasan pada 21:20).


Hukum Mengenai Harta Benda yang Rusak atau Dicuri (21:33–22:15)

Apabila seseorang membuka sumur, atau apabila seseorang menggali sumur, dengan tidak menutupnya, dan seekor lembu atau keledai jatuh ke dalamnya,

maka pemilik sumur itu harus membayar ganti kerugian: ia harus mengganti harga binatang itu dengan uang kepada pemiliknya, tetapi binatang yang mati itu menjadi kepunyaannya.

Apabila lembu seseorang menanduk lembu orang lain, sehingga mati, maka lembu yang hidup itu harus dijual, uangnya dibagi dan binatang yang mati itupun harus dibagi juga.

Tetapi jikalau lembu itu terkenal telah sering menanduk sejak dahulu, dan walaupun demikian pemiliknya tidak mau menjaganya, maka ia harus membayar ganti kerugian sepenuhnya: lembu ganti lembu, tetapi binatang yang mati itu menjadi kepunyaannya."

"Apabila seseorang mencuri seekor lembu atau seekor domba dan membantainya atau menjualnya, maka ia harus membayar gantinya, yakni lima ekor lembu ganti lembu itu dan empat ekor domba ganti domba itu.

Jika seorang pencuri kedapatan waktu membongkar, dan ia dipukul orang sehingga mati, maka si pemukul tidak berhutang darah;

tetapi jika pembunuhan itu terjadi setelah matahari terbit, maka ia berhutang darah. Pencuri itu harus membayar ganti kerugian sepenuhnya; jika ia orang yang tak punya, ia harus dijual ganti apa yang dicurinya itu.

Jika yang dicurinya itu masih terdapat padanya dalam keadaan hidup, baik lembu, keledai atau domba, maka ia harus membayar ganti kerugian dua kali lipat.

Apabila seseorang menggembalakan ternaknya di ladangnya atau di kebun anggurnya dan ternak itu dibiarkannya berjalan lepas, sehingga makan habis ladang orang lain, maka ia harus memberikan hasil yang terbaik dari ladangnya sendiri atau hasil yang terbaik dari kebun anggurnya sebagai ganti kerugian.

Apabila ada api dinyalakan dan api itu menjilat semak duri, tetapi tumpukan gandum atau gandum yang belum dituai atau seluruh ladang itu ikut juga dimakan api, maka orang yang menyebabkan kebakaran itu harus membayar ganti kerugian sepenuhnya.

Apabila seseorang menitipkan kepada temannya uang atau barang, dan itu dicuri dari rumah orang itu, maka jika pencuri itu terdapat, ia harus membayar ganti kerugian dua kali lipat.

Jika pencuri itu tidak terdapat, maka tuan rumah harus pergi menghadap Allah untuk bersumpah, bahwa ia tidak mengulurkan tangannya mengambil harta kepunyaan temannya.

Dalam tiap-tiap perkara pertengkaran harta, baik tentang seekor lembu, tentang seekor keledai, tentang seekor domba, tentang sehelai pakaian, baik tentang barang apapun yang kehilangan, kalau seorang mengatakan: Inilah kepunyaanku--maka perkara kedua orang itu harus dibawa ke hadapan Allah. Siapa yang dipersalahkan oleh Allah haruslah membayar kepada temannya ganti kerugian dua kali lipat.

Apabila seseorang menitipkan kepada temannya seekor keledai atau lembu atau seekor domba atau binatang apapun dan binatang itu mati, atau patah kakinya atau dihalau orang dengan kekerasan, dengan tidak ada orang yang melihatnya,

maka sumpah di hadapan TUHAN harus menentukan di antara kedua orang itu, apakah ia tidak mengulurkan tangannya mengambil harta kepunyaan temannya, dan pemilik harus menerima sumpah itu, dan yang lain itu tidak usah membayar ganti kerugian.

Tetapi jika binatang itu benar-benar dicuri orang dari padanya, maka ia harus membayar ganti kerugian kepada pemilik.

Jika binatang itu benar-benar diterkam oleh binatang buas, maka ia harus membawanya sebagai bukti. Tidak usah ia membayar ganti binatang yang diterkam itu.

Apabila seseorang meminjam seekor binatang dari temannya, dan binatang itu patah kakinya atau mati, ketika pemiliknya tidak ada di situ, maka ia harus membayar ganti kerugian sepenuhnya.

Tetapi jika pemiliknya ada di situ, maka tidak usahlah ia membayar ganti kerugian. Jika binatang itu disewa, maka kerugian itu telah termasuk dalam sewa.
Keluaran 21:33–22:15 (TB)

Serangkaian panjang kasus diuraikan dalam bagian ini. Dua kasus pertama mengilustrasikan bahwa kelalaian membuat seseorang bertanggung jawab secara finansial atas kerusakan pada harta benda orang lain, sekalipun kerusakan tersebut tidak disengaja. Dalam kasus pertama, seseorang menggali lubang atau sumur—kemungkinan untuk menampung air—tetapi tidak menutup lubangnya sehingga menyebabkan seekor ternak terperosok dan mati (21:33–34). Penggali lubang yang lalai itu memikul tanggung jawab finansial atas kerugian tersebut. Dalam kasus kedua, lembu milik seseorang membunuh lembu milik orang lain. Jika lembu tersebut belum pernah menunjukkan perilaku berbahaya sebelumnya, tidak ada pihak yang dipersalahkan dan kerugian dibagi rata (21:35). Namun jika lembu itu telah dikenal suka menanduk, pemiliknya harus menanggung seluruh kerugian karena kelalaiannya (21:36).

Lima kasus berikutnya berkaitan dengan pencurian. Kasus pertama mengilustrasikan bahwa karena pencurian merupakan perusakan harta benda secara sengaja (berbeda dari kelalaian), hukumannya jauh lebih berat (ganti rugi empat atau lima kali lipat, bukan sekadar penggantian sederhana) (22:1). Perhatikan pula bahwa denda meningkat seiring dengan nilai barang yang dicuri (misalnya, lembu bernilai lebih tinggi daripada domba). Kasus kedua dan ketiga mengindikasikan kapan seorang pemilik rumah bertanggung jawab atas penggunaan kekuatan mematikan terhadap seorang pencuri. Jika itu terjadi pada malam hari, di mana ancaman bahaya dari pencuri tidak dapat dipastikan dengan jelas, pemilik rumah tidak bersalah atas kematian pencuri itu (22:2); namun jika terjadi pada siang hari, tanggung jawab atas darah tetap ada karena diduga ada sarana lain yang dapat dipakai untuk mengusir pencuri tersebut (22:3a). Karena tingginya nilai hidup manusia, penggunaan kekuatan mematikan harus selalu menjadi jalan terakhir. Kasus keempat dimulai secara mendadak (kata ganti "ia" pada 22:3b merujuk kepada sang pencuri). Hal ini menunjukkan bahwa pembayaran ganti rugi sedemikian pentingnya, sehingga mereka yang tidak memiliki sarana langsung untuk membayarnya harus melunasinya seiring berjalannya waktu (melalui kerja perhambaan). Kasus terakhir (22:4) menyatakan bahwa penalti pembayaran lebih ringan jika barang curian itu ditemukan masih hidup (dua kali lipat / 200%, bukan 400–500%; bandingkan 22:1), kemungkinan karena pemilik barang mengalami kerugian yang lebih sedikit (misalnya, tidak perlu melatih kembali hewan ternak).

Dua kasus berikutnya membahas kerusakan pada tanaman ladang akibat kelalaian. Dalam kasus pertama, seseorang tidak menjaga hewan ternaknya dengan baik sehingga memakan habis ladang orang lain (22:5); dan dalam kasus kedua, seseorang membiarkan api menyala tanpa kendali sehingga merembet dan membakar seluruh ladang (22:6). Dalam setiap kasus, mereka harus memberikan ganti rugi penuh, dengan penekanan bahwa kerusakan yang parah menuntut penggantian yang utuh dan berkualitas prima ("dari hasil yang terbaik dari ladangnya sendiri").

Kasus-kasus berikutnya menyangkut pencurian atau kerusakan barang yang dititipkan dalam pemeliharaan orang lain (22:7–15). Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa pembayaran ganti rugi hanya diwajibkan atas kelalaian, bukan karena bahaya alamiah yang tak terhindarkan, serta menekankan bahwa kejujuran mutlak dituntut dalam perkara-perkara semacam itu.

Jika barang titipan dicuri dan pencurinya ditemukan, pencuri itu harus membayar ganti rugi dua kali lipat (22:7). Jika pencuri tidak ditemukan, pihak yang dititipi barang harus bersumpah menyatakan ketidakbersalahannya di hadapan Allah (22:8) dan kemungkinan memberikan penggantian sederhana atas kegagalannya menjaga barang tersebut (bandingkan 22:12). Jika pemilik barang menduga bahwa pihak yang dititipi sebenarnya masih menyimpan barang itu (sehingga melakukan pengkhianatan amanat / breach of trust), keduanya harus datang menghadap Allah (bdk. Ul. 19:16–21), dan pihak yang dipersalahkan oleh Allah harus membayar ganti rugi dua kali lipat kepada pihak yang lain (22:9).

Jika barang yang dititipkan adalah hewan ternak yang pergi merumput lalu hilang atau mati akibat bahaya alamiah tanpa ada saksi yang melihatnya, pihak penerima titipan harus bersumpah menyatakan ketidakbersalahannya dan bebas dari tuntutan ganti rugi (22:10–11). Jika hewan tersebut tidak dijaga dengan baik dan benar-benar dicuri orang, pihak penerima titipan bertanggung jawab atas kelalaiannya (22:12); namun jika hewan itu diterkam oleh binatang buas, pihak penerima titipan tidak bertanggung jawab karena itu merupakan bahaya alamiah, asalkan ia membawa sisa bangkai sebagai bukti (22:13). Jika hewan itu adalah pinjaman (seperti yang lazim terjadi ketika seseorang membajak ladang dengan lembu) dan hewan itu cedera atau mati, pihak peminjam bertanggung jawab jika ia menggunakannya tanpa kehadiran pemiliknya, karena peminjamlah yang memikul tanggung jawab penuh (22:14). Namun jika pemiliknya hadir mengawasi, pemiliknyalah yang bertanggung jawab (22:15a). Jika hewan itu disewa, biaya sewa tersebut sudah mencakup risiko kerusakan atas hewan itu (22:15b).


Hukum Mengenai Membujuk Anak Gadis yang Belum Bertunangan (22:16–17)

Apabila seseorang membujuk seorang anak perawan yang belum bertunangan, dan tidur dengan dia, maka haruslah ia mengambilnya menjadi isterinya dengan membayar mas kawin.

Jika ayah perempuan itu sungguh-sungguh menolak memberikannya kepadanya, maka ia harus juga membayar perak itu sepenuhnya, sebanyak mas kawin anak perawan."
Keluaran 22:16–17 (TB)

Jika seorang laki-laki membujuk seorang gadis perawan yang telah bertunangan, perbuatan itu tergolong sebagai perzinaan (Ul. 22:23–24); namun jika ia belum bertunangan, hukum inilah yang berlaku. Pertama, pria yang membujuknya harus memberikan hadiah pertunangan (engagement present) yang lazim (terjemahan yang lebih baik daripada sekadar "harga pengantin" / mas kawin; lih. catatan tepi ESV) (Kel. 22:16a). Hadiah ini diberikan kepada keluarga sang perempuan, namun kerap kali "dikembalikan kepada perempuan tersebut sebagai bagian dari maskawin atau warisannya, sehingga menjamin kesejahteraan finansialnya."[^32] Kedua, pria itu harus menikahinya (22:16b), yang menegaskan bahwa hubungan seksual dan pernikahan berjalan bersama-sama (Kej. 2:23–24) sekaligus menjadi perlindungan lebih lanjut bagi sang perempuan, mengingat bangsa Israel sangat menghargai garis keturunan sehingga perempuan yang bukan lagi perawan mungkin akan lebih sulit mendapatkan pasangan hidup. Namun yang penting, ayah sang gadis memiliki hak untuk memveto pernikahan tersebut (Kel. 22:17a), yang memberikan perlindungan bagi anak-anak gadis muda dari keputusan masa muda yang bodoh atau dari jerat pria licik. Sekalipun pernikahan ditolak, hadiah pertunangan itu tetap harus dibayarkan secara penuh, sehingga menyediakan jaminan finansial bagi perempuan tersebut (22:17b).


Hukum Tambahan yang Berganjaran Hukuman Mati (22:18–20)

"Seorang ahli sihir perempuan janganlah engkau biarkan hidup.

Siapapun yang tidur dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati.

Siapa yang mempersembahkan korban kepada allah kecuali kepada TUHAN sendiri, haruslah ia ditumpas."
Keluaran 22:18–20 (TB)

Tiga kejahatan yang diancam hukuman mati dicantumkan di sini. Masing-masing dapat dipandang sebagai tindakan pengkhianatan terhadap TUHAN. (Mengenai kejahatan pengkhianatan sebagai pelanggaran berat yang diganjar hukuman mati, lihat penjelasan pada 21:12–17.) Seorang penyihir perempuan berupaya mengakses kuasa ilahi melalui mantera-mantera, "baik dengan memohon kepada ilah-ilah selain TUHAN atau . . . beranggapan bahwa mereka dapat memanipulasi kuasa TUHAN sendiri" (22:18).[^33] Persetubuhan dengan binatang (bestiality) merupakan penolakan mutlak terhadap rancangan Allah atas seksualitas manusia, yang seharusnya berlangsung di antara suami dan istri (bandingkan Kej. 2:20 dan 2:23–24; lih. juga Im. 18:23) (Kel. 22:19). Dan menyembah allah-allah lain berarti menyangkal TUHAN sebagai Raja (22:20; dalam konteks penghakiman, kata yang diterjemahkan "ditumpas" / devoted to destruction merujuk pada penyerahan seseorang seutuhnya kepada TUHAN dalam kematian).


Hukum Mengenai Sikap Adil dan Berbelas Kasihan kepada Kaum Tertindas (22:21–27)

"Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.

Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas.

Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring.

Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.

Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.

Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam,

sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya--pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih."
Keluaran 22:21–27 (TB)

Hukum-hukum pertama dalam bagian ini berkaitan dengan kaum yang tersisih secara sosial. Orang-orang asing (sojourners) pada umumnya tidak memiliki tanah, harus memperkerjakan tenaga mereka, dan memiliki sedikit atau tanpa kekuatan sosial, yang membuat mereka sangat rentan terhadap perlakuan semena-mena. Bangsa Israel telah mengalami perlakuan buruk semacam itu ketika menjadi pendatang di Mesir dan mereka tidak boleh mengulanginya (22:21). Para janda dan anak yatim piatu juga sama-sama tidak berdaya secara sosial dan kerap kali miskin, sehingga menarik perhatian dan pemeliharaan pribadi dari TUHAN. Siapa pun yang menindas mereka pasti akan menghadapi murka-Nya, yang akan membuat istri dan anak-anak mereka sendiri berada dalam kondisi yang sama seperti orang-orang yang telah mereka tindas (22:22–24).

Hukum-hukum berikutnya berkaitan dengan kaum yang berkekurangan secara finansial. Pinjaman kepada sesama orang Israel yang miskin tidak boleh dikenai bunga sehingga mereka dapat melepaskan diri dari kemiskinan (22:25; lih. juga Im. 25:35–38). Pertolongan yang berbelas kasihan, bukan keuntungan materi, harus menjadi motivasi sang pemberi pinjaman. Jika jaminan diambil untuk pinjaman tersebut—seperti jubah luar seseorang yang menghangatkan tubuhnya pada malam hari—jaminan itu tidak boleh ditahan sedemikian rupa sehingga orang tersebut menderita kedinginan (Kel. 22:26–27). Belas kasihan TUHAN sendiri harus memandu tindakan sang pemberi pinjaman (bdk. 2Kor. 8:9).


Hukum Mengenai Menghormati Otoritas Ilahi dan Duniawi (22:28–31)

"Janganlah engkau mengutuki Allah dan janganlah engkau menyumpahi seorang pemuka di tengah-tengah bangsamu.

Janganlah lalai mempersembahkan hasil gandummu dan hasil anggurmu. Yang sulung dari anak-anakmu lelaki haruslah kaupersembahkan kepada-Ku.

Demikian juga harus kauperbuat dengan lembu sapimu dan dengan kambing dombamu: tujuh hari lamanya anak-anak binatang itu harus tinggal pada induknya, tetapi pada hari yang kedelapan haruslah kaupersembahkan binatang-binatang itu kepada-Ku.

Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku: daging ternak yang diterkam di padang oleh binatang buas, janganlah kamu makan, tetapi haruslah kamu lemparkan kepada anjing."
Keluaran 22:28–31 (TB)

Hukum pertama dalam bagian ini berbicara mengenai rasa hormat umum yang harus ditunjukkan bangsa Israel kepada Allah dan struktur otoritas yang telah Dia tetapkan. Allah adalah Otoritas Tertinggi; orang Israel tidak boleh "mengutuki" atau mencerca-Nya (lihat penjelasan kata "mengutuki" pada 21:17) (22:28a). Para pemimpin mewakili otoritas sipil yang telah ditetapkan oleh Allah (lih. Rm. 13:1–7); orang Israel tidak boleh "menyumpahi" mereka atau menginginkan celaka atas mereka (Kel. 22:28b; bdk. Kis. 23:1–5).

Hukum-hukum berikutnya menuntut orang Israel untuk menghormati pemeliharaan Allah dengan mengembalikan sebagian dari berkat-berkat materi mereka kepada-Nya, baik berupa hasil panen (22:29a; bdk. 23:19; Im. 23:10; 27:30), maupun anak-anak sulung dan hewan-hewan sulung mereka (Kel. 22:29b–30a; untuk rinciannya, lihat penjelasan pada 12:51–13:16). Membiarkan hewan sulung menghabiskan satu minggu penuh bersama induknya merupakan tanda belas kasihan (22:30b; bdk. Ul. 22:6–7). "TUHAN menunjukkan belas kasihan kepada ciptaan-Nya (Mzm. 104:14a; 147:9; Mat. 6:26); para pengikut-Nya pun harus melakukan hal yang sama."[^34]

Hukum terakhir menuntut orang Israel untuk membuktikan diri sebagai umat yang dikhususkan bagi Allah ("orang-orang kudus bagi-Ku") dengan tidak memakan daging ternak yang mati diterkam binatang buas yang membuat mereka najis secara ritual (22:31; bdk. Im. 17:15).[^35] Umat TUHAN menghormati kekudusan-Nya dengan mengejar kehidupan yang kudus.


Hukum Mengenai Keadilan yang Tidak Memihak dan Kasih yang Praktis kepada Musuh (23:1–9)

"Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.

Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan, dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum.

Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya.

Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan binatang itu.

Apabila engkau melihat rebah keledai musuhmu karena berat bebannya, maka janganlah engkau enggan menolongnya. Haruslah engkau rela menolong dia dengan membongkar muatan keledainya.

Janganlah engkau memperkosa hak orang miskin di antaramu dalam perkaranya.

Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta. Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kaubunuh, sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah.

Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.

Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.
Keluaran 23:1–9 (TB)

Dalam bagian ini, lima hukum pertama berkaitan dengan keadilan hukum (legal justice). Empat hukum pertama melarang tindakan mencelakai orang yang tidak bersalah melalui kesaksian dusta (23:1–2), dan hukum terakhir melarang pembelokan hukum semata-mata karena rasa iba terhadap orang miskin (23:3; bdk. Im. 19:15). "Keadilan haruslah jujur dan tidak memihak."[^36]

Dua hukum berikutnya menasihati bangsa Israel untuk mengasihi sesama seperti diri mereka sendiri, bahkan terhadap sesama yang tidak mereka sukai ("musuhmu"). Sama seperti mereka ingin agar harta benda mereka yang hilang dikembalikan (23:4) atau mendapat pertolongan ketika hewan ternak mereka rebah (23:5), demikianlah yang harus mereka perbuat bagi orang lain (lihat lebih lanjut Ul. 22:1–4). Kasih semacam itu mencerminkan kasih Allah sendiri (bdk. Luk. 6:27–36).

Hukum-hukum selebihnya kembali kepada pokok-pokok keadilan, yang mungkin secara khusus ditujukan kepada para hakim. Keadilan harus ditegakkan secara tidak memihak (23:6, 7a)—disertai peringatan bahwa Allah sendiri akan menghukum kefasikan (23:7b)—dan suap harus ditolak keras (23:8). Bangsa Israel, yang telah mengecap ketidakadilan mendalam saat menjadi orang asing di Mesir, harus memastikan hal yang sebaliknya bagi orang asing di tengah-tengah mereka (23:9); dengan cara ini mereka menunjukkan kepada sesama kemurahan hati yang sama seperti yang telah mereka terima sendiri dari TUHAN (bdk. Yoh. 13:34; Ef. 4:32–5:2).


Hukum Mengenai Tahun Sabat, Hari Sabat, dan Hari-Hari Raya Keagamaan (23:10–19)

Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya,

tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu.

Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.

Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu."

"Tiga kali setahun haruslah engkau mengadakan perayaan bagi-Ku.

Hari raya Roti Tidak Beragi haruslah kaupelihara; tujuh hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi, seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu, pada waktu yang ditetapkan dalam bulan Abib, sebab dalam bulan itulah engkau keluar dari Mesir, tetapi janganlah orang menghadap ke hadirat-Ku dengan tangan hampa.

Kaupeliharalah juga hari raya menuai, yakni menuai buah bungaran dari hasil usahamu menabur di ladang; demikian juga hari raya pengumpulan hasil pada akhir tahun, apabila engkau mengumpulkan hasil usahamu dari ladang.

Tiga kali setahun semua orangmu yang laki-laki harus menghadap ke hadirat Tuhanmu TUHAN.

Janganlah kaupersembahkan darah korban sembelihan yang kepada-Ku beserta sesuatu yang beragi, dan janganlah lemak korban hari raya-Ku bermalam sampai pagi.

Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya."
Keluaran 23:10–19 (TB)

Setiap tahun ketujuh, bangsa Israel harus membiarkan tanah mereka beristirahat dan membiarkan hasil buminya bagi orang-orang miskin serta binatang liar (23:10–11; lihat Im. 25:1–7, 18–22 untuk rincian lebih lanjut). Melakukan hal ini menunjukkan pemeliharaan TUHAN atas dunia ciptaan-Nya dan kaum yang berkekurangan di dalamnya. Perintah mengenai hari Sabat kemudian diulangi (Kel. 23:12; lihat penjelasan pada 20:8–11), di mana belas kasihan bagi dunia ciptaan TUHAN dan kaum rendahan di dalamnya kembali menjadi alasan dasarnya. Dia berbelas kasihan atas segala yang telah dijadikan-Nya; demikian pula seharusnya umat-Nya.

Ayat 13 menuntut ketaatan mutlak kepada TUHAN. Secara khusus, bangsa Israel harus menyembah dan menaruh kepercayaan mereka hanya kepada nama-Nya saja.

Ketetapan-ketetapan ibadah yang spesifik kini menyusul (23:14–17). Tiga hari raya tahunan harus dirayakan di tempat ibadah yang ditetapkan TUHAN oleh semua laki-laki sebagai wakil keluarga (meskipun tampaknya segenap keluarga pun setidaknya kadang-kadang pergi bersama-sama; bdk. Ul. 16:11). Hari raya pertama adalah Hari Raya Roti Tidak Beragi (lihat penjelasan pada 12:14–20), yang dirayakan bersamaan dengan Paskah (lihat penjelasan pada 12:1–13) untuk memperingati penyelamatan bangsa Israel oleh TUHAN. Setiap orang harus datang membawa persembahan syukur yang sepadan dengan berkat yang telah dikaruniakan TUHAN kepada mereka (23:15b; lihat Ul. 16:16–17, yang menerapkan perintah ini pada ketiga hari raya tersebut). Hari raya kedua adalah Hari Raya Menuai (Harvest)—yang juga dikenal sebagai Hari Raya Tujuh Minggu (Kel. 34:22) dan kelak sebagai Pentakosta (Kis. 2:1)—yang merayakan pemeliharaan panen dari TUHAN (lihat lebih lanjut Im. 23:15–22). Hari raya ketiga adalah Hari Raya Pengumpulan Hasil (Ingathering)—yang juga dikenal sebagai Hari Raya Pondok Daun (Booths / bhs. Ibr. sūkkôt)—yang juga memperingati penyelamatan Israel oleh TUHAN (lihat Im. 23:33–43).

Empat ketetapan terkait hari-hari raya ini kini diberikan. Ketetapan pertama dan kedua (23:18) menegaskan bahwa tidak boleh ada ragi yang digunakan selama Paskah dan bahwa lemak kurban harus dibakar (lihat penjelasan pada 12:8–10). Ketetapan ketiga (23:19a) menuntut hasil buah sulung yang terbaik dari bangsa Israel, suatu penghormatan yang layak bagi Raja mereka yang penuh anugerah. Sementara itu, ketetapan keempat (23:19b) menuntut agar kurban yang dimasak tidak menggunakan susu induk binatang tersebut, kemungkinan karena hal itu dipandang tidak berbelas kasihan (bdk. Ul. 22:6–7).

Peringatan Penutup untuk Taat dan Janji Berkat (23:20–33)

"Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.

Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya, janganlah engkau mendurhaka kepadanya, sebab pelanggaranmu tidak akan diampuninya, sebab nama-Ku ada di dalam dia.

Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu.

Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka.

Janganlah engkau sujud menyembah kepada allah mereka atau beribadah kepadanya, dan janganlah engkau meniru perbuatan mereka, tetapi haruslah engkau memusnahkan sama sekali patung-patung berhala buatan mereka, dan tugu-tugu berhala mereka haruslah kauremukkan sama sekali.

Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu.

Tidak akan ada di negerimu perempuan yang keguguran atau mandul. Aku akan menggenapkan tahun umurmu.

Kengerian terhadap Aku akan Kukirimkan mendahului engkau: Aku akan mengacaukan semua orang yang kaudatangi, dan Aku akan membuat semua musuhmu lari membelakangi engkau.

Lagi Aku akan melepaskan tabuhan mendahului engkau, sehingga binatang-binatang itu menghalau orang Hewi, orang Kanaan dan orang Het itu dari depanmu.

Aku tidak akan menghalau mereka dari depanmu dalam satu tahun, supaya negeri itu jangan menjadi sepi, dan segala binatang hutan jangan bertambah banyak melebihi engkau.

Sedikit demi sedikit Aku akan menghalau mereka dari depanmu, sampai engkau beranak cucu sedemikian, hingga engkau dapat memiliki negeri itu.

Aku akan menentukan batas daerahmu dari Laut Teberau sampai Laut Filistin dan dari padang gurun sampai sungai Efrat, sebab Aku akan menyerahkan penduduk negeri itu ke dalam tanganmu, sehingga engkau menghalau mereka dari depanmu.

Janganlah mengadakan perjanjian dengan mereka ataupun dengan allah mereka.

Mereka tidak akan tetap diam di negerimu, supaya mereka jangan membuat engkau berdosa kepada-Ku, dengan beribadah kepada allah mereka, sebab tentulah hal itu menjadi jerat bagimu."
Keluaran 23:20–33 (TB)

Setelah memberikan ketetapan-ketetapan perjanjian (21:1–23:19), TUHAN menegaskan pentingnya menaati ketetapan-ketetapan tersebut sekarang maupun kelak ketika berada di Tanah Perjanjian (23:20–24, 32–33). Dia juga menjanjikan berkat-berkat perjanjian bagi kesetiaan perjanjian (23:25–31).

TUHAN akan terus membimbing bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian melalui utusan malaikat-Nya (23:20; bandingkan penjelasan pada 14:19–23). Mereka harus menaatinya sebagai perwakilan TUHAN ("nama-Ku ada di dalam dia"; bdk. Ul. 18:19), karena ia akan menghukum ketidaktaatan ("ia tidak akan mengampuni"—artinya, ia tidak akan membiarkan begitu saja—"pelanggaranmu") (23:21). Namun, jika mereka dengan taat berjalan di jalan-jalan TUHAN, mereka akan menikmati perlindungan yang Dia sediakan bagi mereka yang tetap dekat dengan-Nya (23:22; bdk. Yes. 40:11; Yoh. 10:11–15).

Begitu tiba di tanah itu, mereka harus memastikan untuk tidak meniru praktik-praktik penyembahan palsu dari para penduduknya, serta menghancurkan segala benda yang dapat menggoda seseorang kepada ketidaksetiaan (23:23–24).

Sebaliknya, mereka harus menyembah dan mengikut TUHAN saja, yang mencurahkan berkat-berkat-Nya atas anak-anak-Nya yang setia (23:25–31; mengenai hubungan antara ketaatan dan berkat, lihat penjelasan pada 15:26; 19:5–6). Berkat-berkat tersebut berfokus pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani: makanan dan air, kesehatan yang baik, kesuburan, umur panjang, kekalahan musuh, perlindungan dari binatang liar, tanah yang berlimpah, dan kemenangan dalam peperangan. Yang mendasari berkat-berkat jasmani ini adalah berkat terbesar dari segalanya: hubungan perjanjian dengan TUHAN (bandingkan Im. 26:3–10 dengan 26:11–12).

TUHAN kini kembali kepada tema-tema dalam ayat 23–24, menegaskan pentingnya untuk tidak mengikat hubungan perjanjian dengan para penyembah berhala ataupun membiarkan mereka tetap tinggal di tanah itu karena cara-cara mereka dapat menyesatkan bangsa Israel (23:32–33; lihat lebih lanjut 34:12–16; Bil. 25:1–9; bdk. 2Kor. 6:14–7:1).

Perjanjian Diteguhkan (24:1–11)

Berfirmanlah Ia kepada Musa: "Naiklah menghadap TUHAN, engkau dan Harun, Nadab dan Abihu dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel dan sujudlah kamu menyembah dari jauh.

Hanya Musa sendirilah yang mendekat kepada TUHAN, tetapi mereka itu tidak boleh mendekat, dan bangsa itu tidak boleh naik bersama-sama dengan dia."

Lalu datanglah Musa dan memberitahukan kepada bangsa itu segala firman TUHAN dan segala peraturan itu, maka seluruh bangsa itu menjawab serentak: "Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan."

Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu. Keesokan harinya pagi-pagi didirikannyalah mezbah di kaki gunung itu, dengan dua belas tugu sesuai dengan kedua belas suku Israel.

Kemudian disuruhnyalah orang-orang muda dari bangsa Israel, maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan menyembelih lembu-lembu jantan sebagai korban keselamatan kepada TUHAN.

Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu.

Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: "Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan."

Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: "Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini."

Dan naiklah Musa dengan Harun, Nadab dan Abihu dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel.

Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah.

Tetapi kepada pemuka-pemuka orang Israel itu tidaklah diulurkan-Nya tangan-Nya; mereka memandang Allah, lalu makan dan minum.
Keluaran 24:1–11 (TB)

Untuk mengesahkan perjanjian tersebut, Musa harus mengumpulkan perwakilan-perwakilan bagi umat itu dan naik ke atas gunung (24:1–2). Status istimewa Musa tetap dipertahankan (hanya dialah yang boleh mendekat kepada TUHAN), tetapi para perwakilan tersebut beroleh hak istimewa untuk naik ke gunung mewakili seluruh umat (bandingkan 19:12).

Namun pertama-tama, Musa turun kepada umat itu, mengulangi ketetapan-ketetapan perjanjian, dan umat menegaskan persetujuan mereka (24:3). Musa kemudian mencatat ketetapan-ketetapan tersebut (24:4a) serta mendirikan sebuah mezbah dan dua belas tugu (24:4b). Tugu-tugu tersebut melambangkan kedua belas suku, dan mezbah secara umum dipahami melambangkan TUHAN. Musa lalu menyuruh mempersembahkan korban: korban bakaran untuk pendamaian dan penyembahan, serta korban keselamatan untuk menyatakan persekutuan perjanjian (24:5). Dengan mengambil darah korban-korban itu, ia menyiramkan separuhnya pada mezbah, lalu membacakan firman perjanjian itu, yang kembali disetujui oleh umat untuk ditaati (24:6–7). Selanjutnya Musa memercikkan sisa darah itu kepada umat, menyebutnya sebagai "darah perjanjian" dan memeteraikan mereka dengannya sebagai anggota-anggota perjanjian (24:8; bdk. Luk. 22:20; Ibr. 9:15–28).

Sama seperti pengesahan suatu kontrak pada masa kini dapat dilakukan dengan menandatanganinya, pengesahan suatu perjanjian di Israel dapat dilakukan dengan mengambil bagian dalam sebuah perjamuan makan (lihat Kej. 26:28–30; bdk. 1Kor. 11:25). Hal itulah yang kini terjadi (24:9–11). Saat naik ke atas gunung, delegasi tersebut melihat Allah—bukan secara penuh, yang adalah mustahil bagi manusia berdosa (lihat 33:20 dan perhatikan bagaimana perikop kita hanya menyebutkan apa yang ada di bawah kaki TUHAN), melainkan dalam cara tertentu mereka melihat kemuliaan-Nya dengan lebih jelas daripada bangsa Israel di kaki gunung. Mereka meneguhkan perjanjian itu atas nama Israel, berpesta makan sebagai tamu-tamu dari sang Raja Ilahi—dan dengan demikian diyakinkan akan perlindungan dan pemeliharaan-Nya (bdk. 2Sam. 9).


VI. Bangsa Israel di Sinai: Loh Perjanjian dan Petunjuk Pembangunan Kemah Suci (24:12–31:18)

Musa Menerima Loh-Loh Batu Perjanjian dari TUHAN (24:12–18)

"TUHAN berfirman kepada Musa: 'Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung, dan tinggallah di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu, yakni hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka.'

Lalu bangunlah Musa dengan Yosua, abdinya, maka naiklah Musa ke atas gunung Allah itu.

Tetapi kepada para tua-tua itu ia berkata: 'Tinggallah di sini menunggu kami, sampai kami kembali lagi kepadamu; bukankah Harun dan Hur ada bersama-sama dengan kamu, siapa yang ada perkaranya datanglah kepada mereka.'

Maka Musa mendaki gunung dan awan itu menutupinya.

Kemuliaan TUHAN diam di atas gunung Sinai, dan awan itu menutupinya enam hari lamanya; pada hari ketujuh dipanggil-Nyalah Musa dari tengah-tengah awan itu.

Tampaknya kemuliaan TUHAN sebagai api yang menghanguskan di puncak gunung itu pada pemandangan orang Israel.

Masuklah Musa ke tengah-tengah awan itu dengan mendaki gunung itu. Lalu tinggallah ia di atas gunung itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya."
Keluaran 24:12–18 (TB)

Ungkapan "hukum dan perintah" (24:12) merujuk kepada Sepuluh Firman (lihat 34:28; bdk. Ul. 10:4), yang menjadi fondasi bagi perjanjian yang baru saja diteguhkan dan dapat mewakili keseluruhan perjanjian tersebut. Musa ditemani oleh abdinya, Yosua (24:13; lihat penjelasan pada 17:9), sedangkan Harun dan Hur diserahi tanggung jawab untuk memimpin perkemahan (24:14; bandingkan 32:1–6).

Musa naik ke atas gunung, dan awan kemuliaan TUHAN menutupinya (24:15–18). "Kemuliaan" TUHAN sering kali merujuk kepada pernyataan kuasa-Nya yang begitu agung sehingga respons yang tepat adalah memuliakan-Nya (lihat 14:17–31; Mzm. 8:2; 19:2; bdk. Ibr. 10:28–29). Tidak ada kesepakatan di antara para penafsir mengenai mengapa TUHAN menunggu selama tujuh hari sebelum memanggil Musa ke dalam awan tersebut.[^37] Yang jelas adalah bahwa Musa seorang dirilah yang dipanggil masuk ke dalam pelataran sang Raja. Hubungan istimewa ini menandakan bahwa setiap perkataan yang ia bawa turun dari gunung dapat dipercaya sepenuhnya sebagai firman yang berasal dari sang Raja sendiri.

Persembahan Khusus untuk Kemah Suci (25:1–9)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

'Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus; dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu.

Inilah persembahan khusus yang harus kamu pungut dari mereka: emas, perak, tembaga;

kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing;

kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba dan kayu penaga;

minyak untuk lampu, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian,

permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada.

Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.

Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.'"
Keluaran 25:1–9 (TB)

TUHAN adalah Raja perjanjian yang ingin berdiam di tengah-tengah umat-Nya dan menjalin relasi dengan mereka, karena itu Ia memberikan petunjuk untuk mendirikan kemah-istana kerajaan-Nya di tengah-tengah mereka.

Persembahan yang Diterima dari Mereka yang Rela Hatinya (25:1–2)

Umat harus mempersembahkan bahan-bahan untuk kemah tersebut, dengan penekanan pada sifatnya yang sukarela (25:1–2; bdk. 2Kor. 9:7).

Bahan-Bahan Persembahan Khusus (25:3–7)

Banyak dari bahan yang terdaftar sangat tepat untuk kemah seorang Raja, baik karena nilainya yang sangat berharga (emas, perak) maupun karena penggunaannya di tempat lain dalam konteks kerajaan (mengenai "lenan halus", lihat Kej. 41:42; mengenai "kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi", lihat 2Sam. 1:24; Est. 1:6; Yeh. 23:6). Kemungkinan besar, banyak dari bahan-bahan ini diperoleh dari hasil penjarahan atas orang Mesir (12:35–36), yang berarti kemah tersebut akan senantiasa mengingatkan umat akan hadirat TUHAN dan juga akan pembebasan yang telah dikerjakan-Nya.

Tujuan dari Persembahan Khusus (25:8–9)

TUHAN menyatakan tujuan-Nya bagi kemah tersebut: "supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka" (25:8). Dari awal hingga akhir dalam narasi Alkitab, Allah turun untuk diam bersama umat-Nya (bdk. Kej. 3:8–9; Why. 21:3–4), dan contoh yang paling dramatis adalah ketika Ia mengenakan rupa manusia di dalam pribadi Yesus, Sang Manusia-Allah, yang datang untuk diam di antara kita (Yoh. 1:14). Ia juga memerintahkan agar Kemah Suci, yang akan menjadi pusat dari cara bangsa Israel beribadah kepada TUHAN, dibangun tepat sesuai dengan perintah-perintah-Nya (25:9). Bangsa Israel harus menghampiri TUHAN berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan-Nya, bukan syarat-syarat mereka sendiri.

Petunjuk Pembuatan Kemah Suci dan Perlengkapannya (25:10–27:21)

Setelah mengidentifikasi bahan-bahan untuk Kemah Suci, TUHAN kini menguraikan cara mendirikannya. Kita dapat memulainya dengan gambaran umum mengenai wujud Kemah Suci ketika telah dirakit seutuhnya:

Secara garis besar, Kemah Suci terdiri atas sebuah kerangka dengan empat lapis tudung dan berukuran panjang 45 kaki (13,7 m) serta lebar dan tinggi 15 kaki (4,6 m) . . . Secara lebih terperinci, rangkanya terbuat dari papan-papan kayu penaga bersalut emas yang disambungkan menjadi sebuah struktur persegi panjang tanpa atap tetap yang membujur pada poros timur-barat. Di sebelah timur dari persegi panjang itu terdapat pintu masuk bertirai. Tirai tersebut terbuat dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, dan lenan halus—warna-warna dan bahan-bahan yang layak bagi seorang raja . . . Di dalam bangunan persegi panjang itu terdapat dua ruangan. Memasuki dari arah timur, ruangan pertama dikenal sebagai Tempat Kudus dan berukuran panjang 30 kaki (9,1 m) serta tinggi dan lebar 15 kaki (4,6 m). Di dalamnya terdapat mezbah pembakaran ukupan, kandil (pelita), dan sebuah meja, yang semuanya terbuat dari emas atau disalut dengan emas, tepat seperti yang diharapkan ada di istana seorang raja. Di ujung ruangan itu terdapat tabir yang terbuat dari bahan yang sama dengan tirai pintu masuk dan ditenun dengan gambar kerub-kerub, yang menyuarakan sifat surgawi dari kediaman tersebut dan secara simbolis menjaga jalan menuju ruangan kedua di belakangnya. Ruangan kedua itu dikenal sebagai Tempat Mahakudus, yang berukuran 15 kaki (4,6 m) persegi dan merupakan ruang takhta TUHAN. Di dalamnya terdapat tabut perjanjian, sebuah peti persegi panjang yang disalut dengan emas dan ditutupi oleh tutup pendamaian dari emas murni pejal. Empat lapisan tudung yang berbeda kemudian dipasang menutupi rangka tersebut. Lapisan pertama adalah serangkaian tenda yang disambungkan menjadi satu, yang kemungkinan besar menutupi bagian atas, belakang, dan sebagian besar sisi-sisi samping rangka. Tenda-tenda ini dibuat serupa dengan tabir penyekat sehingga mereka yang berdiri di dalam Kemah Suci akan melihat kerub-kerub seolah melayang di atas mereka, suatu tatanan yang sangat tepat bagi kediaman TUHAN yang bertakhta di surga. Lapisan tudung kedua adalah serangkaian tenda yang disambung menjadi satu dari tenunan bulu kambing, sedangkan lapisan ketiga dan keempat terbuat dari kulit binatang, yang semuanya berfungsi melindungi kemah dari terpaan cuaca padang gurun. Di luar pintu masuk kemah terdapat bejana pembasuhan dan mezbah korban bakaran, yang berdiri di sebuah pelataran yang dibatasi oleh tirai-tirai bersambung yang membentuk dinding persegi panjang berukuran panjang 150 kaki (45,7 m), lebar 75 kaki (22,9 m), dan tinggi 7,5 kaki (2,29 m). Sama seperti Kemah Suci, pintu masuk pelataran menghadap ke arah timur dan ditutupi oleh tirai yang terbuat dari bahan-bahan kerajaan yang sama (kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, dan lenan halus). Singkatnya, mulai dari pintu gerbang pelataran hingga ke ruangan paling dalam di Kemah Suci, simbolisme kerajaan dan surgawi terpancar dengan sangat kuat. Inilah kemah-istana milik sang Raja surgawi.[^38]

Tabut Perjanjian (25:10–22)

"Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya.

Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya.

Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua.

Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas.

Haruslah engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut.

Kayu pengusung itu haruslah tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya.

Dalam tabut itu haruslah kautaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu.

Juga engkau harus membuat tutup pendamaian dari emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya.

Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu.

Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya.

Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu.

Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu.

Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel."
Keluaran 25:10–22 (TB)

Petunjuk-petunjuk ini diawali dengan tiga perkakas yang berada di dalam Kemah Suci (25:10–40). Yang paling utama adalah tabut, sebuah peti kayu besar yang ditempatkan di Tempat Mahakudus. Dengan mengasumsikan satu hasta sama dengan 18 inci (45 cm), tabut berukuran panjang 3,75 kaki serta lebar dan tinggi 2,25 kaki (1,1 m × 0,7 m × 0,7 m) (25:10). Ada empat pengamatan lebih lanjut yang dapat dikemukakan:

Pertama, teks-teks lain menyebut tabut itu sebagai tumpuan kaki TUHAN (1Taw. 28:2; Mzm. 132:7–8), yang menjadikan Tempat Mahakudus sebagai ruang takhta TUHAN di mana Ia bersemayam di atas tabut itu, dilayani oleh para pelayan surgawi-Nya, yaitu kerub-kerub (2Sam. 6:2; Mzm. 80:2; 99:1). Fakta bahwa ruang takhta-Nya berada di Tempat Mahakudus menegaskan bahwa Ia adalah Raja yang mutlak kudus.

Kedua, tabut itu disalut dengan "emas murni", yaitu emas dengan kualitas tertinggi (bdk. Kej. 2:12; Ayb. 28:16). Tidak ada yang kurang dari itu yang layak bagi Raja yang begitu agung.

Ketiga, karena tabut tersebut memuat loh-loh batu perjanjian, maka tabut itu disebut "tabut hukum" (ark of the testimony, 25:21–22) dan "tabut perjanjian" (Bil. 10:33). TUHAN sendiri bersemayam di atas loh-loh hukum tersebut sebagai saksi ilahi. Ia akan setia kepada janji-janji perjanjian-Nya; bangsa Israel pun harus setia kepada janji-janji mereka (bdk. Yoh. 14:20–21).

Akhirnya, karena TUHAN mengetahui bahwa umat-Nya akan gagal, Ia melengkapi tabut itu dengan sebuah "tutup pendamaian" (mercy seat / atonement lid), yang menjadi pusat dari ritus-ritus penebusan dosa pada Hari Pendamaian yang agung (Im. 16:14–16). Kata dalam Septuaginta yang mendeskripsikan tutup ini (hilastērion) adalah kata yang sama yang menggambarkan Yesus sebagai "pendamaian" (propitiation, Rm. 3:25), yaitu Pribadi yang menyucikan dosa kita dan memalingkan murka Allah. Yesus adalah penyediaan pendamaian yang terutama bagi dosa!


Meja Roti Sajian (25:23–30)

"Lagi haruslah engkau membuat meja dari kayu penaga, dua hasta panjangnya, sehasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya.

Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni dan membuat bingkai emas sekelilingnya.

Haruslah engkau membuat sekelilingnya jalur pinggir yang setapak tangan lebarnya dan kaubuatlah bingkai emas sekeliling jalur pinggirnya itu.

Haruslah engkau membuat untuk meja itu empat gelang emas dan kaupasanglah gelang-gelang itu di keempat penjurunya, pada keempat kakinya.

Gelang itu haruslah dekat ke jalur pinggirnya sebagai tempat memasukkan kayu pengusung, supaya meja itu dapat diangkut.

Haruslah engkau membuat kayu pengusung itu dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas, dan dengan itulah meja harus diangkut.

Haruslah engkau membuat pinggannya, cawannya, kendinya dan pialanya, yang dipakai untuk persembahan curahan; haruslah engkau membuat semuanya itu dari emas murni.

Dan haruslah engkau tetap meletakkan roti sajian di atas meja itu di hadapan-Ku."
Keluaran 25:23–30 (TB)

Tempat Kudus memiliki tiga buah perkakas. Yang pertama adalah sebuah meja kayu berlapis emas dengan ukuran panjang 3 kaki, lebar 1,5 kaki, dan tinggi 2,25 kaki (0,9 m × 0,5 m × 0,7 m) (25:23). Meja ini dilengkapi dengan perkakas-perkakas untuk makanan dan minuman (25:29) serta memuat "roti sajian" (25:30), yakni dua belas ketul roti yang mewakili kedua belas suku Israel dan menandakan relasi perjanjian mereka yang terus berlanjut dengan TUHAN (Im. 24:8; lihat penjelasan pada Kel. 24:9–11 mengenai hubungan antara makanan dan perjanjian).


Kandil Emas (25:31–40)

"Haruslah engkau membuat kandil dari emas murni; dari emas tempaan harus kandil itu dibuat, baik kakinya baik batangnya; kelopaknya—dengan tombolnya dan kembangnya—haruslah seiras dengan kandil itu.

Enam cabang harus timbul dari sisinya: tiga cabang kandil itu dari sisi yang satu dan tiga cabang dari sisi yang lain.

Tiga kelopak yang berupa bunga badam pada cabang yang satu—dengan tombol dan kembangnya—dan tiga kelopak yang serupa pada cabang yang lain—dengan tombol dan kembangnya—; demikianlah juga kaubuat keenam cabang yang timbul dari kandil itu.

Pada kandil itu sendiri harus ada empat kelopak berupa bunga badam—dengan tombolnya dan kembangnya.

Juga harus ada satu tombol di bawah sepasang cabang yang pertama, yang timbul dari kandil itu, dan satu tombol di bawah yang kedua, dan satu tombol di bawah yang ketiga; demikianlah juga kaubuat keenam cabang yang timbul dari kandil itu.

Tombol dan cabang itu harus timbul dari kandil itu, dan semuanya itu haruslah dibuat dari sepotong emas tempaan yang murni.

Haruslah kaubuat pada kandil itu tujuh lampu dan lampu-lampu itu haruslah dipasang di atas kandil itu, sehingga diterangi yang di depannya.

Sepitnya dan penadahnya haruslah dari emas murni.

Dari satu talenta emas murni haruslah dibuat kandil itu dengan segala perkakasnya itu.

Dan ingatlah, bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."
Keluaran 25:31–40 (TB)

Perkakas berikutnya adalah kandil emas (atau pelita emas). (Mengenai perkakas ketiga—mezbah pembakaran ukupan dari emas—lihat 30:1–10.) Kandil ini berdiri di sisi selatan (atau di sebelah kiri saat seseorang menghadap tabir penyekat), berhadapan dengan meja di sisi utara (atau di sebelah kanan) (26:35). Kandil ini dibuat dari satu "talenta" emas murni (25:39)—kira-kira 75 pon (34 kg). Bentuknya menyerupai pohon berbunga dari emas yang indah, dengan enam cabang dan satu batang utama, semuanya dihiasi dengan bunga-bunga badam. Ketujuh lampunya diposisikan sedemikian rupa sehingga memancarkan cahaya keemasan ke arah meja roti sajian.

Kandil dan meja ini secara bersama-sama menyatakan dengan jelas bahwa TUHAN hadir di tengah-tengah umat-Nya. "Jika ada pelita yang menyala, ukupan yang dibakar, dan roti di atas meja, maka itu berarti ada seseorang yang sedang 'berada di rumah.'"[^39] (Bandingkan dengan kehadiran Yesus di tengah-tengah jemaat-Nya saat ini; Why. 1:12–13, 20; 2:1).


Keempat Tutup Tenda Kemah Suci (26:1–14)

"Kemah Suci itu haruslah kaubuat dari sepuluh tenda dari lenan halus yang dipintal benangnya dan dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi; dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun, haruslah kaubuat semuanya itu.

Panjang tiap-tiap tenda haruslah dua puluh delapan hasta dan lebar tiap-tiap tenda empat hasta: segala tenda itu harus sama ukurannya.

Lima dari tenda itu haruslah dirangkap menjadi satu, dan yang lima lagi juga harus dirangkap menjadi satu.

Pada rangkapan yang pertama, di tepi satu tenda yang di ujung, haruslah engkau membuat sosok-sosok kain ungu tua dan demikian juga di tepi satu tenda yang paling ujung pada rangkapan yang kedua.

Lima puluh sosok harus kaubuat pada tenda yang satu dan lima puluh sosok pada tenda yang di ujung pada rangkapan yang kedua, sehingga sosok-sosok itu tepat berhadapan satu sama lain.

Dan haruslah engkau membuat lima puluh kaitan emas dan menyambung tenda-tenda Kemah Suci yang satu dengan yang lain dengan memakai kaitan itu, sehingga menjadi satu.

Juga haruslah engkau membuat tenda-tenda dari bulu kambing menjadi atap kemah yang menudungi Kemah Suci, sebelas tenda harus kaubuat.

Panjang tiap-tiap tenda harus tiga puluh hasta dan lebar tiap-tiap tenda empat hasta: yang sebelas tenda itu harus sama ukurannya.

Lima dari tenda itu haruslah kausambung dengan tersendiri, dan enam dari tenda itu dengan tersendiri, dan tenda yang keenam haruslah kaulipat dua, di sebelah depan kemah itu.

Haruslah engkau membuat lima puluh sosok pada rangkapan yang pertama di tepi satu tenda yang di ujung dan lima puluh sosok di tepi satu tenda pada rangkapan yang kedua.

Haruslah engkau membuat lima puluh kaitan tembaga dan memasukkan kaitan itu ke dalam sosok-sosok dan menyambung tenda-tenda kemah itu, supaya menjadi satu.

Mengenai bagian yang berjuntai itu, yang berlebih pada tenda kemah itu, haruslah setengah dari tenda yang berlebih itu berjuntai di sebelah belakang Kemah Suci.

Sehasta di sebelah sini dan sehasta di sebelah sana pada bagian yang berlebih pada panjang tenda-tenda kemah itu haruslah berjuntai pada sisi-sisi Kemah Suci, di sebelah sini dan di sebelah sana untuk menudunginya.

Juga haruslah engkau membuat untuk kemah itu tudung dari kulit domba jantan yang diwarnai merah, dan tudung dari kulit lumba-lumba di atasnya lagi."
Keluaran 26:1–14 (TB)

Empat lapis tudung menutupi rangka Kemah Suci. Lapisan pertama berukuran 60 kaki kali 42 kaki (18,3 m × 12,8 m) dan terbuat dari sepuluh tenda indah yang disambung menjadi satu (26:1–6). Dengan ditenun gambar makhluk-makhluk surgawi (kerub-kerub), lapisan ini menyatakan dengan jelas bagi para imam yang berdiri di dalam kemah bahwa mereka berada di dalam kediaman sang Raja surgawi. Lapisan ini menutupi seluruh bagian belakang dan atap Kemah Suci, serta menutupi dinding-dinding samping hingga menyisakan 1,5 kaki (45 cm) dari tanah, dengan membiarkan bagian depan tetap terbuka untuk tirai pintu masuk (26:36–37).

Lapisan tudung kedua terbuat dari bulu kambing dan berukuran 66 kaki kali 45 kaki (20,1 m × 13,7 m), sehingga ukurannya lebih besar daripada tudung pertama dan dapat menudunginya (26:7–13). Dua lapisan tudung berikutnya—dari kulit domba jantan yang diwarnai merah dan kulit lumba-lumba (26:14)—memberikan perlindungan lebih lanjut dari terpaan cuaca padang gurun.


Struktur Rangka Kemah Suci (26:15–30)

"Haruslah engkau membuat untuk Kemah Suci papan dari kayu penaga yang berdiri tegak,

sepuluh hasta panjangnya satu papan dan satu setengah hasta lebarnya tiap-tiap papan.

Tiap-tiap papan harus ada dua pasaknya yang disengkang satu sama lain; demikianlah harus kauperbuat dengan segala papan Kemah Suci.

Haruslah engkau membuat papan-papan untuk Kemah Suci, dua puluh papan pada sebelah selatan.

Dan haruslah kaubuat empat puluh alas perak di bawah kedua puluh papan itu, dua alas di bawah satu papan untuk kedua pasaknya, dan seterusnya dua alas di bawah setiap papan untuk kedua pasaknya.

Juga untuk sisi yang kedua dari Kemah Suci, pada sebelah utara, kaubuatlah dua puluh papan

dengan empat puluh alas peraknya: dua alas di bawah satu papan dan seterusnya dua alas di bawah setiap papan.

Untuk sisi belakang Kemah Suci, pada sebelah barat, haruslah kaubuat enam papan.

Dua papan haruslah kaubuat untuk sudut Kemah Suci, di sisi belakang.

Kedua papan itu haruslah kembar pasaknya di sebelah bawah dan seperti itu juga kembar pasaknya di sebelah atas, di dekat gelang yang satu itu; demikianlah harus kedua papan itu; haruslah itu merupakan kedua sudutnya.

Jadi harus ada delapan papan dengan alas peraknya: enam belas alas; dua alas di bawah satu papan dan seterusnya dua alas di bawah setiap papan.

Juga haruslah kaubuat kayu lintang dari kayu penaga: lima untuk papan-papan pada sisi yang satu dari Kemah Suci,

lima kayu lintang untuk papan-papan pada sisi yang kedua dari Kemah Suci, dan lima kayu lintang untuk papan-papan pada sisi Kemah Suci yang merupakan sisi belakangnya, pada sebelah barat.

Dan kayu lintang yang di tengah, di tengah-tengah papan-papan itu, haruslah melintang terus dari ujung ke ujung.

Papan-papan itu haruslah kausalut dengan emas, gelang-gelang itu haruslah kaubuat dari emas sebagai tempat memasukkan kayu-kayu lintang itu, dan kayu-kayu lintang itu haruslah kausalut dengan emas.

Kemudian haruslah kaudirikan Kemah Suci sesuai dengan rancangan yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu."
Keluaran 26:15–30 (TB)

Kerangka Kemah Suci berbentuk kotak persegi panjang berpapan tiga sisi yang terdiri dari tiga dinding: dua dinding yang lebih panjang (sisi utara dan selatan), berukuran panjang 45 kaki (13,7 m) serta tinggi dan lebar 15 kaki (4,6 m), dan satu dinding yang lebih pendek (ujung barat), yang sering kali dianggap berukuran 15 kaki (4,6 m) persegi. Tidak ada dinding di bagian pintu masuk (ujung timur). Dinding-dinding ini terbuat dari "papan-papan" bersalut emas, yang mungkin menyerupai kisi-kisi bertangga yang dimasukkan dengan pasak-pasaknya ke dalam alas-alas perak (26:17, 19).[^40] Kayu-kayu lintang yang bersalut emas semakin memperkokoh dinding-dinding tersebut (26:26–29).


Tabir Penyekat (26:31–35)

"Haruslah kaubuat tabir dari kain ungu tua, dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya; haruslah dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun.

Haruslah engkau menggantungkannya pada empat tiang dari kayu penaga, yang disalut dengan emas, dengan ada kaitannya dari emas, berdasarkan empat alas perak.

Haruslah tabir itu kaugantungkan pada kaitan penyambung tenda itu dan haruslah kaubawa tabut hukum ke sana, ke belakang tabir itu, sehingga tabir itu menjadi pemisah bagimu antara tempat kudus dan tempat maha kudus.

Tutup pendamaian itu haruslah kauletakkan di atas tabut hukum di dalam tempat maha kudus.

Meja itu haruslah kautaruh di depan tabir itu, dan kandil itu berhadapan dengan meja itu pada sisi selatan dari Kemah Suci, dan meja itu haruslah kautempatkan pada sisi utara."
Keluaran 26:31–35 (TB)

Sebuah "tabir" di dalam Kemah Suci digantungkan pada kaitan-kaitan di empat tiang yang bersalut emas. Tabir ini memisahkan Tempat Mahakudus dari Tempat Kudus. Sama seperti lapisan tudung pertama, tabir ini ditenun dengan gambar kerub-kerub, yang dapat dipahami sebagai lambang penjagaan atas ruang takhta TUHAN dari siapa pun yang masuk tanpa hak (bdk. Kej. 3:24). Penempatannya menjadi pengingat bahwa dosa dan kenajisan bangsa Israel memisahkan mereka dari kenikmatan penuh hadirat kudus TUHAN. Perjanjian Baru mencatat bahwa kematian Yesus sebagai korban mengakibatkan tabir ini terbelah dua (Mat. 27:50–51). Pengorbanan-Nya begitu berkuasa sehingga dosa dan kenajisan telah dibereskan secara tuntas, membuka jalan bagi persekutuan penuh dengan Allah yang menjadi tujuan mula-mula penciptaan kita (Ibr. 10:19–20).


Tirai Pintu Masuk Kemah Suci (26:36–37)

"Juga haruslah kaubuat tirai untuk pintu kemah itu dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya: tenunan yang berwarna-warna.

Haruslah kaubuat lima tiang dari kayu penaga untuk tirai itu dan kausalutlah itu dengan emas, dengan ada kaitannya dari emas, dan untuk itu haruslah kautuang lima alas dari tembaga."
Keluaran 26:36–37 (TB)

Di pintu masuk Kemah Suci terdapat "tirai", yang serupa dengan tabir bagian dalam, hanya saja tanpa tenunan kerub. Sebagai gantinya, tirai ini dibuat dengan "tenunan yang berwarna-warna" (embroidered with needlework), yang mungkin mengindikasikan pola atau desain yang kaya warna. Tirai ini digantungkan pada lima tiang dengan alas tembaga. Hal ini sangat kontras dengan alas tabir pemisah yang terbuat dari perak. Semakin dekat seseorang menghampiri hadirat TUHAN, semakin mahal dan berharga bahan-bahan yang digunakan, tepat seperti yang diharapkan ketika seseorang semakin mendekat ke ruang takhta seorang raja.


Mezbah Korban Bakaran (27:1–8)

"Haruslah engkau membuat mezbah dari kayu penaga, lima hasta panjangnya dan lima hasta lebarnya, sehingga mezbah itu empat persegi, tetapi tiga hasta tingginya.

Haruslah engkau membuat tanduk-tanduknya pada keempat sudutnya; tanduk-tanduknya itu haruslah seiras dengan mezbah itu dan haruslah engkau menyalutnya dengan tembaga.

Juga harus engkau membuat kuali-kualinya tempat menaruh abunya, dan sodok-sodoknya dan bokor-bokor penyiramannya, garpu-garpunya dan perbaraan-perbaraannya; semua perkakasnya itu harus kaubuat dari tembaga.

Haruslah engkau membuat untuk itu kisi-kisi, yakni jala-jala tembaga, dan pada jala-jala itu haruslah kaubuat empat gelang tembaga pada keempat ujungnya.

Haruslah engkau memasang jala-jala itu di bawah jalur mezbah itu; mulai dari sebelah bawah, sehingga jala-jala itu sampai setengah tinggi mezbah itu.

Haruslah engkau membuat kayu-kayu pengusung untuk mezbah itu, kayu-kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan tembaga.

Kayu-kayu pengusungnya itu haruslah dimasukkan ke dalam gelang-gelang itu dan kayu-kayu pengusung itu haruslah ada pada kedua rusuk mezbah itu waktu mezbah itu diangkut.

Mezbah itu harus kaubuat berongga dan dari papan, seperti yang ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu, demikianlah harus dibuat mezbah itu."
Keluaran 27:1–8 (TB)

Mezbah di pelataran adalah sebuah peti kayu yang relatif besar, berukuran 7,5 kaki persegi dan tinggi 4,5 kaki (2,3 m × 2,3 m × 1,4 m) (27:1; mengenai mezbah ukupan yang lebih kecil, lihat penjelasan pada 30:1–10). Mezbah ini disalut dengan tembaga dan memiliki empat "tanduk" (27:2), yaitu tonjolan-tonjolan menyerupai tanduk yang berperan dalam ritus-ritus tertentu di mana tanduk-tanduk itu tampak mewakili keseluruhan mezbah (bdk. Im. 8:15). Mezbah ini juga dilengkapi berbagai perlengkapan tembaga yang diperlukan untuk mengurus korban-korban sembelihan (27:3).

Sebuah "kisi-kisi, yakni jala-jala" tembaga—kata yang sama digunakan untuk jaring penangkap burung (Ams. 1:17)—dipasang di bawah jalur sekeliling mezbah (Kel. 27:4–5). Para penafsir memperdebatkan letak persis dan fungsinya, meskipun jelas bahwa kisi-kisi tersebut dipasangi gelang-gelang untuk memasukkan kayu-kayu pengusung mezbah (27:6–8a). TUHAN sekali lagi menekankan bahwa bangsa Israel harus membuatnya menurut rancangan yang ditunjukkan kepada Musa (27:8b; bandingkan 25:9, 40; 26:30). Penyembahan harus selalu berakar pada apa yang dinyatakan Allah, bukan apa yang kita ciptakan sendiri.

Karena mezbah tersebut berdiri di luar pintu masuk Kemah Suci (40:6), bangsa Israel dapat mempersembahkan korban-korban mereka "di hadapan TUHAN" (Im. 3:1). Mezbah ini merupakan pusat dari penyembahan. "Mezbah menghubungkan bumi dengan surga. Mezbah adalah titik temu antara bangsa Israel dan TUHAN, yang menerjemahkan persembahan fisik mereka menjadi doa pengampunan, permohonan, dan penyembahan. Dengan demikian, keberadaan sebuah mezbah memiliki arti yang sangat mendasar. 'Kemah Suci tanpa mezbah yang berfungsi akan seperti tubuh tanpa jantung.'"[^41]


Pelataran Kemah Suci (27:9–19)

"Haruslah engkau membuat pelataran Kemah Suci; untuk pelataran itu pada sebelah selatan harus dibuat layar dari lenan halus yang dipintal benangnya, seratus hasta panjangnya pada sisi yang satu itu.

Tiang-tiangnya harus ada dua puluh, dan alas-alas tiang itu harus dua puluh, dari tembaga, tetapi kaitan-kaitan tiang itu dan penyambung-penyambungnya harus dari perak.

Demikian juga pada sebelah utara, pada panjangnya, harus ada layar yang seratus hasta panjangnya, tiang-tiangnya harus ada dua puluh dan alas-alas tiang itu harus dua puluh, dari tembaga, tetapi kaitan-kaitan tiang itu dan penyambung-penyambungnya harus dari perak.

Dan pada lebar pelataran itu pada sebelah barat harus ada layar yang lima puluh hasta, dengan sepuluh tiangnya dan sepuluh alas tiang itu.

Lebar pelataran itu, yaitu bagian muka pada sebelah timur harus lima puluh hasta,

yakni lima belas hasta layar untuk sisi yang satu di samping pintu gerbang itu, dengan tiga tiangnya dan tiga alas tiang itu;

dan juga untuk sisi yang kedua di samping pintu gerbang itu lima belas hasta layar, dengan tiga tiangnya dan tiga alas tiang itu;

tetapi untuk pintu gerbang pelataran itu tirai dua puluh hasta dari kain ungu tua dan kain ungu muda, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya—tenunan yang berwarna-warna—dengan empat tiangnya dan empat alas tiang itu.

Segala tiang yang mengelilingi pelataran itu haruslah dihubungkan dengan penyambung-penyambung perak, dan kaitan-kaitannya harus dari perak dan alas-alasnya dari tembaga.

Panjang pelataran itu harus seratus hasta, lebarnya lima puluh hasta dan tingginya lima hasta, dari lenan halus yang dipintal benangnya, dan alas-alasnya harus dari tembaga.

Adapun segala perabotan untuk seluruh perlengkapan Kemah Suci, dan juga segala patoknya dan segala patok pelataran: semuanya harus dari tembaga."
Keluaran 27:9–19 (TB)

Kemah Suci dikelilingi oleh sebuah pelataran yang berukuran panjang 150 kaki (45,7 m) di sisi utara dan selatan, serta lebar 75 kaki (22,9 m) di sisi timur dan barat, kira-kira seperempat ekar (sepersepuluh hektare), atau sepertujuh ukuran lapangan sepak bola internasional. Pelataran ini dibatasi oleh serangkaian layar setinggi 7,5 kaki (2,3 m), yang ditopang oleh tiang-tiang di setiap 7,5 kaki (2,3 m). Sebuah layar khusus di bagian tengah sisi timur berfungsi sebagai pintu masuk ("pintu gerbang") dan mirip dengan tirai pintu masuk Kemah Suci (bandingkan 26:36).


Minyak untuk Kandil Emas (27:20–21)

"Haruslah kauperintahkan kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu minyak zaitun tumbuk yang murni untuk lampu, supaya orang dapat memasang lampu agar tetap menyala.

Di dalam Kemah Pertemuan di depan tabir yang menutupi tabut hukum, haruslah Harun dan anak-anaknya mengaturnya dari petang sampai pagi di hadapan TUHAN. Itulah suatu ketetapan yang berlaku untuk selama-lamanya bagi orang Israel turun-temurun."
Keluaran 27:20–21 (TB)

Minyak untuk kandil emas haruslah "murni"—artinya tidak dicampur dengan rempah-rempah (bandingkan 30:22–25) atau bebas dari kotoran atau kedua-duanya—dan "tumbuk", yaitu jenis minyak terbaik yang di bagian lain dipersembahkan kepada seorang raja (1Raj. 5:11). Dengan memerintahkan para imam untuk menjaga agar pelita itu tetap menyala sepanjang malam, TUHAN menekankan hadirat-Nya yang terus-menerus dan mengajar umat-Nya untuk melayani-Nya tanpa henti (lihat penjelasan pada 25:31–40).

Pakaian Para Imam (28:1–43)

Pengantar (28:1–4)

"Engkau harus menyuruh abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya datang kepadamu, dari tengah-tengah orang Israel, untuk memegang jabatan imam bagi-Ku—Harun dan anak-anak Harun, yakni Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.

Haruslah engkau membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, sebagai perhiasan kemuliaan.

Haruslah engkau mengatakan kepada semua orang yang ahli, yang telah Kupenuhi dengan roh keahlian, membuat pakaian Harun, untuk menguduskan dia, supaya dipegangnya jabatan imam bagi-Ku.

Inilah pakaian yang harus dibuat mereka: tutup dada, baju efod, gamis, kemeja yang ada raginya, serban dan ikat pinggang. Demikianlah mereka harus membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, dan bagi anak-anaknya, supaya ia memegang jabatan imam bagi-Ku."
Keluaran 28:1–4 (TB)

Setelah menguraikan tentang Kemah Suci, TUHAN kini menguraikan tentang para imamnya, dengan mengkhususkan Harun dan anak-anaknya untuk peran ini (28:1). (Keluarga-keluarga lain dalam suku Lewi akan menjaga dan mengangkut Kemah Suci, tetapi tidak melayani sebagai imam; lih. Bil. 3:5–4:49).

Oleh karena para imam melayani di Kemah Suci TUHAN yang kudus secara ritual, mereka harus mengenakan pakaian seragam yang kudus secara ritual, yang dibuat "sebagai perhiasan kemuliaan" (28:2), atau mungkin lebih tepat diterjemahkan "untuk kemuliaan dan kehormatan." Sama seperti jubah seorang raja menandakan bahwa ia patut diberi kehormatan khusus, pakaian seragam para imam dimaksudkan untuk mengajar bangsa Israel agar menghormati para imam (dan orang-orang Kristen pun secara serupa harus menghormati dan menghargai para pemimpin gereja; lih. 1Tes. 5:12; 1Tim. 5:17; Ibr. 13:17). Pakaian seragam para imam sesungguhnya menolong mereka beralih ke dalam status kudus secara ritual tersebut pada saat pentahbisan mereka (28:3), serupa dengan bagaimana pemakaian mahkota menolong seorang pangeran beralih status menjadi seorang raja pada upacara pemahkotaannya. Sudah sewajarnya, kebutuhan para imam akan kekudusan ritual senantiasa mengingatkan mereka untuk mengejar dan menjadi teladan dalam kekudusan moral (bandingkan 1Tim. 3:1–13).

Pembuatan pakaian-pakaian ini membutuhkan keahlian khusus (28:3; lih. lebih lanjut pada 31:1–11). Berbagai kelengkapan pakaian seragam imam besar secara khusus dicatat (28:4) dan kini menjadi fokus utama.


Pakaian Imam Besar (28:5–39)

"Untuk itu haruslah mereka mengambil emas, kain ungu tua dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus."
Keluaran 28:5 (TB)

Tidaklah mengherankan bahwa bahan-bahan khusus yang layak bagi kediaman kerajaan TUHAN adalah bahan yang sama yang dipandang layak untuk pakaian seragam pelayan utama kerajaan-Nya (28:5; bdk. 25:4). Bagian-bagian utama pakaian seragam tersebut kemudian diuraikan.

Baju Efod (28:6–14)

"Baju efod itu harus dibuat mereka dari emas, kain ungu tua dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya: buatan seorang ahli.

Haruslah ada pada baju efod itu dua tutup bahu yang disambung kepadanya, pada kedua ujungnyalah harus baju efod itu disambung.

Sabuk pengikat yang ada pada baju efod itu haruslah sama buatannya dan seiras dengan baju efod itu, yakni dari emas, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya.

Haruslah kauambil dua permata krisopras dan mengukirkan nama para anak Israel pada permata itu,

enam dari nama mereka itu pada permata yang pertama dan keenam nama lagi pada permata yang kedua, menurut urutan kelahirannya.

Seperti buatan seorang pengasah permata, diukirkan seperti meterai, demikianlah harus kauukirkan pada kedua permata itu nama para anak Israel; dililit dengan ikat emas harus kaubuat permata itu.

Kemudian haruslah kautaruh kedua permata itu pada kedua tutup bahu baju efod sebagai permata peringatan untuk mengingat orang Israel; maka ke hadapan TUHAN haruslah Harun membawa nama mereka di atas kedua tutup bahunya menjadi tanda peringatan.

Haruslah kaubuat ikat emas

dan dua untai dari emas murni; sebagai utas haruslah kaubuat itu, yang buatannya sebagai tali berjalin dan haruslah kaupasang untai berjalin itu pada ikat itu."
Keluaran 28:6–14 (TB)

Terdapat berbagai pertanyaan seputar ukuran dan bentuk pastinya, tetapi sejumlah fakta tampak jelas. Pertama, bahan-bahannya indah dan berharga mahal, dengan benang-benang berwarna kerajaan (28:6; lih. penjelasan pada 25:3–7) dan untaian benang emas yang dijalin di seluruhnya (28:6), yang mungkin memberikan kilauan keemasan. Baju efod ini memiliki sabuk pengikat yang sepadan untuk mengikatkan efod tersebut pada tubuh (28:8; 29:5).

Kedua, kedua tutup bahunya masing-masing memuat satu permata berharga, dan pada setiap permata terukir enam nama dari kedua belas suku Israel. Harun menanggung "permata peringatan ini . . . ke hadapan TUHAN . . . menjadi tanda peringatan" (28:12), yaitu supaya TUHAN menyatakan kesetiaan perjanjian-Nya kepada bangsa Israel. (Secara alkitabiah, "mengingat" bagi TUHAN tidak merujuk pada aktivitas mental semata, melainkan pada tindakan kemurahan yang nyata bagi umat-Nya; lih. Kej. 9:15–16; Kel. 2:24.) Dengan membawa permata-permata ini ke hadapan TUHAN, sang imam besar pada hakikatnya sedang berdoa bagi bangsa Israel dengan menyebut nama mereka satu per satu, memohon agar TUHAN mencurahkan kemurahan-Nya atas mereka. (Mengenai peran doa syafaat para pemimpin gereja masa kini, lih. Kis. 6:4; 1Tes. 1:3; Flp. 1:3–5. Mengenai peran doa syafaat Yesus, Imam Besar kita yang agung, lih. Ibr. 7:23–26).


Tutup Dada (28:15–30)

"Haruslah engkau membuat tutup dada pernyataan keputusan: buatan seorang ahli. Buatannya sama dengan baju efod, demikianlah harus engkau membuatnya, yakni dari emas, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya haruslah engkau membuatnya.

Haruslah itu empat persegi, lipat dua, sejengkal panjangnya dan sejengkal lebarnya.

Haruslah kautatah itu dengan permata tatahan, empat jajar permata: permata yaspis merah, krisolit, malakit, itulah jajar yang pertama;

jajar yang kedua: permata batu darah, lazurit, yaspis hijau;

jajar yang ketiga: permata ambar, akik, kecubung,

jajar yang keempat: permata pirus, krisopras dan nefrit. Dengan berikatkan emas, demikianlah permata-permata itu dalam tatahannya.

Sesuai dengan nama para anak Israel, permata itu haruslah dua belas banyaknya; dan pada tiap-tiap permata haruslah ada, diukirkan seperti meterai, nama salah satu suku dari yang dua belas itu.

Juga haruslah kaubuat untuk tutup dada itu untai berpilin, yang buatannya sebagai tali berjalin, dari emas murni.

Juga haruslah kaubuat untuk tutup dada itu dua gelang emas dan kedua gelang itu harus kaupasang pada kedua ujung tutup dada.

Haruslah kedua untai emas yang berjalin itu kaupasang pada kedua gelang itu, pada ujung tutup dada.

Kedua ujung lain dari kedua untai berjalin itu haruslah kaupasang pada kedua ikat emas itu, demikianlah kaupasang pada tutup bahu baju efod, di sebelah depannya.

Haruslah engkau membuat dua gelang emas dan membubuhnya pada kedua ujung tutup dada itu, pada pinggirnya yang sebelah dalam, yang berhadapan dengan baju efod.

Juga haruslah engkau membuat dua gelang emas dan memasangnya pada kedua tutup bahu baju efod, di sebelah bawah pada bagian depan, dekat ke tempat persambungannya, di sebelah atas sabuk baju efod.

Kemudian haruslah tutup dada itu dengan gelangnya diikatkan kepada gelang baju efod dengan memakai tali ungu tua, sehingga tetap di atas sabuk baju efod, dan tutup dada itu tidak dapat bergeser dari baju efod.

Demikianlah di atas jantungnya harus dibawa Harun nama para anak Israel pada tutup dada pernyataan keputusan itu, apabila ia masuk ke dalam tempat kudus, supaya menjadi tanda peringatan yang tetap di hadapan TUHAN.

Dan di dalam tutup dada pernyataan keputusan itu haruslah kautaruh Urim dan Tumim; haruslah itu di atas jantung Harun, apabila ia masuk menghadap TUHAN, dan Harun harus tetap membawa keputusan bagi orang Israel di atas jantungnya, di hadapan TUHAN."
Keluaran 28:15–30 (TB)

Dibuat dari bahan-bahan kerajaan yang sama seperti baju efod, tutup dada adalah kantong persegi empat, dengan masing-masing sisi berukuran sejengkal (biasanya diperkirakan sekitar 9 inci [23 cm]) (28:15–16). Pada bagian depannya terdapat dua belas batu permata berharga, yang masing-masing diukir dengan nama salah satu suku Israel (28:17–21). Tutup dada ini juga memiliki empat gelang emas yang melaluinya tutup dada dikaitkan pada baju efod (28:22–28).

Tutup dada memiliki dua fungsi utama. Pertama, permata-permatanya berfungsi "menjadi tanda peringatan yang tetap di hadapan TUHAN" (28:29). Dengan mengenakannya, sang imam besar secara efektif sedang berdoa agar TUHAN memberkati Israel (lih. penjelasan pada 28:12). Sesungguhnya, permata-permata tersebut disamakan dengan "meterai" (28:21), yang digunakan untuk mencap segel tanah liat atau lilin dengan gambar atau nama pemiliknya, sehingga mewakili sang pemilik. Dengan mengenakan permata-permata ini, imam besar menunjukkan bahwa tindakannya dilakukan demi kepentingan bangsa Israel; ia memohonkan perkenanan bagi mereka dari TUHAN.

Kedua, tutup dada digunakan untuk mencari kehendak Allah dalam perkara-perkara tertentu melalui Urim dan Tumim yang berada di dalamnya (28:30). Benda-benda ini merupakan sistem undi yang melaluinya imam besar mencari petunjuk TUHAN (Bil. 27:21; lih. khususnya ESV atau NIV pada 1Sam. 14:41–42). Keberadaan keduanya memunculkan sebutan "tutup dada pernyataan keputusan", yang kadang diterjemahkan sebagai "tutup dada keputusan" (breastpiece of decision, NIV), karena benda tersebut memperjelas keputusan-keputusan TUHAN mengenai berbagai perkara (bdk. Ams. 16:33).

Singkatnya, pemakaian tutup dada "adalah cara bagi imam besar untuk berdoa, 'Sama seperti bangsa Israel berada di atas hatiku dan dalam pikiranku, ya TUHAN, kiranya mereka pun berada di atas hati-Mu dan dalam pikiran-Mu! Kiranya Engkau memberkati mereka, memelihara mereka, mempedulikan mereka, dan kiranya Engkau melakukan hal ini khususnya saat mereka mencari bimbingan dan kehendak-Mu!'"[^42]


Gamis (28:31–35)

"Haruslah kaubuat gamis baju efod dari kain ungu tua seluruhnya.

Lehernya haruslah di tengah-tengahnya; lehernya itu harus mempunyai pinggir sekelilingnya, buatan tukang tenun, seperti leher baju zirah haruslah lehernya itu, supaya jangan koyak.

Pada ujung gamis itu haruslah kaubuat buah delima dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi, pada sekeliling ujung gamis itu, dan di antaranya berselang-seling giring-giring emas,

sehingga satu giring-giring emas dan satu buah delima selalu berselang-seling, pada ujung gamis itu.

Haruslah gamis itu dipakai Harun, apabila ia menyelenggarakan kebaktian, dan bunyinya harus kedengaran, apabila ia masuk ke dalam tempat kudus di hadapan TUHAN dan apabila ia keluar pula, supaya ia jangan mati."
Keluaran 28:31–35 (TB)

Dikenakan di bawah baju efod adalah gamis berwarna ungu tua dengan lubang untuk kepala (28:31–32). Pinggir leher tenunan pada lubang tersebut mencegahnya agar jangan terkoyak. Mengoyakkan pakaian merupakan tanda perkabungan resmi (Kej. 37:34), yang dilarang bagi para imam besar karena ritus perkabungan dapat mendatangkan kenajisan ritual akibat kontak dengan mayat (Im. 21:10–11).

Ujung bawah gamis dihiasi dengan buah delima dan giring-giring emas yang dipasang berselang-seling (28:33–34). Giring-giring tersebut memperdengarkan bunyi saat imam besar masuk dan keluar (28:35), mungkin sebagai cara baginya untuk menunjukkan rasa hormat, sebanding dengan mengetuk pintu sebelum masuk dan mengucapkan "selamat tinggal" saat berpamitan keluar.[^43] Kegagalan untuk menunjukkan rasa hormat semacam itu kepada Sang Raja surgawi akan berakibat fatal (28:35b).


Patam Emas (28:36–38)

"Juga haruslah engkau membuat patam dari emas murni dan pada patam itu kauukirkanlah, diukirkan seperti meterai: Kudus bagi TUHAN.

Haruslah patam itu engkau beri bertali ungu tua, dan haruslah itu dilekatkan pada serban, di sebelah depan serban itu.

Patam itu haruslah ada pada dahi Harun, dan Harun harus menanggung akibat kesalahan terhadap segala yang dikuduskan oleh orang Israel, yakni terhadap segala persembahan kudusnya; maka haruslah patam itu tetap ada pada dahinya, sehingga TUHAN berkenan akan mereka."
Keluaran 28:36–38 (TB)

Imam besar mengenakan serban dari lenan halus (28:37, 39). Di sebelah depannya terdapat patam emas, yang di bagian lain disebut sebagai mahkota (29:6; 39:30). Jelas sekali, ia adalah pelayan utama kerajaan TUHAN.

Pada patam itu terukir "Kudus bagi TUHAN" (28:36), yang menandai bahwa imam besar adalah milik TUHAN secara khusus (bdk. Im. 27:14, 21). Dan karena ia mewakili bangsa Israel, patam tersebut pada hakikatnya mengulangi apa yang sebelumnya telah TUHAN firmankan kepada mereka: "kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri" (Kel. 19:5).

Akan tetapi, fokus TUHAN terletak pada fungsi patam tersebut yang memampukan imam besar untuk "menanggung akibat kesalahan terhadap segala yang dikuduskan oleh orang Israel, yakni terhadap segala persembahan kudusnya" (28:38), artinya jika terdapat cacat yang tidak diketahui pada persembahan yang dibawa oleh umat, imam besar sanggup menanggung dan menghapuskan kesalahan yang semestinya timbul. Para penafsir memperdebatkan bagaimana patam tersebut memampukan imam besar melakukan hal ini. Yang jelas adalah bahwa orang-orang yang mempersembahkan korban dapat mengetahui bahwa persembahan mereka berkenan kepada TUHAN dan diri mereka sendiri diterima dengan penuh perkenanan di hadapan-Nya berkat pelayanan imam besar tersebut. Penerimaan yang penuh perkenanan ini kini terjadi melalui karya keimaman Yesus yang agung (Ibr. 2:17; 7:26–8:2). Sesungguhnya, sebagai Imam Besar yang sempurna yang sekaligus merupakan korban pendamaian yang sempurna, Yesus "menguduskan" para pengikut-Nya (Ibr. 10:10, 14; 13:12). "Apa yang dilakukan oleh imam besar di Israel terhadap persembahan-persembahan bangsa Israel—menjadikannya 'kudus bagi TUHAN'—kini Yesus lakukan terhadap para pengikut-Nya!"[^44]


Kemeja, Serban, dan Ikat Pinggang (28:39)

"Haruslah engkau menenun kemeja dengan ada raginya, dari lenan halus, dan membuat serban dari lenan halus dan haruslah kaubuat ikat pinggang dari tenunan yang berwarna-warna."
Keluaran 28:39 (TB)

"Kemeja" (atau "tunik") menutupi tubuh dengan pantas (lih. Kej. 3:21) dan dikenakan di bawah gamis (Kel. 29:5). Kata untuk "serban" berakar dari kata yang berarti "melilitkan, menggulung" (lih. Yes. 22:18), meskipun bentuk pasti dari serban tersebut masih belum jelas. Ikat pinggang disulam dengan benang-benang berharga yang sama dengan yang digunakan pada baju efod dan sabuk pengikatnya (bandingkan Kel. 28:6, 8) dan diikatkan di sekeliling pinggang (Im. 8:7).


Pakaian Para Imam (28:40)

"Juga bagi anak-anak Harun haruslah kaubuat kemeja-kemeja dan haruslah kaubuat ikat-ikat pinggang bagi mereka, dan destar-destar haruslah kaubuat bagi mereka untuk menjadi perhiasan kemuliaan."
Keluaran 28:40 (TB)

Sama seperti imam besar, pakaian para imam biasa juga dibuat "sebagai perhiasan kemuliaan" (lih. penjelasan pada 28:1–4). Namun pakaian mereka lebih sederhana dalam jumlah (seragam mereka terdiri atas lebih sedikit kelengkapan) maupun bahan (tidak memiliki hiasan mewah yang serupa). Jelas terlihat bahwa mereka memiliki peran dan jabatan yang lebih rendah daripada imam besar (bandingkan seragam seorang prajurit biasa yang lebih sederhana dengan seragam seorang jenderal yang jauh lebih rumit dan megah).


Tujuan Pakaian Para Imam (28:41)

"Maka semuanya itu haruslah kaukenakan kepada abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya, kemudian engkau harus mengurapi, mentahbiskan dan menguduskan mereka, sehingga mereka dapat memegang jabatan imam bagi-Ku."
Keluaran 28:41 (TB)

Mengenakan pakaian-pakaian keimaman merupakan unsur sentral dalam upacara pentahbisan yang akan segera berlangsung (lih. penjelasan pada 28:3).


Celana Para Imam (28:42–43)

"Buatlah celana-celana lenan bagi mereka untuk menutupi daging auratnya: celana itu haruslah dari pinggang sampai paha panjangnya.

Harun dan anak-anaknya haruslah memakainya, apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan atau apabila mereka datang ke mezbah untuk menyelenggarakan kebaktian di tempat kudus, supaya mereka jangan membawa kesalahan kepada dirinya, lalu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya baginya dan bagi keturunannya."
Keluaran 28:42–43 (TB)

Celana para imam disebutkan paling akhir, mungkin karena celana ini tidak dibuat "sebagai perhiasan kemuliaan" seperti kelengkapan seragam lainnya.[^45] Namun pakaian ini sangat penting agar para imam tidak menyingkapkan aurat mereka saat melayani (lih. penjelasan pada 20:22–26).

Upacara Pentahbisan Para Imam (29:1–46)

Setelah menguraikan tentang pakaian-pakaian yang diperlukan untuk upacara pentahbisan para imam, TUHAN kini menguraikan upacara tersebut. Upacara itu sendiri berlangsung dalam Imamat 8.[^46]

Upacara dan ritual-ritual di dalamnya menjalankan fungsi yang sangat penting. "Suatu upacara pernikahan . . . melibatkan banyak ritual yang berbeda-beda yang . . . mengalihkan seseorang dari satu status (lajang) ke status yang lain (menikah). Demikian pula, Harun dan anak-anaknya akan menjalani upacara pentahbisan dengan berbagai ritual yang berlainan . . . yang . . . akan memindahkan mereka dari satu status (orang Israel awam) ke status yang lain (para imam yang kudus secara ritual)."[^47]


Pengantar (29:1–3)

"Inilah yang harus kaulakukan kepada mereka, untuk menguduskan mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku: Ambillah seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan yang tidak bercela,

roti yang tidak beragi dan roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, dan roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak; dari tepung gandum yang terbaik haruslah kaubuat semuanya itu.

Kautaruhlah semuanya dalam sebuah bakul dan kaupersembahkanlah semuanya dalam bakul itu, demikian juga lembu jantan dan kedua domba jantan itu."
Keluaran 29:1–3 (TB)

TUHAN menguraikan tujuan upacara ini: Harun dan anak-anaknya menjadi kudus secara ritual sehingga mereka dapat melayani sebagai para imam (29:1a). Dia juga menentukan bahan-bahan yang diperlukan untuk ritual-ritual tersebut (29:1b–3).


Upacara Pentahbisan (29:4–35)

Membasuh dan Mengenakan Pakaian Para Imam; Mengurapi Harun (29:4–9)

"Lalu kausuruhlah Harun dan anak-anaknya datang ke pintu Kemah Pertemuan dan haruslah engkau membasuh mereka dengan air.

Kemudian kauambillah pakaian itu, lalu kaukenakanlah kepada Harun kemeja, gamis baju efod, dan baju efod serta tutup dada; kaukebatkanlah sabuk baju efod kepadanya;

kautaruhlah serban di kepalanya dan jamang yang kudus kaububuh pada serban itu.

Sesudah itu kauambillah minyak urapan dan kautuang ke atas kepalanya, dan kauurapilah dia.

Kausuruhlah anak-anaknya mendekat dan kaukenakanlah kemeja-kemeja itu kepada mereka.

Kauikatkanlah ikat pinggang kepada mereka, kepada Harun dan anak-anaknya, dan kaulilitkanlah destar itu kepada kepala mereka, maka merekalah yang akan memegang jabatan imam; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya. Demikianlah engkau harus mentahbiskan Harun dan anak-anaknya."
Keluaran 29:4–9 (TB)

Oleh karena Harun dan anak-anaknya akan menjadi imam-imam bagi TUHAN, upacara tersebut harus dilangsungkan di hadapan-Nya (29:4a). Pertama-tama, mereka harus dibasuh dengan air, suatu ritus yang kerap dikaitkan dengan penyucian ritual (29:4; bandingkan 30:18–21; Im. 14:9; dll.). Selanjutnya, mereka harus mengenakan pakaian keimaman mereka, dimulai dari Harun (29:5–6). Dengan menuangkan minyak urapan yang kudus ke atas kepala Harun, Musa menguduskannya sekaligus memisahkannya sebagai pemimpin para imam (Im. 21:10; bdk. 1Sam. 10:1).

Mengenakan pakaian pada para imam biasa kemudian diuraikan secara ringkas (29:8–9a) disertai pengingat akan fungsi pakaian tersebut (29:9b).


Kurban Penyucian (29:10–14)

"Kemudian haruslah kaubawa lembu jantan itu ke depan Kemah Pertemuan, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala lembu jantan itu.

Haruslah kausembelih lembu jantan itu di hadapan TUHAN di depan pintu Kemah Pertemuan.

Haruslah kauambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan kaububuh dengan jarimu pada tanduk-tanduk mezbah, dan segala darah selebihnya haruslah kaucurahkan pada bagian bawah mezbah.

Kemudian kauambillah segala lemak yang menutupi isi perut, umbai hati, kedua buah pinggang dan segala lemak yang melekat padanya, dan kaubakarlah di atas mezbah.

Tetapi daging lembu jantan itu, kulitnya dan kotorannya haruslah kaubakar habis dengan api di luar perkemahan, itulah korban penghapus dosa."
Keluaran 29:10–14 (TB)

Segala sesuatunya kini telah siap untuk tiga kurban utama dalam upacara tersebut. Kurban yang pertama secara tradisional dikenal sebagai "kurban penghapus dosa" (sin offering), tetapi kini semakin lazim dikenal sebagai "kurban penyucian" (purification offering).[^48] Harun dan anak-anaknya mula-mula harus "meletakkan tangannya ke atas kepala lembu jantan itu" (29:10), yang menandakan bahwa kurban tersebut dipersembahkan demi kepentingan mereka. Para imam membutuhkan pendamaian sama besarnya dengan orang-orang Israel lainnya (bdk. Ibr. 5:1–3). Lembu jantan itu kemudian disembelih, dan Musa melaksanakan suatu ritus dengan darahnya (Kel. 29:11–12). Karena dosa dan kenajisan mencemari tempat kediaman TUHAN (bdk. Im. 16:16, 19), Musa mengambil darah tersebut—suatu sarana pembersih yang ampuh (bdk. Im. 16:19 dan lihat 1Yoh. 1:7, 9)—lalu membubuhkan sebagian darinya pada tanduk-tanduk mezbah kurban bakaran. Tindakan ini menyucikan mezbah tersebut (bdk. Im. 4:5–7) dan, sejauh mezbah itu mewakili Kemah Suci, menyucikan seluruh Kemah Suci juga. Menuangkan sisa darah pada bagian bawah mezbah kemungkinan merupakan sarana pembuangan yang tepat.

Bagian-bagian lemak dari kurban persembahan tersebut, yang mewakili bagian terbaik dari dagingnya, kemudian dibakar di atas mezbah untuk menghormati TUHAN sebagai Pribadi yang layak menerima yang terbaik (29:13; lihat Im. 3:16–17). Dan sementara para imam memakan sisa bagian "dari kurban-kurban penyucian milik umat (Im. 6:24–30), mereka dilarang memakan kurban penyucian mereka sendiri (Kel. 29:14), barangkali karena tidaklah pantas bagi mereka untuk memperoleh keuntungan tertentu dari dosa mereka sendiri."[^49]


Kurban Bakaran (29:15–18)

"Kemudian haruslah kauambil domba jantan yang satu, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala domba jantan itu.

Haruslah kausembelih domba jantan itu dan kauambillah darahnya dan kausiramkan pada mezbah sekelilingnya.

Haruslah kaupotong-potong domba jantan itu menurut bagian-bagian tertentu, kaubasuhlah isi perutnya dan betis-betisnya dan kautaruh itu di atas potongan-potongannya dan di atas kepalanya.

Kemudian haruslah kaubakar seluruh domba jantan itu di atas mezbah; itulah korban bakaran, suatu persembahan yang harum bagi TUHAN, yakni suatu korban api-apian bagi TUHAN."
Keluaran 29:15–18 (TB)

Kurban bakaran dapat mengadakan pendamaian bagi keberdosaan umum dari orang yang mempersembahkannya (Im. 1:4) serta mengakui TUHAN sebagai Pribadi yang layak menerima segala pujian (Mzm. 66:13–20). Kedua fungsi ini dapat bekerja sekaligus di sini: mengadakan pendamaian bagi para imam dan memampukan mereka memuji TUHAN melalui pengorbanan yang berharga mahal (kurban bakaran merupakan satu-satunya kurban yang dibakar seluruhnya di atas mezbah).

Terjemahan "kurban santapan" (29:18, food offering) barangkali lebih tepat dipahami sebagai "kurban api-apian" (offering by fire, catatan tepi ESV). Dalam kedua ungkapan tersebut, hal itu sama sekali tidak menyiratkan bahwa TUHAN secara harfiah membutuhkan makanan (lihat Mzm. 50:13). Demikian pula, frasa "bau yang menyenangkan" tidak berarti bahwa TUHAN secara harfiah mencium asap tersebut. Sebaliknya, frasa ini menunjukkan bahwa tujuan kurban tersebut adalah agar TUHAN "berkenan kepada orang yang mempersembahkannya dan menerima dengan penuh perkenanan asap tersebut sebagai representasi kurban yang sah yang dipersembahkan dengan ibadah yang tulus dari lubuk hati (bdk. Kej. 8:21; Yeh. 20:41)."[^50]


Kurban Pentahbisan (29:19–28)

"Kemudian haruslah kauambil domba jantan yang lain, lalu haruslah Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala domba jantan itu.

Haruslah kausembelih domba jantan itu, kauambillah sedikit dari darahnya dan kaububuh pada cuping telinga kanan Harun dan pada cuping telinga kanan anak-anaknya, pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanan mereka, dan darah selebihnya kausiramkanlah pada mezbah sekelilingnya.

Haruslah kauambil sedikit dari darah yang ada di atas mezbah dan dari minyak urapan itu dan kaupercikkanlah kepada Harun dan kepada pakaiannya, dan juga kepada anak-anaknya dan pada pakaian anak-anaknya; maka ia akan kudus, ia dan pakaiannya, dan juga anak-anaknya dan pakaian anak-anaknya.

Dari domba jantan itu haruslah kauambil lemaknya, ekornya yang berlemak, lemak yang menutupi isi perutnya, umbai hatinya, kedua buah pinggangnya, lemak yang melekat padanya, paha kanannya—sebab itulah domba jantan persembahan pentahbisan—

kauambillah juga satu keping roti, satu roti bundar yang berminyak dan satu roti tipis dari dalam bakul berisi roti yang tidak beragi, yang ada di hadapan TUHAN.

Haruslah kautaruh seluruhnya ke atas telapak tangan Harun dan ke atas telapak tangan anak-anaknya dan haruslah kaupersembahkan semuanya sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN.

Kemudian haruslah kauambil semuanya dari tangan mereka dan kaubakar di atas mezbah, yaitu di atas korban bakaran, sebagai persembahan yang harum di hadapan TUHAN; itulah suatu korban api-apian bagi TUHAN.

Selanjutnya haruslah kauambil dada dari domba jantan yang adalah bagi pentahbisan Harun dan kaupersembahkan sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN, dan itulah bagian untukmu.

Demikianlah harus kaukuduskan dada persembahan unjukan dan paha persembahan khusus yang dipersembahkan dari domba jantan yang adalah bagi pentahbisan Harun dan anak-anaknya.

Itulah yang menjadi bagian untuk Harun dan anak-anaknya menurut ketetapan yang berlaku untuk selama-lamanya bagi orang Israel, sebab inilah suatu persembahan khusus, maka haruslah itu menjadi persembahan khusus dari pihak orang Israel, yang diambil dari korban keselamatan mereka, dan menjadi persembahan khusus mereka bagi TUHAN."
Keluaran 29:19–28 (TB)

Sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai kemiripannya, kurban pentahbisan adalah sejenis kurban keselamatan (bandingkan 29:20 dengan Im. 3:2; Kel. 29:22, 25 dengan Im. 3:3–5; Kel. 29:34 dengan Im. 7:15–18). Mempersembahkan kurban ini di sini sangatlah tepat karena kurban keselamatan berfungsi sebagai jamuan makan bersama yang meneguhkan suatu perjanjian (lihat penjelasan pada 24:1–11), dan jabatan keimaman merupakan suatu janji perjanjian bagi Harun dan anak-anaknya (Bil. 18:19; 25:13; bdk. Yer. 33:21; Mal. 2:4). Singkatnya, setelah mengadakan pendamaian bagi dosa mereka dan mempersembahkan pujian yang berharga mahal kepada TUHAN, para imam kini meneguhkan perjanjian keimaman yang dianugerahkan TUHAN kepada mereka.

Penyembelihan domba jantan itu diikuti oleh suatu ritual darah: Musa membubuhkannya pada bagian-bagian ujung tubuh Harun dan anak-anaknya—dari atas sampai bawah—untuk menguduskan seluruh tubuh mereka (29:20; bandingkan penjelasan pada 29:10–14). Ritual kedua kemudian dilakukan dengan darah dan minyak urapan.[^51] Cairan-cairan ini dapat menyucikan dan menguduskan (lihat penjelasan pada 29:7, 12), dan keduanya dipercikkan ke atas Harun dan anak-anaknya, bukan untuk menyucikan atau menguduskan bagi pertama kalinya (lihat 29:7, 20), "melainkan memperdalam kekudusan mereka, sama seperti lapisan cat kedua yang memperdalam warna dari lapisan cat yang pertama."[^52]

Persembahan unjukan dilaksanakan berikutnya (29:22–25). "Mengunjukkan suatu persembahan di hadapan TUHAN tampaknya merupakan cara untuk membaktikan benda tersebut kepada-Nya (bdk. Bil. 8:15–16). Musa melakukan hal ini mewakili para imam, dengan mempersembahkan beberapa bagian terbaik dari hewan tersebut: lemaknya (lihat penjelasan pada 29:13) dan paha kanannya (bdk. 1Sam. 9:24). Ia juga mempersembahkan berbagai roti tidak beragi yang dibuat dari tepung gandum terbaik (lihat 29:2). Dengan cara ini, para imam membaktikan yang paling terbaik kepada TUHAN dan dengan demikian mengakui keagungan-Nya."[^53] Untuk ayat 29:25, lihat penjelasan pada 29:15–18.

Musa mempersembahkan bagian dada sebagai persembahan unjukan, yang kemudian menjadi bagian miliknya (29:26; bdk. Im. 7:31). Kita juga mendapati bahwa apa yang terjadi dalam upacara ini menetapkan pola bagi kurban keselamatan di masa depan, ketika bagian-bagian yang sama ini dikhususkan sebagai kudus bagi TUHAN untuk para imam (Kel. 29:27–28; lihat Im. 7:28–35).


Catatan Tambahan: Pakaian (dan Jabatan) Imam Besar Diteruskan kepada Keturunan Harun (29:29–30)

"Pakaian kudus kepunyaan Harun itu haruslah turun kepada anak-anaknya yang kemudian, supaya mereka memakainya apabila mereka diurapi dan ditahbiskan.

Tujuh hari lamanya haruslah pakaian itu dikenakan oleh imam penggantinya dari antara anak-anaknya, yang akan masuk ke dalam Kemah Pertemuan untuk menyelenggarakan kebaktian di tempat kudus."
Keluaran 29:29–30 (TB)

Suatu keadaan yang wajar kini diantisipasi: ketika imam besar meninggal dunia, jabatan dan pakaiannya akan diteruskan kepada anaknya, kemungkinan besar anak sulungnya (Bil. 20:26–28), yang kemudian menjalani upacara pentahbisannya sendiri selama tujuh hari.


Sisa Daging dan Roti Kurban Pentahbisan (29:31–34)

"Domba jantan persembahan pentahbisan itu haruslah kauambil dan dagingnya kaumasak pada suatu tempat yang kudus.

Haruslah Harun dan anak-anaknya memakan daging domba jantan itu serta roti yang ada di dalam bakul di depan pintu Kemah Pertemuan.

Haruslah mereka memakan semuanya itu yang dipakai untuk mengadakan pendamaian pada waktu mereka ditahbiskan dan dikuduskan, tetapi orang awam janganlah memakannya, sebab persembahan kudus semuanya itu.

Jika ada yang tinggal dari daging persembahan pentahbisan dan dari roti itu sampai pagi, haruslah kaubakar habis yang tinggal itu dengan api, janganlah dimakan, sebab persembahan kudus semuanya itu."
Keluaran 29:31–34 (TB)

Kembali kepada kurban pentahbisan yang kudus berupa domba jantan dan roti-roti, TUHAN menegaskan bahwa semuanya ini harus dimasak dan dimakan di tempat yang kudus dan hanya oleh orang-orang yang kudus, bukan oleh orang awam ("orang luar"; lihat Im. 22:10). Membakar sisa-sisa makanan tersebut mungkin dimaksudkan untuk mengurangi risiko pencemaran terhadap persembahan yang kudus.


Ringkasan (29:35)

"Maka haruslah kauperbuat demikian kepada Harun dan kepada anak-anaknya, tepat seperti yang Kuperintahkan kepadamu; selama tujuh hari haruslah kautahbiskan mereka."
Keluaran 29:35 (TB)

Proses pentahbisan akan berlangsung selama tujuh hari. Oleh karena angka tujuh melambangkan kepenuhan dan kesempurnaan (lihat Kej. 4:15; Im. 4:6), proses tujuh hari ini melambangkan pengudusan yang tuntas bagi para imam. Tampaknya kurban-kurban tersebut harus diulangi pada setiap hari dari ketujuh hari itu (lihat Kel. 29:36; Im. 8:31–35).


Mezbah Kurban Bakaran dan Korban-Korbannya (29:36–42)

"Tiap-tiap hari haruslah engkau mengolah seekor lembu jantan menjadi korban penghapus dosa untuk mengadakan pendamaian dan haruslah kausucikan mezbah itu, dengan mengadakan pendamaian baginya; haruslah engkau mengurapinya untuk menguduskannya.

Tujuh hari lamanya haruslah engkau mengadakan pendamaian bagi mezbah itu; haruslah engkau menguduskannya, maka mezbah itu akan menjadi maha kudus; setiap orang yang kena kepada mezbah itu akan menjadi kudus."

"Inilah yang harus kauolah di atas mezbah itu: dua anak domba berumur setahun, tetap tiap-tiap hari.

Domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi dan domba yang lain kauolah pada waktu senja.

Dan beserta domba yang satu kauolah sepersepuluh efa tepung yang terbaik dengan minyak tumbuk seperempat hin, dan korban curahan dari seperempat hin anggur.

Domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja; sama seperti korban sajian dan korban curahannya pada waktu pagi harus engkau mengolahnya sebagai persembahan yang harum, suatu korban api-apian bagi TUHAN,

suatu korban bakaran yang tetap di antara kamu turun-temurun, di depan pintu Kemah Pertemuan di hadapan TUHAN. Sebab di sana Aku akan bertemu dengan kamu, untuk berfirman kepadamu."
Keluaran 29:36–42 (TB)

Bersama-sama dengan para imam, mezbah juga menjadi kudus selama upacara pentahbisan, baik melalui kurban untuk penyucian maupun pengurapan untuk pengudusan (diduga dengan minyak urapan yang kudus) (29:36).[^54] Mezbah itu kini berstatus "maha kudus", yang berarti mezbah tersebut dapat meneruskan kekudusan ritual kepada siapa pun atau apa pun yang menyentuhnya (29:37).

Setelah dikuduskan, mezbah tersebut siap digunakan demi kepentingan bangsa Israel, yang merupakan hal yang sangat mendasar bagi hubungan mereka dengan Allah (lihat penjelasan pada 27:1–8). Salah satu kegunaan tersebut adalah mempersembahkan kurban bakaran harian demi kepentingan bangsa Israel. "Pertama kali diperintahkan dalam Keluaran 29:38–42 (bdk. Im. 6:8–13), bangsa Israel harus mempersembahkan kurban bakaran yang tetap berupa dua ekor anak domba setiap hari, seekor pada waktu pagi dan seekor lagi pada waktu senja. Bahan-bahan terbaik dituntut, baik untuk hewannya (anak domba berumur satu tahun yang tidak bercacat) maupun untuk kurban sajian dan kurban curahan yang menyertainya (tepung terbaik, minyak dari zaitun tumbuk,[^55] dan anggur). Ini adalah persembahan yang layak bagi Sang Raja."[^56] Terlebih lagi, karena kurban bakaran dapat mengadakan pendamaian sekaligus mengungkapkan pujian yang berharga mahal (lihat penjelasan pada 29:15–18), "hari-hari orang Israel . . . dibingkai, pada pagi dan senja hari, dengan doa bersama: 'Engkau, ya TUHAN Raja kami, berdiam di tengah-tengah kami dan layak menerima pujian kami yang paling berharga! Pandanglah kami dengan kemurahan! Ampunilah dosa kami! Terimalah puji-pujian kami dan dengarkanlah seruan kami memohon pertolongan!'"[^57] (Mengenai panggilan orang Kristen untuk mempersembahkan ibadah secara tetap melalui Yesus, lihat Ibr. 13:15–16).


Ringkasan Tujuan Kemah Suci (29:43–46)

"Di sanalah Aku akan bertemu dengan orang Israel, dan tempat itu akan dikuduskan oleh kemuliaan-Ku.

Aku akan menguduskan Kemah Pertemuan dan mezbah itu, lalu Harun dan anak-anaknya akan Kukuduskan supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku.

Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan Aku akan menjadi Allah mereka.

Maka mereka akan mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka; Akulah TUHAN, Allah mereka."
Keluaran 29:43–46 (TB)

Setelah berbicara mengenai persembahan harian yang akan dibawa ke hadapan-Nya di Kemah Pertemuan (29:42), TUHAN kembali menegaskan tujuan kemah tersebut: berfungsi sebagai tempat bagi-Nya untuk bertemu dengan orang Israel (29:43; bandingkan 25:8). Dia menjelaskan bahwa hadirat kemuliaan-Nya akan turun ke atas kemah itu dan menguduskannya (lihat 40:34–35) dan bahwa Dia akan menguduskan segala sesuatu yang terhubung dengannya sehingga Dia dapat "tinggal di tengah-tengah orang Israel dan . . . menjadi Allah mereka" (29:44–45). Frasa "Aku akan menjadi Allah mereka" menggunakan bentuk ungkapan Ibrani yang "serupa dengan ungkapan yang menggambarkan pengangkatan anak / adopsi (Kel. 2:10a) dan pernikahan (Kej. 24:67a), sehingga merujuk pada suatu relasi yang sangat intim dan erat. TUHAN tidak sekadar ingin berdiam di tengah-tengah bangsa Israel; tujuan-Nya sejak semula adalah relasi perjanjian (bdk. Kel. 6:7; 19:5; Ul. 4:20; 7:6; 26:18; 2Sam. 7:23–24)."[^58]

Dia menekankan hal ini sekali lagi pada bagian penutup, dengan menegaskan bahwa hadirat-Nya di tengah-tengah mereka akan membuktikan kepada bangsa Israel bahwa Dia menyelamatkan umat bukan semata-mata untuk membebaskan mereka, melainkan untuk mengenal mereka—dan agar mereka mengenal Dia (29:46). "Bagi TUHAN, penebusan selalu bertujuan demi terciptanya suatu relasi."[^59] Karena alasan inilah Yesus datang dalam rupa manusia untuk "berkemah / tinggal" di antara kita (Yoh. 1:14; bdk. Kel. 29:45–46), Allah berdiam di tengah-tengah gereja-Nya hari ini melalui Roh-Nya (2Kor. 6:16), dan pada akhir zaman Dia akan sekali lagi berdiam di tengah-tengah umat tebusan-Nya—menghapus segala air mata dari mata mereka (Why. 21:3–4).

Petunjuk Mengenai Perkakas-Perkakas Lain di Kemah Suci (30:1–38)


Mezbah Pembakaran Ukupan dari Emas (30:1–10)

"Haruslah kaubuat mezbah, tempat pembakaran ukupan; haruslah kaubuat itu dari kayu penaga;

sehasta panjangnya dan sehasta lebarnya, sehingga menjadi empat persegi, tetapi haruslah dua hasta tingginya; tanduk-tanduknya haruslah seiras dengan mezbah itu.

Haruslah kausalut itu dengan emas murni, bidang atasnya dan bidang-bidang sisinya sekelilingnya, serta tanduk-tanduknya. Haruslah kaubuat bingkai emas sekelilingnya.

Haruslah kaubuat dua gelang emas untuk mezbah itu di bawah bingkainya; pada kedua rusuknya haruslah kaubuat gelang itu, pada kedua bidang sisinya, dan haruslah gelang itu menjadi tempat memasukkan kayu pengusung, supaya dengan itu mezbah dapat diangkut.

Haruslah kaubuat kayu pengusung itu dari kayu penaga dan kausalutlah dengan emas.

Haruslah kautaruh tempat pembakaran itu di depan tabir penutup tabut hukum, di depan tutup pendamaian yang di atas loh hukum, di mana Aku akan bertemu dengan engkau.

Di atasnya haruslah Harun membakar ukupan dari wangi-wangian; tiap-tiap pagi, apabila ia membersihkan lampu-lampu, haruslah ia membakarnya.

Juga apabila Harun memasang lampu-lampu itu pada waktu senja, haruslah ia membakarnya sebagai ukupan yang tetap di hadapan TUHAN di antara kamu turun-temurun.

Di atas mezbah itu janganlah kamu persembahkan ukupan yang lain ataupun korban bakaran ataupun korban sajian, juga korban curahan janganlah kamu curahkan di atasnya.

Sekali setahun haruslah Harun mengadakan pendamaian di atas tanduk-tanduknya; dengan darah korban penghapus dosa pembawa pendamaian haruslah ia sekali setahun mengadakan pendamaian bagi mezbah itu di antara kamu turun-temurun; itulah barang maha kudus bagi TUHAN."
Keluaran 30:1–10 (TB)

Mengapa mezbah ini tidak diuraikan dalam Keluaran 25 bersama dengan perabot-perabot Ruang Kudus lainnya? Barangkali hal ini disebabkan oleh kesejajaran antara mezbah ini dan mezbah kurban bakaran yang baru saja disebutkan (bandingkan 29:36–37 dengan 30:10; 29:38–39 dengan 30:7–8; 29:42 dengan 30:6, 8). Singkatnya, benda-benda yang serupa dikelompokkan bersama-sama.

Dari segi bentuknya (30:1–5), mezbah ini berupa peti dari kayu penaga yang disalut dengan emas, setinggi 90 cm (3 kaki) dan berukuran 45 cm (1,5 kaki) persegi. Mezbah ini memiliki "tanduk-tanduk" pada keempat sudut atasnya (lihat penjelasan pada 27:2) serta "bingkai" dan gelang-gelang emas untuk membawanya dengan kayu pengusung (bandingkan 25:24, 26–28).

Dari segi penempatan dan tujuannya (30:6–8), mezbah ini berdiri di Ruang Kudus berhadapan dengan tabut perjanjian, yang berada di seberang tabir pemisah di Ruang Maha Kudus.[^60] Karena hadirat TUHAN tampak di atas tabut perjanjian (30:6), persembahan-persembahan di mezbah ini dinaikkan tepat di hadapan-Nya. Teks-teks Alkitab di kemudian hari mengibaratkan persembahan ukupan dengan doa (Mzm. 141:2; Why. 5:8), tetapi sejak di sini kita sudah dapat melihat bahwa tujuannya adalah mencari perkenanan dan pertolongan TUHAN, karena persembahan itu menghasilkan aroma yang menyenangkan bagi-Nya (bandingkan penjelasan pada Kel. 29:15–18) dan sejajar dengan kurban bakaran pagi dan senja (bandingkan penjelasan pada 29:36–42).

TUHAN melarang penggunaan ukupan yang tidak sah di atas mezbah tersebut (mengenai ukupan yang sah, lihat 30:34–38) serta jenis persembahan lainnya (hewan, bahan makanan, atau curahan) (30:9). Kita juga mengetahui bahwa suatu ritus pendamaian khusus akan dilaksanakan di atas tanduk-tanduknya setahun sekali (30:10; bandingkan penjelasan pada 29:10–14), yang diasumsikan, tetapi tidak diuraikan secara rinci, dalam petunjuk Hari Raya Pendamaian (Im. 16:16b).[^61] Hal ini akan mempertahankan status "maha kudus" dari mezbah tersebut dengan menyucikannya dari segala pencemaran yang diakibatkan oleh dosa dan kenajisan bangsa Israel, sehingga para imam dapat terus menggunakannya demi kepentingan bangsa Israel.[^62]


Bea Pendaftaran Penduduk / Uang Pendamaian (30:11–16)

"TUHAN berfirman kepada Musa:

'Apabila engkau menghitung jumlah orang Israel pada waktu mereka didaftarkan, maka haruslah mereka masing-masing mempersembahkan kepada TUHAN uang pendamaian karena nyawanya, pada waktu orang mendaftarkan mereka, supaya jangan ada tulah di antara mereka pada waktu pendaftarannya itu.

Inilah yang harus dipersembahkan tiap-tiap orang yang akan termasuk orang-orang yang terdaftar itu: setengah syikal, ditimbang menurut syikal kudus—syikal ini dua puluh gera beratnya—;setengah syikal itulah persembahan khusus kepada TUHAN.

Setiap orang yang akan termasuk orang-orang yang terdaftar itu, yang berumur dua puluh tahun ke atas, haruslah mempersembahkan persembahan khusus itu kepada TUHAN.

Orang kaya janganlah mempersembahkan lebih dan orang miskin janganlah mempersembahkan kurang dari setengah syikal itu pada waktu dipersembahkan persembahan khusus itu kepada TUHAN untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa kamu sekalian.

Dan haruslah engkau memungut uang pendamaian itu dari orang Israel dan menggunakannya untuk ibadah dalam Kemah Pertemuan; supaya itu menjadi peringatan di hadapan TUHAN untuk mengingat kepada orang Israel dan untuk mengadakan pendamaian bagi nyawa kamu sekalian.'"
Keluaran 30:11–16 (TB)

Melakukan sensus (pendaftaran penduduk) di Israel kuno dipandang sebagai tindakan yang berbahaya yang dapat mendatangkan penghakiman Allah yang mematikan (inilah arti dari kata "tulah" pada ay. 12; bdk. 12:13; Bil. 16:46–49). Alasannya tidak dijelaskan di bagian mana pun; berbagai dugaan bermunculan dan tetap menjadi sekadar dugaan. Apa pun alasan bahaya tersebut, dampaknya dapat dicegah melalui pembayaran "uang tebusan", yang merujuk pada pembayaran yang dilakukan oleh pihak yang bersalah untuk menyelamatkan nyawa mereka (lihat Kel. 21:29–30; Bil. 35:31–32). Pembayaran ini di sini disebut "uang pendamaian" (atonement money) karena penebusan merupakan inti dari pendamaian dan karena uang tersebut mengadakan pendamaian bagi nyawa orang-orang Israel (Kel. 30:16).[^63] Uang tersebut digunakan untuk membuat berbagai komponen Kemah Suci (lihat 38:25–27) yang akan membawa orang-orang Israel "menjadi peringatan di hadapan TUHAN"; artinya, komponen-komponen tersebut akan menjadi pengingat yang terlihat di Kemah Suci akan permohonan pendamaian bangsa Israel serta perlindungan dan perkenanan TUHAN (lihat penjelasan pada 28:12).

Bea tersebut sebesar setengah syikal perak—kira-kira 5,5 hingga 6 gram (0,2 ons)—dan "syikal kudus" adalah standar yang ditetapkan, sehingga menjamin takaran yang konsisten (30:13). Bea ini harus diberikan oleh setiap orang yang terhitung dalam sensus untuk wajib militer (lihat Bil. 1:3). Fakta bahwa setiap orang harus memberikan jumlah yang sama, baik orang kaya maupun orang miskin (Kel. 30:15), menyatakan kebenaran bahwa semua orang menyandang rupa Allah (gambar Allah) dan memiliki nilai yang setara di mata-Nya.


Bejana Pembasuhan dari Tembaga (30:17–21)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

'Haruslah engkau membuat bejana dan juga alasnya dari tembaga, untuk pembasuhan, dan kautempatkanlah itu antara Kemah Pertemuan dan mezbah, dan kautaruhlah air ke dalamnya.

Maka Harun dan anak-anaknya haruslah membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari dalamnya.

Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban api-apian bagi TUHAN,

haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati. Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya, bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun.'"
Keluaran 30:17–21 (TB)

Tangan dan kaki para imam berpotensi bersentuhan dengan kenajisan ritual dari dunia di sekitar mereka. Membasuh dengan air merupakan salah satu sarana penyucian (lihat Im. 22:6). Dengan melakukan pembasuhan sebelum memasuki Kemah Suci TUHAN atau melayani di mezbah-Nya (Kel. 30:20), para imam menghormati-Nya sebagai Allah yang kudus yang menuntut kemurnian dalam seluruh kehidupan, bukan hanya secara ritual, melainkan juga secara moral (lihat penjelasan pada 28:1–4). Jika mereka lalai melakukannya, mereka menghujat Allah dengan memperlakukan-Nya seolah-olah Dia adalah Allah yang tidak memedulikan kemurnian. Kelalaian ini akan berujung pada penghakiman yang mematikan yang menegaskan bahwa mereka telah melakukan pengkhianatan terhadap Raja segala raja (30:20–21). TUHAN harus dihormati oleh semua orang, terutama oleh mereka yang memimpin umat-Nya (bdk. 1Sam. 2:27–36; 3:10–14).

Air tersebut ditempatkan dalam sebuah bejana tembaga dan alasnya yang diletakkan di antara mezbah dan kemah (30:18). Tembaga tersebut berasal dari cermin-cermin tembaga tempaan milik para perempuan "yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan" (38:8). Dalam bahasa Ibrani, ungkapan serupa digunakan untuk menggambarkan pekerjaan non-keimaman yang dilakukan oleh kaum laki-laki Lewi (Bil. 4:23; 8:24), yang mengindikasikan bahwa para perempuan ini pun turut membantu dalam tugas-tugas non-keimaman demi memastikan kelangsungan Kemah Suci dan ibadah di dalamnya. Mengingat tingginya nilai logam di Timur Dekat Kuno, persembahan dari para perempuan tersebut sungguh sangat berharga dan mahal, yang mencerminkan kedalaman pengabdian dan kasih mereka yang sejati (bdk. Yoh. 12:3–9).


Minyak Urapan yang Kudus dan Ukupan yang Kudus (30:22–38)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

'Ambillah rempah-rempah pilihan, mur tetesan lima ratus syikal, dan kayu manis yang harum setengah dari itu, yakni dua ratus lima puluh syikal, dan tebu yang baik dua ratus lima puluh syikal,

dan kayu teja lima ratus syikal, ditimbang menurut syikal kudus, dan minyak zaitun satu hin.

Haruslah kaubuat semuanya itu menjadi minyak urapan yang kudus, suatu campuran rempah-rempah yang dicampur dengan cermat seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah; itulah yang harus menjadi minyak urapan yang kudus.

Haruslah engkau mengurapi dengan itu Kemah Pertemuan dan tabut hukum,

meja dengan segala perkakasnya, kandil dengan perkakasnya, dan mezbah pembakaran ukupan;

mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya.

Haruslah kaukuduskan semuanya, sehingga menjadi maha kudus; setiap orang yang kena kepadanya akan menjadi kudus.

Engkau harus juga mengurapi dan menguduskan Harun dan anak-anaknya supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku.

Dan kepada orang Israel haruslah kaukatakan demikian: Inilah yang harus menjadi minyak urapan yang kudus bagi-Ku di antara kamu turun-temurun.

Kepada badan orang biasa janganlah minyak itu dicurahkan, dan janganlah kaubuat minyak yang semacam itu dengan memakai campuran itu juga: itulah minyak yang kudus, dan haruslah itu kudus bagimu.

Orang yang mencampur rempah-rempah menjadi minyak yang semacam itu atau yang membubuhnya pada badan orang awam, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.'

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Ambillah wangi-wangian, yakni getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi-wangian itu serta kemenyan yang tulen, masing-masing sama banyaknya.

Semuanya ini haruslah kaubuat menjadi ukupan, suatu campuran rempah-rempah, seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah, digarami, murni, kudus.

Sebagian dari ukupan itu haruslah kaugiling sampai halus, dan sedikit dari padanya kauletakkanlah di hadapan tabut hukum di dalam Kemah Pertemuan, di mana Aku akan bertemu dengan engkau; haruslah itu maha kudus bagimu.

Dan tentang ukupan yang harus kaubuat menurut campuran yang seperti itu juga janganlah kamu buat bagi kamu sendiri; itulah bagian untuk TUHAN, yang kudus bagimu.

Orang yang akan membuat minyak yang semacam itu dengan maksud untuk menghirup baunya, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.'"
Keluaran 30:22–38 (TB)

Di Israel kuno, rempah-rempah merupakan barang yang sangat mahal harganya karena membutuhkan proses pembuatan yang padat karya dan kerap kali harus didatangkan dari negeri-negeri yang jauh. Harganya sedemikian mahal sehingga rempah-rempah dapat dibawa sebagai persembahan bagi para raja dan sering kali disebutkan berdampingan dengan hadiah-hadiah mewah seperti emas (1Raj. 10:10; Yes. 60:6). (Hal ini berlanjut hingga ke zaman Perjanjian Baru: orang-orang majus mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur kepada Raja Yesus yang baru lahir [Mat. 2:11]). Hal ini berarti bahwa minyak urapan yang kudus dan ukupan yang kudus, yang keduanya mengandung berbagai macam rempah, sangat layak untuk digunakan di dalam kemah-istana milik Raja Israel yang kudus, yaitu TUHAN.

Minyak urapan dibuat dari sekitar 17 kg (37 pon) rempah-rempah dan 3,8 liter (1 galon) minyak zaitun (30:23–24). Rempah-rempah tersebut kemungkinan direndam dalam air dan minyak, kemudian airnya dididihkan hingga menguap habis, atau minyaknya disaring dari permukaannya untuk mendapatkan minyak yang telah diperkaya dengan sari rempah-rempah tersebut.[^64] Ini merupakan proses yang rumit, yang menjelaskan mengapa dibutuhkan keahlian seorang juru campur rempah-rempah (30:25).

Minyak ini secara istimewa kudus dan digunakan untuk mengurapi Kemah Suci beserta segala perabotnya, menjadikannya kudus secara ritual dan oleh sebab itu layak sebagai istana dan perabot TUHAN (30:26–29). Minyak tersebut juga dibubuhkan ke atas Harun dan anak-anaknya, menguduskan mereka secara ritual sehingga mereka layak melayani TUHAN yang kudus di pelataran-pelataran-Nya yang kudus (30:30). Tentu saja, kekudusan ritual tersebut harus diimbangi dengan kekudusan moral. Mereka yang dikhususkan oleh TUHAN sebagai umat yang kudus dituntut untuk hidup selaras dengan status kekudusan tersebut (bdk. 2Kor. 6:16–7:1).

Oleh karena minyak ini adalah minyak urapan kudus kepunyaan TUHAN, minyak ini hanya boleh digunakan di dalam istana-Nya dan untuk tujuan-tujuan-Nya semata. Siapa pun yang meramunya dan membubuhkannya pada "orang biasa" (ordinary person)—artinya orang "awam" di luar keluarga keimaman—telah menyalahgunakan minyak TUHAN untuk tujuan yang tidak pernah Dia kehendaki. Tindakan ini merupakan bentuk ketidaksetiaan yang berat dan akan menghadapi hukuman yang sama beratnya: "dilenyapkan dari antara bangsanya" (30:31–33), yang mungkin merujuk pada pengucilan (excommunication) namun dapat pula mencakup hukuman mati itu sendiri (bandingkan 31:14). Bagaimanapun juga, ketidaksetiaan kepada Sang Raja berarti dipisahkan dari umat-Nya.

Mengenai ukupan yang kudus, ukupan itu harus ditaruh di dekat mezbah pembakaran ukupan di dalam Kemah Pertemuan (bandingkan 30:36 dengan 30:6) dan dipersembahkan dua kali sehari kepada TUHAN (lihat 30:7–8), sebagai sarana untuk mencari perkenanan-Nya (lihat penjelasan pada 30:6–8). Bersama-sama dengan rempah-rempah itu, ukupan tersebut harus "diasini" (30:35), sama seperti semua persembahan lainnya, karena garam berfungsi sebagai pengingat akan sifat kekal dari hubungan perjanjian antara bangsa Israel dan TUHAN (Im. 2:13; Bil. 18:19; mengapa garam berfungsi sebagai pengingat semacam ini tidak dijelaskan secara pasti). Sama seperti minyak urapan, ukupan ini dianggap sebagai milik kepunyaan TUHAN yang khusus, dan mereka yang membuatnya untuk kepentingan pribadi menghadapi hukuman yang sama seperti di atas: dilenyapkan dari antara bangsanya (Kel. 30:37–38).

Para Ahli Kriya Kemah Suci yang Dikaruniai Roh Allah (31:1–11)

Lalu, siapakah yang akan membuat segala perabot, bahan-bahan, dan pakaian keimaman Kemah Suci yang indah tersebut? Mereka yang telah dikaruniai kemampuan ilahi untuk melakukannya, sebagaimana yang kini dijelaskan oleh TUHAN.


"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

'Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda,

dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan,

untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga;

untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan.

Juga Aku telah menetapkan di sampingnya Aholiab bin Ahisamakh, dari suku Dan; dalam hati setiap orang ahli telah Kuberikan keahlian. Haruslah mereka membuat segala apa yang telah Kuperintahkan kepadamu:

Kemah Pertemuan, tabut untuk hukum, tutup pendamaian yang terletak di atasnya, dan segala perabotan kemah itu,

yakni meja dengan perkakasnya, kandil dari emas murni dengan segala perkakasnya, mezbah pembakaran ukupan,

mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya,

pakaian jabatan, baik pakaian kudus kepunyaan imam Harun, maupun pakaian anak-anaknya, untuk memegang jabatan imam,

minyak urapan dan ukupan dari wangi-wangian untuk tempat kudus; tepat seperti yang telah Kuperintahkan kepadamu haruslah mereka membuat semuanya.'"
Keluaran 31:1–11 (TB)

Bezaleel (31:1–5)

Kepala ahli kriya utama adalah Bezaleel, dari suku Yehuda dan memiliki hubungan kekerabatan dengan Hur (31:1–2), yang mungkin merupakan Hur yang sama seperti yang telah disebutkan sebelumnya (lihat 17:10–13). TUHAN berfirman, "telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah" (31:3a), yang dalam konteks ini tidak merujuk pada keselamatan (meskipun kita dapat mengasumsikan bahwa Bezaleel memiliki iman yang sejati), melainkan pada pengaruniaan ilahi: TUHAN secara ilahi telah mengaruniakan kepada Bezaleel hikmat,[^65] pengertian, dan pengetahuan untuk mengerjakan segala macam keahlian pertukangan dan kriya (31:3–5). Hal ini berarti bahwa karya para pengrajin dan seniman berada di dalam lingkup keterlibatan serta perhatian Allah; Dia mengaruniakan keahlian kepada tukang kayu sama seperti kepada seorang pengkhotbah, yang menjadikan kedua pekerjaan tersebut sebagai panggilan yang kudus (bdk. 1Tim. 4:4–5). Ayat 5 juga mengajarkan bahwa hikmat dan kecerdasan tidak semata-mata merujuk pada kepemilikan IQ yang tinggi; hal itu mencakup pula kemampuan seseorang untuk berkarya dengan terampil menggunakan kedua tangannya. Oleh karena itu, kita harus menghargai dan menghormati berbagai jenis kecerdasan, terutama jika masyarakat kita lebih mengutamakan IQ tinggi sebagai satu-satunya hal yang benar-benar bernilai.


Aholiab (31:6a)

Aholiab, dari suku Dan, adalah rekan sesama ahli kriya utama bagi Bezaleel. Bagian teks di kemudian hari menguraikan bidang keahlian khususnya, yang saling melengkapi keahlian Bezaleel (bandingkan 38:23 dengan 31:4–5). Bersama-sama, mereka dapat mengawasi seluruh pekerjaan pembangunan Kemah Suci serta mengajar para ahli kriya berbakat lainnya yang bekerja di bawah bimbingan mereka (lihat 35:34).


Ahli Kriya Berbakat Lainnya (31:6b)

Para ahli kriya tersebut dijelaskan secara singkat. TUHAN kembali menegaskan bahwa Dialah yang telah mengaruniakan kepada mereka hikmat yang diperlukan untuk pekerjaan itu: "Dan ke dalam hati setiap orang yang bijak hatinya, telah Kutaruh hikmat, supaya mereka dapat membuat segala apa yang telah Kuperintahkan" (31:6b, terjemahan penulis; lihat catatan kaki 1). Ayat-ayat selanjutnya di dalam Kitab Keluaran memperjelas bahwa pengaruniaan ini berlaku bagi kaum perempuan sama seperti kaum laki-laki (35:25–26).


Barang-Barang yang Harus Dibuat (31:7–11)

TUHAN sekarang memerinci berbagai perkakas Kemah Suci yang telah diperintahkan-Nya untuk dibuat (31:7–11a). Dia juga mengawali dan mengakhiri daftar tersebut dengan menyatakan bahwa segala sesuatu ini harus dibuat tepat menurut perintah-Nya (31:6c, 11b), yang menggarisbawahi pentingnya ketaatan dalam segala hal. Seseorang menghormati seorang raja dengan cara menaati perintah-perintahnya secara saksama dan tepat.

Pentingnya Memelihara Hari Sabat sebagai Tanda Perjanjian (31:12–17)

Jika Kemah Suci harus dihormati sebagai ruang yang kudus, maka hari Sabat harus dihormati sebagai waktu yang kudus. Bagian ini memaparkan alasan-alasan untuk menghormatinya dan menjelaskan hukuman bagi mereka yang menodai kekudusannya.


"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

'Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu.

Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya.

Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi TUHAN: setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat, pastilah ia dihukum mati.

Maka haruslah orang Israel memelihara hari Sabat, dengan merayakan sabat, turun-temurun, menjadi perjanjian kekal.

Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.'"
Keluaran 31:12–17 (TB)

Perintah dan Alasan Pertama (31:12–13)

TUHAN mengkhususkan bangsa Israel sebagai umat kepunyaan-Nya yang istimewa ("menguduskan" mereka). Mereka harus memelihara hari Sabat sebagai sebuah "tanda" dari hubungan ini. Ketika TUHAN mengadakan perjanjian dengan seseorang, Dia sering kali menetapkan suatu "tanda" untuk melambangkan perjanjian tersebut, seperti pelangi dengan Nuh (Kej. 9:12, 13, 17) atau sunat dengan Abraham (Kej. 17:11). Untuk menggunakan analogi modern, sebagaimana cincin pernikahan melambangkan perjanjian pernikahan, memelihara hari Sabat melambangkan perjanjian bangsa Israel dengan TUHAN. Bagaimanapun juga, Dia beristirahat pada hari ketujuh setelah karya penciptaan-Nya (31:17). Bangsa Israel menunjukkan bahwa mereka mengikut Dia dengan cara meneladani ritme mingguan mereka seturut ritme mingguan-Nya.


Perintah, Alasan Kedua, dan Hukuman (31:14–15)

Bangsa Israel juga harus memelihara hari Sabat karena TUHAN telah menguduskannya sebagai hari yang kudus. Kegagalan untuk memeliharanya berarti menolak perjanjian dan Tuhan dari perjanjian itu, serta mencemarkan milik kudus-Nya. "Oleh karena itu, hukumannya sepadan dengan pelanggarannya . . . Mereka yang menolak tanda perjanjian dikucilkan dari komunitas perjanjian. Mereka yang menodai apa yang kudus mengalami penghakiman dari Yang Mahakudus. Mereka yang menolak Raja perjanjian mengalami hukuman yang lazim dijatuhkan kepada para pengkhianat: kematian itu sendiri. Karena telah menolak Sang Pencipta bumi, pihak yang bersalah telah menolak hak mereka untuk hidup di dalam ciptaan-Nya."[^66]


Perintah dan Alasan Pertama (31:16–17)

Ayat-ayat ini mengulangi alasan yang telah diberikan dalam 31:12–13 dan menguraikannya lebih lanjut, dengan memperkenalkan kembali gagasan tentang perhentian/istirahat (untuk penjelasan terperinci, lihat ulasan pada 20:8–11; 23:12). (Gagasan mengenai "perhentian" ini diangkat kembali di dalam Perjanjian Baru, yang melambangkan keselamatan yang kita alami melalui iman kepada Yesus, Tuhan atas hari Sabat dan Pribadi yang menganugerahkan perhentian kekal bagi kita; lihat Ibr. 3–4, khususnya 4:9.) Pernyataan bahwa TUHAN "berhenti bekerja untuk beristirahat" (31:17) tidaklah berarti bahwa Dia menjadi lelah (bdk. Yes. 40:28). TUHAN menggunakan penggambaran yang sangat manusiawi untuk memperjelas hal ini: "Jika TUHAN yang mahakuasa saja berhenti dari karya-Nya pada hari ketujuh, terlebih lagi makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lemah dan terbatas harus melakukan hal yang sama."

TUHAN Memberikan Loh-Loh Batu Perjanjian (31:18)

"Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah."
Keluaran 31:18 (TB)

Untuk saat ini, TUHAN telah selesai memberikan petunjuk-petunjuk kepada Musa. Karena itu, Dia memberikan kepadanya dua loh batu yang memuat "kesaksian", yaitu perintah-perintah perjanjian (bandingkan 25:16) yang ditulis oleh TUHAN sendiri. Kita kemudian mengetahui bahwa loh-loh ini secara khusus memuat Sepuluh Firman (34:28), sebuah rangkuman yang tepat bagi keseluruhan perjanjian tersebut.

Di Timur Dekat Kuno, dua pihak yang mengikat suatu perjanjian terkadang membuat dua salinan perjanjian—satu untuk masing-masing pihak—dan kemudian masing-masing menempatkan salinan mereka di dalam sebuah kuil agar ilah mereka masing-masing dapat bertindak sebagai saksi atas perjanjian tersebut. Jika hal yang sama berlaku di sini, maka setiap loh batu—salinan bagi bangsa Israel dan salinan bagi TUHAN—memuat salinan dari Sepuluh Firman, dan kedua loh tersebut diletakkan bersama-sama di dalam tabut perjanjian, tempat TUHAN sendiri bertakhta sebagai saksi ilahi.[^67]

Setelah menerima loh-loh batu tersebut, Musa kini turun dari gunung untuk menemui bangsanya. Apa yang akan segera ia dapati merupakan salah satu peristiwa paling tragis di dalam seluruh kitab ini.


VII. Bangsa Israel di Sinai: Pengkhianatan Umat dan Pembaruan Perjanjian (32:1–34:35)

Kisah ini kini terjerumus ke dalam kehancuran. Melalui penyembahan anak lembu emas, bangsa Israel mengkhianati dan melanggar perjanjian, suatu kenyataan yang dicerminkan oleh Musa ketika ia memecahkan loh-loh batu perjanjian (32:19). Namun, ia juga berupaya untuk memulihkan hubungan perjanjian tersebut, yang berpusat pada empat kali tindakan doa syafaat demi kepentingan bangsa Israel. Dan sekalipun doa-doa Musa efektif, alasan utama dipulihkannya perjanjian tersebut adalah karena TUHAN "berlimpah kasih setia dan setia-Nya . . . mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa" (34:6–7). Kasih-Nya yang penuh rahmat dan setia itulah yang memungkinkan hubungan perjanjian antara diri-Nya dan umat yang berdosa dapat terus berlanjut.


Penyembahan Anak Lembu Emas, Murka TUHAN, dan Syafaat Musa (32:1–14)

Bangsa Israel Menyembah Anak Lembu Emas (32:1–6)

"Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: 'Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir—kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.'

Lalu berkatalah Harun kepada mereka: 'Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku.'

Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun.

Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: 'Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!'

Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: 'Besok hari raya bagi TUHAN!'

Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria."
Keluaran 32:1–6 (TB)

Penjelasan mengenai Kemah Suci selama enam pasal sebelumnya memberi kita pengharapan bahwa TUHAN akan segera berdiam di tengah-tengah umat-Nya. Pengharapan tersebut kini hancur lebur saat bangsa itu meninggalkan perjanjian dengan membuat dan menyembah seekor anak lembu emas.

Bangsa itu menyimpulkan bahwa Musa mungkin tidak akan kembali lagi, yang tampaknya memicu ketakutan dan rasa tidak aman mereka mengenai masa depan (32:1). Musa adalah penghubung mereka kepada Allah; tanpa kehadirannya, mereka membutuhkan penghubung yang lain. Selaras dengan kebudayaan Timur Dekat Kuno mereka, sebuah berhala merupakan cara yang paling lumrah untuk melakukan hal ini, sehingga mereka "berkumpul mengerumuni" Harun—istilah ini di tempat lain mengandung nada ancaman (Bil. 16:3, 42)—dan menuntut agar ia membuatkan bagi mereka ilah.[^68]

Setelah mengumpulkan perhiasan-perhiasan emas dari mereka, Harun—yang telah diserahi tanggung jawab kepemimpinan (24:14)—membentuk seekor "anak lembu", yang dapat merujuk pada hewan yang masih sangat muda tetapi juga pada hewan berumur tiga tahun (32:2–4; bdk. Kej. 15:9) dan karenanya berarti seekor lembu jantan muda. Hal ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan, karena berhala-berhala berbentuk lembu jantan lazim digunakan dalam penyembahan Mesir dan Kanaan. Alih-alih menjadi terang bagi bangsa-bangsa, bangsa Israel justru meniru mereka dalam penyembahan berhala dan bahkan melangkah teramat jauh hingga menghubungkan karya keselamatan TUHAN dengan berhala yang baru saja didirikan itu (32:4). Tindakan ini merupakan penghujatan sekaligus pengkhianatan tingkat tinggi.

Ketika Harun berkata bahwa keesokan harinya adalah hari raya "bagi TUHAN" (32:5), ia mungkin bermaksud mengatakan, "Anggaplah lembu jantan ini sebagai gambar dari TUHAN dan dengan demikian tetaplah setia kepada-Nya." Namun, hal itu sama saja dengan menyuruh seorang pria untuk tetap setia kepada istrinya dengan menganggap perempuan lain sebagai istrinya; cara itu sama sekali keliru. Sebagaimana yang akan ditegaskan oleh TUHAN, bangsa Israel sedang menyembah anak lembu itu, bukan diri-Nya (32:8). Mereka kini telah melanggar perintah pertama dan kedua dari hukum perjanjian (20:3, 4–5), sehingga menghancurkan perjanjian itu berkeping-keping. Dan mereka melakukannya dengan penuh sukacita, disertai nyanyian dan tarian liar yang dipicu oleh minuman keras hingga terdengar menyerupai suara peperangan (32:6, 17–18).


TUHAN Menetapkan Pembinasaan Mereka (32:7–10)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya.

Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.'

Lagi firman TUHAN kepada Musa: 'Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk.

Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar.'"
Keluaran 32:7–10 (TB)

Dalam ironi yang tragis, TUHAN baru saja selesai memberikan kepada Musa loh-loh batu yang bertuliskan hukum perjanjian, perjanjian yang persis baru saja dilanggar oleh bangsa Israel. Dia memerintahkan Musa untuk segera turun kembali ke perkemahan. Pilihan kata yang digunakan-Nya sangat menggentarkan. Di dalam Kitab Keluaran, TUHAN biasanya menggambarkan Israel sebagai "umat-Ku" (3:7, 10; 5:1; dll.), namun di sini Dia berfirman kepada Musa, "Bangsamu . . . telah rusak lakunya" (32:7, penekanan dari penulis). Dia seolah menyiratkan bahwa hubungan perjanjian itu bukan hanya sekadar rusak, melainkan telah berakhir.

Karena bangsa Israel begitu keras kepala, tidak mau diajar, dan berkeras dalam jalan dosa mereka ("tegar tengkuk"), murka TUHAN yang berkobar-kobar akan menghanguskan mereka bagaikan api, dan TUHAN akan memulai kembali janji-janji kepada para bapa leluhur dari awal, kali ini bersama keturunan Abraham yaitu Musa (bandingkan 32:10 dengan Kej. 12:2). Namun, dalam menyampaikan ancaman tersebut, Dia sebenarnya juga mengundang Musa untuk memohon syafaat. Perhatikan bahwa perkataan-Nya "Oleh sebab itu biarkanlah Aku" (32:10) tidak akan diperlukan seandainya TUHAN telah menetapkan secara mutlak bahwa pembinasaan total pasti terjadi. Sama seperti TUHAN memberitahukan kepada Abraham tentang penghakiman yang akan datang agar Abraham dapat bersyafaat demi Sodom (Kej. 18:16–33), Dia memberitahukan kepada Musa mengenai penghakiman yang akan datang agar Musa dapat memohon syafaat demi bangsa Israel,[^69] dan itulah yang persis dilakukan oleh Musa.


Musa Memohon Syafaat bagi Bangsa Itu (32:11–14)

"Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: 'Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?

Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu.

Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.'

Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya."
Keluaran 32:11–14 (TB)

Di dalam pasal-pasal ini, ini merupakan kali pertama dari empat rangkaian doa syafaat yang dipanjatkan Musa demi kepentingan bangsa Israel (sebuah gambaran akan karya syafaat Yesus Kristus yang jauh lebih agung bagi kita, Ibr. 7:25). Musa sama sekali tidak mengungkit atau mendasarkan permohonannya pada kebenaran moral bangsa itu; tidak ada hal baik apa pun dari diri mereka yang dapat diajukan. Sebaliknya, ia memulai dengan memaparkan dampak buruk jika bangsa Israel dimusnahkan: hal itu akan membatalkan karya penebusan dahsyat yang baru saja dilakukan TUHAN, dan orang-orang Mesir akan memandang TUHAN sama seperti ilah-ilah kerdil dan pendendam lainnya (Kel. 32:11–12). Musa mengakhiri doanya dengan mengingatkan TUHAN akan janji-janji-Nya kepada para bapa leluhur yang telah Dia teguhkan dengan sumpah demi diri-Nya sendiri (32:13; lih. Kej. 22:16; Ibr. 6:13). Sepanjang doanya, ia menyelipkan permohonan yang mengingatkan: "Mereka ini bukan sekadar bangsaku (32:7), melainkan umat-Mu" (32:11, 12, penekanan dari penulis), dan karena itu adalah sasaran yang sewajarnya bagi rahmat dan belas kasihan TUHAN.

TUHAN mendengarkan doa Musa dan membatalkan ancaman-Nya untuk membinasakan mereka secara total (32:14). (Sebagaimana Amsal mengingatkan kita, "TUHAN mendengarkan doa orang benar" [15:29; lih. juga Yak. 5:16–18].) Namun, Dia tidak berjanji untuk menarik kembali seluruh bentuk disiplin atau penghakiman, sebuah hal yang akan segera dibahas dalam kelanjutan kisah ini.

Musa Menghancurkan Patung Berhala, Menegur Harun, dan Menyerukan Penghakiman (32:15–29)

Musa Menghancurkan Patung Berhala (32:15–20)

"Setelah itu berpalinglah Musa, lalu turun dari gunung dengan kedua loh hukum Allah dalam tangannya, loh-loh yang bertulis pada kedua sisinya; bertulis sebelah-menyebelah.

Kedua loh itu ialah pekerjaan Allah dan tulisan itu ialah tulisan Allah, ditukik pada loh-loh itu.

Ketika Yosua mendengar suara bangsa itu bersorak, berkatalah ia kepada Musa: 'Ada bunyi sorak peperangan kedengaran di perkemahan.'

Tetapi jawab Musa: 'Bukan bunyi nyanyian kemenangan, bukan bunyi nyanyian kekalahan—bunyi orang menyanyi berbalas-balasan, itulah yang kudengar.'

Dan ketika ia dekat ke perkemahan itu dan melihat anak lembu dan melihat orang menari-nari, maka bangkitlah amarah Musa; dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu.

Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel."
Keluaran 32:15–20 (TB)

Musa sekarang turun dari gunung untuk melihat sendiri apa yang terjadi (32:15a). Kita diberi tahu secara terperinci mengenai kedua loh batu perjanjian tersebut, dengan penekanan bahwa Allah sendiri adalah pembuatnya dan Pribadi yang menulis di atasnya (32:15b–16). Hal ini berarti loh-loh tersebut bukanlah sesuatu yang dapat dihancurkan begitu saja tanpa alasan yang teramat serius (lih. 32:19b).

Yosua, yang telah naik ke gunung bersama Musa (24:13), kini kembali memasuki narasi untuk berkomentar bahwa kegaduhan dari perkemahan itu begitu riuh sehingga pasti merupakan tanda peperangan (32:17)! Musa menjawab bahwa itu bukanlah peperangan, melainkan nyanyian—pesta pora yang riuh dan liar (32:18).

Ketika perkemahan itu mulai terlihat dan Musa menyaksikan bangsa itu dalam ibadah liar dan pesta pora mereka, ia bereaksi persis seperti yang dilakukan TUHAN sebelumnya: "bangkitlah amarah Musa" (32:19a; bandingkan 32:10). Menyadari bahwa bangsa itu telah melanggar perjanjian, Musa melukiskannya secara nyata dan gamblang dengan menghancurkan loh-loh batu perjanjian tersebut (32:19b). Menghancurkan karya buatan tangan Allah sendiri (lih. 32:15–16) menggarisbawahi betapa seriusnya pemberontakan orang Israel. Ia kemudian menghancurkan patung anak lembu emas itu (bdk. 2Raj. 23:15), menumbuknya hingga lumat dan menaburkannya ke dalam air minum bangsa Israel (32:20). Ini bukanlah ilah yang menyelamatkan; ini hanyalah sebuah patung kecil yang tak berdaya.


Musa Menegur Harun (32:21–24)

"Lalu berkatalah Musa kepada Harun: 'Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu, sehingga engkau mendatangkan dosa yang sebesar itu kepada mereka?'

Tetapi jawab Harun: 'Janganlah bangkit amarah tuanku; engkau sendiri tahu, bahwa bangsa ini jahat semata-mata.

Mereka berkata kepadaku: Buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir—kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.

Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini.'"
Keluaran 32:21–24 (TB)

Musa kini mengalihkan perhatiannya kepada Harun. Karena Musa telah memercayakan tanggung jawab kepemimpinan kepada Harun (24:14), Harun adalah pihak yang bertanggung jawab pada akhirnya, dan Musa menuntut penjelasan darinya (32:21). Penjelasan Harun mengenai peran bangsa itu dalam "dosa yang sebesar itu" sangat lengkap dan terperinci (32:22–23). Namun, penjelasannya mengenai perannya sendiri berusaha mengelak dari segala tanggung jawab dan berakhir dengan sangat konyol (32:24). "Banyak dari kita dapat merasakan kesamaan dengan sikap Harun yang berdalih dan penuturannya yang pilih-pilih. Jauh lebih mudah untuk memaparkan dosa orang lain secara terperinci daripada mengakui dosa kita sendiri."[^70]


Musa Menyerukan Penghakiman (32:25–29)

"Ketika Musa melihat, bahwa bangsa itu seperti kuda terlepas dari kandang—sebab Harun telah melepaskannya, sampai menjadi buah cemooh bagi lawan mereka—

maka berdirilah Musa di pintu gerbang perkemahan itu serta berkata: 'Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!' Lalu berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi.

Berkatalah ia kepada mereka: 'Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Baiklah kamu masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalanlah kian ke mari melalui perkemahan itu dari pintu gerbang ke pintu gerbang, dan biarlah masing-masing membunuh saudaranya dan temannya dan tetangganya.'

Bani Lewi melakukan seperti yang dikatakan Musa dan pada hari itu tewaslah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu.

Kemudian berkatalah Musa: 'Baktikanlah dirimu mulai hari ini kepada TUHAN, masing-masing dengan membayarkan jiwa anaknya laki-laki dan saudaranya—yakni supaya kamu diberi berkat pada hari ini.'"
Keluaran 32:25–29 (TB)

Melihat bahwa bangsa itu telah "seperti kuda terlepas dari kandang" dari segala pengekang moral yang wajar—tanggung jawab Harun atas hal ini sekali lagi ditekankan (32:25)—Musa mengambil tindakan yang tegas dan berani. Sambil berdiri di salah satu pintu gerbang perkemahan, ia memberi bangsa itu kesempatan untuk mengambil sikap memihak kepada TUHAN (32:26a). Hanya suku Lewi yang menyambut panggilan tersebut, dan Musa meneruskan perintah TUHAN kepada mereka untuk melaksanakan hukuman atas bangsa yang menyembah berhala itu tanpa menyayangkan bahkan keluarga atau sahabat sekalipun (32:26b–27). Bani Lewi taat dan menewaskan tiga ribu orang (32:28). (Mereka ini kemungkinan besar adalah orang-orang yang memimpin pemberontakan tersebut atau berada di pusatnya, mengingat bangsa itu secara keseluruhan—yang berjumlah jauh lebih banyak—telah terlibat dalam penyembahan berhala.) Ketaatan tersebut menuntut pengorbanan yang sangat besar dari pihak kaum Lewi, yang harus memilih antara kesetiaan kepada Allah dan kesetiaan kepada keluarga serta sahabat (32:29), suatu pilihan yang juga dinyatakan oleh Yesus harus diambil oleh para pengikut-Nya (lih. Mat. 10:37; Luk. 14:26). Namun, ketaatan mereka juga menghasilkan pengudusan suku mereka untuk pelayanan khusus bagi Allah dan menerima berkat-Nya (32:29; bdk. Ul. 33:8–9). (Mengenai kejahatan makar atau pengkhianatan berat terhadap perjanjian sebagai pelanggaran yang diganjar hukuman mati, lihat ulasan pada 21:12–17.)

Doa Syafaat Kedua dan Pembaruan Janji Tanah (32:30–33:6)

Meskipun TUHAN telah menyatakan dengan jelas bahwa Dia tidak akan membinasakan seluruh bangsa itu (32:14), dan meskipun tindakan penghakiman awal telah dilaksanakan (32:28), sejumlah pertanyaan masih tersisa: Apakah penghakiman selanjutnya akan datang? Dan adakah kemungkinan TUHAN akan tetap mengaruniakan janji-janji perjanjian kepada suatu bangsa yang telah melanggar perjanjian tersebut?


Musa Memohonkan Syafaat bagi Bangsa Itu (32:30–32)

"Keesokan harinya berkatalah Musa kepada bangsa itu: 'Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu.'

Lalu kembalilah Musa menghadap TUHAN dan berkata: 'Ah, bangsa ini telah berbuat dosa besar, sebab mereka telah membuat allah emas bagi mereka.

Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu—dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.'"
Keluaran 32:30–32 (TB)

Oleh karena itu, Musa naik kembali ke atas gunung untuk memohonkan syafaat untuk kedua kalinya bagi bangsa Israel. Ia berharap dapat mengadakan pendamaian bagi dosa mereka, sekalipun ia tidak merasa pasti apakah ia sanggup melakukannya ("mungkin aku dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu," 32:30, penekanan dari penulis). Ia mengakui dosa bangsa itu secara terbuka dan jujur, memohon pengampunan, lalu menegaskan doanya dengan mengatakan bahwa jika TUHAN tidak berkenan mengampuni, ia lebih rela namanya dihapus dari "kitab" yang telah ditulis oleh TUHAN, yaitu agar kisah kehidupan yang sedang Allah tuliskan baginya diakhiri (lih. Mzm. 139:16). Ini bukanlah doa untuk mati menggantikan bangsa itu; melainkan doa untuk mati bersama bangsa itu, sedemikian besarnya kasih Musa kepada mereka.[^71]


Tanggapan TUHAN (32:33–34)

"Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: 'Siapa yang berdosa kepada-Ku, nama orang itulah yang akan Kuhapuskan dari dalam kitab-Ku.

Tetapi pergilah sekarang, tuntunlah bangsa itu ke tempat yang telah Kusebutkan kepadamu; akan berjalan malaikat-Ku di depanmu, tetapi pada hari pembalasan-Ku itu Aku akan membalaskan dosa mereka kepada mereka.'"
Keluaran 32:33–34 (TB)

TUHAN menanggapi dalam tiga hal. Pertama, terlepas dari permohonan Musa yang mulia, TUHAN menolak untuk membinasakan Musa bersama orang-orang yang bersalah (32:33). Kedua, Dia meyakinkan Musa bahwa bangsa itu akan mewarisi Tanah Perjanjian (32:34a). Ketiga, Dia menegaskan bahwa disiplin atas dosa belum selesai (32:34b).


Penghakiman TUHAN (32:35)

"Demikianlah TUHAN menulahi bangsa itu, karena mereka telah menyuruh membuat anak lembu buatan Harun itu."
Keluaran 32:35 (TB)

Pasal ini ditutup dengan menyatakan bahwa pada suatu titik—narasi di sini tampaknya melompat maju dalam garis waktu (lihat ulasan pada 33:1–3)—TUHAN benar-benar mendatangkan penghakiman yang mematikan ke atas lebih banyak orang dari bangsa itu (bdk. Bil. 14:37; 16:48–49). Bagian ini juga menyiratkan bahwa desakan bangsa itu untuk memiliki patung berhala membuat mereka sama (bahkan mungkin lebih) bertanggung jawab atas penghakiman ini: "karena mereka telah menyuruh membuat anak lembu buatan Harun itu" (32:35, penekanan dari penulis).


Tanggapan Lanjutan dari TUHAN (33:1–3)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Pergilah, berjalanlah dari sini, engkau dan bangsa itu yang telah kaupimpin keluar dari tanah Mesir, ke negeri yang telah Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub, demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu—

Aku akan mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu dan akan menghalau orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus—

yakni ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan.'"
Keluaran 33:1–3 (TB)

Ayat 1–2 kini menampilkan kilas balik ke 32:34a, menguraikan firman TUHAN secara terperinci dan menegaskan kembali janji-janji yang diberikan kepada nenek moyang Israel (serta janji yang lebih baru dalam 23:20–23 mengenai bimbingan dan pertolongan malaikat). Ayat 3 kemudian menyampaikan kabar yang sangat menghancurkan hati dari TUHAN: "Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu." Dengan kata lain, "Tidak perlu ada Kemah Suci. Tidak perlu melakukan segala hal yang telah dipaparkan dalam pasal 25–31. Aku tidak akan tinggal di tengah-tengahmu. Sikap hatimu sendiri—tegar tengkuk—adalah sikap pemberontak, dan para pemberontak adalah pihak pertama yang akan mengalami penghakiman-Ku."


Tanggapan Bangsa Israel (33:4–6)

"Ketika bangsa itu mendengar ancaman yang mengerikan ini, berkabunglah mereka dan seorangpun tidak ada yang memakai perhiasannya.

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Katakanlah kepada orang Israel: Kamu ini bangsa yang tegar tengkuk. Jika Aku berjalan di tengah-tengahmu sesaatpun, tentulah Aku akan membinasakan kamu. Oleh sebab itu, tanggalkanlah perhiasanmu, maka Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepadamu.'

Demikianlah orang Israel tidak memakai perhiasan-perhiasan lagi sejak dari gunung Horeb."
Keluaran 33:4–6 (TB)

Mengingat bahwa alasan utama TUHAN membebaskan Israel adalah agar Dia dapat berdiam di tengah-tengah mereka (29:45–46), dan mengingat betapa bangsa itu sangat mendambakan tanda nyata dari hadirat Allah di tengah mereka (32:1), pengumuman TUHAN dalam ayat 3 merupakan skenario terburuk yang tak terbayangkan. Bangsa itu dengan tepat meratapi dosa mereka dan konsekuensinya, serta dalam ketaatan pada perintah Allah, menanggalkan perhiasan mereka. Perkabungan sering kali ditandai dengan perubahan penampilan luar seseorang (bdk. Im. 10:6). Menanggalkan perhiasan sangatlah tepat dalam konteks ini karena patung anak lembu emas tersebut dibuat dari perhiasan semacam itu.

Di tengah-tengah perkabungan ini, terdapat pula seberkas harapan dalam firman TUHAN: "maka Aku akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepadamu" (33:5). Firman ini bukanlah jaminan mutlak bahwa segala sesuatu akan langsung baik-baik saja, melainkan membuka kemungkinan bahwa Allah berkenan merespons pertobatan Israel secara positif.

Doa Syafaat Ketiga dan Janji Penyertaan Hadirat TUHAN (33:7–17)

Catatan Penjelasan: Tempat Musa Berdoa Syafaat: "Kemah Pertemuan" yang Pertama (33:7–11)

"Sesudah itu Musa mengambil kemah dan membentangkannya di luar perkemahan, jauh dari perkemahan, dan menamainya Kemah Pertemuan. Setiap orang yang mencari TUHAN, keluarlah ia pergi ke Kemah Pertemuan yang di luar perkemahan.

Apabila Musa keluar pergi ke kemah itu, bangunlah seluruh bangsa itu dan berdirilah mereka, masing-masing di pintu kemahnya, dan mereka mengikuti Musa dengan matanya, sampai ia masuk ke dalam kemah.

Apabila Musa masuk ke dalam kemah itu, turunlah tiang awan dan berhenti di pintu kemah dan berbicaralah TUHAN dengan Musa di sana.

Setelah seluruh bangsa itu melihat, bahwa tiang awan berhenti di pintu kemah, maka mereka bangun dan sujud menyembah, masing-masing di pintu kemahnya.

Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu."
Keluaran 33:7–11 (TB)

Musa biasanya mendirikan sebuah kemah di "luar perkemahan" (33:7). Ia biasa bertemu dengan TUHAN di sana, sehingga ia tidak perlu naik ke atas gunung setiap waktu. Karena itu, Musa menamainya "Kemah Pertemuan". Nama yang sama kelak juga diberikan kepada Kemah Suci (tabernacle), karena kemah tersebut memiliki fungsi yang sama (29:42–43), meskipun Kemah Suci akan jauh lebih indah berhias dan berada tepat di tengah-tengah perkemahan (Bil. 2:2), bukan "jauh dari perkemahan" (Kel. 33:7) sebagaimana kemah sementara ini harus ditempatkan akibat pemberontakan dan dosa bangsa itu.

Setiap kali Musa bertemu dengan TUHAN di sana, awan kemuliaan akan turun, dan orang Israel akan sujud menyembah TUHAN dari depan pintu kemah mereka masing-masing. Pertobatan dalam pasal 32 kini diimbangi dengan penyembahan yang benar dalam pasal 33. Ini adalah gambaran suatu umat yang sedang berbalik kembali kepada TUHAN.

Di kemah tersebut, "TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka," sebuah ungkapan kiasan yang menyatakan komunikasi langsung dan bersifat pribadi, sama seperti seseorang "berbicara kepada temannya" (33:11; bdk. Bil. 12:6–8; Kel. 33:20). Di sinilah tampak seorang pribadi yang begitu dekat dengan Allah, dan oleh karenanya sangat layak untuk berdoa syafaat lebih lanjut demi kepentingan Israel. Mengenai Yosua, ia tetap tinggal di kemah tersebut ketika Musa kembali ke perkemahan (33:11). Mengapa? Kita tidak diberi tahu alasannya, tetapi kenyataan bahwa calon penerus Musa ini rindu untuk berdiam di kemah tempat Allah menyatakan hadirat-Nya merupakan suatu tanda yang sangat positif.


Musa Berdoa Syafaat bagi Umat (33:12–17)

"Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: 'Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku.

Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.'

Lalu Ia berfirman: 'Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.'

Berkatalah Musa kepada-Nya: 'Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.

Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?'

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.'"
Keluaran 33:12–17 (TB)

Kembali ke percakapan dalam 33:1–6, tatkala TUHAN telah berfirman kepada Israel, "Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu" (33:3), Musa memohonkan syafaat untuk ketiga kalinya, memohon agar hadirat TUHAN sendiri berkenan menyertai bangsa itu (33:12–13). Argumen permohonannya dapat diparafrasakan demikian: "Engkau telah berfirman bahwa aku memiliki hubungan yang khusus dengan-Mu, namun Engkau belum memberitahukan kepadaku siapa yang akan berjalan menyertaiku. Kiranya Engkau menyatakan jalan-jalan-Mu di antara kami—yaitu Engkau sendiri, bukan yang lain—sehingga aku dapat semakin mengenal-Mu, yang merupakan tanda pasti dari perkenanan kasih karunia-Mu. Dan kiranya Engkau mengingat janji-janji-Mu kepada Israel, yaitu umat-Mu."

TUHAN menjawab dengan penuh kemurahan: Dia akan memberikan ketenteraman kepada mereka dari musuh-musuh mereka di Tanah Perjanjian, sebagaimana baru saja difirmankan-Nya (33:1–3a), dan Dia sendiri yang akan berjalan menyertai mereka (33:14).

Untuk memperoleh kepastian yang teguh, Musa mengulangi permohonannya (33:15–16), suatu hal yang lazim pada zaman Israel kuno saat meneguhkan suatu janji yang teramat penting (bdk. Yos. 24:14–22). Ia menegaskan bahwa janji ini berlaku bagi seluruh bangsa Israel sama seperti bagi dirinya sendiri (perhatikan penggunaan frasa ganda "aku dengan umat-Mu ini") dan bahwa hadirat Allah sendirilah yang menjadikan Israel istimewa dan terpilih. Bangsa Israel hanya dapat mengemban peran imamat mereka di antara bangsa-bangsa apabila Allah hadir menyertai mereka (bandingkan Kel. 19:5–6 dengan 33:16).

TUHAN menegaskan kembali bahwa Dia akan berjalan di tengah-tengah Israel karena hubungan yang istimewa serta kasih karunia yang diperoleh Musa di hadapan-Nya (33:17). Terlebih lagi, betapa jauh lebih besarnya keyakinan teguh akan perkenanan dan kasih karunia Allah yang dapat kita miliki apabila kita menaruh iman dan percaya kita pada karya pengantaraan Yesus Kristus, Anak Allah sendiri, Pribadi yang kepada-Nya Bapa berkenan (Mat. 3:17; Ibr. 7:25)!

Permohonan Musa untuk Melihat Kemuliaan TUHAN (33:18–23)

Permohonan Musa (33:18)

"Tetapi jawabnya: 'Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.'"
Keluaran 33:18 (TB)

Sebagaimana diperjelas oleh jawaban TUHAN dalam 33:20, dalam 33:18 Musa meminta untuk melihat penyataan penuh dari kemuliaan Allah, suatu penyataan yang tidak terselubung di dalam awan seperti pada peristiwa-peristiwa sebelumnya (16:10; 24:16–17). Dalam konteks ini, motivasi Musa tentu saja merupakan kerinduan akan bukti yang jelas bahwa TUHAN menyertainya. Namun di sini kita juga merasakan adanya rasa lapar untuk mengenal Allah secara lebih mendalam dan utuh. "Musa telah melihat lebih banyak kuasa Allah, dan memiliki komunikasi yang lebih langsung dengan Allah, daripada manusia mana pun hingga titik ini dalam sejarah. Namun seperti mereka yang menikmati suapan pertama dari hidangan paling lezat yang pernah mereka kecap, ia ingin terus makan. Ia lapar akan lebih banyak lagi."[^72]


Jawaban TUHAN (33:19–23)

"Tetapi firman-Nya: 'Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.'

Lagi firman-Nya: 'Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.'

Berfirmanlah TUHAN: 'Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu;

apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat.

Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan.'"
Keluaran 33:19–23 (TB)

TUHAN mengabulkan sebagian permohonan Musa. Dia akan memperkenankan Musa melihat penyataan fisik yang sangat istimewa dari kebaikan-Nya dan mendengar TUHAN memaparkan karakter-Nya (33:19a), khususnya bahwa Dia penuh kasih karunia dan belas kasihan di atas segala hal lainnya (33:19b).

Namun, mustahil bagi Musa untuk memandang Allah dalam segala kepenuhan-Nya karena hal itu akan mematikan (33:20). "Gagasannya mungkin adalah jika keadaan duniawi semata dapat begitu membebani pancaindra seseorang hingga ia kehilangan kesadaran, maka penglihatan akan TUHAN surgawi dalam kemuliaan-Nya dapat begitu membebani pancaindra seseorang hingga ia kehilangan nyawa itu sendiri. Hal itu bagaikan lonjakan daya kemuliaan yang mematikan dan melumpuhkan kapasitas fana kita."[^73] Lantas, bagaimanakah doa tersebut akan dijawab?

Allah kini menggambarkan diri-Nya dalam istilah-istilah yang sangat manusiawi untuk menjelaskannya. Singkatnya, ketika Musa naik kembali ke atas gunung (lihat 34:2), TUHAN akan menempatkan Musa di dalam sebuah celah lekukan di gunung batu dan menghalangi penglihatannya sedemikian rupa sehingga Musa tidak melihat wajah TUHAN (yaitu kepenuhan kemuliaan-Nya), melainkan hanya punggung-Nya (yaitu sekilas kilasan dari kemuliaan-Nya). Dan bahkan hal itu pun sudah cukup dahsyat dan menggetarkan sehingga Musa akan merebahkan dirinya ke tanah dalam sujud penyembahan yang rendah hati dan penuh kekaguman gentar (34:8; bdk. Why. 1:12–17).


TUHAN Menyatakan Kemuliaan dan Memproklamasikan Nama-Nya (34:1–8)

Bagaimana Musa Harus Bersiap (34:1–3)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Pahatlah dua loh batu sama dengan yang mula-mula, maka Aku akan menulis pada loh itu segala firman yang ada pada loh yang mula-mula, yang telah kaupecahkan.

Bersiaplah menjelang pagi dan naiklah pada waktu pagi ke atas gunung Sinai; berdirilah di sana menghadap Aku di puncak gunung itu.

Tetapi janganlah ada seorangpun yang naik bersama-sama dengan engkau dan juga seorangpun tidak boleh kelihatan di seluruh gunung itu, bahkan kambing domba dan lembu sapipun tidak boleh makan rumput di sekitar gunung itu.'"
Keluaran 34:1–3 (TB)

Musa harus bersiap untuk pertemuan ini dengan cara yang hampir sama seperti dalam pasal 19, persis sebelum TUHAN memberikan loh-loh batu perjanjian untuk pertama kalinya: ia harus "bersiap" dalam hal kemurnian ritual (34:2; lihat 19:10–11, 14–15), serta segenap umat dan ternak mereka harus menjauh dari gunung tersebut karena sifatnya yang kudus (34:3; lihat 19:12–23). Hal ini memberi kita pemahaman bahwa sebagaimana perjanjian tersebut diberikan pada waktu itu (psl. 20–23), perjanjian itu kini akan diberikan kembali. Sungguh, perintah TUHAN untuk membawa dua loh batu yang baru sehingga Dia dapat menuliskan kembali perjanjian tersebut di atasnya (34:1) memberi tahu Musa bahwa TUHAN berkehendak membarui perjanjian itu, dan hal ini memberikan keyakinan kepada Musa untuk berdoa dengan berani agar hal itu sungguh-sungguh terjadi (34:9).


Musa Menaati (34:4)

"Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula; bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya."
Keluaran 34:4 (TB)

Musa tidak membuang waktu untuk menaati perintah-perintah TUHAN. Pagi-pagi keesokan harinya ia segera mendaki gunung tersebut dengan membawa loh-loh batu itu di tangannya.


TUHAN Menampakkan Diri dan Memproklamasikan Nama-Nya (34:5–7)

"Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN.

Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: 'TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya,

yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.'"
Keluaran 34:5–7 (TB)

TUHAN kini menggenapi apa yang telah Dia janjikan dalam 33:19–23: memberikan kepada Musa sekilas kilasan dari kemuliaan-Nya dan memproklamasikan nama-Nya, yaitu karakter-Nya. "Penyayang dan pengasih" merujuk pada kebaikan-Nya dalam menyatakan kemurahan dan perkenanan kepada orang-orang berdosa yang layak menerima hukuman atau yang sedang mengalaminya. "Panjang sabar" dan "berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya" merujuk pada kesabaran-Nya terhadap umat-Nya yang berdosa dan kesetiaan penuh kasih-Nya yang secara alami melimpah ruah. "Meneguhkan kasih setia-Nya" dan "mengampuni kesalahan" merujuk pada kenyataan bahwa Dia memelihara kasih yang setia kepada umat-Nya yang berdosa dan melakukannya karena Dia mengampuni dosa-dosa mereka. Namun, belas kasihan dan pengampunan sedemikian rupa tidak boleh disia-siakan atau dianggap remeh, sebab Dia "tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya... kepada keturunan yang ketiga dan keempat" (34:7). Sebagai bapa yang penuh kasih, Dia akan mengampuni dengan cepat dan berlimpah, tetapi ini tidak berarti tiadanya disiplin hajaran (bdk. Ibr. 12:5–11), yaitu suatu disiplin yang dapat membawa konsekuensi bagi tiga atau empat generasi yang hidup dalam rumah tangga orang berdosa tersebut (lihat penjelasan lebih lanjut pada 20:5). Dan karena hal ini demikian, hindarilah dosa dengan segala pengorbanan!

Hal yang tidak boleh terlewatkan dari uraian di atas adalah bahwa TUHAN terlebih dahulu menggambarkan kasih setia-Nya kepada orang-orang berdosa sebelum beralih pada penghukuman-Nya atas dosa mereka. Terlebih lagi, Dia menggunakan tiga pasang karakteristik untuk menggambarkan kasih-Nya yang penuh belas kasihan dan hanya satu pasang untuk menggambarkan penghakiman-Nya. Dan sementara Dia berbicara mengenai hukuman bagi "keturunan yang ketiga dan keempat", Dia berbicara mengenai memelihara "kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang". Dia bukanlah terutama Allah yang gemar menghajar; Dia pertama-tama dan terutama adalah Allah yang penuh belas kasihan dan anugerah yang dengan sabar dan setia mengulurkan pengampunan dan kasih kepada manusia berdosa. Dan karena itulah Dia sangat patut dipuji!

Sebagai catatan penutup, terdapat banyak kesejajaran antara ayat-ayat ini beserta kisah di sekitarnya dengan penggambaran Yohanes tentang Yesus dalam Yohanes 1:14–18. Kedua bagian ini sama-sama berbicara tentang kemuliaan (Yoh. 1:14; Kel. 33:18–22), Allah atau Yesus yang berdiam di tengah-tengah kita (Yoh. 1:14; Kel. 33:14), kasih karunia dan kebenaran (Yoh. 1:14; Kel. 33:19; 34:6),[^74] hukum Taurat yang datang melalui Musa (Yoh. 1:17; Kel. 34:1, 10–28), dan tiadanya manusia yang pernah melihat Allah (Yoh. 1:18; Kel. 33:20). Dalam menarik kesejajaran tersebut, Yohanes juga menampilkan suatu kontras. Kontras tersebut bukanlah bahwa kita melihat kasih karunia dan kebenaran sekarang namun tidak melihatnya dalam Perjanjian Lama; kontrasnya adalah bahwa sekalipun Allah menyatakan kasih karunia dan kebenaran-Nya dalam Perjanjian Lama (lagipula, bangsa mana yang pernah dilimpahi kasih karunia seperti Israel dalam menerima kebenaran Allah melalui hukum-Nya?), hal-hal tersebut telah dinyatakan secara jauh lebih dalam dan mendasar di dalam Yesus! Dalam Keluaran, Musa menerima pemaparan tentang karakter Allah; di dalam Yesus, kita telah menerima karakter Allah di dalam rupa manusia! Dan Dia, melampaui siapa pun, telah menyatakan kepada kita dengan tepat siapa Allah itu karena Dialah satu-satunya Pribadi yang telah melihat Allah dalam keberadaan-Nya dan mengenal-Nya secara paling intim. Mengenal Dia berarti mengenal Bapa (Yoh. 14:9), dan inilah satu-satunya jalan agar Bapa dapat dikenal (Yoh. 14:6).


Respons Musa (34:8)

"Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah."
Keluaran 34:8 (TB)

Musa merespons Allah persis seperti yang seharusnya dilakukan siapa pun: dengan penyembahan yang segera, rendah hati, dan penuh rasa gentar dan hormat yang kudus.


Doa Syafaat Keempat dan Pembaruan Perjanjian (34:9–28)

Musa Berdoa Syafaat bagi Umat (34:9)

"serta berkata: 'Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu.'"
Keluaran 34:9 (TB)

Dalam sikap penyembahan ini, Musa kini berdoa untuk keempat kalinya demi kepentingan bangsa Israel. Mengingat tanggapan positif TUHAN terhadap permohonan Musa untuk melihat kemuliaan-Nya (33:19–23), firman TUHAN bahwa Dia akan menuliskan kembali perkataan-perkataan dari perjanjian yang pertama (34:1), serta proklamasi TUHAN bahwa Dia meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang dan mengampuni kesalahan serta dosa (34:7), Musa dengan berani berdoa memohon agar bangsa Israel mengalami pengampunan TUHAN secara penuh dan agar Dia berkenan berjalan di tengah-tengah mereka sebagaimana yang telah Dia janjikan semula.


Pembaruan Perjanjian (34:10–28)

"Firman-Nya: 'Sungguh, Aku mengadakan suatu perjanjian. Di depan seluruh bangsamu ini akan Kulakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib, seperti yang belum pernah dijadikan di seluruh bumi di antara segala bangsa; seluruh bangsa, yang di tengah-tengahnya engkau diam, akan melihat perbuatan TUHAN, sebab apa yang akan Kulakukan dengan engkau, sungguh-sungguh dahsyat.

Tetapi engkau, berpeganglah pada yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini. Lihat, Aku akan menghalau dari depanmu orang Amori, orang Kanaan, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.

Berawas-awaslah, janganlah kauadakan perjanjian dengan penduduk negeri yang kaudatangi itu, supaya jangan mereka menjadi jerat bagimu di tengah-tengahmu.

Sebaliknya, mezbah-mezbah mereka haruslah kamu rubuhkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, dan tiang-tiang berhala mereka kamu tebang.

Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.

Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka.

Apabila engkau mengambil anak-anak perempuan mereka menjadi isteri anak-anakmu dan anak-anak perempuan itu akan berzinah dengan mengikuti allah mereka, maka mereka akan membujuk juga anak-anakmu laki-laki untuk berzinah dengan mengikuti allah mereka.

Janganlah kaubuat bagimu allah tuangan.

Hari raya Roti Tidak Beragi haruslah kaupelihara; tujuh hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi, seperti yang Kuperintahkan kepadamu, pada waktu yang ditetapkan dalam bulan Abib, sebab dalam bulan Abib itulah engkau keluar dari Mesir.

Segala apa yang lahir terdahulu dari kandungan, Akulah yang empunya, juga segala ternakmu yang jantan, anak yang lahir terdahulu dari lembu atau domba.

Tetapi anak yang lahir terdahulu dari keledai haruslah kautebus dengan seekor domba; jika tidak kautebus, haruslah kaupatahkan batang lehernya. Setiap yang sulung dari antara anak-anakmu haruslah kautebus, dan janganlah orang menghadap ke hadirat-Ku dengan tangan hampa.

Enam harilah lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga.

Hari raya Tujuh Minggu, yakni hari raya buah bungaran dari penuaian gandum, haruslah kaurayakan, juga hari raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun.

Tiga kali setahun segala orangmu yang laki-laki harus menghadap ke hadirat Tuhanmu TUHAN, Allah Israel,

sebab Aku akan menghalau bangsa-bangsa dari depanmu dan meluaskan daerahmu; dan tiada seorangpun yang akan mengingini negerimu, apabila engkau pergi untuk menghadap ke hadirat TUHAN, Allahmu, tiga kali setahun.

Janganlah darah korban sembelihan yang kepada-Ku kaupersembahkan beserta sesuatu yang beragi, dan janganlah ada dari korban sembelihan pada hari raya Paskah bermalam sampai pagi.

Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN, Allahmu. Janganlah engkau masak anak kambing dalam susu induknya.'

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 'Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel.'

Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman."
Keluaran 34:10–28 (TB)

TUHAN menjawab doa ini secara positif. Dia memulainya dengan menyatakan bahwa Dia membarui perjanjian yang telah dilanggar oleh bangsa Israel (34:10). Sungguh, Dia akan menunjukkan bahwa mereka adalah umat kepunyaan-Nya yang khusus dengan melakukan perbuatan-perbuatan ajaib di tengah-tengah mereka, sebuah rujukan yang sangat mungkin mengarah pada mukjizat-mukjizat yang akan Dia lakukan dalam penaklukan tanah Kanaan yang akan datang (Yos. 3:5; 6:20; 10:12–13; dll.). Setelah menyatakan bahwa Dia akan membarui perjanjian tersebut, TUHAN kemudian memberikan pilihan dari perintah-perintah perjanjian yang representatif (34:11–26). (Perintah-perintah ini kurang lebih mengulangi materi dari 13:2, 11–16, dan 23:12–33. Lihat rinciannya di bagian tersebut.) Mengingat bangsa Israel telah melanggar perjanjian pertama melalui penyembahan palsu, TUHAN di sini berfokus pada perintah-perintah mengenai menghindari penyembahan palsu (34:11–17) dan mempraktikkan penyembahan yang benar (34:18–26). Pada inti perjanjian dengan TUHAN terdapat kesetiaan dan kasih yang eksklusif kepada-Nya.

Perjanjian tersebut kemudian dituliskan kembali (34:27–28). Dalam ayat 27, TUHAN memerintahkan Musa untuk menuliskan "segala firman ini", yang mencakup perintah-perintah yang baru saja diberikan dalam 34:11–26, namun mungkin juga mencakup seluruh 20:22–23:33 karena bagian itu pun merupakan bagian dari perjanjian. Dalam ayat 28, TUHAN sendiri sekali lagi menuliskan Sepuluh Firman dari 20:2–17 (bandingkan 34:1). Hal ini berlangsung selama "empat puluh hari empat puluh malam" (lihat catatan kaki nomor 37). Dengan berpuasa selama masa ini, Musa mengungkapkan betapa sungguh-sungguhnya ia mencari TUHAN demi kepentingan Israel (lihat Hak. 20:26–27; Dan. 9:3). Para penulis Injil menggambarkan Yesus juga berpuasa empat puluh hari empat puluh malam di padang gurun (Mat. 4:2; Mrk. 1:13; Luk. 4:2). Sama seperti Musa, Dia adalah pemberi hukum-hukum Allah, namun jauh lebih agung daripada Musa, karena Musa hanyalah seorang pelayan Allah, sedangkan Yesus adalah Anak Allah sendiri (Ibr. 3:1–6).

Kulit Muka Musa yang Bercahaya (34:29–35)

Kulit Muka Musa Bercahaya (34:29–32)

"Ketika Musa turun dari gunung Sinai — kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu — tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN.

Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampak kulit mukanya bercahaya, maka takutlah mereka mendekati dia.

Tetapi Musa memanggil mereka, maka Harun dan segala pemimpin jemaah itu berbalik kepadanya dan Musa berbicara kepada mereka.

Sesudah itu mendekatlah segala orang Israel, lalu disampaikannyalah kepada mereka segala perintah yang diucapkan TUHAN kepadanya di atas gunung Sinai."
Keluaran 34:29–32 (TB)

Musa kini turun dari gunung dengan membawa loh-loh batu perjanjian, namun ia tidak menyadari bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan Allah (34:29). Alasan mengapa hal ini terjadi sekarang dan bukan pada saat pertama kali ia menerima loh-loh perjanjian dapat dijelaskan oleh penyingkapan kemuliaan Allah yang lebih besar yang dialaminya (33:18–34:7), yang kini memancar dari wajahnya bagaikan sinar cahaya dan meneguhkan dirinya sebagai pribadi yang diajak berbicara oleh TUHAN secara berhadapan muka. Para pemimpin dan segenap umat tentu merasa sangat takut saat melihat pemandangan tersebut, tetapi Musa akhirnya berhasil meyakinkan mereka untuk mendekat sehingga ia dapat menyampaikan perintah-perintah Allah kepada mereka (34:30–32).


Penggunaan Selubung oleh Musa (34:33–35)

"Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, diselubunginyalah mukanya.

Tetapi apabila Musa masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia, ditanggalkannyalah selubung itu sampai ia keluar; dan apabila ia keluar dikatakannyalah kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya.

Apabila orang Israel melihat muka Musa, bahwa kulit muka Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi mukanya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan TUHAN."
Keluaran 34:33–35 (TB)

Sejak saat itu, setiap kali Musa masuk untuk berbicara secara langsung dengan Allah, ia membiarkan wajahnya tanpa selubung dan kemudian membiarkannya tetap terbuka ketika menyampaikan firman Allah kepada bangsa Israel, sehingga mereka dapat melihat kemuliaan tersebut dan mengetahui bahwa ia adalah juru bicara Allah yang sah dan berotoritas (34:33–35). Di luar waktu-waktu tersebut, ia akan menyelubungi wajahnya, mungkin karena teramat sukar bagi bangsa Israel untuk berinteraksi dengannya dalam kehidupan sehari-hari ketika melihat pemandangan yang begitu dahsyat dan menggentarkan tersebut.

Perjanjian Baru menengok kembali pada perikop ini untuk menegaskan bahwa kemuliaan Allah kini tampak pada wajah Yesus (Mat. 17:1–8; 2Kor. 4:6). Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa kemuliaan perjanjian lama telah jauh dilampaui oleh kemuliaan perjanjian baru (2Kor. 3), suatu kemuliaan yang dipantulkan oleh para pengikut Yesus saat mereka diubahkan oleh Roh-Nya menjadi serupa dengan gambar-Nya.


VIII. Bangsa Israel di Sinai: Pembangunan Kemah Suci dan Hadirat TUHAN (35:1–40:38)

Segala sesuatunya kini telah siap untuk melaksanakan apa yang telah kita nantikan sejak TUHAN mulai memberikan petunjuk-petunjuk mengenai Kemah Suci di pasal 25: pembuatan dan pendirian Kemah Suci agar TUHAN dapat berdiam di tengah-tengah umat-Nya. Sebagaimana yang telah ditegaskan-Nya, "Akulah TUHAN, Allah mereka, yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, supaya Aku diam di tengah-tengah mereka" (29:46 [29:45 ESV], penekanan dari penulis). Pada saat kitab ini berakhir, hal tersebut sungguh-sungguh telah digenapi (40:34–38).

Di sepanjang pasal-pasal ini terdapat penekanan yang kuat bahwa Musa dan bangsa Israel melakukan segala sesuatu "seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa" (38:22; 39:1, 5, 7, 42; dll.). Lihat penjelasan lebih lanjut pada 36:8–39:43.


Pengantar & Hari Sabat (35:1–3)

Pengantar (35:1)

"Lalu Musa menyuruh berkumpul segenap jemaah Israel dan berkata kepada mereka: 'Inilah firman yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan.'"
Keluaran 35:1 (TB)

Di pasal 34, kita membaca bahwa Musa menyampaikan segala perintah yang diucapkan TUHAN (ay. 32). Sekarang kita akan membaca secara terperinci apa yang disampaikannya pada saat itu.


Pentingnya Memelihara Hari Sabat sebagai Tanda Perjanjian (35:2–3)

"Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada perhentian kudus bagimu, yakni sabat, hari perhentian penuh bagi TUHAN; setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, haruslah dihukum mati.

Janganlah kamu memasang api di manapun dalam tempat kediamanmu pada hari Sabat."
Keluaran 35:2–3 (TB)

Kisah anak lembu emas (32:1–34:35) didahului oleh perintah-perintah untuk memelihara hari Sabat (31:12–17). Kembali kepada perintah-perintah tersebut sekarang (35:2–3) merupakan sebuah cara untuk melanjutkan kembali kisah dari titik saat kisah itu terhenti sebelum terjadinya ketidaktaatan bangsa Israel. Dengan kata lain, pemberontakan mereka telah diampuni secara tuntas, dan TUHAN dapat melanjutkan rencana-Nya untuk hadir dan berdiam di tengah-tengah umat-Nya. Terlebih lagi, pengulangan perintah untuk memelihara hari Sabat, yang merupakan tanda perjanjian, menegaskan pentingnya kesetiaan terhadap perjanjian tersebut. Singkatnya, peristiwa anak lembu emas tidak boleh terulang kembali! Menerima pengampunan tidak seharusnya membuat kita menyalahgunakan kasih karunia Allah, melainkan mendorong kita untuk "mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Rm. 12:1).

Mengenai perintah itu sendiri, lihat ulasan pada 31:12–17. Hal yang ditambahkan di sini adalah larangan untuk memasang api di tempat kediaman (35:3), yang secara khusus memastikan bahwa kaum perempuan dan para pelayan terbebas dari kegiatan penyiapan makanan seperti membakar roti (bandingkan 16:23).

Pengumpulan Bahan-Bahan Kemah Suci (35:4–36:7)

Teks ini sekarang kembali kepada pokok pembangunan Kemah Suci. Langkah pertama adalah mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membangunnya.


Persembahan Khusus yang Diperlukan untuk Kemah Suci (35:4–9)

"Berkatalah Musa kepada segenap jemaah Israel: 'Inilah firman yang diperintahkan TUHAN, bunyinya:

Ambillah bagi TUHAN persembahan khusus dari barang kepunyaanmu; setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN: emas, perak, tembaga,

kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing;

kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit-kulit lumba-lumba, kayu penaga,

minyak untuk penerangan, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian,

permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada.'"
Keluaran 35:4–9 (TB)

Sebagai permulaan, persembahan khusus yang diperlukan disebutkan. Untuk rinciannya, lihat ulasan pada 25:1–9.


Perkakas-Perkakas Kemah Suci yang Harus Dibuat (35:10–19)

"Segala orang yang ahli di antara kamu haruslah datang untuk membuat segala yang diperintahkan TUHAN,

yakni Kemah Suci, atap kemahnya dan tudungnya, kaitannya, dan papannya, kayu lintangnya, tiangnya dan alasnya;

tabut dengan kayu pengusungnya, tutup pendamaian dan tabir penudung;

meja dengan kayu pengusungnya, segala perkakasnya dan roti sajian;

kandil untuk penerangan dengan perkakasnya, lampunya dan minyak untuk penerangan;

mezbah pembakaran ukupan dengan kayu pengusungnya, minyak urapan dan ukupan dari wangi-wangian; tirai pintu untuk pintu Kemah Suci;

mezbah korban bakaran dengan kisi-kisi tembaganya, kayu pengusungnya dan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya;

layar pelataran, tiangnya, alasnya dan tirai pintu gerbang pelataran itu;

patok Kemah Suci dan patok pelataran dan talinya;

pakaian jabatan untuk menyelenggarakan kebaktian di tempat kudus, dan pakaian kudus bagi imam Harun, dan pakaian anak-anaknya untuk memegang jabatan imam.'"
Keluaran 35:10–19 (TB)

Selanjutnya, teks ini memanggil para ahli kriya yang terampil untuk datang (35:10; lihat rinciannya pada 31:1–6) dan menguraikan berbagai hal yang akan mereka buat, mulai dari Kemah Suci dan segala perkakasnya (35:11–16), pelataran yang mengelilinginya (35:17–18), hingga pakaian para imam yang melayani di dalamnya (35:19). Untuk rinciannya, lihat pembahasan yang relevan di pasal 25–28, 30.


Penyerahan Persembahan Khusus untuk Kemah Suci (35:20–29)

"Lalu pergilah segenap jemaah Israel dari depan Musa.

Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu.

Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN.

Juga setiap orang yang mempunyai kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah dan kulit lumba-lumba, datang membawanya.

Setiap orang yang hendak mempersembahkan persembahan khusus dari perak atau tembaga, membawa persembahan khusus yang kepada TUHAN itu, dan setiap orang yang mempunyai kayu penaga membawanya juga untuk segala pekerjaan mendirikan itu.

Setiap perempuan yang ahli, memintal dengan tangannya sendiri dan membawa yang dipintalnya itu, yakni kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus.

Semua perempuan yang tergerak hatinya oleh karena ia berkeahlian, memintal bulu kambing.

Pemimpin-pemimpin membawa permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada,

rempah-rempah dan minyak untuk penerangan, untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian.

Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan—mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN."
Keluaran 35:20–29 (TB)

Umat itu pergi (35:20), mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan, dan kembali dalam jumlah yang sangat besar (35:21–29). Teks ini menekankan bahwa umat membawa persembahan-persembahan ini dengan sukarela (35:21–22, 26, 29). Setelah bertobat dari tindakan memberikan barang-barang berharga untuk membuat patung berhala anak lembu emas, kini mereka dengan penuh sukacita membawa barang-barang berharga untuk mendirikan Kemah Suci agar Allah yang benar dapat berdiam di tengah-tengah mereka. Teks ini juga mencatat betapa luasnya partisipasi dalam pemberian ini: kaum laki-laki dan kaum perempuan sama-sama terlibat (35:22, 29), di mana sebagian mempersembahkan harta benda dan sebagian lainnya mempersembahkan waktu serta keterampilan mereka (35:25–26). Singkatnya, bangsa Israel memberi dengan sukacita, secara menyeluruh, dan begitu melimpah sehingga pada akhirnya mereka harus diperintahkan untuk tidak membawa apa-apa lagi karena persembahan yang terkumpul sudah lebih dari cukup (36:3–7)! Pemberian yang penuh sukacita dan murah hati semacam itu merupakan tanggapan yang wajar dan semestinya dari orang-orang yang telah diampuni sedemikian banyak dan dilimpahi kasih yang berbelas kasihan (bdk. Luk. 7:36–50).


Para Ahli Kriya Kemah Suci yang Dikaruniai Allah (35:30–36:1)

"Berkatalah Musa kepada orang Israel: 'Lihatlah, TUHAN telah menunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda,

dan telah memenuhinya dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan,

yakni untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga;

untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan yang dirancang itu.

Dan TUHAN menanam dalam hatinya, dan dalam hati Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan, kepandaian untuk mengajar.

Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaan seorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus, dan pekerjaan seorang tukang tenun, yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan dan perancang segala sesuatu.

Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab, dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian, sehingga ia tahu melakukan segala macam pekerjaan untuk mendirikan tempat kudus, tepat menurut yang diperintahkan TUHAN.'"
Keluaran 35:30–36:1 (TB)

Musa memperkenalkan Bezaleel dan Aholiab, yang akan memimpin upaya pengolahan bahan-bahan persembahan tersebut menjadi Kemah Suci. Musa menekankan bahwa mereka telah dikaruniai kemampuan oleh Allah untuk menjadi ahli kriya utama dan melatih para ahli kriya berbakat ilahi lainnya dalam pekerjaan yang diperlukan, serta bahwa semua pekerjaan semacam itu harus dilakukan tepat sesuai dengan perintah TUHAN. Lihat penjelasan lebih lanjut pada 31:1–11.


Perintah untuk Berhenti Membawa Persembahan Kemah Suci (36:2–7)

"Lalu Musa memanggil Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang dalam hatinya telah ditanam TUHAN keahlian, setiap orang yang tergerak hatinya untuk datang melakukan pekerjaan itu.

Mereka menerima dari pada Musa seluruh persembahan khusus, yang telah dibawa oleh orang Israel untuk melaksanakan pekerjaan mendirikan tempat kudus. Tetapi orang Israel itu masih terus membawa pemberian sukarela kepada Musa tiap-tiap pagi.

Dan segala orang ahli yang melakukan seluruh pekerjaan untuk tempat kudus itu, datanglah masing-masing dari pekerjaan yang dilakukannya,

dan berkata kepada Musa: 'Rakyat membawa lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan.'

Lalu Musa memerintahkan, supaya dimaklumkan di mana-mana di perkemahan itu, demikian: 'Tidak usah lagi ada orang laki-laki atau perempuan yang membuat sesuatu menjadi persembahan khusus bagi tempat kudus.' Demikianlah rakyat itu dicegah membawa persembahan lagi.

Sebab bahan yang diperlukan mereka telah cukup untuk melakukan segala pekerjaan itu, bahkan berlebih."
Keluaran 36:2–7 (TB)

Musa sekarang menyerahkan bahan-bahan persembahan tersebut kepada para ahli kriya. Sifat sukarela dari persembahan ini kembali ditekankan, baik dari mereka yang secara sukarela menyumbangkan tenaga kerjanya (36:2) maupun mereka yang secara sukarela mempersembahkan barang-barangnya (36:3). Lihat komentar lebih lanjut pada 35:20–29.

Pembuatan Kemah Suci dan Bagian-Bagian Terkait (36:8–39:43)

Para ahli kriya kini mulai membuat Kemah Suci. Meskipun pembuatannya digambarkan bagian demi bagian, sebagian besar pekerjaan tersebut dilakukan secara bersamaan (bdk. 36:4).

Sebagaimana ditunjukkan dalam catatan-catatan berikut, terdapat sejumlah besar pengulangan antara bagian ini, yang menggambarkan pembuatan bagian-bagian Kemah Suci, dengan pasal 25–31, yang berisi perintah untuk membuat bagian-bagian Kemah Suci tersebut. Pengulangan serupa dapat ditemukan di bagian lain dalam Alkitab ketika suatu poin penting sedang ditekankan (bandingkan Kej. 24:12–27 dengan 24:34–48; lihat juga Bil. 7). Di sini, pengulangan tersebut menekankan bahwa orang-orang Israel menaati perintah Allah secara saksama hingga ke rincian terkecil berkenaan dengan tempat ibadah-Nya. Mereka bukan lagi orang Israel pembuat patung anak lembu yang memberontak kepada-Nya dalam hal ibadah (Kel. 32), melainkan umat-Nya yang telah bertobat dan taat, yang rindu untuk menyembah-Nya tepat seperti yang Dia perintahkan. Dengan cara ini, Keluaran 32–39 menegaskan bahwa tidak semua cara beribadah menuntun ke tempat yang sama. Ada cara-cara yang salah, yang dikutuk oleh Allah, dan ada cara yang benar, yang diberkati-Nya, dinyatakan kepada kita di dalam Firman-Nya, dan yang pada masa kini dimulai dengan mengenal Dia melalui Kristus (Yoh. 14:6).


Keempat Tudung Kemah Suci (36:8–19)

"Lalu semua ahli di antara tukang-tukang itu membuat Kemah Suci dari sepuluh tenda dari lenan halus yang dipintal benangnya dan dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi; dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun, dibuat orang semuanya itu.

Panjang tiap-tiap tenda dua puluh delapan hasta dan lebar tiap-tiap tenda empat hasta: semua tenda itu sama ukurannya.

Lima dari tenda itu dirangkap menjadi satu, dan yang lima lagi juga dirangkap menjadi satu.

Pada rangkapan yang pertama, di tepi satu tenda yang di ujung, dibuatlah sosok-sosok kain ungu tua dan demikian juga di tepi satu tenda yang paling ujung pada rangkapan yang kedua.

Lima puluh sosok dibuat orang pada tenda yang pertama dan lima puluh sosok pada tenda yang di ujung pada rangkapan yang kedua, sehingga sosok-sosok itu tepat berhadapan satu sama lain.

Dibuatlah lima puluh kaitan emas dan disambunglah tenda-tenda Kemah Suci, yang satu dengan yang lain, dengan memakai kaitan itu, sehingga menjadi satu.

Dibuatlah tenda-tenda dari bulu kambing menjadi atap kemah yang menudungi Kemah Suci, sebelas tenda dibuat orang.

Panjang tiap-tiap tenda tiga puluh hasta dan empat hasta lebarnya tiap-tiap tenda: yang sebelas tenda itu sama ukurannya.

Disambunglah lima dari tenda itu dengan tersendiri dan enam dari tenda itu dengan tersendiri.

Dibuatlah lima puluh sosok pada rangkapan yang pertama di tepi satu tenda yang di ujung, dan dibuat lima puluh sosok di tepi satu tenda pada rangkapan yang kedua.

Dibuat oranglah lima puluh kaitan tembaga untuk menyambung tenda-tenda kemah itu, sehingga menjadi satu.

Juga dibuatlah untuk kemah itu tudung dari kulit domba jantan yang diwarnai merah, dan tudung dari kulit lumba-lumba di atasnya lagi."
Keluaran 36:8–19 (TB)

Lihat ulasan pada 26:1–14.


Struktur Kemah Suci (36:20–34)

"Dibuat oranglah untuk Kemah Suci itu papan dari kayu penaga yang berdiri tegak,

sepuluh hasta panjangnya satu papan dan satu setengah hasta lebarnya tiap-tiap papan.

Tiap-tiap papan ada dua pasaknya yang disengkang satu sama lain; demikianlah diperbuat dengan segala papan Kemah Suci.

Dibuat oranglah papan-papan untuk Kemah Suci, dua puluh papan pada sebelah selatan.

Dan empat puluh alas perak dibuat orang di bawah kedua puluh papan itu, dua alas di bawah satu papan untuk kedua pasaknya, dan seterusnya dua alas di bawah setiap papan untuk kedua pasaknya.

Juga dibuat orang untuk sisi yang kedua dari Kemah Suci, pada sebelah utara, dua puluh papan

dengan empat puluh alas peraknya: dua alas di bawah satu papan dan seterusnya dua alas di bawah setiap papan.

Untuk sisi belakang Kemah Suci, pada sebelah barat, dibuat oranglah enam papan.

Dua papan dibuat orang untuk sudut Kemah Suci, di sisi belakang.

Kedua papan itu kembar pasaknya di sebelah bawah dan seperti itu juga kembar pasaknya di sebelah atas, di dekat gelang yang satu itu, demikianlah dibuat orang dengan kedua papan yang untuk kedua sudutnya itu.

Jadi ada delapan papan dengan alas peraknya: enam belas alas; dua-dua alas di bawah satu papan.

Dibuatlah juga kayu lintang dari kayu penaga: lima untuk papan-papan pada sisi yang satu dari Kemah Suci,

lima kayu lintang untuk papan-papan pada sisi yang kedua dari Kemah Suci, dan lima kayu lintang untuk papan-papan Kemah Suci yang merupakan sisi belakangnya, pada sebelah barat.

Dibuat oranglah kayu lintang yang di tengah menjadi melintang terus di tengah-tengah papan-papan itu dari ujung ke ujung.

Papan-papan itu disalut dengan emas, gelang-gelang itu dibuat dari emas sebagai tempat memasukkan kayu-kayu lintang itu, dan kayu-kayu lintang itu disalut dengan emas."
Keluaran 36:20–34 (TB)

Lihat ulasan pada 26:15–30.


Tabir (36:35–36)

"Dibuatlah tabir itu dari kain ungu tua, dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya; dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun.

Dibuat oranglah untuk itu empat tiang dari kayu penaga dan disalutlah itu dengan emas, dengan ada kaitannya dari emas, lagi dituanglah empat alas perak untuk tiang itu."
Keluaran 36:35–36 (TB)

Lihat ulasan pada 26:31–35.


Tirai Pintu (36:37–38)

"Juga dibuat oranglah tirai untuk pintu kemah itu dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya: tenunan yang berwarna-warna;

dan kelima tiangnya dengan kaitan untuk tiang itu; disalutlah ujungnya dan penyambung-penyambungnya dengan emas, dan kelima alasnya itu adalah dari tembaga."
Keluaran 36:37–38 (TB)

Lihat ulasan pada 26:36–37.


Tabut Perjanjian (37:1–9)

"Bezaleel membuat tabut itu dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya, dan satu setengah hasta tingginya.

Disalutnyalah itu dengan emas murni, dari dalam dan dari luar, dan dibuatnyalah bingkai emas sekelilingnya.

Dituangnyalah empat gelang emas untuk tabut itu, pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua.

Dibuatnyalah kayu pengusung dari kayu penaga dan disalutnyalah itu dengan emas.

Dan dimasukkannyalah kayu pengusung itu ke dalam gelang yang pada rusuk tabut itu, supaya tabut dapat diangkut.

Dibuatnyalah tutup pendamaian dari emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya.

Dibuatnyalah dua kerub dari emas, dari emas tempaan dibuatnya itu, pada kedua ujung tutup pendamaian itu,

satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu dibuatnya kerub itu pada kedua ujungnya.

Kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah menghadap muka kerub-kerub itu."
Keluaran 37:1–9 (TB)

Lihat ulasan pada 25:10–22.


Meja Roti Sajian (37:10–16)

"Dibuatnyalah meja itu dari kayu penaga, dua hasta panjangnya, sehasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya.

Disalutnyalah itu dengan emas murni dan dibuatnya bingkai emas sekelilingnya.

Dibuatnyalah sekelilingnya jalur pinggir yang setapak tangan lebarnya dan dibuatnya bingkai emas sekeliling jalur pinggirnya itu.

Dituangnyalah untuk meja itu empat gelang emas dan dipasangnyalah gelang-gelang itu di keempat penjurunya, pada keempat kakinya.

Dekat ke jalur pinggirnyalah gelang itu, yakni tempat memasukkan kayu pengusung, supaya meja itu dapat diangkut.

Dibuatnyalah kayu pengusung itu dari kayu penaga dan disalutnya dengan emas, yaitu supaya meja itu dapat diangkut.

Dan dibuatnyalah perkakas yang di atas meja itu, yakni pinggannya, cawannya, piala dan kendinya, yang dipakai untuk persembahan curahan, semuanya dari emas murni."
Keluaran 37:10–16 (TB)

Lihat ulasan pada 25:23–30.


Kandil Emas (37:17–24)

"Dibuatnyalah kandil itu dari emas murni; dari emas tempaan dibuatnya kandil itu, baik kakinya baik batangnya; kelopaknya—dengan tombolnya dan kembangnya—dibuat seiras dengan kandil itu.

Ada enam cabang timbul dari sisinya: tiga cabang kandil itu dari sisi yang satu dan tiga cabang dari sisi yang lain.

Tiga kelopak yang berupa bunga badam pada cabang yang satu—dengan tombol dan kembangnya—dan tiga kelopak yang serupa pada cabang yang lain—dengan tombol dan kembangnya—; demikian juga dibuat keenam cabang yang timbul dari kandil itu.

Pada kandil itu sendiri ada empat kelopak berupa bunga badam—dengan tombolnya dan kembangnya.

Juga ada satu tombol di bawah sepasang cabang yang pertama yang timbul dari kandil itu, dan satu tombol di bawah yang kedua, dan satu tombol di bawah yang ketiga; demikianlah juga dibuat keenam cabang yang timbul dari situ.

Tombol dan cabang itu timbul dari kandil itu, dan semuanya itu dibuat dari sepotong emas tempaan yang murni.

Dibuatnyalah pada kandil itu tujuh lampu dengan sepitnya dan penadahnya dari emas murni.

Dari satu talenta emas murni dibuatnyalah kandil itu dengan segala perkakasnya."
Keluaran 37:17–24 (TB)

Lihat ulasan pada 25:31–40.


Mezbah Pembakaran Ukupan (37:25–28)

"Dibuatnyalah mezbah pembakaran ukupan itu dari kayu penaga, sehasta panjangnya dan sehasta lebarnya, empat persegi, tetapi dua hasta tingginya; tanduk-tanduknya seiras dengan mezbah itu.

Disalutnyalah itu dengan emas murni, bidang atasnya dan bidang-bidang sisinya sekelilingnya, serta tanduk-tanduknya. Dibuatnyalah bingkai emas sekelilingnya.

Dibuatnyalah dua gelang emas untuk mezbah itu di bawah bingkainya, pada kedua rusuknya, pada kedua bidang sisinya, sebagai tempat memasukkan kayu pengusung, supaya dengan itu mezbah dapat diangkut.

Dan dibuatnyalah kayu pengusung itu dari kayu penaga dan disalutnya dengan emas."
Keluaran 37:25–28 (TB)

Lihat ulasan pada 30:1–10 (khususnya 30:1–5).


Minyak Urapan Kudus dan Ukupan Kudus (37:29)

"Dan dibuatnyalah minyak urapan yang kudus itu dan ukupan murni dari wangi-wangian, seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah."
Keluaran 37:29 (TB)

Lihat ulasan pada 30:22–38.


Mezbah Korban Bakaran (38:1–7)

"Dibuatnyalah mezbah korban bakaran itu dari kayu penaga, lima hasta panjangnya dan lima hasta lebarnya, empat persegi, tetapi tiga hasta tingginya.

Dibuatnyalah tanduk-tanduknya pada keempat sudutnya; tanduk-tanduknya itu dibuat seiras dengan mezbah itu dan disalutnya dengan tembaga.

Dibuatnyalah segala perkakas mezbah itu, yakni kuali-kuali, sodok-sodok, bokor-bokor penyiraman, garpu-garpu dan perbaraan-perbaraan, semua perkakasnya itu dibuatnya dari tembaga.

Dibuatnyalah untuk mezbah itu kisi-kisi, yakni jala-jala tembaga, di bawah jalur, mulai dari sebelah bawah sampai setengah tingginya.

Dituangnyalah empat gelang pada keempat ujung kisi-kisi tembaga itu, yakni tempat memasukkan kayu pengusung.

Dibuatnyalah kayu-kayu pengusung itu dari kayu penaga dan disalutnya dengan tembaga.

Dan dimasukkannyalah kayu-kayu pengusung itu ke dalam gelang-gelang yang pada rusuk mezbah itu, supaya dengan itu mezbah dapat diangkut. Mezbah itu dibuatnya berongga dan dari papan."
Keluaran 38:1–7 (TB)

Lihat ulasan pada 27:1–8.


Bejana Pembasuhan dari Tembaga (38:8)

"Dibuatnyalah bejana pembasuhan dan juga alasnya dari tembaga, dari cermin-cermin para pelayan perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan."
Keluaran 38:8 (TB)

Lihat ulasan pada 30:17–21.


Pelataran (38:9–20)

"Dibuatnyalah pelataran itu; pada sebelah selatan: layar pelataran itu dari lenan halus yang dipintal benangnya, seratus hasta panjangnya;

kedua puluh tiang layar itu dengan kedua puluh alas tiang itu dari tembaga, tetapi kaitan-kaitan tiang itu dan penyambung-penyambungnya dari perak.

Pada sebelah utara: seratus hasta; kedua puluh tiang layar itu dengan kedua puluh alas tiang itu dari tembaga, tetapi kaitan-kaitan tiang itu dan penyambung-penyambungnya dari perak.

Pada sebelah barat: layar lima puluh hasta; dengan sepuluh tiangnya dan sepuluh alas tiang itu, dan kaitan-kaitan tiang itu serta penyambung-penyambungnya dari perak.

Dan pada sebelah timur: lima puluh hasta,

yakni layar lima belas hasta untuk sisi yang satu di samping pintu gerbang itu, dengan tiga tiangnya dan tiga alas tiang itu;

dan juga untuk sisi yang kedua di samping pintu gerbang itu—sebelah-menyebelah pintu gerbang pelataran itu ada layar—lima belas hasta, dengan tiga tiangnya dan tiga alas tiang itu.

Segala layar yang mengelilingi pelataran, adalah dari lenan halus yang dipintal benangnya.

Alas-alas untuk tiang-tiang itu adalah dari tembaga, tetapi kaitan-kaitan tiang itu dan penyambung-penyambungnya dari perak, juga salut kepalanya dari perak. Dihubungkanlah dengan penyambung-penyambung dari perak segala tiang-tiang pelataran itu.

Tirai pintu gerbang pelataran itu tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan dari lenan halus yang dipintal benangnya; dua puluh hasta panjangnya, tetapi tingginya—yang juga lebar kain itu—adalah lima hasta, sama dengan tinggi layar pelataran itu.

Keempat tiangnya dan keempat alas tiang itu dari tembaga; tetapi kaitan-kaitannya dari perak, dan juga salut kepalanya, serta penyambung-penyambungnya dari perak.

Segala patok untuk Kemah Suci dan untuk pelataran itu, sekelilingnya, adalah dari tembaga."
Keluaran 38:9–20 (TB)

Lihat ulasan pada 27:9–19.


Persembahan dan Biaya Kemah Suci (38:21–31)

"Inilah daftar biaya untuk mendirikan Kemah Suci, yakni Kemah Suci, tempat hukum Allah, yang disusun atas perintah Musa, oleh orang Lewi di bawah pimpinan Itamar, anak imam Harun.

Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, membuat segala yang diperintahkan TUHAN kepada Musa,

dan bersama-sama dengan dia turut Aholiab, anak Ahisamakh, dari suku Dan, seorang tukang dan ahli, seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, dari kain ungu muda, dari kain kirmizi dan dari lenan halus.

Segala emas yang dipakai untuk segala pekerjaan mendirikan tempat kudus itu, yakni emas dari persembahan unjukan, ada dua puluh sembilan talenta dan tujuh ratus tiga puluh syikal, ditimbang menurut syikal kudus.

Perak persembahan mereka yang didaftarkan dari antara jemaah itu ada seratus talenta dan seribu tujuh ratus tujuh puluh lima syikal, ditimbang menurut syikal kudus:

sebeka seorang, yaitu setengah syikal, ditimbang menurut syikal kudus, untuk setiap orang yang termasuk orang-orang yang terdaftar, yang berumur dua puluh tahun ke atas, sejumlah enam ratus tiga ribu lima ratus lima puluh orang.

Seratus talenta perak dipakai untuk menuang alas-alas tempat kudus dan alas-alas tiang tabir itu, seratus alas sesuai dengan seratus talenta itu, jadi satu talenta untuk satu alas.

Dari yang seribu tujuh ratus tujuh puluh lima syikal itu dibuatnyalah kaitan-kaitan untuk tiang-tiang itu, disalutnyalah kepala tiang itu dan dihubungkannya tiang-tiang itu dengan penyambung-penyambung.

Tembaga dari persembahan unjukan itu ada tujuh puluh talenta dan dua ribu empat ratus syikal.

Dari padanya dibuatnyalah alas-alas pintu Kemah Pertemuan, dan mezbah tembaga dengan kisi-kisi tembaganya, segala perkakas mezbah itu,

alas-alas pelataran sekelilingnya, alas-alas pintu gerbang pelataran itu, segala patok Kemah Suci dan segala patok pelataran sekelilingnya."
Keluaran 38:21–31 (TB)

Atas perintah Musa, pencatatan yang teliti terhadap persembahan-persembahan Kemah Suci disimpan dengan rapi (38:21a). Hal ini dilakukan oleh orang-orang Lewi di bawah arahan putra Harun, Itamar, yang bertanggung jawab untuk mengangkut kain-kain dan rangka kemah suci tersebut (38:21b; bdk. Bil. 3:36–37; 4:28, 33). Teks ini juga menyebutkan Bezaleel dan Aholiab, yang mengawasi penggunaan bahan-bahan tersebut. Lihat lebih lanjut pada ulasan 31:1–6a.

Teks ini berfokus pada logam-logam mulia (38:24–31). Alasannya tidak disebutkan. Kita mengetahui bahwa orang-orang Mesir biasa menimbang logam sebelum menyerahkannya kepada para pekerja logam, sehingga bukanlah hal yang aneh jika orang Israel melakukan hal yang sama.[^75] Dalam hal menghitung kesetaraan modern untuk jumlah tersebut, sebagian besar pakar memperkirakan bahwa satu syikal adalah sekitar 0,4 ons (11,3 g) dan satu talenta sekitar 75 pon (34 kg). Ini berarti emas tersebut berbobot sekitar 2.193 pon (995 kg), perak sekitar 7.544 pon (3.422 kg), dan tembaga sekitar 5.310 pon (2.409 kg). Singkatnya, terdapat persediaan yang sangat melimpah untuk membuat bagian-bagian Kemah Suci (bandingkan 36:2–7). Perak secara khusus disebutkan berasal dari "setiap orang yang termasuk orang-orang yang terdaftar" (38:26), yang penjelasannya dapat dilihat pada ulasan 30:11–16.


Pakaian Para Imam (39:1–31)

"Dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi dibuat merekalah pakaian jabatan yang dipakai apabila diselenggarakan kebaktian di tempat kudus; juga dibuat mereka pakaian-pakaian kudus untuk Harun, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Dibuatnyalah baju efod dari emas, kain ungu tua dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya.

Mereka menempa emas papan dan dipotong-potongnyalah itu menjadi benang emas, untuk dipakankan pada kain ungu tua, pada kain ungu muda, pada kain kirmizi dan pada lenan halus: buatan seorang ahli.

Dibuat merekalah tutup bahu pada baju efod itu, yang disambung kepadanya, dikedua ujungnyalah baju efod itu disambung.

Sabuk pengikat yang ada pada baju efod itu adalah seiras dan sama buatannya dengan baju efod itu, yakni dari emas, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Dikerjakan merekalah permata krisopras, yakni dililit dengan ikat emas, diukirkan padanya nama para anak Israel, yang diukirkan seperti meterai.

Ditaruhnyalah itu pada kedua tutup bahu baju efod sebagai permata peringatan untuk mengingat orang Israel, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Dibuatnyalah tutup dada, buatan seorang ahli. Buatannya sama dengan baju efod, yakni dari emas, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya.

Empat persegi dibuatnya itu; lipat dua dibuat mereka tutup dada itu, sejengkal panjangnya dan sejengkal lebarnya.

Ditatah merekalah itu dengan empat jajar permata: permata yaspis merah, krisolit, malakit, itulah jajar yang pertama;

jajar yang kedua: permata batu darah, lazurit, yaspis hijau;

jajar yang ketiga: permata ambar, akik, kecubung;

jajar yang keempat: permata pirus, krisopras dan nefrit. Dililit dengan ikat emas, demikianlah permata-permata itu dalam tatahannya.

Sesuai dengan nama para anak Israel, permata itu adalah dua belas banyaknya; dan pada tiap-tiap permata ada diukirkan seperti meterai, nama salah satu suku dari yang dua belas itu.

Juga dibuat merekalah untuk tutup dada itu untai berpilin, yang buatannya sebagai tali berjalin, dari emas murni.

Dibuat merekalah dua ikat emas dan dua gelang emas dan kedua gelang itu dipasang pada kedua ujung tutup dada.

Dipasang merekalah kedua untai emas yang berjalin itu pada kedua gelang itu di ujung tutup dada.

Kedua ujung lain dari kedua untai berjalin itu dipasang merekalah pada kedua ikat emas itu, demikianlah dipasang pada tutup bahu baju efod, di sebelah depannya.

Dibuat merekalah dua gelang emas dan dibubuh pada kedua ujung tutup dada itu, pada pinggirnya yang sebelah dalam, yang berhadapan dengan baju efod.

Juga dibuat merekalah dua gelang emas dan dipasang pada kedua tutup bahu baju efod, di sebelah bawah pada bagian depan, dekat ke tempat persambungannya, di sebelah atas sabuk baju efod.

Kemudian diikatkan merekalah tutup dada itu dengan gelangnya kepada gelang baju efod dengan memakai tali ungu tua, sehingga tetap di atas sabuk baju efod, dan tutup dada itu tidak dapat bergeser dari baju efod—seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Dibuatnyalah gamis baju efod, buatan tukang tenun, dari kain ungu tua seluruhnya.

Leher gamis itu di tengah-tengahnya seperti leher baju zirah, lehernya itu mempunyai pinggir sekelilingnya, supaya jangan koyak.

Dibuat merekalah pada ujung gamis itu buah delima dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi, yang dipintal benangnya.

Dibuat merekalah giring-giring dari emas murni dan ditaruhlah giring-giring itu di antara buah delima, pada ujung gamis itu, berselang-seling di antara buah delima itu,

sehingga satu giring-giring dan satu buah delima selalu berselang-seling, pada sekeliling ujung gamis, yang dipakai apabila diselenggarakan kebaktian seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Dibuat merekalah kemeja dari lenan halus, buatan tukang tenun, untuk Harun dan anak-anaknya,

serban dari lenan halus, destar yang indah dari lenan halus, celana lenan dari lenan halus yang dipintal benangnya,

dan ikat pinggang dari lenan halus yang dipintal benangnya, kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi, dari tenunan yang berwarna-warna—seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Dibuat merekalah patam, jamang yang kudus dari emas murni, dan pada jamang itu dituliskan tulisan, diukirkan seperti meterai: Kudus bagi TUHAN.

Dipasang merekalah pada patam itu tali ungu tua untuk mengikatkan patam itu pada serbannya, di sebelah atas—seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa."
Keluaran 39:1–31 (TB)

Telah dicatat bahwa frasa "seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa" muncul sebanyak tujuh kali dalam bagian ini (39:1, 5, 7, 21, 26, 29, 30).[^76] Dan karena angka tujuh melambangkan kepenuhan atau kesempurnaan (lihat Kej. 4:15; Im. 4:6), poinnya sangat jelas: ketaatan mereka bersifat menyeluruh dan tuntas. (Lihat hal yang sama terulang dalam Kel. 40:17–32.)

  • Untuk 39:1–7, lihat ulasan pada 28:5–14.
  • Untuk 39:8–21, lihat ulasan pada 28:15–30.
  • Untuk 39:22–26, lihat ulasan pada 28:31–35.
  • Untuk 39:27–29, lihat ulasan pada 28:39, 40, 42–43.
  • Untuk 39:30–31, lihat ulasan pada 28:36–38.

Umat Membawa Perlengkapan Kemah Suci kepada Musa (39:32–43)

"Demikianlah diselesaikan segala pekerjaan melengkapi Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu. Orang Israel telah melakukannya tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah mereka melakukannya.

Dibawa merekalah Kemah Suci itu kepada Musa, yakni kemah dengan segala perabotannya: kaitannya, papannya, kayu lintangnya, tiangnya dan alasnya,

tudung dari kulit domba jantan yang diwarnai merah, tudung dari kulit lumba-lumba, tabir penudung,

tabut hukum Allah dengan kayu-kayu pengusungnya dan tutup pendamaian,

meja, segala perkakasnya dan roti sajian,

kandil dari emas murni, lampu-lampunya—lampu yang harus teratur di atasnya—dan segala perkakasnya, minyak untuk penerangan,

mezbah dari emas, minyak urapan, ukupan dari wangi-wangian, tirai pintu kemah,

mezbah tembaga dengan kisi-kisi tembaganya, kayu-kayu pengusungnya dan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya,

layar pelataran, tiangnya dan alasnya, dan tirai untuk pintu gerbang pelataran, talinya dan patoknya, segala perkakas untuk pekerjaan mendirikan Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu;

pakaian jabatan yang dipakai apabila diselenggarakan kebaktian di tempat kudus, pakaian kudus untuk imam Harun, dan pakaian anak-anaknya untuk memegang jabatan imam.

Tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah dilakukan orang Israel segala pekerjaan melengkapi itu.

Dan Musa melihat segala pekerjaan itu, dan sesungguhnyalah, mereka telah melakukannya seperti yang diperintahkan TUHAN, demikianlah mereka melakukannya. Lalu Musa memberkati mereka."
Keluaran 39:32–43 (TB)

Perlengkapan Kemah Suci kini telah selesai dibuat dan dibawa kepada Musa. Seluruhnya dicatat dalam ayat 33–41 (bandingkan daftar serupa pada 35:10–19). Daftar ini dibingkai oleh tiga pernyataan yang mengulangi bahwa seluruh pekerjaan dilakukan "tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa" (39:32, 42–43), yang menekankan pentingnya ketaatan bagi generasi-generasi yang akan datang, khususnya dalam hal menyembah Allah. Musa menanggapi hal ini dengan memohonkan perkenanan Allah atas umat-Nya yang taat (39:43; lihat Bil. 6:23–27 untuk jenis doa yang mungkin dinaikkannya). Ini adalah doa yang dengan senang hati dijawab oleh TUHAN. Bagaimanapun juga, "TUHAN bersukacita memberkati anak-anak-Nya yang taat. Itulah tanggapan wajar dari seorang bapa yang baik—dan TUHAN adalah Bapa yang terbaik yang pernah ada."[^77]


Kemah Suci Didirikan (40:1–33)

TUHAN Memerintahkan untuk Mendirikan Kemah Suci (40:1–8)

"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

'Pada hari yang pertama dari bulan yang pertama haruslah engkau mendirikan Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu.

Kautempatkanlah di dalamnya tabut hukum dan kaupasanglah tabir sebagai penudung di depan tabut itu.

Kaubawalah ke dalamnya meja dan taruhlah di atasnya perkakas menurut susunannya; kaubawalah ke dalamnya kandil dan kaupasang lampu-lampunya di atasnya.

Kautaruhlah mezbah emas untuk membakar ukupan di depan tabut hukum. Kaugantungkanlah tirai pintu Kemah Suci.

Kautaruhlah mezbah korban bakaran di depan pintu Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu.

Kautaruhlah bejana pembasuhan di antara Kemah Pertemuan dan mezbah itu, lalu kautaruhlah air ke dalamnya.

Haruslah kaubuat pelataran keliling dan kaugantungkanlah tirai pintu gerbang pelataran itu.'"
Keluaran 40:1–8 (TB)

Kini, setelah seluruh komponen Kemah Suci selesai dibuat, TUHAN memerintahkan agar kemah tersebut didirikan "pada hari yang pertama dari bulan yang pertama . . . dalam tahun yang kedua" (40:2, 17), yaitu tepat pada awal tahun kedua setelah pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Waktu penentuan ini sangat bermakna. Ketika TUHAN memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir agar Dia pada akhirnya dapat diam di tengah-tengah mereka (29:46), Dia menetapkan bulan penebusan mereka sebagai awal baru bagi tahun mereka (lihat ulasan pada 12:1–2). Kini, hampir satu tahun kemudian, bangsa Israel harus mendirikan Kemah Suci pada hari pertama dari bulan yang sama, sebuah pengingat yang sangat menyentuh bahwa tujuan Allah dalam karya penebusan telah tercapai.

Pendirian Kemah Suci digambarkan secara ringkas di sini dan secara lebih terperinci dalam ayat 16–33. Urutan pendiriannya mengalir secara alami, mulai dari mendirikan kemah itu sendiri (40:2b), memasukkan perabot-perabot ke dalamnya (40:3–5), hingga mendirikan pelataran di sekelilingnya (40:6–8).


TUHAN Memerintahkan untuk Menguduskan Kemah Suci dan Para Imam (40:9–15)

"'Kemudian kauambillah minyak urapan dan kauurapilah Kemah Suci dengan segala yang ada di dalamnya; demikianlah harus engkau menguduskannya, dengan segala perabotannya, sehingga menjadi kudus.

Juga kauurapilah mezbah korban bakaran itu dengan segala perkakasnya; demikianlah engkau harus menguduskan mezbah itu, sehingga mezbah itu maha kudus.

Juga kauurapilah bejana pembasuhan itu dengan alasnya, dan demikianlah engkau harus menguduskannya.

Kemudian kausuruhlah Harun dan anak-anaknya datang ke pintu Kemah Pertemuan dan kaubasuhlah mereka dengan air.

Kaukenakanlah pakaian yang kudus kepada Harun, kauurapi dan kaukuduskanlah dia supaya ia memegang jabatan imam bagi-Ku.

Juga anak-anaknya kausuruhlah mendekat dan kaukenakanlah kemeja kepada mereka.

Urapilah mereka, seperti engkau mengurapi ayah mereka, supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku; dan ini terjadi, supaya berdasarkan pengurapan itu mereka memegang jabatan imam untuk selama-lamanya turun-temurun.'"
Keluaran 40:9–15 (TB)

Oleh karena kekudusan TUHAN, terdapat dua langkah lanjutan yang diperlukan agar Kemah Suci dapat berfungsi dengan semestinya. Pertama, kemah tersebut harus dikuduskan dengan menggunakan minyak urapan (40:9–11). Kedua, para imam yang akan melayani sebagai hamba-hamba istana TUHAN haruslah kudus pula agar mereka dapat memasukinya dan menangani perkakas-perkakas kudus tersebut (40:12–15). Singkatnya, "seorang raja yang kudus membutuhkan tempat kediaman yang kudus dan hamba-hamba yang kudus untuk bekerja di dalamnya."[^78] Untuk rincian lebih lanjut, lihat ulasan pada 29:1–9; 30:22–30.


Kemah Suci Didirikan Sesuai dengan Perintah TUHAN (40:16–33)

"Dan Musa melakukan semuanya itu tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, demikianlah dilakukannya.

Dan terjadilah dalam bulan yang pertama tahun yang kedua, pada tanggal satu bulan itu, maka didirikanlah Kemah Suci.

Musa mendirikan Kemah Suci itu, dipasangnyalah alas-alasnya, ditaruhnya papan-papannya, dipasangnya kayu-kayu lintangnya dan didirikannya tiang-tiangnya.

Dikembangkannyalah atap kemah yang menudungi Kemah Suci dan diletakkannyalah tudung kemah di atasnya—seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Diambilnyalah loh hukum Allah dan ditaruhnya ke dalam tabut, dikenakannyalah kayu pengusung pada tabut itu dan diletakkannya tutup pendamaian di atas tabut itu.

Dibawanyalah tabut itu ke dalam Kemah Suci, digantungkannyalah tabir penudung dan dipasangnya sebagai penudung di depan tabut hukum Allah—seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Ditaruhnyalah meja di dalam Kemah Pertemuan pada sisi Kemah Suci sebelah utara, di depan tabir itu.

Diletakkannyalah di atasnya roti sajian menurut susunannya, di hadapan TUHAN—seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Ditempatkannyalah kandil di dalam Kemah Pertemuan berhadapan dengan meja itu, pada sisi Kemah Suci sebelah selatan.

Dipasangnyalah lampu-lampu di atasnya di hadapan TUHAN—seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Ditempatkannyalah mezbah emas di dalam Kemah Pertemuan di depan tabir itu.

Dibakarnyalah di atasnya ukupan dari wangi-wangian seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Digantungkannyalah tirai pintu Kemah Suci.

Mezbah korban bakaran ditempatkannyalah di depan pintu Kemah Suci, yakni Kemah Pertemuan itu, dan dipersembahkannyalah di atasnya korban bakaran dan korban sajian—seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Ditempatkannyalah bejana pembasuhan di antara Kemah Pertemuan dan mezbah itu, lalu ditaruhnyalah air ke dalamnya untuk pembasuhan.

Musa dan Harun serta anak-anaknya membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari dalamnya.

Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan dan apabila mereka datang mendekat kepada mezbah itu, maka mereka membasuh kaki dan tangan—seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.

Didirikannyalah tiang-tiang pelataran sekeliling Kemah Suci dan mezbah itu, dan digantungkannyalah tirai pintu gerbang pelataran itu. Demikianlah diselesaikan Musa pekerjaan itu."
Keluaran 40:16–33 (TB)

Kemah Suci kini didirikan pada waktu yang telah ditetapkan oleh TUHAN (40:17; lihat ulasan pada 40:1–8). Musa digambarkan sebagai pelaku utama, bukan karena ia mengerjakannya seorang diri tanpa bantuan orang lain, melainkan karena dialah yang bertanggung jawab atas terlaksananya pendirian tersebut (bdk. 1Raj. 6:1–2).

Teks ini menekankan bahwa perintah-perintah TUHAN ditaati dengan sempurna. Seluruh bagian ini dibuka dengan pernyataan, "Dan Musa melakukan semuanya itu tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, demikianlah dilakukannya" (40:16). Hal ini diikuti oleh uraian mengenai pendirian tersebut (40:17–33), yang menyebutkan sebanyak tujuh kali bahwa segala sesuatu dilakukan "seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa" (40:19, 21, 23, 25, 27, 29, 32), dengan demikian menegaskan bahwa ketaatan tersebut bersifat menyeluruh dan tuntas (lihat ulasan pada 39:1–31).

Proses pendirian ini mengikuti urutan yang telah digariskan dalam 40:1–8 dan sering kali merangkum uraian yang lebih lengkap dari pasal-pasal sebelumnya. Penjelasan ini terbagi menjadi delapan bagian:

  1. Untuk 40:18, lihat ulasan pada 26:15–30, 32; untuk 40:19, lihat pada 26:1–14.
  2. Untuk 40:20–21, lihat ulasan pada 25:10–22; pada 26:31–35.
  3. Untuk 40:22–23, lihat ulasan pada 25:23–30; pada 26:31–35.
  4. Untuk 40:24–25, lihat ulasan pada 25:31–40; pada 26:31–35.
  5. Untuk 40:26–27, lihat ulasan pada 26:31–35; pada 30:1–10, 34–38.
  6. Untuk 40:28–29, lihat ulasan pada 26:36–37; pada 29:36–42.
  7. Untuk 40:30–32, lihat ulasan pada 30:17–21.
  8. Untuk 40:33, lihat ulasan pada 27:9–19.

Kemuliaan TUHAN Memenuhi Kemah Suci (40:34–38)

Kemuliaan TUHAN Memenuhi Kemah Suci (40:34–35)

"Lalu awan itu menutupi Kemah Pertemuan, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci,

sehingga Musa tidak dapat memasuki Kemah Pertemuan, sebab awan itu hinggap di atas kemah itu, dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci."
Keluaran 40:34–35 (TB)

Pengurapan Kemah Suci dan penahbisan para imam yang diperintahkan dalam 40:9–15 harus dilaksanakan pada waktu yang sama. Hal-hal ini tidak dapat berlangsung pada hari yang sama saat Kemah Suci didirikan karena upacara penahbisan tersebut akan berlangsung selama tujuh hari (Im. 8:33). Oleh karena itu, kita baru membaca tentang penggenapannya dalam Imamat 8, yang mengikuti tujuh pasal yang menguraikan sistem kurban (Im. 1–7). Hal ini sangat masuk akal dari sudut pandang sastra, karena Imamat 1–7 menyediakan informasi penting bagi banyak kurban yang akan dipersembahkan selama upacara penahbisan para imam dalam Imamat 8.

Namun, kita tidak perlu menunggu hingga saat itu untuk melihat Allah bertindak. Dia turun dalam awan kemuliaan-Nya dan masuk memenuhi Kemah Suci begitu kemah itu selesai didirikan! "Seolah-olah Allah sudah tidak sabar lagi untuk berada di tempat yang memang selalu Dia inginkan sejak awal—yakni di tengah-tengah umat-Nya."[^79] Sebagaimana telah dicatat pada 24:15–18, awan kemuliaan adalah tanda yang tidak diragukan lagi dari hadirat Allah yang penuh kuasa. (Yohanes kelak akan memakai gambaran Kemah Suci yang dipenuhi kemuliaan ini untuk melukiskan tanda utama dari hadirat Allah: Yesus, sebagai Allah yang menjadi manusia dalam rupa daging, datang untuk berdiam di antara kita [Yoh. 1:14].) Dalam hal ini, awan kemuliaan tersebut bahkan membuat Musa tidak dapat memasuki kemah itu (40:34–35). Sebagaimana yang dilakukannya dalam Keluaran 24:16, ia menunjukkan rasa hormat dan takzim yang sepantasnya kepada TUHAN dengan menunggu sampai ia dipanggil (lihat Im. 1:1).


TUHAN Membimbing dan Berdiam di Tengah-Tengah Umat Israel Melalui Awan-Nya (40:36–38)

"Apabila awan itu naik dari atas Kemah Suci, berangkatlah orang Israel dari setiap tempat mereka berkemah.

Tetapi jika awan itu tidak naik, maka merekapun tidak berangkat sampai hari awan itu naik.

Sebab awan TUHAN itu ada di atas Kemah Suci pada siang hari, dan pada malam hari ada api di dalamnya, di depan mata seluruh umat Israel pada setiap tempat mereka berkemah."
Keluaran 40:36–38 (TB)

Sementara itu, kitab ini ditutup dengan memberitahukan kepada kita dua tujuan dari awan tersebut. Pertama, melalui awan itulah TUHAN memimpin perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Perjanjian (40:36–37). Kedua, kehadiran awan tersebut merupakan pengingat dan jaminan yang berkesinambungan bahwa TUHAN senantiasa menyertai mereka (40:38). Awan itu tidak akan tertinggal di Gunung Sinai ketika bangsa Israel berangkat; awan itu akan bergerak bersama mereka, mengubah Kemah Suci menjadi semacam "Gunung Sinai portabel" di tengah-tengah mereka, serta meneguhkan janji yang Dia berikan kepada semua anak-Nya: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibr. 13:5; lihat Ul. 31:6; Mat. 28:20).

Maka, kitab ini berakhir dengan sebuah panggilan dan janji yang tersirat. Panggilan tersebut adalah agar bangsa Israel mengikuti TUHAN di sepanjang jalan menuju Tanah Perjanjian. Ini adalah panggilan yang wajib mereka taati karena Dialah Raja di atas segala raja. Dan ini adalah panggilan yang sanggup mereka taati karena janji-Nya untuk menyertai mereka di sepanjang jalan. Hadirat-Nya yang penuh perlindungan dan kasih memampukan adanya ketaatan yang berlandaskan iman dan rasa percaya. Panggilan dan janji yang sama juga berlaku bagi orang percaya pada masa kini. Yesus memerintahkan anak-anak-Nya, "Mari, ikutlah Aku" (Mat. 4:19). Ini adalah panggilan yang harus kita taati karena Dialah Tuhan. Dan ini adalah panggilan yang dapat kita taati karena Tuhan yang sama memberikan janji kepada kita: "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat. 28:20). Hadirat-Nya yang penuh perlindungan dan kasih memberi kita keyakinan dan pengharapan untuk taat dengan berani dan sepenuh hati. Karena itu, marilah kita senantiasa mengarahkan pandangan kita "tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan" (Ibr. 12:2), seraya kita mengikut Dia di sepanjang jalan menuju Tanah Perjanjian perhentian dari TUHAN.


[^1]: Untuk pembahasan mendalam mengenai topik ini, lihat J.H. Walton, “Exodus, Date of,” dalam Dictionary of the Old Testament: Pentateuch (Downers Grove: InterVarsity Press, 2003), hlm. 258–272.

[^2]: Jay Sklar, “Exodus,” dalam ESV Expository Commentary, vol. I, ed. James M. Hamilton Jr., Iain M. Duguid, dan Jay Sklar (Wheaton: Crossway, 2022), eksposisi pada 19:3–6.

[^3]: Kendati tidak identik sepenuhnya, garis besar ini memiliki banyak kesamaan substansial dengan garis besar dalam komentari saya yang lebih lengkap (lihat catatan kaki nomor 4 di bagian eksposisi selanjutnya).

[^4]: Catatan Penulis: Saya menulis komentari ini bersamaan dengan penyusunan komentari yang lebih panjang (Sklar, “Exodus”; lihat c.k. 2 pada Bagian Pengantar). Untuk setiap perikop, proses yang saya tempuh adalah menyelesaikan penulisan komentari yang lebih panjang terlebih dahulu. Setelah selesai, saya menyisihkannya, menelaah kembali teks Kitab Suci secara segar, lalu menyusun komentari ringkas ini. Proses ini tentu menghasilkan titik-titik temu alami di antara keduanya, yang sengaja saya catat di sini namun tidak akan terus saya ulangi pada setiap bagian di dalam isi komentari.

[^5]: John D. Currid, A Study Commentary on Exodus, vol. 1 (Auburn, MA: Evangelical Press, 2000), 52.

[^6]: Bruce Wells, “Exodus,” dalam Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Zondervan Illustrated Bible Backgrounds Commentary, vol. 1 (Grand Rapids: Zondervan, 2009), 172.

[^7]: “Banyak tokoh Alkitab memiliki lebih dari satu nama, misalnya Yakub/Israel, Esau/Edom, Hosea/Yosua” (Sklar, “Exodus,” pada 3:1–3).

[^8]: Untuk pembelaan yang lebih lengkap mengenai pandangan ini, lihat Sklar, “Exodus,” pada 3:13–15.

[^9]: Sklar, “Exodus,” pada 4:21–23. Lihat V. H. Matthews, “Family Relationships,” dalam Dictionary of the Old Testament: Pentateuch (Downers Grove: InterVarsity Press, 2003), 293.

[^10]: Keluaran 6:3 mungkin paling tepat diterjemahkan: "Dan dengan nama-Ku TUHAN [=Yahweh], tidakkah Aku menyatakan diri-Ku kepada mereka?" (Lihat T. Desmond Alexander, Exodus, Apollos Old Testament Commentary, vol. 2 [Downers Grove: InterVarsity Press, 2017], 116–17; Sklar, “Exodus,” pada 6:1–8. Perhatikan betapa jauh lebih mulus hubungan ayat 3 dengan kata "juga" yang mengawali ayat 4). Dengan demikian, ayat ini menegaskan bahwa para bapa leluhur (patriark) beribadah kepada Allah dengan nama Yahweh.

[^11]: Sklar, “Exodus,” pada 6:13–27.

[^12]: Dugaan yang lazim adalah bahwa orang Israel tidak mau mempersembahkan korban menurut peraturan keagamaan Mesir atau akan mempersembahkan hewan-hewan yang dianggap sakral oleh orang Mesir (atau kedua-duanya), sekalipun dapat dicatat pula bahwa sejumlah pandangan budaya kerap kali diwarisi begitu saja, dengan generasi baru yang berasumsi, "Memang begitulah keadaannya sejak dahulu" (Sklar, "Exodus," pada 8:25–27).

[^13]: Kata "segala" (atau "semua") dalam 9:6 merupakan hiperbola (perhatikan bahwa ternak masih disebutkan tiga ayat kemudian dalam 9:9); penggunaannya menekankan betapa luas dan dahsyatnya wabah penyakit sampar tersebut merata di seluruh negeri.

[^14]: Frasa "segala tulah-Ku" dapat berarti tulah ini akan melibatkan berbagai bentuk penghakiman (hujan es, kilat, guruh) atau bahwa TUHAN bersiap mengirimkan "seluruh sisa tulah-Ku" dalam babak akhir penghakiman. Lihat pembahasan lebih lanjut dalam Sklar, "Exodus," pada 9:13–14.

[^15]: Bruce R. Wells, "Exodus," dalam Zondervan Illustrated Bible Backgrounds Commentary: Old Testament, vol. 1, ed. John H. Walton (Grand Rapids: Zondervan, 2002), 200.

[^16]: Firaun nantinya memang memanggil Musa kembali (12:31), namun Musa tidak pernah lagi berinisiatif datang menghadap Firaun atas kehendaknya sendiri.

[^17]: Pendekatan mengenai hubungan antara ay. 1–3 dan 4–8 ini lazim di kalangan para penafsir, karena sangat wajar memandang peringatan dalam ay. 4–8 sebagai kelanjutan langsung dari percakapan dalam 10:24–29.

[^18]: Sklar, "Exodus," pada 4:21–23. Lihat di sana untuk pembahasan yang lebih lengkap.

[^19]: Jay Sklar, "Exodus," dalam The Gospel Coalition Bible Commentary, pada 12:34–36.

[^20]: Lihat pembahasan dalam ibid., pada 12:37–42.

[^21]: Sebagai wujud belas kasihan Allah, kaum perempuan tidak disunat di Israel sebagaimana yang masih terjadi di beberapa bangsa saat ini dengan risiko bahaya yang amat besar bagi kaum perempuan. (Lihat laporan United Nations Children’s Fund, Female Genital Mutilation/Cutting: A statistical overview and exploration of the dynamics of change [New York: UNICEF, 2013]: 1–194. Lihat juga pembahasan dalam Samuel Waje Kunyihop, African Christian Ethics, [Grand Rapids, MI: Hippo Books, 2008], 293–302. Ia menyimpulkan, "Penyunatan perempuan harus... dikecam sebagai tindakan yang tidak alkitabiah dan tidak etis" [ibid., 298].) Kaum perempuan Israel dianggap sebagai anggota perjanjian berdasarkan keberadaan mereka sebagai bagian dari keluarga perjanjian yang kaum laki-lakinya telah disunat.

[^22]: Jay Sklar, "Exodus," dalam The Gospel Coalition Bible Commentary, pada 15:1–19.

[^23]: Jay Sklar, Leviticus: A Discourse Analysis of the Hebrew Bible, Zondervan Exegetical Commentary on the Old Testament (Grand Rapids, MI: Zondervan Academic, 2023), 479 (selanjutnya disingkat Leviticus [ZECOT]).

[^24]: Dan kemudian di masa selanjutnya tampaknya disimpan di dalam tabut perjanjian, bersama-sama dengan tongkat Harun (Ibr. 9:4; lih. Bil. 17:10).

[^25]: Sklar, “Exodus,” pada 17:15.

[^26]: Sklar, “Exodus,” pada 19:3–6.

[^27]: Ibid.

[^28]: Jay Sklar, Leviticus, ZECNT/ZECOT (Grand Rapids, MI: Zondervan Academic, 2023), 10, mengadaptasi deskripsi ini dari Timothy J. Keller, Preaching: Communicating Faith in an Age of Skepticism (New York: Viking, 2015), 104.

[^29]: Sklar, “Exodus,” pada 20:16.

[^30]: Sklar, “Exodus,” pada 21:20–21.

[^31]: Ibid., pada 21:26–27.

[^32]: Jay Sklar, Additional Notes on Leviticus: A Complement to Sklar’s Leviticus Commentary in the Zondervan Exegetical Commentary on the Old Testament Series (St. Louis, MO: Gleanings, 2023), pada 19:20.

[^33]: Sklar, “Exodus,” pada 22:18–20.

[^34]: Sklar, Leviticus (ZECOT), 610.

[^35]: Lihat lebih lanjut Jay Sklar, Leviticus: An Introduction and Commentary, Tyndale Old Testament Commentary, vol. 3 (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2014), 222–23 (selanjutnya disingkat Leviticus [TOTC]).

[^36]: Sklar, “Exodus,” pada 23:1–3.

[^37]: Mengenai empat puluh hari dan empat puluh malam, angka "empat puluh" mungkin terkadang digunakan untuk menyatakan "banyak, sejumlah besar," yang dapat menjelaskan mengapa angka yang persis sama ini begitu sering muncul (Hak. 3:11; 5:31; 8:28; 13:1; 1Sam. 4:18). Terlepas dari hal itu, kurun waktu tersebut sudah cukup lama hingga membuat bangsa Israel bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi padanya (32:1).

[^38]: Sklar, “Exodus,” pada bagian Pengantar 24:12–34:18. Untuk ilustrasi yang bermanfaat, carilah secara daring mengenai “ESV pictures of the tabernacle” atau “ESV pictures of the altar of incense”, dll.

[^39]: Richard E. Averbeck, “Tabernacle,” dalam Dictionary of the Old Testament: Pentateuch (Downers Grove: InterVarsity Press, 2003), 815.

[^40]: Lihat pembahasan dalam William H.C. Propp, Exodus 19–40: A New Translation with Introduction and Commentary, Anchor Bible, vol. 2A (New York: Doubleday, 2006), 411–12.

[^41]: Sklar, “Exodus,” pada 27:1–8. Kutipan ini berasal dari Jay Sklar, Numbers, The Story of God Bible Commentary (Grand Rapids, MI: Zondervan Academic, akan datang), pada 7:10–88.

[^42]: Jay Sklar, Numbers, The Story of God Bible Commentary (Grand Rapids, MI: Zondervan Academic, akan datang), pada 28:15–30.

[^43]: George Bush, Commentary on Exodus (Grand Rapids, MI: Kregel Publications, 1993 [publikasi asli 1843]), 463; U. Cassuto, A Commentary on the Book of Exodus, terj. Israel Abrahams (Jerusalem: Magnes Press, 1967), 383; Douglas K. Stuart, Exodus, New American Commentary, vol. 2 (Nashville: Broadman & Holman, 2006), 614.

[^44]: Sklar, “Exodus,” pada bagian Tanggapan untuk Keluaran 28–29.

[^45]: Lihat C.F. Keil, Biblical Commentary on the Old Testament: Exodus, vol. 2: The Pentateuch, terj. James Martin (Grand Rapids: Eerdmans, 1988 [publikasi asli 1864]), 205.

[^46]: Tidaklah mengherankan bahwa Keluaran 29 dan Imamat 8 memiliki kemiripan yang sangat besar. Penjelasan saya mengenai Keluaran 29 dalam banyak hal merupakan versi yang sedikit disunting dari ulasan saya tentang Imamat 8 (lihat Jay Sklar, Leviticus, Tyndale Old Testament Commentaries [TOTC; Downers Grove, IL: IVP Academic, 2014], 141–49).

[^47]: Sklar, “Exodus,” pada penjelasan 28:41.

[^48]: Lihat pembahasan dalam Sklar, Leviticus (TOTC), 111.

[^49]: Sklar, “Exodus,” pada penjelasan 29:10–14.

[^50]: Jay Sklar, Leviticus, Zondervan Exegetical Commentary on the Old Testament (ZECOT; Grand Rapids, MI: Zondervan Academic, 2023), 94.

[^51]: “Urutan dalam Imamat 8 berbeda pada bagian ini. Mungkin saja Keluaran 29 disusun secara tematis (menyatukan semua tindakan pengurapan), sedangkan Imamat 8 memberikan urutan kronologis yang sebenarnya” (Sklar, “Exodus,” pada penjelasan 29:19–21).

[^52]: Sklar, Leviticus (ZECOT), 268.

[^53]: Sklar, “Exodus,” pada penjelasan 29:22–25.

[^54]: Sebagian besar penafsir memahami 29:36 sebagai awal dari bagian baru mengenai mezbah. Bahasa Ibrani mendukung hal ini karena urutan verbal normalnya terputus di sini.

[^55]: Lihat penjelasan pada 27:20–21.

[^56]: Jay Sklar, Numbers, The Story of God Bible Commentary (Grand Rapids, MI: Zondervan Academic, akan datang), pada penjelasan 28:3–8.

[^57]: Ibid.

[^58]: Sklar, Leviticus (ZECOT), 727.

[^59]: Sklar, “Exodus,” pada penjelasan 29:43–46.

[^60]: Mengenai Ibrani 9:4, lihat Gareth Lee Cockerill, The Epistle to the Hebrews, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2012), 376–77, yang mengikuti banyak penafsir lain dalam memahami bahwa Ibrani 9:4 menggambarkan Tempat Maha Kudus sebagai "memiliki" mezbah tersebut (lihat ESV), yang berarti mezbah ukupan berkaitan dengan Tempat Maha Kudus secara khusus, dan bukan bahwa mezbah ukupan berada "di dalam" Tempat Maha Kudus. (Perhatikan bagaimana Keluaran 30:6 menyebutkan mezbah dan tabut secara bersama-sama, menempatkan keduanya dalam relasi timbal balik). Lihat juga 1 Raja-raja 6:22b dalam ESV atau NIV.

[^61]: Lihat Jay Sklar, Leviticus, Tyndale Old Testament Commentaries (TOTC; Downers Grove, IL: IVP Academic, 2014), 210–12.

[^62]: Mengenai pendamaian sebagai tindakan pembersihan/penyucian, lihat ibid., 51. Bandingkan 1 Yohanes 1:9 dan lihat juga catatan kaki 4.

[^63]: Mengenai pendamaian sebagai tindakan penebusan (ransom), lihat ibid., 50–51. Bandingkan Markus 10:45.

[^64]: Lihat pembahasan dalam William H. C. Propp, Exodus 19–40, Anchor Yale Bible (New York: Doubleday, 2006), 483.

[^65]: Kata Ibrani yang digunakan adalah ḥokmāh, yang umumnya diterjemahkan sebagai "hikmat" dan dalam konteks ini merujuk pada keahlian atau keterampilan teknis.

[^66]: Sklar, “Exodus,” pada 31:12–17.

[^67]: Lihat pembahasan lebih lanjut dalam Nahum M. Sarna, Exodus, The JPS Torah Commentary (Philadelphia: Jewish Publication Society, 1991), 108.

[^68]: Atau "allah-allah"; kata Ibrani tersebut dapat mewakili bentuk tunggal atau jamak, dan versi-versi terjemahan bahasa Inggris terbagi mengenai cara menerjemahkannya (sebagaimana juga dalam ay. 4, 8). Karena hanya ada satu anak lembu yang dibuat, penulis lebih memilih bentuk tunggal.

[^69]: Christopher J. H. Wright, Exodus, The Story of God Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 2021), 552–53.

[^70]: Sklar, "Exodus," pada 32:24.

[^71]: Lihat juga Christopher J. H. Wright, Exodus, The Story of God Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 2021), 559.

[^72]: Sklar, “Exodus,” pada 33:18.

[^73]: Sklar, Leviticus (ZECOT), 431. Lihat juga pembahasan pada 3:1–6.

[^74]: Kata untuk "kebenaran" (truth) dalam Yohanes 1:14 dan terjemahan Septuaginta untuk kata "kesetiaan" (faithfulness) dalam Keluaran 34:6 dibangun di atas akar kata Yunani yang sama.

[^75]: Sarna, Exodus, 231. Lihat James B. Pritchard, The Ancient Near East in Pictures Relating to the Old Testament, edisi ke-2 dengan suplemen (Princeton, NJ: Princeton University Press, 1969), no. 133.

[^76]: Wright, Exodus, 609.

[^77]: Sklar, "Exodus", pada 39:43.

[^78]: Sklar, "Exodus", pada 40:9–15.

[^79]: Christopher J. H. Wright, Exodus, The Story of God Bible Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 2021), 610.